Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Program KB di Indonesia mengalami kemajuan pesat dengan adanya bermacam macam alat
kontrasepsi antara lain pil, suntik, implan, MOW dan MOP. Pil merupakan alat kontrasepsi jangka
pendek yang cenderung lebih populer di negara maju, sedangkan IUD (Intra Uteri Device) atau AKDR
(Alat Kontrasepsi Dalam Rahim) dan sterilisasi merupakan alat kontrasepsi jangka panjang yang banyak
digunakan oleh ibu post partum di negara berkembang dengan persentase 15 23% Peserta keluarga
berencana aktif di Propinsi Jawa Timur yang menggunakan metode kontrasepsi jangka panjang (MK-JP)
yaitu AKDR (Alat Kontrasepsi Dalam Rahim), MOP/MOW, dan peserta KB non metode kontrasepsi
jangka panjang (Non MKJP) yang jenis suntik, pil, kondom, obat vagina dan lainnya yang paling banyak
memilih metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP) jenis AKDR (Alat Kontrasepsi Dalam Rahim)
sebesar 13,62%, sedangkan keluarga berencana (KB) Non MKJP yang paling banyak dipilih adalah jenis
suntik sebesar 50,84% dari 3.824.832 akseptor (Dinkes, 2011).

Data di Dinas Kesehatan Kabupaten Malang tahun 2011 menunjukkan jumlah pasangan usia
subur (PUS) sebesar 264.456, sedangkan yang menjadi peserta KB aktif sebesar 171.232 orang (83,67%).
Adapun jenis kontrasepsi yang digunakan oleh peserta KB aktif adalah suntik sebesar 661.209 orang
(50,7%), pil 329.104 orang (25,2%), AKDR (Alat Kontrasepsi Dalam Rahim) 119.459 orang (9,2%),
MOP 93.713 orang (7,2%), implan 74.496 orang (5,7%) dan kondom 25.556 orang (2,0%) (Dinkes,
2011). Sumarji Arjoso mengatakan masih rendahnya peserta keluarga berencana vasektomi dan
tubektomi, dan menurunnya KB AKDR (Alat Kontrasepsi Dalam Rahim) serta meningkatnya peserta KB
suntik dan pil. Sedangkan peserta KB dengan menggunakan kontrasepsi jangka panjang khususnya
kontrasepsi dalam rahim (AKDR) selama lima tahun terakhir mengalami penurunan, berdasarkan data
yang dihimpun sejak tahun 2007 tercatat sebanyak 5,918 peserta. Jumlah ini mengalami penurunan
hingga mencapai 4,933 peserta. Penurunan penggunaan kontrasepsi spiral dikarenakan faktor kecemasan
yang dialami oleh ibu, sehingga ibu lebih memilih metode kontrasepsi lain.

Berdasarkan studi pendahuluan pada tanggal 4 November 2017 di puskesmas Sumberpucung


Kec.Sumberpucung Kab. Malang secara wawancara dari 8 ibu didapatkan bahwa 2 ibu tidak tahu tentang
kontrasepsi AKDR, 1 ibu pengguna kontrasepsi AKDR merasa dan 2 ibu tahu tentang kontrasepsi
AKDR, 3 ibu pengguna kontrasepsi AKDR merasa cemas. Kecemasan pengguna kontrasepsi AKDR

1
mungkin dikarenakan oleh rendahnya pengetahuan akseptor terhadap pemakaian kontrasepsi AKDR.
Oleh karena itu penting untuk memberikan informasi kepada ibu tentang AKDR sehingga ibu tidak
merasakan cemas dan dapat menggunakan kontrasepsi AKDR. Berdasarkan uraian diatas, maka penulis
tertarik mengadakan penelitian dengan judul Hubungan Tingkat Pengetahuan Akseptor IUD Dengan
Kecemasan Akseptor IUD di puskesmas Sumberpucung Kec. Sumberpucung Kab. Malang.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah diatas maka permasalahan penelitian yang dapat dirumuskan
sebagai berikut Bagaimanakah Hubungan Tingkat Pengetahuan Akseptor IUD Dengan Kecemasan
Akseptor IUD di Puskesmas Sumberpucung Kab. Malang ?

1.3 Tujuan

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Hubungan Tingakat Pengetahuan Akseptor IUD
Dengan Kecemasan Akseptor IUD

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengetahuan

2.1.1 Defenisi Pengetahuan

Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalammembentuk tindakan
seseorang (overt behavior). Berdasarkan pengalamandan penelitian ternyata perilaku yang didasarkan
oleh pengetahuan akan lebihlanggeng daripada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan.
PenelitianRogers (1974) mrngungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi perilakubaru (berperilaku
baru), dalam diri orang tersebut terjadi proses yangberurutan, yang disebut AIETA, yaitu:

a. Awareness (kesadaran), di mana orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui terlebih
dahuluterhadap stimulus (objek).
b. Interest (merasa tertarik) terhadap stimulus atau objek tersebut. Di sinisikap subjek sudah mulai
timbul.
c. Evaluation (menimbang nimbang) terhadap baik dan tidaknyastimulus tersebut bagi dirinya.
Hal ini berarti sikap responden sudahlebih baik lagi.
d. Trial, di mana subjek mulai mencoba melakukan sesuatu sesuaidengan apa yang dikehendaki oleh
stimulus.
e. Adaption, di mana subjek telah berperilaku baru sesuai denganpengetahuan, kesadaran, dan
sikapnya terhadap stimulus(Notoatmodjo, 2011).

2.1.2 Tingkat Pengetahuan

Menurut Notoatmodjo, 2011, pengetahuan mempunyai enam tingkatan, yaitu:

a. Tahu (Know)

Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajarisebelumnya.


Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingatkembali (recall) sesuatu yang
spesifik dari seluruh bahan yang dipelajariatau rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu,
tahu ini merupakantingkat pengetahuan yang paling rendah.

