Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

Perkembangan zaman saat ini menuntut setiap orang untuk melakukan segala hal secara tepat dan
efisien. Hal ini mempengaruhi gaya hidup dan pola kebiasaan sehari-hari. Misalnya kebiasaan minum
yang kurang dari kebutuhan tubuh perharinya. Masukan cairan yang tidak adekuat dapat berdampak pada
ginjal seperti pembentukan batu buli buli (Tripod, 2007).

Batu buli buli/vesikolitiasis adalah batu yang terdapat pada kandung kemih yang terdiri atas
substans yang membentuk kristal yang berasal dari ginjal yang turun ke buli ataupun yang terbentuk
ditempat seperti batu kalsium, asam urat dan magnesium. Batu dapat menyebabkan obstruksi, infeksi atau
edema saluran perkemihan sehingga aliran urine terhambat potensial untuk kerusakan ginjal akut (Basuki
P Purnomo, 2013).

Pengendapan urine yang terus menerus sehingga terjadi pengkristalan dan lama kelamaan
terbentuklah batu buli-buli (Ignatavicius, Bayne,1991). Insiden terbentuknya batu mendapatkan angka
prevalensi batu buli buli 41,9/10.000 penduduk. Pada pria lebih banyak ditemukan batu ureter dan buli-
buli sedangkan pada wanita lebih sering ditemukan batu ginjal.(A. Suwito,2014).

Penyakit ini dapat menyerang penduduk di seluruh dunia tidak terkecuali penduduk di Indonesia.
Angka kejadian penyakit ini tidak sama diberbagai belahan bumi. Di negara-negara berkembang banyak
dijumpai pasien batu buli-buli hal ini karena adanya pengaruh status gizi dan aktivitas pasien sehari-hari
dan paling banyak ditemukan pada anak laki-laki pre pubertas. Komponen yang terbanyak penyusun batu
buli-buli adalah garam calsium. Pada awalnya merupakan bentuk yang sebesar biji padi tetapi kemudian
dapat berkembang menjadi yang lebih besar.Kadangkala juga merupakan batu yang mulitipel. Di
Amerika Serikat 3-6% penduduknya menderita penyakit ini, sedangkan di seluruh dunia rata-rata terdapat
1-12% penduduk yang menderita batu buli buli. Batu buli buli merupakan penyakit yang sering di klinik
urologi di Indonesia. Menurut Depkes RI (2014), jumlah pasien rawat inap penderita Batu buli buli di
Rumah Sakit seluruh Indonesia yaitu 7.251 dibagian urologi.

Peran perawat untuk melakukan asuhan keperawatan perioperatif pada pasien dengan Batu Buli
Buli secara tepat dan benar sangat diperlukan pada saat dilakukan tindakan Vesikolitotomy. Dengan
demikian resiko-resiko yang mungkin saja terjadi pada saat perioperatif bisa diantisipasi sedini mungkin.

