Anda di halaman 1dari 97

FM 1-7.1.0-1-41 ed.A rev.

BAHAN AJAR
Kurikulum
Jurusan : Teknik Sipil 2010
PNK Program Studi : D3 & D4
Matakuliah : Bahan Bangunan

SUB POKOK BAHASAN :


1. BATUAN
2. AGREGAT
3. SEMEN
4. MORTAR
5. KERAMIK
6. BAHAN BANGUNAN LAINNYA (BETON, BAJA, BAMBU DAN KAYU)

Tujuan : Setelah menyelesaikan Mata Kuliah ini mahasiswa diharapkan dapat :


- Mengenal beberapa jenis bahan bangunan.
- Mengetahui sifat sifat fisik, mekanik dan kimia bahan bangunan.

Deskripsi : Mata kuliah ini membahas pengenalan jenis jenis bahan bangunan yang digunakan
untuk konstruksi bangunan sipil (gedung dan air), termasuk pengenalan sifat sifat mekanik,
fisik dan kimia dari setiap jenis bahan bangunan tersebut.
Manfaat Mata kuliah : Mahasiswa memiliki dasar pengetahuan bahan bangunan untuk aplikasi
selanjutnya di bidang konstruksi. Pengenalan sifat sifat mekanik, fisik dan kimia akan
membantu mahasiswa untuk dapat melakukan perancangan atau perencanaan campuran
beton, material perkerasan jalan, perencanaan struktur rangka baja, kayu dan bambu,
disamping memahami proses pembuatan dan penggunaan bahan semen, mortar maupun
keramik. Selain itu mahasiswa akan dapat mengetahui factor factor penyebab dari cacat
konstruksi atau kegagalan konstruksi dari suatu bangunan sipil.
Tujuan Instruksional Umum : Pada akhir mata kuliah bahan bangunan ini mahasiswa
diharapkan dapat mengenal dan memahami sifat sifat mekanik, fisik dan kimia bahan
bangunan agregat, semen, mortar, keramik, kayu, bambu, baja dan beton, dengan demikian
mahasiswa memiliki dasar dalam melakukan perancangan campuran dan proses pembuatan
beberapa jenis bahan bangunan.

1
FM 1-7.1.0-1-41 ed.A rev.2

BAHAN AJAR
Kurikulum
Jurusan : Teknik Sipil 2010
PNK Program Studi : D3 & D4
Matakuliah : Bahan Bangunan

BAB 1
BATUAN DAN AGREGAT

Tujuan Instruksional Khusus : Setelah mengikuti kuliah ini, mahasiswa akan dapat mengenal
asal mula batuan, dan jenis batuan menurut asal pembentukannya kemudian aplikasi batuan
sebagai bahan bangunan, jenis jenis agregat, penggolongan agregat dan kegunaan agregat
sebagai komponen utama dalam beberapa bahan bangunan seperti beton, lapisan perkerasan
aspal dan mortar.
Gambaran Umum Materi : Agregat yang digunakan sebagai bahan bangunan berasal dari
berbagai jenis batuan yang ada di alam. Batuan terbentuk dalam berbagai cara, dan
digolongkan ke dalam 3 jenis berdasarkan proses pembentukannya di alam. Agregat merupakan
bahan pengisi yang berperan utama sebagai penentu kekuatan dan sifat beberapa jenis bahan
bangunan seperti mortar, beton dan perkerasan aspal. Materi kuliah dimulai dengan
pengenalan jenis jenis agregat berdasarkan ukuran butiran, asal pembuatannya dan bobot
butiran. Dilanjutkan dengan perhitungan volumetrik agregat dan sifat sifat fisik agregat.
Relevansi Mata Kuliah : Pada bab ini mahasiswa diharapkan menguasai pengertian dan
penggolongan batuan berdasarkan proses pembentukannya kemudian dapat membedakan
agregat berdasarkan ukuran butiran, asal agregat dan bobot agregat. Dasar dasar
pengetahuan tersebut merupakan prasyarat yang harus dikuasai oleh mahasiswa agar dapat
melakukan perancangan campuran (beton, lapisan perkerasan jalan, mortar dll). Ketika
pengetahuan ini diterapkan di lapangan maka mahasiswa mampu merencanakan sekaligus
mengawasi proses pengerjaan konstruksi yang melibatkan agregat sebagai salah satu bahan
penyusunnya agar sesuai spesifikasi yang ditetapkan.

1.1. Batuan
Batuan adalah material yang mengandung zat mineral, berbentuk padat maupun tidak
yang merupakan bagian dari lapisan kerak bumi. Jika terdiri dari satu jenis mineral disebut
monomineralic dan jika lebih satu jenis mineral disebut aggregate of mineral spesies.
Pembentukan berbagai macam mineral di alam akan menghasilkan berbagai jenis
batuan tertentu. Proses alamiah tersebut bisa berbeda-beda dan membentuk jenis batuan yang
berbeda pula. Pembekuan magma akan membentuk berbagai jenis batuan beku. Batuan
sedimen bisa terbentuk karena berbagai proses alamiah, seperti proses penghancuran atau
disintegrasi batuan, pelapukan kimia, proses kimiawi dan organis serta proses penguapan/
evaporasi. Letusan gunung api sendiri dapat menghasilkan batuan piroklastik. Batuan metamorf
terbentuk dari berbagai jenis batuan yang telah terbentuk lebih dahulu kemudian mengalami
peningkatan temperature atau tekanan yang cukup tinggi, namun peningkatan temperature itu
sendiri maksimal di bawah temperature magma.

2
FM 1-7.1.0-1-41 ed.A rev.2

BAHAN AJAR
Kurikulum
Jurusan : Teknik Sipil 2010
PNK Program Studi : D3 & D4
Matakuliah : Bahan Bangunan

Batuan (Rocks) adalah bahan padat bentukan alam yang umumnya tersusun oleh kumpulan
atau kombinasi dari satu macam mineral atau lebih.
JENIS BATUAN (ROCKS)
Batuan yang dibentuk oleh berbagai jenis dan susunan mineral dibagi menjadi tiga jenis, yaitu
batuan beku (igneous rocks), batuan endapan (sedimentary rocks), dan batuan malihan
(metamorphic rocks).
Batuan Beku (Igneous Rocks)
Batuan yang terbentuk dari proses pembekuan/pengkristalan magma dalam perjalanannya
menuju permukaan bumi, termasuk hasil aktivitas gunungapi.
Batuan beku dalam = batuan plutonik, batuan yg membeku jauh di bawah permukaan
bumi, contoh: granit
Batuan beku korok/gang = batuan intrusif / hipabisal, batuan yg membeku sebelum
sampai ke permukaan bumi, contoh: granit porfir
Batuan beku luar/leleran = batuan ekstrusif / efusif, batuan yg membeku di permukaan
bumi, contoh: batuan vulkanis

Batuan Endapan (Sedimentary Rocks)


Batuan yang terbentuk dari proses pengendapan bahan lepas (fragmen) hasil
perombakan/pelapukan batuan lain yang terangkut dari tempat asalnya oleh air, es atau angin,
yang kemudian mengalami proses diagenesa/pembatuan (pemadatan dan perekatan).
Batuan sedimen klastik / mekanis = batuan yg terendapkan dari hasil rombakan batuan
asal, contoh: konglomerat, breksi, batu pasir, serpih, napal, batu lempung

3
FM 1-7.1.0-1-41 ed.A rev.2

BAHAN AJAR
Kurikulum
Jurusan : Teknik Sipil 2010
PNK Program Studi : D3 & D4
Matakuliah : Bahan Bangunan

Batuan sedimen organik = batuan yg berasal dari endapan bahan organis (binatang &
tumbuhan), contoh: batu gamping, batu bara, batu gambut, diatomit
Batuan sedimen kimiawi = batuan endapan akibat proses kimiawi, contoh: evaporit,
travertin, anhidrit, halit, batu gips
Batuan sedimen piroklastik = batuan endapan hasil erupsi gunung api berupa
abu/debu, contoh: tufa

Batuan Malihan (Metamorphic Rocks)


Batuan yang terbentuk dari proses perubahan batuan asal (batuan beku maupun sedimen), baik
perubahan bentuk/struktur maupun susunan mineralnya akibat pengaruh tekanan dan/atau
temperatur yang sangat tinggi, sehingga menjadi batuan yang baru.
Batuan metamorf kontak/sentuh/termal = batuan malihan akibat bersinggungan
dengan magma, contoh: marmer, kuarsit, batu tanduk
Batuan metamorf tekan/dinamo/kataklastik = batuan malihan akibat tekanan yang
sangat tinggi, contoh: batu sabak, sekis, filit
Batuan metamorf regional/dinamo-termal = batuan malihan akibat pengaruh tekanan
dan temperatur yang sangat tinggi, contoh: genes, amfibolit, grafit

1.2. Agregat

A gregat ialah butiran mineral alami yang berfungsi sebagai bahan pengisi dalam
campuran beton atau mortar. Agregat ini kira kira menempati sebanyak 70 % volume
mortar atau beton. Walaupun namanya hanya sebagai bahan pengisi, akan tetapi
agregat sangat berpengaruh terhadap sifat sifat beton/mortarnya, sehingga pemilihan
agregat merupakan suatu bagian penting dalam pembuatan mortar/beton.
Cara membedakan jenis agregat yang paling banyak dilakukan ialah dengan didasarkan
pada ukuran butir butirnya. Agregat yang berbutir kecil disebut agregat halus. Sebagai batas
antara ukuran butir yang kasar dan yang halus tampaknya belum ada nilai yang pasti masih
berbeda antara satu disiplin ilmu dengan disiplin ilmu yang lain dan mungkin juga dari satu
daerah dengan daerah lainnya. Dalam bidang teknologi beton nilai batas tersebut umumnya
ialah 4.75 mm atau 4.80 mm. agregat yang butir butirnya lebih besar dari 4.80 mm disebut
agregat kasar dan agregat yang butirannya lebih kecil 4.80 mm disebut agregat halus. Secara
umum agregat kasar sering disebut sebagai kerikil, kericak, batu pecah atau split adapun

4
FM 1-7.1.0-1-41 ed.A rev.2

BAHAN AJAR
Kurikulum
Jurusan : Teknik Sipil 2010
PNK Program Studi : D3 & D4
Matakuliah : Bahan Bangunan

agregat halus disebut pasir, baik berupa pasir alami yang diperoleh langsung dari sungai atau
tanah galian atau dari hasil pemecahan batu. Agregat yang butirannya lebih kecil dari 1.20 mm
kadang kadang disebut pasir halus, sedangkan butir butir yang lebih kecil dari 0.075 mm
disebut silt dan yang lebih kecil dari 0.002 mm disebut clay.
Dalam praktek agregat umumnya digolongkan menjadi 3 kelompok, yaitu :
a. Batu, untuk besar butiran lebih dari 40 mm.
b. Kerikil, untuk butiran antara 5 mm dan 40 mm.
c. Pasir untuk butiran antara 0.15 mm dan 5 mm.
Agregat harus mempunyai bentuk yang baik (bulat atau mendekati kubus), bersih, keras,
kuat dan gradasinya baik. Agregat harus pula mempunyai kestabilan kimiawi dan dalam hal
hal tertentu harus tahun aus dan tahan cuaca.

1.3. Agregat alami dan agregat buatan


Agregat diperoleh dari sumber daya alam yang telah mengalami pengecilan ukuran secara
alamiah (misalnya kerikil) atau dapat pula diperoleh dengan cara memecah batu alam,
membakar tanah liat dan sebagainya.
Agregat alami dapat diklasifikasikan ke dalam sejarah terbentuknya peristiwa geologi,
yaitu agregat beku, agregat sedimen dan agregat metamorf yang kemudian dibagi lagi menjadi
kelompok kelompok yang lebih kecil.
Pasir alam, terbentuk dari pecahan batu karena bebrapa sebab. Pasir dapat diperoleh dari
dalam tanah, pada dasar sungai atau tepi laut. Oleh karena itu pasir dapat digolongkan menjadi
3 macam :
a. Pasir galian, pasir ini diperoleh langsung dari permukaan tanah atau dengan cara
menggali trlebih dahulu. Pasir ini biasanya tajam, bersudut, berpori dan bebas dari
kandungan garam.
b. Pasir sungai, pasir ini diperoleh langsung dari sungai, yang pada umumnya berbutir
halus dan bulat bulat akibat proses gesekan. Pada sungai tertentu yang dekat
dengan hutan kadang kadang banyak mengandung humus.
c. Pasir pantai, pasir ini diambil dari pantai. Pasir pantai berasal dari pasir sungai yang
mengendap di muara sungai (di pantai) atau hasil gerusan air di dasar laut yang
terbawa arus air laut dan mengendap di pantai. Pasir pantai biasanya berbutir halus.
Bila merupakan pasir dari dasar laut maka pasirnya banyak mengandung garam. Oleh
karena itu maka sebaiknya pasir pantai diperiksa dulu sebelum dipakai. Jika
mengandung garam maka sebaiknya dicuci dulu dengan air tawar sebelum dipakai.
Baja tulangan di dalam beton yang dibuat dengan pasir yang mengandung garam akan
lebih cepat terkorosi. Menurut CP 110:1972 (A.M. Neville, hal 135), kandungan garam
CaCl (Calcium Chloride) dalam pasir laut tidak boleh melampaui 1 % dari berat semen
yang dipakai, bahkan untuk beton prategang hanya diperbolehkan 0.1 % saja.
Bila agregat alami jauh dari lokasi pekerjaan, maka dapat dipakai agregat buatan (agregat
tiruan, artificial aggregate). Agregat buatan dapat berupa batu pecah, pecahan bata/genteng
yang bersih, tanah liat bakar, expanded shale, fly-ash dan sebagainya.

5
FM 1-7.1.0-1-41 ed.A rev.2

BAHAN AJAR
Kurikulum
Jurusan : Teknik Sipil 2010
PNK Program Studi : D3 & D4
Matakuliah : Bahan Bangunan

Agregat pecahan batu (kerikil maupun pasir) diperoleh dengan memecah batu menjadi
butiran sebesar yang diinginkan dengan cara meledakkan, memecah, mengayak dan
seterusnya.
Dari kronologinya, agregat alami maupun yang hasil pemecahan, dapat dibagi menjadi
beberapa jenis agregat yang memiliki sifat sifat berbeda.
Batu pecah. Batu pecah (split) merupakan butir butir hasil pemecahan batu. Permukaan
butirannya biasanya lebih kasar dan bersudut tajam.
Pecahan bata/genteng. Agregat ini merupakan hasil pemecahan bata/genteng. Bahan ini
harus bebas dari kotoran dan tidak mengandung kotoran yang mengurangi mutu beton. Mutu
tanah liat dapat berbeda dan cara pembakaran (suhu) juga berbeda, sehingga mutu bahan ini
juga berbeda beda.
Pecahan bata/genteng dari bata/genteng yang baik akan menghasilkan agregat yang baik
pula, sehingga memenuhi syarat untuk beton, akan tetapi jika untuk beton bertulang sebaiknya
kuat tekan batanya tidak kurang dari 30 MPa. Beton dari agregat pecahan bata/genteng ini
biasanya lebih ringan. Sifat kekedapan airnya kurang baik. Ketahanan ausnya juga rendah
sehingga tidak baik untuk beton yang memerlukan ketahanan aus tinggi.
Tanah liat bakar. Tanah liat dengan kadar air tertentu dibuat berbutir sekitar 5 sampai 20
mm, kemudian dibakar. Hasil pembakaran berbentuk bola yang keras dan ringan serta berpori.
Serapan airnya berkisar antara 8 sampai 20 %. Beton dengan agregat ini beratnya lebih rendah
daripada beton dari agregat normal, yaitu sekitar 1900 kg/m (beton dengan agregat normal
beratnya sekitar 2300 kg/m.
Herculite atau haydite. Agregat ini adalah hasil pembuatan dari tanah shale yang
dimasukkan dalam tungku putar pada suhu 1200c selama 10 15 menit. Gas yang ada dalam
shale mengembang membentuk jutaan sel kecil (pori udara) dalam massa yang keras. Sel sel
kecil tersebut dikelilingi oleh selaput tipis kedap air yang kuat. Agregat ini mempunyai berat
jenis 1.15 dan daya serap air sekitar 16% (Loka Perintisan Bahan Bangunan, Balitbang PU, 1991,
Cilacap). Agregat ini dapat dipakai untuk menggantikan dalam pembuatan beton. Berat jenis
betonnya sekitar 2/3 beton biasa, tetapi kuat tekannya hampir sama (pada jumlah semen yang
sama). Beton ini mempunyai ketahanan tinggi terhadap panas sehingga biasanya digunakan
untuk dinding penahan panas, lapisan tahan api pada baja struktur dan untuk struktur beton
yang permukaannya terkena panas tinggi. Beton ini juga mempunyai sifat meredam suara yang
baik.
Abu terbang (sintered fly-ash aggregate). Agregat ini ialah hasil dari pemanasan abu
terbang (pada pembakaran batu bara) sampai meleleh dan mengeras lagi yang membentuk
butir butir seperti kerikil.
Terak dingin. ialah hasil sampingan dari pembakaran bijih besi pada tanur tinggi, yang
didinginkan pelan pelan di udara terbuka. Pemilihan terak dingin secara cermat dapat
menghasilkan beton yang baik dan mungkin malahan lebih baik daripada beton dengan agregat
alami biasa.
Benda padat buangan/limbah. Kemungkinan pemakaian benda padat limbah untuk
dipakai sebagai pengganti agregat dalam pembuatan beton yang pada masa masa terakhir ini
sering dibicarakan dan tampak meningkat kebutuhannya, sebenarnya bukanlah suatu konsep
yang baru. Misalnya pemakaian abu terbang (fly ash), blast furnace slag dan robekan robekan
kaleng bekas yang dipakai sebagai serat dalam beton, juga barang barang bekas bongkaran

6
FM 1-7.1.0-1-41 ed.A rev.2

BAHAN AJAR
Kurikulum
Jurusan : Teknik Sipil 2010
PNK Program Studi : D3 & D4
Matakuliah : Bahan Bangunan

bangunan, maupun barang barang sampah dari kantor dan rumah, misalnya kertas, gelas,
plastic, dsb.
Sebelum barang barang bekas/buangan tersebut dipakai, maka perlu dipertimbangkan
(diteliti) dulu terhadap hal hal sebagai berikut :
a. Tinjauan ekonomi, apakah tidak lebih mahal daripada agregat biasa,
b. Tinjauan sifat teknis, apakah secara teknis dapat dipakai.
Barang buangan/limbah, kadang kadang memerlukan biaya yang tidak sedikit jika harus
dipilih/dipisahkan dari bahan yang lain atau dari kotoran yang melekat. Pada pecahan kaca,
butir butirnya cenderung pipih dan permukaannya licin, sehingga kurang merekat dengan
pastanya.

1.4. Berat jenis agregat


Berat jenis agregat adalah rasio antara massa padat agregat dan massa air dengan volume
sama (maka tanpa satuan)
Karena butiran agregat umumnya mengandung pori pori yang ada dalam butiran dan
tertutup /tidak saling berhubungan, maka berat jenis agregat dibedakan menjadi dua istilah,
yaitu :
a. Berat jenis mutlak/absolute, jika volume benda padatnya tanpa pori.
b. Berat jenis semu/apparent (berat jenis tampak) jika volume benda padatnya
termasuk pori tertutupnya.
Catatan : untuk agregat tertentu yang pori tertutupnya kecil, sering kedua istilah di atas
dianggap sama dan disebut berat jenis saja. Dengan demikian maka secara matematika
dapat ditulis :
Bj = Wb / Wa
Dengan : Wb = berat butir agregat
Wa = berat air dengan volume air sama dengan volume butir agregat
Agregat dapat dibedakan berdasarkan berat jenisnya, yaitu :
a. Agregat normal
b. Agregat berat
c. Agregat ringan

Agregat normal ialah agregat yang berat jenisnya antara 2.5 sampai 2.7. Agregat ini
biasanya berasal dari agregat granit, basalt, kuarsa dan sebagainya. Beton yang
dihasilkan mempunyai berat jenis sekitar 2.3. Betonnya disebut beton normal.
Agregat berat mempunyai berat jenis lebih dari 2.8, misalnya magnetic (Fe3O4), barytes
(BaSO4) atau serbuk besi. Beton yang dihasilkan juga memiliki berat jenis yang tinggi
(sampai 5), yang efektif sebagai dinding pelindung / perisai radiasi sinar X.
Agregat ringan mempunyai berat jenis kurang dari 2.0 yang biasanya dibuat untuk
beton ringan. Berat beton ringan kurang dari 1800 kg/m3. Beton ringan biasanya dipakai
untuk elemen non-struktural, akan tetapi mungkin pula untuk elemen struktur ringan.

7
FM 1-7.1.0-1-41 ed.A rev.2

BAHAN AJAR
Kurikulum
Jurusan : Teknik Sipil 2010
PNK Program Studi : D3 & D4
Matakuliah : Bahan Bangunan

Kebaikannya ialah berat sendiri yang rendah sehingga struktur pendukungnya dan
pondasinya lebih kecil. Agregat ringan dapat diperoleh secara alami maupun buatan,
misalnya :
a. Agregat ringan alami misalnya : diatomite, pumice, volcanic cinder.
b. Agregat ringan buatan misalnya : tanah bakar (bloated clay), abu terbang (sintered
fly ash), busa terak tanur tinggi (foamed blast furnace slag).

1.5. Berat satuan dan kepadatan


Volume pasir atau kerikil terdiri atas :
a. Volume butiran (zat padatnya)
b. Volume pori tertutup
c. Volume pori terbuka.
Berat satuan agregat ialah berat agregat dalam satu satuan volume bejana, dinyatakan dalam
kg/liter atau ton/m3. Jadi berat satuan ialah berat agregat dalam satu satuan bejana, (dalam
bejana terdiri atas volume butir (meliputi pori tertutup dan volume pori terbukanya).
Dengan demikian maka secara matematika dapat ditulis :
Bsat = Wb / Vt
Dengan : Wb = berat butir butir agregat di dalam bejana
Vt = Vb + Vp
Vt = volume total bejana
Vb = volume butiran agregat dalam bejana
Vp = volume pori terbuka antar butir butir agregat dalam bejana

Beberapa istilah yang perlu diketahui akibat hal itu antara lain :
Porositas : P = (Vp / Vt) x 100%

kepadatan : K = (Vb / Vt) x 100%

Dari rumus rumus tersebut maka didapat hubungan antara nilai kepadatan dan porositas,
yaitu :
K = 100 P
Dalam praktek umumnya nilai nilai tersebut untuk agregat normal adalah :
a. Porositas = 35 40 %
b. Kepampatan = 60 65 %
c. Berat jenis = 2.5 2.7
d. Berat satuan = 1.5 1.8

8
FM 1-7.1.0-1-41 ed.A rev.2

BAHAN AJAR
Kurikulum
Jurusan : Teknik Sipil 2010
PNK Program Studi : D3 & D4
Matakuliah : Bahan Bangunan

1.6. Ukuran butir agregat


Jika butiran agregat bulat sempurna maka jari jari atau diameter merupakan ukuran
yang sempurna. Untuk bentuk butir yang lainnya disebut dengan ukuran tidak dapat dikatakan
dengan tepat dalam satu angka tanpa mendua. Misalnya, jika butiran berbentuk kubus, secara
logika ukurannya dapat dinyatakan dalam panjang sisi atau panjang diagonal permukaan
kubusnya atau diagonal badannya. Keadaan yang demikian akan lebih tidak jelas lagi jika bentuk
butiran adalah tidak teratur, bersudut tajam, sebagaimana dimiliki oleh hampir setiap butir
agregat. Sebagai konsekuensinya maka ukuran butir agregat sebaiknya tidak disebut dengan
diameter.
Pengukuran ukuran butir agregat didasarkan atas suatu pemeriksaan yang dilakukan
dengan alat berupa ayakan dengan ukuran lubang lubang tertentu. Ukuran butiran agregat,
tanpa memperhatikan bentuknya, didefinisikan sebagai di-1 di jika butiran itu lolos pada
ayakan dengan lubang di dan tertahan pada lubang di-1.
Contoh :
Agregat ukuran 10 20 mm : ialah fraksi butir butir agregat yang lolos pada ayakan lubang 20
mm dan tertahan pada lubang 10 mm.
Dengan cara ini ternyata amat baik dan juga rasional, terutama jika dipakai untuk
menyebut suatu fraksi butiran agregat dengan bermacam macam ukuran yang berbeda.
Misalnya, agregat ukuran 20 40 mm, agregat ukuran 10 20 mm, agregat ukuran 5 10 mm
dan sebagainya.
Pemeriksaan ukuran butir agregat biasanya dilakukan dengan alat yang namanya ayakan
dimaksudkan untuk mengetahui distribusi ukuran butir agregat. Sebagaian agregat diambil
contohnya, kemudian dipisahkan menjadi beberapa fraksi dengan memakai ayakan. Pemisahan
dilakukan dengan ayakan yang disusun mulai dari ukuran lubang maksimum sampai minimum
sambil digetarkan. Agregat umumnya dalam keadaan kering. Agregat dari masing masing
fraksi kemudian ditimbang dan dinyatakan dalam persentase berat (lihat Tabel 1.1).
Besar persentase suatu fraksi agregat tertentu menyatakan besar volume butir fraksi
tersebut. Oleh karena itu nilai persentase sebaiknya dalam volume dan tidak hanya dalam teori
akan tetapi dalam praktek, terutama jika berat jenis butir butir agregatnya tidak sama
(misalnya agregat halus berupa pasir normal dan agregat kasar dari agregat ringan). Bila berat
jenis butir butirnya tidak berbeda jauh maka nilai persentase volume fraksi tersebut dapat
dinyatakan dalam berat. Oleh karena umumnya berat jenis agregat tidak berbeda maka sudah
menjadi kebiasaan untuk menyebut persentase fraksi dengan berat, karena lebih mudah
dilaksanakan. Namun harus selalu diingatkan bahwa jika berat jenis butir butirnya berbeda
jauh, misalnya berat jenis agregat kasar 1.8 dan berat jenis agregat halus 2.6, maka penyebutan
persentase berat halus dilakukan dengan konversi, yaitu dikalikan dengan berat jenis masing
masing fraksi.
Tabel 1.1. Persentase berat fraksi
Lubang Berat butir
Berat butir Berat butir lewat
ayakan tertinggal
tertinggal (%) ayakan (%)
(mm) (gram)
1 2 3 4
80 0 0 100
40 450 22.5 77.5
20 400 20 57.5

9
FM 1-7.1.0-1-41 ed.A rev.2

BAHAN AJAR
Kurikulum
Jurusan : Teknik Sipil 2010
PNK Program Studi : D3 & D4
Matakuliah : Bahan Bangunan

10 300 15 42.5
4.8 250 12.5 30
2.4 250 12.5 17.5
1.2 150 7.5 10
0.6 100 5 5
0.3 50 2.5 2.5
0.15 30 1.5 1
Alas 20 1 0
Total 2000 100

Keterangan Tabel :
a. Kolom (1) : ukuran lubang ayakan
b. Kolom (2) : hasil pengayakan agregat, berat agregat yang tertinggal pada ayakan
c. Kolom (3) : hasil hitungan dari kolom (2)
d. Kolom (4) : hasil hitungan dari kolom (3)

1.7. Ukuran lubang ayakan


Alat pengukur besar ukuran butir butir agregat dinamakan ayakan, ialah suatu plat baja
atau lembaran baja atau kawat anyaman yang mempunyai lubang lubang sama besar dan
diperkuat dengan rangka atau gelang kuat untuk menopang. Ayakan digunakan untuk
memisahkan butiran butiran sesuai dengan ukuran besarnya.
Bentuk lubang ayakan dapat berupa lingkaran bulat dan dapat pula berupa bujur sangkar.
Jika berbentuk lingkaran bulat disebut sieve, sedangkan jika berbentuk bujur sangkar disebut
screen. Di Indonesia, sampai saat ini kedua istilah tersebut belum dibedakan, keduanya disebut
ayakan.
Hasil pengayakan dengan ayakan berlubang bujur sangkar dan dengan lubang bulat tidak
sama, hal ini karena pengaruh butiran agregat yang tidak bulat sempurna. Untuk pemakaian
dalam agregat pada umumnya dipakai ayakan dengan lubang bulat, tetapi kadang kadang
dipakai juga yang bujur sangkar karena pembuatan ayakannya lebih mudah.
Pada saat ini ukuran lubang ayakan telah diseragamkan, dengan ukuran yang dikeluarkan
dari ISO (International Standard Organization, Geneve, Switzerland) yaitu : 37.5 mm, 19 mm,
9.5 mm, 4.75 mm, 2.36 mm, 1.18 mm, 0.60 mm, 0.30 mm, 0.15 mm, 0.075 mm. Untuk
menambah ukuran yang mungkin sering dipakai maka ditambahkan pula ukuran 50 mm, 25 mm
dan 12.5 mm.

