Anda di halaman 1dari 7

2.5.

1 Komponen dan Struktur Kolektor Pelat Datar Standar

Komponen-komponen sebuah kolektor surya pelat datar terdiri dari penutup


tembus cahaya (transparan) yang berfungsi untuk menimbulkan efek rumah kaca.
Gelombang radiasi yang dipancarkan matahari memiliki panjang yang mampu
menembus penutup transparan, tetapi beberapa gelombang radiasi panas yang
dipantulkan oleh pelat penyerap lebih pendek, sehingga akan dapat dipantulkan
kembali. Perubahan sifat panjang gelombang ini sangat diharapkan, sebab dengan
demikian penutup tersebut akan menjadi penghalang radiasi antara pelat penyerap
dengan lingkungan yang lebih dingin, sementara masih meneruskan radiasi matahari.
Permukaan hitam sebagai penyerap energi radiasi matahari yang kemudian
dipindahkan ke fluida. Saluran fluida kerja berfungsi untuk mengalirkan fluida yang
akan dipanaskan serta isolasi untuk mengurangi kerugian panas (losses) ke
lingkungan. Skema kolektor surya pelat datar ditunjukkan pada gambar 2.9.

Gambar 2.9 Skema kolektor surya pelat datar standar

Adapun krakteristik bagian-bagian penting dari kolektor surya pelat datar


adalah sebagai berikut:

a. Penutup transparan

Penutup transparan di harapkan memiliki sifat transmisivitas yang tinggi dan


sifat absorsivitas serta refleksivitas serendah mungkin. Refleksivitas (daya
pantul) tergantung pada indek bias dan sudut datang yang dibentuk oleh sinar
datang terhadap garis normal permukaan. Sedangkan transmisivitas suatu
permukaan dapat mempengaruhi intensitas energi matahari yang diserap oleh
pelat penyerap. Transmisivitas kaca akan menurun bila sudut datangnya
melebihi 450 terhadap vertical. Sedangkan absorsivitas akan bertambah
sebanding dengan panjang lintasan pada penutup transparan, sehingga bagian
yang diteruskan menjadi berkurang.
b. Pelat penyerap

Pelat penyerap yang ideal memiliki permukaan dengan tingkat absorsivitas


yang tinggi guna menyerap radiasi matahari sebanyak mungkin dan tingka
temisivitas yang serendah mungkin agar kerugian panas karena radiasi balik
sekecil mungkin disamping itu pelat penyerap diharapkan memiliki
konduktivitas thermal (K) yang tinggi.

c. Isolasi

Merupakan material dengan sifat konduktivitas termal (K) rendah,


dipergunakan untuk menghindari terjadinya kehilangan panas kelingkungan.

2.5.2 Radiasi yang Diserap Kolektor Surya

Pada kolektor surya untuk pemanas udara, radiasi matahari tidak akan
sepenuhnya diserap oleh pelat penyerap. Sebagian dari radiasi itu akan dipantulkan
(refleksi) menuju bagian dalam penutup transparan. Dari penutup transparan ini
beberapa akan dipantulkan kembali dan sebagian lainnya akan terbuang ke
lingkungan.
Proses penyerapan radiasi matahari oleh kolektor akan diperlihatkan pada
gambar 2.10.
Radiasi
Refleksi
matahari
Penutup
transparan
(kaca)

(1-)

Pelat

Penyerap
(1-)

Gambar 2.10 Penyerapan radiasi matahari oleh kolektor


Berkas radiasi matahari yang menimpa kolektor, pertama akan menembus
penutup transparan kemudian menimpa pelat penyerap. Sebagian radiasi akan
dipantulkan kembali menuju penutup dan sebagian lagi diserap pelat penyerap.
Radiasi yang menuju ke penutup kemudian dipantulkan kembali menuju penyerap,
sehingga terjadi proses pemantulan berulang. Simbul menyatakan transmisivitas
penutup, menyatakan absorsivitas anguler penyerap dan menyatakan refleksivitas
radiasi hambur dari penutup.
Dari energi yang menimpa masuk kolektor, maka ( ) adalah energi yang diserap oleh
pelat penyerap, dan sebesar ( ) dipantulkan menuju penutup.

Pantulan yang mengenai penutup tersebut merupakan radiasi hambur, sehingga


energi yang sebesar ( ) kemudian dipantulkan kembali oleh penutup
menuju pelat penyerap. Proses pemantulan tersebut akan berulang terus. Dan
besarnya energi maksimum yang diserap oleh kolektor adalah :

( ) (1
) d (1 .(2.15)
n 0 1 ) d
17

Untuk mendekatkan perhitungan kolektor dapat digunakan:


( ) ...........(2.16)

Perkalian antara transmittance-absorptance product rata-rata ( ) ,


didefinisikan sebagai perbandingan radiasi matahari yang terserap , , terhadap radiasi
matahari yang menimpa kolektor , . Sehingga radiasi matahari yang diserap oleh
permukaan pelat penyerap adalah:
S = ( ) ave .IT................................(2.17)

Seorangilmuwan, Klein (1979) sepertidikutipdari Ref. [1], menyatakan hubungan


dengan sudut datang radiasi , , pada kolektor surya yang menggunakan penutup
kaca dengan indeks bias 1,526 seperti tampak pada gambar 2.11.

