Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pada laki-laki, disfungsi seksual mengacu kepada kesulitan untuk terlibat dalam hubungan
seks. Disfungsi seksual meliputi berbagai gangguan yang mempengaruhi gairah seks (libido),
kemampuan untuk mencapai atau menjaga ereksi (disfungsi ereksi, atau impoten), ejakulasi,
dan kemampuan untuk mencapi orgasme. Disfungsi ereksi atau impotensi adalah
ketidakmampuan yang persisten dalam mencapai atau mempertahankan fungsi ereksi untuk
aktivitas seksual yang memuaskan. Batasan tersebut menunjukkan bahwa proses fungsi seksual
laki-laki mempunyai dua komponen yaitu mencapai keadaan ereksi dan mempertahankannya.
Hal ini sangat penting bagi laki-laki sebab disfungsi ereksi dapat menimbulkan depresi bagi
penderita yang berujung terganggunya hubungan suami istri serta menyebabkan masalah dalam
kehidupan rumah tangga. Secara garis besar, penyebab disfungsi ereksi terdiri dari faktor
organik, psikis, dan andropause. Umumnya laki-laki berumur lebih dari 40 tahun mengalami
penurunan kadar testosteron secara bertahap. Saat mencapai usia 40 tahun, laki-laki akan
mengalami penurunan kadar testosteron dalam darah sekitar 1,2 % per tahun. Bahkan di usia
70, penurunan kadar testosteron dapat mencapai 70% .
Penelitian National Institutes of Health 2002 menunjukkan kurang lebih 15 juta sampai 30
juta laki-laki di Amerika mengalami disfungsi ereksi. Insidensi terjadinya gangguan bervariasi dan
meningkat seiring dengan usia. Pada usia 40 tahun, terdapat kurang lebih 5% laki-laki
mengalami keadaan disfungsi ereksi, pada usia 65 tahun, terdapat kurang lebih 15-25%
(Handriadi Winaga, 2006). Prevalensi disfungsi ereksi di Indonesia belum diketahui secara tepat,
diperkirakan 16 % laki-laki usia 20 75 tahun di Indonesia mengalami disfungsi ereksi.
Disfunsi ereksi (DE) merupakan masalah yang signifikan dan umum di bidang medis,
merupakan kondisi medis yang tidak berhubungan dengan proses penuaan walaupun
prevelensinya meningkat sejalan dengan bertambahnya usia.Pria dengan diabetes,penyakit
jantung iskemik dan penyakit vaskuler perifer lebih banyak mendrita DE.
Walaupun di Indonesia tidak terdapat survei yang cukup besar, namun gambaran penderita
DE yang datang ke klinik impotensi di perkirakan hasilnya tidak jauh berbeda. Banyak cara yang
dilakukan dalam mengatasi keluhan DE ini, salah satunya adalah dengan obat-obatan. Salah satu
obat yang terbaru dan dapat dikonsumsi secara oral adalah sidenfil sitrat.

1.2 Tujian Makalah


a) Tujuan Umum :
Menjelaskan asuhan keperawatan

1
Tujuan Khusus :
Untuk memahami Definisi
Untuk mengetahui Etiologi
Untuk mengetahui Patofisiologi
Untuk mengetahui Epidemiologi
Untuk mengetahui Manifestasi klinis
Untuk mengetahuai Pemeriksaan diagnostik
Untuk mengetahui Penatalaksanaan Medis
Untuk mengetahui Penanganan dan Pengobatan
Untuk mengetahui Cara Pencegahan

BAB II

TEORI DAN KONSEP

2.1 Definisi
Disfungsi ereksi adalah ketidakmampuan yang menetap atau terus-menerus untuk
mencapai atau mempertahankan ereksi penis yang berkualitas sehingga dapat mencapai

2
hubungan seksual yang memuaskan (Wibowo, 2007). Menurut WHO disfungsi ereksi adalah
keadaan di mana ereksi tidak bisa dicapai atau dipertahanlcan sampai koitus selesai selama 3
bulan. Disfungsi ereksi yang juga disebut impotensadalah ketidak mampuan untuk mencapai
atau mempertahankan ereksi yang cukup untuk menyelesaikan koitus (SUZANNE C. SMELTZER &
BRENDA G. BARE 2001). Disfungsi Ereksi atau erectile dysfunction adalah disfungsi sexsual yang
ditandai dengan ketidakmampuan atau mempertahankan ereksi pada pria untuk mencapai
kebutuhan sexsual dirinya sendiri maupun pasangannya. Disfungsi ereksi (DE) merupakan
masalah yang signifikan dan umum di bidang medis, merupakan kondisi medis yang tidak
berhubungan dengan proses penuaan walaupun prevalensinya meningkat sejalan dengan
bertambahnya usia.