3
b. Memahami (Comprehension)

Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secarabenar tentang


objek yang diketahui, dan dapat menginterpretasikan materitersebut secara benar. Orang yang
telah paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh,
menyimpulkan,meramalkan, dan sebagainya terhadap objek yang dipelajari.

c. Aplikasi (Aplication)

Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yangtelah dipelajari


pada situasi atau kondisi real (sebenarnya). Aplikasi di sini dapat diartikan sebagai aplikasi atau
penggunaan hukum hukum, rumus,metode, prinsip, dan sebagainya dalam konteks atau situasi
yang lain.

d. Analisis (Analysis)

Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam
komponen komponen, tetapi masih di dalam satu struktur organisasi, dan masih ada kaitannya
satu sama lain. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata kerja, seperti dapat
menggambarkan (membuat bagan), membedakan, memisahkan, mengelompokkan, dan
sebagainya.

e. Sintesis (Synthesis)

Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan ataumenghubungkan


bagian bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yangbaru. Dengan kata lain, sintesis adalah
suatu kemampuan untuk menyusunformulasi baru dari formulasi formulasi yang ada.

f. Evaluasi (Evaluation)

Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian
terhadap suatu materi atau objek. Penilaian penilaian itu didasarkan pada suatu kriteria yang
ditentukan sendiri, atau menggunakan kriteria kriteria yang ada (Notoatmodjo, 2011).

2.1.3. Pengukuran Pengetahuan

Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau kuisioneryang menanyakan


tentang isi materi yang akan diukur dari subjek penelitianatau responden. Kedalaman pengetahuan yang
ingin kita ketahui atau kita ukur dapat kita sesuaikan dengan tingkatan - tingkatan diatas.

4
Metode yang digunakan dapat bermacam-macam tergantung dengan sampai pada tingkatan yang mana
pengetahuan akan diukur. Bentuk pertanyaan juga dapat disesuaikan dengan subjek. Pemilihan metode
dan cara sangat menentukan keberhasilan dalam mengukur tingkat pengetahuan (Notoatmodjo, 2007).

2.1.4. Faktor Faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan

Menurut Lukman , ada beberapa faktor yang memperngaruhi pengetahuan, yaitu:

a. Umur

Singgih (1998), mengemukakan bahwa makin tua umur seseorang maka proses proses
perkembangan mentalnya bertambah baik, akan tetapipada umur tertentu, bertambahnya proses
perkembangan mental ini tidak secepat ketika berumur belasan tahun. Selain itu, Abu Ahmadi
(2001), juga mengemukakan bahwa daya ingat seseorang itu salah satunya dipengaruhi oleh
umur. Dari uraian ini maka dapat disimpulkan bahwa bertambahnya umur dapat berpengaruh
pada pertambahan pengetahuan yang diperolehnya, akan tetapi pada umur umur tertentu atau
menjelang usia lanjut kemampuan penerimaan atau mengingat suatu pengetahuan akan
berkurang.

b. Intelegensi

Intelegensi diartikan sebagai suatu kemampuan untuk belajar dan berpikir abstrak guna
menyesuaikan diri secara mental dalam situasi baru. Intelegensi merupakan salah satu faktor yang
mempengaruhi hasil dari proses belajar. Intelegensi bagi seseorang merupakan salah satu modal
untuk berpikir dan mengolah berbagai informasi secara terarah sehingga ia menguasai lingkungan
(Khayan,1997). Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa perbedaan intelegensi dari seseorang
akan berpengaruh pula terhadap tingkat pengetahuan.

c. Lingkungan

Lingkungan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi pengetahuan seseorang.


Lingkungan memberikan pengaruh pertama bagi seseorang, di mana seseorang dapat mempelajari
hal hal yang baik dan juga hal hal yang buruk tergantung pada sifat kelompoknya. Dalam
lingkungan seseorang akan memperoleh pengalaman yang akan berpengaruh pada cara berpikir
seseorang.

5
d. Sosial budaya

Sosial budaya mempunyai pengaruh pada pengetahuan seseorang. Seseorang


memperoleh suatu kebudayaan dalam hubungannya dengan orang lain, karena hubungan ini
seseorang mengalami suatu proses belajar dan memperoleh suatu pengetahuan.

e. Pendidikan

Menurut Notoatmodjo (1997), pendidikan adalah suatu kegiatan atau proses


pembelajaran untuk mengembangkan atau meningkatkan kemampuan tertentu sehingga sasaran
pendidikan itu dapat berdiri sendiri. Menurut Wied hary A. (1996), menyebutkan bahwa tingkat
pendidikan turut pula menentukan mudah atau tidaknya seseorang menyerap dan memahami
pengetahuan yang mereka peroleh, pada umumnya semakin tinggi pendidikan seseorang makin
baik pula pengetahuannya.

f. Informasi

Menurut Wied Hary A. (1996), informasi akan memberikan pengaruh pada pengetahuan
seseorang. Meskipun seseorang memiliki pendidikan yang rendah tetapi jika ia mendapatkan
informasi yang baik dari berbagai media misalnya televisi, radio atau surat kabar, maka hal itu
akan dapat meningkatkan pengetahuan seseorang. Informasi tidak terlepas dari sumber
informasinya. Menurut Notoatmodjo (2003) dalam Rahmahayani (2010), sumber informasi
adalah asal dari suatu informasi atau data yang diperoleh. Sumber informasi ini dikelompokkan
dalam tiga golongan, yaitu :

1. Sumber informasi dokumenter

Merupakan sumber informasi yang berhubungan dengan dokumen resmi maupun


dokumen tidak resmi. Dokumen resmi adalah bentuk dokumen yang diterbitkan maupun
yang tidak diterbitkan di bawah tanggung jawab instansi resmi. Dokumen tidak resmi
adalah segala bentuk dokumen yang berada atau menjadi tanggung jawab dan wewenang
badan instansi tidak resmi atau perorangan. Sumber primer atau sering disebut sumber
data dengan pertama dan hukum mempunyai wewenang dan tanggung jawab terhadap
informasi tersebut.

6
2. Sumber kepustakaan

Kita telah mengetahui bahwa di dalam perpustakaan tersimpan berbagai bahan


bacaan dan informasi dan berbagai disiplin ilmu dari buku, laporan laporan penelitian,
majalah, ilmiah, jurnal, dan sebagainya.

3. Sumber informasi lapangan

Sumber informasi akan mempengaruhi bertambahnya pengetahuan seseorang


tentang suatu hal sehingga informasi yang diperoleh dapat terkumpul secara keseluruhan
ataupun sebagainya.(Rahmahayani 2010).

g. Pengalaman

Pengalaman merupakan guru yang terbaik. Pepatah tersebut dapat diartikan bahwa
pengalaman merupakan sumber pengetahuan atau pengalaman itu suatu cara memperoleh
kebenaran pengetahuan. Oleh sebab itu, pengalaman pribadi pun dapat digunakan sebagai upaya
untuk memperoleh pengetahuan. Hal ini dilakukan dengan cara mengulang kembali pengalaman
yang diperoleh dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi pada masa lalu (Notoatmodjo,
1997 dalam Rahmahayani,2010).

