Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH

MINI RISET KEPEMIMPINAN


(PENGARUH GAYA KEPEMIMPINAN KETUA JURUSAN BIOLOGI TERHADAP
PRESTASI MAHASISWA BIOLOGI)

DISUSUN OLEH :

KELOMPOK 2
DESSYANA ANGGI
RUTH RAHEL MARS LISBET PURBA
SITI HUMAIROH
SRI AGUSTIANI
TAMIA ANGGRAINI
WENNY GULTOM

PRODI : PENDIDIKAN BIOLOGI


KELAS : BIOLOGI DIK F 2017

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM


UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2017
KATA PENGANTAR

Asalamualaikum Wr.Wb.

Dengan memanjatkan Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan
rahmat dan kasih sayang-Nya, sehingga makalah tugas Kepemimpinan tentang Gaya
Kepemimpinan dapat terselesaikan.
Maksud dan tujuan disusunnya makalah ini adalah untuk menyelesaikan tugas
Kepemimpinan dan juga tugas makalah ini mendapatkan penilaian yang baik . Kami berharap
makalah ini dapat digunakan dengan baik dan dapat diambil manfaatnya dikemudian hari.
Segala kesalahan dan kekurangan dalam penyusunan makalah ini mohon untuk dimaklumi.
Dan untuk perbaikan dan penyempurnaan dimasa yang akan datang, kami mengharapkan
saran dan kritiknya. Atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih.
Wasalamualaikum Wr.Wb.

Medan, 24 November 2017

Penyusun

2
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI......................................................................................................................... 3
BAB 1 PENDAHULUAN .................................................................................................... 4
1.1 Latar Belakang ................................................................................................................. 4
1.2 Rumusan Masalah ............................................................................................................ 4
1.3 Tujuan Penelitian ............................................................................................................. 5
1.4 Manfaat penelitian ........................................................................................................... 5
BAB II KAJIAN PUSTAKA ............................................................................................... 6
BAB III METODE ILMIAH ............................................................................................ 12
1.1.Sumber Data .................................................................................................................. 12
1.2.Metode penelitian........................................................................................................... 12

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ........................................................................... 13


4.1. Hasil Penelitian ............................................................................................................. 13
4.2. Pembahasan .................................................................................................................. 13

BAB V PENUTUP............................................................................................................. 14

5.1. Kesimpulan .................................................................................................................. 14


5.2. Saran ............................................................................................................................ 14

DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................................... 15


DOKUMENTASI .............................................................................................................16

3
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kami melakukan mini riset atau penelitian kecil ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh
gaya kepemimpinan ketua Jurusan Biologi terhadap prestasi mahasiswa biologi.
Dalam kehidupan organisasi, gaya kepemimpinan seorang pemimpin adalah hal yang
penting diperhatikan. Kepemimpinan dalam sebuah organisasi dituntut untuk bisa membuat
individu-individu dalam organisasi yang dipimpinnya bisa berperilaku sesuai dengan yang
diinginkan oleh pemimpin untuk mencapai tujuan organisasi. Maka dari itu seorang
pemimpin haruslah bisa memahami perilaku individu-individu di dalam organisasi yang
dipimpinnya untuk bisa menemukan gaya kepemimpinan yang tepat bagi organisasinya.
Upaya membangun keefektifan pemimpin terletak semata pada pembekalan dimensi
keterampilan teknis dan keterampilan konseptual. Adapun keterampilan personal menjadi
terpinggirkan. Padahal sejatinya efektifitas kegiatan manajerial dan pengaruhnya pada kinerja
organisasi, sangat bergantung pada kepekaan pimpinan untuk menggunakan keterampilan
personalnya. Keterampilan personal tersebut meliputi kemampuan untuk memahami perilaku
individu dan perilaku kelompok dalam kontribusinya membentuk dinamika organisasi,
kemampuan melakukan modifikasi perilaku, kemampuan memahami dan memberi motivasi,
kemampuan memahami proses persepsi dan pembentukan komunikasi yang efektif,
kemampuan memahami relasi antar konsep kepemimpinan-kekuasaan-politik dalam
organisasi, kemampuan memahami genealogi konflik dan negosiasinya, serta kemampuan
mengkonstruksikan budaya organisasi yang ideal.
Kreativitas penting bagi pengambil keputusan, hal ini memungkinkan pengambil
keputusan untuk lebih sepenuhnya menghargai dan memahami masalah, termasuk melihat
masalah-masalah yang tidak dapat dilihat orang lain, namum kenyataannya banyak pemimpin
dalam pengambilan keputusan tidak memperhatikan perilaku pemimpin yang baik. Ada
beberapa hal yang perlu diperhatikan agar kepemimpinan dapat berperan dengan baik, antara
lain:
1. Yang menjadi dasar utama dalam efektivitas kepemimpinan bukan pengangkatan atau
penunjukannya, melainkan penerimaan orang lain terhadap kepemimpinan yang
bersangkutan
2. Efektivitas kepemimpinan tercermin dari kemampuannya untuk tumbuh dan berkembang
3. Efektivitas kepemimpinan menuntut kemahiran untuk membaca situasi
4. Perilaku seseorang tidak terbentuk begitu saja, melainkan melalui pertumbuhan dan
perkembangan
5. Kehidupan organisasi yang dinamis dan serasi dapat tercipta bila setiap anggota mau
menyesuaikan cara berfikir dan bertindaknya untuk mencapai tujuan organisasi.