1.8. Ukuran maksimum butir agregat


Untuk mengurangi jumlah semen (agar biaya pembuatan beton berkurang) dibutuhkan
ukuran butir butir maksimum agregat yang sebesar besarnya. Walaupun demikian, besar
butir maksimum agregat kasar tidak dapat terlalu besar, karena ada factor factor lain yang
membatasi. Factor factor yang membatasi besar butir maksimum agregat ialah : jarak bidang
samping cetakan beton, dimensi plat beton yang dibuat, serta jarak bersih antar baja tulangan
dalam beton, yaitu :

10
FM 1-7.1.0-1-41 ed.A rev.2

BAHAN AJAR
Kurikulum
Jurusan : Teknik Sipil 2010
PNK Program Studi : D3 & D4
Matakuliah : Bahan Bangunan

a. Ukuran maksimum butir agregat tidak boleh lebih besar dari kali jarak bersih antar
tulangan baja.
b. Ukuran maksimum butir agregat tidak boleh lebih besar dari 1/3 kali tebal plat.
c. Ukuran maksimum butir agregat tidak boleh lebih besar dari 1/5 kali jarak terkecil
antara bidang samping cetakan.
Dengan pertimbangan tersebut di atas, maka ukuran maksimum butir agregat untuk
beton bertulang umumnya sebesar 10 mm, 20 mm, atau 40 mm. Jika dimensi beton yang
dibuat relative besar (betonnya disebut beton massa) dan tidak dipakai baja tulangan, misalnya
beton untuk pondasi sumuran, pilar jembatan, tembok penahan tanah, bendungan, ukuran
maksimum agregat dapat diambil sebesar 75 mm atau 150 mm.

1.9. Contoh perhitungan :


Diketahui perbandingan volume pasir kerikil = 2 : 3
Berat jenis pasir ( jenis) = 2,6; Berat jenis kerikil ( jenis)= 2,5;
Berat satuan pasir ( sat.) = 1,55 kg/dm3; Berat satuan kerikil ( sat.) = 1,60 kg/dm3;
Berat satuan campuran ( sat.) = 1,90 kg/dm3
Hitunglah volume rongga pada kerikil, pasir dan campuran
Jawaban :
sat. 1,55
Kepadatan Pasir = x 100 59,60 %
jenis 2,60
sat. 1,60
Kepadatan Kerikil = x 100 64 %
jenis 2,50
Porositas pasir = 100 % - 59,60 % = 40,40 %
Porositas kerikil = 100 % - 64 % = 36 %
Misalnya diambil 2 liter pasir dan 3 liter kerikil
Pasir
Volume total = 2 liter
Berat = 2 x 1,55 kg = 3,10 kg
Volume butir = 3,10/2,60 = 1,19 liter
Volume rongga = 2 1,19 = 0,81 liter atau 40 %
Kerikil
Volume total = 3 liter
Berat = 3 x 1,60 kg = 4,80 kg
Volume butir = 4,80/2,5 = 1,92 liter
Volume rongga = 3 1,92 = 1,08 liter atau 36 %
Campuran pasir dan kerikil

11
FM 1-7.1.0-1-41 ed.A rev.2

BAHAN AJAR
Kurikulum
Jurusan : Teknik Sipil 2010
PNK Program Studi : D3 & D4
Matakuliah : Bahan Bangunan

Berat campuran = 3,10 + 4,80 = 7,90 kg


Volume total = 7,90 / 1,90 = 4,158 liter;
Volume butiran = 1,19 + 1,92 = 3,11 liter
Volume rongga = 4,158 3,11 = 1,048 liter atau 25 %

Kesimpulan : agregat campuran mempunyai prosentase volume rongga yang lebih kecil.
Volume total pasir + volume total kerikil volume total campuran
Berat pasir + berat kerikil = berat campuran
Volume butir pasir + volume kerikil = volume butir campuran

1.10. Bentuk butiran


Selain ukuran dan gradasi, penting juga mempelajari bentuk dan tekstur permukaan butir.
Ada bermacam macam bentuk butir agregat. Salah satu klasifikasi adalah angular sub
angular surrounded rounded well rounded.
Angular berarti tidak ada keausan, sedangkan well rounded berarti bulat, wajah aslinya
sudah tidak kelihatan lagi. Selain itu ada bentuk pipih (flaky), memanjang (elongated) dan pipih
memanjang (flaky & elongated).
Batu pecah berbentuk angular, sedangkan kerikil dari sungai berbentuk bulat dan kadang
agak pipih. Bentuk akan mempengaruhi kelecakan (workability) dan kekuatan beton.
Secara umum yang terbaik untuk kelecakan adalah yang berbentuk bulat sedangkan untuk
kekuatan yang tinggi adalah yang angular, karena luas permukaannya lebih besar. Bentuk yang
pipih dan memanjang kurang baik karena sulit untuk dipadatkan. Menurut SII, agregat yang
berbentuk pipih memanjang tidak boleh lebih dari 20% berat. Bentuk yang dikehendaki adalah
bentuk yang tidak pipih.
Pada proyek sebaiknya ada contoh agregat yang sudah disetujui oleh konsultan pengawas
sehingga lebih mudah untuk membandingkan secara visual untuk setiap kali pengiriman.

1.11. Tekstur permukaan butiran


Klasifikasinya :
Mengkilat (glassy) rata granular kasar sarang tawon (honey comb)
Kerikil alam permukaannya rata, sedangkan batu pecah lebih kasar. Kualitas permukaan
tergantung dari jenis batuannya.
Permukaan yang mengkilat mempunyai kelecakan yang lebih baik daripada yang kasar,
namun sebaliknya permukaan yang kasar kelekatannya dengan matriks semen lebih baik.
1.12. Absorpsi dan kadar air
Air yang terkandung di dalam agregat akan mempengaruhi jumlah air yang diperlukan di
dalam campuran. Agregat yang basah akan membuat campuran lebih basah dan meningkatkan
factor air semen dan sebaliknya agregat yang kering akan menyerap air campuran dan
menurunkan kelecakan beton. Jadi kandungan air di dalam agregat harus diketahui. Perubahan

12
FM 1-7.1.0-1-41 ed.A rev.2

BAHAN AJAR
Kurikulum
Jurusan : Teknik Sipil 2010
PNK Program Studi : D3 & D4
Matakuliah : Bahan Bangunan

kadar air tidak hanya tergantung dari pengiriman, tetapi juga pengaruh dari cuaca (misalnya
hujan atau panas terik) dan lamanya penyimpanan.
Pasir yang ditumpuk dan diberi kesempatan untuk mongering selama 16 jam akan
mempunyai kadar air sekitar 5%. Dalam keadaan basah antara 7 sampai 10 %, kadang sampai
15%. Pasir yang lembab terasa agak basah, tetapi tidak meninggalkan kebasahan di tangan.
Kadar air sekitar 2% berat, pasir terasa basah dan sedikit membasahi tangan, membentuk bola
di tangan. Kadar air sekitar 4% berat, pasir yang sangat basah, airnya sampai menetes ketika
diangkut, semakin membasahi tangan dan tampak mengkilat.
Ada 4 kondisi kandungan air di dalam agregat :
a. Kering kerontang (bone dry atau oven dry od)
Bisa didapat dengan memasukkan agregat ke dalam oven selama 24 jam pada
temperature 105 - 110C.
b. Kering udara (air dry ad)
Bagian luarnya kering namun bagian dalamnya masih mengandung air. Keadaan
agregat di lapangan apabila terjemur.
c. Saturated surface dry (SSD)
Ini keadaan teoritis ideal, yaitu butir di dalamnya sudah jenuh air (saturated), namun
bagian sebelah luar masih kering. Kondisi ini dipakai sebagai dasar perhitungan mix
design.
d. Lembab (moist atau wet)
Selain bagian dalam jenuh air, bagian luar juga basah. Didapat dengan merendam
agregat selama 24 jam.
Jumlah air total adalah sepuluh kali air yang ada, baik yang di dalam pori maupun yang di
luar butir. Kadar air total adalah persentase jumlah air tersebut terhadap berat agregat kering.
Kadar air bebas adalah persentase jumlah air yang di luar butir saja. Kadar air bebas dipakai
sebagai dasar untuk perencanaan campuran karena agregat dianggap dalam keadaan SSD.

1.13. Kekerasan agregat


Ketahanan abrasi sering dipakai sebagai indeks umum untuk kualitas agregat. Kekerasan
(hardness) adalah perlawanan terhadap keausan. Misalnya untuk pavement atau lantai
gudang/workshop alat alat berat. Dibutuhkan beton yang selain kuat juga tidak cepat aus
akibat abrasi. Dilakukan percobaan bejana tekan Los Angelos, bejana tekan Rudolf, Leighton
buzzard atau Rockwell test. Kekerasan dinyatakan dalam persen bagian hancur yang halus, yang
melewati ayakan 1,7 2 mm. Dibatasi 14 16 % pada Rudolf dan 27 % pada Los Angelos oleh
SII.
Selain itu ada lagi sifat yang lain, yaitu keuletan (toughness), yaitu ketahanan terhadap
benturan. Tes abrasi dilakukan dengan Los angeles test.
Pengujian kekerasan agregat halus dapat dilakukan dengan membuat contoh dan
membandingkannya dengan pasir standar. Untuk SII dipakai pasir Bangka. Angka pembanding
tidak boleh lebih besar dari 2,20. Agregat kasar bila digores dengan batang tembaga maka
bagian yang lemah maksimum 5 %.

13
FM 1-7.1.0-1-41 ed.A rev.2

BAHAN AJAR
Kurikulum
Jurusan : Teknik Sipil 2010
PNK Program Studi : D3 & D4
Matakuliah : Bahan Bangunan

1.14. Substansi perusak pada agregat


Agregat kadang kadang mengandung bahan yang tidak dikehendaki. Ada dua kelompok,
yaitu kelompok fisik dan kelompok kimiawi. Kelompok fisik mengganggu secara mekanis,
seperti debu dan kotoran. Kelompok kimiawi mengganggu reaksi hidrasi maupun ketahanan
beton.
Termasuk kelompok fisik adalah kotoran dari tanah liat, lumpur atau debu halus. Dalam
jumlah sedikit, kotoran ini tidak dapat dihindari. Namun kotoran yang berlebihan akan melapisi
permukaan agregat sehingga mengurangi lekatan pasta semen. Apalagi jika disertai
gumpalan.jenis ini mudah diketahui dengan mata telanjang atau dengan mengambil segenggam
pasir dan memerasnya. Bila ada kotoran yang tertinggal di tangan, berarti pasirnya kotor.
Kotoran disebabkan oleh kurangnya penyiraman pada waktu pengambilan. Batu pecahan mesin
umumnya mengandung kotoran lebih sedikit daripada kerikil alam atau batu pecahan tangan.
Kadar lumpur (atau butiran yang lebih kecil dari 70 mikron) maksimum 5% untuk agregat halus,
1% untuk agregat kasar, menurut SII. Gumpalan tanah liat dan partikel yang mudah diserpihkan
maksimum 3%, menurut ASTM.
Kelompok kimiawi terdiri dari kotoran organic, garam dan alkali. Kotoran organic seperti
gula, misalnya akan memperlambat pengikatan. Kotoran seperti humus dan serpihan kayu akan
menyebabkan bercak pada permukaan. Kadar zat organic diuji dengan larutan natrium sulfat.
Bila warnanya lebih tua dari standar maka harus ditolak, menurut ASTM, kecuali bila warna
gelap disebabkan adanya arang atau lignit atau bisa dibuktikan dengan percobaan
perbandingan kekuatan mortar. Kekuatan tidak kurang dari 95% terhadap mortar dengan pasir
standar. Arang dan lignit maksimum 0,5 1%, menurut ASTM.
Kotoran yang lain akan mengganggu ketahanan (durability), yaitu menguraikan kembali
(dekomposisi) hasil hidrasi, atau bereaksi menghasilkan produk yang mengembang. Kestabilan
kimiawi menandakan bahwa agregat tidak akan bereaksi secara kimia dengan semen atau akan
terpengaruh secara kimia oleh pengaruh luar yang lain. Kekekalan diuji dengan larutan garam
sulfat. Menurut ASTM dan SII, bagian yang hancur maksimum :

Natrium sulfat Magnesium sulfat


Agregat halus 10% 15%
Agregat kasar 12% 18%

Adanya garam akan menyebabkan korosi pada tulangan, terutama apabila kualitas
betonnya jelek. Karena itu secara praktis pasir laut dilarang untuk digunakan sebagai campuran
beton. Ketahanan terhadap pembekuan dan pencairan adalah penting untuk beton ekspos bila
menghadapi 4 musim.

14
FM 1-7.1.0-1-41 ed.A rev.2

BAHAN AJAR
Kurikulum
Jurusan : Teknik Sipil 2010
PNK Program Studi : D3 & D4
Matakuliah : Bahan Bangunan

Soal Tugas :
1. Jelaskan apa yang dimaksud dengan agregat !
2. Sebutkan batasan ukuran untuk jenis agregat pasir, kerikil dan batu !
3. Sebutkan spesifikasi agregat yang memenuhi syarat sebagai elemen struktur yang memikul beban !
4. Tuliskan satuan/unit untuk mendefinisikan arti dari istilah : berat satuan, berat jenis dan kadar air !
5. Jelaskan apa yang dimaksud dengan istilah agregat normal, agregat berat dan agregat ringan, dan
berikan contoh materialnya masing - masing !
6. Jelaskan cara untuk mengetahui ukuran agregat !
7. Jelaskan pengaruh tekstur permukaan butiran agregat kasar maupun agregat halus terhadap kekuatan
beton dan mortar !
8. Sebutkan contoh contoh agregat alami dan buatan (minimal 3 contoh agregat) !
9. Sebutkan cara cara pengujian di laboratorium untuk mengetahui kekuatan dan kekerasan agregat;
ketahanan terhadap cuaca/lingkungan; reaksi alkali-silika dan sifat termal agregat !
10. Jelaskan jenis jenis substansi perusak pada agregat !

Daftar Pustaka
Tjokrodimuljo, K, 2004, Teknologi Beton- Buku Ajar Magister Teknologi Bahan Bangunan,
Fakultas Teknik Sipil Universitas Gadjah Mada, Jogjakarta

15
FM 1-7.1.0-1-41 ed.A rev.2

BAHAN AJAR
Kurikulum
Jurusan : Teknik Sipil 2010
PNK Program Studi : D3 & D4
Matakuliah : Bahan Bangunan

BAB 2
SEMEN

Tujuan Instruksional Khusus : Setelah mengikuti kuliah ini, mahasiswa akan dapat mengetahui
asal mula ditemukannya bahan semen, perkembangan bahan semen, proses pembuatan
semen, mengenal tipe tipe semen sesuai penggunaannya di berbagai jenis konstruksi.
Gambaran umum materi : Semen merupakan bahan pengikat, yang diaplikasikan dalam
campuran pasta, mortar dan beton, maupun untuk bahan stabilisasi tanah. Materi kuliah
dimulai dengan definisi semen, bahan dasar semen, proses produksi semen, sifat sifat fisik
dan kimiawi semen, dilanjutkan dengan jenis jenis semen sesuai tujuan penggunaannya.
Relevansi Mata Kuliah : Pada bab ini mahasiswa diharapkan menguasai definisi, sifat sifat fisik
dan kimiawi semen dan penggunaan semen dalam berbagai konstruksi. Dasar dasar
pengetahuan tersebut merupakan prasyarat yang harus dikuasai oleh mahasiswa agar dapat
melakukan perancangan campuran (beton, lapisan perkerasan jalan, mortar dll). Ketika
pengetahuan ini diterapkan di lapangan maka mahasiswa mampu merencanakan sekaligus
mengawasi proses pengerjaan konstruksi yang melibatkan semen sebagai bahan pengikat agar
sesuai spesifikasi yang ditetapkan.

2.1. Definisi
Semen berasal dari kata caementum yang berarti bahan perekat yang mampu mempersatukan
atau mengikat bahan-bahan padat menjadi satu kesatuan yang kokoh atau suatu produk yang
mempunyai fungsi sebagai bahan perekat antara dua atau lebih bahan sehingga menjadi suatu
bagian yang kompak atau dalam pengertian yang luas adalah material plastis yang memberikan
sifat rekat antara batuan-batuan konstruksi bangunan.
Semen pada awalnya dikenal di mesir tahun 500 SM pada pembuatan piramida, yaitu sebagai
pengisi ruang kosong diantara celah-celah tumpukan batu. Semen yang dibuat bangsa Mesir
merupakan kalsinasi gypsum yang tidak murni, sedang kalsinasi batu kapur mulai digunakan
pada zaman Romawi. Kemudian bangsa Yunani membuat semen dengan cara mengambil tanah
vulkanik (vulcanic tuff) yang berasal dari pulau santoris yang kemudian dikenal dengan santoris
cement. Bangsa Romawi menggunakan semen yang diambil dari material vulkanik yang ada di
pegunungan vesuvius di lembah Napples yang kemudian dikenal dengan nama pozzulona
cement, yang diambil dari sebuah nama kota di Italia yaitu pozzoula. Penemuan bangsa Yunani
dan Romawi ini mengalami perkembangan lebih lanjut mengenai komposisi bahan dan cara
pencampurannya, sehingga diperoleh mortar yang baik. Pada abad pertengahan, kualitas
mortar mengalami penurunan yang disebabkan oleh pembakaran limestone kurang sempurna,
dengan tidak adanya tanah vulkanik.
Pada tahun 1756 Jhon Smeaton seorang Sarjana Inggris berhasil melakukan penyelidikan
terhadap batu kapur dengan pengujian ketahanan air. Dari hasil percobaannya disimpulkan
bahwa batu kapur lunak yang tidak murni dan mengandung tanah liat merupakan bahan
pembuat semen hidrolis yang baik. Batu kapur yang dimaksud tersebut adalah kapur hidrolis
(hydraulic lime). Kemudian oleh Vicat ditemukan bahwa sifat hidrolis akan bertambah baik jika
ditambahkan juga silika atau tanah liat yang mengandung alumina dan silika. Akhirnya Vicat
membuat kapur hidrolis dengan cara pencampuran tanah liat clay) dengan batu kapur

16
FM 1-7.1.0-1-41 ed.A rev.2

BAHAN AJAR
Kurikulum
Jurusan : Teknik Sipil 2010
PNK Program Studi : D3 & D4
Matakuliah : Bahan Bangunan

(limestone) pada perbandingan tertentu, kemudian campuran tersebut dibakar (dikenal


dengan Artifical lime twice kilned).
Pada tahun 1811, James Frost mulai membuat semen yang pertama kali dengan menggunakan
cara seperti Vicat yaitu dengan mencampurkan dua bagian kapur dan satu bagian tanah liat.
Hasilnya disebut Frosts cement. Pada tahun 1812 prosedur tersebut diperbaiki dengan
menggunakan campuran batu kapur yang mengandung tanah liat dan ditambahkan tanah
Argillaceus (mengandung 9-40 % silica). Semen yang dihasilkan disebut British cement.
Usaha untuk membuat semen pertama kali dilakukan dengan cara membakar campuran batu
kapur dan tanah liat. Joseph Aspdin yang merupakan orang inggris pada tahun 1824 mencoba
membuat semen dari kalsinasi campuran batu kapur dengan tanah liat yang telah dihaluskan,
digiling dan dibakar menjadi lelehan dalam tungku, sehingga terjadi penguraian batu kapur
(CaCO3) menjadi batu tohor (CaO) dan karbondioksida (CO2). Batuan kapur tohor bereaksi
dengan senyawa senyawa lain membentuk klinker kemudian digiling sampai menjadi tepung
yang kemudian dikenal dengan Portland (Walter H. Duda, 1976).

2.2. Semen Hidraulis dan Non Hidraulis


Ada dua macam semen, yaitu semen hidraulis dan semen non hidraulis. Semen non-hidraulis
adalah semen (perekat) yang dapat mengeras tetapi tidak stabil dalam air. Semen hidraulis
adalah semen yang akan mengeras bila bereaksi dengan air, tahan terhadap air (water
resistance) dan stabil di dalam air setelah mengeras. Sebagai perbandingan, lihat perbedaan
antara gypsum dan kapur keras.
- Gypsum : mengeras bila bereaksi dengan air tetapi akan larut dalam air (bukan jenis
semen hidraulis).
- Kapur keras : tidak mengeras bila bereaksi dengan air melainkan akan mengeras bila
bereaksi dengan CO2. Setelah mengeras maka akan tahan terhadap air
(bukan jenis semen hydraulis).
Kebutuhan dunia akan semen hidraulis ini mencapai ratusan juta ton setiap tahun sehingga
harus diproduksi dari material mentah alamiah, daripada bahan kimia murni semata.
Salah satu semen hidraulis yang biasa dipakai dalam konstruksi beton adalah semen Portland.
Jenis lainnya adalah semen alamiah dan semen alumina.

2.3. Bahan Dasar


Semen portland dibuat dari serbuk halus mineral kristalin dengan komposisi utama kalsium dan
aluminium silikat. Bahan utama pembentuk semen portland yaitu kapur (CaO), silika (SiO 3),
alumina (Al2O3), sedikit magnesia (MgO) dan terkadang sedikit alkali. Empat senyawa kompleks
penting yang ada dalam semen portland yaitu: Dikalsium Silikat (C2S atau 2CaCO.SiO2),
Trikalsium silikat (C3S atau 3CaCO.SiO2), Trikalsium Aluminat (C3A atau 3CaO.Al2O3), dan
Tetrakalsium Aluminoferit (C4AF atau 4CaO.Al2O3.Fe2O3). Senyawa tersebut menjadi kristal-
kristal yang saling mengunci ketika menjadi klinker. Perbedaan persentase senyawa kimia
menyebabkan perbedaan sifat semen.
Untuk membuat 1 ton semen Portland, diperlukan bahan dasar kurang lebih :

17
FM 1-7.1.0-1-41 ed.A rev.2

BAHAN AJAR
Kurikulum
Jurusan : Teknik Sipil 2010
PNK Program Studi : D3 & D4
Matakuliah : Bahan Bangunan

1.3 ton batu kapur (limestone)/kapur (chalk) : CaCO3


0.3 ton pasir silica/tanah liat : SiO2 & Al2O3
0.03 ton pasir/kerak besi : Fe2O3
0.04 ton gypsum : CaSO4 H2O

Batu kapur meliputi semua jenis batuan karbonat yang terutama mengandung kalsium, kadang
sedikit magnesium. Marls (campuran dari tanah liat, pasir dan batu kapur dengan proporsi yang
bervariasi, sering terdapat pecahan kulit kerang) dan batuan yang berasal dari tanaman dan
binatang. Tanah liat dan shale harus ditambahkan bila alumina dan silica yang ada dalam batu
kapur masih belum memadai jumlahnya.
Fungsi semen secara umum adalah untuk merekatkan butiran-butiran agregat agar terjadi
suatu massa yang padat, juga untuk mengisi rongga antar butiran agregat. Semen hanya
mengisi 10% dari volume beton, dan karena merupakan bahan yang aktif maka perlu
dipelajari dan dikontrol secara ilmiah (Tjokrodimuljo, 2004).
2.4. Proses Pembuatan Semen
Semen Portland dibuat dengan melalui beberapa langkah, sehingga sangat halus dan memiliki
sifat adhesive maupun kohesif. Semen diperoleh dengan membakar secara bersamaan suatu
campuran dari calcareous (yang mengandung kalsium karbonat atau batu gamping) dan
argillaceous (yang mengandung alumina) dengan perbandingan tertentu. Secara mudahnya ,
kandungan semen Portland ialah : kapur, silica dan alumina. Ketiga bahan dasar tadi dicampur
dan dibakar dengan suhu 1550C dan menjadi klinker. Setelah itu kemudian dikeluarkan,
didinginkan dan dihaluskan sampai halus seperti bubuk. Biasanya lalu ditambahkan gypsum
atau kalsium sulfat (CaSO4) kira kira sampai 2 4 % sebagai bahan pengontrol waktu
pengikatan. Kemudian dimasukkan ke dalam kantong dengan berat tiap tiap kantong 50 kg
atau 40 kg.

2.5. Sifat Sifat Semen Portland


2.5.1. Susunan kimia
Bahan dasar semen Portland terdiri bahan bahan yang mengandung kapur, silica, alumina dan
oksida besi, sebagaimana dapat dilihat pada Tabel 2.1 oksida oksida tersebut berinteraksi satu
sama lain untuk membentuk serangkaian produk yang lebih komplek selama proses peleburan.
Tabel 2.1. Susunan unsur semen Portland
Oksida Persentase
Kapur, CaO 60 65
Silika, SiO2 17 25
Alumina, Al2O3 38
Besi, Fe2O3 0.5 6
Magnesia, MgO 0.5 4
Sulfur, SO3 12
Soda / potash, Na2O + K2O 0.5 1

18
FM 1-7.1.0-1-41 ed.A rev.2

BAHAN AJAR
Kurikulum
Jurusan : Teknik Sipil 2010
PNK Program Studi : D3 & D4
Matakuliah : Bahan Bangunan

Walapun komplek, namun pada dasarnya dapat disebutkankan 4 senyawa yang paling penting
keempat senyawa tersebut ialah :
Trikalsium silikat (C3S) atau 3CaO.SiO2
Dikalsium silikat (C2S) atau 2CaO.SiO2
Trikalsium aluminat (C3A) atau 3CaO.Al2O3
Tetrakalsium aluminoferit (C4AF) atau 4CaO.Al2O3.Fe2O3
(huruf huruf dalam tanda kurung yang pertama hanyalah simbol dari komponen tersebut)
Dua unsur yang pertama (C3S dan C2S) biasanya merupakan 70 80 % dari semen sehingga
merupakan bagian yang paling dominan dalam memberikan sifat semen. Bila semen terkena
air, C3S segera mulai berhidrasi dan menghasilkan panas. Selain itu juga berpengaruh besar
terhadap pengerasan semen, terutama sebelum mencapai umur 14. sebaliknya C 2S bereaksi
dengan air lebih lambat sehingga hanya berpengaruh terhadap pengerasan semen setelah
berumur lebih dari 7 hari dan memberikan kekuatan akhir. Unsur C2S ini juga membuat semen
tahan terhadap serangan kimia dan juga mengurangi besar susutan pengeringan. Kedua unsur
pertama ini membutuhkan air berturut turut sekitar 24 21 % dari masing masing beratnya
untuk terjadinya reaksi kimia, namun saat hidrasi C3S membebaskan kalsium hidroksida hampir
3 kali lebih banyak daripada yang dibebaskan oleh C2S. maka dari itu, jika C3S mempunyai
persentase yang lebih tinggi akan menghasilkan proses pengerasan yang cepat pada
pembentukan kekuatan awalnya disertai suatu panas hidrasi yang tinggi. Sebaliknya persentase
C2S yang lebih tinggi menghasilkan proses pengerasan yang lambat, panas hidrasi yang sedikit
dan ketahanan terhadap serangan kimia yang lebih baik.
Unsur C3A berhidrasi secara exothermic dan bereaksi sangat cepat memberikan kekuatan
sesudah 24 jam. C3A bereaksi dengan air sebanyak kira kira 40% beratnya, namun karena
jumlah unsur ini hanya sedikit maka pengaruhnya pada jumlah air hanya sedikit. Unsur C 3A ini
sangat berpengaruh pada panas hidrasi tertinggi, baik selama pengerasan awal maupun
pengerasan berikutnya yang panjang. Beton yang berhubungan dengan air tanah yang
mengandung larutan asam sulfat (SO4) akan mudah rusak jika semennya mengandung banyak
C3A, karena hasil hidrasi C3A mudah bereaksi dengan larutan sulfat. Di dalam beton hasil reaksi
ini menghasilkan bentuk zat kimia baru yang dinamakan etringite, volumenya lebih besar
(mengembang), sehingga membuat beton retak retak. Oleh karena itu semen tahan sulfat
tidak boleh mengandung unsur C3A lebih dari 5 %.
Unsur C4AF kurang begitu besar pengaruhnya terhadap kekerasan semen atau beton.

2.5.2. Reaksi Hidrasi


Ketika air ditambahkan ke dalam campuran semen, proses kimiawi yang disebut hidrasi akan
berlangsung. Senyawa kimia di dalam semen akan bereaksi dengan air dan membentuk
komponen baru.
Mekanisme hidrasi semen ada dua, yaitu mekanisme larutan dan mekanisme padat. Pada
mekanisme larutan, zat yang direaksikan larut dan menghasilkan ion dalam larutan. Ion ion ini
kemudian akan bergabung sehingga menghasilkan zat yang menggumpal (flocculate). Pada
semen, karena daya larut senyawa yang ada kecil maka hidrolisis lebih dominan daripada
larutan.

19
FM 1-7.1.0-1-41 ed.A rev.2

BAHAN AJAR
Kurikulum
Jurusan : Teknik Sipil 2010
PNK Program Studi : D3 & D4
Matakuliah : Bahan Bangunan

Tabel 2.2. Reaksi hidrasi senyawa semen


Senyawa yang bereaksi Komponen yang dihasilkan
Trikalsium silikat + air Gel tobermorite + kalsium hidroksida
Dikalsium silikat + ar Gel tobermorite + kalsium hidroksida
Tetrakalsium aluminoferit + air + kalsium hodroksida Kalsium aluminoferrit hidrat
Tetrakalsium aluminat + air + kalsium hidroksida Tetrakalsium aluminat hidrat
Tetrakalsium aluminat + air + gypsum Kalsium monosulfoaluminate

2.5.3. Panas Hidrasi


Dari pengamatan kecepatan evolusi panas hidrasi atau dari pengukuran kenaikan temperature
di bawah kondisi isothermal, ada 5 tahap yang dapat diidentifikasi, seperti pada uraian berikut :
Tahap 1 : Hidrolisis awal yang langsung terjadi di saat semen kontak dengan air, semen bereaksi
cepat untuk beberapa menit.
Tahap 2 : periode pasif (dormant period) di mana gypsum mencegah terjadinya flash set pada
C3A karena butir semen dilapisi gel. Periode reaksi lambat, berlangsung sekitar
setengah sampai dua jam. Selama itu terjadi pemecahan dan pembentukan kembali
lapisan coating gel yang semakin tebal.
Tahap 3 : percepatan terjadi dengan pecahnya coating karena bertambahnya tekanan osmosis.
Inilah waktu initial set. Kecepatan reaksi bertambah sampai final set.
Tahap 4 : perlambatan. Proses menjadi kaku berlanjut sampai tercapai pengerasan.
Tahap 5 : kondisi stabil dimana difusi lambat mengendalikan proses hidrasi yang lama.

