Anda di halaman 1dari 17

Jur. Ilm. Kel. & Kons., Januari 2011, p : 57-65 Vol. 4, No.

1
ISSN : 1907 - 6037

KUALITAS LINGKUNGAN PENGASUHAN DAN PERKEMBANGAN SOSIAL EMOSI


ANAK USIA BALITA DI DAERAH RAWAN PANGAN

Dwi Hastuti1*), Dinda Yourista Ike Fiernanti1, Suprihatin Guhardja1

1
Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen, Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor,
Bogor 16680, Indonesia

*)
E-mail: tutimartianto@yahoo.com

Abstrak

Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis alokasi sumber daya keluarga, kualitas lingkungan
pengasuhan, dan perkembangan sosial emosi anak usia 2-5 tahun di daerah rawan pangan Banjarnegara.
Penelitian ini melibatkan 300 keluarga yang dipilih secara acak. Data dikumpulkan melalui pengamatan dan
wawancara. Kualitas lingkungan pengasuhan diukur dengan menggunakan instrumen HOME, sementara data
perkembangan sosial emosi anak diukur dengan menggunakan instrumen Vineland Social Maturity Scale. Data
dianalisis secara deskriptif dan uji korelasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas lingkungan pengasuhan
yang diberikan oleh orang tua termasuk dalam kategori rendah. Perkembangan sosial emosi anak berhubungan
dengan tingkat pendidikan ibu, usia anak, pengeluaran keluarga, dan kualitas lingkungan pengasuhan. Kualitas
lingkungan pengasuhan adalah faktor yang paling terkait dengan perkembangan sosial emosi anak. Oleh karena
itu, kualitas lingkungan pengasuhan adalah aspek yang sangat penting untuk ditingkatkan. Kualitas lingkungan
pengasuhan berhubungan dengan tingkat pendidikan ibu, usia anak, pengeluaran keluarga, alokasi pengeluaran
keluarga untuk pangan dan nonpangan, dan alokasi untuk pendidikan.

Psychosocial Stimulation and Social-Emotional Development of Under Five Children


in the Food Insecurity Area

Abstract

The objective of this research was to analyze family resources allocation, psychosocial stimulation, and
social emotional development of child aged 2-5 years in Banjarnegaras food insecure area. This research
involved 300 families that were selected randomly. Data collected by observation and interview. Psychosocial
stimulation were measured by using the HOME instrument, while social emotional development were determined
by using Vineland Social Maturity Scale instrument. Data was analyzed by descriptive and correlation analysis.
Results showed that psychosocial stimulations were categorized as low. Childrens social emotional development
correlated significant with mothers education level, childrens age, familys expenditures, and psychosocial
stimulation. Psychosocial stimulation was the most associated factor to the childrens social-emotional
developments. Therefore, psychosocial stimulations was very important aspect to be improved. Psychosocial
stimulations were correlated to mothers educational level, childrens age, familys expenditures, allocation for
food and nonfood expenditures, and allocation for educational matter.

Keywords: food insecure, psychosocial stimulation, social emotional development, under five years old children

PENDAHULUAN kualitas untuk kehidupan dalam waktu yang


lama dan menentukan kesehatan jangka
Menurut Megawangi (2007) terdapat panjang. Pemberian stimulasi sosial emosi
faktor penunjang kesuksesan seseorang, pada anak tidak terlepas dari peran
diantaranya adalah kecerdasan kognitif, pengasuhan psikososial yang dilakukan oleh
sedangkan yang lainnya adalah kematangan keluarga. Keluarga merupakan lingkungan yang
sosial emosi. Kematangan sosial emosi ini paling dekat dan langsung dimana kegiatan
dibutuhkan oleh individu untuk dapat harian anak dan interaksi anak berlangsung
menanggulangi tekanan-tekanan dan tidak secara intensif (Hastuti, 2009).
mudah frustasi dengan keadaan yang ada
disekitarnya. Kematangan sosial emosi harus Krisis ekonomi yang dialami Indonesia
ditanamkan sejak dini. Patmonodewo (2001) sejak Tahun 1997 meningkatkan jumlah
menyatakan bahwa pemberian stimulasi yang keluarga yang hidup di bawah garis
dilakukan pada tahun-tahun pertama sejak kemiskinan. Menurut Syarif (1997) kemiskinan
kelahiran anak dapat memberikan dasar sangat rentan dengan kerawanan pangan dan
58 HASTUTI, FIERNANTI, & GUHARDJA Jur. Ilm. Kel. & Kons.

