Anda di halaman 1dari 37

MAKALAH

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN


BAROTRAUMA

Oleh kelompok 4:
DIANA NORMA ISLAMI
NURLIANA
MOH. ALI YAFIE
FAJRUL MAARIF

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS WIRARAJA
SUMENEP
2017

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapakan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena
berkat rahmat dan hidayah-Nya, penulis mampu menyelesaikan makalah yang
berjudul ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN
BAROTRAUMA dengan tepat waktu. Makalah ini dibuat guna memenuhi tugas
mata kuliah sistem keperawanan anak.
Penulis menyadari banyaknya kekurangan dalam penulisan makalah ini.
Untuk itu penulis mohon maaf atas kesalahan penulis baik disengaja maupun
tidak. Penulis mengharapkan adanya kritik dan saran yang membangun guna
penyempurnaan makalah berikutnya.

sumenep, 13 Oktober 2015

Penulis

i
DAFTAR ISI

COFER
KATA PENGANTAR .................................................................................................. i
DAFTAR ISI ................................................................................................................ ii
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................ 1
1.1 Latar Belakang .................................................................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah ............................................................................................. 1
1.3 Tujuan................................................................................................................ 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA................................................................................. 3
2.1 DEFINISI ................................................................................................................... 3
2.2 EPIDEMIOLOGI ...................................................................................................... 3
2.3 ETIOLOGI DAN KLASIFIKASI ........................................................................... 4
2.3.1 Saat menyelam ............................................................................................... 4
2.3.2 Saat penerbangan ............................................................................................ 6
2.4 PATOFISIOLOGI ............................................................................................. 6
2.5 DIAGNOSIS ..................................................................................................... 9
2.5.1 Anamnesis ...................................................................................................... 9
2.5.2 Manifestasi Klinis dan Mekanisme ................................................................ 9
2.5.3 Pemeriksaan fisis .......................................................................................... 15
2.5.4 Pemeriksaan penunjang ................................................................................ 17
2.6 PENATALAKSANAAN ....................................................................................... 18
2.7 DIAGNOSIS BANDING ....................................................................................... 21
2.8 KOMPLIKASI ......................................................................................................... 21
2.9 PROGNOSIS ........................................................................................................... 21
2.10 PREVENTIF ............................................................................................................ 22
BAB III KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN PADA TRAUMA TELINGA 23
3.1 PENGKAJIAN......................................................................................................... 23
3.2 DIAGNOSA KEPERAWATAN ........................................................................... 23
3.3 INTERVENSI .......................................................................................................... 24
BAB IV LAPORAN KASUS .................................................................................... 26

ii
4.1 Identitas Penderita ................................................................................................... 26
4.2 Anamnesis ................................................................................................................ 26
4.3 Pemeriksaan ............................................................................................................. 26
4.4 Status Lokalis ...............................................................Error! Bookmark not defined.
4.5 Pemeriksaan laboratorium ..........................................Error! Bookmark not defined.
4.6 Diagnosis kerja ............................................................Error! Bookmark not defined.
4.7 Pengobatan ...................................................................Error! Bookmark not defined.
BAB V KESIMPULAN ............................................................................................ 32
DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Tuba eustakius normalnya selalu tertutup. Namun dapat terbuka pada
gerakan menelan, mengunyah dan menguap. Pada perubahan tekanan udara
tuba eustakius terbukanya tuba dapat menyamakan tekanan udara luar dan
didalam telinga. Kegagalan tuba membuka pada keadaan ini akan
menyebabkan kelainan yang disebut dengan barotrauma.1 Kegagalan ini sering
terjadi pada peristiwa penerbangan dan penyelaman.
Kasus barotrauma di Amerika Serikat dapat ditemukan pada 2,28 kasus per
10.000 penyelaman pada kasus berat. Sedangkan pada kasus ringan tidak
diketahui karena banyak penyelam tidak mencari pengobatan. Resiko
Barotrauma ini meningkat pada penyelam dengan riwayat asma, selain itu juga
meningkat 2,5 kali pada pasien dengan paten foramen ovale. Kematian akibat
Barotrauma di pesawat militer telah dilaporkan terjadi pada tingkat 0,024 per
juta jam penerbangan. Tingkat insiden dekompresi untuk rata-rata penerbangan
sipil sekitar 35 per tahun. Sedangkan pada departemen pertahan Australia dapat
ditemukan 82 insiden per juta jam waktu terbang. Sedangkan pada barotrauma
akibat menyelam tidak ada informasi yang tersedia di seluruh dunia.
Komplikasi yang mungkin ditemukan berupa infeksi telinga akut,
hilangnya pendengaran, ruptur atau perforasi dari gendang telinga dan vertigo.
Berdasarkan hal tersebut kelompok tertarik untuk membahas tentang
asuhan keperawatan dengan gangguan pendengaran (barotrauma).
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka dapat dirumuskan beberapa
masalah, yaitu:
1. Bagaimana konsep medis dari barotrauma?
2. Bagaimana konsep asuhan keperawatan dari barotrauma?
3. Seperti apa askep kasus dari barotrauma?

1
1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Mahasiswa dapat mengetahui konsep medis dari barotrauma.
2. Mahasiswa dapat mengetahui konsep asuhan keperawatan dari
barotrauma.
3. Mahasiswa dapat mengetahui askep kasus dari barotrauma.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 DEFINISI
Barotrauma adalah kerusakan jaringan yang terjadi akibat kegagalan untuk
menyamakan tekanan udara antara ruang berudara pada tubuh (seperti telinga
tengah) dan tekanan pada lingkungan sewaktu melakukan perjalanan dengan
pesawat terbang atau pada saat menyelam. Barotrauma dapat terjadi pada
telinga, wajah (sinus), dan paru, dalam hal ini bagian tubuh yang memiliki
udara di dalamnya.

2.2 EPIDEMIOLOGI
Barotrauma paling sering terjadi pada telinga tengah, hal ini terutama
karena rumitnya fungsi tuba eustakius. Barotrauma pada telinga tengah dapat
terjadi saat menyelam ataupun saat terbang. Perubahan tekanan pada
kedalaman 17 kaki pertama di bawah air setara dengan perubahan tekanan pada
ketinggian 18.000 kaki pertama di atas bumi. Dengan demikian, perubahan
tekanan lingkungan terjadi lebih cepat pada saat menyelam dibandingkan
dengan saat terbang. Hal ini dapat menjelaskan realitf tingginya insidens
barotrauma pada telinga tengah pada saat menyelam. Barotrauma telinga
tengah merupakan cedera terbanyak yang dialami saat menyelam, terjadi
sekitar 30% pada saat menyelam pertama kali dan 10 % pada penyelam yang
telah sering melakukan penyelaman.
Kasus barotrauma di Amerika Serikat dapat ditemukan pada 2,28 kasus per
10.000 penyelaman pada kasus berat. Sedangkan pada kasus ringan tidak
diketahui karena banyak penyelam tidak mencari pengobatan. Resiko
Barotrauma ini meningkat pada penyelam dengan riwayat asma, selain itu juga
meningkat 2,5 kali pada pasien dengan paten foramen ovale. Kematian akibat
Barotrauma di pesawat militer telah dilaporkan terjadi pada tingkat 0,024 per
juta jam penerbangan. Tingkat insiden dekompresi untuk rata-rata penerbangan
sipil sekitar 35 per tahun. Sedangkan pada departemen pertahan Australia dapat
ditemukan 82 insiden per juta jam waktu terbang. Sedangkan pada barotrauma
akibat menyelam tidak ada informasi yang tersedia di seluruh dunia

