Anda di halaman 1dari 13

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

A. Identitas Mata Pelajaran


Satuan Pendidikan :SMA Muhammadiyah 6 Palembang
Kelas/ Semester : X / Gazal
Mata Pelajaran : Matematika (Wajib)
Materi Pokok : barisan Aritmetika dan Geometri
Alokasi Waktu : 4 x 45 Menit ( 2 x Pertemuan )
(Pertemuan ke-) :1&2

B. Kompetensi Inti
1. KI 1 : Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya.

2. KI 2 : Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli(gotong


royong, kerjasama, toleran, damai), santun, responsif, dan pro-aktif
sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam
berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta
menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan
dunia.

3. KI 3 : Memahami, menerapkan, dan menganalisis pengetahuan faktual,


konseptual, prosedural berdasarkan rasa ingintahunya tentang ilmu
pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan
kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab
fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada
bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk
memecahkan masalah.

4. KI 4 : Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak
terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara
mandiri, dan mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan

C. Kompetensi Dasardan Indikator Pencapaian Kompetensi

KD IPK
3.6 Menggeneralisasi pola bilangan 3.6.1 Menuliskan bentuk-bentuk pola
dan jumlah pada barisan Aritmetika bilangan dan jumlah pada barisan
dan Geometri Aritmetika dan Geometri.
3.2.2 Menuliskan langkah-langkah
penyelesaian dari suatu permasalahan
terkait pola bilangan dan jumlah pada
barisan Aritmetika dan Geometri.
3.6.3 Mengilustrasikan suatu
permasalahan
nyata terkait materi pola bilangan
dan jumlah pada barisan Aritmetika
dan Geometri ke dalam
bentuk matematika.
3.6.4 Menjelaskan konsep pola bilangan
dan jumlah pada barisan Aritmetika
dan Geometri.
3.6.5. Mengaitkan konsep pola bilangan
dan jumlah pada barisan Aritmetika
dan Geometri dari
sebuah permasalahan nyata dan
menuliskannya dalam bentuk
matematika.
3.6.6 Menggunakan konsep pola bilangan
dan jumlah pada barisan Aritmetika
dan Geometri dalam menyelesaiakan
permasalahan kontekstual / nyata
dalam kehidupan.
4.6 Menggunakan pola barisan 4.6.1 Menuliskan konsep pola bilangan
aritmetika dan jumlah pada barisan Aritmetika
atau geometri untuk menyajikan dan Geometri berdasarkan masalah
dan menyelesaikan masalah dalam kehidupan nyata.
kontekstual (termasuk 4.6.2 Menghitung permasalahan
pertumbuhan, peluruhan, bunga kontekstual terkait materi pola
majemuk, dan anuitas). bilangan dan jumlah pada barisan
Aritmetika dan Geometri.

D. Tujuan Pembelajaran
Pertemuan 1

3.6.1.1 Melalui kajian pustaka siswa dapat menuliskan bentuk-bentuk pola bilangan
dan jumlah pada barisan Aritmetika dan Geometri.
3.6.2.1 Melalui Kegiatan diskusi siswa dapat menuliskan langkah-langkah
penyelesaian dari suatu permasalahan terkait pola bilangan dan jumlah pada
barisan Aritmetika dan Geometri.
3.6.3.1 Melalui kegiatan diskusi siswa dapat mengilustrasikan suatu permasalahan
nyata
terkait materi pola bilangan dan jumlah pada barisan Aritmetika dan
Geometri ke dalam bentuk matematika.
3.6.4.1 Melalui kegiatan diskusi siswa dapat menjelaskan konsep pola bilangan dan
jumlah pada barisan Aritmetika dan Geometri.
4.6.1.1 Melalui diskusi siswa dapat menuliskan contoh bentuk pola bilangan dan
jumlah pada barisan Aritmetika dan Geometri.
4.6.1.2 Melalui diskusi siswa dapat menuliskan dan menjelaskan konsep pola
bilangan dan jumlah pada barisan Aritmetika dan Geometri serta membuat
model matematika dari suatu permasalahan nyata.