pemenuhan akan kebutuhannya. Hal ini akan METODE


mempengaruhi kemampuan keluarga dalam
menciptakan sumber daya manusia yang Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten
berkualitas. Diduga bahwa keluarga yang Banjarnegara, Jawa Tengah yang dipilih secara
rawan pangan memberikan kualitas purposive dengan pertimbangan bahwa daerah
pengasuhan yang lebih buruk, dan hal ini akan Banjarnegara termasuk dalam daerah yang
beresiko pada anak usia bawah lima tahun, rawan pangan pada peta kerawanan pangan
terutama usia 2-5 tahun mengingat masa kritis Indonesia. Pengumpulan data dilakukan
perkembangan anak terjadi pada usia ini. selama 2 bulan, yaitu pada bulan Februari
sampai dengan bulan Maret 2009.
Salah satu perkembangan yang harus
Penelitian ini dilakukan di dua kecamatan
dicapai anak adalah perkembangan sosial
yaitu Kecamatan Pejawaran dan Kecamatan
emosi. Faktor-faktor yang berhubungan dengan
Punggelan. Kecamatan ini dipilih secara
perkembangan sosial emosi anak diperoleh dari purposive berdasarkan jumlah penduduk miskin
lingkungan keluarga. Keluarga merupakan pada peta kerawanan pangan Kabupaten
lingkungan pertama bagi anak untuk belajar Banjarnegara tahun 2007 oleh Dinas Pertanian
(Gunarsa & Gunarsa, 2007). Melalui lingkungan Kabupaten Banjarnegara. Selanjutnya, dipilih
sosial yang diperoleh dari keluarga, anak akan tiga desa dari tiap kecamatan berdasarkan
mendapatkan kualitas lingkungan pengasuhan jumlah balita terbanyak dan atas saran dari
sehingga anak dapat belajar mengenal dinas kesehatan dan posyandu setempat.
lingkungan alam sekitar. Anak yang men- Setiap desa ditarik responden sebanyak 50
dapatkan stimulasi yang terarah dan teratur keluarga dengan menggunakan teknik simple
akan lebih cepat berkembang dibanding random sampling sehingga total responden
dengan anak yang kurang atau tidak men- dalam penelitian ini adalah 300 keluarga.
dapatkan stimulasi. Kualitas lingkungan
Data yang dikumpulkan berupa data
pengasuhan yang diperoleh anak berhubungan
primer dan data sekunder. Data primer meliputi
dengan karakteristik anak dan karakteristik karakteristik keluarga, karakteristik anak,
keluarga (Priatini, Latifah, & Guhardja, 2004). sumber daya keluarga, kualitas lingkungan
Selain itu, kualitas lingkungan pengasuhan pengasuhan, dan perkembangan sosial emosi.
berhubungan signifikan dengan alokasi sumber Data primer dikumpulkan melalui pengamatan
daya keluarga. dan wawancara dengan bantuan kuesioner.
Data sekunder meliputi keadaan umum lokasi
Keluarga dengan sumber daya yang penelitian dan jumlah balita yang diperoleh dari
memadai diharapkan dapat mengalokasikan kantor kecamatan, kelurahan, dan posyandu.
sumber daya yang dimiliki dengan tepat,
termasuk dalam pemberian kualitas lingkungan Karakteristik keluarga terdiri atas usia
pengasuhan dengan anaknya. Hastuti (2007) orang tua, pendidikan orang tua, pekerjaan
menyatakan bahwa orang tua dengan sumber orang tua, besar keluarga, dan pengeluaran
keluarga. Usia orang tua dikelompokkan dalam
daya yang memadai, lingkungan keluarga yang
empat kategori yaitu 12-20 tahun, 21-40 tahun,
mendukung, serta karakteristik dasar anak 41-65 tahun, dan 66 tahun. Pendidikan orang
yang baik, maka peluang anak untuk mencapai tua diukur berdasarkan lama sekolah yang
kompetensi sosial emosi lebih tinggi. ditempuh orang tua. Besar keluarga diukur
Sebaliknya orang tua yang memiliki sumber berdasarkan jumlah anggota keluarga.
daya yang terbatas, dukungan lingkungan yang Pengeluaran keluarga dihitung berdasarkan
tidak memadai, serta karakteristik anak yang pengeluaran keluarga per kapita per bulan dan
sulit, maka peluang untuk menumbuhkan dikategorikan dalam tiga kategori yaitu rendah
kematangan sosial emosi anak menjadi rendah. (pengeluaran keluarga per kapita per bulan
Berdasarkan pemaparan tersebut, penelitian ini Rp50.000,00), sedang (pengeluaran keluarga
bertujuan untuk menganalisis kualitas per kapita per bulan Rp50.001,00 hingga
lingkungan pengasuhan dan perkembangan Rp100.000,00), dan tinggi (pengeluaran
keluarga per kapita per bulanRp100.001,00).
sosial emosi anak usia bawah lima tahun (2-5
Sementara itu, karakteristik anak terdiri atas
tahun) di daerah rawan pangan. Selain itu,
usia dan jenis kelamin. Berdasarkan jenis
penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kelamin, anak dibedakan menjadi anak laki-laki
hubungan karakteristik keluarga dan kualitas dan anak perempuan. Berdasarkan usia, anak
lingkungan pengasuhan dengan perkembangan dikelompokkan dalam tiga kategori yaitu usia
sosial emosi anak. 24-36 bulan, 37-48 bulan, dan 49-50 bulan.

