Anda di halaman 1dari 15

ION EXCHANGER

ION EXCHANGER

ION EXCHANGER

I. Pengertian Demineralisasi

Air merupakan kebutuhan utama dalam kehidupan manusia baik dari segi kualitas
maupun kuantitas. Oleh karena itu, apabila kedua faktor di atas tidak terpenuhi maka akan dapat
mengancam kelangsungan hidup manusia. Dalam pemanfaatannya, air dikategorikan sebagai air
rumah tangga dan air industri.Masing-masingnya memiliki syarat tertentu seperti syarat fisik,
kimia dan biologis.Persyaratan ini juga berlaku pada air industri.
Salah satu parameter air industry adalah kandungan mineral dalam air.Mineral tersebut
dapat berupa kation seperti Ca2+, dan Mg2+ dan kandungan anion seperti SO42-, CO22-. Jika
mineral tersebut terkandung di dalam air maka akan mengakibatkan air menjadi sadah. Bagi
dunia industri, kesadahan dapat menimbulkan masalah tersendiri, misalnya mengakibatkan kerak
sehingga mengurangi efisiensi panas dan lambat laun mengakibatkan peralatan industri rusak.
Kesadahan air sendiri terdiri dari dua sifat yaitu permanen dan sementara.Kesadahan
sementara merupakan kesadahan yang terbentuk oleh garam-garam karbonat dan
bikarbonat.Sedangkan kesadahan tetap atau permanen berasal dari garam-garam Cl- dan SO42-.

Gambar 1. Ion-ion Kesadahan

2. Penghilangan Kesadahan Air

Melihat dari dampak yang ditimbulkan maka, penghilangan kesadahan dalam air industri
menjadi sebuah kebutuhan. Ditinjau dari metode yang digunakan, terdapat tiga proses
penghilangan kesadahan yaitu secara kimiawi dan non kimiawi. Proses non kimiawi biasanya
digunakan untuk kesadahan sementara. Yakni melalui pemanasan. Sedangkan proses kimiawi
dilakukan proses softening dan emineralisasi.

a. Softening
Softening merupakan proses penghilangan mineral kation dalam air. Secara khusus,
proses ini menghilangkan kation seperti Ca2+, Mg2+ dengan menggunakan media resin. Dalam
proses softening resin yang digunakan adalah resin Na (Resin yang mengandung ikatan Na)

KELOMPOK 5 Page 2
ION EXCHANGER

Gambar 2. Reaksi pada Softening

atau dapat dituliskan sebagai berikut:

Gambar 3. Reaksi pada


Softening

b. Demineralisasi

Pengertian demineralisasi ialah proses penghilangan mineral-mineral yang terlarut di


dalam air, umumnya menggunakan media penukar ion yang dibedakan atas muatan listrik yang
terkandung di dalamnya menjadi: penukar kation dan penukar anion. Zat pengotor (pembuat
sadah) digantikan dengan zat penukar ion dengan ion H dan OH, dalam bentuk air murni. H + dan
OH- berwujud ikatan pada resin.Proses ini mampu menghasilkan air dengan tingkat kemurnian
yang sangat tinggi (ultrapurewater). Kandungan ionik dan an-ioniknya mendekati angka nol
sehingga mencapai batas yang hampir tidak dapat dideteksi lagi.Demineralisasi seringkali
disebut dengan deionisasi atau ion exchanger karena melibatkan dua penukar ion yaitu penukar
anion dan penukar kation.

Gambar 4. Tahapan Proses Demineralisasi

KELOMPOK 5 Page 3
ION EXCHANGER

Pada tabung yang berisikan resin kation terjadi proses pertukaran ion-ion positif seperti
Magnesium (Mg), Calcium (Ca) dan Natrium (Na) dengan ion H+ dari resin kation, sedangkan
pada tabung anion terjadi pertukaran ion-ion negatif seperti Cl-, SO42+, SiO22-dengan ion OH-
dari resin anion.

