Anda di halaman 1dari 14

Hubungan antara aktivitas kognitif terhadap kejadaian demensia pada lansia

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah


Lanjut usia (lansia) adalah kelompok penduduk yang berumur 60 tahun atau lebih.1
Saat ini di seluruh dunia jumlah lanjut usia diperkirakan mencapai 500 juta dan
diperkirakan pada tahun 2025 akan mencapai 1,2 milyar. Di Indonesia sendiri pada
tahun 2000, jumlah lansia meningkat mencapai 9,99% dari seluruh penduduk
Indonesia (22.277.700 jiwa) dengan umur harapan hidup usia 65-70 tahun dan pada
tahun 2020 diperkirakan akan mencapai 30 juta orang dengan umur harapan hidup
70-75 tahun.2
Demensia adalah gangguan fungsi intelektual dan memori didapat yang
disebabkan oleh penyakit otak, dan tidak berhubungan dengan gangguan tingkat
kesadaran.3 Insidensi demensia meningkat secara bermakna seiring meningkatnya
usia. Setelah usia 65 tahun, prevalensi demensia meningkat dua kali lipat setiap
pertambahan usia 5 tahun. Secara keseluruhan prevalensi demensia pada populasi
berusia lebih dari 60 tahun adalah 5,6 %. Saat ini usia harapan hidup mengalami
peningkatan, hal ini diperkirakan akan meningkatkan pula prevalensi demensia, dan
di seluruh dunia di perkirakan lebih dari 30 juta penduduk menderita demensia
dengan berbagai sebab.4 Di Indonesia sendiri, menurut data profil kesehatan yang
di laporkan oleh Departemen Kesehatan tahun 1998, terdapat 7,2
% populasi usia lanjut 60 tahun keatas menderita demensia. Peningkatan angka
kejadian kasus demensia berbanding lurus dengan meningkatnya harapan hidup
suatu populasi.2

Salah satu faktor risiko yang berkaitan dengan demensia adalah aktivitas kognitif.
Pada lansia yang melakukan aktivitas melibatkan fungsi kognitif dapat
menurunkan risiko demensia. Penelitian dr.R.W.Bowers dari Universitas Bowling
Green menunjukkan, setelah 10 minggu jogging, pada mereka yang semula
hanya duduk saja, ternyata meningkatkan daya ingat dan daya pikir lebih tajam.6
Demensia juga berkaitan dengan umur dan jenis kelamin. Sekitar 5 % usia
lanjut 65-70 tahun menderita demensia dan meningkat dua kali lipat setiap 5 tahun
mencapai lebih 45 % pada usia di atas 85 tahun. Penyakit ini adalah penyebab yang
paling umum dari gangguan intelektual yang berat pada orang lanjut usia.2
Penelitian di Jakarta Barat rata-rata umur lansia dengan demensia adalah 70,03
tahun, sedangkan lansia yang tidak demensia memiliki rata-rata umur 66,08 tahun.7
Pengaruh umur dengan kejadian demensia adalah semakin meningkatnya umur,
semakin tinggi pula risiko demensia.8 Demensia terjadi lebih tinggi pada wanita
dibanding pria. Penderita demensia pada usia 65 dan 69 tahun sekitar 1,4% pria dan
1,5% wanita, pada usia 70 dan 74 tahun sekitar 3,1% pria dan 2,2% wanita, pada
usia antara 75 dan 79 sekitar 5,6% pria dan 7,1% wanita , pada usia antara 80 dan
84 sekitar 10,2% pria dan 14,1% wanita, dan pada usia 85 atau lebih sekitar 19,6%
pria dan 27,5% wanita.9 Kejadian demensia pada pria dibandingkan wanita ternyata
wanita lebih banyak mengalami demensia, akan tetapi tidak ada perbedaan
signifikan antara jenis kelamin dengan demensia.7 Tingkat pendidikan memiliki
hubungan dengan kejadian demensia pada lansia. Lansia dengan pendidikan rendah
lebih berpeluang mengalami demensia dibanding lansia dengan pendidikan tinggi.7
Pada penderita demensia terjadi penurunan daya ingat terutama memori
jangka pendek, perubahan kepribadian yang bermanifestasi menjadi perilaku yang
tidak sopan, berkurangnya interaksi sosial, depresi, paranoid dan lain sebagainya.
Selain itu terdapat pula perubahan dalam cara mempertimbangkan dan
mempersepsikan sesuatu, kemampuan berbahasa dan perilaku motorik. Hal ini
sangat berpengaruh terhadap kualitas kehidupan lansia.

