Anda di halaman 1dari 26

ETIKA PROFESI

ALASAN DIPERLUKAN TATA KELOLA YANG BAIK DAN ETIKA


BISNIS

Kelompok 1
I Made Gheby Kusnadi 1697612009
AA Finty Udayani 1697612011

Program Profesi Akuntansi


Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Udayana
2017
Teori Keagenan (Agency Theory)

Teori keagenan (Agency theory) merupakan basis teori yang mendasari praktik bisnis
perusahaan yang dipakai selama ini. Teori tersebut berakar dari sinergi teori ekonomi, teori
keputusan, sosiologi, dan teori organisasi. Prinsip utama teori ini menyatakan adanya hubungan
kerja antara pihak yang memberi wewenang (prinsipal) yaitu investor dengan pihak yang
menerima wewenang (agensi) yaitu manajer, dalam bentuk kontrak kerja sama yang disebut
nexus of contract.
Jensen dan Meckling(1976) mendefinisikan hubungan keagenan (agency
relationship)sebagai berikut:
"an agency relationship as a contract under which one or more persons(the principal(s))
engage another person (the agent) to perform some service on their behalf which involves
delegating some decision making authorityto the agent"

Hubungan keagenan merupakan suatu kontrak dimana satu atau lebih orang (prinsipal)
memerintah orang lain (agen) untuk melakukan suatu jasa atas nama prinsipal serta memberi
wewenang kepada agen membuat keputusan yang terbaik bagi prinsipal. Jika kedua belah pihak
tersebut mempunyai tujuan yang sama untuk memaksimumkan nilai perusahaan, maka
diyakini agen akan bertindak dengan cara yang sesuai dengan kepentingan prinsipal.
Hubungan Prinsipal dan Agen
- Pemegang Saham dan Manajemen
Hubungan keagenan dalam teori agensi muncul karena adanya hubungan kerja antara
pihak yang memberi wewenang (prinsipal) yaitu investor dengan pihak yang menerima
wewenang (agen) yaitu manajer, dalam bentuk kontrak kerja sama dimana prinsipal
mendelegasikan otoritas pengambilan keputusan kepada agen dalam mengelola
kekayaan investor (Brigham dan Houston, 2004). Investor mempunyai harapan bahwa
dengan mendelegasikan wewenang pengelolaan tersebut akan memperoleh keuntungan
dengan bertambahnya kekayaan dan kemakmuran investor. Sedangkan manajer sebagai
pengelola perusahaan lebih banyak mengetahuiinformasi internal dan prospek
perusahaan di masa yang akan datang dibandingkan pemilik (pemegang saham atau
investor). Oleh sebab itu, manajer mempunyai kewajiban memberikan informasi
mengenai kondisi perusahaan kepada pemilik.Informasi yang diberikan oleh manajer
dapat dilakukan dengan mengungkapkan informasi akuntansiseperti laporan keuangan
perusahaan.
- Pemegang Saham Publik dan Pemegang Saham Pengendali
Gilson dan Gordon (2003) mengemukakan bahwa masalah keagenan dapat dilihat dari
dua sisi, yaitu masalah keagenan pertama antara pemegang saham dan manajemen serta
masalah keagenan kedua antara pemegang saham pengendali dan pemegang saham non
pengendali (pemegang saham publik). Masalah keagenan antara pemegang sahamdan
manajemen muncul karena adanya pemisahan kepemilikan dan kontrol,sedangkan
masalah keagenan antara pemegang saham pengendali dan pemegang saham non
pengendali muncul karena adanya insentif dan kemampuan pemegang saham
pengendali untuk mendapatkan manfaat privat atas kontrol. Manfaat privat inilah yang
mendorong pemegang saham pengendali untuk mempertahankan kontrol perusahaan.
Manfaat privat atas kontrol lebih besar apabila kepemilikannya
terkonsentrasi.Pemegang saham pengendali memiliki kontrol terhadap perusahaan
melebihi hak aliran kasnya. Dengan konsentrasi kepemilikan seperti ini, muncul konflik
keagenan antara pemegang saham pengendali dengan pemegang saham non
pengendali. Pemegang saham pengendali mampu secara efektif mempengaruhi
kebijakan manajemen atau bahkan menentukan manajemen. Dengan demikian dapat
dikatakan bahwa adapermasalahan pemisahan hak aliran kas dan hak kontrol. Hak
kontrol merupakanhak suara untuk mengambil keputusan penting. Hak aliran kas
merupakan klaimterhadap dividen.
- Kreditur dan Manajemen
Penggunaan utang atau dana masyarakat dapat menimbulkan masalah keagenan pada
saat manajer memutuskan untuk melakukaninvestasi yang berisiko tinggi. Keputusan
semacam itu bila berjalan baikakan sangat menguntungkan bagi bank, namun jika gagal
akan sangatmerugikan bagi kreditur. Disisi lain utang juga akan mendorong manajemen
untukmenyerahkan arus kas bebas kepada pemegang saham yang selanjutnyadigunakan
untuk membayar kembali kewajiban atau untuk reinvestasi(Jensen 1986). Penggunaan
utang menjadi sebuah alat insentif bagi manajer untuk lebih berhati-hati guna
mengindari ancaman kebangkrutan.
- Pemangku Kepentingan Lainnya dan Manajemen
Menurut Van der Stede (2007), tata kelola perusahaan merujuk pada seperangkat
mekanisme dan proses yang membantu memastikan bahwa perusahaan diarahkan dan
dikelola untuk menciptakan nilai bagi pemiliknya sementara secara bersamaan
memenuhi tanggung jawab kepada para pemangku kepentingan lain (misalnya
karyawan, pemasok, masyarakat pada umumnya).
Pemicu Konflik Kepentingan dan Masalah Keagenan Yang Timbul (Informasi

Asimetri dan Perilaku Self-Interest)

Berdasarkan asumsi sifat dasar manusia dijelaskan bahwa masing-masing individu

semata-mata termotivasi oleh kepentingan dirinya sendiri sehingga menimbulkan konflik

kepentingan antara prinsipal dan agen. Permasalahan yang timbul akibat adanya perbedaan

kepentingan antara prinsipal dan agen disebut dengan agency problems. Salah satu

penyebab agency problems adalah adanya asymmetric information (Informasi Asimetri).

Asymmetric Information adalah ketidakseimbangan informasi yang dimiliki oleh prinsipal

dan agen, ketika prinsipal tidak memiliki informasi yang cukup tentang kinerja agen,

sebaliknya agen memiliki lebih banyak informasi mengenai kapasitas diri, lingkungan

kerja dan perusahaan secara keseluruhan. Jensen dan Meckling (1976) menyatakan

permasalahan tersebut adalah:

1. Moral hazard, yaitu permasalahan muncul jika agen tidak melaksanakan hal-hal yang
disepakati bersama dalam kontrak kerja.
2. Adverse selection, yaitu suatu keadaan di mana prinsipal tidak dapat mengetahui apakah
suatu keputusan yang diambil oleh agen benar-benar didasarkan atas informasi yang
telah diperolehnya, atau terjadi sebagai sebuah kelalaian dalam tugas.
Selain itu, masalah keagenan juga dapat terjadi apabila bagian kepemilikan manajer
atas saham perusahaan kurang dari seratus persen (Masdupi, 2005). Dengan proporsi
kepemilikan yang hanya sebagian dari perusahaan membuat manajer cenderung bertindak
untuk kepentingan pribadi(self interest) dan bukan untuk memaksimumkan
perusahaan.Inilah yang nantinya akan menyebabkan biaya keagenan (agency cost). Jensen
dan Meckling (1976) mendefinisikan agency cost sebagai jumlah dari biaya yang
dikeluarkan prinsipal untuk melakukan pengawasan terhadap agen.
Menurut teori keagenan, konflik antara prinsipal dan agen dapat dikurangi dengan
mensejajarkan kepentingan antara prinsipal dan agen. Kehadiran kepemilikan saham oleh
manajerial (insider ownership) dapat digunakan untuk mengurangi agency cost yang
berpotensi timbul, karena dengan memiliki saham perusahaan diharapkan manajer
merasakan langsung manfaat dari setiap keputusan yang diambilnya.
Peran Tata Kelola dan Tata Kelola Bisnis Untuk Mengatasi Konflik Kepentingan
Masalah-masalah keagenan dapat diatasi dengan tata kelola perusahaan(corporate
governance).Corporate Governance dapat didefinisikan sebagai seperangkat peraturan yang
mengatur hubungan antara pemegang saham, pengurus (pengelola) perusahaan, pihak kreditur,
pemerintah, karyawan serta para pemegang kepentingan internal dan eksternal lainnya yang
berkaitan dengan hak-hak dan kewajiban mereka atau dengan kata lain suatu sistem yang
mengatur dan mengendalikan perusahaan.Berdasarkan teori keagenan, ada 2 macam corporate
governance yaitu bad dan good (Armstrong, 2009).Bad corporate governance berarti
perusahaan mengalami konflik keagenan yang serius antara pemegang saham dan manajer,
serta biaya kontrak.Sedangkan good corporate governance berarti perusahaan dapat
mengurangi konflik keagenan antara pemegang saham dan manajer, serta biaya kontrak.
Good Corporate Governance dapat didefinisikan sebagai struktur, sistem, dan proses
yang digunakan oleh pihak-pihak internal maupun eksternal yang berkaitan dengan perusahaan
sebagai upaya untuk memberikan nilai tambah perusahaan secara berkesinambungan dalam
jangka panjang, dengan tetap memperhatikan kepentingan stakeholder lainnya, berlandaskan
peraturan perundangan dan norma yang berlaku. Dari definisi tersebut dapat disimpulkan
bahwa GCG merupakan:
- Suatu struktur yang mengatur pola hubungan harmonis tentang peran dewan komisaris,
direksi, pemegang saham, dan para stakeholder lainnya.
- Suatu sistem pengawasan dan keseimbangan kewenangan atas pengendalian
perusahaan yang dapat membatasi munculnya dua peluang, yaitu pengelolaan yang
salah dan penyalahgunaan aset perusahaan.
- Suatu proses yang transparan atas penentuan tujuan perusahaan, pencapaian, berikut
dengan pengukuran kinerjanya.

Definisi dan Prinsip Dasar Tata Kelola


Setiap perusahaan harus memberikan kepastian atas penerapan prinsip atau asas GCG
di setiap aspek bisnisnya. Menurut KNKG (2006), prinsip-prinsip GCG terdiri dari
transparansi, akuntabilitas, responsibilitas, independensi serta kewajaran dan kesetaraan
diperlukan untuk mencapai kesinambungan usaha (sustainability) perusahaan dengan
memperhatikan pemangku kepentingan (stakeholders).
- Transparansi
Untuk menjaga obyektivitas dalam menjalankan bisnis, perusahaan harus menyediakan
informasi yang material dan relevan dengan cara yang mudah diakses dan dipahami
oleh pemangku kepentingan. Perusahaan harus mengambil inisiatif untuk
mengungkapkan tidak hanya masalah yang disyaratkan oleh peraturan perundang-
undangan, tetapi juga hal yang penting untuk pengambilan keputusan oleh pemegang
saham, kreditur dan pemangku kepentingan lainnya.Pedoman pokok pelaksanaannya:
a. Perusahaan harus menyediakan informasi secara tepat waktu, memadai, jelas, akurat
dan dapat diperbandingkan serta mudah diakses oleh pemangku kepentingan sesuai
dengan haknya.
b. Informasi yang harus diungkapkan meliputi tetapi tidak terbatas pada, visi, misi,
sasaran usaha dan strategi perusahaan, kondisi keuangan, susunan dan kompensasi
pengurus, pemegang saham pengendali, kepemilikan saham oleh anggota Direksi
dan anggota Dewan Komisaris beserta anggota keluarganya dalam perusahaan dan
perusahaan lainnya, sistem manajemen resiko, sistem pengawasan dan pengendalian
internal, sistem dan pelaksanaan GCG serta tingkat kepatuhannya, dan kejadian
penting yang dapat mempengaruhi kondisi perusahaan.
c. Prinsip keterbukaan yang dianut oleh perusahaan tidak mengurangi kewajiban untuk
memenuhi ketentuan kerahasiaan perusahaan sesuai dengan peraturan perundang-
undangan, rahasia jabatan, dan hak-hak pribadi.
d. Kebijakan perusahaan harus tertulis dan secara proporsional dikomunikasikan
kepada pemangku kepentingan.
- Akuntabilitas
Perusahaan harus dapat mempertanggungjawabkan kinerjanya secara transparan dan
wajar. Untuk itu perusahaan harus dikelola secara benar, terukur dan sesuai dengan
kepentingan perusahaan dengan tetap memperhitungkan kepentingan pemegang saham
dan pemangku kepentingan lain. Akuntabilitas merupakan prasyarat yang diperlukan
untuk mencapai kinerja yang berkesinambungan.Pedoman pokok pelaksanaannya:
a. Perusahaan harus menetapkan rincian tugas dan tanggung jawab masing-masing
pihak perusahaan yang bersangkutan dan semua karyawan secara jelas dan selaras
dengan visi, misi, nilai-nilai perusahaan (corporate values), dan strategi perusahaan.
b. Perusahaan harus meyakini bahwa semua pihak perusahaan yang berkepentingan
dan semua karyawan mempunyai kemampuan sesuai dengan tugas, tanggung jawab,
dan perannya dalam pelaksanaan GCG.
c. Perusahaan harus memastikan adanya sistem pengendalian internal yang efektif
dalam pengelolaan perusahaan.
d. Perusahaan harus memiliki ukuran kinerja untuk semua jajaran perusahaan yang
konsisten dengan sasaran usaha perusahaan, serta memiliki sistem penghargaan dan
sanksi (reward and punishment system).
Dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya, setiap pihak perusahaan yang
bersangkutan dan semua karyawan harus berpegang pada etika bisnis dan pedoman
perilaku (code of conduct) yang telah disepakati.
- Responsibilitas
Perusahaan harus mematuhi peraturan perundang-undangan serta melaksanakan
tanggung jawab terhadap masyarakat dan lingkungan sehingga dapat terpelihara
kesinambungan usaha dalam jangka panjang dan mendapat pengakuan sebagai good
corporate citizen.Pedoman pokok pelaksanaannya:
a. Pihak-pihak perusahaan yang berkepentingan harus berpegang pada prinsip kehati-
hatian dan memastikan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan,
anggaran dasar dan peraturan perusahaan (by-laws).
b. Perusahaan harus melaksanakan tanggung jawab sosial dengan antara lain peduli
terhadap masyarakat dan kelestarian lingkungan terutama di sekitar perusahaan
dengan membuat perencanaan dan pelaksanaan yang memadai.
- Independensi
Untuk melancarkan pelaksanaan asas GCG, perusahaan harus dikelola secara
independen sehingga masing-masing organ perusahaan tidak saling mendominasi dan
tidak dapat diintervensi oleh pihak lain.Pedoman pokok pelaksanaannya:
a. Masing-masing pihak perusahaan yang bersangkutan harus menghindari terjadinya
dominasi oleh pihak manapun, tidak terpengaruh oleh kepentingan tertentu, bebas
dari benturan kepentingan (conflict of interest) dan dari segala pengaruh atau
tekanan, sehingga pengambilan keputusan dapat dilakukan secara obyektif.
b. Masing-masing karyawan perusahaan harus melaksanakan fungsi dan tugasnya
sesuai dengan anggaran dasar dan peraturan perundang-undangan, tidak saling
mendominasi dan atau melempar tanggung jawab antara satu dengan yang lain.
- Kewajaran (fairness)
Dalam melaksanakan kegiatannya, perusahaan harus senantiasa memperhatikan
kepentingan pemegang saham dan pemangku kepentingan lainnya berdasarkan asas
kewajaran dan kesetaraan.Pedoman pokok pelaksanaannya:
a. Perusahaan harus memberikan kesempatan kepada pemangku kepentingan untuk
memberikan masukan dan menyampaikan pendapat bagi kepentingan perusahaan
serta membuka akses terhadap informasi sesuai dengan prinsip transparansi dalam
lingkup kedudukan masing-masing.
b. Perusahaan harus memberikan perlakuan yang setara dan wajar kepada pemangku
kepentingan sesuai dengan manfaat dan kontribusi yang diberikan kepada
perusahaan.
c. Perusahaan harus memberikan kesempatan yang sama dalam penerimaan
karyawan, berkarir dan melaksanakan tugasnya secara profesional tanpa
membedakan suku, agama, ras, golongan, gender, dan kondisi fisik.

