Anda di halaman 1dari 18

KARAKTERISASI BAKTERI ENTERON

Oleh:
Nama : Rizqi Nahriyati
NIM : B1A015088
Rombongan : II
Kelompok :7
Asisten : Arie Tri Pangestu Judanto

LAPORAN PRAKTIKUM BAKTERIOLOGI

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2017
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Karakterisasi merupakan salah satu kegiatan yang dilakukan untuk


mengobservasi bakteri maupun kapang hasil isolasi (isolat). Kegiatan karakterisasi
dapat dilakukan berdasarkan sifat sitologi (bentuk sel, gerak atau motilitas, sifat
Gram dan endospora), sifat morfologi, dan sifat fisiologi. Uji sifat morfologi
mencakup sifat-sifat koloni, seperti ukuran, bentuk, warna dan tepian, sedangkan uji
sifat fisiologi diantaranya uji hidrolisis pati, hidrolisis lemak, hidrolisis protein dan
uji katalase. Pewarnaan Gram dan spora dapat dilakukan dalam uji sifat sitologi suatu
bakteri. Prinsip pewarnaan Gram adalah kemampuan dinding sel terhadap zat warna
dasar (Kristal violet) setelah pencucian alkohol 96%. Bakteri Gram positif terlihat
berwarna ungu karena dinding selnya mengikat Kristal violet lebih kuat, sedangkan
sel Gram negatif mengandung lebih banyak lipid sehingga pori-pori mudah
membesar dan Kristal violet mudah larut saat pencucian alkohol (Pelczar & Chan
2008).
Enterobacteriaceae merupakan bakteri gram negatif yang bersifat anaerob
fakultatif dan mempunyai kebutuhan nutrisi yang sederhana. Enterobacteriaceae
dapat memfermentasi glukosa dan mereduksi nitrat (Romawati et al., 2014).
Enterobacteriaceae adalah keluarga besar bakteri Gram negatif yang mencakup
banyak simbion tidak berbahaya, banyak patogen yang kita ketahui seperti
Salmonella, Escherichia coli, Yersinia pestis, Klebsiella dan Shigella. Bakteri
penyebab penyakit dari Famili ini yang lainnya yaitu Proteus, Enterobacter, Serratia,
dan Citrobacter. Keluarga ini adalah satu-satunya wakil dari Ordo Enterobacteriales
Kelas Gammaproteobacteria pada Filum Proteobacteria (Brenner et al., 2005).
Morfologinyna meliputi bentuk rods, curved rods, cocci, spirilla dan filaments
(Williams et al., 2010). Escherichia adalah kelompok bakteri Enterobacteriaceae
yang bersifat gram negatif, anaerobik fakultatif, berbentuk batang, tidak membentuk
spora, fermentatif dan biasanya bergerak dengan flagela peritrika (Cahyonugroho,
2010). Shigella merupakan bakteri berbentuk batang pendek, tidak berflagel, tidak
berkapsul, tidak membentuk spora, tidak bergerak dan merupakan bakteri patogen
usus yang dikenal sebagai agen penyebab penyakit disentri basiler, Klebsiella
pada medium Nutrient Agar berwarna putih susu, sel berbentuk ovoid sampai batang
dan berukuran 0,8-1,7 m, bersifat aerob dan anaerob fakultatif. Klebsiella tersebar
secara merata di alam yaitu di tanah dan di air, bahkan bakteri ini juga ditemukan di
saluran pencernaan manusia. Klebsiella telah dikenal dalam dunia medis sebagai
organisme pathogen (Hidayat et al., 2014). Salmonella merupakan suatu genus
enterobakteria gram negatif berbentuk tongkat yang menyebabkan tifoid, paratifoid,
dan penyakit foodborne (Dwijdoseputro, 1994).
Uji motilitas dilakukan untuk mengetahui apakah bakteri yang diamati motil
(bergerak) atau tidak. Apabila setelah dilakukan inkubasi selama 24 jam, bakteri
tumbuh pada permukaan media, maka bakteri tersebut motil atau uji positif, tetapi
