Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG


Insect bite merupakan reaksi hipersensitivitas yang disebabkan oleh gigitan
serangga. terjadinya reaksi hipersensitivitas hanya terjadi pada orang tertentu
1
yang menyebabkan sensitasi dan menimbulkan reaksi alergi.
Insect bite disebabkan oleh artropoda kelas insecta. Yang termasuk filum
arthropoda (binantang beruas). Insekta merupakan golongan hewan yang
memiliki jenis paling banyak dan paling beragam. Oleh karena itu, kontak antara
manusia dan serangga sulit dihindari. Paparan terhadap gigitan atau sengatan
serangga dan sejenisnya dapat berakibat ringan atau hampir tidak disadari ataupun
2
dapat mengancam nyawa.
Di Indonesia belum ada laporan kematian akibat gigitan serangga, berbeda
dengan diluar negri, misalnya gigitan atau sengan lebah seringkali menyebabkan
1,2
reaksi anafilaksis, bahkan kematian. Namun, pengetahuan ilmiah mengenai
alergi terhadap insect bite masih terbatas.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. DEFINISI
Insect hypersensitivity atau hipersensitivitas (alergi) kulit terhadap gigitan
serangga (insect bite) juga lebih dikenal dengan nama papular urtikaria,
merupakan salah satu penyakit kulit pada bayi dan anak yang banyak dijumpai
1
sehari-hari.
2.2. EPIDEMIOLOGI
Insiden sesungguhnya sukar diketahui, namun cenderung terjadi
peningkatan pada musim semi dan panas di negara 4 musim dan di musim panas
di negara 2 musim, termasuk di iklim tropis, antara lain indonesia. laki-laki dan
perempuan dapat terkena insect bite namun di pada ras tertentu seperti Asian dan
Nigeria, terdapat kecenderungan lebih sering terkena pada perempuan. Juga
terdapat kecenderungan lebih sering pada anak-anak dibanding dewasa. Data yang
dikumpulkan Kelompok Studi Dermatologi Anak Indonesia (KSDAI) pada tahun
2002, dari bagian kulit dan kelamin di 7 rumah sakit di Indonesia didapatkan
sejumlah 214 kasus yang didiagnosis sebagai insect bite. Di Indonesia belum ada
laporan kematian akibat gigitan serangga, berbeda dengan diluar negri, misalnya
gigitan atau sengan lebah seringkali menyebabkan reaksi anafilaksis, bahkan
1,2
kematian.

2.3. ETIOLOGI
Penyebab insect bite merupakan reaksi hipersensitivitas terhadap gigitan
atau sengatan serangga, termasuk nyamuk, sejenis nyamuk agas (gnats), kutu
berkaki 6 (fleas), kutu berkaki 8 (mites), kutu busuk (bedbugs), caterpillars, dan
1
ngengat (moths).

https://mail-attachment.googleusercontent.com/attachment/u/Rzbi4dxlsNdomEbNdviggh0SYjrppr3bLyDryHFRg9FLd8d89FuA 26/10/17 19.30


