Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN
A.Latar Belakang Masalah
Frozen shoulder adalah suatu syndrom atau kondisi dengan keluhan nyeri dan
keterbatsan gerak aktif dan pasif yang sering terjadi pada 2-3% populasi dan sering terjadi
pada orang yang berusia lebih dari 40 tahun, terutama wanita berusia 50 tahun 15% pasien
akan mengalami frozen shoulder bilateral. Penyebab frozen shoulder tidak diketahui,
diduga penyakit ini merupakan respon auto immobilisasi terhadap patologi jaringan local
(Graham, 2000).Keluhan utama yang dialami adalah nyeri dan penurunan kekuatan otot
penggerak sendi bahu dan keterbatasan LGS terjadi baik secara aktif atau pasif.Frozen
shoulder secara pasti belum diketahui penyebabnya. Namun kemungkinan terbesar
penyebab dari frozen shoulder antara lain tendinitis, rupture rotator cuff, capsulitis, post
immobilisasi lama, trauma serta diabetes mellitus. Respon autoimmunal terhadap rusaknya
jaringan lokal yang diduga menyebabkan penyakit tersebut. 1
Diantara beberapa faktor yang menyebabkan frozen shoulder adalah capsulitis
adhesiva. Keadaan ini disebabkan karena suatu peradangan yang mengenai kapsul sendi dan
dapat menyebabkan perlengketan kapsul sendi dan tulang rawan, ditandai dengan nyeri bahu
yang timbul secara perlahan-lahan, nyeri yang semakin tajam, kekakuan dan keterbatasan
gerak. Pada pasien yang menderita capsulitis adhesiva menimbulkan keluhan yang sama
seperti pada penderita yang mengalami peradangan pada jaringan disekitar sendi yang disebut
dengan periarthritis, keadaan ini biasanya timbul gejala seperti tidak bisa menyisir karena
nyeri disekitar depan samping bahu. Nyeri tersebut terasa pula saatb lengan diangkat untuk
mengambil sesuatu dari saku kemeja, ini berarti gerakan aktif dibatasi oleh nyeri. Tetapi bila
mana gerak pasif diperiksa ternyata gerakan itu terbatas karena adanya suatu yang menahan
yang disebabkan oleh perlengketan. Gangguan sendi bahu sebagian besar didahului oleh
adanya rasa nyeri, terutama rasa nyeri timbul sewaktu menggerakan bahu, penderita takut
menggerakan bahunya. Akibat immobilisasi yang lama maka otot akan berkurang
kekuatannya.2

1
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Anatomi
Sendi bahu merupakan sendi sinovial tipe ball and socked, gerakannya paling luas
namun susunan osteologisnya labil. Posisi/sikap dan gerakan yang terjadi pada sendi bahu
selalu berkaitan dengan seluruh sub sistem dalam shoulder compleks yang terdiri dari 7
persendian, yaitu : glenohumeral join suprahumeral joint,acromioclavicular
joint,sternoclavicular joint, scapulothoracaljoint, intervertebral joints (cervicothoracal)
dan costovertebral-transversal join.
Kompleksitas sendi bahu tersebut menyebabkan adanya scapulohumeral rhythm
yaitu pada selama gerakan abduksi elevasi dan fleksi shoulder terjadi gerakan
osteokinematik yang proporsional bukan hanya pada humerus dan scapula, akan tetapi
juga pada costa dan intervertebra (lower cervical dan upper thoracal). Aspek anatomi
terapan sendi bahu kompleks diantaranya, meliputi:

1 Osteogen
Kerangka ekstremitas dibentuk oleh cingulum membri superioris (shoulder girdle)
dan pars libera membri superioris. Cingulum membri superioris (shoulder girdle) atau
gelang bahu terdiri dari kedua klavikula dan kedua skapula dan disebelah ventral
dihubungkan pada manubrium sterni, menghubungkan ekstremitas superior pada kerangka
axial. Sedangkan pars libera membri superioris (kerangka lengan) terdiri dari humerus,
radius, ulna, carpi, metacarpi dan phalanges, namun yang terkait dengan shoulder girdle
hanya os humerus.

Clavicula atau tulang kollar adalah tulang yang berbentuk huruf s, dan membentuk
bagian anterior dari gelang bahu. Disebelah depan konveks dan pada dua pertiga medial
dan sepertiga lateral konkaf ke anterior. Yang berhadapan dengan sternum terdapat
ekstremitas sternalis, dan berhadapan dengan skapula terdapat ekstremitas acromialis dan
diantara kedua bagian tersebut terdapat korpus klavikula. Pada ujung sternum berbentuk
segitiga disebut facies artikularis sternalis. Dekat ekstremitas sternalis pada permukaan
bawah klavikula terdapat lekukan untuk ligamentum kostoklavikularis, sedangkan dekat
ekstremitas akromialis berdekatan dengan linea trapezoidea terdapat suatu tonjolan yang
disebut tuberculum conoideum Fungsi klavikula adalah memberi kaitan kepada beberapa
otot dari leher dan bahu dan dengan demikian bekerja sebagai penopang lengan

