Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


1.1.1 Penentuan Lokasi Distribution Center

Modul Penentuan Lokasi Distribution Center kali ini membahas mengenai proses
penentuan titik koordinat dari Distribution Center (DC) yang baru PT. OTTO
Pharmaceutical Industries. Penentuan lokasi DC baru ini ditentukan berdasarkan
ongkos-ongkos yang timbul dari adanya proses pengiriman produk PT. OTTO
Pharmaceutical Industries ke lokasi customer-customer perusahaan tersebut.
Semakin jauh jarak pengiriman dari produsen ke customer (distributor), maka titik
koordinat dari DC yang baru pun akan mendekati lokasi-lokasi yang dominan
terdapat customer dari perusahaan tersebut.

1
UNIVERSITAS
PRAKTIKUM MANAJEMEN PERSEDIAAN DAN PENGADAAN
WIDYATAMA

1.2 TUJUAN PRAKTIKUM


1.2.1 Penentuan Lokasi Distribution Center

Berdasarkan modul Penentuan Lokasi Distribution Center, praktikan diharapkan:


1. Memahami bagaimana cara mengambil keputusan untuk menentukan lokasi
Distribution Center.
2. Memahami metode Center of Gravity.
3. Mengaplikasikan penentuan lokasi Distribution Center, khususnya dengan
menggunakan metode Center of Gravity.

2
BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 PENENTUAN LOKASI DISTRIBUTION CENTER


2.1.1 Definisi Gudang
Gudang adalah fasilitas khusus yang bersifat tetap, yang dirancang untuk mencapai
target tingkat pelayanan dengan total biaya yang paling rendah. Gudang dibutuhkan
dalam proses koordinasi penyaluran barang, yang muncul sebagai akibat kurang
seimbangnya proses penawaran dan permintaan. Kurang seimbangnya antara
proses permintaan dan penawaran mendorong munculnya persediaan (inventory),
persediaan membutuhkan ruang sebagai tempat penyimpanan sementara yang
disebut sebagai gudang.

Definisi gudang menurut adalah bagian dari sistem logistik perusahaan yang
menyimpan produk-produk (raw material, parts, goods-in- process, finished
goods) pada dan antara titik sumber (point-of-origin) dan titik konsumsi (point-of-
cumsumption), dan menyediakan informasi kepada manajement mengenai status,
kondisi, dan disposisi dari item-item yang disimpan

Apple menjelaskan tentang masalah penyimpanan menembus keseluruh


perusahaan, sejak penerimaan, melewati produksi sampai pengiriman. Aktivitas
perancangan, persoalan penyimpanan menyeluruh dapat dipecah kedalam kategori-
kategori berikut:

1. Penerimaan (receiving), selama proses penerimaan dan sebelum


penyaluran.
2. Persediaan (inventory), penyimpanan bahan baku dan barang yang dibeli
jadi sampai diperlukan produksi.
3. Perlengkapan yaitu barang bukan produktif yang digunakan untuk
mendukung fungsi produktif.
4. Ditengah proses yaitu barang setengah jadi dan sedang menunggu operasi
selanjutnya.
5. Komponen jadi yaitu yang sedang menunggu perakitan (dapat juga
disimpan pada daerah ditengah proses atau daerah perakitan).

3
UNIVERSITAS
PRAKTIKUM MANAJEMEN PERSEDIAAN DAN PENGADAAN
WIDYATAMA

6. Sisa yaitu bahan, bagian, produk dsb, yang akan diproses kembali menjadi
bentuk yang berguna lagi.
7. Buangan yaitu penumpukan, pemilihan, dan penyaluran barang yang tidak
berguna lagi.
8. Macam- macam yaitu peralatan, perlengkapan dsb, yang tidak berguna
untuk digunakan kembali pada masa yang akan datang.
9. Produk jadi yaitu produk yang siap di produksi atau disimpan pada jangka
waktu yang cukup lama.

2.1.2 Tujuan Gudang

Tujuan dari adanya tempat penyimpanan dan fungsi dari pergudangan secara umum
adalah memaksimalkan pengunaan sumber-sumber yang ada disamping
memaksimalkan pelayanan terhadap pelanggan dengan sumber yang
terbatas.Sumber daya gudang dan pergudangan adalah ruangan, peralatan dan
personil.Pelanggan membutuhkan gudang dan fungsi pergudangan untuk dapat
memperoleh barang yang diinginkan secara tepat dan dalam kondisi yang baik.
Maka dalam perancangan gudang dan system pergudangan diperlukan untuk hal-
hal berikut ini:
1. Memaksimalkan penggunaan ruang.
2. Memaksimalkan menggunakan peralatan.
3. Memaksimalkan penggunaan tenaga kerja.
4. Memaksimalkan kemudahan dalam penerimaan seluruh material dan
penerimaan barang.

