Anda di halaman 1dari 5

PERHITUNGAN EMISI CO2 BERDASARKAN HASIL AUDIT

ENERGI LISTRIK PADA GEDUNG PUSAT LABORATORIUM


TERPADU UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

Nunung Isnaini Dwi Ningsih

Pusat Laboratorium Terpadu Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta,
Jl. Ir. H. Juanda 95 Ciputat, Tangerang Selatan

Email: nides_anggraini@yahoo.com

Abstrak

Telah dilakukan penghitungan emisi CO2 berdasarkan pada hasil audit energi listrik pada gedung PLT
FST UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Melalui metode observasi langsung maka dapat diperoleh
informasi terkait luas ruangan dan jenis peralatan dan dilanjutkan dengan menghitung konsumsi
energi dan IKE dari masing-masing ruangan, serta dilakukan perhitungan emisi CO2. Hasil audit
dipeoleh konsumsi listrik menghabiskan sekitar 31.987 kWh/bulan atau 383.847,5 kWh/tahun. Nilai
IKE ruang ber-AC memiliki kriteria ruangan yang beragam, dari sangat efisien hingga sangat boros.
Sementara itu 50% ruang tidak ber-AC memiliki kriteria sangat boros. Hasil perhitungan emisi CO2
penghasil emisi tertinggi ruangan di lantai 5 (42%) dan terendah ruangan di lantai 2 (3%). Hasil
perhitungan diperoleh total emisi CO2 yang dihasilkan gedung PLT 2771,34 kgCO2/bulan. Analisa
potensi penghematan pada 45 ruangan sebesar Rp 8.945.746,-/bulan atau Rp 107.348.951/tahun.
Skenario pengurangan emisi CO2 dapat dilakukan jika ada kesadaran dari para pengguna akan
tanggungjawab sebagai seorang muslim terhadap kerusakan lingkungan. Pimpinan bertanggungjawab
secara tidak langsung terhadap proses penyadaran melalui beberapa kegiatan, diantaranya seminar,
kebijakan, dan pembuatan SOP terkait penggunaan alat dan ruangan.

Kata Kunci: Emisi CO2, faktor emisi, audit energi listrik, Intensitas Konsumsi Energi (IKE)

Abstract

The research of footprint calculation based on the electrical audit process in PLT FST UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta building has held away. The direct observation method had used to amass the
information of width area and the item of electrical equipment in every room, and then the electrical
energy consumption and the Intensity of Electrical Consumption calculated.The footprint calculation
obtained by multiplies the emission factor with electrical energy consumption. The result of electrical
audit reveals that electrical energy consumption of PLT FST UIN Syarif Hidayatullah Jakarta is 31. a
987kWh / month or 383.847kWh/year. Based on the calculation of rooms with AC, there are variation
criteria, very efficient up to very wasteful room. The result of footprint calculation showed that 5th
floor is the highest produce (42%), and the interesting point, 2nd to be a lower production footprint
(3%). The total footprint calculated 2771,34 kgCO2/month that produced by PLT FST UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta building. The saving analysis in 45 rooms is 8.945.746,-/month or
107.348.951/year. There are some scenarios to reduce the footprint. Nevertheless, that can be done if
the user has self-awareness, responsibility as a Moslem to the environmental sustainability. The
leader holds an indirect duty to the awareness process through any activities which is a seminar,
regulation, and creating standard operating processes for using electrical equipment and the room.