Tinjauan Struktur Tata Kelola di Indonesia


- Perbandingan Struktur Satu Dewan dan Dua Dewan
Dalam diskusi corporate governance sering ditemukan istilah one-tier system dan two-tier
system. One-tier system banyak dipakai di negara anglo-saxon seperti US, UK, Canada dan
Australia. Sedangkan two-tier system banyak dipakai di negara Eropa daratan seperti
Jerman, Belanda. Indonesia termasuk menganut sistem two-tier.
Dalam one-tier system, peran dewan komisaris (pengawas) dan peran dewan direksi
(pelaksana/eksekutif) dijadikan dalam satu wadah, wadah ini disebut board of director
(BOD). Penyatuan ini membuat tidak jelasnya peran dari pengawas dan pelaksana. Di
dalam one-tier corporate governance system, ada empat tipe struktur board:
1. Semua direktur eksekutif adalah anggota board. Top managers adalah juga anggota board.
ini banyak ditemukan pada perusahaan kecil, perusahaan keluarga dan start-up
business.
2. Mayoritas anggota board adalah direktur eksekutif. Di struktur ini ada direktur non-
eksekutif dalam board namun jumlahnya sedikit (minoritas).
3. Mayoritas adalah direktur non-eksekutif. Sebagian besar dari direktur non-eksekutif ini
adalah direktur independen.
4. Semua non-eksekutif direktur adalah anggota board. Banyak ditemukan dalam organisasi
non-laba.
Sedangkan di dalam two-tier system, peran dewan komisaris dan dewan direksi dipisah
secara jelas. Dewan komisaris akan mengawasi kerja dewan direksi.Untuk two-tier
corporate governance system, struktur yang ada ialah terdiri dari dua board:
1. Dewan pengawas (supervisory board). Ini terdiri dari direktur non-eksekutif
independen dan direktur non-eksekutif tidak independen (connected).
2. Dewan pelaksana (executive board). Ini terdiri dari semua direktur pelaksana seperti
CEO, CFO, COO, CIO (C-level management).
Seperti disebutkan di atas, Indonesia menganut sistem two-tier governance. Hal ini
mungkin karena pengaruh Belanda yang juga menganut sistem itu. Hanya saja, sistem two-
tier ala Eropa menempatkan wakil dari karyawan (employee) pada level dewan direksi. Ini
yang tidak ditiru oleh sistem di Indonesia.
- Organ Korporat
Organ perusahaan terdiri dari Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), Dewan
Komisaris, dan Direksi. Setiap organ memiliki fungsinya sendiri-sendiri sesuai dengan
ketetuan yang berlaku. Dalam konteks good corporate governance, masing-masing
organ harus melakukan tugasnya secara independen untuk kepentingan perusahaan.
- Hubungan antar Organ
1. RUPS
Adalah organ perusahaan yang memegang kekuasaan tertinggi dalam perusahaan
dan memegang segala kewenangan yang tidak diserahkan kepada Direksi dan
Dewan Komisaris. RUPS sebagai organ perusahaan merupakan wadah para
pemegang saham untuk mengambil keputusan penting yang berkaitan dengan
modal yang ditanam dalam perusahaan, dengan memperhatikan ketentuan anggaran
dasar dan peraturan perundang-undangan. Keputusan yang diambil dalam RUPS
didasari pada kepentingan usaha perusahaan dalam jangka panjang. Kewenangan
RUPS antara lain mengangkat dan memberhentikan anggota Dewan Komisaris dan
Direksi, mengevaluasi kinerja Dewan Komisaris dan Direksi, menyetujui
perubahan Anggaran Dasar, menyetujui laporan tahunan dan menetapkan bentuk
dan jumlah remunerasi anggota Dewan Komisaris dan Direksi serta mengambil
keputusan terkait tindakan korporasi atau keputusan strategis lainnya yang diajukan
Direksi. Keputusan yang diambil dalam RUPS didasarkan pada
kepentinganperusahaan. Tanpa mengurangi kekuasaan dan wewenang yang
dimiliki oleh RUPS, RUPS atau pemegang saham tidak dapat melakukan intervensi
terhadap pelaksanaan tugas, fungsi dan wewenang Dewan Komisaris dan Direksi
untuk menjalankan kewajiban dan haknya sesuai dengan anggaran dasar dan
peraturan perundang-undangan. Pengambilan keputusan RUPS dilakukan secara
wajar dan transparan.
2. Dewan Komisaris
Merupakan organ perusahaan yang bertugas dan bertanggung jawab secara kolektif
untuk melakukan pengawasan dan memberikan nasihat kepada Direksi serta
memastikan bahwa perusahaan melaksanakan GCG pada seluruh tingkatan atau
jenjang organisasi. Dalam melaksanakan tugas, Dewan Komisaris bertanggung
jawab kepada RUPS. Pertanggungjawaban Dewan Komisaris kepada RUPS
merupakan perwujudan akuntabilitas pengawasan atas pengelolaan perusahaan
dalam rangka pelaksanaan prinsip-prinsip GCG. Kinerja Dewan Komisaris
dievaluasi berdasarkan unsur-unsur penilaian kinerja yang disusun secara mandiri
oleh Dewan Komisaris. Pelaksanaan penilaian dilakukan pada tiap akhir periode
tutup buku. Hasil penilaian kinerja Dewan Komisaris disampaikan dalam
RUPS. Tugas dan tanggung jawab Dewan Komisaris dapat dirinci sebagai berikut:
a. Melakukan pengawasan atas jalannya pengurusan Perusahaan oleh Direksi serta
memberikan persetujuan dan pengesahan atas rencana kerja dan anggaran
tahunan Perusahaan.
b. Mengadakan rapat atau pertemuan secara berkala untuk membahas pengelolaan
operasional Perusahaan.
c. Mengawasi pengelolaan Perusahaan atas kebijakan yang telah ditetapkan oleh
Direksi dan memberikan masukan jika diperlukan.
d. Menominasikan dan menunjuk calon anggota Dewan Komisaris dan Direksi
untuk diajukan dan disetujui dalam RUPS Tahunan.
e. Menentukan jumlah remunerasi bagi anggota Dewan Komisaris dan Direksi,
berlandaskan pada wewenang yang diberikan dalam RUPS Tahunan.
f. Menunjuk dan menetapkan anggota Komite Audit.
3. Direksi
Adalah organ perusahaan yang bertanggungjawab penuh atas pengurusan
perusahaan untuk kepentingan dan tujuan perusahaan sesuai dengan ketentuan
anggaran dasar. Dalam melaksanakan tugasnya, Direksi bertanggung jawab kepada
RUPS. Pertanggungjawaban Direksi kepada RUPS merupakan perwujudan
akuntabilitas pengelolaan perusahaan dalam rangka pelaksanaan prinsip-prinsip
GCG. Kinerja Direksi dievaluasi oleh Dewan Komisaris baik secara individual
maupun kolektif berdasarkan unsur-unsur penilaian kinerja yang disusun oleh
Komite Nominasi. Pelaksanaan penilaian dilakukan pada tiap akhir periode tahun
buku. Hasil penilaian kinerja Direksi oleh Dewan Komisaris disampaikan dalam
RUPS. Berdasarkan ketentuan Anggaran Dasar, tugas utama Direksi adalah
bertanggung jawab penuh dalam melaksanakan tugasnya untuk kepentingan
Perusahaan dalam mencapai maksud tujuan. Maka dari itu setiap anggota Direksi
wajib mempertanggungjawabkan tugasnya sesuai dengan peraturan perundangan
yang berlaku dan Anggaran Dasar Perusahaan. Tugas pokok Direksi adalah sebagai
berikut:
a. Memimpin, mengurus, dan mengendalikan Perusahaan sesuai dengan tujuan
Perusahaan;
b. Menguasai, memelihara, dan mengurus kekayaan Perusahaan;
c. Menyusun rencana kerja tahunan yang memuat anggaran tahunan Perusahaan,
dan wajib disampaikan kepada Dewan Komisaris untuk memperoleh
persetujuan dari Dewan Komisaris, sebelum tahun buku tersebut dimulai.