2
Gambar 2.1. Tulang Bahu.
Skapula atau tulang belikat membentuk bagian belakang dari gelang bahu dan
terletak disebelah belakang thorax lebih dekat permukaan kosta. Bentuknya segitiga pipih
dan memperlihatkan dua permukaan, tiga sudut dan tiga sisi. Permukaan scapula berupa
permukaan anterior dan kostal disebut fossa subscapularis dan terletak paling dekat
dengan kosta. Permukaan posterior atau dorsal terbagi oleh sebuah belebas yang disebut
spina skapula. Area diatas spina scapula adalah fossa supraspinosus dan dibawahnya
adalah fossa infraspinosus. Pada sisi medial depan processus akromion dan diatas cavitas
glenodalis adalah processus coracoideus. Akromion bersendi dengan kalvikula dan kavitas
gleinodalis yang datar yang terletak pada angulus lateral bersendi dengan kaput humerus.

Humerus atau tulang lengan atas adalah tulang terpanjang dari anggota atas.
Memperlihatkan sebuah batang dan dua ujung (proksimal dan distal). Ujung proksimal
humerus adalah sepertiga dari atas ujung humerus tediri atas sebuah kaput, yang membuat
sendi dengan rongga glenoid dari skapula dan merupakan bagian dari bangunan sendi bahu
atau glenohumeral. Pada permukaan anterolateralis ujung proksimal terdapat tuberkulum
majus dan bagian medialis terdapat tuberkulum minus, diantara kedua tuberkulum tersebut
terdapat sulcus intertubercularis. Ujung distal humerus lebar dan agak pipih. Pada bagian
paling bawah terdapat permukaan sendi yang dibentuk bersama tulang lengan bawah.
Trochlea yang terletak di sisi sebelah dalam tempat persendian dengan ulna dan di sebelah
luar terdapat capitulumyang bersendi dengan radius.

3
2.2Sendi
1. Glenohumeral
Sendi glenohumeral merupakan ball and socket joint dibentuk oleh kavitas
glenoidalis yang cekung menghadap kelateral serong ventrokranial dengan caput humerus
yang berbentuk cembung. Kaput humerus tertutup oleh hyaline cartilage yang tebal pada
tengah kaput, kavitas gleinodalis juga tertutup oleh kartilago hyaline. Hyaline cartilage
pada kavitas gleinodalis lebih tebal pada pada pinggir-pinggirnya. Variasi ketebalan
kartilago hyaline pada sendi ini untuk mencegah keluarnya kaput dari kavitas. Kavitas
gleinodalis mempunyai jaringan putih kartilago fibrosa yang disebut glenoid labrum dan
membuat kavitas glenoidalis menjadi lebih dalam, selain itu glenoid labrum menjadi
bantalan saat ada gerakan dari kaput humerus.

Kapsul artikularis sinovial sendi glenohumeral melekat pada limbus glenoidalis.


Kemudian mengalami evaginasi sehingga seperti kantong sepanjang tendo m. biceps
brachii caput longum yang berjalan intra kapsular dan mengelilinginya sebagai selubung
sinovial sulcul intertubercularis. Kapsul artikularis kendor dan apabila lengan atas
tergantung akan membentuk kantung kecil pada permukaan medial disebut resessus
axillaris.

Gambar. 2.2. Kapsul sendi glenohumeral.

Kapsula artikularis pada bagian atas diperkuat oleh ligament, yaitu ligamen
coracohumeral yang berasal dari basis processus coracoideus dan memancar ke dalam
kapsul artikularis dan membentang ke dalam tuberkulum majus dan tuberkulum minus

4
serta tiga ligamentum glenohumeral yang lemah yaitu ligamen glenohumeral inferior,
ligamen glenohumeral medial, ligamen glenohumeral superior dan ligamen
korakoakromial.

Gambar. 2.3. Sendi glenohumeral.

Kapsul artikularis glenohumeral pada patologi frozen shoulder mengalami


perubahan yaitu pada kapsul sendi bagian anterior superior mengalami sinovitis, kontraktur
ligamen korakohumeral, dan penebalan pada ligamen superior glenohumeral, pada kapsul
sendi bagian anterior inferior mengalami penebalan pada ligament inferior glenohumeral dan
kontraktur pada resessus axilaris, sedangkan pada kapsul sendi bagian posterior terjadi
kontraktur.

b) Mobilitas glenohumeral

Sendi glenohumeral memiliki tiga kebebasan gerak dalam tiga bidang gerak dan tiga
sumbu utama yaitu:

1.Sumbu transversal merupakan sumbu gerakan fleksi danekstensi dalam bidang


sagital.
2.Sumbu anteroposterior merupakan sumbu gerakan abduksi dan adduksi dalam
bidang frontal.
3.Sumbu longitudinal merupakan sumbu gerakan rotasi dan horizontal abduksi dan
horizontal adduksi pada humerus dalm bidang transversal.