2.2. Kontrasepsi Intra Uterine Device (IUD)

2.2.1. Pengertian IUD

Kontrasepsi adalah suatu upaya untuk mencegah terjadinya kehamilan (Sarwono,2009). Alat
Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR) atau IUD (Intra Uterine Device) atau Spiral dalam bahasa sehari
hari yang digunakan di dalam masyarakat adalah suatu alat atau benda yang dimasukkan ke dalam rahim
yang sangat efektif, reversibel dan berjangka panjang, dapat dipakai oleh semua perempuan usia
reproduktif untuk tujuan kontrasepsi (Handayani,2010).

IUD merupakan alat kontrasepsi yang dibuat dari benang sutera atau logam serta terdapat
penambahan bahan bahan seperti tembaga, seng, magnesium, timah, progessteron. Penambahan bahan
bahan tersebut ditujukan untuk mempertinggi efektivitas IUD (Sarwono, 2009).

7
2.2.2. Jenis IUD

Banyak jenis IUD yang telah dikembangkan mulai dari generasi pertama yang terbuat dari benang sutera
dan logam sampai pada generasi plastik (polietien) baik yang tidak ditambahi obat maupun yang dibubuhi
obat.

1. IUD Non Hormonal


a. Menurut bentuknya IUD dibagi menjadi :
a) Bentuk terbuka (open device), misalnya Lippes Loop, CU-T, C 7, Marguiles, Spring Coil,
Multiload, Nova-T.
b) Bentuk tertutup (close device), misalnya Ota-ring, Antigon, dan Graten Berg Ring.
b. Menurut tambahan obat atau metal :
a) Medicated IUD, misalnya Cu-T-200 (daya kerja 3 tahun), Cu-T 220 (daya kerja 3 tahun),
Cu-T 300 (daya kerja 3 tahun), Cu-T 380A (daya kerja 8 tahun), Cu-7, Nova-T (daya
kerja 5 tahun), ML-Cu 375 (daya kerja 3 tahun). Pada jenis Medicated IUD, angka yang
tertera dibelakang IUD menunjukkan luasnya kawat halus tembaga yang ditambahkan,
misalnya Cu-T 220 berarti tembaga adalah 200 mm2.
b) Unmediated IUD, misalnya Lippes Loop, Marguiles, Saf-T Coil, Antigon.
2. IUD yang mengandung Hormonal
a. Progestasert-T
b. LNG-20 (Handayani, 2010). IUD yang banyak dipakai di Indonesia dari jenis dan dari jenis
mediated Cu-T 380 A, dan Multiload (Pinem,2009).

Gambar 1. jenis-jenis IUD (Pinem,2009)

8
2.2.3. Efektivitas IUD

Efektivitas dari IUD dinyatakan dalam angka kontinuitas (continuation rate) yaitu berapa lama
IUD tetap tinggal in utero tanpa ekspulsi spontan, terjadinya kehamilan dan pengangkatan atau
pengeluaran karena alasan alasan medis atau pribadi. Efektifitas dari jenis - jenis IUD tergantung pada :

a. IUD nya : ukuran, bentuk, dan mengandung Cu atau Progesterone.


b. Akseptor
1. Umur : makin tua usia, makin rendah angka kehamilan, ekspulsi dan
pengangkatan/pengeluaran IUD.
2. Paritas : makin muda usia, terutama nulligravid, makin tinggi angka ekspulsi dan
pengangkatan/pengeluaran IUD.
3. Frekuensi senggama.

Sebagai kontrasepsi, efektivitasnya tinggi. Sangat efektif 0,6 0,8 kehamilan per 100 perempuan
dalam 1 tahun pertama ( 1 kegagalan dalam 125 170 kehamilan) (Handayani, 2010).

2.2.4. Mekanisme kerja IUD

Mekanisme kerja yang pasti dari kontrasepsi IUD belum diketahui. Ada beberapa mekanisme kerja
kontrasepsi IUD yang telah diajukan :

1. Timbulnya reaksi radang lokal yang non spesifik di dalam cavum uteri sehingga implantasi sel
telur yang telah dibuahi terganggu. Di samping itu, dengan munculnya leukosit PMN, makrofag,
foreign body giant cells, sel mononuklear dan sel plasma yang dapat mengakibatkan lisis dari
spermatozoa atau ovum dan blastokista.
2. Produksi lokal prostaglandin yang meninggi, yang menyebabkan terhambatnya implantasi.
3. Gangguan atau terlepasnya blastokista yang telah berimplantasi di dalam endometrium.
4. Pergerakan ovum yang bertambah cepat di dalam tuba fallopii.
5. Immobilisasi spermatozoa saat melewati cavum uteri (Hartanto,2010).

2.2.5. Indikasi dan Kontraindikasi IUD

Dalam pemasangan IUD harus memperhatikan indikasi dan kontraindikasi, IUD dipasang
setinggi mungkin dalam rongga rahim (cavum uteri). Waktu yang paling baik untuk pemasangan ialah
pada waktu mulut peranakan masih terbuka dan rahim dalam keadaan lunak. Misalnya, 40 hari setelah
bersalin dan pada akhir haid. Adapun indikasi dalam pemasangan IUD adalah:

9
1. Usia reproduksi,
2. Keadaan nullipara,
3. Menginginkan menggunakan kontrasepsi jangka panjang,
4. Perempuan menyusui yang ingin menggunakan kontrasepsi,
5. Setelah melahirkan dan tidak menyusui bayinya,
6. Setelah abortus dan tidak terlihat adanya infeksi,
7. Perempuan dengan resiko rendah infeksi menular seksual (IMS),
8. Tidak menghendaki metode hormonal,
9. Tidak menyukai untuk mengingat ingat minum pil setiap hari, dan
10. Tidak menghendaki kehamilan setelah 1 5 hari senggama (Handayani, 2010).

Adapun Kontraindikasi relatif dan mutlak dalam pemasangan IUD:

1. Mioma uteri dengan adanya perubahan bentuk rongga uterus,


2. Insufisiensi serviks uteri,
3. Uterus dengan parut pada dindingnya, seperti pada bekas seksio sesarea, enukleasi mioma, dan
sebagainya,dan Kelainan yang jinak serviks uteri, seperti erosio porsiones uteri.
4. Kehamilan,
5. Adanya infeksi yang aktif pada traktus genitalis,
6. Adanya tumor ganas pada traktus genitalis,
7. Adanya metroragia yang belum disembuhkan,dan
8. Pasangan yang tidak subur. (Sarwono, 2009).