Vol. 4, 2011 PENGASUHAN DAN PERKEMBANGAN SOSIAL EMOSI ANAK USIA BALITA 59

Sumber daya keluarga yang diukur adalah HASIL


sumber daya materi yang terdiri atas aset
keluarga dan pendapatan. Pendapatan didekati Karakteristik Keluarga. Secara umum,
dengan pengeluaran keluarga. Pengeluaran karakteristik keluarga di Kecamatan Pejawaran
keluarga yang diukur adalah pengeluaran per sedikit berbeda dari karakteristik keluarga di
kapita dan alokasi pengeluaran keluarga untuk Kecamatan Punggelan. Perbedaan terlihat
pangan dan nonpangan. Sementara itu, aset pada lama pendidikan dan besarnya
keluarga dikategorikan berdasarkan kepemilik- pengeluaran keluarga per kapita per bulan.
an rumah, lahan, hewan ternak, dan alat/ Rata-rata lama pendidikan baik ayah maupun
barang berharga. ibu di Kecamatan Punggelan relatif lebih tinggi
daripada di Kecamatan Pejawaran (Tabel 1).
Kualitas lingkungan pengasuhan diukur Jika dilihat dari garis kemiskinan Kabupaten
dengan menggunakan instrumen HOME Banjarnegara tahun 2008, yaitu sebesar
Observation for Measurement of the Rp146.531,00 kedua kecamatan termasuk ke
Environment Inventory (HOME Inventory). dalam kategori daerah miskin. Dibandingkan
Instrumen HOME terdiri atas 45 pertanyaan antara dua lokasi rata-rata pengeluaran
untuk usia 0-3 tahun yang terbagi atas enam keluarga di Kecamatan Punggelan lebih tinggi
subskala, yaitu tanggap rasa dan kata, daripada di Kecamatan Pejawaran (Tabel 1).
penerimaan terhadap perilaku anak, peng-
organisasian lingkungan, penyediaan mainan, Kondisi sosial ekonomi keluarga secara
keterlibatan ibu terhadap anak, dan nasional diukur melalui pendapatan. Akan
kesempatan variasi asuhan. tetapi dalam penelitian ini, data tentang
pendapatan keluarga yang akurat sulit didapat,
Instrumen HOME Inventory untuk usia 3-6 sehingga kondisi sosial ekonomi keluarga
tahun terdiri atas 55 pertanyaan dan terbagi diukur dengan menggunakan pendekatan
dalam delapan subskala, yaitu stimulasi belajar, pengeluaran. Pengeluaran keluarga terbagi
stimulasi bahasa, lingkungan fisik, kehangatan menjadi pengeluaran untuk pangan dan
dan penerimaan, stimulasi akademik, modeling, nonpangan. Berdasarkan garis kemiskinan
variasi stimuli kepada anak, dan hukuman. Kabupaten Banjarnegara tahun 2008
Instrumen yang digunakan telah reliabel (Rp146.531,00), kedua kecamatan termasuk ke
dengan nilai Cronbachs alpha sebesar 0,697 dalam kategori keluarga miskin. Secara umum,
(HOME usia 0-3 tahun) dan 0,839 (HOME usia rata-rata pengeluaran keluarga di Kecamatan
3-5 tahun). Kualitas lingkungan pengasuhan Punggelan lebih tinggi daripada di Kecamatan
dikategorikan dalam tiga kategori yaitu rendah Pejawaran. Kondisi ini menunjukkan bahwa
(60%), sedang (61-80%), dan tinggi (80%). sosial ekonomi keluarga di Kecamatan
Punggelan relatif lebih tinggi, begitu juga
Perkembangan sosial emosi anak diukur dengan tingkat pendidikannya. Sebaran
dengan menggunakan instrumen Vineland responden berdasarkan karakteristik keluarga
Social Maturity Scale. Perkembangan sosial disajikan pada Tabel 1.
emosi yang diukur meliputi kemandirian umum
(self help general), kemandirian berpakaian Tabel 1 Nilai rata-rata dan standar deviasi
(self help dressing), kemandirian makan (self berdasarkan karakteristik keluarga
help eating), kemandirian beraktifitas Karak- Rata-rata standar deviasi
(occupation), berkomunikasi (communication), teristik
bergerak (locomotion), dan sosialisasi keluar- Pejawaran Punggelan Total
(socialization). Instrumen yang digunakan telah ga
reliabel dengan nilai Cronbachs alpha sebesar Usia (tahun)
0,647 untuk usia 2-3 tahun, 0,785 untuk usia Ayah 34,77,3 34,87,4 34,77,3
3-4 tahun, dan 0,605 untuk usia 4-5 tahun. Ibu 29,96,6 30,07,1 30,06,8
Perkembangan sosial emosi dikategorikan Lama pendidikan (tahun)
dalam tiga kategori yaitu rendah (60%), Ayah 5,72,4 7,13,2 6,42,9
sedang (61-80%), dan tinggi (80%). Ibu 5,91,9 7,62,8 6,82,5
Besar
Data yang telah dikumpulkan diolah dan keluar- 4,71,4 4,51,4 4,61,4
dianalisis. Analisis data yang digunakan adalah ga
analisis deskriptif dan statistik inferensial. Pengeluaran (Rp/kpt/ bln)
Analisis statistik yang digunakan adalah uji Total 54.645,22 96.427,94 75.536,58
korelasi Spearman. Uji ini digunakan untuk Pangan 32.235,28 53.870,02 43.052,65
menganalisis hubungan antarvariabel dalam Non-
pangan 22.409,95 42.557,92 32.483,93
penelitian ini.

