Anda di halaman 1dari 17

GANGGUAN GERAK DAN FUNGSI KOGNITIF

PADA WANITA LANJUT USIA

Totok Budi Santoso dan Alfina Shofia Nur Rohmah

Program Studi Fisioterapi Fakultas Ilmu Kesehatan


Universitas Muhammadiyah Surakarta
Jln A Yani Pabelan Kartasura

Abstract

The greater number of elderly people in Indonesia show that there is an increase of peoples
life expectancy in Indonesia. Elderly people experience structural and functional changes in their bio-
logical structures. Functional status is part of health status, and it shows capability to do daily activi-
ties. This concept is integrated in three main domains, namely, biological, psychological (cognitive and
affective) and social functions. Physical activities have correlation with cognitive function. The aim of
this research was to know the correlation between movement disturbance and cognitive function of
elderly women. Design of this research was survey/observational study with cross-sectional approach.
Respondents of this research were 36 women of 60-74 years-old who live in Panti Wredha Aisiyah and
Panti Wredha Dharma Bakti Surakarta. The movement disturbance was measured using question-
naire and Katz Index. Cognitive functions of the respondents are examined using Mini Mental Status.
Statistical analysis of Product Moment and chi-square were used to analize data. Result of this re-
search indicated that there was correlation between age and movement disturbance and there was not
any correlation between age and cognitive disturbance. Statistical test of chi-square showed that con-
tribution of movement disturbance on cognitive function was 65%.

Keyword: Elderly women, functional activity, movement disturbance, cognitive function

PENDAHULUAN sia menurut Undang-undang Republik


Kemajuan di bidang kesehatan Indonesia nomor 13 tahun 1998 tentang
dan kesejahteraan berdampak pada pe- kesejahteraan lanjut usia adalah pen-
ningkatan usia harapan hidup. Pada duduk yang telah mencapai usia 60
tahun 1995 usia harapan hidup bangsa (enam puluh) tahun ke atas (Hardy
Indonesia 64,15 tahun, tahun 2000 me- winoto dan Setiabudi, 1999).
ningkat menjadi 68 tahun dan diper- Pada tahun 2000 tercatat sekitar
kirakan akan meningkat lagi di tahun- 7,18% penduduk Indonesia berusia
tahun mendatang. Keadaan ini me- lanjut atau 14,4 juta orang dan pada
nyebabkan proporsi penduduk lanjut tahun 2010 jumlahnya mencapai 9,77 %
usia (lansia) bertambah. Penduduk lan- dari jumlah penduduk Indonesia atau

Gangguan Gerak dan Fungsi Kognitif pada Wanita Lanjut Usia (Totok Budi S. dan Alfina Shofia NR) 41
24 juta orang, serta pada tahun 2020 yang lebih rumit. Sebelum memasuki
jumlahnya diperkirakan akan men- lansia, wanita lebih dahulu memasuki
capai 11,34% dari seluruh penduduk masa yang disebut menopause dan
Indonesia atau 28,8 juta orang (Komnas satu tahun kemudian memasuki masa
Lansia, 2008). yang disebut pasca menopause. Penu-
Lanjut usia adalah orang yang runan estrogen ini akan membawa
sistem-sistem biologisnya mengalami dampak negatif bagi badan. Beberapa
perubahan-perubahan struktur dan dampak negatif tersebut adalah pening-
fungsi dikarenakan usianya yang su- katan aterosklerosis, kadar cholesterol
dah lanjut. Perubahan ini dapat ber- total, trigliserida, penurunan hight
langsung mulus sehingga tidak me- density lipoprotein cholesterol (HDL-C),
nimbulkan ketidakmampuan atau da- peningkatan osteoporosis dengan
pat terjadi sangat nyata dan berakibat mediator osteoklas (Schiff dan Walsh,
ketidakmampuan total. Menua dalam 1995).
proses menua biologis adalah proses Bagian yang tidak dapat terlepas
terkait waktu yang berkesinambungan dari status kesehatan yaitu status fung-
dan pada umumnya mencerminkan sional, dengan pengertian adalah ke-
umur kronologis namun sangat ber- mampuan seseorang dalam menjalan-
variasi dan bersifat individual, dengan kan aktifitasnya sehari-hari secara sehat.
perubahan yang dapat berlangsung Konsep ini terintegrasi dalam tiga do-
mulus sehingga tidak menimbulkan main utama, yaitu fungsi biologis,
ketidakmampuan atau dapat terjadi psikologis (kognitif dan afektif) serta
sangat nyata dan berakibat ketidak- sosial. Salah satu komponen psikologis
mampuan total (Aswin, 2003). dalam diri individu yaitu fungsi kog-
Perubahan fisik karena peru- nitif yang meliputi perhatian, persepsi,
bahan komposisi tubuh yang me- berpikir, pengetahuan dan daya ingat
nyertai pertambahan umur umumnya (Saladin, 2007). Penuaan menyebabkan
bersifat fisiologis, misalnya turunnya penurunan sesorik dan motorik pada
tinggi badan, berat badan, kekuatan susunan saraf pusat, termasuk juga
otot, daya lihat, daya dengar, kemam- otak mengalami perubahan struktur
puan berbagai rasa, toleransi tubuh dan biokimia (Depkes, 2004).
terhadap glukosa dan berbagai fungsi Prevalensi gangguan kognitif
otak. Pada sistem kardiovaskular, ke- termasuk demensia meningkat sejalan
kuatan otot jantung menurun, sedang- bertambahnya usia, kurang dari 3% ter-
kan tahanan perifer meningkat (Roch- jadi pada kelompok usia 65-70 tahun
mah dan Aswin, 2001). Permasalahan dan lebih dari 25% terjadi pada kelom-
kesehatan lansia wanita lebih kompleks pok usia 85 tahun ke atas (WHO, 1998).
daripada lansia pria. Hal ini disebab- Penyakit-penyakit yang diduga ber-
kan wanita mempunyai siklus hidup hubungan dengan fungsi kognitif yaitu

