Anda di halaman 1dari 11

TAKE HOME TEST

Soal No. 1

a. Proteksi Katodik (PK) dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu PK dengan arus
tandingan (Immpresed Current) dan Anoda Koran (Sacrificial Anodes). Jelaskan
pertimbangan-pertimbangan yang diambil dalam memilih cara tersebut diatas.
b. Pada umumnya jenis pipa yang digunakan untuk sistem perpipaan bawah tanah
adalah jenis pipa yang sudah diberi lapisan pelindung. Meskipun demikian dalam
prakteknya, terhadap sistem perpipaan tadi juga diterpkan Proteksi Katodik.
Jelaskan alasannya.
c. Jelaskan prinsip dasar teknik pengendalian korosi yang disebut dengan Proteksi
Anodik, dan jelaskan apakah teknik pengendalian korosi ini dapat diterapkan
untuk semua jenis logam.

Soal No. 2

a. Ditinjau dari aspek metalurgi, jelaskan faktor-faktor yang menentukan ketahanan


korosi suatu logam
b. Dalam perkembangannya teori elektrokimia banyak dianut para ahli korosi. Hal
ini disebabkan semua peristiwa korosi dapat dijelaskan dengan teori elektrokimia.
Selainitu berdasarkan teori ini dapat dikembangkan teknik-teknik pengendalian
korosi. Jelaskan beberapa teknik pengendaliam korosi yang dikembangkan dari
teori elektrokimia (minimal 3 buah).
c. Potensial logam Fe lebih positif daripada Al, sehingga dari data ini logam Al akan
lebih mudah mengalami oksidasi. Akan tetapi dalam kehidupan sehari-hari logam
Al sering dikatakan sebagai logam tahan korosi. Jelaskan !
d. Potensial logam Fe lebih positif daripada Al, sehingga dari data ini logam Al akan
lebih mudah mengalami oksidasi. Akan tetapi dalam kehidupan sehari-hari logam
Al sering dikatakan sebagai logam tahan korosi. Jelaskan !

Soal No. 3

Dengan menggunakan diagram E-I, jelaskan prinsip perlindungan besi/baja terhadap


korosi dengan cara berikut ini:
- Cathodic control protection by sacrificial metal coating
- Anodic control protection by noble metal coating
- Emf control protection by noble metal coating
Pada diagram yang saudara buat, tunjukan :

- i corr besi/baja sebelum diberi lapisan pelindung.


- i corr besi/baja setelah diberi lapisan pelindung.
i corr besi/baja apabila terjadi cacat dalam lapisan pelindung.

Soal No.4

Uraikan dengan singkat dan jelas mengenai: (bila perlu buat gambar)
a. Polarisasi
b. Polarisasi aktivasi
c. Potensial lebih
d. Polarisasi konsentrasi
e. Rapat arus pertukaran

Soal No.5

a. Jelaskan cara penentuan rapat arus pertukaran


b. Jelaskan fenomena yang terjadi pada polarisasi konsentrasi dan polarisasi aktivasi
c. Jelaskan mekanisme terjadinya grafitisasi pada besi cor
d. Jelaskan terjadinya proses dezincfication pada paduan Cu-Zn

Jawaban

Soal No.1

a. PK Anoda Korban
- Dapat memberikan perlindungan secara menyeluruh / merata, pengaturan arus
proteksi lebih mudah.
- Umur dari sistem dapat ditentukan dengan perhitungan yang teliti
- Kecil kemungkinan terjadinya overproteksi dan perapuhan hidrogen
- Bila diperlukan tambahan anoda, pemasangan dalam air sukar dan mahal
- Pengelasan anoda ke strukturmemerlukan keterampilan
- Anodanya berat, dan ini menambah berat struktur

Arus Tandingan

- Keperluan arus dapat disediakan menurut kebutuhan


- Perlengkapan total tidak berat
- Distribusi arus yang merata sukar diperoleh
- Kemungkinan terjadi over proteksi yang dapat merusak lapis lindung

b. Tujuannya adalah untuk melindungi baja pada saat coating mengalami kerusakan
c. Hanya logam aktif-pasif saja yang bisa menggunakan proteksi anodik dengan tingkat
korosivitas tinggi.

