Anda di halaman 1dari 19

A.

Analisis Wacana

1. Definisi Analisis Wacana

Dalam lapangan sosiologi, wacana menunjuk terutama pada hubungan antara konteks
sosial dari pemakaian bahasa. Dalam pengertian linguistik, wacana adalah unit bahasa yang lebih
besar dari kalimat. Analisis wacana dalam studi linguistik ini merupakan reaksi dari bentuk
linguistik formal yang lebih memperhatikan pada unit kata, frasa, atau kalimat semata tanpa
melihat keterkaitan di antara unsur tersebut. analisis wacana kebalika dari linguistik formal,
justru memusatkan perhatian pada level di atas kalimat seperti hubungan gramatikal yang
terbentuk pada level yang lebih besar dari kalimat.1

Menurut Michael Fairclough, wacana tidaklah dipahami sebagai serangkaian kata atau
preposisi dalam teks, tetapi mengikuti Fairclough adalah sesuatu yang memproduksi yang lain
(sebuah gagasan, konsep atau efek). Wacana dapat dideteksi karena secara sistemis suatu ide,
opini, konsep, dan pandangan hidup dibentuk dalam suatu konteks tertentu sehingga
memengaruhi cara berpikir dan bertindak sesuatu.2

Dalam khasanah studi analisis tekstual, analisis wacana masuk dalam paradigma
penelitian kritis. Suatu paradigma berpikir yang melihat pesan sebagai pertarungan kekuasaan,
sehingga teks berita dipandang sebagai bentuk dominasi dan hegemoni satu kelompok kepada
kelompok lain. Wacana demikian adalah suatu alat representasi di mana satu kelompok yang
dominan memarjinalkan posisi kelompok yang tidak dominan.3

Kata wacana adalah salah satu kata yang banyak disebut saat ini selain demokrasi, hak
asasi manusia, masyarakat sipil, dan lingkungan hidup. Akan tetapi, seperti umumnya banyak
kata, semakin tinggi disebut dan dipakai kadang bukan semakin jelas, tetapi semakin
membingungkan dan rancu. Ada yang mengartikan wacana sebagai unit bahasa yang lebih besar
dari kalimat.4

2. Konsep Utama Analisis Wacana

Analisis wacana lebih menekankan pada pemaknaan. Dasar analisis wacana adalah
interpretasi, karena analisis wacana merupakan bagian dari metode interpretatif yang
mengandalkan interpretasi dan penafsiran peneliti.5

Menurut Eriyanto mengutip pernyataan Teun A van Dijk, Fairclough, dan Wodak,
berikut ini karakteristik penting dalam analisis wacana kritis.

1
Eriyanto, Pengantar Analisis Teks Media, (Yogyakarta: LkiS, 2001), h. 3.
2
Eriyanto, Pengantar Analisis Teks Media, (Yogyakarta: LkiS, 2001), h. 65
3
Eriyanto, Pengantar Analisis Teks Media, (Yogyakarta: LkiS, 2001), h. 18
4
Eriyanto, Pengantar Analisis Teks Media, (Yogyakarta: LkiS, 2001), h. 1
5
Eriyanto, Pengantar Analisis Teks Media, (Yogyakarta: LkiS, 2001), h. 337
a. Tindakan

Prinsip pertama, wacana dipahami sebagai tindakan (action). Pemahaman semacam ini
mengasosiasikan wacana sebagai bentuk interaksi. Wacana bukan ditempatkan seperti dalam
ruang tertutup dan internal. Orang berbicara atau menulis bukan ditafisirkan sebagai ia menulis
atau berbicara untuk dirinya sendiri. Seseorang berbicara, menulis, dan menggunakan bahasa
untuk beriteraksi dan berhubungan dengan orang lain. Dengan pemahaman seperti ini ada
beberapa konsekuensi bagaimana wacana harus dipandang. Pertama, wacana dipandang sebagai
sesuatu yang bertujuan, apakah untuk memengaruhi, mendebat, membujuk, menyangga,
bereaksi, dan sebagainya. Kedua, wacana dipahami sebagai seseuatu yang diekspresikan secara
sadar, terkontrol, bukan sesuatu yang di luar kendali, atau diekspresian di luar kesadaran.

b. Konteks

Analisis wacana mempertimbangkan konteks dari wacana seperti latar, situasi, peristiwa,
dan kondisi. Wacan di sini dipandang diproduksi, dimengerti, dan dianalisis pada suatu konteks
tertentu. Bahasa di sini dipahami dalam konteks secara keseluruhan. Guy Cook menyebut ada
tiga hal yang sentral, yaitu teks, konteks, dan wacana. Teks adalah semua bentuk bahasa, bukan
hanya kata-kata yang tercetak di lembar kertas, tetapi juga semua jenis ekspresi manusia,
ucapan, musik, gambar, efek suara, citra, dan sebagainya. Konteks memasukkan semua situasi
dan hal yang berada di luar teks dan memengaruhi pemakaian bahasa, seperti partisipan dalam
bahasa, situasi di mana teks tersebut diproduksi, fungsi yang dimaksudkan, dan sebagainya.
Wacan di sini, kemudian dimaknai sebagai teks dan konteks bersama-sama.

Namun, tidak semua konteks dimasukkan dalam analisis. Hanya yang relevan dan dalam
banyak hal berpengaruh atas produksi dan penafsiran teks yang dimasukkan dalam analisis. Ada
beberapa konteks yang penting karena berpengaruh terhadap produksi wacana. Pertama,
partisipan wacana, latar siapa yang memproduksi wacana. Kedua, latar sosial tertentu, seperti
tempat, waktu, posisi pembicara, dan pendengar atau lingkungan fisik adalah konteks yang
berguna untuk mengerti suatu wacana.

c. Historis

Menempatkan wacana dalam konteks sosial teretntu, berarti wacana diproduksi dalam
konteks tertentu dan tidak dapat dimengerti tanpa menyertakan konteks yang menyertainya.
Salah satu aspek penting untuk bisa mengerti teks adalah dengan menempatkan wacana itu
dalam konteks historis tertentu.

d. Kekuasaan

Analisis wacan kritis juga mempertimbangkan elemen kekuasaan (power) dalam analisisnya.
Wacana di sini tidak dipandang sebagai sesuatu yang alamiah, wajar, dan netral tetapi
merupakan bentuk pertarungan kekuasaan. Konsep kekuasaan adalah salah satu kunci hubungan
antara wacana dengan masyarakat.