Halaman 1 dari 10
Serangga memiliki eksoskelet khitin terdiri atas 3 bagian, yaitu kepala, dada
dan perut, dilengkapi 3 pasang kaki dan 2 pasang sayap. Selain itu, berdasarkan
perannya di bidang kedokteran digolongkan kedalam kelompok berdasarkan
1
penyebab, yaitu :
1. penularan penyakit (sebagai vector dan hospes perantara)
2. Penyakit parasit
3. Keracunan akibat toksin yang dikeluarkan
4. Hipersensitivitas pada orang yang rentan
5. Entomofobia ( rasa ngeri atau takut melihat bentuk serangga)
2.4. PATOGENESIS
Terjadinya reaksi hipersensitivitas hanya terjadi pada orang tertentu
menyebabkan sensitasi dan menimbulkan reaksi alergi. Sangat berhubungan
dengan kantong venom. Venom biasanya mengandung histamin, serotonin, mast
cell degranulating peptide, wasp kinin, phospholpase A2, hyluronidase, dan
1
fosfatase.
Tidak jelas antara waktu atau lamanya seseorang yang digigit serangga
mengalami masa sensitasi, berapa kali atau sering terjadi gigitan, dan berapa
jumlah saliva atau venom yang diperlukan seorang individu untuk dapat
1
memunculkan reaksi alergi.
Terjadinya alergi terhadap gigitan serangga berlangsung 3 tahap yaitu tidak
terjadi reaksi karena belum tersensitisasi, setelah terjadi sensitisasi akan timbul
treaksi alergik, kemudian setelah beberapa tahun hipersensitivitas dapat diikuti
dengan hiposensitivitas. Reaksi yang terjadi dapat berupa reaksi cepat dan lambat
bergantung pada derajat sensitiasi dan status imun sesorang.
1. Reaksi tipe cepat
Terjadi segera setelah gigitan sampai 20 menit kemudian, umumnya
bervariasi 1-60 menit kemudian, bertahan selama 1 sampai 3 jam.
Manifestasi berupa urtikaria ireguler disertai pseudopodi, kadang-kadang
dikelilingi zona eritem. Biasanya ada rasa gatal
2. Reaksi tipe lambat
Terjadi 20 menit kemudian setelah gigitan serangga, urtikaria terbentuk
lambat bergantung pada derajat hipersensitivitas dan usia. Pada anak usia
<2 tahun reaksi terjadi setelah 20-40 menit, pada anak usia 7 tahun dapat
terjadi setelah 1-2 jam, pada anak usia 12 tahun tejadi dalam 3-5 jam.
3. Reaksi yang ekstrim
1
Terjadi berupa lesi generalisata atau reaksi sistemik anafilaksis.
2.5. GAMBARAN KLINIS
Gambaran klinis berdasarkan adanya papul yang di puncaknya terdapat
pungtum, papul dikelilingi urtika dan zona eritematosa yang muncu bersamaan di
tempat gigitan. Bila gigitan banyak, lesi dapat tersebat diskert di beberapa tempat
gigitan dan biasanya terasa gatal. Selain rasa gatal, garukan juga dapat
menyebabkan infeksi sekunder oleh bakteri, menularkan penyakit parasit serta
meninggalkan bercak hiperpigmentasi yang mengganggu penampilan. Gigitan
serangga sebagian tidak menyebabkan rasa nyeri karena mengandung bahan
anestetik , namun sebagian lagi dapat merasakan rasa nyeri dan gatal nya akibat
1
alat tusuknya.
Pada reaksi lokal, pasien mungkin akan mengeluh tidak nyaman, gatal,nyeri
sedang maupun berat, eritema, panas, dan edema pada jaringan sekitar gigitan,
2
pada reaksi lokal berat.
2.6. DIAGNOSIS
Anamnesis
Kebanyakan pasien sadar dengan adanya gigitan serangga ketika terjadi
reaksi atau tepat setelah gigitan, namun paparannya sering tidak diketahui kecuali
terjadi reaksi yang berat atau berakibat sistemik. Pasien yang memiliki sejarah
tidak memiliki rumah atau pernah tinggal di tempat penampungan mungkin
mengalami paparan terhadap organisme, seperti serangga kasur. Pasien dengan

https://mail-attachment.googleusercontent.com/attachment/u/Rzbi4dxlsNdomEbNdviggh0SYjrppr3bLyDryHFRg9FLd8d89FuA 26/10/17 19.30


Halaman 2 dari 10
penyakit mental juga memungkinkan adanya riwayat paparan dengan parasit
serangga. Paparan dengan binatang liar maupun binatang peliharaan juga dapat
menyebabkan paparan terhadap gigitan serangga.
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan didasarkan pada tempat predileksi. klinis spesifik akibat
gigitan atau sengatan serangga biasanya khas, di bagian tengan papul terlihat ada
2
punktum hemoragik (haemoragic punctata) bekas alat tusuknya.

Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium yang sesuai harus dilakukan apabila pasien
mengalami reaksi yang berat dan membutuhkan penanganan di rumah sakit atau
dicurigai mengalami kegagalan organ akhir atau membutuhkan evaluasi akibat
2
infeksi sekunder, seperti sellulitis. Pemeriksaan mikroskopis dari apusan kulit
dapat bermanfaat pada diagnosis scabies atau kutu. Namun, tidak berguna pada
2,3
kebanyakan gigitan serangga..
2.7. DIAGNOSIS BANDING
Varicela stadium awal, ekskoriasi neurotik, pitiriasis likenoudes, reaksi Id.
1
Namun, bila diragukan sebaiknya dilakukan pemeriksaan histologik.
2.8. TERAPI
Umumnya terapi bersifat simptomatik, dapat diberikan kortikosteroid
topikal, analgesik, dan antihistamin per oral. Terapi topikal ditujukan untuk
mengurangi rasa gatal dan mengurangi reaksi alergi, misalnya kortikosteroid
golongan sedang atau kuat. Bila terjadi infeksi sekunder dapat diberikan antibiotik
1
topikal maupun sistemik.
Upaya preventif menghindari serangga dengan memakai pakaian yang
menutupi badan dan ekstremitas serta menggunakan insect repellent (penangkis
serangga). Cara lain membasmi serangga dengan menyemprot insektisida yang
mengandung diethyltoluamide. Binatang peliharaan dimandikan dengan sampo
yang mengandung insektisida, debu disedot menggunakan Vacuum cleaner dari
karpet, kursi, dan alat rumah tangga yang diperkirakan menjadi sarang
1
insectisida.
2.9. PROGNOSIS
Sebagian besar insect bite meninggalkan bercak kehitaman yang cenderung
1
menetap. Infeksi sekunder dapat meninggalkan sikatrik. insect bite reaction
bergantung pada jenis insekta yang terlibat dan seberapa besar reaksi yang terjadi.
Pemberian topikal berbagai jenis analgetik, antibiotik, dan pemberian oral
antihistamin cukup membantu, begitupun dengan kortikosteroid oral maupun
topikal. Pemberian insektisida, mencegah pajanan ulang dan menjaga higienitas
lingkungan juga perlu diperhatikan. Sedangkan untuk reaksi sistemik berat,
4
penanganan medis darurat yang tepat memberikan prognosis baik.

BAB III
LAPORAN KASUS

IDENTITAS PASIEN
Nama : Tn. AEN
Umur :19 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Pekerjaan : Mahasiswa
Alamat : Jorong Tabek, Kelurahan Tabek, Kabupaten Tanah Datar
Status Perkawinan : Belum Menikah
Negeri Asal : Batusangkar
Agama : Islam

https://mail-attachment.googleusercontent.com/attachment/u/Rzbi4dxlsNdomEbNdviggh0SYjrppr3bLyDryHFRg9FLd8d89FuA 26/10/17 19.30


Halaman 3 dari 10
Suku : Minang
No. RM : 986454

ANAMNESIS
Seorang pasien laki-laki usia 19 tahun datang ke poliklinik kesehatan kulit
dan kelamin RSUP Dr. M. Djamil Padang pada tanggal 8 Agustus 2017 dengan:
Keluhan Utama
Gelembung dengan bercak merah yang bertambah luas, terasa nyeri
semakin meningkat di pipi kanan dan lipat lengan kanan sejak 4 hari yang lalu.

Riwayat Penyakit Sekarang


Gelembung dengan bercak merah yang bertambah luas,
terasa nyeri semakin meningkat di pipi kanan dan lipat
lengan kanan sejak 4 hari yang lalu. Awalnya, pasien
bangun tidur tiba-tiba muncul bercak merah pada wajah 5
hari yang lalu dan muncul bercak merah pada lipat lengan
kanan 4 hari yang lalu semakin bertambah luas, kemudian
muncul gelembung diatasnya yang terasa nyeri.
Gatal di pipi kanan dan lipat lengan kanan sejak 5 hari yang
lalu, tidak dipengaruhi cuaca, dan makanan, gatal-gatal
tempat lain tidak ada
Demam ada sejak 6 jam yang lalu, tidak tinggi
Riwayat terkena cacar air tidak diketahui
Riwayat aktifitis berat dan begadang (stres fisik dan psikis)
tidak ada
Riwayat tergigit atau tersengat serangga disangkal
Pasien mengganti alas kasur 1 atau 2 kali sebulan
Riwayat kemping tidak ada, berkebun tidak ada, berpergian
ke hutan tidak ada