Prinsip-Prinsip Tata Kelola Menurut OECD (Organization For Economic Co-Operation


And Development)
Perusahaan harus memastikan dasar kerangka tata kelola perusahaan yang efektif
(OECD, 2004). Kerangka tata kelola perusahaan harus menunjukkan transparansi dan pasar
yang efisien, konsisten dengan aturan hukum dan jelas mengartikulasikan pembagian tanggung
jawab antara berbagai pengawasan dan penegakan hukum yang berlaku. Dasar kerangka tata
kelola perusahaan yang efektif yaitu:
- Kerangka tata kelola perusahaan harus dikembangkan dengan tujuan untuk berdampak
pada kinerja ekonomi secara keseluruhan, integritas pasar dan insentif untuk
menciptakan pelaku pasar dan kenaikan pasar yang transparan dan efisien.
- Persyaratan hukum dan peraturan yang mempengaruhi praktik tata kelola perusahaan
dalam yurisdiksi harus konsisten dengan aturan hukum, transparan, dan dapat
dilaksanakan.
- Pembagian tanggung jawab antara otoritas yang berbeda dalam yurisdiksi yang harus
jelas diartikulasikan dan memastikan bahwa kepentingan umum disajikan.
- Pengawas, pihak berwenang, dan penegak hukum harus memiliki wewenang, integritas
dan sumber daya untuk memenuhi tugas mereka secara profesional dan obyektif. Selain
itu,keputusan mereka harus tepat waktu,transparan dan sepenuhnya dijelaskan.
Manfaat Tata Kelola Bagi Korporat dan Lingkungan
1. Meningkatkan kualitas kerja para karyawan
Dengan adanya good corporate governance, maka kondisi lingkungan pekerjaan akan
menjadi lebih baik. Bertambah baiknya lingkungan dan suasana dari lingkungan
pekerjaan, maka karyawan akan merasa lebih dihargai dalam pekerjaannya. Hal ini
akan bermanfaat pada lebih baiknya dan meningkatnya kualitas kerja yang dilakukan
oleh para karyawan. Karyawan bisa merasa nyaman dan senang dalam bekerja di
perusahaan yang menerapkan good corporate governance tersebut.
2. Meningkatkan keterikatan kerja para karyawan
Kualitas pekerjaan dari para karyawannya bertambah dan juga kondisi dari lingkungan
pekerjaan yang membuat nyaman, maka karyawan pun akan memiliki keterikatan kerja
yang baik dengan perusahaannya. Hal ini akan berdampak pada perusahaan yang tidak
perlu repot dalam mengevaluasi hasil kerja dari para karyawannya. Karena dengan
meningkatnya keterikatan kerja dari para karyawan, maka hasil pekerjaan pun akan
menjadi lebih baik dan juga lebih fokus.
3. Meningkatkan kinerja perusahaan
Manfaat GCG yang berdampak pada kualitas pekerjaan pada karyawan, maka hal ini
akan berdampak langsung pada kinerja keseluruhan dari perusahaan tersebut. Good
corporate governance dapat mempengaruhi kualitas pekerjaan dari karyawan, dan juga
akan berpengaruh pada meningkatnya kinerja keseluruhan dari perusahaan itu sendiri.
4. Neraca perusahaan yang lebih baik
Dengan meningkatnya kondisi kualitas pekerjaan dari karyawan dan juga
meningkatnya kinerja dari perusahaan secara keseluruhan, maka hal ini juga akan
berdampak pada kondisi neraca keuangan dari perusahaan yang akan menjadi lebih baik
dan mengarah kea rah yang positif. Itu artinya, kemungkinan perusahaan merugi
resikonya akn menjadi lebih kecil, dibandingkan perusahaan yang tidak menerapkan
good corporate governance.
5. Penggunaan sumber daya yang lebih efektif
Selain itu manfaat GCG bagi perusahaan yang diterapkan , pengelolaan dan
penggunaan sumber daya akan menjadi lebih efektif. Perusahaan hanya akan menaruh
karyawan yang sesuai dengan kemampuannya. Hal ini tidak terjadi tumpang tindih
tugas yang menagkibatkan kekacauan pada tubuh perusahaan tersebut.
6. Dapat mencegah munculnya KKN
KKN atau yang sering kita kenal dengan istilah korupsi, kolusi dan nepotisme
merupakan salah satu faktor penghambat dari kemajuan suatu perusahaan. Dengan
adanya KKN pada suatu perusahaan dapat menyebabkan:
- Perusahaan menjadi rugi
- Penempatan sumber daya yang tidak pas dan tidak efektif
- Bangkrut
- Terjerat kasus hukum
Dengan menerapkan prinsip dan konsep dari good corporate governance ini, maka
KKN yang sering terjadi pada perusahaan dapat dikrangi dan ditekan jumlahnya.
7. Suasana lingkungan bekerja yang lebih baik
Manfaat Good corporate governance juga berguna untuk meningkatkan lingkungan
bekerja menjadi lebih baik. Setiap karyawan akan merasa dihargai dan membuat
mereka akan merasa betah. Dengan begitu, penerapan good corporate governance akan
menyebabkan lingkungan pekerjaan darikaryawan menjadi lebih baik.
8. Mencegah terjadinya turnover pada karyawan
Turnover merupakan istilah lain untuk pindah kerja pada karyawan. Sering sekali kita
mendengan ada istilah karyawan yang tidak betah, baru 1 2 tahun bekerja sudah ingin
berhenti dan pindah dari pekerjaannya. Tentu saja hal ini dapat merugikan pihak
perusahaan. Namun demikian, dengan penerapan konsep good corporate governance,
intensi karyawan dalam melakukan turnover ini dapat ditekan dan diminamilisir.Hal ini
karena good corporate governance dapat meningkatkan kualitas pekerjaan dan
membuat karyawan menjadi lebih betah berapa dalam perusahaan tersebut.
9. Melindungi hak para pemegang saham
Manfaat GCG bagi perusahaan dalam konsep ini dapat melindungi hak dan
kepentingan dari para pemegang saham perusahaan. Dengan adanya good corporate
governance, maka kepentingan dan juga hak dari pemegang saham untuk menjalankan
tugasnya menjadi lebih optimal, sehingga para pemegang saham dapat menciptakan
kebijakaan kebijakan yang nantinya akan bermanfaat bagi perusahaan dan
karyawannya.
10. Meningkatkan nilai perusahaan dan menarik investor
Suatu perusahaan yang menerapkan good corporate governance dengan bak dan
optimal akan memiliki suasana dan kualitas pekerjaan yang baik. Selain itu good
corporate governance juga dapat berpengaruh pada kondisi neraca keuangan
perusahaan. Hal ini akan menjadi nilai tambah dari suatu perusahaan di mata para
investor.Para investor akan lebih tertarik untuk menanamkan saham pada perusahaan
yang memiliki kualitas dan suasana bekerja yang baik serta neraca keuangan yang
positif.
11. Hubungan antar perangkat perusahaan yang lebih baik
Biasanya beberapa karyawan terutama bawahan seringkali merasa takut apabila
berhadapan dengan atasannya. Namun, dengan penerapan good corporate governance
secara tepat, hal ini tidak akan tejadi. Hubungan antara perangkat perusahaan, baik
horizontal maupun vertical akan menjadi lebih harmonis.

