Anda di halaman 1dari 6

DASAR-DASAR HUKUM MUAMALAH DAN AKAD

30SEP
DASAR-DASAR HUKUM MUAMALAH DAN AKAD
Dosen: ASEP IRFAN RIFAI, M.Pd
Pemakalah :Linda NurAmalia
PRORAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI) YAPERI CIBINONG BOGOR 2017
____________________________________________________________________ BAB
IPENDAHULUAN
Latar Belakang
Sebagai makhluk sosial, manusia tidak bisa lepas untuk berhubungan dengan sesamanya untuk
memenuhi kebutuhan hidup. Kebutuhan manusia sangat beragam, sehingga secara pribadi tidak
mampu untuk memenuhinya, dan harus berhubungan dengan orang lain. Hubungan antara satu
manusia dengan manusia lain dalam memenuhi kebutuhan, harus terdapat aturan yang menjelaskan
hak dan kewajiban keduanya berdasarkan kesepakatan. Proses untuk membuat kesepakatan dalam
memenuhi kebutuhan keduanya, yaitu dengan proses untuk akad.

Dalam pembahasan fiqh, akad dapat digunakan bertransaksi sangat beragam, sesuai dengan
karakteristik dan spesifikasi kebutuhan yang ada. Maka dari itu, dalam makalah ini kami akan
mencoba untuk menguraikan mengenai berbagai hal yang terkait dengan akad dalam pelaksanaan
muamalah di dalam kehidupan kita sehari-hari.

Rumusan Masalah
1. Apa definisi dari muamalah dan akad?
2. Apa saja hal yang harus diketahui dalam akad?
3. Bagaimana cara menyesuaikan kegiatan muamalah dengan perkembangan zaman menurut para
ulama?
Tujuan
Adapun tujuan disusunnya makalah ini antara lain untuk:

1. Mengetahui secara rinci apa yang dimaksud dengan muamalah dan akad baik secara umum
maupun menurut para ahli;
2. Menyelesaikan tugas mata kuliah fiqih muamalah semester ganjil;
3. Memiliki wawasan serta pengetahui hal yang bersangkutan dengan muamalah dan akad.
BAB II PEMBAHASAN
Definisi Hukum Muamalah dan Akad
Definisi Muamalah
Secara bahasa kata muamalah dapat diartikan sebagai saling bertindak, saling berbuat dan saling
beramal. Dalam fiqih muamalah memiliki dua macam pengertian yaitu pengertian fiqih muamalah
dalam arti sempit dan pengertian fiqh muamalahdalam arti luas. Dalam arti sempit pengertian fiqih
muamalah adalah aturan Allah yang mengatur hubungan manusia dengan manusia dalam usahanya
dengan cara memperoleh, mengatur, mengelola dan mengembangkan mal (Harta benda).
Sedangkan dalam arti luas fiqih muamalah adalah aturan (hukum) Allah yang ditujukan untuk
mengatur kehidupan manusia dalam urusan duniawi untuk mencapai tujuan akhirat.
Definisi Akad
Secara etimologis, kata Akad berarti ikatan dan tali pengikat. Jika dikatakan Aqada al-habla maka itu
menggabungkan antara dua ujung tali lalu mengikatnya, kemudian makna ini berpindah dari hal yang
bersifat Hissi (indra) kepada ikatan yang tidak tampak antara dua ucapan dari kedua belah pihak
yang sedang berdialog. Dari sinilah kemudian makna akad diterjemahkan secara bahasa sebagai
menghubungkan antara dua perkataan, masuk juga didalamnya janji dan sumpah. Karena kedua arti
demikian mangandug makna yang sama-sama mengikat. Menurut terminologis ulama fiqih, akad
dapat diartikan sebagai pertalian antara Ijab(pernyataan melakukan ikatan) dan Qabul (pernyataan
penerimaan ikatan) sesuai dengan kehendak syariat yang berpengaruh terhadap objek perikatan.
Dasar Hukum Muamalah dan Akad
Pada dasarnya hukum muamalah seperti halnya jual beli, ariyah, gadai, dan lain-lain adalah halal
dan dibolehkan sebagaimana asal hukum segala sesuatu yang ada di bumi itu halal dan dibolehkan
kecuali ada dalil yang melarangnya. Ini adalah pendapat jumhur ulama, madzhab Maliki, madzhab
Syafii, madzhab Hambali, dan sebagian besar ulama madzhab Hanafi, bahkan Ibnu Rajab Ra.
mengatakan, Sebagaian ulama mengatakan ini adalah kesepakatan para ulama.