1
BAB II

PEMBAHASAN

A. KONSEP BATU BULI-BULI


1. PENGERTIAN
Batu buli-buli atau batu vesikolitiasis adalah batu yang mengandung komponen Kristal dan matriks
organik tepatnya pada vesika urinaria atau kandung kemih.Batu kandung kemih sebagian besar
mengandung batu kalsium oksalat atau fosfat ( prof. Dr. Arjatmt. Ph.D.Sp 2001)
Visikolithiasis adalah batu kecil yang berasal dari ginjal dapat turun kevesikaurinaria lalu menjadi
besar disana, kadang-kadang batu timbul langsung didalam kandung kemih. merupakan batu yang
menghalangi aliran air kemih akibat penutupan leher kandung kemih, maka aliran yang mula-mula
lancar secara tiba-tiba akan berhenti dan menetes disertai dengan rasa nyeri (Sjamsuhidajat dan
Wim de Jong, 1998).
2. ETIOLOGI
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pembentukan batu buli-buli adalah :
a. Faktor-Endogen
1) Faktor genetik
2) Faktor Hiperkalsiuria adalah suatu peningkatan kadar kalsium dalam urin, disebabkan karena
hiperkalsiuria idiopatik (meliputi hiperkalsiuria disebabkan masukan tinggi natrium, kalsium
dan protein) hiperparatiroidisme primer, sarkoidosis, dan kelebihan vitamin D atau kelebihan
kalsium.
3) Hipositraturia
Suatu penurunan ekskresi inhibitor pembentukan kristal dalam air kemih, khususnya sitrat,
disebabkan idiopatik, asidosis tubulus ginjal tipe I (lengkap atau tidak lengkap), minum
Asetazolamid, dan diare dan masukan protein tinggi.
4) Hiperurikosuria
Peningkatan kadar asam urat dalam air kemih yang dapat memacu pembentukan batu
kalsium.
5) Hiperoksalouria
Kenaikan ekskresi oksalat diatas normal (45 mg/hari), kejadian ini disebabkan oleh diet
rendah kalsium, peningkatan absorbsi kalsium intestinal, dan penyakit usus kecil atau akibat
reseksi pembedahan yang mengganggu absorbsi garam empedu.
b. Faktor-Eksogen.
Faktor lingkungan, pekerjaan (sopir) , makanan, infeksi bakteri (kurang personal hygine) dan
kejenuhan mineral dalam air minum.
2
c. Faktor-lainnya.
Infeksi, stasis dan obstruksi urine, keturunan, air minum, pekerjaan, makanan atau penduduk yang
vegetarian lebih sering menderita batu saluran kencing atau buli-buli (Syaifuddin, 1996). Batu
kandung kemih dapat disebabkan oleh kalsium oksalat atau agak jarang sebagai kalsium fosfat.
Batu vesika urinaria kemungkinan akan terbentuk apabila dijumpai satu atau beberapa faktor
pembentuk kristal kalsium dan menimbulkan agregasi pembentukan batu proses pembentukan batu
kemungkinan akibat kecenderungan ekskresi agregat kristal yang lebih besar dan kemungkinan
sebagai kristal kalsium oksalat dalam urine.
Dan beberapa medikasi yang diketahui menyebabkan batu ureter pada banyak klien mencakup
penggunaan obat-obatan yang terlalu lama seperti antasid, diamox, vitamin D, laksatif dan aspirin
dosis tinggi. (Prof.Dr.Arjatmo T. Ph. D.Sp. And. Dan dr. Hendra U., SpFk, 2001). Menurut
Smeltzer (2002:1460) bahwa, batu kandung kemih disebabkan infeksi, statis urin dan periode
imobilitas (drainage renal yang lambat dan perubahan metabolisme kalsium).
3. PATOFISIOLOGI
Batu dalam perkemihan berasal dari obstruksi saluran kemih, baik parsial maupun lengkap.
Obstruksi yang lengkap dapat berakibat menjadi hidronefrosis.Batu saluran kemih merupakan
kristalisasi dari mineral dan mineral dari matriks seputar, seperti pus, darah, tumor atau urat.
Komposisi mineral dari batu bervariasi, kira-kira bagian dari batu adalah kalsium fosfat,
asam/urine dan custine. Peningkatan konsentrasi larutan urine akibat dari intake cairan yang rendah
dan juga peningkatan bahan organic akibat ISK atau urine statis, mengakibatkan pembentukan batu.
Ditambah adanya infeksi, meningkatkan lapisan urine yang berakibat presipitasi kalsium fosfat dan
magnesium ammonium fosfat (Long, 1999).

Teori pembentukan batu menurut (Soeparman, 1999) antara lain :


1. Terbentuknya batu saluran kemih memerlukan adanya substansia organic sebagai inti, terutama
dari mukopolisakarida dan mukoprotein yang akan mempermudah kristalisasi dan agregasi
substansi pembentuk batu.

3
2. Teori supersaturasi
Terjadinya kejenuhan substansi pembentuk dalam urine seperti sistine, asam urat, kalsium
oksalat akan mempermudah terbentuknya batu.
4. Teori presipitasi kristalisasi
Perubahan pH urine akan mempengaruhi solubilitas substansi dalam urine yang bersifat alkali
akan mengendap garam-garam fosfat.
6. Teori berkurangnya faktor penghambat
Berkurangnya faktor penghambat seperti peptid, fosfat, pirofosfat, polifosfat, sitrat, magnesium,
asam mukopolisakarida akan mempermudah terbentuknya batu saluran kencing
4. ANATOMI
Vesika urinaria merupakan kantong muscular yang berfungsi untuk menampung sementara urine,
terletak didalam calvum pelvis, terdapat dorsal os pubis. Vesika urinaria dengan os pubis
dipisahkan adanya spatium retropubic cavum retzii. Di dorsal vesika urinaria , pada laki-laki
terdapat rectum dan pada wanita ada uterus, portio supravaginalis dan vagina. Bentuk dan ukuran
vesika urinaria dipengaruhi oleh derajat pengisian dan organ sekitarnya. Vesika urinaria inferior
pada wanita berhadapan dengan diafragma pelvis dan pada laki-laki berhadapan dengan prostat.
Pada permukaan dalam vesika urinaria terdapat dua osterum urosteris dan satu ostium urethrae.
Diantara ketiga trigonum vesicae licin, rata dan melekat erat dengan banguan yang ada di
superfacialnya. Dilantai trigonum vesica terdapat musculus trigonalis, musculus ini merupakan
lanjutan tunika muscularis ureter. Musculus trigonalis ke anterior, mengadakan kondensasi
membentuk uvula vesicae pada tepi otium medius prostate, atau oleh kedua bangunan tersebut
secara besamaan. Diantara kedua ostium ureter terdapat plica interurectica yang ditimbulkan oleh
lanjutan stratum longitudinal tunika muscularis ureter.

