Anda di halaman 1dari 14

Tugas Mata Kuliah Bahasa Indonesia

FONOLOGI

DOSEN:

AYUNDA RAHMAH S, S.pd.,M.pd

DISUSUN OLEH :

1. Irvan Loga Ibrahim

2. Ihwan Sabir

3. Fitriani Azis

4. Nurfaila Tasni

5. Sukmawati

TEKNIK PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA


FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
2017
KATA PENGANTAR

Segala puji kehadirat Allah SWT, akhirnya kami dapat menyelesaikan


makalah kami yang berjudul Fonologi , guna untuk memenuhi tugas kami pada
mata kuliah Bahasa Indonesia di Jurusan Teknik Perencanaan Wilayah dan Kota
UIN Alauddin Makassar.
Kami menyadari akan kekurangan yang ada dalam makalah kami. Namun
setidaknya dapat memberikan sedikit gambaran tentang materi yang di bahas
dalam makalah ini. Kami juga mengharapkan kritik dan saran dari kalian semua.
Akhir kata, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Atas
perhatiannya kami ucapkan terima kasih.

Makassar, 27 November 2017

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ...................................................................... i

DAFTAR ISI ..................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ............................................................................ 1

B. Rumusan Masalah ....................................................................... 2

C. Tujuan Penelitian ........................................................................ 2

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian Fonologi .................................................................... 3

B. Ilmu Yang Tercakup Dalam Fonologi ........................................ 4

C. Jenis-jenis Fonem ........................................................................ 6

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan ................................................................................. 10

DAFTAR PUSTAKA ....................................................................... 11

ii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dalam kehidupan sehari-hari masih banyak masyarakat yang memakai

bahasa Indonesia tetapi tuturan atau ucapan daerahnya terbawa ke dalam

tuturan bahasa Indonesia. Tidak sedikit seseorang yang berbicara dalam

bahasa Indonesia, tetapi dengan lafal atau intonasi Jawa, Batak, Bugis, Sunda

dan lain-lain. Seperti di Sulawesi Selatan masih sangat banyak masyarakat

yang menggunakan bahasa Indonesia tapi masih dengan intonasi bahasa

bugis. Hal ini dimungkinkan karena sebagian besar bangsa Indonesia

memposisikan bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua. Sedangkan bahasa

pertamanya adalah bahasa daerah masing-masing. Bahasa Indonesia hanya

digunakan dalam komunikasi tertentu, seperti dalam kegiatan-kegiatan resmi.

Selain itu, dalam pembelajaran bahasa Indonesia khususnya di

Sekolah Dasar, istilah yang dikenal dan lazim digunakan guru adalah istilah

huruf walaupun yang dimaksud adalah fonem. Mengingat keduanya

merupakan istilah yang berbeda, untuk efektifnya pembelajaran, tentu perlu

diadakan penyesuaian dalam segi penerapannya. Oleh karena itu, untuk

mencapai suatu ukuran lafal atau fonem baku dalam bahasa Indonesia, sudah

seharusnya lafal-lafal atau intonasi khas daerah itu dikurangi jika mungkin

diusahakan dihilangkan.

1
2

B. Rumusan Masalah

1. Apakah yang dimaksud dengan fonologi?

2. Apa saja ilmu yang tercakup dalam fonologi?

3. Apa saja jenis-jenis fonem?

C. Tujuan Penulisan

1. Untuk mengetahui pengertian fonologi

2. Untuk mengetahui ilmu-ilmu yang tercakup dalam fonologi

3. Untuk mengetahui jenis-jenis fonem


BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Fonologi

Secara etimologi kata fonologi berasal dari gabungan kata fon yang

berarti bunyi dan logi yang berarti ilmu. Sebagai sebuah ilmu, fonologi

lazim diartikan sebagai bagian dari kajian linguistik yang mempelajari,

membahas, membicarakan, dan menganalisis bunyi-bunyi bahasa yang

diproduksi oleh alat-alat ucap manusia.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997) dinyatakan bahwa

fonologi adalah bidang dalam linguistik yang menyelidiki bunyibunyi

bahasa menurut fungsinya. Menurut Kridalaksana (2002) dalam kamus

linguistik, fonologi adalah bidang dalam linguistik yang menyelidiki bunyi-

bunyi bahasa menurut fungsinya. Dengan demikian, fonologi adalah sistem

bunyi dalam bahasa Indonesia atau dapat juga dikatakan bahwa fonologi

adalah ilmu tentang bunyi bahasa.