Pertemuan 2

3.6.5.1 Melalui diskusi siswa dapat megaitkan konsep pola bilangan dan jumlah pada
barisan Aritmetika dan Geometri dengan permasalahan nyata, serta
menuliskannya dalam bentuk matematika.
3.6.6.1 Melalui kajian pustaka dan diskusi siswa dapat menggunakan konsep-konsep
pola bilangan dan jumlah pada barisan Aritmetika dan Geometri dalam
menyelesaikan permasalahan kontekstual / nyata dalam kehidupan.
4.6.2.1 Dengan latihan, siswa dapat menyelesaikan dan menghitung hasil akhir dari
suatu permasalahan nyata terkait materi pola bilangan dan jumlah pada
barisan Aritmetika dan Geometri

E. Materi Pembelajaran

Pola Bilangan, Barisan, Deret dan Notasi Sigma

1. Aturan yang dimiliki oleh deretan bilangan disebut pola bilangan pada
deretan itu.

2. Barisan bilangan real adalah suatu fungsi dengan domain himpunan semua
bilangan asli (N) dan kodomain himpunan semua bilangan real (R). Jika U
merupakan fungsi dari N ke R, maka barisannya sering ditulis dengan U1,
U2, U3,..., Un,.... Pada barisan U1, U2, U 3,..., Un,..., U n disebut unsur
ke n atau elemen ke n dari barisan itu.

3. Jika U 1, U 2, U 3,..., Un,... merupakan barisan bilangan real, maka U 1 +


U2 + U3,... + Un +...disebut deret, dan Un disebut suku ke n barisan itu.

4. Jumlahan bilangan-bilangan dari deretan bilangan yang mempunyai pola


dapat dituliskan dengan notasi (dibaca: sigma).

Barisan Aritmatika dan Deret Aritmatika

Kadang-kadang, suatu barisan mempunyai pola khusus. Pada barisan

1, 2, 3, 4, , selisih antara unsur yang berurutan, yaitu: ke 1 dengan ke 2,

ke 2 dengan ke 3, ke n dengan ke n + 1, dan seterusnya adalah tetap, yaitu sama


dengan 1. Barisan semacam ini disebut barisan aritmatika. Secara matematik,
pengertian barisan arimatika dapat dituliskan sebagai berikut.
Definisi

Barisan U1, U 2, U3,..., Un,... disebut barisan aritmatika jika

Un - Un-1 = konstan,

dengan n = 2, 3, 4,.... Konstanta pada barisan aritmatika di atas disebut beda


dari barisan itu dan sering dinotasikan dengan b, dan U1 sering dinotasikan
dengan a.
Contoh 2.1

1. 1, 2, 3,... merupakan barisan aritmatika dengan beda, b = 1.

2. 1, 3, 5, merupakan barisan aritmatika dengan beda, b = 2.

3. 1, -1, 1, -1,.... bukan barisan aritmatika sebab

U2 U1 = -1 1 = -2 2 = 1 (-1) = U3 U2

Menurunkan Rumus Unsur ke n Barisan Aritmatika

Jika U 1 = a, U 2, U3,..., Un,... merupakan barisan aritmatika, maka unsur

ke n dari barisan itu dapat diturunkan dengan cara berikut.

U1 = a

U2 = a + b

U3 = U2 + b = (a + b) + b = a + 2b U4 = U3 +
b = (a + 2b) + b = a + 3b U5 = U4 + b = (a +
3b) + b = a + 4b
.
.
.

Un = a + (n -1)b
Jadi rumus umum unsur ke n suatu barisan aritmatika dengan unsur pertama a
dan beda b adalah:
Un = a + (n -1)b

Contoh 2.2
Diketahui barisan aritmatika dengan unsur ke 2 adalah 10 dan beda = 2.
Tentukan unsur ke 7 barisan itu.
Penyelesaian:

Diketahui U 2 = 10, b = 2. Dengan menggunakan rumus Un = a + (n -1)b, diperoleh


U2 = a + (2-1)b
U2 = a + b a =
U2 - b
= 10 - 2

= 8
U7 = a + (7-1) b

=a+6b

= 8 + 6 (2)

= 8 + 12

= 20.

Jadi unsur ke 7 dari barisan adalah 20.

Contoh 2.3

Mulai tahun 2000, Pak Arman mempunyai kebun tebu. Penghasilan kebun tebu Pak
Arman pada akhir tahun 2000 adalah Rp 6.000.000,-. Mulai tahun
2001, Pak Arman memupuk kebun tebunya dengan pupuk kandang. Pak Arman
memperkirakan bahwa setiap akhir tahun, penghasilan kebun tebunya naik Rp 500.000,.
Berapa perkiraan penghasilan kebun tebu Pak Arman pada akhir tahun 2005?