Gambar 2.11 Grafik hubungan antara sudut timpa dengan transmisivitas.

Sumber: (Duffie dan Beckman, 1980 halaman 174)

2.6 Kolektor Surya Pelat Datar dengan Aliran Impinging Jet

Kolektor surya ini hampir sama dengan kolektor pelat datar standar. Bedanya
terdapat pada jenis aliran massa udara yang melewati kolektor. Pada kolektor surya
standar aliran massa udara secara paralel melewati kolektor dan langsung keluar
outlet sedangkan pada kolektor ini aliran massa udara menggunakan aliran impinging
jets yang dimana udara akan menimpa pelat penyerap terlebih dahulu sebelum keluar
melaui outlet. Untuk menciptakan aliran Impinging Jets sehingga menimpa pelat
penyerap tersebut maka pada kolektor surya ini ditambahkan pelat berlubang yang berfungsi
sebagai nosel diantara pelat penyerap dan pelat bagian bawah.

Pemanfaatan energi surya memakai teknologi kolektor adalah usaha yang paling

banyak dilakukan. Kolektor berfungsi sebagai pengkonversi energi surya untuk

menaikan temperatur fluida kerja yang nantinya dapat dimanfaatkan untuk berbagai

keperluan. Prinsip kerja kolektor pemanas udara yaitu : pelat absorber menyerap

energi radiasi matahari yang jatuh kepermukaannya dan mengkonversikannya

menjadi energi panas, sehingga temperatur pelat tersebut menjadi naik. Energi panas

ini dipindahkan ke fluida udara yang mengalir didalam kolektor diatas pelat

absorber. Perpindahan panas pada kolektor udara akan terjadi secara konduksi,

konveksi dan radiasi.

Perancangan kolektor meliputi perencanaan dan perhitungan desain termal serta

desain konstruksi dari bagian-bagian utama kolektor :

1. Pelat absorber, yaitu berupa pelat yang beralur V yang terbuat dari pelat

aluminium.

2. Penutup transparan (cover), dalam hal ini menggunakan kaca.

3. Isolasi panas, yaitu penyekat panas yang diletakkan disamping, belakang dan

bagian bawah kolektor.

4. Saluran fluida kerja, yaitu saluran fluida terletak antara pelat absorber

dengan kaca penutup transparan.

5. Rangka dan dudukan kolektor.


Sebagai dasar perencanaan untuk mengetahui luas kolektor yang akan dirancang,

energi yang dibutuhkan dan perhitungan-perhitungan lainnya, maka data


[4]
perencanaan yang dibutuhkan adalah : Temperatur udara masuk ke kolektor,
temperatur udara keluar kolektor, laju aliran fluida kerja, dan intensitas radiasi surya.
Besarnya kehilangan panas pada kolektor, terutama secara konveksi dari kolektor

ke lingkungan sangat dipengaruhi oleh kecepatan angin disekeliling kolektor,

(kecepatan angin diasumsikan sekitar 1,5 m/s).

Perencanaan kolektor dilakukan dengan menghitung parameter-parameter berikut

ini :

1. Desain Thermal meliputi :

a) Keseimbangan energi pada kolektor

b) Panas yang berguna pada kolektor

c) Luas kolektor yang dibutuhkan

d) Kolektor dengan sirip dan tanpa sirip

e) Panas yang diserap kolektor

f) Kerugian panas dari kolektor ke lingkungan

g) Efisiensi Kolektor

2. Desain konstruksi meliputi :

a) Perencanaan komponen-komponen dar sar kolektor dan dudukan kolektor

b) Pemilihan bahan pembuatan kolektor

c) Dimensi kolektor

Perencanaan Bagian Utama Kolektor

1. Perencanaan Pelat Absorber (Penyerap)

Bahan yang dipakai untuk pelat absorber (penyerap) antara lain: tembaga,

kuningan, dan aluminium. Absorbsivitas bahan yang tinggi dapat dicapai

dengan melapisi cat hitam pudar/buram yang refleksivitas kecil, maka

dipilihlah pelat seng dengan tebal 0,4 mm dengan nilai konduktivitas (k)

14
112,2 W/m0 (tabel).

2. Pemilihan Kaca Penutup

Kaca transparan yang digunakan diperoleh dari toko kaca, dengan nilai

transmisivitas () sebesar 0,85 dengan tebal 5 mm.

3. Pemilihan Isolasi

Berdasarkan sifat-sifat bahan isolasi yang digunakan ialah papan gabus dengan
konduktivitas termal (k) 0,043 W/m2 0C dan tebal isolasi 1,5 cm.

4. Perencanaan Saluran Udara

Saluran udara pada kolektor berfungsi untuk memperlama terjadinya kontak

udara dengan absorber didalam kolektor dan udara dapat menyentuh seluruh

bagian dalam kolektor, sehingga perpindahan panas konveksi terjadi secara

maksimal.

5. Perencanaan Rangka Dan Kedudukan Kolektor

Bahan rangka dipilih material baja pelat siku dengan ukuran 2,5 cm x 2,5 cm

digunakan untuk rangka dan kedudukan kolektor.