Anda di halaman 1dari 21

TUGAS 2

MATA KULIAH GEODINAMIKA

OLEH :

NAMA : RESTININGTYAS P.

NIM : F 121 14 008

PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS TADULAKO

2017
1. Apa itu paleomagnetism ? Tuliskan sejarah geomagnetism / paleomagnetism ?
2. Uraikan tentang sifat kemagnetan batuan ?
3. Apa itu paleomagnetic pole dan dipole axial hypothesis ?
4. Uraikan bagaimana peristiwa pembalikan medan geomagnetik ?
5. Uraikan tentang bukti penyimpangan kutub dan pergerakan benua ditinjau dari
data paleomagnetik ?

Jawab :

1. Paleomagnetisme adalah studi tentang rekaman medan magnet bumi di


batuan, sedimen, atau bahan arkeologi. Mineral tertentu dalam batuan
menyimpan rekaman arah dan intensitas medan magnet ketika mereka
terbentuk. Rekaman ini memberikan informasi tentang sifat masa lalu dari
medan magnet bumi dan lokasi lempeng tektonik pada masa itu. Rekaman
pembalikan geomagnetik yang tersimpan dalam urutan batuan vulkanik dan
sedimen (magnetostratigraphy) menyediakan skala waktu yang digunakan
sebagai salah satu cara untuk mempelajari geokronologi. Paleomagnetisme
menjadi bukti kebenaran dari hipotesis apungan benua dan transformasinya
menjadi lempeng tektonik. Polar Wander yang terlihat memberikan bukti
geofisika yang jelas pertama untuk pergeseran benua, sementara anomali
magnetik kelautan juga memberikan bukti yang sama dalam mempelajari
perekahan lantai dasar laut. Paleomagnetisme berhasil membuka tabir sejarah
lempeng tektonik pada masa lalu. Paleomagnetisme sangat bergantung pada
perkembangan baru dari sifat-sifat kemagnetan batuan, yang pada gilirannya
telah memberikan dasar untuk aplikasi baru dari sifat-sifat kemagnetan, seperti
biomagnetisme, fiber magnetisme (digunakan sebagai indikator regangan di
batuan dan tanah), dan kemagnetan lingkungan hidup.

Sejarah perkembangan metode magnetik telah dikenal sekitar 400 tahun yang
lalu. Orang yang pertama kali melakukan penelitian magnetisasi bumi secara
ilmiah adalah Sir William Gilbert (1540 1603). Gilbert adalah orang yang
pertama kali melihat bahwa medan magnet bumi ekivalen dengan arah utara
selatan sumbu rotasi bumi. Penemuan Gilbert kemudian diperdalam oleh Van
Wrede (1843) untuk melokalisir endapan bijih besi dengan mengukur variasi
magnet di permukaan bumi. Hasil penelitiannya kemudian dibukukan oleh
Thalen (1879) dengan judul : The Examination Of Iron Ore Deposite By
Magnetic Measurement yang kemudian menjadi pionir bagi pengukuran
magnetisasi bumi (Geomagnet).Dalam metode magnet salah satu metode
geofisika yang digunakan untuk menyelidiki kondisi permukaan bumi dengan
memanfaatkan sifat kemagnetan batuan yang diidentifikasikan oleh kerentanan
magnet batuan. Metode ini didasarkan pada pengukuran variasi intensitas
magnetik di permukaan bumi yang disebabkan adanya variasi distribusi
(anomali) benda termagnetisasi di bawah permukaan bumi. Variasi intensitas
medan magnetik yang terukur kemudian ditafsirkan dalam bentuk distribusi
bahan magnetik dibawah permukaan, kemudian dijadikan dasar bagi
pendugaan keadaan geologi yang mungkin teramati.