Fonologi adalah ilmu tentang perbendaharaan bunyi-bunyi (fonem)

bahasa dan distribusinya. Fonologi diartikan sebagai kajian bahasa yang

mempelajari tentang bunyi-bunyi bahasa yang diproduksi oleh alat ucap

manusia. Bidang kajian fonologi adalah bunyi bahasa sebagai satuan terkecil

dari ujaran dengan gabungan bunyi yang membentuk suku kata. Fonologi

sering disebut fonemik, ilmu yang mempelajari fonem- fonem.

3
4

B. Ilmu-Ilmu Yang Tercakup Dalam Fonologi

1. Fonetik

Fonetik yaitu ilmu bahasa yang membahas tentang bunyi-bunyi

ujaran yang dipakai dalam tutur dan bagaimana bunyi itu dihasilkan oleh

alat ucap. Menurut Samsuri (1994), fonetik adalah studi tentang bunyi-

bunyi ujar. Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997),

fonetik diartikan bidang linguistik tentang pengucapan (penghasilan)

bunyi ujar atau fonetik adalah sistem bunyi suatu bahasa. Dengan

demikian dapat disimpulkan bahwa fonetik adalah ilmu bahasa yang

membahas bunyi-bunyi bahasa yang dihasilkan alat ucap manusia, serta

bagaimana bunyi itu dihasilkan. Chaer (2007) membagi urutan proses

terjadinya bunyi bahasa itu menjadi tiga jenis fonetik yaitu:

a. Fonetik artikulatoris

Fonetik artikulatoris disebut juga fonetik organis atau fonetik

fisiologis, mempelajari bagaimana mekanisme alat-alat bicara

manusia bekerja dalam menghasilkan bunyi bahasa serta bagaimana

bunyi-bunyi itu diklasifikasikan. Pembahasannya antara lain meliputi

masalah alat-alat ucap yang digunakan dalam memproduksi dalam

bahasa itu, mekanisme arus udara yang digunakan dalam

memproduksi bunyi bahasa, bagaimana bunyi bahasa itu dibuat,

mengenai klasifikasi bahasa yang dihasilkan serta apa kriteria yang

digunakan, mengenai silabel, dan juga mengenai unsur-unsur atau ciri-

ciri supresegmental, seperti tekanan, jeda, durasi dan nada.


5

b. Fonetik akustik

Fonetik akustik mempelajari bunyi bahasa sebagai peristiwa

fisis atau fenomena alam. Objeknya adalah bunyi bahasa ketika

merambat di udara, antara lain membicarakan: gelombang bunyi

beserta frekuensi dan kecepatannya ketika merambat di udara,

spektrum, tekanan, dan intensitas bunyi. Juga mengenai skala desibel,

resonansi, akustik produksi bunyi, serta pengukuran akustik itu.

Kajian fonetik akustik lebih mengarah kepada kajian fisika daripada

kajian linguistik, meskipun linguistik memiliki kepentingan

didalamnya.

c. Fonetik auditoris

Fonetik auditoris mempelajari bagaimana bunyi-bunyi bahasa

itu diterima oleh telinga, sehingga bunyi-bunyi itu didengar dan dapat

dipahami. Dalam hal ini tentunya pambahasan mengenai struktur dan

fungsi alat dengar, yang disebut telinga itu bekerja. Bagaimana

mekanisme penerimaan bunyi bahasa itu, sehingga bisa dipahami.

Oleh karena itu, kajian fonetik auditoris lebih berkenaan dengan ilmu

kedokteran, termasuk kajian neurologi.

2. Fonemik

Fonemik adalah ilmu bahasa yang membahas bunyi-bunyi bahasa

yang berfungsi sebagai pembeda makna. Terkait dengan pengertian

tersebut, fonemik dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997)


6

diartikan: (1) Bidang linguistik tentang sistem fonem. (2) Sistem fonem

suatu bahasa. (3) Prosedur untuk menentukan fonem suatu bahasa.