5
Menurut American Academy of Orthopaedic Surgeon (AAOS) gerakan fleksi dan
ekstensi sendi glenohumeral mempunyai LGS fleksi: 180 dan ekstensi: 60 dengan gerak
arthrokinematik spin, kedua gerakan mempunyai end feel elastik. Gerak abduksi
mempunyai LGS: 90 elastic harder end feel dengan gerak arthrokinematik translasi
kaudal. LGS rotasi internal: 70 dan rotasi eksternal: 90 elastic end feel dengan
athrokinematik rotasi internal bahu adalah translasi ke dorsal dan rotasi eksternal adalah
translasi ke ventral. LGS abduksi horizontal: 120 dengan gerak arthrokinematik translasi
keventral dan LGS adduksi horizontal: 30 dengan gerak arthrokinematik translasi ke
dorsal, kedua gerakan elastic end feel.

Seluruh komponen tersebut memiliki gerak arthrokinematik traksi dengan arah


lateral sedikit serong ke ventrokranial.

2. Suprahumeral

Suprahumeral bukanlah sendi sebenarnya tetapi merupakan celah antara akromion


dan kaput humeri yang terisi oleh bursa subdeltoidea atau bursa subakromialis dan otot
rotator cuff yang terdiri dari m. supraspinatus, m. infraspinatus, m. Subcapularis serta
tendon biceps kaput longum. Patologi pada suprahumeral mengakibatkan painfull arc pada
saat abduksi elevasi bahu 60-120. Patologi dari suprahumeral tersebut dapat menjadi
frozen shoulder. Pada saat abduksi elevasi bahu terjadi benturan kaput humerus dengan
akromion, kemudian diantisipasi dengan humerus rotasi eksternal dan atau skapula
abduksi.

3. Acromioclavicular

Akromioklavikular merupakan sendi datar dimana akromion konkaf menghadap ke


medial dan klavikula konveks. Dalam gerak fisiologis adalah protraksi-retraksi dan gerak
elevasidepresi. Gerak arthrokinematik saat elevasi terjadi akromion ke cranial dan saat
depresi ke kaudal. Saat protraksi translasi keventral saat retraksi translasi ke dorsal. Gerak
traksinya selalu kearah lateral searah akromion ditarik. Kapsula articularis sendi
akromioklavikular dilindungi oleh ligamen-ligamen yang mengikat kuat. Pada permukaan
superior oleh ligamentum akromioklavikular, pada processus coracoideus dan klavikula
terbentang diantaranya yaitu ligamen coracoclaviculare. Bagian lateral berupa ligamen
trapezoideum dan pada sisi medial dilindungi oleh ligamen conoideum.

6
4. Sternoclavicular

Sternoclavicular merupakan sendi pelana dimana clavicula konkaf kearah


anteroposterior dan konveks kearah craniocaudal. Gerak fisiologisnya sama dengan sendi
acromioclavicular, athrokinematik saat elevasi translasi ke caudal, saat depresi transalsi ke
cranial, saat protraksi translasi ke ventral dan saat retraksi translasi ke dorsal. Traksi selalu
searah tarikan searah axis longitudinal calvicula. Ligamen yang melindungi sendi
sternocalvicular adalah ligamen intraclavicular yang menyatukan kedua clavicula,
ligamen anterior dan posterior sternoclavicular dan ligamen costoclavicular yang
terbentang antra iga pertama dan clavicula.

5. Scapulothoracal

Scapulothoracal bukan sendi sebenarnya, merupakan pertemuan antara scapula dan


dinding toraks. Scapulothoracal dibatasi oleh m. subscapular dan m. Serratus anterior,
distabilisasi oleh m. trapezius, m. rhomboideus, m. levator skapula dan m. serratus
anterior. Gerakan skapulotorakal adalah elevasi, depresi dan abduksi, adduksi. Gerak
arthrokinematik traksi adalah gerak skapula menjauh terhadap dinding toraks,
athrokinematik translasi searah dengan gerakan skapulotorakal. Pada frozen shoulder
terjadi gerak kompensasi dari skapulotorakal.

6. Intervertebral Joint

Intervertebral joint yang terlibat dalam gerakan bahu adalah intervetebral lower
cervical (C5-6-7-T1) dan upper thoracal (T1-2-3-4) dimana gerakan dari intervertebral
joint terjadi pada saat bahu fleksi penuh atau abduksi penuh terjadi gerakan intervertebral
rotasi kearah ipsilateral dan rotasi pada sisi kontralateral.

Pada sendi kepala dan leher gerakan fleksi dan extensi, lateral fleksi kanan dan
lateral fleksi kiri, rotasi kanan dan rotasi kiri, gerakan yang terjadi adalah gerakan luncur
dan menekuk. Pada sendi intervertebral, saat fleksi gerakan yang terjadi adalah gerak
luncur dan menekuk ke arah anterior vertebra diatasnya terhadap diskus dan vertebra
dibawahnya. Sedangkan extensi gerakan yang terjadi yaitu; luncur dan menekuk ke arah
posterior.