3
2.3 ETIOLOGI DAN KLASIFIKASI
Barotrauma dapat terjadi bilamana ruang-ruang berisi gas dalam tubuh
menjadi ruang tertutup dengan menjadi buntunya jaras-jaras ventilasi yang
normal. Kelainan ini terjadi pada keadaan-keadaan
2.3.1 Saat menyelam
Ada beberapa tekanan yang berpengaruh saat orang menyelam yaitu
tekanan atmosfer dan tekanan hidrostatik. Tekanan atmosfer yaitu tekanan
yang ada di atas air. Tekanan hidrostatik yaitu tekanan yang dihasilkan oleh air
yang berada di atas penyelam. Barotrauma dapat terjadi baik pada saat
penyelam turun ataupun naik. Divers depth gauges digunakan hanya untuk
mengetahui tekanan hidrostatik (kedalaman air) dan berada pada angka nol
pada permukaan laut. Ini tidak dapat mengetahui 1 atmosfer (1 ATA)
diatasnya. Jadi, gauge pressure selalu 1 atmosfer lebih rendah dari tekanan
yang sebenarnya dan tekanan absolut.
1. Tekanan atmosfer
Tekanan atmosfer yang ada di laut yaitu 1 atmosfer atau 1 bar. 1
Atmosfer diperkirakan mendekati dengan 10 meter kedalaman laut, 33
kaki kedalaman air laut, 34 kaki kedalaman air segar, 1 kg/cm2, 14,7 Ibs/in2
psi, 1 bar, 101,3 kilopascals, 760 mmHg.
Tabel 1. Tekanan atmosfer dan Tekanan Gauge di bawah laut
Tekanan Absolute Tekanan Gauge Kedalaman Laut
1 ATA 0 ATG Permukaan
2 ATA 1 ATG 10 meter (33ft)
3 ATA 2 ATG 20 meter (66 ft)
4 ATA 3 ATG 30 meter (99 ft)

4
Gambar 9. Tekanan di berbagai lapisan bumi
2. Tekanan Absolut
Tekanan absolut merupakan tekanan total yang dialami seorang
penyelam ketika berada di kedalaman laut yang merupakan jumlah dari
tekanan atmosfer yang berada di permukaan air ditambah tekanan yang
dihasilkan oleh massa air di atas penyelam (tekanan hidrostatik). Tekanan
total yang dialami penyelam disebut tekanan absolut. Tekanan ini
menggambarkan keadaan atmosfer dan disebut sebagai absolut atmosfer
atau ATA.
3. Tekanan Gauge
Seperti yang telah dijelaskan, tekanan hidrostatik pada pada penyelam
secara umum diukur dengan suatu tekanan atau depth gauge. Seperti alat
ukur yang telah dijelaskan tekanan pada permukaan laut dan mengabaikan
tekanan atmosfer (1 ATA). Tekanan gauge dapat diubah menjadi tekanan
absolute dengan menambahkan 1 tekanan atmosfer.
4. Tekanan Parsial
Pada campuran gas, proporsi tekanan total yang dimiliki oleh masing-
masing gas disebut sebagai tekanan parsial (bagian atas tekanan). Tekanan
parsial yang dimiliki oleh masing-masing gas sebanding dengan
persentase campuran. Setiap gas memiliki proporsi yang sama dengan
tekanan total campuran, seperti proporsinya dalam komposisi campuran.
Misalnya, udara pada 1 ATA mengandung oksigen 21%, maka tekanan

5
parsial oksigen adalah 0,21 ATA dan udara pada 1 ATA mengandung
nitrogen 78%, maka tekanan parsial nitrogen adalah 0,78 ATA.9
Barotrauma pada saat menyelam dapat terjadi pada saat turun ke dalam air
yang disebut sebagai squeeze, sedangkan barotrauma pada saat naik ke
permukaan air secara cepat disebut reverse squeeze atau overpressure.9
2.3.2 Saat penerbangan
Seseorang dalam suatu penerbangan akan mengalami perubahan
ketinggian yang mengakibatkan terjadinya perubahan tekanan udara sekitar.
Tekanan udara akan menurun pada saat lepas landas (naik/ascend) dan
meninggi saat pendaratan (turun/descend). Tekanan Lingkungan yang
menurun, menyebabkan udara dalam telinga tengah mengembang dan secara
pasif akan keluar melalui tuba auditiva. Jika perbedaan tekanan antara rongga
telinga tengah dan lingkungan teralu besar, maka tuba auditiva akan menciut.
Untuk memenuhi regulasi tekanan yang adekuat, terjadi perbedaan tekanan
telinga tengah dengan tekanan atmosfir yang besar selama lepas landas dan
mendarat, menyebabkan ekstensi maksimal membran tympani, dan dapat
mengakibatkan pendarahan. Pada ekstensi submaksimal, akan timbul perasaan
penuh dalam telinga dan pada ekstensi maksimal berubah menjadi nyeri.
Berdasarkan letak anatomisnya, barotrauma dapat dibagi menjadi: 1)
Barotrauma Telinga; 2) Barotrauma Sinus Paranasalis; 3) Barotrauma
Pulmonal; 4) Barotrauma Odontalgia.

2.4 PATOFISIOLOGI
Penyakit yang disebabkan oleh perubahan tekanan secara umum ditemukan
oleh hukum fisika Boyle dan Henry. Hukum boyle menyatakan suatu
penurunan atau peningkatan pada tekanan lingkungan akan memperbesar atau
menekan (secara berurutan) suatu volume gas dalam ruang tertutup atau P1 x
V1 = P2 x V2, dimana P adalah tekanan dan V adalah volume.
Perubahan tekanan terjadi ketika menyelam, pada ruang hipo dan
hiperbarik, perjalanan udara, dan pada beberapa pendakian serta pada lift yang
cepat. Tekanan meningkat sebesar 1 atmosfer setiap kedalaman laut 33 ft (10
m). Hal ini menunjukkan bahwa balon (atau paru-paru) dengan volume udara
1 kaki kubik pada kedalaman 33 kaki akan memiliki volume 2 kaki kubik pada

6
permukaan laut. Jika udara ini terperangkap, udara tersebut akan mengembang
dan memberi tekanan yang hebat pada dinding ruang tersebut. Pada pendakian
cepat, insiden pneumotoraks dan pneumomediastinum serta penekanan sinus
dan trauma telinga dalam dapat terjadi. Penekanan sinus beserta disfungsi dari
tuba eustakius akan menyebabkan perdarahan pada telinga dalam, robekan
membran labirin, atau fistula perilimfatik.
Normalnya, tekanan udara di luar dan di dalam telinga sama. Tuba
eustakius, berfungsi sebagai penyeimbang kedua sisi tersebut dengan
mengeluarkan atau memasukkan udara ke telinga tengah. Barotrauma dapat
terjadi ketika ruang-ruang bersis gas dalam tubuh (telinga tengah, paru-paru)
menjadi ruang tertutup dengan menjadi buntunya jaras-jaras ventilasi normal.
Bila gas tersebut terdapat dalam struktur yang lentur, maka struktur tersebut
dapat rusak karena ekspansi ataupun kompresi. Paling sering terjadi pada
telinga tengah, karena rumitnya fungsi tuba eustakius. Tuba eustakius secara
normal selalu tertutup namun dapat terbuka pada gerakan menelan,
mengunyah, menguap, dan dengan manuver Valsava.
Apabila perbedaan tekanan melebihi 90 cmHg, maka otot yang normal
aktivitasnya tidak mampu membuka tuba. Jika perbedaan tekanan antaara
rongga telinga tengah dan lingkungan sekitar menjadi terlalu besar (sekitar 90
sampai 100 mmHg), maka bagian kartilaginosa dari tuba eustakius akan sangat
menciut. Jika tidak ditambhakan udara melalui tuba eustakius untuk
memulihkan volume telinga tengah, maka struktur-struktur dalam telinga
tengah dan jaringan didekatnya akan rusak dengan makin bertambahnya
perbedaan tekanan.
Pada keadaan ini terjadi tekanan negatif di rongga telinga tengah, dimana
mula-mula membran timpani tertarik ke dalam menyebabkan membran
teregang dan pecahnya pembuluh-pembuluh darah kecil sehingga cairan keluar
dari pembuluh darah kapiler mukosa dan kadang-kadang disertai dengan ruptur
pembuluh darah, sehingga cairan di telinga tengah dan rongga mastoid
tercampur darah dan tampak sebagai gambaran injeksi dan bula hemoragik
pada gendang telinga. Dengan makin meningkatnya tekanan, pembuluh-
pembuluh darah kecil pada mukosa telinga tengah juga akan berdilatasi dan