Kekuasaan itu dalam hubungannya dengan wacana, penting untuk melihat apa yang disebut
sebagai kontrol. Satu orang atau kelompok mengontrol orang atau kelompok lain lewat wacana.
Kontrol di sini tidaklah harus selalu dalam bentuk fisik dan langsung tetapi juga kontrol secara
mental atau psikis. Kelompok yang dominan mungkin membuat kelompok lain bertindak seperti
yang diinginkan olehnya, berbicara, dan bertindak sesuai yang diinginkan.

e. Ideologi

Idelogi juga konsep yang sentral dalam analisis wacana yang bersifat kritis. Hal ini
karena teks, percakapan, dan lainnya adalah bentuk dari praktik ideologi atau perncerminan dari
ideologi tertentu. Peranan wacana dalam kerangka ideologi, sepertiyang dikatakan oleh Teun A
van Dijk, ideologi terutama dimaksudkan untuk mengatur masalah tindakan dan praktik individu
atau anggota suatu kelompok. Ideologi mempunyai beberapa implikasi penting. Pertama,
ideologi secara inheren bersifat sosial, tidak personal, atau individual; ia membutuhkan share di
antara anggota kelompok, organisasi atau kolektivitas dengan orang lainnya. Hal yang dibagikan
tersebut bagi anggota kelompok digunakan untuk membentuk solidaritas dan kesatuan langkah
dalam bertindak dan bersikap.

Kedua, ideologi meskipun bersifat sosial, ia digunakan secara internal di antara anggota
kelompok atau komunitas. Oleh karena itu, ideologi tidak hanya menyediakan fungsi kordinatif
dan kohesi tetapi juga membentuk identitas diri kelompok, membedakan dengan kelompok
lain.6

3. Analisis Wacana Teun A van Dijk

Analisis wacana van Dijk melihat penelitian analisis wacana tidak cukup hany didasarkan
pada analisis atas teks semata, karena teks hanya hasil dari suatu praktik produksi. Di sini perlu
dilihat pula bagaimana suatu teks diproduksi, sehingga dapat diketahui bagaimana teks bisa
seperti itu. Model analisis wacana van Dijk bisa dikatakn yang paling lengkap karena
mengelaborasi elemen-elemen wacana sehingga dapat digunakan secara praktis. Model van Dijk
ini sering disebut sebagai kognisi sosial.7

a. Teks

Van Dijk melihat suatu teks terdiri atas beberapa struktur atau tingkatan yang asing-
masing bagian saling mendukung. Ia membaginya ke dalam tiga tingkatan. Pertama, struktur

6
Eriyanto, Pengantar Analisis Teks Media, (Yogyakarta: LkiS, 2001), h. 7-14
7
Eriyanto, Pengantar Analisis Teks Media, (Yogyakarta: LkiS, 2001), h. 221
makro. Ini merupakan makna global atau umum dari suatu teks yang dapat diamati dengan
melihat topik atau tema yang dikedepankan dalam suatu berita. Kedua, superstruktur. Ini
merupakan struktur wacana yang berhubungan dengan kerangka suatu teks, bagaimana bagian-
bagian teks tersusun ke dalam berita secara utuh. Ketiga, struktur mikro. Adalah makna wacana
yang dapat diamati dari bagian kecil dari suatu teks yakni kata, kalimat, proposisi, anak kalimat,
paraphrase, dan gambar.8

1) Tematik

Topik ini akan didukung oleh subtopik satu dan subtopik lain yang saling mendukung
terbentuknya topi umum. Subtopik ini juga didukung oleh serangkaian fakta yang ditampilkan
yang menunjuk dan menggambarkan subtopik, sehingga dengan subbagian yang saling
mendukung antara satu bagian dengan bagian yang lain, serta keseluruhan membentuk teks yang
koheren dan utuh.9

Tema termasuk ke dalam tingkatan analisis teks pertama yakni struktur makro. Tema
merupakan gagasan inti, ringkasan, atau yang utama dari suatu teks. tema atau kadan disebut
topik ini menggambarkan apa yang ingin diungkapkan oleh pemberitaan dalam berita yang
dibuatnya.10

2) Skematik

Kedua, story, yakni isi berita secara keseluruhan. Isi berita ini juga mempnyai dua
subkategori. Yang pertama berupa situasi yakni proses atau jalannya peristiwa, sedang yang
kedua komentar yang ditampilkan dalam teks. Subkategori situasi yang menggambarkan kisah
suatu peristiwa umumnya terdiri atas dua bagian. Yang pertama mengenai episode atau kisah
utama dari peristiwa tersebut, dan yang kedua latar untuk mendukung episode yang disajikan
kepada khalayak. Sedangkan subkategori komentar yang menggambarkan bagaimana pihak-
pihak yang terlibat memberikan komentar atas peristiwa terdiri atas dua bagian. Pertama, reaksi
atau keomntar verbal dari tokoh yang dikutip wartawan. Kedua, kesimpulan yang diambil oleh
wartawab dari keomntar beberapa tokoh.11

Tingkatan yang kedua dalam analisis wacana van Dijk adalah superstruktur. Skematik ini
merupakan bagian daam tingkatan super struktur. Teks wacana pada umumnya mempunyai
skema atau alur dari pendahuluan serta akhir. Alur tersebut menunjukkan bagaimana bagian-
bagian dalam teks disusun dan diurutkan sehingga membuat kesatuan arti.12