1.2 Rumusan Masalah


Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini, yaitu :

1. Bagaimana hakikat menjadi seorang pemimpin?


2. Bagaimana teori menjadi seorang pemimpin ?

4
3. Bagaimana gaya menjadi seorang pemimpin?

1.3 Tujuan Penelitian


Adapun tujuan dalam penelitian ini, yaitu)
1. Memberikan informasi tentang hakikat seorang pemimpin
2. Mengetahui teori menjadi seorang pemimpin
3. Mengetahui gaya menjadi seorang pemimpin

1.4. Manfaat penelitian

1. Menginformasikan hakikat seorang pemimpinpada mahasiswa UNIMED.


2. Sebagai tugas miniriset untuk materi kuliah kepemimpinan khususmya pada materi
gaya kepemimpinan.

5
BAB II

KAJIAN PUSTAKA

HAKIKAT KEPEMIMPINAN
Kepemimpinan adalah proses memengaruhi atau memberi contoh oleh pemimpin
kepada pengikutnya dalam upaya mencapai tujuan organisasi. Cara alamiah mempelajari
kepemimpinan adalah "melakukannya dalam kerja" dengan praktik seperti pemagangan pada
seorang seniman ahli, pengrajin, atau praktisi. Dalam hubungan ini sang ahli diharapkan
sebagai bagian dari peranya memberikan pengajaran/instruksi.
Kebanyakan orang masih cenderung mengatakan bahwa pemimipin yang efektif
mempunyai sifat atau ciri-ciri tertentu yang sangat penting misalnya, kharisma, pandangan ke
depan, daya persuasi, dan intensitas. Dan memang, apabila kita berpikir tentang pemimpin
yang heroik seperti Napoleon, Washington, Lincoln, Churcill, Sukarno, Jenderal Sudirman,
dan sebagainya kita harus mengakui bahwa sifat-sifat seperti itu melekat pada diri mereka
dan telah mereka manfaatkan untuk mencapai tujuan yang mereka inginkan
Beberapa ahli berpandapat tentang Pemimpin, beberapa diantaranya :
Menurut Drs. H. Malayu S.P. Hasibuan,
Pemimpin adalah seseorang dengan wewenang kepemimpinannya mengarahkan bawahannya
untuk mengerjakan sebagian dari pekerjaannya dalam mencapai tujuan.
Menurut Robert Tanembaum,
Pemimpin adalah mereka yang menggunakan wewenang formal untuk mengorganisasikan,
mengarahkan, mengontrol para bawahan yang bertanggung jawab, supaya semua bagian
pekerjaan dikoordinasi demi mencapai tujuan perusahaan.
Menurut Prof. Maccoby,
Pemimpin pertama-tama harus seorang yang mampu menumbuhkan dan mengembangkan
segala yang terbaik dalam diri para bawahannya. Pemimpin yang baik untuk masa kini adalah
orang yang religius, dalam artian menerima kepercayaan etnis dan moral dari berbagai agama
secara kumulatif, kendatipun ia sendiri mungkin menolak ketentuan gaib dan ide ketuhanan
yang berlainan.
Menurut Lao Tzu,
Pemimpin yang baik adalah seorang yang membantu mengembangkan orang lain, sehingga
akhirnya mereka tidak lagi memerlukan pemimpinnya itu.
Menurut Davis and Filley,
Pemimpin adalah seseorang yang menduduki suatu posisi manajemen atau seseorang yang
melakukan suatu pekerjaan memimpin.

