Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN KEGIATAN KEPANITERAAN KLINIK SENIOR

UPTD PUSKESMAS BAITURRAHMAN


PERIODE 6 MARET 18 MARET 2017

Diajukan sebagai salah satu syarat dalam menjalani Kepaniteraan Klinik


di SMF/Bagian Ilmu Kedokteran Keluarga Fakultas Kedokteran
Universitas Syiah Kuala Banda Aceh

Disusun oleh :

(--------)
Pembimbing:
(----------)

SMF/BAGIAN ILMU KEDOKTERAN KELUARGA


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SYIAH KUALA
BANDA ACEH
2017
PROMOSI
KESEHATAN
LAPORAN KEGIATAN PROMOSI KESEHATAN INDOOR
HIV- AIDS

I. Latar belakang
HIV dan AIDS merupakan masalah kesehatan di seluruh dunia yaitu masih
tingginya transmisi infeksi, angka kesakitan dan angka kematian. Secara global
kasus HIV pada tahun 2011, diperkirakan terdapat 34 juta orang hidup dengan
HIV, sebanyak 30,7 juta diantaranya adalah orang dewasa. Sebesar 16,7 juta yang
terinfeksi adalah perempuan dan sebanyak 3,3 juta anak-anak dibawah usia 15
tahun. Jumlah orang yang terinfeksi baru dengan HIV sebanyak 2,5 juta, dengan
pembagian 2,2 juta usia dewasa dan, 330 ribu adalah anak-anak usia kurang dari
15 tahun. Jumlah kematian akibat AIDS, adalah sebanyak 1,8 juta orang, dengan
pembagian 1,5 juta diantaranya adalah orang dewasa dan sebanyak 230 ribu
adalah anak-anak kurang dari 15 tahun.1,2
Human Immunodeficiency Virus (HIV), merupakan retrovirus yang
menjangkiti sel-sel sistem kekebalan tubuh manusia (terutama CD4 positive T-sel
dan makrofag komponen-komponen utama sistem kekebalan sel), dan
menghancurkan atau mengganggu fungsinya. Infeksi virus ini mengakibatkan
terjadinya penurunan sistem kekebalan yang terus-menerus, yang akan
mengakibatkan defisiensi kekebalan tubuh. Sedangkan Acquired
Immunodeficiency Syndrome (AIDS) menggambarkan berbagai gejala dan infeksi
yang terkait dengan menurunnya sistem kekebalan tubuh. Infeksi HIV telah
ditetapkan sebagai penyebab AIDS, tingkat HIV dalam tubuh dan timbulnya
berbagai infeksi tertentu merupakan indikator bahwa infeksi HIV telah
berkembang menjadi AIDS.1
Infeksi HIV pada anak masih menjadi masalah kesehatan yang sangat besar di
dunia, dan berkembang dengan cepat serta sangat berbahaya. Perjalanan alami,
beratnya, dan frekuensi penyakit pada anak yang menderita AIDS berbeda dengan
anak yang mempunyai sistem imun normal. Penularan infeksi HIV dari ibu ke
bayi merupakan penyebab utama infeksi HIV pada bayi usia di bawah 15 tahun.
Sejak pertama kali dilaporkan oleh Oleske, Rubinstein dan Amman pada tahun
1983 di Amerika Serikat, terus terjadi peningkatan. Seiring dengan meningkatnya
jumlah kasus HIV-AIDS padaperempuan yang diperkirakan 50% dari kasus
HIV/AIDS. Pada tahun 2009, sebanyak 370.000 anak-anak terinfeksi baru HIV di
seluruh dunia dan diperkirakan 42.000-60.000 wanita hamil meninggal karena
HIV. Kasus HIV pada bayi yang lahir dari ibu pengidap HIV merupakan masalah
besar di negara-negara berkembang.1,2
Melihat hal tersebut dapat disimpulkan pentingnya penyuluhan mengenai
HIV-AIDS guna menurunkan angka penularan dan pengenalan faktor risiko yang
paling dominan sangat penting.

II. Tujuan
1. Menjelaskan tentang penyakit HIV-AIDS
2. Menjelaskan mengenai gejala HIV-AIDS
3. Menjelaskan penyebab HIV- AIDS
4. Menjelaskan pencegahan HIV-AIDS
5. Menjelaskan penanganan HIV-AIDS

III. Tempat, Waktu, dan Peserta


Tempat : Puskesmas
Tanggal :
Pukul : 08.30-09.30 WIB
Peserta : Bapak dan Ibu yang berobat ke Puskesmas

IV. Metode Penyuluhan


Penyuluhan promosi kesehatan dilakukan dengan metode presentasi dan
diskusi interpersonal. Berikut adalah susunan acara promosi kesehatan:
No. Kegiatan Durasi
1. Pembukaan 3 menit
2. Penyampaian Materi 15 menit
3. Tanya Jawab dan Diskusi 10 menit
4. Penutup 2 menit
V. Materi Penyuluhan
1. Definisi

HIV (Human Immunodeficiency Virus) merupakan retrovirus bersifat


limfotropik khas yang menginfeksi sel-sel dari sistem kekebalan tubuh,
menghancurkan atau merusak sel darah putih spesifik yang disebut limfosit T-
helper atau limfosit pembawa faktor T4 (CD4). Virus ini diklasifikasikan dalam
famili Retroviridae, subfamili Lentiviridae, genus Lentivirus. Selama infeksi
berlangsung, sistem kekebalan tubuh menjadi lemah dan orang menjadi lebih
rentan terhadap infeksi. Tingkat HIV dalam tubuh dan timbulnya berbagai infeksi
tertentu merupakan indikator bahwa infeksi HIV telah berkembang menjadi AIDS
(Acquired Imunnodeficiency Syndrome).1
AIDS merupakan kumpulan gejala atau penyakit yang disebabkan oleh
menurunnya kekebalan tubuh akibat virus HIV. Sebagian besar orang yang
terkena HIV, bila tidak mendapat pengobatan, akan menunjukkan tanda-tanda
AIDS dalam waktu 8-10 tahun.2

2. Epidemiologi

Kasus HIV/AIDS pertama di dunia dilaporkan pada tahun 1981. Menurut

UNAIDS, salah satu bagian dari WHO yang mengurus tentang AIDS

menyebutkan bahwa perkiraan jumlah penderita yang terinfeksi HIV/AIDS di

seluruh dunia sampai dengan akhir tahun 2010 mencapai 34 juta. Dilihat dari

tahun 1997 hingga tahun 2011 jumlah penderita HIV/AIDS mengalami

peningkatan hingga 21%. Pada tahun 2011, UNAIDS memperkirakan jumlah

penderita baru yang terinfeksi HIV/AIDS sebanyak 2,5 juta. Jumlah orang yang

meninggal karena alasan yang terkait AIDS pada tahun 2010 mencapai 1,8 juta,

menurun dibandingkan pada pertengahan tahun 2000 yang mencapai

puncaknya yaitu sebanyak 2,2 juta.


Di Indonesia, jumlah penderita HIV/AIDS terus meningkat dari tahun ke

tahun tetapi jumlah kasus baru yang terinfeksi HIV/AIDS relatif stabil bahkan

cenderung menurun. Menurut Laporan HIV-AIDS Tahun 2012, didapatkan

jumlah kasus baru HIV pada triwulan kedua (April-Juni 2012) sebanyak 3.892

kasus dan jumlah kasus kumulatif HIV pada Januari 1987- Juni 2012 sebanyak

86.762 kasus. Sedangkan kasus baru AIDS pada triwulan kedua (April-Juni

2012) sebanyak 1.673 kasus dan jumlah kasus kumulatif AIDS pada Januari

1987- Juni 2012 sebanyak 32.103 kasus. Pada kasus baru HIV, Provinsi Jawa

Tengah menduduki peringkat ke 7 se-Indonesia dan pada kasus baru AIDS,

Provinsi Jawa Tengah menduduki peringkat ke 2 se-Indonesia. Kasus HIV

menurut usia pada Januari-Juni 2012 terbanyak pada 25-49 tahun. Pada kasus

AIDS, terbanyak pada usia 30-39 tahun. Jenis kelamin pada kasus HIV adalah

laki-laki sebanyak 57% dan wanita sebanyak 43%. Jenis kelamin pada kasus

AIDS adalah laki-laki sebanyak 61,8% dan perempuan sebanyak 38,1%. Jadi

dapat disimpulkan, kasus HIV dan AIDS menurut jenis kelamin lebih banyak

pada laki-laki. Pada tahun 2012 angka kematian AIDS mengalami penurunan

menjadi 0,9% dibandingkan dengan tahun2011.

3. Etiologi

Penyebab AIDS adalah sejenis virus yang tergolong Retrovirus yang disebut
Human Immunodeficiency Virus (HIV). Virus ini pertama kali diisolasi oleh
Montagnier dan kawan-kawan di Prancis pada tahun 1983 dengan nama
Lymphadenopathy Associated Virus (LAV), sedangkan Gallo di Amerika Serikat
pada tahun 1984 mengisolasi (HIV) III. Kemudian atas kesepakatan internasional
pada tahun 1986 nama virus dirubah menjadi HIV.
Human Immunodeficiency Virus adalah sejenis Retrovirus RNA. Dalam
bentuknya yang asli merupakan partikel yang inert, tidak dapat berkembang atau
melukai sampai ia masuk ke sel target. Sel target virus ini terutama sel Lymfosit
T, karena ia mempunyai reseptor untuk virus HIV yang disebut CD-4. Didalam
sel Lymfosit T, virus dapat berkembang dan seperti retrovirus yang lain, dapat
tetap hidup lama dalam sel dengan keadaan inaktif. Walaupun demikian virus
dalam tubuh pengidap HIV selalu dianggap infectious yang setiap saat dapat aktif
dan dapat ditularkan selama hidup penderita tersebut.
Secara morfologis HIV terdiri atas 2 bagian besar yaitu bagian inti (core) dan
bagian selubung (envelop). Bagian inti berbentuk silindris tersusun atas dua
untaian RNA (Ribonucleic Acid). Enzim reverce transcriptase dan beberapa jenis
prosein. Bagian selubung terdiri atas lipid dan glikoprotein (gp 41 dan gp 120).
Gp 120 berhubungan dengan reseptor Lymfosit (T4) yang rentan. Karena bagian
luar virus (lemak) tidak tahan panas, bahan kimia, maka HIV termasuk virus
sensitif terhadap pengaruh lingkungan seperti air mendidih, sinar matahari dan
mudah dimatikan dengan berbagai disinfektan seperti eter, aseton, alkohol,sodium
hipoklorit dan sebagainya, tetapi telatif resisten terhadap radiasi dan sinar
utraviolet.
Virus HIV hidup dalam darah, saliva, semen, air mata dan mudah mati diluar
tubuh. HIV dapat juga ditemukan dalam sel monosit, makrotag dan sel glia
jaringan otak.

4. Patofisiologi

Dasar utama terinfeksinya HIV adalah berkurangnya jenis Limfosit T helper


yang mengandung marker CD4 (Sel T4). Limfosit T4 adalah pusat dan sel utama
yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung dalam menginduksi fungsi
imunologik. Menurun atau menghilangnya sistem imunitas seluler, terjadi karena
virus HIV menginfeksi sel yang berperan membentuk antibodi pada sistem
kekebalan tersebut, yaitu sel Limfosit T4. Setelah virus HIV mengikatkan diri
pada molekul CD4, virus masuk ke dalam target dan melepaskan bungkusnya
kemudian dengan enzim reverse transkriptase virus tersebut merubah bentuk
RNA (Ribonucleic Acid) agar dapat bergabung dengan DNA (Deoxyribonucleic
Acid) sel target. Selanjutnya sel yang berkembang biak akan mengandung bahan
genetik virus. Infeksi HIV dengan demikian menjadi irreversibel dan berlangsung
seumur hidup. 3,4,5
Pada awal infeksi, virus HIV tidak segera menyebabkan kematian dari sel
yang diinfeksinya, tetapi terlebih dahulu mengalami replikasi sehingga ada
kesempatan untuk berkembang dalam tubuh penderita tersebut dan lambat laun
akan merusak limfosit T4 sampai pada jumlah tertentu. Masa ini disebut dengan
masa inkubasi. Masa inkubasi adalah waktu yang diperlukan sejak seseorang
terpapar virus HIV sampai menunjukkan gejala AIDS. Pada masa inkubasi, virus
HIV tidak dapat terdeteksi dengan pemeriksaan laboratorium kurang lebih 3 bulan
sejak tertular virus HIV yang dikenal dengan masa window period. Setelah
beberapa bulan sampai beberapa tahun akan terlihat gejala klinis pada penderita
sebagai dampak dari infeksi HIV tersebut.3,4
Pada sebagian penderita memperlihatkan gejala tidak khas pada infeksi HIV
akut, 3-6 minggu setelah terinfeksi. Gejala yang terjadi adalah demam, nyeri
menelan, pembengkakan kelenjar getah bening, ruam, diare, atau batuk. Setelah
infeksi akut, dimulailah infeksi HIV asimptomatik (tanpa gejala). Masa tanpa
gejala ini umumnya berlangsung selama 8-10 tahun, tetapi ada sekelompok kecil
penderita yang memliki perjalanan penyakit amat cepat hanya sekitar 2 tahun dan
ada juga yang sangat lambat (non-progressor).Secara bertahap sistem kekebalan
tubuh yang terinfeksi oleh virus HIV akan menyebabkan fungsi kekebalan tubuh
rusak. Kekebalan tubuh yang rusak akan mengakibatkan daya tahan tubuh
berkurang bahkan hilang, sehingga penderita akan menampakkan gejala-gejala
akibat infeksi oportunistik. 3,4,5

5. Manifestasi Klinis
Tanda dan gejala klinis yang ditemukan pada penderita AIDS umumnya sulit
dibedakan karena bermula dari gejala klinis umum yang didapati pada penderita
penyakit lainnya. Secara umum dapat dikemukakan sebagai berikut:1,2
a. Rasa lelah dan lesu
b. Berat badan menurun secara drastis
c. Demam yang sering dan berkeringat waktu malam
d. Mencret dan kurang nafsu makan
e. Bercak-bercak putih di lidah dan di dalam mulut
f. Pembengkakan leher dan lipatan paha
g. Radang paru
h. Kanker kulit
Manifestasi klinik utama dari penderita AIDS umumnya meliputi 3 hal yaitu:1,2
a. Manifestasi tumor
1. Sarkoma Kaposi
Kanker pada semua bagian kulit dan organ tubuh. Penyakit ini sangat jarang
menjadi sebab kematian primer.
2. Limfoma ganas
Timbul setelah terjadi Sarkoma Kaposi dan menyerang saraf serta dapat bertahan
kurang lebih 1 tahun.
b. Manifestasi oportunistik
1. Manifestasi pada Paru
a. Pneumoni pneumocystis (PCP)
Pada umumnya 85% infeksi oportunistik pada AIDS merupakan infeksi paru PCP
dengan gejala sesak nafas, batuk kering, sakit bernafas dalam dan demam.
b. Cytomegalovirus (CMV)
Pada manusia 50% virus ini hidup sebagai komensal pada paru-paru tetapi dapat
menyebabkan pneumocystis. CMV merupakan 30% penyebab kematian pada
AIDS.
c. Mycobacterium avilum
Menimbulkan pneumoni difus, timbul pada stadium akhir dan sulit disembuhkan.
d. Mycobacterium tuberculosis
Biasanya timbul lebih dini, penyakit cepat menjadi milier dan cepat menyebar ke
organ lain di luar paru.
2. Manifestasi gastrointestinal
Tidak ada nafsu makan, diare kronis, penurunan berat badan >10% per bulan.
c. Manifestasi neurologis
Sekitar 10% kasus AIDS menunjukkan manifestasi neurologis yang biasanya
timbul pada fase akhir penyakit. Kelainan saraf yang umum adalah ensefalitis,
meningitis, demensia, mielopati, neuropati perifer.
6. Diagnosis
Diagnosis infeksi HIV & AIDS dapat ditegakkan berdasarkan klasifikasi
klinis WHO atau CDC. Di Indonesia diagnosis AIDS untuk keperluan surveilans
epidemiologi dibuat apabila menunjukkan tes HIV positif dan sekurang-
kurangnya didapatkan dua gejala mayor dan satu gejala minor.

Tabel 1. Gejala Mayor dan Minor Infeksi HIV/AIDS


Berikut stadium klinis HIV-AIDS yang dijelaskan oleh WHO:
Tabel 2 . Stadium Klinis HIV AIDS
7. Penatalaksanaan

Apabila terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV), maka terapinya


yaitu :

a. Pengendalian Infeksi Opurtunistik

Bertujuanmenghilangkanmengendalikan, dan pemulihan


infeksiopurtunistik,nasokomial, atau sepsis.Tindakan pengendalian
infeksi yang aman untuk mencegah kontaminasi bakteri dan
komplikasi penyebab sepsis harus dipertahankan bagi pasien
dilingkungan perawatan kritis.

b. Terapi ARV (anti retroviral theraphy)

ARV dapat menghentikan replikasi HIV, memulihkan sistem imun dan


mengurangi terjadinya infeksi opportunistik. Obat ARV terdiri ats
beberapa golongan antara lain

1) nucleoside reverse transcriptase inhibitor (NRTI), obat ini dikenal


sebagai analog nukleosida yang menghambat proses perubahan
RNA virus menjadi DNA, contoh obat golongan ini adalah
zidovudine (ZDV), stavudine (d4T), dan lamivudine (3TC).
2) nucleotide reverse transcriptase inhibitor (NtRTI), yang termasuk
golongan ini adalah tenofovir (TDF).
3) protease inhibitor (PI) menghalangi kerja enzim protease yang
yang berfungsi memotong DNA yang dibentuk oleh virus dengan
ukuran yang benar untuk memproduksi virus baru, contoh obat
golongan ini adalah Indinavir (IDV), nelvinavir (NFV), squinavir
(SQV), ritonavir (RTV), amprenavir (APV), dan
loponavir/ritonavir(LPV/r).
4) Fusion inhibitor, yang termasuk obat golongan ini adalah
enfuvirtide (T-20).

c. Vaksin dan Rekonstruksi Virus


Upaya rekonstruksi imun dan vaksin dengan agen tersebut seperti
interferon, maka perawat unit khusus perawatan kritis dapat
menggunakan keahlian dibidang proses keperawatan dan penelitian
untuk menunjang pemahaman dan keberhasilan terapi AIDS.

d. Pendidikan untuk menghindari alcohol dan obat terlarang, makan-


makanan sehat,hindari stress,gizi yang kurang,alcohol dan obat-obatan
yang mengganggu fungsi imun.5
e. Menghindari infeksi lain, karena infeksi itu dapat mengaktifkan sel T
dan mempercepat reflikasi Human Immunodeficiency Virus (HIV).
f. Terapi ARV tahun 2007 dan 2012

Populasi target` Pedoman terapi ARV 2007 Pedoman terapi ARV 2011

Indikasi mulai terapi ARV

ODHA tanpa gejala klinis (ST. 1) dan CD4 < 200 cell/mm3 CD4 < 350 cell/mm3
belum pernah mendapat terapi ARV

ODHA dengan gejala klinis dan belum Semua pasien CD4 <200 Stadium Klinis 2 bila CD4 < 350 sel/mm3
pernah mendapatkan terapi ARV sel/mm3 Atau
Stadium klinis 3 atau 4, Stadium klinis 3 atau 4, berapapun jumlah CD4
beberapapun jumlah CD4

Perempuan hamil dengan HIV Stadium klinis 1 atau 2 dan Semua ibu hamil berapapun jumlah CD4 atau apapun s
CD4 <200 sell/mm3 klinis
Stadium klinis 3 dan CD4 <350
sell/mm3
Stadium klinis 4 beberapapun
jumlah CD4

ODHA dengan koinfeksi TB dan belum Adanya gejala TB aktif dan Mulai terapi berapapun jumlah CD4
pernah mendapat terapi ARV CD4 <350 sell/mm3

ODHA dengan koinfeksi HBV yang belum Tidak ada rekomendasi ODHA dengan koinfeksi Hepatitis B (kronis aktif), berap
pernah mendapat terapi ARV jumlah CD4.

Panduan Terapi ARV

ODHA yang belum pernah mendapat AZT atau d4T + 3TC (atau FTC) Menggunakan TDF sebagai lini pertama
terapi ARV +EFV atau NVP Perlunya memulai phase-out d4T dan memulai terapi d
AZT atau TDF, mengingat efek samping

Perempuan hamil HIV+ AZT + 3TC + NVP AZT atau TDF sebagai lini pertama

Koinfeksi TB-HIV AZT atau d4T + 3TC (atau FTC) TDF menggantikan d4T sebagai lini pertama
+ EFV

Koinfeksi HIV-Hepatitis B (kronis aktif) TDF + 3TC (atau FTC)+ EFV Diperlukan panduan NRTI yang berisi TDF + 3 TC (atau
8. Pencegahan
Dalam upaya menurunkan risiko terinfeksi HIV, berbagai organisasi
kesehatan
dunia termasuk Indonesia menganjurkan pencegahan melalui pendekatan ABCD,
yaitu:
1. A atau Abstinence, yaitu menunda kegiatan seksual, tidak melakukan
kegiatan seksual sebelum menikah.
2. B atau Be faithful, yaitu saling setia pada pasangannya setelah menikah.
3. C atau Condom, yaitu menggunakan kondom bagi orang yang melakukan
perilaku seks berisiko.
4. D atau Drugs, yaitu tidak menggunakan napza terutama napza suntik agar
tidak menggunakan jarum suntik bergantian dan secara bersama-sama.

Upaya pencegahan juga dilakukan dengan cara memberikan KIE


(Komunikaasi, Informasi, dan Edukasi) mengenai HIV/AIDS kepada masyarakat
agar tidak melakukan perilaku berisiko, khususnya pada remaja.

Ada lima tingkat pencegahan (Five level prevention) menurut Level & Clark,
yaitu:
1. Promosi kesehatan (health promotion)
2. Perlindungan khusus (spesific protection)
3. Diagnosis dini dan pengobatan segera (early diagnosis and prompt treatment)
4. Pembatasan cacat (disabaliyi limitation)
5. Rehabilitasi (rehabilitation)

Dalam proses pencegahan terhadap semakin meluasnya epidemi


HIV/AIDS,
semua elemen dari masyarakat bertanggung jawab terhadap proses pencegahan.
Yang bertanggung jawab terhadap pencegahan persebaran HIV/AIDS adalah:
1. Individu
Seseorang harus mengadopsi gaya hidup dan perilaku yang sehat dan
mengurangi risiko penularan HIV. Orang terinfeksi HIV harus menjadi orang
yang bertanggungjawab untuk menjamin bahwa mereka untuk seterusnya
tidak akan menyebarkan virus ke orang lain.

2. Keluarga
Keluarga harus mengadopsi nilai-nilai peningkatan kesehatan. Keluarga harus
memberikan pemahaman dan rasa simpati serta perlindungan untuk
menolong anggota keluarga yang divonis orang terinfeksi HIV dalam
menghadapi situasi yang tidak normal dan memaksimalkan potensi kesehatan
untuk mempertahankan diri dari infeksi yang lain.

3. Masyarakat
Masyarakat harus menghindari sikap diskriminasi terhadap orang terinfeksi
HIV dan meningkatkan suasana lingkungan yang mendukung dengan norma
sosial yang bersifat melindungi. Masyarakat juga harus berusaha keras
meminimalkan kemiskinan yang cenderung memperburuk situasi.

4. Petugas kesehatan
Petugas kesehatan memiliki tanggung jawab ganda terhadap penyediaan
perawatan dan konseling terhadap orang terinfeksi HIV. Mereka harus
menyediakan tindakan pencegahan yang sesuai untuk mencegah penyebaran
infeksi ke klien yang lain dan diri mereka sendiri.

5. Media
Media masa memiliki peran yang dengan mudah dapat dijangkau oleh banyak
pembaca dan murah dalam menyampaikan informasi tentang HIV/AIDS.
Bersama dengan media dalam bentuk lain, media masa bisa efektif
menimbulkan kepedulian masyarakat tentang HIV/AIDS. Bagaimanapun,
media masa harus bertanggungjawab dalam melaporkan informasi tentang
HIV/AIDS, menghindari ketidakakuratan yang mana mungkin menghasilkan
perbedaan persepsi dan membutuhkan klarifikasi.

6. Ahli Kesehatan dan LSM


Para ahli kesehatan dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dapat
membantu menyebarkan informasi yang benar tentang HIV/AIDS dengan
melakukan proses pembelajaran di masyarakat. Dengan melibatkan
masyarakat umum, LSM dapat menjadi penghubung antara ahli kesehatan
dan masyarakat

Pencegahan HIV diantara penjaja seks dan pelanggan PS:

Banyak proyek yang menemukan bahwa aktivitas pencegahan HIV diantara


penjaja seks, pelanggan PS, dan pasangannya adalah paling efektif ketika paket
intervensi mencakup paling sedikit tiga elemen:
1. Pesan informasi dan perubahan perilaku.
2. Promosi kondom dan membangun keterampilan.
3. Pelayanan IMS.

Pencegahan HIV pada remaja:

1. Merubah perilaku dan sikap adalah lebih mudah jika dimulai sebelum pola
dibentuk.
2. Sumber kekuatan pencegahan berada didalam dirinya sendiri.
3. Sering dan mudah dijumpai dalam jumlah besar.

Pencegahan HIV dan Pengguna napza suntik:

1. Program penjangkauan masyarakat berbasis komunitas sebaya.


2. Meningkatkan akses untuk alat suntik yang steril dan kondom.
3. Meningkatkan akses untuk perawatan ketergantungan obat, khususnya
metadon (Tim, Brown. et. all. 2001).
Leaflet HIV-AIDS

VI. Diskusi dan Tanya Jawab


1.

Jawaban:

2.

Jawaban:

VII. Penutup

HIV (Human immunodeficiency virus) adalah virus penyebab Acquired


Immunodeficiency Syndrome (AIDS). HIV yang dulu disebut sebagai HTLV-III
(Human T cell lympothropic virus Tipe III) atau LAV (Lymphadenopathy Virus),
adalah virus sitopatik dari famili retrovirus. Hal ini menunjukkan bahwa virus ini
membawa materi genetiknya dalam asam ribonukleat (RNA) dan bukan dalam
asam deoksiribonukleat (DNA). AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome)
adalah sekumpulan gejala penyakit karena menurunnya sistem kekebalan tubuh
yang disebabkan oleh infeksi HIV Centers for Disease Control (CDC)
merekomendasikan bahwa diagnosa AIDS ditujukan pada orang yang mengalami
infeksi opportunistik, dimana orang tersebut mengalami penurunan sistem imun
yang mendasar (sel T berjumlah 200 atau kurang) dan memiliki antibodi positif
terhadap HIV.

AIDS disebabkan oleh virus yang mempunyai beberapa nama yaitu HTL II,
LAV, RAV. Yang nama ilmiahnya disebut Human Immunodeficiency Virus (
HIV ) yang berupa agen viral yang dikenal dengan retrovirus yang ditularkan oleh
darah dan punya afinitas yang kuat terhadap limfosit T
VIII. Dokumentasi

IX. Daftar Pustaka

1. Djoerban Z, Djauzi. HIV/AIDS di Indonesia. Dalam: Buku Ajar Ilmu


Penyakit Dalam, Jilid III, Edisi V, Pusat Penerbit Departemen Ilmu
Penyakit Dalam FKUI, Jakarta: 2009 November; 2861-8.
2. WHO. WHO case definitions of HIV for surveilance and revised clinical
stagging and immunological classification of HIV related disease in adult
and children. Geneva (Switzerland); 2007.
3. Nasronudin. HIV/AIDS. In: Penyakit infeksi di Indonesia solusi kini dan
mendatang. Editor: Hadi U, Vitanata, Erwin AT, Suharto, Bramantono,
Soewandojo E. Surabaya: Airlangga University Press. 2007; p. 15 7.
4. Swindells S, Cobos DG, Lee N, Lien EA, Fitzgerald AP, Pauls JS et al.
Racial/ethnic differences in CD4 T cell count and viral load at presentation
for medical care and in follow-up after HIV-1 infection. Journal of The
International AIDS Society. 2002; 16(13):18324.
5. Fauci AS and Lane HC. Human Immunodeficiency Virus Disease : AIDS
and related disorder. In: Kasper DL, Fauci AS, Longo DL et al.
HarrisonsPrinciples of Internal Medicine Vol1.17 th Edition. New York:
Mc Graw Hill Comparies. 2008;1076-96.