2.2 Etiologi
Banyak faktor yang berhubungan dengan terjadinya DE ini. Walaupun secara garis besar
faktor penyebabnya dibagi menjadi penyebab fisik (organik), psikologis (psikogenik), tetapi
belum tentu salah satu faktor tersebut menjadi penyebab tunggal DE.
Faktor fisik menyebabkan sekitar 60-80% kasus DE. Yang termasuk penyebab fisik adalah
1 penyakit kronik (misalnya aterosklerosis, diabetes dan penyakit jantung)
2 obat-obatan, contoh antihipertensi (terutama diuretik thiazid dan penghambat beta),
antiaritmia (digoksin), antidepresan dan antipsikotik (terutama neuroleptik), antiandrogen,
antihistamin II (simetidin), (alkohol atau heroin), obat penenang, litium
3 pembedahan/ operasi misal operasi daerah pelvis dan prostatektomi radikal
4 trauma (misal spinal cord injury)
5 radioterapi pelvis.
6 Inflamasi prostat (prostatitis)
7 Penyakit parah (anemia, tuberkulosis, pneumonia, dll)
8 Gangguan hormonal
9 Multiple sclerosis dan penyakit saraf lainnya

Di antara sekian banyak penyebab fisik, gangguan vaskular adalah penyebab yang paling
umum dijumpai. Faktor psikologis dapat menyebabkan cacat fisik ringan menjadi DE. Banyak
pria merasa gagal sebagai lelaki ketika daya seksual mereka melemah.Kegagalan awal
mempertahankan ereksi menimbulkan kecemasan dan stress yang pada gilirannya justru
memperburuk DE. Hal tersbut menjadi lingkaran setan. Beberapa masalah psikologis yang dapat
menyebabkan DE antara lain:
1 Kurangnya kepercayaan diri
2 Gangguan hubungan personal
3 Kurangnya hasrat seksual
4 Cemas, depresi, stress, kepenatan, kehilangan, kemarahan
5 Konflik rumah tangga

3
Penyebab yang bersifat fisik lebih banyak ditemukan pada pria lanjut usia, sedangkan
masalah psikologis lebih sering terjadi pada pria yang lebih muda. Pada pria muda, faktor
psikologis ini menjadi penyebab tersering dari DE intermiten Semakin bertambah umur seorang
pria, maka impotensi semakin sering terjadi, meskipun impotensi bukan merupakan bagian dari
proses penuaan tetapi merupakan akibat dari penyakit yang sering ditemukan pada usia lanjut.
Sekitar 50% pria berusia 65 tahun dan 75% pria berusia 80 tahun mengalami impotensi.
Agar bisa tegak, penis memerlukan aliran darah yang cukup. Karena itu penyakit pembuluh
darah (misalnya aterosklerosis) bisa menyebabkan impotensi. Impotensi juga bisa terjadi akibat
adanya bekuan darah atau akibat pembedahan pembuluh darah yang menyebabkan
terganggunya aliran darah arteri ke penis.

2.3 Patofisiologi
Ereksi terjadi melalui 2 mekanisme:
1 Pertama, adalah reflex ereksi oleh sentuhan pada penis (ujung batang dan sekitarnya).
2 Kedua, ereksi psikogenik karena rangsangan erotis. Keduanya menstimulir sekresi nitric oxide
yang memicu relaksasi otot polos batang penis (corpora cavernosa), sehingga aliran darah ke
area tersebut meningkat dan terjadilah ereksi. Disamping itu, produksi testosteron (dari testis)
yang memadai dan fungsi hipofise (pituitary gland) yang bagus, diperlukan untuk ereksi.
Ereksi merupakan hasil dari suatu interaksi yang kompleks dari faktor psikologik,
neuroendokrin dan mekanisme vaskular yang bekerja pada jaringan ereksi penis. Organ erektil
penis terdiri dari sepasang korpora kavernosa dan korpus spongiosum yang ditengahnya
berjalan urethra dan ujungnya melebar membentuk glans penis. Korpus spongiosum ini terletak
di bawah kedua korpora kavernosa. Ketiga organ erektil ini masing-masing diliputi oleh tunika
albuginea, suatu lapisan jaringan kolagen yang padat, dan secara keseluruhan ketiga silinder
erektil ini di luar tunika albuginea diliputi oleh suatu selaput kolagen yang kurang padat yang
disebut fasia Buck. Di bagian anterior kedua korpora kavernosa terletak berdampingan dan
menempel satu sama lain di bagian medialnya sepanjang 3/4 panjang korpora tersebut. Pada
bagian posterior yaitu pada radix krura korpora kavernosa terpisah dan menempel pada
permukaan bawah kedua ramus iskiopubis. Korpora kavernosa ini menonjol dari arkus pubis dan
membentuk pars pendularis penis. Permukaan medial dari kedua korpora kavernosa menjadi
satu membentuk suatu septum inkomplit yang dapat dilalui darah. Radix penis
bulbospongiosum diliputi oleh otot bulbokavernosus sedangkan korpora kavernosa diliputi oleh
otot iskhiokavernosus.