Pada sendi facet, dengan gerakan slide ke kanan dan kiri sendi facet inferior terhadap
sendi facet superior yang berbatasan dengan vertebra bagian inferior. Pada daerah cervical,

7
permukaan sendi facet sekitar 45 menghadap bidang tranversal. Permukaan sendi facet
inferior dari vertebra bagian atas menghadap ke depan dan ke bawah sedangkan bagian
sendi facet inferior dari vertebra bagian bawah menghadap ke belakang dan ke atas. Hal
ini menyebabkan saat fleksi terjadi gerakan slide ke depan atas dari sendi facet inferior
vertebra bagian atas terhadap sendi facet superior dari vertebra bagian bawah. Pada saat
extensi terjadi gerakan slide ke belakang dan bawah dari sendi facet inferior vertebra
bagian atas terhadap sendi facet superior vertebra bagian bawah. Pada lateral fleksi dan
rotasi, sendi facet inferior vertebra bagian bawah pada sisi lateral fleksi. Sedangkan sisi
yang berlawanan, sendi facet inferior vertebra bagian atas slide ke arah atlas dan depan
terhadap sendi facet superior vertebra bagian bawah. Thoracal facet terletak pada bidang
frontal sehingga gerak utamanya adalah rotasi akan tetapi memungkinkan gerakkan fleksi
dan ektensi. Pada thorakal gerak yang dominan adalah gerak rotasi akan tetapi
memungkinkan terjadinya gerak fleksi dan ekstensi.

Hal ini terjadi karena facet pada thorakal berada dalam bidang frontal dan dibatasi
oleh kosta sehingga LGS kecil. Gerakan pada thorakal joint berhubungan dengan lower
cervical yaitu pada C7 dengan T1, dan upper lumbar yaitu pada L1, sehingga apabila lower
cervical mengalami suatu patologis maka upperthorakal juga akan mengalami suatu
keluhan. Gerak spine juga akan mempengaruhi
gerakan pada nucleus pulposus yang berfungsi sebagai bantalan air yang distabilisasi
oleh annulus fibrosus dan kemampuannya dalam merespon setiap perubahan postur tubuh
baik static maupun dinamik.

Pada saat ekstensi akan terjadi gerakan nucleus ke anterior dan terjadi gerak luncur
dan menekuk ke arah posterior pada uppervertebrae. Selain itu pada thorakal akan terjadi
pengurangan kurva, penyempitan bagian posterior diskus, pelebaran bagian anterior
diskus, serta terjadi pengembangan rongga toraks. Pada saat fleksi akan terjadi gerak
anterior luncur dan menekuk vertebrae di atasnya terhadap diskus dan vertebrae di
bawahnya dan nukleusnya bergeser ke posterior. Gerak fleksi pada thorakal dapat terjadi
penambahan kurva, pelebaran bagian posterior diskus, serta pengecilan rongga toraks.

Pada saat terjadi lateral fleksi atau rotasi akan terjadi gerakan tilting dari
uppervertebrae pada ipsilateral dan nucleus bergerak ke arah yang berlawanan dengan arah
gerakan dan terjadi peningkatan tension pada bagian annulus. Gerak lateral fleksi selalu
diikuti dengan gerak rotasi yang dikenal dengan coupled movement.

7. Costovertebral dan Costotransversal

8
Costovertebral dan costotransversal yang terlibat dalam gerakan bahu adalah costa 1-
2-3-4 yang secara bertahap mengikuti gerak lengan atas seperti intervertebral joint dengan
winging dan rotasi. Pada frozen shoulder terjadi gerak kompensasi dari costovertebral.

2.3 Otot-otot Bahu

Bahu merupakan anggata gerak atas yang mempunyai mobilitas yang luas karena
memiliki bentuk ball and socket dengan bentuk socked dari kavitas gleinodalis yang datar.
Mobilitas yang luas dari sendi bahu tersebut, maka bahu memiliki otot-otot bahu yang kuat
sebagai stabilitas aktifnya. Otot-otot bahu selain untuk stabilitas dari sendi bahu kompleks,
juga menghasilkan gerakan bahu, tiap otot bahu dapat menyokong lebih dari satu gerakan
bahu. Adapun otot-otot bahu tersebut adalah:

1. M. deltoid dibagi menjadi tiga bagian, bagian anterior berorigo pada


permukaan anterior sepertiga lateral klavikula, bagian medius berorigo pada processus
acromion skapula, bagian posterior berorigo pada permukaan inferior spina skapula dan
ketiga bagian tersebut berinsersio pada tuberositas deltioidea. M. deltoid anterior berfungsi
untuk menggerakan fleksi bahu, m. deltoid medius untuk abduksi bahu dan m. deltoid
posterior untuk ekstensi bahu. Ketiga bagian m. deltoid tersebut dipersyarafi oleh n.
axilaris, radiks C5-C6.

2. M. pectoralis major terdiri dari dua bagian yaitu clavicular portion yang
berorigo pada permukaan anterior medial klavikula dan sternocostal portion berorigo pada
permukaan sternum, kartilago iga ke satu sampai ketujuh, aponeurosis obliquus eksternus
abdominis, kedua bagian tersebut berinsersio pada permukaan lateral sulcus
intertubercularis humerus. Fungsi dari m. Pectoralis adalah adduksi dan rotasi internal
bahu, fungsi lain dari otot ini pada clavicular portion berfungsi untuk fleksi dan adduksi
horizontal bahu, pada sternocosta portion berfungsi untuk ekstensi bahu saat lengan bawah
posisi fleksi. M. pectoralis dipersyarafi oleh n. pectoralis medialis dan lateralis, radiks C5-
8, T1.