60 HASTUTI, FIERNANTI, & GUHARDJA Jur. Ilm. Kel. & Kons.

Sumber daya keluarga adalah alat yang Tabel 2 Rata-rata pengeluaran keluarga per
tersedia dalam keluarga yang dapat digunakan kapita per bulan
untuk menyelesaikan masalah. Guhardja et al. Pengel Pejawaran Punggelan
(1992) menyatakan bahwa aset merupakan uaran Rp % Rp %
sumber daya keluarga yang dapat digunakan
Pangan
untuk membantu menyelesaikan masalah
Makan
dalam keluarga. Aset adalah kekayaan dan an 8.718,49 16,0 17.728,00 18,4
ruang milik keluarga yang berupa rumah, lahan pokok
(sawah, kebun, pekarangan, dan kolam), Lauk 8.400,28 15,4 10.763,39 11,2
ternak, dan barang berharga lainnya yang
Sayur 558,24 1,0 3.174,84 3,3
dapat ditukarkan dengan uang ketika di-
Buah 830,07 1,5 1.343,08 1,4
butuhkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
sebagian besar dari responden (78,3%) telah Bumbu 5.125,01 9,4 7.980,18 8,3
memiliki rumah sendiri. Aset lahan terbagi Minum
1.664,07 3,0 4.739,27 4,9
an
menjadi lahan sawah, kebun dan tegalan,
pekarangan dan kolam. Responden yang Jajanan 6.939,12 12,7 8.168,26 8,5
memiliki lahan sawah sebanyak 9 persen. subtotal 32.235,28 59,0 53.870,02 55,9
Sebanyak 75,3 persen penduduk memilki lahan Nonpangan
kebun dan tegalan. Selanjutnya, untuk Pendidi
3.331,89 6,1 7.132,34 7,4
responden yang memiliki lahan pekarangan kan
sebanyak 24 persen dan kolam sebanyak 12,7 Peruma
persen. han &
4.830,73 8,8 6.354,20 6,6
bahan
bakar
Beberapa responden memiliki hewan
ternak, diantaranya adalah ayam atau unggas Transp
3.272,50 6,0 6.297,59 6,5
ortasi
(44,3%), kambing (37,7%), dan sapi atau
kerbau (8,3%). Beberapa alat dan barang Pakai-
2.871,39 5,3 2.755,72 2,9
an
berharga lainnya yang dimiliki oleh responden
Keseha
adalah televisi (75,7%), perhiasan emas (48%), 2.921,92 5,3 5.653,24 5,9
tan
radio (44%), handphone (31,7%), motor
Sosial,
(29,3%), VCD (23,7%), dan beberapa barang 1.410,79 2,6 7.547,77 7,8
pajak
berharga lainnya. Berdasarkan garis
Temba
kemiskinan Kabupaten Banjarnegara, hampir
kau & 3.344,62 6,1 5.266,13 5,5
seluruh responden adalah keluarga miskin. rokok
Akan tetapi, aset yang dimiliki keluarga cukup pulsa 426,11 0,8 1.550,93 1,6
banyak sehingga keluarga dapat menggunakan
subtotal 22.409,95 41,0 42.557,92 44,1
aset untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
total 54.645,22 100 96.427,94 100
Jumlah anak dalam penelitian ini adalah min 14.785,00 14.195,00
300 anak, yang terdiri dari 135 anak laki-laki mak 380.262,00 780.192,00
dan 165 anak perempuan. Proporsi jumlah Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-
anak pada setiap kelompok usia hampir sama, rata pengeluaran keluarga adalah Rp75.536,58
yaitu 36,7% pada kelompok usia 24-36 bulan, per kapita per bulan. Lebih dari separuh
33,7% pada kelompok 37-48 bulan dan 29,7% pengeluaran keluarga (57%) dikeluarkan untuk
terdapat kelompok usia 49-60 bulan. Rata-rata memenuhi kebutuhan pangan, dan sisanya
usia anak dalam penelitian ini adalah 41,1 (43%) digunakan untuk kebutuhan nonpangan.
bulan. Alokasi pengeluaran pangan terbesar di-
alokasikan untuk makanan pokok (17,5%)
Alokasi Pengeluaran Keluarga. dengan rata-rata pengeluaran per kapita per
Pengeluaran keluarga terdiri atas pengeluaran bulan sebesar Rp13.223,24 (Tabel 2).
untuk pangan dan nonpangan. Pengeluaran Sementara itu, alokasi pengeluaran nonpangan
untuk pangan terdiri atas pengeluaran untuk terbesar (7,4%) dialokasikan untuk perumahan
makanan pokok, lauk, sayur-mayur, buah- dan bahan bakar, yaitu sebesar Rp5.592,47 per
buahan, bumbu dapur, minuman, dan jajanan. kapita per bulan. Besarnya alokasi pengeluaran
Pengeluaran yang digunakan untuk pendidikan, untuk pendidikan serta untuk tembakau dan
perumahan dan bahan bakar, transportasi, rokok hampir sama, yaitu 6,9 persen untuk
pakaian, kesehatan, sosial dan pajak, pendidikan (Rp5.232,12 per kapita per bulan)
tembakau dan rokok, serta pulsa dikelompok- dan 5,7 persen untuk rokok dan tembakau
kan dalam pengeluaran nonpangan. (Rp4.305,37/kapita/bulan).

