Anda di halaman 1dari 54

MENTER!

PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT


REPUBLIK INDONESIA

KEPUTUSAN MENTER! PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT

NOMOR 965/KPTS/M/2016

TENTANG

PELIMPAHAN KEWENANGAN DAN TANGGUNG JAWAB


DALAM PENGELOLAAN BARANG MILIK NEGARA PADA
KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT

MENTER! PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT,

Menimbang a. bahwa dengan telah diundangkan Peraturan Menteri


Keuangan Nomor 4/PMK.06/2015 dan ditetapkan
Keputusan Menteri Keuangan Nomor 229/KM.6/2016,
perlu dilakukan perubahan pelimpahan kewenangan di
bidang Pengelolaan Barang Milik Negara pada
Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat;
b. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud
pada huruf a, perlu menetapkan Keputusan Menteri
Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat tentang
Pelimpahan Kewenangan dan Tanggung Jawab Dalam
Pengelolaan Barang Milik Negara Pada Kementerian
Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat;

Mengingat 1. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2014 tentang


Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 92,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
5533);
2. Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2015 tentang
Organisasi Kementerian Negara (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 8);
3. Peraturan Presiden Nomor 15 Tahun 2015 Tentang
Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor
16);
4. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 138/PMK.06/2010
tentang Pengelolaan Barang Milik Negara Berupa Rumah
Negara (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2010
Nomor 368);
5. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 78/PMK.06/2014
tentang Tata Cara Pelaksanaan Pemanfaatan Barang Milik

_t
Negara (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2014
Nomor 1143);
6. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 164/PMK.06/2014
tentang Tata Cara Pelaksanaan Pemanfaatan Barang Milik
Negara Dalam Rangka Penyediaan Infrasruktur
sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri
Keuangan Nomor 65/PMK.06/2016 (Berita Negara
Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 638);
7. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 246/PMK.06/2014
tentang Tata Cara Pelaksanaan Penggunaan Barang Milik
Negara sebagaimana telah diubah dengan Peraturan
Menteri Keuangan Nomor 87 /PMK.06/2016 (Berita Negara
Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 791);
8. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan
Rakyat Nomor 15/PRT/M/2015 tentang Organisasi dan
Tata Kerja Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan
Rakyat (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2015
Nomor 881);
9. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan
Rakyat Nomor 34/PRT/M/2015 tentang Struktur
Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis
Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat
(Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor
817);
10.Peraturan Menteri Keuangan Nomor 4/PMK.06/2015
Tentang Pendelegasian Kewenangan Dan Tanggung Jawab
Tertentu Dari Pengelola Barang Kepada Pengguna
Barang(Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2015
Nomor 20);
11.Peraturan Menteri Keuangan Nomor 57 /PMK.06/2016
tentang Tata Cara Pelaksanaan Sewa Barang Milik Negara
(Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2016 Nomor
540);
12.Peraturan Menteri Keuangan Nomor 83/PMK.06/2016
tentang Tata Cara Pelaksanaan Pemusnahan dan
Penghapusan Barang Milik Negara (Berita Negara Republik
Indonesia Tahun 2016 Nomor 757);
13.Peraturan Menteri Keuangan Nomor 111/PMK.06/2016
tentang Tata Cara Pelaksanaan Pemindahtanganan
Barang Milik Negara (Berita Negara Republik Indonesia
Tahun 2016 Nomor 1018);
14.Keputusan Menteri Keuangan Nomor 229/KM.6/2016
tentang Pelimpahan Sebagian Wewenang Menteri
Keuangan Yang Telah Dilimpahkan Kepada Direktur
Jenderal Kekayaan Negara Kepada Pejabat di Lingkungan
Direktorat Jenderal Kekayaan Negara Untuk Dan Atas
Nama Menteri Keuangan Menandatangani Surat
Dan/ Atau Keputusan Menteri Keuangan;
MEMUTUSKAN :

Menetapkan KEPUTUSAN MENTER! PEKERJAAN UMUM DAN


PERUMAHAN RAKYAT TENTANG PELIMPAHAN
KEWENANGAN DAN TANGGUNG JAWAB DALAM
PENGELOLAAN BARANG MILIK NEGARA PADA
KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN
RAKYAT.

KESATU Melimpahkan Kewenangan dan Tanggung Jawab Menteri


Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat kepada Pejabat di
Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat dalam
pengelolaan Barang Milik Negara yang selanjutnya disebut
BMN yang dalam Keputusan Menteri ini meliputi:
1. Penggunaan BMN sebagaimana tercantum dalam Lampiran
I;
2. Pemanfaatan BMN sebagaimana tercantum dalam
Lampiran II;
3. Pemindahtanganan BMN sebagaimana tercantum dalam
Lampiran III; dan
4. Pemusnahan atau Penghapusan BMN sebagaimana
tercantum Lampiran IV,
yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Keputusan
Menteri ini.

KEDUA Kewenangan dan Tanggung Jawab Menteri untuk


mengajukan permohonan persetujuan penggunaan,
pemanfaatan, dan pemindahtanganan BMN kepada Menteri
Keuangan atau Direktur Jenderal Kekayaan Negara
dilimpahkan kepada Sekretaris Jenderal atas nama Menteri .

KETIGA Persetujuan pemindahtanganan BMN yang menjadi


kewenangan Sekretaris Jenderal Kementerian Pekerjaan
Umum dan Perumahan Rakyat dengan nilai per usulan di
atas Rpl0.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah) dilakukan
dengan persetujuan Presiden melalui Menteri Keuangan.

KEEMPAT Keputusan penghapusan BMN dari Daftar Barang Kuasa


Pengguna (DBKP) ditetapkan oleh Kepala Satuan Kerja
setelah diselesaikannya proses pemindahtanganan/
pemusnahan/penghapusan sebagaimana diatur dalam
peraturan perundang- undangan terkait.

KELIMA Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam DIKTUM KESATU


dikecualikan untuk Pengelolaan BMN berupa Rumah Negara,
yang terdiri atas:
a. pengalihan status penggunaan BMN berupa Rumah
Negara Golongan II kepada Pengguna Barang Rumah
Negara Golongan III (Kementerian Pekerjaan Umum dan
Perumahan Rakyat); dan
b. pemindahtanganan BMN dalam bentuk penjualan BMN
berupa Rumah Negara Gofongan III kepada penghuninya.
KEENAM Format Keputusan dan Persetujuan atas Pengelolaan BMN
sebagaimana dimaksud dalam DIKTUM KESATU tercantum
dalam Lampiran V yang merupakan bagian tidak terpisahkan
dari Keputusan Menteri ini.

KETUJUH Pada saat Keputusan Menteri ini mulai berlaku, Keputusan


Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor
548/KPTS/M/2015 tentang Pelimpahan Kewenangan dan
Tanggung Jawab Tertentu Dalam Pengelolaan Barang Milik
Negara di Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan
Rakyat, dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.

KEDELAPAN Keputusan ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan.

Tembusan disampaikan kepada Yth:


1. Sekretaris Jenderal;
2. Inspektur Jenderal;
3. Para Direktur Jenderal;
4. Para Kepala Badan;
5. Kepala Biro Hukum;
6. Kepala Biro Pengelolaan Barang Milik Negara dan Layanan Pengadaan;dan
7. Para Kepala Satuan Kerja.

Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 28November 2016

MENTER! PEKERJAAN UMUM DAN


PERUMAHAN RAKYAT,

M. BASUKI HADIMUWONO
LAMPIRAN I
KEPUTUSAN MENTER! PEKERJAAN
UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT
NOMOR 965 /KPTS/M/2016
TENTANG
PELIMPAHAN KEWENANGAN DAN
TANGGUNG JAWAB DALAM
PENGELOLAAN BARANG MILIK NEGARA
PADA KEMENTERIAN PEKERJAAN
UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT

PENGGUNAAN BMN

A. PENETAPAN STATUS PENGGUNAAN


1. Penetapan status penggunaan BMN oleh Sekretaris Jenderal atas nama
Menteri untuk BMN selain tanah dan/ atau bangunan yang tidak memiliki
dokumen kepemilikan, dengan nilai perolehan diatas Rp .50.000.000,00
(lima puluh jut a rupiah) sampai dengan Rp.100.000.000,00 (seratus juta
rupiah) per unit/satuan.

2. Penetapan status penggunaan BMN oleh Sekretaris Jenderal/Inspektur


Jenderal/Direktur Jenderal/Kepala Badan atas nama Menteri untuk BMN
selain tanah dan/ atau bangunan yang tidak memiliki dokumen
kepemilikan, dengan nilai perolehan sampai dengan Rp.50.000.000,00
(lima puluh juta rupiah) per unit/satuan , untuk BMN yang berada di bawah
penatausahaan unit organisasi masing-masing.

3. Pengajuan usulan penetapan status penggunaan BMN sebagaimana angka


1 (satu) dan 2 (dua) dilakukan oleh Kepala Satuan Kerja.

4. Usulan penetapan status penggunaan BMN diajukan oleh Kepala Satuan


Kerja kepada Direktur Pengelolaan Kekayaan Negara dan Sistem Informasi
Direktorat Jenderal Kekayaan Negara, Kementerian Keuangan untuk:

a. Tanah dan/atau bangunan serta BMN yang memiliki dokumen


kepemilikan, dengan nilai BMN yang dihitung secara proporsional dari
nilai perolehan BMN per usulan diatas Rp.50.000.000.000,00 (lima
puluh miliar rupiah) sampai dengan Rpl00.000.000.000,00 (seratus
miliar rupiah);dan

b. Selain tanah dan/ atau bangunan dengan nilai perolehan BMN lebih dari
Rp.100.000.000 ,00 (seratus juta rupiah) per unit/satuan, dengan nilai
perolehan BMN per usulan diatas Rp.25.000.000.000,00 (dua puluh
lima miliar rupiah) sampai dengan Rp.50.000.000.000 ,00 (lima puluh
miliar rupiah).

5. U sulan penetapan status penggunaan BMN diajukan oleh Kepala Satuan


Kerja kepada Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Kekayaan Negara
Kementerian Keuangan untuk:

a. Tanah dan/ atau bangunan serta BMN yang memiliki dokumen


kepemilikan, dengan nilai BMN yang dihitung secara proporsional dari
nilai perolehan BMN per usulan diatas Rp.10 .000.000 .000,00 (sepuluh
miliar rupiah) sampai dengan Rp .50 .000.000.000,00 (lima puluh miliar
rupiah);dan

b. Selain tanah dan/ atau bangunan dengan nilai perolehan BMN lebih dari
Rp.100 .000.000,00 (seratus juta rupiah) per unit/satuan, dengan nilai
perolehan BMN per usulan diatas Rp.5.000.000 .000,00 (lima miliar
rupiah) sampai dengan Rp .25.000.000.000,00 (dua puluh lima miliar
rupiah.
6. Usulan penetapan status penggunaan BMN diajukan oleh Kepala Satuan
Kerja kepada Kepala Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang
Direktorat Jenderal Kekayaan Negara Kementerian Keuangan untuk:

a. Tanah dan/atau bangunan serta BMN yang memiliki dokumen


kepemilikan, dengan nilai BMN yang dihitung secara proporsional dari
nilai perolehan BMN per usulan sampai dengan Rp.10.000.000.000,00
(sepuluh miliar rupiah);dan

b. Selain tanah dan/ atau bangunan dengan nilai perolehan BMN lebih dari
Rp.100.000.000,00 (seratus juta rupiah) per unit/satuan, dengan nilai
perolehan BMN per usulan sampai dengan Rp.5.000.000.000,00 (lima
miliar rupiah).

B. PENGGUNAAN SEMENTARA OLEH PENGGUNA BARANG LAIN


1. Persetujuan/penolakan atas usulan Penggunaan Sementara BMN oleh
Pengguna Barang Lain dilakukan oleh Sekretaris Jenderal atas nama
Menteri, untuk BMN selain tanah dan/ atau bangunan yang tidak memiliki
dokumen kepemilikan, dengan nilai perolehan sampru dengan
Rp.100.000.000,00 (seratus juta rupiah) per unit/satuan.

2. Usulan Penggunaan Sementara oleh Pengguna Barang Lain untuk BMN


diajukan oleh Sekretaris Jenderal kepada Direktur Pengelolaan Kekayaan
Negara dan Sistem Informasi Direktorat Jenderal Kekayaan Negara
Kementerian Keuangan untuk:
a. Tanah dan/ atau bangunan serta BMN yang memiliki dokumen
kepemilikan, dengan nilai BMN yang dihitung secara proporsional dari
nilai perolehan BMN per usulan di atas Rp.50.000.000.000,00 (lima
puluh miliar rupiah) sampai dengan Rp.100.000.000.000,00 (seratus
miliar rupiah) ;dan
b. Selain tanah dan/ atau bangunan dengan nilai perolehan BMN lebih dari
Rp.100.000.000,00 (seratus juta rupiah) per unit/satuan, dengan
jumlah nilai perolehan BMN per usulan di atas Rp.25.000.000.000,00
(dua puluh lima miliar rupiah) sampai dengan Rp.50.000 .000.000,00
(lima puluh miliar rupiah).

3. Usulan Penggunaan Sementara oleh Pengguna Barang Lain untuk BMN


diajukan oleh Sekretaris Itjen/Badan/Ditjen/Kepala Biro Umum kepada
Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Kekayaan Negara Kementerian
Keuangan untuk:
a. Tanah dan/atau bangunan serta BMN yang memiliki dokumen
kepemilikan, dengan nilai BMN yang dihitung secara proporsional dari
nilai perolehan BMN per usulan di atas Rp.10.000.000.000 ,00 (sepuluh
miliar rupiah) sampai dengan Rp.50.000.000.000,00 (lima puluh miliar
rupiah);dan
b. Selain tanah dan/atau bangunan dengan nilai perolehan BMN lebih dari
Rp.100.000.000,00 (seratus juta rupiah) per unit/satuan, dengan
jumlah nilai perolehan BMN per usulan di atas Rp.5 .000.000.000,00
(lima miliar rupiah) sampai dengan Rp .25.000.000.000,00 (dua puluh
lima miliar rupiah).
Usulan sebagaimana dimaksud pada angka 2 (dua) dilaksanakan setelah
mendapat ijin prinsip Sekretaris Jenderal atas nama Menteri.