M. coracobrachialis berorigo pada processus coracoideus dan berinsersio pada


permukaan medial sepertiga shaft of humerus, otot ini berfungsi untuk fleksi dan adduksi
bahu. M. Coracobrachialis dipersyarafi oleh n. musculocutaneus, radiks C6, C7. M. biceps
brachii mempunyai dua kaput yaitu kaput longum yang berorigo pada tubrositas
supragleinoid skapula dan kaput brevis yang berorigo pada processus coracoideus

9
scapula, kedua caput tersebut berinsersio pada tuberositas radius. M. biceps brachii
berfungsi untuk fleksi siku, supinasi, dan membantu bahu untuk melakukan gerakan fleksi,
otot ini dipersyarafi oleh n. musculocutaneus, radiks C5, C6.

4. M. teres major berorigo pada permukan posterior angulus inferior scapula


dan berinsersio pada medial sulkus intertuberkularis humerus. M. teres major berfungsi
untuk adduksi, ekstensi, dan internal rotasi bahu, otot ini dipersyarafi oleh n.
lowersubscapular, radiks C5, C6.

Gambar 2.4. Otot-otot bahu bagian posterior profunda

6. M. teres minor berorigo pada dua pertiga atas permukaan posterior perbatasan
aksilaris skapula dan berinsersio pada tuberkulum majus humerus. M. Teres minor
berfungsi untuk eksternal bahu, otot ini persyarafi oleh n. axillary, radiks C5.
7. M. triceps brachii kaput longum berinsersio pada tuberositasinfragleinodalis
scapula dan berinsersio pada prosesus olekranon ulna, otot ini berfungsi untuk ekstensi
siku dan membantu gerakn ekstensi bahu. M. triceps brachii dipersyarafi oleh N. radialis,
radiks C7, C8.

8. M. infraspinatus berorigo pada fossa infraspinata scapula dan berinsersio


pada tuberkulum majus humeri, otot ini berfungsi untuk rotasi eksternal bahu dan
dipersyarafi oleh n. suprascapularis, radiks C4-C6.

10
9. M.supraspinatus berorigo pada fossa supraspinata skapula dan beinsersio pada
tuberculum majus humerus. M. Supraspinatus berfungsi untuk abduksi dan rotasi eksternal
bahu, otot ini dipersyarafi oleh n. suprascapularis, radiks C5, C6.

Gambar 2.6. Otot-otot bahu bagian anterior profunda


10.M. subscapularis berorigo pada permukaan fossa subskapular dan berinsersio pada
tuberkulum minus. Fungsi otot ini adalah untuk rotasi internal bahu dan dipersyarafi oleh n. upper
dan lower subskapular, radiks C5, C6.

11.M. levator scapula berorigo pada processus transversus empatvertebra cervikal


atas, berjalan secara diagonal dan berinsersio pada perbatasan vertebra skapula, diantara
angulus superior dan spina skapula. Fungsi M.levator skapula adalah elevasi , adduksi dan
downward rotation skapula, otot ini dipersyarafi olehn. Dorsal skapula, radiks C3, C4, C5.

12. M. lattisimus dorsi berorigo pada prosesus spinosus sakral, lumbal,dan


keenam vertebra thoracal bawah, supraspinal ligament via fascia thoracolumbal, krista
iliaka dan iga ketiga-empat bawah, otot ini berinsersio pada dasar sulcus interubercularis
humerus. Fungsi dari M. lattisimus dorsi adalah untuk ekstensi, adduksi dan internal rotasi
bahu, otot ini dipersyarafi oleh n. thoracodorsal, radiks C6, C8.

11
13. M. upper trapezius berorigo pada eksternal oksipital protuberan, ligamentum
nuchea, processus spinosus vertebra cervikal ketujuh dan berinsersio pada sepertiga lateral
klavikula. Fungsi dari M. upper trapezius adalah elevasi skapula dan upward rotation
scapula, otot ini dipersyarafi oleh n. spinal acessorius( NC.IX ), radiks C1-C5.

14. M. middle trapezius berorigo pada processus spinosus vertebra thorakal


pertama sampai kelima dan ligamen supra spinal, berinsersio pada perbatasan medial
processus akromion skapula dan spina skapula, otot ini berfungsi untuk adduksi skapula.
M middle trapezius dipersyarafi oleh n. spinal acessorius (NC.IX ), radiks C1-C5.

Gambar 2.8. Otot bahu bagian anterior superficial.

15. M. lower trapezius berorigo pada processus spinosus vertebra thorakal keenam
sampai keduabelas dan ligamen supraspinosus, berinsersio pada tuberkulum diatas ujung
spina skapula. M. Lower trapezius berfungsi untuk depresi skapula dan upward rotation
scapula, otot ini dipersyarafi oleh n. spinal acessorius ( NC.IX ), radiks C1-C5.

12
16. M. rhomboideus major berorigo pada processus spinosus T2-T5 dan ligament
supraspinosus, berinsersio pada perbatasan vertebra skapula diantara spina dan angulus
inferior skapula. M. rhomboideus major berfungsi untuk adduksi dan down ward rotation
scapula, otot ini dipersyarafi oleh n. dorsal scapular, radiks C5.