Vol. 4, 2011 PENGASUHAN DAN PERKEMBANGAN SOSIAL EMOSI ANAK USIA BALITA 61

Kualitas Lingkungan Pengasuhan. Hasil Tabel 3 juga memperlihatkan bahwa rata-


penelitian menunjukan bahwa rata-rata skor rata skor kualitas lingkungan pengasuhan yang
kualitas lingkungan pengasuhan yang dilakukan dilakukan orang tua sebesar 57,4 persen. Skor
orang tua kepada anak umur 2-3 tahun sebesar stimulasi tertinggi yang dilakukan adalah
47,8 persen (Tabel 3). Hal ini berarti bahwa stimulasi bahasa (87,3%). Hal ini menunjukkan
stimulasi yang dilakukan orang tua kepada bahwa ibu sering terlibat dengan anak dan
anak usia 2-3 tahun pada setiap skala masih mampu mengajari anak mengenal nama-nama
termasuk rendah. Skor stimulasi tertinggi yang
binatang, belajar huruf alfabet, mengucapkan
dilakukan orang tua adalah stimulasi
salam dan berterimakasih, serta memberi
keterlibatan ibu terhadap anak dengan nilai
rata-rata 62,1%. Kemudian stimulasi terendah kesempatan anak untuk berbicara dan
yang dilakukan adalah penyediaan mainan, ditanggapi.
sebesar 16,8%, yang menunjukkan bahwa
keluarga kurang mampu menyediakan mainan Sementara itu, stimulasi terendah yang
yang dapat merangsang perkembangan anak. dilakukan adalah stimulasi belajar (23,1%). Hal
ini menunjukkan keadaan lingkungan untuk
Tabel 3 Rata-rata persentase skor subskala anak dapat belajar masih rendah, seperti
HOME yang dicapai usia 2-3 tahun dan penyediaan buku untuk belajar anak, mainan
3-5 tahun untuk belajar angka, permainan yang berwarna-
Rata-ratasd warni dan yang mempunyai aturan, serta
Kualitas lingkungan
pengasuhan Pejaw Pungge pengajaran untuk berbagai bentuk geometri,
Total
aran lan warna, dan ukuran.
Usia 2-3 tahun
60,9 59,3 60,1 Perkembangan sosial emosi. Hasil
Tanggap rasa & kata
21,2 27,2 24,3 penelitian menunjukkan bahwa Perkembangan
Penerimaan terhadap 53,1 51,9 52,5 sosial emosi anak (balita) diukur berdasarkan
perilaku 11,0 10,1 10,5 Vineland Social Maturity Scale. Instrumen ini
Pengorganisasian 58,9 60,2 59,6 terdiri atas beberapa pertanyaan tentang
lingkungan 18,2 15,7 17,0 perkembangan balita yang disesuaikan
14,1 19,6 16,8 berdasarkan usianya. Rata-rata perkembangan
Penyediaan mainan
13,5 23,3 19,1 sosial emosi pada anak usia 2-3 tahun sebesar
Keterlibatan ibu 58,6 65,7 62,1 75,6 persen dan termasuk dalam kategori
terhadap anak 18,5 22,1 20,6 sedang (Tabel 4). Skor perkembangan sosial
Kesempatan variasi 41,1 32,6 36,9 emosi tertinggi yang dicapai adalah
asuhan 20,3 22,4 21,7 kemandirian berpakaian dengan nilai rata-rata
47,6 48,02 47,8 sebesar 92,1 persen dan capaian skor yang
Total
9,8 11,9 10,8 terendah (46,8%) terdapat pada kategori
Usia 3-5 tahun komunikasi.
16,8 29,2 23,1
Stimulasi belajar Tabel 4 Rata-rata dan standar deviasi
18,3 25,7 23,1
81,2 93,3 87,3 persentase skor perkembangan sosial
Stimulasi bahasa emosi pada usia 2-3 tahun
18,3 10,1 15,9
49,4 65,5 57,5 Rata-rata standar deviasi
Lingkungan fisik Skala
18,7 22,6 22,2 Pejawaran Punggelan Total
Kehangatan & peneri- 67,5 68,0 67,7 Kemandirian 89,3 88,9 89,1
maan 27,9 32,3 30,1 umum 31,2 31,7 31,3
61,7 76,3 69,1 Kemandirian 89,9 94,4 92,1
Stimulasi akademik berpakaian
34,8 23,1 30,3 21,9 16,8 19,6
56,0 59,4 57,7 Kemandirian 86,6 86,1 86,4
Modelling makan
20,9 20,4 20,6 24,2 26,5 25,3
Variasi stimulasi 45,6 51,5 48,6 Kemandirian 59,8 64,8 62,3
kepada anak 13,8 19,1 16,9 beraktivitas 26,0 23,0 24,6
87,2 86,2 86,7 43,8 50,0 46,8
Hukuman Komunikasi
19,7 19,1 19,4 25,4 25,7 25,6
53,0 61,7 57,4 73,9 77,4 75,6
Total Total
11,1 13,5 13,1 14,0 14,3 14,2

62 HASTUTI, FIERNANTI, & GUHARDJA Jur. Ilm. Kel. & Kons.

Tabel 5 Rata-rata persentase skor per- Tabel 7 Sebaran keluarga berdasarkan kategori
kembangan sosial emosi anak usia 3-4 pencapaian skor kualitas lingkungan
tahun pengasuhan dan rata-rata pencapaian
Rata-rata standar deviasi skor stimulasi psikososial menurut
Skala Pejawar Pungge- pendidikan ibu, usia anak dan
Total pengeluaran keluarga
an an
Kemandirian 98,2 97,9 98,0 Kualitas Lingkungan Rata-rata
umum 13,6 14,6 14,0 Variabel Pengasuhan (%) Standar
R S T Deviasi (%)
Kemandirian 90,7 97,9 94,0
makan 23,9 14,6 20,4 Lama pendidikan ibu (tahun)
Kemandirian 76,7 84,7 80,4 Rendah (6) 57,0 14,3 0,3 50,9 11,8
berpakaian 26,6 17,3 23,0 Sedang (7-
13,3 6,7 0,7 57,7 11,3
70,4 87,2 78,2 9)
Kemandirian
beraktivitas 28,7 20,3 26,4 Tinggi (10 ) 1,3 4,7 1,7 71,3 14,2
Kemandirian 87,0 91,5 89,1 Usia anak (bulan)
bergerak 33,9 28,2 31,3 24 36 33,33 3,3 0,0 47,7 10,8
61,1 69,1 64,9 37 48 21,7 11,0 1,0 56,3 12,8
Sosialisasi 49 60 16,7 11,3 1,7 58,8 13,3
28,6 26,7 27,9
55,6 77,7 65,8 Pengeluaran
Komunikasi
33,2 29,1 33,1 50.000 36,7 6,7 0,0 49,5 10,4
74,7 85,2 79,6 50.001
Total 25,0 9,7 0,3 54,2 12,5
19,3 12,9 17,3 100.000
100.001 10,0 9,3 2,3 62,2 14,8
Pada anak usia 3-4 tahun, rata-rata Keterangan: R: Rendah; S: Sedang; T: Tinggi
persentase skor perkembangan sosial emosi
Analisis korelasi menunjukkan bahwa
anak adalah 79,6 persen. Persentase skor
tertinggi terletak pada aspek kemandirian karakteristik keluarga dan karakteristik anak
umum (98%). Sementara itu, rata-rata yang terdiri atas lama pendidikan ibu (r=403**,
persentase skor sosial emosi anak terendah p=0,000), usia anak (r=0,353**, p=0,000), dan
(64,9%) terletak pada aspek sosialisasi. Rata- pengeluaran keluarga (r=0,371**, p=0,000)
rata persentase skor perkembangan sosial berhubungan signifikan dengan kualitas
emosi anak pada usia 3-4 tahun (Tabel 5). lingkungan pengasuhan. Sementara itu, usia
ibu, besar keluarga, dan jenis kelamin anak
Rata-rata skor perkembangan sosial emosi tidak berhubungan signifikan dengan kualitas
pada anak usia 4-5 tahun adalah 78,4 persen lingkungan pengasuhan.
(Tabel 6). Mayoritas perkembangan anak-anak
dalam bergerak (locomotion/L) cukup tinggi
Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa
dengan persentase skor sebesar 91,6 persen.
Akan tetapi kemandirian anak dalam hal kualitas lingkungan pengasuhan semakin
berpakaian menunjukkan proporsi yang meningkat diiringi dengan usia anak yang
terendah (68,3%). Hal ini menunjukkan bahwa semakin matang (Tabel 7). Hasil uji korelasi
kemandirian berpakaian anak kelompok usia 4- Spearman yang telah dilakukan menunjukkan
5 tahun pada penelitian ini masih kurang baik. terdapat hubungan yang signifikan antara usia
anak dengan kualitas lingkungan pengasuhan
Tabel 6 Rata-rata persentase skor per- (r=0,355**, p=0,000). Tabel 7 juga
kembangan sosial emosi anak usia menunjukkan bahwa pengeluaran responden
4-5 tahun rendah maka kualitas lingkungan pengasuhan
Rata-rata sd yang diberikan juga rendah. Jika pengeluaran
Skala
Pejawaran Punggelan Total responden naik dalam kategori tinggi, maka
Kemandirian kualitas lingkungan pengasuhan yang diberikan
100,00,0 57,150,0 76,442,7
umum
juga tinggi. Hal ini menunjukkan adanya
Kemandirian
berpakaian
65,029,9 70,921,3 68,325,5 hubungan antara pengeluaran dan kualitas
Kemandirian lingkungan pengasuhan. Hasil penelitian ini
73,833,9 84,723,3 79,828,9 diperkuat dengan uji korelasi yang
beraktivitas
Kemandirian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang
85,028,2 96,915,4 91,622,9
bergerak signifikan (r=0,371**, p=0,000) antara
Sosialisasi 75,023,6 89,115,8 82,820,8 pengeluaran dan kualitas lingkungan
Total 75,218,2 81,012,9 78,415,7 pengasuhan.