4. Usulan Penggunaan Sementara BMN oleh Pengguna Barang Lain dilakukan


oleh Kepala Satuan Kerja kepada Kepala Kantor Pelayanan Kekayaan
Negara Dan Lelang, Direktorat Jenderal Kekayaan Negara, Kementerian
Keuangan untuk:
a. Tanah dan/ atau bangunan serta BMN yang memiliki dokumen
kepemilikan, dengan nilai BMN yang dihitung secara proporsional dari
nilai perolehan BMN per usulan sampai dengan Rp.10.000.000.000,00
(sepuluh miliar rupiah);
b. Selain tanah dan/ atau bangunan yang memiliki dokumen kepemilikan
dengan nilai perolehan BMN per usulan sampru dengan
Rp5.000 .000.000,00 (lima miliar rupiah);dan
c. Selain tanah dan/ atau bangunan yang tidak merniliki dokumen
kepemilikan dengan nilai perolehan BMN di atas Rpl00.000.000,00
(seratus juta rupiah) per unit, dengan nilai per usulan sampai dengan
Rp.5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).
U sulan se bagaimana dimaksud pada angka 3 (tiga) dilaksanakan setelah
mendapat ijin prinsip Sekretaris Jenderal atas nama Menteri.

C. PENGALIHAN STATUS PENGGUNAAN


1. Usulan pengalihan status penggunaan BMN diajukan oleh Sekretaris
Jenderal kepada Direktur Pengelolaan Kekayaan Negara Dan Sistem
Informasi, Direktorat Jenderal Kekayaan Negara, Kementerian Keuangan
untuk:
a. Tanah dan/ atau bangunan dengan nilai BMN yang dihitung secara
proporsional dari nilai perolehan BMN per usulan di atas
Rp.50.000.000.000,00 (lima puluh rniliar rupiah) sampru dengan
Rp.100.000.000.000,00 (seratus rniliar rupiah);dan
b. Selain tanah dan/ atau bangunan, dengan nilai perolehan BMN per
usulan di atas Rp.25.000.000.000,00 (dua puluh lima rniliar rupiah)
sampai dengan Rp.50.000.000.000,00 (lima puluh miliar rupiah).

2. Usulan pengalihan status penggunaan BMN diajukan oleh Pimpinan Unit


Organisasi terkait (Sekretaris Jenderal/Inspektur Jenderal/Direktur
Jenderal/Kepala Badan) kepada Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal
Kekayaan Negara untuk:

a. Tanah dan/ atau bangunan dengan nilai BMN yang dihitung secara
proporsional dari nilai perolehan BMN per usulan di atas
Rp.10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah) sampru dengan
Rp.50.000.000.000,00 (lima puluh miliar rupiah);dan

b. Selain tanah dan/atau bangunan dengan nilai perolehan BMN per


usulan di atas Rp.5.000.000.000,00 (lima rniliar rupiah) sampai dengan
Rp.25.000.000.000,00 (dua puluh lima miliar rupiah).

Usulan sebagaimana dimaksud pada angka 2 (dua) dilaksanakan setelah


mendapat ijin prinsip Sekretaris Jenderal atas nama Menteri.

3. Usulan pengalihan status penggunaan BMN diajukan oleh Kepala Satuan


Kerja kepada Kepala Kantor Pelayanan Kekayaan Negara Dan Lelang,
Direktur Jenderal Kekayaan Negara, Kementerian Keuangan untuk:

a. Tanah dan/ atau bangunan dengan nilai BMN yang dihitung secara
proporsional dari nilai perolehan BMN per usulan sampru dengan
Rp.10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah);dan

b. Selain tanah dan/atau bangunan dengan nilai perolehan BMN per


usulan sampai dengan Rp.5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).

Usulan sebagaimana dimaksud pada angka 3 (tiga) dilaksanakan setelah


mendapat ijin prinsip Sekretaris Jenderal atas nama Menteri.

7.
t(
,./
D. PENETAPAN STATUS PENGGUNAAN BMN UNTUK DIOPERASIKAN OLEH
PIHAK LAIN
Usulan penetapan status penggunaan BMN untuk dioperasikan oleh pihak
lain dalam rangka menjalankan pelayanan umum sesuai dengan tugas dan
fungsi Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat diajukan oleh
Sekretaris Jenderal Kepada Direktur Pengelolaan Kekayaan Negara dan
Sistem Informasi, Direktorat Jenderal Kekayaan Negara, kementerian
keuangan untuk:
1. Tanah dan/ atau bangunan dengan nilai BMN yang dihitung secara
proporsional dari nilai perolehan BMN per usulan sampai dengan
Rpl00.000.000.000,00 (seratus miliar rupiah);dan
2. Selain tanah dan/atau bangunan dengan nilai perolehan BMN per
usulan sampai dengan Rp50.000.000.000,00 (lima puluh miliar rupiah).

MENTER! PEKERJAAN UMlJM DAN


PERUMAHAN RAKYAT,

M. BASUKl HADIMUWONO
LAMPIRAN II
KEPUTUSAN MENTER! PEKERJAAN UMUM DAN
PERUMAHAN RAKYAT
NOMOR 965/KPTS/M/2016
TENTANG
PELIMPAHAN KEWENANGAN DAN TANGGUNG
JAWAB DALAM PENGELOLAAN BARANG MILIK
NEGARA PADA KEMENTERIAN PEKERJAAN
UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT

PEMANFAATAN BARANG MILIK NEGARA

A. SEWA
1. Usulan sewa BMN dan perpanjangannya diajukan oleh Sekretaris Jenderal
kepada Direktur Pengelolaan Kekayaan Negara dan Sistem Informasi,
Direktorat Jenderal Kekayan Negara, Kementerian Keuangan untuk:
a. Tanah dan/atau bangunan dengan nilai BMN yang akan dimanfaatkan
dihitung secara proporsional dari nilai perolehan BMN per usulan di
atas Rp.10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah) sampai dengan
Rp.25.000.000.000,00 (dua puluh lima miliar rupiah);dan
b. Selain tanah dan/ atau bangunan dengan nilai perolehan BMN per
usulan di atas Rp.5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah) sampai dengan
Rp.10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah),
setelah mendapat Rekomendasi Teknis dari Pimpinan Unit Organisasi
terkait (Sekretaris Jenderal/Inspektur Jenderal/Direktur Jenderal/Kepala
Badan).
Kewenangan penandatanganan Rekomendasi Teknis dapat didelegasikan
kepada Kepala Biro Umum/Sekretaris Unit Organisasi.

2. Usulan sewa BMN dan perpanjangannya diajukan oleh Pimpinan Unit


Organisasi terkait (Sekretaris Jenderal/Inspektur Jenderal/Direktur
Jenderal/Kepala Badan) kepada Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal
Kekayaan Negara, Kementerian Keuangan untuk:
a. Tanah dan/ atau bangunan dengan nilai BMN yang akan dimanfaatkan
dihitung secara proporsional dari nilai perolehan BMN per usulan di
atas RpS.000.000.000,00 (lima miliar rupiah) sampai dengan
Rpl0.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah);dan
b. Selain tanah dan/ atau bangunan dengan nilai perolehan BMN per
usulan di atas Rp2.500.000.000,00 (dua miliar lima ratus juta rupiah)
sampai dengan RpS.000.000.000,00 (lima miliar rupiah),
setelah mendapat Ijin Prinsip dari Sekretaris Jenderal atas nama Menteri.
Kewenangan pengajuan usulan sewa BMN dapat didelegasikan kepada
Kepala Biro Umum/Sekretaris Unit Organisasi.

3. Usulan sewa BMN dan perpanjangannya diajukan oleh Kepala Satuan Kerja
kepada Kepala Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang untuk:
a. Tanah dan/ atau bangunan dengan nilai BMN yang akan dimanfaatkan
dihitung secara proporsional dari nilai perolehan BMN per usulan
sampai dengan RpS.000.000.000,00 (lima miliar rupiah) setelah
mendapat Izin Prinsip dari Sekretaris Jenderal atas nama Menteri
berdasarkan Rekomendasi Teknis dari Pimpinan Unit Organisasi terkait
(Sekretaris Jenderal/ Inspektur Jenderal/Direktur Jenderal/Kepala
Badan);dan
b. Selain tanah dan/atau bangunan dengan nilai perolehan BMN per
usulan sampai dengan Rp2.500 .000.000,00 (dua miliar lima ratus juta
rupiah) setelah mendapat Izin Prinsip dari Pimpinan Unit Organisasi
terkait (Sekretaris Jenderal/ Inspektur Jenderal/Direktur
Jenderal/Kepala Badan).

t
Kewenangan penerbitan Rekomendasi Teknis sebagaimana dimaksud pada
huruf a dan pemberian Izin Prinsip sebagaimana dimaksud pada huruf b
dapat didelegasikan kepada Kepala Biro Um um/ Sekretaris Unit Organisasi.

B . PINJAM PAKAI
1. Usulan pinjam pakai BMN dan perpanjangannya diajukan oleh Sekretaris
Jenderal kepada Direktur Pengelolaan Kekayaan Negara Dan Sistem
Informasi, Direktorat Jenderal Kekayaan Negara, Kementerian Keuangan
untuk:
a. Tanah dan/atau bangunan dengan nilai BMN yang akan dimanfaatkan
dihitung secara proporsional dari nilai perolehan BMN per usulan di
atas Rpl0.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah) sampai dengan
Rp25.000.000.000 ,00 (dua puluh lima miliar rupiah);dan
b. Selain tanah dan/atau bangunan dengan nilai perolehan BMN per
usulan di atas RpS.000.000 .000,00 (lima miliar rupiah) sampai dengan
Rpl0.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah),
setelah mendapat Rekomendasi Teknis dari Pimpinan Unit Organisasi
terkait (Sekretaris Jenderal/ Inspektur Jenderal/Direktur Jenderal/Kepala
Badan).
Kewenangan penerbitan Rekomendasi Teknis dapat didelegasikan kepada
Kepala Biro Umum/Sekretaris Unit Organisasi.

2. Usulan pinjam pakai BMN dan perpanjangannya diajukan oleh Pimpinan


Unit Organisasi terkait (Sekretaris Jenderal/Inspektur Jenderal/Direktur
Jenderal/Kepala Badan) kepada Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal
Kekayaan Negara Kementerian Keuangan untuk:
a. Tanah dan/atau bangunan dengan nilai BMN yang akan dimanfaatkan
dihitung secara proporsional dari nilai perolehan BMN per usulan di
atas Rp.5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah) sampai dengan
Rp.10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah) setelah mendapat Izin
Prinsip dari Sekretaris Jenderal atas nama Menteri berdasarkan
Rekomendasi Teknis dari Pimpinan Unit Organisasi terkait (Sekretaris
Jenderal/ Inspektur Jenderal/Direktur Jenderal/Kepala Badan);dan
b. Selain tanah dan/ atau bangunan dengan nilai perolehan BMN per
usulan di atas Rp2.500.000 .000,00 (dua miliar lima ratus juta rupiah)
sampai dengan RpS.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).

3. Usulan pinjam pakai BMN dan perpanjangannya diajukan oleh Kepala


Satuan Kerja kepada Kepala Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang
untuk:
a. Tanah dan/atau bangunan dengan nilai BMN yang akan dimanfaatkan
dihitung secara proporsional dari nilai perolehan BMN per usulan
sampai dengan RpS .000 .000.000,00 (lima miliar rupiah) setelah
mendapat Izin Prinsip dari Sekretaris Jenderal atas nama Menteri
berdasarkan Rekomendasi Teknis dari Pimpinan Unit Organisasi terkait
(Sekretaris Jenderal/ Inspektur Jenderal/Direktur Jenderal/Kepala
Badan);dan
b. Selain tanah dan/ atau bangunan dengan nilai perolehan BMN per
usulan sampai dengan Rp2.500.000.000,00 (dua miliar lima ratus juta
rupiah) diajukan setelah mendapat Izin Prinsip dari Pimpinan Unit
Organisasi terkait (Sekretaris Jenderal/ Inspektur Jenderal/Direktur
J ender al/ Kepala Badan).
Kewenangan penerbitan Rekomendasi Teknis sebagaimana dimaksud pada
huruf a dan pemberian Izin Prinsip sebagaimana dimaksud pada huruf b
dapat didelegasikan kepada Kepala Biro Umum/Sekretaris Unit
Organisasi.

t
C. KERJASAMA PEMANFAATAN (KSP)
1. Usulan Kerjasama Pemanfaatan (KSP) untuk BMN diajukan oleh Sekretaris
Jenderal kepada Direktur Pengelolaan Kekayaan Negara dan Sistem
Informasi, Direktorat Jenderal Kekayaan Negara, Kementerian Keuangan
untuk:
a. Tanah dan/ atau bangunan dengan nilai BMN yang akan dimanfaatkan
dihitung secara proporsional dari nilai perolehan BMN per usulan di
atas Rp.10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah) sampai dengan
Rp.25.000.000.000,00 (dua puluh lima miliar rupiah);dan
b. Selain tanah dan/ atau bangunan dengan nilai perolehan BMN per
usulan di atas Rp.5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah) sampai dengan
Rp.10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah),
setelah mendapat Rekomendasi Teknis dari Pimpinan Unit Organisasi
terkait (Sekretaris Jenderal/ lnspektur Jenderal/Direktur Jenderal/Kepala
Badan).

2. Usulan Kerjasama Pemanfaatan (KSP) untuk BMN diajukan oleh Pimpinan


Unit Organisasi terkait (Sekretaris Jenderal/Inspektur Jenderal/Direktur
Jenderal/Kepala Badan) kepada Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal
Kekayaan Negara, Kementerian Keuangan untuk:
a. Tanah dan/atau bangunan dengan nilai BMN yang akan dimanfaatkan
dihitung secara proporsional dari nilai perolehan BMN per usulan di
atas Rp.5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah) sampai dengan
Rp.10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah);dan
b. Selain tanah dan/ atau bangunan dengan nilai perolehan BMN per
usulan di atas Rp.2.500.000.000,00 (dua miliar lima ratus juta rupiah)
sampai dengan Rp.5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah),
setelah mendapat Izin Prinsip dari Sekretaris Jenderal atas nama Menteri
berdasarkan Rekomendasi Teknis dari Pimpinan Unit Organisasi terkait
(Sekretaris Jenderal/ Inspektur Jenderal/Direktur Jenderal/Kepala Badan).
Kewenangan penerbitan Rekomendasi Teknis dapat didelegasikan kepada
Kepala Biro Umum/Sekretaris Unit Organisasi.