1.2 Rumusan Masalah

Apakah terdapat hubungan antara aktivitas kognitif terhadap kejadian demensia


pada lansia.

1.3 Tujuan penelitian


1.3.1 Tujuan Umum
Mengetahui hubungan antara aktivitas kognitif terhadap kejadian demensia pada
lansia.
1.3.2 Tujuan Khusus
a. Mengetahui prevalensi Demensia pada lansia

b. Mengetahui gambaran aktivitas kognitif pada lansia


1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Subyek Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dan pengetahuan subyek
penelitian mengenai hubungan aktivitas kognitif dan karakteristik responden (umur,
jenis kelamin dan tingkat pendidikan) terhadap kejadian demensia pada lansia.

1.4.2 Peneliti
a. Melalui penelitian ini peneliti dapat menerapkan dan memanfaatkan
ilmu yang didapat selama pendidikan dan menambah pengetahuan dan
pengalaman dalam membuat penelitian ilmiah.
b. Menambah pengetahuan peneliti tentang hubungan aktivitas kognitif, dan
karakteristik responden (umur, jenis kelamin dan tingkat pendidikan) terhadap
kejadian demensia pada lansia.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Demensia

2.1.1 Definisi

Beberapa definisi demensia dikemukakan sebagai berikut:

a. Sindroma demensia dapat didefinisikan sebagai deteriorasi atau kemunduran


kapasitas intelektual yang diakibatkan oleh penyakit di otak. Sindrom ini
ditandai oleh gangguan kognitif, emosional, dan psikomotor. Diagnostic and
Statistical Manual of Mental Disorder (DSM) IIIR menambahkan bahwa agar
dapat digolongkan sebagai demensia, kemunduran fungsi luhur yang diderita
harus sedemikian rupa sehingga mengganggu pekerjaannya, aktivitas sosial
atau hubungan dengan orang lain.12
b. DSM IV (1994) mendefinisikan demensia sebagai sindrom yang diakibatkan
oleh banyak kelainan yang ditandai oleh gangguan tingkat intelektual yang
sebelumnya lebih tinggi. Gangguan mencakup memori dan bidang kognitif
lainnya (termasuk berbahasa, orientasi, kemampuan konstruksional, berfikir
abstrak, kemampuan memecahkan persoalan dan praksis) dan harus cukup berat
sehingga mengganggu kemampuan okupasional atau sosial atau keduanya.
Perubahan kepribadian dan afek sering dijumpai.12
c. Demensia adalah suatu sindrom yang terdiri dari gejala-gejala gangguan daya
kognitif global yang tidak disertai gangguan derajat kesadaran, namun
bersamaan dengan perubahan tabiat yang dapat berkembang secara mendadak
atau sedikit demi sedikit pada tiap orang dari semua golongan usia.1