bila bakteri hanya tumbuh pada bekas tusukan jarum inokulasi, maka bakteri tersebut
tidak motil atau uji negatif (Tarigan 1988).
Uji katalase dilakukan untuk membantu identifikasi bakteri tergolong
Enterobacteriaceae (Taylor dan Anhanzar 1972). Setetes H2 O2 ditempatkan pada
gelas objek, isolat uji dioleskan secara merata menggunakan tusuk gigi steril, ditetesi
kembali dengan 10 tetes H2 O2, apabila muncul gelembung gas berarti menunjukkan
reaksi positif (+), sebaliknya apabila tidak terdapat gelembung gas berarti
menunjukkan reaksi negatif (-) (Desi et al., 2014).
Uji Oksidase dilakukan untuk mengetahui apakah bakteri dapat menguraikan
enzim oksidase atau tidak. Perubahan warna yang terjadi pada test strip tadi diamati
setelah didiamkan selama 20-60 detik. Apabila terjadi perubahan warna menjadi biru
violet maka oxidase test dinyatakan positif dan menandakan bahwa bakteri tersebut
adalah bakteri non enterik, sedangkan bila tidak terjadi perubahan warna maka
oxidase test dinyatakan negatif dan menandakan bakteri tersebut adalah bakteri
enterik (Marlina, 2008).
Uji protease adalah uji untuk mengetahui kemampuan menghasilkan protease
untuk menghidrolisis protein menjadi asam amino. Proes hidrolisis protein
berlangsung secara bertahap sebelum akhirnya menjadi asam amino. Reaksi hdrolisis
protein akan memutuskan ikatan peptida. Proses tersebut disebut peptonisasi atau
proteolisis dan dilakukan menggunakan enzim ekstraseluler protease (Wilbraham &
Michael, 1992).
Uji urease bertujuan untuk mengetahui apakah bakteri mempunyai enzim
urease yang dapat menguraikan urea membentuk amoniak. Media urea berisi
indikator phenol red. Interpretasi hasil : negatif (-) : tidak terjadi perubahan warna
media menjadi pink/merah jambu, artinya kuman tidak memecah urea membentuk
amoniak. Positif (+): terjadi perubahan warna media menjadi pink/merah jambu,
artinya kuman memecah urea membentuk amoniak (Lim, 2006).
Uji IMViC terdiri dari uji indole, methyl red (MR), voges praskauer (VP) dan
citrat. Uji indol digunakan untuk mengetahui apakah bakteri mempunyai enzim
triptophanase sehingga bakteri tersebut mampu mengoksidasi asam amino triptophan
membentuk indol. Adanya indol dapat diketahui dengan penambahan reagen
Ehrlich/Kovacs yang berisi paradimetil amino bensaldehid. Interpretasi hasil :
negatif (-) : Tidak terbentuk lapisan cincin berwarna merah pada permukaan biakan,
artinya bakteri ini tidak membentuk indol dari triptophan sebagai sumber karbon.
Positif (+) : Terbentuk lapisan cincin berwarna merah pada permukaan biakan,
artinya bakteri ini membentuk indol dari triptophan sebagai sumber karbon (Cowan,
1993).
Uji produksi H2S dilakukan untuk mengetahui apakah bakteri mampu
memecah asam amino yang mengandung sulfur. Reaksinya yaitu: Sisitein H2S +
Asam -amino Aklirat = Asam Amino H2O + Asam Piruvat. Indikator terbentuknya
H2S dengan adanya warna hitam pada medium dan terbentuknya gas ditandai dengan
pecahnya medium di bagian ujung bawah tabung reaksi (Cappuccino & Sherman,
2000). Tujuan dari tes TSIA (Triple Sugar Iron Agar) adalah untuk mengetahui
kemampuan bakteri untuk memfermentasikan karbohidrat. Pada media TSIA berisi 3
macam karbohidrat yaitu glukosa, laktosa dan sukrosa. (Buchanan & Gibbons,
2003).