Selama perang dunia kedua, geologis yang dipekerjakan oleh militer bernama
Harry Hass dari Universitas Princeton mengemukakan penelitian tentang dasar
laut. Tujuan penelitian ini untuk memahami topografi dasar laut termasuk
mengukur kedalaman dasar laut dari permukaan dan menemukan tempat
tersembunyi musuh-musuh di kapal selam. Tipe penelitian lainnya
menggunakan magnetometer (untuk mengukur benda-benda magnet) yang
diletakkan dibelakang kapal untuk mendeteksi kapal selam. Penelitian ini juga
menunjukkan adanya anomali magnetic dibawah laut, dengan kemagnetan
yang tinggi di punggung laut dan kemagnetan yang rendah di sisi lainnya.

Penelitian ini menyatakan 2 topografi penting yaitu punggung samudra dan


palung samudra. Harry juga menyatakan bahwa benua tidak bergerak
sepanjang kerak samudra, tetapi benua dan kerak samudra bergerak bersama-
sama. Jika kerak samudra yang baru dan litosfer terus menerus terbentuk pada
punggung laut, samudra akan bertambah luas, kecuali jika ada sebuah
mekanisme yang menghancurkan litosfer samudra. Zona Benioff dan palung
samudra membuktikan bahwa litosfer samudra kembali ke mantel dengan
menyusup ke bawah pada palung laut (zona subduksi). Karena lempeng
samudra dingin dan rapuh, ia akan pecah dan kembali bercampur dengan matel
dan menghasilkan gempa bumi yang sangat dalam.

Pada tahun 1950 dan 1960, penelitian tentang medan magnet bumi dan
perubahannya seiring waktu (paleomagnetism) membuktikan fakta terbaru
bahwa benua mengapung. Kesimpulan dari konsep medan magnet adalah (1)
Bumi memiliki lebih dari satu kutub yang berubah seiring waktu di masa lalu.
(2) benua yang berbeda telah bergerak relatif satu sama lain seiring waktu
geologi. Penelitian ini mengkonfirmasi hipotesis terakhir dan juga
menkonfirmasi teori Continental Drift.

2. Suatu bahan yang bersifat magnetik berada dalam pengaruh kuat medan
magnet luar, maka bahan tersebut akan termagnetisasi. Besarnya magnetisasi
ini sebanding dengan momen magnetik tiap volume. Magnetisasi yang
dihasilkan sebanding dengan kuat medan yang mempengaruhinya dan
bergantung pada nilai suseptibilitas magnetik medium tersebut. Suseptibilitas
merupakan harga magnet suatu bahan terhadap pengaruh magnet, yang pada
umunya erat kaitannya dengan kandungan mineral dan oksida besi. Semakin
besar kandungan mineral magnetik di dalam batuan, akan semakin besar harga
suseptibilitasnya