6
Sedangakn menurut Pancasila, Pemimpin harus bersikap sebagai pengasuh yang mendorong,
menuntun, dan membimbing asuhannya. Dengan kata lain, beberapa asas utama dari
kepemimpinan Pancasila adalah :
o Ing Ngarsa Sung Tuladha : Pemimpin harus mampu dengan sifat dan perbuatannya
menjadikan dirinya pola anutan dan ikutan bagi orang orang yang dipimpinnya.
o Ing Madya Mangun Karsa : Pemimpin harus mampu membangkitkan semangat
berswakarsa dan berkreasi pada orang orang yang dibimbingnya.
o Tut Wuri Handayani : Pemimpin harus mampu mendorong orang orang yang diasuhnya
berani berjalan di depan dan sanggup bertanggung jawab.
Fungsi pemimpin dalam suatu organisasi atau dalam hal ini di pemerintahan tidak dapat
dibantah merupakan sesuatu fungsi yang sangat penting bagi keberadaan dan kemajuan
organisasi/pemerintahan yang bersangkutan. Pada dasarnya fungsi kepemimpinan memiliki 2
aspek yaitu :
Fungsi administrasi, yakni mengadakan formulasi kebijaksanakan administrasi dan
menyediakan fasilitasnya.
Fungsi sebagai Top Mnajemen, yakni mengadakan planning, organizing, staffing,
directing, commanding, controling, dsb.

2. TEORI KEPEMIMPINAN
a. Teori Kepemimpinan Sifat :
Keith Devis merumuskan 4 sifat umum yang berpengaruh terhadap keberhasilan
kepemimpinan organisasi, antara lain :
Kecerdasan
Berdasarkan hasil penelitian, pemimpin yang mempunyai kecerdasan yang tinggi di atas
kecerdasan rata rata dari pengikutnya akan mempunyai kesempatan berhasil yang lebih
tinggi pula. Karena pemimpin pada umumnya memiliki tingkat kecerdasan yang lebih tinggi
dibandingkan dengan pengikutnya.
Kedewasaan dan Keluasan Hubungan Sosial
Umumnya di dalam melakukan interaksi sosial dengan lingkungan internal maupun eksternal,
seorang pemimpin yang berhasil mempunyai emosi yang matang dan stabil. Hal ini membuat
pemimpin tidak mudah panik dan goyah dalam mempertahankan pendirian yang diyakini
kebenarannya.
Motivasi Diri dan Dorongan Berprestasi
Seorang pemimpin yang berhasil umumnya memiliki motivasi diri yang tinggi serta dorongan
untuk berprestasi. Dorongan yang kuat ini kemudian tercermin pada kinerja yang optimal,
efektif dan efisien.

7
Sikap Hubungan Kemanusiaan
Adanya pengakuan terhadap harga diri dan kehormatan sehingga para pengikutnya mampu
berpihak kepadanya

b. Teori Kepemimpinan Perilaku dan Situasi :


Berdasarkan penelitian, perilaku seorang pemimpin yang mendasarkan teori ini memiliki
kecendrungan kearah 2 hal.
o Pertama yang disebut dengan Konsiderasi yaitu kecendrungan seorang pemimpin yang
menggambarkan hubungan akrab dengan bawahan. Contoh gejala yang ada dalam hal ini
seperti : membela bawahan, memberi masukan kepada bawahan dan bersedia berkonsultasi
dengan bawahan.
o Kedua disebut Struktur Inisiasi yaitu Kecendrungan seorang pemimpin yang memberikan
batasan kepada bawahan. Contoh yang dapat dilihat , bawahan mendapat instruksi dalam
pelaksanaan tugas, kapan, bagaimana pekerjaan dilakukan, dan hasil yang akan dicapai.
Jadi, berdasarkan teori ini, seorang pemimpin yang baik adalah bagaimana seorang pemimpin
yang memiliki perhatian yang tinggi kepada bawahan dan terhadap hasil yang tinggi pula.
c. Teori Kewibawaan Pemimpin :
Kewibawaan merupakan faktor penting dalam kehidupan kepemimpinan, sebab dengan
faktor itu seorang pemimpin akan dapat mempengaruhi perilaku orang lain baik secara
perorangan maupun kelompok sehingga orang tersebut bersedia untuk melakukan apa yang
dikehendaki oleh pemimpin.
Teori Kepemimpinan Situasi
Seorang pemimpin harus merupakan seorang pendiagnosa yang baik dan harus
bersifat fleksibel, sesuai dengan perkembangan dan tingkat kedewasaan bawahan.
Teori Kelompok
Agar tujuan kelompok (organisasi) dapat tercapai, harus ada pertukaran yang positif
antara pemimpin dengan pengikutnya.

