Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH

PENJELASAN MENGENAI PERKEMBANGAN INDUSTRI


PERBENIHAN DI INDONESIA
DAN
PERMASALAHAN DALAM MEMPRODUKSI BENIH TANAMAN
PANGAN DAN HOLTIKULTURA

NAMA : SEFTY INDAH SARI


NIM :
JURUSAN : TEHNIK INDUSTRI BENIH

KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL


PDD INSTITUT PERTANIAN BOGOR AK ACEH
TAMIANG
DIPLOMA TEKNOLOGI INDUSTRI BENIH ACEH
TAMIANG
2017
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Alam pembangunan hutan tanaman, benih memainkan peranan yang
sangat penting. Benih yang digunakan untuk pertanaman saat ini akan
menentukan mutu tegakan yang akan dihasilkan dimasa mendatang. Dengan
menggunakan benih yang mempunyai kualitas fisik fisiologis dan genetic yang
baik merupakan cara yang strategis untuk menghasilkan tegakan yang
berkualitas pula. Mendapatkan benih bermutu bukanlah pekerjaan yang mudah.
Apa yang diuraikan pada tulisan ini hanyalah memberikan panduan umum
yang diharapkan dapat memberikan informasi yang berguna dalam penanganan
benih. Ada beberapa hal yang dapat diuraikan disini yaitu untuk memperoleh
benih yang bermutu dan bagaimana teknik perkecambahannya.

1.2. Rumusan Masalah


1. Apa yang dimaksud dengan benih?
2. Apa saja ruang lingkup benih?
3. Apa saja permasalahan benih?

1.3. Tujuan
1. Kita dapat mengetahui pengertian benih
2. Kita dapat mengetahui apa saja ruang linkup benih
3. Kita dapat mengetahui apa saja permasalahan benih
BAB II
ISI