2.2.6. Pemasangan IUD

Dalam pemasangan ada beberapa keadaan yang harus diperhatikan oleh tenaga medis yang
memasang. Dimana IUD dapat dipasang dalam keadaan berikut :

1. Sewaktu haid sedang berlangsung. Dimana dilakukan pada hari hari pertama atau pada hari
hari terakhir haid. Keuntungan IUD pada waktu ini antara lain ialah :
a. Pemasangan lebih mudah oleh karena serviks pada waktu itu agak terbuka dan lembek.
b. Rasa nyeri tidak seberapa keras.
c. Perdarahan yang timbul sebagai akibat pemasangan tidak seberapa dirasakan.
d. Kemungkinan pemasangan IUD pada uterus yang sedang hamil tidak ada. Kerugian IUD
pada waktu haid sedang berlangsung antara lain:

10
a) Infeksi dan ekspulsi lebih tinggi bila pemasangan dilakukan saat haid.
b) Dilatasi canalis cervikal adalah sama pada saat haid maupun pada saat mid -
siklus (Hartanto, 2010).
2. Sewaktu pasca salin. Bila pemasangan IUD tidak dilakukan dalam waktu seminggu setelah
bersalin, menurut beberapa sarjana, sebaiknya IUD ditangguhkan sampai 6 - 8 minggu
postpartum oleh karena jika pemasangan IUD dilakukan antara minggu kedua dan minggu
keenam setelah partus, bahaya perforasi atau ekspulsi lebih besar.
3. Sewaktu post abortum. Sebaiknya IUD dipasang segera setelah abortus oleh karena dari segi
fisiologi dan psikologi waktu itu adalah paling ideal. Tetapi, septic abortion merupakan
kontraindikasi.
4. Beberapa hari setelah haid terakhir. Dalam hal yang terakhir ini wanita yang bersangkutan
dilarang untuk bersenggama sebelum IUD dipasang. Sebelum pemasangan IUD dilakukan,
sebaiknya diperlihatkan kepada akseptor bentuk IUD yang dipasang, dan bagaimana IUD tersebut
terletak dalam uterus setelah terpasang. Dijelaskan bahwa kemungkinan terjadinya efek samping
seperti perdarahan, rasa sakit, IUD keluar sendiri (Sarwono, 2009).

2.2.7. Prosedur Pemasangan IUD

Setelah kandung kemih dikosongkan, akseptor dibaringkan di atas mejaginekologik dalam posisi
litotomi, kemudian dilakukan pemeriksaanbimanual untuk mengetahui letak dan besar uterus. Spekulum
dimasukkan kedalam vagina, dan serviks uteri dibersihkan dengan larutan antiseptik (Sol.Betadine atau
tingtura jodii). Sekarang dengan cunam serviks dijepit bibirdepan porsio uteri, dan dimasukkan sonde ke
dalam uterus untuk menentukanarah poros dan panjangnya kanalis servikalis serta kavum uteri.

IUD dimasukkan ke dalam uterus melalui ostium eksternum sambil mengadakantarikan ringan
pada cunam serviks.Tabung penyalur digerakkan di dalam uterus, sesuai dengan arah poroskavum uteri
sampai tercapai ujung atas kavum uteri yang telah ditentukanlebih dahulu dengan sonde uterus.
Selanjutnya, sambil mengeluarkan tabungpenyalur perlahan lahan, pendorong (plunger) menahan IUD
dalamposisinya. Setelah tabung penyalur keluar dari uterus, pendorong jugadikeluarkan, cunam
dilepaskan, benang IUD digunting sehingga 2 - 3 cmkeluar dari ostium uteri, dan akhirnya spekulum
diangkat (Sarwono, 2009).

11
2.2.8. Efek Samping IUD

1. Perdarahan

Perdarahan sedikit sedikit ini akan cepat berhenti. Jika pemasangan IUD dilakukan
sewaktu menstruasi , maka perdarahan yang sedikit sedikit ini tidak akan diketahui oleh
akseptor. Keluhan yang tersering adalah menoragia, spotting metroragi. Jika terjadi perdarahan
banyak yang tidak dapat diatasi, sebaiknya IUD dikeluarkan dan diganti dengan IUD yang
mempunyai ukuran kecil. Jika perdarahannya sedikit sedikit dapat diberikan pengobatan
konservatif dan jika perdarahan yang tidak terhenti dengan tindakan tindakan tersebut,
sebaiknya IUD diangkat dan di ganti dengan cara kontrasepsi lain.

2. Rasa nyeri dan kejang di perut

Rasa nyeri dan kejang di perut dapat terjadi segera setelah pemasangan IUD. Biasanya
rasa nyeri ini berangsur angsur hilang dengan sendirinya. Rasa nyeri dapat dikurangi atau
dihilangkan dengan pemberian analgetik. Jika keluhan terus berlangsung, sebaiknya IUD
dikeluarkan dan diganti dengan IUD yang mempunyai ukuran yang lebih kecil.

3. Gangguan pada suami

Kadang kadang suami dapat merasakan adanya benang IUD sewaktu bersenggama.
Disebabkan oleh benang IUD yang keluar dari porsio uteri terlalu pendek atau terlalu panjang.
Untuk menghilangkan keluhan tersebut, sebaiknya benang IUD yang terlalu panjang dipotong
sampai kira kira 2 - 3 cm dari posio uteri, sedangkan jika benang IUD terlalu pendek, sebaiknya
IUD-nya diganti. Biasanya dengan cara tersebut, keluhan suami akan hilang.

4. Ekspulsi

Ekspulsi IUD dapat terjadi untuk sebagian atau seluruhnya. Ekspulsi biasanya terjadi sewaktu
menstruasi dan dipengaruhi oleh :

a. Umur dan Paritas

Pada wanita muda, ekspulsi lebih sering terjadi daripada wanita yang lebih tua
begitu juga dengan paritas yang terlalu rendah, 1 atau 2, kemungkinan ekspulsi dua kali
lebih besar daripada paritas 5 atau lebih.

12
b. Lama Pemakaian

Terjadi paling sering pada tiga bulan pertama setelah pemasangan.

c. Ekspulsi Sebelumnya

Pada wanita yang pernah mengalami ekspulsi, maka pada pemasangan kedua
kalinya terjadi ekspulsi kira kira 50%. Jika terjadi ekspulsi, pasangkanlah IUD dari
jenis yang sama , tetapi dengan ukuran yang lebih besar dari sebelumnya atau juga dapat
diganti dengan IUD jenis lain atau dipasang dua IUD.

d. Jenis dan Ukuran

Jenis dan ukuran IUD sangat mempengaruhi ekspulsi. Pada Lippes Loop, makin
besar ukuran IUD maka makin kecil kemungkinan terjadinya ekspulsi.

e. Faktor Psikis

Oleh karena motilitas uterus dapat dipengaruhi oleh faktor psikis, maka frekuensi
ekspulsi lebih banyak dijumpai pada wanita wanita yang emosional dan ketakutan.
Maka kepada wanita wanita seperti ini penting diberikan penerangan yang cukup
sebelum dilakukan pemasangan IUD (Sarwono, 2009).