Keywords : Footprint, emission factor, electrical energy audit, Intensity of Energy Consumption

1. Pendahuluan terhadap emisi CO2. Berbagai kegiatan terkait


pengurangan emisi gas CO2 di udara diadakan baik
Pemanasan global telah menjadi isu tingkat nasional dan internasional. Salah satu
internasional, ditandai dengan diadakannya tujuannya adalah untuk mengarahkan setiap
berbagai konferensi tingkat internasioanl yang program pembangunan kearah pembangunan
membahas tentang permasalahan tersebut. rendah karbon [1].
Peningkatan aktivitas manusia merupakan salah Beberapa undang-undang di Indonesia yang
satu faktor terbesar pada peningkatan emisi gas CO2 terkait dengan perubahan iklim yaitu UU No. 6
di udara, salah satunya adalah penggunaan energi Tahun 1994 tentang Pengesahan United Nations
listrik yang secara tidak langsung berkontribusi Framework Convention on Climate Change
(Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa 2. Kajian Pustaka
Bangsa Mengenai Perubahan Iklim). Selain itu
UU No. 17 Tahun 2004 tentang Pengesahan 2.1 Pengertian Emisi CO2
Kyoto Protocol to The United Nations Peraturan Pemerintah No. 41 Tahun 1999 berisi
Framework Convention On Climate Change ( tentang Pengendalian Pencemaran Udara,
Protokol Kyoto Atas Kerangka Kerja Konvensi pengertian emisi adalah zat, energi dan/atau
Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Perubahan komponen lain yang dihasilkan dari suatu kegiatan
Iklim). UU No. 17 Tahun 2004 ini merupakan yang masuk dan/atau dimasukkannya ke dalam
wujud komitmen bersama untuk menjaga udara ambien yang mempunyai dan/atau tidak
kestabilan konsentrasi gas rumah kaca di mempunyai potensi sebagai unsur pencemar [11].
atmosfer [2]. Pada Konferensi G-20 dan Sumber emisi adalah setiap usaha dan/atau kegiatan
Konferensi Perubahan Iklim PBB di Copenhagen yang mengeluarkan emisi dari sumber bergerak,
COP15 tahun 2009, Indonesia berjanji untuk sumber bergerak spesifik, sumber tidak bergerak
mengurangi emisi karbon tanpa bantuan luar maupun sumber tidak bergerak spesifik. Listrik
negeri sebesar 26% pada tahun 2020, atau termasuk dalam sumber emisi yang tidak bergerak.
sebesar 41% dengan bantuan luar negeri. Emisi karbon dioksida sering disingkat menjadi
Komitmen pemerintah Indonesia adalah emisi CO2. Emisi CO2 adalah pelepasan gas karbon
pertumbuhan ekonomi sampai tahun 2020 dioksida (CO2) ke udara. Estimasi emisi CO2 dari
sebesar 70% namun pada saat yang sama juga konsumsi energi diperoleh dari hasil kali antara
mengurangi emisi karbon sebesar 41% [3]. volume penggunaan energi (misal, listrik dalam
Jika sebuah organisasi ingin berkontribusi satuan kWh) dengan faktor emisi CO2 rata-rata
terhadap pengurangan emisi CO2, maka penting (contoh, faktor emisi energi listrik dalam satuan
bagi organisasi tersebut untuk mengukurnya. Audit kgCO2/kWh).
energi adalah teknik yang dipakai untuk
menghitung besarnya konsumsi energi pada 2.2 Faktor Emisi
bangunan gedung dan mengenali cara-cara untuk Pengertian faktor emisi yang tercantum dalam
penghematannya. Audit energi merupakan aktifitas Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 71
pemeriksaan berkala untuk mengetahui ada Tahun 2011 tentang Penyelenggaraan Inventarisasi
tidaknya penyimpangan dalam suatu kegiatan Gas Rumah Kaca Nasional adalah besaran emisi
penggunaan energi. Audit energi, juga dapat GRK yang dilepaskan ke atmosfer per satuan
berguna dalam menelusuri dimana dan berapa aktivitas tertentu [12]. Faktor emisi menunjukkan
energi yang digunakan, mengidentifikasi kebocoran perkiraan jumlah polutan yang akan diemisikan
atau ketidakefisienan energi, menentukan langkah oleh tiap unit komponen kegiatan dari suatu sumber
perbaikannya serta mengevaluasi tingkat energi. Nilai faktor emisi ditampilkan dalam satuan