Sifat magnetik batuan dipengaruhi oleh kandungan mineral dan atom-atom


penyusun batuan tersebut. Proses magnetisasi batuan beku terjadi pada saat
batuan beku mengalami pendinginan dan melewati temperatur Curie. Pada
umumnya bersumber dari medan amgnet bumi, namun pada beberapa kasus
bersumber dari batuan sekitarnya. Sifat magnetik material pembentuk batuan-
batuan dapat dibagi menjadi :
1. Diamagnetik
Dalam batuan diamagnetik atom-atom pembentuk batuan mempunyai kulit
elektron berpasangan dan mempunyai spin yang berlawanan dalam tiap
pasangannya. Jika mendapat medan magnet dari luar orbit, elektron
tersebut akan berpresesi yang menghasilkan medan magnet lemah yang
melawan medan magnet luar tadi mempunyai suseptibilitas negatif dan
kecil, dan suseptibilitasnya tidak tergantung pada medan magnet luar.
Contoh : bismuth, gypsun, grafit, marmer, kuarsa, garam.
2. Paramagnetik
Di dalam paramagnetik terdapat kulit elektron terluar yang belum jenuh
yakni ada elektron yang spinnya tidak berpasangan dan mengarah pada
arah spin yang sama. Jika terdapat medan magnetik luar, spin tersebut
berpresesi menghasilkan medan magnet yang mengarah searah dengan
medan tersebut sehingga memperkuatnya. Akan tetapi momen magnetik
yang terbentuk terorientasi acak oleh agitasi termal, oleh karena itu bahan
tersebut dapat dikatakan mempunyai sifat suseptibilitas positif dan sedikit
lebih besar dari satu serta suseptibilitasnya bergantung pada temperatur.
Contoh : piroksen, olivin, biotit, dll.
3. Ferromagnetik
Terdapat banyak kulit elektron yang hanya diisi oleh suatu elektron
sehingga mudah terinduksi oleh medan luar. Keadaan ini diperkuat lagi
oleh adanya kelompok-kelompok bahan berspin searah yang membentuk
dipol-dipol magnet (domain) mempunyai arah sama, apalagi jika di dalam
medan magnet luar. Ferromagnetik bersifat suseptibilitasnya positif dan
jauh lebih besar dari satu serta bergantung pada temperatur. Contoh : besi,
nikel, kobalt.
4. Antiferromagnetik
Pada bahan antiferromagnetik domain-domain tadi menghasilkan dipol
magnetik yang saling berlawanan arah sehingga momen magnetik secara
keseluruhan sangat kecil. Bahan antiferromagnetik yang mengalami cacat
kristal akan mengalami medan magnet kecil dan suseptibilitasnya seperti
pada bahan paramagnetik. Sehingga suseptibilitasnya seperti
paramagnetik, tetapi harganya naik sampai dengan titik Curie kemudian
turun lagi menurut hukum Curie-Weiss. Contoh : hematite.
5. Ferrimagnetik
Pada bahan ferrimagnetik domain-domain tadi juga saling antiparalel
tetapi jumlah dipol pada masing-masing arah tidak sama sehingga masih
mempunyai resultan magnetisasi cukup besar. Suseptibilitasnya tinggi dan
tergantung temperatur. Contoh : magnetit, ilmenit, pirhotit.

Gambar 1. Klarifikasi unsur atas sifat magnetiknya

Gambar 2. Tipe magnetisasi pada batuan.


3. Asumsi dasar yang digunakan dalam paleomagnetik adalah panjang waktu
rata-rata medan geomagnetic bersesuaian dengan sumbu dipole
geosentrik. Data yang mendukung hipotesis penting ini sebagian berasal dari
studi tentang variasi sekular dan sebagian lagi dari observasi paleomagnetik
pada batuan-batuan muda dan sedimen (William, 2007:334-335). Hipotesis ini
disebut dengan hipotesis axial geocentric dipole. Dengan kata lain hipotesis
ini menyatakan kesetaraan antara medan magnet bumi dalam jangka panjang
dengan lokasi dari suatu dipol yang terletak di pusat bumi dan berorientasi
sepanjang sumbu rotasi (William, 2007:336).
Lokasi kutub paleomagnetik yang diperoleh dari observasi pada batuan-batuan
zaman Pleistocene dan Pliocene terletak sangat dekat di sekitar kutub geografis
(gambar 3). Hal ini mendukung hipotesis axial geocentric dipole. Namun
ketika dilakukan perhitungan posisi kutub paleomagnetik untuk batuan-batuan
yang lebih tua pada benua yang sama, mereka terletak lebih jauh dari kutub
geografis. Kasus ini dapat diilustrasikan oleh posisi kutub paleomagnetik benua
Eropa. Pada zaman Pliocene dan Pleistocene kutub magnetik terletak dekat
dengan kutub geografis namun pada zaman Permain kutub magnetik terletak
menjauh sebesar 45o (gambar 4).