Penyelesaian:

Misalkan:

a = penghasilan kebun tebu Pak Arman pada akhir tahun 2000.

b = perkiraan kenaikan penghasilan kebun tebu Pak Arman setiap akhir tahun.
P2005 = perkiraan penghasilan kebun Pak Arman pada akhir tahu 2005. Jadi a = Rp
6.000.000,-, b = Rp 500.000,-, dan P2005 akan dicari.
Karena perkiraan kenaikan penghasilan kebun tebu Pak Arman setiap akhir
tahun adalah tetap, maka untuk menentukan penghasilan kebun Pak Arman pada akhir
tahun 2005, kita dapat menerapkan rumus unsur ke n dari barisan aritmatika dengan
U1 = a = a = Rp 6.000.000,-, b = Rp 500.000.

P2005 = U6 = a + 5b

= 6.000.000 + 5(500.000)

= 6.000.000 + 2.500.000

= 8.500.000.
Jadi perkiraan penghasilan kebun tebu Pak Arman pada akhir tahun 2005

adalah Rp 8.500.000,-
Dengan adanya deret aritmatika, kita dapat membentuk barisan yang terkait dengan
deret tersebut. Barisan demikian disebut barisan aritmatika.
Definisi

Jika U 1, U2, U3, ..., U n, .... merupakan barisan aritmatka, maka

U1 + U2 + U3 + ... + Un, ....

disebut deret aritmatika. Un disebut suku ke n dari deret itu.


Jika Sn menyatakan jumlah n suku pertama deret aritmatika U1 + U2 +

U3 + ... + Un, ...., maka Sn = U1 + U2 + U3 + ... + Un dapat diturunkan dengan cara


sebagai berikut.
Sn = Un + (U n - b) + (Un - 2b) + ... + a

Sn = a + (a - b) + (a + 2b) +..... + Un
+

2Sn = (a + Un) + (a + U n) + (a + U n) +... + (a + Un), sebanyak n suku.


2 Sn = n. (a + Un)
1
Sn = n(a U n )
2
1 1
Jadi Sn = n(a U n ) atau Sn = n(2a (n 1)b)
2 2

Barisan Geometri dan Deret Geometri


Rumus unsur ke n barisan geometri U1, U2, U3, U4,..., Un,.... dengan U1

= a dan rasio r dapat diturunkan dengan cara berikut.

U1 = a

U2 = a r
2
U3 = U2 r = (a r)r = ar
2 3
U4 = U3 r = (a r )r = ar

.
.
.
n-1
Un = Un-1 r = ar

Jadi rumus unsur ke n barisan geometri U1, U2, U3, U4,..., Un,.... dengan

U1 = a dan rasio r adalah:


n-1
Un = ar
Definisi
Jika U1, U2, U3, ..., Un,.... merupakan barisan geometri dengan unsur

pertama adalah a = U 1 dan rasio r, maka U1 + U2 + U 3 + ... + Un + .... disebut deret


n-1
geometri dengan Un = ar
Rumus jumlah n suku pertama deret geometri dengan suku pertama a

dan rasio r, dapat diturunkan dengan cara sebagai berikut. Misalkan


Sn = U1 + U2 + U 3 + ... + Un, maka
2 3 n-1
Sn = a + ar + ar + ..... + ar
3 4 n-1 n
r Sn = ar + ar + ar + ..... + ar + ar
n
Sn - r Sn = a - ar
n
(1 - r) Sn = (1 -r )a

Jadi rumus jumlah n suku pertama deret geometri dengan suku pertama

a dan rasio r adalah


a(1 r n ) a(r n 1)
Sn untuk r < 1 atau S n untuk r > 1
1 r r 1
Deret geometri tak hingga adalah deret geometri dengan | r | < 1
Jumlah deret geomatri tak hingga adalah :
a
S lim S n
n 1 r
Rumus pada deret geometri berlaku juga untuk n tak terhingga. Adapun untuk n tak
terhingga ada dua kasus :
a(1 0) a
1. Jika -1 < r < 1, maka rn menuju 0 akibatnya S
1 r 1 r
Deret geometri dengan -1 < r < 1 ini disebut deret geometri konvergen (memusat)
2. Jika r < -1 atau r > 1, maka untuk n nilai rn makin besar akibatnya
a (1 )
S
1 r
Deret geometri dengan r < -1 atau r > 1 disebut deret geometri divergen (memencar)

Contoh 3.1
Diketahui barisan 27, 9, 3, 1, .... Tentukanlah :
a. Rumus suku ke-n
b. Suku ke-8
Jawab :
1
a. Rasio pada barisan tersebut adalah tetap yaitu r = sehingga barisan tersebut adalah
3
barisan geometri.
Rumus suku ke-n barisan geometri tersebut adalah
1
U n 27.( ) n 1
3