Gambar 4. Reaksi dalam Resin Kation

Gambar 5. Reaksi dalam Resin Anion

Demineralisasi dengan Resin

Resin penukar ion merupakan salah satu metode pemisahan menurut perubahan kimia.
Resin penukar ion ada dua macam yaitu resin penukar kation dan resin penukar anion. Jika
disebut resin penukar kation maka kation yang terikat pada resin akan digantikan oleh kation
pada larutan yang dilewatkan. Begitupun pada resin penukar anion maka anion yang terikat pada
resin akan digantikan pleh anion pada larutan yang dilewatkan ( Wahono,2007 ).
Jenis Resin ada dua yaitu Resin Anion dan Resin Kation. Berikut penjelasan masing-
masing:
a. Resin Penukar Kation

Adalah resin yang akan menukar atau mengambil kation dari larutan. Apabila yang
dialirkan larutan garam, MX kedalam buret yang telah berisi resin penukar kation, maka akan
terjadi suatu reaksi pertukaran :

MX (aq) + Res-H HX (aq) + Res-M

b. Resin Penukar Anion

KELOMPOK 5 Page 4
ION EXCHANGER

Adalah resin yang akan menukar dan mengambil anion dari larutan. Apabila dialirkan
suatu larutan dalam buret yang telah berisi resin penukar anion, maka akan terjadi suatu reaksi
penukaran :

MX (aq) + Res-H H2O (aq) + Res-X

Resin penukar anion yang positif adalah gugus yang dapat terionisasi memberikan
ionnya, misalnya penukar anion amkuartener, merupakan penukar anion yang sangat kuat,
sedangkan resin penukar anion basa lemah yang mengandung gugus ion. Baik penukar anion
maupun penukar kation dapat dianggap sebagai resin suatu senyawa asam atau basa yang tidak
larut dan dapat berreaksi sebagai asam atau basa. Tetapi bagian yang terikat pada struktur
atomnya tidak dapat lepas.

Ion yang dapat menggantikan muatannya dengan ion disebut counter ion, digunakan
untuk penukar kation dalam kation dan penukar anion dalam anion. Tipe penukar ion dalam
suatu reaksi tertentu, misalnya resin asam salah satu caranya adalah H+ atau muatanlain yang
sama muatannya, penukar ion kita pilih sedemikian rupa sehingga ion yang digantikan adalah H+
atau OH-.

Dalam pertukaran ion, suatu larutan resin dibiarkan mengalir melewati suatu susunan
bahan yang terbuat dari butiran zeolit atau suatu resin pertukaran ion. Ion-ion dalam larutan
menjadi terikat pada bahan itu dan kemudian menggeser ion yang sama tandanya. Pertukaran ion
digunakan dalam pelunakan ion. Pertukaran ion dalam desalinasi adalah sebagian pasangan dari
salah satu proses lain.

Resin pertukaran ion organik menunjukkan sifat-sifat yang menguatkan untuk tujuan-
tujuan pemisahan. Untuk memisahkan ion sering digunakan resin penukar anion, hal ini
disebabkan pada kondisi tertentu ion-ion logam dapat membentuk senyawa komplek anion
dengan ciri-cirinya ion yang bermuatan negatif, dan memiliki pasangan ion yang dapat
disumbangkan untuk membentuk ikatan koordinasi yang baik ( Hiskia, 1994 ).

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemilihan resin. Antara lain:

1. Kapasitas Penukaran Resin

Yang harus diperhatikan meliputi jumlah ion yang dapat dipertukarkan per unit material.Dan
kapasitas penukar kation (Proton exchange capacity, PEC).

Perhitungan Penentuan kapasitas Resin

KELOMPOK 5 Page 5
ION EXCHANGER

2. Selektivitas

Meliputi, jenisnya apakah penukar kation atau anion, selektif terhadap beberapa gugus fungsi
dan distribusi ion logam bervariasi.

3. Porositas
4. Kestabilan Ion
5. Ikatan saling silang.

KELOMPOK 5 Page 6
ION EXCHANGER

Kerusakan Resin

Resin merupakan zat yang mudah rusak. Beberapa sebab kerusakan resin antara lain:

1. Oksidasi.

Hal ini biasanya disebabkan adanya Cl2(klorin) dan ozon dalam air. Terputusnya ikatan
silang dan gugus penukar ion menjadi inaktif, maka perlu dipasang adsorbent karbon sebelum
kolom resin

2. Fouling Pori-pori.

Resin dapat tertutup oleh penyerapan zat organik irreversibel atau partikel koloid. maka perlu
dilakukan penyaringan air dan adsorbentcarbon untuk mencegahnya.