2.5.4. Pengikatan dan Pengerasan


Pengikatan (set) adalah perubahan bentuk dari bentuk cair menjadi padat, tetapi masih belum
mempunyai kekuatan. Pengikatan ini terjadi akibat reaksi hidrasi yang terjadi pada permukaan
butiran semen, terutama butiran trikalsium aluminat. Dengan penambahan gypsum, waktu
pengikatan dapat diatur karena gypsum memodifikasi hidrasi awal. Pengerasan (hardening)
adalah pertumbuhan kekuatan dari beton atau mortar setelah bentuknya menjadi padat.
Semen bila dicampur dengan air akan menghasilkan pasta yang plastis dan lecak (workable).
Namun setelah selang beberapa waktu, pasta akan mulai menjadi kaku dan sukar dikerjakan.
Inilah yang disebut pengikatan awal (initial set). Selanjutnya pasta akan meningkat kekakuannya
sehingga didapatkan padatan yang utuh. Ini yang disebut pengikatan akhir (final set). Proses
berlanjut hingga pasta mempunyai kekuatan, disebut pengerasan (hardening). Pada umumnya
waktu pengikatan awal minimum adalah 45 menit, sedangkan waktu pengikatan akhir adalah 6
10 jam.

2.5.5. Jenis Semen Portland


Melihat sifat yang berbeda dari masing masing komponen ini kita dapat membuat bermacam
jenis semen hanya dengan mengubah kadar masing masing komponennya. Misalnya kita ingin
mendapatkan semen yang mempunyai kekuatan awal tinggi maka kita perlu menambah kadar

20
FM 1-7.1.0-1-41 ed.A rev.2

BAHAN AJAR
Kurikulum
Jurusan : Teknik Sipil 2010
PNK Program Studi : D3 & D4
Matakuliah : Bahan Bangunan

C3S dan mengurangi kadar C2S. ASTM (American Standard For Testing Materials) menentukan
komposisi semen berbagai tipe sebagaimana tampak pada Tabel 2.3.
Tipe I adalah semen Portland untuk tujuan umum. Jenis ini paling banyak dirpoduksi karena
digunakan untuk hampir semua jenis konstruksi.
Tipe II adalah semen Portland modifikasi, adalah tipe tipe yang sifatnya setengat tipe IV dan
setengat tipe V (moderat). Belakangan lebih banyak diproduksi sebagai
pengganti tipe IV.
Tipe III adalah semen Portland dengan kekuatan awal tinggi. Kekuatan 28 hari umumnya dapat
dicapai dalam 1 minggu. Semen jenis ini umum dipakai ketika acuan harus
dibongkar secepat mungkin atau ketika struktur harus dapat cepat dipakai.
Tipe IV adalah semen Portland dengan panas hidrasi rendah, yang dipakai untuk kondisi di
mana kecepatan dan jumlah panas yang timbul harus minimum. Misalnya pada
bangunan massif seperti bendungan gravitasi yang besar.pertumbuhan
kekuatannya lebih lambat dari pada semen tipe I.
Tipe V adalah semen Portland tahan sulfat, yang dipakai untuk menghadapi aksi sulfat yang
ganas. Umumnya dipakai di daerah di mana tanah atau airnya memiliki
kandungan sulfat yang tinggi.
Tabel 2.3. Jenis-jenis semen Portland dengan sifat-sifatnya
Kadar senyawa (%) Kehalusan Kuat 1 Panas
Tipe
Sifat pemakaian blaine hari hidrasi
semen C3S C2S C3A C4AF (m/kg) (kg/cm) (J/g)
I Umum 50 24 11 8 350 1000 330
II Modifikasi 42 33 5 13 350 900 250
III Kekuatan awal tinggi 60 13 9 8 450 2000 500
IV Panas hidrasi rendah 25 50 5 12 300 450 210
V Tahan sulfat 40 40 9 9 350 900 250

Selain jenis jenis semen tersebut juga telah dikembangkan jenis semen Portland pozzolan
yang telah banyak ditemui di pasaran. Semen portland pozzolan adalah suatu semen hidrolis
yang terdiri dari campuran yang homogen antara semen portland dengan pozzolan halus yang
diproduksi dengan menggiling klinker semen portland dan pozzolan bersama-sama, atau
mencampur secara merata bubuk semen Portland dengan bubuk pozolan, atau gabungan
antara menggiling dan mencampur, dimana kadar pozzolan 15% sampai 40% massa semen
portland pozzolan.
Pozzolan adalah bahan yang mengandung silika atau senyawanya dan alumina yang tidak
mempunyai sifat mengikat seperti semen, akan tetapi dalam bentuknya yang halus dan dengan
adanya air, senyawa tersebut akan bereaksi secara kimia dengan kalsium hidroksida pada suhu
kamar membentuk senyawa yang mempunyai sifat seperti semen.
Semen Portland pozzolan digolongkan menjadi 4 jenis, seperti yang dijelaskan berikut ini :

1) Jenis IP-U yaitu semen portland pozzolan yang dapat dipergunakan untuk semua tujuan
pembuatan adukan beton.

21
FM 1-7.1.0-1-41 ed.A rev.2

BAHAN AJAR
Kurikulum
Jurusan : Teknik Sipil 2010
PNK Program Studi : D3 & D4
Matakuliah : Bahan Bangunan

2) Jenis IP-K yaitu semen portland pozzolan yang dapat dipergunakan untuk semua tujuan
pembuatan adukan beton, serta untuk tahan sulfat sedang dan panas hidrasi sedang.
3) Jenis P-U yaitu semen portland pozzolan yang dapat dipergunakan untuk pembuatan beton
dimana tidak disyaratkan kekuatan awal yang tinggi.
4) Jenis P-K yaitu semen portland pozzolan yang dapat dipergunakan untuk pembuatan beton
dimana tidak disyaratkan kekuatan awal yang tinggi, serta untuk tahan sulfat sedang dan panas
hidrasi rendah.
Selain semen portlan pozzolan juga dikenal adanya jenis semen putih. Semen Putih termasuk
pada semen portland, karena memiliki sifat yang sama kecuali dalam hal warna (Purwaningsih,
2006). Warna dari semen putih tergantung dari bahan baku dan proses pembuatannya. Bahan
baku yang digunakan adalah bahan baku yang bebas senyawa besi (Fe2O3), atau < 0.2 % (dari
basis Clinker) dan bebas senyawa minor lain seperti Mangan (Mn 2O3), Chrome (Cr2O3) dan
Vanadium (V2O5), suatu syarat agar produk semen yang dihasilkan benar-benar putih warnanya.
Di Indonesia semen putih diproduksi berdasarkan standar SNI 15-0129-2004.
2.5.6. Perbedaan Produk Semen
a. kehalusan butir butir semen.
b. Komposisi kimia (detail).
c. Perkembangan kekuatan.
d. Jumlah gypsum yang ditambahkan.
2.5.7. Kehalusan
Dengan mengubah kehalusan (fineness) dari semen maka kecepatan hidrasi semen dapat
diubah. Dengan butiran partikel yang semakin halus maka reaksi hidrasi akan semakin cepat,
karena hidrasi dimulai dari permukaan butir. Pada umumnya butir semen Portland berukuran
lebih kecil dari 45 mikron (325 mesh), atau sebesar 320 m/kg, menurut uji kehalusan Blaine.
2.5.8. Kekuatan
Kekuatan (strength) semen diuji dengan menggunakan pasir standar, yaitu pasir kuarsa dari
Bangka (dengan kadar SiO2 minimal 95% dan diameter 1.2 0.6 mm 8 bagian berat dan 0.6
0.42 mm 1 bagian berat). Dibentuk benda uji dengan ukuran 5 x 5 x 5 cm dan diuji kuat
tekannya.
2.5.9. Cara Menyimpan Semen
Semen harus tetap kering. Udara yang lembab bisa menimbulkan bahaya yang sama dengan
bilamana semen terkena air. Semen disimpan secara kedap udara dapat bertahan untuk waktu
yang sangat lama. Dalam silo (ruang atau menara penyimpan yang kedap udara) dapat
bertahan hingga 3 bulan. Namun untuk semen yang dibungkus dalam sak kertas berlapis 3
lembar dalam kondisi baik, masih dapat berkurang kekuatannya ( 20%) setelah 4 hingga 6
minggu. Pengurangan ini disebut ignition loss atau kehilangan daya hidrasi.
Semen dalam kantung (sak) harus disimpan di dalam gudang. Jangan diterima jika kantong
sudah sobek atau terlihat lembab, sebab bisa terjadi pengikatan udara (air set). Tolak juga
bila terdapat bongkahan bongkahan semen yang sulit dipecah dengan tangan. Lantai gudang
harus kering dan kedap air. Jika lantai tidak kering maka buatlah lantai dari papan yang
diletakkan di atas batu bata atau balok kayu, sehingga kantong semen tidak langsung
bersinggungan dengan tanah. Tumpukan semen tidak boleh menempel pada dinding dan

22
FM 1-7.1.0-1-41 ed.A rev.2

BAHAN AJAR
Kurikulum
Jurusan : Teknik Sipil 2010
PNK Program Studi : D3 & D4
Matakuliah : Bahan Bangunan

jangan menumpuk lebih dari 8 atau 10 susun. Sebaiknya diberi penutup dari lembaran plastik.
Perlu diperhatikan urutan penumpukan. Pakailah terlebih dahulu semen yang masuk dalam
tumpukan paling awal.
Menyimpan semen dalam silo yang porTabel lebih baik karena lebih murah, lebih praktis karena
tidak perlu membuka kantong, lebih hemat karena tidak ada kemungkinan semen terbuang
karena kantong pecah dan semen lebih terlindung di dalam silo. Bila semen disimpan dalam silo
lebih dari 6 bulan maka akan terbentuk lapisan keras setebal 5 cm di atas permukaan. Lapisan
ini harus dibuang dan jangan tercampur ke dalam beton.

Soal Latihan :

1. Jelaskan pengertian bahan perekat hidrolis dan non hidrolis serta berikan contohnya masing-masing !
2. Jelaskan sejarah perkembangan teknologi semen secara singkat !
3. Jelaskan secara singkat proses produksi semen di pabrik !
4. Sebutkan komponen senyawa utama dari semen dan jelaskan peranannya masing masing !
5. Jelaskan perbedaan antara semen tipe 1, 2, 3, 4 dan 5 !
6. Sebutkan komponen apa dari semen yang berperan dalam menentukan kekuatan awal semen !
7. Sebutkan komponen apa dari semen yang berperan dalam menentukan kekuatan awal semen !
8. Apabila akan dibangun konstruksi di lingkungan air laut atau limbah, jenis semen apa yang harus
digunakan ?
9. Apa pengaruhnya terhadap berat jenis, kuat tekan dan kuat tarik mortar jika nilai faktor air semen
semakin besar ?
10. Dampak apa yang dapat ditimbulkan, apabila semen disimpan di tempat yang lembab ?

Daftar Pustaka
Tjokrodimuljo, K, 2004, Teknologi Beton- Buku Ajar Magister Teknologi Bahan Bangunan,
Fakultas Teknik Sipil Universitas Gadjah Mada, Jogjakarta

23
FM 1-7.1.0-1-41 ed.A rev.2

BAHAN AJAR
Kurikulum
Jurusan : Teknik Sipil 2010
PNK Program Studi : D3 & D4
Matakuliah : Bahan Bangunan

BAB 3
MORTAR

Tujuan Instruksional Khusus : Setelah mengikuti kuliah ini, mahasiswa akan dapat mengetahui
asal mula pemanfaatan bahan mortar, perkembangan bahan mortar, jenis aplikasi mortar,
mengenal tipe tipe mortar sesuai penggunaannya di berbagai jenis konstruksi.
Gambaran umum materi : mortar merupakan bahan bangunan yang telah lama digunakan oleh
manusia, pemanfaatannya sangatlah luas dari pasangan batu sampai dengan batako. Materi
kuliah dimulai dengan definisi mortar, bahan dasar mortar, jenis jenis mortar dan
penggunaannya sampai dengan sifat sifat fisik dan mekanik mortar.
Relevansi Mata Kuliah : Pada bab ini mahasiswa diharapkan menguasai definisi, sifat sifat fisik
dan mekanik mortar dan jenis jenis serta penggunaan mortar dalam berbagai konstruksi.
Dasar dasar pengetahuan tersebut merupakan prasyarat yang harus dikuasai oleh mahasiswa
agar dapat melakukan perancangan pasangan batu, spesi, plesteran dan batako. Ketika
pengetahuan ini diterapkan di lapangan maka mahasiswa mampu merencanakan sekaligus
mengawasi proses pengerjaan konstruksi yang menggunakan mortar sebagai bahan pengikat
agar sesuai spesifikasi yang ditetapkan.

3.1. Pendahuluan
Pasangan tembok dibuat dari batu bata / batako dan mortar dengan atau tanpa grout. Mortar
adalah adukan yang bersifat plastis terbuat dari material semen, pasir dan air, digunakan untuk
mengikat / merekatkan batako menjadi satu kesatuan yang solid. Bangsa mesir kuno
menggunakan material perekat untuk pasangan batu dari bahan gypsum yang dibakar
sedangkan kapur ternyata telah digunakan lebih awal oleh masyarakat yunani sebagai bahan
mortar.
Fungsi utama dari mortar adalah untuk mengikat komponen batu/batu bata/batako pada
pasangan batu menjadi satu kesatuan yang solid. Selain itu mortar juga dapat digunakan untuk
membuat permukaan lantai dan plesteran. Sebagai suatu bahan pengikat/perekat, mortar juga
berperan untuk menentukan karakteristik kekuatan pasangan batu. Aplikasi mortar sebagai
komponen perekat dapat juga diberi sentuhan seni, misalnya dengan memberi variasi warna
dan tekstur.
Mortar adalah campuran dari bahan bahan seperti semen, kapur, pasir dan air. Jika mortar
dibuat dengan bahan kapur, pasir dan air disebut mortar kapur (lime mortar), jika adonan
tersebut ditambahkan semen maka menjadi mortar semen kapur atau mortar semen
sederhana. Pada umumnya, istilah mortar digunakan untuk material yang bersifat/berfungsi
sebagai pengikat, penyambung, pasangan dinding batako, pasangan batu dan pasangan blok
dari beton.
Semen, atau yang lebih dikenal dengan istilah semen Portland adalah suatu material yang
terbuat dari pembakaran campuran bahan kapur, silica, alumina dan oksida besi. Pada
umumnya, semen tipe 1 dan 2 digunakan dalam pembuatan mortar.
Istilah semen masonry merupakan semen hidrolik yang digunakan sebagai campuran dalam
pembuatan mortar untuk konstruksi pasangan batu, yang termasuk dalam istilah semen
masonry adalah semen Portland, semen Portland pozzolan, semen alami, semen slag maupun

24
FM 1-7.1.0-1-41 ed.A rev.2

BAHAN AJAR
Kurikulum
Jurusan : Teknik Sipil 2010
PNK Program Studi : D3 & D4
Matakuliah : Bahan Bangunan

kapur hidrolis disamping itu juga mengandung satu atau lebih bahan seperti kapur padam, batu
kapur, kapur tulis, cangkang calcerous, talc, slag atau lempung. Bahan bahan tersebut
digunakan sebagai bahan mortar dengan atau tanpa penggunaan jenis semen lainnya ataupun
kapur padam. Mutu dan kinerja mortar yang terbuat dari semen Portland adalah lebih baik jika
dibandingkan dengan material semen masonry lainnya. Semen masonry dicampur dengan pasir
dan air untuk membuat mortar agar memenuhi spesifikasi standar.
Bagian terlemah dari konstruksi pasangan batu adalah mortar, sehingga terdapat ungkapan
lebih sedikit mortar akan lebih baik. Fungsi mortar telah dijelaskan di bagian awal. Fungsi
tersebut mencakup dua manfaat utama yaitu sebagai pengikat berbagai bahan dan membentuk
sambungan untuk mendistribusikan beban merata di seluruh permukaan. Lapisan tipis mortar
akan menjadi lebih kuat dibandingkan jika lapisannya lebih tebal disaat menerima gaya tekan.
Bata dan blok batu harus diberi sedikit tekanan ketika akan dirakit menjadi konstruksi dinding
maksudnya agar mortar dapat sempurna mengisi celah dan pori pori sehingga tercapai daya
pengikatan maksimum.
Sebelum mortar mulai mengeras, mortar semen, belum bersifat kohesif atau belum memiliki
sifat mengikat. Mortar tidak akan melekat di permukaan komponen pasangan batu (batako
atau blok). Penambahan sedikit kapur akan membuat mortar semakin mengembang atau
lebih mudah dikerjakan (semakin bersifat plastis).
Catatan : penambahan kapur dalam jumlah terbatas tidak akan mengurangi kekuatan mortar
atau waktu pengerasannya (time of set).

3.2. Kapur dan mortar kapur


Ketika batu kapur (kalsium karbonat CaCO3) dibakar pada suhu sekitar 1650F (900C) di dalam
tungku putar (rotary kiln), maka akan dihasilkan kapur tohor (quicklime - CaO). Perlu diketahui
bahwa kalsium karbonat alami secara alami terbentuk menjadi marbel, kapur dan batu kapur.
Jika kapur tohor disiram dengan sedikit air, produknya disebut hydrated lime (kapur padam).
Mortar kapur merupakan campuran dari kapur padam, pasir dan air.

CaCO3 + pembakaran/panas = CaO + CO2


(batu kapur) (kapur tohor) (Karbon dioksida)
CaO + H2O = Ca(OH)2
(kapur tohor) (kapur padam)

Apabila unsur air dalam kapur padam keluar akibat proses penguapan dan disertai dengan
pengaruh karbon dioksida di lingkungan maka kapur padam tersebut akan terbentuk kembali
menjadi kalsium karbonat atau batu kapur (lime stone).
Ca(OH)2 + CO2 = CaCO3 + H2O
Ketika kapur tohor (BJ 2.3) diberi air, maka material ini akan cepat menyerap air hampir
seperempat dari beratnya. Selama material tersebut masih menyerap air maka akan disertai
dengan peningkatan suhu dan evolusi suhu. Reaksi ini diikuti dengan hancurnya bongkahan
kapur menjadi bagian yang lebih kecil hingga berupa bubuk. Dibutuhkan takaran air sekitar 2,5
3 kali dari volume kapur agar proses pemadaman/slaking menjadi sempurna. Volume bubuk

25
FM 1-7.1.0-1-41 ed.A rev.2

BAHAN AJAR
Kurikulum
Jurusan : Teknik Sipil 2010
PNK Program Studi : D3 & D4
Matakuliah : Bahan Bangunan

yang terbentuk menjadi sekitar 250 350 % dari volume semula. Material ini dikenal dengan
nama kapur padam.
Kapur padam adalah bubuk ringan hasil dari proses hidrasi kapur tohor di dalam tangki besar
pada unit produksi. Dimana prosesnya adalah dengan menambahkan air pada takaran
minimum yang disertai dengan aksi penggilingan dan penyaringan. ASTM mendefinisikan kapur
padam sebagai bubuk kering yang diperoleh dari memberi perlakukan pada kapur tohor untuk
memenuhi daya rekat kimiawi jika dicampur dengan air pada kondisi hidrasi. Secara mendasar
kapur padam terdiri atas kalsium hidroksida atau suatu campuran kalsium hidroksida dan
magnesium oksida atau campuran dari kedua-duanya. Berat jenisnya 2.08 pada keadaan murni.
Kapur padam untuk finishing cocok digunakan untuk aplikasi plesteran dan acian. Dua tipe
kapur padam untuk finishing yang diproduksi adalah Tipe N dan Tipe S.
Tipe N dikenal dengan kapur padam normal dan tipe S adalah kapur padam special, kapur
padam tipe N jumlah oksida tak terhidrasinya tidak terbatas sedangkan tipe S batas
maksimumnya adalah 8 %.
Kapur padam pasangan batu dapat digunakan untuk pekerjaan pasangan, dibagi dalam 4 tipe
yaitu Tipe N, S, NA dan SA.
Tipe N adalah kapur padam normal, tipe S kapur padam special, tipe NA kapur padam air
entraining dan tipe SA kapur padam air entraining special. Tipe N dan NA tidak memiliki batasan
pada oksida tak terhidrasi. Sedangkan tipe S dan SA dibatasi 8%. Disamping itu, tipe S dan SA
dikenal dari kemampuannya dalam menaikkan daya plastis awal dan bersifat menyerap air yang
tinggi.

3.3. Mortar untuk pasangan batu


Terdapat 4 tipe mortar yang simbolnya diadaptasi dari asal kata MaSoNwOrk :
Tipe M, Tipe S, Tipe N dan Tipe O. Semua tipe mortar ini merupakan campuran dari bahan
bahan seperti semen, kapur padam, pasir dan air. Tipe M memiliki takaran kapur padam lebih
sedikit, sedangkan tipe O sebaliknya yaitu dengan takaran kapur padam yang paling banyak.
Mortar dapat diidentifikasi dari dua spesifikasi alternative yaitu spesifikasi proporsi bahan
penyusun dan spesifikasi sifat sifatnya. Pada spesifikasi proporsi bahan penyusun, salah satu
dari keempat tipe mortar tadi harus memenuhi spesifikasi seperti yang disyaratkan pada Tabel
3.1. Spesifikasi ini membatasi jumlah maksimum takaran material penyusun berdasarkan
ukuran volume. Tidak ada batasan dalam takaran air dan jumlahnya harus disesuaikan dengan
kebutuhan pada pekerjaan. Takaran agregat 2.75 sampai 3 kali dari volume terpisah semen
yang digunakan. Misalnya untuk mortar tipe S, dengan penggunaan volume kapurnya setengah
dari volume semen, volume pasir 3 4.5 kali volume semen.
Sedangkan mortar yang berdasarkan spesifikasi sifat sifatnya adalah terbuat dari adukan
semen, kapur, pasir dan air untuk memenuhi spesifikasi kekuatan pada Tabel 3.2. mortar yang
memenuhi spesifikasi ini harus menjalani pengujian di laboratorium untuk menentukan kuat
tekan, serapan air dan kadar air. Kuat tekan biasanya ditentukan dengan membuat kubus
berukuran 5 cm dan kuat tekannya diuji setelah kubus tersebut direndam di dalam air selama
28 hari. Tidak ada spesifikasi untuk takaran bahan penyusun, tetapi disarankan penggunaan
pasir sekitar 2,25 sampai 3.5 kali dari volume bersih material semen yang digunakan. Pengujian
sifat sifat mortar tersebut dibutuhkan terutama untuk mengenali karakteristik mortar.

26
FM 1-7.1.0-1-41 ed.A rev.2

BAHAN AJAR
Kurikulum
Jurusan : Teknik Sipil 2010
PNK Program Studi : D3 & D4
Matakuliah : Bahan Bangunan

Tabel 3.1. Spesifikasi kebutuhan proporsi bahan penyusun mortar untuk pasangan batu
(ASTM C270)
Proporsi volume (material cementitious)
Kadar agregat
PC atau Semen masonry Kapur padam
Mortar Tipe (diukur pada kondisi
Semen (tipe) atau kapur
damp loose)
blended M S N dempul
Kapur M 1 - - - Tidak kurang dari 2
semen S 1 - - - - dan tidak lebih dari
N 1 - - - - 1 3 kali volume
O 1 - - - 1 - 2 terpisah dari
Semen M 1 - - 1 - material
masonry M - 1 - - - cementitious
S - - 1 -
S - - 1 - -
N - - - 1 -
O - - - 1 -

Tabel 3.2. spesifikasi sifat sifat mortar untuk pasangan batu


Kadar agregat
Kuat tekan
Serapan air Kadar air (diukur pada
Mortar Tipe minimum pada 28
(min. %) (max.%) kondisi damp
hari [psi(MPa)]
loose)
Kapur semen M 2500 (17.2) 75 12 Tidak kurang
S 1800 (12.4) 75 12 dari 2 dan
N 750 (5.2) 75 12-14 tidak lebih dari
O 350 (2.4) 75 12-14 3 kali volume
Semen masonry M 2500 (17.2) 75 18 - tanpa batas terpisah dari
S 1800 (12.4) 75 18 - tanpa batas material
N 750 (5.2) 75 18 - tanpa batas cementitious
O 350 (2.4) 75 18 - tanpa batas

3.4. Adukan dan sifat sifat mortar


Adukan mortar dapat dilakukan dengan tangan ataupun mesin mix tipe paddle. Adukan manual
dengan tangan biasanya hanya untuk jumlah adonan yang tidak banyak. Caranya adalah bahan2
kering (semen, pasir) diaduk dengan sekop secara merata (sampai warnanya homogen).
Kemudian ditambahkan air sekitar 2/3 bagian dan aduk lagi sampai adonan terlihat merata
basahnya. Penambahan air dilakukan apabila kekentalan adukan dirasa belum cukup.
Mortar ready mix terbuat dari bahan bahan material sementit (semen, kapur dll), pasir dan air
(dengan atau tanpa penambahan bahan admixture untuk mengendalikan waktu pengikatan)
yang mana campuran bahan bahan tersebut ditakar dan diaduk dalam bathcing plant yang
kemudian dibawa ke lokasi konstruksi untuk digunakan dengan durasi aplikasi sampai dengan
2,5 jam.
Prosedur pengadukan mortar dengan mixer tipe paddle adalah sebagai berikut :
1. Tuangkan air
2. Masukkan semen ke dalam mixer
3. Putar mixer dengan kecepatan rendah selama 30 detik
4. Tambahkan kapur dan pasir ketika mixer sedang berputar

27
FM 1-7.1.0-1-41 ed.A rev.2

BAHAN AJAR
Kurikulum
Jurusan : Teknik Sipil 2010
PNK Program Studi : D3 & D4
Matakuliah : Bahan Bangunan

5. Aduk lagi dengan kecepatan sedang selama 30 detik


6. Lalu diamkan adonan selama 1,5 menit
7. Kemudian putar lagi mixer selama 1 menit pada kecepatan sedang dan tuang mortar ke
dalam pan/ember

3.5. Pengaruh dari proporsi campuran


Kinerja mortar bergantung pada proporsi campuran, selain itu juga dipengaruhi oleh berbagai
sifat mortar diantaranya kelecakan (workability), serapan air, kekuatan pengikatan, kuat tekan
dan ketahanan (durability). Pemilihan suatu jenis mortar harus didasarkan pada pertimbangan
pada sifat sifat yang sudah disebutkan terdahulu, jenis pasangan konstruksi pasangan batu
dan peraturan yang dapat dilaksanakan.
Material semen portland berkontribusi dalam kekuatan awal, kuat tekan dan ketahanan mortar
sedangkan kapur padam memberikan sifat plastis, kelecakan, serapan air dan karakteristik
mereduksi susut. Sifat penyerapan air dipengaruhi oleh sifat mortar yang dapat menyimpan air
dalam waktu yang lama, yang dapat menghalangi penyerapan dari pori pori kosong dari
batako/batu bata. Disamping itu kapur padam dapat meningkatkan kekuatan ikat/rekat,
mengurangi permeability dan memudahkan mortar untuk diratakan dan dihaluskan pada
permukaan batu/batu bata. Perataan permukaan mortar yang dicampur kapur padam akan
lebih mudah karena kapur dapat memperlambat waktu setting. Pasir berperan sebagai bahan
pengisi (filler) dan mengurangi deformasi susut dan air dibutuhkan untuk menjaga plastisitas
air.
Pasir yang dipakai untuk campuran mortar dapat berasal dari pasir alam dan buatan (hasil
pemecahan dari batu, kerikil ataupun slag). Pasir buatan memiliki karakter yakni dari bentuk
partikelnya yang angular dan tekstur kasar sehingga berpengaruh terhadap workability mortar.
Baik pasir alam maupun pasir buatan harus memenuhi syarat gradasi seperti pada Tabel 3.3.
Pasir yang digunakan untuk beton tidak dapat dipakai dalam pembuatan mortar karena
memiliki ukuran partikel maksimum lebih besar jika dibandingkan dengan yang diijinkan untuk
campuran mortar dan ukuran partikel yang lebih kecil terdapat dalam adukan. Secara umum
mortar harus cukup basah tetapi tetap memiliki kekakuan agar cukup kuat mendukung batu
bata/batu.
Tabel 3.3. spesifikasi standar gradasi pasir untuk mortar pasangan batu

Persen lolos
Ukuran ayakan [No.(mm)]
Pasir alam Pasir buatan
4 (4.75) 100 100
8 (3.36) 95-100 95-100
16 (1.18) 70-100 70-100
30 (600 m) 40-75 40-75
50 (300 m) 10-35 20-40
100 (150 m) 2-15 10-25
200 (75 m) - 0-10

28
FM 1-7.1.0-1-41 ed.A rev.2

BAHAN AJAR
Kurikulum
Jurusan : Teknik Sipil 2010
PNK Program Studi : D3 & D4
Matakuliah : Bahan Bangunan

3.6. Sifat sifat mortar


Seperti yang didiskusikan terdahulu, fungsi utama mortar adalah sebagai material pengikat
batu/batu bata menjadi satu kesatuan yang kompak. Atau tepatnya sebagai perekat dan
penutup celah. Oleh sebab itu mortar harus memiliki kemampuan untuk membentuk material
baru yang solid, kuat dan ikatan yang kuat dengan komponen batu atau tulangan. Kemampuan
untuk mengikat komponen batu/batako ditentukan oleh kuat rekat tarik mortar, yang berkaitan
dengan gaya untuk memisahkan komponen komponen pasangan batu.
Penting untuk diingat bahwa meskipun beton dan mortar dibuat dengan menggunakan bahan
bahan yang sama (masing masing dengan atau tanpa agregat kasar untuk beton dan mortar),
keduanya tidak sama dalam pengertian dan fungsi penggunaannya. Apa yang baik untuk beton
belum tentu baik untuk mortar. Peningkatan kekuatan tekan merupakan tujuan utama dalam
beton, dan tidak dibarengi dengan peningkatan kuat tarik rekat, yang mana hal tersebut
menjadi karakteristik utama dari mortar. Sifat penting lain dari mortar adalah workability,
penyerapan air, kuat tekan, kuat tarik dan ketahanan terhadap suhu pembekuan.
Kuat tekan dari mortar ditentukan oleh jumlah semen dalam campuran. Kuat geser dan kuat
lentur pasangan batu bergantung pada kuat rekat mortar dan secara tidak langsung ditentukan
oleh kuat tekan. Seperti yang telah dijelaskan, penggunaan kapur padam meningkatkan kuat
rekat pasangan batu dan juga mempengaruhi kuat geser dan lenturnya. Penambahan kadar
kapur sampai 100 % dapat meningkatkan kuat geser dan lentur sampai 100 %. Perlu dicatat
bahwa tidak ada peraturan yang memuat kuat rekat tarik minimum, meskipun ada klasifikasi
mortar berdasarkan kuat tekannya yang tercakup dalam spesifikasi sifat sifat mortar.
Mortar tipe M dan S memiliki kuat tekan yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan tipe N atau
O. Pasangan batu yang biasanya menerima pembebanan tekan yang tinggi, gaya lateral dari
beban angin, gaya gempa atau tanah, harus menggunakan mortar tipe M. Struktur bawah atau
yang berhubungan dengan tanah dengan aksi pembekuan juga menggunakan mortar tipe M.
Pada umumnya, mortar tipe M atau S dapat digunakan untuk bidang dinding eksterior, baik itu
letaknya di atas atau di dalam tanah, seperti dinding pondasi, tembok penahan, manhole,
saluran air, perkerasan jalan, jalan setapak dan emperan. Untuk tembok eksterior yang letaknya
di atas tanah, seperti dinding pemikul beban maupun yang tidak memikul beban dan dinding
parapet, mortar tipe N, S atau M dapat digunakan. Untuk konstruksi interior misalnya dinding
partisi sebagai pemikul beban dan yang tidak memikul beban, semua jenis mortar dapat
digunakan. Bagi kawasan rawan gempa mortar tipe N atau O tidak direkomendasikan.
Suatu material mortar dianggap dapat dikerjakan (workable) jika mudah untuk diaplikasikan
dan mempengaruhi kemampuan untuk merekatkan komponen pasangan batu dengan segera
setelah diaplikasikan. Workability dipengaruhi oleh serapan air, adukan, aliran dan karakteristik
agregat. Serapan air diukur dari kecepatan air menyerap masuk ke dalam komponen pasangan
batu (batu.batako). Hal tersebut dipengaruhi juga dari gradasi agregat, sifat sifat semen dan
kapur serta kadar air.