42 Jurnal Kesehatan, ISSN 1979-7621, Vol. 4, No. 1, Juni 2011: 41-57


penyakit serebrovaskuler, tumor otak, hadap fungsi kognitif termasuk faktor
trauma, dan infeksi pada otak (Rose, sosiodemografi seperti usia, pendidik-
1987). Faktor lain yang berpengaruh ter- an, pekerjaan dan tinggal sendiri (Freidi
hadap fungsi kognitif termasuk faktor et al., 1996).
sosiodemografi seperti usia, pendidik- Aktifitas fisik termasuk mobi-
an, pekerjaan dan tinggal sendiri (Freidi litas diidentifikasi merupakan salah
et al., 1996). Aktifitas fisik termasuk mo- satu faktor yang diduga ada hubungan-
bilitas diidentifikasi merupakan salah nya dengan fungsi kognitif. Beberapa
satu faktor yang diduga ada hubungan- studi melaporkan bahwa usia lanjut
nya dengan fungsi kognitif. Beberapa yang mengalami kesulitan melakukan
studi melaporkan bahwa usia lanjut pergerakan fisik atau gangguan gerak,
yang mengalami kesulitan melakukan akan terjadi perbedaan dalam jumlah
pergerakan fisik atau tidak aktif, akan skor fungsi kognitifnya (Yaffe et al.,
terjadi perbedaan dalam jumlah skor 2001). Efek aktifitas fisik termasuk mo-
fungsi kognitifnya (Yaffe et al., 2001). bilitas ada hubungannya dengan me-
Penelitian terakhir terhadap usia nurunnya resiko penyakit kardiovas-
lanjut diketahui bahwa jaringan sosial kuler dan efek secara langsung juga ke-
dan keterikatan sosial usia lanjut de- pada saraf, sehingga berdampak pada
ngan masyarakat sekitarnya akan me- fungsi kognitif. Sehingga apabila ter-
nurunkan fungsi kognitif, akan tetapi dapat gangguan gerak dapat meng-
keterikatan sosial ini hanya terjadi pada akibatkan penurunan gangguan fungsi
usia lanjut wanita, dan tidak pada usia kognitif yang lebih besar dibandingkan
lanjut pria (Zunzunegui et al., 2003). Pe- dengan yang tidak mengalami ganggu-
rasaan yang positif (positif affect) mem- an (Yaffe et al.,2001).
punyai hubungan dengan penurunan Fungsi kognitif yang baik sangat
ketidakmampuan dalam melakukan diperlukan agar seseorang dapat me-
perawatan diri sehari-hari pada pria ningkatkan kualitas hidup terutama opti-
usia lanjut (Gill et al., 1997). malisasi status fungsional, keadaan
Prevalensi gangguan kognitif umum, memulihkan produktifititas, kre-
termasuk demensia meningkat sejalan atifitas dan perasaan bahagianya. Penu-
bertambahnya usia, kurang dari 3% ter- runan fungsi kognitif sebelum waktunya
jadi pada kelompok usia 65-70 tahun akan menimbulkan masalah serius, se-
dan lebih dari 25% terjadi pada kelom- hingga perlu diteliti faktor-faktor apa yang
pok usia 85 tahun ke atas (WHO, 1998). berhubungan dengan fungsi kognitif.
Penyakit-penyakit yang diduga ber-
hubungan dengan fungsi kognitif yaitu METODE PENELITIAN
penyakit serebrovaskuler, tumor otak, Jenis penelitian yang digunakan
trauma, dan infeksi pada otak (Rose, dalam penelitian ini adalah dengan pe-
1987). Faktor lain yang berpengaruh ter-

Gangguan Gerak dan Fungsi Kognitif pada Wanita Lanjut Usia (Totok Budi S. dan Alfina Shofia NR) 43
nelitian survei/observasi dengan pen- saat itu juga/waktu yang bersamaan.
dekatan cross sectional yaitu dimana Sampel penelitian berjumlah 36 orang
data yang menyangkut variable bebas wanita lanjut usia di panti Wredha
dan variabel terikat akan dikumpulkan Surakarta yang memenuhi kriteria
dalam waktu bersamaan. inklusi.
Metode yang akan digunakan A. Karakteristik Responden
dalam penelitian ini adalah survai cross 1. Karakteristik Responden Menurut
sectional, artinya peneliti mempelajari Umur
korelasi antara gangguan gerak dengan Distribusi responden berdasarkan
fungsi kognitif responden pada satu umur dipaparkan dalam grafik 1
saat /point time approach (Notoatmojo, sebagai berikut :
1993).
Tempat pelaksanaan penelitian
yaitu di Panti Asuhan Muhammadiyah
khusus lansia dan Panti Wredha Dhar-
ma Bakti Surakarta. Penelitian dilaku-
kan selama 2 hari yaitu pada tanggal
20-21 September 2009. Teknik analisa
data yang digunakan adalah Product
Moment untuk mengetahui hubungan
umur dengan gangguan gerak serta
fungsi kognitif dengan tingkat kemak- Grafik 1. Distribusi Umur Responden
naan p<0,05. Setelah itu dilakukan uji
chi square dengan tingkat kemaknaan Berdasarkan grafik 1 diatas, tam-pak
p<0,05 untuk menilai hubungan antara bahwa responden paling banyak
gangguan gerak lansia dan kognitifnya. dengan usia 70-74 tahun yaitu 15 res-
Data akan di analisis dengan program ponden (41,7%) dan responden
komputer model SPSS 13.00 paling sedikit dengan usia 60-64
tahun yaitu sebanyak 7 responden
HASIL DAN PEMBAHASAN (19,4%).
Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui hubungan antara ganggu- 2. Karakteristik Responden Menurut
an gerak dan fungsi kognitif pada Gangguan Gerak
wanita lanjut usia di Panti Wredha Distribusi responden berdasarkan
Surakarta. Data gangguan gerak dinilai gangguan gerak yang ditentukan
menggunakan Indeks Katz dan fungsi berdasarkan Indeks Katz dipaparkan
kognitif dinilai menggunakan Status dalam grafik 2 sebagai berikut :
Mini Mental serta data didapat pada