7
pecah, menimbulkan hemotimpanum. Kadang-kadang tekanan dapat
menyebabkan ruptur membran timpani
Terdapat dua mekanisme yang dapat menyebabkan barotrauma pada
telinga dalam. Ketika penyelam menyelam ke bawah dan mengalami kesulitan
dalam menyeimbangkan tekanan dan terus melanjutkan menyelam lebih
dalam, dalam usaha menyeimbangkan tekanan, dapat terjadi terbukanya tuba
eustakius secara tiba-tiba sehingga udara masuk ke telinga tengah. Hal ini akan
menyebabkan rupturnya salah satu tingkap antara telinga tengah dan telinga
dalam entah fenestra rotundum ataupun fenestra ovalis ke telinga dalam.
Kebalikannya, jika penyelam menyelam lebih dalam dengan kesulitan untuk
menyeimbangkan tekanan dan tuba eustakius tidak terbuka, maka tekanan
diteruskan melalui cairan spinal, menuju ke saluran koklear ke ruang
perlimfatik pada telinga dalam. tingkap bundar atau lonjong dapat ruptur.
Untuk pasien dengan barotrauma pada penerbangan, skenario yang
mungkin adalah saat penumpang pesawat mengalami infeksi pernafasan dan
pembengkakan mukosa tuba eustakius. Saat lepas landas, tekanan udara di
lingkungan turun dan tekanan pada telinga tengah sangat tinggi. Akan tetapi,
tekanan akan turun oleh tuba eustakius ketika menelan, dan gejala menjadi
tidak terlalu berat. Sayangnya, mukosa tuba bertindak sebagai keran satu arah,
dan masalah yang sebenarnya terjadi ketika pesawat mendarat. Pada saat
pesawat hendak mendarat, tekanan atmosfer di lingkungan meningkat secara
cepat dan tuba eustakius yang bengkak pada nasofaring mencegah aerasi
telinga tengah. Hal ini menyebabkan kolapsnya gendang telinga ke dalam, dan
pembuluh darah pada telinga tengah dapat ruptur dan mengalami perdarahan
kemudian menyebabkan hemotimpanum. Hal ini dapat berlangsung hingga
berhari-hari.
Hukum henry menyatakan bahwa daya larut udara pada cairan secara
langsung sebanding dengan tekanan pada udara dan cairan. Sehingga, ketika
tutup botol soda dibuka, terbentuk gelembung pada saat udara dilepaskan dari
cairan. Sebagai tambahan, ketika nitrogen pada tank udara penyelam larut pada
jaringan lemak atau cairan sinovial penyelam saat menyelam, nitrogen akan

8
dilepaskan dari jaringan tersebut ketika penyelam naik menuju lingkungan
dengan tekanan yang lebih rendah.
Hal ini akan terjadi secara perlahan dan bertahap jika penyelam naik secara
perlahan dan bertahap, dan nitrogen akan memasuki pembuluh darah dan
menuju ke paru-paru dan dikeluarkan saat bernafas. Akan tetapi, jika penyelam
naik secara cepat, nitrogen akan keluar dari jaringan secara cepat dan
membentuk gelembung udara. Gelembung yang terbentuk akan mempengaruhi
jaringan dalam banyak cara. Gelembung dapat membentuk obstruksi pada
pembuluh darah yang dapat mengarah ke cedera iskemik. Hal ini dapat
berakibat fatal bila terjadi pada area tertentu pada otak.
Kehilangan pendengaran (tuli mendadak) dapat terjadi bila gelembung
udara membentuk oklusi pada pembuluh darah arteri labirin yang kemudian
meyebabkan iskemik pada koklea. Gelembung juga dapat membentuk suatu
permukaan dimana protein dari pembuluh darah dapat melekat, terurai, dan
membentuk gumpalan atau sel-sel radang. Sel-sel radang ini dapat
menyebabkan kerusakan endotel dan kerusakan jaringan yang permanen.
2.5 DIAGNOSIS
2.5.1 Anamnesis
Pada anamnesis umumnya didapatkan adanya riwayat menyelam atau
penerbangan dimana terdapat perubahan cepat pada tekanan lingkungan.
Secara spesifik, barotrauma juga dapat ditemukan riwayat ventilasi tekanan
positif yang mengakibatkan peningkatan tekanan paru sehingga menyebabkan
terjadinya pulmonary barotrauma. Pasien dengan barodontalgia biasanya
memiliki satu atau lebih keadaan sebagai berikut yaitu karies, inflamasi
periapikal akut maupun kronik, kista gigi residual, sinusitis, maupun riwayat
operasi gigi dalam waktu dekat. Riwayat infeksi telinga tengah maupun luar
juga dapat menjadi penanda barotrauma telinga tengah maupun luar. Pada sinus
barotrauma biasanya pasien memiliki riwayat rhinitis dan polip nasi.

2.5.2 Manifestasi Klinis dan Mekanisme


Tiga gejala klinis yang terdapat pada barotrauma secara umum adalah : efek
pada sinus atau telinga tengah, penyakit dekompresi, dan emboli gas arteri.
Barotrauma yang terjadi pada saat penurunan disebut squeeze. Gejala Knilis

9
pada barotrauma bergantung pada daerah yang mengalami gangguan, yaitu
sebagai berikut:
1. Barotrauma saat turun (Squeeze) Telinga Luar
Barotrauma pada telinga luar dapat terjadi bila telinga bagian luar
mengalami obstruksi, sehingga volume gas tertutup yang ada akan
dikompresi atau dikurangi selama proses turun ke dalam air. Hal ini dapat
terjadi pada pemakaian tudung yang ketat, wax pada liang telinga,
pertumbuhan tulang atau eksostosis atau menggunakan penutup telinga.
Biasanya obstruksi pada saluran telinga bagian luar ini akan menyebabkan
penonjolan membran timpani disertai perdarahan, swelling dan hematom
pada kulit yang melapisi saluran telinga bagian luar. Kondisi seperti ini
dapat ditemukan pada saat menyelam dengan kedalaman sedikitnya 2
meter.

Gambar 10. Barotrauma saat turun (squeeze) pada telinga luar


Gambar di atas menunjukkan patofisiologi pada telinga luar dimana
adanya obstruksi pada telinga luar (seperti penutup telinga) dapat
menimbulkan suatu ruang udara yang dapat berubah volumenya sebagai
respon terhadap perubahan tekanan lingkungan. Ketika menyelam, volume
pada ruang ini menurun dan menyebabkan membran timpani terdorong
keluar (ke arah meatus eksterna). Hal ini dapat menyebabkan nyeri dan
perdarahan kecil pada membran timpani.
Blok atau obstruksi pada telinga luar mungkin dapat mencegah suatu