2.2.9. Komplikasi IUD

a) Infeksi

IUD itu sendiri, atau benangnya yang berada dalam vagina, umumnya tidak
menyebabkan terjadinya infeksi jika alat alat yang digunakan di sucihamakan, yaitu tabung
penyalur, pendorong, dan IUD. Jika terjadi infeksi, hal ini mungkin disebabkan oleh sudah
adanya infeksi yang bn subakut atau menahun pada traktus genitalis sebelum pemasangan IUD.

b) Perforasi

Umumnya terjadi sewaktu pemasangan IUD. Pada permulaan hanya ujung IUD saja yang
menembus dinding uterus, tetapi lama kelamaan dengan adanya kontraksi uterus, IUD terdorong
lebih jauh menembus dinding uterus, sehingga akhirnya sampai ke rongga perut. Adanya
perforasi harus diperhatikan apabila pada pemeriksaan dengan spekulum benang IUD tidak
kelihatan. Dalam hal ini, pada pemeriksaan dengan sonde uterus atau mikrokuret tidak dirasakan
IUD dalam rongga uterus. Jika ada kecurigaan kuat tentang terjadinya perforasi, sebaiknya dibuat

13
foto Rontgen, dan jika tampak di foto IUD dalam rongga panggul, hendaknya dilakukan
histerografi untuk menentukan apakah IUD terletak di dalam atau di luar kavum uteri dan dapat
ditentukan dengan menggunakan Ultrasonografi (USG) transvaginal dan transabdominal. Jika
perforasi terjadi dengan IUD yang tertutup, IUD harus dikeluarkan dengan segera oleh karena
dikuatirkan terjadinya ileus, begitu juga dengan IUD yang mengandung logam. Pengeluaran IUD
dilakukan dengan laparoskopi. Laparotomi dilakukan jika laparoskopi tidak berhasil atau terjadi
setelah terjadi ileus (Sarwono, 2009).

2.2.10. Prosedur mengeluarkan IUD

Mengeluarkan IUD biasanya dilakukan dengan jalan menarik benang IUD yang keluar dari
ostium uteri eksternum dengan dua jari, dengan pinset, atau dengan cunam. Kadang kadang benang IUD
tidak tampak di ostium uteri eksternum. Tidak terlihatnya benang IUD ini dapat disebabkan oleh :
akseptor menjadi hamil, perforasi uterus, ekspulsi yang tidak disadari oleh akseptor, perubahan letak IUD,
sehingga benang IUD tertarik ke dalam rongga uterus seperti ada mioma uterus (Sarwono, 2009).

2.2.11 Pemeriksaan Lanjutan ( follow up )

Setelah proses pemasangan IUD, aseptor dapat memperoleh manfaat perlindungan sampai 5
tahun kedepan. Namun selama perjalanan penggunaan IUD diharapkan untuk melakukan pemeriksaan
lanjutan untuk memastikan IUD bekerja dengan benar dan tidak menimbulkan komplikasi. Adapun
waktu-waktu yang ditentukan antara lain;

a. Satu bulan setelah pemasangan.


b. Tiga bulan kemudian.
c. Setiap 6 bulan berikutnya.
d. Satu tahun sekali.
e. Bila terlambat haid 1 minggu.
f. Bila terjadi perdarahan banyak dan tidak teratur (Handayani,2010).

2.3 Kecemasan

2.3.1 Pengertian Kecemasan

Pada dasarnya, kecemasan merupakan hal wajar yang pernah dialami oleh setiap manusia.
Kecemasan sudah dianggap sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Kecemasan adalah suatu perasaan
yang sifatnya umum, dimana seseorang merasa ketakutan atau kehilangan kepercayaan diri yang tidak
jelas asal maupun wujudnya (Sutardjo Wiramihardja, 2005:66).

14
Kecemasan adalah sesuatu yang menimpa hampir setiap orang pada waktu tertentu dalam
kehidupannya. Kecemasan merupakan reaksi normal terhadap situasi yang sangat menekan kehidupan
seseorang. Kecemasan bisa muncul sendiri atau bergabung dengan gejala-gejala lain dari berbagai
gangguan emosi (Savitri Ramaiah, 2003:10). Menurut Kaplan, Sadock, dan Grebb (Fitri Fauziah &
Julianti Widuri, 2007:73) kecemasan adalah respon terhadap situasi tertentu yang mengancam, dan
merupakan hal yang normal terjadi menyertai perkembangan, perubahan, pengalaman baru atau yang
belum pernah dilakukan, serta dalam menemukan identitas diri dan arti hidup.

Kecemasan adalah reaksi yang dapat dialami siapapun. Namun cemas yang berlebihan, apalagi
yang sudah menjadi gangguan akan menghambat fungsi seseorang dalam kehidupannya. Kecemasan
merupakan suatu perasaan subjektif mengenai ketegangan mental yang menggelisahkan sebagai reaksi
umum dari ketidakmampuan mengatasi suatu masalah atau tidak adanya rasa aman. Perasaan yang tidak
menentu tersebut pada umumnya tidak menyenangkan yang nantinya akan menimbulkan atau disertai
perubahan fisiologis dan psikologis (Kholil Lur Rochman, 2010:104). Namora Lumongga Lubis
(2009:14) menjelaskan bahwa kecemasan adalah tanggapan dari sebuah ancaman nyata ataupun khayal.
Individu mengalami kecemasan karena adanya ketidakpastian dimasa mendatang.

Kecemasan dialami ketika berfikir tentang sesuatu tidak menyenangkan yang akan terjadi.
Sedangkan Siti Sundari (2004:62) memahami kecemasan sebagai suatu keadaan yang menggoncangkan
karena adanya ancaman terhadap kesehatan. Nevid Jeffrey S, Rathus Spencer A, & Greene Beverly
(2005:163) memberikan pengertian tentang kecemasan sebagai suatu keadaan emosional yang
mempunyai ciri keterangsangan fisiologis, perasaan tegang yang tidak menyenangkan, dan kekhawatiran
bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi. Kecemasan adalah rasa khawatir , takut yang tidak jelas
sebabnya. Kecemasan juga merupakan kekuatan yang besar dalam menggerakkan tingkah laku, baik
tingkah laku yang menyimpang ataupun yang terganggu. Kedua-duanya merupakan pernyataan,
penampilan, penjelmaan dari pertahanan terhadap kecemasan tersebut (Singgih D. Gunarsa, 2008:27).