44 Jurnal Kesehatan, ISSN 1979-7621, Vol. 4, No. 1, Juni 2011: 41-57


Berdasarkan grafik 3 di atas tampak
pada responden yang berada pada
range usia 60-64 tahun mengalami
gangguan gerak sebanyak 7 respon-
den dan yang mengalami gangguan
kognitif sebanyak 5 responden. Pada
range usia 65-69 tahun mengalami
gangguan gerak sebanyak 14 respon-
Grafik 2 Distribusi Gangguan Gerak den dan mengalami gangguan
Responden kognitif sebanyak 10 responden.
Sedangkan yang berada pada range
Berdasarkan grafik 2 diatas, tampak usia 70-74 tahun mengalami ganggu-
bahwa responden paling banyak an gerak sebanyak 15 responden dan
dengan Kriteria Indeks Katz B dan C mengalami gangguan kognitif seba-
yaitu masing-masing 11 responden nyak 11 responden.
(30,5%) dan responden paling sedikit
dengan Kriteria Indeks Katz E yaitu 4. Karakteristik Responden Menurut
sebanyak 5 responden (13,9%) Cara Berjalan
3. Karakteristik Responden Menurut Distribusi responden berdasarkan
gangguan Gerak dan Fungsi Kognitif cara berjalan dipaparkan dalam tabel
Distribusi responden berdasarkan 1 sebagai berikut:
gangguan gerak yang ditentukan
berdasarkan Indeks Katz dan Fungsi Tabel 1. Distribusi Responden
Berdasarkan Kesulitan Berjalan
Kognitif yang ditentukan berdasarkan
score Status Mini Mental dipaparkan Kesulitan
NO Jumlah Prosentase
dalam grafik 3 sebagai berikut : Berjalan
1 Tidak 22 61,1
Kesulitan
Berjalan
2 Kesulitan 14 38,9
Berjalan
Jumlah 36 100

Berdasarkan tabel diatas, tampak


bahwa responden paling banyak de-
ngan tidak kesulitan berjalan yaitu
Grafik 3 Distribusi Gangguan Gerak 22 responden (61,1%) dan responden
dan Fungsi Kognitif Responden paling sedikit dengan kesulitan

Gangguan Gerak dan Fungsi Kognitif pada Wanita Lanjut Usia (Totok Budi S. dan Alfina Shofia NR) 45
bejalan yaitu sebanyak 14 responden yaitu rata-rata berumur 68,47 tahun,
(38,9%) nilai minimum 61 tahun, nilai mak-
5. Karakteristik Responden Menurut simum 74 tahun dan standar deviasi
Postur sebesar 4,1 tahun tahun. Pada data
Distribusi responden berdasarkan sebaran gangguan gerak didapatkan
postur dipaparkan dalam tabel 2 rata-rata (Mean) sebesar 2,22 ,nilai
sebagai berikut : minimum 1, nilai maksimum 4, dan
standar deviasi 1. Sedangkan pada
Tabel 2. Distribusi Responden sebaran data fungsi kognitif dida-
Berdasarkan Postur patkan rata-rata (Mean) sebesar 20,5
NO Postur Jumlah Prosentase
dengan nilai minimum 10, nilai
maksimum 29, dan standar deviasi
1 Normal 12 33,3
sebesar 4.
2 Tidak 24 66,7
Normal
Jumlah 36 100
B. Analisis Data
1. Hubungan antara Umur dan Gang-
guan Gerak
Berdasarkan tabel 2 di atas, tampak
Hasil perhitungan uji Product Mo-
bahwa responden paling banyak
ment diperoleh nilai signifikansi (p-
dengan postur tidak normal yaitu 24
value) sebesar 0,001. Hipotesis pene-
responden (66,7%) dan responden
litian diterima jika nilai probabilitas
paling sedikit dengan postur normal
aktual lebih kecil dari probabilitas
yaitu sebanyak 12 responden
yang diisyaratkan (0,05). Perban-
(33,3%).
dingan nilai probabilitas menunjuk-
kan nilai probabilitas aktual lebih
6. Deskripsi Data Umur, Gangguan
kecil dari probabilitas yang diisya-
Gerak dan Fungsi Kognitif
ratkan atau 0,001<0,05. Berdasarkan
Berdasarkan Tabel 3, tampak
kriteria tersebut menunjukkan bah-
sebaran data umur dengan jumlah
wa ada hubungan antara umur dan
responden sebanyak 36 responden

Tabel 3. Hasil Pengambilan Data Umur, Gangguan Gerak dan Fungsi Kognitif

Jumlah Rata-Rata Standar


Variabel Minimum Maksimum
Responden (Mean) Deviasi

Umur 36 68,47 61 74 4,158


Gangguan Gerak 36 2,22 1 4 1,045
Fungsi Kognitif 36 20,53 10 29 4,501

46 Jurnal Kesehatan, ISSN 1979-7621, Vol. 4, No. 1, Juni 2011: 41-57


gangguan gerak yang signifikan. Setelah dilakukan uji kenormalan
2. Hubungan antara Umur dan Fungsi data, maka pengujian statistik
Kognitif dilakukan dengan uji korelasi Chi
Setelah dilakukan uji kenormalan Square yaitu suatu uji parametrik
data, maka pengujian statistik di- untuk mengetahui hubungan antara
lakukan dengan uji korelasi Product variabel bebas dan variabel terikat.
Moment yaitu suatu uji untuk me- Hasil perhitungan uji Chi Square
ngetahui hubungan antara variabel diperoleh nilai signifikansi (p-value)
bebas dan variabel terikat. Hasil sebesar 0,001. Hipotesis penelitian
perhitungan uji Product Moment diterima jika nilai probabilitas aktual
diperoleh nilai signifikansi (p-value) lebih kecil dari probabilitas yang
sebesar 0,051. Hipotesis peneliti-an diisyaratkan (0,05). Perbandingan
diterima jika nilai probabilitas aktual nilai probabilitas menunjukkan nilai
lebih kecil dari probabilitas yang probabilitas aktual lebih kecil dari
diisyaratkan (0,05). Perbandingan probabilitas yang diisyaratkan atau
nilai probabilitas menunjukkan nilai 0,000<0,05. Berdasarkan kriteria
probabilitas aktual lebih besar dari tersebut me-nunjukkan bahwa ada
proba-bilitas yang diisyaratkan atau hubungan antara gangguan gerak
0,051<0,05. Berdasarkan kriteria dan fungsi kognitif yang signifikan.
tersebut menunjukkan bahwa tidak Selanjutnya untuk mengetahui
ada hubungan antara umur dan seberapa besar hubungan gangguan
fungsi kognitif yang signifikan. gerak dan fungsi kognitif dalam
3. Hubungan antara Gangguan Gerak bentuk persen, maka dilakukan uji
dan Fungsi Kognitif odds ratio.