B. Tujuan
Tujuan dari praktikum karakterisasi bakteri enteron adalah untuk mengetahui
langkah-langkah atau tahapan dalam karakterisasi bakteri, yaitu secara morfologi,
biokimiawi, dan enzimatis.
II. MATERI DAN CARA KERJA

A. Materi

Alat-alat yang digunakan, yaitu mikroskop, inkubator, cawan petri, tabung


reaksi, jarum ose, lampu spirtus, pipet ukuri mL, object glass, cover glass, tusuk sate
steril, dan kamera.
Bahan-bahan yang digunakan, yaitu kultur bakteri enteron, medium gula-gula
dengan phenol red, medium Triple Sugar Iron Agar (TSIA), medium Urea Broth dan
phenol red, medium Tripton Broth, medium MR-VP Broth dengan reagen methyl
red, napthol, KOH 40%, medium Simmon Citrate Agar (SCA), medium Skim Milk
Agar (SMA), medium Nutrient Agar (NA), medium gula-gula dengan phenol red,
reagen NNNN-tetramethyl-p-phenylenediamine dihydrochloride (20%), larutan H2O2
(1,5%), reagen pewarnaan Gram, larutan FeCl (10%), minyak mineral dan akuades
steril, tissue, serta wrapper.
B. Cara Kerja

Uji Morfologi
a. Uji makromorfologi
Isolat dalam cawan petri diamati utnuk warna koloni, bentk koloni, ukuran
koloni, elevansi kologi, margin koloni, dan permukaan koloni.
b. Uji motilitas
Isolat pada media miring, dilakukan inokulasi dengan ditusuk menggunakan
tusuk sate steril pada media SIM A. Selanjutnya diinkubasi 2 x 24 jam pada suhu
37oC. Kemudian dilihat interpretasinya, jika positif terjadi pertumbuhan koloni
yang menyebar, sedangkan jika negatif tidak terjadi pertumbuhan koloni.
c. Uji mikromorfologi
Isolat dalam cawan petri dilakukan pewarnaan Gram. Akuades diulas pada
object glass, kemudian isolat diulas pada akuades di atas object glass. Isolat
ditetesi crystal violet selama 60 detik, setelah itu CKA. Isolat ditetesi kembali
dengan iodine selama 45 detik dan CKA. Isolat ditetesi dengan alkohol hingga
sisa warna yang berada di atas object glass hilang dan CKA. Selanjutnya, isolat
ditetesi safranin selama 45 detik dan CKA. Hasil tersebut diamati di bawah
mikroskop dengan melihat bentuk selnya.
Uji Enzimatis
a. Uji katalase
Isolat diulas di atas object glass menggunakan jarum ose. Kemudian, ditetesi
reagen H2O2. Selanjutnya, diamati dengan melihat interpretasinya, jika positif
terdapat gelembung gas, sedangkan jika negatif tidak terdapat gelembung gas.
b. Uji oksidase
Isolat diulas di object glass dan ditutup dengan tissue. Kemudian, ditetesi reagen
oksidase. Selanjutnya, diamati dengan interpretasi jika positif terjadi perubahan
warna menjadi biru kehitaman, sedangkan jika negatif tidak terjadi perubahan
warna.
c. Uji protease
Isolat diinokulasi streak kontinyu ke cawan petri dengan media SMA.
Kemudian, diinkubasi 2 x 24 jam pada suhu 37oC. Selanjutnya, diamati dengan
interpretasi jika positif terdapat zona jernih di sekitar koloni medium SMA,
sedangkan jika negatif tidak terbentuk zona jernih.
d. Uji urease
Isolat cair diambil 0,1 mL ke media urease. Kemudian, diinkubasi 2 x 24 jam
pada suhu 37oC. Selanjutnya, dilihat interpretasinya jika positif medium berubah
warna menjadi pink, sedangkan jika negatif tidak berubah warna.
Uji Biokimiawi
a. Uji IMViC
Isolat cair diambil ke media Trypton Broth untuk uji Indole, Protease Broth
untuk uji MR-VP dengan masing-masing sebanyak 0,1 mL. Untuk uji sitrat,
isolat ditusuk ke dalam media Simmon Citrate dengan jarum ose. Kemudian,
inkubasi 2 x 24 jam pada suhu 37oC.
b. Uji gula (Acid-forra)
Isolat cair diambil masing-masing 0,1 mL ke media Manosa, Xylosa, Maltosa,
dan Arabinosa. Kemudian, diinkubasi 2 x 24 jam pada suhu 37oC.
c. Uji H2S
Isolat diinokulasi dengan ditusuk pada bagian tengan media TSIA miring dan
ditarik ke media TSIA bagian miring. Kemudian, diinkubasi 2 x 24 jam pada
suhu 37oC.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN

Tabel 3.1

Gambar 3.2 Uji Makroskopis

Uji mikroskopis menunjukkan hasil pewarnaan Gram berwarna ungu sehingga


menandakan bahwa isolat tersebut adalah bakteri Gram positif. Menurut Tri (2012)
bahwa pengelompokan bakteri berdasarkan reaksi pewarnaan Gram menunjukkan
adanya perbedaan komposisi makromolekul di antara bakteri Gram positif dan
negatif. Bakteri Gram positif adalah bakteri yang mampu mempertahankan zat warna
metil ungu sewaktu proses pewarnaan Gram. Bakteri jenis ini akan berwarna biru
atau ungu di bawah mikroskop, sedangkan bakteri Gram negatif akan berwarna
merah atau merah muda. Perbedaan klasifikasi antara kedua jenis bakteri ini terutama
didasarkan pada perbedaan struktur dinding sel bakteri. Hal tersebut tidak sesuai
dengan pernyataan Romawati et al (2014) bahwa bakteri Enterobacteriaceae
merupakan bakteri gram negatif yang bersifat anaerob fakultatif. Hal tersebut bisa
disebabkan oleh pemberian zat warna yang terlalu berlebihan sehingga sel bakteri
tidak nampak, kurang maksimalnya dalam proses fiksasi sehingga masih ada bakteri
yang belum mati, dan faktor yang lain adalah pada proses pencucian terlalu deras
dalam membilas zat warna dengan air sehingga dapat menyebabkan bakteri larut
terbawa air seperti menurut Karmana (2007) bahwa faktor-faktor yang
mempengaruhi pewarnaan bakteri yaitu fiksasi, pelunturan warna, substrat,
intensifikasi pewarnaan dan penggunaan zat pewarna penutup.
Gambar 3.3 Uji Motilitas
Uji motilitas menunjukkan hasil yang negatif, dimana pada media tersebut
tidak terdapat struktur yang mirip seperti akar yang merupakan tanda perkembangan
dari bakteri. Menurut Atlas (2010), uji motilitas berperan dalam mengetahui
pergerakan bakteri. Bakteri yang dinyatakan positif motil atau bergerak akan
ditunjukan dengan adanya kekeruhan pada media uji yang menunjukan pertumbuhan
koloni. Sulfida indole motility (SIM) adalah media agar semisolid digunakan untuk
menentukan hidrogen sulfida (H2S) produksi, pembentukan indol, dan motilitas. SIM
media digunakan untuk membedakan anggota keluarga Enterobacteriaceae.

Gambar 3.4 Uji Katalase

Uji katalase menunjukkan hasil yang positif karena adanya gelembung gas.
Menurut Yulvizar (2013) uji katalase positif ditandai dengan terbentuknya
gelembung-gelembung oksigen yang menunjukkan bahwa organisme yang
bersangkutan menghasilkan enzim katalase yang mengubah hidrogen peroksida
menjadi air dan oksigen. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Desi et al (2014)
bahwa Bakteri yang tergolong Enterobacteriaceae menunjukkan reaksi positif (+).
Menurut Lubis et al (2014) Katalase merupakan enzim yang digunakan
mikroorganisme untuk menguraikan hidrogen peroksida menjadi H2O dan O2.
Gambar 3.5 Uji Oksidase
Uji oksidase menunjukkan hasil yang negatif karena tidak terjadi perubahan
warna menjadi biru kehitaman. Menurut Marina (2008), apabila terjadi perubahan
warna menjadi biru violet maka oxidase test dinyatakan positif dan menandakan
bahwa bakteri tersebut adalah bakteri non enterik, sedangkan bila tidak terjadi
perubahan warna maka oxidase test dinyatakan negatif dan menandakan bakteri
tersebut adalah bakteri enterik. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Haribi &
Yurson (2010) bahwa bakteri golongan Enterobacteriacae oksidasenya negative dan
katalasenya positif karena bakteri kelompok Enterobacteriaceae merupakan
kelompok bakteri fakultatif anaerob.