4
Jaringan erektil yang diliputi oleh tunika albuginea tersebut terdiri dari ruang-ruang
kavernus yang dapat berdistensi. Struktur ini dapat digambarkan sebagai trabekulasi otot polos
yang di dalamnya terdapat suatu sistim ruangan yang saling berhubungan yang diliputi oleh
lapisan endotel vaskular dan disebut sebagai sinusoid atau rongga lakunar. Pada keadaan lemas,
di dalam korpora kavernosa terlihat sinusoid kecil, arteri dan arteriol yang berkonstriksi serta
venula yang yang terbuka ke dalam vena emisaria. Pada keadaan ereksi, rongga sinusoid dalam
keadaan distensi, arteri dan arteriol berdilatasi dan venula mengecil serta terjepit di antara
dinding-dinding sinusoid dan tunika albuginea. Tunika albuginea ini pada keadaan ereksi
menjadi lebih tipis. Glans penis tidak ditutupi oleh tunika albuginea sedangkan rongga sinusoid
dalam korpus spongiosum lebih besar dan mengandung lebih sedikit otot polos dibandingkan
korpus kavernosus.

Penis dipersarafi oleh sistem persarafan otonom (parasimpatik dan simpatik) serta
persarafan somatik (sensoris dan motoris). Serabut saraf parasimpatik yang menuju ke penis
berasal dari neuron pada kolumna intermediolateral segmen kolumna vertebralis S2-S4. Saraf
simpatik berasal dari kolumna vertebralis segmen T4L2 dan turun melalui pleksus preaortik ke
pleksus hipogastrik, dan bergabung dengan cabang saraf parasimpatik membentuk nervus
kavernosus, selanjutnya memasuki penis pada pangkalnya dan mempersarafi otot-otot polos
trabekel. Saraf sensoris pada penis yang berasal dari reseptor sensoris pada kulit dan glans penis
bersatu membentuk nervus dorsalis penis yang bergabung dengan saraf perineal lain
membentuk nervus pudendus. Kedua sistem persarafan ini (sentral/psikogenik dan periferal/
refleksogenik) secara tersendiri maupun secara bersama-sama dapat menimbulkan ereksi.

Sumber pendarahan ke penis berasal dari arteri pudenda interna yang kemudian menjadi
arteri penis komunis dan kemudian bercabang tiga menjadi arteri kavernosa (arteri penis
profundus), arteri dorsalis penis dan arteri bulbouretralis. Arteri kavernosa memasuki korpora
kavernosa dan membagi diri menjadi arteriol-arteriol helisin yang bentuknya seperti spiral bila
penis dalam keadaan lemas. Dalam keadaan tersebut arteriol helisin pada korpora berkontraksi
dan menahan aliran darah arteri ke dalam rongga lakunar. Sebaliknya dalam keadaan ereksi,
arteriol helisin tersebut berelaksasi sehingga aliran darah arteri bertambah cepat dan mengisi
rongga-rongga lakunar. Keadaan relaksasi atau kontraksi dari otot-otot polos trabekel dan
arteriol menentukan penis dalam keadaan ereksi atau lemas. Selama ini dikenal adrenalin dan
asetilkolin sebagai neurotransmiter pada sistem adrenergik dan kolinergik, tetapi pada korpora
kavernosa ditemukan adanya neurotransmiter yang bukan adrenergik dan bukan pula kolinergik
(non adrenergik non kolinergik = NANC) yang ternyata adalah nitric oxide/NO. NO ini merupakan

