Anda di halaman 1dari 13

Halaman Pengesahan

Laporan lengkap praktikum Kimia Instrumen dengan judul


Refraktometer yang disusun oleh :
Nama : Eva Indriyani
Nim : 1513140009
Kelas/Kelompok : Kimia Sains/V (Lima)
telah diperiksa dan dikoreksi oleh Asisten dan Koordinator Asisten yang
bersangkutan, dan dinyatakan diterima.

Makassar, November 2017


Koordinator Asisten Asisten

Resky Ramadani, S.Pd Imranah, S.Pd

Mengetahui,
Dosen Penanggung jawab

Maryono, S.Si., M,Si., Apt., M.M.


NIP : 19760307 200501 2 002
A. Judul Percobaan
Refraktometer

B. Tujuan Percobaan
Diahir percobaan mahasiswa diharapkan dapat:
a. Mengetahui cara menggunakan alat refraktometer.
b. Mengetahui prinsip dasar dan prinsip kerja alat refraktometer.

C. Landasan Teori
Kimia analitik bisa dibagi menjadi bidang-bidang yang disebut
analisis kualitatif dan analisis kuantitatif. Analisis kualitatif berkaitan dengan
identifikasi zat-zat kimia, mengenali unsur atau senyawa apa yang ada dalam
suatu sampel. Analisis kuantitatif berkaitan dengan berapa banyak suatu zat
tertentu yang terkandung dalam suatu sampel. Zat yang ditetapkan tersebut, yang
seringkali dinyatakan sebagai konstituen atau analit, menyusun entah sebagian
kecil atau sebagian besar sampel yang dianalisis. Suatu analisis yang lengkap
sebenarnya terdiri dari lima tahap utama yaitu pencuplikan sampel yaitu
pemilihan suatu sampel yang representatif dari material yang dianalisis, pelarutan
sampel, konversi analit menjadi suatu bentuk yang cocok untuk diukur,
pengukuran, serta perhitungan dan penafsiran dari hasil pengukuran
tersebut (Day, 2002: 2). Melalui analisis kuantitatif dan kualitatif kita dapat
mendeteksi dan mengidentifikasi jenis dan jumlah dari komponen penyusun
bahan yang dianalisis atau lebih kenal sebagai analit
Sistematika dalam menganalisis secara kualitatif suatu senyawa organik
meliputi beberapa langkah pengerjaan antara lain:
a. Melihat sifat fisisnya
b. Analisis elementer
c. Reaksi identifikasi gugus fungsional
d. Analisis kromatografi
Dengan mengumpulkan data-data yang nyata mengenai sifat fisis dari suatu
senyawa lebih mudah untuk melakukan suatu analisa senyawa tersebut, karena
dapat menggolongkannya ke dalam golongan senyawa tertentu yang sesuai
dengan sifat-sifatnya. Sifat fisis dapat diperiksa antara lain warna, bau, kelarutan,
kekentalan, titik leleh, titik didih, indeks bias, dan berat jenis. Salah satu sifat fisis
yang dapat diperiksa adalah indeks bias yang dapat dilakukan dengan
menggunakan alat refraktometer (Tim Dosen Kimia Instrumen , 2017: 28).
Salah satu sifat yang paling penting dari bahan, yang erat kaitannya
dengan penerapan bahan tersebut dalam bidang Optik dan Optoelektronik adalah
polarisabilitas elektronik, sehingga estimasi yang biasa digunakan untuk
mendapatkan tingkat polarisasi dari ion sering disebut sebagai pendekatan
polarisabilitas (Moustafa & Elkhateb 2012). Berdasarkan hasil pengukuran indeks
bias, perhitungan massa molar, massa jenis, volume molar dapat ditentukan molar
refraction dari kaca refractometer Abbe measurements, pengukuran menggunakan
sudut Brewster atau metode prisma yang memungkinkan untuk mendapatkan
sudut deviasi minimum (Chimalawong et al. 2010 dalam pramuda, 2013: 135).
Refraktometer bekerja menggunakan prinsip pembiasan cahaya ketika
melalui suatu larutan. Ketika cahaya datang dari udara ke dalam larutan maka
kecepatannya akan berkurang. Fenomena ini terlihat pada batang yang terlihat
bengkok ketika dicelupkan ke dalam air. Refraktometer memakai prinsip ini untuk
menentukan jumlah zat terlarut dalam larutan dengan melewatkan cahaya ke
dalamnya. Sumber cahaya ditransmisikan oleh serat optic ke dalam salah satu sisi
prisma dan secara internal akan dipantulkan ke interface prisma dan sampel
larutan. Bagian cahaya ini akan dipantulkan kembali ke sisi yang berlawanan pada
sudut tertentu yang tergantung dari indeks bias larutannya (Hidayanto,2010: 114).
Refraktometer didasarkan pada seberkas gelombang cahaya yang mengenai
permukaan pembatas transparan yaitu udara dan suatu cairan dimana sinar
tersebut akan direfleksikan.
Refraktometer perlu dikalibrasi terlebih dahulu sebelum digunakan untuk
satu hari pengamatan. Jika terjadi perubahan suhu, alat ini perlu dikalibrasi
kembali. Cara mengkalibrasi refraktometer dimulai dengan membuka penutup
kaca prisma, kemudian di atas kaca prima diteteskan satu atau dua tetes akuades.
Penutup kaca prisma lalu ditutup lagi dengan perlahan dan dipastikan akuades