4
Bentuk kandung kemih seperti kerucut yang dikelilingi oleh otot yang kuat, berhubungan dengan
ligamentum vesika umbilikalis medius, bagian vesika urinaria terdiri dari :
a. Fundus yaitu bagian yang menghadap ke belakang dan bawah. Bagian ini terpisah dari rectum
oleh spatrium rectovesikale yang terisi oleh jaringan ikat duktus deferent, vesika seminalis dan
prostat
b. Korpus yaitu bagian antara vertex dan fundus
c. Verteks, bagian yang ke arah bmuka dan berhubungan dengan ligamentum vesika umbilikalis
d. Mukosa kandung kemih terdiri atas lapisan epitel transitional yang tebal (5-8 lapis sel) dengan
sel-sel basal yang berbentuk torak. Permukaan mukosa lumen kandung kemih ini mensekresi
suatu lapisan clicosaminoglycans, yang merupakan suatu protein yang melindungi kandung
kemih dari infiltrasi bakteri atau zat-zat yang bersifat karsiogenik (Tucker, 1993).
e. Dibawah lapisan mukosa terdapat lapisan tunika propia yang longgar, disini sering dijumpai
serbukan tunika muskularis yang terdiri atas otot-otot polos yang tersebar merata dimana pada
muara ureter dan uretra otot ini lebih padat dan membentuk spingter. Lapisan paling luar adalah
lapisan sorosa yang berupa selaput tipis dan hanya terdapat pada bagian kandung kemih yang
berupa selaput tipis dan hanya terdapat pada kamdung kemih yang berhubungan dengan
peritoneum. Peritoneum dapat digerakan membentuk lapisan dan menjadi lurus apabila kandung
kemih berisi penuh (Syaifudin, 1997).

5. MANIFESTASI KLINIS
Tanda dan gejala vesikolithiasis menurut Bruner & Sudarth (2002) dan Soeparman (1999) adalah :
a. Kencing kurang lancar tiba-tiba terhenti dan terasa sakit yang menjalar ke penis bila pasien
merubah posisi kencing lama, pada anak-anak mereka akan berguling-guling dan menarik penis.
b. Apabila terjadi infeksi ditemukan tanda : sistisis, kadang kadang terjadi hematuria.
c. Adanya nyeri tekan suprasimpisis karena infeksi / teraba adanya urine yang banyak (retensi).
d. Hanya pada batu besar yang dapat diraba secara bimanual.
e. Pada pria diatas 50 tahun biasanya ditemukan juga pembesaran prostat.
f. Demam akibat obstruksi saluran kemih memerlukan dekompensasi segera.
g. Koliks
h. Rasa terbakar(panas) pada saat kencing dan setelah kencing

6. PENATALAKSANAAN
Tujuan dasar penatalaksanaan adalah untuk menghilangkan batu, menentukan jenis batu,
mencegah kerusakan nefron, mengendalikan infeksi dan mengurangi obstruksi yang terjadi.

5
Adapun penatalaksanaan pada vesikolithiasis menurut Soerparman (1999) dan Smeltser (2001)
antara lain :
a. Penanganan nyeri
Tujuan segera dari penanganan kolik atau reteral adalah untuk mengurangi nyeri sampai
penyebabnya dapat dihilangkan : morfin diberikan untuk mencegah syok dan sinkop akibat
nyeri yang luar biasa. Mandi air panas atau air hangat di area panggul dapat bermanfaat.

b. Terapi nutrisi dan medikasi


Terapi nutrisi berperan penting dalam mencegah batu renal. Masukan cairan yang adekuat
dan menghindari makanan tertentu dalam diet yangmerupakan bahan utama pembentuk batu
(missal : kalsium ) efektif untuk mencegah pembentukan batu atau meningkatan ukuran batu
yang telah ada.
Beberapa terapi medikasi menurut jenisnya batu,antara lain :
1. Batu kalsium dapat diturunkan dengan diet rendah kalsium, ammonium klorida atau asam
asetohidroksemik( lithostat)
2. Batu fosfat dapat diturunkan dengan jeli alumunium hidroksida
3. Batu asam urat dapat diturunkan dengan allofurinol (zyloprime)
4. Batu oksalat bisa diturunkan dengan pembatasan pemasukan oksalat, terapi gelombang kejut
ekstrokoproreal, pengankatan batu perkutan atau uretroskopi.
5. Metode endourologi pengangkatan batu (litotripsi)
6. Bidang endourologi mengembangkan ahli radiologi dan urologi untuk mengangkat batu buli
tanpa adanya pembedahan dengan cara penghancuran batu buli menjadi serpihan kecil-keci
kemudian dikeluarkan dengan alat endourolgi
7. Pelarutan batu
Infus cairan kemolitik (missal : agen pembuat basa (acylabina) dan pembuat asam (acydifyng).
Untuk melarutkan batu dapat dilakukan sebagai alternative penanganan terapi pasien kurang
beresiko terhadap terapi lain dan menolak metode lain atau mereka yang memiliki batu yang
mudah terlarut (struvit)
8. Pengangkatan batu pada kandung kemih dengan cara pembedahan atau vesikolitotomi.

7. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan Pembantu/Penunjang. Pemeriksaan ini terdiri atas:
a. Laboratorium
1) Urine dan kultur urine untuk melihat adanya infeksi
2) Pemeriksaan darah,Hb, Ureum Kreatinin, Kalsium, Fosfat, Asam Urat

6
b. Radiologi
Diagnosis pasti dapat dibuat dengan uretrografi, yaitu retrograde uretrografi (RUG) dan voiding
cysto uetrografi (VCUG).

c. Sistoskopi
Pada pemeriksaan ini dokter akan memasukkan semacam alat endoskopimelalui uretra yang ada
pada penis, kemudian masuk kedalam blader.

B. KONSEP VESIKOLITOTOMY
1. Pengertian
Vesikolitotomi adalah suatu tindakan pembedahan untuk mengeluarkan batu buli-buli dari kandung
kemih (vesica urinaria).
2. Ruang Lingkup
Penderita yang datang dengan keluhan nyeri pada akhir miksi, hematuria dan miksi yang tiba-tiba
berhenti serta dalam pemeriksaan penunjang diketahui penyebabnya adalah batu buli-buli.
3. Indikasi
Batu buli-buli yang berukuran lebih dari 2,5 cm pada orang dewasa batu multiple. Pada anak
anak ukuran lebih kecil dari lubang amplas dan disesuaikan dengan besarnya anak

4. Pemeriksaan penunjang
Darah lengkap, tes faal ginjal, sediment urin, kultur urin dan tes kepekaan antibiotika, kadar
kalsium, fosfat, dan asam urat dalam serum serta ekskresi kalsium, fosfat dan asam urat dalam urin
24 jam, foto polos abdomen, pyelografi intravena, USG.