kelayakannya [4]. Sehingga dapat disimpulkan berat polutan per unit berat, volume, jarak, atau
bahwa kegiatan audit energi listrik dilakukan untuk durasi dari komponen kegiatan yang mengemisikan
mengetahui potensi-potensi penghematan listrik polutan tersebut. Berdasarkan sumbernya, emisi
yang sekaligus berkontribusi dalam pengurangan CO2 berasal dari pemakaian energi, proses industri,
emisi CO2. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta melalui lahan, dan pengolahan limbah (sampah). Idealnya
Tri Dharma Perguruan Tinggi tentunya ingin untuk menghitung emisi CO2 dari masing-masing
berkontribusi pada program penghematan energi sumber diperlukan data konsumsi atau produksi
listrik dan ikut dalam menjaga keberlanjutan bahan tertentu dan faktor emisinya. Jika belum
lingkungan hidup. Oleh karena itu penelitian ini menghitung faktor emisi dari setiap bahan atau
diharapkan menjadi langkah awal universitas dalam produk terkait yang dihasilkan di Indonesia, maka
evaluasi diri terkait program penghematan energi kita dapat menggunakan faktor emisi yang sesuai
listrik. dengan ketentuan Surat Kementrian ESDM Dirjen
Berdasarkan latar belakang tersebut maka Ketenagalistrikan Nomor 1281/05/600.4/2012 yaitu
penelitian ini menjadi menarik dan dapat 0,741 ton CO2/MWh [5].
dirumuskan permasalahan dalam penelitian ini
adalah seberapa besar emisi CO2 yang dihasilkan 2.3 Pengertian Audit Listrik dan Prosedurnya
dari penggunaan energi listrik di gedung PLT UIN pada Bangunan Gedung
Syarif Hidayatullah Jakarta berdasarkan pada hasil Audit energi adalah kegiatan penelitian
audit energi. Adapun yang menjadi batasan dalam pemanfaatan energi untuk mengetahui
penelitian ini meliputi audit energi yang dilakukan keseimbangan energi dan mengidentifikasi peluang-
dengan cara observasi langsung, dan perhitungan peluang penghematan energi
emisi CO2 menggunakan koefisien emisi yang (http://www.energyservices.co.id/). Audit Energi
mengacu pada ketentuan Surat Kementerian ESDM adalah proses penghitungan konsumsi energi yang
Dirjen Ketenagalistrikan Nomor kita pakai sehari-hari dan mengukur berapa besar
1281/05/600.4/2012 yaitu 0,741 ton CO2/MWh [5]. energi yang digunakan (masuk) serta berapa pula
yang tidak berguna/ loss [13]. Klasifikasi audit
energi ada 3 (tiga) yaitu 1) Survei Energi atau penelitian. Ruang toilet, mushola, selasar, dan
mini audit. Audit yang dilakukan secara sederhana, keberadaan lift yang ada di tengah-tengah gedung
tanpa penghitungan yang rinci, hanya melakukan tidak termasuk dalam objek penelitian. Jenis
analisa sederhana. 2) Audit Energi Awal, peralatan yang dihitung yaitu AC, komputer,
tujuannya untuk mengukur produktifitas dan printer, lampu, televisi, dispenser, dan kulkas.
efisiensi penggunaan energi dan mengidentifikasi Secara keseluruhan terdapat 4 buah AC PK, 8
kemungkinan penghematan energi. 3) Audit Energi buah AC 1 PK, 28 buah AC 1 PK , 10 buah AC 2
Rinci, merupakan audit energi yang dilakukan PK, dan 14 buah AC 2 PK. Jumlah seluruh
dengan menggunakan alat-alat ukur yang sengaja komputer 364 buah dan 15 printer. Lampu TL 2 x
dipasang pada peralatan untuk mengetahui 36 watt sebanyak 339 buah. Terdapat 2 buah
besarnya konsumsi energi. Biasanya dilakukan oleh televisi, 11 dispenser, dan 16 kulkas. Seluruh alat
lembaga auditor yang profesional dalam jangka tersebar pada tiap ruangan dan tiap lantai dengan
waktu tertentu. karakteristik yang hampir sama.Seluruh ruangan
digunakan pada saat kegiatan praktikum dan
2.4 Intensitas Konsumsi Energi (IKE) penelitian berlangsung dengan beban yang
Intensitas konsumsi energi (IKE) merupakan bervariasi. Begitu juga dengan ruangan kepala PLT
istilah yang digunakan untuk mengetahui tingkat dan juga ruang administrasi. Penggunaan ruangan