29
FM 1-7.1.0-1-41 ed.A rev.2

BAHAN AJAR
Kurikulum
Jurusan : Teknik Sipil 2010
PNK Program Studi : D3 & D4
Matakuliah : Bahan Bangunan

Soal Latihan :
1. Jelaskan apa yang dimaksud dengan mortar !
2. Apa perbedaan mendasar penggunaan bahan pasir pada mortar dan beton ?
3. Sebutkan macam-macam mortar berdasarkan penggunaannya pada konstruksi yang anda ketahui !
4. Jelaskan kelebihan penggunaan kapur padam pada mortar !
5. Jelaskan sifat sifat mortar !
6. Jelaskan jenis pengujian laboratorium untuk mengetahui kuat tekan, kuat tarik, serapan air dan
workability mortar !
7. Jelaskan perilaku / sifat mortar pada kondisi sebelum dan sesudah mengeras !

Daftar Pustaka
Tjokrodimuljo, K, 2004, Teknologi Beton- Buku Ajar Magister Teknologi Bahan Bangunan,
Fakultas Teknik Sipil Universitas Gadjah Mada, Jogjakarta

30
FM 1-7.1.0-1-41 ed.A rev.2

BAHAN AJAR
Kurikulum
Jurusan : Teknik Sipil 2010
PNK Program Studi : D3 & D4
Matakuliah : Bahan Bangunan

BAB 4
KERAMIK

Tujuan Instruksional Khusus : Setelah mengikuti kuliah ini, mahasiswa akan dapat mengetahui
asal mula ditemukannya teknologi pengolahan tanah liat menjadi bahan keramik,
perkembangan teknologi pengolahan keramik, proses pembuatan keramik, mengenal tipe
tipe keramik sesuai penggunaannya di berbagai bidang.
Gambaran umum materi : keramik merupakan bahan yang berasal dari tanah liat yang dibakar
pada suhu tertentu, penggunaan keramik sangatlah luas dari peralatan listrik, medis sampai
dengan elemen bangunan. Materi kuliah dimulai dengan definisi keramik dan sejarahnya.
Proses pembuatan keramik, kelebihan bahan keramik, serta jenis jenis keramik berdasarkan
proses pembuatan dan aplikasinya di berbagai bidang.
Relevansi Mata Kuliah : Pada bab ini mahasiswa diharapkan memahami definisi, sejarah serta
sifat sifat fisik dan mekanik keramik dan penggunaannya dalam berbagai bidang. Dasar dasar
pengetahuan tersebut merupakan prasyarat yang harus dikuasai oleh mahasiswa agar dapat
mengenal jenis jenis bahan keramik serta permasalahannya dalam aplikasi sebagai elemen
bangunan. Ketika pengetahuan ini diterapkan di lapangan maka mahasiswa mampu
merencanakan sekaligus mengawasi proses pengerjaan konstruksi yang melibatkan keramik
sebagai bahan bangunan.

4.1 Sejarah Singkat Keramik


Keramik pertama kali ditemukan secara tidak sengaja oleh bangsa Mesir 400 SM,
dimana keramik diperuntukkan hanya bagi bangunan makam raja dan para bangsawan yang
sarat dengan simbol keagamaan dan kekuasaan. Seiring dengan perkembangan jaman, keramik
banyak digunakan sebagai elemen dekoratif pada kulit bangunan.
Model keramik yang pertama dengan warna menyerupai tembaga serta keramik
tatahan berwarna diketahui berasal dari Mesir dan Babylonia. Sementara itu, Cina dikenal
dengan keramik putih dengan teknik pembakaran yang lama. Lain lagi dengan Persia, bangsa ini
dikenal dengan keramik biru hijau dan keramik berbentuk mozaik yang digunakan sebagai
hiasan dinding pada mesjid mesjid dan berbagai upacara keagamaan yang lainnya.
Sebagian besar teknik keramik yang dikenal di Eropa dari Persia. Teknik mozaik pertama
kali ditemukan saat beberapa keramik dari tanah liat yang berukuran kecil dilekatkan ke dalam
cetakan semen yang dipasang untuk menutupi bagian dinding.
Bangsa Belanda mempunyai kisah yang berbeda, walaupun tidak menyumbangkan
teknik baru bagi perkembangan dunia keramik dengan motif motif keramiknya yang khas.
Perbedaan yang signifikan masalah keramik Eropa dengan Belanda adalah, di Eropa keramik
hanya diperuntukan bagi golongan tertentu kaum bangsawan dan aristocrat yang
berkedudukan tinggi. Sedangkan di Belanda keramik justru sangat popular di kalangan
masyarakat menengah yang bekerja di pabrik. Sementara itu, bangsa Viktoria memperbaharui
pembuatan keramik dengan mengadaptasi beberapa bentuk teknik modern untuk keramik.

31
FM 1-7.1.0-1-41 ed.A rev.2

BAHAN AJAR
Kurikulum
Jurusan : Teknik Sipil 2010
PNK Program Studi : D3 & D4
Matakuliah : Bahan Bangunan

4.2 Komposit Keramik


Keramik adalah bahan padat anorganik yang bukan logam. Barang yang terbuat dari
keramik seperti : keramik Cina, porselen, gelas, refraktori (bahan tahan api), bahan keperluan
kehidupan sehari hari. Bahan dasar penyusun keramik adalah kerak bumi, seperti : SiO2, Al2O3,
CaO, MgO, K2O, Na2O.
SiO2, Al2O3, atau MgO masing masing dapat dipakai sebagai bahan keramik itu sendiri,
sedangkan bahan lainnya terdiri dari campuran silikat tunggal atau campuran dari berbagai
silikat. Bahan baku keramik cina dan porselen adalah tanah liat yaitu kaolin, serisit, serta silikat
yaitu kuarsa, felspar dan bahan lainnya yang diaduk dicetak dibakar sehingga menjadi suatu
produk keramik.
Pada perkembangan terkahir ini, keramik dengan sifat sifat khasnya yang baru telah
dibuat dengan menggunakan bahan tiruan yang sangat murni dan dengan proses pembuatan
yang sangat terkendali. Produk tersebut dinamakan keramik halus atau keramik baru, yang
memiliki sifat sifat khas fungsional dalam elektromagnetik, mekanik, optic, termal, biokimia
dan sifat lainnya.
Komposit keramik terbentuk dari suatu matriks yang ditambahkan serat. Ciri ciri positif
keramik adalah saling digabungkan, cocok untuk penerapan tertentu. Komposit keramik
mempunyai keliatan yang lebih besar dari keramik biasa, walaupun cara produksinya lebih

32
FM 1-7.1.0-1-41 ed.A rev.2

BAHAN AJAR
Kurikulum
Jurusan : Teknik Sipil 2010
PNK Program Studi : D3 & D4
Matakuliah : Bahan Bangunan

rumit. Secara umum proses pembuatan komposit keramik masih sulit dan mahal, maka
penerapannya masih terbatas pada bidang kedirgantaraan ataupun pada peralatan kedokteran.
4.3. Keramik Untuk Bangunan
Keramik adalah salah satu bahan masa depan, dapat dibedakan menjadi dua kelompok
yaitu keramik structural dan keramik elektronik/elektroteknik (fungsional). Biokeramik juga
dapat tergolong sebagai struktural dan atau fungsional. Sedangkan pengertian keramik yang
lebih luas dan umum adalah semua benda-benda yang terbuat dari tanah liat/lempung yang
mengalami suatu proses pengerasan dengan pembakaran suhu tinggi.
Pada keramik struktural di dalamnya termasuk nitride, karbida, alumunium
oksida/alumina. Zirconium/zirkonia yang disebut juga termomekanis karena tahan kejutan
termal dan mekanis selain ciri khas lainnya.
Rancangan rancangan bangunan akan tampak lebih luwes, indah dan kuat jika
berlapiskan keramik. Keramik dapat memperlihatkan hasil kerja yang baik untuk dijadikan
bahan konstruksi yang unggul, karena :
1. Tahan terhadap variasi suhu sampai dengan suhu yang cukup tinggi karena porositasnya
yang terkendali,
2. Tahan terhadap bahan kimia (chloride, sulfat),
3. Tahan keausan mekanis,
4. Mempunyai daya kompresi dan tensil yang baik.
Pemakaian keramik pada dunia konstruksi masih dituntut suatu perkembangan lebih
lanjut berkaitan dengan bahan keramik untuk konstruksi, pemrosesan (pada suhu rendah),
perbaikan sifat mekanis dan dampak terhadap lingkungan.
4.4. Proses Pembuatan Keramik dan Pengolahan
Keramik terbuat dari tanah liat atau lempung yang mudah didapat dengan unsur atau
senyawa yang terkandung di dalamnya. Dengan bahan alami juga mudah dibentuk jika
kondisinya dalam keadaan lembab. Dalam proses pembakaran tersebut, tanah liat diberi glasir
sehingga akan menghasilkan keramik dengan permukaan yang cukup kuat. Alat yang dipakai
untuk pembakaran keramik adalah oven atau tungku dengan bahan bakar kayu kering, gas,
listrik atau bahkan dengan biji zaitun. Perbedaan tinggi rendah suhu api pembakaran akan
mempengaruhi hasil akhir atau efek kekerasan keramik.
Untuk saat ini, pembakaran keramik sudah dilakukan dengan mesin, walaupun di
beberapa daerah masih membuat keramik dengan cara tradisional dicetak dan dibakar secara
manual. Ditinjau dari segi hasil, keramik yang dibuat secara manual tidak dapat dijaga
konsistensi kualitasnya. Sementara keramik yang dihasilkan pabrik lebih terjaga secara kualitas.
Proses pembuatan keramik secara manual serupa dengan pembuatan genteng dari tanah liat.
4.5. Penggolongan Bahan Keramik
Bahan keramik dapat digolongkan atas keramik kasar, keramik halus, keramik pelapis,
serta porselen (tembikar putih).
4.5.1. Keramik Kasar (Gerabah, earthenware)
Keramik Kasar terbuat dari tanah liat (pasir kuarsa, tanah pekat, silb termasuk jenis abu
tertentu) yang dibakar pada suhu antara 1000C 1400C. Keramik jenis ini struktur dan
teksturnya sangat rapuh, kasar dan masih berpori. Agar supaya kedap air, gerabah kasar harus

33
FM 1-7.1.0-1-41 ed.A rev.2

BAHAN AJAR
Kurikulum
Jurusan : Teknik Sipil 2010
PNK Program Studi : D3 & D4
Matakuliah : Bahan Bangunan

dilapisi glasir, semen atau bahan pelapis lainnya. Gerabah termasuk keramik berkualitas rendah
apabila dibandingkan dengan keramik batu (stoneware) atau porselin. Bata, genteng, paso, pot,
anglo, kendi, gentong dan sebagainya termasuk keramik jenis gerabah. Genteng telah banyak
dibuat berglasir dengan warna yang menarik sehingga menambah kekuatannya.
Kegunaan keramik kasar dalam pembangunan dapat berupa :
Pipa keramik kasar.
Bata klinker.
Ubin tanah liat.
Genting tanah liat.
4.5.2 Keramik Halus (pembakaran tunggal)
Terbuat dari tanah liat yang halus dengan campuran jerami yang digiling (tembikar
merah) atau dengan tambahan kaolin, kuarsa, feldsfar, atau bubuk magnesium silica yang
dibakar pada suhu 1260C 1330C. Keramik jenis ini mempunyai struktur dan tekstur halus
dan kokoh, kuat dan berat seperti batu. Keramik jenis termasuk kualitas golongan menengah.
Kegunaan keramik halus dalam pembangunan berupa perlengkapan perlengkapan saniter.
4.5.3 Keramik Pelapis (fayence)
Keramik fayence dari tanah liat pekat putih yang halus sekali dan yang mengandung
kaolin, feldspar, kuarsa atau bubuk magnesium silica sehingga warnanya menjadi putih.
Setelah dicetak/dibentuk keramik fayence dikeringkan dan dilapisi glasir (tembikar) yang
mengandung banyak timah oksid dan selama tembikar masih basah dilakukan proses
pewarnaan, kemudian dibakar pada suhu 1100C (dengan pembakaran ganda). keramik yang
secara teknis, diproses untuk keperluan teknologi tinggi seperti peralatan mobil, listrik,
konstruksi, komputer, cerobong pesawat, kristal optik, keramik metal, keramik multi lapis,
keramik multi fungsi, komposit keramik, silikon, bioceramic, dan keramik magnit. Sifat khas dari
material keramik jenis ini disesuaikan dengan keperluan yang bersifat teknis seperti tahan
benturan, tahan gesek, tahan panas, tahan karat, tahan suhu kejut seperti isolator, bahan
pelapis dan komponen teknis lainnya.
4.5.4. Porcelain
Jenis keramik bakaran suhu tinggi yang dibuat dari bahan lempung murni yang tahan
api, seperti kaolin, alumina dan silika. Oleh karena badan porselin jenis ini berwarna putih
bahkan bisa tembus cahaya, maka sering disebut keramik putih. Pada umumnya, porselin
dipijar sampai suhu 1350C atau 1400C, bahkan ada yang lebih tinggi lagi hingga mencapai
1500C. Porselin yang tampaknya tipis dan rapuh sebenarnya mempunyai kekuatan karena
struktur dan teksturnya rapat serta keras seperti gelas. Oleh karena keramik ini dibakar pada
suhu tinggi maka dalam bodi porselin terjadi penggelasan atau vitrifikasi. Secara teknis keramik
jenis ini mempunyai kualitas tinggi dan bagus, disamping mempunyai daya tarik tersendiri
karena keindahan dan kelembutan khas porselin. Juga bahannya sangat peka dan cemerlang
terhadap warna-warna glasir.
4.6. Peralatan Dan Bahan
Badan keramik adalah bagian utama dalam pembuatan keramik dan bahan utamanya
biasa disebut dengan Badan keramik adalah bagian utama dalam pembuatan keramik dan
bahan utamanya biasa disebut dengan bahan mentah keramik. Contoh bahan mentah keramik
alam seperti kaolin, lempung, felspar, kuarsa, pyrophillit dan sebagainya.

34
FM 1-7.1.0-1-41 ed.A rev.2

BAHAN AJAR
Kurikulum
Jurusan : Teknik Sipil 2010
PNK Program Studi : D3 & D4
Matakuliah : Bahan Bangunan

Sedangkan bahan keramik buatan seperti mullit, SiC, Borida, Nitrida, H3BO3 dan
sebagainya.han mentah keramik.
Contoh bahan mentah keramik alam seperti kaolin, lempung, felspar, kuarsa, pyrophillit
dan sebagainya. Sedangkan bahan keramik buatan seperti mullit, SiC, Borida, Nitrida, H3BO3
dan sebagainya.

Gambar 2.1 . Bahan Mentah dan Bahan Glasir

Bahan mentah keramik digolongkan menjadi 5 (lima) yaitu :


1. Bahan Pengikat Contoh : kaolin, ball clay, fire clay, red clay
2. Bahan Pelebur Contoh : felspar, kapur
3. Bahan Pengisi Contoh : silika, grog (samot)
4. Bahan Tambahan Contoh : water glass, talk, pyrophillit
5. Bahan Mentah Glasir. (Bahan yang membuat lapisan gelas pada permukaan benda
keramik setelah melalui proses pembakaran pada suhu tertentu),

Cara Pembuatan
Ada beberapan cara atau teknik pembuatan keramik, yaitu :
1. Teknik coil (lilit pilin)
2. Teknik tatap batu/pijat jari
3. Teknik slab (lempengan)
Cara pembentukan dengan tangan langsung seperti coil, lempengan atau pijat jari
merupakan teknik pembentukan keramik tradisional yang bebas untuk membuat
bentuk-bentuk yang diinginkan. Bentuknya tidak selalu simetris. Teknik ini sering dipakai
oleh seniman atau para penggemar keramik.
4. Teknik putar
Teknik pembentukan dengan alat putar dapat menghasilkan banyak bentuk yang
simetris (bulat, silindris) dan bervariasi. Cara pembentukan dengan teknik putar ini
sering dipakai oleh para pengrajin di sentra-sentara keramik. Pengrajin keramik
tradisional biasanya menggunakan alat putar tangan (hand wheel) atau alat putar kaki
(kick wheel). Para pengrajin bekerja di atas alat putar dan menghasilkan bentuk-bentuk
yang sama seperti gentong, guci dll
5. Teknik cetak
Teknik pembentukan dengan cetak dapat memproduksi barang dengan jumlah yang

35
FM 1-7.1.0-1-41 ed.A rev.2

BAHAN AJAR
Kurikulum
Jurusan : Teknik Sipil 2010
PNK Program Studi : D3 & D4
Matakuliah : Bahan Bangunan

banyak dalam waktu relatif singkat dengan bentuk dan ukuran yang sama pula. Bahan
cetakan yang biasa dipakai adalah berupa gips, seperti untuk cetakan berongga, cetakan
padat, cetakan jigger maupun cetakan untuk dekorasi tempel. Cara ini digunakan pada
pabrik-pabrik keramik dengan produksi massal, seperti alat alat rumah tangga piring,
cangkir, mangkok gelas dll
Disamping cara-cara pembentukan diatas, para pengrajin keramik tradisonal dapat
membentuk keramik dengan teknik cetak pres, seperti yang dilakukan pengrajin
genteng, tegel dinding maupun hiasan dinding dengan berbagai motif seperti binatang
atau tumbuh-tumbuhan
4.7. Sifat Sifat Bahan Keramik
4.7.1 Sifat Mekanik
Pada umumnya keramik mempunyai sifat yang baik yaitu : keras, kuat dan stabil pada
temperatur tinggi. Tetapi keramik bersifat getas dan mudah patah seperti halnya pada
porselen, ataupun keramik cina.
Kekuatan dan patahan, untuk keperluan perencanaan penting sekali mengetahui kekuatan
patah bahan yang mempunyai retakan retakan kecil. Karena retakan akan menjurus pada
patahan.
Kekuatan dan struktur, faktor yang mempengaruhi struktur keramik dan juga kekuatannya
adalah kehalusan permukaan, volume dan bentuk dari pori, ukuran dan bentuk butir, jenis
dan bentuk fasa batas butir dan cacat yang disebabkan oleh tegangan dalam seperti
tegangan termal.
Kekerasan, adalah ukuran tahanan bahan terhadap deformasi plastis pada permukaan
bahan.
Kekuatan pada temperatur tinggi, keramik mempunyai ketahanan termal dan kestabilan
kimia serta mempunyai kemungkinan pemakaian pada temperatur tinggi sebagai bahan
teknik yang baru, yang tidak dapat dilakukan logam.
4.7.2 Sifat Termal
Semua keramik dibuat melalui pemanasan pada temperatur tinggi dan sejumlah
keramik dimanfaatkan karena sifat termalnya yang unggul, seperti tahan panas, hantaran
panas, ketahanan terhadap kejutan termal.
Sifat termal dasar keramik diantaranya adalah mempunyai :
Titik cair.
Kapasitas panas.
Pemuaian termal.
Konduksi termal.
Tegangan termal dan tahanan kejut termal.
4.7.3 Sifat Listrik dan Magnit
Keramik tidak menghantar listrik secara praktis, berguna sebagai bahan isolasi untuk
waktu yang panjang. Kebanyakan sifat dari bahan yang disebut keramik ditentukan oleh
kelakuan electron yang dimiliki atom atau ion yang membentuk bahan.

36
FM 1-7.1.0-1-41 ed.A rev.2

BAHAN AJAR
Kurikulum
Jurusan : Teknik Sipil 2010
PNK Program Studi : D3 & D4
Matakuliah : Bahan Bangunan

4.7.4. Sifat Sifat Lainnya


Sifat optic, hubungan antara keramik dengan cahaya sangat erat dan telah lama dipakai
pada kaca jendela, peralatan rumah tangga, bidang kesehatan dan lainnya.
Sifat kimia, kestabilan kimia dari permukaan keramik dapat dimanfaatkan secara positif.

4.8. Fungsi Sebagai Bahan Bangunan


Fungsi keramik dalam bahan bangunan dapat dilihat pada tahap finishing, baik sebagai
penutup lantai maupun dinding di dalam ataupun di luar ruang. Setiap jenis keramik memiliki
karakter khusus sebagai bahan pelapis.
Dalam proses kerja konstruksi bangunan, tahap finishing berhubungan dengan berbagai
kegiatan yang dapat memberikan sentuhan akhir. Seperti pemasangan kaca dan elemen
dekoratif. Penggunaan keramik sebagai pelengkap ataupun finishing dari suatu pekerjaan
adalah :

37
FM 1-7.1.0-1-41 ed.A rev.2

BAHAN AJAR
Kurikulum
Jurusan : Teknik Sipil 2010
PNK Program Studi : D3 & D4
Matakuliah : Bahan Bangunan

Sebagai penutup lantai. Adalah fungsi yang paling popular sebagai bahan lapis lantai baik
itu bagian dalam ataupun luar bangunan. Keramik yang digunakan sebagai pelapis/penutup
lantai umumnya memiliki permukaan yang agak kasar dan sedikit bertekstur.
Sebagai penutup dinding. Keuntungan menggunakan keramik sebagai pelapis dinding
adalah dapat memberikan kesan bersih pada dinding dan mudah dalam perawatannya.
Keramik digunakan sebagai pelapis dinding juga dapat dipergunakan di dalam atau di luar
gedung / bangunan.
Sebagai elemen estetika. Pada interior bangunan (rumah) unsur keramik dapat
diaplikasikan kedalam berbagai situasi. Tingkat fleksibilitas keramik pada bangunan (rumah)
yang cukup tinggi, akan mudah dalam mengaplikasikannya ke dalam berbagai bentuk sesuai
dengan perancangan.
Genteng keramik. Suatu unsur bangunan yang berfungsi sebagai penutup atap dan tidak
hancur jika direndam dalam air.
Pipa keramik. Pipa yang terbuat dari tanah liat dan dibakar pada suhu tinggi, sehingga jika
direndam dalam air tidak akan hancur.
Fungsi lain keramik sebagai bahan pelapis permukaan. Yaitu pelapis meja dapur, pelapis
kolam renang, jalan (trotoar, taman), ataupun sebagai hiasan eksterior bangunan asalkan
disesuaikan dengan jenis keramiknya.

4.9. Jenis Pemakaian Keramik


Beberapa jenis keramik sesuai peruntukannya adalah :
1. Keramik untuk di dalam ruang atau interior.
2. Keramik untuk di luar ruang atau eksterior.
Keramik untuk lantai. Adalah jenis keramik yang menahan beban manusia, beban
bergerak dan beban tidak bergerak. Keramik lantai harus kuat dan kokoh dengan
permukaan yang agak kasar. Disain keramik lantai cukup beragam, mulai dari polos
sampai dengan bermotif dengan ukuran dan bentuk yang standar serta sesuai dengan
peraturan yang berlaku. Keramik lantai untuk eksterior, umumnya dipasang pada area
yang menerima beban lebih berat dari ruang dengan beberapa kelebihan yang tidak
dimiliki oleh keramik biasa atau keramik interior. Salah satunya adalah dari segi
ketahanan, keramik eksterior bersifat heavy duty, lebih tebal dan berat.
Keramik untuk dinding. Jenis keramik ini lebih ringan dan lebih tipis jika dibanding
dengan keramik untuk lantai. Dibuat ringan karena keramik dinding tidak menerima
beban dan tekanan seperti lantai. Keramik untuk dinding eksterior biasanya
permukaannya tidak terlalu mengkilat seperti keramik untuk dinding interior.
Keramik untuk area khusus. Dipasang pada ujung tangga, ujung undakan, pertemuan
dinding dengan lantai serta kolom. Pada area tangga atau undakan dapat menimbulkan
resiko yang sangat fatal jika bagian ujungnya tidak diberi stopper. Fungsi stopper ini
adalah untuk menghindarkan kita dari resiko tergelincir, untuk area ini jenis keramik yang
dipakai adalah tipe step nosing dan tipe tile. Selain itu ada keramik yang bentuknya
khusus dipakai untuk pertemuan dinding dan lantai, yaitu skirting yang berfungsi untuk
melindungi bagian bawah dinding dari kotoran dan air.

38
FM 1-7.1.0-1-41 ed.A rev.2

BAHAN AJAR
Kurikulum
Jurusan : Teknik Sipil 2010
PNK Program Studi : D3 & D4
Matakuliah : Bahan Bangunan

4.10. Bentuk Keramik


Beberapa bentuk keramik yang mudah diperoleh adalah :
Bujur sangkar. Adalah salah satu bentuk yang paling fleksibel dan mudah didapatkan serta
mudah dalam pemasangannya.
Persegi panjang. Kelebihan dari keramik berbentuk persegi panjang adalah dalam
pemasangannya yang sangat beragam. Seperti pola grid, diagonal, herringbone (tulang ikan)
ataupun basket weave (pola keranjang).
Bundar. Untuk mendapatkannya agak cukup sulit terutama yang berukuran besar. Bentuk ini
jarang dipakai karena pemasangan dan penyusunannya tidak sepraktis keramik berbentuk
bujur sangkar ataupun persegi panjang.
Segi enam. Biasanya dipasang untuk lantai ataupun dinding.
Border atau list. Biasanya berbentuk persegi panjang, dengan ukuran yang beragam yaitu :
1,5 x 33,3 cm ; 3 x 33,3 cm ; 6 x 33,3 cm ; 10 x 33,3 cm ; 3,5 x 25 cm ; 5 x 20 cm ; 6 x 20 cm ;
15 x 40 cm ; 16,5 x 50 cm.