Gambar 3. Gambar 4.
Jika hipotesis axial geocentric dipole valid untuk batuan-batuan pada semua
zaman, distribusi kutub-kutub mengimplikasikan bahwa kutub geografis benua
Eropa pada periode Permain (sekitar 250-290 juta tahun yang lalu) seharusnya
terletak jauh dari posisinya saat ini. Interpretasi alternatif untuk keadaan ini
adalah bahwa kutub geografis tidak berubah, melainkan benua Eropa-lah yang
berpindah relatif terhadap kutub. Hal ini menyarankan bahwa lokasi dimana
kutub pada zaman Permain tetap berada di sekitar sumbu rotasi. Benua Eropa
kemudian berpindah hingga berada pada posisi saat ini terhadap sumbu rotasi
(William, 2007:345).
Data paleomagnetik dapat kita gunakan untuk mengatasi ketakpastian ini. Jika
posisi kutub paleomagnetik dihitung dari batuan-batuan pada zaman yang
berbeda pada benua yang sama, secara sistematis mereka membentuk jalur
berkelok tidak teratur. Jalur inilah yang dimaksud dengan jalur APW (apparent
polar wander). Hal ini tampak seolah-olah kutub paleomagnetik berpindah
secara perlahan sepanjang jalur APW kearah sumbu rotasi saat ini. Data
paleomagnetik pada benua tertentu memberikan suatu jalur APW yang unik
untuk benua itu. Tiap benua memiliki jalur APW yang berbeda. Hal ini
membuat kita memiliki jalur APW untuk benua Eropa, Afrika, Amerika Utara
dan sebagainya. Plot skematis jalur APW Eropa dan Amerika Utara sejak awal
Paleozoic disajikan pada gambar 5.
Berdasarkan hasil ploting dari posisi yang terlihat sebagai kutub magnet utara
untuk benua Eurasia mengindikasikan bahwa selama 500 juta tahun yang lalu,
lokasi-lokasi dari kutub utara magnet bumi secara berangsur berpindah-pindah.
Hal ini merupakan bukti kuat bahwa kutub magnet bumi telah mengalami
berpindahan (Noor, 2009:32). Namun jika sekali lagi kita tinjau hipotesis Axial
Geocentric Dipole, tampak jelas tidak mungkin kutub paleomagnetik (yakni
sumbu rotasi bumi) dapat berpindah secara simultan melalui dua jalur APW
yang berbeda (William, 2007:346). Apabila diperbandingkan hasil dari kedua
jalur perpindahan kutub magnet bumi, baik yang ada di Amerika Utara dan
Eurasia memperlihatkan kesamaan dan kemiripan dari jalur perpindahan kutub
kutub magnet bumi tersebut yang terpisah dengan sudut 300 (gambar 5) (Noor,
2009:32). Terdapatnya dua jalur APW nampaknya menegaskan adanya
gerakan berpisah antara benua Eropa dengan Amerika Utara relatif terhadap
sumbu rotasi. Penjelasan ini mengangkat bukti paleomagnetik pada
"continental drift" (William, 2007:346).

Gambar 6 : Dua kurva Perpindahan Arah Kutub Utara Magnet Bumi


Data paleomagnetik dapat digunakan untuk merekonstruksi posisi-posisi relatif
benua dalam setiap interval waktu. Jalur APW (misalnya pada gambar 5) dapat
ditentukan cukup tepat dengan merata-ratakan posisi kutub dalam ambang
waktu 20-40 juta tahun (William, 2007:349).
Berikut disajikan paparan bagaimana data paleomagnetik dapat menjelaskan
pergerakan lempeng benua. Andaikan terdapat kutub paleomagnetik P untuk
lempeng benua C, kemudian lempeng benua ini berputar dengan sudut
sekitar kutub rotasi Euler E. Pertama, lempeng terletak antara kutub
paleomagnetik dan kutub rotasi (gambar 7a). Pergerakan lempeng dari C ke C'
menyebabkan kutub paleomagnetik P berpindah ke P'. Busur pergerakan kutub
PP' lebih panjang daripada busur pergerakan lempeng CC'. Kemudian,
bayangkan apa yang terjadi ketika kutub paleomagnetik terletak antara
lempeng dan kutub Euler (gambar 7b). Dalam kasus ini lempeng berpindah
melalui jalan yang panjang namun kutub paleomagnetik hanya berpindah pada
jarak yang pendek. Dalam kasus ekstrim dimana kutub paleomagnetik dan
Euler berhimpitan, pergerakan lempeng sama sekali tidak mengubah posisi
kutub paleomagnetik. Berdasarkan kondisi spesial tersebut pergerakan lempeng
tidak meninggalkan jejak jalur APW.