10
penyamaan tekanan saat menyelam. Oleh karena itu, penutup telinga tidak
boleh digunakan saat menyelam. Gejala yang ditemukan dapat berupa
perdarahan pada telinga luar hingga perdarahan pada membran timpani.
Tidak ada terapi spesifik yang diperlukan dan penyelamam dapat
dilakukan kembali ketika jaringan telah sembuh.
2. Barotrauma saat turun (Squeeze) Telinga Tengah
Barotrauma pada telinga tengah merupakan barotrauma yang paling
umum. Membran Timpani merupakan pembatas antara saluran telinga luar
dan ruang telinga tengah. Pada saat penyelam turun, tekanan air meningkat
diluar gendang telinga, untuk menyeimbangkan tekanan ini, maka tekanan
udara harus mencapai bagian dalam dari gendang telinga, melalui tuba
eustakius. Ketika tabung eustakius ditutupi oleh mukosa, maka telinga
tengah memenuhi empat syarat terjadinya barotrauma (adanya gas dalam
rongga, dinding yang kaku, ruang tertutup, penetrasi pembuluh darah). 9,13
Pada saat seorang penyelam terus turun pada kedalaman, maka akan
terjadi ketidakseimbangan tekanan. Jika terjadi peningkatan tekanan maka
gendang telinga akan terdorong ke dalam, awalnya akan terjadi penekanan
gas yang berada pada telinga tengah, sehingga pada batasan tertentu terjadi
tekanan pada telinga tengah lebih rendah dari tekanan air diluar,
menciptakan vakum relatif dalam ruang telinga tengah. Tekanan negatif
ini menyebabkan pembuluh darah pada gendang telinga dan lapisan
pertama telinga tengah akan terjadi kebocoran dan akhirnya dapat pecah.
Jika terus menurun, selain pecahnya gendang telinga yang menyebabkan
udara atau air dapat masuk kedalam telinga tengah untuk menyamakan
tekanan, dapat pula terjadi pecahnya pembuluh darah dan menyebabkan
perdarahan ke dalam telinga tengah untuk menyamakan tekanan.
Gejala yang dapat ditemukan jika terjadi tekanan pada telinga tengah
yaitu nyeri akibat terjadi peregangan pada gendang telinga. Rasa sakit
sering dirasakan sebelum pecahnya gendang telinga. Gejala tersebut dapat
sedikit berkurang dengan berhenti untuk menyelam yang lebih dalam dan
segera naik beberapa meter secara perlahan. Jika penyelaman ke bawah
terus berlanjut, meskipun ada rasa sakit, dapat terjadi pecahnya gendang

11
telinga. Ketika pecah terjadi, nyeri akan berkurang dengan cepat. Kecuali
penyelam memakai pakaian diving dengan topi keras, rongga telinga
tengah dapat terkena air ketika pecahnya gendang telinga tersebut. Hal ini
dapat menyebabkan terjadinya infeksi telinga tengah, dan disarankan agar
tidak menyelam sampai kerusakan yang terjadi sembuh. Pada saat
membran timpani pecah, penyelam dapat tiba-tiba mengalami vertigo. Hal
tersebut dapat menyebabkan disorientasi, mual dan muntah.
Vertigo ini terjadi akibat adanya gangguan dari maleus, inkus dan stapes,
atau dengan air dingin yang merangsang mekanisme keseimbangan telinga
bagian dalam. Barotrauma pada telinga tengah terjadi tidak harus disertai
dengan pecahnya membran timpani.

Gambar 11. Barotrauma saat turun (Squeeze) pada telinga tengah14


Masalah yang paling sering terjadi ketika penerbangan dan menyelam
adalah kegagalan dalam menyamakan tekanan antara telinga tengah dan
tekanan lingkungan. Persamaan tekanan terjadi melalui tuba eustakius, yang
merupakan jaringan lunak berbentuk tabung yang berasal dari belakang hidung
hingga ruang telinga tengah. Kerusakan yang terjadi bergantung pada tingkat
dan kecepatan dari perubahan tekanan lingkungan. Ketika penyelam menyelam
hanya 2,6 kaki dengan kesulitan menyamakan tekanan pada telinga tengahnya,
membran timpani dan tulang-tulang pendengaran akan tertarik, dan penyelam
merasakan suatu tekanan dan rasa nyeri. Pada tekanan yang lebih tinggi, tuba

12
eustakius mungkin tertutup oleh tekanan negatif dari telinga tengah. Hal ini
dapat terjadi pada kedalaman 3,9 kaki dibawah laut. Peningkatan yang lebih
tinggi lagi dapat menyebabkan ruptur membran timpani.14
Gejala dari barotrauma berupa nyeri dan ketulian. Tinnitus dan vertigo
tidak terlalu terlihat pada kasus ini. Tergantung pada luas cederanya, pada
otoskopi dapat terlihat injeksi pembuluh darah atau perdarahan pada membran
timpani, perforasi membran timpani, atau darah pada telinga tengah.
Audiometri memberikan suatu diagnosis tuli konduktif tanpa komponen
sensorineural. Pengobatan yang dilakukan adalah berdasarkan gejalanya.
Dalam beberapa hari hingga minggu, gejala menghilang dan penampilan
membran timpani dapat kembali normal.15
3. Barotrauma Penurunan (Squeeze) Telinga Dalam
Terjadi bila pada saat penyelam naik ke permukaan dengan cepat sehingga
tekanan pada membran timpani diteruskan pada tingkap bulat dan lonjong sehingga
meningkatkan tekanan telinga dalam. Ruptur tingkap bulat dan lonjong dapat terjadi
dan mengakibatkan gangguan telinga dalam sehingga gejala yang ditemukan adalah
gangguan keseimbangan dan pendengaran seperti vertigo persisten dan kehilangan
pendengaran.
Gejala klinis yang biasa terjadi pada barotrauma telinga dalam yaitu adanya
tinnitus, berkurangnya ketajaman pendengaran, adanya vertigo, mual dan
muntah. Kehilangan pendengaran juga dapat disebabkan oleh adanya emboli
pada pembuluh darah arteri labirin yang mensuplai darah pada koklea. Dimana
fungsi koklea sangat sensitif terhadap pembuluh darah yang memberi suplai ke
koklea. Adanya emboli pada arteri labirin yang mensuplai koklea akan
mengganggu fungsi dari koklea. Emboli, trombus, penurunan aliran darah atau
vasospasme pada pembuluh darah arteri labirin dapat menyebabkan kehilangan
pendengaran.

13
Gambar 12. Barotrauma telinga dalam
Cedera pada telinga dalam selama penyelaman dikaitkan dengan adanya
ketidakmampuan untuk menyamakan telinga tengah. Perubahan tekanan yang
tiba-tiba dan besar pada teling tengah dapat diteruskan ke telinga dalam,
meyebabkan kerusakan pada mekanisme telinga dalam dan dapat
menimbulkan vertigo berat dan ketulian. Terdapat dua mekanisme teori unutk
menjelaskan telinga dalam : implosif dan eksplosif. Pada teori implosif,
tekanan diteruskan melalui retraksi ke dalam membran timpani, menyebabkan
tulang-tulang pendengaran bergerak menuju telinga dalam pada tingkap
lonjong. Tekanan ini diteruskan ke telinga dalam dan menyebabkan
pendorongan pada tingkap bundar. Jika penyelam melakukan manuver politzer
dan tuba eustakius terbuka secara tiba-tiba, tekanan telinga tengah meningkat
dengan sangat cepat.
Hal ini menyebabkan tulang pendengaran kembali ke posisi semula,
sehingga tingkap bundar rusak. Sedangkan pada teori ekslosif, penyelam tidak
dapat membuka tuba eustakius, sehingga tekanan intrakranial terus meningkat
selama penyelam melakukan manuver politzer. Karena cairan otak
berhubungan dengan cairan pada telinga dalam, maka tekanan ini akan
diteruskan ke telinga dalam, dan menyebabkan tingkap bundar ataupun tingkap
lonjong telinga dalam pecah.
4. Barotrauma saat turun (Squeeze) Sinus Paranasalis
Barotrauma pada sinus terjadi bila pasase yang menghubungkan sinus dan
ruangan lainnya tertutup karena mukosa maupun jaringan. Gejala yang
ditemukan adalah adanya nyeri pada sinus yang terkena dan pendarahan dari
hidung yang berasal dari sinus yang terkena.
Barotrauma yang terjadi pada saat penyelam naik dari kedalaman secara
cepat disebut reverse squeeze atau overpressure. Terjadi usaha tubuh untuk
mengeluarkan isi dari ruangan untuk menyesuaikan tekanan. Overpressure
memiliki beberapa gejala yang berbeda dengan squeeze yaitu:
1. Barotrauma saat naik (Overpressure) Telinga Tengah
Pada overpressure telinga tengah, peregangan dan ruptur membran
timpani dapat terjadi dan mengakibatkan nyeri yang sama dengan squeeze.