d. Demensia adalah gangguan fungsi intelektual dan memori didapat yang


disebabkan oleh penyakit otak, yang tidak berhubungan dengan gangguan
tingkat kesadaran. Pasien demensia harus mempunyai gangguan memori selain
kemampuan mental lain seperti berpikir abstrak, penilaian, kepribadian, bahasa,
praksis, dan visuospasial. Defisit yang terjadi harus cukup berat sehingga
mempengaruhi aktivitas kerja dan sosial secara bermakna.3
e. Demensia adalah suatu sindroma klinis dengan terjadinya kemunduran
intelektual. Demensia pada umumnya melibatkan deteriorasi pada memori satu
atau lebih fungsi intelektual lain seperti bahasa, berpikir tempat dan
orientasinya, pemecahan masalah, dan berpikir abstrak.
2.1.2 Epidemiologi
Demensia cukup sering dijumpai pada lansia, menimpa sekitar 10 % kelompok usia
di atas 65 tahun dan 47% kelompok usia di atas 85 tahun. Pada sekitar 10-20%
kasus demensia bersifat reversibel atau dapat diobati.12 Secara keseluruhan
prevalensi demensia pada populasi berusia lebih dari 60 tahun adalah 5,6 %.3 Data
dari pemeriksaan otopsi menunjukkan bahwa demensia Alzheimer, jenis multi-
infark serta jenis campuran (Alzheimer+multi-infark) merupakan penyebab yang
paling sering dijumpai. Prevalensi Alzheimer lebih tinggi pada wanita dan
demensia multi-infark lebih banyak dijumpai pada pria.12 Penyebab tersering
demensia di Amerika Serikat dan Eropa adalah penyakit Alzheimer, sedangkan di
Asia diperkirakan demensia vaskular merupakan penyebab tersering demensia.
Demensia lain yang lebih jarang adalah demensia tipe Lewy body, demensia fronto-
temporal (FTD), dan demensia pada penyakit Parkinson.3

2.1.3 Klasifikasi Demensia

Demensia diklasifikasikan menjadi 6 , yaitu :

a. Penyakit Alzheimer
Demensia Alzheimer adalah jenis yang paling umum dari demensia, dan
disebabkan oleh berkurangnya sel otak. Demensia Alzheimer merupakan
penyakit keturunan, oleh sebab itu cenderung muncul pada keluarga. Walaupun
bersifat genetik, tidak berarti semua keluarga akan mendapatkan
penyakit ini. Pada penyakit ini, sel di dalam area otak yang mengendalikan
fungsi mental dan memori dihancurkan oleh protein abnormal yang tersimpan
di dalam otak. Orang dengan penyakit Alzheimer juga mempunyai tingkat
bahan kimia otak yang kurang dari normal disebut neurotransmitter sebagai
pengendali fungsi penting otak. Penyakit Alzheimer tidak tetap dan tidak
diketahui perawatannya, akan tetapi, pengobatan dapat memperlambat
progresivitas penyakit.
b. Demensia Vaskular
Demensia vaskular merupakan jenis demensia yang paling umum dan
disebabkan oleh peredaran darah yang lemah ke otak. Pada multi infark
demensia, beberapa stroke ringan atau infark muncul di tempat aliran darah
beredar minimal ke bagian otak. Peningkatan demensia vaskular dapat terjadi
pada langkah langkah yang tidak diketahui. Dengan demensia jenis ini,
pengendalian tekanan darah yang baik, tidak mengkonsumsi rokok,
pengendalian penyakit yang dapat menyebabkan gangguan vaskular dapat
membantu menghambat kemajuan penyakit ini.
c. Penyakit Parkinson
Penderita penyakit ini secara khas mengalami kekauan otot, bermasalah pada
saat berbicara, dan tremor. Demensia dapat berkembang secara lambat pada
penyakit ini, tetapi tidak semua orang dengan penyakit parkinson mempunyai
demensia. Pemikiran, memori, perkataan, dan pengambilan keputusan paling
mungkin berpengaruh.
d. Lewy Body Dementia
Penyakit demensia jenis ini disebabkan cadangan protein mikroskopik
abnormal di dalam sel saraf, disebut lewy body, cadangan protein ini
menghancurkan sel dari waktu ke waktu. Cadangan ini dapat menyebabkan
gejala khas dari penyakit Parkinson, seperti kekakuan otot dan tremor, seperti
halnya demensia serupa dengan penyakit Alzheimer. Lewy body dementia lebih
mempengaruhi pemikiran, perhatian dan konsentrasi dibandingkan bahasa dan
memori. Seperti penyakit Alzheimer, lewy body dementia tidak tetap dan tidak
diketahui tatalaksananya. Penggunaan obat-obatan pada penyakit Alzheimer
dapat bermanfaat untuk beberapa orang dengan penyakit ini.
e. Alcohol-related dementia
Kerusakan otak dapat disebabkan oleh konsumsi alkohol yang terlalu banyak.
Hal penting untuk orang dengan jenis demensia ini adalah berhenti total
mengkonsumsi alkohol, agar penyakit ini tidak berkembang lebih lanjut.
f. Pick disease (frontotemporal demensia/FTD)
Pick disease adalah bentuk keanehan yang jarang merusak sel di bagian depan
otak. Perubahan kepribadian dan perilaku pada umumnya lebih dulu muncul
dibandingkan permasalahan bahasa dan kehilangan memori.