pemakaian energi pada suatu bangunan. Energi secara keseluruhan selama kurang lebih 8 jam per
yang dimaksudkan di sini adalah energi listrik. hari kerja. Setelah proses observasi untuk
Nilai intensitas konsumsi energi penting untuk komposisi luas ruangan, dilanjutkan dengan
dijadikan tolak ukur menghitung potensi observasi terhadap jenis peralatan yang ada pada
penghematan energi yang mungkin diterapkan di tiap ruangan. Jumlah ruang ber-AC ada 45 buah
tiap ruangan atau seluruh area bangunan. Efisien ruangan dan 20 ruangan lainnya tidak ber-AC.
atau tidaknya sebuah ruangan dapat dilakukan Ruangan dengan jumlah komputer yang banyak,
dengan membandingkan intensitas konsumsi energi merupakan ruangan praktikum yang berada di lantai
bangunan dengan standar nasional. Penentukan 1 (laboratorium matematika), dan di lantai 5 juga
prestasi penghematan energi untuk gedung kantor lantai 6 (laboratorium TI/SI).
dan bangunan gedung komersial dapat mengacu
kepada standar nilai IKE yang terdapat dalam 4.2 Analisis Konsumsi Energi Listrik dan
pedoman pelaksanaan konservasi energi listrik dan Intensitas Konsumsi Energi (IKE)
pengawasannya di Lingkungan Departemen Analisis konsumsi energi listrik dilakukan
Pendidikan Nasional. berdasarkan hasil perhitungan IKE ini
dibandingkan dengan nilai standar IKE yang
3. Metode Penelitian mengacu pada standar IKE ruangan ber-AC dan
tidak ber-AC pada pedoman pelaksanaan
Penelitian ini dilakukan di Pusat Laboratorium konservasi energi dan pengawasan di lingkungan
Terpadu (PLT) UIN Jakarta yang beralamat di Jl. Ir. Depdiknas (2004). Konsumsi listrik tertinggi
H. Juanda No. 95 Ciputat Tangerang Selatan, terdapat pada lantai 1, di ruangan kepala PLT. Pada
meliputi seluruh ruangan yang ada. Metodologi lantai 2 terdapat di ruangan laboratorium geofisika,
yang digunakan berupa metode observasi langsung. pada lantai 3, konsumsi listrik tertinggi berada di
Hasil observasi berupa data luas ruangan dan ruangan laboran. Pada lantai 4, konsumsi listrik
jumlah serta jenis peralatan listrik yang ada di tertinggi pada ruang inkubasi. Ruangan dengan
ruangan tersebut. Selanjutnya dilakukan konsumsi listrik yang tinggi belum tentu
perhitungan konsumsi listrik, nilai Intensitas mempunyai nilai IKE yang tinggi pula. Hal ini
Konsumsi Energi (IKE), perhitungan emisi CO2 dan dikarenakan IKE dipengaruhi oleh luasan ruangan.
terakhir perhitungan potensi penghematan dan Hasil perhitungan IKE akan memperlihatkan
potensi pengurangan emisi. kategori setiap ruangan dari sangat efisien, efisien,
AwQ ` q q cukup efisien, agak boros, sampai dengan boros.
3. Hasil dan Pembahasan Gambar 1 dan 2 merupakan hasil perhitungan IKE
4.1 Deskripsi Objek Penelitian berdasarkan pada hasil perhitungan konsumsi
Gedung Pusat Laboratorium Terpadu (PLT) energi listrik gedung PLT FST UIN Syarif
Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Hidayatullah Jakarta.
Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta
berada di Jl. Ir. H. Juanda No. 95 Ciputat,
Tangerang Selatan. Gedung ini merupakan salah
satu gedung yang dimiliki UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta digunakan untuk kegiatan pendidikan
(praktikum) dan penelitian baik mahasiswa, dosen,
dan masyarakat umum. Gedung PLT terdiri dari 6
lantai, dan 65 ruangan yang dijadikan objek
terdapat 4 buah AC masing-masing 1 PK. Hasil
perhitungan emisi CO2 pada ruangan lantai 4 dan 5.
Begitu pula dengan ruangan di lantai 5.
Berdasarkan hasil, ruang laboratorium Operating
System merupakan ruangan yang menghasilkan
terbesar pada lantai 5 (19%). Laboratorium aplikasi
1 dan aplikasi 2 yang terdapat di lantai 6
menghasilkan emisi CO2 sebesar 23% dan 26%.
Total emisi CO2 pada tiap lantai seperti pada
gambar 3.
Gambar 1. Komposisi IKE Ruangan Ber-AC