Tabel 4. Jumlah Masing-Masing Kriteria Gangguan Gerak dan Fungsi

Gangguan
Gangguan Tidak Ada
Kognitif TOTAL
Kognitif Berat Gangguan
Ringan
Kriteria Indeks Katz B 0 4 7 11
Kriteria Indeks Katz C 0 9 2 11
Kriteria Indeks Katz D 2 6 1 9
Kriteria Indeks Katz E 5 0 0 5
TOTAL 7 19 10 36

Gangguan Gerak dan Fungsi Kognitif pada Wanita Lanjut Usia (Totok Budi S. dan Alfina Shofia NR) 47
Setelah dilakukan uji regresi seder- syaratan inklusi dan eksklusi. Pene-
hana didapatkan bahwa nilai hubu- litian dilakukan di Panti Wredha Aisyi-
ngan antara gangguan gerak yang di- yah pada tanggal 9 Oktober 2009 dan
nilai berdasarkan Indeks Katz dan di panti Wredha Darma Bakti pada
fungsi kognitif yang dinilai berdasar- tanggal 10 Oktober 2009.
kan Status Mini Mental, didapatkan Karakteristik responden yang
hasil bahwa gangguan gerak me- peneliti dapatkan dari hasil penelitian
miliki pengaruh sebesar 68,5 % ini berdasarkan usia adalah responden
terhadap fungsi kognitif. paling banyak dengan usia 70-74 tahun
yaitu 15 responden (41,7%) dan res-
C. Gambaran Umum Responden ponden paling sedikit dengan usia 60-
Penelitian ini merupakan pene- 64 tahun yaitu sebanyak 7 responden
litian survei/observasi dengan pen- (19,4%). Hardywinoto & Setiabudi
dekatan cross sectional, untuk menge- (1999) mengatakan bahwa penduduk
tahui hubungan antara gangguan gerak lansia menurut Undang-undang Repu-
dan fungsi kognitif pada wanita lanjut blik Indonesia nomor 13 tahun 1998 ten-
usia di Surakarta. Peneliti mengambil tang kesejahteraan lanjut usia adalah
sampel pada dua panti wredha di Sura- penduduk yang telah mencapai usia 60
karta yang cukup besar yaitu Panti (enam puluh) tahun ke atas. Lanjut usia
Wredha Aisiyah dan Panti Wredha Dar- adalah orang yang sistem-sistem bio-
ma Bakti. Alasan peneliti mengmbil logisnya mengalami perubahan-per-
sampel pada kedua panti Wredha ter- ubahan struktur dan fungsi dikarena-
sebut karena setelah dilakukan obser- kan usianya yang sudah lanjut (Aswin,
vasi sebelumnya didapatkan kedua 2003). Batasan usia pada lansia (Badrus-
tempat ini merupakan dua panti wre- shalih, 2008) adalah sebagai berikut : (1)
dha yang cukup memiliki penghuni menurut WHO meliputi usia perte-
yang banyak dan beragam dikarenakan ngahan atau midlle age (45-59 tahun),
jumlah panti wredha di Surakarta yang lanjut usia pertama atau elderly (60-74
sangat minimal. Selain itu, kedua panti tahun), lanjut usia kedua atau old (75-
wredha tersebut berpenghuni lanjut 90 tahun), sangat tua atau very old (usia
usia wanita sesuai dengan sampel yang diatas 90 tahun).
ingin teliti. Karakteristik responden ber-
Populasi pada penelitian ini yai- dasarkan kesulitan berjalan yang di-
tu seluruh penghuni wanita Panti Wre- dapatkan adalah responden paling
dha Aisiyah dan Panti Wredha Darma banyak dengan tidak kesulitan berjalan
Bakti yang berjumlah 48 orang. Sampel yaitu 22 responden (61,1%) dan respon-
penelitian berjumlah 36 orang yaitu den paling sedikit dengan kesulitan
total populasi yang memenuhi per- berjalan yaitu sebanyak 14 responden

48 Jurnal Kesehatan, ISSN 1979-7621, Vol. 4, No. 1, Juni 2011: 41-57


(38,9%). Setelah kolagen mencapai pun- kurangnya jaringan sendi dan ukuran
cak fungsi atau daya mekaniknya ka- tulang secara keseluruhannya me-
rena penuaan, daya elastisitas dan ke- nyebabkan kekakuan dan penurunan
kakuan dari kolagen menurun karena kekuatannya. Hal ini berdampak ter-
mengalami perubahan kualitatif dan jadi osteoporosis yang selanjutnya da-
kuantitatif sesuai penuaan Perubahan pat mengakibatkan nyeri serta defor-
pada kolagen itu merupakan penyebab mitas.
turunnya fleksibilitas pada lansia se-
hingga menimbulkan dampak berupa D. Hubungan Umur dengan Gang-
nyeri, penurunan kekuatan otot dan pe- guan Gerak
nurunan kemampuan bergerak dari Pada penelitian ini didapatkan
duduk ke berdiri, jongkok dan berjalan, hasil bahwa terdapat hubungan antara
serta terjadi hambatan dalam melaku- umur dan gangguan gerak. Data umur
kan aktivitas setiap hari (Pudjiastuti didapatkan dari quisioner dan inter-
dan Utomo, 2003). Aktifitas fisik ter- view serta data gangguan gerak di-
masuk mobilitas diidentifikasi me- dapatkan dari pemeriksaan Indeks
rupakan salah satu faktor yang diduga Katz. Hal ini sesuai dengan penelitian
ada hubungannya dengan fungsi kog- Gruccione (2000) yang menyatakan
nitif. Beberapa studi melaporkan bah- bahwa bertambah tua atau lansia selalu
wa usia lanjut yang mengalami ke- berhubungan dengan penurunan ting-
sulitan melakukan pergerakan fisik kat aktivitas fisik. Hal ini disebabkan
atau tidak aktif, akan terjadi perbedaan oleh 3 hal, yaitu : (1) perubahan pada
dalam jumlah skor fungsi kognitifnya struktur dan jaringan penghubung
(Yaffe et al., 2003). (kolagen dan elastin) pada sendi, (2)
Karakteristik responden ber- tipe dan kemampuan aktivitas pada
dasarkan postur didapatkan hasil lansia berpengaruh sangat signifikan
bahwa responden paling banyak de- terhadap struktur dan fungsi jaringan
ngan postur tidak normal yaitu 24 res- pada sendi, (3) patologi dapat mem-
ponden (66,7%) dan responden paling pengaruhi jaringan penghubung sendi,
sedikit dengan postur normal yaitu se- sehingga menyebabkan functional
banyak 12 responden (33,3%). Menurut limitation atau keterbatasan fungsi dan
Rochmah & Aswin (2001) menyatakan disability. Faktor-faktor lain yang dapat
bahwa perubahan fisik karena pe- mempengaruhi penurunan tingkat
rubahan komposisi tubuh yang me- aktivitas fisik lansia adalah genetik, ke-
nyertai pertambahan umur umumnya biasaan hidup sebelumnya, trauma
bersifat fisiologis, misalnya turunnya atau kecelakaan, dan lain-lain.
tinggi badan, berat badan, kekuatan Pada lansia seiring dengan ber-
otot serta perubahan postur. Ber- jalannya waktu, terjadi penurunan ber-