7
5. Patofisiologi
Predisposisi: infeksi, trauma, tumor, makanan,obat-obatan dll

Penyempitan stuktur uretra

Adanya hambatan pada saluran kemih

Sumbatan saluran kemih

Bendungan dan statis urine

Kekurangan fosfat mukopolisakarida dan fosfat

Pengendapan Kalsium

Batu Buli-buli

8
BAB III

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

1. Pengertian
Pada fase preoperatif ini perawat akan mengkaji kesehatan fisik dan emosional klien, mengetahui
tingkat resiko pembedahan, mengkoordinasi berbagai pemeriksaan diagnostik, mengidentifikasi
diagnosa keperawatan yang mengambarkan kebutuhan klien dankeluarga, mempersiapkan kondisi
fisik dan mental klien untuk pembedahan.
2. Perawatan Preoperatif
Perawatan pre operatif merupakan tahap pertama dari perawatan perioperatif yang dimulai sejak
pasien diterima masuk di ruang terima pasien dan berakhir ketika pasien dipindahkan ke meja operasi
untuk dilakukan tindakan pembedahan.
Persiapan pembedahan dapat dibagi menjadi 2 bagian, yang meliputi persiapan psikologi baik pasien
maupun keluarga dan persiapan fisiologi (khusus pasien).
a. Persiapan Psikologi
Terkadang pasien dan keluarga yang akan menjalani operasi emosinya tidak stabil. Hal ini dapat
disebabkan karena takut akan perasaan sakit, narcosa atau hasilnya dan keadaan sosial ekonomi dari
keluarga.
Penyuluhan merupakan fungsi penting dari perawat pada fase pra bedah dan dapat mengurangi
cemas pasien. Hal-hal dibawah ini penyuluhan yang dapat diberikan kepada pasien pra bedah :
1) Penjelasan tentang peristiwa
a) Informasi yang dapat membantu pasien dan keluarganya sebelum operasi :
b) Pemeriksaan-pemeriksaan sebelum operasi (alasan persiapan).
c) Hal-hal yang rutin sebelum operasi.
d) Alat-alat khusus yang diperlukan
e) Pengiriman ke ruang bedah.
f) Ruang pemulihan.
2) Kemungkinan pengobatan-pengobatan setelah operasi :
a) Perlu peningkatan mobilitas sedini mungkin.
b) Perlu kebebasan saluran nafas.
c) Antisipasi pengobatan.
d) Bernafas dalam dan latihan batuk
e) Latihan kaki
f) Mobilitas
g) Membantu kenyamanan
9
b. Persiapan Fisiologi
1) Diet
8 jam menjelang operasi pasien tidak diperbolehkan makan, 4 jam sebelum operasi pasien tidak
diperbolehkan minum, (puasa) pada operasi dengan anaesthesi umum.
Pada pasien dengan anaesthesi lokal atau spinal anasthesi makanan ringan diperbolehkan.
Bahaya yang sering terjadi akibat makan/minum sebelum pembedahan antara lain :
Aspirasi pada saat pembedahan
Mengotori meja operasi.
Mengganggu jalannya operasi.
2) Persiapan Perut.
Pemberian leuknol/lavement sebelum operasi dilakukan pada bedah saluran pencernaan atau
pelvis daerah periferal. Untuk pembedahan pada saluran pencerrnaan dilakukan 2 kali yaitu pada
waktu sore dan pagi hari menjelang operasi.
Tujuan dari pemberian lavement antara lain :
Mencegah cidera kolon
Memungkinkan visualisasi yang lebih baik pada daerah yang akan dioperasi.
Mencegah konstipasi.
Mencegah infeksi.
3) Persiapan Kulit
Daerah yang akan dioperasi harus bebas dari rambut. Pencukuran dilakukan minimal 1 jam
sebelum operasi dan sebaiknya dilakukan di kamar operasi setelah pasien di anesthesi.
4) Hasil Pemeriksaan
Meliputi hasil laboratorium, foto roentgen, ECG, USG dan lain-lain.
5) Persetujuan Operasi / Informed Consent
Izin tertulis dari pasien / keluarga harus tersedia. Persetujuan bisa didapat dari keluarga dekat
yaitu suami / istri, anak tertua, orang tua dan kelurga terdekat.
Pada kasus gawat darurat ahli bedah mempunyai wewenang untuk melaksanakan operasi tanpa
surat izin tertulis dari pasien atau keluarga, setelah dilakukan berbagai usaha untuk mendapat
kontak dengan anggota keluarga pada sisa waktu yang masih mungkin.
6) Persiapan Akhir Sebelum Operasi Di Kamar Operasi (Serah terima dengan perawat OK)
Untuk melindungi pasien dari kesalahan identifikasi atau cidera perlu dilakukan hal tersebut di
bawah ini :
Cek daerah kulit / persiapan kulit dan persiapan perut (lavement).
Cek gelang identitas / identifikasi pasien.
Lepas tusuk konde dan wig dan tutup kepala / peci.

10
Lepas perhiasan
Bersihkan cat kuku.
Kontak lensa harus dilepas dan diamankan.
Protesa (gigi palsu, mata palsu) harus dilepas.
Alat pendengaran boleh terpasang bila pasien kurang atau ada gangguan pendengaran.
Kaus kaki anti emboli perlu dipasang pada pasien yang beresiko terhadap tromboplebitis.
Kandung kencing harus sudah kosong
Pemberian Obat profilaksis
Status pasien beserta hasil-hasil pemeriksaan harus dicek meliputi : catatan tentang persiapan
kulit, tanda-tanda vital (suhu, nadi, respirasi, TN), pemberian premedikasi, pengobatan rutin,
data antropometri (BB, TB), informed consent, pemeriksan laboratorium
7) Pengkajian Keperawatan Pra Bedah
a. Data Subyektif
Pengetahuan dan Pengalaman Terdahulu. Misalnya: tempat, bentuk operasi yang harus
dilakukan, informasi dari ahli bedah lamanya dirawat dirumah sakit, keterbatasan setelah di
bedah, kegiatan rutin sebelum operasi, kegiatan rutin sesudah operasi, pemeriksaan-
pemeriksaan sebelum operasi.
Bentuk, sifat, roentgen
Status Fisiologi
Berbagai alergi medikasi, sabun, plester.
Penginderaan : kesukaran visi dan pendengaran.
Nutrisi : intake gizi yang sempurna (makanan, cairan) mual, anoreksia.
Motorik : kesukaran ambulatori, gerakan tangan dan kaki, arthritis, bedah orthopedi yang
terdahulu (penggantian sendi, fusi spinal).
Alat prothesa : gigi, mata palsu, dan ekstremitas.
Kesantaian : bisa tidur, terdapat nyeri atau tidak nyaman

b. Data Obyektif
Pola berbicara : mengulang-ulang tema, perubahan topik tentang perasaan (cemas),
kemampuan berbahasa Inggris.
Tingkat interaksi dengan orang lain.
Perilaku : gerakan tangan yang hebat, gelisah, mundur dari aktifitas yang sibuk (cemas).
Tinggi dan berat badan.
Tanda vital : Tekanan darah, nadi, respiratory, suhu.