3. Hancur Resin.

Resin dapat cepat hancur jika dialirkan air dengan tekanan yang terus menerus, ataupun
karena resin yang sempat mengering.

Berdasarkan kuat lemahnya, Resin dapat dibedakan menjadi empat.

1. Resin Kation Kuat (Strong Acid Cation-SAC)

Resin ini memiliki dua bentuk yaitu bentuk Resin-Na dan Resin-H. Tingkat ikatan saling
silang 8-10%.Kekuatan tidak tergantung pada kekuatan pH. Bentuk regenerasi pada resin
hidrogen (asam) dengan asam kuat (e.g., HCL). Regenerasi pada resin natrium dengan garam
(NaCl).

KELOMPOK 5 Page 7
ION EXCHANGER

Gambar 6. Spesifikasi SAC

2. Resin Kation Lemah (Weak Acid Cation Resin-WAC

Resin WAC tersedia dalam bentuk (R-COOH). Resin ini memiliki afinitas tinggi untuk ion
hydrogen, sehingga dapat dengan mudah diregenerasi oleh asam secara stoikiometri.Kapasitas
penukaran ion resin meningkat seiring kenaikan pH.Resin WAC tidak digunakan for untuk
larutan dengan pH>6. Resin WAC digunakan untuk demineralisasi dan dealkalinasi

Gambar 7. Spesifikasi WAC


KELOMPOK 5 Page 8
ION EXCHANGER

3. Resin Anion Kuat (Strong Base Anion Resin-SBA)

Resin Strong Base Anion (SBA) mirip dengan asam kuat. Resin SBA biasa dalam bentuk
(R-NH3OH). Reaksi :R-NH3OH + HNO3 R-NH3NO3 + H2 O
Resin SBA digunakan untuk demineralisasi dan dealkalinasi dan regenerasi dapat
dilakukan dengan NaOH.

Gambar 8. Spesifikasi SAB-OH

4. Resin Anion Lemah (Weak Base Anion Resin-WBA)

Resin WBA hampir mirip dengan Basa Lemah. Reaksinya: R-NH2 + HNO3 R-
H3NO3. Kapasitas Resin WBA meningkat seiring menurunnnya pH dari larutan. Tidak dapat
digunakan pada larutan, pH < 6.Resin WBA hanya menyeran anion dari asam kuat seperti ion Cl-
, Ion NO3- dan Ion SO4-. Resin WBA mudah diregenerasikan dengan sejumlah kecil basa kuat
seperti amonia dan Natrium Karbonat.

KELOMPOK 5 Page 9
ION EXCHANGER

Gambar 8. Spesifikasi pada WBA Resin

Tahap Operasi

Gambar 9. Tahap Operasi Demineralisasi

1. Tahap operasi (service, layanan)


Pada tahap ini terjadi reaksi-reaksi seperti ditulis pada Surat Pembaca MAM edisi 150,
Maret 2008.Pada artikel ini reaksi tersebut tidak ditulis kembali.Pembaca dipersilakan merujuk
ke MAM edisi Maret 2008. Umumnya air baku mengalir dari atas ke bawah (downflow). Pada

KELOMPOK 5 Page 10
ION EXCHANGER

artikel ini disisipkan juga sebuah unit tipikal demineralisasi dengan dua media (two bed
demineralizer).

2. Tahap cuci (backwash)


Kalau kemampuan resin berkurang banyak atau habis maka tahap pencucian perlu
dilaksanakan. Air bersih dialirkan dari bawah ke atas (upflow) agar memecah sumbatan pada
resin, melepaskan padatan halus yang terperangkap di dalamnya lalu melepaskan jebakan gas di
dalam resin dan pelapisan ulang resin.