Syarat Keramik Untuk Bangunan


Genteng Keramik. Untuk semua mutu harus memenuhi ukuran ukuran sesuai table di
bawah ini :
Genteng Genteng Genteng
Ukuran kecil sedang besar Keterangan
(mm) (mm) (mm)
Panjang berguna (jarak
reng) 200 250 333

Lebar berguna Penyimpangan


200 200 200
< 6 mm
Jarak penutup memanjang Min. 40
Jarak penutup melintang Min. 50 Min. 67
Min. 40
Min. 40 Min. 40

Kallan :
- tinggi 10 10 10
- panjang 30 30 30
- lebar 10 10 10

Pipa Keramik. Harus dapat menahan muatan uji seperti ditentukan dalam table di bawah ini
(SNI 2002), ukuran pipa uji yang bersangkutan selama 5 menit tanpa memperlihatkan
adanya tanda tanda retak atau cacat lainnya.
Diameter (cm) Muatan uji (kgf)
10 1.200
12,5 1.300
15 1.400
20 1.600
25 1.800
30 2.000

39
FM 1-7.1.0-1-41 ed.A rev.2

BAHAN AJAR
Kurikulum
Jurusan : Teknik Sipil 2010
PNK Program Studi : D3 & D4
Matakuliah : Bahan Bangunan

Ubin Keramik.
Harus memenuhi persyaratan berikut ini,
1. Permukaan ubin keramik tidak boleh menampakan cacat cacat sebagai berikut :
- Ubin keramik berglasir : badan membengkok, gelembung gelembung, retak retak,
glasir lepas lepas, noda berasal dari unsur glasir, permukaan ubin cembung/cekung.
- Ubin keramik tidak berglasir : bahan membengkok, gelembung gelembung, retak
retak, pecah pecah, goresan pada bahan bekas lekatan dengan bahan lain, bahan
melengkung dan noda noda pada permukaan badan.
2. Penyimpangan ukuran ukuran dan toleransi ubin harus memenuhi ketentuan berikut
ini :
ukuran nominal dan toleransi (mm)
Ukuran nominal (mm) Toleransi
160 500
Panjang +8
50 160
Sisi +5
< 50
Tebal 7 - 20 +3

3. Penyerapan air maksimum dari ubin keramik untuk lantai adalah sebagai berikut :
Jenis ubin Tidak berglasir Berglasir
Porselin 1 2
Stoneware 5 5
Gerabah keras 0 15

4. Sisi sisi ubin harus lurus, dikatakan lurus jika penyimpangan sisi sisi dari garis lurus
terbentuk oleh perhubungan dua buah titik sudut yang berturut turut tidak melebihi
ketentuan berikut ini :
kelurusan tepi (mm)

Ukuran nominal sisi -


Porselin Stoneware Gerabah keras
sisi
160 500 3 2.5 2
50 160 2 1.5 1
< 50 2 1.5 1

5. Kuat lentur ubin lantai keramik tidak boleh kurang dari batas yang tercantum seperti berikut
ini :
kuat lentur (kgf/cm2)
Jenis ubin Rata - rata Minimal diizinkan
Porselin 250 200
Stoneware 250 200
Gerabah keras 125 150

40
FM 1-7.1.0-1-41 ed.A rev.2

BAHAN AJAR
Kurikulum
Jurusan : Teknik Sipil 2010
PNK Program Studi : D3 & D4
Matakuliah : Bahan Bangunan

Mozaik Keramik
Penyimpangan ukuran ukuran mozaik keramik harus memenuhi ketentuan berikut ini :
Perbedaan ukuran sisi mozaik
Ukuran sisi (mm) Toleransi terbesar dan terkecil dalam
1 m2 (mm)
> 50 3 2
25 50 2 2
< 25 1 1
Tebal 0.2

Ubin Dinding Keramik Berglasir


Ukuran ukuran nominal dari ukuran sebenarnya yang distandarkan adalah sebagai berikut :
Ukuran sebenarnya boleh
Ukuran sisi nominal (cm) Toleransi
berkisar antara (mm)
7,5 x 7,5 0,3 72 78
11 x 11 0,3 107 113
15 x 15 147 153
12 x 12 217 223

Beberapa macam ukuran keramik yang mudah didapat :


1. Sebagai lantai : 20 x 20 cm, 30 x 30 cm, 40 x 40 cm, 50 x 50 cm, 33,3 x 33,3 cm, 45 x 45
cm, 33,3 x 66,6 cm, 16,5 x 66,6 cm.
2. Untuk dinding : 20 x 20 cm, 20 x 25 cm, 25 x 33,3 cm, 33,5 x 50 cm, 25 x 45 cm, 32,5 x
65,6 cm.
3. Skirting untuk pembatas lantai dengan dinding bawah serta step tile : 33,3 x 33,3 cm.
4. Step nosing : 16,5 x 33,3 cm.
4.11. Masalah Pada Keramik
1. Permukaan keramik tidak terpasang dengan rata
Penyebabnya adalah :
1. proses pemasangan yang tidak rapi
2. permukaan keramik yang tidak rata (melengkung, bergelombang, cembung pada bagian
ujung)
2. Keramik yang sudah terpasang rusak, chipping (gumpil) atau pecah
Penyebabnya adalah :
1. cara pemasangan yang kasar
2. interaksi aktifitas yang berlebihan antara pekerja
3. gumpil biasanya terjadi karena benda tajam dan berat yang jatuh pada permukaan
keramik
4. adanya beban terpusat yang berlebihan pada keramik

41
FM 1-7.1.0-1-41 ed.A rev.2

BAHAN AJAR
Kurikulum
Jurusan : Teknik Sipil 2010
PNK Program Studi : D3 & D4
Matakuliah : Bahan Bangunan

3. Nat kotor
Penyebabnya adalah :
1. penggunaan bahan pembersih keramik yang berlebihan
2. kualitas bahan pengisi nat yang kurang baik
3. nat yang tidak terisi dengan sempurna

4. Keramik lepas dari lapisan dasarnya


Penyebabnya adalah :
1. keramik tidak direndam atau kurang lama merendam sebelum dipasang
2. pasta atau mortar terlalu banyak semen atau terlalu sedikit semen
3. adanya rongga dalam pemasangan
4. mutu campuran lapisan dasar kurang baik
5. adhesive yang terlalu tebal atau tidak rata atau tidak sesuai
5. Bercak yang timbul pada permukaan keramik
Penyebabnya adalah :
1. permukaan keramik terkena bahan kimia
2. perlindungan keramik yang terpasang tidak memadai
3. efflorescence yang berasal dari keramik itu sendiri atau lapisan bawahnya. Atau akibat
keramik yang tidak berglasir.

42
FM 1-7.1.0-1-41 ed.A rev.2

BAHAN AJAR
Kurikulum
Jurusan : Teknik Sipil 2010
PNK Program Studi : D3 & D4
Matakuliah : Bahan Bangunan

BEBERAPA CONTOH
PENGGUNAAN KERAMIK

1. Penggunaan Untuk Eksterior

2. Penggunaan Untuk Interior

43
FM 1-7.1.0-1-41 ed.A rev.2

BAHAN AJAR
Kurikulum
Jurusan : Teknik Sipil 2010
PNK Program Studi : D3 & D4
Matakuliah : Bahan Bangunan

3. Penggunaan Keramik Lainnya

44
FM 1-7.1.0-1-41 ed.A rev.2

BAHAN AJAR
Kurikulum
Jurusan : Teknik Sipil 2010
PNK Program Studi : D3 & D4
Matakuliah : Bahan Bangunan

45
FM 1-7.1.0-1-41 ed.A rev.2

BAHAN AJAR
Kurikulum
Jurusan : Teknik Sipil 2010
PNK Program Studi : D3 & D4
Matakuliah : Bahan Bangunan

Soal Latihan :

1. Jelaskan pengertian keramik !


2. Jelaskan sejarah perkembangan keramik !
3. Sebutkan bahan bahan dasar pembuat keramik !
4. Sebutkan jenis jenis keramik menurut penggunaan, proses pembuatan dan bahan dasar
penyusunnya !
5. Sebutkan aplikasi bahan keramik sebagai elemen bangunan !
6. Jelaskan permasalahan yang sering timbul pada keramik untuk aplikasi bangunan !

Daftar Pustaka
Anonim, Majalah Keramik, Seri Rumah Ide, Edisi 06 I, 2006
Anonym, Majalah Lantai, Serial Lantai, 2006
Frick, H. Koesmartadi, C.H, 1999, Ilmu Bahan Bangunan, Eksploitasi, Pembuatan, Penggunaan dan
Pembuangan, Kanisius, Yogyakarta
J A, Hartono, 1992, Mengenal Keramik Canggih Cerdas dan Biokeramik, Penerbit Andi Offset Yogyakarta

46
FM 1-7.1.0-1-41 ed.A rev.2

BAHAN AJAR
Kurikulum
Jurusan : Teknik Sipil 2010
PNK Program Studi : D3 & D4
Matakuliah : Bahan Bangunan

BAB 5
BETON

Tujuan Instruksional Khusus : Setelah mengikuti kuliah ini, mahasiswa akan dapat mengetahui
asal mula ditemukannya bahan beton, pengertian dan perkembangan bahan beton, proses
pembuatan beton, sampai dengan mengenal tipe tipe beton sesuai penggunaannya di
berbagai jenis konstruksi.
Gambaran umum materi : Beton merupakan bahan bangunan yang telah lama digunakan oleh
manusia. Sebagai salah satu bahan yang mudah pembuatannya dan baik kekuatannya, sehingga
penggunaan beton sangatlah luas. Pengetahuan terhadap proses pembuatan, perawatan.
Relevansi Mata Kuliah : Pada bab ini mahasiswa diharapkan menguasai definisi, sifat sifat fisik
dan kimiawi semen dan penggunaan semen dalam berbagai konstruksi. Dasar dasar
pengetahuan tersebut merupakan prasyarat yang harus dikuasai oleh mahasiswa agar dapat
melakukan pemilihan material dasar penyusun sekaligus merancang campuran beton. Ketika
pengetahuan ini diterapkan di lapangan maka mahasiswa akan memiliki kompetensi dalam
mengawasi proses pengerjaan konstruksi yang melibatkan beton sebagai elemen struktur agar
sesuai spesifikasi yang ditetapkan.

5.1. Relevansi Beton Dalam Kehidupan Manusia


Dalam millennium ketiga ini manusia tidak pernah jauh dari bangunan terbuat dari beton.
Beton adalah materi bangunan yang paling banyak digunakan di bumi ini. Dengan beton
dibangun bendungan, pipa saluran, pondasi dan basement, bangunan gedung pencakar langit
maupun jalan raya.
5.2. Arti Kata
Kata beton dalam bahasa Indonesia berasal dari kata yang sama dalam bahasa Belanda.
Kata concrete dalam bahasa Inggris berasal dari bahasa Latin concretus yang berarti tumbuh
bersama atau menggabungkan menjadi satu. Dalam bahasa Jepang digunakan kata kotau-zai,
yang arti harafiahnya material material seperti tulang; mungkin karena agregat mirip tulang
tulang hewan.
Beton adalah material komposit yang rumit. Beton dapat dibuat dengan mudah bahkan
oleh mereka yang tidak punya pengertian sama sekali tentang teknologi beton, tetapi
pengertian yang salah dari kesederhanaan ini sering menghasilkan persoalan pada produk,
antara lain reputasi jelek dari beton sebagai material bangunan.
Sebagai material komposit, sifat beton sangat tergantung pada sifat unsur masing masing
serta interaksi mereka. Ada 3 sistem umum yang melibatkan semen, yaitu pasta semen, mortar
dan beton.
Semen + Air Pasta Semen
Semen + Air + Agregat halus, misalnya pasir Mortar
Semen + Air + Agregat halus + Agregat kasar, misalnya kerikil Beton
Ketiga system tersebut dapat pula dipandang sebagai model komposit dengan 2 fase, yaitu
fase matriks dan fase terurai. Kadang kala beton masih ditambah lagi dengan bahan kimia

47
FM 1-7.1.0-1-41 ed.A rev.2

BAHAN AJAR
Kurikulum
Jurusan : Teknik Sipil 2010
PNK Program Studi : D3 & D4
Matakuliah : Bahan Bangunan

pembantu (admixture) untuk mengubah sifat sifatnya ketika masih berupa beton segar (fresh
concrete) atau beton keras.
Beton mempunyai kuat tekan yang besar sementara kuat tariknya kecil. Oleh karena itu
untuk struktur bangunan, beton selalu dikombinasikan dengan tulangan baja untuk
memperoleh kinerja yang tinggi. Beton ditambah dengan tulangan baja menjadi beton
bertulang (reinforced concrete) dan jika ditambah lagi dengan baja prategang akan menjadi
beton pra tekan (prestressed concrete).
Reinforced concrete = concrete + reinforced steel
Prestressed concrete = reinforced concrete + prestressed steel
5.3. Presentase Komposisi
Pada beton yang baik, setiap butir agregat seluruhnya terbungkus dengan mortar.
demikian pula halnya dengan ruang antar agregat, harus terisi oleh mortar. jadi kualitas pasta
atau mortar menentukan kualitas beton. Semen adalah unsur kunci dalam beton, meskipun
jumlahnya 7 15 % dari campuran. Beton dengan jumlah semen yang sedikit (sampai 7 %)
disebut beton kurus (lean concrete), sedangkan beton dengan jumlah semen yang banyak
(sampai 15 %) disebut beton gemuk (rich concrete).
Sifat masing masing bahan juga berbeda dalam hal perilaku beton segar maupun pada
saat sudah mengeras, selain faktor biaya yang perlu diperhatikan. Di lain pihak, secara
volumetric beton diisi oleh agregat sebanyak 61 76 %. Jadi agregat juga mempunyai peran
yang sama pentingnya sebagai material pengisi beton.
Sebagai material komposit, keberhasilam penggunaan beton tergantung pada perencanaan
yang baik, pemilihan dan pengadaan masing masing material yang baik, proses penanganan
dan proses produksinya.
5.4. Keunggulan Beton
Dari pemakaiannya yang begitu luas maka dapat diduga sejak dini bahwa struktur beton
mempunyai banyak keunggulan dibanding materi struktur yang lain.
Secara lebih rinci sifatnya demikian :
a. Ketersediaan (availability) material dasar.
Agregat dan air pada umumnya bias didapat dari lokasi setempat. Semen pada
umumnya juga dapat dibuat di daerah setempat, bila tersedia. Dengan demikian, biaya
pembuatan relative lebih murah karena semua bahan bisa didapat di dalam negeri,
bahkan bisa setempat. Bahan termahal adalah semen, yang bisa diproduksi dalam
negeri.
Tidak demikian halnya dengan struktur baja, karena harus dibuat di pabrik, apalagi kalau
masih harus import. Pengangkutan menjadi masalah tersendiri bila proyek berada di
tempat yang sulit untuk dijangkau, sementara beton akan lebih mudah karena masing
masing material bisa diangkut sendiri.
Ada masalah lain dengan struktur kayu, meski problemanya tidak seberat struktur baja,
namun penggunaannya secara massal akan menyebabkan masalah lingkungan, sebagai
salah satu penyebab utama kerusakan hutan.
b. Kemudahan untuk digunakan (versatility)
Pengangkutan bahan mudah, karena masing masing bisa diangkut secara terpisah.

48
FM 1-7.1.0-1-41 ed.A rev.2

BAHAN AJAR
Kurikulum
Jurusan : Teknik Sipil 2010
PNK Program Studi : D3 & D4
Matakuliah : Bahan Bangunan

Beton bisa dipakai untuk berbagai struktur, seperti bendungan, pondasi, jalan, landasan
Bandar udara, pipa, perlindungan dari radiasi, insulator panas. Beton ringan bisa dipakai
untuk blok dan panel. Beton arsitektural bisa untuk keperluan dekoratif.
Beton bertulang bisa dipakai untuk berbagai struktur yang lebih berat, seperti jembatan,
gedung, tendon air, bangunan maritime, instalasi militer dengan beban kejut besar,
landasan pacu pesawat terbang, kapal dan sebagainya.
c. Kemampuan beradaptasi (adaptability)
Beton bersifat monolith sehingga tidak memerlukan sambungan seperti baja.
Beton dapat dicetak dengan bentuk dan ukuran berapapun, misalnya pada struktur
cangkang (shell) maupun bentuk bentuk khusus 3 dimensi.
Beton dapat diproduksi dengan berbagai cara yang disesuaikan dengan situasi sekitar.
Dari cara sederhana yang tidak memerlukan ahli khusus (kecuali beberapa pengawas
yang sudah mempelajari teknologi beton), sampai alat modern di pabrik yang serba
otomatis dan terkomputerisasi. Metode produksi modern memungkinkan industry
beton yang professional.
Konsumsi energy minimal per kapasitas jauh lebih rendah dari baja, bahkan lebih rendah
dari proses pembuatan batu bata.
d. Kebutuhan pemeliharaan yang minimal
Secara umum ketahanan (durability) beton cukup tinggi, lebih tahan karat, sehingga tidak
perlu dicat seperti struktur baja dan lebih tahan terhadap bahaya kebakaran.
5.5. Kelemahan Beton dan Cara Mengatasinya
Di samping segala keunggulan di atas, beton sebagai struktur juga mempunyai beberapa
kelemahan yang perlu dipertimbangkan.
a. Berat beton sendiri yang besar, sekitar 2400 kg/m.
b. Kekuatan tariknya rendah, meskipun kekuatan tekannya besar.
c. Beton cenderung untuk retak, karena semennya hidraulis. Baja tulangan bisa berkarat,
meskipun tidak terekspos separah struktur baja.
d. Kualitasnya sangat tergantung cara pelaksanaannya di lapangan. Beton yang baik maupun
yang buruk dapat terbentuk dari rumus dan campuran yang sama.
e. Struktur beton sulit untuk dipindahkan. Pemakaian kembali atau daur ulang sulit dan tidak
ekonomis. Dalam hal ini struktur baja lebih unggul, misalnya tinggal melepas sambungan
saja.
Meskipun demikian terdapat beberapa cara untuk memperbaikinya sebagai berikut :
a. Untuk elemen structural : membuat beton mutu tinggi, beton pratekan, atau keduanya,
sedangkan untuk elemen non structural dapat memakai beton ringan.
b. Memakai beton bertulang atau beton pratekan.
c. Melakukan perawatan (curing) yang baik untuk mencegah terjadinya retak, memakai beton
pratekan, atau memakai bahan tambahan yang mengembang (expansive admixture).
d. Mempelajari teknologi beton dan melakukan pengawasan dan control kualitas yang baik.
Bila perlu bisa memakai beton jadi (ready mix) atau beton pracetak.

49
FM 1-7.1.0-1-41 ed.A rev.2

BAHAN AJAR
Kurikulum
Jurusan : Teknik Sipil 2010
PNK Program Studi : D3 & D4
Matakuliah : Bahan Bangunan

e. Beberapa elemen struktur dibuat pracetak (precast) sehingga dapat dilepas per elemen
seperti baja. Kemungkinan untuk melakukan beton recycle sedang dioptimalkan.
5.6. Problematika Beton
Bila dilihat secara sepintas, beton tampaknya sederhana. Namun kalau diamati dengan
lebih seksama, beton sebagai material komposit mempunyai benyak permasalahan. Bayangkan
kita ingin mengaduk sesuatu campuran yang beragam seperti cendol, padahal menginginkan
semua bahan tercampur merata dengan baik. Campuran beton tersebut tidak bisa langsung
menjadi benda kaku (set), tapi proses reaksi hidrasi air dengan semen memakan waktu. Masing
masing unsur beratnya tidak sama sehingga yang berat seperti agregat cenderung bergerak ke
bawah sedangkan yang ringan seperti air cenderung naik ke atas.
Masing masing unsur sendiri adalah benda yang kompleks. Semen, misalnya terdiri dari
banyak unsur. Demikian pula agregat. Ukuran, bentuk, kualitas permukaan, berat jenisnya juga
berbeda beda. Jadi beton dapat dianggap sebagai material komposit. Sifat beton segar
sebelum dipadatkan seperti material berbutir (granular), sedangkan setelah menjadi massa
yang padat masih mungkin terjadi deformasi plastis.
Sifat beton keras juga unik sebab di satu pihak bersifat elastic tetapi di pihak lain non-
elastis. Karena pengikatnya semen hidraulis, reaksi semen dengan air sering mengakibatkan
susut selama pengeringan, sehingga beton penuh dengan cacat seperti retak retak rambut,
bahkan sebelum menerima beban. Proses perawatan atau curing setelah beton dipadatkan
perlu diperhatikan juga agar beton dapat mencapai kekuatan maksimalnya.
Meskipun beton sudah dibuat dengan proporsi tertentu, bisa terjadi variasi dari satu
takaran ke takaran yang lain. Variasi bisa juga terjadi pada proses, mulai dari penakaran,
pengadukan, penuangan, pemadatan maupun perawatannya. Variasi juga bisa terjadi akibat
pengambilan dan pengujian contoh benda uji. Variasi bisa terfluktuasi sampai 15 % di lapangan.
Jadi dengan demikian, apakah beton adalah material bangunan yang lebih sulit bila
dibanding dengan material yang lain ? jawabannya adalah ya atau tidak. Ya, bila melihat
permasalahan di atas. Tidak, bila sudah mempunyai pengetahuan dan keterampilan yang
memadai untuk menghasilkan beton yang berkualitas baik sesuai rencana, konsisten dan
seragam, yang juga ekonomis.
5.7. Beton Khusus
5.7.1. Beton Ringan
Beton normal merupakan bahan yang relative cukup berat, dengan berat jenis 2,4 atau
berat 2400 kg/m. Untuk mengurangi beban mati suatu struktur beton atau mengurangi sifat
penghantaran panasnya maka telah banyak dipakai beton ringan. Beton disebut sebagai beton
ringan jika beratnya kurang dari 1800 kg/m. Pada dasarnya, beton ringan diperoleh dengan
cara penambahan pori pori udara ke dalam campuran betonnya. Oleh karena itu pembuatan
beton ringan dapat dilakukan dengan cara cara berikut :
a. Dengan membuat gelembung gelembung gas / udara dalam adukan semen. Dengan
demikian akan terjadi banyak pori pori udara di dalam betonnya. Bahan tambahan
khusus (pembentuk gelembung udara dalam beton) ditambahkan ke dalam semen dan
akan timbul gelembung gelembung udara.
b. Dengan menggunakan agregat ringan, misalnya tanah liat bakar dan batu apung.
Dengan demikian beton yang terjadi pun akan lebih ringan daripada beton normal.

50
FM 1-7.1.0-1-41 ed.A rev.2

BAHAN AJAR
Kurikulum
Jurusan : Teknik Sipil 2010
PNK Program Studi : D3 & D4
Matakuliah : Bahan Bangunan

c. Pembuatan beton tidak dengan butiran agregat halus. Dengan demikian beton ini
disebut beton non pasir dan hanya dibuat dari semen dan agregat kasar saja (dengan
butir maksimum agregat kasar sebesar 20 mm atau 10 mm). Beton ini mempunyai pori
pori yang hanya berisi udara (yang semula terisi oleh butir butir agregat).
5.7.2. Beton Kedap Air
Beton kedap air merupakan beton yang tidak dapat ditembus air (Spesifikasi Beton
Bertulang Kedap Air, SNI 03-2914-1992). Beton ini biasanya digunakan untuk bagian bangunan
beton yang berada di daerah air (selalu terkena air) atau digunakan untuk menahan air, pondasi
jembatan di sungai, dinding basement, dinding kolam renang, atap beton, dan sebagainya. Agar
beton tidak dapat dilalui air maka harus rapat (tidak ada pori pori yang dapat dilalui air),
sehingga beberapa syarat harus dipenuhi, misalnya agregatnya harus tidak berpori, pasta
semen tidak berpori, rekatan antara pasta semen dengan permukaan agregat harus rapat dan
kuat.
Biasanya dalam pembuatan beton kedap air hal pertama yang perlu dilakukan adalah
menggunakan agregat yang tidak berpori. Agregat yang tidak berpori ditandai dengan daya
serap airnya kecil. Jika butir agregat yang tidak berpori sudahdipenuhi, maka usaha selanjutnya
adalah membuat agar pasta semen sulit dilalui oleh air. Pasta semen akan lebih kedap air nilai
factor air semennya kecil.
Karena umumnya pasta semen lebih porous daripada agregat maka pemakaian pasta
diusahakan sesedikit mungkin. Namun demikian jika terlalu sedikit maka banyak pori antar
agregat yang tidak terisi pasta. Untuk mengurangi pemakaian pasta maka diusahakan gradasi
agregat yang rapat.
5.7.3. Beton Massa
Beton massa ialah beton yang dituang dalam volume besar, yaitu perbandingan antara
volume dan luas permukaannya besar, misalnya untuk pondasi jembatan, pilar, bendungan dan
sebagainya. Biasanya dianggap beton massa jika dimensinya lebih dari 60 cm. Pada bendungan,
biasanya dibedakan antara beton massa dalam dan beton massa luar. Beton massa dalam tidak
terpengaruh cuaca (hujan dan terik matahari), adapun beton massa luar yang tebalnya sekitar
2 meter terpengaruh cuaca sehingga ada persyaratan nilai factor air semen maksimum, agar
lebih tahan cuaca.
Pada pembuatan beton massa, salah satu factor yang amat penting untuk diperhatikan
adalah perbedaan temperature bagian dalam dan luar yang terjadi akibat adanya panas hidrasi.
Pada saat penuangan adukan beton ini memang tidak nampak, namun dalam hal beberapa
waktu berikutnya panas mulai di dalam betonnya. Panas yang timbul ini membuat beton
mengembang, namun bagian luar lebih cepat menurun panasnya adapun bagian dalam lebih
lambat dan terjadilah kecenderungan timbulnya retak ratek. Proses retak retak ini
berlangsung bersamaan dengan proses pengerasan beton.
Pada tahap proses pengerasan tersebut, beton massa berlaku sama seperti logam besar
yang dituang (dicor) dalam suhu sekitar yang dingin. Lapisan luar mendingin dan menyusut
dahulu, sedangkan lapisan dalam masih sedikit panas yang berarti belum susut, maka terjadilah
perubahan volume, yang menimbulkan kecenderungan untuk retak. Tahap berikutnya, lapisan
bagian dalam mendingin dan menyusut, sehingga menarik lapisan luar yang sudah berhenti
menyusut.
Beberapa usaha yang dapat dilakukan untuk mengurangi timbulnya retak retak akibat
pengaruh suhu tersebut pada beton massa, yaitu :

51
FM 1-7.1.0-1-41 ed.A rev.2

BAHAN AJAR
Kurikulum
Jurusan : Teknik Sipil 2010
PNK Program Studi : D3 & D4
Matakuliah : Bahan Bangunan

a. Digunakan semen sesedikitnya (karena semen adalah sumber panas) dengan cara :
Ukuran butir agregat kasar yang sebesar besarnya (sebatas yang diijinkan, yaitu 75
mm atau 150 mm), karena makin besar ukuran agregat maksimum yang dipakai
makin sedikit semen yang diperlukan.
Memakai perbandingan berat agregat halus dan agregat kasar yang paling tepat,
agar hanya diperlukan semen yang minimum walaupun kuat tekan betonnya sama.
Jika digunakan ukuran maksimum agregat kasar 75 mm maka berat pasir antara 24
sampai 36 % dari keseluruhan berat agregat halus dan agregat kasarnya. Jika
digunakan ukuran maksimum agregat kasar 150 mm maka berat agregat agregat
halusnya antara 25 30 % dari keseluruhan berat agregat halus dan agregat
kasarnya.
Gunakan air sesedikitnya (sebatas yang memungkinkan, hanya untuk keenceran
adukan saja dalam proses pemadatan), karena untuk memperoleh mutu beton yang
sama diperlukan factor air semen sama, berarti akan dipakai semen sedikit jika
airnya sedikit. Pemakaian air sedikit mempunyai konsekuensi adukan beton lebih
kental, sehingga sering hanya mempunyai slump 25 mm saja sehingga
pemadatannya dilakukan dengan compacted roller yang biasanya untuk
memadatkan tanah. Perbandingan antara berat air dan berat semen (factor air
semen) antara 0,5 0,7. Jika digunakan ukuran maksimum agregat kasar 75 mm,
maka perbandingan berat antara agregat campuran dan semen berkisar antara 6 - 9.
Jika digunakan ukuran maksimum agregat kasar 150 mm, maka perbandingan berat
antara agregat campuran dan semen berkisar antara 8 15.
Digunakan semen khusus yang mempunyai panas hidrasi rendah, misalnya semen
Portland tipe IV, semen Portland tipe II dan semen Portland yang dicampur dengan
pozzolan, misalnya trass, abu terbang (fly ash). Meskipun dipakai semen jenis panas
hidrasi rendah dan campurannya juga dengan jumlah air dan semen yang sedikit,
beton yang dibiarkan saja berhubungan dengan udara terbuk serta selalu disemprot
dengan air selama 3 hari pertama, suhu beton tetap masih naik sekitar 25C selama
6 12 bulan. Kenaikan suhu tersebut akan lebih besar jika digunakan semen
Portland tipe I.
Tuang beton dalam blok blok dengan ukuran terbatas :
- Tebal tiap lapis antara 40 60 cm
- Tiap lapis harus masih lunak ketika lapisan berikutnya disebarkan
Ukuran arah horizontal ditetapkan sedemikian rupa sehingga retak susutan dengan
blok lain di sebelahnya akan cukup lebar untuk dimasuki dengan bahan grouting, agar
antar blok menjadi satu kesatuan yang utuh. Antara 6 20 meter tampaknya cukup
membuat celah susutan tersebut.
Lapisan berikutnya baru boleh dituang setelah lapisan tersebut berumur 72 jam.
Tebal seluruh lapisan beton tidak boleh dituang lebih dari 10,5 meter dalam 30 hari.
Berikan aliran air dingin melalui pipa pipa yang terpendam. Agar panas hidrasi
terdistribusi secara merata di dalam betonnya. Perbedaan temperature terbesar
dapat dijaga dengan cara menentukan jarak pipa, lama pengaliran air, temperature
air yang dimasukkan dan debit air yang dialirkan.