Jika dalam fonetik mempelajari berbagai macam bunyi yang dapat

dihasilkan oleh alat-alat ucap serta bagaimana tiap-tiap bunyi itu

dilaksanakan, maka dalam fonemik mempelajari dan menyelidiki

kemungkinan-kemungkinan, bunyi ujaran yang manakah yang dapat

mempunyai fungsi untuk membedakan arti.

Chaer (2007) mengatakan bahwa fonemik mengkaji bunyi bahasa

yang dapat atau berfungsi membedakan makna kata. Misalnya bunyi [l],

[a], [b] dan [u] dan [r], [a], [b] dan [u]. Jika dibandingkan perbedaannya

hanya pada bunyi yang pertama, yaitu bunyi [l] dan bunyi [r]. Dengan

demikian dapat disimpulkan bahwa kedua bunyi tersebut adalah fonem

yang berbeda dalam bahasa Indonesia, yaitu fonem /l/ dan fonem /r/.

C. Jenis-Jenis Fonem

Supriyadi (1992) berpendapat bahwa yang dimaksud fonem adalah

satuan kebahasaan yang terkecil. Santoso (2004) menyatakan bahwa fonem

adalah setiap bunyi ujaran dalam satu bahasa mempunyai fungsi membedakan

arti. Bunyi ujaran yang membedakan arti ini disebut fonem. Fonem tidak

dapat berdiri sendiri karena belum mengandung arti. Dalam Kamus Besar

Bahasa Indonesia (1997) tertulis bahwa yang dimaksud fonem adalah satuan

bunyi terkecil yang mampu menunjukkan kontras makna. Misalnya /b/ dan /p/

adalah dua fonem yang berbeda karena bara dan para beda maknanya. Contoh
7

lain: mari, lari, dari, tari, sari jika satu unsur diganti dengan unsur lain, maka

akan membawa akibat yang besar yakni perubahan makna.

Jadi dapat disimpulkan bahwa fonem adalah satuan bunyi bahasa

terkecil yang bersifat fungsional, artinya satuan memiliki fungsi untuk

membedakan makna. Fonem tidak dapat berdiri sendiri karena belum

mengandung arti.

Adapun jenis-jenis fonem sebagai berikut :

1. Fonem vokal

Berdasarkan bentuk mulut sewaktu bunyi vokal itu diproduksi dapat

dibedakan:

a. Vokal bundar, yaitu vokal yang diucapkan dengan bentuk mulut

membundar. Dalam hal ini ada yang bundar terbuka seperti bunyi [],

dan yang bundar tertutup seperti bunyi [o] dan bunyi [u].

b. Vokal tak bundar, yaitu vokal yang diucapkan dengan bentuk mulut

tidak membundar, melainkan terbentang melebar, seperti bunyi [i],

bunyi [e], dan bunyi [].

c. Vokal netral, yaitu vokal yang diucapkan dengan bentuk mulut tidak

bundar dan tidak melebar, seperti bunyi [a]

2. Fonem Diftong

Fonem diftong yang ada dalam bahasa Indonesia adalah fonem diftong

/ay/, diftong /aw/, dan diftong /oy/. Ketiganya dapat dibuktikan dengan

pasangan minimal.
8

Adapun klasifikasi diftong adalah sebagai berikut:

a. Diftong naik, terjadi jika vokal yang kedua diucapkan dengan posisi

lidah menjadi lebih tinggi daripada yang pertama.

Contoh:

[ai] <gulai>

[au] <pulau>

[oi] <sekoi>

b. Diftong turun, terjadi bila vokal kedua diucapkan dengan posisi lebih

rendah daripada yang pertama. Dalam bahasa Jawa ada diftong turun

contohnya:

[ua] pada kata <muarem> sangat puas

[uo] pada kata <luoro> sangat sakit

c. Diftong memusat, terjadi bila vokal kedua diacu oleh sebuah atau

lebih vokal yang lebih tinggi, dan juga diacu oleh sebuah atau lebih

vokal yang lebih rendah. Dalam bahasa Inggris ada diftong [o]

seperti pada kata <more> dan kata <floor>. Ucapan kata <more>

adalah [mo] dan ucapan kata <floor> adalah [flo].