5
mediator neural untuk relaksasi otot polos korpora kavernosa. NO menimbulkan relaksasi
karena NO mengaktifkan enzim guanilat siklase yang akan mengkonversikan guanosine
triphosphate (GTP) menjadi cyclic guanosine monophosphate (cGMP). cGMP merangsang
kalsium keluar dari otot polos korpora kavernosa, sehingga terjadi relaksasi. NO dilepaskan bila
ada rangsangan seksual. cGMP dirombak oleh enzim phosphodiesterase (PDE) yang akan
mengakhiri/ menurunkan kadar cGMP sehingga ereksi akan berakhir. PDE adalah enzim
diesterase yang merombak cyclic adenosine monophosphate (cAMP) maupun cGMP menjadi
AMP atau GMP. Ada beberapa isoform dari enzim ini, PDE 1 sampai PDE7. Masing-masing PDE
ini berada pada organ yang berbeda. PDE5 banyak terdapat di korpora kavernosa.

2.4 EPIDEMIOLOGI
Diperkirakan pada 1995, terdapat lebih dari 152 juta pria di seluruh dunia yang menderita
DE. Proyeksi pada 2025 menunjukkan prevalensi sekira 322 juta pria, artinya akan terjadi
penambahan sebanyak 170 juta penderita DE dalam kurun waktu 30 tahun.
Disfungsi Ereksi (DE) tidak dianggap sebagai bagian normal dari penuaan. Namun, ini
berkaitan dengan perubahan fisiologis dan psikologis berkaitan dengan umur. Pada survey
komunitas yang diadakan oleh Massachusetts Male Aging Study (MMAS) pada laki-laki dengan
rentang umur 40 70 tahun, 52% responder dilaporkan memiliki beberapa derajat DE. DE
sempurna terjadi pada 10% responder. DE moderat terjadi pada 25% dan DE minimal pada 17%
responder. Insiden DE moderat dan berat meningkat dua kali lipat pada umur 40 dan 70. Pada
National Health and Social Life Survey (NHSLS), dimana menjadi sampel nasional mewakili

6
populasi pria umur 18-59 tahun, 10% pria dilaporkan tidak dapat menjaga ereksi (serupa dengan
proporsi pria dengan DE sempurna pada survey MMAS). Insiden tertinggi adalah pria dengan
umur 50-59 tahun (21%) dan pria miskin (14%), perceraian (14%) dan kurang pendidikan (13%).

Insiden terjadinya DE juga meningkat pada pria dengan keadaan medis tertentu seperti
DM, obesitas, gejala saluran kemih bagian bawah akibat benign prostatic hyperplasia (BPH),
penyakit jantung, hypertensi, dan penurunan kadar HDL. Merokok merupakan faktor resiko
bermakna untuk perkembangan DE. Pengobatan untuk DM dan penyakit jantung merupakan
faktor resiko penambah. Terdapat peningkatan resiko DE pada pria yang telah menjalani radiasi
atau operasi kanker prostate dan pada mereka dengan cedera medulla spinalis bagian bawah.
Penyebab psikologis DE adalah depresi, kemarahan, atau stress akibat kehilangan pekerjaan atau
penyebab lainnya.

2.5 Manefestasi klinik


Pada disfungsi ereksi, tanda-tandanya adalah sebagai berikut:
1. Tidak mampu ereksi sama sekali atau tidak mampu mempertahankan ereksi secara berulang
( paling tidak selama 3 bulan ).
2. Tidak mampu mencapai ereksi yang konsisten
3. Ereksi hanya sesaat ( dalam referensi tidak disebutkan lamanya )