Soal No.2

a. - Faktor metalurgi
Jenis Logam dan paduannya
Pada lingkungan tertentu, suatu logam dapat tahan terhadap korosi. Sebagian
contoh: alumunium dapat membentuk lapisan pasif vpada lingkungan tanah dan
air biasa. Sedangkan Fe, Zn dan beberapa logam lainnya dapat dengan mudah
terkorosi.
Morfologi dan homogenitas
Bila suatu paduan memiliki elemen paduan yang tidak homogen, maka paduan
tersebut akan mengalami/memiliki karakteristik ketahanan korosi yang berbeda-
beda pada setiap daerahnya.
Perilaku panas
Logam yang di heat tretament akan mengalami perubahan struktur kristal atau
perubahan fasa. Sebagai contoh: heat treatment pada temperatur 500-800C
terhadap baja tahan karat akan menyebabkan terjadinya endapan krom karbida
pada batas butir. Hal ini dapat menyebabkan terjadinya korosi intergranular
pada baja tersebut. Selain itu beberapa proses heat treatment menghasilkan
tegangan sisa. Bila tegangan sisa tersebut tidak dihilangkan, maka dapat
memacu terjadinya korosi retak tegang.
Sifat mampu fabrikasi dan permesinan
Merupakan suatu kemampuan material untuk menghasilkan sifat yang baik
setelah proses fabrikasi dan permesinan. Bila suatu logam setelah fabrikasi
memiliki tegangan sisa atau endapan inklusi maka memudahkan terjadinya
retak.

b. - Lapisan Pelindung: Logam dasar dari material yang akan digunakan dilapisi
bahan/logam lain yang ketahanan oksidasinya.
- Proteksi Katodik: Mengendalikan korosi pada logam yang dipendam dalam tanah,
seperti pipa air, pipa minyak dan tangki penyimpanan bbm. Logam reaktif seperti
magnesium dihubungkan dengan besi. Oeh karena logam Mg merupakan reduktor
yang lebih reaktif daripada besi, maka Mg akan teroksidasi terlebih dahulu.
- Penambahan Inhibitor: Inhibitor adalah zat kimia yang ditambahkan kedalam suatu
lingkungan korosif dengan kadar sangat kecil (ukuran ppm) guna mengendalikan
korosi.

c. Secara elektrokimia, alumunium lebih cepat mengalami oksidasi karena memilki


potensial standar yang lebih besar daripada besi. Maka alumunium akan berkarat
dengan cepat membentuk alumunium oksida (Al2O3). Hal ini dikarenakan oleh
fenomena fasivasi, yaitu proses pembentukan lapisan alumunium oksida di
permukaan logam alumunium setelah logam terpapar oleh udara bebas. Lapisan
alumunium oksida ini mencegah terjadinya oksida lebih jauh. Lapisan alumunium
oksida merupakan produk korosif yang bersifat protektif.
d. Baja karbon adalah baja yang komposisi di dalamnya hanya Fe dan C, sedangkan baja
khrom selain Fe dan C ditambahkan juga unsure khrom kedalamnya. Penambahan
khrom dimaksudkan untuk mencegah terjadinya karat, apabila dibandingkan dengan
baja karbon. Hal ini dikarenakan penambahan Cr akan membentuksenyawa Cr2O3
yang tahan karat dengan penambahan lebih dari 11%.
Soal No. 3

- Cathodic control protection by sacrificial metal coating

M1 merupakan besi/baja yang akan dilindungi dari korosi, sedangkan M2 merupakan


lapisan logam pelindung yang lebih anodic sehingga menyebabkan adanya aksi galvanis.
Diagram E-log i diatas menunjukkan potensial gabungan akibat aksi galvanis ini, dapat
dilihat bahwa i corr M1 (ditunjukkan oleh titik 1) memiliki nilai yang lebih besar
dibandingkan dengan i corr M1 setelah adanya lapisan (ditunjukkan oleh titik 2). Hal ini
menunjukkan bahwa laju korosi logam M1 menurun karena adanya pelapis logam M2.

Anodic control protection (ACP) by noble metal coating


Prinsip dari pelapisan dengan jenis logam ACP ini adalah melalui proses pasifasi pada
logam pelapisnya. Oleh karena logam pelapis lebih katodik dari logam dasarnya
(besi/baja), apabila lapisan mengalami kerusakan (cacat) maka logam dasar akan
terkorosi lebih parah (biasanya pitting) karena pengaruh aksi galvanis.