2.1. Pengertian Benih


Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia No.12 tahun 1992
tentang Sistem Budidaya Pertanian Bab I ketentuan umum pasal 1 ayat 4
disebutkan bahwa benih tanaman yang selanjutnya disebut benih, adalah
tanaman atau bagiannya yang digunakan untuk memperbanyak dan atau
mengembangbiakkan tanaman. Dalam buku lain tertulis benih disini
dimaksudkan sebagai biji tanaman yang dipergunakan untuk tujuan
pertanaman.
Menurut Sumpena (2005), benih diartikan sebagai biji tanaman yang
tumbuh menjadi tanaman muda (bibit), kemudian dewasa dan menghasilkan
bunga. Melalui penyerbukaan bunga berkembang menjadi buah atau polong,
lalu menghasilkan biji kembali. Benih dapat dikatakan pula sebagai ovul
masak yang terdiri dari embrio tanaman, jaringan cadangan makanan, dan
selubung penutup yang berbentuk vegetatif. Benih berasal dari biji yang
dikecambahkan atau dari umbi, setek batang, setek daun, dan setek pucuk
untuk dikembangkan dan diusahakan menjadi tanaman dewasa.
Sedangkan menurut Sadjad, dalam Dasar-dasar Teknologi Benih(1975,
Biro Penataran IPB-Bogor), yang dimaksudkan dengan benih ialah biji
tanaman yang dipergunakan untuk keperluan pengembangan usaha tani,
memiliki fungsi agronomis atau merupakan komponen agronomi. Sehingga
benih adalah biji yang dipersiapkan untuk tanaman, telah melalui proses
seleksi sehingga diharapkan dapat mencapai proses tumbuh yang besar.
Benih merupakan sarana penting dalam produksi pertanian dan menjadi
faktor pembawa perubahan (agent of change) teknologi dalam bidang
pertanian. Peningkatan produksi tanaman pangan, hortikultura, dan
perkebunan; salah satu aspek penentu utama keberhasilannya adalah:
digunakannya benih varietas unggul dengan disertai teknik budidaya yang
lebih baik dibandingkan masa sebelumnya. Benih-benih varietas unggul dapat
diperoleh melalui seleksi dan hibridisasi tanaman, baik yang dilakukan oleh
lembaga penelitian milik pemerintah, maupun industri perbenihan swasta yang
mempunyai divisi penelitian dan pengembangan (research and development).
Hasil seleksi dan hibridisasi tanaman berupa varietas baru mempunyai
keunggulan yang harus dipertahankan pada generasi berikutnya melaui
perbanyakan, sekaligus mempertahankan kemurnian genetik dan mutu
benihnya. Bidang produksi benih dapat dikelompokkan menjadi: produksi
benih sumber dan produksi benih komersial.
Benih sumber dapat juga disebut dengan benih inti, hanya diperbanyak
oleh para breeder (pemulia) yang ada di instansi pemerintah, perusahaan
swasta, maupun perorangan. Benih sumber diproduksi dalam jumlah sedikit
untuk perbanyakan benih penjenis atau bahan persilangan. Panen hasil
budidaya/kulturisasi untuk setiap tanaman, buah, bulir, atau polong (bahan
benih); dilakukan khusus dalam suatu kegiatan yang disebut dengan
penangkaran. Hasil benih sumber tidak diperjualbelikan. Sementara hasil
benih komersial adalah benih yang diperbanyak oleh breeder, produsen benih,
ataupun penangkar benih, maupun perorangan dalam jumlah banyak.
Produksi benih komersial perlu didukung oleh program produksi benih
sumber secara terus menerus agar dapat menjamin kontinuitas ketersediaan
benih bagi petani pengguna. Di Indonesia, benih nonhibrida dikenal dengan
empat kelas benih, yaitu: benih penjenis (Breeder Seed/BS), benih dasar
(Foundation Seed/FS), benih pokok (Stock Seed/SS), dan benih sebar
(Extension Seed/ES). Pengertian dan warna label berdasarkan kelas benihnya,
diuraikan secara singkat sebagai berikut:
1. Benih Penjenis = BS (Breeder Seed) Warna Label Kuning.
Benih yang diproduksi oleh dan dibawah pengawasan Pemulia Tanaman
dan merupakan sumber untuk perbanyakan benih dasar.
2. Benih Dasar = BD (Fondation Seed) Warna Label Putih.
Keturunan pertama dari BS atau BD yang diproduksi dibawah bimbingan
yang intensif dan pengawasan yang ketat hingga kemurnian varietas yang
tinggi dapat terpelihara.
3. Benih Pokok = BP (Stock Seed) Warna Label Ungu.
Keturunan dari BS atau BD yang diproduksi dan dipelihara sedemikian
sehingga identitas maupun tingkat kemurnian varietas memenuhi standar
mutu yang ditetapkan serta disertifikasi sebagai Benih Pokok.
4. Benih Sebar = BR (Extension Seed) Warna Label Biru.
Keturunan dari BS atau BD atau BP yang diproduksi dan dipelihara
sedemikian sehingga identitas dan tingkat kemurniannya dapat dipelihara
dan memenuhi standar mutu yang ditetapkan dan telah disertifikasi sebagai
benih sebar.