Overview Regulasi dan Pedoman Tata Kelola di Indonesia


Setelah krisis moneter yang mengahantam perekonomian di negara-negara Asia

menjelang akhir tahun 1990-an, muncul inisiatif untuk menguatkan kerangka tata kelola

perusahaan, baik di tingkat nasional maupun regional.Studi yang dilakukan oleh Asian

Development Bank (ADB) mengidentifikasi bahwa kontributor utama dalam krisis

ekonomi tersebut yakni lemahnya tata keola perusahaan.Dengan demikian, krisis Asia

menjadi momentum penting yang mendorong urgensi reformasi tata kelola perusahaan di

Asia, dan juga di Indonesia.

1. Pembentukan Komite Nasional Kebijakan Coporate Governance.

Krisis yang melanda Asia tersebut mendorong pemerintah Indonesia untuk

bersungguh-sungguh meyelesaikan masalah tata kelola perusahaan di Indonesia.

Untuk itu, dibentuklah Komite Nasional Kebijakan Coperate Governance

(KNKCG) pada tahun 1999 melalui Keputusan Menteri Koordinator Bidang

Ekonomi, Keuangan dan Industri, dengan melibatkan 30 orang perwakilan dari

sektor publik swasta untuk merekomendasikan prinsip GCG nasional.

Pada tahun 2004, KNCKG dirubah menjadi Komite Nasional Kebijakan

Governance (KNKG) dengan pertimbangan untuk memperluas cakupan ke tata

kelola sector publik (public governance).KNKG telah menerbitkan Pedoman


Nasional Good Corporate Governance (Pedoman Nasional GCG) pertama kali

pada tahun 1999, yang kemudian direvisi pada tahun 2001 dan 2006.

Selanjutnya, untuk mendukung upaya reformasi yang dilakukan pemerintah,

kemudian bermunculan berbagai inisiatif yang digagas oleh berbagai kalangan yang

menaruh kepedulian untuk membangun kembali Indonesia setelah krisis. Berbagai

organisasi yang mempelopori pentingnya praktik tata kelola perusahaan yang baik

di Indonesia antara lain, Indonesian Institute for Corporate Directorship (IICD),

Indonesian Institute for Corporate Governance (IICG), Forum for Corporate

Governance In Indonesia (FCGI), Ikatan Komite Audit Indonesia (IKAI), dan

Lembaga Komisaris dan Direksi Indonesia (LKDI). Organisasi tersebut bertujuan

untuk mempromosikan kepedulian terhadap kelola dengan mengadakan seminar

dan konferensi, membantu perusahaan untuk melakukan self-assessment,

menyediakan program pendidikan dan pelatihan, melakukan penilaian praktik tata

kelola, serta menyediakan indeks persepsi tata kelola secara tahunan.

2. Undang-Undang Perseroan Terbatas

Undang-undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Peseroan Terbatas (UUPT) yang

menggantikan undang-undang sebelumnya tahun 1995 merupakan undang-undang

yang lebih komprehensif dalam mengakomodasi dan menjabarkan prinsip-prinsip

tata kelola dengan mengatur kesetaraan organ perusahaan yang terdiri dari Rapat

Umum Pemegang Saham (RUPS), Dewan Komisaris, dan Direksi. UUPT juga

menjelaskan peran dan tanggungjawab dari Dewan Komisaris dan Direksi, serta

elemen tata kelola perusahaan lainnya.Revisi UUPT ini mencerminkan bahwa

masalah tata kelola perusahaan di Indonesia telah diakomodasi sedemikian rupa

dalam peraturan perundang-undangan yang penting tentang perusahaan di

Indonesia.
3. Pedoman-Pedoman GCG

Untuk melengkapi Pedoman Umum GCG yang sudah dikeluarkan oleh KNKG,

KNKG juga menerbitkan serangkaian pedoman-pedoman sektoral dan manual

penerapan tata kelola perusahaan.

Pedoman
Pedoman Umum Manual GCG
Sektoral
(General Code) (GCG Manual)
(Sectoral Code)

Good Corperrate
Banking (2004,
Governance Business Ethic
2013)
(2001,2006)

Whistleblowing
Good Public Insurance And
System (WBS)
Governance (2006) Reinsurance (2009)
(2008)

Good Governance
Bisnis Syariah (2011) Actuarial Audit Committee
Consultants (2011) (2002)

Insurance And Risk Management


Reinsurance Brokers (2011)
(2011)

Gambar 2.3 Pedoman GCG yang Diterbitkan KNKG

4. Inisiatif Tata Kelola Lainnya

Berbagai inisiatif lainnya di bidang tata kelola perusahaa yang bertujuan untuk

memberikan insentif atau penghargaan kepada perusahan-perusahaan yang

menerapkan prinsip-prinsip tata kelola perusahaan yang baik pun telah terbangun.

Diantaranya adalah sebagai berikut :

a. Annual Report Award (ARA)

Merupakan penghargaan terhadap laporan tahunan perusahaan Indonesia,

telah dilaksanakan sejak tahun 2002.Acara ini merupakan hasil kerja sama 7

(tujuh) institusi yaitu OJK, Direktorat Jenderal Pajak, Kementrian BUMN,


Bank Indonesia, Komite Nasional Kebijakan Governance, Bursa Efek

Indonesia, dan Ikatan Akuntan Indonesia, serta dikoordinasikan oleh OJK.