11
Sistem integumentum : Pucat, sianosis, adakah penyakit kulit di area badan.
Sistem Kardiovaskuler : Apakah ada gangguan pada sisitem cardio, validasi apakah pasien
menderita penyakit jantung, kebiasaan minum obat jantung sebelum operasi, kebiasaan
merokok, minum alcohol, oedema, irama dan frekuensi jantung, pucat.
Sistem pernafasan : apakah pasien bernafas teratur, batuk secara tiba-tiba di kamar operasi.
Sistem gastrointestinal: apakah pasien diare atau tidak.
Sistem reproduksi : apakah pasien wanita mengalami menstruasi
Sistem saraf : kesadaran (composmentis, somnolen, apatis, stupor, koma), pemeriksaan
neurologi fisiologis dan patologis.
Penginderaan: kemampuan penglihatan dan pendengaran.
Kulit : turgor, terdapat lesi, merah atau bintik-bintik.
Mulut : gigi palsu, kondisi gigi dan selaput lendir.
Thorak : bunyi nafas (terdapat, sisanya) pemekaran dada, kemampuan bernafas dengan
diafragma, bunyi jantung (garis dasar untuk perbandingan pada pasca bedah).
Ekstremitas : kekuatan otot (terutama) kaki, karakteristik nadi perifer sebelum bedah vaskuler
atau tubuh.
Kemampuan motorik : adalah keterbatasan berjalan, duduk, atau bergerak di tempat duduk,
koordinasi waktu berjalan.

c. Masalah Keperawatan Yang Lazim Muncul


1) Takut
2) Cemas
3) Resiko infeksi
4) Resiko injury
3. Perawatan Intra operatif
Perawatan intra operatif dimulai sejak pasien ditransfer ke meja bedah dan berakhir bila pasien di
transfer ke wilayah ruang pemulihan. Anggota tim asuhan pasien intra operatif biasanya di bagi dalam
dua bagian. Berdasarkan kategori kecil terdiri dari anggota steril dan tidak steril :
a. Anggota steril
1) Ahli bedah utama / operator
2) Asisten ahli bedah.
3) Scrub Nurse / Perawat Instrumen
b. Anggota tim yang tidak steril, terdiri dari :
1) Ahli atau pelaksana anaesthesi.
2) Perawat sirkulasi
12
3) Anggota lain (teknisi yang mengoperasikan alat-alat pemantau yang rumit).

Dalam pelaksanaan operasi ada beberapa prinsip tindakan keperawatan yang harus dilakukan yaitu :
a. Persiapan Psikologis Pasien
b. Pengaturan Posisi
1) Posisi diberikan perawat akan mempengaruhi rasa nyaman pasien dan keadaan psikologis
pasien.
2) Faktor yang penting untuk diperhatikan dalam pengaturan posisi pasien adalah :
a) Letak bagian tubuh yang akan dioperasi.
b) Umur dan ukuran tubuh pasien.
c) Tipe anaesthesia yang digunakan.
d) Sakit yang mungkin dirasakan oleh pasien bila ada pergerakan (arthritis).
c. Prinsip-prinsip didalam pengaturan posisi pasien :
1) Atur posisi pasien dalam posisi yang nyaman.
2) Sedapat mungkin jaga privasi pasien, buka area yang akan dibedah dan kakinya ditutup dengan
duk.
3) Amankan pasien diatas meja operasi dengan lilitan sabuk yang baik yang biasanya dililitkan
diatas lutut. Saraf, otot dan tulang dilindungi untuk menjaga kerusakan saraf dan jaringan.
4) Jaga pernafasan dan sirkulasi vaskuler pasien tetap adekuat, untuk meyakinkan terjadinya
pertukaran udara.
5) Hindari tekanan pada dada atau bagain tubuh tertentu, karena tekanan dapat menyebabkan
perlambatan sirkulasi darah yang merupakan faktor predisposisi terjadinya thrombus.
6) Jangan ijinkan ekstremitas pasien terayun diluar meja operasi karena hal ini dapat melemahkan
sirkulasi dan menyebabkan terjadinya kerusakan otot.
7) Hindari penggunaan ikatan yang berlebihan pada otot pasien.
8) Yakinkan bahwa sirkulasi pasien tidak berhenti ditangan atau di lengan.
9) Untuk posisi litotomi, naikkan dan turunkan kedua ekstremitas bawah secara bersamaan untuk
menjaga agar lutut tidak mengalami dislokasi.
d. Pengkajian psikososial
1) Membersihkan dan menyiapkan kulit.
2) Penutupan daerah steril
3) Mempertahankan surgical asepsis
4) Menjaga suhu tubuh pasien dari kehilangan panas tubuh
5) Monitor dari malignant hyperthermia
6) Penutupan luka pembedahan

