Anda di halaman 1dari 18

UMPAN BALIK

03/EXP/2017

Nama Peneliti : Nurul Fajriani

NIM : Q11116515

Inisial Subjek : MMD

Jenis Kelamin :L

Umur : 20 Tahun

Pendidikan Terakhir : SMA

Tanggal Penelitian : 15 November 2017

Waktu Penelitian : 17.36-17-56 WITA

Tempat Penelitian : Ruang Studio Prodi Psikologi Fakultas Kedokteran,

Universitas Hasanuddin.

3.1 Rumusan Masalah

Apakah ada pengaruh pemberian umpan balik (feedback) terhadap ketepatan

mempersepsi ilusi Poggendorf?

3.2 Kajian Pustaka dan Hipotesis

3.2.1 Kajian Pustaka

A. Umpan Balik

Salah satu asumsi umum dari umpan balik bahwa ada manfaat untuk

meningkatkan kompleksitas pesan umpan balik untuk diolah dan mengubah


perilaku yang tidak sesuai dengan lingkungan. Ada dua tipe dari umpan balik, yaitu

umpan balik positif dan umpan balik negatif (Butler et al,2013). Commented [AMCE1]: Mana penjelasan, umpan balik
positif dan negatifnya? Menggantung sekali. Alangkah
baiknya kalo ditambahkan

1. Pengertian Umpan Balik

Umpan balik dikonseptualisasikan sebagai informasi yang diberikan oleh agen

(misalnya dari guru, rekan, orang tua, diri, pengalaman) mengenai aspek kinerja

seseorang atau pengertian. Seorang guru atau orang tua dapat memberikan Commented [AMCE2]: Ini sumbernya dari mana???

informasi perbaikan, rekan bisa memberikan strategi alternatif, orang tua bisa

memberikan dorongan, dan pelajar bisa mendongak jawaban untuk mengevaluasi

kebenaran respon. Kulhavy (dalam Hittie&Timperley, 2007) menyatakan bahwa, Commented [AMCE3]: Ini adalah jurnal, tidak boleh
diambil tipus dari jurnalnya. Ganti.
untuk membantu seseorang memahami tujuan, efek, dan jenis umpan balik, ini
Lagian juga tidak ada di dapus artinya copas from
somewhere dan yang benar itu Hattie bukan Hittie.
berguna untuk mempertimbangkan sebuah rangkaian instruksi dan umpan balik.

Perbedaan yang jelas antara memberikan instruksi dan memberikan umpan balik.

Namun, saat umpan balik digabungkan dengan ulasan pemasyarakatan yang

lebih baik, umpan baliknya dan instruksi menjadi saling terkait hingga sebuah

proses mengambil bentuk instruksi baru, daripada hanya memberi tahu seseorang

tentang kebenaran (Hittie&Timperley, 2007). Black & Wiliam (dalam Butler, Commented [AMCE4]: Di dapus banyak dkk nya

2013), mengemukakan bahwa umpan balik merupakan komponen penting dalam

proses pembelajaran karena hal ini memungkinkan seseorang untuk mengurangi

ketidaksesuaian antara actual dan pengetahuan yang diinginkan.

Berdasarkan beberapa pendapat mengenai umpan balik, dapat disimpulkan

bahwa umpan balik merupakan sebuah sarana untuk menyatakan bagaimana

persepsi kita terhadap seseorang. Umpan balik dapat disampaikan kepada seseorang
yang dianggap melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan norma yang berlaku.

Dalam pemberian umpan balik secara lisan maupun tertulis, sebaiknya disampaikan

secara asertif agar orang yang diberi umpan balik itu merasa nyaman dan bisa

membangkitkan motivasinya untuk berbuat lebih baik lagi (Su, 2015).

2. Umpan Balik Positif dan Negatif

(a) Umpan Balik Positif

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Behbahani & Jafari, mereka

menganalisis hasil yang meraka dapatkan, bahwa peran umpan balik positif yang

dikombinasikan dengan umpan balik negatif merupakan peran penting dalam

menstabilkan sistem neuromuskular. Mereka menggunakan model refleks

sederhana untuk menunjukkan ciri khas sistem neuromuscular. Analisis juga

menunjukkan bahwa umpan balik positif sangat kuat dalam menghadapi variasi

parametrik dan struktural yang besar dalam sistem yang dipertimbangkan

(Behbahani & Jafari, 2009).

Umpan balik positif ini sangat berperan untuk meningkatkan motivasi

seseorang. Dampak yang ditimbulkan oleh umpan balik positif ini sangat

berhubungan positif dengan kepercayaan afektif. Dari seseorang yang diberi umpan

balik. Seseorang berusaha labih keras lagi untuk mengulangi perilaku ketika telah

diberi umpan balik positif dengan cara dan usaha yang sama. Apabila orang tersebut

sering mendapatkan umpan balik positif, maka pesan itu diterima dan bisa

mengingat umpan balik dengan lebih baik dan dikomunikasikan di lingkungannya

dengan baik pula (Kampkuiper, 2015).


(b) Umpan Balik Negatif

Dalam kasus umpan balik negative, penerima umpan balik diarahkan kepada dua

kemungkinan yang akan dia lakukan selanjutnya. Kemungkinan pertama yaitu,

individu dapat lebih banyak usaha untuk meminimalkan kesengajaan perubahan

perilaku, dan kemungkinan kedua yaitu individu dapat memilih meurunkan standar

diri dibawah standar yang telah ditetapkan oleh lingkungan. Oleh karena itu,

berdasarkan dua kemungkinan yang telah disajikan, dapat ditarik kesimpulan

bahwa apabila individu labih sering mendapat umpan balik negatif maka semakin

besar pula kemungkinan individu tersebut akan menurunkan sasaran yang

ditetapkan umpan balik negatif tersebut (Kampkuiper, 2015).

Berdasarkan dua poin tersebut, dapat disimpulkan bahwa umpan balik positif

dan negatif dapat meningkatkan proses belajar apabila umpan balik tersebut berisi

informasi yang cukup untuk memungkinkan seseorang melakukan atau mengakui

mana perilaku benar dan mana yang salah dalam kinerja pemamahaman individu.

Umpan balik yang disampaikan dengan asertif akan mendapat pengaru positif bagi

individu yang diberi umpan balik tersebut. Sementara itu, umpan balik negatif yang

diberika kepada individu cenderung lebih menempatkan perilaku individu secara

konsisten dan tidak berubah atau bahkan individu lebih menurunkan tingkat

perilaku.

B. Ilusi Poggendorff

Predebon (dalam Melmoth, 2009) mengungkapkan bahwa Efek Poggendorff

adalah ilusi yang kuat dari ketidakseimbangan ekstrapolasi yang cukup berbeda

dengan ukuran sebenarnya dari ilusi kontras. Ekstrapolasi adalah suatu teknik
dalam peramalan dengan memproyeksi kecenderungan yang ada. Stimulus

Poggendorff memandang dua bias yang terjadi. Bias pertama yaitu dimediasi oleh

sudut yang terbentuk antara penunjik yang memiliki kemiringan tertentu dan garis

induksi, yang mempengaruhi motorik dan tanggapan perseptual sama. Bias lainnya,

terdapat ha yang bisa memengaruhi induser terutama respon motorik. Respon

motori ini terkait dengan arah gerakan sebuah garis yang tidak diketahui dan

memberikan bukti untuk membenarkan klaim yang ada di kognisi (Melmoth et al,

2009).

C. Persepsi

Dalam kehidupan, individu tidak bisa lepas dari lingkungan fisik maupun

lingkungan sosial, dan inilah yang berkaitan dengan persepsi. Proses penginderaan

akan terus berlangsung selama individu mendapatkan rangsangan dari lingkungan

sekitarnya melaui alat indera (Walgito, 2010). Dalam sebuah penginderaan,

individu akan menyadari apa yang terjadi di sekitarnya. Oleh karena itu, seseorang

selalu mengaitkan penginderaan dengan stimulus atau rangsangan sedangkan dalam

persepsi, seseorang akan mengaitkannya dengan sebuah objek (Davidoff, 1981).

(a) Pengertian persepsi

Persepsi merupakan sebuah proses yang dimulai dengan penginderaan, yaitu

proses diterimanya rangsangan oleh individu melalui alat indera yang diperoleh dari

lingkungan sekitar individu itu berada atau disebut juga dengan sensoris. Persepsi

pada dasarnya adalah pertemuan antara dua dunia yaitu dunia dalam dan dunia luar.

Lingkungan luar menciptakan sinyal yang bisa dirasakn oleh alat indera, dan
penerima sinyal ini mengubahnya menjadi psikologis representasi bermakna yang

menentukan pengalaman batin individu tentang dunia luar

(Bodenhausen&Hugenberg, 2009). Berdasarkan beberapa pengertian yang telah

dipaparkan, dapat disimpulkan bahwa persepsi merupakan sebuahh proses yang

terjadi ketika individu mendapat rangsangan dari lingkungan yang ditangkap oleh

alat indera.

(b) Proses Persepsi

Proses terjadinya persepsi awalnya karena objek menimbulkan stimulus, dan

stimulus mengenai alat indera atau reseptor. Setelah mengenai reseptor maka terjadi

proses fisiologis yaitu ketika stimulus yang diterima oleh alat indera diteruskan oleh

saraf sensoris ke otak. Proses yang terjadi dalam otak inilah yang disebut dengan

psoses psikologis. Tahapan terakhir dari persepsi ini merupakan persepsi yang

sesungguhnya yang didapatkan oleh individu. respon yang merupakan akibat dari

persepsi dapat diambil oleh individu dalam berbahai macam bentuk (Walgito, 2010)

Ada bermacam-macam rangsangan yang yang datang dari lingkungan. Namun,

tidak semua rangsangan akan diperhatikan dan diberi respon tertentu oleh individu.

Hal ini berkaitan dengan perhatian karena individu mengadakan proses seleksi agar

bisa mengetahui mana rangsangan yang perlu direspon dan mana yang tidak.

D. Hukum-hukum Persepsi

Terdapat beberapa macam hukum persepsi menurut teori Gestalt, diantaranya

yaitu (dalam Walgito, 2010):

(1) Hukum Figure-Ground


Hukum ini mengemukakan bahwa ada dua bagian dalam perceptual field, yaitu

figure dan ground. Figure merupakan bagian yang dominan dan merupakan fokus

perhatian, sementara ground merupakan unsur yang melatar belakangi atau

melengkapi figure.

(2) Hukum Kedekatan

Hukum ini menyatakan bahwa apabila rangsangan itu saling berdekatan, akan

ada kecenderungan untuk dipersepsi secara keseluruhan.

(3) Hukum Kontinuitas

Hukum ini menyatakan bahwa stimulus yang mempunyai kontinuitas satu

dengan yang lain, dilihat secara keseluruhan dan akan di persepsi sebagai satu

kesatuan.

(4) Hukum Kelengkapan atau Ketertutupan

Hukum ini mengemukakan bahwa dalam persepsi ada kecenderungan seorang

individu mempersepsi sebuah objek yang kurang lengkap menjadi lengkap,

sehingga objek tersebut terlihat memiliki makna yang berarti.

3.2.2 Hipotesis

3.2.2.1 Individu

Ada perbedaan ketepatan individu dalam mempersepsi ilusi Poggendorf

sebelum dan sesudah mendapatkan umpan balik (feedback).

3.2.2.2 Kelompok

Ada perbedaan ketepatan kelompok dalam mempersepsi ilusi Poggendorf

sebelum dan sesudah mendapatkan umpan balik (feedback).


3.3 Metode Penelitian

3.3.1 Rancangan Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian kuasi eksperimen dengan menggunakan One

Group Pretest-Posttest Design.

3.3.2 Sarana Penelitian

Sarana yang digunakan dalam penelitian ini adalah komputer jinjing berisi

program INTPSYCH.

3.3.3 Prosedur Penelitian

Prosedur yang dijalankan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Peneliti mempersiapkan segala sesuatunya termasuk sarana yang akan

digunakan. Cara mengaktifkan program:

a. Aktifkan INTPSYCH dengan menekannya dua kali (double click).

b. Masukkan nama depan anda, tekan ENTER masukkan nama belakang tekan

ENTER, tekan No, jika nama anda sudah benar, dan Yes jika anda ingin menulis

ulang nama anda, setelah itu tampilan layar berubah tekan click to continue dua

kali.

c. Anda akan masuk dalam menu pilihan. Tekan The Poggendorf Illusion:

Effects of Feedback akan tampil tulisan Are you ready to begin this program

(apa anda siap memulai program ini?) tekan YES.

d. Tekan tanda panah kanan ( )

2. Observer menempati tempat duduk yang telah disediakan.


3. Peneliti mempersilahkan subjek penelitian (OP) memasuki tempat penelitian.

4. Peneliti memberikan instruksi awal berupa pengantar pada OP.

5. Peneliti memberikan instruksi penelitian sebagai berikut: Nanti di hadapan

Saudara, akan tampil suatu garis yang di potong oleh suatu persegi panjang.

Garis di sisi kanan persegi panjang telah ditentukan posisinya, sehingga tidak

bisa Anda ubah. Tugas Anda adalah meletakkan garis di sisi kiri persegi panjang

agar sejajar (lurus) dengan garis di sisi kanan dengan menggeser garis tersebut

ke atas atau ke bawah. Apakah ada pertanyaan? Bisa kita mulai?.

6. Percobaan ini di lakukan sepuluh (10) kali (bagian pertama).

7. Pada percobaan ke sebelas (11) anda akan mendapat garis bantuan setelah anda

menggeser letak jawaban dari garis tersebut menjadi sejajar. Percobaan ini juga

anda lakukan sepuluh kali (10) (bagian kedua).

8. Pada bagian ketiga, tugas anda masih sama tetapi anda tidak lagi mendapatkan

garis bantuan. Percobaan ini anda lakukan sepuluh kali (10).

9. Setelah trial ke tiga puluh, akan muncul Result, tekan tanda panah kanan satu

kali akan muncul tabel hasil percobaan (Data Summary) yang telah anda

lakukan. Data hasil percobaan ini tidak diperlihatkan pada OP.

10. Peneliti memberikan instruksi akhir berupa penutup pada OP.

11. Peneliti mempersilahkan dan menemani OP keluar ruangan.

12. Peneliti masuk kembali ke dalam ruangan dan membenahi segala sesuatunya.

3.4 Hasil

3.4.1 Pencatatan Hasil


3.4.1.1 Individu

Bagian I Bagian II Bagian III


Tidak Ada Umpan Balik Ada Umpan Balik Tidak Ada Umpan Balik
-5 -5 -1
-4 -9 -2
-4 -4 -5
-3 0 -3
-6 -2 -2
-6 -1 -4
-1 -2 2
-2 0 3
-8 1 -5
-5 0 -5
X A X B X C
-4.4 -2.2 -3.2

3.4.1.2 Kelompok

No. Subjek Bagian I Bagian II Bagian III


1. MMD -4.4 -3.3 -3.2
2. MS -4.8 -2.3 -1.8
3. RAW -8.9 -2.2 3.6
4. Z -10.2 -1.9 -1.6
5. RA -7.1 -3 -3.3
6. MFS -11.8 -5.6 -11.3
X -47,2 -17,2 -17,6
X 2 2227,84 295,84 309,76
\Cat. Data yang dimasukkan ke dalam tabel adalah nilai rata-rata.

3.4.2 Pengolahan Hasil

3.4.2.1 Individu

Data untuk dalam penelitian ini di analisis dengan membandingkan nilai rata-

rata antara bagian I dengan III.

Berdasarkan hasil praktikum yang telah diolah dengan SPSS, hasil yang

diperoleh yaitu percobaan pertama hasilnya lebih besar dibandingkan hasil ketiga.
Pada hasil pertama diperoleh nilai rata-rata sebesar -4.4, kemudian pada percobaan

ketiga diperoleh hasil sebesar -3.2 berdasarkan nilai rata-rata.

3.4.2.2 Kelompok

Data dalam penelitian ini di analisis dengan uji Wilcoxon.

BAGIAN3 -
BAGIAN1
Z -2,201b
Asymp. Sig. (2-
,028
tailed)
a. Wilcoxon Signed Ranks Test
b. Based on negative ranks.

3.4.3 Observasi

3.4.3.1 Kondisi Fisik

1. Di dalam ruangan terdapat 12 buah lampu yang menyala ketika praktikum

feedback berlangsung.

2. Terdapat 2 buah laptop yang digunakan dalam praktikum feedback kali ini.

3. Terdapat 2 buah pendingin ruangan.

4. Suhu ruangan 18oC dilihat dari remot AC.

5. Pintu tertutup saat praktikum berlangsung.

3.4.3.2 Kondisi Psikologis

1. Berdasarkan hasil wawancara, testee merasa gemetar ketika ia menggeser garis

yang berada di sebelah kiri untuk disejajarkan dengan garis yang berada di

sebelah kanan.
2. Dalam wawancara, testee berkata bahwa ia memiringkan kepalanya agar ia lebih

mudah untuk meluruskan garis tersebut.

3. Testee mengatakan bahwa ketika ia sedang serius mengerjakan sesuatu maka ia

tidak banyak menggerakkan badannya dan tetap berada dalam posisi awal

mengerjakan.

4. Testee mengatakan bahwa ia merasa senang bisa berpartisipasi dalam praktikum

kali ini.

5. testee meregangkan badannya ketika telah selesai mengerjakan semua percobaan

yang disajikan. Testee mengatakan bahwa ia meregangkan badannya karena ia

merasa lega telah menyelesaikan semua percobaan.

3.5 Pembahasan

3.5.1 Individu

Dari hasil praktikum, data yang diperoleh setelah diolah dalam SPSS, dapat

disimpulkan bahwa H1 diterima karena datanya signifikan dengan nilai 0.028. telah

diketahui bahwa apabila nilai signifikan itu <0.05 maka data yang didapatkan itu

signifikan. Terlihat pada percobaan pertama, testee mendapatkan nilai -5, kemudian

setelah diberi umoan balik maka nilainya menjadi -1 dan begitu seterusnya. Setelah

diberi umpan balik, testee lebih bisa memperbaiki kesalahan yang dilakukan.

Terdapat perbedaan nilai yang didapatkan dari percobaan pertama dan percobaan

ketiga setelah diberi umpan balik.

Hasil yang didapatkan dalam praktikum, bisa dilihat dalam hasil penelitian yang

dilakukan oleh Behbahani & Jafari, mereka menganalisis hasil yang meraka Commented [AMCE5]: Mana dapusnya?
dapatkan, bahwa peran umpan balik positif yang dikombinasikan dengan umpan

balik negatif merupakan peran penting dalam menstabilkan sistem neuromuscular

(Bodenhausen&Hugenberg, 2009).

3.5.2 Kelompok

Dalam pembahasan kelompok, terdapat beberapa individu yang mendapatkan

hasil pada percobaan pertama dengan percobaan pertama yang memiliki

3.6 Simpulan

3.6.1 Individu

Dari praktikum yang telah dilakukan, dapat ditarik kesimpulan bahwa ada

pengaruh umpan balik terhadap hasil yang diperoleh testee setelah diberi umpan

balik. Terbuktu bahwa hasil pada percobaan pertama, setelah dirata-rata,

didapatkan hasil yaitu -4.4. sementara setelah mendapatkan umpan balik dan

mengerjakan percobaan ketiga, hasilnya yaitu -3.2 setelah dirata-rata.

3.6.2 Kelompok

Dari hasil praktikum yang telah diolah dalam bentuk SPSS, dapat dismpulkan

bahwa terdapat perbedaan poin yang dihasilkan dari percobaan pertama sebelum

diberi umpan balik dan percobaan ketiga setelah diberi umpan balik. Commented [AMCE6]:
Commented [A7R6]:
3.7 Penerapan dalam Kehidupan Sehari-hari
Commented [AMCE8]: PERBAIKI LAGI.

1. Umpan balik bisa membuat seseorang lebih mengintropeksi dirinya sendiri agar Commented [AMCE9]: Bahasa lisan

bisa menyesuaikan diri dengan lingkungannya. misalnya yaitu ketika seseorang

mengunjungi sebuah wilayah yang budayanya masih kental. Pastilah dia akan

menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitarnya yang ditangkap oleh alat


inderanya. Umpan balik yang ia dapatkan yaitu ketika melihat seseorang yang

ada di wilayah sekitar melaksanakan ritual tertentu, maka ia juga akan ikut dalam

ritual tersebut (Kampkuiper, 2015). Commented [AMCE10]: Are you sure?

2. Ketika seorag siswa yang diminta oleh gurunya untuk mengerjakan soal Kalo nurul pergi ke Bali, lihat orang menari bali, Nurul juga
langsung akan ikut?

matematika di papan tulis, tetapi siswa tersebut tidak mangetahui jawabannya.

Maka gurunya memberinya umpan balik dengan mengajar siswa tersebut hingga

paham. Siswa tersebut memperhatikan penjelasan gurunya melalui alat indera

kemudian dia membangkitkan motivasinya untuk belajar lebih giat lagi

(Kampkuiper, 2015).

3. Ketika seorang anak berlari dengan cepat, kemudian di tengah-tengah ia berlari

maka ia terjatuh. Ibunya memberinya umpan balik dan memberi tahu kalau

berlari itu akan terjatuh. Maka dengan pengalaman terjatuh tersebut, anak akan

lebih berhati-hati (Bodenhausen&Hugenberg, 2009).

4. Ketika individu bertemu dengan orang yang kembar dalam waktu mersamaan,

maka yang individu tersebut persepsikan bahwa secara keseluruhan, individu

tersebut melihat secara keseluruhan dan menganggapnya kalau mereka itu

merupakan satu kesatuan (walgito, 2010). Commented [AMCE11]: GANTI. Tidak relevan. Jangan
asal comot dong, dibaca lagi dan dimaknai apakah betul ini
5. Apabila seseorang terjatuh di tengah-tengah orang banyak, dalam sebuah berkaitan dengan ilusi atau umpan balik?

penginderaannya, ia akan menyadari apa yang terjadi pada dirinya. Oleh karena

itu dia merasa malu (Davidoff, 1981). Commented [AMCE12]: GANTI. Tidak relevan dengan
umpan balik.
Makassar, 18 November 2017

Peneliti

Nurul Fajriani

NIM. Q11116515

Asisten Praktikum 1 Asisten Praktikum 2

Ave Maria Chelchia E. Kirana Hamid

NIM. Q11114513 NIM. Q11115027

DAFTAR PUSTAKA Commented [AMCE13]: Pelajari lagi penulisan jurnal


dengan APA. Jangan asal ambil otomatis pengutipan APA
dari google scholar.

Saya capek mau jelaskan dari awal. Baca sendiri.


Butler, A.C., Marsh, E. J. & Godbole, N. (2013). Explanation Feedback Is Better
Than Correct Answer Feedback for Promoting Transfer of Learning.
American: Jurnal of Educational Psychology. Vol. 105, N. 2, 290-298.

Behbahani, S. & Jafari, H. (2009). Analysis of Positive Feedback in the Control of


Movement. Iran: 2, 480-483.

Su, L. K. (2015). Feedback Theory throught the Lens of Social Networking. Journal
of Issue in Educational Research. Macau SAR: China.

Melmoth, D. R., Tibber, M. S., Grant, S., Morgan, M. J. (2009). The Poggendorff
Illution Affects Manual Pointing as Well as Perceptual Judgement.
Northampton Square: United Kingdom.
Kampkuiper, J. (2015). The effect of Positive and Negative Feedback on Self-
efficacy, cognitive Trust and Affective Trust. University of Twante:
Netherlands.

Bodenhausen, G. V., Hugenberg, K. (2009). Social Cognition: The Basis of Human


Interaction. New York.

Davidoff, L. L. (1981. Introduction to Psychology. McGraw-Hill, International


Book Company, International Student Edition: Tokyo.

Walgito, B. (2010). Pengantar Psikologi Umum. Andi offset: Indonesia.


Prodi Psikologi

Universitas Hasanuddin

LAMPIRAN UMPAN BALIK (FEEDBACK)

03/EXP/2014

Inisial OP : MMD

Umur : 20 Tahun

Pendidikan Terakhir : SMA

Jenis Kelamin :L

Tanggal Penelitian : 15 November 2017

Waktu Penelitian : 17.36-17-56 WITA

Bagian I Bagian II Bagian III


Tidak Ada Umpan Balik Ada Umpan Balik Tidak Ada Umpan Balik
Percobaan 1 -5 Percobaan 11 -5 Percobaan 21 -1
Percobaan 2 -4 Percobaan 12 -9 Percobaan 22 -2
Percobaan 3 -4 Percobaan 13 -4 Percobaan 23 -5
Percobaan 4 -3 Percobaan 14 0 Percobaan 24 -3
Percobaan 5 -6 Percobaan 15 -2 Percobaan 25 -2
Percobaan 6 -6 Percobaan 16 -1 Percobaan 26 -4
Percobaan 7 -1 Percobaan 17 -2 Percobaan 27 2
Percobaan 8 -2 Percobaan 18 0 Percobaan 28 3
Percobaan 9 -8 Percobaan 19 1 Percobaan 29 -5
Percobaan 10 -5 Percobaan 20 0 Percobaan 30 -5

Makassar, 18 November 2017


Peneliti

Nurul Fajriani
NIM. Q11116515