Vol. 4, 2011 PENGASUHAN DAN PERKEMBANGAN SOSIAL EMOSI ANAK USIA BALITA 63

Tabel 8 Sebaran keluarga berdasarkan kategori bahwa terdapat hubungan yang nyata antara
pencapaian skor kualitas lingkungan lama pendidikan yang ditempuh ibu dengan
pengasuhan dan rata-rata pencapaian perkembangan sosial emosi anak (r=0,224**,
skor menurut alokasi sumber daya p=0,000). Tabel 9 juga menunjukkan bahwa
keluarga terdapat kecenderungan yang menunjukkan
Kualitas lingkungan Rata-rata semakin tinggi usia anak, perkembangan sosial
Kategori pengasuhan (%) Standar emosi pun akan semakin tinggi. Uji korelasi
R S T Deviasi (%) Spearman menunjukkan adanya hubungan
Pengeluaran Pangan yang nyata antara usia anak dengan
Rendah 49,7 11,7 0,0 51,010,7
perkembangan sosial emosi (r=0,237**,
p=0,000). Tabel 9 juga memperlihatkan bahwa
Tinggi 22,7 14,0 2,7 58,515,2
perkembangan sosial emosi anak meningkat
Pengeluaran Nonpangan seiring dengan meningkatnya pengeluaran per
Rendah 55,3 13,3 0,0 50,611,2 kapita keluarga. Hasil uji korelasi Spearman
Tinggi 16,3 12,3 2,7 61,014,1 menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang
Pengeluaran Pendidikan positif dan signifikan antara pengeluaran per
Rendah 60,3 16,0 0,7 52,111,7 kapita keluarga dengan perkembangan sosial
Tinggi 11,3 9,7 2,0 59,715,7 emosi anak (r=0,213**, p=0,000).
Keterangan: R: Rendah; S: Sedang; T: Tinggi