= 33.(3-1)n-1

= 33.3-n + 1

= 34 n
b. Suku ke-8 barisan geometri tersebut adalah U8 = 34 8
= 3-4
1
=
81
F. Pendekatan, Model dan Metode
Pendekatan : Saintifik
Model : Discovery Learning
Metode : Diskusi kelompok

G. Media Pembelajaran
Alat : Buku Paket Matematika Kelas XI Berbasis Kurikulum 2013
Bahan : LKS

H. Kegiatan Pembelajaran
No Keg. Pemb. Sintak Uraian Kegiatan Waktu
Model Discovery Pembelajaran
Learning
I Pendahuluan 1) Guru menyapa dan memberikan
salam kepada siswa.
2) Guru mengecek daftar hadir siswa.
3) Guru menjelaskan sistem
pembelajaran yang akan diadakan
(sistem kerja kelompok dengan
menggunakan LKS yang telah
disediakan).
4) Guru memberitahukan materi yang
akan dipelajari (pola bilangan dan
jumlah pada barisan Aritmetika dan
Geometri).
5) Guru memberikan memberitahukan
manfaat mempelajari pola bilangan
dan jumlah pada barisan Aritmetika
dan Geometri dalam kehidupan
nyata.
6) Guru menginformasikan aspek yang
akan dinilai pada saat proses
pembelajaran berlangsung, meliputi
penilaian pengetahuan pada saat
mengisi LKS yang telah disediakan,
penilaian sikap pada saat proses
pembelajaraan berlangsung, serta
keterampilan siswa pada saat
memaparkan hasil kerja mereka.
7) Apersepsi : Guru mengingatkan
kembali materi pra syarat.
II Inti 1. Persiapan 1) Siswa mengatur tempat duduk
berdasarkan kelompok yang telah
ditentukan. Pada kelas XI, siswa
dibagi menjadi 7 kelompok dengan
masing-masing kelompok
beranggotakan 4orang.
2.Menciptakan 2) Masing-masing kelompok
stimulus mendapatkan LKS berisikan
beberapa soal diantaranya siswa
diminta menuliskan contoh bentuk
pola bilangan dan jumlah pada
barisan Aritmetika dan Geometri dan
beberapa masalah nyata terkait pola
bilangan dan jumlah pada barisan
Aritmetika dan Geometri.
3.Identifikasi Soal 1:
Masalah Diketahui barisan aritmatika dengan
unsur ke 2 adalah 10 dan beda = 2.
Tentukan unsur ke 7 barisan itu.
Penyelesaian:

Diketahui U 2 = 10, b = 2. Dengan


menggunakan rumus
Un = a + (n -1)b, diperoleh
U2 = a + (2-1)b
U2 = a + b a = U2 - b
= 10 - 2
4. Mengumpulkan
Data = 8
Contoh 2.3

Mulai tahun 2000, Pak Arman


mempunyai kebun tebu.
Penghasilan kebun tebu Pak
Arman pada akhir tahun 2000
adalah Rp 6.000.000,-. Mulai
tahun 2001, Pak Arman memupuk
kebun tebunya dengan pupuk
kandang. Pak Arman
memperkirakan bahwa setiap akhir
tahun, penghasilan kebun tebunya
5. Mengolah Data naik Rp 500.000,-. Berapa
perkiraan penghasilan kebun tebu
Pak Arman pada akhir tahun 2005?
3) Siswa mencoba menyelesaikan
permasalahan nyata yang didapat
tadi dengan menuliskannya ke dalam
bentuk matematika hingga didapat
hasil akhir.
4) Beberapa kelompok belajar siswa
6. Pembuktian secara bergantian mempresentasikan
hasil diskusi ke depan kelas dan
disimak oleh kelompok lainnya.
5) Siswa lain mengemukakan pendapat
7.Menarik kelompok mereka. Kegiatan diskusi
Kesimpulan terus berlangsung hingga didapat
kesepakatan bersama perihal hasil
6) Siswa bersama guru menarik
kesimpulan dari permasalahan yang
telah terpecahkan.
III Penutup 1) Guru bersama siswa menarik
kesipulan akhir dari materi yang
telah dipelajari.
(Bagaimana bentuk pola bilangan
dan jumlah pada barisan Aritmetika
dan Geometri), bagaimana cara
memodelkan suatu permasalahan
nyata dalam bentuk matematika,
menghitung hasil akhir dari masalah
tersebut dengan menggunakan model
matematika).
2) Guru memberikan tugas untuk siswa
di rumah.
3) Guru memberitahukan materi yang
akan dipelajari pada pertemuan
selanjutnya.
4) Guru memberikan salam kepada
siswa.