Gangguan Gerak dan Fungsi Kognitif pada Wanita Lanjut Usia (Totok Budi S. dan Alfina Shofia NR) 49
bagai fungsi organ tubuh. Penurunan nya rasio otot dengan jaringan lemak
fungsi ini disebabkan karena ber- (Suwono, 2003).
kurangnya jumlah sel secara anatomis. Menua (menjadi tua/aging) ada-
Selain itu berkurangnya aktivitas, in lah suatu proses menghilangnya secara
take nutrisi yang kurang, polusi, serta perlahan-lahan kemampuan jaringan
radikal bebas sangat mempengaruhi untuk memperbaiki diri atau meng-
penurunan fungsi organ-organ tubuh ganti diri dan mempertahankan struk-
pada lansia. tur dan fungsi normalnya, sehingga
Suatu penelitian di Inggris ter- tidak dapat bertahan terhadap jejar
hadap 10.255 orang lansia di atas usia (termasuk infeksi) dan memperbaiki
75 tahun, menunjukkan bahwa pada kerusakan yang diderita (Darmojo &
lansia terdapat gangguan-gangguan Martono, 2000). Sehingga dengan ber-
fisik yaitu arthritis atau gangguan sendi tambah tua atau bertambahnya umur
(55%), keseimbangan berdiri (50%), seseorang maka semakin besar pula
fungsi kognitif pada susunan saraf potensi untuk terjadinya gangguan
pusat (45%), penglihatan (35%), pen- gerak.
dengaran (35%), kelainan jantung (20%),
sesak napas (20%), serta gangguan E. Hubungan Umur dengan Fungsi
miksi (10%) (Sidiarto, 1999). Kognitif
Pada umumnya, seseorang yang Pada penelitian ini didapatkan
mulai tua akan berefek pada menurun- hasil bahwa tidak terdapat hubungan
nya aktivitas. Penurunan aktivitas akan antara umur dan fungsi kognitif. Data
menyebabkan kelemahan serta atropi umur didapatkan dari quisioner dan
dan mengakibatkan kesulitan untuk interview serta data fungsi kognitif di-
mempertahankan serta menyelesaikan dapatkan dari pemeriksaan Status Mini
suatu aktivitas. Selain itu, berbagai Mental. Hal ini sesuai dengan pe-
kondisi medis yang lebih prevalen di nelitian Lumbatobing (2006) yang me-
saat usia lanjut cenderung akan meng- nyatakan bahwa perubahan yang ter-
hambat aktivitas rutin pada individu jadi pada otak akibat bertambahnya
tersebut. Penurunan massa otot ini le- usia antara lain fungsi penyimpanan
bih disebabkan oleh atropi. Namun informasi (storage) hanya mengalami
demikian, kehilangan dari serabut otot sedikit perubahan. Sedangkan fungsi
juga dijumpai. Perubahan ini akan yang mengalami penurunan yang terus
menyebabkan laju metabolik basal dan menerus adalah kecepatan belajar, ke-
laju konsumsi oksigen maksimal ber- cepatan memproses informasi baru
kurang. Otot menjadi lebih mudah dan kecepatan beraksi terhadap rang-
capek dan kecepatan kontraksi akan sangan sederhana atau kompleks, pe-
melambat. Selain dijumpai penurunan nurunan ini berbeda antar individu.
massa otot, juga dijumpai berkurang- Penelitian epdidemiologi di-

50 Jurnal Kesehatan, ISSN 1979-7621, Vol. 4, No. 1, Juni 2011: 41-57


ketahui bahwa penurunan hormon sendiri, dalam waktu lebih dari lima
estrogen pada wanita menopause me- tahun akan mengalami penurunan
ningkatkan resiko penyakit neuro- fungsi kognitif dua kali lebih sering
degeneratif, karena hormon ini di- dibandingkan laki-laki yang telah me-
ketahui memegang peranan penting nikah, atau hidup dengan seseorang/
dalam memelihara fungsi otak (Czon- keluarga pada beberapa tahun (Gelder
kowska, 2003). Penelitian lain juga di- et al., 2006).
ketahui ada hubungan antara, hormon Dari beberapa penelitian diatas
seks dengan sistem memori otak yaitu dapat disimpulkan bahwa tidak hanya
berkaitan dengan sistem syaraf dan umur yang memiliki pengaruh dan hu-
mekanisme neurobiologi (Janowsky, bungan Langsung dengan fungsi kog-
2000). Ada perbedaan yang bermakna nitif, namun berbagai faktor lain yang
skor pemeriksaan status mini mental turut mempengaruhi yaitu tingkat
antara jenis kelamin perempuan de- pendidikan, lingkungan sosial, jenis
ngan laki-laki, dimana perempuan ke- kelamin, status pernikahan dll.
cenderungan untuk memiliki skor
yang rendah (Freidi et al., 1996). F. Hubungan Gangguan Gerak
Pengaruh pendidikan yang telah dengan Fungsi Kognitif
dicapai seseorang dapat mempenga- Hasil penelitian ini juga didapat-
ruhi secara tidak langsung terhadap kan bahwa terdapat hubungan antara
fungsi kognitif seseorang, termasuk gangguan gerak dan fungsi kognitif
pelatihan (direct training). Berdasarkan yang dilihat dari pemeriksaan meng-
teori reorganisasi anatomis menyata- gunakan Indeks Katz untuk gangguan
kan bahwa stimulus eksternal yang gerak dan Status Mini Mental untuk
berkesinambungan akan memper- fungsi kognitifnya. Hal ini sesui dengan
mudah reorganisasi internal dari otak penelitian Yaffe et al. (2001) yang me-
(Sidiarto, 1999). nyatakan bahwa efek aktifitas fisik
Pekerjaaan orang dapat mem- termasuk mobilitas ada hubungannya
pengaruhi fungsi kognitifnya, dimana dengan menurunnya resiko penyakit
perbedaan yang terus-menerus melatih kardiovaskuler dan efek secara lang-
kapasitas otak dapat membantu men- sung juga kepada saraf, sehingga ber-
cegah terjadinya penurunan fungsi dampak pada fungsi kognitif. Namun,
kognitif dan pencegahan dimensia belum diketahui jenis program aktifitas
(Sidiarto, 1999). Status perkawinan di- fisik yang secara langsung mencegah
duga mempengaruhi fungsi kognitif penurunan fungsi kognitif pada usia
seseorang, dimana penelitian tersebut lanjut.
menemukan bahwa laki-laki usia lanjut Proses menua pada manusia
yang mengalami kehilangan pasangan merupakan suatu peristiwa alamiah
atau belum pernah menikah/hidup yang tak terhindarkan. Pada awal ke-