3. Usulan Kerjasama Pemanfaatan (KSP) untuk BMN diajukan oleh Kepala


Satuan Kerja kepada Kepala Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang
untuk:
a. Tanah dan/ atau bangunan dengan nilai BMN yang akan dimanfaatkan
dihitung secara proporsional dari nilai perolehan BMN per usulan
sampai dengan Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah);dan
b. Selain tanah dan/atau bangunan dengan nilai perolehan BMN per
usulan sampai dengan Rp2.500.000.000,00 (dua miliar lima ratus juta
rupiah},
setelah mendapat Izin Prinsip dari Sekretaris Jenderal atas nama Menteri
berdasarkan Rekomendasi Teknis dari Pimpinan Unit Organisasi terkait
(Sekretaris Jenderal/Inspektur Jenderal/Direktur Jenderal/Kepala Badan).
Kewenangan penerbitan Rekomendasi Teknis dapat didelegasikan kepada
Kepala Biro Umum/Sekretaris Unit Organisasi.

D. BANGUN GUNA SERAH / BANGUN SERAH GUNA


Usulan Bangun Guna Serah/Bangun Serah Guna (BGS/BSG) untuk BMN
diajukan oleh Sekretaris Jenderal kepada Direktur Pengelolaan Kekayaan
Negara Dan Sistem Informasi, Direktorat Jenderal Kekayaan Negara,
Kementerian Keuangan untuk BMN dengan nilai tanah yang akan
dimanfaatkan dihitung secara proporsional dari nilai perolehan tanah per
usulan sampai dengan Rp.25.000.000.000,00 (dua puluh lima miliar
rupiah) setelah mendapat Rekomendasi Teknis dari Pimpinan Unit
Organisasi terkait (Sekretaris Jenderal/ Inspektur Jenderal/Direktur
Jenderal/Kepala Badan).
Kewenangan penerbitan Rekomendasi Teknis dapat didelegasikan kepada
Kepala Biro Umum/Sekretaris Unit Organisasi.

E. KERJASAMA PENYEDIAAN INFRASTRUKTUR {KSPI)


Usulan Kerjasama Penyediaan Infrastruktur (KSPI) untuk BMN diajukan
oleh Sekretaris Jenderal kepada Direktur Pengelolaan Kekayaan Negara dan
Sistem Informasi, Direktorat Jenderal Kekayaan Negara, Kementerian
Keuangan untuk BMN berupa tanah dan/ a tau bangunan dengan nilai BMN
yang akan dimanfaatkan dihitung secara proporsional dari nilai perolehan
tanah sampai dengan Rp25 .000.000.000,00 (dua puluh lima miliar rupiah)
setelah mendapat Rekomendasi Teknis dari Pimpinan Unit Organisasi
terkait (Sekretaris Jenderal/ Inspektur Jenderal/Direktur Jendera1/Kepa1a
Badan).

Kewenangan penerbitan Rekomendasi Teknis dapat didelegasikan kepada


Kepala Biro Umum/Sekretaris Unit Organisasi.

MENTER! PEKERJAAN UMUM DAN


PERUMAHAN RAKYAT,

M. BASUKI HADIMUWONO
LAMPIRAN III
KEPUTUSAN MENTER! PEKERJAAN
UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT
NOMOR 965/KPTS/M/2016
TENTANG
PELIMPAHAN KEWENANGAN DAN
TANGGUNG JAWAB DALAM
PENGELOLAAN BARANG MILIK NEGARA
PADA KEMENTERIAN PEKERJAAN
UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT

PEMINDAHTANGANAN BARANG MILIK NEGARA

A.PENJUALAN
1. Persetujuan/penolakan atas usulan pemindahtanganan berupa penjualan
BMN dilakukan oleh Sekretaris Jenderal atas nama Menteri untuk:
a. Selain tanah dan/ atau bangunan, yang tidak memiliki dokumen
kepemilikan, dengan nilai perolehan sampai dengan Rpl00.000.000,00
(seratus juta rupiah) per unit/satuan;atau
b. Bongkaran BMN karena perbaikan (renovasi, rehabilitasi, atau restorasi).

2. Usulan penjualan untuk BMN diajukan oleh Pimpinan Unit Organisasi


terkait (Sekretaris Jenderal/Inspektur Jenderal/Direktur Jenderal/Kepala
Badan) kepada Menteri dalam hal ini Sekretaris Jenderal untuk:
a. Selain tanah dan/ atau bangunan, yang tidak meniiliki dokumen
kepemilikan, dengan nilai perolehan sampai dengan Rpl00.000.000,00
(seratus juta rupiah) per unit/satuan;atau
b. Bongkaran BMN karena perbaikan (renovasi, rehabilitasi, atau restorasi).
Kewenangan pengajuan usulan penjualan BMN dapat didelegasikan kepada
Kepala Biro Umum/Sekretaris Unit Organisasi.

3. Usulan penjualan untuk BMN diajukan oleh Sekretaris Jenderal kepada


Direktur Pengelolaan Kekayaan Negara dan Sistem Informasi, Direktorat
Jenderal Kekayaan Negara, Kementerian Keuangan untuk:
a. Tanah dan/atau bangunan serta BMN yang memiliki dokumen
kepemilikan, dengan nilai BMN yang dihitung secara proporsional dari
nilai perolehan BMN per usulan di atas Rp.2.500.000.000,00 (dua miliar
lima ratus juta rupiah) sampai dengan Rp.5.000.000.000,00 (lima miliar
rupiah) ;dan
b. Selain tanah dan/ atau bangunan dengan nilai perolehan BMN lebih dari
Rpl00.000.000,00 (seratus juta rupiah) per unit/satuan, dengan jumlah
nilai perolehan BMN per usulan di atas Rp.2.500.000.000,00 (dua miliar
lima ratus juta rupiah) sampai dengan Rp.5.000.000.000,00 (lima miliar
rupiah),
setelah mendapat rekomendasi teknis dari Pimpinan Unit Organisasi terkait
(Sekretaris Jenderal/ lnspektur Jenderal/Direktur Jenderal/Kepala Badan).
Kewenangan penandatanganan Rekomendasi Teknis dapat didelegasikan
kepada Kepala Biro Umum/Sekretaris Unit Organisasi.

4. Usulan penjualan untuk BMN diajukan oleh Pimpinan Unit Organisasi


terkait (Sekretaris Jenderal/lnspektur Jenderal/Direktur Jenderal/Kepala
Badan) kepada Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Kekayaan Negara
Kementerian Keuangan untuk:
a. Tanah dan/ atau bangunan serta BMN yang memiliki dokumen
kepemilikan, dengan nilai BMN yang dihitung secara proporsional dari
nilai perolehan BMN per usulan di atas Rp.1.000.000.000,00 (satu miliar
rupiah) sampai dengan Rp.2.500.000.000,00 (dua miliar lima ratus juta
rupiah);dan

-I
t
b. Selain tanah dan/atau bangunan dengan nilai perolehan BMN lebih dari
Rp.100.000.000,00 (seratus juta rupiah) per unit/satuan, dengan jurnlah
nilai perolehan BMN per usulan di atas Rp.1.000.000.000,00 (satu miliar
rupiah) sampai dengan Rp.2.500.000.000,00 (dua miliar lima ratus juta
rupiah),
setelah mendapat Izin Prinsip dari Sekretaris Jenderal atas nama Menteri
berdasarkan Rekomendasi Teknis dari Pimpinan Unit Organisasi terkait
(Sekretaris Jenderal/ Inspektur Jenderal/Direktur Jenderal/Kepala
Badan).
Kewenangan penandatanganan Rekomendasi Teknis dapat clidelegasikan
kepada Kepala Biro Umum/Sekretaris Unit Organisasi.

5. Usulan penjualan untuk BMN cliajukan oleh Kepala Satuan Kerja kepada
Kepala Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang, Direktorat Jenderal
Kekayaan Negara, Kementerian Keuangan untuk:
a. Tanah dan/ atau bangunan serta BMN yang memiliki dokumen
kepemilikan, dengan nilai BMN yang dihitung secara proporsional dari
nilai perolehan BMN per usulan sampai dengan Rp 1.000.000.000,00
(satu miliar rupiah);dan
b. Selain tanah dan/atau bangunan dengan nilai perolehan BMN lebih dari
Rpl00.000.000,00 (seratus juta rupiah) per unit/satuan, dengan jurnlah
nilai perolehan BMN per usulan sampai dengan Rpl.000.000.000,00
(satu miliar rupiah),
setelah mendapat Izin Prinsip dari Sekretaris Jenderal atas nama Menteri
dan Rekomendasi Teknis dari Pimpinan Unit Organisasi terkait (Sekretaris
Jenderal/ Inspektur Jenderal/Direktur Jenderal/Kepala Badan).

Kewenangan penandatanganan Rekomendasi Teknis dapat didelegasikan


kepada Kepala Biro Umum/Sekretaris Unit Organisasi.

B. TUKAR MENUKAR
1. Usulan tukar menukar untuk BMN cliajukan oleh Sekretaris Jenderal
kepada Direktur Pengelolaan Kekayaan Negara dan Sistem Informasi,
Direktorat Jenderal Kekayaan Negara, Kementerian Keuangan untuk:
a. Tanah dan/atau bangunan serta BMN dengan nilai BMN yang dihitung
secara proporsional dari nilai perolehan BMN per usulan di atas
Rp.2.500.000.000,00 (dua miliar lima ratus juta rupiah) sampai dengan
Rp.5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah);dan
b. Selain tanah dan/ atau bangunan dengan nilai perolehan BMN per usulan
di atas Rp.2.500.000.000,00 (dua miliar lima ratus juta rupiah) sampai
dengan Rp.5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah),
setelah mendapat rekomendasi teknis dari Pimpinan Unit Organisasi
terkait (Sekretaris Jenderal/ Inspektur Jenderal/Direktur Jenderal/Kepala
Badan).
Kewenangan penandatanganan Rekomendasi Teknis dapat didelegasikan
kepada Kepala Biro Umum/Sekretaris Unit Organisasi.

2. Usulan tukar menukar untuk BMN cliajukan oleh Pimpinan Unit Organisasi
terkait (Sekretaris Jenderal/Inspektur Jenderal/Direktur Jenderal/Kepala
Badan) kepada Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Kekayaan
Negara, Kementerian Keuangan untuk:
a. Tanah dan/atau bangunan serta BMN dengan nilai BMN yang dihitung
secara proporsional dari nilai perolehan BMN per usulan di atas
Rp.1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah) sampai dengan
Rp.2.500.000.000,00 (dua miliar lima ratus juta rupiah);dan

l{
,,
b. Selain tanah dan/ atau bangunan dengan nilai perolehan BMN per usulan
di atas Rp.1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah) sampru dengan
Rp.2.500.000.000,00 (dua miliar lima ratus juta rupiah),
setelah mendapat Izin Prinsip dari Sekretaris Jenderal atas nama Menteri
berdasarkan Rekomendasi Teknis dari Pimpinan Unit Organisasi terkait
(Sekretaris Jenderal/ Inspektur Jenderal/Direktur Jenderal/Kepala
Badan).

Kewenangan penandatanganan Rekomendasi Teknis dapat didelegasikan


kepada Kepala Biro Umum/Sekretaris Unit Organisasi.

3. Usulan tukar menukar untuk BMN diajukan oleh Kepala Satuan Kerja
kepada Kepala Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang, Direktorat
Jenderal Kekayaan Negara, Kementerian Keuangan untuk:
a. Tanah dan/ atau bangunan serta BMN dengan nilai BMN yang dihitung
secara proporsional dari nilai perolehan BMN per usulan sampai dengan
Rp.1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah);dan
b. Selain tanah dan/ atau bangunan dengan nilai perolehan BMN per usulan
sampai dengan Rp.1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah),
setelah mendapat Izin Prinsip dari Sekretaris Jenderal atas nama Menteri
dan Rekomendasi Teknis dari Pimpinan Unit Organisasi terkait (Sekretaris
J enderal / Inspektur J enderal/ Direktur J enderal/ Kepala Badan).

Kewenangan penandatanganan Rekomendasi Teknis dapat didelegasikan


kepada Kepala Biro Umum/Sekretaris Unit Organisasi.

C. HIBAH
1. Persetujuan/penolakan atas usulan hibah BMN dilakukan oleh Sekretaris
Jenderal atas nama Menteri untuk:
a. BMN yang dari awal perolehan dimaksudkan untuk dihibahkan dalam
rangka kegiatan pemerintahan, kecuali terhadap BMN yang memerlukan
persetujuan Presiden/Dewan Perwakilan Rakyat, yang meliputi tetapi
tidak terbatas pada:
1) BMN yang dari awal pengadaannya direncanakan untuk dihibahkan,
yang dibeli atau diperoleh atas beban APBN;
2) BMN yang berasal dari Dana Dekonsentrasi dan Togas Pembantuan;
3) BMN yang diperoleh sebagai pelaksanaan dari perjanjian/kontrak;dan
4) BMN yang diperoleh sesuai ketentuan Peraturan Perundang-
undangan.
b . BMN selain tanah dan/ atau bangunan, yang tidak mempunyai dokumen
kepemilikan, dengan nilai perolehan sampai dengan Rp.100.000.000,00
(seratus juta rupiah) per unit/ satuan;
c. Bongkaran BMN karena perbaikan (renovasi, rehabilitasi, atau restorasi).