14
Sebagai tambahan, dapat terjadi facial baroparesis dimana peningkatan
tekanan mengakibatkan kurangnya suplai darah pada nervus facialis
karena tekanan pada telinga tengah diteruskan ke os temporalis.
Dibutuhkan overpressure selama 10 sampai 30 menit untuk gejala dapat
terjadi, dan fungsi nervus facialis kembali ke normal setelah 5 - 10 menit
setelah penurunan overpressure.
2. Barotrauma saat naik (Overpressure) Sinus Paranasalis
Gejala pada overpressure sinus sama dengan squeeze pada sinus.
Kedua mekanisme yang menyebabkan barotrauma telinga dalam akan
menyebabkan terbentuknya fistula perilimfatik. Tingkap bundar lebih
sering terkena dibandingkan tingkap lonjong, tetapi biasanya keduanya
dapat ruptur. Gejala berupa tinnitus, vertigo dengan mual dan muntah,
hilang pendengaran, akan muncul ketika menyelam. Biasanya barotrauma
telinga tengah telah terjadi, tetapi membran timpani mungkin terlihat
normal. Tuli berupa tuli sensorineural, diikuti oleh nistagmus dan tes
fistula yang positif.

2.5.3 Pemeriksaan fisis


Pemeriksaan fisis harus disesuaikan dengan riwayat pasien. Pemeriksaan
fisis secara umum harus dilakukan dengan menekankan pada telinga, sinus, dan
leher serta paru-paru, kardiovaskular, dan sistem neurologi. Inspeksi dan
palpasi ekstremitas, dan pergerakan sendi. Pada sinus, inspeksi mukosa nasal
untuk polip, perdarahan atau lesi. Palpasi dan transluminasi sinus untuk
memeriksa adanya perdarahan. Perkusi gigi atas dengan spatel untuk melihat
adanya nyeri tekan pada sinus.
Pada telinga inspeksi secara hati-hati membran timpani, lihat apakah ada
tanda-tanda: kongesti di sekitar umbo, berapa persen membran timpani yang
rusak, jumlah perdarahan di belakang gendang telinga, bukti ruptur membran
timpani. Pemeriksaan fisis dapat ditemukan retraksi, eritema, dan injeksi atau
perdarahan pada membran timpani. Gejala yang lebih berat berupa otitis,
hemotimpanum, dan perforasi membran timpani. Selama inspeksi pada telinga,
dapat ditemukan penonjolan ringan ke arah luar atau ke dalam dari gendang
telinga. Jika kondisi memberat, mungkin didapatkan darah atau memar di

15
belakang gendang telinga. Palpasi untuk mencari nyeri tekan pada tuba
eustakius.
Kelainan membran timpani dapat dilihat melalui pemeriksaan otoskopi.
Membran timpani tampak mengalami injeksi dengan pembentukan bleb
hemoragic atau adanya darah di belakang gendang telinga. Kadang-kadang
membran timpani akan mengalami perforasi. Bila gejala menetap setelah
perjalanan udara tersebut, biasanya tes garputala audiometrik akan
menunjukkan tuli konduktif ringan di telinga yang terkena. Periksa
keseimbangan dan pendengaran pasien. Serta mengevaluasi membran timpani
berdasarkan skala Teed:
1. Teed 0 tidak ada kerusakan yang terlihat, telinga normal
2. Teed 1 kongesti sekitar umbo, terjadi ketika perbedaan tekanan 2
pound/inci2 (PSI)
3. Teed 2 kongesti seluruh membran timpani, terjadi ketika perbedaan
tekanan 2-3 PSI
4. Teed 3 perdarahan pada telinga tengah
5. Teed 4 perdarahan luas pada telinga tengah disertai gelembung darah
yang terlihat di belakang membran timpani; membran timpani mungkin
ruptur
6. Teed 5 seluruh telinga tengah diisi oleh darah yang berwarna gelap
(deoksigenasi).

16
Gambar 13. Barotrauma otitik (hemotimpanum)
Pada gambar di atas, membran timpani tampak kebiruan karena ada darah
pada telinga tengah. Hal ini disebabkan oleh ketidakmampuan untuk
memventilasi telinga tengah yang diikuti oleh fungsi abnormal dari tuba
eustakius. Barotrauma otitik biasanya terjadi pada saat pesawat mendarat atau
pada penyelam. Tidak ada pengobatan khusus pada kasus ini. Jika terdapat
infeksi yang terkait pada pernafasan atas ataupun alergi, dekongestan dengan
antihistamin mungkin dapat membantu.
2.5.4 Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan yang dilakukan pada penderita barotrauma adalah
pemeriksaan lab berupa:
1. Darah Lengkap
Pasien yang memiliki hematokrit lebih dari 48% memiliki sekuele
neurologis yang persisten selama 1 bulan setelah perlukaan.
2. Analisa Gas Darah
Untuk mengevaluasi gradien alveolus-arteri untuk mengetahui
terjadinya emboli gas.
3. Kadar Serum Creatinin Phosphokinase
Peningkatan kadar serum kreatin fosfokinase menandakan
peningkatan kerusakan jaringan karena mikroemboli

17
4. Foto Thoraks dan CT Scan
Foto x-ray thorax jika pasien mengeluh adanya kesulitan bernafas.
Pemeriksaan penunjang lainnya berupa CT-Scan kepala untuk melihat
apakah terdapat embolisme udara pada otak.
5. PTA
PTA dilakukan untuk menentukan apakah terjadi tuli konduktif atau
tuli sensorineural.
6. Timpanometri
Timpanometri dilakukan untuk melihat apakah ada cairan di dalam
cavum timpani serta untuk melihat fungsi dari tuba
7. OAE
Untuk melihat apakah ada kerusakan di telinga dalam
2.6 PENATALAKSANAAN
Penanganan prehospital dapat dipertimbangkan termasuk menstabilkan
ABC dan mengkoreksi setiap kondisi yang dapat mengancam nyawa serta
mempertahankan oksigenase dan perfusi yang adekuat. Pasien harus diberi
aliran oksigen yang besar dan infus dengan akses vena yang besar untuk
memelihara tekanan darah dan nadi. Intubasi dapat dilakukan pada pasien
dengan jalan nafas yang tidak stabil atau hipoksia persisten meski dengan
oksigen 100%. Pipa torakostomi dapat dilakukan pada pneumotoraks atau
hemotoraks. Needle decompression dapat dilakukan bila dicurigai tension
pneumotoraks. Kateterisasi pasien dengan shok untuk memantau volume dan
hidrasi pasien, juga pada pasien DCS yang tidak dapat mengosongkan kandung
kemih karena kerusakan saraf pada kandung kemih.
Walaupun kasus-kasus ringan dapat diobati dengan menghirup 30% O2
pada tekanan permukaan, pengobatan terpenting adalah rekompresi. Tiba di
RUBT maka rekompresi dengan 30% O2 dengan tekanan paling sedikit
kedalaman 18 meter (2,8 ATA) adalah pilihan utama pada banyak kasus PD
(Penyakit Dekompresi). Bila sesudah 10 menit penderita belum sembuh
sempurna, maka terapi diperpanjang sampai 100 menit dengan diselingi tiap 20
menit bernapas 5 menit udara biasa. Setelah ini dilakukan dekompresi dari 18
meter ke 9 meter selama 30 menit dan mengobservasi penderita. Selanjutnya