2.6 Pemeriksaan diagnostik


1 Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan fisik, tanda-tanda hipogonadisme (termasuk testis kecil, ginekomasti dan
berkurangnya pertumbuhan rambut tubuh dan janggut) memerlukan perhatian khusus.
Pemeriksaan penis dan testis dikerjakan untuk mengetahui ada tidaknya kelainan bawaaan atau
induratio penis. Bila perlu dilakukan palpasi transrektal dan USG transrektal. Tidak jarang ED
disebabkan oleh penyakit prostat jinak ataupun prostat ganas atau prostatitis.
Pemeriksaan rektum dengan jari (digital rectal examination), penilaian tonus sfingter ani,
dan bulbo cavernosus reflek (kontraksi muskulus bulbokavernous pada perineum setelah
penekanan glands penis) untuk menilai keutuhan dari sacral neural outflow. Nadi perifer
dipalpasi untuk melihat adanya tanda-tanda penyakit vaskuler. Dan untuk melihat komplikasi
penyakit diabetes ( termasuk tekanan darah, ankle bracial index, dan nadi perifer ).
2 Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan laboratorium yang dapat menunjang diagnosis ED antara lain: kadar serum
testosteron pagi hari (perlu diketahui, kadar ini sangat dipengaruhi oleh kadar luteinizing
hormone). Pengukuran kadar glukosa dan lipid, hitung darah lengkap (complete blood count),
dan tes fungsi ginjal.
Sedangkan pengukuran vaskuler berdasarkan injeksi prostaglandin E1 pada corpora penis,
duplex ultrasonography, biothesiometry, atau nocturnal penile tumescence tidak

7
direkomendasikan pada praktek rutin/sehari-hari namun dapat sangat bermanfaat bila informasi
tentang vascular supply diperlukan, misalnya, untuk menentukan tindakan bedah yang tepat.

2.7 Penatalaksanaan Medis


Prinsip penatalaksanaan dari disfungsi seksual pada pria dan wanita adalah sebagai berikut:
1. Membuat diagnosa dari disfungsi seksual
2. Mencari etiologi dari disfungsi seksual tersebut
3. Pengobatan sesuai dengan etiologi disfungsi seksual
4. Pengobatan untuk memulihkan fungsi seksual, yang terdiri dari pengobatan bedah dan
pengobatan non bedah (konseling seksual dan sex theraphy, obat-obatan, alat bantu seks, serta
pelatihan jasmani).
Pada kenyataannya tidak mudah untuk mendiagnosa masalah disfungsi seksual. Diantara
yang paling sering terjadi adalah pasien tidak dapat mengutarakan masalahnya semua kepada
dokter, serta perbedaan persepsi antara pasien dan dokter terhadap apa yang diceritakan
pasien. Banyak pasien dengan disfungsi seksual membutuhkan konseling seksual dan terapi,
tetapi hanya sedikit yang peduli. Oleh karena masalah disfungsi seksual melibatkan kedua belah
pihak yaitu pria dan wanita, dimana masalah disfungsi seksual pada pria dapat menimbulkan
disfungsi seksual ataupun stres pada wanita, begitu juga sebaliknya, maka perlu dilakukan dual
sex theraphy. Baik itu dilakukan sendiri oleh seorang dokter ataupun dua orang dokter dengan
wawancara keluhan terpisah. Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa terapi atau
penanganan disfungsi seksual pada kenyataanya tidak mudah dilakukan, sehingga diperlukan
diagnosa yang holistik untuk mengetahui secara tepat etiologi dari disfungsi seksual yang terjadi,
sehingga dapat dilakukan penatalaksanaan yang tepat pula.

2.8 Penanganan dan pengobatan


Penanganan disfungsi ereksi tentu harus disesuaikan dengan penyebabnya. Penangannan
disfungsi ereksi melibatkan keikutsertaan pasangan suami-istri. Karena gaya hidup sangat
berperan, maka modifikasi gaya hidup sangat berperan dalam penatalaksanaannya. Pria yang
mengalami disfungsi ereksi harap mengurangi konsumsi rokok, menghindari kegemukan, dan
meningkatkan aktivitas fisik. Kadang diperlukan terapi psikoseksual untuk mengatasi penyebab
psikogenik seperti kecemasan dan depresi.

8
Berbagai jenis pengobatan yang tersedia untuk mengatasi masalah DE dapat dilihat pada
tabel 1. Terdapat banyak cara yang digunakan untuk terapi DE, salah satunya adalah dengan
obat oral yang mulai dipasarkan secara luas yaitu sildenafil. Obat ini hanya bekerja bilamana
terdapat stimulasi seksual dan diminum satu jam sebelum aktifitas seksual dengan dosis antara
25 100mg. Sildenafil bekerja dengan menghambat kompetitif enzim PDE 5 yang banyak
terdapat pada korpus kavernosus penis, sehingga menyebabkan relaksasi otot polos yang
terdapat berlangsung lebih lama, dengan demikian ereksi juga akan berlangsung lebih lama.
Masih banyak kontradiksi mengenai penggunaan sildenafil dalam penatalaksanaan DE, dengan
angka keberhasilannya sekitar 60-70 %. Pada penderita diabetes angka keberhasilan hanya
sekitar 50 %. Kontraindikasi pemakaian sildenafil adalah pasien yang menggunakan preparat
nitrat, adanya riwayat stroke, infark miokard, hipotensi, penyakit degeneratif retina dan obat
yang membuat waktu paruh sildenafil menjadi lebih panjang.