3. METODE KEPEMIMPINAN :

1. Teori Kontingensi.
1.1 Teori Fiedler.
Teori atau model kontingensi (Fiedler, 1967) sering disebut teori situasional karena
teori ini mengemukakan kepemimpinan yang tergantung pada situasi.
Model atau teori kontingensi Fiedler melihat bahwa kelompok efektif tergantung pada
kecocokan antara gaya pemimpin yang berinteraksi dengan subordinatnya sehingga situasi
menjadi pengendali dan berpengaruh terhadap pemimpin. Kepemimpinan tidak akan terjadi

8
dalam satu kevakuman sosial atau lingkungan. Para pemimpin mencoba melakukan
1;;pengaruhnya kepada anggota kelompok dalam kaitannya dengan situasi-situasi yang
spesifik.
Karena situasi dapat sangat bervariasi sepanjang dimensi yang berbeda, oleh
karenanya hanya masuk akal untuk memperkirakan bahwa tidak ada satu gaya atau
pendekatan kepemimpinan yang akan selalu terbaik. Namun, sebagaimana telah kita pahami
bahwa strategi yang paling efektif mungkin akan bervariasi dari satu situasi ke situasi
lainnya.
Penerimaan kenyataan dasar ini melandasi teori tentang efektifitas pemimpin yang
dikembangkan oleh Fiedler, yang menerangkan teorinya sebagai Contingency Approach.
Asumsi sentral teori ini adalah bahwa kontribusi seorang pemimpin kepada kesuksesan
kinerja oleh kelompoknya adalah ditentukan oleh kedua hal yakni karakteristik pemimpin dan
dan oleh berbagai variasi kondisi dan situasi. Untuk dapat memahami secara lengkap
efektifitas pemimpin, kedua hal tersebut harus dipertimbangkan.
Teori kontingensi melihat pada aspek situasi dari kepemimpinan (organization
context). Fiedler mengatakan bahwa ada 2 tipe variabel kepemimpinan: Leader
Orientation dan Situation Favorability.
1. Leader Orinetation :
apakah pemimipin pada suatu organisasi berorinetasi pada relationship atau beorintasi
pada task. Leader Orientation diketahui dari Skala semantic differential dari rekan yang
paling tidak disenangi dalam organisasi (Least preffered coworker = LPC) .
LPC tinggi jika pemimpjn tidak menyenangi rekan kerja, sedangkan LPC yang rendah
menunjukkan pemimpin yang siap menerima rekan kerja untuk bekerja sama. Skor LPC yang
tinggi menujukkan bahwa pemimpin berorientasi pada relationship, sebaliknya skor LPC
yang rendah menunjukkan bahwa pemimpin beroeintasi pada tugas. Fiedler memprediksi
bahwa para pemimpin dengan Low LPC yakni mereka yang mengutamakan orientasi pada
tugas, akan lebih efektif dibanding para pemimpin yang High LPC, yakni mereka yang
mengutamakan orientasi kepada orang atau hubungan baik dengan orang apabila kontrol
situasinya sangat rendah ataupun sangat tinggi. Sebaliknya para pemimpin dengan High LPC
akan lebih efektif dibanding pemimpin dengan Low LPC apabila kontrol situasinya moderat.
2. Situation favorability adalah : sejauh mana pemimpin tersebut dapat mengendailikan suatu
situasi, yang ditentukan oeh 3 variabel situasi, yaitu :
a. Leader-Member Orintation: hubungan pribadi antara pemimpin dengan para
anggotanya.
b. Task Structure: tingkat struktur tugas yang diberikan oleh pemimpin untuk dikerjakan
oleh anggota organisasi.
c. Position Power: tingkat kekuasaan yang diperoleh pemimpin organisasi karena
kedudukan.
Situation favorability tinggi jika LMO baik, TS tinggi dan PP besar, sebaliknya Situation
Favoribility rendah jika LMO tidak baik, TS rendah dan PP sedikit.