Pada awalnya, ARA diikuti oleh 83 perusahaan, dan tahun 2013 diikuti oleh

234 peserta.

b. Capital Market Awards

Bursa Efek Indonesia mulai mengadakan Capital Market Awards pada tahun

2006, dengan tujuan utama untuk mendorong penerapan standar dan praktik

bisnis yang baik dan berkelanjutan oleh perusahaan tercatat dan Perusahaan

Efek, yang diantaranya meliputi praktik tata kelola perusahaan yang baik.

c. IICD Corporate Governance Award

Penghargaan ini diadakan oleh IICD pertama kali pada tahun 2009 dan

didasari pada pengungkapan praktik tata kelola perusahaan tercatat di

Indonesia. Instrumen penilaian adalah CG Scorecard yang juga digunakan oleh

Institute of Directors lainnyadi beberapa Negara ASEAN.

d. IICG Award Most Trusted Award

IICG meluncurkan Penghargaan Most Trusted Companies pada tahun

2001.Penghargaan ini fokus pada perusahaan terbuka, BUMN dan swasta,

serta berdasarkan Corporate Governance Perception Index (CGPI) versi IICG.

Instrumen Penilaian dan Bukti Empiris Terhadap Praktek Tata Kelola di Indonesia dan

ASEAN

Untuk mengukur kemajuan pasar modal Indonesia dalam menerapkan tata kelola

perusahaan dan mengidentifikasi area-area yang harus diperbaiki dengan memperhatikan

keteladanan yang berlaku di tingkat internasional, beberapa inisiatif penilaian terhadap

penilaian terhadap praktik tersebut sudah dilakukan oleh beberapa lembaga internasional.
Penilaian terhadap tata kelola perusahaan di Indonesia yang dilakukan oleh lembaga

internasional yaitu sebagai berikut:

1. Penilaian Tata Kelola Korporat Indonesia Oleh Bank Dunia

Tata kelola perusahaan merupakan salah satu dari 12 standar yang ditetapkan oleh

komunitas keuangan internasional. The Word Bank dan The Monetary Fund (IMF)

bekerjasama dalam melakukan penilaian atas penerapan Prinsip-prinsip Tata Kelola

Perusahaan yang disusun oleh Organisation for Economic Co-operation and

Development (OECD) Hasil penilaian dilaporkan dalam bentuk Reports on the

Observance of Standards and Codes (ROSC). Tujuan dari inisiatif ROSC adalah

untuk mengidentifikasi berbagai kelemahan yang dapat berkontribusi terhadap

kerentanan ekonomi dan keuangan terhadap suatu Negara. Penilaian ROSC atas tata

kelola perusahaan dilakukan dengan menilai kerangka hukum dan peraturan

perundang-undangan, praktik bisnis dan kepatuhan dari perusahaan terbuka, dan

kapasitas penegakannya terhadap prinsip-prinsip tata kelola yang dikeluarkan oleh

OECD (World Bank, 2010) .

2. Penilaian Berdasarkan ASEAN Corportae Governance Scorecard dari ASEAN

Capital Market Forum

Pada tahun 2009, para Menteri Keuangan Negara-negara Association of South-East

Asian Nation (ASEAN) menyepakati rencana implementasi (ACMF

Implementation Plan) untuk mempromosikan pengembangan pasar modal yang

terintegrasi. ASEAN Capital Market Forum (ACMF) merupakan asosiasi regulator

pasar modal di kawasan ASEAN yang berupaya untuk mewujudkan ASEAN

sebagai sebuah komunitas ekonomi tunggal pada tahun 2015. Diantara berbagai

inisiatif tersebut, ASEAN Coporate Governance Scorecard (ASEAN CG

Scorecard) diperkenalkan sebagai suatu alat untuk memeringkat kinerja tata kelola
perusahaan publik dan terbuka di ASEAN.Inisiatif ASEAN CG Scorecard yang

bertujuan untuk mengukur dan meningkatkan efektivitas dari implemetasi prinsip-

prinsip tata kelola perusahaan, diluncurkan tahun 2011. Indonesia bersama-sama

dengan 5 (lima) negara anggota ACMF lainnya(Malaysia, Filipina, Singapura,

Thailand, and Vietnam) sepakat untuk mengadopsi kriteria yang merupakan

penjabaran lebih rinci dari prinsip-prinsip tata kelola perusahaan yang diterbitkan

OECD sebagai acuan penilaian untuk ASEAN CG Scorecard. Penilaian ASEAN

CG Scorecard didasarkan pada dokumentasi yang dapat diakses oleh publik, dan

bertujuan agar dapat disusun suatu kumpulan perusahaan public di kawasan

ASEAN dengan tata kelola yang baik, dan dapat dipromosikan kepada investor

mancanegara.
IMPLEMENTASI GCG, KODE ETIK DAN PERILAKU DI PT BANK MANDIRI TBK

Latar Belakang
Implementasi prinsip GCG tidak terlepas dengan implementasi tata kelola
pemerintahan yang baik (good government governance). Di era globalisasi tuntutan
terhadap paradigma good governance dalam seluruh kegiatan tidak dapat dielakkan lagi.
Istilah good governance sendiri dapat diartikan sebagai terlaksananya tata ekonomi, politik
dan sosial yang baik. Jika kondisi good governance dapat dicapai maka negara yang bersih
dan responsif (clean and responsive state) akan terujud, semaraknya masyarakat sipil
(vibrant civil society) dan kehidupan bisnis yang bertanggung jawab.
Kebutuhan untuk menerapkan prinsip-prinsip GCG dirasakan sangat kuat dalam
industri perbankan. Situasi eksternal dan internal perbankan semakin kompleks dan risiko
kegiatan usaha perbankan kian beragam. Keadaan tersebut semakin meningkatkan
kebutuhan akan praktik tata kelola perusahaan yang sehat di bidang perbankan.
Pelaksanaan GCG sangat diperlukan untuk membangun kepercayaan masyarakat dan dunia
internasional sebagai syarat mutlak bagi dunia perbankan untuk berkembang dengan baik
dan sehat.
Tata kelola perusahaan (corporate governance) yang buruk dapat menyebabkan
terjadinya fraud (kecurangan) sebagaimana yang terjadi pada beberapa bank di Indonesia.
Dalam beberapa kasus, fraud menyebabkan kerugian pada bank yang jumlahnya cukup
besar sehingga bank tersebut dapat ditutup atau dilikuidasi, diantaranya adalah bank Asiatic
dan bank Dagang Bali yang dilikuidasi pada tahun 2005. Penutupan atau likuidasi akibat
fraud tersebut sangat merugikan stakeholders antara lain pemerintah dan investor.
Oleh karena itu perlu dipahami mengenai prinsip-prinsip dan praktik GCG pada
sektor perbankan. Dan perlu dilakukan pengawasan dan pengendalian terhadap praktik
corporate governancepada lembaga perbankan. Dan sejauh mana efektivitas praktik
corporate governance dalam menekan jumlah fraud pada sektor perbankan.