2. Usulan hibah untuk BMN dilakukan oleh Pimpinan Unit Organisasi terkait
(Sekretaris Jenderal/Inspektur Jenderal/Direktur Jenderal/Kepala Badan)
kepada Menteri dalam hal ini Sekretaris Jenderal untuk:
a. Selain tanah dan/ atau bangunan, yang tidak memiliki dokumen
kepemilikan, dengan nilai perolehan sampai dengan Rp.100.000.000 ,00
(seratus juta rupiah) per unit/satuan;dan
b. Bongkaran BMN karena perbaikan (renovasi, rehabilitasi, atau restorasi).

Kewenangan pengajuan usulan hibah BMN dapat didelegasikan kepada


Kepala Biro Umum/Sekretaris Unit Organisasi.
3. Usulan hibah untuk BMN diajukan oleh Sekretaris Jenderal kepada
Direktur Pengelolaan Kekayaan Negara dan Sistem Informasi, Direktorat
Jenderal Kekayaan Negara, Kementerian Keuangan untuk:
a. Tanah dan/ atau bangunan serta BMN yang memiliki dokumen
kepemilikan, dengan nilai BMN yang dihitung secara proporsional dari
nilai perolehan BMN per usulan di atas Rp.2.500.000.000,00 (dua miliar
lima ratus juta rupiah) sampai dengan Rp.5.000.000.000,00 (lima miliar
rupiah);dan
b. Selain tanah dan/ atau bangunan dengan nilai perolehan BMN lebih dari
Rp.100.000.000,00 (seratus juta rupiah) per unit/satuan, dengan
jumlah nilai perolehan BMN per usulan di atas Rp.2.500.000.000,00
(dua miliar lima ratus juta rupiah) sampai dengan Rp.5.000.000.000,00
(lima miliar rupiah),
setelah mendapat rekomendasi teknis dari Pimpinan Unit Organisasi
terkait (Sekretaris Jenderal/ lnspektur Jenderal/Direktur Jenderal/Kepala
Badan).
Kewenangan penandatanganan Rekomendasi Teknis dapat didelegasikan
kepada Kepala Biro Umum/Sekretaris Unit Organisasi.

4. Usulan hibah untuk BMN diajukan oleh Pimpinan Unit Organisasi terkait
(Sekretaris Jenderal/Inspektur Jenderal/Direktur Jenderal/Kepala Badan)
kepada Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Kekayaan Negara,
Kementerian Keuangan untuk:
a. Tanah dan/atau bangunan serta BMN yang memiliki dokumen
kepemilikan, dengan nilai BMN yang dihitung secara proporsional dari
nilai perolehan BMN per usulan di atas Rpl..000.000.000,00 (satu
miliar rupiah) sampai dengan Rp.2.500.000.000,00 (dua miliar lima
ratus juta rupiah);dan
b. Selain tanah dan/atau bangunan dengan nilai perolehan BMN lebih dari
Rp.100.000.000,00 (seratus juta rupiah) per unit/satuan, dengan
jumlah nilai perolehan BMN per usulan di atas Rp.1.000.000.000,00
(satu miliar rupiah) sampai dengan Rp.2.500.000.000,00 (dua miliar
lima ratus juta rupiah),
setelah mendapat Izin Prinsip dari Sekretaris Jenderal atas nama Menteri
berdasarkan Rekomendasi Teknis dari Pimpinan Unit Organisasi terkait
(Sekretaris Jenderal/ Inspektur Jenderal/Direktur Jenderal/Kepala
Badan).
Kewenangan penandatanganan Rekomendasi Teknis dapat didelegasikan
kepada Kepala Biro Umum/Sekretaris Unit Organisasi.

5. Usulan hibah untuk BMN diajukan oleh Kepala Satuan Kerja kepada Kepala
Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang, Direktorat Jenderal
Kekayaan Negara, Kementerian Keuangan untuk:
a. Tanah dan/ atau bangunan serta BMN yang memiliki dokumen
kepemilikan, dengan nilai BMN yang dihitung secara proporsional dari
nilai perolehan BMN per usulan sampai dengan Rp.1.000.000.000,00
(satu miliar rupiah);dan
b. Selain tanah dan/atau bangunan dengan nilai perolehan BMN lebih dari
Rp.100.000.000,00 (seratus juta rupiah) per unit/satuan, dengan
jumlah nilai perolehan BMN per usulan sampai dengan
Rp.1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah),
setelah mendapat Izin Prinsip dari Sekretaris Jenderal atas nama Menteri
dan Rekomendasi Teknis dari Pimpinan Unit Organisasi terkait (Sekretaris
Jenderal/ Inspektur Jenderal/Direktur Jenderal/Kepala Badan).
Kewenangan penandatanganan Rekomendasi Teknis dapat didelegasikan
kepada Kepala Biro Umum/Sekretaris Unit Organisasi.

MENTER! PEKERJAAN UMUM DAN


PERUMAHAN RAKYAT,

M. BASUKI HADIMULJONO
LAMPIRAN IV
KEPUTUSAN MENTER! PEKERJAAN
UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT
NOMOR 965/KPTS/M/2016
TENTANG
PELIMPAHAN KEWENANGAN DAN
TANGGUNG JAWAB DALAM
PENGELOLAAN BARANG MILIK NEGARA
PADA KEMENTERIAN PEKERJAAN
UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT

PEMUSNAHAN ATAU PENGHAPUSAN BARANG MILIK NEGARA

PEMUSNAHAN ATAU PENGHAPUSAN KARENA SEBAB-SEBAB NORMAL


1. Usulan pemusnahan atau penghapusan BMN karena sebab-sebab yang
secara normal dapat diperkirakan wajar menjadi penyebab penghapusan,
antara lain:
a. hilang, kecurian, terbakar, susut, menguap, mencair;
b. mati untuk hewan, ikan, dan tanaman;
c. harus dihapuskan untuk bangunan yang berdiri di atas tanah Pihak
lain atau Pemerintah Daerah karena tidak dapat dilakukan
Pemindahtanganan;
d. harus dihapuskan Aset Tetap Renovasi (ATR) atas aset milik Pihak Lain
karena tidak dapat dilakukan Pemindahtanganan;
e. harus dihapuskan untuk bangunan dalam kondisi rusak berat
dan/ atau membahayakan lingkungan sekitar;
f. harus dihapuskan untuk bangunan yang berdiri di atas tanah yang
menjadi objek pemanfaatan dalam bentuk Kerjasama Pemanfaatan,
Bangun Guna Serah/Bangun Serah Guna atau Kerjasama Penyediaan
Infrastruktur, setelah bangunan tersebut diperhitungkan sebagai
investasi pemerintah;
g. harus dihapuskan karena anggaran untuk bangunan pengganti sudah
disediakan dalam dokumen penganggaran;
h. sebagai akibat dari keadaan kahar (force majeure) ;atau
1. termasuk sebab-sebab lain yang secara normal dapat diperkirakan
menjadi penyebab Penghapusan untuk BMN berupa Aset Tak Berwujud
antara lain karena tidak sesuai dengan perkembangan teknologi, tidak
sesuai dengan kebutuhan organ1sas1, rusak berat, atau masa
manfaat/kegunaan telah berakhir.

2. Persetujuan/penolakan atas usulan Pemusnahan BMN dilakukan oleh


Sekretaris Jenderal atas nama Menteri dalam hal BMN tidak dapat
digunakan, tidak dapat dimanfaatkan, tidak dapat dipindahtangankan, atau
terdapat alasan lain sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang-
undangan, untuk BMN berupa:
a. Persediaan;
b. Aset Tetap Lainnya berupa hewan, ikan dan tanaman;
c. selain tanah dan/atau bangunan, yang tidak mempunyai dokumen
kepemilikan, dengan nilai perolehan sampai dengan Rp.100.000.000,00
(seratus juta rupiah) per unit/satuan;atau
d. bongkaran BMN karena perbaikan (renovasi, rehabilitasi, atau
restorasi).

3. Persetujuan/penolakan atas usulan Penghapusan BMN dilakukan oleh


Sekretaris Jenderal atas nama Menteri untuk penghapusan BMN sebagai
akibat dari sebab-sebab lain yang merupakan sebab-sebab secara normal
dapat diperkirakan wajar menjadi penyebab Penghapusan, seperti rusak
berat yang tidak bernilai ekonomis, hilang, susut, menguap, mencair,
kadaluwarsa, mati/ cacat berat/tidak produktif untuk tanaman/hewan, dan
sebagai akibat dari keadaan kahar (force majeure), terhadap BMN berupa:

r
a. Persediaan;
b. Aset Tetap Lainnya berupa hewan, ikan dan tanaman;atau
c. Selain tanah dan/ atau bangunan, yang tidak mempunyai dokumen
kepemilikan, dengan nilai perolehan sampai dengan Rpl00.000.000,00
(seratus juta rupiah) per unit/satuan.

4. Usulan pemusnahan atau penghapusan BMN yang diakibatkan oleh sebab-


sebab sebagaimana dimaksud dalam angka 1 (satu) diajukan oleh
Sekretaris Jenderal kepada Direktur Pengelolaan Kekayaan Negara dan
Sistem Informasi, Direktorat Jenderal Kekayaan Negara, Kementerian
Keuangan untuk:
a. Tanah dan/atau bangunan dengan nilai perolehan BMN per usulan di
atas Rpl0.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah) sampru dengan
Rp25.000.000.000,00 (dua puluh lima miliar rupiah);dan
b. Selain tanah dan / atau bangunan dengan nilai perolehan BMN per
usulan di atas Rp2.500.000.000,00 (dua miliar lima ratuas juta rupiah)
sampai dengan Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah),

setelah mendapat Rekomendasi Teknis dari Pimpinan Unit Organisasi


terkait (Sekretaris Jenderal/ lnspektur Jenderal/Direktur Jenderal/Kepala
Badan).

Kewenangan penandatanganan Rekomendasi Teknis dapat didelegasikan


kepada Kepala Biro Umum/Sekretaris Unit Organisasi.

5. Usulan pemusnahan atau penghapusan BMN yang diakibatkan oleh sebab-


sebab sebagaimana dimaksud dalam angka 1 (satu) diajukan oleh Pimpinan
Unit Organisasi terkait (Sekretaris Jenderal/Inspektur Jenderal/Direktur
Jenderal/Kepala Badan) kepada Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal
Kekayaan Negara, Kementerian Keuangan untuk:

a. Tanah/ atau bangunan dengan nilai perolehan BMN per usulan di atas
Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah) sampru dengan
Rpl0.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah);dan

b. Selain tanah dan/atau bangunan dengan nilai perolehan BMN per


usulan di atas Rpl.000.000.000,00 (satu miliar rupiah) sampai dengan
Rp2.500.000.000,00 (dua miliar lima ratus juta rupiah).

setelah mendapat Izin prinsip dari Sekretaris Jenderal atas nama Menteri
berdasarkan rekomendasi teknis dari Pimpinan Unit Organisasi terkait
(Sekretaris Jenderal/ Inspektur Jenderal/Direktur Jenderal/Kepala Badan).

Kewenangan penandatanganan Rekomendasi Teknis dapat didelegasikan


kepada Kepala Biro Umum/Sekretaris Unit Organisasi.

6. Usulan pemusnahan atau penghapusan BMN yang diakibatkan oleh sebab-


sebab sebagaimana dimaksud dalam angka 1 (satu) diajukan oleh Kepala
Satuan Kerja kepada Kepala Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan
Lelang, Direktorat Jenderal Kekayaan Negara, Kementerian Keuangan
untuk:

a. Tanah/ a tau bangunan dengan nilai perolehan BMN per usulan sampai
dengan Rp.5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah);dan

b. Selain tanah dan/ atau bangunan dengan nilai perolehan BMN lebih dari
Rp.100.000.000,00 (seratus juta rupiah) per unit/satuan, dengan
jumlah nilai perolehan BMN per usulan sampru dengan
Rpl.000.000.000,00 (satu miliar rupiah),
setelah mendapat Izin prinsip dari Sekretaris Jenderal atas nama Menteri
dan rekomendasi teknis dari Pimpinan Unit Organisasi terkait (Sekretaris
J enderal/ Inspektur J enderal/ Direktur J enderal/ Kepala Badan).

Kewenangan penandatanganan Rekomendasi Teknis dapat didelegasikan


kepada Kepala Biro Umurn/Sekretaris Unit Organisasi.

MENTER! PEKERJAAN UMUM DAN


PERUMAHAN RAKYAT,

M. BASUKI HADIMUWONO
LAMPIRAN V
KEPUTUSAN MENTER! PEKERJAAN
UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT
NOMOR 965/KPTS/M/2016
TENTANG
PELIMPAHAN KEWENANGAN DAN
TANGGUNG JAWAB DALAM
PENGELOLAAN BARANG MILIK NEGARA
PADA KEMENTERIAN PEKERJAAN
UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT

FORMAT DAN BENTUK KEPUTUSAN ATAU SURAT PERSETUJUAN


PENGELOLAAN BARANG MILIK NEGARA

A. Umum
1. Keputusan Menteri tentang pengelolaan BMN yang ditandatangani
Pimpinan Unit Organisasi (Sekretaris Jenderal/ Inspektur
Jenderal/Direktur Jenderal/Kepala Badan) atas nama Menteri
Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat menggunakan format sebagai
berikut:
a. ukuran kertas adalah F4 (21,59cm x 33,02cm);
b. huruf menggunakan Bookman Old Style ukuran 12;dan
c. menggunakan kop Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan
Rakyat.
2. Surat persetujuan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat
tentang pengelolaan BMN yang ditandatangani Sekretaris Jenderal atas
nama Menteri menggunakan format sebagai berikut:
a. ukuran kertas adalah A4 (21cm x 29,7cm);
b. huruf menggunakan Arial ukuran 11 atau 12;dan
c. menggunakan kop Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan
Rakyat.
B. Format Keputusan atau Surat Persetujuan atas nama Menteri mengenru.
pengelolaan BMN .
1. Penetapan Status Penggunaan BMN:
a. format Keputusan Menteri mengenai penetapan status Penggunaan
BMN adalah sebagaimana tercantum pada contoh 1.a;dan
b. format surat persetujuan Menteri mengenai Penggunaan Sementara
BMN adalah sebagaimana tercantum pada contoh 1.b
2. Persetujuan Penjualan BMN :
Format surat persetujuan Menteri mengenai Penjualan BMN adalah
se bagaimana tercan tum pada con toh 2.
3. Persetujuan Hibah BMN :
a. format surat persetujuan Menteri mengenai Hibah BMN berupa
tanah dan/atau bangunan adalah sebagaimana tercantum pada
contoh 3.a;dan
b. format surat persetujuan Menteri mengenai Hibah BMN selain
tanah dan atau bangunan adalah sebagaimana tercantum pada
contoh 3.b.
4. Persetujuan Pemusnahan BMN:
a. format surat persetujuan Menteri mengenai Pemusnahan BMN
berupa tanah dan/atau bangunan adalah sebagaimana tercantum
pada contoh 4.a;dan
b. format surat persetujuan Menteri mengenai Pemusnahan BMN
selain tan ah dan / a tau bangunan adalah se bagaimana tercan tum
pada contoh 4.b.
5. Persetujuan Penghapusan BMN:
a. format surat persetujuan Menteri mengenai Penghapusan BMN
berupa tanah dan/ atau bangunan karena sebab-sebab lain adalah
sebagaimana tercantum pada contoh 5.a;dan
b. format surat persetujuan Menteri mengenai Penghapusan BMN
selain tanah dan/atau bangunan karena sebab-sebab lain adalah
sebagaimana tercantum pada contoh 5.b.
6. Bentuk Lampiran :
a. format Lampiran keputusan Penetapan Status Penggunaan BMN
selain tanah dan/ a tau bangunan adalah sebagaimana tercantum
contoh 6.a;dan
b. format Lampiran Surat Persetujuan Pengelolaan BMN Selain Tanah
dan/atau Bangunan adalah sebagaimana tercantum contoh 6.b.