Gambar 3.6. Hasil Uji Protease.

Hasil uji protease pada media SMA memperoleh hasil yang positif karena
terbentuknya zona jernih disekitar koloni. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan
(Mahendra, 2016) bahwa Enterobacteriaceae menghasilkan enzim protease yang
mempunyai aktivitas proteolitik, dimana bakteri tersebut dapat mempunyai
kemampuan untuk menghasilkan enzim protease yang akan disekresikan ke
lingkungannya. Enzim protease tersebut selanjutnya akan bekerja menghidrolisis
senyawa-senyawa yang bersifat oligopeptida, peptida rantai pendek, dan asam
amino.
Gambar 3.7. Hasil Uji Urease

Hasil uji urease pada media urease memperoleh hasil yang positif dimana
media berubah warna menjadi merah muda. Menurut Lim (2006) apabila uji urease
positif maka terjadi perubahan warna media menjadi pink/merah jamb yang artinya
bakteri tersebut dapat memecah urea membentuk amoniak. Hal tersebut sesuai
dengan pernyataan Mahendra (2016) bahwa Enterobacter menghasilkan enzim
komersial penting seperti amilase, protease, gelatinase, lipase, deoksiribonukleat, dan
urease. Menurut Erlindawati et al (2015), urease merupakan enzim pemecah ikatan
nitrogen dan karbon dari senyawa amida, seperti urea. Bakteri yang mengandung
urease dapat menghidrolisis urea dan menghasilkan amonia yang bersifat basa.

Gambar 3.7. Hasil Uji Indole.

Hasil uji Indole dengan menggunakan medium Trypton Broth yang ditetesi
dengan kovaks indole memperoleh hasil yang negatif, dimana pada permukaan
media tidak terbentuk cincin yang berwarna merah. Menurut Hasanah et al (2012),
uji Indole diamati dengan cara melihat perubahan warna yang terjadi setelah
penambahan reagen Kovacs kedalam media Tryptone Soya Broth (TSB) yang telah
diinokulasikan isolat bakteri selama 1-2 hari. Hasil uji Indole yang bersifat negatif
ditandai dengan tidak terbentuknya lapisan (cincin) berwarna merah muda pada
permukaan biakan. Asam amino triptofan merupakan komponen asam amino yang
lazim terdapat pada protein, sehingga asam amino ini dapat digunakan oleh
mikroorganisme akibat penguraian protein.

Gambar 3.8. Hasil Uji Methyl Red (MR)

Hasil Uji Metil Red pada medium Protease Broth yang ditetesi dengan metil
red memperoleh hasil yang positif karena terdapat cincin berwarna merah pada
permukaan media. Menurut Rahayu & Gumilar (2017), uji Methyl Red (MR),
bertujuan untuk mendeteksi kemampuan organisme dalam memproduksi dan
mempertahankan produk akhir asam stabil dari fermentasi glukosa. Methyl red
adalah indikator pH, yang tetap berwarna merah pada pH 4,4 atau kurang.

Gambar 3.9. Hasil Voges Proskauer (VP)

Hasil uji Voges Proskauer (VP) pada media Protease Broth yamg ditetesi
KOH sebanyak 3 tetes memperoleh hasil yang negatif karena warna media tida
berubah warna menjadi merah. Menurut Rahayu & Gumilar (2017), tes yang
digunakan untuk mendeteksi acetonin dalam kultur cair bakteri. Pengujian ini
dilakukan dengan menambahakan alphanaftol dan kalium hidroksida dengan kaldu
voges Proskauer yang telah diinokulasi dengan bakteri. Warna merah menunjukkan
hasil yang positif, sedangkan warna kuning coklat atau tidak berwarna merupakan
hasil negative.