Gambar 3. Hasil Perhitungan Emisi CO2 Tiap


Lantai Gedung PLT FST UIN Syarif Hidayatullah
Gambar 2. Komposisi IKE Ruangan Tidak Ber-AC Jakarta

Pada gambar 1 dan 2 terlihat pada bagian ruangan Gambar 3 terlihat lantai 5 dengan
ber-AC memiliki komposisi nilai IKE atau kriteria perhitungan emisi CO2 mencapai 42%. Nilai ini
ruangan yang beragam, dari sangat efisien hingga masih cukup jauh dibandingkan dengan
sangat boros. Sementara untuk ruangan tidak ber- perhitungan emisi CO2 yang dihasilkan dari
AC sangat mencolok sekali yaitu 50% ruangan ruangan yang ada di lantai 4 dan lantai 3 (15%).
menempati kriteria sangat boros, sedangkan kriteria Sementara itu, lantai 1 (14%), lebih tinggi
agak boros dan boros hanya 5%, efisien 10%, dan dibandingkan dengan lantai 6 (11%). Lantai 2
cukup efisien 35%. menjadi penghasil emisi CO2 terendah (3%). Jika
pada lantai 6, dominasi peralatan yang adalah
4.3 Analisis Emisi CO2 yang Dihasilkan komputer dengan ruangan yang cukup luas.
Hasil analisis emisi CO2 diperoleh ruangan Sedangkan pada lantai 1, ruangan banyak yang
dengan emisi CO2 terbesar pada lantai 1 yaitu ruang disekat-sekat dengan luasan yang kecil tetapi dalam
praktikum laboratorium lingkungan dengan ruang ruangan yang kecil tersebut jumlah peralatan
laborannya, keduanya menghasilkan emisi CO2 listriknya cukup banyak. Hasil perhitungan
12% dari total emisi yang dihasilkan oleh ruangan diperoleh total emisi CO2 yang dihasilkan oleh
lantai 1. Pada lantai 2, ruangan yang menghasikan gedung PLT adalah 2771,34 kg CO2/bulan atau
emisi besar adalah ruangan praktikum, yaitu sama dengan 33.256 kg CO2/tahun. Hal ini berarti
ruangan praktikum laboratorium geofisika (21%). dari dari gedung PLT, UIN Syarif Hidayatullah
Pada lantai 3 terdapat 2 (dua) ruang laboran dan Jakarta berkontribusi terhadap meningkatnya efek
1 (satu) ruangan laboratorium kimia dasar yang gas rumah kaca sebesar 33.256 kgCO2/tahun.
menghasilkan emisi CO2 terbesar mencapai 25%.
Ruang laboran menjadi penghasil emisi CO2 yang 4.4 Analisis Potensi Penghematan dan Potensi
cukup besar pada lantai 3, hal ini dikarenakan Pengurangan Emisi
ruangan tersebut ber-AC dan banyak item peralatan Analisis potensi penghematan dilakukan
listrik yang beragam. Pada masing-masing ruang dengan menghitung selisih nilai IKE hasil
laboran terdapat kulkas yang berfungsi untuk perhitungan dengan nilai IKE standar pada ruang-
menempatkan bahan kimia cair maupun bahan ruang yang berkategori boros, agak boros, dan
praktikum lainnya yang membutuhkan sangat boros. Hasil perhitungan yang telah