9
1.2 Teori Path Goal.

Path-Goal Theory atau model arah tujuan ditulis oleh House (1971) menjelaskan
kepemimpinan sebagai keefektifan pemimpin yang tergantung dari bagaimana pemimpin
memberi pengarahan, motivasi, dan bantuan untuk pencapaian tujuan para pengikutnya.
Bawahan sering berharap pemimpin membantu mengarahkan mereka dalam mencapai tujuan.
Dengan kata lain bawahan berharap para pemimpin mereka membantu mereka dalam
pencapaian tujuan-tujuan bernilai mereka.
Ide di atas memainkan peran penting dalam Houses path-goal theory yang
menyatakan bahwa kegiatan-kegiatan pemimpin yang menjelaskan bentuk tugas dan
mengurangi atau menghilangkan berbagai hambatan akan meningkatkan persepsi para
bawahan bahwa bekerja keras akan mengarahkan ke kinerja yang baik dan kinerja yang baik
tersebut selanjutnya akan diakui dan diberikan ganjaran.
Path Goal Theory menekankan pada cara-cara pemimpin memfasilitasi kinerja kerja
dengan menunjukkan pada bawahan bagamana kinerja diperoleh melalaui
pencapaianrewards yang diinginkan. Path Goal theory juga mengatakan bahwa kepuasan
kerja dan kinerja kerja tergantung pada expectancies bawahan. Harapan-harapan bawahan
bergantung pada ciri-ciri bawahan dan lingkungan yang dihadapi oleh bawahan. Kepuasan
dan kinerja kerja bawahan bergantung pada leadership behavior dan leadership style.
Ada 4 macam leadership style (Gaya Kepemimpinan) :
1. Supportive Leadership: Gaya kepemimpinan ini menunjukkan perhatian pada kebutuhan
pribadi karyawannya. Pemimpin jenis ini berusaha mengembangkan kepuasan hubungan
interpersonal diantara para karyawan dan berusaha menciptakan iklim kerja yang bersahabat
di dalam organisasi.
2. Directive Leadership: Pemimpin yang memberikan bimbingan khusus pada
Karyawannya dengan menetapkan standar kinerja, mengkoordinasi kinerja kerja dan meminta
karyawan untuk mengikuti aturan aturan organisasi.
3. Achievement Oriented Leadership: Pemimpin yang menetapkan tujuan yang menantang
pada bawahannya dan meminta bawahan untuk mencapai level performens yang tinggi.
4. Participative Leadership: Pemimpin yang menerima saran-saran dan nasihat-nasihat
bawahan dan menggunakan informasi dari bawahan dalam pengambilan keputusan
organisasi.
Hal yang menentukan keberhasilan dari setiap jenis kepemimpinan tersebut
adalah subordinate characteristics(contohnya: Karyawan yang internal l locus of control atau
external locus of control, karyawan yang mempunyai need achievement yang tinggi atau need
affiliation yang tinggi, dll.) dan environmental factors (system kewenangan dalam
organisasi).