Kesimpulan yang dapat diambil dari beberapa pendapat diatas bahwa kecemasan adalah rasa
takut atau khawatir pada situasi tertentu yang sangat mengancam yang dapat menyebabkan kegelisahan
karena adanya ketidakpastian dimasa mendatang serta ketakutan bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi.

2.3.2 Gejala-gejala Kecemasan

Kecemasan adalah suatu keadaan yang menggoncangkan karena adanya ancaman terhadap
kesehatan. Individu-individu yang tergolong normal kadang kala mengalami kecemasan yang menampak,
sehingga dapat disaksikan pada penampilan yang berupa gejala-gejala fisik maupun mental. Gejala

15
tersebut lebih jelas pada individu yang mengalami gangguan mental. Lebih jelas lagi bagi individu yang
mengidap penyakit mental yang parah. Gejala-gejala yang bersifat fisik diantaranya adalah : jari tangan
dingin, detak jantung makin cepat, berkeringat dingin, kepala pusing, nafsu makan berkurang, tidur tidak
nyenyak, dada sesak.Gejala yang bersifat mental adalah : ketakutan merasa akan ditimpa bahaya, tidak
dapat memusatkan perhatian, tidak tenteram, ingin lari dari kenyataan (Siti Sundari, 2004:62). Kecemasan
juga memiliki karakteristik berupa munculnya perasaan takut dan kehati-hatian atau kewaspadaan yang
tidak jelas dantidak menyenangkan. Gejala-gejala kecemasan yang muncul dapat berbeda pada masing-
masing orang.

Kaplan, Sadock, & Grebb (Fitri Fauziah & Julianti Widury, 2007:74) menyebutkan bahwa takut
dan cemas merupakan dua emosi yang berfungsi sebagai tanda akan adanya suatu bahaya. Rasa takut
muncul jika terdapat ancaman yang jelas atau nyata, berasal dari lingkungan, dan tidak menimbulkan
konflik bagi individu. Sedangkan kecemasan muncul jika bahaya berasal dari dalam diri, tidak jelas, atau
menyebabkan konflik bagi individu. Kecemasan berasal dari perasaan tidak sadar yang berada didalam
kepribadian sendiri, dan tidak berhubungan dengan objek yang nyata atau keadaan yang benar-benar ada.
Kholil Lur Rochman, (2010:103) mengemukakan beberapa gejala-gejala dari kecemasan antara lain :

a. Ada saja hal-hal yang sangat mencemaskan hati, hampir setiap kejadian menimbulkan rasa takut
dan cemas. Kecemasan tersebut merupakan bentuk ketidakberanian terhadap hal-hal yang tidak
jelas.
b. Adanya emosi-emosi yang kuat dan sangat tidak stabil. Suka marah dan sering dalam keadaan
exited (heboh) yang memuncak, sangat irritable, akan tetapi sering juga dihinggapi depresi.
c. Diikuti oleh bermacam-macam fantasi, delusi, ilusi, dan delusion of persecution (delusi yang
dikejar-kejar).
d. Sering merasa mual dan muntah-muntah, badan terasa sangat lelah, banyak berkeringat, gemetar,
dan seringkali menderita diare.
e. Muncul ketegangan dan ketakutan yang kronis yang menyebabkan tekanan jantung menjadi
sangat cepat atau tekanan darah tinggi.

Nevid Jeffrey S, Spencer A, & Greene Beverly (2005:164) mengklasifikasikan gejala-gejala


kecemasan dalam tiga jenis gejala, diantaranya yaitu :

a. Gejala fisik dari kecemasan yaitu : kegelisahan, anggota tubuh bergetar, banyak berkeringat, sulit
bernafas, jantung berdetak kencang, merasa lemas, panas dingin, mudah marah atau tersinggung.
b. Gejala behavioral dari kecemasan yaitu : berperilaku menghindar, terguncang, melekat dan
dependen.

16
c. Gejala kognitif dari kecemasan yaitu : khawatir tentang sesuatu, perasaan terganggu akan
ketakutan terhadap sesuatu yang terjadi dimasa depan, keyakinan bahwa sesuatu yang
menakutkan akan segera terjadi, ketakutan akan ketidakmampuan untuk mengatasi masalah,
pikiran terasa bercampur aduk atau kebingungan, sulit berkonsentrasi.

2.3.3 Faktor-faktor Penyebab Kecemasan

Kecemasan sering kali berkembang selama jangka waktu dan sebagian besar tergantunga pada
seluruh pengalaman hidup seseorang. Peristiwa peristiwa atau situasi khusus dapat mempercepat
munculnya serangan kecemasan. Menurut Savitri Ramaiah (2003:11) ada beberapa faktor yang
menunujukkan reaksi kecemasan, diantaranya yaitu :

a. Lingkungan

Lingkungan atau sekitar tempat tinggal mempengaruhi cara berfikir individu tentang diri
sendiri maupun orang lain. Hal ini disebabkan karena adanya pengalaman yang tidak
menyenangkan pada individu dengan keluarga, sahabat, ataupun dengan rekan kerja. Sehingga
individu tersebut merasa tidak aman terhadap lingkungannya.

b. Emosi yang ditekan

Kecemasan bisa terjadi jika individu tidak mampu menemukan jalan keluar untuk
perasaannya sendiri dalam hubungan personal ini, terutama jika dirinya menekan rasa marah atau
frustasi dalam jangka waktu yang sangat lama.

c. Sebab-sebab fisik

Pikiran dan tubuh senantiasa saling berinteraksi dan dapat menyebabkan timbulnya
kecemasan. Hal ini terlihat dalam kondisi seperti misalnya kehamilan, semasa remaja dan
sewaktu pulih dari suatu penyakit. Selama ditimpa kondisi-kondisi ini, perubahan-perubahan
perasaan lazim muncul, dan ini dapat menyebabkan timbulnya kecemasan.

Zakiah Daradjat (Kholil Lur Rochman, 2010:167) mengemukakan beberapa penyebab


dari kecemasan yaitu :

a. Rasa cemas yang timbul akibat melihat adanya bahaya yang mengancam dirinya. Kecemasan ini
lebih dekat dengan rasa takut, karena sumbernya terlihat jelas didalam pikiran.

