Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PJBL

BLOK FUNDAMENTAL OF PHATOFISIOLOGY AND NURSING CARE


GASTROINTESTINAL SYSTEM

MALNUTRISI

Yuni Hartini Dwi C

125070206111002

REGULER 2

KELOMPOK 1

ILMU KEPERAWATAN

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2015
Kata Pengantar

Dengan mengucap syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa,


akhirnya saya dapat menyelesaikan makalah laporan PJBL ini. Berbagai
rintangan telah saya hadapi, namun yang paling penting adalah tugas
pendidikan yang dibebankan kepada saya ketika menyelesaikan makalah
ini.

Sama dengan tenaga kesehatan yang lainnya, keperawatan


merupakan ilmu yang sangat penting di dunia kesehatan, karena
bagaimanapun juga perawatlah yang nantinya paling dekat dengan
pasien. Makalah ini dibuat berdasarkan peran perawat dalam bagaimana
menangani pasien dengan sesuai dengan pembahasan blok GIT.
Diharapkan makalah ini bisa menambah ilmu pengetahuan dan juga
motivasi untuk tenaga kesehatan, khususnya perawat untuk menjalankan
tugas keperawatan dengan maksimal dan terfokus pada pasien.

Saya sepenuhnya menyadari bahwa makalah ini jauh dari


sempurna, sehingga kami menerima dengan sepenuh hati segala kritik
dan saran yang berguna untuk memperbaiki makalah kami. Terima kasih
kami ucapkan kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi membantu
menyelesaikan makalah ini.

Penyusun

Malang, 17 Februari 2015


A. DEFINISI
Malnutrisi adalah keadaan dimana tubuh tidak mendapat
asupan gizi yang cukup, malnutrisi dapat juga disebut keadaaan
yang disebabkan oleh ketidakseimbangan di antara pengambilan
makanan dengan kebutuhan gizi untuk mempertahankan
kesehatan. Ini bisa terjadi karena asupan makan terlalu sedikit
ataupun pengambilan makanan yang tidak seimbang. Selain itu,
kekurangan gizi dalam tubuh juga berakibat terjadinya malabsorpsi
makanan atau kegagalan metabolik (Oxford medical dictionary,
2007). Gizi buruk adalah keadaan kekurangan energi dan protein
tingkat berat akibat kurang mengkonsumsi makanan yang bergizi
dan atau menderita sakit dalam waktu lama. Itu ditandai dengan
status gizi sangat kurus (menurut BB terhadap TB) dan atau hasil
pemeriksaan klinis menunjukkan gejala marasmus, kwashiorkor
atau marasmik kwashiorkor. Menurut Supariasa dkk. (2002), status
nutrisi merupakan ekspresi dari keadaan keseimbangan nutrisi
dalam bentuk variabel tertentu. Sedangkan menurut Dwyer (2002)
status nutrisi (nutritional status) adalah keadaan tubuh sebagai
akibat konsumsi makanan dan penggunaan zat-zat gizi. Gizi buruk
adalah keadaan dimana asupan gizi sangat kurang dari kebutuhan
tubuh. Umumnya gizi buruk ini diderita oleh balita karena pada usia
tersebut terjadi peningkatan energy yang sangat tajam dan
peningkatan kerentanan terhadap infeksi virus/bakteri.

B. Klasifikasi Gizi Buruk

Gizi buruk berdasarkan gejala klinisnya dapat dibagi menjadi 3 :