Emf control protection by noble metal coating

Jenis logam pelapis ini adalah logam yang lebih katodik dari lingkungannya (biasanya Cu).
Proteksi terhadap logam dasar dicapai melalui proses pasifasi pada logam pelapisnya dan
potensial elektroda logamnya mendekati potensial lingkungannya. Pada proteksi ini,
lingkungan yang akan mengalami korosi sebab logam pelapis lebih katodik. Namun apabila
lapisan mengalami kerusakan (cacat) maka logam dasar akan terkorosi (biasanya pitting) jauh
lebih parah dibandingkan dengan lapisan logam ACP.

Soal No. 4

a. Polarisasi adalah mekanisme yang biasanya hasil dari perubahan potensial elektroda
selama elektrolisis, ketika potensial anode menjadi lebih noble daripada katoda. Ia
memiliki efek (berdasarkan kondisi) penurunan tegangan baterai, meningkatkan
tegangan diperlukan untuk sel-sel elektrolisis atau menurunkan arus keluaran.
Polarisasi dapat juga digambarkan sebagai penyimpangan kinetik dari keseimbangan
karena arus listrik melewati sel galvanik. Polarisasi dapat terjadi pada katoda
(polarisasi katodik) atau anoda (polarisasi anodik). Bentuk polarisasi yang lebih
umum adalah polarisasi katodik.

b. Polarisasi aktivasi: Proses elektrokimia yang dikontrol oleh reaksi berurutan pada
permukaan metal-electrolite. Polarisasi aktivasi mengacu pada proses elektrokimia
yang dikendalikan oleh urutan reaksi pada antarmuka logam-elektrolit. ini mudah
diilustrasikan dengan mempertimbangkan reaksi hidrogen - evolusi pada seng selama
korosi dalam larutan asam. Gambar diatas menunjukkan secara skematik beberapa
langkah yang mungkin dalam pengurangan hidrogen pada permukaan seng. Langkah
ini juga dapat diterapkan pada pengurangan spesies apapun pada permukaan logam.
spesies pertama harus diserap atau menempel ke permukaan sebelum reaksi dapat
berjalan sesuai dengan langkah 1. mengikuti, transfer elektron (langkah 2) harus
terjadi, menghasilkan penurunan spesies. seperti yang ditunjukkan pada langkah 3,
dua atom hidrogen menggabungkan untuk dari gelembung gas hidrogen (langkah 4).
kecepatan pengurangan ion hidrogen akan dikendalikan oleh paling lambat langkah-
langkah ini. ini adalah gambaran yang sangat sederhana dari pengurangan hidrogen,
banyak mekanisme telah diusulkan, yang sebagian besar adalah jauh lebih kompleks
daripada yang ditunjukkan dalam gambar diatas.
c. Polarisasi konsentrasi yaitu proses elektrokimia yang di kontrol oleh proses difusi
elektrolit. Polarisasi konsentrasi mengacu pada reaksi elektrokimia yang dikendalikan
oleh difusi dalam elektrolit. ini diilustrasikan dalam gambar diatas, untuk kasus
evolusi hidrogen. di sini, jumlah ion hidrogen dalam larutan cukup kecil, dan tingkat
reduksi dikendalikan oleh difusi ion hidrogen pada permukaan logam. dicatat bahwa
dalam hal ini pengurangan tingkat dikendalikan oleh proses yang terjadi dalam solusi
massal daripada di permukaan logam. polarisasi aktivasi biasanya adalah faktor
pengendalian selama korosi dalam media yang mengandung konsentrasi tinggi spesies
yang aktif (misalnya, asam pekat). polarisasi konsentrasi umumnya mendominasi
ketika konsentrasi spesies direduksi kecil (misalnya, asam encer, larutan garam soda).
dalam kebanyakan kasus polarisasi konsentrasi selama pembubaran logam biasanya
kecil dan dapat diabaikan, melainkan hanya penting selama reaksi reduksi.
d. Exchange current density dapat didefinisikan sebagai densitas arus yang mengalir
bersamaan dalam kesetimbangan dan di kedua arah. Semakin besar exchange current
density, semakin cepat reaksi, dan sebaliknya. Ketika kita berbicara tentang
keseimbangan, itu berarti bahwa ada tidak ada keuntungan atau kerugian yang dialami
oleh bahan elektroda. Reaksi dalam elektroda berjalan dengan laju yang sama. Ini
adalah dimana reaksi berlangsung maju dan arah sebaliknya mengakibatkan arus net
nol dan reaksi net nol.