Berikut ini merupakan dalil kaidah dalam hal muamalah dan akad:

Dalil Umum Firman Allah Swt. Dalam Qs. Al-Baqarah ayat 29: Dialah
(Allah) yang menciptakan semua apa yang ada di muka bumi ini untuk kalian.
Dalil Khusus Firman Allah Swt. Dalam Qs. Al-Maidah ayat 1
Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah akad-akad itu. Ayat ini
mencakup semua akad perjanjian, baik itu perjanjian manusia kepada Allah atau sesama
makhluknya. Allah memerintahkan agar manusia memenuhi akad-akad itu semuanya, dan ini
menunjukkan bahwa pada dasarnya hukum muamalah adalah boleh dan halal, seandainya akad-
akad itu hukumnya haram, pasti Allah tidak akan memerintahkan manusia untuk memenuhinya. Juga
firman Allah swt. yang lain:


Dan Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. (QS. al-Baqarah: 275)
Dalam ayat tersebut, Allah swt. menghalalkan berbagai macam jual beli karena didalamnya ada
maslahat manusia secara umum dan mengharamkan riba karena terdapat kezhaliman, dan makan
harta orang lain dengan cara batil. Ini menunjukkan bahwa asal hukum dalam muamalah halal dan
dibolehkan selagi tidak ada di dalamnya kezhaliman dan makan harta orang lain dengan cara batil.

Rukun Akad
1. Aqid, adalah orang yang berakad (subjek akad);
2. Maqud alaih, adalah benda-benda yang akan diakadkan (objek akad), Maqud Alaih harus
memenuhi beberapa persyaratan sebagai berikut: Obyek transaksi harus ada ketika akad atau
kontrak sedang dilakukan.Obyek transaksi harus berupa mal mutaqawwim dan dimiliki penuh
oleh pemiliknya.Obyektransaksi bisa diserahterimakan saat terjadinya akad, atau dimungkinkan
dikemudian hari. Adanya kejelasan tentang obyek transaksi. Obyek transaksi harus suci, tidak
terkena najis dan bukan barang najis.
3. Maudhu al-aqd adalah tujuan atau maksud mengadakan akad.
4. Shighat al-aqd, yaitu Ijab Qabul.
Syarat-Syarat Akad
1. Para pihak yang melakukan akad telah cakap menurut hukum (mukallaf).
2. Mukallaf berarti telah dapat dibebani hukum, sedangkan Cakap artinya telah dewasa dan tidak
hilang akal.
3. Memenuhi syarat-syarat objek akad, yaitu Objek akad telah ada ketika akad dilangsungkan,
sesuai syariat, harus jelas juga dapat dikenali dan dapat diserahterimakan.
4. Akad tidak dilarang oleh nash Al-Quran dan hadis.
5. Dilakukan memenuhi syarat-syarat khusus yang terkait dengan akad.
6. Harus bermanfaat serta memiliki tujuan akad yang jelas dan diakui syara
7. Pernyataan ijab harus tetap utuh dan sahih sampai terjadinya qabul.
8. Ijab dan qabul dinyatakan dalam satu majelis.
Setiap manusia bebas mengikatkan diri kedalam suatu akad dan wajib dipenuhi segala akibat hukum
yang ditimbulkan akad itu. Seperti firman Allah dalam surat al-Maidah ayat 1: wahai orang-orang
yang beriman penuhilah akad-akad itu

Ijab Qabul
Definisi Ijab Qabul
Ijab Qabul adalah suatu perbuatan atau pernyataan untuk menunjukkan suatu keridhaan dalam
berakad diantara dua orang atau lebih, sehingga terhindar atau keluar dari suatu ikatan yang tidak
berdasarkan syara. Oleh karena itu, dalam Islam tidak semua bentuk kesepakatan atau perjanjian
dapat dikategorikan sebagai Akad, terutama kesepakatan yang tidak didasarkan pada keridhaan dan
syariat Islam. Contoh Ijabyang merupakan pernyataan seorang penjual, saya telah
menjual/menyerahkan barang ini kepada saudara. Kemudian contoh Qabul, Saya beli/terima
barangmu. Jadi, Ijab adalah pernyataan dari orang yang menyerahkan barang
sementara Qabul adalah pernyataan dari penerima barang.
Syarat Ijab Qabul
1. Adanya kejelasan maksud antara kedua belah pihak.
2. Adanya kesesuaian antara Ijab dan Qabul
3. Adanya satu majlis akad dan adanya kesepakatan antara kedua belah pihak, tidak menunjukan
penolakan dan pembatalan dari keduanya.
4. Menggambarkan kesungguhan kemauan dari pihak-pihak yang bersangkutan, tidak terpaksa,
dan tidak karena di ancam atau ditakut-takuti oleh orang lain karena dalam tijarah (jual beli) harus
saling merelakan.
Pembatalan Ijab Qabul
Ijab Qabul akan dinyatakan batal apabila:

1. penjual menarik kembali ucapannya sebelum terdapat qobul dari si pembeli.