17. M. rhomboideus minor berorigo pada processus spinosus C7 dan T1 dan


permukaan inferior ligamentum nuchae, berinsersio pada dasar spina skapula. M.
rhomboideus minor berfungsi untuk adduksi dan downward rotation scapula, otot ini
dipersyarafi oleh n. dorsal scapular, radiks C5.

18. M. serratus anterior berorigo pada permukaan anteriorsuperior iga atas


kedelapan dan kesembilan, berinsersio pada permukaan anterior perbatasan vertebra
skapula. M. serratus anterior berfungsi untuk abduksi skapula dan upward rotation
scapula, otot ini dipersyarafi oleh n. throracalis longus, radiks C5-C7.

19. M. subclavius berorigo pada anterior iga pertama dan kartilagonya, otot ini
menyebar keatas dan berinsersio sepanjang sisi tengah dalam klavikula, fungsi otot ini
untuk depresi skapula.

20. M. pectoralis minor berada di bawah M. pectoralis major. Otot ini berorigo
pada permukaan luar atas iga iga ketiga, empat, dan lima dekat dengan kartilagonya,
berinsersio pada processus coracoideus scapula. M. pectoralis minor berfungsi sebagai
depresi shoulder girdle, abduksi skapula dan downward rotation scapula, otot ini
dipersyarafi oleh n. pectoralis medialis dan lateralis, radiks C5-8, T1.
2.1.2.4 Scapulo Humeral Rhythm

Posisi dan gerakan yang terjadi pada sendi glenohumeral selalu berkaitan dengan
seluruh subsistem dalam shoulder complex, hal ini menyebabkan adanyascapulohumeral
rhythm yaitu pada selama gerakan abduksi elevasi juga fleksi shoulder terjadi gerakan
osteokinematik yang proporsional antara humerus dan scapula. Pada awal gerak abduksi 0-
30 terjadi gerak humerus 30 sementara scapula pada posisi tetap atau bahkan sedikit
adduksi. Pada lingkup 30 - 60 terjadi gerakan yang proporsional antara abduksi humerus

13
: scapula sebesar 2 : 1. Selanjutnya pada abduksi 60 120 juga terjadi rotasi eksternal
humerus secara bertahap sebesar 90 karena menghindari benturan akromion dengan head
of humerus. Sementara gerak proporsional antara humerus dan scapula 2 : 1 tetap
berlanjut. Pada abduksi 120 180 gerak proporsional tersebut tetap berlanjut. Pada
lingkup ini mulai terjadi gerakan intervertebral dan costae dan bermakna pada akhir ROM.
Pada kasus frozen shoulder gerak scapulohumeral rhythm tersebut menjadi terbalik
perbandingan antara humerus dan scapula yaitu 1:2, yang disebut reverse scapulohumeral
rhythm, ini menandakan adanya pemendekan capsulo ligamenter pada penderita frozen
shoulder.

2.1.2.5 Reverse Humeroscapular Rhythm

Adalah suatu penyimpangan ritme gerak scapulohumeral berupa keterbalikan pola


gerak dimana scapula lebih besar dari humerus pada saat abduksi-elevasi gerak shoulder.
Hal ini bisa terjadi apabila:

1. Kontraktur kapsul Glenohumeral

2. Hypermobilitas Acromioclavicula joint

3. Kelemahan dan/atau overstrecing pada Romboidei

2.3 Pengertian Frozen Shoulder


Frozen shoulder adalah suatu syndrom atau kondisi dengan keluhan nyeri dan
keterbatsan gerak aktif dan pasif yang sering terjadi pada 2-3% populasi dan sering terjadi
pada orang yang berusia lebih dari 40 tahun, terutama wanita berusia 50 tahun 15% pasien
akan mengalami frozen shoulder bilateral. Penyebab frozen shoulder tidak diketahui,
diduga penyakit ini merupakan respon auto immobilisasi terhadap patologi jaringan local
(Graham, 2000).
Tahapan Frozen shoulder antara lain sebagai berikut:
a. Freezing

14
Pada tahapan ini , seseorang perlahan akan mengalami sakit dan terus menerus
sehingga membuat bahu kehilangan banyak gerak dan proses ini terjadi biasanya
berlangsung dari 6 minggu sampai 9 bulan.