I
Contoh La
Format Keputusan Penetapan Status Penggunaan BMN

KEPUTUSAN MENTER! PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT (1)


NOMOR ..... (2)

TENTANG

PENETAPAN STATUS PENGGUNAAN BARANG MILIK NEGARA


PADA ..... (3)

MENTER! PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT (1),

Menimbang : a. bahwa penetapan status penggunaan Barang Milik Negara


dilakukan untuk kepentingan penyelenggaraan tugas dan
fungsi Pengguna Barang;
b. bahwa Pengguna Barang berwenang dan bertanggung
jawab menetapkan status penggunaan Barang Milik
Negara;
c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud
dalam huruf a dan huruf b, perlu menetapkan Keputusan
Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat tentang
Penetapan Status Penggunaan Barang Milik Negara pada
..... (3).

Mengingat 1. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2014 tentang


Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 92,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
5533);
2. Peraturan Presiden Nomor 15 Tahun 2015 tentang
Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (4);

3. Peraturan .....

11
3. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 246/PMK.06/2014
tentang Tata Cara Penggunaan BMN sebagaimana
telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan
Nomor 87 /PMK.06/2016 (5);
4. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 4/PMK.06/2015
tentang Pendelegasian Kewenangan dan Tanggung
Jawab Tertentu Dari Pengelola Barang Kepada
Pengguna Barang;
5. Keputusan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan
Rakyat Nomor 965/KPTS/M/2016 Tentang
Pelimpahan Kewenangan Dan Tanggung Jawab Dalam
Pengelolaan Barang Milik Negara Pada Kementerian
Pekerjaan Umum Dan Perumahan Rakyat.

Memperhatikan Surat. .... Nomor ..... Tanggal ..... hal ..... (6)

MEMUTUSKAN:

Menetapkan KEPUTUSAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN


PERUMAHAN RAKYAT TENTANG PENETAPAN STATUS
PENGGUNAAN BARANG MILIK NEGARA PADA ..... (3)

KESATU Menetapkan status penggunaan Barang Milik Negara berupa


..... (7) sebagai Barang Milik Negara pada . . . . . (3) sesuai
..... (8).
KEDUA Nilai Perolehan Barang Milik Negara sebagaimana dimaksud
dalam DIKTUM KESATU seluruhnya sebesar Rp ..... , 00 ( .
. . . . rupiah) (9).
KETIGA Barang Milik Negara sebagaimana dimaksud dalam DIKTUM
KESATU dicatat dalam Daftar Barang Kuasa Pengguna pada
Kuasa Pengguna Barang, Daftar Barang Pengguna pada
Pengguna Barang dan Daftar Barang Milik Negara pada
Pengelola Barang .
KEEMPAT (3) dapat melakukan pemanfaatan atau
pemindahtanganan kepada pihak lain setelah mendapat
persetujuan Pengguna Barang dan/ atau Pengelola Barang
sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang-undangan.
KELIMA Kuasa Pengguna Barang wajib melakukan monitoring dan
pengendalian atas optimalisasi penggunaan Barang Milik
Negara.
KEENAM Segala biaya pengamanan dan pemeliharaan Barang Milik
Negara yang digunakan oleh . . . . . (3) inehjadi tanggung
jawab ..... (3)
KETUJUH Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Dan Perumahan Rakyat
ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

Tembusan .....
Tembusan disampaikan kepada Yth:
1. Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (1);
2. Inspektur Jenderal Kementerian Pekerjaan Umum dan
Perumahan Rakyat (1);
3. Pimpinan Unit Organisasi yang bersangkutan;
4. Direktur Barang Milik Negara, Direktorat Jenderal
Kekayaan Negara, Kementerian Keuangan;
5. Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Kekayaan
Negara/Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang ..
. . . (10);
6. Kepala Biro Pengelolaan BMN dan Layanan
Pengadaan;dan
7. Kepala Satuan Kerja ybs.

Ditetapkan di ..... (11)


pada tanggal
a.n. Menteri (1)
Sekretaris Jenderal/Inspektur
J enderal/ Direktur J enderal/ Kepala
Badan,

(tanda tangan)
..... (12)
Petunjuk Pengisian :

(1) Nama Kementerian.


(2) Nomor Keputusan Menteri diisi menggunakan kode sesuai dengan
ketentuan tata persuratan dinas.
(3) Kuasa Pengguna Barang yang menguasai BMN tersebut, contoh : Biro
Pengelolaan BMN & LP, Sekretariat Jenderal.
(4) Peraturan Presiden yang mengatur mengenai Kedudukan, Togas, Dan
Fungsi Kementerian Negara Serta Susunan Organisasi, Tugas, Dan
Fungsi Eselon I Kernen terian Negara.
(5) Peraturan Menteri Keuangan yang mengatur mengenai Penetapan Status
Penggunaan BMN.
(6) Surat permohonan penetapan status Penggunaan BMN dari Kuasa
Pengguna Barang.
(7) Keterangan BMN yang dimohonkan penetapan status penggunaannya.
(8) Dokumen pendukung atas objek yang ditetapkan status penggunaannya
(BAST, BA Hibah, dll.). Dalam hal jenis BMN dan dokumen pendukung
tidak memungkinkan untuk ditulis dalam DIKTUM KESATU, maka jenis
dan dokumen pendukung dapat dicantumkan dalam Lampiran
Keputusan Menteri/Pimpinan Lembaga tersebut.
(9) Nilai BMN yang menjadi objek penetapan status Penggunaan sesuai
dengan nilai perolehan yang tercatat di dalam SIMAK/ dokumen
pengadaan/ dokumen perolehan lainnya yang sah.
(10) Tembusan disampaikan kepada Kepala Kanwil DJKN / Kepala KPKNL yang
wilayah kerjanya melingkupi lokasi Kuasa Pengguna Barang yang
mengajukan permohonan penetapan status Penggunaan.
(11) Lokasi tempat Kementerian.
(12) Jabatan dan nama lengkap Pimpinan Unit Organisasi yang berwenang
menandatangani Keputusan Menteri.
Contoh l.b
Format Surat Persetujuan Penggunaan Sementara BMN

KOP
(1)

Nomor ..... (3) . . . .. ' ..... (2)


Sifat ... . . (3)
Lampiran ... . . (.. . .. ) berkas (3)
Hal Persetujuan Penggunaan
Sementara
Barang Milik Negara pada .. ...
(4)
oleh ..... ( 5)

Yth . Sekretaris Jenderal/Inspektur Jenderal/


Direktur Jenderal/Kepala Badan .....

Sehubungan dengan surat Saudara Nomor ..... tanggal ..... hal ..... (6),
dengan ini c:liberitahukan bahwa permohonan Penggunaan Sementara Barang Milik
Negara pada . . . . . (4) berupa (7) oleh . . . . . (5) dengan jangka waktu . . . . . (8)
sebagaimana tercantum dalam lampiran surat ini, pada prinsipnya dapat c:lisetujui.
Guna tertib administrasi pengelolaan Barang Milik Negara, pelaksanaan
Penggunaan Sementara tersebut agar berpedoman pada Peraturan Pemerintah
Nomor 27 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah dan
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 246/PMK.06/2014 tentang Tata Cara
Penggunaan BMN sebagaimana telah c:liubah dengan Peraturan Menteri Keuangan
Nomor 87 /PMK.06/2016 (9), dengan ketentuan sebagai berikut:
1. Penggunaan Sementara Barang Milik Negara dilakukan dalam rangka
menunjang penyelenggaraan tugas dan fungsi ..... (5) dan tanpa imbalan.
2. Berdasarkan persetujuan Penggunaan Sementara ini, Kuasa Pengguna Barang
menindaklanjuti dengan membuat perjanjian yang c:lituangkan dalam Naskah
Perjanjian Penggunaan Sementara paling lama 1 (satu) bulan sejak tanggal
surat persetujuan ini c:literbitkan, yang sekurang-kurangnya memuat Barang
Milik Negara yang c:ligunakan, jangka waktu penggunaan, dan kewajiban
Pengguna Barang Sementara untuk melakukan pengamanan dan pemeliharaan
Barang Milik Negara yang digunakan sementara.
3. Kuasa Pengguna Barang menyampaikan laporan pelaksanaan Penggunaan
Sementara kepada Pengguna Barang cq. Sekretaris Jenderal dengan tembusan
kepada Pengelola Barang c.q. . . . . . (10) paling lama 1 (satu) bulan sejak
tanggal Berita Acara Serah Terima ditandatangani dengan melampirkan
Naskah Perjanjian Penggunaan Sementara dan Berita Acara Serah Terima.

4. Setelah .....
4. Setelah jangka waktu berakhir, Barang Milik Negara tersebut segera
diserahkan kembali kepada Pengguna Barang c.q .. . . . . (4) dan dituangkan
dalam Berita Acara Serah Terima, yang tembusannya disampaikan kepada
Pengelola Barang.
5. Apabila di kemudian hari terdapat kekeliruan dalam persetujuan ini maka
akan diadakan perbaikan sebagaimana mestinya.

Atas perhatian Saudara, kami ucapkan terima kasih.

a.n. Menteri Pekerjaan Umum dan


Perumahan Rakyat
Sekretaris Jenderal,

(tanda tangan)
NIP .... . (11)

Tembusan disampaikan kepada Yth:


1. Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (1) (sebagai laporan);
2. Menteri/Pimpinan Lembaga ..... (5);
3. lnspektur Jenderal Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat;
4. Direktur Barang Milik Negara, Direktorat Jenderal Kekayaan Negara;
5. Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Kekayaan Negara/Kantor Pelayanan
Negara dan Lelang . . .. . (12);
6. Kepala Biro Pengelolaan BMN dan Layanan Pengadaan;dan
7. Kepala Satuan Kerja ybs.
Petunjuk Pengisian:

(1) Nama Kementerian.


(2) Kota dan tanggal surat persetujuan Penggunaan Sementara BMN
diterbitkan.
(3) Nomor surat (diisi menggunakan kode instansi/unit yang menerbitkan
sesuai dengan ketentuan tata persuratan dinas di lingkungan Kementerian
Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat), sifat dan jumlah lampiran surat
persetujuan Penggunaan Sementara BMN.
(4) Kuasa Pengguna Barang pemilik BMN yang dimohonkan persetujuan
Penggunaan Sementara.
(5) Kementerian/Lembaga calon pengguna sementara BMN yang dimohonkan
Penggunaan Sementara.
(6) Nomor, tanggal dan hal surat permohonan Penggunaan Sementara BMN
dari Pimpinan Unit Organisasi yang membawahi Kuasa Pengguna Barang
terkait.
(7) BMN yang dimohonkan Penggunaan Sementara. Dalam hal BMN tersebut
berupa tanah dan/atau bangunan, maka dapat ditambahkan lokasi BMN
yang dimohonkan Penggunaan Sementara tersebut.
(8) Jangka waktu Penggunaan Sementara yang disetujui oleh Pengguna
Barang.
(9) Peraturan Menteri Keuangan yang mengatur mengenai Pelaksanaan
Penggunaan BMN.
(10) Kanwil DJKN/KPKNL yang wilayah kerjanya melingkupi lokasi Kuasa
Pengguna Barang yang mengajukan permohonan persetujuan Penggunaan
Sementara BMN.
(11) Jabatan, nama lengkap, dan NIP pejabat yang berwenang menandatangani
surat persetujuan Penggunaan Sementara BMN.
( 12) Tembusan disampaikan kepada Kepala Kanwil DJKN / Kepala KPKNL yang
wilayah kerjanya melingkupi lokasi Kuasa Pengguna Barang yang
mengajukan permohonan persetujuan Penggunaan Sementara.
Contoh 2
Format Surat Persetujuan Penjualan BMN Selain Tanah dan/atau Bangunan

Nomor . . . . . (3) . ... . ' . . .. . (2)


Sifat . . . . . (3)
Lampiran ..... (..... ) berkas (3)
Hal Persetujuan Penjualan Barang
Milik Negara selain Tanah
dan/ atau Bangunan pada . . . . .
(4)

Yth . Sekretaris Jenderal/Inspektur Jenderal/


Direktur Jenderal/Kepala Badan .....