52
FM 1-7.1.0-1-41 ed.A rev.2

BAHAN AJAR
Kurikulum
Jurusan : Teknik Sipil 2010
PNK Program Studi : D3 & D4
Matakuliah : Bahan Bangunan

Biasanya digunakan pipa dengan 25 mm, yang dipasang berkelok kelok seperti
huruf S dengan jarak as ke as sekitar 1,50 m arah horizontal. Pipa pipa tersebut
diletakkan horizontal di atas hamparan adukan setelah adukan mencapai tebal 1,50
m. air dingin (pada temperature air sungai) dialirkan ke dalam pipa tersebut segera
setelah selesai penuangan beton. Panas beton akan berradiasi sampai lapisan
berikutnya dituang.
5.7.4. Ferosemen
Ferosemen adalah mortar semen yang diberi tulangan berupa anyaman kawat baja.
Mortar semen berfungsi sebagai massa dan kawat baja sebagai penambah kekuatan tarik dan
daktilitas. Secara lebih teliti, ferosemen dapat diartikan sebagai beton bertulang dengan bentuk
khusus, yaitu dengan tulangan lebih rapat daripada beton bertulang. Walaupun demikian
ferosemen mempunyai sifat berbeda dengan beton bertulang, terutama pada tingkat tegangan
yang sedang. Karena distribusi dari tulangan yang kecil kecil tapi lebih merata, maka
memperkecil kemungkinan mortar untuk retak retak. Selain itu beberapa sifat lain misalnya
ketahanan terhadap pecah, ketahanan terhadap patah lelah, sifat kedap air lebih baik.
Ferosemen merupakan mortar semen yang banyak menggunakan semen, dengan tebal
di antara 10 mm 60 mm dengan volume tulangan sekitar 6 8 %, dengan bentuk tulangan
satu lapis atau lebih. Tulangan itu dapat berupa kawat silang yang dilas atau batang batang
baja tulangan dengan diameter kecil.
5.7.5. Beton serat
Beton serat (fibre concrete) ialah bagan komposit yang terdiri dari beton biasa dan bahan
lain yang berupa serat. Serat pada umumnya berupa batang batang dengan diameter antara 5
dan 500 m (mikro meter) dan panjang sekitar 25 mm sampai 100 mm. bahan serat dapat
berupa : serat asbestos, serat tumbuh tumbuhan (rami, bamboo, ijuk), serat plastic
(polypropylene) atau potongan kawat baja.
Dalam hal ini serat dapat dianggap sebagai agregat yang bentuknya sangat tidak bulat.
Adanya serat mengakibatkan berkurangnya sifat kemudahan dikerjakan dan mempersulit
terjadinya segregasi. Serat dalam beton itu berguna untuk mencegah adanya retak retak,
sehingga menjadikan beton serat lebih daktail daripada beton biasa.
Jika serat yang dipakai mempunyai modulus elastisitas lebih tinggi daripada beton,
misalnya kawat baja, maka beton serat akan mempunyai kuat tekan, kuat tarik maupun
modulus elastic yang sedikit lebih tinggi daripada beton biasa. Beton serat bersifat lebih tahan
terhadap benturan dan lenturan, maka cocok dipakai pada landasan pesawat udara, jalan raya
dan lantai jembatan.
5.7.6. Beton Siklop
Beton jenis ini sama dengan beton massa, perbedaannya ialah pada beton ini digunakan
ukuran agregat yang relative besar besar. Ukruan agregat kasar dapat sampai sebesar 20 cm,
namun proporsi agregat yang lebih besar dari biasanya ini sebaiknya tidak lebih dari 20 %
agregat seluruhnya. Beton ini digunakan pada pembuatan bendungan, pangkal jembatan,
pondasi sumuran dan lain sebagainya.
5.7.7. Beton Hampa (Vacuum Concrete)
Seperti telah diuraikan bahwa air hanya 0,25 kali berat semen saja yang dipakai untuk
bereaksi dengan semen, adapun sisanya untuk mengencerkan adukan beton. Beton jenis ini
diaduk dan dituang serta dipadatkan sebagaimana beton biasa, namun setelah beton tercetak

53
FM 1-7.1.0-1-41 ed.A rev.2

BAHAN AJAR
Kurikulum
Jurusan : Teknik Sipil 2010
PNK Program Studi : D3 & D4
Matakuliah : Bahan Bangunan

padat kemudian air sisa reaksi disedot dengan cara khusus, disebut cara vacuum. Dengan
demikian air yang tinggal hanya air yang dipakai untuk reaksi dengan semen sehingga beton
yang diperoleh sangat kuat.

Soal latihan :
1. Jelaskan apa yang dimaksud dengan beton dan sebutkan perbedaannya dengan pasta semen dan
mortar ?
2. Sebutkan bahan utama pembuatan beton normal !
3. Jelaskan pengaruh jenis agregat, semen dan takaran air pada bahan beton !
4. Jelaskan sifat sifat utama beton, apa perbedaannya dengan bahan baja !
5. Sebutkan berbagai jenis teknologi beton yang anda ketahui (minimal 5) !
6. Sebutkan beberapa kelemahan dari beton !
7. Jelaskan cara untuk mengatasi kelemahan dari bahan beton tersebut !

DAFTAR PUSTAKA
1. Frick, H. Koesmartadi, C.H, 1999, Ilmu Bahan Bangunan, Eksploitasi, Pembuatan, Penggunaan
dan Pembuangan, Kanisius, Yogyakarta
2. Nugraha, antoni, 2007, Teknologi Beton, Penerbit Andi, Yogyakarta
3. Somayaji, S, 1995, Civil Engineering Materials, Prentice-Hall, Inc, New Jersey-USA
4. Surdia T MS, Prof. Ir. Met.E, Shinroku, Prof. Dr, 1987, Pengetahuan Bahan Teknik, Penerbit
Pradnya Paramita, Jakarta
5. Tjokrodimuljo, K. (2006), Teknologi Bahan Bangunan, UGM Press, Yogyakarta.

54
FM 1-7.1.0-1-41 ed.A rev.2

BAHAN AJAR
Kurikulum
Jurusan : Teknik Sipil 2010
PNK Program Studi : D3 & D4
Matakuliah : Bahan Bangunan

BAB 6
BAJA

Tujuan Instruksional Khusus : Setelah mengikuti kuliah ini, mahasiswa akan dapat mengetahui
asal mula ditemukannya bahan baja, pengertian dan perkembangan bahan baja, proses
pembuatan baja, sampai dengan mengenal berbagai jenis baja sesuai penggunaannya sebagai
elemen konstruksi.
Gambaran umum materi : Baja merupakan salah satu bahan logam yang telah sejak lama
digunakan untuk membuat berbagai keperluan. Baja memiliki kekuatan dan ketahanan yang
dibutuhkan sebagai elemen structural. Perkembangan teknologi pengolahan baja telah
menghasilkan berbagai jenis baja dengan spesifikasi khusus untuk aplikasi yang berbeda beda.
Relevansi Mata Kuliah : Pada bab ini mahasiswa diharapkan menguasai definisi baja, kelebihan-
kekurangan bahan baja, jenis jenis baja berdasarkan bahan penyusunnya dan sifat sifat
tertentu yang dimilikinya. Dasar dasar pengetahuan tersebut merupakan prasyarat yang harus
dikuasai oleh mahasiswa agar dapat melakukan pemilihan material baja dalam perancangan
struktur suatu konstruksi. Ketika pengetahuan ini diterapkan di lapangan maka mahasiswa akan
memiliki kompetensi dalam merencanakan struktur baja dan mengawasi proses pekerjaan
konstruksi di lapangan.

6.1. Sifat baja Sebagai Material Struktur Bangunan


Penggunaan baja sebagai bahan struktur utama dimulai pada akhir abad kesembilan
belas ketika metode pengolahan baja yang murah dikembangkan dengan skala yang luas. Baja
merupakan bahan yang mempunyai sifat struktur yang baik. Baja mempunyai kekuatan yang
tinggi dan sama kuat pada kekuatan tarik maupun tekan dan oleh karena itu baja adalah
elemen struktur yang memiliki batasan sempurna yang akan menahan beban jenis tarik aksial,
tekan aksial, dan lentur dengan fasilitas yang hampir sama. Berat jenis baja tinggi, tetapi
perbandingan antara kekuatan terhadap beratnya juga tinggi sehingga komponen baja tersebut
tidak terlalu berat jika dihubungkan dengan kapasitas muat bebannya, selama bentuk-bentuk
struktur yang digunakan menjamin bahwa bahan tersebut dipergunakan secara efisien.

55
FM 1-7.1.0-1-41 ed.A rev.2

BAHAN AJAR
Kurikulum
Jurusan : Teknik Sipil 2010
PNK Program Studi : D3 & D4
Matakuliah : Bahan Bangunan

Gambar 6.1. Struktur Bangunan Baja (adisbahij.blogspot.com, 2010)

6.1.1. Keuntungan Baja Sebagai Material Struktur Bangunan


Di samping kekuatannya yang besar untuk menahan kekuatan tarik dan tekan tanpa
membutuhkan banyak volume, baja juga mempunyai sifat- sifat lain yang menguntungkan
sehingga menjadikannya sebagai salah satu bahan bangunan yang sangat umum dipakai
dewasa ini. Beberapa keuntungan baja sebagai material struktur antara lain:

Kekuatan Tinggi

Dewasa ini baja bisa diproduksi dengan berbagai kekuatan yang bisa dinyatakan dengan
kekuatan tegangan tekan lelehnya (Fy) atau oleh tegangan tarik batas (Fu). Bahan baja
walaupun dari jenis yang paling rendah kekuatannya, tetap mempunyai perbandingan kekuatan
per-volume lebih tinggi bila dibandingkan dengan bahan-bahan bangunan lainnya yang umum
dipakai. Hal ini memungkinkan perencanaan sebuah konstruksi baja bisa mempunyai beban
mati yang lebih kecil untuk bentang yang lebih panjang, sehingga. memberikan kelebihan ruang
dan volume yang dapat dimanfaatkan akibat langsingnya profil-profil yang dipakai.

Kemudahan Pemasangan

Semua bagian-bagian dari konstruksi baja bisa dipersiapkan di bengkel, sehingga satu-
satunya kegiatan yang dilakukan di lapangan ialah kegiatan pemasangan bagian-bagian
konstruksi yang telah dipersiapkan. Sebagian besar dari komponen-komponen konstruksi
mempunyai bentuk standar yang siap digunakan bisa diperoleh di toko-toko besi, sehingga
waktu yang diperlukan untuk membuat bagian-bagian konstruksi baja yang telah ada, juga bisa
dilakukan dengan mudah karena komponen-komponen baja biasanya mempunyai bentuk
standar dan sifat-sifat yang tertentu, serta mudah diperoleh di mana-mana.

56
FM 1-7.1.0-1-41 ed.A rev.2

BAHAN AJAR
Kurikulum
Jurusan : Teknik Sipil 2010
PNK Program Studi : D3 & D4
Matakuliah : Bahan Bangunan

Keseragaman

Sifat-sifat baja baik sebagai bahan bangunan maupun dalam bentuk struktur dapat
terkendali dengan baik sekali, sehingga para ahli dapat mengharapkan elemen-elemen dari
konstruksi baja ini akan berperilaku sesuai dengan yang diperkirakan dalam perencanaan.
Dengan demikian bisa dihindari terdapatnya proses pemborosan yang biasanya terjadi dalam
perencanaan akibat adanya berbagai ketidakpastian.

Daktilitas

Sifat dari baja yang dapat mengalami deformasi yang besar di bawah pengaruh tegangan
tarik yang tinggi tanpa hancur atau putus disebut sifat daktilitas. Adanya sifat ini membuat
struktur baja mampu mencegah terjadinya proses robohnya bangunan secara tiba-tiba. Sifat ini
sangat menguntungkan ditinjau dari aspek keamanan penghuni bangunan bila terjadi suatu
goncangan yang tiba-tiba seperti misalnya pada peristiwa gempa bumi.

Di samping itu keuntungan-keuntungan lain dari struktur baja, antara lain adalah:

Proses pemasangan di lapangan berlangsung dengan cepat.


Dapat di las.
Komponen-komponen struktumya bisa digunakan lagi untuk keperluan lainnya.
Komponen-komponen yang sudah tidak dapat digunakan lagi masih mempunyai nilai
sebagai besi tua.
Struktur yang dihasilkan bersifat permanen dengan cara pemeliharaan yang tidak
terlalu sukar.
Selain keuntungan-keuntungan tersebut bahan baja juga mempunyai kelemahan-
kelemahan sebagai berikut :

Komponen-komponen struktur yang dibuat dari bahan baja perlu diusahakan supaya
tahan api sesuai dengan peraturan yang berlaku untuk bahaya kebakaran.
Diperlukannya suatu biaya pemeliharaan untuk mencegah baja dari bahaya karat.
Akibat kemampuannya menahan tekukan pada batang-batang yang langsing,
walaupun dapat menahan gaya-gaya aksial, tetapi tidak bisa mencegah terjadinya
pergeseran horizontal

57
FM 1-7.1.0-1-41 ed.A rev.2

BAHAN AJAR
Kurikulum
Jurusan : Teknik Sipil 2010
PNK Program Studi : D3 & D4
Matakuliah : Bahan Bangunan

6.1.2. Sifat mekanis Baja


Menurut SNI 0317292002 tentang TATA CARA PERENCANAAN STRUKTUR BAJA UNTUK
BANGUNAN GEDUNG Sifat mekanis baja struktural yang digunakan dalam perencanaan harus
memenuhi persyaratan minimum yang diberikan pada Tabel 6.1.

Tegangan leleh untuk perencanaan (f y) tidak boleh diambil melebihi nilai yang diberikan
Tabel 6.1.
Tegangan putus untuk perencanaan (fu) tidak boleh diambil melebihi nilai yang diberikan
Tabel 6.1.
Tabel 6.1. Sifat mekanis baja struktural
Sumber: Amon dkk, 1996
Tegangan leleh
Tegangan putus Peregangan
Jenis Baja minimum, fy,
minimum, fu, MPa Minimum (%)
MPa
BJ 34 340 210 22
BJ 37 370 240 20
BJ 41 410 250 18
BJ 50 500 290 16
BJ 55 550 410 13

Sifat-sifat mekanis lainnya, Sifat-sifat mekanis lainnya baja struktural untuk maksud
perencanaan ditetapkan sebagai berikut:
Modulus elastisitas : E = 200.000 MPa
Modulus geser : G = 80.000 MPa
Nisbah poisson : = 0,3
Koefisien pemuaian : = 12 x 10 -6 / o C
6.1. Jenis baja Struktural
Bentuk elemen baja sangat dipengaruhi oleh proses yang digunakan untuk membentuk
baja tersebut. Sebagian besar baja dibentuk oleh proses hot-rolling (penggilingan dengan
pemanasan) atau cold-forming (pembentukan dengan pendinginan). Penggilingan dengan
pemanasan (hot-rolling) adalah proses pembentukan utama di mana bongkahan baja yang
merah menyala secara besar-besaran digelindingkan di antara beberapa kelompok penggiling.
Penampang melintang dari bongkahan yang ash biasanya dicetak dari baja yang baru dibuat
dan biasanya berukuran sekitar 0,5 m x 0,5 m persegi, yang akibat proses penggilingan ukuran
penampang melintang dikurangi menjadi lebih kecil dan menjadi bentuk yang tepat dan khusus.

Batasan bentuk penampang melintang yang dihasilkan sangat besar dan masing-masing
bentuk memerlukan penggilingan akhir tersendiri. Bentuk penampang melintang I dan H

58
FM 1-7.1.0-1-41 ed.A rev.2

BAHAN AJAR
Kurikulum
Jurusan : Teknik Sipil 2010
PNK Program Studi : D3 & D4
Matakuliah : Bahan Bangunan

biasanya digunakan untuk elemen elemen besar yang membentuk balok dan kolom pada
rangka struktur.

Bentuk kanal dan siku cocok untuk elemen-elemen kecil seperti lapisan tumpuan
sekunder dan sub-elemen pada rangka segitiga. Bentuk penampang persegi, bulat, dan persegi
empat yang berlubang dihasilkan dalam batasan ukuran yang luas dan digunakan seperti halnya
pelat datar dan batang solid dengan berbagai ketebalan. Perincian ukuran dan geometri yang
dimiliki seluruh penampang standar didaftarkan dalam tabel penampang yang dibuat oleh
pabrik baja.

Gambar 6.2. Bentuk Baja Profil Canai Panas (MacDonald, 2002)

Pembentukan dengan pendinginan (cold-forming) adalah metode lain yang digunakan


untuk membuat komponen-komponen baja dalam jumlah yang besar. Dalam proses ini,
lembaran baja tipis datar yang telah dihasilkan dari proses penggilingan dengan pemanasan
dilipat atau dibengkokkan dalam keadaan dingin untuk membentuk penampang melintang
struktur

Gambar 6.3. Bentuk Baja Profil Cold Forming (MacDonald, 2002)

59
FM 1-7.1.0-1-41 ed.A rev.2

BAHAN AJAR
Kurikulum
Jurusan : Teknik Sipil 2010
PNK Program Studi : D3 & D4
Matakuliah : Bahan Bangunan

Elemen-elemen yang dihasilkan dari proses ini mempunyai karakteristik yang serupa
dengan penampang yang dihasilkan dari proses penggilingan dengan pemanasan. Sisi paralel
elemen-elemen tersebut memiliki penampang yang tetap, tetapi ketebalan logam tersebut
berkurang sehingga elemen-elemen tersebut lebih ringan, dan tentunya memiliki kapasitas
muat beban yang lebih rendah. Bagaimanapun, proses-proses tersebut memungkinkan
pembuatan bentuk penampang yang sulit. Satu hal lain yang membedakan proses-proses
tersebut adalah bahwa peralatan yang digunakan untuk proses pencetakan dengan
pendinginan lebih sederhana dan dapat digunakan untuk menghasilkan penampang melintang
yang bentuknya disesuaikan untuk penggunaan yang khusus. Karena penampang yang dibentuk
dengan pendinginan memiliki kapasitas muat yang rendah, maka penampang ini terutama
digunakan untuk elemen sekunder pada struktur atap, seperti purlin, dan untuk sistem lapisan
tumpuan. Potensi elemen-elemen tersebut untuk perkembangan di masa yang akan datang
sangat besar.

Komponen struktur baja dapat juga dihasilkan dengan pencetakan, yang dalam kasus
yang sangat kompleks memungkinkan pembuatan bentuk penampang yang sesuai dengan
kebutuhan. Akan tetapi, teknik ini bermasalah ketika digunakan untuk komponen struktur, yang
disebabkan oleh kesulitan untuk menjamin mutu cetakan yang baik dan sama di keseluruhan
bagian.

Fungsi struktur merupakan faktor utama dalam penentuan konfigurasi struktur.


Berdasarkan konfigurasi struktur dan beban rencana, setiap elemen atau komponen dipilih
untuk menyangga dan menyalurkan beban pada keseluruhan struktur dengan baik. Batang baja
dipilih sesuai standar yang ditentukan oleh American Institute of Steel Construction (AISC) juga
diberikan oleh American Society of Testing and Materials (ASTM). Pengelasan memungkinkan
penggabungan plat dan/atau profil lain untuk mendapatkan suatu profil yang dibutuhkan oleh
perencana atau arsitek.

Penampang yang dibuat dengan penggilingan panas, seperti diperlihatkan pada Gambar
6.4. Penampang yang paling banyak dipakai ialah profil sayap lebar (wide-flange) [Gambar
6.4(a)] yang dibentuk dengan penggilingan panas dalam pabrik baja. Ukuran profil sayap lebar
ditunjukkan oleh tinggi nominal dan berat per kaki (ft), seperti W18 X 97 mempunyai tinggi 18
in (menurut AISC Manual tinggi sesungguhnya = 18,59 in) dan berat 97 pon per kaki. (Dalam
satuan SI, penampang W18 X 97 disebut sebagai W460 x 142 yang tingginya 460 mm dan
massanya 142kg/m).

60
FM 1-7.1.0-1-41 ed.A rev.2

BAHAN AJAR
Kurikulum
Jurusan : Teknik Sipil 2010
PNK Program Studi : D3 & D4
Matakuliah : Bahan Bangunan

Balok Standar Amerika [Gambar 6.4(b)] yang biasanya disebut balok I memiliki sayap
(flange) yang pendek dan meruncing, serta badan yang tebal dibanding dengan profil sayap
lebar. Balok I jarang dipakai dewasa ini karena bahan yang berlebihan pada badannya dan
kekakuan lateralnya relatif kecil (akibat sayap yang pendek).

Kanal [Gambar 6.4(c)] dan siku [Gambar 6.4(d)] sering dipakai baik secara tersendiri atau
digabungkan dengan penampang lain. Kanal misalnya ditunjukkan dengan C12 X 20,7, yang
berarti tingginya 1.2 in dan beratnya 20,7 pon per kaki. Siku diidentifikasi oleh panjang kaki
(yang panjang ditulis lebih dahulu) dan tebalnya, seperti, L6 X 4 X 3

Profil T struktural [Gambar 6.4(e)] dibuat dengan membelah dua profil sayap lebar atau
balok I dan biasanya digunakan sebagai batang pada rangka batang (truss). Profil T misaInya
diidentifikasi sebagai WT5 X 44, dengan 5 adalah tinggi nominal dan 44 adalah berat per kaki;
profil T ini didapat dari W10 X 88,

Penampang pipa [Gambar 6.4(f)] dibedakan atas "standar", "sangat kuat", dan "dua kali
sangat kuat" sesuai dengan tebalnya dan juga dibedakan atas diameternya; misalnya, diameter
10 in-dua kali sangat kuat menunjukkan. ukuran pipa tertentu.

Boks struktural [Gambar 6.4(g)] dipakai bila dibutuhkan penampilan arsitektur yang
menarik dengan baja ekspos. Boks ditunjukkan dengan dimensi luar dan tebalnya, seperti boks
struktural 8 X 6 X 1/4.

Gambar 6.4. Standar Tipe Penampang Profil Baja Canai Panas (Macdonald, 2002)

61
FM 1-7.1.0-1-41 ed.A rev.2

BAHAN AJAR
Kurikulum
Jurusan : Teknik Sipil 2010
PNK Program Studi : D3 & D4
Matakuliah : Bahan Bangunan

Banyak profil lainnya dibentuk dalam keadaan dingin (cold-formed) dari bahan plat
dengan tebal tidak lebih dari 1 in, seperti yang diperlihatkan pada Gambar 6.5 dan Gambar 6.6.
Beberapa keuntungan baja profil dingin antara lain:

Lebih ringan
Kekuatan dan kakuan yang tinggi
Kemudahan pabrikasi dan produksi masal
Kecepatan dan kemudahan pendirian
Lebih ekonomis dalam pengangkutan dan pengelolaan
Baja profil keadaan dingin dapat diklasifikasikan menjadi:

elemen struktur rangka individu (Gambar 6.5)


lembaran-lembaran panel dan dek (Gambar 6.6)

Gambar 6.5. Beberapa profil Elemen Struktur Rangka Individu (Schodek, 1999)

Gambar 6.6. Beberapa Profil Lembaran Lembaran Panel dan Dek (Schodek, 1999)

62
FM 1-7.1.0-1-41 ed.A rev.2

BAHAN AJAR
Kurikulum
Jurusan : Teknik Sipil 2010
PNK Program Studi : D3 & D4
Matakuliah : Bahan Bangunan

Soal Latihan :
1. Apakah kelebihan penggunaan bahan baja sebagai material struktur bangunan?
2. Sebutkan sifat-sifat mekanis baja?
3. Sebutkan jenis-jenis profil baja di pasaran berdasarkan klasifikasi proses pembentukannya?

DAFTAR PUSTAKA
Ariestadi, Dian, 2008, Teknik Struktur Bangunan Jilid 2 untuk SMK, Jakarta, Pusat Perbukuan
Departemen Pendidikan Nasional.

63
FM 1-7.1.0-1-41 ed.A rev.2

BAHAN AJAR
Kurikulum
Jurusan : Teknik Sipil 2010
PNK Program Studi : D3 & D4
Matakuliah : Bahan Bangunan

BAB 7
BAMBU

Tujuan Instruksional Khusus : Setelah mengikuti kuliah ini, mahasiswa akan dapat mengetahui
seluk beluk tanaman bambu, kelebihan sifat sifat teknis batang bambu, proses pengawetan
bamboo sebelum diolah, sampai dengan mengenal berbagai jenis aplikasi bamboo sebagai
bahan konstruksi.
Gambaran umum materi : Bamboo merupakan salah satu hasil hutan yang memiliki kelebihan
sifat sifat fisik dan mekanik dibanding baja, kayu dan beton. Umur tanaman bamboo yang
pantas untuk dipanen adalah sekitar 5-6 tahun, jika dibandingkan dengan kayu yang
membutuhkan 10 tahun untuk mencapai kekuatan dan keawetan alaminya. Bamboo yang
diberi perlakuan pengawetan yang memadai akan mampu bertahan sampai 20 tahun.
Tanaman bamboo memiliki kemampuan konservasi lingkungan yang terbaik dibanding tanaman
hutan lainnya. Berbagai jenis teknik penyambungan dan pengolahan batang bamboo yang
berkembang memungkinkan bamboo digunakan sebagai elemen struktur yang memikul beban
berat, misalnya jembatan, struktur rangka atap dome sampai dengan konstruksi bangunan
gedung.
Relevansi Mata Kuliah : Pada bab ini mahasiswa diharapkan menguasai seluk beluk tanaman
bambu, jenis jenis tanaman bamboo dan sifat sifat tertentu yang dimilikinya. Dasar dasar
pengetahuan tersebut merupakan prasyarat yang harus dikuasai oleh mahasiswa agar dapat
melakukan pemilihan material bamboo dalam aplikasi perancangan struktur. Ketika
pengetahuan ini diterapkan di lapangan maka mahasiswa akan memiliki kompetensi dalam
merencanakan suatu struktur dengan menggunakan bahan bahan alternative.

7.1. Gambaran Umum Bambu

Bambu adalah rumput berkayu berbentuk pohon atau perdu. Bambu adalah tanaman
yang termasuk ordo Gramineae, familia Bambuseae. Bambu merupakan tumbuhan berumpun,
berakar serabut yang batangnya berbentuk silinder dengan diameter bervariasi mengecil mulai
dari ujung bawah sampai ujung atas, berongga, keras dan mempunyai pertumbuhan primer
yang sangat cepat tanpa diikuti pertumbuhan sekunder, sehingga tingginya dapat mencapai 40
m. Silinder batang bambu tersebut dipisahkan oleh nodia/ruas, yaitu diafragma-diafragma yang
arahnya transversal
Berdasarkan pertumbuhannya, bambu dapat dibedakan dalam dua kelompok besar,
yaitu bambu simpodial dan bambu monopodial. Bambu simpodial (Gambar 7.1.a) tumbuh
dalam bentuk rumpun, setiap rhizome hanya akan menghasilkan satu batang bambu, bambu
muda tumbuh mengelilingi bambu yang tua. Bambu simpodial tumbuh di daerah tropis dan
subtropis, sehingga hanya jenis ini saja yang dapat dijumpai di Indonesia. Bambu monopodial

64
FM 1-7.1.0-1-41 ed.A rev.2

BAHAN AJAR
Kurikulum
Jurusan : Teknik Sipil 2010
PNK Program Studi : D3 & D4
Matakuliah : Bahan Bangunan

(Gambar 7.1.b.) berkembang dengan rhizome yang menerobos ke berbagai arah di bawah
tanah dan muncul ke permukaan tanah sebagai tegakan bambu yang individual.

Gambar 7. 1a. Bambu Simpodial Gambar 7. 1b. Bambu Monopodial

Seribu species bambu dalam 80 genera telah ditemukan di dunia, sekitar 200 species
dari 20 genera ditemukan di Asia Tenggara (Dransfield dan Widjaja, 1995), sedangkan di
Indonesia ditemukan sekitar 60 jenis. Tanaman bambu Indonesia ditemukan di dataran rendah
sampai pegunungan dengan ketinggian sekitar 300 m dpl.

Barisan rumpun bambu seringkali dijadikan sebagai pembatas dari suatu wilayah desa.
Barisan rumpun bambu ini bertindak sebagai benteng bagi desa berasngkutan, karena rumpun
bambu yang rapat sangat sulit ditembus orang, sehingga bambu berpengaruh pada keamanan
lingkungan. Sisi positif lain dari adanya rumpun bambu, adalah mencegah terjadinya erosi pada
daerah tepian sungai. Hal ini dikarenakan akar dan batang bambu yang kuat dan rapat mampu
meningkatkan kestabilan tanah agar tidak longsor ke sungai.

Bambu dapat digunakan untuk hal yang berbeda-beda sesuai dengan umurnya:

a) Kurang dari tiga puluh hari dapat dimakan


b) Antara enam sampai sembilan bulan dapat digunakan untuk keranjang
c) Antara dua sampai tiga tahun dapat digunakan untuk laminasi atau papan bambu
d) Antara tiga sampai enam tahun dapat digunakan untuk konstruksi
e) Enam tahun kekuatan bambu berangsur-angsur berkurang sampai dengan umur 12 tahun

65
FM 1-7.1.0-1-41 ed.A rev.2

BAHAN AJAR
Kurikulum
Jurusan : Teknik Sipil 2010
PNK Program Studi : D3 & D4
Matakuliah : Bahan Bangunan

7.2. Bentuk Bambu

Bambu adalah material yang berbentuk tidak prismatis dengan bagian melintang
mengecil pada bagian atas, dan mempunyai jarak nodia yang tidak sama sepanjang batang. Hal
inilah yang menjadikan bentuk bambu unik dan artisrik, namun bentuk demikian membuat
aplikasi bambu sebagi struktur sulit dalam perangkainya.