Gambar 3.10. Hasil Uji Cimmon Citrate


Hasil Uji Simmon citrate dengan media cimmon citrate memperoleh hasil
yang positif dimana medium berubah warna menjadi biru. Menurut Yulvizar (2013)
media sitrat simmons merupakan salah satu medium yang digunakan untuk menguji
kemampuan bakteri dalam menggunakan sitrat sebagai satu-satunya sumber karbon
yang digunakan. Bila bakteri mampu tumbuh dengan menggunakan sitrat sebagai
satu-satunya sumber karbon maka akan terlihat perubahan warna pada media tumbuh
bakteri pada permukaan agar miring akan menjadi warna biru.

Gambar 3.11. Hasil Uji Gula.

Hasil Uji Gula memperoleh hasil yang negatif karena tidak ada gelembung gas
dan tidak terjadi perubahan warna media menjadi kuning. Uji gula-gula di gunakan
untuk melihat adanya kemampuan bakteri dalam memfermentasikan karbohidrat
menjadi asam-asam organik, yaitu dengan adanya perubahan warna indikator yang
terdapat dalam pemberian warna merah menjadi warna kuning. Dimana
mikroorganisme memperoleh energi dari substrat berupa karbohidrat yang
selanjutnya di fermentasi menjadi asam-asam organik disertai atau tidak
terbentuknya gas. Organisme-organisme yang berbeda akan menggunakan
karbohidrat yang berbeda tergantung dari komponen enzim yang dimilikinya
(Cornelissen et al., 2013). Bakteri yang dapat memfermentasikan laktosa adalah dari
genus Enterobacteriaceae. Enterobacteria dibagi menjadi tiga kelompok berdasarkan
fermentor laktosa yaitu fermentor I-laktosa, seperti Escherichia coli, Enterobacter
spp., dan Klebsiella spp .; II-akhir fermentor laktosa, seperti Citrobacter spp. dan
Serratia spp .; dan III-laktosa nonfermenter, seperti Edwardsiellatarda, Hafnia,
Morganella morganii, Proteus spp., Providencia spp., Salmonella spp., Shigella spp.,
dan Yersinia spp (Ibrahim & Hameed, 2015).

Gambar 3.12. Hasil Uji H2S

Hasil Uji H2S dengan mengunakan media TSIA memperoleh hasil yang positif
karena terbentuknya warna kehitaman didasar koloni serta medium yang terangkat
sehingga bakteri ini dapat menghasilkan H2S, tetapi pada uji ini isolat tidak
menghasilkan glukosa, sukrosa, dan laktosa yang ditandai dengan tidak adanya
perubahan warna menjadi warna kuning. Menurut Buchanan & Gibbons (2003)
fermentasi pada TSIA disertai dengan pembentukan gas CO2 yang dapat dilihat dari
pecahnya dan terangkatnya agar. Media TSIA juga dapat digunakan untuk
mengetahui pembentukan H2S yaitu melihat apakah bakteri memfermentasi metionin
dan sistein (Asam amino yang mempunyai gugus S). Media TSIA terdapat asam
amino metionin dan sistein, jika bakterin memfermentasi kedua asam amino ini maka
gugus S akan keluar dan gugus S akan bergabung dengan H2O membentuk H2S.
Menurut Yulvizar (2013) media TSIA juga mengandung tiga macam gula yaitu
glukosa, laktosa, atau sukrosa. Uji TSIA ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan
dari suatu bakteri dalam memfermentasi gula untuk menghasilkan asam atau gas.
Warna merah pada agar menunjukkan reaksi basa, sedangkan warna kuning
menunjukkan reaksi asam. Warna merah pada permukaan agar dan kuning di bagian
bawah agar menunjukkan bahwa terjadinya fermentasi glukosa. Warna kuning pada
bagian permukaan dan bawah tabung menunjukkan terjadinya fermentasi laktosa dan
sukrosa.