18
penderita dinaikkan kepermukaan selama 30 menit. Seluruh waktu pengobatan
dapat berlangsung kurang dari 5 jam.
Rekompresi mengurangi diameter gelembung sesuai Hukum Boyle dan ini
akan menghilangkan rasa sakit dan mengurangi kerusakan jaringan.
Selanjutnya gelembung larut kembali dalam plasma sesuai Hukum Henry. O2
yang digunakan dalam terapi mempercepat sampai 10 kali pelarutan
gelembung dan membantu oksigenasi jaringan yang rusak dan iskemik. Dalam
kasus darurat yang jauh dari fasilitas RUBT dapat dilakukan rekompresi dalam
air untuk mengobati PD langsung ditempat. Rekompresi dilakukan pada
kedalaman maksimum 9 meter selama 30-60 menit.
Kecepatan naik adalah 1 meter tiap 12 menit, dan bila gejalanya kambuh,
tetaplah berada di kedalaman tersebut selama 30 menit sebelum meneruskan
naik kepermukaan. Setiba di permukaan, penderita diberi O2 selama 1 jam,
kemudian bernafas dengan udara selama 1 jam, demikian seterusnya hingga 12
jam. Walaupun dapat dan telah dilakukan, mengenakan kembali alat selam dan
menurunkan penyelam di dalam air untuk rekompresi, namun cara ini tidak
dapat dibenarkan. Kesukaran yang dihadapi adalah penderita tidak dapat
menolong dirinya sendiri, tidak dapat dilakukan intervensi medis bila ia
memburuk dan terbatasnya suplai gas. Oleh karena ini usaha untuk mengatasi
PD sering kali tidak berhasil dan malahan beberapa pebderita lebih memburuk
keadaannya. Bila terjadi tuli mendadak akibat oklusi arteri labirin, sebaiknya
dilakukan terapi hiperbarik. Interval waktu Antara saat kejadian dan gejala
sangat penting dalam pemberian terapi hiperbarik oksigen.
Periode emas dari terbloknya pembuluh darah oleh thrombus atau emboli
yang dapat memberikan suatu disfungsi neurologik adalah 3 jam. Hal ini di
defenisikan sebagai periode reperfusi pertama. Periode reperfusi kedua dimulai
saat 3 sampai 5 jam setelah terjadi oklusi. Obat-obatan yang dapat diberikan
selama rekompresi adalah infuse cairan (dekstran, plasma) bila ada dehidrasi
atau syok, steroid (deksamethason) bila ada edema otak, obat anti pembekuan
darah (heparin), digitalis bila terjadi gagal jantung, anti oksidan (vitamin E, C,
beta karoten) untuk mengantisipasi pembekuan oksidan (radikal bebas) yang
merusak sel tubuh pada terapi oksigen hiperbarik.

19
Pada kasus yang tidak gawat darurat, pengobatan biasanya cukup dengan
cara konservatif saja, yaitu dengan memberikan dekongestan, menghindari
menyelam atau terbang sampai pasien dapat menyeimbangkan kembali fungsi
telinga tengah, atau dengan melakukan perasat Valsava selama tidak terdapat
infeksi di jalan napas atas. Tetapi bila terdapat tanda-tanda ketulian dan vertigo,
pemberian steroid harus dimulai. Apabila cairan yang bercampur darah
menetap di telinga tengah sampai beberapa minggu, maka dianjurkan untuk
tindakan miringotomi dan bila perlu memasang pipa ventilasi (Grommet). 1,2,12
Antibiotik tidak diindikasikan kecuali bila terjadi pula perforasi di dalam
air yang kotor. Pasien dilarang untuk menyelam sampai telinga tengah sembuh
dan pasien dapat dengan mudah menyesuaikan tekanan pada telinga tengah.
Jika terjadi perforasi, pasien harus menunggu hingga perforasi sembuh dan
membran timpani utuh kembali.
Selama pasien tidak menderita infeksi traktus respiratorius atas,
membarana nasalis dapat mengerut dengan semprotan dekongestan dan dapat
diusahakan menginflasi tuba eustakius dengan perasat politzer. Kemudian
pasien diberikan dekongestan, antihistamin atau kombinasi keduanya selama
1-2 minggu atau sampai gejala menghilang. Bila pasien menderita infeksi
traktus respiratorius atas, diindikasikan terapi serupa tetapi tuba eustakius tidak
boleh diinflasi sampai infeksi teratasi sempurna. Harus diberikan antibiotika
bila terdapat faringitis atau rhinitis bakterialis.
Pada keadaan yang jarang dengan perforasi membran timpani, biasanya
penyembuhan terjadi secara spontan, tetapi pasien dianjurkan diperiksa ulang
dan dicegah masuknya air ke dalam telinga sampai ia normal kembali. Bila
pasien tetap harus terbang dalam keadaan pilek, pasien dianjurkan minum
preparat dekongestan-antihistamin setengah jam sebalum berangkat dan
selanjutnya setiap 3-4 jam pada penerbangan yang lama. Disamping itu ia
dianjurkan membawa inhaler propel heksedrin (bensedrex) dan menyedot 3-4
kali melalui tiap-tiap lubang hidung tepat sebelum naiknya dan pada waktu
mulai turunnya pesawat.
Barotrauma sinus diterapi dengan dekongestan, oral dan nasal. Nyeri
dikontrol dengan NSAIDs atau obat analgesik narkotik. Pada barotrauma

20
telinga tengah, pengobatan didasarkan pada skala Teed. Untuk kasus ringan
(Teed 0-2) : dekongestan, nasal (0,05% oxymetazoline hydrochloride spray 2
kali sehari selama 3 hari) dan oral (pseudoephedrine 60-120 mg dua atau tiga
kali sehari).
Untuk kasus Sedang (Teed 3-4) pengobatan sama dengan diatas, tapi dapat
ditambahkan dengan oral steroid, seperti prednisone 60 mg/hari selama 6 hari
lalu diturunkan hingga 7-10 mg per hari. Jika membran timpani ruptur atau air
terkontaminasi, dapat diberi antibiotik sesuai dengan pengobatan otitis media
akut .Pada kasus berat (Teed 5) pengobatan sama seperti diatas. Dapat
dipertimbangkan miringotomi jika pengobatan gagal. Kontrol nyeri dengan
Tylenol dengan kodein (asetaminofen 300 mg dengan kodein fosfat 30 mg) 1-
2 tablet setiap 4-6 jam.
Dokter umum dapat mendiagnosa dan mengobati gangguan ini dengan
dekongestan dan manuver valsava. Kasus berulang memerlukan konsultasi dari
ahli THT, dengan opsi bedah miringotomi, meskipun kebanyakan kasus
membaik secara spontan.
2.7 DIAGNOSIS BANDING
Diagnosis banding untuk barotrauma adalah adanya infeksi pada telinga
ataupun pada sinus. Penyakit infeksi dapat berupa otitis eksterna, otitis media
maupun sinusitis. Pada barotrauma, gejala yang muncul disertai dengan adanya
riwayat perubahan tekanan yang dialami oleh penderita baik oleh karena
menyelam ataupun riwayat bepergian dengan pesawat terbang. Selain itu, pada
pemeriksaan laboratorium didapatkan adanya tanda-tanda infeksi pada otitis
eksterna, otitis media maupun sinusitis.
2.8 KOMPLIKASI
Komplikasi yang mungkin ditemukan berupa infeksi telinga akut,
hilangnya pendengaran, ruptur atau perforasi dari gendang telinga dan vertigo.
2.9 PROGNOSIS
Kasus-kasus berat memerlukan waktu hingga 4-6 minggu untuk
menyembuh, tapi umumnya dapat sembuh dalam dua atau tiga hari.
Barotrauma biasanya sembuh sendiri. Hilangnya pendengaran sebagian besar
bersifat temporer.