3) Semantik

8
Eriyanto, Pengantar Analisis Teks Media, (Yogyakarta: LkiS, 2001), h. 225
9
Eriyanto, Pengantar Analisis Teks Media, (Yogyakarta: LkiS, 2001), h. 230
10
Eriyanto, Pengantar Analisis Teks Media, (Yogyakarta: LkiS, 2001), h. 229
11
Eriyanto, Pengantar Analisis Teks Media, (Yogyakarta: LkiS, 2001), h. 232
12
Eriyanto, Pengantar Analisis Teks Media, (Yogyakarta: LkiS, 2001), h. 232
Latar merupakan bagian berita yang dapat memengaruhi semantik (arti) yang ingin
ditampilkan. Latar yang dipilih menentukan ke arah mana pandangan masyarakat hendak
dibawa. Latar umumnya ditampilkan di awal sebelum pendapat wartawan yang sebenarnya
muncul dengan maksud memengaruhi dan memberi kesan bahwa pendapat wartawan sangat
beralasan. Oleh karena itu, latar membantu menyelidiki bagaimana seseorang memberi
pemaknaan atas suatu peristiwa.13

Elemen wacana detil berhubungna dengan kontrol informasi yang ditampilkan seseorang.
Elemen detil merupakan strategi bagaimana wartawan mengekspresikan ssikapnya dengan cara
yang implisit. Sikap atau wacana yang dikembangkan oleh wartawan kadangkala tidak perlu
disampaikan secara terbuka, tetapi dari detil bagian mana yang dikembangkan danmana yang
diberitakan dengan detil yang besar, akan menggambarkan bagaimana wacana yang
dikembangkan oleh media.14

Elemen wacana maksud, hampir sama dengan elemen detil. Bedanya, dalam detil,
informasi yang menguntungkan komunikator akan diuraikan dengan detil yang panjang. Elemen
maksud melihat informasi yang menguntungkan keomunikator akan diuraikan secara eksplisit
dan jelas. Sebaliknya, informasi yang merugikan akan diuraikan secara tersamar, implisit, dan
tersembunyi. Tujuan akhirnya adalah publik hanya disajikan informasi yang menguntungkan
komunikator.15

Elemen wacana praanggapan (presupposition) merupakan pernyataan yang dgunakan


untuk mendukung makna suatu teks. kalau latar berarti upaya mendukung dengan jalan memberi
latar belakang, maka praanggapan adalah upaya mendukung pendapat dengan memberikan
premis yang dipercaya kebenarannya. Praanggapan hadir dengan pernyataan yang dipandang
terpercaya sehingga tidak perlu dipertanyakan.16

1. Latar

Latar termasuk ke dalam bagian tingkat analisis struktur mikro yakni semantik. Latar merupakan
bagian berita yang dapat memengaruhi semantik (arti) yang ingin ditampilkan. Latar biasanya
ditulis sebagai latar belakang suatu berita atau peristiwa. Latar yang ditulis tersebut menentukan
ke arah mana pandangan khalayak dibawa oleh wartawan tersebut.17

2. Detil

13
Eriyanto, Pengantar Analisis Teks Media, (Yogyakarta: LkiS, 2001), h. 235
14
Eriyanto, Pengantar Analisis Teks Media, (Yogyakarta: LkiS, 2001), h. 238
15
Eriyanto, Pengantar Analisis Teks Media, (Yogyakarta: LkiS, 2001), h. 240
16
Eriyanto, Pengantar Analisis Teks Media, (Yogyakarta: LkiS, 2001), h. 256
17
Eriyanto, Pengantar Analisis Teks Media, (Yogyakarta: LkiS, 2001), h. 235
Detil juga masuk dalam semantik. Detil ini merupakan elemen wacana yang berhubungan
dengan kontrol informasi yang ditampilkan seseorang. Elemen detil merupakan strategi
bagaimana wartawan mengekspresikan sikapnya dengan cara yang implisit.18

3. Maksud

Elemen maksud, hampir sama dengan elemen detil. Bedanya, jika dalam detil informasi yang
menguntungkan komunikator akan diuraikan dengan detil yang panjang, maka dalam elemen
maksud informasi yang menguntungkan komunikator akan diuraikan secara eksplisit dan jelas.
Sebaliknya, informasi yang merugikan akan diuraikan secara tersamar, implisit, dan
tersembunyi.19

4. Pra Anggapan

Elemen wacana lainnya, praanggapan merupakan pernyataan yang digunakan untuk mendukung
makna suatu teks. hampir serupa dengan latar yang berupaya mendukung pendapat dengan jalan
memberi latar belakang. Kalau praanggapan adalah upaya mendukung pendapat dengan
memberikan premis yang dipercayai kebenarannya.20

4) Sintaksis

Koherensi adalah pertalian atau jalinan antar kata, atau kalimat dalam teks. Dua kalimat
yang menggambarkan fakta yang berbeda dapat diubungkan sehingga tampak koheren. Sehingga
fakta yang tidak berhubungan sekalipun dapat menjadi berhubungan ketika seseorang
menghubungkannya. Koherensi merupakan elemen wcana untuk melihat bagaimana seseorang
secara strategis menggunakan wacana untuk menjelaskan suatu fakta atau peristiwa. Apakah
peristiwa dipandang saling terpisah, berhubungan, atau malah sebab akibat. Pilihan-pilihan mana
yang diambil ditentukan oleh sejauh mana kepentingan komunikator terhadap peristiwa
tersebut.21

Bentuk kalimat adalah segi sintaksis yang berhubungan dengan cara berpikir logis, yaitu
prinsip kausalitas. Di mana ia menanyakan apakah A yang menjelaskan B, ataukah B yang
menjelaskan A. Logika kausalitas ini jika diterjemahkan ke dalam bahasa menjadi susuna subjek
(yang menerangkan) dan predikat (yang diterangkan). Bentuk kalimat ini bukan hanya persoalan
kebenaran tata bahasa, tetapi menentukan makna yang dibentuk oleh susunan kalimat. Dalam
kalimat yang berstruktur aktif, seseorang menjadi subjek dari pernyataannya, sedangkan dalam
kalimat pasif seseorang menjadi objek ari pernyataannya.22