penyimpanan dalam kulkas. Begitu juga dengan dilakukan, dari 65 ruangan ber-AC dan tidak ber-
laboratorium kimia dasar. Pada lantai 4, ruang AC yang termasuk dalam kategori boros sampai
inkubasi menjadi ruangan penghasil emisi terbesar sangat boros diperoleh perhitungan potensi
(28%) dan laboratorium mikrobiologi (17%). penghematan pada 45 ruangan tersebut sebesar Rp
Ruang inkubasi menjadi penghasil emisi CO2 8.945.746,-/bulan atau Rp 107.348.951/tahun.
terbesar dibandingkan dengan ruangan laboraorium Beberapa skenario potensi pengurangan
pada ke-3 lantai sebelumnya. Hal ini dikarenakan emisi CO2 dapat dilakukan dengan mengacu pada
selain ruangan inkubasi berukuran kecil juga penelitian Widhi Asta Kartika Pratiwi, dan Joni
Hermana (2013) yang secara umum upaya http://bulletin.penataanruang.net/index.asp?
pengurangan emisi CO2 yang disarankan meliputi 2 mod=_fullart&idart=147
skenario, yaitu manajemen penggunaan listrik [3] http://www.mastel.or.id/. Retrieved, Februari
yangan dilakukan dengan manajemen penggunaan 13, 2014, (2011, Januari 18), from
listrik eksisting, tanpa ada penggantian peralatan http://www.mastel.or.id/:
sama sekali. Sebagai contoh penggunaan lampu dan http://www.mastel.or.id/index.php?q=pojok_
desktop PC seperti eksisting, pengaturan suhu AC berita/2011/mastel-dukung-program-green-
dinaikkan 20C, dan laptop dimatikan ketika ict.
istirahat siang. Skenario penggantian total [4] Sulistiyowati, Audit Energi Untuk Efisiensi
dilakukan dengan penggantian seluruh lampu Pemakaian Listrik. Jurnal ELTEK, Vol 10
dengan LED, penggantian (dan penambahan) AC, Nomor 01, April 2012 ISSN 1693-4024,
serta penggantian seluruh desktop PC dengan (2012), p 14-25.
laptop. Skenario ini dapat berjalan dengan baik jika [5] Kartika,WA., et all, Analisis Pengurangan
ada kesadaran yang tinggi dari para penggunanya. Emisi CO2 Melalui Manajemen Penggunaan
Kesadaran akan tanggungjawab sebagai seorang Listrik dan Ketersediaan Ruang Terbuka
muslim pada kerusakan lingkungan. Diperlukan Hijau di Gedung Perkantoran Pemerintah
beberapa tahapan lain yang dilakukan agar dapat Kota Surabaya. Jurnal Teknik Pomits Vol. 2,
menimbulkan kesadaran akan hal tersebut. Baik No. 3, ISSN: 2337-3539 (2301-9271 Print),
dari kalangan dosen, staff/karyawan, maupun (2013), p 214 - 217.
mahasiswa di lingkungan UIN Syarif Hidayatullah [6] Mulyadi, Y., Rizki, A., Sumarto, Analisis
Jakarta. Audit Energi untuk Pencapaian Efisiensi
Penggunaa Energi di gedung FPMIPA JICA
5. Kesimpulan Universitas Pendidikan Indonesia. Electrans,
vol.12, No.1, Maret 2013, ISSN 1412
Hasil audit energi listrik gedung PLT FST 3762, (2013), p 81 - 88.