3. Fonem Konsonan

Fonem konsonan dapat digolongkan berdasarkan 4 kriteria yakni:

a. Tempat artikulasi, yaitu tempat terjadinya bunyi konsonan, atau tempat

bertemunya artikulator aktif dan artikulator pasif. Tempat artikulasi

disebut juga titik artikulasi. Sebagai contoh bunyi [p] terjadi pada

kedua belah bibir (bibir atas dan bibir bawah), sehingga tempat
9

artikulasinya disebut bilabial. Contoh lain bunyi [d] artikulator

aktifnya adalah ujung lidah (apeksi) dan artikulator pasifnya adalah

gigi atas (dentum), sehingga tempat artikulasinya disebut apikondental.

b. Cara artikulasi yaitu bagaimana tindakan atau perlakuan terhadap arus

udara yang baru keluar dari glotis dalam menghasilkan bunyi konsonan

itu. Misalnya, bunyi [p] dengan cara mula-mula arus udara dihambat

pada kedua belah bibir, lalu tiba-tiba diletupkan dengan keras. Maka

bunyi [p] itu disebut bunyi hambat atau bunyi letup. Contoh lain bunyi

[h] dihasilkan dengan cara arus udara digeserkn di laring (tempat

artikulasinya). Maka, bunyi [h] disebut bunyi geseran atau frikatif.

c. Bergetar tidaknya pita suara, yaitu jika pita suara dalam proses

pembunyian itu turut bergetar atau tidak. Bila pita suara itu turut

bergetar maka disebut bunyi bersuara. Jika pita suara tidak turut

bergetar, maka bunyi itu disebut bunyi tak bersuara. Bergetarnya pita

suara adalah karena glotis (celah pita suara) terbuka sedikit, dan tidak

bergetarnya pita suara karena glotis terbuka agak lebar.

d. Striktur, yaitu hubungan posisi antara artikulator aktif dan artikulator

pasif. Umpamanya dalam memproduksi bunyi [p] hubungan artikulator

aktif dan artikulator pasif, mula-mula rapat lalu secar tiba-tiba dilepas.

Dalam memproduksi bunyi [w] artikulator aktif dan artikulator pasif

hubungannya renggang dan melebar.


BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Fonologi adalah ilmu tentang perbendaharaan bunyi-bunyi (fonem)

bahasa dan distribusinya. Fonologi diartikan sebagai kajian bahasa yang

mempelajari tentang bunyi-bunyi bahasa yang diproduksi oleh alat ucap

manusia. Bidang kajian fonologi adalah bunyi bahasa sebagai satuan terkecil

dari ujaran dengan gabungan bunyi yang membentuk suku kata. Fonologi

sering disebut fonemik, ilmu yang mempelajari fonem- fonem.

Ilmu yang tercakup dalam foologi yaitu fonetik dan fonemik. Fonetik

terbagi tiga yaitu artikulatoris, akustik dan auditoris. Adapun jenis-jenis

fonem yaitu fonem vocal, fonem diftrong dan fonem konsonan.

10
DAFTAR PUSTAKA

Padeta, mansoer H.2003.pengantar fonologi. Gorontalo:viladan

Chaer, abdul. 2009.Fonologi Bahasa Indonesia. Jakarta: rineka cipta

Saussure, de ferdinand.1993.pengantar linguistik umum. Yogyakarta: Gajah


Mada University Press

Muslich, Masnur. 2013. Fonologi Bahasa Indonesia Tinjauan Deskriftif Sistem


Bunyi Bahasa Indonesia. Jakarta : Bumi Aksara.
Muslich, Masnur. 2012. Fonologi Bahasa Indonesia Tinjauan Deskriftif Sistem
Bunyi Bahasa Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara.
Chaer, Abdul. 2009. Fonologi Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.
Chaer, Abdul. 2003. Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka
Cipta.

11

Anda mungkin juga menyukai