Pasien memiliki hewan peliharaan kucing yang sehari-hari
kucing di dalam dan diluar rumah, sering berkontak
dengan kucing dan tidur dengan kucing tidak ada
Pasien sebelumnya sudah berobat ke puskesmas dengan
keluhan gelembung dengan bercak merah yang terasa
nyeri tersebut dengan salep cloramfenicol sudah 3 hari
pemakaian. Salep dipakai 2x sehari dengan cara
dioleskan di tempat yang terdapat gelembung dan bercak
merah yang terasa nyeri, namun keluhan tidak berkurang.
Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien sebelumnya sudah berobat ke puskesmas dengan
keluhan gelembung dengan bercak merah yang terasa
nyeri tersebut dengan salep cloramfenicol sudah 3 hari
pemakaian. Salep dipakai 2x sehari dengan cara
dioleskan di tempat yang terdapat gelembung dan bercak
merah yang terasa nyeri, namun keluhan tidak berkurang.
Riwayat keluhan gelembung dan bercak merah sebelumnya
tidak ada
Riwayat Penyakit Keluarga
Tidak ada anggota keluarga dengan keluhan yang sama
Riwayat Atopi
Pasien terdapat riwayat alergi obat paracetamol badan bengkak
sejak kecil

https://mail-attachment.googleusercontent.com/attachment/u/Rzbi4dxlsNdomEbNdviggh0SYjrppr3bLyDryHFRg9FLd8d89FuA 26/10/17 19.30


Halaman 4 dari 10
Pasien dan keluarga pasien tidak memiliki riwayat alergi makanan
Pasien dan keluarga pasien tidak menderita asma
Pasien dan keluarga pasien tidak pernah menderita bersin-bersin
pagi hari
Pasien dan keluarga pasein tidak pernah menderita mata merah,
gatal, dan berair akibat konjungtivitis alergi
Riwayat Sosial
Pasien seorang mahasiswa FISIP semester 3
PEMERIKSAAN FISIK
a. Status Generalis
Keadaan umum : tidak tampak sakit
Kesadaran : komposmentis kooperatif
TD : diharapkan dalam batas normal
o
Suhu : 36,6 c
Nadi : 82 kali permenit
Frekuensi Nafas : 18 kali/menit
Berat badan : 71 kg
Tinggi badan :171 cm
IMT : 24,28
Status gizi : Normoweight
Mata : Konjungtiva anemis -/-, sklera Ikterik
-/-
Hidung : Tidak ada kelainan
KGB : Tidak ada pembesaran KGB
Status Dermatologikus
Lokasi : Lipat lengan kanan dan pipi kanan
Distribusi : Terlokalisir
Bentuk : Tidak khas
Susunan : Tidak khas
Batas : Tegas sampai tidak tegas
Ukuran : Plakat
Efloresensi :
Di lipat lengan kanan : Plak eritem dengan vesikel berkelompok
diatasnya dan erosi
Di pipi kanan : Papul dengan krusta

https://mail-attachment.googleusercontent.com/attachment/u/Rzbi4dxlsNdomEbNdviggh0SYjrppr3bLyDryHFRg9FLd8d89FuA 26/10/17 19.30