Sehubungan dengan surat Saudara Nomor . . . . . tanggal . . . . . hal . . . . . (5),


dengan ini diberitahukan bahwa permohonan Penjualan Barang Milik Negara selain
Tanah dan/atau Bangunan pada . . . . . (4) dengan harga perolehan/nilai buku
sebesar Rp ..... ,00 (.. . .. rupiah)/ Rp ..... ,00 (..... rupiah) (6) sebagaimana
tercantum dalam lampiran surat ini, pada prinsipnya dapat disetujui dengan
ketentuan Penjualan dilaksanakan secara lelang.
Guna tertib administrasi pengelolaan Barang Milik Negara, pelaksanaan
Penjualan tersebut agar berpedoman pada Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun
2014 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah dan Peraturan Menteri
Keuangan Nomor 111/PMK.06/2016 tentang Tata Cara Pelaksanaan
Pemindahtanganan Barang Milik Negara (7), dengan ketentuan sebagai berikut:
1. Penjualan Barang Milik Negara tidak mengganggu tugas operasional kantor
Satuan Kerja terkait dan persetujuan Penjualan ini tidak merupakan jaminan
disediakannya dana anggaran untuk pengadaan Barang Milik Negara yang baru
sebagai pengganti Barang Milik Negara yang dijual.
2. Persetujuan ini segera ditindaklanjuti dengan Penjualan Barang Milik Negara
secara lelang.
3 . Pengajuan permohonan atas pelaksanaan lelang secara lengkap paling lama 2
(dua) bulan sejak tanggal surat persetujuan ini diterbitkan.
4. Penjualan secara lelang atas Barang Milik Negara agar dilakukan melalui Kantor
Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) dengan nilai limit sebesar Rp ...
. . ,00 ( . .. .. rupiah) (8) berdasarkan penilaian .. . . . (9) sesuai .. . . . (10) dan
hasil Penjualan seluruhnya disetorkan ke rekening Kas Umum Negara.

5. Pelaksanaan .....

t
5. Pelaksanaan Penjualan secara lelang dituangkan dalam Berita Acara Serah
Terima paling lama 1 (satu) bulan setelah tanggal pelaksanaan lelang.
6. Keputusan Penghapusan Barang Milik Negara ditetapkan oleh Kuasa Pengguna
Barang paling lama 2 (dua) bulan sejak tanggal Berita Acara Serah Terima
ditandatangani.
7. Kuasa Pengguna Barang menyampaikan laporan pelaksanaan Penjualan secara
lelang dan pelaksanaan Penghapusan barang kepada Menteri cq.Sekretaris
Jenderal . . . . . . (11) paling lama 1 (satu) bulan sejak Keputusan Penghapusan
BMN ditandatangani dengan melampirkan Risalah Lelang , Berita Acara Serah
Terima, Keputusan Penghapusan yang ditetapkan oleh Kuasa Pengguna Barang
dan bukti setor ke Rekening Kas Umum Negara.
8. Kebenaran materiil atas jenis, jumlah, tahun dan nilai Barang Milik Negara yang
dijual terse but menjadi tanggung jawab Kuasa Pengguna Barang.
9. Apabila dikemudian hari terdapat kekeliruan dalam persetujuan ini , maka akan
diadakan perbaikan sebagaimana mestinya.

Atas perhatian Saudara, kami ucapkan terima kasih.

a.n. Menteri Pekerjaan Umum dan


Perumahan Rakyat
Sekretaris J enderal

(tanda tangan)
NIP ..... (12)

Tembusan disampaikan kepada Yth:


1. Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (1) (sebagai laporan);
2. lnspektur Jenderal Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (l);
3. Direktur Barang Milik Negara, Direktorat Jenderal Kekayaan Negara;
4. Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Kekayaan Negara/Kantor Pelayanan
Negara dan Lelang .... . (13);
5. Kepala Biro Pengelolaan BMN dan Layanan Pengadaan;dan
6. Kepala Satuan Kerja ybs.

t
Petunjuk Pengisian:

(1) Nama Kementerian/Lembaga.


(2) Kota dan tanggal surat persetujuan Penjualan BMN diterbitkan.
(3) Nomor surat (diisi menggunakan kode sesuai dengan ketentuan tata
persuratan dinas, sifat dan jumlah lampiran surat persetujuan Penjualan
BMN.
(4) Pimpinan Unit Organisasi yang membawahi Kuasa Pengguna Barang yang
mengajukan permohonan Penjualan BMN.
(5) Nomor, tanggal dan hal surat permohonan Penjualan BMN dari Kuasa
Pengguna Barang.
(6) Nilai BMN yang dimohonkan untuk dijual, berupa nilai perolehan dan nilai
buku.
(7) Peraturan Menteri Keuangan yang mengatur mengenai Pemindahtanganan
BMN, contoh: Peraturan Menteri Keuangan Nomor 111/PMK.06/2016
tentang Tata Cara Pelaksanaan Pemindahtanganan Barang Milik Negara.
(8) Nilai limit Penjualan BMN berdasarkan hasil penilaian tim/panitia
Penghapusan/penilai yang berkompeten.
(9) Tim/Panitia Penghapusan/Penilai yang berkompeten yang ditugaskan
untuk melakukan penilaian BMN yang akan dihapuskan.
(10) Nomor laporan taksiran nilai yang dijadikan dasar penetapan nilai limit
Penjualan.
(11) Kanwil DJKN/KPKNL yang wilayah kerjanya melingkupi lokasi Kuasa
Pengguna Barang yang mengajukan permohonan persetujuan Penjualan
BMN.
(12) Jabatan, nama lengkap, dan NIP Sekretaris Jenderal.
(13) Tembusan disampaikan kepada Kepala Kanwil DJKN/Kepala KPKNL yang
wilayah kerjanya melingkupi lokasi Kuasa Pengguna Barang yang
mengajukan permohonan persetujuan Penjualan.
Contoh 3.a
Format Surat Persetujuan Menteri ten tang Hibah BMN berupa tanah dan/ atau
bangunan

KOP
(1)

Nomor . . . . . (3) ..... , . . . . . (2)


Sifat . . . . . (3)
Lampiran ..... (..... ) berkas (3)
Hal Persetujuan Hibah Barang Milik
Negara berupa Tanah dan/atau
Bangunan yang dari awal
perolehan dimaksudkan untuk
dihibahkan dalam rangka
kegiatan pemerintahan pada
.. (4)

Kepada Yth.
Sekretaris Jenderal/Inspektur Jenderal/
Direktur Jenderal/Kepala Badan .....
di ....

Sehubungan dengan surat Saudara Nomor . . . . . tanggal . . . . . hal . . . . . (5),


dengan ini diberitahukan bahwa permohonan Hibah Barang Milik Negara berupa
Tanah dan/atau Bangunan pada . . . . . (4) yang terletak di . . . . . (6) berupa . . . . .
unit tanah dan/atau bangunan terdiri dari tanah dan/atau bangunan ..... , seluas .
. . . . m 2 dan nilai perolehan seluruhnya sebesar Rp . . . . . ,00 (. . . . . rupiah)(7)
kepada ..... (8) sebagaimana tercantum dalam lampiran surat ini untuk digunakan
..... (9), pada prinsipnya dapat disetujui.
Guna tertib administrasi pengelolaan Barang Milik Negara, pelaksanaan
Penjualan tersebut agar berpedoman pada Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun
2014 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah dan Peraturan Menteri
Keuangan Nomor . . . . . /PMK.06/20 . . . . (10), . . . . . (11), dengan ketentuan
sebagai berikut:
1. Berdasarkan persetujuan Hibah ini, agar Saudara menetapkan keputusan
mengenai jenis, jumlah dan nilai Barang Milik Negara yang akan dihibahkan.
2. Persetujuan Hibah ini segera ditindaklanjuti dengan pelaksanaan Hibah Barang
Milik Negara yang dituangkan dalam Naskah Hibah dan Berita Acara Serah
Terima antara ..... (4) dan ..... (8) selaku calon penerima Hibah paling lama 2
(dua) bulan sejak tanggal surat persetujuan Hibah ini diterbitkan.
3. Keputusan Penghapusan Barang Milik Negara ditetapkan oleh Kuasa Pengguna
Barang paling lama 2 (dua) bulan sejak tanggal Berita Acara Serah Terima
ditandatangani.
4. Barang...
4. Barang Milik Negara yang telah dihibahkan agar segera dihapus dari Daftar
Barang Pengguna/Kuasa Pengguna Barang dan Penghapusan dimaksud
didasarkan pada Keputusan Penghapusan yang ditetapkan oleh Kuasa Pengguna
Barang.
5. Kuasa Pengguna Barang menyampaikan laporan pelaksanaan Hibah kepada
Pengelola Barang c.q. . . . . . (12) paling lama 1 (satu) bulan sejak Keputusan
Penghapusan BMN ditandatangani dengan melampirkan Naskah Hibah, Serita
Acara Serah Terima dan Keputusan Penghapusan.
6. Kebenaran materiil atas jenis, jumlah , tahun dan nilai Barang Milik Negara yang
dihibahkan serta calon penerima Hibah tersebut menjadi tanggung jawab Kuasa
Pengguna Barang.
7. Apabila di kemudian hari terdapat kekeliruan dalam surat persetujuan ini , maka
akan dilakukan perbaikan sebagaimana mestinya.

Atas perhatian Saudara, kami ucapkan terima kasih.

a.n. Menteri Pekerjaan Umum dan


Perumahan Rakyat ( 1)
Sekretaris Jenderal

(tanda tangan)
NIP ..... (13)

Tembusan disampaikan kepada Yth:


1. Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (sebagai laporan);
2. lnspektur Jenderal;
3. Direktur Barang Milik Negara, Direktorat Jenderal Kekayaan Negara;
4. Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Kekayaan Negara/Kantor Pelayanan
Negara dan Lelang ..... ;
5. Kepala Biro Pengelolaan BMN dan Layanan Pengadaan;dan
6. Kepala Satuan Kerja ybs.

t
Petunjuk Pengisian:
(1) Nama Kementerian.
(2) Kota dan tanggal surat persetujuan Hibah BMN diterbitkan.
(3) Nomor surat (diisi menggunakan kode sesuai dengan ketentuan tata
persuratan dinas), sifat dan jumlah lampiran surat persetujuan Hibah
BMN.
(4) Kuasa Pengguna Barang yang menguasai BMN.
(5) Nomor, tanggal dan hal surat permohonan Hibah BMN dari Kuasa
Pengguna Barang.
(6) Lokasi BMN.
(7) Nilai BMN yang dimohonkan untuk dihibahkan.
(8) Pihak calon penerima Hibah yang disetujui oleh Pengguna Barang.
(9) Tujuan Penggunaan BMN yang dimohonkan untuk dihibahkan kepada
calon penerima Hibah.
(10) Peraturan Menteri Keuangan yang mengatur mengenai Pemindahtanganan
BMN, contoh: Peraturan Menteri Keuangan Nomor 111/PMK.06/2016
tentang Tata Cara Pelaksanaan Pemindahtanganan Barang Milik Negara.
(11) Dasar hukum lain yang perlu dicantumkan sesuai dengan jenis BMN yang
dimohonkan untuk dihibahkan.
(12) Kanwil DJKN/KPKNL yang wilayah kerjanya melingkupi lokasi Kuasa
Pengguna Barang yang mengajukan permohonan persetujuan Hibah.
(13) Jabatan, nama lengkap, dan NIP Sekretaris Jenderal .
(14) Tembusan disampaikan kepada Kepala Kanwil DJKN/Kepala KPKNL yang
wilayah kerjanya melingkupi lokasi Kuasa Pengguna Barang yang
mengajukan permohonan persetujuan Hibah.

i
Contoh 3.b
Format Surat Persetujuan Hi bah BMN selain tanah dan/ atau bangunan pada
Pengguna Barang

KOP
(1)

Nomor . . . . . (3) . . . . . ' . . . . . (2)


Sifat . . . . . (3)
Lampiran ..... (..... ) berkas (3)
Hal Persetujuan Hibah Barang Milik
Negara selain Tanah dan/ atau
Bangunan pada ..... (4)

Kepada Yth:
Sekretaris Jenderal/Inspektur Jenderal/
Direktur Jenderal/Kepala Badan .....
di .....

Sehubungan dengan surat Saudara Nomor ..... tanggal ..... hal ..... (5),
dengan ini diberitahukan bahwa permohonan Hibah Barang Milik Negara berupa ..
. . . (6) dengan nilai perolehan seluruhnya sebesar Rp . . . . . ,00 (. . . . . rupiah) (7)
kepada . . . . . (8) sebagaimana tercantum dalam lampiran surat ini untuk
digunakan ..... (9), pada prinsipnya dapat disetujui.
Guna tertib administrasi pengelolaan Barang Milik Negara, pelaksanaan
Penjualan tersebut agar berpedoman pada Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun
2014 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah dan Peraturan Menteri
Keuangan Nomor . . . . . /PMK.06/20 . . . . (10), . . . . . (11), dengan ketentuan
sebagai berikut:
1. Berdasarkan persetujuan Hibah ini, agar Saudara menetapkan keputusan
mengenai jenis, jumlah dan nilai Barang Milik Negara yang akan dihibahkan.
2. Persetujuan Hibah ini segera ditindaklanjuti dengan pelaksanaan Hibah
Barang Milik Negara yang dituangkan dalam Naskah Hibah dan Berita Acara
Serah Terima antara . . . . . (4) dan . . . . . (8) selaku calon penerima Hibah
paling lama 2 (dua) bulan sejak tanggal surat persetujuan Hibah ini
diterbitkan.
3. Keputusan Penghapusan Barang Milik Negara ditetapkan oleh Kuasa Pengguna
Barang paling lama 2 (dua) bulan sejak tanggal Berita Acara Serah Terima
ditandatangani.
4. Barang Milik Negara yang telah dihibahkan agar segera dihapus dari Daftar
Barang Pengguna/Kuasa Pengguna Barang dan Penghapusan dimaksud
didasarkan pada Keputusan Penghapusan yang ditetapkan oleh Kuasa
Pengguna Barang.
5. Kuasa .....

t
5. Kuasa Pengguna Barang menyampaikan laporan pelaksanaan Hibah kepada
Pengelola Barang c.q. . . . . . (12) paling lama 1 (satu) bulan sejak Keputusan
Penghapusan BMN ditandatangani dengan melampirkan Naskah Hibah, Berita
Acara Serah Terima dan Keputusan Penghapusan.
6 . Kebenaran materiil atas jenis, jumlah , tahun dan nilai Barang Milik Negara
yang dihibahkan serta calon penerima Hibah tersebut menjadi tanggung jawab
Kuasa Pengguna Barang.
7. Apabila dikemudian hari terdapat kekeliruan dalam surat persetujuan ini ,
maka akan dilakukan perbaikan sebagaimana mestinya.