2.2. Perbedaan Benih dan Biji


Secara struktural/botanis, biji (grain) dan benih (seed) tidak berbeda
antara satu dengan lainnya, sedangkan secara fungsional benih dan biji
memiliki pengertian yang berbeda.
Biji (grain) dan benih (seed) memiliki arti dan pengertian yang
bermacam-macam, tergantung dari segi mana meninjaunya. Meskipun biji dan
benih memiliki jumlah, bentuk, ukuran, warna, bahan yang dikandungnya dan
hal-hal lainnya berbeda antara satu dengan lainnya, namun sesungguhnya
secara alamiah merupakan alat utama untuk mempertahankan/menjamin
kelangsungan hidup suatu spesies dialam.
Secara botanis/struktural, biji dan benih tidak berbeda antara satu
dengan lainnya, keduanya berasal dari zygote, berasal dari ovule, dan
mempunyai struktur yang sama. Secara fungsional biji dengan benih memiliki
pengertian yang berbeda. Biji adalah hasil tanaman yang digunakan untuk
tujuan komsumsi atau diolah sebagai bahan baku industri. Sedangkan benih
adalah biji dari tanaman yang diproduksi untuk tujuan ditanam/dibudidayakan
kembali.
Berdasarkan pengertian tersebut maka benih memiliki fungsi agronomi
atau merupakan komponen agronomi, oleh karena itu benih termasuk kedalam
bidang/ruang lingkup agronomi. Dalam pengembangan usahatani, benih
merupakan salah satu sarana untuk dapat menghasilkan produksi yang
setinggi-tingginya. Karena benih merupakan sarana produksi, maka benih
harus bermutu tinggi (mutu fisiologis, genetik dan fisik) dari jenis yang
unggul.

2.3. Ruang Lingkup


Benih memiliki fungsi agronomi dan merupakan komponen agronomi
sehingga termasuk kedalam bidang/ruang lingkup agronomi. Benih merupakan
salah satu sarana untuk dapat menghasilkan produksi yang setinggi-tingginya.
Untuk mengetahui dan memahami masalah benih sebagai suatu ilmu dalam
ruang lingkup agronomi diperlukan pengetahuan tentang aspek-aspek
morfologis (variasi fisik pada benih, penyebaran benih) dan fisiologis benih
(reproduksi, pembentukan dan perkembangan biji, perkecambahan, viabilitas,
dormansi, vigor dan kemunduran benih). Pengetahuan dan pemahaman
terhadap aspek-aspek tersebut memerlukan bantuan dari berbagai cabang ilmu
yang terkait dengannya, seperti; botani, fisiologi tumbuhan, fisika, genetika,
hama dan penyakit, kimia taksonomi, dan cabang ilmu lainnya.

2.4. Permasalahan Benih


Benih sebagai komponen agronomi selalu dituntut tersedia dengan syarat
mutu yang tinggi. Mutu yang harus dipenuhi oleh suatu benih adalah mutu
fisiologis (daya kecambah, vigor dan daya simpan yang tinggi), mutu genetik
(kemurnian benih) dan mutu fisik (bersih dari kotoran fisik ) serta kesehatan
benih (bebas hama dan penyakit).
Tuntutan mutu ini hanya dapat diperoleh jika suatu benih diproduksi
dan diuji kualitasnya dengan cara-cara yang sesuai dengan standar dan
ketentuan yang telah ditetapkan. Oleh karena itu permasalahan dalam
perbenihan yang berhubungan dengan mutu benih dapat muncul pada saat
proses produksi benih, prosessing, penyimpanan dan pada proses pengujian
mutu benih. Jika salah satu dari proses tersebut tidak berjalan sebagaimana
mestinya, maka mutu benih yang diperoleh tidak sesuai dengan mutu yang
diharapkan.
Permasalahan yang dapat muncul adalah rendahnya daya kecambah,
vigor dan daya simpan benih, rendahnya mutu genetik karena tercampur
dengan varietas lain, serta rendahnya mutu fisik dan kesehatan benih. Benih
sebagai sarana produksi yang selalu diharapkan tersedia tepat waktu, tepat
jumlah, tepat jenis dan tepat harga, sangat ditentukan oleh ketepatan dalam
perencanaan jumlah dan jenis benih yang akan diproduksi, distribusi dan
pemasarannya.
Ketersediaan benih yang kurang dari kebutuhan petani, waktu
ketersediaan yang tidak sesuai dengan saat diperlukan, jenis benih yang tidak
sesuai dengan yang direncanakan ditanam dan harga yang tidak terjangkau
oleh petani, merupakan masalah yang sering terjadi dalam kegiatan
perbenihan.