2. Adanya penolakan ijab dari si pembeli.
3. Berakhirnya majlis akad. Jika kedua pihak belum ada kesepakatan, namun keduanya telah pisah
dari majlis akad. Ijab dan qobul dianggap batal.
4. Kedua pihak atau salah satu, hilang ahliyah -nya sebelum terjadi kesepakatan
5. Rusaknya objek transaksi sebelum terjadinya qobul atau kesepakatan
Metode (Uslub) shighat Ijab dan Qabul
Uslub shighat dalam akad dapat diungkapkan dengan beberapa cara yaitu:

1. Akad dengan Lafadz (Ucapan), yaitu shighat akad yang paling banyak digunakan orang karena
paling mudah dan cepat dipahami.
2. Akad dengan perbuatan, Misalnya penjual memberikan barang dan pembeli memberikan uang.
Hal ini sangat umum dizaman sekarang.
3. Akad dengan isyarat, Metode ini hanya diperuntukkan bagi mereka yang tidak dapat berbicara.
4. Akad dengan tulisan, orang yang mampu ataupun tidak mampu berbicara diperbolehkan
menggunakan metode ini dengan syarat tulisan harus jelas, tampak, dan dapat dipahami. Selain
itu metode ini hanya digunakan apabila kedua pihak yang berakad tidak dapat hadir.
Dampak Akad
Dampak khusus
Dampak khusus hukum akad: yakni dampak asli dalam pelaksanaa suatu akad atau maksud utama
dilaksanakannya suatu akad, seperti pemindahan kepemilikan dalam jual-beli, hibah, waqaf, upah,
dan lain-lain.
Dampak umum: Segala sesuatu yang mengiringi setiap atau sebagian besar akad, baik dari segi
hukum maupun hasil. Pembagian Akad Diantara bagian akad yang terpenting adalah sebagai berikut:
Berdasarkan ketentuan syara
1. Akad shahih, yaitu akad yang telah memenuhi rukun-rukun dan syarat-syaratnya. Hukum dari
akad shahih ini adalah berlakunya seluruh akibat hukum yang ditimbulkan akad itu dan mengikat
pada pihak yang berakad.
2. Akadyang tidak shahih adalah akad yang terdapat kekurangan pada rukun atau syarat-syaratnya,
sehingga seluruh akibat hukum akad itu tidak berlaku dan tidak mengikat pihak-pihak yang
berakad.
Berdasarkan penamaannya
1. Akad yang telah dinamai syara, seperti jual-beli, hibah, gadai, dan lain-lain.
2. Akad yang belum dinamai syara tetapi disesuaikan dengan perkembangan zaman.
Berdasarkan Maksud dan Tujuan Akad
1. Kepemilikan;
2. Menghilangkan kepemilikan;
3. Kemutlakan; yaitu mewakilkan secara mutlak kepada wakilnya;
4. Perikatan, yaitu larangan kepada seseorang untuk beraktivitas;
Berdasarkan Zatnya
Benda yang berwujud (Al-Ain) dan benda tak berwujud (Ghair alAin).
Kedudukan, Fungsi, Ketentuan dan Pengaruh Aib dalam Akad
1. Kedudukan dan fungsi akad adalah sebagai alat paling utama dalam sah atau tidaknya
muamalah dan menjadi tujuan akhir dari muamalah.
2. Akad yang menyalahi syariat seperti agar kafir atau akan berzina tidak harus ditepati, Tidak sah
akad yang disertai dengan syarat.
3. Akad yang dapat dipengaruhi Aib adalah akad akad-akad yang mengandung unsur pertukaran
seperti jual beli atau sewa.
4. Cacat yang karenanya barang dagangan bisa dikembalikan adalah cacat yang bisa mengurangi
harga/nilai barang dagangan, dan cacat harus ada sebelum jual beli menurut kesepakatan ulama.
5. Akad yang tidak dimaksudkan untuk pertukaran seperti hibah tanpa imbalan, dan sedekah, tak
ada sedikitpun pengaruh aib di dalamnya.
6. Akad tidak akan rusak/batal sebab mati atau gilanya aqid kecuali dalam aqad pernikahan.
7. Dalam hal pernikahan Jika ada cacat dalam mahar maka boleh dikembalikan dan akadnya tetap
sah dengan konsekuensi harus diganti.
Pendapat Ulama dengan Dalil yang mengharamkan
Pendapat ulama mengenai baiataini fi baiatin diuraikan sebagai berikut:
1. Menurut kalangan ulama Hanafiyah, masyhur di kalangan ulama Malikiyah, satu dari ulama
Syafiiyah, dari kalangan Hanbali, dan banyak dari para ulama pada umumnya, makna dari
baiataini fi baiatin adalah seorang penjual menjual dagangannya dengan harga yang bervariatif
dalam satu akad jual beli, seperti masalah kredit.
2. Kalangan ulama Hanafiyah, Hanbali, dan satu dari kalangan ulama Syafii. menginterpretasi
bahwa baiataini fi baiatin adalah mempersyaratkan suatu akad dengan akad lainnya sehingga
memunculkan harga yang tidak jelas dan ketergantungan dengan syarat yang akan ditetapkan.
3. Menjual sesuatu yang belum dimiliki. Pendapat tersebut termashur dikalangan sebagian ulama
Maliki. Larangan jual beli seperti ini sangat jelas ditegaskan dalam hadis nabi Muhammad saw.,
yaitu :
:

Hadis Abdullah bin Amru: Rasulullah saw., melarang dua jual beli dalam satu akad jual beli dan
melarang jual beli yang belum dimiliki. Dalam Interpretasi yang terdapat pada ibnu Taimiyah dan
ibnu al-Jauziyah yang disebut dengan jual beli inah, menyatakan bahwa makna dari baiataini fi
baiatin adalah seseorang menjual suatu barang dengan harga tertentu secara angsuran/kredit lalu ia
kembali membelinya dari pembeli dengan harga yang lebih sedikit secara kontan
Kedudukan Akad Tijarah dan Akad Tabarru
1. lafaz baiataini fi baiatin merupakan lafaz bersifat umum, keumuman ini menimbulkan multi
interpretasi dari kalangan ulama.
2. Hadis atas larangan baiataini fi baiatin bersifat multi tafsir, dimana para ulama tidak memiliki
satu pemahaman melainkan lebih dari interpretasi yang berbeda.
3. Objek kajian hadis tersebut ditafsirkan dengan sudut pandang yang berbeda dari kalangan ulama
fikih, sebagian cenderung menafsirkan dari akadnya, sebagian lainnya cenderung mengarah
kepada syarat yang ditetapkan.
Akhir Akad
1. Berakhirnya masa berlaku akad itu, apabila mempunyai tenggang waktu.
2. Dibatalkan oleh pihak yang berakad, apabila akad itu sifatnya tidak mengikat.
3. Dalam akad yang bersifat mengikat, suatu akad dapat dianggap berakhir jika:
4. Jual beli itu fasad, seperti terdapat unsur-unsur tipuan salah satu rukun atau syaratnya tidak
terpenuhi.
5. Berlakunya khiyar syarat, aib, atau rukyat.
6. Akad itu tidak dilaksanakan oleh salah satu pihak.
7. Tercapainya tujuan akad itu sampai sempurna.
8. Salah satu pihak yang berakad meninggal dunia.
Hikmah Akad
Diadakannya akad dalam muamalah antar sesama manusia tentu mempunyai hikmah, antara lain:

1. Adanya ikatan yang kuat antara dua orang atau lebih di dalam bertransaksi atau memiliki
sesuatu.
2. Tidak dapat sembarangan dalam membatalkan suatu ikatan perjanjian, karena telah diatur
secara syari.
3. Akad merupakan payung hukum di dalam kepemilikan sesuatu, sehingga pihak lain tidak dapat
menggugat atau memilikinya.
Pendapat Mengenai Akad dalam Muamalah Pendapat Ulama tentang Jenis Akad Transaksi
Akad transaksi pada era masa kini tentunya mengalami perubahan karena harus menyesuaikan diri
dengan kebutuhan masyarakat sekarang. Konsekuensinya, tak jarang beberapa jenis transaksi
hukumnya dipertanyakan lagi, apakah jenis transaksi ini sesuai dengan syariat atau tidak. Karena
pada dasarnya, akad memiliki rukun dan syarat yang harus terpenuhi.

Rukun itu antara lain : pernyataan untuk mengikatkan diri (sighah al-aqd), pihak-pihak yang berakad,
dan obyek akad.