memenuhi permukaan kaca prisma. Refraktometer diarahkan pada cahaya terang,
kemudian dilihat pembacaan skala melalui lubang teropong. Jika skala kabur,
lubang teropong diputar hingga pembacaan skala tampak jelas. Pastikan garis
batas biru tepat pada skala 0Brix (% maks. sukrosa). Jika garis batas biru tidak
tepat pada skala 0Brix, sekrup pengatur skala diputar hingga garis batas biru
tepat pada skala 0Brix. Setelah kalibrasi selesai, kaca prisma dibersihkan dengan
menggunakan kertas tisu (Ihsan, 2010: 11). Sebelum alat digunakan terlebih
dahulu harus dikalibrasi yang berfungsi untuk menguji kenormalan dan ketepatan
nilai yang ditampilkan alat terhadap nilai yang sebenarnya sehingga dapat
meminimalkan kesalahan alat refraktometer.
Indeksi bias (refractive index) merupakan sifat fisika yang berguna dalam
suatu analisis cairan. Analisis suatu cairan dilakukan untuk mengetahui
kandungan yang terdapat didalamnya. Seringkali suatu cairan dapat diidentifikasi
dengan cara menentukan nilai indeks biasnya. Sehinggab indeks bias yang
dianalisis yaitu dengan membandingkan nilai indeks bias sampel dengan nilai
indeks cairan murni dalam literatur. Makin dekat dengan literatur maka tingkat
kemurniannya semaki tinggi (Julianto, 2016: 43). Nilai indeks bias refraktometer,
juga dikenal sebagai nilai Brix (BV), adalah konstan untuk suatu zat pada kondisi
suhu dan tekanan standar BV, ukuran total padatan terlarut dalam larutan,
berkorelasi erat dengan fraksi molar komponen (Hidayanto, 2012: 114). Nilai
indes bias pada refraktometer dapat ditentuan dengan nilai % brix yang mana
menyatakaan onsentrasi zat dalam sampel.
Ketika sinar cahaya ditransmisikan dengan kemiringan tertentu melalui
batas antara dua medium dengan indeks bias yang tidak sama, sinar tersebut akan
membelok. Jika nt > ni, sinar membias sebagaimana tampak pada gambar 1. Sinar
membelok terhadap garis normal saat memasuki medium kedua. Akan tetapi, jika
nt < ni, sinar membias menjauhi garis normal. Cara sebuah sinar membias pada
permukaan batas antara medium-medium dengan indeks bias ni dan nt ditentukan
oleh hukum snell:
ni sin i = nt sin t
dimana i dan t adalah sebagaimana tampak pada gambar 1. Arena persamaan
iniberlaku untuk cahaya yang bergerak ke arah manapun sepanjang sinar tersebut,
sinar cahaya mengikuti jalur yang sama jia arahnya dibalik (Bueche, 2006: 245).
Pengukuran indeks bias sendiri merupakan salah satu bagian dari
penentuan sifat fisik optik yang penting selain reflektansi dan absorbansi. Indeks
bias merupakan parameter penting untuk mengestimasi sifat-sifat laser kaca
menggunakan teori Judd-Ofelt. Indeks bias dapat diestimasi dengan pendekatan
polarisabilitas, maupun dikukur langsung secara eksperimental. Salah satu cara
mengukur indeks bias kaca tellurite adalah dengan menggunakan refraktometer
ABBE, akan tetapi cara ini tidak dapat dilakukan untuk indeks bias bahan yang
tinggi (Pramuda, 2013: 133).
sin
= =
sin
merupakan besar sudut yang terjadi ketika cahaya datang menyentuh
permukaan medium sedangkan adalah sudut yang dibelokkan medium. Pada
saat cahaya datang dari suatu medium yang memiliki kerapatan yang lebih kecil
melewati kerapatan yang lebih besar, maka cahaya akan dibelokkan menuju pada
keadaan yang normal (Julianto, 2016: 43-44).
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan (Hidayanto, 2012)
menyimpulkan bahwa Semakin besar konsentrasi, semakin besar pula indeks
biasnya. Hal ini disebabkan karena adanya perubahan laju cahaya ketika melewati
larutan sukrosa. Cahaya yang melewati suatu materi akan mengalami interaksi
dengan molekul-molekul dan atom-atom dari materi tersebut. Molekul-molekul
dan atom-atom yang terkandung di dalamnya akan menyerap dan meradiasi ulang
cahaya tersebut pada frekuensi yang sama tetapi laju gelombangnya berbeda.
Cahaya yang diradiasikan kembali oleh molekulmolekul dan atom-atom tersebut
mengalami ketertinggalan fase dibandingkan dengan gelombang dating, sehingga
dalam waktu yang sama gelombang yang dilewatkan tidak berjalan di dalam
medium sejauh gelombang datang aslinya sehingga kecepatan gelombang yang
dilewatkan lebih kecil dari pada kecepatan gelombang datang. Semakin besar
konsentrasi larutan, maka semakin besar pula jumlah molekul dan atomnya yang
berinteraksi dengan gelombang cahaya, sehingga ketertinggalan fase yan dialami
oleh gelombang datang semakin besar. Hal ini berarti bahwa laju cahaya semakin
kecil seiring dengan bertambahnya konsentrasi larutan.