2.4.1. Permasalahan Sertifikasi Benih


Permasalahan dalam sertifikasi benih antara lain:
1. Tidak selalu tersedianya sumber benih yang diperlukan sesuai dengan
kelasnya.
2. Lahan/lokasi pertanaman tidak memenuhi persyaratan, dalam hal sejarah
lapangan.
3. Keterbatasan pengetahuan para petani terhadap sertifikasi benih berlabel.
4. Keadaan sosial ekonomi dari para petani sangat berpengaruh penyerapan
pasar benih yang berlabel (Benih hasil Sertifikat).
2.4.2. Permasalahan Memproduksi Benih Bermutu
Fakta dilapangan menunjukkan bahwa ketersediaan dan penggunaan
benih bermutu (dan berlabel) masih rendah. Permasalahan yang dihadapi
dalam peningkatan produksi benih antara lain adalah :
1. Keterbatasan ketersediaan benih sumber untuk diperbanyak oleh produsen
dan penangkar benih
2. Produsen benih kelas menengah ke bawah umumnya belum mempunyai
pemulia sendiri, serta penyilang benih banyak yang belum mempunyai
laboratorium kultur jaringan
3. Keterbatasan modal usaha, sehingga penggunaan input dan sarana produksi
terbatas, yang berakibat volume usaha juga tidak optimal.
4. Keterbatasan varietas benih dalam negeri yang disukai konsumen (sesuai
preferensi konsumen), sementara pemohon pelepasan varietas sayuran
berasal dari intoduksi (luar negeri) meningkat.
5. Keterbatasan data supply-demand benih antar daerah dan antar sentra,
sehingga jalur dan pemenuhan benih tidak terpantau secara baik.
6. Keterbatasan jumlah dan kemampuan petugas pengawas benih tanaman.
7. Keterbatasan dana operasional bagi Balai Benih BPS danPengawan Benih
Tanaman