21
2.10 PREVENTIF
Barotrauma dapat dicegah dengan menghindari terbang ataupun menyelam
pada waktu pilek dan menggunakan teknik pembersihan yang tepat. Jika terasa
nyeri, agaknya tuba eustakius telah menciut. Yang harus dikerjakan jika ini
terjadi pada saat menyelam adalah hentikan menyelam atau naiklah beberapa
kaki dan mencoba menyeimbangkan tekanan kembali. Hal ini tidak dapat
dilakukan jika sedang terbang dalam pesawat komersial, maka perlu untuk
mencegah penciutan tuba eustakius.
Metode terbaik adalah dengan mulai melakukan manuver-manuver
pembersihan dengan hati-hati beberapa menit sebelum pesawat mendarat. Jika
pasien harus terbang dalam keadaan pilek, maka sebaiknya menggunakan
dekongestan semprot hidung atau oral.. Tindakan preventif terdiri atas nasal
spray vasokonstriktor 12 jam sebelum penerbangan, dekongestan oral dan
mengunyah permen karet ketika mendarat.
Selain itu, usaha preventif terhadap barotrauma dapat dilakukan dengan
selalu mengunyah permen karet atau melakukan perasat Valsava, terutama
sewaktu pesawat terbang mulai turun untuk mendarat.1

22
BAB III
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN PADA TRAUMA TELINGA
3.1 PENGKAJIAN
1. Identitas Pasien
a. Riwayat kesehatan
Keluhan Utama
Biasanya klien mengeluh adanya nyeri, apalagi jika daun telinga
disentuh. Didalam telinga terasa penuh karena adanya penumpukan
serumen atau disertai pembengkakan. Terjadi gangguan pendengaran
dan kadang-kadang disertai demam. Telinga juga terasa gatal.
Riwayat penyakit sekarang
Waktu kejadian, penyebab trauma, posisi saat kejadian, status
kesadaran saat kejadian, pertolongan segera yang diberikan setelah
kejadian
Riwayat penyakit dahulu
Pernah mengalami nyeri pada telinga sebelumnya.
Riwayat penyakit keluarga
Tidak ada salah satu keluarga yang mengalami sakit telinga.
b. Pemeriksaan Fisik
1. Inspeksi
Inspeksi keadaan umum telinga, pembengkakan pada MAE
(meatusauditorius eksterna) perhatikan adanya cairan atau bau, warna
kulit telinga, penumpukan serumen, tonjolan yang nyeri dan
berbentuk halus, serta adanya peradangan.
2. Palpasi
Palpasi, Lakukan penekanan ringan pada daun telinga, jika terjadi
respon nyeridari klien, maka dapat dipastikan klien menderita otitis
eksternasirkumskripta (furunkel).
3.2 DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Nyeri berhubungan dengan proses inflamasi.
2. Gangguan sensori persepsi (auditori) berhubungan dengan perubahan
sensori persepsi

23
3. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang terpaparnya informasi
tentang penyakit, pengobatan.
3.3 INTERVENSI
1. Nyeri berhubungan dengan proses inflamasi.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 24 jam rasa nyeri
pasien dapat berkurang,
Kriteria hasil:
o Melaporkan nyeri berkurang / terkontrol.
o Menunjukkan ekspresi wajah / postur tubuh rileks.
INTERVENSI :
1. Observasi keluhan nyeri, perhatikan lokasi atau karakter dan intensitas
skala nyeri (0-5)
R/. Dapat mengidentifikasi terjadinya komplikasi dan untuk intervensi
selanjutnya.
2. Ajarkan tehnik relaksasi progresif, nafas dalam guided imagery.
R/. Membantu klien untuk mengurangi persepsi nyeri atau mangalihkan
perhatian klien dari nyeri.
3. Kolaborasi: Berikan obat analgetik sesuai indikasi
R/. Membantu mengurangi nyeri
2. Gangguan sensori persepsi (auditori) berhubungan dengan kerusakan
pendengaran
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan 1 x 24 jam diharapkan ketajaman
pendengaran
pasien meningkat
KriteriaHasil :
Pasien dapat mendengar dengan baik tanpa alat bantu pendengaran
mampu menentukan letak suara dan sisi paling keras dari garputala
membedakan suara jam dengan gesekan tangan
Pasien tidak meminta mengulang setiap pertanyaan yang diajukan
kepadanya

24
INTERVENSI :
1. Observasi ketajaman pendengaran, catat apakah kedua telinga terlibat.
R/. Mengetahui tingkat ketajaman pendengaran pasien dan untuk
menentukan intervensi selanjutnya.
2. Berikan lingkungan yang tenang dan tidak kacau, jika diperlukan seperti
musik lembut.
R/. Membantu untuk menghindari masukan sensori pendengaran yang
berlebihan dengan mengutamakan kualitas tenang.
3. Anjurkan pasien dan keluarganya untuk mematuhi program terapi yang
diberikan
R/. Mematuhi program terapi akan mempercepat proses penyembuhan.
3. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang terpaparnya
informasi tentang penyakit, pengobatan.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 24 jam,
diharapkan terjadi peningkatan pengetahuan mengenai kondisi dan
penanganan yang bersangkutan
Kriteria hasil :
o Melaporkan pemahaman mengenai penyakit yang dialami
o Menanyakan tentang pilihan terapi yang merupakan petunjuk
kesiapan belajar
INTERVENSI :
1. Kaji tingkat pengetahuan pasien.
R/. Mengetahui tingkat pemahaman dan pengetahuan pasien tentang
penyakitnya serta indikator dalam melakukan intervensi
2. Berikan informasi pada pasien tentang perjalanan penyakitnya.
R/. Meningkatkan pemahaman klien tentang kondisi kesehatan
3. Berikan penjelasan pada pasien tentang setiap 1 tindakan keperawatan
yang diberikan
R/. Mengurangi tingkat kecemasan dan membantu meningkatkan
kerjasama dalam mendukung program terapi yang diberikan

25
BAB IV
LAPORAN KASUS

4.1 Identitas Penderita


Nama : Nn. OKI Umur : 24 Tahun
Status Poliklinik : 12 November 2015 Jenis Kelamin : Perempuan
Pekerjaan : Mahasiswa Alamat :
4.2 Anamnesis
Keluhan Utama : Nyeri telinga kanan.
Keluhan Tambahan : penurunan pendengaran, telinga terasa
buntu.
Riwayat Perjalanan Penyakit : pasien datang ke rumah sakit dengan
mengeluh nyeri pada telinga kanan sejak
1 minggu yang lalu. Nyeri terjadi pada
saat selesai penyelaman 12 meter di atas
permukaan laut. telinga terasa sakit,
berdengung, terasa buntu, dan
pendengaran berkurang. 1 hari setelah
kejadian keluhan tidak berkurang.
Kemudian px merasa ada air keluar dari
telinga kanan. Nyeri dirasakan berkurang
tetapi pendengaran dan rasa buntu
ditelinga tidak berkurang
Penyakit yang pernah diderita : Pasien baru pertama mengalami keluhan
seperti ini.
Riwayat Penyakit Keluarga : Dalam keluarga tidak ada yang
mengalami penyakit serupa.
4.3 Pemeriksaan
Status Generalis
Kesadaran Umum : Compos Mentis
Kesadaran : E4, V5, M6
Gizi : Cukup

26
Berat Badan : 41 Kg
TD : 130/60 mmhg
Nadi : 89 kali/menit
Pernapasan : 26 kali/menit
Suhu : 36,8C
Jantung : SI-SII normal, murmur (-), gallop (-)
Paru-Paru : Vesikuler normal (+), wheezing (-), rhonki (-)
Abdomen : Datar, nyeri epigastrium (-), BU (+)
normal, pembesaran hepar dan lien (-)
Ekstremitas : Hangat, edema (-), sianosis (-)
4.4 Pemeriksaan Fisik
Telinga
1. Inspeksi
- terdapat pembengkakan di area membrane timpani
- keluar cairan dari telinga kanan.
2. Palpasi
- Terdapat nyeri tekan di telinga bagian kanan
- Skala nyeri 6
3. Aukultasi
- Telinga kiri normal
- Telinga kanan tidak mendengar suara apapun
4.5 DATA FOKUS
DATA SUBJEKTIF DATA OBJEKTIF
1. pasien mengeluh nyeri pada 1. Hasil tanda-tanda vital
telinga kanan sejak 1 minggu didapatkan, TD : 130/60
yang lalu mmHg, RR: 22x/mnt, N:
2. pasien mengatakan telinga 89x/mnt, S : 36,8C
berdengung, terasa buntu, dan 2. KU compos mentis
pendengaran berkurang 3. pasien tampak meringis
kesakitan
4. terdapat pembengkakan di area
membrane timpani.