Gangguan Gerak dan Fungsi Kognitif pada Wanita Lanjut Usia (Totok Budi S. dan Alfina Shofia NR) 51
hidupan manusia, perubahan dari satu mental di atas 28, mempunyai tingkat
tahap ke tahap lain bersifat evolusional mobilitas tinggi, status nutrisi yang
menuju tahap kesempurnaan baik baik dan umur diatas 85 tahun (Gill et
emosional maupun fungsional organ- al.,1997). Terdapat hubungan signifikan
organ tubuh. Sebaliknya, pada ke- antara mobilitas dengan kemampuan
hidupan lanjut usia justru terjadi ke- kognitif pada usia lanjut yang dulunya
munduran sesuai dengan hukum alam. mempunyai aktifitas fisik lebih dan
Perubahan atau kemunduran tersebut teratur (Verghese et al., 2006). Faktor-
dikenal dengan istilah menua atau faktor resiko yang terkait dengan mobi-
proses penuaan (Utomo, 2003). litas adalah faktor perilaku seperti me-
Proses penuaan, secara umum rokok, konsumsi alkohol, kurangnya
dipahami sebagai proses pembelahan aktifitas fisik dan tingginya indeks
sel yang merupakan faktor endogenik mass tubuh. Faktor-faktor psikologis
dan tak bisa dihentikan. Sel manusia yang mempengaruhi mobilitas yaitu
terbatas umurnya. Setelah membelah rasa takut jatuh, emosi, dan harapan ter-
50-100 kali kemudian berhenti. Sel pun hadap pertambahan umur (Studenski,
menjadi tua sehingga membuat sese- 2003).
orang mengalami kemunduran secara Betambahnya usia mengakibat-
fisik dan mental. Beberapa mekanisme kan banyak usia lanjut yang me-
yang dapat menjelaskan hubungan ngurangi frekuensi kegiatan sosialnya.
antara aktifitas fisik dan mobilitas Hal ini sering diistilahkan sebagai
dengan fungsi kognitif yaitu aktifitas lepas dari kegiatan kemasyarakatan
fisik menjaga dan mengatur vaskulari- (social disengagement) yaitu proses pe-
sasi ke otak dengan menurunkan te- ngunduran diri secara timbal balik
kanan darah, meningkatkan kadar lipo- pada masa usia lanjut dari lingkungan
protein, meningkatkan produksi en- sosial (Hurlock, 1996). Social disenga-
dhotelial nitric oxide dan menjamin gement sering diungkapkan dalam
perfusi jaringan otak yang adekuat. bentuk penyusutan sumber-sumber
Efek langsung terhadap otak yaitu me- yang bisa dimanfaatkan untuk melaku-
melihara struktur saraf dan me- kan kontak sosial dan menurunnya
ningkatkan perluasan serabut saraf, partisipasi sosial. Bagi sebagian besar
sinap-sinap dan kapilaris (Weuve et al., usia lanjut, kejadian ini merupakan pe-
2004). rubahan besar dalam pola kehidupan
Usia lanjut yang dapat me- sosialnya, yang telah dibentuk dan di-
lakukan ADL (activity of daily living) lakukan selama ini. Semakin terisolir
dengan baik ternyata didukung oleh dari kegiatan sosial, semakin tidak ber-
fungsi kognitif yang baik ditandai kembang dan kecil kesempatan usia
dengan skor pemeriksaan status mini lanjut untuk mengaktualisasikan diri

