Anda di halaman 1dari 13

TUGAS UJIAN TENGAH SEMESTER (UTS) I

HUBUNGAN TEORI KARI MARIE MARTINSEN PHILOSOPY OF


CARING DENGAN RENCANA TOPIK PENELITIAN TESIS

Oleh:

SANDA PRIMA DEWI


131714153082

PROGRAM STUDI MAGISTER KEPERAWATAN


FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2017
A. TEORI PHILOSOPHIOF CARING MENURUT KARI MARIE

MARTINSEN

Karl Marie Martinsen, seorang perawat dan seorang penyusun teori

filosofi keperawatan lahir di Oslo, Norwegia tahun 1943 ketika terjadi perang

dunia ke II saat Jerman mengekspansi Norwegia. Beliau meruapakan filosofi

yang terkenal dengan Philosophiof caring. Teori filosofikal, ilmiah dasar dan

aplikasi praktis yang dikembangkan oleh Kari Marie Martinsen berfokus pada

telaah di sisi moral keperawatan, dan etika keperawatan serta caring, yang

mengadopsi pada tiga filsuf secara khusus, antara lain: filsuf jerman, politisi

dan sosialis, Karl Marx (1818-1883); filsuf jerman dan pendiri fenomenologi,

Edmund Husserl (1859-1938); serta filosofis Perancis dan fenomenolog tubuh,

Merleau-Ponty (1908-1961). Martinsen juga memperluas sumber-sumber

teoritisnya dengan memasukkan filsuf lain, teolog, dan sosiolog, antara lain:

Martin Heidegger (1889 1976), seorang fenomenologis Jerman dan murid

dari Husserl; Knud Eiler Logstrup (1905 1981), seorang filosofis Denmark

dan teologis; Max Weber (1864 1920), seorang sosiologis Jerman dan

memiliki signifikansi yang besar dalam filsafat ilmu sosial; Michel Foucault,

seorang filosofis; Paul Ricoeur (1913 sekarang), seorang filosofis Perancis.

Teori filosofikal, ilmiah dasar dan aplikasi praktis yang dikembangkan

oleh Kari Marie Martinsen berfokus pada telaah di sisi moral keperawatan,

dan etika keperawatan serta caring. Pandangan dunia fenomenologis berbasis

Martinsen adalah manusia tidak dapat dipahami atau dipertimbangkan dalam


isolasi dari lingkungannya. Manusia dan lingkungan merupakan suatu

perangkat yang menyebabkan setiap situasi tergantung konteks dan bersifat

unik.

Caring yang berhubungan atau menekankan rasa empati, refleksi,

keterbukaan dan kemurahan hati dan kepercayaan. Pada pelaksanaan asuhan

keperawatan di masyarakat saling terkait satu sama lainnya, karena pelayanan

yang diberikan haruslah bersifat komprehensif dan berkesinambungan karena

kebutuhan tiap individu berbeda satu sama lainnya, maka perawat haruslah

bersikap sesuai dengan kebutuhan pasien saat itu (Alligood, M. R., & Tomey,

A. M, 2010).

Konsep Dasar Terkait Paradigma Dalam Keperawatan dan Definisinya

1. Keperawatan

Asumsi dasar philosophical caring termasuk dalam hal praktik

keperawatan dimana perawat memberikan asuhan keperawatan merawat

dan peduli pada orang lain. Hal yang harus diperhatikan ketika melakukan

caring ke pasien yaitu : caring berkaitan dengan hubungan, praktik, dan

moral. Caring dapat praktikkan dalam kasus nyata dimana caring

melibatkan setidaknya dua orang atau lebih yang saling berinteraksi.

Caring yang berkaitan dengan moral dapat diartikan sebagai situasi dalam

mencapai tujuan yang diinginkan didasarkan pada evaluasi tindakan

keperawatan.
2. Manusia

Menurut Martinsen (1975), manusia tidak dapat dipisahkan dari

lingkungan sosial dan komunitasnya. Martinsen berpendapat bahwa

terdapat hubungan yang paralel antara manusia dengan tubuhnya. Sebagai

tubuh, manusia berhubungan dengan diri sendiri, orang lain, dan dunia,

sedangkan manusia adalah tubuh itu sendiri dimana sebagai tubuh,

manusia mempunyai persepsi dan pemahaman. Tubuh terdiri dari jasmani

dan jiwa.