Gambar 7 : Rotation of a continental plate C about an Euler pole E displaces the paleomagnetic pole P (a) by a large
amount, if P is further from E than the continent C, and (b) by only a small amount when P lies close to E.
4. Di Bumi, kutub utara magnetis terletak di tepi Samudera Arktika sementara
kutub selatan magnetis terletak di tepi daratan Antartika. Posisi kutub utara
magnetis tak berimpit dengan kutub utara geografis demikian halnya kutub
selatan magnetis dengan kutub selatan geografis. Ketakberimpitan ini membuat
jarum kompas (yang selalu mengarah ke kutub utara magnetis) senantiasa
membentuk sudut tertentu terhadap arah utara sejatinya. Sudut ini dikenal
sebagai deklinasi magnetik, yang nilainya berbeda-beda untuk tiap titik di
muka Bumi. Bila ditelaah lebih lanjut, sumbu geomagnet (yakni garis lurus
penghubung kutub utara-selatan magnetis di dalam tubuh Bumi) ternyata tidak
berimpit dengan sumbu rotasi Bumi, melainkan membentuk sudut 11,5 derajat.
Di sisi lain, sumbu geomagnet sendiri pun tidaklah simetris, sehingga posisi
kutub selatan magnetis tidak persis di proyeksi titik-lawan kutub utara
magnetisnya, melainkan berselisih jarak hingga 2.700 km.

Gambar 8. Posisi kutub selatan magnetis Bumi senyatanya dibandingkan dengan proyeksi
(titik-lawan) kutub utara magnetis, yang nampak tidak berimpit.
Ketidakberimpitaninimenunjukkan asimetri dalam geomagnet.

Ketidakberimpitan dan ketidaksimetrisan semacam ini adalah wajar dalam tata


surya kita, tak hanya dialami Bumi saja. Sumbu magnetis Jupiter juga
membentuk sudut terhadap sumbu rotasinya, yakni sebesar 10 derajat. Bahkan
dalam Uranus dan Neptunus situasinya cukup spektakuler karena sumbu
magnetisnya masing-masing membentuk sudut 59 derajat dan 47 derajat
terhadap sumbu rotasinya. Sebaliknya sumbu magnetis Saturnus hampir
berimpit dengan sumbu rotasinya dimana sudut antara keduanya kurang dari
0,5 derajat.

Gambar 9.
Perbandingan sumbu rotasi dan magnetis Bumi (kiri) dengan sumbu rotasi dan magnetis
Uranus (kanan). Perhatikan bahwa sumbu magnetis keduanya tidak berimpit dengan
sumbu rotasinya.
Sumber : NASA, 1986.

Mengapa bisa demikian? Di Bumi, medan magnet Bumi (geomagnet)


dibangkitkan oleh aliran konvektif ion-ion Besi dan logam lainnya di inti luar
yang sifatnya cair sangat kental. Aliran konvektif itu ditenagai panas internal
Bumi dari sebagai hasil peluruhan radioaktif inti-inti atom berat (Uranium dan
Thorium) serta sisa panas pembentukan Bumi purba di bawah pengaruh rotasi
Bumi. Aliran ion pada hakikatnya adalah aliran partikel bermuatan listrik,
sehingga setara dengan aliran listrik. Maka berlakulah kombinasi hukum sirkuit
Ampere, hukum Faraday dan gaya Lorentz dalam bentuk mekanisme dinamo
dengan produk akhirnya adalah geomagnet dengan struktur sangat besar. Tidak
berimpitnya sumbu magnetis dan sumbu rotasi Bumi merupakan akibat
dinamika internal inti Bumi yang berujung pada perbedaan kecepatan rotasi
antara permukaan dengan inti Bumi.
Mekanisme serupa juga membentuk medan magnet planet lain. Hanya saja
pada Uranus dan Neptunus, ion-ion yang mengalir di inti luarnya adalah ion
ringan (air, amonia dan metana) dengan ketebalan lapisan konvektif yang lebih
tipis sehingga sumbu medan magnetnya bisa membentuk sudut ekstrim
terhadap sumbu rotasinya.