52 Jurnal Kesehatan, ISSN 1979-7621, Vol. 4, No. 1, Juni 2011: 41-57


(Hurlock, 1996). Fungsi otak sebagai pusat kog-
Perasaan (affect) dan respon peri- nitif manusia dapat dirinci dan dipilah-
laku seseorang mempunyai hubungan pilah. Otak sebelah kiri mempunyai
dengan kontrol sosial yang berkaitan fungsi yang berbeda dengan otak se-
dengan kesehatan seseorang (Tucker et belah kanan. Otak kiri bertugas lebih
al., 2006). Penelitian menyebutkan ada pada pusat kemampuan baca-hitung-
hubungan aktifitas interpersonal yang tulis yang logis analitis, sedangkan
kurang dengan timbulnya stress. Meka- otak kanan pada pusat pemantauan
nisme fisiologis dikemukaan bahwa dan perlindungan diri terhadap ling-
sterss memepengaruhi proses neuro- kungan, sosialisasi, spiritual, musik,
degeneratif khususnya di hipokampus kesenian, peribahasa, dan emosi. Jadi,
dan memegang peranan penting dalam setiap belahan otak mempunyai spe-
proses memori di otak. Hipokampus sialisasi untuk melaksanakan tugas
mengatur respon stress dan bekerja spesifik. Kedua belahan saling ber-
menghambat respon HPA aksis stress. konsultasi dan bekerja sama layaknya
Frekuensi kontak sosial dan tingginya sebuah konser (Darmojo & Martono,
integrasi sosial dan keterikatan sosial 2000).
dapat mengurangi atau memperberat Aktivitas dua belahan otak itu
efek stress pada hipotalamus dan sis- dikoordinasi secara fisiologis melalui
tem saraf pusat. Hubungan sosial ini korpus kalosum atau jembatan emas.
da-pat mengurangi kerusakan otak Melalui serabut saraf jembatan emas
dan efek penuaan (Zunzunegui et al., inilah stimulus dari kedua belahan
2003). Terdapat hubungan bermakna berlalu-lalang sehingga memungkin-
antara memiliki banyak relasi sosial de- kan orang menggunakan kedua bela-
ngan fungsi kognitif pada usia lanjut han secara bergantian serta komple-
perempuan (Beland et al., 2005). menter, menurut situasi dan kondisi
Hubungan sosial yang kurang merupa- tertentu. Mekanisme ini memungkin-
kan faktor resiko penurunan kognitif kan penggunaan otak secara ke-
diantara usia lanjut (Bassuk et al., 1999). seluruhan (Darmojo & Martono, 2000).
Makin banyaknya jumlah jaringan so- Penurunan fungsi otak sebelah
sial dan tingkat keterikatan secara sosial kanan lebih cepat daripada yang kiri.
pada usia lanjut mempunyai hubungan Sehingga pada lansia terjadi penurunan
dengan fungsi kognitif. Jumlah jaringan berupa kemunduran daya ingat visual
sosial yang tinggi dapat mengurangi (misalnya, mudah lupa wajah orang),
rata-rata penurunan kognitif 39% dan sulit berkonsentrasi, cepat beralih per-
tingkat keterikatan sosial mengurangi hatian. Juga terjadi kelambanan pada
rata-rata penurunan kognitif sebesar 91 tugas motorik sederhana seperti berlari,
% (Barnes et al., 2004). mengetuk jari, kelambanan dalam per-

Gangguan Gerak dan Fungsi Kognitif pada Wanita Lanjut Usia (Totok Budi S. dan Alfina Shofia NR) 53
sepsi sensoris serta dalam reaksi tugas seseorang. Sehingga didapatkannya
kompleks dan sifatnya sangat indi- suatu kesimpulan bahwa gangguan ge-
vidual sehingga tidak sama tingkatnya rak memiliki hubungan dengan fungsi
antara satu orang dengan orang lainnya kognitif. Oleh karena itu, dibutuhkan-
(Pudjiastuti, 2003). nya suatu pemahaman dalam menang-
Pada penelitian ini terdapat gulangi permasalahan gangguan gerak
hubungan yang signifikan antara gang- yang dialami oleh lansia sehingga wa-
guan gerak dan fungsi kognitif pada laupun mereka pasti mengalami proses
wanita lanjut usia, dimana gangguan degenerasi, tetapi dapat diperlambat
gerak memiliki kontribusi sebesar 68,5 progresifitasnya. Selain itu diharapkan
% terhadap gangguan kognitif. Sedang- peran serta lingkungan dalam men-
kan sebesar 31,5% sisanya dipengaruhi dukung hubungan sosial para lansia
oleh variabel yang tidak diteliti dalm sehingga dalam keterbatasan yang
penelitian ini. Hal ini sesuai dengan pe- dimiliki, tetapi para lansia dapat tetap
nelitian terdahulu oleh Yaffe et al. (2001) berinteraksi dengan lingkungan se-
yang menyimpulkan bahwa aktifitas hingga fungsi kognitif seperti memori,
fisik termasuk mobilitas diidentifikasi atensi, kalkulasi, dll dapat selalu di-
merupakan salah satu faktor yang di- latih sehingga dapat lebih terjaga fung-
duga ada hubungannya dengan fungsi sinya.
kognitif. Beberapa studi melaporkan
bahwa usia lanjut yang mengalami ke- B. Saran
sulitan melakukan pergerakan fisik Kepada peneliti lain agar dapat
atau tidak aktif, akan terjadi perbedaan memasukkan variabel tingkat pendidi-
dalam jumlah skor fungsi kognitifnya. kan responden sehingga lebih didapat-
kan hasil fungsi kognitif sesuai dengan
KESIMPULAN DAN SARAN latar belakang pendidikan.Kepada res-
A. Kesimpulan ponden diharapkan untuk lebih mem-
Berdasarkan paparan di atas perhatikan aktifitas fungsional dan
maka dapat disimpulkan bahwa ter- aktifitas sosialnya untuk lebih menjaga
dapat hubungan yang secara statistik fungsi kognitif .
dan praktis bermakna antara gangguan
gerak dan fungsi kognitif pada wanita UCAPAN TERIMAKASIH
lanjut usia. Penulis mengucapkan banyak
Hasil penelitian ini semakin terimakasih kepada pengelola dan
memperkuat anggapan yang menyata- seluruh warga penghuni panti wreda
kan bahwa aktifitas merupakan faktor Aisiyah di Sumber dan Panti Wredha
yang mempengaruhi fungsi kognitif Dharma Bakti Surakarta.

54 Jurnal Kesehatan, ISSN 1979-7621, Vol. 4, No. 1, Juni 2011: 41-57


DAFTAR PUSTAKA

Aswin, S., 2003, Pengaruh Proses Menua terhadap Sistem Muskuloskeletal, Dalam
W. Rochmah (ed) : Naskah Lengkap Simposium Gangguan Muskuloskeletal,
Fakultas Kedokteran Universias Gadjah Mada. Yogyakarta, hal. 10-20.

Alvarado, B., Zunzunegui, M., Del Ser, T and Beland, F., 2002 Cognitive Decline is
Related to Education and Occupation in A Spanish Elderly cohort. Aging
Clin Exp Res, 14 (2): 132-142.

Badrussalih, 2008, Senam Bugar Lansia Perwosi DIY (SBL-2000), Perwosi Propinsi,
D.I., Yogyakarta, Yogyakarta.

Barnes, L.K., Leon, M. D., Wilson, R. S., Bienias, J.L. and Evans, D.A., 2004, Social
Recourses and Cognitive Decline in A Population of Older Africans and
Whites. Journal of Neurology, 63(12):2322-2326.

