Anda di halaman 1dari 10

PENGUKURAN TINGKAT KEBISINGAN BANDAR UDARA

MENGGUNAKAN METODE WCPNL (WEIGHTED


EQUIVALENT CONTINOUS PERCEIVED NOISE LEVEL)
(STUDI KASUS BANDARA AHMAD YANI SEMARANG)

MEASUREMENTS NOISE LEVELS AIRPORT USING


METHODS WCPNL ( WEIGHTED EQUIVALENT HABITUAL
PERCEIVED NOISE LEVEL)
(CASE STUDIES AIRPORT AHMAD YANI SEMARANG)
Amir Hamzah1, AnditaDwi Sefiani2, Eman Serius Waruwu3

Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan, Institut Pertanian Bogor, Jln. Kamper Kampus IPB
Dramaga, Bogor, 16680
Email: amirhamzahsil49@gmail.com1, anditadwisefiani@rocketmail.com2,
waruwu15.ew@gmail.com3
Abstrak : Karyawan Bandara dan penduduk sekitar Bandara sangat rentan terhadap kerusakan
pendengaran, ambang dengar temporer atau permanen. Oleh sebab itu diperlukan upaya
pengendalian bising di lingkungan bandara. Tujuan penelitian ini adalah melakukan pengambilan
dan pembacaan data tingkat kebisingan di bandar udara pada waktu tertentu, mengetahui tingkat
kebisingan bandar udara pada titik tertentu, dan membandingkan hasil pengukuran dengan baku
mutu tingkat kebisingan. Penelitian ini menggunakan metode WECPNL dengan menggunakan data
penelitian Ramadhania (2012). Penelitian tersebut dilakukan di Apron Bandar Udara Ahmad Yani,
Semarang. Tingkat kebisingan Bandar Udara Ahmad Yani Semarang dinyatakan tidak memenuhi
baku mutu tingkat kebisingan dengan nilai diatas 55 dB (A), sehingga dapat diidentifikasikan tidak
memenuhi Baku Mutu Tingkat Kebisingan yang diisyaratkan oleh KEP. No.48/MenLH/1996 yaitu
sebesar 55 dB (A). Berdasarkan hasil yang didapat dari perhitungan nilai WECPNL sebesar 55.763
dB (A). Menurut Persetujuan dan Pengesahan Hasil Penelitian Kawasan Kebisingan (BKK)
Disekitar Bandar Udara, kawasan tersebut termasuk pada kawasan kebisingan tingkat I. Upaya
pengelolaan lingkungan dapat dilakukan dengan pemasangan insulasi atau peredam suara pada
gedung administrasi perkantoran dan operasional bandar udara, menanam tanaman disekitar
badan jalan yang menuju bandar udara serta mempertahankan dan mengembangkan penanaman
tumbuhan perindang pada zona penyangga yang berbatasan dengan pemukiman.
Kata kunci : Kebisingan di bandara, WECPNL, Bandar Udara Ahmad Yani

Abstract: PT Airport and surrounding residents Airport is very vulnerable to damage hearing, the
threshold hearing schedule or permanent. By because it is necessary to control noise in
environmental airport. The purpose of this research is to make the decision making and reading the
data noise levels in airport in a certain time, know noise levels at a certain point airport, and
compare measurements with quality standard noise levels. This research uses WECPNL by using
data or Ramadhania (2012). Research was done in the Apron Airport Ahmad Yani, Semarang.
Noise levels Airport Ahmad Yani Semarang were stated did not fulfill quality standard noise levels
with the above 55 dB (A), so it could be identified did not fulfill Quality Standard Noise levels that
hinted at by CONCERNING. No. 48/baq/1996 of 55 dB (A). Based on the results obtained from the
calculation of the WECPNL 55,763 dB (A). According to The agreement and The results of research
area Noise (BKK) Around Airport, the area was included in the region noise level I. Establish
environmental management can be done with the installation-grade insulation or shock absorbers
votes in administration office building and operations plant crops airport, the main road around the
airport and maintain toward and develop planting buffer zone perindang plant on the border with
humans.
Key words : Noise levels in the airport, WECPNL, Ahmad Yani Airport
PENDAHULUAN
Tempat kerja yang bising dan penuh getaran bisa mengganggu pendengaran dan
keseimbangan para pekerja. Gangguan yang tidak dicegah maupun diatasi bisa
menimbulkan kecelakaan, baik pada pekerja maupun orang di sekitarnya.
Kebisingan bisa mengganggu percakapan sehingga mempengaruhi komunikasi
yang sedang berlangsung, selain itu dapat menimbulkan gangguan psikologis
seperti kejengkelan, kecemasan dan ketakutan. Gangguan psikologis akibat
kebisingan tergantung pada intensitas, frekuensi, periode, saat dan lama kejadian,
kompleksitas spektrum/kegaduhan dan tidak teraturnya suara kebisingan.
Kebisingan dapat menimbulkan gangguan terhadap pekerjaan yang sedang
dilakukan seseorang melalui gangguan psikologi dan gangguan konsentrasi
sehingga menurunkan produktifitas kerja (Sasongko 2000).
Karyawan Bandara dan penduduk sekitar Bandara sangat rentan terhadap
kerusakan pendengaran dalam bentuk pergeseran, ambang dengar temporer atau
permanen. Oleh sebab itu diperlukan upaya pengendalian bising di lingkungan
bandara yang mencakup pengendalian untuk karyawan penerbangan dan juga untuk
lingkungan sekitar bandara. Dalam upaya pengendalian kebisingan di lingkungan
bandara agar lebih efektif, maka perlu dilakukan identifikasi masalah kebisingan di
bandara, dan menentukan tingkat kebisingan yang diterima oleh karyawan bandara
dan penduduk sekitar bandara. Kegiatan operasional Bandara Ahmad Yani
Semarang yang umumnya mengoperasian pesawat terbang baik take off maupun
landing serta pada saat bergerak ke apron mengeluarkan suara kebisingan yang
perlu diamati terus menerus dan apakah mempunyai dampak pada karyawan
operasional penerbangan dan penduduk di sekitar Bandara. Hasil penelitian ini akan
dibandingkan dengan baku mutu lingkungan kerja yang diisyaratkan oleh
Keputusan Menteri Tenaga Kerja Nomor Kep51/MEN/1999 tanggal 16 April 1999
yaitu 85 dBA. Pengukuran kali ini dilakukan dengan menggunakan alat Sound
Level Meter (SLM) dengan cara sederhana. Tujuan penelitian ini adalah melakukan
pengambilan dan pembacaan data tingkat kebisingan di bandar udara pada waktu
tertentu, mengetahui tingkat kebisingan bandar udara pada titik tertentu, dan
membandingkan hasil pengukuran dengan baku mutu tingkat kebisingan.

TINJAUAN PUSTAKA
Kebisingan adalah bunyi yang tidak dikehendaki karena tidak sesuai dengan
konteks ruang dan waktu sehiingga menimbulkan gangguan terhadap kenyamanan
dan kesehatan manusia (Sasongko et al 2000). Emisi kebisingan dari segi
kejadiannya dibagi menjadi dua yaitu bising seketika (impulse noise) dan bising
menerus (continous noise). Bising seketika adalah bising dalam waktu yang singkat
dan intensitas yang besar. Sementara bising menerus adalah bising dalam durasi
waktu yang lebih lama dan intensitas yang lebih rendah (Sugiharto 2000).
Penelitian ini menganalisis tentang kebisingan Bandar Udara Ahmad Yani
Semarang, dengan menggunakan data berupa data sekunder. Berdasarkan Kep.
MenLH. No.48 Tahun 1996 tentang baku tingkat kebisingan di wilayah bandar
udara untuk perumahan dan pemukiman, nilai baku mutu sebesar 55 dB (A). Akibat
dari kebisingan ini dapat mengganggu proses aktifitas pekerja dan penduduk
disekitar bandara. Selain itu dapat mempengaruhi kesehatan terutama kesehatan
pendengaran, baik yang sifatnya sementara ataupun yang permanen. Tingkat
kebisingan di Bandar Udara dan sekitarnya ditentukan dengan indeks kebisingan
WECPNL (Weighted Equivalent Continous Perceived Noise Level) atau nilai
ekuivalen tingkat kebisingan di suatu area yang dapat diterima terus menerus
selama suatu rentang waktu dengan pembobotan tertentu.
Pengaruh bising secara psikologi, yaitu berupa penurunan efektivitas kerja dan
kinerja seseorang (Asmaningprojo 1995). Pengaruh kebisingan terhadap manusia
secara fisik tidak hanya mengganggu organ pendengaran, tetapi juga dapat
menimbulkan gangguan pada organ-organ tubuh yang lain, seperti penyempitan
pembuluh darah dan sistem jantung (Sasongko et al 2000). Menurut (Olishifski
1971 dalam Primanda F.B 2012), Salah satu karakteristik kebisingan yang penting
untuk kesehatan adalah intesitas. Intensitas adalah energi yang mengalir per satuan
luas. Semakin jauh sumber suara, intensitas yang diterima akan semakin kecil,
karena luas permukaan total yang dilalui semakin besar. Kebisingan berasal dari
sumber suara, baik dari mesin pabrik, suara kendaraan bermotor, suara dari mesin
pesawat terbang, dan lain-lain (Pratomo 2010).
METODE PRAKTIKUM
Penelitian mengenai penentuan tingkat kebisingan lingkungan di Bandar udara
menggunakan metode WECPNL (Weighted Equivalent Continous Perceived Noise
Level) dilakukan dengan menggunakan data penelitian Ramadhania pada tahun
2012. Penelitian tersebut dilakukan di Apron Bandar Udara Ahmad Yani,
Semarang. Pengukuran mengacu pada Keputusan Menteri Tenaga Kerja Nomor
Kep51/MEN/1999 tanggal 16 April 1999 yaitu 85 dBA. Tahapan penelitian
kebisingan pada bandar udara dimulai dari melakukan pencatatan jumlah pesawat
tinggal landas dan terbang landas beserta waktunya. Selanjutnya Sound Level Meter
diletakkan pada beberapa titik pengukuran pada jarak yang telah ditentukan. Jarak
titik pengukuran ditentukan berdasarkan rekomendasi ICAO (International Civil
Avitation Organization) sehingga kebisingan bandar udara dapat terukur. Hasil
pengukuran tersebut kemudian dapat dihitung menggunakan metode WECPNL
(Weighted Equivalent Continous Perceived Noise Level).
Pengukuran dilakukan dari pukul 09.00 WIT hingga 11.00 WIT sehingga
dihasilkan 10 jumlah pesawat. Data tersebut kemudian dihitung dengan rumus
berikut ini.
()
TNEL = 10 Log 1( )..................................(1)
10

T
ECPNL=TNEL- (10 log to)..(2)

= + 10 log 27..(3)
Keterangan :
T = Total periode waktu pengukuran
EPNL (n) = Effective Perceived Noise Level untuk pengukuran pada saat ke-n
(terbang lintas atau di landasan)
N = Jumlah kedatangan dan keberangkatan pesawat dari pukul 19.00-22.00
to = 1 detik
ECPNL = Equivalent Continous Perceived Noise Level
WECPNL = Weighted Equivalent Continous Perceived Noise Level
Setelah semua data perhitungan diperoleh, maka dibandingkan nilai hasil
pengukuran kebisingan dengan nilai baku mutu Keputusan Menteri Tenaga Kerja
Nomor Kep51/MEN/1999 tanggal 16 April 1999 yaitu 85 dBA. Kemudian dibuat
simpulan berdasarkan perhitungan yang telah didapat.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Kebisingan adalah bunyi yang tidak diinginkan dari usaha atau kegiatan dalam
tingkat dan waktu tertentu yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan manusia
dan kenyamanan lingkungan (Kep. MenLH. No.48 Tahun 1996), atau semua suara
yang tidak dikehendaki yang bersumber dari alat-alat proses produksi dan atau alat-
alat kerja pada tingkat tertentu dapat menimbulkan gangguan pendengaran (Kep.
MenNaker. No.51 Tahun 1999).
Kebisingan bandar udara adalah produk samping yang tidak diinginkan dari
sebuah lingkungan Bandara Udara yang disebabkan oleh kegiatan operasional
Bandara yaitu bunyi suara mesin pesawat terbang yang menimbulkan kebisingan
yang tidak hanya mempengaruhi aktifitas karyawan bandara dan penduduk yang
tinggal disekitar Bandara (Sasongko 2000). Tingkat kebisingan di Bandar Udara
dan sekitarnya ditentukan dengan indeks kebisingan WECPNL (Weighted
Equivalent Continous Perceived Noise Level) atau nilai ekuivalen tingkat
kebisingan di suatu area yang dapat diterima terus menerus selama suatu rentang
waktu dengan pembobotan tertentu.
Penelitian yang dilakukan merupakan studi kasus Kebisingan Bandar Udara
Ahmad Yani Semarang, sebagai pelaksana Rahmadhania. Data yang dianalisis
dalam penelitian ini merupakan hasil data berupa data sekunder. Berdasarkan
penelitian yang telah dialakukan, diperoleh data hasil pengukuran sebagai berikut.

Tabel 1. Data pengukuran kebisingan Bandar Udara Ahmad Yani Semarang


No Jenis Pesawat Waktu Landing [dB(A)] Take Off [dB(A)]
1 Garuda B737 Seri 800 09.00 83 -
2 Wings Air ATR 72 09.00 83 -
3 Wings Air ATR 72 09.20 - 83.1
4 Lion Air B737 Seri 900 09.35 89.7 -
5 Garuda B737 Seri 800 09.40 - 72.9
6 Lion Air B737 Seri 900 10.15 - 71.1
7 Merpati MA 60 10.20 70.2 -
8 Sriwijaya B737 Seri 200 10.35 97.6 -
9 Garuda B737 Seri 800 10.55 91 -
10 Sriwijaya B737 Seri 200 11.00 97 -
Sumber : Rahmadhania 2012. Analisis Pengaruh Suhu Udara Terhadap Intensitas Kebisingan di
Bandar Udara (Studi Kasus Bandar Udara Ahmad Yani Semarang). IPB

Analisis pengukuran tingkat kebisingan terhadap data tersebut bertujuan untuk


dapat melakukan pengambilan dan pembacaan data tingkat kebisingan di bandar
udara pada waktu tertentu, mengetahui tingkat kebisingan bandar udara pada titik
tertentu, dan mempelajari baku mutu tingkat kebisingan pada suatu lokasi. Hasil
dari data tersebut dapat ditentukan nilai tingkat kebisingan pada wilayah bandar
udara. Berdasarkan hasil pengukuran pada Tabel 1 diatas, operasi pesawat terbang
dari berbagai jenis pesawat dapat memberikan tingkat kebisingan pada pekerja dan
penduduk sekitar dalam tingkat bising yang tinggi. Hasil tersebut dapat dilihat
bahwa tingkat kebisingan Bandar Udara Ahmad Yani Semarang dinyatakan diatas
baku mutu tingkat kebisingan, sehingga diidentifikasikan tidak memenuhi Baku
Mutu Tingkat Kebisingan yang diisyaratkan oleh KEP. No.48/MenLH/1996 yaitu
untuk perumahan dan pemukiman sebesar 55 dB (A) dan untuk kegiatan lainnya
dapat disesuaikan dengan baku tingkat kebisingan yang ada (Lampiran 1). Sumber
kebisingan tersebut berasal dari aktifitas pesawat terbang dari berbagai jenis
pesawat (Tabel 1) yang tinggal landas (take off), mendarat (landing), dan terbang
landas (flyover) yang mengeluarkan sumber bising dari mesin pesawat tersebut.
Tingkat kebisingan di Bandar Udara dan sekitarnya ditentukan dengan indeks
kebisingan WECPNL (Weighted Equivalent Continous Perceived Noise Level) atau
nilai ekuivalen tingkat kebisingan di suatu area yang dapat diterima terus menerus
selama suatu rentang waktu dengan pembobotan tertentu. Perhitungan pada nilai
TNEL (Total Noise Exposure Level), ECPNL (Equivalent Continous Perceived
Noise Level), Jumlah kedatangan dan keberangkatan dalam 24 jam (N), dan
WECPNL (Weighted Equivalent Continous Perceived Noise Level) adalah dapat
dilakukan sebagai berikut.

Perhitungan nilai TNEL :


83 83 89.7 70.2 97.6 91 97
10
TNEL = 10 log (1010 +1010 +10 10 +10 10 +10 10 +1010 +1010 ) +10 log dB (A)
1
= 111.336 dB (A)

Perhitungan nilai ECPNL :


7200
ECPNL = 111.336-10 log dB (A)
1
= 72.763 dB (A)

Nilai N berdasarkan waktu pengamatan pada pukul 07.00-19.00 :


N = N2 = 10 dB (A

Perhitungan nilai WECPNL :


WECPNL = 72.763+(10 log (10)-27)
= 55.763 dB (A)

Persetujuan dan Pengesahan Hasil Penelitian Kawasan Kebisingan (BKK)


Disekitar Bandar Udara, memberikan persyaratan tentang kawasan kebisingan di
bandar udara diukur dan ditentukan dengan bertitik tolak pada rencana induk bandar
udara. Tingkat kebisingan ditentukan berdasarkan Weighted Equivalent Continous
Perceived Noise Level (WECPNL), dengan tingkat bising yang terdiri dari beberapa
tingkat kebisingan. Pertama, kawasan kebisingan tingkat I dengan nilai WECPNL
lebih besar atau sama dengan 70 dB dan lebih kecil 75 dB, yaitu tanah dan ruang
udara yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai jenis kegiatan dan atau bangunan
kecuali untuk jenis bangunan sekolah dan rumah sakit. Kedua, kawasan kebisingan
tingkat II dengan nilai WECPNL lebih besar atau sama dengan 75 dB dan lebih
kecil 80 dB, yaitu tanah dan ruang udara yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai
jenis kegiatan dan atau bengunan kecuali untuk jenis kegiatan dan atau bangunan
sekolah, rumah sakit dan rumah tinggal. Ketiga, kawasan kebisingan tingkat III
dengan nilai WECPNL lebih besar atau sama dengan 80 dB, yaitu tanah dan ruang
udara yang dapat dimanfaatkan untuk membangun fasilitas bandar udara yang
dilengkapi insulasi suara dan dapat dimanfaatkan sebagai jalur hijau atau sarana
pengendalian lingkungan dan pertanian.
Hasil yang didapat dari perhitungan nilai WECPNL Bandar Udara Ahmad Yani
Semarang sebesar 55.763 dB (A). Menurut Persetujuan dan Pengesahan Hasil
Penelitian Kawasan Kebisingan (BKK) Disekitar Bandar Udara, kawasan Bandar
Udara Ahmad Yani termasuk pada kawasan kebisingan tingkat I dengan nilai
WECPNL lebih besar atau sama dengan 70 dB dan lebih kecil 75 dB, yaitu tanah
dan ruang udara yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai jenis kegiatan dan atau
bangunan kecuali untuk jenis bangunan sekolah dan rumah sakit. Kawasan bandar
udara tersebut masih memungkinkan untuk pembangunan pemukiman disekitar
area bandar udara tersebut. Namun, perlu juga dilakukan analisis untuk
pembangunan khususnya pemukiman untuk mengetahui berapa jarak dari kawasan
bandar udara tersebut yang dimungkinkan untuk tempat pemukiman. Hal ini
berguna untuk menghindari hal-hal mengenai gangguan lingkungan khususnya
kebisingan untuk kenyaman dan keamanan penduduk disekitar bandar udara
tersebut.
Dampak kebisingan dari pesawat terhadap komunitas disekitar bandara telah
menimbulkan masalah penerbangan yang serius. Dampak kebisingan pada
masyarakat tergantung kepada beberapa faktor yaitu besarnya kebisingan yang
dihasilkan, durasi dari kebisingan tersebut, jalur penerbangan yang digunakan
selama take off dan landing, jumlah dan operasi penerbangan, prosedur
pengoperasian pesawat, sistem runway yang digunakan, hari dan musim
berlangsung operasi, dan juga kondisi meteorologi. Hal-hal yang berkaitan dengan
pemaparan kebisingan pesawat terhadap masyarakat adalah penggunaan tanah dan
bangunan disekitar bandara, tingkat kebisingan ambien, dan sikap masyarakat
disekitar bandara (Primanda F.B 2012).
Dampak kebisingan terhadap manusia bisa diklasifikasikan dalam dua kategori
yaitu dampak sikap manusia (tingkah laku manusia) dan dampak terhadap
kesehatan atau fisiolgis. Dampak terhadap sikap manusia adalah yang berkaitan
dengan terjadinya gangguan terhadap aktivitas manusia. Ini mencakup kebisingan
yang menimbulkan gangguan komunikasi, gangguan ketika istirahat dan tidur.
Sedangkan dampak terhaadap kesehatan adalah yang berhubungan dengan
hilangnya kemampuan pendengaran manusia atau juga dampak timbulnya penyakit
kardiovaskular dan hipertensi (Yully M.L 2002).
Secara umum upaya pengendalian kebisingan dilakukan melalui pengurangan
dan pengendalian tingkat bising yang dapat dibagi dalam tiga aspek yaitu
pengendalian pada sumber, pengendalian pada rambatan, dan pengendalian
kebisingan pada manusia. Pengendalian kebisingan pada sumber meliputi
perlindungan pada peralatan, struktur, dan pekerja dari dampak bising. Pembatasan
tingkat bising yang boleh dipancarkan sumber. Reduksi kebisingan pada sumber
biasanya memerlukan modifikasi atau mereduksi gaya-gaya penyebab getaran
sebagai sumber kebisingan dan mereduksi komponen-komponen peralatan.
Pengendalian pada media rambatan dilakukan diantara sumber dan penerima
kebisingan. Prinsip pengendaliannya adalah melemahkan intensitas kebisingan
yang merambat dari sumber kepenerima dengan cara membuat hambatan-
hambatan. Pengendalian kebisingan pada manusia dilakukan untuk mereduksi
tingkat kebisingan yang diterima setiap hari. Pengendalian ini terutama ditunjukkan
pada orang yang setiap harinya menerima kebisingan, seperti operator pesawat
terbang dan orang lain yang menerima kebisingan. Pada manusia kerusakan akibat
kebisingan diterima oleh pendengaran (telinga bagian dalam) sehingga metode
pengendaliannya memanfaatkan alat bantu yang bisa mereduksi tingkat kebisingan
yang masuk ketelinga (Mahbubiyah A.E 2011).
Jenis pesawat yang beroperasi di bandara sangat berpengaruh dalam
pengendalian kebisingan. Identifikasi masalah kebisingan bandara, menentukan
tingkat kebisingan yang diterima oleh karyawan dan penduduk seekitar bandara.
Dari data yang ada ditempuh langkah penyesuaian kondisi operasional atau
melakukan perawatan atau pemeliharaan engine pesawat terbang sehingga suara
yang timbul dapat dikurangi. Usaha lain dalam pengendalian dapat dilakukan
dengan menambahkan bahan-bahan penyerap suara, atau penghalang suara lainnya
tergantung situasi dan kondisi area bising (Chaeran 2008).
Beberapa upaya pengelolaan lingkungan yang dilakukan di wilayah bandar
udara ahmad yani semarang terkait dengan kebisingan, akibat kegiatan pendaratan,
tinggal landas dan parkir pesawat adalah pemasangan insulasi atau peredam suara
pada gedung administrasi perkantoran dan operasional bandar udara, menanam
tanaman disekitar badan jalan yang menuju bandar udara serta mempertahankan
dan mengembangkan penanaman tumbuhan perindang pada zona penyangga yang
berbatasan dengan pemukiman (Rachman R.M 2007).

SIMPULAN
Tingkat kebisingan Bandar Udara Ahmad Yani Semarang dinyatakan tidak
memenuhi baku mutu tingkat kebisingan dengan nilai diatas 55 dB (A), sehingga
dapat diidentifikasikan tidak memenuhi Baku Mutu Tingkat Kebisingan yang
diisyaratkan oleh KEP. No.48/MenLH/1996 yaitu sebesar 55 dB (A). Berdasarkan
hasil yang didapat dari perhitungan nilai WECPNL Bandar Udara Ahmad Yani
Semarang sebesar 55.763 dB (A). Menurut Persetujuan dan Pengesahan Hasil
Penelitian Kawasan Kebisingan (BKK) Disekitar Bandar Udara, kawasan Bandar
Udara Ahmad Yani termasuk pada kawasan kebisingan tingkat I dengan nilai
WECPNL lebih besar atau sama dengan 70 dB dan lebih kecil 75 dB, yaitu tanah
dan ruang udara yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai jenis kegiatan dan atau
bangunan kecuali untuk jenis bangunan sekolah dan rumah sakit. Kawasan bandar
udara tersebut masih memungkinkan untuk pembangunan pemukiman disekitar
area bandar udara tersebut. Namun, perlu juga dilakukan analisis untuk
pembangunan khususnya pemukiman untuk mengetahui berapa jarak dari kawasan
bandara tersebut yang dimungkinkan untuk tempat pemukiman.
Upaya pengelolaan lingkungan yang dilakukan di wilayah bandar udara ahmad
yani semarang terkait dengan kebisingan, akibat kegiatan pendaratan, tinggal landas
dan parkir pesawat adalah pemasangan insulasi atau peredam suara pada gedung
administrasi perkantoran dan operasional bandar udara, menanam tanaman
disekitar badan jalan yang menuju bandar udara serta mempertahankan dan
mengembangkan penanaman tumbuhan perindang pada zona penyangga yang
berbatasan dengan pemukiman.
Daftar Pustaka
Chaeran M., 2008. Tesis : Kajian Kebisingan Akibat Aktivitas Bandara. Semarang
: Univesitas Diponegoro.
Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia. Keputusan Menteri
Lingkungan Hidup Nomor 48 Tahun 1996 Tentang Baku Tingkat Kebisingan,
1996.
Kementerian Tenaga Kerja Republik Indonesia. Keputusan Menteri Tenaga Kerja
Nomor 51 Tahun 1999 Tentang Nilai Ambang Batas Faktor Fisika Di Tempat
Kerja, 1999.
Mahbubiyah A.E. 2011. Analisis Pesawat Terbang Di Kawasan Sekitar Bandara
(Studi Kasus : Bandara Pekanbaru Dan Surabaya). Jakarta : Fakultas Sains
dan Teknologi. Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah
Sasongko D. P., dkk. 2000. Kebisingan Lingkungan. Semarang : Badan Penerbit
Universitas Diponegoro.
Sugiharto, Timmy. Tugas Akhir : Penerapan Model NEF Untuk Memprediksi
Kebisingan Bandar Udara (Studi Kasus : Bandar Udara Adistjipto
Yogyakarta). Bandumg : ITB
Primanda F.B., 2012. Pemetaan Kebisingan Akibat Aktivitas Pesawat Dengan
Software Integrated Noise di Sekitar Bandar Udara Internasional Soekarno-
Hatta. Jurnal : Universitas Indonesia, Fakultas Teknik Lingkungan.
Pratomo, Suko.2010. Sumber Daya Alam dan Pencemaran/Polusi.
Yully M.L., 2002. Pengkajian Tingkat Kebisingan Pesawat Udara DC-10 Secara
Offline. Jurnal : Teknik Lingkungan Fakultas Arsitektur Lanskap Dan Teknik
Lingkungan, Universitas Trisakti Jakarta.
Rachman R.M., 2007. Tesis : Kajian Manjemen Lingkugan Bandar Udara Ahmad
Yani Semarang. Universitas Diponegoro Semarang
LAMPIRAN 1. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No.48
Tahun 1996 Tanggal 25 Nopember 1996
LAMPIRAN 2. Persetujuan Dan Pengesahan Hasil Penelitian Kawasan
Kebisingan (Bkk) Disekitar Bandar Udara

PERSETUJUAN DAN PENGESAHAN HASIL PENELITIAN KAWASAN


KEBISINGAN (BKK) DISEKITAR BANDAR UDARA

Persetujuan Direktorat Bandar Udara

Persyaratan :

a. Kawasan kebisingan di bandar udara diukur dan ditentukan dengan


bertitik tolak pada rencana induk bandar udara;
b. Tingkat kebisingan ditentukan berdasarkan Weighted Equivalent
Continuous Perceived Noise Level (WECPNL);
c. Tingkat kebisingan terdiri dari :

Kawasan kebisingan tingkat I dengan nilai WECPNL lebih besar atau


sarna dengan 70 dan lebih kecil 75 ( 70 = WECPNL < 75 ), yaitu tanah
dan ruang udara yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai jenis
kegiatan dan atau bangunan kecuali untuk jenis bangunan sekolah dan
rumah sakit;
Kawasan kebisingan tingkat II dengan nilai WECPNL lebih besar
atau sama dengan 75 dan lebih kecil 80 ( 75 = WECPNL < 80), yaitu
tanah dan ruang udara yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai jenis
kegiatan dan atau bangunan kecuali untuk jenis kegiatan dan/atau
bangunan sekolah, rumah sakit dan rumah tinggal; dan
Kawasan kebisingan tingkat III dengan nilai WECPNL lebih besar
atau sama dengan 80 (80 = WECPNL), yaitu tanah dan ruang udara
yang dapat dimanfaatkan untuk membangun tasilitas bandar udara
yang dilengkapi insulasi suara dan dapat dimanfaatkan sebagai jalur
hijau atau sarana pengendalian Iingkungan dan pertanian yang tidak
mengundang burung.