2.1.4 Patobiologi Dan Patogenesis


Komponen utama patologi penyakit Alzheimer adalah plak senilis dan neuritik,
neurofibrillary tangles, hilangnya neuron/sinaps, degenerasi granulovakuolar, dan
Hirano bodies. Plak neuritik mengandung b-amyloid ekstraseluler yang dikelilingi
neuritis distrofik, sementara plak difus (nonneuritik) adalah istilah yang kadang
digunakan untuk deposisi amiloid tanpa abnormalitas neuron. Deteksi adanya Apo
E di dalam plak B-amyloid dan studi mengenai ikatan high avidity antara Apo E
dengan B-amyloid menunjukkan bukti hubungan antara amiloidogenesis dan ApoE.
Plak neuritik juga mengandung protein komplemen, mikroglia yang teraktivasi,
sitokin-sitokin, dan protein fase akut, sehingga komponen inflamasi juga diduga
terlibat pada pathogenesis penyakit Alzheimer. Gen yang mengkode the amyloid
precursor protein (APP) terletak pada kromosom 21, menunjukkan hubungan
potensial patologi penyakit Alzheimer dengan sindrom down (trisomy-21), yang
diderita oleh semua pasien penyakit Alzheimer yang muncul pada usia 40 tahun.3
Diagnosis penyakit Alzheimer dapat ditegakkan dengan adanya plak
senilis dalam jumlah tertentu. Jumlah plak meningkat seiring bertambahnya usia,
dan plak ini juga muncul di jaringan otak usia lanjut yang tidak demensia. Hal ini
juga dilaporkan bahwa satu dari tiga orang berusia 85 tahun yang tidak demensia
mempunyai deposisi amyloid yang cukup di korteks serebri untuk memenuhi
kriteria diagnosis penyakit Alzheimer, namun apakah ini mencerminkan fase
preklinik dari penyakit masih belum diketahui.3
Neurofibrillary tangles merupakan struktur intraneuron yang mengandung tau
yang terhiperfosforilasi pada pasangan filamen heliks. Individu usia lanjut yang
normal juga diketahui mempunyai neurofibrillary tangles di bebrapa lapisan
hipokampus dan korteks entohirnal, tapi struktur ini jarang ditemukan di neokorteks
pada seseorang tanpa demensia. Neurofibrillary tangles ini tidak spesifik untuk
penyakit Alzheimer dan juga timbul pada penyakit lain, seperti subacute sclerosing
panencephalitis (SSPE), demensia pugilistika (boxers dementia), dan the
parkinsonian dementia complex of Guam.3
Pada demensia vaskular patologi yang dominan adalah adanya infark
multipel dan abnormalitas sunstansia alba. Infark jaringan otak yang terjadi setelah
stroke dapat menyebabkan demensia bergantung pada volume total korteks yang
rusak dan hemisfer mana yang terkena. Umumnya demensia muncul pada stroke