D. Alat dan Bahan


1. Alat
a. Refraktometer Abbe 1 buah
b. Refraktometer hand 1 buah
c. Pipet tetes 6 buah
d. Gelas kimia 100 mL 1 buah
e. Botol semprot 1 buah
f. Lap kasar 1 buah
g. Lap halus 1 buah
2. Bahan
a. Aquades (H2O)
b. Sampel teh gelas
c. Sampel cappuccino
d. Sampel ale-ale
e. Sampel mountea blackcurent
f. Sampel mountea jambu
g. Tissu

E. Prosedur Kerja
1. Refraktometer Abbe
a. Tombol ON ditekan pada alat refraktometer
b. Permukaan prisma refraktometer dibersihkan dengan aquades dan
tissu.
c. Semua sampel yang akan diuji diteteskan pada kaca bagian atas alat,
pastikan semua permukaan kacanya tertutupi oleh sampel.
d. sampel tersebut kemudian ditutup dan proses pembacaan ditunggu
hingga selesai.
e. Hasil pembacaan pada alat refraktometer dicatat
f. Perlakuan diulangi sebanyak 3 kali untuk tiap sampel
2. Refraktometer Hand
a. Permukaan prisma refraktometer dibersihkan dengan aquades dan
tissu.
b. Sampel pada kaca bagian atas alat ditetetskan, kemudian dilihat indeks
biasnya dengan cara melihatnya pada tempat yang terang
c. Hasil yang diperoleh pada alat tersebut dicatat, kemudian
d. Perlakuan diulangi sebanyak 3 kali untuk tiap sampel

F. Hasil Pengamatan
1. Refraktometer Abbe
% brix Rata- Kadar
No Bahan
I II III rata gula (g)
1 Teh Gelas 7,69 7,71 7,70 7,70 14
2 Ale-Ale 7,93 7,93 7,92 7,926 14
3 Capucino 6,64 6,63 6,63 6,633 4,8
4 Mountea jambu 4,48 4,83 4,84 4,836 9
5 Mountea blackcurent 4,86 4,85 4,85 4,856 9

2. Refraktometer Hand
N % brix Rata- Kadar
Bahan
o I II III rata gula (g)
1 Teh Gelas 7 7 7 7 14
2 Ale-Ale 7,8 7,8 7,7 7,76 14
3 Capucino 6,8 6,8 6,7 6,76 4,8
4 Mountea jambu 4,3 4,5 4,5 4,43 9
5 Mountea blackcurent 4,6 4,8 4,8 4,73 9