2.1.3 Prinsip Pemilihan Lokasi Gudang

Menentukan lokasi gudang terlihat sangat sederhana, tetapi pada dasarnya perlu
mempertimbangkan beberapa hal secara matang. Secara berjenjangan proses
pemilihan lokasi, ukuran dan jumlah gudang dilakukan melalui tiga tahapan, yaitu:

A. Macro Analysis
Analisis dilakukan terhadap faktor-faktor yang terkait dengan penentuan
lokasi disuatu negara atau wilayah yang relatif luas, dengan
memperhitungkan faktor jaringan distribusi dalam skala luas. Proses

4
UNIVERSITAS
PRAKTIKUM MANAJEMEN PERSEDIAAN DAN PENGADAAN
WIDYATAMA

analisis makro dimulai dengan penentuan tujuan pemilihan lokasi,


didasarkan pada aspek-aspek ekonomi dan aktivitas distribusi produk di
masa datang agar terdapat kesesuaian antara lokasi yang terpilih dengan
tujuan pemilihan.
B. Micro Analysis
Setelah dilakukan analisis ditingkat makro, maka ditingkat mikro dilakukan
analisis terhadap lingkup area tertentu yang terpilih ditingkat makro.
Langkah-langkah yang dilakukan adalah berdasarkan hasil evaluasi lokasi
analisis makro, dilakukan penilaian terhadap fasilitas-fasilitas lokasi
potensial, dengan terlebih dahulu dilakukan pengumpulan data dan
informasi tentang sarana dan prasarana (tenaga kerja, pajak, aktivitas bisnis,
listrik, air, telepon, pesaing, dan layanan-layanan pendukung lainnya).
Penjelasan untuk masing-masing data dan informasi tersebut adalah sebagai
berikut:
1. Prasarana
Hendaknya dipertimbangkan pula ketersediaan sarana jalur trasnportasi
ke gudang untuk mempermudah akses, perjalanan serta proses bongkar
muat barang. Prasarana ini dapat berupa jalan aspal, rel kereta api,
lapangan terbang dan atau pelabuhan, tergantung tingkat kebutuhan.
2. Sarana Penunjang
Selain sarana jalur transportasi, juga perlu dipertimbangkan sarana-
sarana penunjang ynag penting lainnya seperti fasilitas internet, telefon,
faximil, listrik, air, dan lain-lain. Apakah sarana-sarana tersebut mudah
diperoleh di lokasi tersebut.
3. Tenaga Terampil
Memenuhi tenaga kerja yang dibutuhkan dalam pelaksanaan aktivitas
pergudangan, maka diperlukan hal lain yang harus dipertimbangkan
yaitu memilih lokasi gudang.
4. Musibah dan keamanan
Harus dipastikan bahwa lokasi yang dipilih harus bebas banjir, jarang
terjadi gempa bumi, gunung meletus dan bencana alam yang lainnya.

5
UNIVERSITAS
PRAKTIKUM MANAJEMEN PERSEDIAAN DAN PENGADAAN
WIDYATAMA

5. Faktor lain yang sebaiknya dipertimbangkan dalam merencanakan


lokasi dan tata ruang gudang yaitu iklim.
C. Spesific Site Selection
Berdasarkan hasil analisis mikro, dilakukan pemilihan yang lebih spesifik
terhadap lokasi yang dipilih, terkait dengan faktor-faktor teknis bangunan
dan ekonomi. Tahap ini dilakukan evaluasi terhadap pilihan-pilihan
alternatif kriteria gedung, baik terhadap existing facilities jika ada dan
konstruksi gedung, untuk menghasilkan suatu keputusan pemilihan gedung
dari gudang yang diperlukan.

2.1.4 Metode Center of Gravity (COG)

Pendekatan grid (sering disebut dengan pendekatan Center of Gravity atau metode
First Movement atau metode ton-mile Center). Metode ini dipakai jika kita ingin
mengetahui lokasi gudang yang memiliki ongkos transportasi yang minimum
dengan pendekatan center of gravity. Metode ini umumnya dapat memberikan nilai
penting dalam lokasi fasilitas dimana hanya mengaitkan antara ongkos dengan
jarak. Bagian ini melukiskan pemakaian teknik analitis untuk membantu
menentukan lokasi suatu gudang distribusi atau pabrik. Ada sejumlah metode, baik
metode matematis maupun yang bukan dapat digunakan untnk masalah lokasi
tunggal ini.

Biaya dan kompleksitas teknik ini hendaklah dipadankan dengan kesukaran


masalahnya. Disini disajikan suatu teknik analitis untuk memecahkan masalah
lokasi. Dengan memakai teknik ini adalah mungkin untuk menentukan lokasi suatu
fasilitas pada pusat-ton, pusat-mil, dan pusat waktu ton-mil dalam suatu daerah
pelayanan, yaitu yang mana yang paling rendah total biayanya. Jika perlu untuk
menentukan lokasi multi gudang distribusi dalam suatu jaringan total sistem, dapat
digunakan teknik seperti yang akan dibahas dalam bagian yang berikut.