2.5. Permasalahan Benih di Indonesia


Benih merupakan suatu parameter keberhasilan produksi tanaman.
Artinya, dalam suatu kegiatan budidaya tanamandapat dilihat dari mutu benih
yang digunakan. Apabila benih yang digunakan memiliki mutu yang baik maka
hal ini dapat menjamin keberhasilan budidaya tanaman itu sendiri.
Ketergantungan petani terhadap benih hibrida makin diperparah dengan tidak
berpihaknya hukum terhadap petani. Dalam hal perbenihan, petani seringkali
dikriminalisasi. Selain itu, UU No 29/2000 tentang perlindungan varietas
tanaman (UU PVT) justru menegasikan petani dan hanya mengakomodir
kepentingan pemulia tanaman.
Undang-undang tersebut mendikotomikan petani dengan pemulia
tanaman, dimana petani dan pemulia tanaman berada dalam dua entitas
berbeda. Hak petani adalah hak untuk menggunakan benih (ketersediaan,
keterjangkauan, memilih benih dan mengembangkan benih sendiri), sementara
itu hak pemulia adalah hak untuk memperdagangkan benih.
Hal ini sangat bertentangan dengan filosofis bertani bagi petani.
Meskipun saat ini sebagian besar petani mengkonsumsi benih hibrida dari
perusahaan agribisnis. Pada hakikatnya, benih yang dihasilkan tersebut adalah
mahakarya dari petani itu sendiri. Petani adalah penghasil, pemulia dan
sekaligus pengguna benih. Dengan kata lain, benih adalah karya yang
dihasilkan dari oleh dan untuk petani.
Benih hibrida dan benih hasil rekayasa genetik membutuhkan banyak
sekali pestisida, pupuk kimia dan air, meningkatkan pengeluaran dan merusak
lingkungan. Benih tersebut juga sangat tidak tahan kekeringan, penyakit
tanaman dan serangan hama, telah menyebabkan ribuan kasus gagal panen dan
disadari telah menghancurkan perekonomian rumah tangga petani. Industri
telah menghasilkan benih yang tidak bisa dibudidayakan tanpa bahan-bahan
kimia yang berbahaya,dipanen dengan mesin besar dan diberi bahan pengawet
untuk menjaga agar tetap bertahan dalam perjalanan. Namun industri telah
megabaikan aspek yang sangat penting dalam pemuliaan benih yaitu kesehatan
manusia. Hasilnya adalah benih industri tumbuh dengan cepat tapi kehilangan
nilai gizi dan banyak mengandung bahan kimia. Inilah penyebab alergi dan
penyakit kronis, kontaminasi tanah, air dan udara yang dihirup.
Kebalikannya, sistem yang digunakan oleh petani dalam menemukan
kembali, menghargai, mengkonservasi, beradaptasi terhadap proses seleksi
lokal, memproduksinya kembali di lahan, melakukan pertukarkan benih antar
petani, mampu mempertahankan dan meningkatkan keanekaragaman hayati
genetik dalam sistem pangan dunia kita, memberikan kemampuan dan
fleksibilitas yang dibutuhkan untuk menghadapi lingkungan yang berbeda-
beda, dan iklim yang berubah serta kelaparan di dunia ini.
Benih petani dapat beradaptasi lebih baik dengan kondisi lokal,
menghasilkan makanan yang lebih bergizi, dan memiliki produktivitas yang
tinggi dalam sistem pertanian agroekologi tanpa pestisida ataupun asupan lain
yang mahal harganya. Tetapi benih hibrida telah membuat kontaminasi pada
benih petani sehingga membuat benih tradisional terancam punah. Benih
hibrida menggantikan benih petani dari lokasi asalnya dan membuatnya hampir
punah. Manusia tidak dapat bertahan tanpa benih dari petani, namun
perusahaan menempatkan benih petani dalam kondisi yang berisiko.
BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Dari makalah Pengertian Benih, Ruang Lingkup, dan Permasalahan
Benih diatas, dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Sehingga benih adalah biji yang dipersiapkan untuk tanaman, telah melalui
proses seleksi sehingga diharapkan dapat mencapai proses tumbuh yang
besar.
2. Benih memiliki fungsi agronomi atau merupakan komponen agronomi,
oleh karena itu benih termasuk kedalam bidang/ruang lingkup agronomi.
3. Permasalahan dalam perbenihan yang berhubungan dengan mutu benih
dapat muncul pada saat proses produksi benih, prosessing, penyimpanan
dan pada proses pengujian mutu benih.
DAFTAR PUSTAKA

Alfian. 2012. Perbedaan Benih Biji dan Bibit. http://alfiandoang.


blogspot.com/2012/02/perbedaan-antara-benih-biji-dan-bibit.html. Diakses
pada tanggal 6 Maret 2015.

Bangazul. 2013. Permasalahan Perbenihan di Indonesia. http://www.bangazul


.com/permasalahan-perbenihan-di-indonesia/. Diakses pada tanggal 6 Maret
2015.

Maruapey, Ajang. 2010. Mutu Benih dan Hambatan dalam Memproduksi


Benih Bermutu. http://ajangmaruapey.blogspot.com/2010/03/mutu-benih-dan-
hambatan-dalam.html. Diakses pada tanggal 6 Maret 2015.

Nasrudin. 2009. Pengertian Benih. http://teknologibenih.blogspot.com/2009/


08/pengertian-benih.html. Diakses pada tanggal 6 Maret 2015.

Ruadi. 2014. Mendiskusikan Perjalanan Benih dari Pemulian Sampai ke


Petani. http://anaktptph-agriculture.blogspot.com/2014/04/mendiskusikan-
perjalanan-benih-dari.html. Diakses pada tanggal 6 Maret 2015.