7.2.1. Potongan melintang bambu

Bambu mempunyai potongan melintang seperti pada Gambar 2.2. dengan bagian-bagian
sebagai berikut:

a. Kulit luar
Kulit luar adalah bagian yang paling luar atau paling atas, biasanya berwarna hijau atau
hitam . Tebal kulit bambu relative seragam pada sepanjang batang yaitu kurang lebih 1mm,
sifatnya keras dan kaku. Maka dari itu bambu yang tipis akan mempunyai porsi kulit besar,
sehingga kekuatan rata-ratanya tinggi, sedangkana pada bambu tebal berlaku sebaliknya
(Morisco, 1999).
b. Bambu bagian luar
Bagian ini terletak dibawah kulit atau diantara kulit luar dan bagian tengah. Tebal bagian ini
kurang lebih 1mm, sifatnya keras dan kaku.
c. Bagian tengah
Bagian tengah terletak dibawah luar atau antara bagian luar dan bagian dalam, disebut
juga daging bambu. Tebalnya kurang lebih 2/3 dari tebal bambu, seratnya padat dan
elastis. Untuk bagian tengah yang paling bawah sifat seratnya agak kasar
d. Bagian dalam
Bagian dalam adalah bagian yang paling bawah dari tebal bambu, sering disebut pula hati
bambu. Sifat seratnya kaku dan mudah patah.

66
FM 1-7.1.0-1-41 ed.A rev.2

BAHAN AJAR
Kurikulum
Jurusan : Teknik Sipil 2010
PNK Program Studi : D3 & D4
Matakuliah : Bahan Bangunan

Gambar 7.2. Potongan Bambu

7.2.2. Bagian batang bambu

Seperti halnya tebu, bambu mempunyai ruas dan buku. Pada ruas-ruas ini pula tumbuh
akar-akar sehingga pada bambu dimungkinkan untuk memperbanyak tanaman dari potongan-
potongan setiap ruasnya, disamping tunas-tunas rimpangnya.

Batang bambu terdiri atas dua bagian yaitu:

a. Nodia (ruas/buku bambu)


Nodia adalah bagian terlemah terhadap gaya tarik sejajar sumbu batang dari bambu,
karena pada nodia sebagain serat bambu berbelok. Serat yang berbelok ini sebagian
menuju sumbu batang, sedang sebagian lain menjauhio sumbu batang , sehingga pada
nodia arah gaya tidak lagi sejajar semua serat (Morisco). Secara umun nodia mempunyai
kapasitas memikul bahan yang tidak efektif baik dari segi kekuatan ataupun deformasi.
Meskipun demikian adanya nodia pada batang bambu mencegah adanya tekuk local yang
sangat penting dalam perancangan bambu sebagai elemen tekan (kolom)
b. Internodia (antar ruas)
Internodia adalah daerah antar nodia, semua sel yang terdapat pada inter nodia mengarah
pada sumbu aksial, sedang pada nodia mengarah pada sumbu transversal. Dalam intenodia
tidak ada elemen-elemen radial,
Tiap-tiap jenis bambu mempunyai jarak internodia yang berbeda-beda. Bagian internodia
adalah bagian yang paling kuat dari bambu, sehingga mempunyai kapasitas memikul bahan

67
FM 1-7.1.0-1-41 ed.A rev.2

BAHAN AJAR
Kurikulum
Jurusan : Teknik Sipil 2010
PNK Program Studi : D3 & D4
Matakuliah : Bahan Bangunan

yang efektif. Internodia sangat berpengaruh pada perancangan bambu sebagai elemen
tarik (balok).
7.3. Jenis-Jenis Bambu

Tanaman bambu di Indonesia merupakan tanaman bambu simpodial, dengan batang-


batang yang cenderung mengumpul didalam rumpun karena percabangan rhizomnya di dalam
tanah (Sindusuwarno, 1963). Batang bambu yang lebih tua berada di tengah rumpun, sehingga
kurang menguntungkan dalam proses penebangannya. Di Indonesia terdapat lebih dari 13
spesies bambu yang biasa digunakan masyarakat untuk struktur bangunan, seperti yang
tercantum pada Tabel 7.1.

Tabel 7.1. Jenis Bambu di Indonesia


Nama Ilmiah Nama Lokal
Bambusa Spinosa Bluemeana Bambu duri, bambu gesing, bambu
greng, haur cucuk, pring greng
Bambusa Bambos Cruce Bambu duri, pring ori
Bambusa Multiplex Raeusech Awi krisik, bambu cina, pring gendani,
pring cendani, bambu pagar
Bambusa Vulgaris Schrad Bambu tutul, jajang gading, awi koneng
Dendrocalamus Asper (Schult, F) Black ex Awi betung, bambu petung, deling
Heyne peting, jajang betung, pring petung
Gigantochloa Verticillite (Willa) Munro Andong gombong, awi gombong,awi
hideung, bambu hitam, pring wulung,
pereng sorat
Gigantochloa Nigrociliata (Bues) Kurz Bambu lengka tali, awi tela, bambu
lengka
Gigantochloa Apus Awi tali, bambu tali, deling apus, pring
tali, pring apus
Gigantochloa Hasskarlina (kurz) Back ex Awi lengka tali, awi tela
Heyne
Phyllostachuhys Aurea Pring unceu, bambu cina
Schizostashyum Blumei Nees Awi bunar, awi tamiyang, pring wuluh,
buluh sumpitan
Schizostashyum Zollingeri (Steud) Kurz Bambu perling, awi cakeutreauk
Schizostachy Branchycladium Kurz Awi bulu
Sumber: Siopongco Munandar 1987

Dari ketiga belas jenis bambu, tersebut yang mudah ditemui dan aplikasinya di
Indonesia sebagai bahan konstruksi paling banyak adalah:
a. Gigantochloa Apus (Bambu apus, bambu tali)
Menurut Morisco 1999, bambu apus dapat tumbuh di dataran rendah maupun
pegunungan, dengan tinggi batang 8 13 m, jarak ruas 45 65 cm, diameter 5 8 cm dan
tebal 3 15 mm. Warna kulit batang bambu apus hijau tua sampai hitam. Jenis bambu ini

68
FM 1-7.1.0-1-41 ed.A rev.2

BAHAN AJAR
Kurikulum
Jurusan : Teknik Sipil 2010
PNK Program Studi : D3 & D4
Matakuliah : Bahan Bangunan

kuat, liat , lurus sehingga baik untuk bahan bangunan. Disamping itu seratnya yang panjang
dan kuat akan menghasilkan anyaman yang stabil. Menurut Sulthoni (1988), karena pahit
bambu apus paling tahan terhadap serangga sekalipun tidak diwetkan.
b. Dendrocalamus Asper (Bambu petung)
Bambu ini mempunyai diameter relative besar bila dibandingkan bambu jenis lain. Bila
dibandingkan dengan diameternya , maka ruas bambu petung lebih pendek yaitu antara 40
60 cm, dengan diameter mencapai 20 cm, tebal 10 -15 mm, dan panjang batang 10 20
m. Karena itu bambu petung biasa dipakai sebagai elemen tekan (kolom) karena
kemampuan menahan tekuk tinggi.
c. Bambusa Spinosa Bluemeana (Bambu ori)
Sifat bambu ori hampir sama dengan bambu petung, yaitu kuat, keras dan berdiameter
besar, dengan jarak ruas pendek-pendek. Bagian luar bambu ori lebih halus dan licin bila
dibanding bambu lainnya (Frick, 2004). Dari hasil penelitian memperlihatakan bambu ori
mempunyai kuat tarik yang tertinggi.
d. Gigantochloa Verticillite (Bambu wulung/hitam)
Bambu wulung mempunyai rumpun yang tidak rapat, dengan warna kulit batang hitam,
hijau kehitaman, dan ungu tua, bergaris kuning muda, panjang ruas 40 50 cm, diameter 6
8 cm (Morisco, 1999). Karena sifatnya yang tidak liat (getas), bambu wulung banyak
dipakai sebagai bahan kerajinan.
7.4. Sifat Dasar Bambu

Pengetahuan tentang sifat dasar material merupakan informasi penting guna memberi
petunjuk tentang cara pengerjaan maupun sifat barang yang dihasilkan. Hasil pengujian sifat
fisis dan mekanis bambu telah diberikan oleh Ginoga (1977) dalam taraf pendahuluan.
Pengujian dilakukan pada bambu apus (Gigantochloa apus Kurz.) dan bambu hitam
(Gigantochloa nigrocillata Kurz.)
7.4.1. Anatomi

Struktur anatomi bambu berkaitan erat dengan sifat-sifat fisik dan mekaniknya. Menurut
Liesse (1980), bambu memiliki cici-ciri pertumbuhan primer yang sangat cepat tanpa diikuti
pertumbuhan sekunder, batangnya beruas-ruas, semua sel yang terdapat pada inter nodia
mengarah pada sumbu aksial, sedang pada nodia mengarah pada sumbu transversal. Batang
bambu terdiri atas sekitar 50% parenkim, 40% serat dan 10% sel penghubung (pembuluh dan
sieve tubes) Dransfield dan Widjaja (1995). Parenkim dan sel penghubung lebih banyak

69
FM 1-7.1.0-1-41 ed.A rev.2

BAHAN AJAR
Kurikulum
Jurusan : Teknik Sipil 2010
PNK Program Studi : D3 & D4
Matakuliah : Bahan Bangunan

ditemukan pada bagian dalam dari batang, sedangkan serat lebih banyak ditemukan pada
bagian luar. Sedangkan susunan serat pada ruas penghubung antar buku memiliki
kecenderungan bertambah besar dari bawah ke atas sementara parenkimnya berkurang. Serat-
serat bambu merupakan unsur-unsur penyusun jaringan sklerenkim. Serat berfungsi sebagai
faktor kekuatan bambu. Serat merupakan sel yang berdinding tebal, berbentuk memanjang dan
bagian ujungnya meruncing. Panjang serat semakin bertambah dari dinding dalam ke dinding
luar.

7.4.2. Perubahan Dimensi Bambu

Perubahan dimensi bambu tidak sama dari ketiga arah struktur radial, tangensial dan
longitudinal, sehingga bambu bersifat anisotropis. Kedua jenis perubahan dimensi mempunyai
arti yang sama penting, tetapi berdasarkan pengalaman praktis yang lebih sering menggunakan
bambu dalam keadaan basah, maka pengerutan bambu menjadi perhatian yang lebih besar
dibanding pengembangannya. Angka pengerutan total untuk bambu normal berkisar antara
4,5% sampai 14% dalam arah radial, 2,1% sampai 8,5% dalam arah tangensial dan 0,1% sampai
0,2% dalam arah longitudinal (Prawirohatmojo, 1988).

7.5. Sifat Fisika dan Mekanika

Menurut Haygreen dan Bawyer (1980), sifat fisika dan mekanika kayu dipengaruhi oleh
tiga hal yaitu :
a. Volume rongga
b. Struktur sel
c. Kadar air
Liesse menyatakan bahwa secara anatomi dan kimiawi bambu dan kayu hampir sama,
oleh karena itu faktor-faktor kadar air dan berat jenis yang sangat berpengaruh pada kayu juga
berpengaruh pada sifat-sifat bambu seperti yang tercantum pada Tabel 7.2. dan Tabel 7.3.
Tabel 7.2. Sifat fisis dan mekanis bambu hitam dan bambu apus
No. Sifat Bambu hitam Bambu apus
1. Keteguhan lentur static
a. Tegangan pada batas proporsi (kg/cm2) 447 327
b. Tegangan pada batas patah (kg/cm2) 663 546
c. Modulus elastisitas (kg/cm2) 99000 101000
d. Usaha pada batas proporsi (kg/dcm3) 1,2 0,8
e. Usaha pada batas patah (kg/dm3) 3,6 3,3
2. Keteguhan tekan sejajar serat (tegangan maximum, kg/cm2) 489 504
3. Keteguhan geser (kg/cm2) 61,4 39,5

70
FM 1-7.1.0-1-41 ed.A rev.2

BAHAN AJAR
Kurikulum
Jurusan : Teknik Sipil 2010
PNK Program Studi : D3 & D4
Matakuliah : Bahan Bangunan

4. Keteguhan tarik tegak lurus serat (kg/cm2) 28,7 28,3


5. Keteguhan belah (kg/cm2) 41,4 58,2
6. Berat Jenis
a. KA pada saat pengujian 0,83 0,69
KA : 28% KA : 19,11%
b. KA kering tanur 0,65 0,58
KA : 17% KA : 16,42%
7. Keteguhan pukul
a. Pada bagian dalam (kg/dm3) 32,53 45,1
b. Arah tangensial (kg/dm3) 31,76 31,9
c. Pada bagian luar (kg/dm3) 17,23 31,5
Sumber : Ginoga (1977)
Tabel 7. 3. Nilai sifat fisis dan mekanis bambu
Bambu ater Bambu petung Bambu andong
No. Sifat fisis dan mekanis
kg/cm2 kg/cm2 kg/cm2
1. Keteguhan lentur maksimum 533,05 342,47 128,31
2. Modulus elastisitas 89152,5 53173,0 23775,0
3. Keteguhan tekan sejajar serat 584,31 416,57 293,25
4. Berat jenis 0,71 0,68 0,55
Sumber : Hadjib dan Karnasudirdja (1986)
7.5.1. Sifat Mekanika

Sifat mekanik adalah sifat yang berhubungan dengan kekuatan bahan dan merupakan
ukuran kemampuan suatu bahan untuk menahan gaya luar yang bekerja padanya. Sifat
mekanika bambu diketahui dari berbagai penelitian yang bertujuan untuk memanfaatkan
bambu secara maksimal sebagai struktur dan bahan bangunan. Salah satu penelitian tentang
bambu dilakukan oleh Morisco, penelitian ini didorong oleh kenyataan bahwa kuat tarik bambu
sangat tinggi, sedang dalam praktek kekuatan ini belum dimanfaatkan karena belum adanya
metoda penyambungan bambu yang dapat menghasilkan sambungan dengan kekuatan yang
memadai. Sifat mekanik bambu dipengaruhi oleh:

a. Jenis spesies
b. Umur saat ditebang
c. Kandungan air
d. Posisi batang (pangkal, tengah, ujung)
e. Posisi nodia dan internodia.
Sifat-sifat mekanik daripada bambu yang meliputi tegangan tarik, tekan, lentur dan
modulus elastisitas seperti yang terdapat pada Tabel 2.4. dan Tabel 7.5. berikut ini:

71
FM 1-7.1.0-1-41 ed.A rev.2

BAHAN AJAR
Kurikulum
Jurusan : Teknik Sipil 2010
PNK Program Studi : D3 & D4
Matakuliah : Bahan Bangunan

Tabel 7. 4. Kuat batas dan tegangan ijin bambu


Macam tegangan Kuat batas (kg/cm) Tegangan Ijin (kg/cm)
Tarik 981-3920 294,2
Lentur 686-2940 98,07
Tekan 245-981 78,45
E Tarik 98070-294200 196,1 x 10
Sumber:Tular dan Sutidjan, 1961

Tabel 7. 5. Hasil pengujian 3 spesies bambu, Gigantochloa Apuz Kruz, Gigantochloa Verticillata
Munro, dan Dendracalamus Asper Backer
Sifat Kisaran Jumlah specimen
Kuat tarik 1180 - 2750 kg/cm 234
Kuat lentur 785 1960 kg/cm 234
Kuat tekan 499 588 kg/cm 234
E tarik 87280 313810 kg/cm 54
E tekan 55900 211820 kg/cm 234
Batas regangan tarik 0.0037 0.0244 kg/cm 54
Berat jenis 0.67 0.72 kg/cm 132
Kadar lengas 10.04 10.81 % 117
Sumber: Siopongco dan Munandarr,1987

Tabel 7.4. dan Tabel 7.5. merekomendasikan tegangan ijin yang dapat dipakai untuk
berbagai macam bambu. Tentunya tegangan ijin yang direkomendasikan ini cenderung pada
sistem yang aman untuk pemakaian berbagai macam bambu. Dengan demikian angka-angka
tersebut jika dipakai sebagai dasar dalam perancangan, tentunya akan menghasilkan struktur
yang aman (Morisco, 1999)

1. Kuat Tarik dan Tekan Bambu


Bambu mempunyai kuat tarik dan kuat tekan yang baik. Kuat tarik yang sama terdapat di
sepanjang batang, sedangkan kuat tekannya semakin meningkat sesuai dengan umur bambu
tersebut. Terdapat perbedaan dalalm menentukan pengujian sifat bambu yang sesuai, dimana
setidaknya bambu diuji pada umur tiga tahun, dan pengujian dilakukan pada potongan bambu
pada ruasnya dan pada nodialnya. Beberapa penelitian pengujian belum menggunakan
parameter ini, sehingga hasil pengujian yang dilakukan tidak dapat dimanfaatkan.
Bambu sangat lemah pada arah radial, sehingga pembebanan tegak lurus atas sumbu
batang sedapat mungkin dihindarkan atau ditempatkan pada ruas batang. Morisco (1996),
mengadakan pengujian kekuatan bermacam-macam bambu seperti yang ada pada tabel berikut
ini, dimana terlihat bahwa kekuatan bambu dengan nodia lebih rendah daripada bambu tanpa
nodia seperti yang tercantum pada Tabel 7.6.

72
FM 1-7.1.0-1-41 ed.A rev.2

BAHAN AJAR
Kurikulum
Jurusan : Teknik Sipil 2010
PNK Program Studi : D3 & D4
Matakuliah : Bahan Bangunan

Tabel 7.6. Kuat tarik rata-rata bambu kering oven


Jenis Tanpa Nodia Dengan Nodia (kg/cm)
bambu (kg/cm)
Ori 2.910 1.280
Petung 1.900 1.160
Htam 1.660 1.470
Legi 2.880 1.260
Tutul 2.160 740
Galah 2.530 1.240
Tali 1.515 552

Sumber:Morisco,1999

Pengujian sifat mekanik yang ditujukan untuk membedakan kekuatan tarik sejajar sumbu
batang dilakukan pada bambu tanpa maupun dengan buku menunjukkan bahwa bambu tanpa
buku lebih kuat daripada bambu dengan buku. Hal ini disebakan karena pada buku ada
sebagian serat bambu yang berbelok, dan sebagian lagi tetap lurus. Karena itu buku bambu
adalah bagian terlemah terhadap gaya tarik sejajar sumbu batang. Dengan demikian
perancangan struktur bambu sebagai batang tarik harus didasarkan pada bagian buku.

Selain itu kekuatan pada bambu juga dipengaruhi oleh posisinya, bagian terkuat dari
bambu adalah kulit. Kekuatan kulit ini sangat jauh lebih tinggi daripada kekuatan bambu bagian
dalam. Sedangkan kuat tekan bambu semakin meningkat sesuai dengan umur bambu tersebut.

Tabel 7. 7. Kuat tarik dan kuat tekan rata-rata bambu pada berbagai posisi
Jenis bambu Bagian Kuat tarik Kuat tekan
(kg/cm) (kg/cm)
Petung Pangkal 2.278 2.769
Tengah 1.770 4.089
Ujung 2.080 5.479
Tutul Pangkal 2.394 5.319
Tengah 2.917 5.428
Ujung 4.488 4.639
Galah Pangkal 1.920 3.266
Tengah 3.350 3.992
Ujung 2.324 4.048
Tali Pangkal 1.442 2.158
Tengah 1.368 2.880
Ujung 1.735 3.354
Dendeng Pangkal 2.214 4.641
Tengah 2.513 3.609
Ujung 3.411 3.238
Sumber:Morisco,1999

73
FM 1-7.1.0-1-41 ed.A rev.2

BAHAN AJAR
Kurikulum
Jurusan : Teknik Sipil 2010
PNK Program Studi : D3 & D4
Matakuliah : Bahan Bangunan

2. Modulus Elastisitas Bambu


Adapun hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Tular dan Sutijan (1961), modulus
elastis E bambu berkisar antara 98070 294200 kg/cm, tetapi untuk perancangan dipakai E
sebesar 294200 kg/cm.
3. Kuat Geser
Kuat geser bambu sangat rendah, maka dari itu perancangan bambu sebagai struktur
sebagai batang tunggal lebih efektif bila dibandingkan batang ganda. Namun perkembangan
teknologi penyambungan bambu seperti yang dilakukan Mardjono dan Morisco telah
menjawab masalah ini yaitu dengan membuat sambungan bambu sebagai bahan komposit.
7.5.2. Sifat Fisika Bambu

1. Berat Jenis
Berat jenis bambu adalah perbandingan berat bambu terhadap berat suatu volume air
yang sama dengan volume bambu tersebut. Berat jenis dan kerapatan bambu menentukan sifat
fisika dan mekanikanya. Hal ini disebabkan nilai berat jenis dan kerapatan bambu ditentukan
oleh banyaknya zat kayu. Menurut Liese (1980) berat jenis bambu berkisar antara 0,5 0,9
gr/cm.
Bambu mempunyai perbandingan kekuatan dan berat yang sangat tinggi sehingga efisien
dan efektif untuk digunakan sebagai bangunan.

2. Kandungan air

Bambu seperti halnya kayu merupakan zat higroskopis artinya mempunyai afinitas
terhadap air, baik dalam bentuk uap atau cairan. Kandungan air pada bambu akan berpengaruh
pada kekuatan bambu. Menurut Janssen (1998) kekuatan suatu bahan menurun dengan
naiknya kadar air pada bahan tersebut.

Penyerapan dan pengeluaran air yang berulang-ulang biasanya diikuti dengan retak dan
pecah pada bambu. Untuk mengatasi keadaan tersebut maka beberapa cara yang perlu
diperhatikan diantaranya adalah menyimpan bambu pada ruang yang tidak lembab, lantai
kering dan sirkulasi udara lancar.

Morisco dan Triwiyono (2000) melakukan penelitian kadar air serta berat jenis bambu
petung. Pengukuran kadar air dilakukan seharis setelah penebangan. Hasil penelitiannya
tercantum pada Tabel 7.8. berikut:

74
FM 1-7.1.0-1-41 ed.A rev.2

BAHAN AJAR
Kurikulum
Jurusan : Teknik Sipil 2010
PNK Program Studi : D3 & D4
Matakuliah : Bahan Bangunan

Tabel 7.8. Kadar Air dan Berat Jenis Bambu Petung


Posisi Nomor Bambu basah Bambu Kering Udara
Kadar Air % Berat Jenis Kadar Air % Berat Jenis
Pangkal 1 38,610 0,634 5,381 0,646
2 34,256 0,680 4,390 0,663
3 35,361 0,603 5,909 0,682
Rata-rata 36,06 0,639 5,227 0,664
Tengah 1 41,129 0,695 6,250 0,711
2 36,402 0,701 6,926 0,702
3 35,965 0,712 6,859 0,769
Rata-rata 37,832 0,703 6,678 0,727
Ujung 1 38,699 0,754 6,034 0,763
2 36,078 0,712 8,756 0,697
3 35,517 0,686 6,818 0,820
Rata-rata 36,765 0,717 7,203 0,760
Sumber: Morisco dan Triwiyono (2000)

3. Kembang susut

Kembang susut bambu perlu diperhatikan agar struktur bangunan bambu tidak
mengalami perubahan bentuk dan penurunan kualitas akibat adanya penyusutan. Adanya
perubahan bentuk ini tentunya akan mengurangi nilai fungsi dari sebuah struktur bangunan,
misalnya penyusutan pada pintu dan jendela sehingga tidak bisa dibuka, retaknya kaca, dll.

7.6. Sifat Kimia


Penelitian sifat kimia bambu telah dilakukan oleh Gusmailina dan Sumadiwangsa (1988)
meliputi penetapan kadar selulosa, lignin, pentosan, abu, silika, serta kelarutan dalam air
dingin, air panas dan alkohol benzen. Hasil pengujian menunjukkan bahwa kadar selulosa
berkisar antara 42,4% - 53,6%, kadar lignin bambu berkisar antara 19,8% - 26,6%, sedangkan
kadar pentosan 1,24% - 3,77%, kadar abu 1,24% - 3,77%, kadar silika 0,10% - 1,78%, kadar
ektraktif (kelarutan dalam air dingin) 4,5% - 9,9%, kadar ekstraktif (kelarutan dalam air panas)
5,3% - 11,8%, kadar ekstraktif (kelarutan dalam alkohol benzene) 0,9% - 6,9%.

7.7. Stabilisasi Warna


Usaha peningkatan kualitas bambu sebagai bahan kerajinan anyaman adalah dengan
meningkatkan kecerahan warna bambu melalui pemutihan. Bambu tali (Gigantochloa apus)
yang mempunyai serat yang ulet dan ruas yang panjang dan sering digunakan sebagai bahan
anyaman, telah dipilih oleh Zulnely dan Dahlian (1999) sebagai bahan penelitian pemutihan
bambu. Sebagai bahan pemutih digunakan larutan hidrogen peroksida (H2O2) dan digunakan
bahan bambu yang berbeda umurnya, pada ruas yang terpisah. Untuk mengetahui

75
FM 1-7.1.0-1-41 ed.A rev.2

BAHAN AJAR
Kurikulum
Jurusan : Teknik Sipil 2010
PNK Program Studi : D3 & D4
Matakuliah : Bahan Bangunan

kemungkinan perubahan kekuatannya dilakukan uji keteguhan tarik dan hasilnya seperti yang
tercantum pada Tabel 7.9.

Tabel 7. 9. Data derajat putih dan keteguhan tarik bambu tali (Gigantochloa apus) yang telah diputihkan
Derajat putih (%) Keteguhan tarik (kg/cm2)
Umur dan bagian bambu
Diputihkan Tak diputihkan Diputihkan Tak diputihkan
6 bulan
- ujung 67,29 43,54 90,87 102
- tengah 68,42 44,71 98,33 133
- pangkal 60,51 39,42 164 248
1 tahun
- ujung 62,94 38,77 160,27 192
- tengah 56,66 36,86 186,40 239
- pangkal 62,69 37,36 178,53 210
Sumber : Zulnely dan Dahlian (1999)
Selain pencerahan warna bambu, pada beberapa tujuan produksi kadang ditemukan
keinginan untuk menampilkan bambu dalam warna kulit alaminya. Hal ini disebabkan karena
kecenderungan kulit bambu untuk berubah warna menjadi kuning setelah melalui proses
pengeringan alami. Pengawetan mengenai warna hijau kulit bambu telah dilaksanakan pada
bambu andong (Gigantochloa verticillata Munro.) oleh Barly dan Ismanto (1998). Hasil dari
penelitian ini adalah kulit bambu cenderung untuk tetap berwarna hijau sesuai dengan warna
alaminya. Pengawetan warna hijau kulit bambu andong dengan menggunakan campuran
larutan terusi dan nikel sulfat dengan pengeringan selama 14 - 28 hari.

7.8. Pengawetan Bambu

Salah satu kendala pemakain bambu untuk struktur bangunan adalah tingkat keawetan
bambu yang rendah sehingga masa layan bangunan pun menjadi lebih pendek dibanding
material lain seperti kayu, beton, baja, dll.

Menurut Liese (1980), bambu tanpa pengawetan hanya dapat tahan satu sampai tiga
tahun jika langsung berhubungan dengan tanah dan tidak terlindung terhadap cuaca. Bambu
yang terlindung terhadap cuaca dapat tahan empat sampai tujuh tahun. Tetapi untuk
lingkungan yang ideal, sebagai rangka, bambu dapat tahan sepuluh sampai 15 tahun. Adapun
upaya yang bisa dilakukan untuk memperpanjang masa layan bambu untuk bangunan adalah
dengan berbagai macam cara.

76
FM 1-7.1.0-1-41 ed.A rev.2

BAHAN AJAR
Kurikulum
Jurusan : Teknik Sipil 2010
PNK Program Studi : D3 & D4
Matakuliah : Bahan Bangunan

7.8.1. Perencanaan/desain struktur yang tepat

Perencanaan yang dimaksud adalah pengaturan letak, posisi dari struktur bamb itu
sendiri, yang intinya agar bambu tidak berhubungan langsung dengan cuaca luar dan tanah,
yaitu dengan:

a. Membuat struktur bambu tidak berhubungan langsung dengan tanah, agar tidak
terpengaruh kelembaban (rumah panggung, membungkus bambu dengan beton)

b. Melindungi struktur bambu dari pengaruh langsung cuaca, misalnya dengan: membuat
tritisan lebar, memakai penutup atap yang rapat air, dll

c. Mengatur posisi batang bambu, bambu yang disusun secara vertical ternyata lebih awet
dibanding susunan bambu horizontal, karena pada susunan vertical air lebih
mudah/cepat mengalir

7.8.2. Pengawetan

Menurut Liese (1980), bambu tanpa pengawetan hanya dapat tahan satu sampai-tiga
tahun jika langsung berhubungan dengan tanah dan tidak terlindung terhadap cuaca. Bambu
yang terlindung terhadap cuaca dapat tahan empat sampai tujuh tahun. Tetapi untuk
lingkungan yang ideal, sebagai rangka, bambu dapat tahan sepuluh sampai 15 tahun.
Pengawetan bambu sebaiknya dilakukan sesegera mungkin, agar zat pengawet dapat cepat
meresap dalam batang bambu.

a. Tradisional

1. Perendaman
Perendaman bambu di dalam air mengalir, tergenang, atau lumpur selama kurun waktu
3-12 bulan. Sulthoni (1988) menjelaskan bahwa perendaman bambu di dalam air (Gambar
7.3.) akan mengakibatkan proses biologis yang rnengakibatkan terjadinya fermentasi pada
pati yang terkandung di dalam bambu, sehingga hasil fermentasi ini dapat larut di dalam
air. Dengan demikian perendaman bambu di dalam air dapat menurunkan kadar pati
bambu, sehingga bambu tidak diserang kumbang bubuk

77
FM 1-7.1.0-1-41 ed.A rev.2

BAHAN AJAR
Kurikulum
Jurusan : Teknik Sipil 2010
PNK Program Studi : D3 & D4
Matakuliah : Bahan Bangunan

Gambar 7.3. Pengawetan dengan perendaman


Keterangan Gambar :
a. Wadah yang diisi batang bambu
b. Batu untuk menjaga kestabilan
c. Permukaan larutan pengawet
d. Batu sebagai pemberat
e. Plastik sebagai penutup
f. Batu sebagai pemberat plastik
2. Pengasapan
Pengasapan bambu (Gambar 7.4.) bertujuan untuk pengeringan, pelindung terhadap
serangan jamur, bubuk, dan memudahkan pengerjaan selanjutnya.