Teknik yang dipakai berasal dari geometri analitis. Modelnya didasarkan atas
koordinat caries. Dalam sistem koordinat caries ini, sumbu horizontal atau sumbu
timur barat disebut sumbu Y. Sumbu vertical atau sumbu utara selatan disebut
sumbu y. Kedua sumbu ini membagi 4 kuadran. Setiap titik dalam suatu kuadran
dapat dikenali dengan menunjuk pada koordinat x dan y. Koordinat y dari suatu

6
UNIVERSITAS
PRAKTIKUM MANAJEMEN PERSEDIAAN DAN PENGADAAN
WIDYATAMA

titik disebut ordinat. Ordinat dapat dicari dengan mengukur jaraknya dari sumbu x,
pararel dengan sumbu y. Koordinat x suatu titik disebut absisnya. Absis dan ordinat
ini bersama-sama merupakan koordinat dari suatu titik tertentu, absisnya yang
disebut lebih dahulu. Dengan memakai sistem dasar orientasi ini adalah mungkin
untuk mereplikasi daerah pasar geogralis dimana fasilitas gudang itu akan
ditempatkan. Semua titik pengantaran diplot dalam bidang caries. Masing-masing
tidak dikenali dengan sebuah subscript dan ditempatkan dalam pasar replikasi
dengan acuan pada koordinatnya. Dengan perkataan lain, tujuan-tujuan diplot
dengan acuan pada absis dan ordinatnya diukur pada skala mil yang seragam.

Metode aljabar untuk pemecahan masalah lokasi ini menunjukan posisi koordinat
dari gudang distribusi yang disarankan. Perhitungan sesungguhnya adalah rata-rata
ditimbang (weighted average) dari suatu jumlah variabel berbeda (independent
variables) dengan variabel tak bebasnya adalah lokasi gudang. Pendekatannya
adalah mudah untuk menentukan koordinat x dan y dari lokasi gudang itu. Rumus
untuk perhitungan ini bergantung pada variabel-variabel bebas (independent
variables) yang dinyatakan dalam ukuran lokasi yang dipakai.

Dalam rumus aljabarnya, data yang dipakai sebagai masukan pengukuran ini adalah
variabel bebas. Lokasi yang dihasilkannya adalah variabel tak bebas (dependent
variables). Masalah lokasi ini distruktur dengan standar-standar pelayanan yang
identik yang dibutuhkan dari seluruh lokasi gudang distribusi yang potensial.
Berdasarkan standar pelayanan ini, tujuannya adalah meminimumkan biaya
transportasi.

Pada umumnya diakui bahwa biaya transportasi itu ditentukan oleh waktu, berat
dan jarak. Akan tetapi, bila dipakai teknik-teknik analitis, tidak semua faktor biaya
dimasukan sebagai variabel bebas dalam alat pengukuran. Disini disajikan 4
(empat) cara pemecahan terhadap masalah lokasi ini, yaitu (1) pemecahan pusat-
ton, (2) pemecahan pusat-mil, (3) pemecahan pusat ton-mil, dan (4) pemecahan
pusat waktu-ton-mil. Sebagaimana di tunjukan oleh namanya, tiga yang pertama
adalah terbatas pada variabel yang berkaitan dengan berat dan jarak. Cara yang
keempat memasukkan ketiganya plus waktu sebagai faktor yang mempengaruhi
biaya.

7
UNIVERSITAS
PRAKTIKUM MANAJEMEN PERSEDIAAN DAN PENGADAAN
WIDYATAMA

Kegunaan dari COG (Center of Gravity) adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui lokasi gudang yang memiliki ongkos transportasi yang


minimum.
2. Untuk memberikan nilai penting dalam lokasi fasilitas dimana hanya
mengaitkan antara ongkos dengan jarak.
3. Untuk membantu menentukan lokasi suatu gudang distribusi atau pabrik.
4. Untuk menentukan lokasi suatu fasilitas pada pusat-ton, pusat-mil, dan
pusat waktu ton-mil dalam suatu daerah pelayanan, yaitu yang mana yang
paling rendah total biayanya.

Untuk kekurangan dari COG sendiri adalah sebagai berikut:

1. Tidak dapat mengetahui fasilitas yang ekonomis.


2. Pemecahan masalah dari suatu sistem kadang-kadang tidak dapat
dirumuskan secara matematis.
3. Dalam dunia nyata model optimasi tersebut sulit untuk dipahami dan perlu
ketrampilan teknis dimana banyak manajer tidak memiliki ketrampilan
tersebut.