27
5. keluar cairan dari telinga
kanan.
6. Skala nyeri 6

4.6 ANALISA DATA


DATA FOKUS ETIOLOGI PROBLEM
DATA SUBJEKTIF Proses inflamasi nyeri
1. pasien mengeluh nyeri pada telinga
kanan sejak 1 minggu yang lalu
DATA OBJEKTIF
1. pasien tampak meringis kesakitan
2. terdapat pembengkakan di area
membrane timpani.
Hasil TTV: TD : 130/80 mmHg,
RR: 26x/mnt, N: 89x/mnt, S :
36,8C
DATA SUBJEKTIF Kerusakan Gangguan
1. pasien mengatakan telinga pendengaran sensori
berdengung, terasa buntu, dan persepsi
pendengaran berkurang (auditori)
DATA OBJEKTIF
1. pasien tampak gelisah
2. keluar cairan keluar dari telinga
kanan.
Hasil TTV : TD : 130/80 mmHg,
RR: 26x/mnt, N: 89x/mnt, S :
36,8C

4.7 DIAGNOSA KEPERAWATAN


NO DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Nyeri berhubungan dengan proses inflamasi

28
2. Gangguan sensori persepsi (auditori) berhubungan dengan perubahan
sensori persepsi.

4.8 RENCANA KEPERAWATAN


Hari, DIAGNOSA TUJUAN & KRITERIA INTERVENSI
Tanggal KEPERAWATAN HASIL
/ Jam
1 Nyeri Setelah dilakukan tindakan 1. Observasi keluhan nyeri,
berhubungan keperawatan selama 2 x 1 perhatikan lokasi atau
dengan proses jam rasa nyeri pasien dapat karakter dan intensitas skala
inflamasi berkurang. Dengan kriteria nyeri (0-10)
hasil: 2. Berikan kompres hangat
1. Melaporkan nyeri pada daerah nyeri
berkurang / terkontrol. 3. Ajarkan tehnik relaksasi
2. Menunjukkan ekspresi progresif, nafas dalam
wajah / postur tubuh guided imagery.
rileks. 4. Kolaborasi: Berikan obat
analgetik sesuai indikasi
dan anti biotik

2 Gangguan sensori Gangguan sensori persepsi 1. Observasi ketajaman


persepsi (auditori) (auditori) berhubungan pendengaran, catat apakah
berhubungan dengan kerusakan kedua telinga terlibat.
dengan perubahan pendengaran. Dengan 2. Berikan lingkungan yang
sensori persepsi. kriteria hasil: tenang dan tidak kacau, jika
1. Pasien dapat mendengar diperlukan seperti musik
dengan baik tanpa alat lembut.
bantu pendengaran 3. Anjurkan pasien dan
2. mampu menentukan keluarganya untuk
letak suara dan sisi mematuhi program terapi
paling keras dari yang diberikan
garputala

29
3. membedakan suara jam 4. Kolaborasi untuk
dengan gesekan tangan melakukan tindakan irigasi
4. Pasien tidak meminta telinga
mengulang setiap
pertanyaan yang
diajukan kepadanya

30
4.9 IMPLEMENTASI
No. IMPLEMENTASI No. EVALUASI
Dx
1. 1. mengobservasi keluhan nyeri, S: pasien mengatakan nyeri
perhatikan lokasi atau karakter sudah berkurang
dan intensitas skala nyeri (0-10) O: - skala nyeri 4
2. memberikan kompres hangat TTV : TD : 120/60 mmHg,
pada daerah nyeri RR: 24x/mnt, N: 75x/mnt,
S : 36,8C
3. mengajarkan tehnik relaksasi
A: masalah teratasi sebagian
progresif, nafas dalam guided
P: Intervensi dilanjutkan
imagery.
4. mengkolaborasikan: Berikan
obat analgetik sesuai indikasi
dan anti biotik seperti:
as.mefenamat dan amoxilin

2. 1. mengobservasi ketajaman S: pasien mengatakan


pendengaran, catat apakah telinganya yang berdengung
kedua telinga terlibat. sudah hilang, tapi masih belum
2. memberikan lingkungan yang bisa mengdengar suara apapun
tenang dan tidak kacau, jika O: - pasien tampak tenang
diperlukan seperti musik - cairan sudah mulai
lembut. berkurang
3. menganjurkan pasien dan TTV : TD : 120/60
keluarganya untuk mematuhi mmHg, RR: 24x/mnt,
N: 75x/mnt, S : 36,8C
program terapi yang
A: masalah teratasi sebagian
diberikan
P: intervensi dilanjutkan
4. mengkolaborasikan untuk
melakukan tindakan irigasi
telinga

31
BAB V
KESIMPULAN

Barotrauma merupakan segala sesuatu yang diakibatkan oleh tekanan kuat


yang tiba-tiba dalam ruangan yang berisi udara pada tulang temporal, yang
diakibatkan oleh kegagalan tuba eustachius untuk menyamakan tekanan dari bagian
telinga tengah dengan adekuat dan terjadi paling sering selama turun dari ketinggian
atau naik dari bawah air saat menyelam. Barotrauma dapat terjadi saat menyelam
dan saat penerbangan. Hukum Boyle menyatakan hubungan antara tekanan dan
volume. Hukum Boyle berbunyi Volume suatu gas berbanding terbalik dengan
tekanan yang bekerja pada gas tersebut (jika suhu tetap konstan). Hal ini berarti,
untuk jumlah gas tertentu, jika tekanan meningkat, volume proporsionalnya
menurun demikian sebaliknya atau dapat diartikan jika tekanan naik dua kali lipat,
berarti volumenya seperdua, demikian sebaliknya. Pada anamnesis umumnya
didapatkan adanya riwayat menyelam atau penerbangan dimana terdapat perubahan
cepat pada tekanan lingkungan. Barotrauma dapat terjadi pada telinga, barotrauma
telinga luar, barotrauma telinga tengah, barotrauma telinga dalam, barotrauma sinus
paranasalis, barotrauma pulmonal, dan barotrauma odontalgia. Pemeriksaan yang
dapat dilakukan yaitu analisis gas darah, darah lengkap, dan kadar serum creatin
phosphokinase. Untuk pemeriksaan autopsi dapat dilakukan pada post morte
dengan pemeriksaan yang teliti dan sistematis.

32
DAFTAR PUSTAKA

1. Soepardi E, dkk. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga, Hidung, Tenggorok,


Kepala & Leher. Edisi 6. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia. 2007. Hal. 10-13, 65
2. Adams G, Boies L, Higler P. Boies Buku Ajar Penyakit THT. Jakarta: EGC.
1997. Hal. 90-2.
3. Kaplan J. Barotrauma.
http://www.emedicine.medscape.com/article/768618.htm (diakses tanggal 29
Juli 2015).
4. Safer, D. Barotrauma. Spain: EBSCO Publishing. 2011.
5. Aly, Rusly, dr. Barotrauma. Banda Aceh: Fakultas Kedokteran Universitas
Syiah Kuala. 2010;35-8.
6. Cummings, Charles W. Cummings Otolaryngology Head and Neck Surgery
Fourth Edition. Maryland: Elsevier.2005.
7. Netter, F. Interactive Atlas Of Human Anatomy. England : Novahte. 2004. P.
215-26
8. Dosen Bagian Ilmu Penyakit THT. Anatomi Sinus Paranasalis. Medan: Bagian
Ilmu Penyakit THT Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. 2012;1-
13.
9. Edmonds, Carl MD, et al. Physics Diving Chapter 2 dalam Diving Medicine for
SCUBA Divers 5th Edition. Australia: National Library of Australia. 2013; 11-
28.
10. Direction of Commander, Naval Sea Systems of Command. Mixed Gas Surface
Supplied Diving Operations in US Navy Diving Manual Revision 6. 2011; 180-
199.
11. Ajeng, Darmafindi dan Indriawati Ratna. Pengaruh Frekuensi Penggunaan
Pesawat Terbang dengan Kejadian Barotrauma. Yogyakarta: Bagian Fisiologi
Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. 2011.;1-6.
12. Ballenger, JJ. Etc. Ballengers Otorhinolaryngology: Head and Neck Surgery.
USA: PMPH-USA. 2009. P. 215-6

33