Tabel 3.1 Tabel Pengamatan Morfologi Bakteri Kode E

Bentuk Bulat
Elevasi Rata
Tepi Filiform
Warna Putih Kusam
Permukaan Mengkilat
Ukuran Medium

Berdasarkan pengamatan makromorfologi diperoleh hasil bentuk koloni bulat,


elevasi rata, tepinya filiform, warnanya putih kusam, permukaan koloni mengkilap,
dan ukuranya medium, sedangkan untuk uji mikroskopis yang meliputi uji motilitas
(-), Pewarnaan Gram (+), uji katalase (+), uji oksidase (-), uji protease (+), uji urease
(+), Uji Indole (-), Uji Metil red (+), Uji PV (+), Uji Simmon Sitrat (+), Uji gula-gula
(-) dan Uji H2S (-). Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa isolat yang
kelompok kami peroleh adalah Citrobacter freundii. Hal tersebut sesuai dengan
pernyatan Komala et al (2012) bahwa Citrobacter sp. dapat mengahilkan katalase,
menghasilkan gas H2S, sitrat positif, dan methyl red positif. Hal tersebut juga
didukung oleh pernyataan Hidayati (2015) bahwa Citrobacter freundii merupakan
bakteri non motil, oksidase negatif, dapat menghasilkan H2S (positif), uji indole
negatif, dapat menghasilkan urea (urease positif), dan voges proskauer (VP) negatif.
IV. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil dan pembahasan diatas, dapat disimpulkan bahwa

B. Saran

Saran untuk praktikum kali ini adalah sebaiknya praktikan lebih menjaga
keaseptisan pada saat melakukan praktikum agar meminimalisir terjadinya
kontaminasi.
DAFTAR REFERENSI

Atlas, R.M. 2010. Handbook of Microbiological Media, Fourth Edition. USA:


Taylor and Francis Group.
Brenner, D. J., Noel R. Krieg, & James T. Staley. 2005. Bergey's Manual of
Systematic Bacteriology 2B (2nd ed.). New York: Springer.
Buchanan, R. E. & Gibbons, N E. 2003. Bergeys Manual of Determinative
Bacteriology. USA: The William & Wilkins Company Baltimore.
Cahyonugroho, O. H. 2010. Pengaruh Intensitas Sinar Ultraviolet dan Pengadukan
Terhadap Reduksi Jumlah Bakteri E.coli. Jurnal Ilmiah Teknik Lingkungan.
2(1), pp. 18-23.

Cappuccino, J. G. & Sherman, N. 2000. Microbiology: A Laboratory Manual. .


California: The Benjamin Cummings Publishing Company, Inc.
Cornelissen, C.N., R.A. Harvey, & B.D. Fisher. 2013. Microbiology. USA:
Lippincott Williams & Wilkins.
Cowan, S.T., G. I. Barrow, K.J. Steel, & R. K. A. Feltham. 1993. Cowan and
Steel's Manual for the Identification of Medical Bacteria. Cambridge:
University Press.
Desi, Y., Habazar, T., Agustian, Khairul, U., Syamsuwirman, & Novia, P. Jurnal
Fitopatologi Indonesia. 10(2), pp. 45-52.
Dwijosepoetro, D. 1994. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Jakarta: Djambatan.
Erlindawati, Ardiningsih, P., & Jayuska, A. 2015. Identifikasi dan Uji Aktivitas
Antibakteri dari Tiga Isolat Bakteri Tanah Gambut Kalimantan Barat. Jurnal
Kimia Khatulistiwa. 4(1), pp. 13-17.
Haribi, R. & Yusron, K. 2010. Pemeriksaan Escherichia coli pada Air Bak Wudhlu
10 Masjid di Kecamatan Tlogosari Semarang. Jurnal Ilmu Kesehatan. 3(1), pp.
21-26.
Hasanah, N. M., Pringgenies, D. &Wulandari, S. Y. 2012. Karakterisasi Metabolit
Sekunder Bakteri Simbion Gastropoda Conus miles dengan Metode GC-MS
Sebagai Antibakteri MDR (Multi Drug Resistant). Journal Of Marine
Research. 1(2), pp. 197-202.