Marasmus
merupakan salah satu bentuk gizi buruk yang paling sering
ditemukan pada balita. Hal ini merupakan hasil akhir dari
tingkat keparahan gizi buruk. Gejala marasmus antara lain
anak tampak kurus, rambut tipis dan jarang,kulit keriput yang
disebabkan karena lemak di bawah kulit berkurang, muka
seperti orang tua (berkerut), balita cengeng dan rewel
meskipun setelah makan, bokong baggy pant, dan iga
gambang.Pada patologi marasmus awalnya pertumbuhan
yang kurang dan atrofi otot serta menghilangnya lemak di
bawah kulit merupakan proses fisiologis.Tubuh
membutuhkan energi yang dapat dipenuhi oleh asupan
makanan untuk kelangsungan hidup jaringan. Untuk
memenuhi kebutuhan energi cadangan protein juga
digunakan. Penghancuran jaringan pada defisiensi kalori
tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan energi tetapi juga
untuk sistesis glukosa.
Kwashiorkor
Kwashiorkor adalah suatu bentuk malnutrisi protein yang
berat disebabkan oleh asupan karbohidrat yang normal atau
tinggi dan asupan protein yang inadekuat.Hal ini seperti
marasmus,kwashiorkor juga merupakan hasil akhir dari
tingkat keparahan gizi buruk Tanda khas kwashiorkor antara
lain pertumbuhan terganggu, perubahan mental,pada
sebagian besar penderita ditemukan oedema baik ringan
maupun berat, gejala gastrointestinal,rambut kepala mudah
dicabut,kulit penderita biasanya kering dengan menunjukkan
garis-garis kulit yang lebih mendalam dan lebar,sering
ditemukan hiperpigmentasi dan persikan kulit,pembesaran
hati,anemia ringan,pada biopsi hati ditemukan
perlemakan.Gangguan metabolik dan perubahan sel dapat
menyebabkan perlemakan hati dan oedema. Pada penderita
defisiensi protein tidak terjadi proses katabolisme jaringan
yang sangat berlebihan karena persediaan energi dapat
dipenuhi dengan jumlah kalori yang cukup dalam asupan
makanan. Kekurangan protein dalam diet akan menimbulkan
kekurangan asam amino esensial yang dibutuhkan untuk
sintesis. Asupan makanan yang terdapat cukup karbohidrat
menyebabkan produksi insulin meningkat dan sebagian
asam amino dari dalam serum yang jumlahnya sudah kurang
akan disalurkan ke otot. Kurangnya pembentukan albumin
oleh hepar disebabkan oleh berkurangnya asam amino
dalam serum yang kemudian menimbulkan oedema.
Marasmiks-Kwashiorkor
Marasmic-kwashiorkor gejala klinisnya merupakan campuran
daribeberapa gejala klinis antara kwashiorkor dan marasmus

C. Epidemiologi
Program Lembaga Pangan dunia (WFP) dalam penelitian pada
awal tahun 2008 menyebutkan jumlah penderita gizi buruk dan
rawan pangan di Indonesia mencapai angka 13 juta. Meski data
pemerintah yang disampaikan oleh menteri kesehatan, siti fadilah
Supari secara resmi menyebutkan penderita gizi buruk hingga
tahun 2007 mencapai angka 4,1 juta, atau naik tiga kali lipat
dibandingkan jumlah penderita yang sama di tahun 2005 yakni 1,67
juta jiwa. Tentunya angka ini sangat mencengkan dunia
Internasional, kenyataan ini membuat salah satu produsen
makanan ringan terkemuka di indonesia menggalang aksi
kepedulian dengan mencantumkan data ini dalam kemasan
produknya sehingga diharapkan masyarakat berempati dan
kemudian mendonasikan sebagian uangnya untuk penangulangan
gizi buruk. Hingga akhir april 2008, sejumlah bencana masih
melanda berbagai daerah, musim penghujan belum kunjung usai,
angin puting beliung, rob, banjir bandang dan lonsor yang melanda
jawa tengah dan jawa timur dan badai elnina yang berefek pada
ombak 4-6 meter di sebagian wilayah laut Indonesia. Musibah ini
mengakibatkan korban jiwa dan kerusakan lahan pertanian. Lahan
pertanian yang sedianya menjadi sumber pangan bagi masyarakat,
kondisinya hancur, gagal panen (puso). Akibatnya masyarakat
terancam kekurangan pangan. Menurut data yang diperoleh dari
Depkes (2010) memperlihatkan prevalensi gizi buruk di Indonesia
terus menurun dari 9,7% di tahun 2005 menjadi 4,9% di tahun
2010. 6 Namun prevalensi gizi buruk di Jawa Tengah dari tahun
2007-2009 mengalami kestabilan yaitu 4%.