yang mengenai beberapa bagian otak/multi-infract dementia/atau hemisfer kiri
otak. Sementara abnormalitas substansia alba (diffuse white matter disease atau
leukoaraiosis atau penyakit Binswanger) biasanya terjadi berhubungan dengan
infark lakunar. Abnormalitas substansia alba ini dapat ditemukan pada pemeriksaan
MRI pada daerah subkorteks bilateral, berupa gambaran hiperdens abnormal yang
umumnya tampak di beberapa tempat. Abnormalitas substansia alba ini juga dapat
timbul pada suatu kelainan genetik yang dikenal sebagai cerebral autosomal
dominant artheriopathy with subaortical infarcts and
leukoencephalopathy/CADASIL, yang secara klinis terjadi demensia yang
progresif yang muncul pada dekade kelima sampai ketujuh kehidupan pada
beberapa anggota keluarga yang mempunyai riwayat migrain dan stroke berulang
tanpa hipertensi.3
Petanda anatomis pada fronto-temporal dementia (FTD) adalah terjadinya
atrofi yang jelas pada lobus temporal dan/atau frontal, yang dapat dilihat pada
pemeriksaan pencitraan saraf (neuroimaging) seperti MRI dan CT. Atrofi yang
terjadi terkadang sangat tidak simetris. Secara mikroskopis selalu didapatkan gliosis
dan hilangnya neuron, serta pada beberapa kasus terjadi pembengkakan dan
penggelembungan neuron yang berisi inklusi sitoplasma. Sementara pada demensia
dengan lewy body, sesuai dengan namanya, gambaran neuropatologinya adalah
adanya lewy body di seluruh korteks, amigdala, korteks singulata, dan substansia
nigra. Lewy body adalah cytoplasmic inclusion intraneuron yang terwarnai dengan
periodic acid-Schiff (PAS) dan ubiquitin, yang terdiri dari neurofilamen lurus
sepanjang 7 sampai 20 nm yang dikelilingi material amorfik. Lewy body dikenali
melalui antigen terhadap protein neurofilamen yang terfosforilasi, ubiquitin, dan
protein presinaps yang disebut alfa-synuclein. Jika pada seorang penderita
demensia tidak ditemukan gambaran patologis selain adanya lewy body maka
kondisi ini disebut diffuse lewy body disease, sementara bila ditemukan juga plak
amiloid dan neurofibrillary tangles maka disebut varian Lewy body dari penyakit
Alzheimer.3
Defisit neurotransmitter utama pada penyakit Alzheimer, juga pada
demensia tipe lain, adalah sistem kolinergik. Walaupun sistem noradenergik dan
serotonin, somatostatisn-like reactivity, dan corticotropin-releasing factor juga
berpengaruh pada penyakit Alzheimer, defisit asetilkolin tetap menjadi proses
utama penyakit dan menjadi target sebagian besar terapi yang tersedia saat ini untuk
penyakit Alzheimer.3