3. Kesehatan

Sehat adalah refleksi dari kondisi organisme, selain itu juga merupakan

ekspresi tingkat kompetensi dalam pengobatan. Dampak yang

membahayakan dari pengobatan dan pelayanan yang tidak adekuat bagi

orang yang menderita penyakit kronis menyebabkan Martinsen kembali

berpikir ke konsep konservatif yaitu sehat secara ideal.

4. Lingkungan

Manusia selalu berada dalam situasi yang berbeda dari satu tempat ke

tempat yang lain dan dalam ruang yang satu ke ruang yang lain (berada

dalam tempat dan ruang khusus). Dilihat dari dimensi ruang terdapat

waktu, ambience, dan kekuatan. Martinsen menyatakan bahwa waktu,

arsitektur, dan pengetahuan dapat bekerja terhadap ambience suatu

dimensi ruang. Arsitektur, hubungan dengan orang lain, penggunaan


obyek, kata-kata, pengetahuan, keberadaan kita di dalam ruangan,

semuanya tersusun teratur dalam ruang dan situasi. Manusia masuk dalam

ruang universal, ruang alami, tetapi melalui penciptaan ruang budaya. Kita

membangun rumah dengan ruangan-ruangan dan aktivitas pelayanan

kesehatan menempati ruangan yang berbeda (Alligood, M. R., & Tomey,

A. M, 2010).

Struktur Ide Philosophy of Caring

1. Perawatan

Perawatan adalah suatu bentuk yang bukan hanya sekadar nilai dasar

keperawatan, tetapi juga merupakan nilai dasar hidup kita. Perawatan ialah

perkembangan positif individu ke arah yang lebih baik. Perawatan

berbentuk trinitas, terdiri dari hubungan, praktik, dan moral yang terjadi

secara simultan. Perawatan mempunyai arah untuk menuju situasi orang

lain. Dalam konteks profesional, perawatan memerlukan pendidikan dan

latihan. Tanpa pengetahuan profesional, hubungan dengan pasien akan

berubah menjadi sentimentil. Tanpa perwalian, tidak ada kelalaian, dan

tidak sentimentil merupakan ekspresi dari perawatan.

2. Penilaian Profesional

Penilaian profesional menunjukkan kualitas suatu hubungan yang

sebenarnya. Hal ini bisa dicapai melalui latihan menilai secara profesional

baik dalam praktik maupun kehidupan sehari-hari berdasarkan observasi


klinis kita. Penilaian profesional tidak hanya dilatih dengan melihat,

mendengar dan menyentuh secara klinis, tetapi juga perlu dilatih

bagaimana melihat, mendengar, dan menyentuh secara klinis dengan cara

yang baik dan benar. Pasien memberikan kesan yang berbeda-beda pada

kita (perawat) karena persepsi seseorang memiliki analog dengan variasi

karakter yang ditimbulkannya dan bergantung pada situasi tertentu. Satu

hal yang perlu diingat dan direnungkan adalah adanya hubungan antara

kesan dengan situasi, pengetahuan profesional yang dimiliki, dan

pengalaman sebelumnya. Kebijaksanaan menunjukkan pengetahuan

profesional melalui kepekaan alami dan bahasa sehari-hari.

3. Praktik Moral Ditemukan Dalam Perawatan

Praktik moral dapat terjadi bila empati dan refleksi ditampilkan secara

bersama-sama saat bekerja sehingga caring dapat diekspresikan dalam

tindakan keperawatan. Moral itu ada dalam situasi nyata yang harus

diperhitungkan. Tindakan kita perlu dipertanggungjawabkan, yang

didasarkan pada empati dan refleksi.

4. Person Oriented Professional

Person Oriented Professional mempunyai makna bahwa perawat sebagai

tenaga profesional memandang pasien sebagai orang yang menderita dan

harus dilindungi integritasnya. Hal ini memberikan tantangan bagi

profesional untuk meningkatkan kompetensi dirinya dalam menjalin


hubungan yang saling menguntungkan dan bersifat manusiawi dengan

tujuan untuk melindungi dan merawat pasien. Selain itu, profesionalisme

berbasis individu juga berbicara tentang pemahaman terhadap posisi

masing-masing pihak dimana pihak satu membutuhkan pihak lainnya, dan

menempatkan pasien sebagai fokus dari caring.

5. Ungkapan Hidup Tertinggi

Ungkapan hidup tertinggi adalah keterbukaan, kemurahan hati,

kepercayaan, harapan, dan cinta. Hal ini merupakan fenomena yang dapat

kita terima seperti kita menerima waktu, ruang, udara, air, dan makanan.