13
7) Perawatan drainase
8) Pemindahan pasien ke ruang pemulihan, ICU atau PACU.
e. Pengkajian fisik
1) Tanda-tanda vital
Bila terjadi ketidaknormalan tanda-tanda vital dari pasien maka perawat harus memberitahukan
ketidaknormalan tersebut kepada ahli bedah.
2) Transfusi
Monitor flabot transfusi sudah habis apa belum. Bila hampir habis segera diganti dan juga
dilakukan observasi jalannya aliran transfusi.
3) Infus
Monitor flabot infuse sudah habis apa belum. Bila hampir habis harus segera diganti dan juga
dilakukan observasi jalannya aliran infuse.
4) Pengeluaran urin
Normalnya pasien akan mengeluarkan urin sebanyak 1 cc/kg BB/jam.

4. Perawatan Post Operatif


Perawatan post operasi merupakan tahap lanjutan dari perawatan pre dan intra operatif yang dimulai
saat klien diterima di ruang pemulihan. Dibawah ini adalah petunjuk perawatan / observasi diruang
pemulihan :
a) Posisi kepala pasien lebih rendah dan kepala dimiringkan pada pasien dengan pembiusan umum,
sedang pada pasein dengan anaesthesi regional posisi semi fowler.
b) Pasang pengaman pada tempat tidur.
c) Monitor tanda vital : TN, Nadi, respirasi / 15 menit.
d) Penghisapan lendir daerah mulut dan trakhea.
e) Beri O2 2,3 liter sesuai program.
f) Observasi adanya muntah.
g) Catat intake dan out put cairan.

Beberapa petunjuk tentang keadaan yang memungkinkan terjadinya situasi krisis


a) Tekanan sistolik < 90 100 mmHg atau > 150 160 mmH, diastolik < 50 mmHg atau > dari 90
mmHg.
b) HR kurang dari 60 x menit > 10 x/menit
c) Suhu > 38,3 o C atau kurang dari 35 o C.
d) Meningkatnya kegelisahan pasien
e) Tidak BAK + 8 jam post operasi.

14
Pengeluaran dari ruang pemulihan / recovery room, kriteria umum yang digunakan dalam
mengevaluasi pasien :
a) Pasien harus pulih dari efek anaesthesi.
b) Tanda-tanda vital harus stabil.
c) Tidak ada drainage yang berlebihan dari tubuh.
d) Efek fisiologis dari obat bius harus stabil.
e) Pasien harus sudah sadar kembali dan tingkat kesadaran pasien telah sempurna.
f) Urine yang keluar harus adekuat ( 1cc/ Kg/jam). Jumlahnya harus dicatat dan dilaporkan.
g) Semua pesan harus ditulis dan dibawa ke bangsal masing-masing.
h) Jika keadaan pasien membaik, pernyataan persetujuan harus dibuat untuk kehadiran pasien tersebut
oleh seorang perawat khusus yang bertugas pada unit dimana pasien akan dipindahkan.
i) Staf dari unit dimana pasien harus dipindahkan, perlu diingatkan untuk menyiapkan dan menerima
pasien tersebut.

Hal-hal yang harus diperhatikan selama membawa pasien ke ruangan antara lain : keadaan penderita
usahakan pasien jangan sampai kedinginan, dan kepala pasien sedapat mungkin harus dimiringkan
untuk menjaga bila muntah sewaktu-waktu, dan muka pasien harus terlihat sehingga bila ada
perubahan sewaktu-waktu terlihat.

5. Diagnosa
a. Pre Operasi Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang muncul pada keperawatan pre operatif, intra operatif, post operatif :
(Doenges M.E, 1999)
1) Diagnosa keperawatan Pre operatif
a) Resiko tinggi injury berhubungan dengan transfer + transport pasien ke branchart / meja
operasi
Hasil yang diharapkan : tidak terjadi injury padaperpindahan pasien
Intervensi :
Membantu pasien untuk berpindah dari branchart/kursi roda ke meja operasi
R/ Menjaga pasien supaya tidak jatuh
Angkat pasien dari branchart ke meja operasi dengan 3 orang
R/ Memberikan keamanan kepada pasien
Berikan informasi yang dapat dipercaya dan diperkuat dengan informasi yang telah
diberikan
R/ Memberikan keamanan kepada pasien