Dinamika internal inti Bumi menyebabkan geomagnet memiliki dinamika yang


menakjubkan. Salah satunya adalah fenomena pembalikan kutub-kutub
magnetis (magnetic reversal). Kutub-kutub magnetis diketahui tidak
menempati lokasi yang sama untuk waktu lama, melainkan senantiasa bergeser
pada kecepatan tertentu. Sejak pertama kali diidentifikasi dua abad silam,
kutub utara magnetis telah bergeser sejauh lebih dari 600 km dengan kecepatan
rata-rata 40 km/tahun. Sehingga kutub utara magnetis kian mendekati kutub
utara geografis, meski keduanya tak bakal berimpit. Model matematis
memperlihatkan posisi kutub utara magnetis yang kini berada di Samudera
Arktika bagian Canada bakal bergeser demikian rupa sehingga dalam seabad
ke depan akan memasuki Siberia (Russia).

Dalam jangka panjang, pergeseran kutub-kutub magnetis akan menyebabkan


pertukaran posisi dimana yang sekarang menjadi kutub utara magnetis bergeser
demikian rupa sehingga kelak menempati lokasi kutub selatan magnetis dan
begitupun sebaliknya. Fenomena pembalikan kutub-kutub magnetis ini
terhitung kerap terjadi. Sepanjang 5 juta tahun terakhir pembalikan kutub
magnetis Bumi terjadi rata-rata setiap 0,2 hingga 0,3 juta tahun sekali. Namun
sepanjang setengah milyar tahun terakhir, variasi periodisitas pembalikan
kutub magnetis Bumi memiliki rentang dari 5.000 tahun hingga 50 juta tahun.
Setiap pembalikan magnetis berlangsung selama ribuan tahun sehingga
bukanlah peristiwa tiba-tiba dalam sekejap mata. Pembalikan magnetis juga
dapat berlangsung akibat sebab eksternal, misalnya akibat hantaman
asteroid/komet raksasa ke Bumi.
Peristiwa pembalikan kutub magnetis Bumi yang terakhir, yang dinamakan
peristiwa Brunhes-Matuyama, terjadi pada 0,78 juta tahun silam. Pada masa
kini, meski kutub-kutub magnetis terus bergeser, belum ada tanda-tanda bakal
terjadinya pembalikan kutub magnetis Bumi berikutnya.

Meski terjadi pembalikan kutub-kutub magnetis, garis-garis gaya geomagnet


tidaklah menghilang. Demikian pula magnetosfer beserta lapisan terdalamnya
yang dikenal sebagai sabuk radiasi van-Allen. Sehingga berbeda dengan
persepsi umum, dalam peristiwa pembalikan kutub magnetis Bumi, planet ini
masih tetap dilindungi magnetosfernya dari ancaman eksternal dalam rupa
sinar kosmik galaktik maupun radiasi partikel Matahari. Perlindungan ini
demikian efektif sehingga bila kita merujuk pada kurva kelimpahan makhluk
hidup sepanjang setengah milyar tahun terakhir, tak ada satupun peristiwa
pembalikan kutub magnetis Bumi yang bertepatan dengan pemusnahan massal
(pengurangan populasi makhluk hidup secara mendadak dan signifikan) baik
mayor maupun minor, kecuali oleh sebab eksternal dalam rupa tumbukan
asteroid/komet.

Gambar 10.
Pergeseran posisi titik kutub magnetis utara (kiri) dan selatan (kanan) dari tahun ke tahun.
Sumber : NOAA, 2012.
Pembalikan kutub magnetis bukanlah peristiwa khas Bumi, namun juga terjadi
pada benda langit anggota tata surya lainnya. Planet-planet yang memiliki
medan magnet juga diindikasikan mengalaminya. Bahkan Matahari pun
demikian. Pantauan satelit pengamat Mataharis ecara menerus sejak awal
1980-an mulai dari Uhuru, Solar Max hingga SOHO menunjukkan pembalikan
kutub magnetis Matahari berlangsung lebih sering dengan pola mengikuti
siklus aktivitas Matahari, yakni rata-rata tiap 11 tahun sekali. Dan setiap kali
pembalikan magnetik Matahari terjadi, tidak diikuti dengan aktivitas di luar
normal terkecuali peningkatan potensi badai Matahari yang masih tergolong
wajar.