17
b. Cemas karena merasa berdosa atau bersalah, karena melakukan hal-hal yang berlawanan dengan
keyakinan atau hati nurani. Kecemasan ini sering pula menyertai gejala-gejala gangguan mental,
yang kadang-kadang terlihat dalam bentuk yang umum.
c. Kecemasan yang berupa penyakit dan terlihat dalam beberapa bentuk. Kecemasan ini disebabkan
oleh hal yang tidak jelas dan tidak berhubungan dengan apapun yang terkadang disertai dengan
perasaan takut yang mempengaruhi keseluruhan kepribadian penderitanya. Kecemasan hadir
karena adanya suatu emosi yang berlebihan. Selain itu, keduanya mampu hadir karena lingkungan
yang menyertainya, baik lingkungan keluarga, sekolah, maupun penyebabnya. Musfir Az-Zahrani
(2005:511) menyebutkan faktor yang memepengaruhi adanya kecemasan yaitu :
a) Lingkungan keluarga
Keadaan rumah dengan kondisi yang penuh dengan pertengkaran atau penuh dengan
kesalahpahaman serta adanya ketidakpedulian orangtua terhadap anak-anaknya, dapat
menyebabkan ketidaknyamanan serta kecemasan pada anak saat berada didalam rumah
b) Lingkungan Sosial
Lingkungan sosial adalah salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kecemasan
individu. Jika individu tersebut berada pada lingkungan yang tidak baik, dan individu
tersebut menimbulkan suatu perilaku yang buruk, maka akan menimbulkan adanya
berbagai penilaian buruk dimata masyarakat. Sehingga dapat menyebabkan munculnya
kecemasan.

Kecemasan timbul karena adanya ancaman atau bahaya yang tidak nyata dan sewaktu-
waktu terjadi pada diri individu serta adanya penolakan dari masyarakat menyebabkan kecemasan
berada di lingkungan yang baru dihadapi (Patotisuro Lumban Gaol, 2004: 24). Sedangkan Page
(Elina Raharisti Rufaidah, 2009: 31) menyatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi
kecemasan adalah :

a. Faktor fisik
Kelemahan fisik dapat melemahkan kondisi mental individu sehingga memudahkan
timbulnya kecemasan.
b. Trauma atau konflik
Munculnya gejala kecemasan sangat bergantung pada kondisi individu, dalam arti bahwa
pengalaman-pengalaman emosional atau konflik mental yang terjadi pada individu akan
memudahkan timbulnya gejala-gejala kecemasan.
c. Lingkungan awal yang tidak baik.

18
Lingkungan adalah faktor-faktor utama yang dapat mempengaruhi kecemasan individu,
jika faktor tersebut kurang baik maka akan menghalangi pembentukan kepribadian
sehingga muncul gejala-gejala kecemasan.

d. Jenis-jenis Kecemasan
Kecemasan merupakan suatu perubahan suasana hati, perubahan didalam dirinya sendiri yang
timbul dari dalam tanpa adanya rangsangan dari luar. Mustamir Pedak (2009:30) membagi
kecemasan menjadi tiga jenis kecemasan yaitu :
a. Kecemasan Rasional
Merupakan suatu ketakutan akibat adanya objek yang memang mengancam,
misalnya ketika menunggu hasil ujian.Ketakutan ini dianggap sebagai suatu
unsur pokok normal dari mekanisme pertahanan dasariah kita.
b. Kecemasan Irrasional
Yang berarti bahwa mereka mengalami emosi ini dibawah keadaan keadaan
spesifik yang biasanya tidak dipandang mengancam.
c. Kecemasan Fundamental
Kecemasan fundamental merupakan suatu pertanyaan tentang siapa dirinya,
untuk apa hidupnya, dan akan kemanakah kelak hidupnya berlanjut. Kecemasan
ini disebut sebagai kecemasan eksistensial yang mempunyai peran fundamental
bagi kehidupan manusia.

Sedangkan Kartono Kartini (2006: 45) membagi kecemasan menjadi dua jenis kecemasan, yaitu :

a) Kecemasan Ringan

Kecemasan ringan dibagi menjadi dua kategori yaitu ringan sebentar dan ringan
lama.Kecemasan ini sangat bermanfaat bagi perkembangan kepribadian seseorang,
karenakecemasan ini dapat menjadi suatu tantangan bagi seorang individu untuk
mengatasinya.Kecemasan ringan yang muncul sebentar adalah suatu kecemasan yang wajar
terjadi pada individu akibat situasi-situasi yang mengancam dan individu tersebut tidak dapat
mengatasinya, sehingga timbul kecemasan. Kecemasan ini akan bermanfaat bagi individu
untuk lebihberhati-hati dalam menghadapi situasi-situasi yang sama di kemudian
hari.Kecemasan ringan yang lama adalah kecemasan yang dapat diatasi tetapi karena individu
tersebut tidak segera mengatasi penyebab munculnya kecemasan, maka kecemasan
tersebutakan mengendap lama dalam diri individu.

19
b) Kecemasan Berat

Kecemasan berat adalah kecemasan yang terlalu berat dan berakar secara
mendalam dalam diriseseorang. Apabila seseorang mengalami kecemasansemacam ini
maka biasanya ia tidakdapat mengatasinya. Kecemasan ini mempunyai akibat
menghambat atau merugikanperkembangan kepribadian seseorang. Kecemasan ini dibagi
menjadi dua yaitu kecemasan berat yang sebentar dan lama.Kecemasan yang berat tetapi
munculnya sebentar dapat menimbulkan traumatis padaindividu jika menghadapi situasi
yang sama dengan situasi penyebab munculnya kecemasan.Sedangakan kecemasan yang
berat tetapi munculnya lama akan merusak kepribadian individu. Halini akan berlangsung
terus menerus bertahun-tahun dan dapat meruak proses kognisiindividu. Kecemasan yang
berat dan lama akan menimbulkan berbagai macam penyakitseperti darah tinggi,
tachycardia (percepatan darah), excited (heboh, gempar).