18
Eriyanto, Pengantar Analisis Teks Media, (Yogyakarta: LkiS, 2001), h. 238
19
Eriyanto, Pengantar Analisis Teks Media, (Yogyakarta: LkiS, 2001), h. 240
20
Eriyanto, Pengantar Analisis Teks Media, (Yogyakarta: LkiS, 2001), h. 256
21
Eriyanto, Pengantar Analisis Teks Media, (Yogyakarta: LkiS, 2001), h. 242
22
Eriyanto, Pengantar Analisis Teks Media, (Yogyakarta: LkiS, 2001), h. 251
Elemen kata ganti merupakan elemen untuk memanipulasi bahasa dengan menciptakan
suatu komunitas imajinatif. Kata ganti merupakan alat yang dipakai oleh komunikator untuk
menunjukkan di mana posisi seseorang dalam wacana. Dalam mengungkapkan sikapnya,
seseorang dapat menggunakan kata ganti saya atau kami yang menggambarkan bahwa sikap
tersebut merupakan sikap resmi komunikator semata-mata. Akan tetapi, ketika memakai kata
ganti kita menjadikan sikap tersebut sebagai representasi dari sikap bersama dalam suatu
komunitas tertentu. Batas antara komunikator dengan khalayak sengaja dihilangkan untuk
menunjukkan apa yang menjadi sikap komunikator juga mejadi sikap komunitas secara
keseluruhan. Pemakaian kata ganti yang jamak seperti kita atau kami mempunyai implikasi
menumbuhkan solidaritas, aliansi serta mengurangi kritik dan oposisi.23

5. Koherensi

Koherensi adalah pertalian atau jalinan antarkata, atau kalimat dalam teks. dua buah kalimat
yang menggambarkan fakta yang berbeda dapat dihubungkan sehingga tampak koheren.
Sehingga, fakta yang tidak berhubungan sekalipun dapat menjadi berhubungan ketika seseorang
menghubungkannya.24

5) Stilistik (Leksikon)

Elemen ini menandakan bagaimana seseorang melakukan pemilihan kata atas berbagai
kemungkinan kata yang tersedia. Pemilihan kata tersebut bukan dilakukan secara kebetulan,
tetapi juga secara ideologis menunjukkan bagaimana pemaknaan seseorang terhadap fakta atau
realitas. Pemilihan kata-kata yang dipakai menunjukkan sikap dan ideologi tertentu. Peristiwa
sama dapat digambarkan dengan pilihan kata yang berbeda-beda.25

6. Leksikon

Leksikon ini merupakan elemen bagaimana wartawan atau penulis melakukan pemilihan kata
atas berbagai kemungkinan kata yang tersedia. Pemilihan kata tersebut tidak semata hanya
kebetulan saja, tetapi bisa jadi mengandung unsur ideologis yang menunjukkan bagaimana
pemaknaan seseorang terhadap suatu fakta.26

6) Retoris

Elemen grafis ini merupakan bagian untuk memerika apa yang ditekankan atau
ditonjolkan (yang berarti dianggap penting) oleh seseorang yang dapat diamati dar teks. Dalam
wacana berita, graifs ini muncul lewat bagian tulisan yang dibuat lain dibandingkan tulisan lain.

23
Eriyanto, Pengantar Analisis Teks Media, (Yogyakarta: LkiS, 2001), h. 253-254
24
Eriyanto, Pengantar Analisis Teks Media, (Yogyakarta: LkiS, 2001), h. 242
25
Eriyanto, Pengantar Analisis Teks Media, (Yogyakarta: LkiS, 2001), h. 255
26
Eriyanto, Pengantar Analisis Teks Media, (Yogyakarta: LkiS, 2001), h. 255
Bagian-bagian yang ditonjolkan ini menekankan kepada khalayak pentingnya bagian tersebut.
bagian yang dicetak berbeda adalah bagian yang dipandang penting oleh komunikator, di sana ia
menginginkan khalayak menaruh perhatian lebih pada bagian tersebut.27

Dalam suatu wacana, seorang wartawan tidak hanya menyampaikan pesan pokok lewat
teks, tetapi juga kiasan, ungkapa, metafora yang dimaksudkan sebagai ornamen atau bumbu dari
suatu berita. Akan tetapi, pemakaian metafora tertentu bisa jadi menjadi petunjuk utama untuk
mengerti makna suatu teks. Metafora tertentu dipakai oleh wartawan secara strategis sebagai
landasan berpikir, alasan pembenar atas pendapat atau gagasan tertentu kepada publik.28

7. Grafis

Elemen ini merupakan bagian untuk memeriksa apa yang ditekankan atau ditonjolkan (yang
berarti dianggap penting) oleh seseorang yang dapat diamati dari teks. grafis dalam wacana
berita, biasanya muncul lewat tulisan yang dibuat lain. Pemakaian huruf tebal, huruf miring,
pemakaian garis bawah, huruf yang dibuat besar. Termasuk di dalamnya adalah pemakaian
caption, raster. Grafi, gambar, tabel, dan pemakaian angka untuk mendukung arti peting sebuah
pesan.29

8. Metafora

Metafora adalah bentuk pengungkapan pesan melalui kiasan atau ungkapan. Metafora ini
dimaksudkan sebagai ornamen atau bumbu dari suatu berita.30

b. Kognisi Sosial

Van Dijk menyebut sebagai kognisi sosial. Untuk mengetahui bagaimana makna
tersembunyi dari teks, diperlukan analisis kognisi dan konteks sosial. Pendekatan kognitif
didasarkan pada asumsi bahwa teks tidak mempunyai makna, tetapi makna itu diberikan oleh
pemaaki bahasa, atau lebih tepatnya proses kesadaran mental dari pemakai bahasa. Oleh karena
itu, dibutuhkan suatu penelitian atas representasi kognisi dan strategi wartawan dalam
memproduksi suatu berita.31