10
3 Teori Vroom dan Yetton.
Leader-Participation Model ditulis oleh Vroom dan Yetton (1973). Model ini melihat
teori kepemimpinan yang menyediakan seperangkat peraturan untuk menetapkan bentuk dan
jumlah peserta pengambil keputusan dalam berbagai keadaan. Teori Yetton dan Vroom
mengemukakan bahwa kepuasan dan prestasi disebabkan oleh perilaku bawahan yang pada
gilirannya dipengaruhi oleh perilaku atasan, karakteristik bawahan dan faktor lingkungan.
Salah satu tugas utama dari seorang pemimpin adalah membuat keputusan. Karena
keputusan yang dilakukan para pemimpin sering kali sangat berdampak kepada para bawahan
mereka, maka jelas bahwa komponen utama dari efektifitas pemimpin adalah kemampuan
mengambil keputusan yang sangat menentukan keberhasilan yang bersangkutan
melaksanakan tugas-tugas pentingnya.
Pemimpin yang mampu membuat keputusan dengan baik akan lebih efektif dalam
jangka panjang dibanding dengan mereka yang tidak mampu membuat keputusan dengan
baik. Dalam mengambil keputusan, bagaimana pemimpin memperlakukan bawahannya.
Dengan kata lain seberapa jauh para bawahannya diajak berpartisipasi dalam pengambilan
keputusan. Sebagaimana telah kita pahami bahwa partisipasi bawahan dalam pengambilan
keputusan dapat meningkatkan kepuasan kerja, mengurangi stress, dan meningkatkan
produktivitas.
Teori kepeminmpinan vroom & yetton adalah jenis teori kontingensi yang
menitikberatkan pada hal pengambilan keputusan yang dilakukan oleh pemimpin. Dalam hal
ini ada 5 jenis cirri pengambilan keputusan dalam teori ini :
1. A-I : pemimpin mengambil sendiri keputusan berasarkan informasi yang ada padanya saat
itu.
2. A-II : pemimpin memperoleh informasi dari bawahannya dan mengambil keputusan
berdasarkan informasi yang didapat. jadi peran bahawan hanya memberikan informasi, bukan
memberikan alternatif.
3. C-I : pemimpin memberitahukan masalah yang sedang terjadi kepada bawahan secara
pribadi, lalu kemudian memperoleh informasi tanpa mengumpulkan semua bawahannya
secara kelompok, setelah itu mengambil keputusan dengan mempertimbangkan/ tidak
gagasan dari bawahannya.
4. C-II : pemimpin mengumpulkan semua bawahannya secara kelompok, lalu menanyakan
gagasan mereka terhadap masalah yang sedang ada, dan mengambil keputusan dengan
mempertimbangkan/tidak gagasan bawahannya
5. G-II : pemimpin memberitahukan masalah kepada bawahanya secara berkelompok, lalu
bersama sama merundingkan jalan keluarnya, dan mengambil keputusan yang disetujui
oleh semua pihak.m
contoh kasusnya, dalam sebuah took kue, pemimpin took akan membicarakan masalah yang
terjadi, misalnya cara menarik minat pembeli agar menjadi pelanggan tetap tokonya. Pemilik
took akan mengumpulkan semua karyawannya dan menanyakan pendapat mereka. pemilik
akan menampung semua gagasan mereka, lalu memilih gagasan yang dianggap paling
menarik dan disetujui oleh semua karyawannya

11
BAB III

METODE PENELITIAN

1.3.Sumber Data
Data yang digunakan dalam mini riset ini adalah data dari angket yangdisebarkan
kepada mahasiswa jurusan biologi pada angkatan 2015. Data angket ini dibagikan secara
acak yaitu 3 orang dari jurusan biologi.

1.4.Metode penelitian
Penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif karena bertujuanuntuk
mendeskripsikan atau memberikan gambaran apa adanya atas suatufenomena kehidupan
nyata seperti yang dikemukakan oleh bahwa penelitian kualitatif adalah penelitian yang
bermaksud untuk memahamifenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian
(misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dan lain-lain) secara holistik (utuh dan
dengan cara deskripsi (dalam bentuk kata-kata dan bahasa). Dalam penelitian ini, peneliti
melakukan penelitian untuk mengidentifikasi problematika apa saja yang sering muncul
dalam gya kepemimpinan seorang pemimpin. Penelitian ini menggunakan penelitian
kuantitatif yang berjenis studi kasus. Penelitian ini dilakukan di Fakuktas Matematika dan
Ilmu Pengetahuan alam Universutas Negeri Medan. Subjek penelitian ini adalah
mahasiswa jurusan Biologi.