Pembahasan
Implementasi Good Corporate Governance
Komisaris dan Direksi Bank Mandiri berkomitmen untuk menegakkan sistem
perbankan yang sehat dan kuat di Indonesia dan mentransformasi Bank Mandiri menjadi
bank publik terkemuka (Blue Chip Company) di kawasan Asia Tenggara (Regional
Champion Bank). Manajemen berkeyakinan bahwa penerapan prinsip-prinsip Good
Corporate Governance (GCG) merupakan salah satu prasyarat mutlak dalam proses
transformasi ini. Penerapan prinsip secara baik akan meningkatkan kepercayaan investor
dan merupakan nilai tambah bagi para pemegang saham dan pemangku kepentingan
lainnya.
Bank Mandiri percaya bahwa penerapan prinsip-prinsip dan praktek-praktek terbaik
GCG yang konsisten akan memberikan manfaat baik bagi Bank maupun para pemangku
kepentingan lainnya dengan:
1. Meningkatnya kesungguhan manajemen dalam menerapkan prinsip-prinsip keterbukaan,
akuntabilitas, tanggung jawab, independensi, kewajaran dan kehati-hatian dalam
pengelolaan Bank.
2. Meningkatnya kinerja Bank, efisiensi dan pelayanan kepada stakeholders.
3. Mempermudah perolehan dana pembiayaan yang lebih murah yang pada akhirnya akan
meningkatkan shareholders values.
4. Meningkatnya minat dan kepercayaan investor.
5. Terlindunginya Bank dari intervensi eksternal dan tuntutan hukum.
6. Mengembalikan kepercayaan investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia.
Pembentukan Komite Good Corporate Governace
Bank Mandiri telah menyadari pentingnya penerapan GCG sebelum
dikeluarkannya PBI No.8/4/PBI/2006. Hal ini terbukti dengan telah dibentuknya Komite
Good Corporate Governance di level Komisaris pada tanggal 18 Juli 2005. Pembentukan
Komite GCG di level Komisaris sejalan dengan tugas Komisaris dalam melakukan
pengawasan atas jalannya pengurusan perseroan oleh Direksi termasuk memantau
efektivitas implementasi GCG beserta praktek-praktek terbaik.
Sosialisasi Good Corporate Governace
Sosialisasi prinsip-prinsip dan praktek-praktek terbaik GCG serta kebijakan terkait
lainnya, seperti corporate values dan corporate behaviours dilaksanakan kepada seluruh
jajaran Bank Mandiri melalui berbagai cara, antara lain sosialisasi secara langsung melalui
Forum Sosialisasi di Kantor Pusat, kunjungan ke wilayah-wilayah, dalam
training/workshop, focus group, maupun sosialisasi melalui media, seperti buletin internal
Bank Mandiri, intranet Bank Mandiri yang dapat diakses oleh seluruh pegawai Bank
Mandiri, dan melalui Knowledge-Based Management System (KMS). Dalam sosialisasi
kepada Unit Kerja Kantor Pusat dan Wilayah, seluruh anggota Komite GCG terlibat secara
langsung dalam menyiapkan dan menyampaikan materi sosialisasi. Tujuan sosialisasi
adalah agar seluruh jajaran Bank dapat memahami dan melaksanakan prinsip-prinsip dan
praktek-praktek terbaik GCG dalam menjalankan tugas.
Selain sosialisasi kepada pihak internal, sosialisasi dilakukan pula kepada
pemangku kepentingan lainnya, antara lain melalui forum-forum Corporate Governance
seperti Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG), diskusi rutin yang
diselenggarakan oleh perusahaan-perusahaan BUMN dan seminar GCG berskala nasional
maupun internasional.
Disamping itu, sosialisasi dilakukan juga melalui pemuatan materi GCG dalam
Laporan Tahunan Bank Mandiri, situs Bank Mandiri, forum investor, dan media
komunikasi lainnya sehingga diharapkan pelaksanaan GCG di Bank Mandiri dapat mudah
diketahui oleh seluruh pemangku kepentingan.
Prinsip-Prinsip GCG di Bank Mandiri
a. Keterbukaan (Transparency)
Bank mengungkapkan informasi secara tepat waktu, memadai, jelas, akurat dan dapat
diperbandingkan serta dapat diakses oleh stakeholders sesuai dengan haknya.
Informasi tersebut meliputi visi, misi, sasaran usaha, strategi Bank, kondisi keuangan,
susunan dan kompensasi pengurus, pemegang saham pengendali, cross shareholding,
pejabat eksekutif, pengelolaan risiko, sistem pengawasan dan pengendalian intern, status
kepatuhan, sistem dan implementasi GCG serta informasi dan fakta material yang dapat
mempengaruhi keputusan pemodal.
Prinsip keterbukaan itu tetap memperhatikan ketentuan rahasia bank, rahasia jabatan dan
hak-hak pribadi sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Kebijakan bank harus tertulis dan dikomunikasikan kepada stakeholders yang berhak
memperoleh informasi tentang kebijakan tersebut. Bank Mandiri menyampaikan laporan
kepada Bank Indonesia, Badan Pengawas Pasar Modal-Lembaga Keuangan (BAPEPAM-
LK), Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya, serta mengumumkan kepada publik
mengenai terjadinya suatu peristiwa, informasi atau fakta material yang dapat
mempengaruhi harga atau nilai efek atau keputusan investasi pemodal secara tepat waktu
dan obyektif berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
b. Akuntabilitas (Accountability)
Bank menetapkan tanggung jawab yang jelas dari masing-masing organ Bank yang selaras
dengan visi, misi, sasaran usaha dan strategi Bank dan menetapkan kompetensi kepada
organ tersebut sesuai tanggung jawab masing-masing.
Dalam pengelolaannya, Bank menetapkan check and balance system.
Bank juga memiliki ukuran kinerja dari semua jajaran berdasarkan ukuran yang disepakati
konsisten dengan nilai perusahaan (corporate values), sasaran usaha dan strategi bank serta
memiliki reward and punishment system.
Bank meyakini bahwa semua organ organisasi Bank mempunyai kompetensi sesuai dengan
tanggung jawabnya dan memahami perannya dalam implementasi GGC.
c. Tanggung Jawab (Responsibility)
Bank berpegang pada prinsip kehatihatian (prudential banking practices) dan menjamin
kepatuhan terhadap peraturan yang berlaku.
Bank sebagai good corporate citizen peduli terhadap lingkungan dan melaksanakan
tanggung jawab sosial secara wajar.
d. Independensi (Independency)
Bank menghindari terjadinya dominasi yang tidak wajar oleh stakeholders manapun dan
tidak terpengaruh oleh kepentingan sepihak serta terbebas dari benturan kepentingan
(conflict of interest).
Bank mengambil keputusan secara obyektif dan bebas dari segala tekanan dari pihak
manapun.
e. Kewajaran (Fairness)
Bank memperhatikan kepentingan seluruh stakeholders berdasarkan asas kesetaraan dan
kewajaran (equal treatment).
Bank memberikan kesempatan kepada seluruh stakeholders untuk memberikan masukan
dan menyampaikan pendapat bagi kepentingan Bank serta mempunyai akses terhadap
informasi sesuai dengan prinsip keterbukaan.
Dalam rangka menerapkan prinsip kewajaran (Fairness) Bank Mandiri memperhatikan
hak-hak dan perlakuan yang sama terhadap semua pemegang saham sesuai dengan
klasifikasi. Sebagai perusahaan publik, Bank memperhatikan kepentingan pemegang
saham minoritas, yang antara lain diwujudkan dalam:
a. Memberikan hak kepada pemegang saham yang mewakili sekurang-kurangnya 1/10 bagian
dari jumlah saham dengan hak suara yang sah yang telah dikeluarkan oleh Perseroan untuk
mengajukan usulan.
b. Jika terdapat transaksi benturan kepentingan sesuai dengan Peraturan Bapepam No. KEP-
32/PM/2000 tentang Perubahan Peraturan No. IX.E.1 Tentang Benturan Kepentingan
Transaksi Tertentu, maka harus disetujui oleh para Pemegang Saham Independen atau
wakil mereka yang diberi wewenang untuk itu dalam RUPS.
c. Apabila terdapat transaksi material sesuai dengan Peraturan Bapepam No. KEP-02/
PM/2001 tentang Perubahan Peraturan No. IX.E.2 Tentang Transaksi Material, maka harus
disetujui terlebih dahulu oleh RUPS.
Struktur Corporate Governance
Struktur Corporate Governance di Bank Mandiri adalah sebagai berikut:
a. Komisaris
Berdasarkan kebijakan yang ditetapkan oleh pemegang saham, Komite Nominasi dan
Remunerasi merekomendasikan calon Komisaris. Dari rekomendasi tersebut pemegang
saham memilih Komisaris dalam RUPS melalui proses yang transparan. Demikian pula
pemberhentian Komisaris hanya bisa dilakukan oleh pemegang saham dalam RUPS.
b. Komisaris Independen
Keberadaan Komisaris Independen dimaksudkan untuk dapat mendorong terciptanya iklim
dan lingkungan kerja yang lebih obyektif dan menempatkan kewajaran (fairness) dan
kesetaraan di antara berbagai kepentingan termasuk kepentingan pemegang saham
minoritas dan Stakeholders lainnya. Selaku Komisaris Independen dan Pihak Independen
harus dapat terlepas dari benturan kepentingan (conflict of interest).
Dalam rangka mendukung pelaksanaan GCG Bank, pemegang saham dalam RUPS
menetapkan Komisaris Independen dengan jumlah dan persyaratan sebagaimana
ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan guna menjalankan tugas pengawasan
terhadap Bank dan kelompok usaha Bank yang tidak melakukan kegiatan usaha Bank.
c. Komite-komite Di Bawah Komisaris
Dalam menjalankan tugasnya, Komisaris membentuk komite-komite:
1. Komite Audit, membantu Komisaris dalam pengawasan atas hal-hal yang terkait dengan
informasi keuangan, sistem pengendalian internal dan efektivitas pemeriksaan oleh auditor
eksternal dan internal.
2. Komite Nominasi dan Remunerasi, membantu Komisaris dalam menjalankan fungsi
pengawasan atas hal-hal yang terkait dengan penetapan kualifikasi dan proses nominasi
serta remunerasi Komisaris, Direksi dan para pejabat eksekutif.
3. Komite Kebijakan Risiko membantu Komisaris dalam menjalankan fungsi pengawasan
kebijakan risiko usaha.
4. Komite GCG, membantu Komisaris dalam memberikan rekomendasi arah kebijakan
implementasi prinsip-prinsip GCG.
d. Direksi
Seperti halnya pemberhentian Komisaris, pemberhentian Direksi hanya bisa dilakukan oleh
pemegang saham dalam RUPS. Karena Bank Mandiri adalah suatu Badan Usaha Milik
Negara yang telah Terbuka, Anggaran Dasar Bank mengatur bahwa pengangkatan Direksi
oleh RUPS harus disetujui oleh pemegang saham Dwiwarna Seri A (Negara Republik
Indonesia). Lebih lanjut Anggaran Dasar mengatakan bahwa hanya pemegang saham
Dwiwarna Seri A yang berhak mengajukan pencalonan kepada RUPS. Penunjukan tersebut
efektif setelah Direksi terpilih lulus fit and proper test Bank Indonesia.