Dalam pandangan van Dijk, kognisi sosial terutama dihubungkan dengan proses produksi
berita. Titik kunci dalam memahami produksi berita adalah dengan meneliti proses terbentuknya
teks. proses terbentuknya teks ini tidak hanya bermakna bagaimana suatu teks itu dibentuk,
proses ini juga memasukkan informasi bagaimana peristiwa itu ditafsirkan, disimpulkan, dan

27
Eriyanto, Pengantar Analisis Teks Media, (Yogyakarta: LkiS, 2001), h. 257
28
Eriyanto, Pengantar Analisis Teks Media, (Yogyakarta: LkiS, 2001), h. 259
29
Eriyanto, Pengantar Analisis Teks Media, (Yogyakarta: LkiS, 2001), h. 257
30
Eriyanto, Pengantar Analisis Teks Media, (Yogyakarta: LkiS, 2001), h. 259
31
Eriyanto, Pengantar Analisis Teks Media, (Yogyakarta: LkiS, 2001), h. 259
dimaknai oleh wartawan.32 Untuk membongkar bagaimana makna tersembunyi dari teks,
dibutuhkan penelitian kognitif dan strategi si penulis dalam memproduksi suatu berita. Karena
setiap teks pada dasarnya dihasilkan lewat kesadaran, pengetahuan, prasangka, atau pengetahuan
tertentu atas suatu peristiwa.33

c. Analisis sosial

Menurut Van Dijk, dalam analisis mengenai masyarakat ini, ada dua poin yang penting
yaitu kekuasaan (power) dan akses (acces).

1) Praktek kekuasaan

Van Dijk mendefinisikan kekuasaan tersebut sebagai kepemilikan yang dimiliki oleh
suatu kelompok (atau anggotanya), satu kelompok untuk mengontrol kelompok (atau anggota)
dari kelompok lain. Kekuasaan ini umumnya didasarkan pada kepemilikan atas sumber-sumber
yang bernilai seperti uang, status, dan pengetahuan. Selain berupa kontrol yang bersifat
langsung dan fisik, kekuasaan itu dipahami oleh van Dijk, juga berbentuk persuasif; tindakan
seseorang untuk secara tidak langsung mengontrol dengan jalan memengaruhi kondisi mental,
seperti kepercayaan, sikap, dan pengetahuan.

2) Akses memengaruhi wacana

Analisis wacana Van Dijk memberi perhatian yang besar pada akses, bagaimana akses di
antara masing-masing kelompok dalam masyarakat. Kelompok elit mempunyai akses yang lebih
besar dibandingkan dengan kelompok yang tidak berkuasa. Oleh karena itu, mereka yang lebih
berkuasa mempunyai kesempatan lebih besar untuk memengaruhi kesadaran khalayak. Akses
yang lebih besar bukan hanya memberi kesempatan untuk mengontrol kesadaran khalayak lebih
besar, tetapi juga menentukan topik apa dan isi wacana apa yang dapat disebarkan dan
didiskusikan kepada khalayak.34

32
Eriyanto, Pengantar Analisis Teks Media, (Yogyakarta: LkiS, 2001), h. 266
33
Eriyanto, Pengantar Analisis Teks Media, (Yogyakarta: LkiS, 2001), h. 260
34
Eriyanto, Pengantar Analisis Teks Media, (Yogyakarta: LkiS, 2001), h. 273
B. Analisis Wacana

4. Definisi Analisis Wacana

Definisi kerja memandang bahwa wacana adalah penggunaan bahasa untuk


menggambarkan realitas. Menurut definisi kerja ini, wacana dibedakan ke dalam dua jenis, (Gee,
2005: 26), yaitu:

a. discourse (d kecil), yang melihat penggunaan bahasa pada tempatnya (on site) untuk
memerankan kegiatan, pandangan, dan identitas atas dasar-dasar linguistik.
b. Discourse (D besar) yang mencoba merangkaikan unsur linguistik pada discourse
(dengan kecil) bersama-sama dengan unsur on-linguistik untuk memerankan kegiatan,
pandangan, dan identitas.35

Dari uraian tersebut, tampak bahwa baik discourse (dengan kecil) maupun
Discourse (dengan D besar) adalah hasil dari pekerjaan si pembuat wacana memakai bahasa
(verbal atau nonverbal) untuk mempresentasikan realitas.

5. Konsep Utama Analisis Wacana

Sebagai sebuah pendekatan penelitian, analisis wacana memiliki sejumlah metode


analisis wacana; dan pada awalnya, metode-metode analisis wacana itu adalah teori wacana,
bahkan adalah teori sosial.36

Analisis wacana dapat dikategorikan menjadi beberapa jenis. Untuk lebih mudahnya,
Ibnu Hamad dalam jurnalnya meringkas hal itu sebagai berikut.

a. Berdasarkan pengunaan metode, analisis wacana dibedakan ke dalam dua jenis: (a)
analisis wacana sintagmatis, yang menganalisis wacana dengan metode kebahasaan
(syntaxis approach), di mana peneliti mengeksplorasi kalimat demi kalimat untuk
menarik kesimpulan; dan (b) analisis wacana paradigmatis, yang menganalisis wacana
dengan memerhatikan tanda-tanda (signs) tertentu dalam sebuah wacana untuk
menemukan makna keseluruhan.37
b. Berdasarkan bentuk analisis, dibagi menjadi dua bentuk: (a) analisis wacana linguistik
yang membaca suatu naskah dengan memakai salah satu metode analisis wacana
(sintaksis ataupun paradigmatis); dan (b) analisis wacana sosial, yang menganalisis
wacana dengan memakai satu atau lebih metode analisis wacana (sintaksis ataupun
paradigmatis), menggunakan perspektif teori tententu, dan menerapkan paradigma
penelitian tertentu (positivis, pospositivis, kritikal, konstruktivis, dan partisipatoris).38