I. Penilaian

1. Penilaian Pengetahuan
Teknik : Penugasan ( Kelompok ).
Bentuk : LKS
KD : 3.6 Menggeneralisasi pola bilangan dan jumlah pada barisan
Aritmetika dan Geometri.
4.6 Menggunakan pola barisan aritmetika atau geometri untuk
menyajikan dan menyelesaikan masalah kontekstual (termasuk
pertumbuhan, peluruhan, bunga majemuk, dan anuitas)
Indikator : Disajikan beberapa masalah nyata terkait materi pola bilangan dan
jumlah pada barisan Aritmetika dan Geometri, dengan konsep
penyelesaian yang sama tetapi konteks
yang berbeda-beda.

Soal :

1. Suatu deret geometri mempunyai suku ke-5 sama dengan 64 dan suku ke-2
sama dengan 8. Tentukanlah jumlah 10 suku pertama dan jumlah n suku
pertama deret geometri tersebut.

2. Diketahui barisan 27, 9, 3, 1, .... Tentukanlah :

a. Rumus suku ke-n

b. Suku ke-8

Kunci Jawaban dan Skor

1. U2 = 8, berarti ar = 8
U3 = 64, berarti ar4 = 64
ar.r3 = 64
8r3 = 64
r3 = 8
didapat r = 2 dengan mensubstitusikan r = 2 ke persamaan ar = 8, akan didapatkan a.2
= 8 sehingga a= 4.
4(1 2 n )
Jumlah n suku pertama deret ini adalah S n
1 2

4 4 .2 n
=
1
= 4.2 4
n
= 22.2n 4
= 22 + n 4
Jumlah 10 suku pertama deret ini adalah S10 = 22+10 4
= 212 4
= 4096 4
= 4092
1
2. Rasio pada barisan tersebut adalah tetap yaitu r = sehingga barisan tersebut
3
adalah barisan geometri.
a. Rumus suku ke-n barisan geometri tersebut adalah
1
U n 27.( ) n 1
3

= 33.(3-1)n-1

= 33.3-n + 1

= 34 n
b. Suku ke-8 barisan geometri tersebut adalah U8 = 34 8
= 3-4
1
=
81
2. Penilaian Sikap
Aspek yang dinilai : Sikap sosial.
Waktu Penilaian : Pada saat proses pembelajaran berlangsung.
a) Tanggung jawab.
b) Jujur.
c) Aktif.
d) Tertib
Tangga Butir P/
No Nama Siswa Catatan Perilaku
l Sikap N
1
2
3

3. Penilaian Keterampilan
Aspek yang dinilai : Unjuk Kerja / Praktik.
Skor
No Aspek yang dinilai
maks
1 Persiapan 6
Latar Belakang (tepat = 3; kurang tepat = 2; tidak tepat = 1)
Rumusan masalah (tepat = 3; kurang tepat = 2; tidak tepat = 1)
2 Pelaksanaan 12
Keakuratan data / Informasi (tepat = 3; kurang tepat = 2; tidak tepat = 1)
Kelengkapan data (tepat = 3; kurang tepat = 2; tidak tepat = 1)
Analisis Data (tepat = 3; kurang tepat = 2; tidak tepat = 1)
Kesimpulan (tepat = 3; kurang tepat = 2; tidak tepat = 1)

3 Pelaporan hasil 6
Sistematika laporan (tepat = 3; kurang tepat = 2; tidak tepat = 1)
Penggunaan bahasa (tepat = 3; kurang tepat = 2; tidak tepat = 1)
Skor maksimal 24
Nilai Unjuk Kerja / Praktik = (skor perolehan : skor maksimal) x 100

J. Sumber Belajar
1. Sembiring, Suwah dan Marsito. 2016. Matematika untuk Siswa SMA-MA/SMK-
MAK Kelas X. Bandung: Yrama Widya.
2. KEMENDIKBUD. 2014. Matematika SMA/MA, SMK/MAK Kelas X (Edisi
Revisi 2014).
3. Kanginan, Maerthen. 2014. Matematika untuk Kelas X Sekolah Menengah Atas
Kelompok Wajib. Bandung: Grafindo Media Pratama.

Mengetahui
Palembang,
Kepala Sekolah, Guru Mata Pelajaran,

Amalia Ansari
NBM. NIP. -