Bassuk, S. S., Glass, A.T. and Berkman, L.F., 1999, Social Disengangement and
Incident Cognitive Decline in Community Dwelling Elderly Person, Journal
of Annals of Internal medicine, 131(3):165-173

Beland, F., Zunzunegui, M. V., Alvarado, B., Otero, A. and Del Ser, T., 2005,
Trajectories of Cognitive Decline and Social Relations. The Journal of
Gerontology Series, 60:320-330.

Czlonkowska, A., Ciesielka, A. and Joniec, H., 2003, Influence of Estrogen on


Neurodegenerative Processes, Med Sci Monit, 9(10):247-256).

Darmojo dan Martono, 2000, Mild Cognitive Impairment (MCI) Gangguan Kognitif
Ringan. Berkala Neuro Sains, 1(1):11-15.

Departemen Kesehatan, 2004, Pemeriksaan Gerontology dalam Berbagai Aspek


[internet]. Tersedia dalam: http://www.depkes.go.id [Diakses 9 Agustus 2009].

Freidl, W., Schmidt, R., Stronegger, W. J., Irmler, A., Reishart, B and Koch, M., 1996,
Mini Mental State Examination: Influence of Sociodemographic,
Environmental and Behavioural Factors and Vascular Risk Factors, Journal
of Clinical Epidemiology, 49(1):73-75.

Gelder, B. M., Tijhuis, M., Kalmijn, S., Giampaoli, S., Nissinen, A. and Kromhout,
2006, Marital Status and Living Situation During a 5-tahun Period are
Associated with A Subsequent 10-tahun Cognitive Decline in older Men:
The FINE Study, The Journal or Gerontology Series, 61:213-219.

Gangguan Gerak dan Fungsi Kognitif pada Wanita Lanjut Usia (Totok Budi S. dan Alfina Shofia NR) 55
Gruccione, 2000, Muscle and Its Desease. An Outline Primer of Basic Science and Clinical
Method, Year Book Medical Publisher, Inc. Chicago

Hardywinoto dan Setiabudhi, T., 1999, Panduan Gerontology Tinjauan dari Berbagai
Aspek, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Hurlock, E. B., 1996, Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang


Kehidupan, Edisi kelima, Maxsijabat, R.ed ; Jakarta.

Janowsky, .J and Chavez, B., 2000, Sex Steroids Modify Working Memory, Journal of
Cognitive Neuroscience, 12(3):407-414.

Komisi Nasional Lansia, 2008, Standar dan pedoman Kesehatan Jiwa Usia [internet],
Tersedia dalam:<http://www.depkes.go.id> [Diakses 19 Juli 2009].

Notoatmojo, 1997, Pengantar Pendidikan Kesehatan dan Ilmu Perilaku Kesehatan,


Yogyakarta : Andi Offset.

Pudjiastuti dan Utomo, 2003, Pelatihan Muskuloskeletal untuk pembinaan


kemampuan Fisik Olahragawan dalam M.M Samekto (ed) : Kumpulan
Makalah Simposium Pembinaan Kesehatan Pasien dari Aspek Pelatihan
Muskuloskeletal, Hal.31-35, Semarang

Rochmah, W. dan Aswin, S., 2001, Tua dan Proses Menua B.I. Ked. 33 (40:22) 227.

Rose, F. C. ed, 1987, Geriatric Symposium on Dementia and Brain Ischaemia.


Introduction to the Pathogenetic Mechanisms of Senile Dementia and its Therapeutic
Approaches, Jakarta: Excerpta Medica.

Saladin, K., 2007, Anatomy and Physiology the Unity of Form and Function. 4th ed. New
York, McGraw-Hill Companies inc:513-561.

Schiff, I. and Walsh, B., 1995 Menopause in K.L. and Becker (ed) : Principles and
Practice of Endocrimology and Metabolism. 2nd ed. J.B. Lippincot Company,
Philadelphia, pp. 915 28.

Sidiarto, L. D., 1999, Tatalaksana dan System Asuhan pada Penyakit Alzheimer/
Demensia. Berkala Neuro Sains, 1(1):31-38.

Studenski, S., 2003, Mobility In:Hazzard, M. D. ed, Principles of Geriatric Medicine and
Gerontology. USA:The McGraw., Hill Companies, Inc: 947-960.

Suwono, W. J., 2003, Demensia suatu Pendeteksian Dini dan Terapinya, Majalah
Kedoktersn Atmajaya, 2(1):39-49.

56 Jurnal Kesehatan, ISSN 1979-7621, Vol. 4, No. 1, Juni 2011: 41-57


Tucker, J. S., Orlando, M., Elliott, M. N. and Klein, D. J., 2006, Affective and
Behavioural Responses to Health-related Social Control, Health Psychology,
25(6):715-722.

Verghese, J., Lipton, B., HaU, B., Kuslansky, G. and Katz, M. J., 2003, Low Blood
Pressure and The Risk of Dementia in Very Old Individuals, Neurology,
61:1667-1672.

Verghese, J., 2006, Cognitive and Mobility Profile of Older Social Dancers, J Am
Geriatrics Soc, 54(8):1241-1244.

Weuve, J., Kang, J. H., Manson, J. E., Breteler, M. B., Ware, J. H and Grodstein, F.,
2004 Physical Activity, Including Walking and Cognitive Function in Older
Women. JAMA, 292(12):1454-1461.

WHO, 1998, Women Ageing and .Health, Achieving Health Across the Life Span,
Geneva:WHOMPR/AHE/HPD/95. 12rd ed.

WHO, 1998, The Role of Physical Activity in Healthy Ageing, Geneva: VfHOMPRIAHE/
98.2. 2"4 ed.

Yaffe, K., Barnes, D., Nevitt, M., Lui, Y. L. and Covinsky, K., 2001, A Prospective
Study of Physical Activity and Cognitive Decline in Elderly Women, Arch
Intem Med, 161(14):1703-1708.

Zunzunegui, M. V., Alvarado, B. E., Del Ser, T. and Otero, A., 2003, Social Network,
Special Integration and Social Engagement Determine Cognitive Decline in
Community-dwellir,;g Spanish Older Adults, The Journal of Gerontology Series,
58:33-100.

Gangguan Gerak dan Fungsi Kognitif pada Wanita Lanjut Usia (Totok Budi S. dan Alfina Shofia NR) 57