12
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil Penelitian

Setelah subjek kami wawancarai dengan beberapa pertanyaan seperti di bawah ini

1. Bagaimana menurut Anda gaya kepemimpinan Ketua Jurusan Biologi ?


2. Apakah menurut Anda Gaya Kepemimpinan Ketua Jurusan Biologi berpengaruh terhadap
prestasi Anda sendiri ?, Jelaskan alasannya .
3. Setelah Beliau menjabat sebagai Ketua Jurusan Biologi, Apakah menurut anda ada perubahan
atau peningkatan yang terjadi di jurusan Biologi saat ini ? Jika ada berikan contohnya

Subjek menjawab bahwa ketua jurusan biologi, yaitu pak hasrudin. Memiliki gaya
kepemimpinan yang baik, dan gaya kepemimpinan beliau tersebut berpengaruh dalam
meningkatkan prestasi subjek karena dipermudah dalam mendapatkan informasi seperti
kegiatan olimpiade dan dipermudah urusan dengan hala hal seperti itu, subjek mengatakan
bahwa bapak hasrudin memiliki prinsip kalau bisa dipercepat kanapa harus di perlama jadi
bagi subjek bapak hasrudin sangat bijaksana dan gaya kepemimpinan bapak ini sangat
disukai oleh mahasiswa,. Dan perubahan yang terjadi di jurusan adalah sejak bapak hasrudin
menjabat yaitu adanya seminar Nasional di Jurusan Biologi.

4.2. Pembahasan

Dari beberapa pertanyaan diatas, secara umum terlihat bahwa suatu gaya
kepemimpinan penting dan berpengaruh kepada bawahannya, dan menjadi seorang pemimpin
tidaklah mudah Karena untuk menjadi pemimpin bukan hanya berdasarkan suka satu sama
lainnya, tetapi banyak faktor. Pemimpin yang berhasil hendaknya memiliki beberapa kriteria
yang tergantung pada sudut pandang atau pendekatan yang digunakan, apakah itu
kepribadiannya, keterampilan, bakat, sifat sifatnya, atau kewenangannya yang dimiliki yang
mana nantinya sangat berpengaruh terhadap teori maupun gaya kepemimpinan yang akan
diterapkan.
Rahasia utama kepemimpinan adalah kekuatan terbesar seorang pemimpin bukan dari
kekuasaanya, bukan kecerdasannya, tapi dari kekuatan pribadinya. Seorang pemimpin sejati
selalu bekerja keras memperbaiki dirinya sebelum sibuk memperbaiki orang lain.
Pemimpin bukan sekedar gelar atau jabatan yang diberikan dari luar melainkan
sesuatu yang tumbuh dan berkembang dari dalam diri seseorang.Kepemimpinan lahir dari
proses internal (leadership from the inside out).

13
BAB V

PENUTUP

5.1. Kesimpulan

Berdasarkan paparan materi dan pembahasan contoh soal pada bab sebelumnya, dapat
ditarik beberapa kesimpulan, yakni :

1. Gaya kepemimpinan seorang pemimpin sangat perpengaruh kepada


bawahannya.
2. Gaya kepemimpinan bapak hasrudin berpengaru baik kepada mahasiswa dan
jurusan biologi.
3. Gaya kepemimpinan bapak hasrudin banyak disukai oleh mahasiswa.
4. seorang pemimpin haruslah bisa memahami perilaku individu-individu di
dalam organisasi yang dipimpinnya untuk bisa menemukan gaya
kepemimpinan yang tepat bagi organisasinya.

5.2. Saran

1. Untuk meningkatkan kinerja pemimpin harus berupaya seefektif mungkin


mengoptimalkan gaya kepemimpinan demokrasi. Karena semakin efektifnya gaya
kepemimpinan demokrasi akan meningkatkan kinerja.
2. Pemimpin harus meningkatkan komunikasi, sehingga hubungan dengan bawahan
terjalin dengan baik. Dengan semakin baiknya hubungan dengan karyawan secara
otomatis akan meningkatkan kinerja.
3. Pemimpin harus berupaya untuk memberikan pengertian tentang hasil yang didapat
dalam menyelesaikan pekerjaan, sehingga bawahan akan berusaha untuk
menyelesaikan pekerjaan dengan lebih baik dari sebelumnya.

14
DAFTAR PUSTAKA

https://www.finansialku.com/gaya-kepemimpinan-dalam-organisasi-teori-
kepemimpinan/

https://wartikel.com/5484/gaya-kepemimpinan-dalam-organisasi/

https://ekoif.weebly.com/teori-kepemimpinan.html

15
DOKUMENTASI

KETERANGAN : 1 (satu) orang dari anggota kelompok menjadi fotografer (pendokumentasi)

16