D. Faktor Resiko
Banyak faktor yang yang mengakibatkan terjadinya kasus gizi
buruk. Penyebab gizi buruk terdiri dari penyebab langsung dan
tidak langsung. Penyebab langsung terjadinya gizi buruk, yaitu:
Kurangnya asupan gizi dari makanan
Hal ini disebabkan terbatasnya jumlah makanan yang
dikonsumsi atau makanannya tidak
memenuhi unsur gizi yang dibutuhkan karena alasan sosial
dan ekonomi yaitu kemiskinan. Bayi dan balita tidak
mendapat makanan yang bergizi, dalam hal ini makanan
alamiah terbaik bagi bayi yaitu air susu ibu, dan sesudah
usia enam bulan anak tidak mendapat makanan
pendamping ASI (MP-ASI) yang tepat, baik jumlah dan
kualitasnya. MP-ASI yang baik tidak hanya cukup
mengandung energi dan protein, tetapi juga mengandung
zat besi, vitamin A, asam folat, vitamin B, serta vitamin dan
mineral lainnya. MP-ASI yang tepat dan baik dapat disiapkan
sendiri di rumah. Pada keluarga dengan tingkat pendidikan
dan pengetahuan yang rendah sering kali anaknya harus
puas dengan makanan seadanya yang tidak memenuhi
kebutuhan gizi balita karena ketidaktahuan.
Akibat terjadinya penyakit yang mengakibatkan infeksi.
Hal ini disebabkan oleh rusaknya beberapa fungsi
organ tubuh sehingga tidak bisa menyerap zat-
zat makanan secara baik. Terjadinya kejadian infeksi
penyakit ternyata mempunyai hubungan timbal balik dengan
gizi buruk. Anak yang menderita gizi buruk akan mengalami
penurunan daya tahan sehingga anak rentan terhadap
penyakit infeksi. Disisi lain anak yang menderita sakit infeksi
akan cenderung menderita gizi buruk cakupan pelayanan
kesehatan dasar terutama imunisasi, penanganan diare,
tindakan cepat pada balita yang tidak naik berat badan,
pendidikan, penyuluhan kesehatan dan gizi, dukungan
pelayanan di posyandu, penyediaan air bersih, kebersihan
lingkungan akan menentukan tinggi rendahnya kejadian
penyakit infeksi. Mewabahnya berbagai penyakit menular
akhir-akhir ini seperti demam berdarah, diare, polio, malaria,
dan sebagainya secara hampir bersamaan dimana-mana,
menggambarkan melemahnya pelayanan kesehatan yang
ada di daerah. Berbagai penelitian membuktikan lebih dari
separuh kematian bayi dan balita disebabkan oleh keadaan
gizi yang jelek. Resiko meninggal dari anak yang bergizi
buruk 13 kali lebih besar dibandingkan anak yang normal.
WHO memperkirakan bahwa 54% penyebab kematian bayi
dan balita didasari oleh keaadaan gizi anak yang jelek.
Ada berbagai penyebab tidak langsung yang menyebabkan gizi
kurang diantaranya yaitu:
Ketahanan pangan keluarga yang kurang memadai.
Setiap keluarga diharapkan mampu untuk memenuhi
kebutuhan pangan seluruh anggota keluarganya dalam
jumlah yang cukup baik jumlah maupun mutu gizinya.
Namun kemiskinan kadang menjadikan hambatan dalam
penyediaan pangan bagi keluarga.
Pola pengasuhan anak kurang memadai.
Setiap keluarga dan mayarakat diharapkan dapat
menyediakan waktu, perhatian, dan dukungan terhadap
anak agar dapat tumbuh kembang dengan baik baik fisik,
mental dan sosial. Di masa modern ini pengasuhan anak
kadang kita serahkan kepada pembantu yang belum tentu
tahu perkembangan dan kebutuhan makan anak.
Pelayanan kesehatan dan lingkungan kurang memadai.
Sistim pelayanan kesehatan yang ada diharapkan dapat
menjamin penyediaan air bersih dan sarana pelayanan
kesehatan dasar yang terjangkau oleh setiap keluarga yang
membutuhkan. Berbagai kesulitan air bersih dan akses
sarana pelayanan kesehatan menyebabkan kurangnya
jaminan bagi keluarga. Pokok masalah gizi buruk di
masyarakat yaitu kurangnya pemberdayaan keluarga dan
kurangnya pemanfaatan sumber daya masyarakat berkaitan
dengan berbagai faktor langsung maupun tidak langsung.
Hal ini dapat ditanggulangi dengan adanya berbagai
kegiatan yang ada di masyarakat seperti posyandu, pos
kesehatan.
Berat Badan Lahir Rendah
Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) juga dapat disebabkan
oleh bayi lahir kecil untuk masa kehamilan yaitu bayi yang
mengalami hambatan pertumbuhan saat berada di dalam
kandungan. Hal ini disebabkan oleh keadaan ibu atau gizi
ibu yang kurang baik. Kondisi bayi lahir kecil ini sangat
tergantung pada usia kehamilan saat dilahirkan.
Peningkatan mortalitas, morbiditas, dan disabilitas neonatus,
bayi,dan anak merupakan faktor utama yang disebabkan
oleh BBLR. Gizi buruk dapat terjadi apabila BBLR jangka
panjang.Pada BBLR zat anti kekebalan kurang sempurna
sehingga lebih mudah terkena penyakit terutama penyakit
infeksi. Penyakit ini menyebabkan balita kurang nafsu
makan sehingga asupan makanan yang masuk kedalam
tubuh menjadi berkurang dan dapat menyebabkan gizi
buruk. Menurut penelitian yang dilakukan di Kabupaten 21
Lombok Timur BBLR terdapat hubungan yang bermakna
dengan kejadian gizi buruk (95%CI) p=0.02.11
Faktor ekonomi
Kemiskinan keluarga/penghasilan yang rendah yang tidak
dapat memenuhi kebutuhan berakibat pada keseimbangan
nutrisi anak tidak terpenuhi, saat dimana ibunya pun tidak
dapat mencukupi kebutuhan proteinnya.
Pola makan
Protein adalah zat yang sangat dibutuhkan anak untuk
tumbuh dan berkembang. Meskipun intake makanan
mengandung kalori yang cukup, tidak semua makanan
mengandung protein/asam amino yang memadai. Bayi yang
masih menyusui umumnya mendapatkan protein dari ASI
yang diberikan ibunya, namun bagi yang tidak memperoleh
ASI protein dari sumber-sumber lain (susu, telur, keju, tahu
dan lain-lain) sangatlah dibutuhkan. Kurangnya pengetahuan
ibu mengenai keseimbangan nutrisi anak berperan penting
terhadap terjadinya kwashiorkhor, terutama pada masa
peralihan ASI ke makanan pengganti ASI.
Faktor ekonomi
Kemiskinan keluarga/penghasilan yang rendah yang tidak
dapat memenuhi kebutuhan berakibat pada keseimbangan
nutrisi anak tidak terpenuhi, saat dimana ibunya pun tidak
dapat mencukupi kebutuhan proteinnya.

