Anda di halaman 1dari 3

DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN ANAK FKUP / RSUP Dr.

HASAN SADIKIN
Divisi : Infeksi dan Penyakit Tropis
Oleh : Adri Zamany Anwary
Pembimbing : dr. Riyadi Sp.A, M.kes
Hari/Tanggal : 22 Juni 2017

PEMERIKSAAN PENUNJANG DEMAM AKUT

Pemeriksaan penunjang yang pada demam harus dipertimbangkan kemampuan untuk


menegakkan diagnosis, menyingkirkan diagnosis banding, manfaatnya dalam tatalaksana serta
harga dan bahaya yang mungkin ditimbulkan.. Bila anak tampak sakit berat, diagnosis harus
dilakukan dengan cepat, tetapi bila penyakit lebih kronis pemeriksaan laboratorium dapat
dilakukan secara bertahap.

Pemeriksaan CBC, dan C-reactive protein (CRP)

Jumlah leukosit 15.000/mm terjadi 23 kali lebih sering pada infeksi bakteri
dibandingkan infeksi virus. Jumlah leukosit 15.000/mm memiliki sensitivitas 67% dan
spesifisitas 85% serta jumlah batang dalam hitung jenis (>500 sel/L) memiliki sensitivitas
80% dan spesifisitas (~74%) dalam mendiagnosis occult bacterial infections.6 Jumlah leukosit
15.000/mm3gagal mengidentifikasi 1421% anak yang mengalami bakteriemia. Beberapa
penelitian menunjukkan bahwa ANC dengan rasio neutrofil imatur/matur >0,2 lebih akurat dari
pemeriksaan jumlah leukosit,namun nilai prediksi positif tidak berbeda jauh dari jumlah
leukosit

C-reactive protein (CRP) adalah suatu reaktan jenis glikoprotein yang disintesis
terutama oleh hati selama fase akut suatu inflamasi. Interleukin-1, IL-6, dan TNF- merupakan
mediator yang berperan dalam sintesis CRP. Kadar normal CRP serum <5 mg/L. Peningkatan
kadar CRP dapat terjadi [ada berbagai keadaan seperti infeksi, autoimun, nekrosis, trauma dan
keganasan. Pada penyakit infeksi akut oleh bakteri kadar CRP serum dapat meningkat sampai
200 mg/L, sedangkan pada infeksi virus biasanya tidak meningkat namun disebutkan bahwa
kadar CRP pada penyakit infeksi virus orang dewasa dapat meningkat sampai 1040 mg/L.
Suatu penelitian menunjukkan bahwa peningkatan kadar CRP bergantung pada lama demam,
sehingga disarankan pemeriksaan CRP sebaiknya dilakukan bila demam lebih dari 12 jam.Pada
suatu penelitian lain pada anak usia 136 bulan yang mengalami demam tanpa sebab yang jelas
menunjukkan bahwa peningkatan CRP memiliki korelasi yang kuat terhadap diagnosis
dibandingkan dengan jumlah leukosit dan jumlah absolut netrofil.
Procalcitonin Procalcitonin (PCT)
Prehormon dari calcitonin, yang normalnya disekresikan oleh sel C kelenjar tiroid sebagai respons
terhadap hiperkalsemia. Mekanisme produksi PCT terhadap respons inflamasi dan fungsinya masih
belum diketahui, namun diduga procalcitonin dihasilkan oleh hati, sel mononuklear periferal dan
termasuk dalam sitokin yang berhubungan dengan sepsis. Procalcitonin dinilai sangat baik untuk
mendeteksi adanya infeksi bakteri berat (serious bacterial infection/SBI) seperti bakteremia, meningitis,
infeksi saluran kemih, atau pneumonia. Adapun nilai cut o yang diajukan adalah sebesar 0,12 ng/mL di
mana nilai di atas cut o dinyatakan sebagai abnormal. Dalam membedakan infeksi bakteri dengan
infeksi viral, Simon, et al, (2008) melalui metaanalisisnya menyebutkan sensitivitas penanda PCT
mencapai 92% dan spesifisitas 73%, hal ini lebih superior apabila dibandingkan dengan sensitivitas
penanda CRP setinggi 86% dan spesifisitas yang tidak jauh berbeda, yaitu 70%. Adapun bias yang
mungkin dapat terjadi pada meta-analisis ini adalah kadar puncak plasma yang berbeda antara PCT
dengan CRP. Sekresi PCT dimulai pada 4 jam pascastimulasi dan memuncak pada 8 jam, sedangkan
sekresi CRP dimulai pada 4 6 jam pasca-stimulasi dan memuncak dalam 36 jam