Atas perhatian Saudara, kami ucapkan terima kasih.

a .n . Menteri . .. . . (1)
Sekretaris J enderal

(tanda tangan)
NIP ..... (13)

Tembusan disampaikan kepada Yth:


1. Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (sebagai laporan);
2. Pihak Penerima Hibah . .... (8);
3. lnspektur Jenderal ..... (l);
4. Direktur Barang Milik Negara, Direktorat Jenderal Kekayaan Negara;
5. Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Kekayaan Negara/Kantor Pelayanan
Negara dan Lelang ..... (14);
6. Kepala Biro Pengelolaan BMN dan Layanan Pengadaan;dan
7. Kepala Satuan Kerja ybs.
Petunjuk Pengisian:
(1) Nama Kementerian.
(2) Kota dan tanggal surat persetujuan Hibah BMN diterbitkan.
(3) Nomor surat (diisi menggunakan kode sesuai dengan ketentuan tata
persuratan dinas), sifat dan jumlah lampiran surat persetujuan Hibah
BMN.
(4) Kuasa Pengguna Barang yang mengajukan permohonan Hibah BMN.
(5) Nomor, tanggal dan hal surat permohonan Hibah BMN dari Pimpinan Unit
Organisasi yang membawahi Kuasa Pengguna Barang terkait.
(6) BMN yang dimohonkan untuk dihibahkan.
(7) Nilai BMN yang dimohonkan untuk dihibahkan, berupa nilai buku dan
nilai perolehan.
(8) Pihak calon penerima Hibah yang disetujui oleh Pengguna Barang.
(9) Tujuan Penggunaan BMN yang dimohonkan untuk dihibahkan kepada
calon penerima Hibah.
( 10) Peraturan Menteri Keuangan yang mengatur mengenai Pemindahtanganan
BMN, contoh : Peraturan Menteri Keuangan Nomor 111/PMK.06/2016
tentang Tata Cara Pelaksanaan Pemindahtanganan Barang Milik Negara.
( 11) Dasar hukum lain yang perlu dicantumkan sesuai dengan jenis BMN yang
dimohonkan untuk dihibahkan.
(12) Kanwil DJKN/KPKNL yang wilayah kerjanya melingkupi lokasi Kuasa
Pengguna Barang yang mengajukan permohonan persetujuan Hibah.
(13) Jabatan, nama lengkap, dan NIP Sekretaris Jenderal.
(14) Tembusan disampaikan kepada Kepala Kanwil DJKN/Kepala KPKNL yang
wilayah kerjanya melingkupi lokasi Kuasa Pengguna Barang yang
mengajukan permohonan persetujuan Hibah.
Conteh 4.a
Format surat persetujuan Menteri mengenru Pemusnahan BMN berupa tanah
dan/ atau bangunan

KOP
(1)

Nomor . . . . . (3) . . . . . ' . . . . . (2)


Sifat . . . . . (3)
Lampiran .... . (.. .. . ) berkas (3)
Hal Persetujuan Pemusnahan
Barang Milik Negara Serupa
Tanah dan/ atau Sangunan yang
termasuk dalam Persediaan
pada .. ... (4)

Kepada Yth:
Sekretaris Jenderal/Inspektur Jenderal/
Direktur Jenderal/Kepala Sadan .....
di . ....

Sehubungan dengan surat Saudara Nomor .. ... tanggal ..... hal ..... (5),
dengan ini diberitahukan bahwa permohonan Pemusnahan Sarang Mi~ Negara
pada . . . . . (4) yang terletak di . . . . . (6) berupa . . . . . (6) seluas . . ... m2 dan
nilai perolehan seluruhnya sebesar Rp . ... . ,00 (... . . rupiah) (7) sebagaimana
tercantum dalam lampiran surat ini, pada prinsipnya dapat disetujui.
Guna tertib administrasi pengelolaan Sarang Milik Negara, pelaksanaan
Penjualan tersebut agar berpedoman pada Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun
2014 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah dan Peraturan Menteri
Keuangan Nomor ..... /PMK.06/20 .... (8), dengan ketentuan sebagai berikut:
1. Pemusnahan Sarang Milik Negara tidak mengganggu tugas operasional Satuan
Kerja terkait.
2 . Pelaksanaan pemusnahan Sarang Mi~ Negara dilaksanakan paling lama 1
(satu) bulan sejak tanggal diterbitkannya surat persetujuan ini.
3 . Pemusnahan agar dilakukan berdasarkan Surat Perintah dari Kuasa Pengguna
Sarang dan dituangkan dalam Serita Acara Pemusnahan Sarang Milik Negara.
4. Persetujuan ini segera ditindaklanjuti dengan Penghapusan Sarang Milik
Negara dari Daftar Sarang Kuasa Pengguna berdasarkan Keputusan
Penghapusan yang ditetapkan oleh Kepala Satuan Kerja paling lama 2 (dua)
bulan sejak tanggal Serita Acara Pemusnahan Sarang Milik Negara
ditandatangani.
5. Kuasa Pengguna .... .
5 . Kuasa Pengguna Barang menyampaikan laporan pelaksanaan Pemusnahan
kepada Pengelola Barang c.q. . . . . . (9) paling lama 1 (satu) bulan sejak
Keputusan Penghapusan BMN ditandatangani dengan melampirkan Keputusan
Penghapusan dan Berita Acara Pemusnahan.
6. Kebenaran materiil atas jenis, jumlah , tahun dan nilai Barang Milik Negara
yang dimusnahkan terse but menjadi tanggung jawab Kuasa Pengguna Barang.
7. Apabila dikemudian hari terdapat kekeliruan dalam surat persetujuan ini ,
maka akan dilakukan perbaikan sebagaimana mestinya.

Atas perhatian Saudara, kami ucapkan terima kasih.

a.n . Menteri ..... (1)


Sekretaris Jenderal

(tanda tangan)
NIP ..... (10)

Tembusan disampaikan kepada Yth:


1. Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (sebagai laporan);
2. lnspektur Jenderal ..... (1);
3. Direktur Barang Milik Negara, Direktorat Jenderal Kekayaan Negara;
4. Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Kekayaan Negara/Kantor Pelayanan
Negara dan Lelang ... .. ;
5. Kepala Biro Pengelolaan BMN dan Layanan Pengadaan;dan
6. Kepala Satuan Kerja ybs .

t
Petunjuk Pengisian:
(1) Nama Kementerian.
(2) Kota dan tanggal penerbitan surat persetujuan Pemusnahan BMN
diterbitkan.
(3) Nomor surat (diisi menggunakan kode sesuai dengan ketentuan tata
persuratan dinas), sifat dan jumlah lampiran surat per setujuan
pemusnahan BMN.
(4) Kuasa Pengguna Barang yang mengajukan permohonan Pemusnahan
BMN.
(5) Nomor, tanggal dan hal surat pengajuan permohonan Pemusnahan BMN
dari Kuasa Pengguna Barang.
(6) Data BMN yang dimohonkan untuk dimusnahkan berupa jenis dan lokasi
BMN berada.
(7) Nilai BMN yang akan dimohonkan untuk dimusnahkan.
(8) Peraturan Menteri Keuangan yang mengatur mengenai Penghapusan BMN,
contoh: Peraturan Menteri Keuangan Nomor 83/PMK.06/2016 tentang
Tata Cara Pelaksanaan Pemusnahan dan Penghapusan Barang Milik
Negara.
(9) Kanwil DJKN / KPKNL yang wilayah kerjanya melingkupi lokasi Kuasa
Pengguna Barang yang mengajukan permohonan persetujuan Pemusnahan
BMN.
(10) Jabatan, nama lengkap, dan NIP Sekretaris Jenderal.

-I
l
Contoh 4.b
Format surat persetujuan Menteri mengenai Pemusnahan BMN selain tanah
dan/ atau bangunan

KOP
(1)

Nomor . . . . . (3) . . . . . ' . . . . . (2)


Sifat . . . . . (3)
Lampiran ..... (..... ) berkas (3)
Hal Persetujuan Pemusnahan
Barang Milik Negara pada .....
(4)

Kepada Yth:
Sekretaris J enderal/ Inspektur J enderal /
Direktur Jenderal/Kepala Badan .....
di .....

Sehubungan dengan surat Saudara Nomor . .... tanggal ..... hal ..... (5),
dengan ini diberitahukan bahwa permohonan Pemusnahan Barang Milik Negara
berupa ..... (6) dengan nilai sebesar Rp ..... ,00 (..... rupiah) (7) sebagaimana
tercantum dalam lampiran surat ini, pada prinsipnya dapat disetujui.
Guna tertib administrasi pengelolaan Barang Milik Negara, pelaksanaan
Penjualan tersebut agar berpedoman pada Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun
2014 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah dan Peraturan Menteri
Keuangan Nomor ..... /PMK.06/20 .... (8), dengan ketentuan sebagai berikut:
1. Pemusnahan Barang Milik Negara tidak mengganggu tugas operasional kantor
Satuan Kerja terkait.
2. Pelaksanaan pemusnahan Barang Milik Negara dilaksanakan paling lama 1
(satu) bulan sejak tanggal diterbitkannya surat persetujuan ini.
3. Pemusnahan agar dilakukan berdasarkan Surat Perintah dari Kuasa Pengguna
Barang dan dituangkan dalam Berita Acara Pemusnahan Barang Milik Negara.
4. Persetujuan ini segera ditindaklanjuti dengan Penghapusan Barang Milik
Negara dari Daftar Barang Kuasa Pengguna berdasarkan Keputusan
Penghapusan yang ditetapkan Kepala Satuan Kerja paling lama 2 (dua) bulan
sejak tanggal Berita Acara Pemusnahan Barang Milik Negara ditandatangani.
5. Kuasa Pengguna Barang menyampaikan laporan pelaksanaan Pemusnahan
kepada Pengelola Barang c.q. . . . . . (9) paling lama 1 (satu) bulan sejak
Keputusan Penghapusan BMN ditandatangani dengan melampirkan Keputusan
Penghapusan dan Berita Acara Pemusnahan.
6. Kebenaran .....
6. Kebenaran materiil atas jenis , jumlah , tahun dan nilai Barang Milik Negara
yang dimusnahkan terse but menjadi tanggung jawab Kuasa Pengguna Barang.
7. Apabila di kemudian hari terdapat kekeliruan dalam surat persetujuan m1 ,
maka akan dilakukan perbaikan sebagaimana mestinya.
Atas perhatian Saudara, kami ucapkan terima kasih.

a.n . Menteri . . ... (1)


Sekretaris Jenderal

(tanda tangan)
NIP ..... (10)

Tembusan disampaikan kepada Yth:


1. Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (sebagai laporan);
2. lnspektur Jenderal ... .. (1);
3. Direktur Barang Milik Negara, Direktorat Jenderal Kekayaan Negara;
4. Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Kekayaan Negara/Kantor Pelayanan
Negara dan Lelang .. . . . ;
5. Kepala Biro Pengelolaan BMN dan Layanan Pengadaan;dan
6. Kepala Satuan Kerja ybs.
Petunjuk Pengisian:
( 1) Nama Kernen terian.
(2) Kota dan tanggal penerbitan surat persetujuan pemusnahan BMN
diterbitkan.
(3) Nomor surat (diisi menggunakan kode sesuai dengan ketentuan tata
persuratan dinas), sifat dan jumlah lampiran surat persetujuan
pemusnahan BMN.
(4) Kuasa Pengguna Barang yang mengajukan permohonan pemusnahan
BMN.
(5) Nomor, tanggal dan hal surat pengajuan permohonan pemusnahan BMN
dari Pimpinan Unit Organisasi yang membawahi Kuasa Pengguna Barang.
(6) BMN yang akan dimohonkan untuk dimusnahkan. Dalam hal tidak
memungkinkan mencantumkan data BMN di dalam surat persetujuan,
seperti BMN tersebut beraneka ragam dan berjumlah banyak, cukup
disebutkan kelompok BMN tersebut dalam surat persetujuan (contoh :
peralatan kantor) dan rincian data BMN tersebut dicantumkan dalam
lampiran surat.
(7) Nilai BMN yang dimohonkan untuk dimusnahkan.
(8) Peraturan Menteri Keuangan yang mengatur mengenai Penghapusan BMN,
contoh : Peraturan Menteri Keuangan Nomor 83/PMK.06/2016 tentang
Tata Cara Pelaksanaan Pemusnahan dan Penghapusan Barang Milik
Negara.
(9) Kanwil DJKN/KPKNL yang wilayah kerjanya melingkupi lokasi Kuasa
Pengguna Barang yang mengajukan permohonan persetujuan Pemusnahan
BMN.
(10) Jabatan, nama lengkap, dan NIP Sekretaris Jenderal.
Contoh 5.a
Format surat persetujuan Menteri mengenai Penghapusan BMN berupa Tanah
dan/ atau Bangunan karena sebab-sebab lain

KOP
(1)

Nomor . ... . (3) .... . ' . . .. . (2)


Sifat ..... (3)
Lampiran ..... (..... ) berkas (3)
Hal Persetujuan Penghapusan
Barang Milik Negara berupa
Tanah dan/ atau Bangunan
(yang berupa persediaan) pada ..
. . . (4)

Kepada Yth:
Sekretaris Jenderal/Inspektur Jenderal/
Direktur Jenderal/Kepala Badan .. ...
di . .. ..