Hatmaningtyas, L. L. A. 2013. Faktor Resiko Kolonisasi Klebsiella sp. pada


Nasofaring Balita. Jurnal Media Medika Muda. 2(1), pp. 1-11.
Hidayat, O., Febria, F. A., & Nasir, N. 2014. Isolasi dan Karakterisasi Bakteri pada
Pasir Sarang dan Cangkang Telur Penyu Lekang (Lepidochelys olivaceae L.)
yang Menetas dan Gagal Menetas. Jurnal Biologi Universitas Andalas. 3(2),
pp. 154-161.

Hidayati, I. 2015. Daya Hidrolisis Protein Beberapa Spesies Bakteri Proteolitik


Dalam Daging yang Diawetkan dengan Metode Perpaduan Fermentasi Ensiling
Daun Selada dan Fermentasi Biji Kepayang. Teaching Resource. Malang:
Fakultas Peternakan UNIKAMA.

Ibrahim, I.A.J., & Hameed T.A.K. 2015. Isolation, Characterization, and


Antimicrobial Resistance Patters of lactose-Fermenter Enterobacteriaceae
Isolated from Clinical and Enviromental Sampel. Journal of Medical
Microbiology. 5(1), pp. 169-176.
Karmana.2007.Biologi.Jakarta:PT Grafindo Media Pratama

Komala, P. S., Helard, D., & Delimas, D. 2012. Identifikasi Mikroba Anaerob
Dominan pada Pengolahan Limbah Cair Pabrik Karet dengan Sistem Multi Soil
Layering (MSL). 9(1), pp. 74-78.

Lim, D. 2006. Microbiology. New York: McGraw-Hill.


Lubis, Y. P. P., Yunasfi, & Leidonald, R. 2014. Jenis-Jenis Bakteri pada Luka Ikan
Patin (Pangasius djambal). Jurnal Aquacoastmarine. 3(1), pp. 66-77.
Mahendra, G. 2016. Pengaruh Infeksi Bakteri Enterobacter sp. dengan Injeksi
Intraperitoneal Terhadap Kelulushidupan Ikan Nila (Oreochromis niloticus).
Surabaya: Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga.
Marlina. 2008. Identifikasi bakteri Vibrio parahaemolitycus dengan metode
Biolog dan Deteksi Gen ToxRnya secara PCR. Jurnal Sains dan Teknologi
Farmasi Vol 13 No 1 2008
Pelczar, M. J. & Chan, E. C. S. 2006. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Jakrta: Universitas
Indonesia Press.
Rahayu, S. A. & Gumilar, M. H. 2017. Uji Cemaran Air Minum Masyarakat Sekitar
Margahayu Raya Bandung dengan Identifikasi Bakteri E. coli. LIPST. 4(2), pp.
50-54.
Romawati, M. D., Maruf, W. F., & Romadhon. 2014. Pengaruh Kadar Garam
Terhadap Kandungan Histamin, Vitamin B12 dan Nitrogen Bebas Terasi Ikan
Teri (Stolephorus sp). Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan.
3(1), pp. 80-88.

Tarigan J. 1988. Pengantar Mikrobiologi. Jakarta: Departemen pendidikan.


Tri, R.F. 2012. Penapisan Jamur dan Bakteri Antagonis terhadap jamur Akar Putih
(Rigidoporus microporus) dari Rizosfer Tanaman Lidah Mertua. Jurnal
Penelitian Karet. 30(1): 1-11.
Wilbraham, C., & Michael, B. M. 1992. Pengantar Kimia Organik dan Hayati.
Bandung: penerbit ITB

Williams, K. P., Gillespie, J. J., Sobral, B. W. S., Nordberg, E. K., Snyder, E. E.,
Shallom, J. M., dan Dickerman, A. W. 2010. Phylogeny of
Gammaproteobacteria. Journal of Bacteriology. 192 (9), pp. 23052314.
Yulvizar, C. 2013. Isolasi dan Identifikasi Bakteri Probiotik pada Rastrelliger sp.
Biospecies. 6(2), pp. 1-7.