2.1.5 Faktor Faktor Yang Berhubungan Dengan Demensia

a. Aktivitas Fisik Dan Aktivitas Kognitif


Pada penelitian Verghese, dkk (2003) dilaporkan bahwa demensia berhubungan
dengan berkurangnya partisipasi dalam mengisi waktu senggang. Jenis aktivitas
harus melibatkan fungsi kognitif dan fisik. Kegiatan fisik yang dapat dilakukan
antara lain bermain tenis, bersepeda, berjalan kaki, atau mengerjakan pekerjaan
rumah. Sedangkan kegiatan yang menggunakan fungsi kognitif, yaitu membaca
buku atau koran, menulis, mengisi teka teki silang, permainan kartu, partisipasi
dalam kelompok diskusi, atau memainkan alat musik.5
Kegiatan olahraga dapat menenangkan pikiran, memperbaiki daya ingat,
mengurang kecemasan dan depresi. Selain itu, olahraga dapat menolong otak
untuk berfungsi dengan baik secara intelek. Pengaruh olahraga terhadap
kesehatan mental dijelaskan pada teori sebagai berikut 4 :
1. Endogenous Opioids
Dalam tubuh manusia, adanya satu sistem hormon yang berfungsi sebagai
morfin disebut endogenous opioids. Reseptornya terdapat di dalam
hipotalamus dan sistem limbik otak, daerah yang berhubungan dengan
emosi dan tingkah laku manusia. Sistem hormon ini, salah satunya adalah
beta-endorfin, bukan hanya mengurangi rasa nyeri dan memberikan
kekuatan, tetapi juga menambah daya ingat, menormalkan selera seks,
tekanan darah, dan ventilasi. Saat berolahraga, kelenjar pituitari menambah
produksi beta-endorfin dan sebagai hasilnya beta-endorfin naik di dalam
darah kemudian dialirkan juga ke otak, sehingga mengurangi nyeri, cemas,
depresi, dan perasaan letih.
2. Gelombang Otak Alfa
Penelitian Dr. James Wiese melaporkan bahwa selama olahraga, ada
penambahan gelombang alfa di otak. Gelombang alfa di otak ini sudah lama
diketahui berhubungan dengan rileks dan keadaan santai seperti pada waktu
bermeditasi. Gelombang alfa ini terlihat pada seseorang yang jogging dari
20-30 menit, dan tetap dapat diukur setelah olahraga tersebut berakhir. Para
peneliti mengemukakan bahwa bertambahnya kekuatan gelombang alfa
memberikan kontribusi kepada kejiwaan, termasuk berkurangnya
kecemasan dan depresi.
3. Penyalur Saraf otak
Olahraga akan memperlancar transmisi saraf di dalam otak manusia. Dr.
Charles Ransford menyampaikan dalam penelitiannya, bahwa olahraga
dapat meningkatkan tingkat norepinefrin, dopamin, dan serotonin di dalam
otak, dengan demikian mengurangi depresi. Telah terbukti bahwa
neurotransmitter seperti norepinefrin dan serotonin terlibat dalam depresi
dan skizofrenia. Penelitian menunjukkan bahwa stress dan depresi
berhubungan dengan berkurangnya norepinefrin di dalam otak atau
tergangguanya norepinefrin dan serotonin terjadi pada seseorang yang
depresi. Penelitian juga menunjukkan bahwa olahraga manambah
norepinefrin dan serotonin dalam otak. Dengan dasar ini maka disimpulkan
bahwa berkurangnya depresi pada mereka yang berolahraga disebabkan
meningkatnya kadar norepinefrin atau serotonin di delam otak.
b. Tingkat pendidikan
Pada beberapa penelitian melaporkan bahwa tingkat pendidkan berhubungan
signifikan dengan kejadian demensia. Menurut The Canadian Study of Health
and Aging Tahun 1994 dalam Purnakarya tahun 2008 dijelaskan bahwa lansia
dengan tingkat pendidikan yang rendah berpeluang 4 kali mengalami demensia
dibandingkan lansia berpendidikan tinggi.7
c. Umur
Umur merupakan faktor risiko utama terhadap kejadian demensia. Hubungan
ini berbanding lurus yaitu semakin meningkatnya umur semakin tinggi pula
risiko kejadian demensia. Satu dari 50 orang pada kelompok umur 65-70 tahun
berisiko demensia, sedangkan satu dari lima orang pada kelompok umur lebih
dari 80 tahun berisiko demesia.4
d. Jenis Kelamin
Tidak ada perbedaan signifikan antara jenis kelamin dengan kejadian demensia,
hal ini menunjukkan bahwa laki-laki maupun perempuan memiliki peluang
yang sama untuk berkembangnya demensia.4
e. Genetik
Beberapa pasien demensia memiliki gen demensia. Namun, sebagian orang
yang memiliki gen demensia hanya sedikit yang berkembang gen nya menjadi
demensia.4
f. Riwayat penyakit
Penyakit infeksi dan metabolisme yang tidak ditangani serta diabaikan dapat
memicu terjadinya demensia. Penyebab demensia dibagi menjadi 3 kelompok
meliputi demensia idiopatik, demensia vaskular, dan demensia sekunder.
Penyakit penyebab demensia dikemukakan pada table 2.2
Tabel 2.2 Penyakit Penyebab Demensia

A. Demensia ideopatik
Degenerasi primer terutama
(gangguan degeneratif primer atau metabolik)
di pariotemporal
1. A. Penyakit Alzheimer (AD)
B. Demensia senilis jenis Alzheimer (SDAT)