Alokasi pengeluaran pangan berhubungan Hasil penelitian pada Tabel 9 menunjukkan


dengan pemberian kualitas lingkungan bahwa semakin tinggi kualitas lingkungan
pengasuhan oleh ibu. Hasil penelitian pengasuhan yang diberikan ibu, maka rata-rata
menunjukkan bahwa semakin tinggi alokasi persentase skor perkembangan sosial
pengeluaran pangan maka kualitas lingkungan emosinya juga semakin tinggi. Hal ini ditunjang
pengasuhan juga tinggi. Begitu juga sebaliknya, oleh uji korelasi. Hasil uji korelasi Spearman
apabila pengeluaran untuk pangan rendah menunjukkan adanya hubungan yang nyata
maka kualitas lingkungan pengasuhan yang positif antara kualitas kualitas lingkungan
diberikan oleh ibu pun rendah (Tabel 8). pengasuhan pada anak terhadap
Setelah dilakukan uji korelasi Spearman dapat perkembangan sosial emosi balita (r=0,349**,
dilihat bahwa terdapat hubungan yang p=0,000).
signifikan dan positif antara pengeluaran
pangan dengan kualitas lingkungan Tabel 9 Sebaran keluarga berdasarkan
pengasuhan (r=0,328**, p=0,000). kategori, rata-rata, dan standar deviasi
pencapaian skor perkembangan sosial
Hasil uji korelasi Spearman menunjukkan emosi menurut pendidikan ibu, usia
bahwa terdapat hubungan yang signifikan dan anak, pengeluaran keluarga, dan
positif antara kualitas lingkungan pengasuhan kualitas lingkungan pengasuhan
Kategori (%) Rata-rata
dengan pengeluaran nonpangan (r=0,384**;
Variabel Standar
p=0,000). Hal ini menunjukkan bahwa semakin R S T
Deviasi (%)
rendah alokasi pengeluaran nonpangan, maka
Lama pendidikan ibu (tahun)
semakin rendah pula kualitas lingkungan
pengasuhan yang diberikan. Semakin tinggi Rendah ( 6) 12,7 28,7 30,3 75,716,5
alokasi pengeluaran nonpangan, semakin tinggi Sedang (7-9) 1,0 8,3 11,3 81,911,7
pula kualitas lingkungan pengasuhan yang Tinggi (10 ) 0,3 1,3 6,0 86,014,2
diberikan. Pada Tabel 8 dapat dilihat bahwa Usia anak (bulan)
pada pengeluaran pendidikan rendah, kualitas 24-36 7,3 30,7 8,7 75,614,2
lingkungan pengasuhan yang diberikan juga 37-48 2,7 9,3 21,7 79,617,3
rendah. Pada kualitas lingkungan pengasuhan 49-60 4,0 8,3 17,3 78,415,7
yang tinggi terdapat kecenderungan bahwa Pengeluaran
alokasi pengeluaran pendidikan juga tinggi. 50.000 7,7 18,7 17,0 75,216,0
Setelah dilakukan uji korelasi Spearman 50.001
menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang 4,0 13,3 17,7 79,216,0
100.000
signifikan dan positif antara pengeluaran 100.001 2,3 6,3 13,0 80,614,4
pendidikan dengan kualitas lingkungan
Kualitas lingkungan pengasuhan
pengasuhan (r=0,134*, p=0,020).
Rendah
12,7 33,0 26,0 74,916,1
(60)
Hasil penelitian terlihat bahwa semakin
Sedang (61-
tinggi pendidikan ibu, semakin baik pula 80)
1,3 5,0 19,3 84,812,6
perkembangan sosial emosi anak (Tabel 9).
Tinggi (81) 0,0 0,3 2,3 87,87,6
Hasil uji korelasi Spearman menunjukkan Keterangan: R: Rendah; S: Sedang; T: Tinggi

64 HASTUTI, FIERNANTI, & GUHARDJA Jur. Ilm. Kel. & Kons.

emosi. Hasil penelitian ini diperkuat oleh


PEMBAHASAN
Hurlock (1998) yang menyatakan bahwa anak
dengan usia yang lebih matang menjadi
Hasil analisis korelasi menunjukkan
semakin mandiri dan mempunyai jaringan
adanya hubungan yang sangat signifikan sosial lebih luas dan ketergantungan terhadap
antara lama pendidikan ibu dengan kualitas sosok seorang ibu pun mulai berkurang.
lingkungan pengasuhan. Hal ini sesuai
berbagai penelitian yang diungkapkan Myers
Hasil uji korelasi Spearman menunjukkan
(1990) maupun Engel et al. (1997) bahwa
bahwa terdapat hubungan yang positif dan
orang tua yang berpendidikan tinggi akan lebih
signifikan antara pengeluaran per kapita
dapat menerima dengan mudah pengetahuan
keluarga dengan perkembangan sosial emosi
dan akses pengetahuan termasuk mengenai
anak. Hasil penelitian ini selaras dengan
cara pengasuhan anak.
penelitian yang dilakukan oleh Ambardati
(2007) yang menyatakan bahwa keadaan
Hasil uji korelasi Spearman yang telah ekonomi keluarga berhubungan positif dan
dilakukan menunjukkan terdapat hubungan
signifikan dengan perkembangan sosial emosi
yang signifikan antara usia anak dengan anak. Hal ini secara tak langsung memper-
kualitas lingkungan pengasuhan. Hasil lihatkan bahwa keluarga dengan status sosial
penelitian ini diperkuat oleh Hurlock (1998),
ekonomi yang lebih tinggi dapat menyediakan
yang menyatakan bahwa anak yang lebih muda lebih banyak aneka alat permainan dan mem-
cenderung memperlihatkan emosinya hanya berikan pilihan aktivitas yang dapat menunjang
dengan menjerit dan menangis sehingga lebih
perkembangan anak.
menyulitkan ibu dalam mengasuh. Sementara
itu, dangkan reaksi anak yang lebih tua
Hubungan yang nyata positif ditemukan
cenderung lebih matang sehingga lebih mudah
antara kualitas kualitas lingkungan pengasuhan
bagi ibu untuk memberikan stimulasi.
pada anak terhadap perkembangan sosial
emosi balita. Hasil penelitian ini sesuai dengan
Alokasi pengeluaran keluarga ditemukan Gunarsa dan Gunarsa (2007) bahwa
ber-hubungan dengan pengasuhan. Hal ini
perkembangan sosial emosi akan semakin baik
selaras dengan hasil penelitian Akmal (2004) apabila semakin banyak stimulasi dari
yang menyatakan bahwa alokasi pendapatan lingkungan yang diterima oleh anak. Penelitian
dan pengeluaran keluarga berhubungan
yang dilakukan Hastuti et al. (2010) di daerah
signifikan dengan pengasuhan. Hasil penelitian Kabupaten Bogor terhadap anak usia 2-6 tahun
ini diperkuat dengan uji korelasi Spearman juga menunjukkan adanya hasil yang konsisten
yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan dengan penelitian ini.
yang signifikan antara pengeluaran dan kualitas
lingkungan pengasuhan. Hasil penelitian ini
SIMPULAN DAN SARAN
sesuai dengan pernyataan Priatini et al. (2004)
bahwa kondisi ekonomi sebagai latar belakang
Kualitas kualitas lingkungan pengasuhan
keluarga penting dalam pengasuhan anak
secara umum yang diberikan orang tua pada
mengingat pada keluarga ekonomi rendah,
usia 2-5 tahun termasuk dalam kategori rendah,
kepala keluarga (ayah) harus bekerja lebih
terutama dalam penyediaan mainan, alat bantu
keras, bahkan ibu pun ikut bekerja mencari
stimulasi serta aktivitas ibu bersama anak untuk
penghasilan tambahan agar kebutuhan
mendorong perkembangannya. Perkembangan
keluarga terpenuhi. Kondisi ini memungkinkan
sosial emosi berhubungan signifikan dan positif
mood dan perilaku orang tua dalam mengasuh
dengan lama pendidikan ibu, usia anak,
anaknya terpengaruh.
pengeluaran keluarga, dan kualitas lingkungan
pengasuhan. Kualitas lingkungan pengasuhan
Hasil uji korelasi Spearman menunjukkan
merupakan faktor yang berhubungan paling
bahwa terdapat hubungan yang nyata antara
kuat dengan perkembangan sosial emosi anak.
lama pendidikan yang ditempuh ibu dengan
perkembangan sosial emosi anak. Hal ini
Oleh karenanya, penelitian ini me-
selaras dengan pernyataan Hartoyo dan Hastuti
nyarankan perlu adanya peningkatan kualitas
(2004) yang menyatakan orang tua yang
lingkungan pengasuhan dan pelatihan kepada
berpendidikan lebih tinggi pada umumnya lebih
keluarga khusus ibu. Dengan cara ini
dapat memberikan stimulasi lingkungan (fisik,
diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan
sosial, emosional, dan psikologis) bagi anak-
ibu mengenai pengasuhan yang berkualitas
anaknya dibandingkan dengan orang tua
dan peng-alokasian sumber daya yang tepat,
berpendidikan rendah. Uji korelasi Spearman
sehingga keluarga dapat mengalokasikan
menunjukkan adanya hubungan yang nyata
pengeluaran keluarganya dengan tepat dan
antara usia anak dengan perkembangan sosial

