Anda di halaman 1dari 4

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian

Ikan merupakan makanan favorit masyarakat, penggunaan pakan yang

kotor dan kurang bersih, tempat peternakan yang tidak bersih, air yang tidak

mengalir dan yang kurang bersih serta tempat penjualan yang kotor

memungkinkan terjadinya cemaran pencemaran mikrobiologis kimia dan fisik.

Berdasarkan uraian di atas maka dilakukanlah penelitian pengujian

bakteriologis dan penghitungan koloni bakteri pada ikan lele dumbo yang diambil

diambil di pasar tradisonal dan swalayan dengan metode Total Plate Count (TPC).

Metode Total Plate Count merupakan suatu metode untuk menghitung jumlah

mikroba yang ada dalam sampel. Mula-mula sampel di encerkan kemudian

disuspensikan ke cawan...... dan diinkubasikan. Koloni-koloni yang tumbuh

setalah diinkubasikan kemudian dihitung dengan syarat jumlah koloni berkisar

antara 30-300 koloni.

Tabel 4.1 Hasil Penghitungan Pertumbuhan Jumlah Koloni Bakteri

Jumlah koloni bakteri yang


diinkubasi selama 24 jam pada Persyaratan
Sampel Ket
pengenceran : dinyatakan
10-1 10-2 10-3 10-4
>300 189 178 184 Tercemar (A)
Tradisional
249 260 Spr 243 Tercemar Reflikasi (B)

Spr >300 130 81 Tercemar C


swalayan
Spr Spr >300 241 Tercemar Reflikasi (D)
Keterangan: Spr atau spreader merupakan koloni yang tumbuh pada medium. Bila spreader ini
besar dan menutupi setengah dari cawan petri, maka tidak perlu dihitung
koloninya atau dihitung satu.

18
19

Hasil pengamatan pertumbuhan jumlah koloni bakteri pada tiap

pengenceran yang sudah diinkubasi selama 24 jam dapat dilihat pada tabel 4.1

diatas.

Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa hasil pertumbuhan koloni bakteri

pada sampel A, B, C dan D semuanya positif tercemar oleh bakteri. Dari data

sampel A,B, C dan D pada pengenceran 10-1-10-4 masing-masing memiliki jumlah

koloni bakteri yang berbeda-beda. Hal ini dikarenakan tingkat pencemaran antara

satu sampel dengan sampel lainnya yang berbeda pula.

Pengujian jumlah bakteri dalam sampel dilakukan secara aseptis, yakni

dari awal hingga akhir penelitian dikerjakan di enkas. Hal ini dimaksudkan untuk

meminimalisir kontaminasi cemaran bakteri dari lingkungan sekitar, sehingga

tidak mempengaruhi hasil penelitian.

Sampel A ada 2 pengenceran yang memenuhi syarat penghitungan TPC

yaitu pada pengenceran 10-2 dan 10-3. Oleh karena ada 2 pengenceran yang masuk

kedalam syarat perhitungan TPC jadi harus ditotalkan terlebih dahulu. Karena

hasil pembagian jumlah koloni pada 2 tingkat pengenceran < 2 maka digunakan

tingkat pengenceran terendah yaitu 190 x 102 koloni/ml atau 1,9 x 104 koloni/ml.

Sampel B perhitungannya langsung karena yang masuk kedalam syarat

penghitungan TPC hanya ada satu yaitu pada pengenceran 10-2. Hasilnya adalah

189 x 102 koloni/ml atau 1,89 x 104 koloni/ml.

Sampel C ada dua pengenceran yang masuk kedalam syarat penghitungan

TPC yaitu pada pengenceran 10-3 dan pengenceran 10-4. Oleh karena hasil

pembagian jumlah koloni pada 2 tingkat pengenceran < 2 maka digunakan tingkat

pengenceran terendah yaitu 123 x 103 koloni/ml atau 1,23 x 105.


20

Sampel yang diuji positif terdapat bakteri dan melebihi batas pencemaran

maksimum mikroba angka lempeng total (ALT) yaitu 1 x 104 koloni/ ml atau

gram, sehingga gorengan yang diuji tidak memenuhi syarat secara mikrobiologis

untuk dikonsumsi (BPOM RI,2012).

4.2 Pembahasan

Ikan sebagai salah satu komoditas perdagangan tak dapat dianggap remeh

sebagai pembawa penyakit, untuk itu diperlukan dukungan terus menerus dari

berbagai pihak untuk bertanggung jawab terhadap kualitas sebagai contoh BPOM

dan Lembaga Perlindungan Konsumen untuk mengadakan pemeriksaan dan

pembinaan kepada pedagang untuk merasa bertanggung jawab terhadap kualitas

produk-produk makanan yang dihasilkan. Selain itu pengetahuan pembeli bisa

ditingkatkan melalui pemberdayaan media dan lembaga-lembaga lain seperti

kegiatan UKS di Sekolah (Oggy Satriya Putra,dkk 2012).

Kontaminasi makanan yang diperjualkan kepada para konsumen masih

cukup tinggi dan berbeda menurut jenis Tempat Pengelolaan Makanan (TPM).

Masyarakat yang mengkonsumsi makanan terkontaminasi dapat mendatangkan

risiko penyakit bawaan makanan yaitu penyakit gangguan pencernaan dan

keracunan makanan dengan gejala mual/muntah, pusing, dan diare (Bpom RI,

2011).

Standar kebersihan dan kelayakan makanan yang dijual kepada

masyarakat harus memenuhi keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia

Nomor 942/MENKES/SK/VII/2003 Tentang Pedoman Persyaratan Hygiene

Sanitasi Makanan Jajanan, bahwa masyarakat perlu dilindungi dari makanan dan
21

minuman yang tidak memenuhi persyaratan kesehatan agar tidak membahayakan

kesehatannya (Menkes RI, 2003).

Pedagang makanan jajanan lokasinya harus cukup jauh dari sumber

pencemaran serta harus meningkatkan kualitas dari makanan yang dijual atau

yang akan dikonsumsi. Contohnya seperti menggunakan alat-alat memasak yang

bersih, menggunakan bahan makanan yang berkualitas baik, air yang bersih serta

menggunakan penutup makanan.