Namun menurut Ulama Madhab Hanafi: rukun akad itu cukup satu yaitu sighah al-aqd, sedangkan
pihak-pihak yang berakad dan obyek akad masuk pada syarat akad.
Pendapat pemakalah: Kehidupan tentunya tidak hanya diam dalam satu masa, Begitupun dalam hal
yang berkaitan dengan kegiatan muamalah terutama Akad. Islam mengajarkan kepada pemeluknya
agar senantiasa menunaikan akad-akadnya. Karena Akad merupakan syarat dari segala yang
mencakup muamalah seperti jual beli, utang piutang dan sebagainya. Akad juga merupakan suatu
pernyataan ridha seseorang kepada saudaranya dalam memberi ataupun menerima sesuatu.
Mungkin dalam era digital sekarang, selain urusan akad pernikahan, tradisi akad jarang atau bahkan
hampir tidak ada lagi karena maraknya system online yang membuat pelaku muamalah tidak secara
langsung bertegur sapa. Namun, masih banyak cara untuk hal tersebut yang dapat membolehkan
pelaku tetap dapat melakukan kegiatan muamalah, seperti dengan tulis menulis pesan, media audio,
dan lain-lain. Karena Islam tidak mungkin memberatkan umatnya untuk beraktivitas jika kegiatannya
bermanfaat, namun harus sesuai syara dan menyesuaikan dengan perkembangan zaman.
BAB III PENUTUP
Simpulan
Dari beberapa penjelasan yang telah teruai maka dapat ditarik beberapa simpulan bahwasanya
kesepakatan antar kedua pihak berkenaan dengan suatu hal atau kontrak antara beberapa pihak atas
diskursus yang dibenarkan oleh syara dan memiliki implikasi hukum tertentu.terkait dalam
implementasinya tentu akad tidak pernah lepas dari yang namanya rukun maupun syarat yang mesti
terpenuhi agar menjadi sah dan sempurnanya sebuah akad. Adapun mengenai jenis-jenis akad,
ternyata banyak sekali macam-macam akad yang dilihat dari berbagai perspektif, baik dari segi
ketentuan syariahnya, cara pelaksanaan, zat benda-benda, dan lain-lain. Semua mengandung
unsure yang sama yakni adanya kerelaan dan keridhaan antar kedua belah pihak terkait dengan
pindahnya hak-hak dari satu pihak ke pihak lain yang melakukan kontrak. Sehingga dengan
terbentuknya akad, akan muncul hak dan kewajiban diantara pihak yang bertransaksi. Sehingga
tercapailah tujuan kegiatan muamalah dalam kehidupan kita sehari-hari.

Rekomendasi pemakalah Meskipun kita telah masuk ke era digital, namun bukan berarti kita
menyimpang dari aturan agama. Mungkin cara melaksanakannya disesuaikan dengan situasi dan
keadaan zaman. Dalam melakukan kegiatan muamalah, Akad perlu ditunaikan sebagai bentuk
keridhaan pelaku timbal balik kebutuhan sosial. Meskipun tidak dapat secara langsung bertegur sapa,
setidaknya ada pernyataan dari pelaku bahwa kedua pihak telah ridha dan sebaik-baiknya kegiatan
adalah kegiatan yang dibenarkan oleh syariat Islam.
DAFTAR PUSTAKA Syafei, Rachmat. 2001. Fiqh Muamalah. Bandung: Pustaka Setia. Muhammad
Azzam, Abdul Aziz. 2010. Fiqih Muamalat. Jakarta: Azzam. Rasjid, Sulaiman. 2014. Fiqih
Islam.Bandung: Penerbit Sinar Baru Algensindo Bandung. (Cet. Ke-67) Maulidar, Agustina. Oktober
2013,Pembagian Akad Dalam Fiqh Muamalah. Jurnal Pembagian Akad Dalam Fiqh Muamalah
(Muawadhah, Tijarah, Tabarru) Prinsip-Prinsip dan Teori Kontrak
Syariah, http://maulidar14.blogspot.co.id/2016/10/jurnal-pembagian-akad-dalam-fiqh.html, Diakses
pada 24 September 2017 Edwar, Riover. 2012. Kajian Tentang Muamalah dan
Akad http://rioveredwar.blogspot.co.id/2012/05/akad-1.html, Diakses pada 24 Sept. 2017 Pratama,
Rizkia. 2012. Akad Dalam Muamalah http://www.academia.edu/7067375/Akad_dalam_Muamalah,
Diakses pada 27 Sept. 2017 Akad. https://chezam.wordpress.com/2009/10/14/makalah-tentang-
akad/ Diakses pada 27 Sept. 2017 Muhammad Ali, Abu Ibrohim. Ekonomi Islam Aplication, Kaidah
Penting Dalam Muamalah.