Urinalisis

Hasil urinalisis membantu identifikasi ISK sebagai fokus infeksi dan jika didapatkan
kecurigaan ISK, maka keadaan ini merupakan indikasi untuk dilakukan kultur urin. Urinalisis
direkomendasikan pada anak usia <2 tahun yang mengalami demam tanpa sebab yang jelas,
karena insidensi ISK yang tinggi pada anak perempuan dan anak laki-laki yang belum
disirkumsisi pada kelompok usia tersebut.

Pemeriksaan rontgen toraks

Adanya distres napas, suara pernapasan yang menurun, dan takipne (berdasarkan
kriteria WHO) dapat menegakkan diagnosis pneumonia secara akurat. Penelitian lain
berpendapat kriteria ini hanya mampu mendeteksi 45% kasus pneumonia anak usia <5 tahun.
Indikasi pemeriksaan rontgen toraks pada anak demam usia >3 bulan meliputi: adanya
takipnea, pernapasan cuping hidung, retraksi dinding dada, suara merintih, suara pernafasan
yang menurun, dan ronkhi. Suatu penelitian menyarankan pemeriksaan rontgen toraks pada
anak yang mengalami demam (>39,0 0C) dan leukositosis 20.000/mm3 tanpa temuan
gangguan respiratori untuk menyingkirkan suatu occult pneumonia. Rontgen toraks sangat
sensitif terhadap pneumonia sehingga banyak kasus positif palsu. Pada FWS, dengan suhu >39,
anak yang tidak mendapat imunisasi PCV, jumlah leukosit >20.000 dan hasil urinalisis baik,
perlu dilakukan rontgent thorax dan pemeriksaan pulse oxymetri untuk dapat menemukan
pneumonia tersembunyi.
Kultur darah

Baraff merekomendasikan pemeriksaan kultur darah pada anak demam 39C berusia
336 bulan, terutama bila jumlah leukosit 15.000/mm3 Kultur darah tidak direkomendasikan
pada kasus dengan diagnosis presumtif viral syndrome. Viral syndrome didukung dengan
keadaan umum tampak sakit ringan dan adanya kontak dengan penderita viral syndrome
(infeksi saluran napas atas, gastroenteritis).

Kultur feses

Mayoritas etiologi diare adalah virus. Penelitian mengenai kultur feses pada anak yang
menderita demam masih sangat sedikit. Sebuah penelitian pada anak usia <1 tahun yang
mengalami diare melaporkan 3 prediktor klinis etiologi bakteri yaitu: adanya darah pada feses
(sensitivitas 39%, spesifisistas 88%), suhu tubuh >39,0 0C (sensitivitas 34%, spesifisitas 85%),
frekuensi diare 10 kali/24 jam (sensitivitas 28%, spesifisitas 85%). Anak yang memiliki dua
prediktor klinis memiliki risiko tinggi menderita enteritis bakteri. Pemeriksaan dilakukan bila
keluhan disertai diare.

Lumbal pungsi

Lumbal pungsi diindikasikan pada anak demam tanpa sebab yang jelas dengan keadaan umum
sakit berat, anak demam dengan sebab yang jelas dengan keadaan umum sakit berat atau
ditemukan kaku kuduk. Sepertiga kasus meningitis bakterial disertai pneumonia, otitis media
atau selulitis orbita.