Vol. 4, 2011 PENGASUHAN DAN PERKEMBANGAN SOSIAL EMOSI ANAK USIA BALITA 65

mampu memberikan stimulasi yang memadai Hurlock, E. B. (1980). Psikologi perkembangan


untuk perkembangan anak-anaknya. anak: suatu pendekatan sepanjang
rentang kehidupan. Istiwidayanti,
DAFTAR PUSTAKA Soedjarwo, penerjemah; Silabat, R. M.,
editor. Ed ke-5. Jakarta: Erlangga.
Akmal, Z. (2004). Peranan Pola Asuh terhadap Terjemahan dari: Developmental
Tumbuh Kembang Anak Balita pada Psycology: A Life-Span Approach.
Keluarga Miskin di Kota dan Kabupaten Megawangi, R. (1993). Keluarga dan
Bogor. [skripsi]. Bogor: Institut Pertanian Peningkatan Kualitas Sumber daya
Bogor.
Manusia dalam Rangka Menyongsong
Ambardati, N. (2007). Riwayat pemberian ASI, Abad 21. Di dalam Seminar Mengisi Hari
Kualitas lingkungan pengasuhan, dan Keluarga Nasional 1993 dan
Perkembangan Sosial emosi pada anak Menyongsong Tahun Keluarga
balita yang mengkonsumsi dan tidak Internasional 1994. Bogor: Fakultas
mengkonsumsi susu [skripsi]. Bogor: Pertanian, Institut Pertanian Bogor dan
Institut Pertanian Bogor. BKKBN.
Engle, P. L., Menon, P., & Haddad, L. (1997). Myers, R. G. (1992). The Twelve Who
Care and Nutrition. Concept and Survive: Strengthening Programs of Early
Measurement. Washington: International Childhood Development in the Thirld
Food Policy Research Institute. World. Michigan : High/Scope Press.
Guhardja, S., Puspitawati, H., Hartoyo., & Patmonodewo. (2001). Bunga Rampai
Hastuti, D. (1992). Manajemen Sumber Psikologi Perkembangan Pribadi dari Bayi
daya Keluarga [diktat]. Bogor: Institut sampai Lanjut Usia. Jakarta: Universitas
Pertanian Bogor. Indonesia Press.
Gunarsa, S. D., & Gunarsa, Y. S. D. (2007). Priatini, Latifah, M., & Guhardja, S. (2004).
Psikologi untuk Keluarga. Jakarta: BPK Pengaruh Tipe Pengasuhan, Lingkungan
Gunung Mulia. Sekolah, dan Peran Teman Sepermainan
Terhadap Kecerdasan Emosional Remaja.
Hartoyo, & Hastuti, D. (2004). Perilaku Investasi Jurnal Ilmu Keluarga dan Konsumen, 1,
pada Anak Keluarga Nelayan dan 43-53.
Implikasinya terhadap Pengentasan
Kemiskinan. Bogor: Institut Pertanian Syarif, H. (1997). Membangun Sumber daya
Bogor. Manusia Berkualitas, Suatu Telaahan Gizi
Masyarakat dan Sumber daya Keluarga.
Hastuti, D., Hernawati, N., Latifah, M., Alfiasari, Orasi Ilmiah Guru Besar Ilmu Gizi
& Syarief, S. (2010). Studi Evaluasi Masyarakat dan Sumber daya Keluarga.
Program PAUD Holistik Integratif. Bogor: Bogor: Fakultas Pertanian, Institut
Departemen Ilmu Keluarga dan Pertanian Bogor.
Konsumen, Fakultas Ekologi Manusia, IPB
dengan Direktorat PAUD, Kementerian
Pendidikan Nasional.