15
b) Cemas berhubungan dengan kurang pengetahuan dan stress tentang tindakan pembedahan
Hasil yang diharapkan : pasien melaporkan takut dan ansietas menurun sampai tingkat dapat
ditanganin
Intervensi :
Mengidentifikasi kebutuhan pasien
Menjelaskan bahwa operasi ini sudah sering dilakukan dan ditangani oleh tim ahli
Menjelaskan rangkaian kegiatan dan kejadian rutin

b. Diagnosa Keperawatan Intra Operatif


1) Resiko tinggi kekurangan cairan berhubungan dengan perdarahan
Hasil yang diharapkan : mempertahankan keseimbangan cairan, adekuat yang dibuktikan dengan
tanda vital stabil, nadi perifer normal, turgor kulit baik dan membran mukosa lembab
Intervensi :
Awasi tanda vital, evaluasi nadi, pengisian kapiler, turgor kulit,dan membran mukosa
R/ Sebagai indikator hidrasi atau volume sirkulasi dan kebutuhan intervensi
Mengawasi pemasukan dan pengeluaran
R/ Membandingkan keluaran aktual dan yang diantisipasi membantu dalam evaluasi stasis
atau kerusakan ginjal
Memonitor jumlah perdarahan dengan melaporkan jumlah pemakaian kasa
Mengobservasi kelancaran infuse

2) Potensial injury (ketinggalan instrumen, kasa dan injury kulit) berhubungan dengan tindakan
operasi, pemasangan arde yang tidak kuat
Hasil yang diharapkan : Injury tidak terjadi pada tindakan operasi
Intervensi :
Mengatur posisi pasien sesuai dengan jenis operasinya
Memasang Arde secara adekuat pada posisi sesuai dengan jenis operasinya
Menghitung instrument dan kasa sebelum dan sesudah operasi

c) Diagnosa Keperawatan Post Operatif


1) Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan tindakan bedah terhadap jaringan atau otot
dan pasca operasi
Hasil yang diharapkan : melaporkan nyeri hilang atau terkontrol, menunjukkan kemampuan
mengadakan relaksasi dan mengalihkan perhatian dengan aktif sesuai situasi
Intervensi :

16
Kaji tanda-tanda adanya nyeri baik verbal maupun non verbal, catat lokasi, intensitas (skala
0-10) dan lamanya
Bantu pasien menemukan posisi yang nyaman
Ajarkan teknik distraksi dan relaksasi
Kolaborasi dengan tim anastesi

2) Resiko injury (jatuh, terlepasnya alat infus) berhubungan dengan kesadaran yang menurun,
gelisah dan berontak
Hasil yang diharapkan :tidak terjadi injury pada pasien
Intervensi :
Menjaga pasien dari jatuh dan bila perlu lakukan restain
Mengobservasi TTV dan tetesan infuse
Memasang perlindungan pada tempat tidur supaya pasien tidak jatuh

d) Perencanaan
Perencanaan keperawatan adalah pengembangan dari pencatatan perencanaan perawatan untuk
memenuhi kebutuhan klien yang telah diketahui.Pada perencanaan meliputi tujuan dengan kriteria
hasil, intervensi, rasional, implementasi dan evaluasi.

e) Implementasi
Merupakan pelaksanaan perencanaan keperawatan oleh perawat dan klien. Hal-hal yang harus
diperhatikan ketika melakukan implementasi keperawatan adalah intervensi dilaksanakan sesuai
dengan rencana setelah dilakukan validasi, penguasaan keterampilan interpersonal, intelektual dan
teknikal, intervensi harus dilakukan dengan efisien pada situasi yang tepat, keamanan fisik dan
psikollogi dilindungi dan didokumentasi keperawatan berupa pencatatan dan pelaporan (La Ode
Jumadi Gaffar, Skp. Pengantar Keperawatan Profesional : 65-66)

f) Evaluasi
Tahapan evaluasi menentukan kemajuan pasien terhadap pencapaian hasil yang diinginkan dan
respons pasien terhadap dan keefektifan intervensi keperawatan kemudian mengganti rencana
perawatan jika diperlukan. Tahap akhir dari proses keperawatan perawat mengevaluasi
kemampuan pasien ke arah pencapaian hasil.

17
DAFTAR PUSTAKA

1. Gruendemann, BJ dan Fernsebner, B. 2006. Buku ajar Keperawatan Perioperatif, Volume2


:Praktik. Jakarta: EGC

2. Muttaqin, A. Dkk. 2009. Asuhan Keperawatan Perioperatif, Banjarmasin

3. Padila, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, Yogyakarta, 2012

4. Wim de Jong dan Sjamsuhidayat, Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi Revisi, EGC, Jakarta, 1998

18