9
Penanganan disfungsi ereksi dengan farmakologi dan bedah dibagi menjadi 3 lini terapi, yaitu:
1 Terapi lini pertama
Terapi lini pertama yaitu memberi oral pada pasien. Untuk tahap ini, Badan Pengawasan Obat-
obatan dan Makanan telah mengizinkan tiga jenis obat yang beredar di Indonesia, masing-
masing dikenal dengan jenis obat
a. Sildenafil (viagra),
b. Tadalafil (Cialis) dan
c. Vardenafil (Levitra).
Ketiga jenis obat ini merupakan obat untuk menghambat enzim Phosphodiesterase-5 (PDE-
5), suatu enzim yang terdapat di organ penis dan berfungsi untuk menyelesaikan ereksi penis.
Ketiga jenis obat ini memiliki kelebihan dan kekurangan :
a. Sildenafil merupakan preparat erektogenik golongan PDE-5 yang pertama kali ditemukan.
Mula kerja Sildenafil antara jam 1 jam. Sedangkan masa kerjanya berkisar 5-10 jam.
Dari segi profilnya, Sildenafil tidak begitu selektif dalam menghambat PDE-5. karena, zat ini
ternyata juga menghambat PDE-6, jenis enzim yang letaknya di mata. Kondisi ini
menyebabkan penglihatan mata menjadi biru (blue vision). Obat ini juga tidak bisa diminum
berbarengan dengan makanan karena absorsi (penyerapannya) akan terganggu jika
lambung dalam kondisi penuh.

10
b. Vandenafil, lebih selektif dalam menghambat PDE-5 mengingat dosisnya tergolong kecil
yaitu antara 10mg-20mg. Mula kerjanya lebih cepat, 10 menit 1jam, dengan masa kerja 5-
10 jam. Keunggulan Vandenafil adalah absorsinya tidak dipengaruhi oleh makanan. Jadi jika
Anda ingin melakukan hubungan intim dengan istri setelah candle light dinner, boleh-boleh
saja. Kelemahannya, akan terjadi vasodilatasi (pelebaran pembuluh darah di hidung
sehingga menyebabkan hidung tersumbat). Biasanya minum pertama akan menyebabkan
pening.
c. Tadalafil, masa kerjanya jauh lebih panjang yaitu 36 jam. Mula kerjanya sekitar 1 jam dan
tidak dipengaruhi oleh makanan sehingga absorsinya tidak terganggu. Kekurangannya, obat
ini juga menghambat PDE-11 enzim yang letaknya di pinggang sehingga jika mengkonsumsi
ini, si pria akan mengalami rasa sakit di pinggang.
Sedangkan farmakologi topikal dapat digunakan pada penderita yang tidak dapat
mengkonsumsi obat penghambat PDE 5. Obat topikal dioleskan pada kulit batang penis dan
glans penis. Beberapa agen yang biasa digunakan adalah solusio minoksidil, nitrogliserin dan gel
papaverin. Sementara penggunaan VCD bertujuan untuk memperbesar penis secara pasif yang
kemudian cincin pengikat pada pangkal penis akan mempertahankan darah dalam penis. Namun
penggunaan VCD ini dapat menimbulkan efek samping berupa nyeri, sulit ejakulasi, perdarahan
bawah kulit (petekie) dan baal.
2 Terapi lini kedua
Paad terapi lini keduan yang terdiri dari suntikan intravernosa dan pemberian alprostadil melalui
uretra. Terapi suntikan intrakarvenosa yang digunakan adalah penghambat adrenoreseptor dan
prostaglandin. Prinsip kerja obat ini adalah dapat menyebabkan relakasasi otot polos pembuluh
darah dan karvenosa yang dapat menyebabkan ereksi. melakukan penyuntikan secara
entrakavernosa dan pengobatan secara inraurethra yang memasukkan gel ke dalam lubang
kencing. Pasien dapat melakukan sendiri cara ini setelah dilatih oleh dokter.
3 Terapi lini ketiga
Terapi lini ketiga yaitu implantasi prosthesis pada penis. Tindakan ini dipertimbangkan pada
kasus gagal terapi medikamentosa atau pada pasien yang menginginkan solusi permanen untuk
masalah disfungsi ereksi. Terdapat 2 tipe prosthesis yaitu semirigid dan inflatable. Tindakan ini
sudah banyak dilakukan di luar negeri namun di Indonesia belum ada