2. Penyakit pick Degenerasi primer terutama di


lobus frontal
3. A. Khorea Huntington Degenerasi primer terutama
B. Parkinsonisme dengan demensia subkortikal
C. Palsy supranukler progresif
D. Sklerosis lateral amiotropik (ALS) dengan
demensia
4. Lain lain
B. Demensia vaskular
1. Demensia multi infark
A. Subkortikal (status lakuner)
B. Kortikal
C. Campuran kortikal subkortikal
2. Infark yang letaknya strategis
3. Ensefalopati hipertensif
Penyakit Binswanger
4. Demensia hipoksis / hemodinamik
5. Perdarahan otak non traumatik dengan
demensia
6. Bentuk campuran
C. Demensia sekunder
1. Infeksi
2. Metabolik dan endokrin
3. Gangguan nutrisi
4. Gangguan autoimun
5. Intoksikasi
6. Trauma
7. Stress
Sumber : Lumbantobing (1997)

g. Kebiasaan merokok
Satu batang rokok yang dibakar mengeluarkan sekitar 4.000 bahan kimia seperti
nikotin, gas karbon monoksida, nitrogen oksida, hidrogen sianida, amonia, dan
lain-lain. Secara singkat, bahan-bahan ini dibagi menjadi dua golongan besar
yaitu komponen gas dan komponen padat. Komponen padat dibagi menjadi
nikotin dan tar. Tar adalah kumpulan dari ratusan atau bahkan ribuan bahan
kimia dalam komponen padat asap rokok setelah dikurangi nikotin dan air. Tar
ini mengandung bahan-bahan karsinogen yang dapat menyebabkan kanker. Tar
pada rokok juga dikaitkan dengan kerusakan kromosom pada manusia.
Penelitian pada binatang percobaan menemukan bahwa asap rokok
menyebabkan perubahan genetik, gangguan kromosom, menghambat perbaikan
DNA yang rusak serta mengganggu sistem enzimatik.
Selain itu dampak rokok terhadap jantung, paru-paru, dan sistem vascular dapat
meningkatkan risiko demensia.4
h. Riwayat benturan di kepala
Seseorang yang mengalami cedera berulang pada kepala atau kecelakaan mobil
meningkatkan risiko demensia.16 Luka pada kepala yang parah atau berulang-
ulang berada pada risiko lebih tinggi dari perkembangan demensia. Hal ini
karena benturan atau cedera kepala menyebabkan proses penyakit pada individu
yang peka. Orang yang sudah menderita luka kepala serius karena tinju
cenderung akan menderita satu jenis demensia, dikenal sebagai demensia
pugilistica, hal ini serupa dengan demensia disebabkan timbul beserta luka di
kepala.16
i. Asupan zat gizi
Gizi dilihat sebagai salah satu faktor untuk mencegah penyakit Alzheimer atau
jenis demensia lain. Bayak penelitian menunjukkan bahwa stress oksidatif dan
akumulasi radikal bebas terlibat dalam patofisiologi penyakit. Radikal bebas
yang melampaui batas bertanggung jawab terhadap peroksidasi lemak
berlebihan, hal ini dapat mempercepat proses degenerasi saraf. Harapan hidup
meningkat terutama berhubungan dengan menurunnya patologi penyakit
degeneratif, terutama memperlambat munculnya penyakit degeneratif otak.17
2.3 Kerangka Teori
Asupan Zat Gizi yang Stress
kurang oksidatif lemak proses
berlebihan degenerasi saraf

Genetik

Riwayat
proses penyakit
benturan
di kepala

Daya
opioids (B-
ingat
endorfin)
Aktivitas Kognitif

Gel alfa di otak

Aktivitas fisik Depresi


DEMENSIA
dopamine,
Tingkat serotonin

jenis
kelamin,
umur
ideopatik
Riwayat
Penyakit vaskular

sekunder

Kebiasaan Kandungan bahan kimia Gangguan pada


Merokok (nikotin, tar, CO) vaskular
2.4 Kerangka Konsep

Daya
opioids (B-
ingat
endorfin)

Aktivitas Kognitif Gel alfa di otak


Depresi
DEMENSIA
dopamine,
Tingkat serotonin

jenis
kelamin,
umur

2.5 Hipotesis

Berdasarkan teori yang ada di atas, hipotesis pada penelitian ini adalah: Adanya hubungan antara
aktivitas kognitif dengan kejadian demensia pada lansia