Anda di halaman 1dari 4

Kontrak Migas yang NOL Persen Buat Negara

(2006)

Benny Lubiantara

Kalau kita baca artikel di koran koran beberapa waktu lalu, banyak headline yang bunyinya:
“kontrak blok natuna - 0% buat negara”, sekarang mari kita bahas lebih jauh apa yang
dimaksud dalam headline tersebut.

Kita tentu sangat familiar dengan angka keramat, “bagi hasil” minyak 85 : 15, dan untuk gas
70 : 30. Disini yang penting dipahami adalah bahwa angka keramat tersebut adalah “after tax
profit split”, jadi komponen pajak sudah masuk disana. Pertanyaannya: bagaimana
menghitung before tax profit split?, ini hal yang sederhana saja, yang penting kita harus tahu
dulu berapa besar tax-nya?. Untuk kasus kita, pajak PSC juga berubah ubah, lihat tabel
berikut:

PSC PSC PSC


(1995 – Present) (1985-1994) (before 1985)
% % %
Corporate Tax 30 35 45
Divident Withholding 14 13 11
Tax (DWT), 20%*
Total 44 48 56

Untuk menghitung before tax profit split, maka dilakukan gross-up (istilahnya demikian).
Misalnya untuk contractor, besarnya before tax profit split = after tax profit split / (1 – tax).

Jadi untuk gas misalnya, after tax profit oil split = 70 : 30, maka before tax profit split = 30% /
(1 - 44%) = 53.5% (lihat gambar 1 dibawah).

1
Gambar 1

Sekarang kita asumsi, before tax profit split = 100% buat contractor (IOC), maka dengan
perhitungan yang sama kita peroleh bahwa after tax profit split = 44 : 56 ( pemerintah 44%,
IOC atau contractor 56%).

Gambar 2

Seandainya after tax profit split-nya seperti ini (Gambar 2), maka: profit oil akan masuk ke
IOC semua, pemerintah tidak mendapat bagian dari profit oil. IOC/Contractor (nantinya) akan
membayar tax sebesar 44%, sengaja saya selipkan kata (nantinya), karena pembayaran tax
dilakukan pada saat profit oil positif. Dengan demikian, pada awal tahun, belum akan ada
pembayaran tax. Inilah kira kira yang dimaksud oleh headline koran koran tersebut.

Bagaimana kasusnya untuk lapangan minyak? Tentu lebih kurang sama saja, lihat ilustrasi
dibawah:
2
Gambar 3

Ceritanya pernah ada satu IOC yang minta insentif, karena proyeknya (lapangan minyak)
diperkirakan kurang ekonomis (tentu saja menurut asumsi perhitungan mereka), IOC tersebut
mengusulkan supaya split sesudah pajak (after tax profit split) diubah menjadi 40 : 60 (40%
pemerintah : 60% kontraktor). Sebagai usul, tentu saja hal ini boleh boleh saja, walaupun
ngawur dan lebih parah dari kasus “nol persen” Natuna diatas. Kasus ini sama saja dengan
meminta penurunan tingkat pajak (income tax rate). Karena pajaknya 44%, kalau minta split
seperti ini, artinya negara rugi dua kali, pertama, profit oil diambil semuanya (100%) oleh
IOC, kedua pajak maunya cuma bayar 40% (dari seharusnya 44%).

Ada seorang kolega yang bertanya, bagaimana kalau pajaknya dinaikan? Masalahnya begini,
selama angka keramatnya tidak diubah, maka tidak ada manfaatnya menaikin pajak.
Ilustrasinya seperti ini: pajak katakanlah dinaikin menjadi 50%, karena angka keramat tidak
berubah (85:15 oil, 70:30 gas), yang terjadi akhirnya, contractor before tax profit split-nya
menjadi naik, tidak ada pengaruhnya bagi kontraktor (IOC), kemungkinan malah menjadi
gembira, karena seolah olah mereka membayar pajak lebih besar, sementara hitungan
akhirnya tetap angka keramat tadi. Bagaimana pula kalau pajak diturunkan?, mari kita
tanyakan kepada IOC/Contractor, apakah mereka mau?, kemungkinan mereka juga tidak mau,
karena bisa jadi mereka akan kena tax tambahan di home country-nya, karena seolah seolah
membayar pajak lebih kecil disini.

Rangkumannya kira kira begini, seandainya tax = 44%, maka split 44 : 56 akan memberikan
profit oil 100% buat IOC/Contractor. Tergantung dikontraknya, kalau seandainya tax = 48%,
maka split 48 : 52 akan memberikan 100% profit oil buat IOC/Contractor. Jadi negara

3
memang tidak akan memperoleh apa apa dari profit oil. Memang negara akan memperoleh
pembayaran pajak sebesar 44%, pertanyaannya: kapan? Mengingat mega proyek seperti ini
biayanya besar sekali, dan apabila nantinya ternyata gross revenue tidak sesuai harapan,
kapan pembayaran pajak akan terjadi?

Agak aneh juga kalau ada kontrak PSC - profit oilnya nol, kalau yang namanya PSC, pasti
adalah pembagian profit oil (antara Negara dengan IOC), karena memang itulah spiritnya.
Kalau tidak ada ada pembagian profit oil, hanya membayar tax saja, apa masih pantas kontrak
semcam itu disebut PSC?, Sistem konsesi saja - disamping membayar tax, IOC masih harus
membayar royalty.