2.9 Cara Mencegah Disfungsi Ereksi


Seiring perubahan waktu dan gaya hidup, kemampuan pria berereksi memang akan
berkurang, dan ini sulit untuk dihindarkan. Tapi, bukan berarti Anda harus pasrah pada keadaan.
Ada beberapa langkah yang dapat Anda lakukan agar masalah DE bisa teratasi dan Anda mampu
mempertahankan ereksi Anda terhadap pasangan.
Berikut delapan langkah mudah untuk mempertahankannya:

11
1 Hindari Nikotin
Berdasarkan studi yang dilakukan universitas di Kentucky, para ahli menemukan fakta ketika
pria ditanya mengenai tingkat kehidupan seksualnya dalam kisaran 1-10, kebanyakan pria
perokok menjawab dengan angka 5 sementara pria tanpa rokok menjawab dengan angka 9.
Rokok adalah penyebab DE, selain membahayakan pembuluh darah, merokok juga
menyebabkan kerusakan pada Mr Dick seperti kurangnya elastisitas dan menghambat pelebaran
fungsi pembuluh darah Mr Dick.
2 Vasektomi
Tindakan vasektomi adalah upaya mengontrol kehamilan. Beberapa pria biasanya
mengalami kegelisahan dan ketakutan akan perasaan tak mampu lagi membuahi, karena
tingkat efektivitas vasektomi 99,9%, artinya kemungkinan kehamilan sangat kecil.
Menurut Karen Donahey, Ph.D., Director Sex and Marital Therapy Program dari
Northwestern University, kegelisahan semacam ini kadang mempengaruhi gangguan fungsi
ereksi dan merusak mood berhubungan seksual. Jadi pertimbangkan baik-baik pilihan KB yang
satu ini.

3 Stop Stres & Perasaan Bersalah


Beberapa pria yang menjalani affair mengalami gangguan ereksi. Kemungkinan ini terjadi
karena faktor psikis, semacam perasaan bersalah dan kecemasan banyak mempengaruhi. Jadi,
jika Anda ingin fungsi ereksi kembali normal, sebaiknya hindari affair.
4 Bakar Lemak Perut
Lebih dari 50% pria dengan diabetes mengalami gangguan ereksi. Menjaga berat ideal dan
menyingkirkan lemak jahat pada perut adalah cara terbaik menghindari diabetes. Tapi jika sudah
terlanjur tetap kontrol kadar gula darah Anda.
5 Hindari Benturan Benda Keras
Perkiraan para ahli, lebih dari tiga pria dengan gangguan fungsi ereksi mengalami penile
trauma. Jadi, berhati-hatilah saat melakukan aktivitas seksual dengan posisi women on top, atau
melakukan olahraga dengan peralatan keras.
6 Mulailah Kebiasaan Berjalan Kaki
Berdasarkan hasil penelitian, pria yang rajin berjalan kaki meski hanya sekitar tiga kilometer
sehari hanya mengalami setengah dari gangguan ereksi dibanding pria yang terbiasa duduk dan
bergantung pada alat transportasi.
Menurut urolog dari Chicagos Rush-Presbyterian Medical Center, Laurence Levine, M.D.,
saluran darah pada Mr Dick adalah organ biologis aktif, artinya semakin banyak Anda bergerak,
latihan, dan berolahraga, maka pembuluh darah akan semakin fleksibel dan fungsi ereksi akan
semakin bekerja maksimal.
7 Menguap Tanpa Anda Sadari
Menguap dan ereksi adalah dua kejadian yang dipengaruhi proses kimia yang disebut nitric
oxide. Senyawa kimia ini diproduksi di otak dan disalurkan melalui neuron yang mengendalikan