E. Patofisiologi (Terlampir )

F. Manifestasi Klinis
Kwashiorkor
Rambut tipis berwarna merah seperti rambut jagung dan
mudah dicabut tanpa menimbulkan rasa sakit.
Edema pada seluruh tubuh terutama pada punggung kaki
dan bila ditekan akan meninggalkan bekas.
Kelainan kulit (dermatosis) seperti timbulnya ruam berwarna
merah muda yang meluas dan berubah warna menjadi
coklat kehitaman dan terkelupas.
Wajah membulat dan sembab (moon face).
Pandangan mata sayu.
Pembesaran hati.
Sering disertai penyakit infeksi akut, diare, ISPA, dll.
Perubahan status mental menjadi cengeng, rewel, kadang
apatis.
Otot mengecil (hipotrofi) dan menyebabkan lengan atas
kurus sehingga ukuran LILA-nya kurang dari 14 cm.
Dari sekian banyak gejala klinis, ada beberapa gejala klinis
tersebut yang khas pada penderita kwashiorkor. Tanpa gejala
klinis yang khas ini, penegakkan diagnosis kwashiorkor tidak
dapat ditegakkan. Gejala yang khas tersebut adalah edema,
rambut yang tidak hitam, mudah rontok, jarang dan tipis, perut
buncit karena hepatomegali, dan crazy pavement dermatosis.
Karena adanaya edema, maka kwashiorkor bisa
disebutedematous protein calorie malnutrition.
Marasmus
Wajah seperti orang tua.
Mudah menangis/cengeng dan rewel
Sering disertai penyakit infeksi (diare, umumnya kronis
berulang, TBC).
Badan nampak sangat kurus seolah-olah tulang hanya
terbungkus kulit.
Kulit keriput, jaringan lemak subkutis sangat sedikit sampai
tidak ada (pakai celana longgar-baggy pants).
Perut cekung.
Iga gambang. Karena tidak ada edema, maka marasmus
sering disebut non edematous protein calorie malnutrition.
Marasmic-Kwashiorkor
Berat badan penderita hanya berkisar di angka 60% dari
berat normal. Gejala khas kedua penyakit tersebut nampak
jelas, seperti edema, kelainan rambut, kelainan kulit dan
sebagainya.
Tubuh mengandung lebih banyak cairan, karena
berkurangnya lemak dan otot
Kalium dalam tubuh menurun drastis sehingga
menyebabkan gangguan metabolik seperti gangguan pada
ginjal dan pankreas.
Mineral lain dalam tubuh pun mengalami gangguan, seperti
meningkatnya kadar natrium dan fosfor inorganik serta
menurunnya kadar magnesium.