8
UNIVERSITAS
PRAKTIKUM MANAJEMEN PERSEDIAAN DAN PENGADAAN
WIDYATAMA

BAB IV

PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

4.1 PENGUMPULAN DATA


4.1.1 Penentuan Lokasi Distribution Center
4.1.1.1 Profil Perusahaan PT. Otto Pharmaceutical Industries

PT. OTTO Pharmaceutical Industries adalah bagian dari Mensa Group. PT. OTTO
Pharmaetical Industries perusahaan manufaktur farmasi memproduksi berbagai
obat-obatan yang berkualitas dengan tujuan untuk melayani rakyat nasional.
Mengingat potensi pasar yang luas, Otto menyiapkan fasilitas formulasi baru untuk
memproduksi tablet, kapsul, sirup, sirup kering, cream, sachet oral dan produk
injeksi di lokasi yang sama di Lembang-Bandung, dimana mereka saat ini memiliki
tiga unit manufaktur untuk Non Betalactum, Penisilin & Cephalosporin yang sudah
berjalan. Untuk memenuhi persyaratan standar internasional (PIC/S) dan untuk
memenuhi pasar luar negeri dan dalam negeri mereka, perusahaan merancang
fasilitas dan operasi sesuai dengan Good Manufacturing Practices saat ini dan
standar internasional terbaru dalam produksi farmasi. Distributor untuk PT. OTTO
Pharmaceutical Industries adalah PT. Mensa Binasukses yang merupakan anak
perusahaan dari Mensa Group. Distributor PT. OTTO Pharmaceutical Industries
tersebar dibeberapa wilayah di Indonesia, sebagian besar terletak di pulau jawa. RS
PGI Cikini merupakan salah satu customer yang langsung melakukan pemesanan
produk-produk farmasi pada PT. OTTO Pharmaceutical Industries. Berikut dapat
dilihat alamat PT. OTTO Pharmaceutical Industries dan data customer beserta
alamatnya pada Tabel 4.1 dan Tabel 4.2 di bawah ini:

Tabel 4. 1 Alamat Produsen


Nama Perusahaan Alamat Perusahaan
Jalan DR. Setiabudi Km 12.1, Gudangkahuripan,
PT. OTTO Pharmaceutical Industries
Bandung, Jawa Barat, 40391
(Sumber: Pengumpulan Data)

9
UNIVERSITAS
PRAKTIKUM MANAJEMEN PERSEDIAAN DAN PENGADAAN
WIDYATAMA

4.1.1.2 Customer dan Alamatnya


Tabel 4. 2 Alamat Distributor dan Customer
Nama Perusahaan Alamat Perusahaan
PT. Mensa Binasukses (Bandung) Jl. Kiara Condong (Jl. H.Ibrahim Ajie) No. 358 Bandung 40275

Jl. Raya Pemda Kedunghalang No. 57.A Kel. Kedunghalang Kec.


PT. Mensa Binasukses (Bogor)
Bogor Utara Bogor 16710
Jl. Siliwangi No. 31 RT 004/003 Sepanjang Jaya, Rawa Lumbun
PT. Mensa Binasukses (Bekasi)
Bekasi 17114

Jl. Pulo Kambing II no. 26, Kawasan Industri Pulogadung, RW.11,


PT. Mensa Binasukses (Jakarta Timur)
Jatinegara, Cakung, Jakarta, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 13620

Jl. Cideng Timur I No.13, RT.6/RW.6, Petojo Utara, Gambir, Kota


PT. Mensa Binasukses (Jakarta Pusat)
Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10150

Jl. Seni Tari 182 33 RT 003 RW 03 Neglasari Tangerang Banten,


PT. Mensa Binasukses (Tangerang)
Periuk Jaya, Periuk, Kota Tangerang, Banten 15131
PT. Mensa Binasukses (Cirebon) Jl. Buyut No. 28 D Kutasirap Pegambiran Cirebon
Jl. Menpor No. 9 RT 010/003 Palsigunung Kel. Tugu, Kec. Cimanggis,
PT. Mensa Binasukses (Depok)
Depok
PT. Mensa Binasukses (Jakarta Selatan) Jl. Cipete Raya No. 1 A Jakarta Selatan 12310
Jalan Raden Saleh No.40, RT.12/RW.2, Cikini, Menteng,
Rumah Sakit Cikini RT.12/RW.2, Cikini, Menteng, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus
Ibukota Jakarta 10330

(Sumber: Pengumpulan Data)

Berdasarkan data alamat PT. OTTO Pharmaceutical Industries dan 10 customer


yang berada di pulau jawa, dibuat peta beserta titik koordinatnya dengan titik
ordinal (0,0) merupakan PT. OTTO Pharmaceutical Industries atau produsen. Peta
tersebut dapat dilihat pada Gambar 4.1 di bawah ini:

Gambar 4. 1 Peta dan Sumbu Koordinat Lokasi Distributor


(Sumber: Pengumpulan Data)

10
UNIVERSITAS
PRAKTIKUM MANAJEMEN PERSEDIAAN DAN PENGADAAN
WIDYATAMA

4.1.1.3 Spesifikasi Kemasan Massal Produk (Mucera Syrup 60ml)


Produk yang praktikan pilih untuk studi kasus pada modul Penentuan Lokasi
Distribution Center yaitu Mucera Syrup 60ml dikarenakan produk tersebut
termasuk salah satu produk yang memiliki massa terberat akibat kemasan yang
dipakai berbahan baku kaca. Jenis kemasan massal yang dipakai untuk produk ini
yaitu corrugated carton box dengan spesifikasi (dimensi) lengkap dapat dilihat
pada Gambar 4.3 dan Tabel 4.3 di bawah ini:

Gambar 4. 2 Mucera Syrup 60ml Gambar 4. 3 Ilustrasi Corrugated


(Sumber: Pengumpulan Data) Carton Box
(Sumber: Pengumpulan Data)
Tabel 4. 3 Spesifikasi Kemasan Massal Produk
Jenis Kemasan Panjang (cm) Lebar (cm) Tinggi (cm) Isi (pcs ) Berat Keseluruhan (kg)
Corrugated
26,5 17,5 11 24 3,5
Carton Box
(Sumber: Pengumpulan Data)

4.1.1.4 Spesifikasi Moda Transportasi


Moda transportasi yang digunakan untuk mengangkut produk Mucera Syrup dari
PT. OTTO Pharmaceutical Industries ke distributor dan customer yaitu Mitsubishi
dengan tipe Colt Double Engkle 4 ban. Lain hal jika produk yang diangkut bukan
berjenis tablet, kaplet dan sirup melainkan berjenis produk injeksi (SIS), maka
menggunakan moda transportasi tipe Colt Double Engkle Reefer (mobil angkut
dengan AC). Berikut spesifikasi dan biaya-biaya yang mungkin timbul dari proses
distribusi produk dari PT. OTTO Pharmaceutical Industries ke distributor dan
customer dapat dilihat pada Tabel 4.4 sebagai berikut:

11
UNIVERSITAS
PRAKTIKUM MANAJEMEN PERSEDIAAN DAN PENGADAAN
WIDYATAMA

Gambar 4. 4 Mitsubishi Colt Double Engkle


(Sumber: Pengumpulan Data)

Tabel 4. 4 Spesifikasi Moda Transportasi


Ukuran Karoseri Berat Ukuran Mobil Mesin Roda dan Ban
Panjang: 350 cm Panjang: 459 cm Model: 4JB1-TC Ukuran Ban: 7.50 - 15 - 10PR
Lebar: 160 cm Berat Maksimal: 5,1 Ton Lebar: 169 cm Kapasitas Silinder: 2,771 Ukuran Roda: -
Tinggi: 160 cm Tinggi: 212 cm Kecepatan Maksimum (Km/Jam): -
Tenaga Maksimum (PS/rpm):
100/3,400
(Sumber: Pengumpulan Data)

4.1.1.5 Analisis Biaya

A. Bahan Bakar
Bahan bakar yang digunakan pada jenis moda transportasi tersebut yaitu
solar dengan harga per Desember 2017 sebesar Rp5.150/liter. Moda
transportasi tersebut dapat menempuh 6km hanya dengan 1 liter bahan
bakar solar, maka ongkos bensin yang harus dikeluarkan per kilometernya
yaitu sebesar Rp858,33 atau Rp900/km.
B. Ongkos Supir
Pada PT. OTTO Pharmaceutical Industries, supir merupakan karyawan
tetap dengan penghasilan Rp4.00.000/bulan dengan 5 hari operasional
kerja dari pukul 04:30 hingga pukul 20:00, jadi ongkos supir untuk satu hari
kerja yaitu sebesar Rp200.000.
C. Biaya Operasional
Biaya operasional meliputi biaya perjalanan (trip cost) dan biaya
maintentance truk. Biaya perjalanan meliputi biaya insentif supir, mel dan
tol. Biaya insentif supir diasumsikan Rp5.000/10km, biaya mel

12
UNIVERSITAS
PRAKTIKUM MANAJEMEN PERSEDIAAN DAN PENGADAAN
WIDYATAMA

Rp10.000/40km dan tol sebesar Rp3.000/3km. Biaya maintenance truk


meliputi biaya peralatan pendukung yaitu sebesar Rp 7.500.000 dengan
asumsi bahwa peralatan pendukung (supporting equipments) akan diganti
setelah 10.000km atau Rp750/km, biaya ban Rp1.150.000/unit atau
Rp4.600.000/4ban dengan asumsi ban akan diganti setelah 50.000km atau
Rp92/km, biaya penggantian oli sebesar Rp50.000/liter dengan konsumsi
oli transimisi, mesin dan lain-lain sebesar 0,007 liter/km atau sebesar
Rp350/km.
D. Kesimpulan
Ongkos Bensin : Rp900/km
Ongkos Supir : Rp200.000/pengiriman
Biaya Operasional :
a. Ongkos perjalanan (trip cost):
1. Ongkos tol : Rp2.000/3km jarak tol.
2. Biaya mel : Rp10.000/40km jarak tempuh.
3. Insentif supir : Rp5.000/10km jarak tempuh.
b. Ongkos maintenance truk Rp1.192/km