35
Ibnu Hamad, Lebih Dekat dengan Analisis Wacana dalam Mediator Vol. 8 No. 2, (2007), h. 326
36
Ibnu Hamad, Lebih Dekat dengan Analisis Wacana dalam Mediator Vol. 8 No. 2, (2007), h. 326
37
Ibnu Hamad, Lebih Dekat dengan Analisis Wacana dalam Mediator Vol. 8 No. 2, (2007), h. 328
38
Ibnu Hamad, Lebih Dekat dengan Analisis Wacana dalam Mediator Vol. 8 No. 2, (2007), h. 328
c. Berdasarkan level analisis, dibedakan ke dalam dua jenis: (a) analisis pada level naskah,
baik dalam bentuk text, talks, act, dan artifact; baik secara sintagmatis ataupun secara
paradigmatis; dan (b) analisis multilevel yang dikenal dengan analisis wacana kritis
(critical discourse analysis) yang menganalisis wacana pada level naskah beserta konteks
dan historisnya.39
d. Berdasarkan bentuk (wujud) wacana, analisis wacana dapat dilakukan terhadap beragam
bentuk (wujud) wacana; mulai dari tulisan, ucapan, tindakan, hingga peninggalan (jejak);
baik yang dimuat media maupun di alam sebenarnya.40

Untuk analisis wacana sintagmatis, alternatif metode yang dapat diterapkan antara
lain ada empat seperti tampak dalam tabel berikut.

No Nama Dimensi Teoritis (Sebuah Penggunaan sebagai Metode


Metode Abstraksi) Analisis Wacana
1 MCD Membership Categorization Dimulai dengan satu dua kalimat
(Titscher, Device Analysis atau MCD saja yang secara gramatikal
2000:105- adalah metode analisis wacana berhubungan (misalnya kalimat
109) yang bertujuan untuk memahami majemuk) dalam sebuah teks;
kapan dan bagaimana para anggota guna dianalisis struktur dan
suatu masyarakat membuat sebuah aturannya yang berlaku dalam
deskripsi supaya segera setelah itu kalimat tersebut, yang lazimnya
diketahui mekanisme yang mencakup aspek-aspek indeksial
digunakan untuk memproduksi (fenomena yang dibicarakan),
deskripsi tersebut secara pantas refleksifitas (fakta yang
dan cocok. terkandung) dan demonstrasi
(aturan yang dipakai).
2 CA Conversation Analysis (CA) Menganalisis suatu percakapan
(Titscher, bertujuan menemukan prinsip dan antara dua orang atau lebih
2000: 109- prosedur yang dipergunakan dengan memerhatikan cara
114) partisipan dalam memproduksi merka berinteraksi seperti sikap
struktur dan aturan dari suatu saling bergantian berbicara,
situasi komunikasi. situasi komunikasi yang terjadi,
dsb.
3 FP (Titscher, Functional Pragmatic (FP) Memerhatikan prosedur dan pola
2000:171- membahas bentuk percakapan (pattern) percakapan. Prosedur
184) (speeh action) dan perilaku adalah unit terkecil dari tindakan
percakapan (speech act) untuk percakapan seperti saya, di sini,
menemukan tujuan (purpose) dari sekarang; Pola adalah potensi
partisipan sebuah percakapan. yang mendukung pada tindakan
percakapan, seperti setting tugas,
pemenuhan tugas, penalaran
yang efektif.
4 DTA Distinction Theory Approach Menganalisis aspek pembeda
39
Ibnu Hamad, Lebih Dekat dengan Analisis Wacana dalam Mediator Vol. 8 No. 2, (2007), h. 328
40
Ibnu Hamad, Lebih Dekat dengan Analisis Wacana dalam Mediator Vol. 8 No. 2, (2007), h. 328
(Titscher, (DTA) melihat bahwa komunikasi bagian luar (explicit distinction)
2000:185- terdiri dari tiga unsur: informasi, suatu naskah dengan
197) ucapan/penyampaian (utterance), menemukan konsep-konsep serta
dan pemahaman. DTA memberinya makna. Kemudian
menganalisis aspek-aspek membandingkan aspek eksplisit
utterance ini baik segi eksplisitnya dan implisit; menganalisisnya;
maupun segi implisitnya. dan menarik kesimpulan.
5 Objective Metode ini berusaha memahami Memerhatikan aspek-aspek
Hermenuetik makna sebagai sesuatu yang konteks internal dan eksternal
a (Titscher, bersifat objektif berdasarkan dari seuah wacana, melakukan
2000:198- struktur sosial (as an objective interpretasi ekstensif,
212) social structure) yang muncul interpretasi menyeluruh, dan
secara interaktif. Makna adalah mengajukan hipotesis individual
hasil interaksi mutual, walaupun tentang kepentingan ekonomi
para pelakunya tidak dapat para aktor. Analiis dimulai
mengaksesnya, sehingga dengan yang bersifat sekuensial,
diperlukan pihak luar untuk kemudian diajukan dengan
menelitinya. analisis rinci.
Untuk metode analisis wacana naskah paradigmatik, alternatif metode yang dapat
diterapkan antara lain ada sembilan seperti tampak dalam tabel berikut.41

No Nama Dimensi Teoritis (Sebuah Pengunaan sebagai Metode


Metode Abstraksi) Analisis Wacana
1 Semiotika Semiotika adalah ilmu yang Secara strukturalis, menemukan
(Berger, memelajari tanda (sign), makna tanda-tanda dalam suatu naskah
1982) tanda, dan cara kerja tanda. dan menafsikannya sesuai
Menurut semiotika strukturalis perspektif teori yang
tanda dibagi ke dalam tiga jenis: dipergunakan dalam penelitian
ikon, indeks, simbol. Menurut yang sedang dilakukan. Secara
Semiotika post strukturalis, sebuah post strukturalis menangkap
naskah memiliki gagasan inti benang merah dari naskah.
atau benang merah.
2 Analisis Bersumber dari teori Marxis, Menemukan tanda-tanda dalam
Marxis analisis ini melihat realitas sosial suatu naskah dan
(Berger, sebagai yang penuh dengan menafsirkannya sebagai jalan
1982) pertentangan antara kelas serta untuk mengetahui siapa
pertarungan ideologis dan mengekploitasi siapa serta
kekuasaan. ideologi apa yang ada di balik
naksah.
3 Psikoanalisis Aliran psikologi Freudian; Menemukan tanda-tanda dalam
(Berger, berbicara tentang id, libido; ego, suatu naskah dan
1982) super-egonya dan sebagainya. menafisrkannya guna
Percaya bahwa semua hal yang menunjukkan bahwa tanda-
dilakukan manusia mencerminkan tanda terebut mencerimnkan