12
proses pernafasan dan menguap, serta melebarkan pembuluh darah penis dan menyebabkan
ereksi.
Kadang hal ini terjadi bersamaan. Tidak mengherankan jika saat Anda menguap lebar
kadang dilanjutkan dengan ereksi. Ini bukan berarti Anda harus melakukan foreplay dengan
mulut ternganga lebar, tapi sesekali membiarkan mulut menguap lebar bisa membantu
menyehatkan fungsi ereksi Anda agar tetap optimal.
8 Tidur Sehabis Hubungan Seksual
Bisa dimengerti kenapa mata terasa berat usai hubungan seksual, meski sesungguhnya
Anda tak menginginkannya. Tapi tidak demikian dengan fungsi seksual tubuh Anda.
Tanpa disadari, di saat Anda tertidur, Mr Dick penis beberapa kali mengalami ereksi.
Menurut Dr Goldstein, ereksi yang Anda alami antara pukul 3-5 pagi hari saat Anda tertidur
adalah fenomena alami yang berfungsi mempertahankan kekuatan ereksi. Secara teori ereksi di
pagi hari terjadi karena tubuh mengalirkan darah yang mengandung banyak oksigen ke arah Mr
Dick.

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN


A. PENGKAJIAN
Perubahan kadar hormone
Perubahan pola reponsif seksual
Tidak adanya kontraksi uterus selama orgasme

B. Diagnosa keperawatan
Susah memulai ereksi berhubungan dengan kelainan pembuluh darah ditandai
dengan tidak mampu mencapai ereksi yang konsisten.
Gangguan persarafan berhubungan dengan adanya tekanan pada saraf ditandai
dengan menurunnya kemampuan seksual disebabkan oleh stress, depresi, dan
kecemasan yang berlebihan.
Hilangnya rasa percaya diri berhubungan dengan kelainan pada penis ditandai
dengan ukuran penis yang tidak normal.
Kurang pengetahuan / informasi tentang kondisi dan kebutuhan pengobatan.
C. Tindakan/Intervensi
Susah memulai ereksi berhubungan dengan kelainan pembuluh darah ditandai
denga tidak mampu mencapai ereksi yang konsisten. Intervensi: pantau tanda vital :
inspeksi daerah genitalia pada saat dipalpasi apakah terjadi ereksi atau tidak.

13
Gangguan persarafan berhubungan dengan adanya tekanan pada saraf ditandai
dengan menurunnya kemampuan seksual disebabkan oleh stress, depresi, dan
kecemasan yang berlebihan. Intervensi: anjurkan pasien agar mengikuti terapi
psikologis agar tekanan yang terjadi pada saraf bisa menghilang.
Hilangnya rasa percaya diri berhubungan dengan kelainan pada penis ditandai
dengan ukuran penis yang tidak normal. Intervensi: dorong pasien untuk berbagi
pikiran /masalah dengan teman
Kurang pengetahuan / informasi tentang kondisi dan kebutuhan pengobatan.
Intervensi: memberikan pemahaman tentang kondisi yang di alami dan pengobatan
yang benar dan tepat.

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Disfungsi Ereksi adalah salah satu penyakit sexsual pada pria yaitu, ketidakmampuan untuk
mencapai atau menjaga ereksi tetap pada waktu penentrasi.

3.2 Saran
Saran kami yaitu jagalah baik-baik alat reproduksi anda terutama pada pria, jangan terlalu
keseringan menggunakan obat-obatan dan hindarilah yang namanya gangguan psikologis
contohnya,stress,pusing dll.

14
DAFTAR PUSTAKA

Boolell M, Gepi-Attee S, Gingel JC, Allen MJ. Sildenafil : a novel effective oral therapy for male
erectile dysfucntion. Br J Urol 1996;78:257-61.
Feldman HA, Goldstein I, Hatzichrictou DG, Krane RJ, McKinley JB. Impotence and its medical
and psychosocial correlates : results of the Massachusetts male aging study. J Urol
1994;151:54-61.
Garbett R. New generation ED treatment in pipeline. Asian Medical News 2000;22:5.
Henwood J. Sildenafil for erectile dysfunction. Medical Progress 1999;26:37-9.
Shah PK, Schwartz I, Mc Carthy D, Saldana MJ, Villaran C, Alholel B. et al. Sildenafil in the
treatment of erectile dysfunction. N Engl J Med 1998;339:699-702.
Taher A, Karakata S, Adimoelya A, Pangkahila W, Kakiailatu F. Penatalaksanaan disfungsi
ereksi. Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan;10 Juli 1999;Jakarta: Pengurus Besar Ikatan
Dokter Indonesia.
Bare, Brenda G dan smeltzer, Suzanne C. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal-bedah
Brunner & Suddarth Edisi 8 Vol. 2. Jakarta: Kedokteran EGC.

15
16