G. Analisis Data
1. Refraktometer Abbe
a. Teh gelas
7,69+7,71+7,70
Indeks bias = = 7,70
3
b. Ale-Ale
7,93+7,93+7,92
Indeks bias = = 7,926
3
c. Capucino
6,64+6,63+6,63
Indeks bias = = 6,633
3
d. Mountea jambu
4,84+4,83+4,84
Indeks bias = = 4,836
3
e. Mountea blackcurent
4,86+4,85+4,85
Indeks bias = = 4,856
3
2. Refraktometer Hand
Suhu ruangan = 28oC
a. Teh gelas
(7+7+7)+0,57 21,57
Indeks bias = = = 7,19
3 3
b. Ale-ale
(7,8+7,8+7,7)+0,57 23,87
Indeks bias = = = 7,956
3 3
c. Capucino
(6,8+6,8+6,7)+0,57 20,87
Indeks bias = = = 6,956
3 3
d. Mountea jambu
(4,3+4,5+4,5)+0,57 13,87
Indeks bias = = = 4,623
3 3
e. Mountea blackcurent
(4,6+4,8+4,8)+0,57 14,77
Indeks bias = = = 4,923
3 3
Tabel; hubungan antara Indeks Bias dengan Sampel minuman
Indeks Bias
Sampel Minuman
Refraktometer Abbe Refraktometer Hand
Teh Gelas 7,70 7,19
Ale-ale 7,926 7,956
Capucino 6,633 6,956
Mountea Jambu 4,836 4,623
Mountea Blackcurent 4,856 4,923
H. Pembahasan
Refraktometer adalah alat untuk mengukur indeks bias cairan, padatan
dalam cairan atau serbuk dengan memanfaatkan reaksi cahaya (Parmitasari, 2013:
193). Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui cara menggunakan alat
refraktometer, mengetahui prinsip dasar dan prinsip kerja refraktometer, dan
memeriksa indeks bias dari beberapa sampel. Prinsip dasar dari refraktometer
yaitu refraksi atau pembiasan cahaya ketika melalui suatu larutan. Adapun prinsip
kerja dari refraktometer yaitu sumber cahaya ditransmisikan oleh serat optik
kedalam salah satu sisi prisma dan secara internal akan dipantulkan ke interface
prisma dan sampel larutan. Bagian cahaya ini akan dipantulkan kembali ke sisi
yang berlawanan pada sudut tertentu yang bergantung dari indeks bias larutannya
(Julianto, 2016: 44). Dimana indeks bias adalah perbandingan (rasio) antara
kecepatan cahaya diruang hampa terhadap kecepatan cahaya didalam bahan
(Parmitasari, 2013: 193).
Percobaan ini menggunakan dua alat refraktometer, yaitu refraktometer
digital dan refraktometer manual, dimana masing-masing refraktometer harus
dikalibrasi terlebih dahulu dengan menggunakan aquades. Tujuan kalibrasi untuk
menguji kenormalan dan ketepatan nilai yang ditampilkan alat terhadap nilai yang
sebenarnya sehingga dapat meminimalkan kesalahan alat refraktometer. Fungsi
aquades sebagai kontrol karena memiliki indeks bias 0 dan merupakan pelarut
murni yang bersifat netral. Selanjutnya, dilakukan pengukuran pada sampel.
Adapun sampel yang digunakan pada percobaan ini yaitu teh gelas, ale-ale,
capucino, mountea jambu dan mountea blackcurrent. Tujuan digunakan sampel
yang bervariasi yaitu untuk melihat perbandingan indeks bias dari masing-masing
sampel. Pembacaan indeks bias dilakukan sebanyak 3 kali bertujuan agar indeks
bias yang diperoleh lebih akurat. Selain itu, dilakukan kalibrasi dengan aquades
setiap pengukuran sampel bertujuan untuk menormalkan kembali alat dan hasil
yang diperoleh lebih akurat.
Berdasarkan hasil percobaan diperoleh indeks bias dengan menggunakan
refraktometer digital (Abbe) yaitu sampel teh gelas sebesar 7,70; sampel ale-ale
sebesar 7,926; sampel capucino sebesar 6,633; sampel mountea jambu sebesar
4,836, dan sampel mountea sebesar 4,856. Sedangkan indeks bias yang diperoleh
dengan menggunakan refraktometer manual(Hand) yaitu sampel teh gelas sebesar
7,19; sampel ale-ale sebesar 7,956; sampel capucino sebesar 6,956; sampel
mountea jambu sebesar 4,623, dan sampel mountea sebesar 4,923. Hasil ini
menujukkan bahwa semakin tinggi kadar gula dalam minuman maka semakin
besar indeks biasnya. Hal ini disebabkan pada larutan dengan konsentrasi tinggi
memiliki sudut refraksi yang kecil sehingga pada papan skala sinar akan jatuh
pada skala tinggi, sedangkan pada larutan konsentrasi rendah memiliki refraksi
yang besar sehingga pada papan skala sinar akan jatuh pada skala rendah. Adapun
hasil pembacaan alat yang digunakan sudah tepat dan akurat, hal ini dapat dilihat
dari grafik yang diperoleh menunjukkan bahwa kadar gula pada sampel
berbanding lurus dengan indeks biasnya. Selain itu, indeks bias yang diperoleh
dengan menggunakan alat refraktometer digital dan manual tidak jauh berbeda.
Perbedaan hasil indeks bias dari tiap-tiap sampel tersebut dipengaruhi oleh
beberapa faktor yaitu suhu/temperatur, dan densitasnya. Dimana harga indeks bias
menurun dengan meningkatnya suhu atau temperatur, hal ini karena semakin
besar suhu ruangan maka kerapatannya semakin berkurang sehingga kecepatan
cahaya dalam cairan tersebut lebih besar maka indeks biasnya semakin kecil
(Parmitasari, 2013: 193). Indeks bias yang diperoleh setiap sampel berbeda-beda
bergantung pada konsentrasi gula pada sampel. Semakin besar konsentrasi,
semakin besar pula indeks biasnya. Hal ini telah sesui teori (Hidayanto, 2012)
menyatakan bahwa semakin besar konsentrasi, semakin besar pula indeks biasnya.
Hal ini disebabkan karena adanya perubahan laju cahaya ketika melewati larutan
sukrosa. Cahaya yang melewati suatu materi akan mengalami interaksi dengan
molekul-molekul dan atom-atom dari materi tersebut. Molekul-molekul dan atom-
atom yang terkandung di dalamnya akan menyerap dan meradiasi ulang cahaya
tersebut pada frekuensi yang sama tetapi laju gelombangnya berbeda. Cahaya
yang diradiasikan kembali oleh molekul molekul dan atom-atom tersebut
mengalami ketertinggalan fase dibandingkan dengan gelombang dating, sehingga
dalam waktu yang sama gelombang yang dilewatkan tidak berjalan di dalam
medium sejauh gelombang datang aslinya sehingga kecepatan gelombang yang
dilewatkan lebih kecil dari pada kecepatan gelombang datang. Semakin besar
konsentrasi larutan, maka semakin besar pula jumlah molekul dan atomnya yang
berinteraksi dengan gelombang cahaya, sehingga ketertinggalan fase yan dialami
oleh gelombang datang semakin besar. Hal ini berarti bahwa laju cahaya semakin
kecil seiring dengan bertambahnya konsentrasi larutan.