2.3.4 Gangguan Kecemasan

Gangguan kecemasan merupakan suatu gangguan yang memiliki ciri kecemasan atau ketakutan
yang tidak realistik, juga irrasional, dan tidak dapat secara intensif ditampilkan dalam cara-cara yang
jelas. Fitri Fauziah & Julianty Widuri (2007:77) membagi gangguan kecemasan dalam beberapa jenis,
yaitu :

a) Fobia Spesifik

Yaitu suatu ketakutan yang tidak diinginkan karena kehadiran atau antisipasi terhadap
obyek atau situasi yang spesifik.

b) Fobia Sosial

Merupakan suatu ketakutan yang tidak rasional dan menetap, biasanya berhubungan
dengan kehadiran orang lain. Individu menghindari situasi dimana dirinya dievaluasi atau
dikritik, yang membuatnya merasa terhina atau dipermalukan, dan menunjukkan tanda-
tanda kecemasan atau menampilkan perilaku lain yang memalukan.

c) Gangguan Panik

Gangguan panik memiliki karakteristik terjadinya serangan panik yang spontan dan tidak
terduga. Beberapa simtom yang dapat muncul pada gangguan panik antara lain ; sulit
bernafas, jantung berdetak kencang, mual, rasa sakit didada, berkeringat dingin, dan

20
gemetar. Hal lain yang penting dalam diagnosa gangguan panik adalah bahwa individu
merasa setiap serangan panik merupakan pertanda datangnya kematian atau kecacatan.

d) Gangguan Cemas Menyeluruh (Generalized Anxiety Disorder)

Generalized Anxiety Disorder (GAD) adalah kekhawatiran yang berlebihan dan bersifat
pervasif, disertai dengan berbagai simtom somatik, yang menyebabkan gangguan
signifikan dalam kehidupan sosial atau pekerjaan pada penderita, atau menimbulkan stres
yang nyata. Sedangkan Sutardjo Wiramihardja (2005:71) membagi gangguan kecemasan
yang terdiri dari :

a. Panic Disorder

Panic Disorder ditandai dengan munculnya satu atau dua serangan panic
yang tidak diharapkan, yang tidak dipicu oleh hal-hal yang bagi orang lain bukan
merupakan masalah luar biasa. Ada beberapa simtom yang menandakan kondisi
panik tersebut, yaitu nafas yang pendek, palpilasi (mulut yang kering) atau justru
kerongkongan tidak bisa menelan, ketakutan akan mati, atau bahkan takut gila.

b. Agrophobia

Yaitu suatu ketakutan berada dalam suatu tempat atau situasi dimana ia
merasa bahwa ia tidak dapat atau sukar menjadi baik secara fisik maupun psikologis
untuk melepaskan diri. Orang-orang yang memiliki agrophobia takut pada
kerumunan dan tempat-tempat ramai.

2.3.5 Dampak Kecemasan

Rasa takut dan cemas dapat menetap bahkan meningkat meskipun situasi yang betul-betul
mengancam tidak ada, dan ketika emosi-emosi ini tumbuh berlebihan dibandingkan dengan bahaya yang
sesungguhnya, emosi ini menjadi tidak adaptif. Kecemasan yang berlebihan dapat mempunyai dampak
yang merugikan pada pikiran serta tubuh bahkan dapat menimbulkan penyakit penyakit fisik (Cutler,
2004:304). Yustinus Semiun (2006:321) membagi beberapa dampak dari kecemasan kedalam beberapa
simtom, antara lain :

21
1. Simtom suasana hati

Individu yang mengalami kecemasan memiliki perasaan akan adanya hukuman dan
bencana yang mengancam dari suatu sumber tertentu yang tidak diketahui. Orang yang
mengalami kecemasan tidak bisa tidur, dan dengan demikian dapat menyebabkan sifat mudah
marah.

2. Simtom kognitif

Kecemasan dapat menyebabkan kekhawatiran dan keprihatinan pada individu mengenai


hal-hal yang tidak menyenangkan yang mungkin terjadi. Individu tersebut tidak memperhatikan
masalah-masalah real yang ada, sehingga individu sering tidak bekerja atau belajar secara efektif,
dan akhirnya dia akan menjadi lebih merasa cemas.

3. Simtom motor

Orang-orang yang mengalami kecemasan sering merasa tidak tenang, gugup, kegiatan
motor menjadi tanpa arti dan tujuan, misalnya jari-jari kaki mengetuk-ngetuk, dan sangat kaget
terhadap suara yang terjadi secara tiba-tiba. Simtom motor merupakan gambaran rangsangan
kognitif yang tinggi pada individu dan merupakan usaha untuk melindungi dirinya dari apa saja
yang dirasanya mengancam. Kecemasan akan dirasakan oleh semua orang, terutama jika ada
tekanan perasaan ataupun tekanan jiwa. Menurut Savitri Ramaiah (2005:9) kecemasan biasanya
dapat menyebabkan dua akibat, yaitu :

a) Kepanikan yang amat sangat dan karena itu gagal berfungsi secara normal atau
menyesuaikan diri pada situasi.
b) Gagal mengetahui terlebih dahulu bahayanya dan mengambil tindakan pencegahan yang
mencukupi.

Dari beberapa pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa kecemasan adalah rasa takut atau
khawatir pada situasi yang sangat mengancam karena adanya ketidakpastian dimasa mendatang serta
ketakutan bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi. Kecemasan tersebut ditandai dengan adanya beberapa
gejala yang muncul seperti kegelisahan, ketakutan terhadap sesuatu yang terjadi dimasa depan, merasa
tidak tenteram, sulit untuk berkonsentrasi, dan merasa tidak mampu untuk mengatasi masalah. Hal ini
disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya adalah, kecemasan timbul karena individu melihat adanya
bahaya yang mengancam dirinya, kecemasan juga terjadi karena individu merasa berdosa atau bersalah
karena melakukan hal-hal yang berlawanan dengan keyakinan atau hati nurani.

22
Dari beberapa gejala, faktor, dan definisi diatas, kecemasan ini termasuk dalam jenis kecemasan
rasional, karena kecemasan rasional merupakan suatu ketakutan akibat adanya objek yang memang
mengancam. Adanya berbagai macam kecemasan yang dialami individu dapat menyebabkan adanya
gangguan-gangguan kecemasan seperti gangguan kecemasan spesifik yaitu suatu ketakutan yang tidak
diinginkan karena kehadiran atau antisipasi terhadap objek atau situasi yang spesifik. Sehingga dapat
menyebabkan adanya dampak dari kecemasan yang berupa simtom kognitif, yaitu kecemasan dapat
menyebabkan kekhawatiran dan keprihatinan pada individu mengenai hal-hal yang tidak menyenangkan
yang mungkin terjadi. Individu tersebut tidak memperhatikan masalah-masalah real yang ada, sehingga
individu sering tidak bekerja atau belajar secara efektif, dan akhirnya dia akan menjadi lebih merasa

23
BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Desain Penelitian

24
25