4.2 PENGOLAHAN DATA


4.2.1 Penentuan Lokasi Distribution Center
4.2.1.1 Perhitungan Kapasitas Angkut
Tabel 4. 5 Kapasitas Angkut Berdasarkan Volume
Kapasitas Angkut Berdasarkan Volume
Kapasitas Angkut (Unit Berat Total Berdasarkan Banyaknya Unit
Dimensi Karoseri Volume Karoseri
Karton) Kapasitas Angkut (kg) Produk (pcs )
Panjang (cm) 350
Lebar (cm) 160 8960000
Tinggi (cm) 160
Dimensi Karton Volume Karton 1756 6146 42144
Panjang (cm) 26,5
Lebar (cm) 17,5 5101,25
Tinggi (cm) 11
(Sumber: Pengolahan Data)

Contoh Perhitungan:
A. Volume Karoseri
=
= 350 160 160 = 8.960.0003

13
UNIVERSITAS
PRAKTIKUM MANAJEMEN PERSEDIAAN DAN PENGADAAN
WIDYATAMA

B. Volume Karton
=
= 26,5 17,5 11 = 5101,253
C. Kapasitas Angkut

=

8.960.000
=
5101,25
= 1756,43 1756
D. Berat Total
=
= 1756 3,5
= 6146 6,146
E. Total Produk Terangkut
=
= 1756 24
= 42144
F. Kesimpulan
Berdasarkan hasil perhitungan kapasitas angkut berdasarkan volume
karoseri yaitu sebesar 1756 karton dan setelah dihitung berat total dengan
mengalikan kapasitas angkut dengan berat per unit karton yaitu sebesar
6146 kg atau 6,146 ton. Hal tersebut melebihi berat maksimal yaitu sebesar
5,1 ton, maka untuk menghitung kapasitas angkut lebih baik menggunakan
berat maksimal moda transportasi. Perhitungan kapasitas angkut
berdasarkan berat maksimal moda transportasi dapat dilihat pada Tabel 4.6
sebagai berikut:

14
UNIVERSITAS
PRAKTIKUM MANAJEMEN PERSEDIAAN DAN PENGADAAN
WIDYATAMA

Tabel 4. 6 Kapasitas Angkut Berdasarkan Berat Maksimal Moda


Kapasitas Angkut Berdasarkan Berat Maksimal Moda Transportasi

Berat Maksimal Moda (kg) Kapasitas Angkut (Unit Karton)

5100

Berat Satuan Karton (kg) 1457

3,5

(Sumber: Pengolahan Data)

Contoh Perhitungan:

5100
= =
3,5
= 1457,14 1457

4.2.1.2 Perhitungan Ongkos Total


A. Ongkos Perjalanan

Tabel 4. 7 Perhitungan Ongkos Perjalanan


No Jarak Tempuh (km) Jarak Tol (km) Nama Customer Ongkos Tol Biaya Mel Insentif Supir
1 18,5 Tidak Melewati Tol PT. Mensa Binasukses (Bandung) - - Rp 9.250
2 140 Tidak Melewati Tol PT. Mensa Binasukses (Bogor) - Rp 35.000 Rp 70.000
3 132 118 PT. Mensa Binasukses (Bekasi) Rp 78.667 Rp 33.000 Rp 66.000
4 148 133 PT. Mensa Binasukses (Jakarta Timur) Rp 88.667 Rp 37.000 Rp 74.000
5 159 146 PT. Mensa Binasukses (Jakarta Pusat) Rp 97.333 Rp 39.750 Rp 79.500
6 181 166 PT. Mensa Binasukses (Tangerang) Rp 110.667 Rp 45.250 Rp 90.500
7 153 94,4 PT. Mensa Binasukses (Cirebon) Rp 62.933 Rp 38.250 Rp 76.500
8 156 139 PT. Mensa Binasukses (Depok) Rp 92.667 Rp 39.000 Rp 78.000
9 159 147 PT. Mensa Binasukses (Jakarta Selatan) Rp 98.000 Rp 39.750 Rp 79.500
10 154 139 Rumah Sakit PGI Cikini Rp 92.667 Rp 38.500 Rp 77.000
(Sumber: Pengolahan Data)

Contoh Perhitungan:

1. Ongkos Tol
=
118
=( ) 2.000
3
= 78.667
2. Biaya Mel
=
132
=( ) 10.000
40
= 33.000

15
UNIVERSITAS
PRAKTIKUM MANAJEMEN PERSEDIAAN DAN PENGADAAN
WIDYATAMA

3. Insentif Supir
=
132
=( ) 5.000
10
= 66.000

B. Ongkos Total

Tabel 4. 8 Perhitungan Ongkos Total


Fixed Cost Variable Cost
No Jarak Tempuh (km) Nama Customer Ongkos Total
Ongkos Supir Ongkos Bensin Ongkos Maintenance Ongkos Perjalanan
1 18,5 PT. Mensa Binasukses (Bandung) Rp 200.000 Rp 16.650 Rp 22.052 Rp 9.250 Rp 247.952
2 140 PT. Mensa Binasukses (Bogor) Rp 200.000 Rp 126.000 Rp 166.880 Rp 105.000 Rp 597.880
3 132 PT. Mensa Binasukses (Bekasi) Rp 200.000 Rp 118.800 Rp 157.344 Rp 177.667 Rp 653.811
4 148 PT. Mensa Binasukses (Jakarta Timur) Rp 200.000 Rp 133.200 Rp 176.416 Rp 199.667 Rp 709.283
5 159 PT. Mensa Binasukses (Jakarta Pusat) Rp 200.000 Rp 143.100 Rp 189.528 Rp 216.583 Rp 749.211
6 181 PT. Mensa Binasukses (Tangerang) Rp 200.000 Rp 162.900 Rp 215.752 Rp 246.417 Rp 825.069
7 153 PT. Mensa Binasukses (Cirebon) Rp 200.000 Rp 137.700 Rp 182.376 Rp 177.683 Rp 697.759
8 156 PT. Mensa Binasukses (Depok) Rp 200.000 Rp 140.400 Rp 185.952 Rp 209.667 Rp 736.019
9 159 PT. Mensa Binasukses (Jakarta Selatan) Rp 200.000 Rp 143.100 Rp 189.528 Rp 217.250 Rp 749.878
10 154 Rumah Sakit PGI Cikini Rp 200.000 Rp 138.600 Rp 183.568 Rp 208.167 Rp 730.335
(Sumber: Pengolahan Data)

Contoh Perhitungan:

1. Ongkos Bensin
1 = 1
= 18,5 900
= 16.650
2. Ongkos Maintenance
= 1
= 18,5 1.192
= 22.052
3. Ongkos Total
1 = + +
+
= 200.000 + 9.250 + 16.650 + 22.052
= 247.952

16
UNIVERSITAS
PRAKTIKUM MANAJEMEN PERSEDIAAN DAN PENGADAAN
WIDYATAMA

4.2.1.3 Perhitungan Ongkos Angkut


Tabel 4. 9 Perhitungan Ongkos Angkut
Titik Ordinat (km) Kapasitas Angkut Ongkos Angkut
Nama Perusahaan x y (Karton) (Rp/karton/km)
J B T
PT. Mensa Binasukses (Bandung) 0,66 1,65 1457 Rp 170
PT. Mensa Binasukses (Bogor) -12,84 4,60 1457 Rp 410
PT. Mensa Binasukses (Bekasi) -9,82 9,28 1457 Rp 449
PT. Mensa Binasukses (Jakarta Timur) -11,25 10,39 1457 Rp 487
PT. Mensa Binasukses (Jakarta Pusat) -12,31 10,50 1457 Rp 514
PT. Mensa Binasukses (Tangerang) -16,14 11,03 1457 Rp 566
PT. Mensa Binasukses (Cirebon) 1,56 15,79 1457 Rp 479
PT. Mensa Binasukses (Depok) -12,10 7,80 1457 Rp 505
PT. Mensa Binasukses (Jakarta Selatan) -13,00 9,13 1457 Rp 515
Rumah Sakit PGI Cikini -12,81 10,90 1457 Rp 501
(Sumber: Pengolahan Data)

Contoh Perhitungan:
1
1 =

247.952
=
1457
= 170//

4.2.1.4 Perhitungan Titik Koordinat Lokasi Gudang (Distribution Center)


Tabel 4. 10 Perhitungan Titik Ordinal Distribution Center
TiBiJi
Nama Perusahaan TiBi
x y
PT. Mensa Binasukses (Bandung) Rp163.648 Rp409.121 Rp247.952
PT. Mensa Binasukses (Bogor) -Rp7.676.779 Rp2.750.248 Rp597.880
PT. Mensa Binasukses (Bekasi) -Rp6.420.421 Rp6.067.363 Rp653.811
PT. Mensa Binasukses (Jakarta Timur) -Rp7.979.430 Rp7.369.447 Rp709.283
PT. Mensa Binasukses (Jakarta Pusat) -Rp9.222.792 Rp7.866.719 Rp749.211
PT. Mensa Binasukses (Tangerang) -Rp13.316.608 Rp9.100.507 Rp825.069
PT. Mensa Binasukses (Cirebon) Rp1.088.505 Rp11.017.620 Rp697.759
PT. Mensa Binasukses (Depok) -Rp8.905.826 Rp5.740.946 Rp736.019
PT. Mensa Binasukses (Jakarta Selatan) -Rp9.748.414 Rp6.846.386 Rp749.878
Rumah Sakit PGI Cikini -Rp9.355.587 Rp7.960.648 Rp730.335
Total -Rp71.373.704 Rp65.129.005 Rp6.697.196
(Sumber: Pengolahan Data)

Perhitungan Titik Ordinal Lokasi Gudang (Distribution Center)

A. Titik Koordinat x

=

71.373.704
= = 10,66
6.697.196

17
UNIVERSITAS
PRAKTIKUM MANAJEMEN PERSEDIAAN DAN PENGADAAN
WIDYATAMA

B. Titik Koordinat y

=

65.129.005
=
6.697.196
= 9,72
Jadi titik ordinal untuk Distribution Center (DC) yang baru adalah (-10.66;9.72)
yang berlokasi di Kota Jakarta Timur di sekitar Jalan KH. Noer Ali.