I. Kesimpulan
Berdasarkan dari hasil pengamatan dan analisis data, dapat ditarik
kesimpulan bahwa:
1. Cara menggunakan refraktometer adalah dengan meneteskan sampel pada
permukaan prisma kemudian menutup prisma dan mengarahkan ke sumber
cahaya.
2. Prinsip dasar dari refraktometer yaitu refraksi atau pembiasan cahaya. Adapun
prinsip kerja dari refraktometer yaitu sumber cahaya ditransmisikan oleh serat
optik kedalam salah satu sisi prisma dan secara internal akan dipantulkan ke
interface prisma dan sampel larutan.
3. Indeks bias dengan menggunakan refraktometer digital (Abbe) yaitu sampel
teh gelas sebesar 7,70; sampel ale-ale sebesar 7,926; sampel capucino sebesar
6,633; sampel mountea jambu sebesar 4,836, dan sampel mountea sebesar
4,856. Sedangkan indeks bias yang diperoleh dengan menggunakan
refraktometer manual(Hand) yaitu sampel teh gelas sebesar 7,19; sampel ale-
ale sebesar 7,956; sampel capucino sebesar 6,956; sampel mountea jambu
sebesar 4,623, dan sampel mountea sebesar 4,923.
Daftar Pustaka

Bueche, Frederic J., dan Eugene Hecht. 2006. Fisika Universitas. Jakarta:
Erlangga.

Day dan Underwood. 2002. Analisis Kimia Kuantitatif. Jakarta: Erlangga.

Ihsan, Farihul dan Anang Wahyudi. 2010. Teknik Analisis Kadar Sukrosa pada
Buah Pepaya. B1uletin Teknik Pertanian, Vol 15 (1): 10-12.

Julianto, Tatang S. 2016. Minyak Atsiri Bunga Indonesia. Yogyakarta:


Deepublish.

Pramuda, A., dkk. 2013. Penentuan Indeks Bias Kaca TBZP Terendah Ion Nd3+
dengan Metode Sudut Brewster. Jurnal MIPA, Vol 36 (2): 131-144.

Tim Dosen Kimia. 2017. Penuntun Praktikum Kimia Analisis Instrumen.


Makassar: Jurusan Kimia FMIPA UNM.

Anda mungkin juga menyukai