Halaman 5 dari 10
https://mail-attachment.googleusercontent.com/attachment/u/Rzbi4dxlsNdomEbNdviggh0SYjrppr3bLyDryHFRg9FLd8d89FuA 26/10/17 19.30
Halaman 6 dari 10
Status Venerelogikus : diharapkan dalam batas normal
Kelainan selaput : Tidak ditemukan kelainan
Kelainan rambut : Tidak ditemukan kelainan
Kelainan kuku : Tidak ditemukan kelainan
Pemeriksaan Thorak : diharapkan dalam batas normal
Pemeriksaan Abdomen : diharapkan dalam batas normal
Pemeriksaan Ekstremitas : diharapkan dalam batas normal
RESUME
Seorang pasien laki-laki usia 19 tahun dengan keluhan :
Gelembung dengan bercak merah yang bertambah luas, terasa
nyeri semakin meningkat di pipi kanan dan lipat lengan kanan
sejak 4 hari yang lalu. Awalnya, pasien bangun tidur tiba-tiba
muncul bercak merah pada wajah 5 hari yang lalu dan muncul
bercak merah pada lipat lengan kanan 4 hari yang lalu semakin
bertambah luas, kemudian muncul gelembung diatasnya yang
terasa nyeri.
Gatal di pipi kanan dan lipat lengan kanan sejak 5 hari yang lalu,
tidak dipengaruhi cuaca, dan makanan, gatal-gatal tempat lain
tidak ada
Demam ada sejak 6 jam yang lalu, tidak tinggi
Riwayat terkena cacar air tidak diketahui
Riwayat aktifitis berat dan begadang (stres fisik dan psikis) tidak
ada
Riwayat tergigit atau tersengat serangga disangkal
Pasien mengganti alas kasur 1 atau 2 kali sebulan
Riwayat kemping tidak ada, berkebun tidak ada, berpergian ke
hutan tidak ada
Pasien memiliki hewan peliharaan kucing yang sehari-hari kucing
di dalam dan diluar rumah, sering berkontak dengan kucing
dan tidur dengan kucing tidak ada
Pasien sebelumnya sudah berobat ke puskesmas dengan keluhan

https://mail-attachment.googleusercontent.com/attachment/u/Rzbi4dxlsNdomEbNdviggh0SYjrppr3bLyDryHFRg9FLd8d89FuA 26/10/17 19.30


Halaman 7 dari 10
gelembung dengan bercak merah yang terasa nyeri tersebut
dengan salep cloramfenicol sudah 3 hari pemakaian. Salep
dipakai 2x sehari dengan cara dioleskan di tempat yang
terdapat gelembung dan bercak merah yang terasa nyeri,
namun keluhan tidak berkurang.
Pada pemeriksaan dermatologikus, ditemukan lesi di lipat lengan
kanan dan pipi kanan, distribusi terlokalisir, bentuk tidak khas,
susunan polisiklik, batas tegas sampai tidak tegas, ukuran
plakat dan efloresensi di lipat lengan kanan plak eritem dengan
vesikel berkelompok diatasnya dan erosi, di pipi kanan papul
dengan krusta
DIAGNOSIS KERJA
Insect Bite

DIAGNOSIS BANDING
Herpes Zoster
PEMERIKSAAN PENUNJANG
a. Pemeriksaan Rutin
Tzank test tidak ditemukan sel datia berinti banyak

b. Pemeriksaan Anjuran
Tidak ada
DIAGNOSIS
Insect Bite

TERAPI
Umum:
Menjelaskan bahwa penyakit ini disebabkan oleh
serangga
Menggunakan insect repellent untuk menghindari
serangga
Binatang peliharaan dijaga kebersihan, mandikan
dengan shampo yang mengamdung insektisida
Alat rumah tangga yang berpotensi menjadi sarang
serangga dibersihkan
Alas kasur ditukar minimal 1x seminggu
Hindari kebiasaan menggaruk tempat yang gatal
Menjelaskan pemakaian obat secara benar dan
dipakai sesuai petunjuk yang diberikan dokter
Khusus:
1. Sistemik

https://mail-attachment.googleusercontent.com/attachment/u/Rzbi4dxlsNdomEbNdviggh0SYjrppr3bLyDryHFRg9FLd8d89FuA 26/10/17 19.30


Halaman 8 dari 10
Loratadin tablet 10 mg, 1x sehari
2. Topikal
Mometasone Furoate 0,1% 2 kali perhari
PROGNOSIS
Quo ad sanationam : bonam
Quo ad vitam : bonam
Quo ad kosmetikum : bonam
Quo ad functionam : bonam