G. Pemeriksaan Diagnostik
Pemeriksaan Laboratorium
Pada pemeriksaan darah meliputi Hb, albumin, globulin,
protein total, elektrolit serum, biakan darah. Profil lipid (lipid
total, trigliserida, kolesterol, LDL, HDL)
Pemeriksaan urine
Pemeriksaan urine meliputi urine lengkap dan kulture urine
Pemeriksaan radiologis: usia tulang, osteoporosis /
osteomalsia.
Tinggi badan
merupakan parameter sederhana, mudah dilakukan dan
diulang serta bila dihubungkan dengan BB akan memberikan
informasi yang bermakna. Cara pengukurannya adalah anak
berdiri tegak dan mata menatap lurus ke depan, punggung
menempel pada alat pengukur panjang pada tembok/dinding
tegak lurus. Untuk bayi atau anak yang belum bisa berdiri,
pengukuran dilakukan dalam posisi terlentang.
Berat badan menurut tinggi badan
Rasio BB/TB sangat penting dan lebih akurat dalam
penilaian status gizi karena mencerminkan proporsi tubuh
serta dapat membedakan antara wasting dan stunting atau
perawakan pendek. Indeks pada anak perempuan hanya
sampai 135 cm dan anak laki-laki sampai TB 145 cm dan
setelah itu rasio BB/TB tidak begitu banyak berarti karena
adanya percepatan tumbuh. Indeks ini tidak memerlukan
faktor umur.
Lingkaran kepala
Lingkar kepala dipengaruhi oleh status gizi anak sampai usia
36 bulan. Pengukuran rutin dilakukan untuk menjaring
kemungkinan adanya penyebab lain yang dapat
mempengaruhi pertumbuhan otak. Pengukuran dilakukan
dengan pita pengukur yang tidak melar, tepat diatas supra
orbita pada bagian yang paling menonjol dan melalui oksiput
sehingga didapat nilai lingkar kepala yang maksimal.
Lingkar lengan atas
Pemeriksaan ini digunakan pada anak 1-5 tahun, dan sudah
dapat menunjukkan status gizi anak. Pengukuran dilakukan
pada lengan kiri, pertengahan akromion dan olekranon,
menggunakan pita pengukur yang tidak melar atau pita
khusus (WHO/CARE) yang diberi warna hijau (> 12,5 cm),
kuning (11,5-12,5 cm) dan merah (<11,5 cm).
Pemeriksaan Antropometris
Antropometris secara umum digunakan untuk melihat
ketidakseimbangan asupan protein dan energi.
Ketidakseimbangan ini terlihat pada pola pertumbuhan fisik
dan proporsi jaringan tubuh seperti lemak, otot, dan jumlah
air dalam tubuh. Penilaian antropometris yang penting
dilakukan adalah penimbangan berat dan pengukuran tinggi
badan, lingkar lengan dan lipatan kulit trispe. Pemeriksaan
ini penting terutama pada anak yang berkelas ekonomi dan
sosial rendah. Pengamatan anak dipusatkan terutama pada
percepatan pertumbuhan. Antropometri adalah pengukuran
berbagai dimensi fisik tubuh manusia pada berbagai usia .
pengukuran dilakukan untuk mendapatkan nilai/data mentah
pada seorang individu , misalnya umur, BB, TB, UA, IK dan
sebagainya. Indeks merupakan indikai hasil pengukuran
misalnya BB/U, TB/U, dan sebagainya. Indikator adalah cut-
off points untuk suatu indeks.