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menghabiskan [7] Pasisarha, D.S., Evaluasi IKE Listrik
sekitar 31.987 kWh/bulan atau 383.847,5 Melalui Audit Awal Energi Listrik di
kWh/tahun. Perhitungan IKE ruangan ber-AC Kampus Polines. JTET, ISSN 2252-4908
memiliki komposisi nilai IKE dengan kriteria Vol. 1 No. 1 April 2012, (2012), p 1-7.
ruangan yang beragam sementara 50% ruangan [8] Puri., A. http://digilib.its.ac.id/, Retrieved
tidak ber-AC menempati kriteria sangat boros. Februari 20, 2013, (2011), from
Lantai 5 menghasilkan emisi tertinggi mencapai http://digilib.its.ac.id/public/:
42%. Keseluruhan total emisi CO2 yang dihasilkan http://digilib.its.ac.id/public/ITS-
oleh gedung PLT 2771,34 kgCO2/bulan atau sama Undergraduate-16429-3307100055-
dengan 33.256 kgCO2/tahun. Hal ini berarti dari Paper.pdf.
satu gedung PLT saja, UIN Syarif Hidayatullah [9] Mukhlis, B. Evaluasi Penggunaan Listrik di
Jakarta telah berkontribusi terhadap meningkatnya Lingkungan Universotas Tadulako. Ilmiah
efek gas rumah kaca sebesar 33.256 kgCO2/tahun. Foristek Vol. 1 No. 1, (2011), p 33-42.
[10] Sarwono, A., Sujatmiko,W., Audit Energi
6. Ucapan Terimakasih Gedung Blok B-1 Departemen Pekerjaan
Umum Sebagai Implementasi Inpres No. 10
Tahun 2005 tentang Penghematan Energi.
Peneliti mengucapkan terimakasih kepada Masalah Bangunan, Vol. 44 No. 1 Oktober
Pusat Penelitian dan Penerbitan (PUSLIPEN) 2009, (2009), p 1-17.
Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat [11] http://jdih.den.go.id/download/, (n.d.)
(LP2M) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang Retrieved Februari 21, 2013, from
telah membantu dalam proses pendanaan penelitian http://jdih.den.go.id/:
ini dari awal hingga akhir. http://jdih.den.go.id/download/19/peraturan-
pemerintah-no-41-tahun-1999.
Daftar Acuan [12] http://apki.net/wp-content/. (n.d.), Retrieved
21 februari, 2014, from http://apki.net/wp-
[1] http://www.puspijak.org/. Retrieved Feruari content/uploads/: http://apki.net/wp-
20, 2014, (2011, Desember 2), from content/uploads/2013/05/Draft-Petunjuk-
http://www.puspijak.org/: Teknis-Penghitungan-Emisi-GRK-di-Sektor-
http://www.puspijak.org/in/berita-terbaru/75- industri.pdf.
seminar-hasil-litbang-mendukung- [13] Ahmadi, I. A. http://www.bikasolusi.co.id/,
pembangunan-rendah-karbon. (2013, Mei 10), Retrieved Agustus 15,
[2] Ir. Andi Renald Riandi, M. 2013, from http://www.bikasolusi.co.id/:
http://bulletin.penataanruang.net/, Retrieved http://www.bikasolusi.co.id/audit-energi/
Februari 13, 2014, (2008, Maret 20), from
http://bulletin.penataanruang.net/: