Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

EKONOMI ISLAM

DISUSUN OLEH :

Nama :
1. Yuni Verawati (A1E017011)
2. Yunita Rahmani (A1E017027)
Dosen : Dedy Hamdani, M.Si

UNIVERSITAS BENGKULU
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA
2017
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb

Puji dan syukur penyusun ucapkan kehadirat Allah Subhanahu Wataala yang
telah memberikan kekuatan, kesehatan dan lain-lain, sehingga Makalah Pendidikan
Agama Islam ini telah selesai disusun dengan pokok pembahasan mengenai Sistem
Ekonomi Islam, Zakat, Infaq, Shodaqoh dan Waqaf.

Makalah Pendidikan Agama Islam ini, disusun untuk memenuhi kebutuhan


mahasiswa yang mengambil Mata Kuliah ini dan sebagai bahan wacana untuk
menambah pengetahuan mahasiswa tentang hal yang berhubungan dengan Islam. Serta
sebagai bahan diskusi. Makalah ini terkonsentrasi membahas
mengenaisystem ekonomi islam, zakat, infaq, shodaqoh dan waqaf.

Makalah ini disusun dengan menggunakan ragam bahasa sederhana. Agar isi,
maksud dan tujuan penyusunan makalah ini dapat dipahami dengan mudah.

Penyusun telah berusaha sekuat tenaga dan pikiran dalam menyusun makalah
ini. Namun demikian tentunya masih banyak kekurangan-kekurangannya. Untuk itu
penyusun mengharapkan kritik-kritik dan saran-saran yang membangun dari semua
pihak demi penyempurnaan isi Makalah Pendidikan Agama Islam ini untuk masa
yang akan datang.

Demikian makalah ini disusun dengan harapan semoga bermanfaat bagi para
pembacanya. Dan semoga allah Subhanahu Wataala senantiasa memberikan Taufiq dan
Hidayah-Nya kepada siapa saja yang mencintai pendidikan Agama Islam. Amin Ya
Rabbal alamin

Wassalamualaikum Wr. Wb

Bengkulu, 21 November 2017

Penyusun
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ................................................................................i
KATA PENGANTAR ...............................................................................ii
DAFTAR ISI ..............................................................................iii

BAB I PENDAHULUAN ...............................................................................4


1.1 Latar Belakang ...............................................................................4
1.2 Rumusan Masalah ...............................................................................5
1.3 Tujuan ...............................................................................5

BAB II PEMBAHASAN ...............................................................................6


2.1 Sistem Ekonomi Islam ...............................................................................6
2.2 Zakat ...............................................................................8
2.3 Infaq .............................................................................11
2.4 Shodaqah .............................................................................13

BAB III .............................................................................15


3.1 Kesimpulan .............................................................................15
3.2 Saran .............................................................................16

DAFTAR PUSTAKA .............................................................................17


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Dari segi ekonomi itu manusia dituntut untuk dapat memenuhi kebutuhannya
yang Sangat tidak terbatas dimana alat pemuas kebutuhannya terbatas. Karena pada
dasarnya manusia itu serakah dan tidak pernah puas. Makhluk ekonomi itu mempunyai
prinsip pengorbanan yang sekecil-kecilnya yang dilakukan manusia untuk memperoleh
hasil yang sebesar-besarnya.

Manusia dalam ilmu ekonomi itu fikirannya selalu harus mampu bersaing
sesama manusia dan mampu memenuhi segala hasrat/ nafsu untuk memiliki segala hal
yang dia inginkan. Kebutuhan itu mencerminkan adanya perasaan kekurangan dalam
manusia dan itu harus dipuaskan.

Semakin modern tentunya peradapan makin tinggi dan semakin merosotlah


moral manusia. Karena dengan canggihnya teknologi dia tidak memperdulikan dampak
negatifnya. Bahkan Marka dengan penipuan, kekerasan, peminjaman uang yang
berfaedah(bunga), dan lain sebagainya. Karena manusia itu kini sudah menganggap
bahwa kenikmatan dunia( hedonisme) itu harus dikejar sebagai bukti bahwa dia
makhluk yang dinamis yang mampu beradaptasi dengan era globalisasi.

Ini semua berbanding terbalik dengan segi agamais. Disisi agama, khususnya
Islam bahwa manusia hidup itu untuk Ibadah, mengakui eksistensi sang pencipta.
Bahwa ia merasa hidup itu harus berdasarkan syariat Islam, hidup untuk mengabdikan
dirinya lepada Allah, karena dia tahu bahwa dari mana ia berasal, untuk apa ia hidup
dan kemana dia akan kembali itu semuanya centralnya hanya pada Allah Subhanahu
wataala saja.

Karena semakin modern dan manusia selalu mengejar kepuasan duniawi tanpa
memperhatikan sekitarnya. Maka, makalah ini mengajarkan bagaimana kita sebagai
makhluk social ekonomi sekaligus sebagai makhluk religius untuk saling empati, saling
berbagi, saling tolong bantu kepada sesama. Ini akan mengajarkan kita bagaimana
kepedulian kita, keiklasan kita terhadap segala hal yang kita cintai kita tidak akan
tenderita jika kita banyak membantu sesama karena Allah telah menjanjikan pahala bagi
kita semua yang memiliki jira social.

Hal yang semacam ini harus lebih mendapat perhatian yang lebih bagi
mahasiswa muslim maupun pejuang Islam yang merupakan sebagai agen pembawa
perubahan dan pembawa pencerahan. Serta mahasiswa sebagai pejuang Islam
dianjurkan untuk lebih membangkitkan jira sosialnya untuk menegakkan khilafah
islamiyyah dan mempererat ukhuwah islamiyyah atau tali silaturahim sesama umat
khususnya sesama umat muslim.

1.2 Rumusan Masalah


Bagaimana sistem ekonomi islam, zakat,infaq, dan shadaqah?

1.3 Tujuan Penulisan


1. Untuk menambah pengetahuan mengenai sistem ekonomi Islam, zakat, infaq,
shodaqoh dan waqaf
2. Untuk diajukan sebagai pemenuhan tugas Pendidikan Agama Islam dari
Pengajar atau Dosen.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 SISTEM EKONOMI ISLAM


Sistem ekonomi Islam tidak sama dengan system-sistem ekonomi
lainnya(kapitalis, sosialis,dsb). System ekonomi Islam lahir dari sumber wahyu
sedang yang lain datang dari sumber akal. Cirri-ciri system ekonomi Islam meliputi:
1. Memelihara fitrah manusia
2. Memelihara norma-norma akhlak
3. Memenuhi keperluan-keperluan masyarakat

Kegiatan ekonomi Islam memiliki cita-cita luhur, yaitu bertujuan berusaha


untuk mencari keuntungan individu disamping melahirkan kebahagiaan bersama
bagi masyarakat. Aktivi-aktivi ekonomi Islam senantiasa diawasi oleh hokum-
hukum islam dan pelaksanaanya dikawal pula oleh pihak pemerintah. Ekonomi
islam menseimbangkan antara kepentingan individu dan masyarakat.

Menurut Zallum (1983), Az-Zain (1981) , An-Nabbaniy (1990), dan


Abdullah (1990) menyatakan bahwa Azaz-azaz yang membangun system ekonomi
islam terdiri atas 3 azaz yaitu ;
1. Bagaimana harta diperoleh yakni menyangkut kepemilikan ( Al-Milkiya )
2. Bagaimana pengelolaan kepemilikian harta ( Tasharruf Fil Milkiyah )
3. Bagaimana distribusi kekayaan ditengah masyarakat ( Tauziul Tsarwah
Bayna An-Naas )

A. CIRI-CIRI EKONOMI ISLAM


1. MELIBATKAN TUHAN
Orang Islam berekonomi dengan niat karena Allah dan mengikuti peraturan
dan hukum-hukum Allah Taala. Matlamatnya ahla untuk mendapatkan ridha dan
kasih sayang Allah. Syariat lahir dan batin ditegakkan dan hati tidak lalai dari
mengingat Allah.Aktivi berniaga dianggap dzikir dan ibadah kepada Allah SWT. Ia
adalah jihad fisabilillah dan menjadi suatu perjuangan untuk menegakkan islam dan
mengajak manusia kepada Allah. Sesibuk manapun berniaga, Allah tidak ia
lupakan. Berekonomi dan berniaga secara Islam adalah diantara jalan untuk
menambah bekalan taqwa.

2. BERLANDASKAN TAQWA
Hasil dari ekonomi yang berlandaskan taqwa akan lahir ukhuwah, kasih
sayang, kemesraan, bertolong Bantu, bersopan santun, mendahulukan kepentingan
orang lain dan berbagai lagi sifat-sifat yang luhur. Premis perniagaan berasakan
taqwa adalah pusat bina insan yang cukup praktikal dan menguntungkan. Semua
yang terlibat dengan kegiatan ekonomi Islam ini akan menjadi tawadhuk dan
rendah diri. Akan terhapus penindasan, penekanan, pendzaliman dan ketidak adilan.
Tidak ada crisis pengaduhan dan jenayah, ketakutan dan kebimbangan akan lenyap.
Akhirnya masyarakat jadi aman, damai, dan hidup penuh harmoni. Ekonomi Islam
lebih mementingkan sifat taqwa, daripada keuangan yang besar. Ilmu, pengalaman,
kemahiran, kekayaan alam semula jadi dan sebagiannya. Orang yang bertaqwa itu
dibantu Tuhan seperti dalam Firman-Nya, yang maksudnya Allah itu pembela
bagi orang-orang yang bertaqwa ( al-Jasiyah : 19 )

3. PENUH SUASANA KEKELUARGAAN


Dalam premis perniagaan Islam dimana ada Tuan punya pengurus dan
pekerja yang terjalin kemesraan dan kasih sayang seperti dalam satu keluarga.
Pengurus seperti Ayah, penyelia-penyelia seperti kayak dan abang. Para pekerja
seperti anak. Ayah menjaga keperluan anak-anak. Ini termasuk didikan agama,
makan minum, keselamatan, kesehatan, pakaian, tempat tinggal, kebajikan dan lain-
lain.

4. PENUH KASIH SAYANG


Islam menganggap berekonomi itu beribadah. Yaitu Ibadah menerusi
khidmat kita kepada sesama manusia. Manusialah yang Tuhan tuntut supaya kita
berkasih sayang dengan mereka. Justru itu pelanggan/ ahli-ahli masyarakat tidak
dilihat seperti orang lain bahkan dianggap saudara-mara.

Pelanggan yang datang kepada premis perniagaan dilayan sebaik mungkin


seperti tetamu. Maka mereka datang membawa Ramat dan kembalinya
menghapuskan dosa. Pelangganlah tempat mereka menaruh bhakti dan khidmat.
Pelanggan jugalah orang yang membantu mereka memperbaiki dan mendidik hati.
Oleh karena itu, pelanggan dan sungguh istimewa. Mereka diberi pelayanan yang
baik dengan kasih sayang.

5. KEUNTUNGAN PERNIAGAAN UNTUK MASYARAKAT


Dalam ekonomi islam, keuntungan adalah 2 bentuk :Keuntungan maknai
Keuntungan maddi ( material ).
Ekonomi Islam lebih mementingkan khidmat kepada masyarakat daripada
mengumpulkan keuntungan material yang besar. Keuntungan material kalaupun
ada perlu disalurkan semula kepada masyarakat. Tidak ada orang yang miskin
karena beramal, yang ada malahan hartanya bertambah berkah. Kita memang
dianjurkan untuk saling peduli kepada ssesama Amat.
6. TIDAK ADA HUTANG BERUNSUR RIBA

Islam tidak membenarkan riba. Yaitu pinjaman berfaedah(berbunga) tetap


untuk jangka masa yang tertentu. Islam ada cara tersendiri untuk mengana model
dan keuangan.diantaranya seperti bentuk-bentuk kerja sama ekonomi dalam Islam

2.2 ZAKAT
A. Etimologi
Secara harfiah zakat berarti "tumbuh", "berkembang", "menyucikan", atau
"membersihkan". Sedangkan secara terminologi syari'ah, zakat merujuk pada
aktivitas memberikan sebagian kekayaan dalam jumlah dan perhitungan tertentu
untuk orang-orang tertentu sebagaimana ditentukan.

B. Sejarah Zakat
Setiap umat Muslim berkewajiban untuk memberikan sedekah dari rezeki
yang dikaruniakan Allah. Kewajiban ini tertulis di dalam Al-Quran. Pada
awalnya, Al-Quran hanya memerintahkan untuk memberikan sedekah
(pemberian yang sifatnya bebas, tidak wajib). Namun, pada kemudian hari, umat
Islam diperintahkan untuk membayar zakat. Zakat menjadi wajib hukumnya
sejak tahun 662 M. Nabi Muhammad melembagakan perintah zakat ini dengan
menetapkan pajak bertingkat bagi mereka yang kaya untuk meringankan beban
kehidupan mereka yang miskin. Sejak saat ini, zakat diterapkan dalam negara-
negara Islam. Hal ini menunjukan bahwa pada kemudian hari ada pengaturan
pemberian zakat, khususnya mengenai jumlah zakat tersebut.
Pada zaman khalifah, zakat dikumpulkan oleh pegawai sipil dan
didistribusikan kepada kelompok tertentu dari masyarakat. Kelompok itu adalah
orang miskin, janda, budak yang ingin membeli kebebasan mereka, orang yang
terlilit hutang dan tidak mampu membayar. Syariah mengatur dengan lebih
detail mengenai zakat dan bagaimana zakat itu harus dibayarkan. Kejatuhan para
kalifah dan negara-negara Islam menyebabkan zakat tidak dapat diselenggarakan
dengan berdasarkan hukum lagi.

C. Hukum Zakat
Zakat merupakan salah satu[rukun Islam], dan menjadi salah satu unsur
pokok bagi tegaknya [syariat Islam]. Oleh sebab itu hukum zakat adalah wajib
(fardhu) atas setiap muslim yang telah memenuhi syarat-syarat tertentu. Zakat
termasuk dalam kategori ibadah, seperti:salat,haji,dan puasa yang telah diatur
secara rinci dan paten berdasarkan Al-Qur'an dan As Sunnah,sekaligus
merupakan amal sosial kemasyarakatan dan kemanusiaan yang dapat
berkembang sesuai dengan perkembangan ummat manusia.
D. Macam-Macam Zakat
Zakat terbagi atas dua tipe yakni:
Zakat Fitrah
Zakat yang wajib dikeluarkan muslim menjelang Idul Fitri
pada bulan Ramadan. Besar Zakat ini setara dengan 2,5 kilogram
makanan pokok yang ada di daerah bersangkutan.
Zakat Maal (Harta)
Mencakup hasil perniagaan, pertanian, pertambangan,
hasil laut, hasil ternak, harta temuan, emas dan perak. Masing-
masing tipe memiliki perhitungannya sendiri-sendiri.

E. Yang berhak menerima


1. Fakir - Mereka yang hampir tidak memiliki apa-apa sehingga tidak
mampu memenuhi kebutuhan pokok hidup.
2. Miskin - Mereka yang memiliki harta namun tidak cukup untuk
memenuhi kebutuhan dasar untuk hidup.
3. Amil - Mereka yang mengumpulkan dan membagikan zakat.
4. Muallaf - Mereka yang baru masuk Islam dan membutuhkan bantuan
untuk menyesuaikan diri dengan keadaan barunya
5. Hamba Sahaya yang ingin memerdekakan dirinya
6. Gharimin - Mereka yang berhutang untuk kebutuhan yang halal dan
tidak sanggup untuk memenuhinya
7. Fisabilillah - Mereka yang berjuang di jalan Allah (misal: dakwah,
perang dsb)
8. Ibnus Sabil - Mereka yang kehabisan biaya di perjalanan.

F. Yang tidak berhak menerima zakat


1. Orang kaya. Rasulullah bersabda, "Tidak halal mengambil sedekah
(zakat) bagi orang yang kaya dan orang yang mempunyai kekuatan
tenaga." (HR Bukhari).
2. Hamba sahaya, karena masih mendapat nafkah atau tanggungan dari
tuannya.
3. Keturunan Rasulullah. Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya tidak halal
bagi kami (ahlul bait) mengambil sedekah (zakat)." (HR Muslim).
4. Orang yang dalam tanggungan yang berzakat, misalnya anak dan istri.
5. Orang kafir.

G. Beberapa Faedah Zakat


Faedah Diniyah (segi agama)
1. Dengan berzakat berarti telah menjalankan salah satu dari Rukun Islam
yang mengantarkan seorang hamba kepada kebahagiaan dan keselamatan
dunia dan akhirat.
2. Merupakan sarana bagi hamba untuk taqarrub (mendekatkan diri) kepada
Rabb-nya, akan menambah keimanan karena keberadaannya yang
memuat beberapa macam ketaatan.
3. Pembayar zakat akan mendapatkan pahala besar yang berlipat ganda,
sebagaimana firman Allah, yang artinya: "Allah memusnahkan riba dan
menyuburkan sedekah" (QS: Al Baqarah: 276). Dalam sebuah hadits
yang muttafaq "alaih Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam" juga
menjelaskan bahwa sedekah dari harta yang baik akan ditumbuhkan
kembangkan oleh Allah berlipat ganda.
4. Zakat merupakan sarana penghapus dosa, seperti yang pernah
disabdakan Rasulullah Muhammad SAW.

Faedah Khuluqiyah (Segi Akhlak)


1. Menanamkan sifat kemuliaan, rasa toleran dan kelapangan dada kepada
pribadi pembayar zakat. Pembayar zakat biasanya identik dengan sifat
rahmah (belas kasih) dan lembut kepada saudaranya yang tidak punya.
2. Merupakan realita bahwa menyumbangkan sesuatu yang bermanfaat baik
berupa harta maupun raga bagi kaum Muslimin akan melapangkan dada
dan meluaskan jiwa. Sebab sudah pasti ia akan menjadi orang yang
dicintai dan dihormati sesuai tingkat pengorbanannya. Di dalam zakat
terdapat penyucian terhadap akhlak.

Faedah Ijtimaiyyah (Segi Sosial Kemasyarakatan)


1. Zakat merupakan sarana untuk membantu dalam memenuhi hajat hidup
para fakir miskin yang merupakan kelompok mayoritas sebagian besar
negara di dunia. Memberikan dukungan kekuatan bagi kaum Muslimin
dan mengangkat eksistensi mereka. Ini bisa dilihat dalam kelompok
penerima zakat, salah satunya adalah mujahidin fi sabilillah.
2. Zakat bisa mengurangi kecemburuan sosial, dendam dan rasa dongkol
yang ada dalam dada fakir miskin. Karena masyarakat bawah biasanya
jika melihat mereka yang berkelas ekonomi tinggi menghambur-
hamburkan harta untuk sesuatu yang tidak bermanfaaat bisa tersulut rasa
benci dan permusuhan mereka. Jikalau harta yang demikian melimpah
itu dimanfaatkan untuk mengentaskan kemiskinan tentu akan terjalin
keharmonisan dan cinta kasih antara si kaya dan si miskin.
3. Zakat akan memacu pertumbuhan ekonomi pelakunya dan yang jelas
berkahnya akan melimpah. Membayar zakat berarti memperluas
peredaran harta benda atau uang, karena ketika harta dibelanjakan maka
perputarannya akan meluas dan lebih banyak pihak yang mengambil
manfaat.
H. Hikmah Zakat
Hikmah dari zakat antara lain:
1. Mengurangi kesenjangan sosial antara mereka yang berada dengan
mereka yang miskin.
2. Pilar amal jama'i antara mereka yang berada dengan para mujahid dan
da'i yang berjuang dan berda'wah dalam rangka meninggikan kalimat
Allah SWT.
3. Membersihkan dan mengikis akhlak yang buruk
4. Alat pembersih harta dan penjagaan dari ketamakan orang jahat.
5. Ungkapan rasa syukur atas nikmat yang Allah SWT berikan
6. Untuk pengembangan potensi ummat
7. Dukungan moral kepada orang yang baru masuk Islam
8. Menambah pendapatan negara untuk proyek-proyek yang berguna bagi
ummat.

I. Zakat dalam Al Qur'an


1. QS (2:43) ("Dan dirikanlah salat, tunaikanlah zakat dan ruku'lah beserta
orang-orang yang ruku'".)
2. QS (9:35) (Pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka jahannam,
lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka
(lalu dikatakan) kepada mereka: "Inilah harta bendamu yang kamu
simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa
yang kamu simpan itu.")
3. QS (6: 141) (Dan Dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung
dan yang tidak berjunjung, pohon korma, tanam-tanaman yang
bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan
warnanya) dan tidak sama (rasanya). Makanlah dari buahnya (yang
bermacam-macam itu) bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari
memetik hasilnya (dengan disedekahkan kepada fakir miskin); dan
janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai
orang yang berlebih-lebihan).

2.3 INFAK
Infaq adalah pengeluaran sukarela yang dilakukan seseorang, setiap kali ia
memperoleh rizki, sebanyak yang ia kehendakinya. Menurut bahasa infaq berasal dari
kata anfaqa yang berarti mengeluarkan harta untuk kepentingan sesuatu. Sedangkan
menurut islilah syari'at, infaq adalah mengeluarkan sebagian harta yang diperintahkan
dalam islam. Infaq berbeda dengan zakat, infaq tidak mengenal nisab atau jumlah harta
yang ditentukan secara hukum. Infaq tidak harus diberikan kepada mustahik tertentu,
melainkan kepada siapapun misalnya orang tua, kerabat, anak yatim, orang miskin, atau
orong-orang yang sedang dalam perjalanan.
AL-Quran menyebutkan kata anfaqa dan bentukannya sebanyak 72 kali.
Semuanya menggunakan makna bahasa di atas. Yang dominan adalah makna
pembelanjaan harta. Dari semua itu kata al-infq hanya dinyatakan satu kali. Allah Swt.
berfirman:

Katakanlah, Seandainya kalian menguasai berbagai perbendaharaan rahmat Tuhanku,


niscaya perbendaharaan itu kalian tahan, karena takut al-infq. Manusia itu sangat
kikir. (QS al-Isra [17]: 100).

Panduan Menginfakkan Harta


Syariah telah memberikan panduan kepada kita dalam berinfak atau
membelanjakan harta. Allah dalam banyak ayat dan Rasul saw. dalam banyak hadis
telah memerintahkan kita agar menginfakkan (membelanjakan) harta yang kita miliki.
Allah juga memerintahkan agar seseorang membelanjakan harta untuk dirinya sendiri
(QS at-Taghabun: 16) serta untuk menafkahi istri dan keluarga menurut kemampuannya
(QS ath-Thalaq: 7). Dalam membelanjakan harta itu hendaklah yang dibelanjakan
adalah harta yang baik, bukan yang buruk, khususnya dalam menunaikan zakat (QS al-
Baqarah [2]: 267). Bahkan Allah Swt. berfirman:

Kalian sekali-kali tidak sampai pada kebajikan (yang sempurna) sebelum kalian
menafkahkan sebagian harta yang kalian cintai. Apa saja yang kalian nafkahkan,
sesungguhnya Allah mengetahuinya. (QS Ali Imran [3]: 92).

Kemudian Allah menjelaskan bagaimana tatacara membelanjakan harta. Allah Swt.


berfirman tentang karakter Ibdurrahmn:

Orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak isrf dan tidak (pula)
iqtr (kikir); adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian. (QS al-
Furqan [25]: 67).
Allah Swt. juga berfirman:

Berikanlah kepada keluarga-keluarga dekat haknya, juga kepada orang miskin dan
orang yang dalam perjalanan, dan janganlah kalian menghambur-hamburkan (hartamu)
secara boros. (QS al-Isra [17]: 26).
Infak yang diperintahkan adalah infak yang qawm, yaitu infak pada tempatnya;
infak yang sesuai dengan ketentuan syariah dalam rangka ketaatan kepada Allah; alias
infak yang halal. Infak yang demikian terdiri dari infak wajib, infak sunnah dan infak
mubah. Infak wajib dapat dibagi:11 Pertama, infak atas diri sendiri, keluarga dan orang-
orang yang nafkahnya menjadi tanggungan. Kedua, zakat.
Ketiga, infak di dalam jihad. Infak sunnah merupakan infak dalam rangka
hubungan kekerabatan, membantu teman, memberi makan orang yang lapar, dan semua
bentuk sedekah lainnya. Sedekah adalah semua bentuk infak dalam rangka atau dengan
niat ber-taqarrub kepada Allah, yakni semata-mata mengharap pahala dari Allah Swt.
Adapun infak mubah adalah semua infak halal yang di dalamnya tidak terdapat maksud
mendekatkan diri kepada Allah.
Islam memerintahkan kita agar menginfakkan harta sekaligus menjelaskan
tatacaranya. Tentu infak fardhu wajib dilaksanakan. Infak sunnah hendaknya
diperhatikan dan diupayakan sesuai kemampuan. Adapun infak mubah sebaiknya tidak
diperbanyak, tetapi dilakukan sebatas keperluan saja, dan ditujukan pada yang lebih
banyak manfaat daripada madaratnya, sebagai bentuk kewaraan. Wallh alam bi ash-
shawb. [Yahya Abdurrahman]

2.4 SHODAQOH ATAU SEDEKAH

Sedekah asal kata bahasa Arab shadaqoh yang berarti suatu pemberian yang
diberikan oleh seorang muslim kepada orang lain secara spontan dan sukarela tanpa
dibatasi oleh waktu dan jumlah tertentu. Juga berarti suatu pemberian yang diberikan
oleh seseorang sebagai kebajikan yang mengharap ridho Allah SWT dan pahala semata.
Sedekah dalam pengertian di atas oleh para fuqaha (ahli fikih) disebuh sadaqah at-
tatawwu' (sedekah secara spontan dan sukarela).
Di dalam Alquran banyak sekali ayat yang menganjurkan kaum Muslimin untuk
senantiasa memberikan sedekah. Di antara ayat yang dimaksud adalah firman Allah
SWT yang artinya:
''Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan
dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma'ruf atau
mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian
karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami akan memberi kepadanya pahala
yang besar.'' (QS An Nisaa [4]: 114).

Hadis yang menganjurkan sedekah juga tidak sedikit jumlahnya.


Para fuqaha sepakat hukum sedekah pada dasarnya adalah sunah, berpahala bila
dilakukan dan tidak berdosa jika ditinggalkan. Di samping sunah, adakalanya hukum
sedekah menjadi haram yaitu dalam kasus seseorang yang bersedekah mengetahui pasti
bahwa orang yang bakal menerima sedekah tersebut akan menggunakan harta sedekah
untuk kemaksiatan. Terakhir ada kalanya juga hukum sedekah berubah menjadi wajib,
yaitu ketika seseorang bertemu dengan orang lain yang sedang kelaparan hingga dapat
mengancam keselamatan jiwanya, sementara dia mempunyai makanan yang lebih dari
apa yang diperlukan saat itu. Hukum sedekah juga menjadi wajib jika seseorang
bernazar hendak bersedekah kepada seseorang atau lembaga.
Menurut fuqaha, sedekah dalam arti sadaqah at-tatawwu' berbeda dengan zakat.
Sedekah lebih utama jika diberikan secara diam-diam dibandingkan diberikan secara
terang-terangan dalam arti diberitahukan atau diberitakan kepada umum. Hal ini sejalan
dengan hadits Nabi SAW dari sahabat Abu Hurairah. Dalam hadits itu dijelaskan salah
satu kelompok hamba Allah SWT yang mendapat naungan-Nya di hari kiamat kelak
adalah seseorang yang memberi sedekah dengan tangan kanannya lalu ia sembunyikan
seakan-akan tangan kirinya tidak tahu apa yang telah diberikan oleh tangan kanannya
tersebut.

Sedekah lebih utama diberikan kepada kaum kerabat atau sanak saudara terdekat
sebelum diberikan kepada orang lain. Kemudian sedekah itu seyogyanya diberikan
kepada orang yang betul-betul sedang mendambakan uluran tangan. Mengenai kriteria
barang yang lebih utama disedekahkan, para fuqaha berpendapat, barang yang akan
disedekahkan sebaiknya barang yang berkualitas baik dan disukai oleh pemiliknya.

Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT yang artinya;

''Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebaktian (yang sempurna), sebelum kamu
menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai...'' (QS Ali Imran [3]: 92).

Pahala sedekah akan lenyap bila si pemberi selalu menyebut-nyebut sedekah yang telah
ia berikan atau menyakiti perasaan si penerima. Hal ini ditegaskan Allah SWT dalam
firman-Nya yang berarti:

''Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu


dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti perasaan si penerima.'' (QS Al Baqarah [2]:
264).
BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN

1. SISTEM EKONOMI ISLAM


Sistem ekonomi islam tidak sama dengan system-sistem ekonomi
lainnya(kapitalis, sosialis,dsb). System ekonomi islam lahir dari sumber wahyu
sedang yang lain datang dari sumber akal. Cirri-ciri system ekonomi islam
meliputi ;
Memelihara fitrah manusia
Memelihara norma-norma akhlak
Memenuhi keperluan-keperluan masyarakat

2. ZAKAT
Zakat terbagi atas dua tipe yakni:
Zakat Fitrah
Zakat yang wajib dikeluarkan muslim menjelang Idul Fitri pada bulan
Ramadan. Besar Zakat ini setara dengan 2,5 kilogram makanan pokok yang ada
di daerah bersangkutan.
Zakat Maal (Harta)
Mencakup hasil perniagaan, pertanian, pertambangan, hasil laut, hasil
ternak, harta temuan, emas dan perak. Masing-masing tipe memiliki
perhitungannya sendiri-sendiri.

3. INFAQ
Panduan Menginfakkan Harta
Syariah telah memberikan panduan kepada kita dalam berinfak atau
membelanjakan harta. Allah dalam banyak ayat dan Rasul saw. dalam banyak
hadis telah memerintahkan kita agar menginfakkan (membelanjakan) harta yang
kita miliki. Allah juga memerintahkan agar seseorang membelanjakan harta
untuk dirinya sendiri (QS at-Taghabun: 16) serta untuk menafkahi istri dan
keluarga menurut kemampuannya (QS ath-Thalaq: 7). Dalam membelanjakan
harta itu hendaklah yang dibelanjakan adalah harta yang baik, bukan yang
buruk, khususnya dalam menunaikan zakat (QS al-Baqarah [2]: 267).

4. SHODAQOH
Sedekah asal kata bahasa Arab shadaqoh yang berarti suatu pemberian yang
diberikan oleh seorang muslim kepada orang lain secara spontan dan sukarela
tanpa dibatasi oleh waktu dan jumlah tertentu. Juga berarti suatu pemberian
yang diberikan oleh seseorang sebagai kebajikan yang mengharap ridho Allah
SWT dan pahala semata. Sedekah dalam pengertian di atas oleh para fuqaha
(ahli fikih) disebuh sadaqah at-tatawwu' (sedekah secara spontan dan sukarela)
3.2 SARAN
Berdasarkan kesimpulan diatas, maka penyusun mengharapkan bagi semua
pihak membaca untuk menjalani hidup ini dengan kasih sayang, saling berbagi kepada
sesama, janganlah selalu keuntungan duniawi yang dikejar tanpa memperhatikan syariat
Islam. Selain itu meskipun sebagai makhluk ekonomi, kita juga harus mampumenjadi
makhluk yang religius yang menuju sebagai insan kamil yang rindu dengan Ridho
Allah SWT dan Syafaat dari Rasulullah SAW. Kita hidup didunia ini anllala sementara
ibarat mampir minum dikedai saja tak lebih dari itu. Untuk itu manfaatkan hidup ini
dengan sebaik-baiknya, saling tolong menolong kepada sesama, saling meberikan kasih
sayang dan selalu beribadah serta mengagungkan selalu Asma Allah.
DAFTAR PUSTAKA
http://hizbut-tahrir.or.id/2007/10/01/infak/
http://translate.google.co.id/translate?hl=id&langpair=en%7Cid&u=http://findarticles.c
om/p/articles/mi_6788/is_4_33/ai_n28651001/
http://id.wikipedia.org/wiki/Zakat
Mansur Akhmad, 2006, Pendidikan Agama Islam, Citra Pustaka, Surakarta.