H. Penatalaksanaan Medis
Deteksi Dini Penyimpangan Tumbuh Kembang Anak
1. Menimbang berat badan dan mengukur tinggi badan anak di
posyandu atau puskesmas.
2. Mencatat berat badan anak dalam KMS (kartu menuju sehat)
3. Membaca kecenderungan berat badan anak pada KMS,
meliputi :
jika berat badan naik dibanding bulan lalu lebih cepat
dari garis baku disebut N 1 (tumbuh kejar)
jika berat badan naik dibanding bulan lalu sesuai
dengan garis baku disebut N 2 (tumbuh normal)
jika berat badan naik dibanding bulan lalu lebih
lambat dibanding garis baku disebut T1 (tumbuh tidak
memadai)
jika berat badan tetap dibanding bulan lalu sehingga
garis pertumbuhan mendatar disebut T2 (tidak
tumbuh)
jika berat badan dibanding bulan lalu turun sehingga
garis pertumbuhan turun disebut T3 ( tumbuh negatif)
4. Melakukan pemeriksaan adanya tanda bahaya, yang
meliputi : adanya renjatan atau syok, keadaan tidak sadar
atau letargis serta adanya muntah/diare/dehidrasi.
5. Melakukan pemeriksaan fisik.
6. Merujuk anak apabila : ditemukan 2 kali T berturut-turut
meskipun BB di KMS masih diatas garis merah, BB
dibawah garis merah di KMS (kartu menuju sehat).
Pedoman Pemberian Makanan Balita Gizi Buruk
1. Apabila anak belum mencapai umur 2 tahun maka ASI tetap
diberikan. Bila selama dirawat anak tidak diberi ASI, maka
setelahkembali dari rawat inap anak harus tetap diberi ASI.
2. Balita gizi buruk setelah kembali dari rawat inap di
Puskesmaas /Rumah Sakit, perlu diikuti dengan
pengamatan dan perhatian terusmenerus terhadap
kesehatan dan gizi, antara lain denganpemberian makanan
yang sesuai dengan kebutuhannya.
3. Pemberian makanan sedapat mungkin dibuat dari bahan
makananyang tersedia di rumah tangga, harga murah dan
pembuatannyamudah. Disamping itu anak gizi buruk setelah
kembali dari rawatinap harus tetap mendapat vitamin A di
posyandu dua kali setahundan sirup besi.
4. Anak yang menderita gizi buruk biasanya mempunyai
masalah pada fungsi alat pencernaan, sehingga dalam
pemberianmakanannya memerlukan perhatian khusus.
Sebagai patokanyang digunakan dalam pemberian makanan
kepada anak giziburuk adalah berat badan, bukan umur.
5. Karena sebagian alat pencernaan tubuh anak yang
menderita gizi buruk belum berfungsi dengan baik, maka
bentuk makanan sampaianak mencapai berat badan 7kg
mengikuti bentuk makanan pendamping ASI (MP ASI),
berupa makanan cair, lembik dan lunak.
6. Petugas harus selalu memantau dan membina melalui
konselingdengan cara kunjungan ke rumah tangga paling
sedikit sekalidalam seminggu
7. Jika anak sudah diberi makan sesuai ketentuan, tetapi
dalam satubulan berat badan tidak naik, anak harus segera
dirujuk kepuskesmas.
8. Jika anak sudah mencapai berat badan 7 kg dan telah
diberimakanan orang dewasa, akan tetapi berat badannya
tidak naik,maka anak harus kembali diberi makanan formula
seperti semula.
9. Dalam mempersiapkan dan memberikan makanan formula,
harus selalu dijaga kebersihannya, antara lain : mencuci
tangan sebelummemasak, alat makan harus selalu dicuci
terlebih dahulu, bahanmakanan harus dimasak, harus selalu
menggunakan air yangsudah dimasak.
10. Bila menggunakan produk hasil industri, gunakan jenis
produkmakanan bayi untuk umur 4 bulan keatas, dan untuk
anak dibawah4 bulan bila ada indikasi medis anak diberi
susu formula
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2007. Ciri-Ciri Kurang Gizi. Diakses 15 Desember


2008: Portal Kesehatan Online.
Anonim. 2008. Kalori Tinggi Untuk Gizi Buruk. Diakses 15
Desember 2008: Republika Online.
Nency, Y. 2005. Gizi Buruk, Ancaman Generasi Yang
Hilang. Inpvasi Edisi Vol. 5/XVII/ November 2005: Inovasi
Online.
Beck, Mary E. 2000. Ilmu Gizi dan Diet Hubungannya
dengan Penyakit-penyakit untuk Perawat dan Dokter.
Jakarta : Yayasan Essentia Medico
Nuchsan .A, 2002, Penatalaksanaan Busung lapar pada
balita, Cermin Dunia Kedokteran no. 134, 2002 : 10-11