Sehubungan dengan surat Saudara Nomor . . ... tanggal ..... hal .... . (5),
dengan ini diberitahukan bahwa permohonan Penghapusan Barang Milik Negara
pada ..... (4) yang terletak di .. .. . (6) berupa tanah dan/atau bangunan terdiri
dari ..... (6) seluas ..... m 2 dan nilai perolehan seluruhnya sebesar Rp ..... ,00
(. . . . . rupiah) (7) karena . .. . . (8) sebagaimana tercantum dalam lampiran surat
ini, pada prinsipnya dapat disetujui.
Guna tertib administrasi pengelolaan Barang Milik Negara, pelaksanaan
penghapusan tersebut agar berpedoman pada Peraturan Pemerintah Nomor 27
Tahun 2014 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah dan Peraturan
Menteri Keuangan Nomor . . ... /PMK.06/20 . . .. (9), dengan ketentuan sebagai
berikut:
1. Persetujuan ini segera ditindaklanjuti dengan Penghapusan Barang Milik
Negara dari Daftar Barang Kuasa Pengguna berdasarkan Keputusan
Penghapusan yang ditetapkan oleh Kuasa Pengguna Barang paling lama 2
(dua) bulan sejak tanggal surat persetujuan ini diterbitkan.
2. Kuasa Pengguna Barang menyampaikan laporan pelaksanaan Penghapusan
kepada Pengelola Barang c.q . . . . . (10) paling lama 1 (satu) bulan sejak
tanggal Keputusan Penghapusan BMN ditandatangani dengan melampirkan
Keputusan Penghapusan.
3. Apabila di kemudian hari ditemukan bukti bahwa Penghapusan Barang Milik
Negara dimaksud diakibatkan adanya unsur kelalaian dan/ atau kesengajaan
dari pihak pengurus dan/ atau penanggung jawab BMN terse but, maka tidak
menutup kemungkinan kepada yang bersangkutan akan dikenakan sanksi
Tuntutan Gan ti Rugi (TGR) dan/ atau pidana sesuai ketentuan yang berlaku .
4 . Apabila ...

_j
4
4. Apabila di kemudian hari terdapat kekeliruan dalam surat persetujuan ini ,
maka akan dilakukan perbaikan sebagaimana mestinya.
Atas perhatian Saudara, kami ucapkan terima kasih.

a.n. Menteri . . . . . (1)


Sekretaris Jenderal

(tanda tangan)
NIP ..... (11)

Tembusan disampaikan kepada Yth:


1. Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (sebagai laporan);
2. lnspektur J enderal ..... (1);
3. Direktur Barang Milik Negara, Direktorat Jenderal Kekayaan Negara;
4. Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Kekayaan Negara/Kantor Pelayanan
Negara dan Lelang ..... ;
5. Kepala Biro Pengelolaan BMN dan Layanan Pengadaan;dan
6. Kepala Satuan Kerja ybs.

t
-
Petunjuk Pengisian:
(1) Nama Kementerian.
(2) Kota dan tanggal penerbitan surat persetujuan Penghapusan BMN karena
sebab-sebab lain diterbitkan.
(3) Nomor surat (diisi menggunakan sesuai dengan ketentuan tata persuratan
dinas), sifat dan jumlah lampiran surat persetujuan Penghapusan BMN
karena sebab-sebab lain.
(4) Kuasa Pengguna Barang yang mengajukan permohonan Penghapusan
BMN karena sebab-sebab lain.
(5) Nomor, tanggal dan hal surat pengajuan permohonan Penghapusan BMN
karena sebab-sebab lain dari Pimpinan Unit Organisasi yang membawahi
Satuan Kerja terkait.
(6) Data BMN yang dimohonkan untuk dihapuskan berupa jenis dan lokasi
BMN berada. Dalam hal tidak memungkinkan mencantumkan data BMN di
dalam surat persetujuan, seperti BMN tersebut beraneka ragam dan
berjumlah banyak, maka cukup disebutkan kelompok BMN tersebut dalam
surat persetujuan dan rincian data BMN tersebut dicantumkan dalam
lampiran surat.
(7) Nilai BMN yang akan dimohonkan untuk dihapuskan.
(8) Penyebab terjadinya Penghapusan BMN karena sebab-sebab lain yang
merupakan sebab-sebab secara normal dapat diperkirakan wajar menjadi
penyebab Penghapusan, seperti rusak berat, dan sebagai akibat dari
keadaan kahar (force majeure).
(9) Peraturan Menteri Keuangan yang mengatur mengenai Penghapusan BMN,
contoh: Peraturan Menteri Keuangan Nomor 83/PMK.06/2016 tentang
Tata Cara Pelaksanaan Pemusnahan dan Penghapusan Barang Milik
Negara.
(10) Kanwil DJKN/KPKNL yang wilayah kerjanya melingkupi lokasi Kuasa
Pengguna Barang yang mengajukan permohonan persetujuan
Penghapusan BMN .
(11) Jabatan, nama lengkap, dan NIP Sekretaris Jenderal.
Contoh 5.b
Format surat persetujuan Menteri mengenai Penghapusan BMN selain Tanah
dan/ atau Bangunan karena sebab-sebab lain

KOP
(1)

Nomor ..... (3) ... . . ' ..... (2)


Sifat ..... (3)
Lampiran ..... (..... ) berkas (3)
Hal Persetujuan Penghapusan
Barang Milik Negara pada ... ..
(4)

Kepada Yth:
Sekretaris J ender al/ Inspektur J enderal/
Direktur Jenderal/Kepala Badan .....
di .. . . .

Sehubungan dengan surat Saudara Nomor . .... tanggal ..... (5) hal Usulan
Persetujuan Penghapusan Barang Milik Negara pada . . . . . (4), dengan ini
diberitahukan bahwa permohonan Penghapusan Barang Milik Negara yang
disebabkan karena ..... (6) berupa ..... (7) dengan harga perolehan/nilai buku
sebesar Rp .. . .. ,00 (. . . . . rupiah) (8) sebagaimana tercantum dalam lampiran
surat ini, pada prinsipnya dapat disetujui.
Guna tertib administrasi pengelolaan Barang Milik Negara, pelaksanaan
Penjualan tersebut agar berpedoman pada Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun
2014 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah dan Peraturan Menteri
Keuangan Nomor ..... /PMK.06/20 . . .. (9), dengan ketentuan sebagai berikut:
1. Persetujuan ini segera ditindaklanjuti dengan Penghapusan Barang Milik
Negara dari Daftar Barang Kuasa Pengguna berdasarkan Keputusan
Penghapusan yang ditetapkan oleh Kuasa Pengguna Barang paling lama 2
(dua) bulan sejak tanggal surat persetujuan ini diterbitkan.
2. Kuasa Pengguna Barang menyampaikan laporan pelaksanaan Penghapusan
kepada Pengelola Barang c.q . . . . . (10) paling lama 1 (satu) bulan sejak
tanggal Keputusan Penghapusan BMN ditandatangani dengan melampirkan
Keputusan Penghapusan.
3. Apabila di kemudian hari ditemukan bukti bahwa Penghapusan Barang Milik
Negara dimaksud diakibatkan adanya unsur kelalaian dan/atau kesengajaan
dari pihak pengurus dan/ atau penanggung jawab BMN terse but, maka tidak
menutup kemungkinan kepada yang bersangkutan akan dikenakan sanksi
Tun tu tan Gan ti Rugi (TGR) dan/ atau pidana sesuai ketentuan yang berlaku.

4. Apabila ....

t
4. Apabila di kemudian hari terdapat kekeliruan dalam surat persetujuan m1
maka akan dilakukan perbaikan sebagaimana mestinya.

Atas perhatian Saudara, kami ucapkan terima kasih.

a.n. Menteri ..... (1)


Sekretaris J ender al

(tanda tangan)
NIP . ... . (11)

Tembusan disampaikan kepada Yth:


1. Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (sebagai laporan);
2. lnspektur Jenderal ..... (l);
3. Direktur Barang Milik Negara, Direktorat Jenderal Kekayaan Negara;
4. Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Kekayaan Negara/Kantor Pelayanan
Negara dan Lelang .... ;
5. Kepala Biro Pengelolaan BMN dan Layanan Pengadaan;dan
6. Kepala Satuan Kerja ybs.

f
(
Petunjuk Pengisian:
(1) Nama Kementerian.
(2) Kota dan tanggal penerbitan surat persetujuan Penghapusan BMN karena
sebab-sebab lain diterbitkan.
(3) Nomor surat (diisi menggunakan kode sesuai dengan ketentuan tata
persuratan dinas), sifat dan jumlah lampiran surat persetujuan
Penghapusan BMN karena sebab-sebab lain.
(4) Kuasa Pengguna Barang yang mengajukan permohonan Penghapusan
BMN karena sebab-sebab lain.
(5) Nomor, tanggal dan hal surat pengajuan permohonan Penghapusan BMN
karena sebab-sebab lain dari Pimpinan Unit Organisasi yang membawahi
Satuan Kerja terkait.
(6) Penyebab terjadinya Penghapusan BMN karena sebab-sebab lain yang
merupakan sebab-sebab secara normal dapat diperkirakan wajar menjadi
penyebab Penghapusan, seperti rusak berat, hilang, susut, menguap,
mencair, kadaluwarsa, mati/cacat berat/tidak produktif untuk
tanaman/hewan, dan sebagai akibat dari keadaan kahar (force majeure).
(7) BMN yang akan dimohonkan untuk dihapuskan karena sebab-sebab lain.
Dalam hal tidak memungkinkan mencantumkan data BMN di dalam surat
persetujuan, seperti BMN tersebut beraneka ragam dan berjumlah banyak,
maka cukup disebutkan kelompok BMN tersebut dalam surat persetujuan
(contoh : peralatan kantor) dan rincian data BMN tersebut dicantumkan
dalam lampiran surat.
(8) Nilai BMN yang akan dimohonkan untuk dihapuskan karena sebab-sebab
lain.
(9) Peraturan Menteri Keuangan yang mengatur mengenai Penghapusan BMN,
contoh : Peraturan Menteri Keuangan Nomor 83/PMK.06/2016 tentang
Tata Cara Pelaksanaan Pemusnahan dan Penghapusan Barang Milik
Negara.
(10) Kanwil DJKN/KPKNL yang wilayah kerjanya melingkupi lokasi Kuasa
Pengguna Barang yang mengajukan permohonan persetujuan
Penghapusan BMN.
(11) Jabatan, nama lengkap, dan NIP Sekretaris Jenderal.
Contoh 6.a
Format Lampiran Keputusan

LAMPIRAN
KOP KEPUTUSAN MENTERl PEKERJAAN UMUM
DAN PERUMAHAN RAKYAT
REPUBLIK INDONESIA
NOMOR .....
TENTANG
PENETAPAN STATUS PENGGUNAAN
BARANG MILIK NEGARA PADA .. (1) ..

DAFTAR BARANG MILIK NEGARA SELAIN TANAH DAN/ATAU BANGUNAN YANG TIDAK MEMILIKI BUKTI KEPEMILIKAN
YANG DITETAPKAN STATUS PENGGUNAANNYA PADA ... (2) ..

No. Kade NUP Jenis BMN Merek/Tipe Jumlah Tahun Nilai Keterangan
Barang ..... (3) . .... (4) Perolehan Perolehan Buku
..... (5) ..... (6)
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

JUMLAH JUMLAH JUMLAH


a .n. Menteri Pekerjaan Umum dan
Perumahan Rakyat

Sekretaris Jenderal/Inspektur
Jenderal/ Direktur Jenderal/Kepala
Badan

(tanda tangan) ..... (7)

r
I
L,(
Petunjuk Pengisian:
(1) Judul Keputusan Menteri sebagaimana tercantum dalam batang tubuh
Keputusan.
(2) Kuasa Pengguna Barang yang memohonkan penetapan status Penggunaan
BMN.
(3) Diisi dengan merek/ tipe a tau spesifikasi BMN yang ditetapkan status
penggunaannya.
(4) Diisi dengan jumlah BMN yang ditetapkan status penggunaannya.
(5) Diisi dengan nilai perolehan BMN sesuai dengan ketentuan Peraturan
Perundang-undangan.
(6) Diisi dengan nilai buku BMN pada saat pengajuan penetapan status
penggunaan.
(7) Jabatan dan nama lengkap pejabat yang berwenang menandatangani
Keputusan Menteri.
Contoh 6.a
Format Lampiran Keputusan

LAMPIRAN
KOP KEPUTUSAN MENTER! PEKERJAAN UMUM
DAN PERUMAHAN RAKYAT
REPUBLIK INDONESIA
NOMOR .....
TENTANG
PENETAPAN STATUS PENGGUNAAN
BARANG MILIK NEGARA PADA .. (1) ..

DAFTAR BARANG MILIK NEGARA SELAIN TANAH DAN/ATAU BANGUNAN YANG TIDAK MEMILIKI BUKTI KEPEMILIKAN
YANG DITETAPKAN STATUS PENGGUNAANNYA PADA ... (2) ..

No. Kade NUP Jenis BMN Merek/Tipe Jumlah Tahun Nilai Keterangan
Barang ..... (3) .... . (4) Perolehan Perolehan Buku
..... (5) ..... (6)
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

JUMLAH JUMLAH JUMLAH


a .n. Menteri Pekerjaan Umum dan
Perumahan Rakyat

Sekretaris Jenderal/ Inspektur


Jenderal/ Direktur Jenderal/Kepala
Badan

(tanda tangan) ..... (7)

t
~
Petunjuk Pengisian:
(1) Judul lampiran diisi hal surat persetujuan, misal penggunaan sementara,
penjualan, hibah atau penghapusan.
(2) Kuasa Pengguna Barang yang memohonkan persetujuan/penetapan
pengelolaan BMN.
(3) Dapat diisi dengan Merek/Tipe untuk BMN selain tanah dan/atau
bangunan atau Lokasi untuk BMN berupa tanah dan/ atau bangunan.
(4) Diisi dengan jumlah BMN sesuai dengan maksud persetujuan BMN.
(5) Diisi dengan nilai buku dan nilai perolehan BMN sesuai dengan maksud
persetujuan BMN.
(6) Nilai limit dicantumkan apabila BMN yang dimohonkan akan dijual secara
lelang. Untuk proses pengelolaan selain penjualan istilah "nilai limit" dapat
disesuaikan.
(7) Jabatan, nama lengkap, dan NIP Sekretaris Jenderal.

MENTERl PEKERJAAN UMUM DAN


PERUMAHAN RAKYAT,

M. BASUKI HADIMUWONO