Gambar 4. 5 Lokasi Distribution Center (DC) Baru


(Sumber: Pengolahan Data)

18
BAB V

ANALISIS

5.1 PENENTUAN LOKASI DISTRIBUTION CENTER

Lokasi distribution center (DC) yang strategis akan memudahkan perusahaan


dalam menyalurkan produk-produknya dan akan meminimalisir ongkos-ongkos
yang timbul dari proses penyaluran produk tersebut. Banyak pertimbangan yang
harus dilakukan oleh perusahaan dalam menentukan distribution center, salah
satunya yaitu menyangkut biaya. Semakin jauh distribution center dari customer,
maka biaya yang harus dikeluarkan pun akan semakin tinggi. Sebaliknya apabila
lokasi distribution center strategis atau dekat dari lokasi customer, maka biaya yang
harus dikeluarkan pun akan rendah. Metode Center of Gravity dapat digunakan
sebagai teknik dalam menentukan lokasi paling optimal dari suatu DC untuk
melayani beberapa customer di suatu daerah. Metode COG memperhitungkan jarak
lokasi customer, jumlah barang yang dikirim dan biaya pengiriman. Tujuan akhir
dari penggunaan metode ini yaitu meminimasi biaya transportasi yang harus
dikeluarkan perusahaan dalam menyalurkan produknya pada customer.

Gambar 5. 1 Koordinat Distribution Center Baru


(Sumber: Pengolahan Data)

Berdasarkan Gambar 5.1 di atas, distribution center terletak pada sumbu =


10,66 dan sumbu = 9,72. Lokasi distribution center berdekatan dengan 8
customer yaitu berada di daerah kota Jakarta Timur di sekitar Jalan KH. Noer Ali.

19
UNIVERSITAS
PRAKTIKUM MANAJEMEN PERSEDIAAN DAN PENGADAAN
WIDYATAMA

Hasil titik koordinat distribution center baru tersebut dipengaruhi oleh beberapa
faktor seperti ongkos yang harus dikeluarkan dan kapasitas angkut pada setiap kali
pengiriman. Kapasitas angkut pada modul kali ini di asumsikan sama setiap
pengirimannya, namun ongkos yang harus dikeluarkan bergantung pada jarak yang
harus ditempuh saat pengiriman produk. Jarak yang cukup jauh untuk mencapai
lokasi customer dari titik pengiriman produk mengakibatkan lokasi distribution
center yang baru berdekatan dengan lokasi yang dominan terdapat customer PT.
OTTO Pharmaceutical Industries. Adanya distribution center yang berdekatan
dengan customer perusahaan tersebut tentunya akan meminimalkan ongkos-ongkos
yang harus dikeluarkan serta dapat meminimalkan keterlambatan kedatangan
produk yang pada akhirnya dapat memenuhi permintaan konsumen dengan cepat
dan tepat.

20
BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 KESIMPULAN
6.1.1 Penentuan Lokasi Distribution Center

Berdasarkan praktikum Modul Penentuan Lokasi Distribution Center yang telah


dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa:

1. Metode Center of Gravity dapat menentukan lokasi distribution center yang


optimal dengan tujuan meminimasi ongkos transportasi.
2. Lokasi customer PT. OTTO Pharmaceutical Industries dominan berada di
daerah barat pulau Jawa.
3. Titik koordinat distribution center yang baru setelah dilakukannya proses
pengolahan data yaitu (-10.66;9.72) atau berada kota Jakarta Timur di
sekitar Jalan KH. Noer Ali.
4. Beberapa faktor yang mempengaruhi penentuan koordinat lokasi
distribution center yaitu faktor ongkos, kapasitas angkut, jarak customer
dan lain-lain.

6.2 SARAN
6.2.1 Penentuan Lokasi Distribution Center

Penyusunan laporan praktikum Modul Penentuan Lokasi Distribution Center memang


terdapat banyak kelebihan dan kekurangan, adapun yang ingin disampaikan oleh
praktikan adalah:
1. Proses pengumpulan data harus dilakukan dengan baik, sehingga hasil yang
didapatkan akan valid.
2. Penggunaan software untuk menentukan titik koordinat sangat diperlukan.
3. Praktikan diharapkan membaca literatur mengenai materi yang sedang
dipelajari agar tidak terjadi kesalahan dalam menggunakan metode
penentuan lokasi distribution center.

21
UNIVERSITAS
PRAKTIKUM MANAJEMEN PERSEDIAAN DAN PENGADAAN
WIDYATAMA

LAMPIRAN

22