Tanpanya hidup menjadi kacau, dan caring tidak dapat dilaksanakan

(Hem, M. H., & Pettersen, T, 2011).

6. Area Yang Tak Dapat Disentuh

Ungkapan ini menunjukkan bahwa ada area-area yang tidak boleh kita

masuk ke dalamnya, menemui orang lain ataupun menemui alam lain.

Terdapat batasan yang harus kita hormati. Dalam caring, area yang tidak

tersentuh adalah kesatuan, yang merupakan lawan dari keterbukaan.

Keterbukaan dan area yang tak tersentuh merupakan suatu hal yang

kontradiktif dalam caring.


7. Vokasi

Vokasi adalah suatu kebutuhan hidup yang membuat manusia merasa

sempurna dalam berhubungan dan merawat (peduli) terhadap orang lain.

8. Mata Hati

Hati bicara tentang eksistensi individu, derita orang lain dan situasi yang

ada didalamnya. Mata hati berhubungan dengan perhatian yang didasarkan

pada hubungan resiprokal yang saling memahami .

9. The Registering Eye

The Registering Eye adalah objektifitas dan perspektif dari pengamat. Hal

itu berkaitan dengan mencari koneksi, sistematisasi, peringkat, klasifikasi,

dan menempatkan dalam sistem. The registering eye merupakan aliansi

antara ilmu pengetahuan alam modern, teknologi, dan industrialisasi. Jika

seorang pasien dan seorang profesional menggunakan tatapan ini secara

sepihak, kasih sayang akan keluar dari situasi tersebut, dan kemauan untuk

hidup berkurang.

B. HUBUNGAN TEORI KARI MARIE MARTINSEN DENGAN BIDANG

PENELITIAN YANG DIPILIH

Dalam bidang keperawatan yang sesuai dengan peminatan yang saya pilih

yaitu keperawatan medical bedah (KMB) dan adapun focus saya dalam

peminatan ini adalah tentang pengendalian atau pencegahan penularan


Tuberculosis paru melalui kepatuhan pasien dalam pengobatan Tuberculosis

paru. Tuberculosis paru adalah Tuberculosis paru yang juga dikenal dengan

singkatan TBC, adalah penyakit menular paru-paru yang disebabkan oleh basil

mycobacterium tuberculosis, yakni kuman aerob yang dapat hidup terutama di

paru-paru atau organ lain yang mempunyai tekanan partial oksigen yang tinggi

(Rab Tabrani, 2013).

World Health Organization melaporkan bahwa sepertiga (1/3) dari

penduduk dunia terinfeksi TB, dengan sekitar 10,4 juta kasus baru. Ada

480.000 kasus baru TB-MDR (MDRTB) dan tambahan 100.000 kasus baru

TB yang resisten rifampicin-. Non-kepatuhan dalam pengobatan merupakan

salah satu hambatan dalam menghilangkan TB

Tuberculosis dapat diobati yang dalam pengobatannya membutuhkan

waktu enam bulan dengan antibiotic serta didukung dengan pola hidup sehat,

olaraga, istrahat teratur dan tidak strees. Namun, memastikan pasien

sepenuhnya mematuhi pengobatan mereka merupakan tantangan untuk

program pengendalian TB khususnya selama pada bulan terakhir pengobatan

ketika munculnya efek samping atau factor yang lain. Berbagai strategi

program telah diusulkan untuk memperkuat kepatuhan sepeeti Directly

observed treatment short-course (DOTS). Namun, karena keterbatasan dalam

tenaga kerja kesehatan, dan hambatan untuk pasien mengakses perawatan

yang menyebabkan ketidakpatuhan (Olabisi, Wright, & Maja, 2017)

Pengobatan yang dilakukan selama 6 bulan atau lebih dapat menyebabkan

kejenuhan dan efek samping pengobatan yang dapat menyebabkan


ketidakptuhan pasien dalam pengobatan Tuberculosis. Ketidakpatuhan ini

dapat menyebabkan multidrug resistant tuberculosis (MDR-TB). multidrug

resistant tuberculosis adalah tb dengan terjadi dimana basil mycobacterium

tuberculosis resistensi terhadap rifampisin dan isoniazid, dengan aatau tanpa

OAT lainnya (WHO,1997). Hal ini dpat terjadi karena beberapa alasan seperti

pasien mungkin merasa lebih baik dengan menghentikan pengobatan,

persediaan obat habis atau langka atau pasien lupa minum obat (Gugssa,

Shimels, & Bilal, 2017).

Oleh karna itu kita butuh membangun motivasi dalam diri pada pasien

Tuberculosis utnuk bias mematuhi pengobatan yang telah ditentukan oleh

pihak pelayanan kesehatan. Dalam membangun dukungan dan motivasi positif

pada pasien, dibutuhkan dukungan positif dari lingkungan social terutama

keluarga sebagai orang yang paling dekat dan merupakan pengawas minum

obat (PMO). Perlu hubungan dan dukungan yang baik dari semua pihak dalam

membantu pasien untuk berjuang melanjutkan pengobatan. Kerja sama antara

pasien, keluarga, pelayanan kesehatan serta dukungan social dari lingkungan

sekitar.

Focus utama dari penelitian ini adalah untuk mengubah atau meningkatkan

perilaku kepatuhan pasien dalam pengobatan Tuberculosis. Hal ini dapat

diwujudkan apabila ada hubungan yang baik antara pasien, keluarga,

pelayanan kesehatan serta adanya keinginan yang kuat dari dalam diri setiap

pasien. Hal ini dapat di dilakukan melalui penyuluhan, support, pemberian


motivasi interview khususnya pasien dan keluarga sebagai pengawas minum

obat (PMO) yang dibantu oleh perawat di layanan kesehatan Tuberculosis.

Hubungaan penelitian dengan Philosopy of Caring Kari Marie Martinsen

Teori Kari Marie Martinsen menekankan perawatan pada Philosopy of

Caring yang berorientasi pada tiga hal, yaitu caring sebagai hubungan, praktik

dan moral. Teori ini sangat penting untuk diterapkan terutama pada bidang

penelitian yang saya ambil, karena dengan adanya perilaku caring, dalam hal

caring dari perawat/peneliti sebagai mentor (educator dan konselor) dalam

melakukan penyuluhan berupa berbagi pengetahuan dan motivation interview

bagi pasien dan keluarga yang merupakan responden dari penelitian ini.

Bagaimana perawat/peneliti memberikan edukasi dengan sikap penuh

kepedulian, empati, dan menggunakan komunikasi yang terapeutik agar apa

yang disampaikan kepada pasien dan keluarga dapat diterima dengan baik dan

diterapkan dalam kehidupan sehari-hari walaupun penelitian ini telah berakhir

dan pengetahuan dapat diberikan kepada oranglain. Perawat/peneliti juga

harus professional dengan merahasiakan ddata diri setiap responden.

Dari rencana penelitian ini diharapkan setelah perawat/peneliti

mengaplikasikan sikap caring dari Kari Martinsen dapat membentuk perilaku

caring kepada semua responden (pasien dan keluarga) sehingga hasil akhir

yang diharapkan adalah adanya peningkatan pengetahuan, perubahan sikap,

motivasi yang kuat untuk sembuh, perasaan tidak sendiri, adanya dukungan

dari lingkungan, dan perilaku positif khususnya kepatuhan pengobatan yang


dimiliki oleh responden. Hal ini penting karena dalam sebuah komunitas,

kepedulian yang dalam hal ini dapat diaplikasikan dari teori Martinsen baik itu

secara hubungan, professional/praktik dan moral sangat dibutuhkan oleh

pasien dengan penyakit menular seperti Tuberculosis


DAFTAR PUSTAKA

Alligood M.R., & Tomey A.M., (2006). Nursing Theorist and Their Work (6 ed).

ST. Louis : Mosby Elsevier

Alligood M.R., & Tomey A.M., (2010). Nursing Theorist and Their Work (7 ed).

Unites States of America : Mosby Elsevier

Gugssa, C., Shimels, T., & Bilal, A. I. (2017). Journal of Infection and Public

Health Factors contributing to non-adherence with treatment among TB

patients in Sodo Woreda , Gurage Zone , Southern Ethiopia: A qualitative

study. Journal of Infection and Public Health, 10(5), 527533.

https://doi.org/10.1016/j.jiph.2016.11.018

Loa, R. F. (2016). Type: Poster Presentation. International Journal of Infectious

Diseases, 45, 397398. https://doi.org/10.1016/j.ijid.2016.02.850

Olabisi, O., Wright, S. C. D., & Maja, T. M. (2017). ScienceDirect Lived

experience of patients on tuberculosis treatment in Tshwane , Gauteng

province. Health SA Gesondheid, 22, 259267.

https://doi.org/10.1016/j.hsag.2017.03.001

Rab Tabrani (2013). Ilmu Penyakit Paru. Trans Info Media. Jakarta

Anda mungkin juga menyukai