41
Ibnu Hamad, Lebih Dekat dengan Analisis Wacana dalam Mediator Vol. 8 No. 2, (2007), h. 330
alam bawah sadarnya. alam bawah sadar si pembuat
atau si pemakai tanda.
4 Analisis Aliran struktural-fungsional Menemukan tanda-tanda dalam
Sosiologis melihat bahwa dalam suatu naskah dan
(Berger, bermasyarakat terdapat pembagian menafsirkannya untuk mencari
1982) tugas dan fungsi. Setiap individu siapa yang diberi status dan
dalam struktur sebuah masyarakat peran apa serta bentuk relasi
memiliki status dan peran masing- antar individu dalam naskah itu.
masing.
5 Analisis Teori framing berbicara tentang Terdapat beberapa varian
Framing seleksi isu yang dimasukkan ke analisis framing. Cara
(Sobur, 2001; atau dikeluarkan dari wacana. menganaliss analisis wacana
Erianto, Menurut framing, dalam wacana dengan framing adalah
2002; berlangusng proses pemilihan fakta memenuhi setiap komponen
Hamad, mana yang mau diangkat, fakta framng dengan fakta (bagian
2004; Van mana yang mau disembunyikan, naskah) yang terdapat dalam
Dijk, 1988) atau fakta mana dihilangkan sama suatu naskah.
sekali. Wacana menurut framing 1. Komponen framing Gamson
terdiri dari sejumlah komponen dan Modigliani: Metaphors,
yang diisi dengan fakta-fakta Exemplars, Catchphrases,
pilihan itu. Depictions, Visual images,
Roots, Consequences, dan
Appeals to principals.
2. Komponen framing Pan &
Kosicki: Sintaksis (skema
berita); Skrip (kekeluargaan
berita); Tematik (detail;
koherensi; bentuk kalimat;
kata ganti); Retoris
(leksikon; grafis; metafora)
3. Komponen framing Van
Dijk: Summary (Headline;
lead); Story (situation and
comments). Situation
(episode and background);
Comments (verbal reactions
and conclussions). Episode
(main events and
consequences). Background
(context and history).
History (circumtances and
previous events).
Conclussion (expectations
and evaluations).
4. Komponen framing Robert
Entman: Problem
Identification, Causal
Interpretation, Moral
Evaluation: dan Treatmet
Recommendation.
5. Komponen framing Ibnu
Hamad: Perlakuan atas
peristiwa (Tema yang
diangkat dan penempatan
berita), Cara Penyajian
(Pilihan fakta yang dimuat
dan struktur penyajian), dan
simbol yang dipergunakan
(verbal: kata, istilah, frase;
dan nonverbal: foto, gambar)
6 Semiotika Semiotika sosial memandang Mengamati suatu naskah untuk
Sosial bahwa sebuah naskah terdiri dari menemukan apa medan wacana
(Hlliday, tiga komponen utama: medan yang ada di sana; siapa yang
1993) wacana (cara pembuat wacana menjadi pelibat wacananya, dan
memperlakukan suatu peristiwa); bagaimana sarana wacananya.
pelibat wacana (sumber yang Kemudian menafisrkannya
dikutip atau orang-orang yang sesuai perspektif teori yang
dilibatkan beserta atribut sosial dipergunakan dalam penelitian
mereka dalam suatu wacana), dan yang sedang dilakukan.
sarana wacana (cara pembuat
wacana menggunakan bahasa
dalam menggambarkan peristiwa).
7 Ethnographic Berasal dalam tradisi antropologi Mengamati pola interaksi
of Speaking yang melihat bahwa penggunaan komunikasi yang terjadi di
simbol komunikasi dan cara lapangan untuk melihat siapa di
komunikas itu terikat dengan antar partisipan berperan apa,
budaya. Pendekatan terhadap menganalisis rekaman (lebih
masalahnya menggabungkan teori mudah bila dalam bentuk film)
antropologi dan linguistik untuk suatu interaksi komunikasi
komunikasi. Tujuan: untuk melihat melalui komponen-komponen S
pola interaksi komunikasi antar (setting, scene), P
partisipan sesuai konteks, tempat (participants), E (ends, goal,
dan wakt. Untuk menggambarkan purpose), A (act sequence), K
siapa di antara partisipan berperan (key, tone, manner), I
apa. (intrumentalities), norms
(belief), genre (textual
categories)
8 Grounded Grounded Theory (GT) dalam Memerhatikan bagian demi
Theory analisis teks mencoba membangun bagian dari teks untuk
(Titscher, konsep atau kategori berdasarkan menemukan sedeikitnya
2007:74-89) data dari teks. Penggunaan GT sepuluh kategori konsep
untuk analisis teks mencoba (coding families) antara lain c-
mengonseptualisasi asumsi-asumsi families (causes,
basis data. consequences...), process
families (stages, phases,
duration...), culture families
(norms, values, sosially shared
attitudes)
9 Symlog System for Multiple Observation of Menganalisis tujuh aspek dari
(Titscher, Group (Symlog) menganalisis wacana: waktu interaksi, nama
2000: 136- tindakan komunikasi suatu aktor, nama alamat, bahasa
143) kelompok dengan mengamati tiga simpel sebagai komentar atas
level: perilaku verbal dan perilaku/ide, nilai yang
nonverbal, ide yang muncul selama diekspresikan pelaku
komunikasi, dan nilai (pro kontra) (prokontra), catatan atas
saat berkomunikasi. orientasi perilaku dan ide aktor
dalam ruang ketika berinteraksi
dalam kelompok dan alokasi
dari salah satu ide tentang diri,
orang lain, kelompok, situasi,
masyarakat, dan fantasi.
Adapun teori wacana diperlukan untuk membantu menganalisis naskah yang menjadi
objek kajian analisis wacana. Teori wacana mana yang dipakai tergantung pada metode analisis
naskah yang dipakai. Jika pada analisis naskah dipakai metode semiotika, maka dipakailah teori
semiotika; bila digunakan framing sebagai metode analisis naskah, maka kita gunakan teori
framing sebagai teori wacana. Pun demikian jika kita menerapkan CDA hendaknya kita
paparkan teori CDA dalam pendekatan teori wacana.42