b.Frozen
Nyeri pada bahu masih diasakan tetapi pada tahapan ini proses perbaikan di
mulai,namun kekakuan tetap ada. Selama 4 sampai 6 bulan tahap "beku", aktivitas sehari-hari
mungkin sangat sulit.
c.Thawing
Gerakan bahu perlahan membaik selama tahap ini. Kekuatan bahu normal atau
mendekati kekuatan normal dan gerak. Tahapan ini biasanya berlangsung dari 6 bulan sampai
2 tahun.
2.4 Etiologi
Etiologi dari frozen shoulder akibat capsulitis adhesiva masih belum diketahui dengan
pasti. Adapun faktor predisposisinya antara lain periode immobilisasi yang lama, akibat
trauma, over use, injuries atau operasi pada sendi, hyperthyroidisme, penyakit
cardiovascular,clinical depression dan Parkinson.
Adapun beberapa teori yang dikemukakan AAOS tahun 2007 mengenai frozen
shoulder, teori tersebut adalah :
a. Teori hormonal.
Pada umumnya frozen shoulder terjadi 60% pada wanita bersamaan dengan datangnya
menopause.
b. Teori genetik.
Beberapa studi mempunyai komponen genetik dari frozen shoulder, contohnya ada
beberapa kasus dimana kembar identik pasti menderita pada saat yang sama.
c. Teori auto immuno.
Diduga penyakit ini merupakan respon auto immuno terhadap hasil-hasil rusaknya
jaringan lokal.
d. Teori postur.
Banyak studi yang belum diyakini bahwa berdiri lama dan berpostur tegap
menyebabkan pemendekan pada salah satu ligamen bahu.

15
2.5 Patologi
Kapsul sendi terdiri dari selaput penutup fibrosa padat, suatu lapisan dalamnya
terbentuk dari jaringan penyambung berpembuluh darah banyak dan sinovium, yang
berbentuk suatu kantong yang melapisi seluruh sendi, dan membungkus tendon-tendon yang
melintasi sendi, sinovium tidak meluas melampaui permukaan sendi tetapi terlipat sehingga
memungkinkan gerakan secara penuh. Sinovium menghasilkan cairan yang sangat kental
yang membasahi permukaan sendi. Cairan sinovium normalnya bening, tidak membeku, tidak
berwarna. Jumlah yang di permukaan sendi relative kecil (1-3 ml). Cairan sinovium juga
bertindak sebagai sumber nutrisi bagi tulang rawan sendi. Capsulitis adhesiva merupakan
kelanjutan dari lesi rotator cuff, karena terjadi peradangan atau degenerasi yang meluas ke
sekitar dan ke dalam kapsul sendi dan mengakibatkan terjadinya reaksi fibrous. Adanya
reaksi fibrous dapat diperburuk akibat terlalu lama membiarkan lengan dalam posisi
impingement yang terlalu lama (Appley, 1993).
Sindroma nyeri bahu sangat komplek dan sulit untuk diidentifikasi satu persatu bagian
secara detail. Guna memahami penyebab dan patologi sindroma nyeri bahu, maka dapat
dikelompokkan menjadi:
a. Faktor Penyebab:
1) Faktor penyebab gerak dan fungsi, yang terkait dengan aktifitas gerak dan struktur
anatomi
2)Faktor penyebab penyebab secara neurogenik yang berkaitan dengan keluhan
neurologik yang menyertai baik secara langsung maupun tidak langsung yang berupa nyeri
rujukan.
b.Berdasarkan sifat keluhan nyeri bahu dapat dikelompokkan menjadi 2
yaitu :
(a) Kelompok spesifik, mengikuti pola kapsuler dan
(b) Kelompok tidak spesifik sebagai kelompok yang bukan mengikuti pola kapsuler.

2.6 Tanda dan gejala


a. Nyeri
Pasien berumur 40-60 tahun, dapat memiliki riwayat trauma, seringkali ringan, diikuti
sakit pada bahu dan lengan nyeri secara berangsur-angsur bertambah berat dan pasien sering
tidak dapat tidur pada sisi yang terkena. Setelah beberapa lama nyeri berkurang, tetapi
sementara itu kekakuan semakin terjadi, berlanjut terus selama 6-12 bulan setelah nyeri

16
menghilang. Secara berangsur-angsur pasien dapat bergerak kembali, tetapi tidak lagi
normal.1
b.Keterbatasan Lingkup gerak sendi
Capsulitis adhesive ditandai dengan adanya keterbatasan luas gerak sendi glenohumeral
yang nyata, baik gerakan aktif maupun pasif. Ini adalah suatu gambaran klinis yang dapat
menyertai tendinitis, infark myokard, diabetes melitus, fraktur immobilisasi berkepanjangan
atau redikulitis cervicalis. Keadaan ini biasanya unilateral, terjadi pada usia antara 4560
tahun dan lebih sering pada wanita.
Nyeri dirasakan pada daerah otot deltoideus. Bila terjadi pada malam hari sering sampai
mengganggu tidur. Pada pemeriksaan fisik didapatkan adanya kesukaran penderita dalam
mengangkat lengannya (abduksi), sehingga penderita akan melakukan dengan mengangkat
bahunya (srugging) (Heru P Kuntono,2004).
b. Penurunan Kekuatan otot dan Atropi otot
Pada pemeriksaan fisik didsapat adanya kesukaran penderita dalam mengangkat
lengannya (abduksi) karena penurunan kekuatan otot. Nyeri dirasakan pada daerah otot
deltoideus, bila terjadi pada malam hari sering menggangu tidur. Pada pemeriksaan
didapatkan adanya kesukaran penderita dalam mengangkat lengannya (abduksi), sehingga
penderita akan melakukandengan mengangkat bahunya (srugging). Juga dapat dijumpai
adanya atropi bahu (dalam berbagaoi tingkatan). Sedangkan pemeriksaan neurologik
biasanya dalam batas normal (Heru P Kuntono, 2004).
c. Gangguan aktifitas fungsional
Dengan adanya beberapa tanda dan gejala klinis yang ditemukan pada penderita frozen
shoulder akibat capsulitis adhesiva seperti adanya nyeri, keterbatasan LGS, penurunan
kekuatan otot dan atropi maka secara langsung akan mempengaruhi (mengganggu) aktifitas
fungsional yang dijalaninya.