Kode Etik dan Perilalu di PT Bank Mandiri


Manajemen Bank Mandiri bertekad untuk menerapkan nilai-nilai kebersamaan sebagai
berikut:
1. Trust/Kepercayaan: Membangun keyakinan dan sangka baik di antara stakeholders dalam
hubungan yang tulus dan terbuka berdasarkan kehandalan.
2. Integrity/Integritas: Setiap saat berpikir, berkata dan berperilaku terpuji, menjaga martabat
serta menjunjung tinggi kode etik profesi.
3. Professionalism/Profesionalisme: Berkomitmen untuk bekerja tuntas dan akurat atas dasar
kompetensi terbaik dengan penuh tanggung jawab.
4. Customer focus/Fokus pada pelanggan: Senantiasa menjadikan pelanggan sebagai mitra
utama yang saling menguntungkan untuk tumbuh secara berkesinambungan. Fokus pada
pelanggan merupakan salah satu nilai utama yang melandasi sikap insan Bank Mandiri
untuk senantiasa membina hubungan baik dengan pelanggan serta langgeng dan
berkesinambungan. Pelanggan eksternal maupun internal Bank Mandiri merupakan mitra
yang akan kita dukung untuk terus maju dan tumbuh secara konsisten dari waktu ke waktu.
Untuk itu fokus pada pelanggan kita wujudkan dalam perilaku yang inovatif, proaktif dan
cepat tanggap terhadap kebutuhan pelanggan serta mengutamakan kepentingan dan
kepuasan pelanggan.
5. Excellence/Kesempurnaaan: Mengembangkan dan melakukan perbaikan di segala bidang
untuk mendapatkan nilai tambah optimal dan hasil terbaik secara terus menerus.
Dalam menjalankan kegiatan usaha, Bank Mandiri menghadapi berbagai risiko
usaha dan untuk mengurangi risiko usaha tersebut Bank Mandiri menerapkan prinsip
kehati-hatian, salah satunya melalui penerapan prinsip Know Your Customer/Anti Money
Laundering (KYC/AML). Kebijakan dan prosedur manajemen risiko yang berkaitan
dengan prinsip KYC/AML merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kebijakan dan
prosedur Bank secara keseluruhan dengan memasukkan unsur-unsur yang meliputi
pengawasan oleh pengurus Bank, pendelegasian wewenang, pemisahan tugas dan tanggung
jawab, sistem pengawasan intern dan pelatihan karyawan.
Secara berkesinambungan Bank Mandiri terus melakukan penyempurnaan terhadap
Customer Information Files (CIF) untuk meningkatkan keakurasian dan kelengkapan data
nasabah agar sesuai dengan ketentuan Bank Indonesia dan standar internasional.
Selain itu juga Bank Mandiri saat ini telah mengembangkan dan memiliki sistem
informasi yang memadai untuk dapat mengidentifikasi, menganalisis, memantau dan
menyediakan laporan mengenai transaksi pencucian uang yang dilakukan oleh nasabah
kepada pihak otoritas. Secara umum, penerapan prinsip KYC/AML di Bank Mandiri saat
ini mendapat penilaian dari pihak otoritas dengan peringkat cukup baik dan sistem
informasi manajemen dikategorikan baik.
Bank Mandiri adalah bank yang memiliki budaya kerja yang sangat baik, semakin
lama Bank Mandiri selalu menunjukkan komitmen yang semakin baik. Hal ini dapat
dibuktikan dengan pada tahun 2007 PT Bank Mandiri dinobatkan sebagai bank nasional
paling efisien dari 130 bank yang beroperasi di Indonesia dalam Banking Efficiency Award
2007versi Harian Bisnis Indonesia. Pencapaian itu tidak lepas dari suatu kinerja dan budaya
kerja yang sangat baik yang dimiliki oleh Bank Mandiri.

Kesimpulan
Penerapan prinsip good corporate governance secara komprehensif menjadi faktor
penting dalam menentukan tingkat profitabilitas perseroan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.
Bank terbesar di Indonesia dari sisi aset ini memperkuat penerapan prinsip good corporate
governance (GCG) dalam setiap bisnis proses hingga mendapat pengakuan dari jurnal
Corporate Governance Asian CGA (Annual Recognition Award )2013 sebagai Ikon
penerapan GCG terbaik di Indonesia. Penghargaan The Best of Asia ini merupakan yang
kelima kalinya disematkan kepada Bank Mandiri secara berturut-turut.
Hal ini tidak mustahil terjadi pada PT Bank Mandiri (Persero) Tbk karena bank
telah mengimplementasikan prinsip-prinsip GCG, kode etik dan perilaku secara efektif dan
efisien serta sebagai dasar kegiatan operasional yang sehat dan aman. Bank Mandiri
berusaha menciptakan iklim usaha yang bersih dan sehat dengan berusaha menekan
perilaku fraud dengan menerapkan prinsip-prinsip Good Corporate Governance pada tiap
level bisnis.