Gambar 11.
Dinamika pembalikan kutub-kutub magnetik Matahari selama 30 tahun terakhir (hingga
pertengahan 2012) mengikuti siklus aktivitas Matahari. Nampak bagaimana kutub utara
geografis (latitude 90N) secara berganti-ganti ditempati oleh kutub utara magnetis (Nm)
dan kutub selatan magnetis (Sm) Matahari. Pun demikian dengan kutub selatan
geografisnya.
Sumber : NASA, 2011.

Sehingga desas-desus pembalikan kutub magnetis Bumi akan terjadi dan


memicu Kiamat 2012 sebagaimana digembar-gemborkan selama ini bakal
berbenturan dengan tiga fakta ilmiah. Pertama, sejauh ini tidak ada gejala bakal
terjadinya peristiwa pembalikan kutub magnetis Bumi. Kedua, aktivitas
pembalikan kutub magnetis Bumi bukanlah peristiwa spontan yang terjadi
dalam sekejap mata, melainkan butuh waktu ribuan tahun. Ketiga, mengambil
analogi aktivitas dan pembalikan kutub magnetis Matahari dan data-data
pemusnahan massal, di masa silam peristiwa pembalikan kutub magnetis Bumi
adalah kejadian biasa saja yang kerap terjadi dan tidak disertai bencana dahsyat
yang membuat mengurangi populasi makhluk hidup berkurang drastis.

5. Adanya fakta paleomagnetik bahwa posisi kutub magnet purba berbeda dengan
posisi kutub magnet saat ini mengindikasikan terjadinya pergeseran relatif
kutub magnet terhadap sumbu rotasi sepanjang waktu geologi. Kemungkinan
lain adalah kutub magnet tetap pada posisinya, yang berpindah adalah posisi
lempeng tempat sampel ditemukan (terjadi continental drift). Tampaknya
perpindahan posisi kutub magnet dengan jarak yang jauh dari sumbu rotasi
(kutub geografis) tidak mungkin terjadi karena seperti telah diketahui, model
teoritis tentang asal-usul medan magnet telah memprediksikan bahwa posisi
dominan kutub magnet adalah sejajar dengan sumbu rotasi bumi. Oleh karena
itu studi paleomagnetik dapat digunakan sebagai bukti kuantitatif terjadinya
continental drift.

Terdapat dua cara dalam menyajikan data paleomagnetik. Pertama dengan


mengeplot benua menjadi rangkaian posisi berdasarkan umur sampel batuan
dan lokasi semu lintang purba tempat sampel batuan ditemukan (Gambar 12).
Gambar 12. Penyajian data paleomagnetik lempeng benua Amerika Selatan dengan asumsi posisi
kutub tetap dan posisi benua bergeser (berdasarkan data lintang purba dan umur sampel batuan).

Cara kedua adalah dengan menganggap posisi benua tidak berubah kemudian
mengeplot posisi semu kutub magnetik pada berbagai umur geologi sampel
batuan. Titik-titik posisi kutub magnetik pada berbagai waktu geologi tersebut
kemudian dihubungkan dengan garis sehingga membentuk jalur yang disebut
apparent polar wander (APW) path (Gambar 13).

Gambar 13. Penyajian data paleomagnetik dengan asumsi posisi benua tetap dan posisi kutub
bergeser membentuk jalur APW.

Kedua cara tersebut tidak menggambarkan kejadian yang sesungguhnya,


namun pendekatan tersebut dapat mengatasi minimnya akurasi lintang purba
dan memberikan gambaran informasi paleomagnetik pada wilayah yang
berbeda dalam satu diagram.
Berdasarkan pengamatan paleomagnetik didapatkan fakta bahwa posisi semu
kutub magnetik berbeda-beda untuk sampel batuan yang berbeda umur meski
dalam benua yang sama. Hal tersebut menunjukkan bawa benua telah bergeser
sepanjang permukaan bumi. Fakta lain yang didapatkan adalah bahwa jalur
APW berbeda-beda untuk benua yang berbeda. Hal tersebus menunjukkan
dengan jelas bahwa telah terjadi pergerakan relatif antarbenua, yakni
continental drift. Gambar 4 menunjukkan jalur APW pada benua Amerika
Utara dan benua Eropa dari zaman Ordovician hingga Jurassic.