Pemeriksaan Penunjang
Sinar X : Struktur padat, seperti tulang, tampak jelas pada sinar-x. Sinar-X mungkin
menunjukkan masalah lain di bahu Anda, seperti radang sendi.

Magnetic Resonance Imaging (MRI) dan USG. : untuk melihat robekan pada bahu,
seperti manset rotator yang robek.

17
2.7 Komplikasi.

Pada kondisi frozen shoulder akibat capsulitis adhesiva yang berat dan tidak dapat
mendapatkan penanganan yang tepat dalam jangka waktu yang lama, maka akan timbul
problematik yang lebih berat antara lain : (1) Kekakuan sendi bahu (2) Kecenderungan
terjadinya penurunan kekuatan otot-otot bahu (3) Potensial terjadinya deformitas pada sendi
bahu (4) Atropi otot-otot sekitar sendi bahu (5) Adanya gangguan aktifitas keseharian (AKS).
2.8 Diagnosis banding

Kekakuan pasca trauma setelah setiap cedera bahu yang berat, kekakuan dapat bertahan
beberapa bulan. Pada mulanya kekurangan ini maksimal dan secara berangsur-angsur
berkurang, berbeda dengan pola bahu beku ( Appley,1993)
Kondisi pembanding dari kondisi Frozen shoulder yang diakibatkan capsulitis adhesiva
antara lain: 1) Bursitis subacromial, 2) Tendinitis bicipitalis 3) Lesi rotator cuff

2.9 Penatalaksanaan
Frozen shoulder umumnya membaik seiring berjalannya waktu, meski mungkin butuh
waktu hingga 3 tahun. Fokus pengobatan adalah mengendalikan rasa sakit dan
mengembalikan gerak dan kekuatan melalui terapi fisik.
A.Farmakologi .
Obat antiinflamasi non steroid. Obat seperti aspirin dan ibuprofen mengurangi rasa
sakit dan pembengkakan.Suntikan steroid Cortisone adalah obat antiinflamasi yang kuat yang
disuntikkan langsung ke sendi bahu Anda.

B.Nonfarmokologi
Lebih dari 90% pasien membaik dengan perawatan yang relatif sederhana untuk
mengendalikan rasa sakit dan mengembalikan gerakan.

Terapi fisik.
Latihan khusus akan membantu mengembalikan gerak. Ini mungkin berada di bawah
pengawasan terapis fisik atau melalui program di rumah. Terapi meliputi peregangan atau
rentang gerak gerak untuk bahu. Terkadang panas digunakan untuk membantu melonggarkan
bahu sebelum latihan peregangan. Berikut adalah beberapa contoh latihan yang mungkin
direkomendasikan.

18
Rotasi eksternal - Peregangan pasif. Berdiri di ambang pintu dan tekuk lengan yang
terkena 90 derajat untuk mencapai kusen pintu. Jaga tangan Anda di tempat dan putar tubuh
Anda seperti ditunjukkan pada ilustrasi. Tahan selama 30 detik. Tenang dan ulangi.

Posisi fleksi depan - terlentang. Berbaring telentang dengan kaki lurus. Gunakan lengan yang
tidak terpengaruh untuk mengangkat lengan yang terkena ke atas sampai Anda merasakan
peregangan yang lembut. Tahan selama 15 detik dan perlahan turunkan ke posisi start.
Tenang dan ulangi.

Peregangan lengan melintang. Perlahan tarik satu lengan ke dada tepat di bawah dagu Anda
sejauh mungkin tanpa menimbulkan rasa sakit. Tahan selama 30 detik. Tenang dan ulangi.

19
20
DAFTAR PUSTAKA
1.AAOS. 2006. Frozen Shoulder. 06 juli 2014. http//www.AAOS.frozen shoulder.com
2.Apley, A. G. and Solomon, L., 1995; Buku Ajar Orthopedi & Fraktur Sistem Apley; Edisi 7
diterjemahkan oleh dr. Edy Nugroho, Widya Medika, Jakarta, hal. 11-12
3. Astuti. 2008. Penatalaksanaaan Fisioterapi Pada Penderita Frozen Shoulder Dextra.
Surakarta. Politeknik Kesehatan Surakarta.

4.Brader H. Konin JG. Wiksten DL. Isear Jr JA. 2006. Special Tests For Orthopedic
Examination. 3nd ed. America: Slack Incorporated.
5.Cluett J. 2007. Frozen Shoulder. Diakses : 5/06/2014.
http://www.orthopedics.about.com/cs/frozenshoulder/a/frozenshoulder.htm
6. Shidarta Priguna, dr; (1984), Sakit Muskuloskeletal Dalam Praktek Klinik, PT Dian
Rakyat, Jakarta, hal 80-102.

21

Anda mungkin juga menyukai