BAB IV
DISKUSI

Seorang pasien laki-laki usia 19 tahun datang ke poliklinik kesehatan kulit


dan kelamin RSUP Dr. M. Djamil Padang pada tanggal 8 Agustus 2017 dengan
keluhan gelembung dengan bercak merah yang terasa nyeri di pipi kanan dan lipat
lengan kanan sejak 4 hari yang lalu. Awalnya pasien bangun tidur tiba-tiba
muncul bercak merah pada wajah 5 hari yang lalu dan muncul bercak merah pada
lipat lengan kanan 4 hari yang lalu kemudian makin lama semakin bertambah luas
muncul gelembung diatasnya yang terasa nyeri. Gatal sejak 5 hari yang lalu, tidak
dipengaruhi cuaca dan makanan, gatal-gatal tempat lain tidak ada. Demam ada
sejak 6 jam sebelum masuk rumah sakit, tidak tinggi. Riwayat terkena cacar air
tidak diketahui, riwayat tergigit atau tersengat serangga disangkal, riwayat
aktifitis berat dan begadang (stres fisik dan psikis) tidak ada, riwayat kemping
tidak ada, berkebun tidak ada, berpergian ke hutan tidak ada. Pasien sebelumnya
sudah berobat ke puskesmas dengan keluhan gelembung dengan bercak merah
yang terasa nyeri tersebut dengan salep cloramfenicol sudah 3 hari pemakaian.
Salep dipakai 2x sehari dengan cara dioleskan di tempat yang terdapat gelembung
dan bercak merah yang terasa nyeri, namun keluhan tidak berkurang.
Pemeriksaan fisik generalisata diharapkan dalam batas normal. Hasil
pemeriksaan dermatologikus, ditemukan lesi di lipat lengan kanan dan pipi kanan,
distribusi terlokalisir, bentuk tidak khas, susunan polisiklik, batas tegas sampai
tidak tegas, ukuran plakat dan efloresensi plak eritem dengan vesikel
berkelompok diatasnya.
Pasien lalu dilakukan pemeriksaan penunjang rutin yaitu pemeriksaan tzank
test tidak ditemukan sel datia berinti banyak. Pasien ditatalaksana dengan
diberikan terapi umum dan khusus.Terapi umum pada pasien berupa edukasi
mengenai informasi penyakit, pengobatan, dan pentingnya menjaga higiene
personal.Terapi khusus dengan pemberian obat sistemik dan topical .Pengobatan
sistemik diberikan Loratadine 10 mg untuk mengurangi rasa gatal. Topikal
diberikan Mometasone Furoate 0,1% 2 kali perhari dioleskan pada lesi.
Prognosis dari pasien ini secara keseluruhan adalah baik, jika pasien mau
dan mampu mengubah kebiasan untuk lebih menjaga higiene dan patuh dalam
menjalankan pengobatan.

https://mail-attachment.googleusercontent.com/attachment/u/Rzbi4dxlsNdomEbNdviggh0SYjrppr3bLyDryHFRg9FLd8d89FuA 26/10/17 19.30


Halaman 9 dari 10
DAFTAR PUSTAKA

1. Boediarja, Siti Aisah. Hipersensitivitas Terhadap Gigitan


Serangga. Dalam : Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Editor:
Adhi Djuanda, Mochtar Hamzah, dan Siti Aisah. Edisi V.
cetakan V. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia,
2010.
2. Burns, Bo. DO, FACEP, FAAEM. Insect Bites. [Posted : 14
Februari 2011]Taken from
:http://emedicine.medscape.com/article/769067-
overview#showall
3. Insect Bites and Infestations. In : Freedberg IM at al, eds,
th
Fitzpatricks Dermatology in General Medicine 5 2007. USA:
McGrawHill.
4. Elston D. Parasitic Infestations, Stings, and Bites in : Andrews'
Diseases Of The Skin Clinical Dermatology 11th Edition: Jame
W, Berger T, Elston D.Philadelphia : Esevier; 2006. p.434-47

16

https://mail-attachment.googleusercontent.com/attachment/u/Rzbi4dxlsNdomEbNdviggh0SYjrppr3bLyDryHFRg9FLd8d89FuA 26/10/17 19.30


Halaman 10 dari 10