Gambar 14. Jalur APW pada Amerika Utara (lingkaran hitam, garis hitam) dan Eropa (lingkaran
putih, garis putus-putus). Waktu pada masing-masing posisi kutub dinyatakan dalam satuan juta
tahun yang lalu.

Gambar 15 menunjukkan jalur APW pada kedua benua setelah posisi benua
Eropa dan jalur APW-nya digeser ke Samudera Atlantik.

Gambar 15. Jalur APW pada Amerika Utara (lingkaran hitam, garis hitam) dan Eropa (lingkaran
putih, garis putus-putus) setelah posisi benua Eropa digeser ke Samudera Atlantik.

Tampak bahwa jalur APW benua Eropa dan Amerika Utara sangat identik. Hal
tersebut menunjukkan pada awalnya kedua benua bersatu kemudian berpisah
sekitar 400 juta tahun yang lalu pada batas Caledonian Orogeny hingga
terbukanya Samudera Alantik. Jalur APW dapat digunakan untuk
menginterpretasi pergerakan, tumbukan, dan gangguan lempeng. Jalur APW
khususnya sangat bermanfaat untuk menginterpretasi keadaan benua zaman
Mesozoic akhir, sebelum zaman tersebut keadaan lempeng tidak dapat
ditelusuri dari pola lineasi magnetik di sekitar cekungan samudera. Jalur APW
yang ditunjukkan oleh Gambar 16 merepresentasikan terjadinya siklus wilson
secara utuh tentang pembukaan dan menutupan cekungan samudera antara dua
benua.

Gambar 16. Jejak-jejak paleomagnetik dalam konvergensi dan divergensi lempeng.

Pada keadaan awal segmen A dan segmen B berada pada lempeng benua yang
sama yang ditunjukkan oleh kesamaan jalur APW. Kemudian mulai terjadi
perbedaan jalur APW pada waktu ke 4 yang menandakan terjadinya proses
awal pembukaan celah samudera. Pada tahap selanjutnya kedua jalur
menunjukkan pola yang sangat berbeda yang berarti segmen A dan segmen B
telah menjadi dua benua dipisahkan oleh samudera. Kemudian kedua segmen
mulai menunjukkan pola konvergen pada waktu ke 8 hingga akhirnya bertemu
kembali dan menyatu pada waktu ke 12.
Data paleomagnetik harus dikombinasikan dengan anomali magnet linier lantai
samudera untuk dapat mengidentifikasi dengan akurat posisi kutub purba dan
ekuator purba. Rekonstruksi posisi relatif benua dalam kurun waktu kurang
dari 200 juta tahun yang lalu (zaman Mesozoic akhir) dapat dilakukan dengan
menggunakan informasi yang rinci tentang evolusi cekungan samudera
berdasarkan anomali magnet linier lantai samudera. Namun untuk rekonstruksi
pada kurun waktu lebih dari 200 juta tahun yang lalu hanya dapat dilakukan
dengan data paleomagnetik dan hubungan geologi karena tidak ada lantai
samudera yang berumur lebih dari 200 juta tahun yang lalu.
Daftar Pustaka

Keary, P., Klepeis, K.A., dan Vine, F.J. (2009). Global Tectonics (3rd Ed.).
Oxford: Wiley-Blackwell.

Lowrie, William. 2007. Fundamentals of Geophysics Second Edition. Cambridge


: Cambridge University Press.

Noor, Djauhari. 2009. Pengantar Geologi edisi pertama. Bogor: CV. Graha Ilmu.

http://en.wikipedia.org/wiki/Paleomagnetism

https://poetrafic.wordpress.com/2010/10/06/metode-geomagnet/