6. Teknik Melakukan Analisis Wacana

Sebagai bagian dari penelitian kualitatif, analisis wacana sosial mengenal lima paradigma
penelitian: positivi, pospositivis, konstruktif, kritis, dan partisipatoris, di mana masing-masing
paradigma memiliki karakteristik dan tuntutan yang berbeda-beda dalam proses pengumpulan
dan jenis data yang mesti dikumpulkan. sebagai gambaran sederhana, perbedaan keempat
paradigma tersebut tampak dalam tabel di bawah ini.43

42
Ibnu Hamad, Lebih Dekat dengan Analisis Wacana dalam Mediator Vol. 8 No. 2, (2007), h. 334
43
Ibnu Hamad, Lebih Dekat dengan Analisis Wacana dalam Mediator Vol. 8 No. 2, (2007), h. 335
Jika jenisnya analisis wacana linguistik dengan pendekatan sintagmatis, maka bacalah
naskah, kemudian pilihlah metode analisis naskah berjenis sintagmatis. Kalau jenisnya analisis
wacana linguistik dengan pendekatan paradigmatis, maka bacalah naskah dengan metode
analisis naskah berjenis paradigmatis.

Jika kita bermaksud memakai analisis wacana kritis, maka bukan hanya pada level
naskah yang dianalisis melainkan kita mesti menelusuri konteks atau sejarah lahirnya teks
tersebut. Sedangkan jika kita akan melakukan metode analisis wacana sosial, baik dengan
metode jenis sintagmatik, paradigmatik, maupun dengan CDA, maka pelaksanaannya kurang
lebih dapat divisualisasikan dalam gambar di bawah ini.44

Untuk pendekatan teori, analisis wacana sosial lazimnya memakai dua jenis teori: teori
substansif dan teori wacana. Teori substansif di sini adalah teori tertentu yang sesuai dengan
tema penelitian, misalnya teori gender, teori ekonomi-politik, teori ideologi, teori kekuasaan,
dan sebagainya. Teori substanstif diperlukan untuk menjelaskan permasalahan penelitian
analisis wacana dari perspektif teori yang bersangkutan.45

Gambar. Proses Analisis Wacana sebagai Metode Penelitian Sosial46

Khusus untuk analisis wacana sosial, jika kita sudah memilih jenis naskah, paradigma
penelitian dan pendekatan teori, selanjutnya adalah menentukan sikap apakah kegiatan analisis
wacana kita hanya akan sampai pada level naskah ataukah akan menggunakan pendekatan CDA.
Kalau hanya akan sampai pada level naskah, berarti kita cukup menganalisis satu/serangkaian
naskah saja dengan memakai satu/lebih metode analisis wacana (sintagmatis atau paradigmatis);
jangan lupa kaitkan dengan paradigma dan pendekatan teori yang digunakan. Jika hendak

44
Ibnu Hamad, Lebih Dekat dengan Analisis Wacana dalam Mediator Vol. 8 No. 2, (2007), h. 333
45
Ibnu Hamad, Lebih Dekat dengan Analisis Wacana dalam Mediator Vol. 8 No. 2, (2007), h. 334
46
h. 334
menggunakan CDA, penuhilah setiap tahapan analisis (level naskah, level produksi naskah, dan
level konteks naskah) sebagaimana dituntut oleh analisis wacana dengan CDA.47

Secara lebih rinci, langkah-langkah melakukan analisis wacana sosial dapat dijelaskan
urutannya sebagai berikut.

1. Pilih satu atau serangkaian naskah yang akan dianalisis.


2. Gunakanlah teori substansif yang dianggap relevan dengan permasalahan penelitian dan
tujuan penelitian.
3. Pakailah teori wacana yang sejalan dengan metode analisis wacana yang digunakan;
misalnya pada level metode akan digunakan semiotika sosial, maka pada level teori
wacananya adalah teori semiotika dan semiotika sosial.
4. Pilih paradigma penelitian yang akan digunakan. Perhatikan teori substansif yang
digunakan. Jika teori itu merupakan bagian teori kritis, maka pakailah paradigma kritis.
5. Tetapkan tipe analisis wacana apa yang akan digunakan: apakah pada level naskah saja
ataukah hendak memakai CDA.
6. Jika semuanya telah ditetapkan dan dipandang sudah cocok (saling menguatkan, tidak
bertentangan satu sama lain), bacalah naskah dengan metode analisis wacana dan berikan
arti dan maknanya.
7. Tafsirkan hasil analisis tersebut dengan teori yang digunakan dengan cara berpikiran
yang digunakan pula, kemudian tarik kesimpulan serta implikasi hasil analisis wacana
tersebut.48

7. Analisis Wacana Teun A van Dijk

47
Ibnu Hamad, Lebih Dekat dengan Analisis Wacana dalam Mediator Vol. 8 No. 2, (2007), h. 334
48
Ibnu Hamad, Lebih Dekat dengan Analisis Wacana dalam Mediator Vol. 8 No. 2, (2007), h. 335-336