3. Tahap regenerasi
Tujuan tahap ini adalah mengganti ion yang terjerat resin dengan ion yang semula ada di
dalam media resin dan mengembalikan kapasitas tukar resin ke tingkat awal atau ke tingkat yang
diinginkan. Operasi regenerasi dilaksanakan dengan mengalirkan larutan regeneran dari atas
resin. Ada empat tahap dalam regenerasi, yaitu backwahing untuk membersihkan media resin
(tahap dua di atas), memasukkan regeneran, slow rinse untuk mendorong regeneran ke media
resin, fast rinse untuk menghilangkan sisa regeneran dari resin dan ion yang tak diinginkan ke
saluran pembuangan (disposal point).

Proses Regenerasi resin :

a.Kation

Gambar 9. Proses Reaksi Regenerasi di Kation

b.Anion

Gambar 10. Proses Reaksi Regenerasi di Anion

4. Tahap bilas (fast rinse).


Air berkecepatan tinggi membilas partikulat di dalam media resin, juga ion kalsium dan
magnesium ke pembuangan dan untuk menghilangkan sisa-sisa larutan regenerasi yang

KELOMPOK 5 Page 11
ION EXCHANGER

terperangkap di dalam resin.Pembilasan dilakukan dengan air bersih aliran ke bawah.Setelah


tahap ini, proses kembali ke awal (tahap service).

Macam-macam Resin yang biasa digunakan

Demineralisasi berdasarkan prosesnya:

a. Mixed bed demineralizer


Mixedbed adalah suatu proses demineralisai air dimana hanya terdapat 1 tabung ion
exchanger yang akan memproses penukaran ion-ion dengan resin. Jadi dalam tipe mixed bed ini
tidak dibedakan antara penukaran kation dan anionya, namun dilakukan dalam satu exchanger.

Gambar 11.Sistem Mixed Bed

Air destilat dipompakan dengan mempergunakan destilat water booster pump, masuk
kedalam kolom mixed-bed yang berisi resin kation dan anion (tercampur homogen). Pada waktu
melewati resin terjadi pengambilan ion-ion yang menjadi pengotor yang terlarut dalam air
destilat, ion positif diambil oleh resin cation dan ion negatif diambil oleh resin anion. Setelah
melewati resin di dalam kolom resin, air keluar dari bagian bawah sebagai air produk mixed-bed
demineralizer yang merupakan air bebas mineral disebut air demin (demine water), selanjutnya
ditampung di dalam demine tank yang akan dipergunakan sebagai air pengisi ketel (boiler
feedwater) atau sebagai air penambah (make-up water).
Proses ini memiliki kelebihan yaitu waktu yang dibutuhkan lebih singkat dan biaya
operasi relatif lebih rendah. Sedangkan kekurangan sistem ini adalah tingkat kemurnian yang
dihasilkan kurang dan lebih sulit dalam hal pengontrolan.

b. Double Bed Demineralizer

KELOMPOK 5 Page 12
ION EXCHANGER

Untuk tipe double bed ini sebenarnya cara yang dilakukan sama, pada intnya adalah
terdapat penukaran ion-ion kation dan anion dengan resin sehingga mampu menghasilkan air
demin dengan tingkat kemurnian tinggi. Namun dalam system double bed ini perbedaanya
dengan mixed bed adalah ion exchanger dalam double bed ini dibedakan untuk kation exchanger
dan anion exchanger. Jadi penukaran ion-ion nya dilakukajn secara bertahap bisa kation dulu
atau anion dulu.

Gambar 12. Sistem Double Bed

Proses ini memiliki kelebihan yaitu air yang dihasilkan lebih murni dan proses pengontrolannya
lebih mudah. Sedangnkan kekurangannya biaya operasi lebih besar dan waktu yang dibutuhkan
lebih lama

Kelebihan dan Kekurangan Demineralisasi secara umum


Demineralisasi merupakan proses yang banyak dipilih untuk menghilangkan mineral
yang mengganggui proses. Meskipun begitu demineralisasi memiliki kekurangan dan kelebihan.
Berikut penjelasannya:
a. Keuntungan
- Investasi awal yang dibutuhkan untuk proses ini lebih murah jika dibandingkan
dengan aplikasi water treatment system lainnya seperti reverse osmosis.
- Aplikasi ini tidak membutuhkan terlu banyak tempat untuk instalasinya.
- Biaya yang ditimbulkan untuk proses regenerasi ataupun pergantian media resin jika
dikalkulasikan untuk jangka waktu satu tahun cukup besar sehingga membutuhkan
anggaran yang bersifat rutin atau regular.

KELOMPOK 5 Page 13
ION EXCHANGER

b. Kerugian Demineralisasi :

- Tidak dapat menghilangkan partikel-partikel kecil, pirogen atau bakteri


- Biaya operasionalnya relatif mahal.
- Sistem ini memerlukan bantuan sistem lain untuk menghasilkan air yang benar-benar
murni.
- Resin penukar ion juga tidak dapat dicuci selama proses berlangsung sehingga air yang
stagnan dalam cartride menjadikan kondisi yang mendorong pertumbuhan bakteri.Sistem
ini juga tidak dapat mengurangi seluruh mineral organik terlarut yang terdapat dalam air
umpan.
- Kontaminasi Resin dengan Klorida karena klorin merusak resin.

Reverse Osmosis

Terdapat dua tipe membran yang dapat digunakan untuk proses desalinasi, yaitu reverse
osmosis (RO) dan electrodialysis (ED). Pada proses desalinasi menggunakan membran RO, air
pada larutan garam dipisahkan dari garam terlarutnya dengan mengalirkannya melalui membran
water-permeable. Permeate dapat mengalir melalui membran akibat adanya perbedaan tekanan
yang diciptakan antara umpan bertekanan dan produk, yang memiliki tekanan dekat dengan
tekanan atmosfer. Sisa umpan selanjutnya akan terus mengalir melalui sisi reaktor bertekanan
sebagai brine. Proses ini tidak melalui tahap pemanasan ataupun perubahan fasa. Kebutuhan
energi utama adalah untuk memberi tekanan pada air umpan. Desalinasi air payau membutuhkan
tekanan operasi berkisar antara 250 hingga 400 psi, sedangkan desalinasi air laut memiliki
kisaran tekanan operasi antara 800 hingga 1000 psi.
Dalam praktiknya, umpan dipompa ke dalam container tertutup, pada membran, untuk
meningkatkan tekanan. Saat produk berupa air bersih dapat mengalir melalui membran, sisa
umpan dan larutan brine menjadi semakin terkonsentrasi. Untuk mengurangi konsentrasi garam
terlarut pada larutan sisa, sebagian larutan terkonsentrasi ini diambil dari container untuk
mencegah konsentrasi garam terus meningkat.

Gambar 13. Mekanisme Reverse Osmosis

KELOMPOK 5 Page 14
ION EXCHANGER

Sistem RO terdiri dari 4 proses utama, yaitu (1) pretreatment, (2) pressurization, (3)
membrane separation, (4) post teatment stabilization. Pretreatment: Air umpan pada tahap
pretreatment disesuaikan dengan membran dengan cara memisahkan padatan tersuspensi,
menyesuaikan pH, dan menambahkan inhibitor untuk mengontrol scaling yang dapat disebabkan
oleh senyawa tetentu, seperti kalsium sulfat. \

Proses reverse osmosis dibagi menjadi beberapa tahap seperti:


a. Pressurization: Pompa akan meningkatkan tekanan dari umpan yang sudah melalui
proses pretreatment hingga tekanan operasi yang sesuai dengan membran dan salinitas air
umpan.
b. Separation: Membran permeable akan menghalangi aliran garam terlarut, sementara
membran akan memperbolehkan air produk terdesalinasi melewatinya. Efek
permeabilitas membran ini akan menyebabkan terdapatnya dua aliran, yaitu aliran produk
air bersih, dan aliran brine terkonsentrasi. Karena tidak ada membran yang sempurna
pada proses pemisahan ini, sedikit garam dapat mengalir melewati membran dan tersisa
pada air produk. Membran RO memiliki berbagai jenis konfigurasi, antara lain spiral
wound dan hollow fine fiber membranes.
c. Stabilization: Air produk hasil pemisahan dengan membran biasanya membutuhkan
penyesuaian pH sebelum dialirkan ke sistem distribusi untuk dapat digunakan sebagai air
minum. Produk mengalir melalui kolom aerasi dimana pH akan ditingkatkan dari sekitar
5 hingga mendekati 7.

Gambar 14. Proses Reverse Osmosis

KELOMPOK 5 Page 15