Soal No. 5

a. Dari tabel berikut dapat ditentukan exchange current density untuk suatu elektroda
tertentu dengan mengetahui luas penampang dari elektroda tersebut.
Dengan menggunakan tabel exchange current density untuk elektroda dalam suatu
larutan tertentu. Misalkan dengan tabel berikut
b.

Polarisasi aktivasi mengacu pada proses elektrokimia yang dikendalikan oleh


urutan reaksi pada antarmuka logam-elektrolit. ini mudah diilustrasikan dengan
mempertimbangkan reaksi hidrogen - evolusi pada seng selama korosi dalam
larutan asam. Gambar diatas menunjukkan secara skematik beberapa langkah
yang mungkin dalam pengurangan hidrogen pada permukaan seng. Langkah ini
juga dapat diterapkan pada pengurangan spesies apapun pada permukaan logam.
spesies pertama harus diserap atau menempel ke permukaan sebelum reaksi dapat
berjalan sesuai dengan langkah 1. mengikuti, transfer elektron (langkah 2) harus
terjadi, menghasilkan penurunan spesies. seperti yang ditunjukkan pada langkah 3,
dua atom hidrogen menggabungkan untuk dari gelembung gas hidrogen (langkah
4). kecepatan pengurangan ion hidrogen akan dikendalikan oleh paling lambat
langkah-langkah ini. ini adalah gambaran yang sangat sederhana dari pengurangan
hidrogen, banyak mekanisme telah diusulkan, yang sebagian besar adalah jauh
lebih kompleks daripada yang ditunjukkan dalam gambar diatas.

Polarisasi konsentrasi
Proses elektrokimia yang di kontrol oleh proses difusi elektrolit.

Polarisasi konsentrasi mengacu pada reaksi elektrokimia yang dikendalikan oleh


difusi dalam elektrolit. ini diilustrasikan dalam gambar diatas untuk kasus evolusi
hidrogen. di sini, jumlah ion hidrogen dalam larutan cukup kecil, dan tingkat
reduksi dikendalikan oleh difusi ion hidrogen pada permukaan logam. dicatat
bahwa dalam hal ini pengurangan tingkat dikendalikan oleh proses yang terjadi
dalam solusi massal daripada di permukaan logam. polarisasi aktivasi biasanya
adalah faktor pengendalian selama korosi dalam media yang mengandung
konsentrasi tinggi spesies yang aktif (misalnya, asam pekat). polarisasi
konsentrasi umumnya mendominasi ketika konsentrasi spesies direduksi kecil
(misalnya, asam encer, larutan garam soda). dalam kebanyakan kasus polarisasi
konsentrasi selama pembubaran logam biasanya kecil dan dapat diabaikan,
melainkan hanya penting selama reaksi reduksi.
c. Besi cor umumnya mengandung unsure silicon antara 1 3 persen. Dengan
kandungan sebesar ini, silicon mampu meningkatkan kekuatan besi cor melalui
penguatan fasa ferit. Besi cor dengan kadar karbon antara 2 3 persen dan
dengan kandungan silicon tersebut memiliki tempertur leleh eutektik lebih rendah.
Kehadiran silicon dalam besi cor mengakibatkan terjadinya dekomposisi karbida
menjadi besi dan grafit:
Fe3C -Si> 3Fe + C (grafit)
Proses dekomposisi ini disebabkan oleh sifat Fe3C yang metastabil. Dekomposisi
ini disebut grafitisasi yang menghasilkan grafit dalam besi cor.

d. Dezincfication adalah terlarutnya zinc yang terjadi pada kuningan (paduan Cu-Zn)
dengan > 15% Zn) yang terpapar lingkungan berair dengan konsentrasi CO2 dan
atau klorida tinggi. Terlarutnya Zn menyebabkan adanya lapisan tembaga yang
lemah dan tembaga oksida sebagai produk korosi. Keberadaan CuCl2 pada larutan
lingkungan kuningan akan mempercepat terlarutnya Zn. Contoh tempat yang
mengalami dezincfication adalah pipa kuningan pada lingkungan asam.