Gambar 7.4. Pengasapan bambu


3. Penentuan masa tebang yaitu pada saat musim kemarau, dimana bambu mempunyai
kadar pati rendah.
4. Pelaburan dengan kapur, untuk mencegah air dan lembab masuk ke dalam batang
bambu.
b. Modern
1. Pengawetan Boucherie
Merupakan pengawetan dengan cara pengaliran (Gambar 7.5.). Bambu yang baru
dipotong masih lengkap dengan kulit, tangkai, serta daun disambung dengan selang yang
dihubungkan pada wadah/drum besi yang didalamnya berisi larutan pengawet seperti:
CCA (Copper Chrome Arsenic), Borid Acid dan Borak.

78
FM 1-7.1.0-1-41 ed.A rev.2

BAHAN AJAR
Kurikulum
Jurusan : Teknik Sipil 2010
PNK Program Studi : D3 & D4
Matakuliah : Bahan Bangunan

Agar larutan pengawet mengalir, maka drum sebaiknya diletakkan 10 m dari tanah.
Larutan pengawet akan mengalir dalam batang bambu melalui pembuluh aliran sap (air
bambu). Penguapan kandungan air melewati daun-daun akan mengakibatkan cairan
pengawet terserap naik sampai ke ujung. Sisa bahan pengawet yang mengalir keluar pada
ujung dapat digunakan kembali. Cara pengawetan ini tidak mudah pelaksanaannya dan
keberhasilnya sulit untuk dikontrol.

Gambar 7.5. Metode Pengawetan Morisco Boucherri

Keterangan gambar :
a. Drum larutan pengawet
b. Pipa tahan tekanan
c. Katup
d. Pipa baja
e. Nosel dengan kelem
f. Penampung tetesan

2. Pengawetan Boucherie- Morisco

Pada tahun 1997 Morisco telah melakukan penelitian untuk memodifikasi pengawetan
Boucherie, dengan cara menggantikan pompa listrik dengan tabung bertekanan yang
dapat dipompa secara manual seperti pada Gambar 7.6. berikut. Sistem pengawetan
seperti ini dinilai sangat efektif dalam mencegah serangan serangga pada bambu, karena
zat pengawet lebih meresap ke dalam kulit dan daging bambu akibat adanya tekanan yang
sangat tinggi.

79
FM 1-7.1.0-1-41 ed.A rev.2

BAHAN AJAR
Kurikulum
Jurusan : Teknik Sipil 2010
PNK Program Studi : D3 & D4
Matakuliah : Bahan Bangunan

Gambar 7.6. Pengawetan bambu Morisco


Menurut Morisco (1999), sistem pengawetan ini terdiri atas beberapa bagian utama, yaitu:
tabung udara bertekanan tinggi, manometer, pipa penyalur tekanan udara, tabung cairan
pengawet, pipa penyalur cairan pengawet, nosel dan pipa karet seperti terlihat pada
gambar dibawah. Semua sambungan yang dibuat harus dilengkapi dengan seal secukupnya
agar tidak bocor (Gambar 7.7.)

Gambar 7.7. Detail hubungan nosel bambu

Prinsip kerja alat ini adalah sebagai berikut (Morisco, 1997):


a. Larutan pengawet (boraks) di dalam tabung didorong dengan udara bertekanan 2-5
kg/cm masuk ke dalam batang bambu lewat pangkal, mendesak getah bambu keluar
melalui ujung bambu lain, membawa sebagian glukosa yang terdapat dalam bambu.

b. Larutan pengawet yang masuk akan meracuni sisa glukosa yang tertinggal di dalam
bambu, sehingga bila ada serangga yang masuk akan teracuni.

Pelaksanaan pengawetan terdiri atas tiga tahap, yaitu persiapan, pemasukan bahan
pengawet yang bersamaan dengan pendorongan keluar sap bambu, dan pengeringan.
Setelah larutan pengawet dimasukkan ke dalam bambu, maka akan terjadi difusi larutan
pengawet didalam batang bambu. Selanjutnya residu larutan pengawet akan keluar lewat
ujung bambu, dan ditampung dalam gelas transparan. Setelah sap bambu habis, larutan
pengawet akan mulai menetes ditandai dengan munculnya warna merah. Proses

80
FM 1-7.1.0-1-41 ed.A rev.2

BAHAN AJAR
Kurikulum
Jurusan : Teknik Sipil 2010
PNK Program Studi : D3 & D4
Matakuliah : Bahan Bangunan

pemasukan larutan pengawetan dihentikan apabila konsentrasi larutan yang ditampung


dalam gelas sama dengan konsentrasi larutan pengawet.

3. Bahan pengawet kimia

Menurut Morisco (2005), pengawet yang digunakan adalah zat yang ramah lingkungan,
sehingga tidak membahayakan kesehatan manusia dan tidak menimbulkan pencemaran
lingkungan. Bahan pengawet yang telah diizinkan oleh Komisi Pestisida Departemen
Pertanian untuk diedarkan di Indonesia adalah sebagaimana yang tercantum pada Tabel
7.10. berikut:

Tabel 7.10. Bahan Pengawet yang dapat digunakan


No Nama bahan pengawet, Kadar Bentuk Organisme Cara
bahan aktif dan kadarnya % formulasi sasaran pemakaian
1 CCB1 Bubuk 100 % Jamur, bubuk Rendaman
Tembaga sulfat 33,00 Bahan aktif dan rayap dingin dan
Kalium dikromat 37,00 Garam vakum tekan
Asam borat 25,00
2 CCB2 Pasta 97 % Jamur, bubuk Rendaman
Tembaga sulfat 34,00 Bahan aktif dan rayap dingin dan
Kalium dikromat 38,00 Garam vakum tekan
Asam borat 25,00
3 CCB3 Bubuk 100 % Jamur, bubuk Rendaman
Tembaga sulfat 28,60 Bahan aktif dan rayap dingin dan
Natrium dikromat 43,90 Garam vakum tekan
Asam borat 27,50
4 CCB4 Pasta 90 % Jamur, bubuk Rendaman
Tembaga sulfat 32,40 Bahan aktif dan rayap dingin dan
Natrium dikromat 36,00 Garam vakum tekan
Asam borat 21,60
5 CCF Bubuk 100 % Jamur, bubuk Rendaman
Tembagasilifluorida 36,70 Bahan aktif dan rayap dingin dan
Amonium dikromat 63,70 Garam vakum tekan
6 Celbor 63 PA Pasta 63 % Bubuk kayu Rendaman
Asam borat 24,90 Bahan aktif kering dingin dan
Natrium tetrabonat 38,36 Garam vakum tekan
7 Impralit16 SP Bubuk 100 % Jamur biru dan Rendaman
Asam borat 35,52 Bahan aktif bubuk kering dingin dan
Boraks 35,52 Garam vakum tekan
Polibor 28,40
Dekanol 0,64
Sumber : Morisco (2005)
7.9. Pengeringan
Proses pengeringan bambu dibutuhkan guna menjaga stabilisasi dimensi bambu,
perbaikan warna permukaan, juga untuk pelindung terhadap serangan jamur, bubuk basah dan
memudahkan dalam pengerjaan lebih lanjut. Kekuatan bambu juga akan bertambah dengan
bertambah keringnya bambu. Pengeringan bambu harus dilaksanakan secara hati-hati, karena
apabila dilaksanakan terlalu cepat (suhu tinggi dengan kelembaban rendah) atau suhu dan

81
FM 1-7.1.0-1-41 ed.A rev.2

BAHAN AJAR
Kurikulum
Jurusan : Teknik Sipil 2010
PNK Program Studi : D3 & D4
Matakuliah : Bahan Bangunan

kelembaban yang terlalu berfluktuasi akan mengakibatkan bambu menjadi pecah, kulit
mengelupas, dan kerusakan lainnya. Sebaliknya bila kondisi pengeringan yang terlalu lambat
akan menyebabkan bambu menjadi lama mengering, bulukan dan warnanya tidak cerah atau
menjadi gelap.

Pengeringan bambu dapat dilakukan secara alami (air drying), pengasapan, pengeringan
dengan energi tenaga surya (solar collector drying) atau kombinasi dengan energi tungku, dan
pengeringan dalam dapur pengering. Penelitian mengenai metode pengeringan bambu telah
dilakukan oleh Basri (1997). Basri menginformasikan bahwa dengan sistem pengasapan dan
energi tenaga surya sebaiknya dilakukan setelah kadar air bambu di bawah 50% agar kualitas
bambu tetap terjaga. Bambu yang masih sangat basah setelah dipotong sesuai ukuran yang
akan dipergunakan, dibersihkan dan ditumpuk berdiri dengan posisi saling menyilang atau
ditumpuk secara horisontal selama kurang lebih satu minggu.

Soal Latihan :
1. Sebutkan perbedaan antara bamboo yang tumbuh dengan karakteristik simpodial dan
monopodial !
2. Jelaskan kelebihan dan kelemahan bamboo sebagai bahan bangunan
3. Sebutkan jenis jenis bamboo yang dapat digunakan sebagai bahan bangunan
4. Apa yang dimaksud dengan bamboo laminasi
5. Mengapa sebelum diolah bamboo harus melewati proses pengawetan
6. Jelaskan proses pengawetan bamboo metode morisco-boucherri

DAFTAR PUSTAKA
Morisco, 2006, Materi Kuliah Bambu, MTBB-UGM, Jurusan Teknik Sipil & Struktur, UGM,
Jogjakarta.

82
FM 1-7.1.0-1-41 ed.A rev.2

BAHAN AJAR
Kurikulum
Jurusan : Teknik Sipil 2010
PNK Program Studi : D3 & D4
Matakuliah : Bahan Bangunan

BAB 8
KAYU

Tujuan Instruksional Khusus : Setelah mengikuti kuliah ini, mahasiswa akan dapat mengenal
jenis jenis kayu, sifat sifat teknis kayu, proses pengolahan kayu sebelum menjadi bahan
konstruksi, sampai dengan mengenal berbagai jenis aplikasi kayu sebagai bahan konstruksi.
Gambaran umum materi : Kayu merupakan bahan bangunan yang mempunyai sifat sifat
spesifik dan tidak bisa ditiru oleh bahan bangunan lain buatan manusia. Misalnya kayu
mempunyai sifat elastis, ulet, tahan terhadap pembebanan tegak lurus dengan serat yang
sejajar. Sifat sifat tersebut tidak dimiliki oleh bahan bangunan lain seperti baja, beton ataupun
bahan bangunan lain yang dibuat manusia. Oleh sebab itu penggunaan kayu sangatlah luas,
misalnya pencil sampai dengan konstruksi jembatan.
Relevansi Mata Kuliah : Pada bab ini mahasiswa diharapkan mengenal jenis jenis kayu serta
sifat sifat teknis yang dimilikinya. Dasar dasar pengetahuan tersebut merupakan prasyarat
yang harus dikuasai oleh mahasiswa agar dapat melakukan pemilihan material kayu dalam
aplikasi perancangan struktur. Ketika pengetahuan ini diterapkan di lapangan maka mahasiswa
akan memiliki kompetensi dalam merencanakan suatu struktur dengan menggunakan bahan
bahan kayu sekaligus dapat melakukan pengawasan teknis terhadap pelaksanaan konstruksi
kayu.

8.1. P E N D A H U L U A N
Kayu sampai sekarang masih banyak diperlukan orang. Dari segi manfaat bagi kehidupan
manusia , kayu dinilai mempunyai sifat sifat utama yang menyebabkan kayu selalu diperlukan
manusia.
Semakin berkembangnya pembangunan secara ekologis maka akan muncul suatu
pembaharuan dibidang perancangan dimana manusia menjadi pusatnya. Kayu merupakan
sumber kekayaan alam yang tidak akan habis habisnya, jika dikelola dengan baik. Kayu
merupakan bahan mentah yang mudah diproses untuk dijadikan barang lain. Dengan kemajuan
teknologi kayu sebagai bahan mentah mudah diproses menjadi barang barang seperti kertas,
tekstil ataupun dijadikan playwood sebagai bahan bangunan.
Kayu merupakan bahan bangunan yang mempunyai sifat sifat spesifik dan tidak bisa
ditiru oleh bahan bangunan lain buatan manusia. Misalnya kayu mempunyai sifat elastis, ulet,
tahan terhadap pembebanan tegak lurus dengan serat yang sejajar. Sifat sifat tersebut tidak
dimiliki oleh bahan bangunan lain seperti baja, beton ataupun bahan bangunan lain yang dibuat
manusia.

83
FM 1-7.1.0-1-41 ed.A rev.2

BAHAN AJAR
Kurikulum
Jurusan : Teknik Sipil 2010
PNK Program Studi : D3 & D4
Matakuliah : Bahan Bangunan

Beberapa contoh potongan permukaan kayu

8.2. SIFAT DAN KEKUATAN KAYU


8.2.1 Kayu dan Bahan Perkayuan
Kayu sampai saat ini masih banyak dicari dan dibutuhkan orang dengan tujuan
penggunaan tertentu. Terkadang sebagai barang tertentu kayu tidak dapat digantikan dengan
bahan lain karena sifat khasnya Dari segi manfaatnya untuk kehidupan manusia, kayu dinilai
mempunyai sifat sifat utama yaitu sifat sifat yang menyebabkan kayu selalu tetap
dibutuhkan manusia.
8.2.2 Pengenalan Sifat Sifat Kayu
Kayu merupakan hasil hutan yang mudah diproses untuk dijadikan barang sesuai dengan
kemajuan teknologi. Pemilihan dan penggunaan kayu untuk suatu tujuan pemakaian
memerlukan pengetahuan tentang sifat sifat kayu. Sifat sifat ini sangat penting dalam
industri pengolahan kayu, sebab dari pengetahuan sifat tersebut tidak saja dapat dipilih jenis
kayu yang tepat serta macam penggunaannya, tetapi dapat dipilih kemungkinan penggantian
dengan jenis kayu lain apabila jenis yang bersangkutan sulit diperoleh.
Kayu berasal dari berbagai jenis pohon yang mempunyai sifat yang berbeda beda.
Bahkan dalam satu pohonpun kayu dapat mempunyai sifat yang berbeda juga. Dari sifat kayu
yang berbeda beda satu dengan lainnya, ada beberapa sifat yang umum yang terdapat pada
semua jenis kayu :
1. Tersusun dari sel sel yang terdiri dari bermacam macam tipe dan susunan dinding
selnya terdiri dari senyawa kimia berupa selulosa dan hemi selulosa (karbonat) serta
lignin (non karbonat).
2. Semua kayu bersifat anisotropik, yaitu memperlihatkan sifat sifat yang berlainan jika
diuji dari tiga arah (longitudinal, radial dan tangensial).
3. Merupakan bahan yang bersifat higroskopik, yaitu dapat menyerap atau melepaskan
kadar air (kelembaban) akibat dari perubahan kelembaban dan suhu udara disekitarnya.

84
FM 1-7.1.0-1-41 ed.A rev.2

BAHAN AJAR
Kurikulum
Jurusan : Teknik Sipil 2010
PNK Program Studi : D3 & D4
Matakuliah : Bahan Bangunan

4. Dapat diserang oleh hama dan penyakit dan dapat terbakar terutama dalam keadaan
kering.
8.2.3 Syarat Teknis Bahan Kayu
Penggunaan kayu untuk suatu tujuan pemekaian tertentu tergantung dari sifat sifat
kayu yang bersangkutan dan persyaratan teknis yang diperlukan. Jenis jenis kayu yang
mempunyai persyaratan untuk tujuan pemakaian tertentu seperti :
1. Untuk bangunan (konstruksi). Syarat teknisnya adalah kuat, keras, ukuran besar dan
mempunyai keawetan alam yang tinggi.
2. Untuk veneer (vinir) biasa. Syarat teknisnya adalah kayu bulat berdiameter besar, bulat,
bebas cacat dan beratnya sedang.
3. Untuk veneer mewah. Syarat teknisnya adalah selain syarat dari veneer biasa kayu
tersebut harus nampak dekoratifnya.
4. Untuk keperluan meubeler. Syarat teknisnya adalah berat sedang, dimensi tetap,
dekoratif, mudah dalam pengerjaan.
5. Sebagai bahan lantai (parkit). Syarat teknisnya adalah keras, daya abrasi tinggi, tahan
terhadap asam, kuat dan mudah dikerjakan.
6. Sebagai bantalan kereta api. Syarat teknisnya adalah kuat, keras, kaku dan awet.
7. Untuk peralatan olah raga. Syarat teknisnya adalah kuat, tidak mudah patah, ringan,
tekstur halus, serat halus, serat lurus dan panjang, kaku dan cukup awet.
8. Untuk keperluan alat alat musik. Syarat teknisnya adalah tekstur halus, berserat
lurus, tidak mudah belah dan daya resonansi baik.
9. Sebagai barang kerajinan. Syarat teknisnya adalah serat lurus, keras, tekstur halus, liat,
tidak mudah patah dan berwarna gelap.
10. Untuk bahan moulding. Syarat teknisnya adalah ringan, serat lurus, tekstur halus,
mudah dalam pengerjaan, warna terang, tanpa cacat dan dekoratif.

8.2.4 Pemakaian Sebagai Bahan Bangunan


Kayu untuk bangunan dibagi dalam 3 (tiga) golongan pemakaian yaitu :
1. Kayu bangunan structural yaitu kayu bangunan yang digunakan dalam structural
bangunan dan penggunaannya memerlukan berhitungan beban,
2. Kayu bangunan non structural yaitu kayu bangunan yang digunakan dalam bagian
bangunan, yang penggunaannya tidak memerlukan perhitungan beban.

85
FM 1-7.1.0-1-41 ed.A rev.2

BAHAN AJAR
Kurikulum
Jurusan : Teknik Sipil 2010
PNK Program Studi : D3 & D4
Matakuliah : Bahan Bangunan

3. Kayu bangunan untuk keperluan lain yaitu kayu bangunan yang tidak termasuk
klasifikasi butir 1 dan butir 2 di atas, tetapi dapat dipergunakan sebagai bahan bangunan
penolong ataupun bangunan sementara.
8.2.5 Kekuatan Kayu
Pengelompokan kekuatan kayu berdasarkan kekuatan secara alami kayu yang mempunyai
kekuatan yang berbeda menurut jenis kayu, berdasarkan tegangan lentur mutlak, kekuatan
kayu dibagi menjadi 5 kelas yaitu :

Kelas Berat Jenis Kekuatan Lentur Kekuatan Tekan


Kuat Kering Udara Mutlak (kg/cm2) Mutlak (kg/cm2)
I 0.9 1100 650
II 0.9 0.6 1100 725 650 425
III 0.6 0.4 725 500 425 300
IV 0.4 0.3 500 350 300 215
V 0.3 350 215

8.3. BAHAN BANGUNAN DARI KAYU


Kayu masih menjadi primadona untuk membangun rumah. Material ini begitu akrab
dengan budaya membangun rumah di Indonesia. Seluruh bagian rumah pada umumnya
dibangun menggunakan kayu. Mulai dari kuda kuda, atap, kusen, pintu, jendela, furniture,
dinding maupun lantai. Kayu yang digunankan sebagai bahan konstruksi harus memenuhi
syarat teknis seperti di atas.
Penggunaan lainnya kayu sebagai bahan bangunan seperti pada tabel di bawah ini :
Serbuk, serat
Kayu masif Vinir Partikel, serat kasar Kayu komposit
halus
1. kayu lapis 1. tripleks 1. papan partikel 1. papan serat 1. papan blok
masif 2. multipleks (chipboard, kayu (blockboard)
2. balok particle board) (softboard, 2. papan lamin
papan 2. papan serat kayu hardboard, (laminboard)
berlapis semen (wood medium
majemuk wool cement density
dengan board) fibreboard)
perekat 2. papan serbuk
berbentuk kayu ragi SLP
atau I (light starch
bound wood
board)

86
FM 1-7.1.0-1-41 ed.A rev.2

BAHAN AJAR
Kurikulum
Jurusan : Teknik Sipil 2010
PNK Program Studi : D3 & D4
Matakuliah : Bahan Bangunan

8.3.1 Kayu Lapis (tripleks dan multipleks)


Kayu lapis adalah papan atau panel buatan yang terdiri dari beberapa susunan lapisan vinir
yang mempunyai arah serat saling bersilangan tegak lurus dengan diikat oleh perekat tertentu,
serta jumlah lapisan yang ganjil.
Vinir adalah lembaran kayu tipis yang diperoleh dengan cara mengupas atau mengiris dari kayu
gelondong (balok) dari jenis tertentu. Kayu yang biasa dibuat untuk vinir dari jenis kayu lunak,
ringan, kelas kuat dan kelas awetnya sekitar II IV dan jika dikupas tidak mudah pecah atau
retak.
Contohnya seperti :
- Agathis (Damar)
- Kamper (Dryobalanops spp)
- Keruing (Dipterocarpus spp)
- Mangir (Canophylum)
- Meranti (Shorea spp)
- Merawan (Hopea spp)
Sebagai bahan perekat kayu lapis yang tahan terhadap kelembaban udara (jenis II)
digunakan perekat jenis khusus yang terbuat dari lem PVA. Perekat untuk kayu yang tahan air
dan cuaca (jenis I) terbuat dari fenol formaldehid (tetapi formaldehid dapat berpengaruh
terhadap kesehatan manusia).

87
FM 1-7.1.0-1-41 ed.A rev.2

BAHAN AJAR
Kurikulum
Jurusan : Teknik Sipil 2010
PNK Program Studi : D3 & D4
Matakuliah : Bahan Bangunan

Penggunaan Kayu Lapis


Kayu lapis berupa tripleks ataupun multipleks dapat digunakan untuk :
1. bangunan, seperti bekisting, daun pintu, dinding penyekat, langit langit, lapisan dasar
lantai parkit.
2. perabot rumah tangga, seperti lemari, tempat tidur, meja dan kursi.

Ukuran (panjang x lebar) kayu lapis adalah : (91.5 x 213.5) cm dan (122 x 244) cm

88
FM 1-7.1.0-1-41 ed.A rev.2

BAHAN AJAR
Kurikulum
Jurusan : Teknik Sipil 2010
PNK Program Studi : D3 & D4
Matakuliah : Bahan Bangunan

Ukuran tebal kayu lapis adalah :


Tebal kayu lapis Jumlah lapis
4 dan 6 mm 3
12 dan 15 mm 5
18 dan 25 mm 7

8.3.2 Papan Blok (blockboard) dan Papan Lamin (laminboard)


Selain sebagai kayu lapis, ada juga produksi papan blok atau papan laminasi, yaitu kayu
lapis dengan inti kayu lapis yang terdiri dari kayu gergajian (blockboard) atau vinir tebal yang
berdiri tegak lurus dengan lapisan vinir muka dan belakang sebagai berikut :

89
FM 1-7.1.0-1-41 ed.A rev.2

BAHAN AJAR
Kurikulum
Jurusan : Teknik Sipil 2010
PNK Program Studi : D3 & D4
Matakuliah : Bahan Bangunan

8.3.3 Papan Partikel (chipboard, particle board)


Papan partikel dibuat dari tatal kayu yang kasar dan dicampur dengan perekat kemudian
dipres menjadi papan. Keuntungan dari papan partikel terletak pada ukuran penyusutan yang
agak kecil pada panjang lebarnya, walaupun pada tebalnya sangat peka terhadap
kelembaban.
Papan partikel biasanya digunakan untuk pekerjaan meubel yang agak murah, sedangkan papan
partikel yang tahan air (dengan semen sebagai perekat digunakan sebagai pelat dinding
pemisah ruang ataupun pelat lantai dasar pada gedung bertingkat).

8.3.4 Papan Serat Kayu (softboard, hardboard, medium density fibreboard)


Papan serat kayu yang lunak dank eras terdiri dari kayu yang diurai menjadi bubur kayu.
Karena kayu terdiri dari selulosa dan lignin, maka proses pembuatan papan dilakukan dengan
suhu yang cukup tinggi sehingga lignin akan berfungsi sebagai perekat serat kayu secara
alamiah. Sehingga papan serat kayu merupakan bahan yang alamiah dan tidak menggangu
kesehatan manusia. Penggunaannya terbatas pada bagian dalam rumah.
Pada papan serat kayu MDF (medium density fibreboard) dibuat dengan cara yang
berbeda dari softboard ataupun hardboard. Bubur kayu ini dikeringkan terlebih dahulu sebelum
dicampur dengan perekat dan kemudian dikempa menjadi papan. Sehingga papan serat kayu
MDF agak mirip dengan papan partikel. Keuntungannya lebih mudah dikerjakan dari semua
arah papan. Kerugiannya mengandung fenol formaldehid yang dapat mempengarugi
kesehatan manusia.

90
FM 1-7.1.0-1-41 ed.A rev.2

BAHAN AJAR
Kurikulum
Jurusan : Teknik Sipil 2010
PNK Program Studi : D3 & D4
Matakuliah : Bahan Bangunan

8.3.5 Papan Serbuk Kayu Ragi SLP (light starch bound wood board)
Penemuan papan serbuk kayu ragi SLP ini sangat menguntungkan manusia karena tidak
mengandung bahan perekat yang mencemari lingkungan. Pembuatan papan ini mirip dengan
pembuatan tempe atau roti. Serbuk kayu yang halus dicampur dengan ragi dan air sehingga
mengembang. Kemudian adonan tersebut dikeringkan dalam oven. Papan ini dapat digergaji,
dibor, diketam atau dilem seperti halnya pada kayu/papan, tetapi jauh lebih ringan karena
berat volumenya antara 250 300 kg/cm3. Jenis papan ini pada pemakaiannya sesuai untuk
dinding partisi di dalam gedung atau untuk perabot rumah tangga.
8.3.6 Papan Serat Kayu Semen Yumen (wood wool cement board)
Papan serat kayu semen dibuat dari serat serat kayu pilihan yang diawetkan dengan
menggunakan semen Portland sebagai perekat diikat menjadi papan serat kayu semen yang
tahan terhadap api, air, jamur dan rayap. Dapat menanggulangi bising dan panas, serta dapat
dilapisi dengan plesteran biasa.

Dengan sifat sifat fisik yang sangat menguntungkan (ringan, kuat, tahan terhadap api,
air jamur dan rayap serta mampu menanggulangi bising dan panas) papan serat kayu semen
cocok digunakan sebagai :
a. Lapis dinding luar pada konstruksi kayu ataupun baja yang tahan api, air dan rayap.
b. Dinding pemisah ruang yang agak tipis yang mampu menanggulangi bising.
c. Langit langit yang dapat menanggulangi bising dan panas.
d. Bekisting untuk pelat lantai dan bagian bawahnya dapat digunakan langsung sebagai
langit langit yang tahan terhadap api dan dapat menanggulangi bising.
Ketahanan terhadap api dalam keadaan terbakar rata rata 4 menit per 10 mm tebal papan
serat kayu semen.

91
FM 1-7.1.0-1-41 ed.A rev.2

BAHAN AJAR
Kurikulum
Jurusan : Teknik Sipil 2010
PNK Program Studi : D3 & D4
Matakuliah : Bahan Bangunan

8.4. KEGUNAAN BEBERAPA JENIS KAYU


8.4.1 Pengertian
Pengawetan kayu adalah untuk daya tahan kayu terhadap serangan hama yaitu serangga
dan jamur.
Kekuatan kayu adalah daya tahan kayu terhadap kekuatan mekanis dari luar, antara lain : daya
dukung, gaya tarik, daya tahan.
Kelas awet adalah tingkat kekuatan alami suatu jenis kayu terhadap serangan hama yang
dinyatakan dalam kelas kuat I, II, III. Makin besar angka kelasnya makin rendah keawetannya.
Kelas kuat adalah tingkat ketahanan alami suatu jenis kayu terkadap kekuatan mekanis (beban)
yang dinyatakan dalam kelas kuat I, II, III, IV, dan V. Makin besar angka kelasnya makin rendah
kekuatannya.

8.4.2 Kegunaan
Maksudnya pemanfaat kayu sebagai bahan bangunan ataupun lainnya mulai dari kayu
bulat (log/gelondongan) ataupun kayu yang sudah diolah industri secara mekanis sebagai
bahan bangunan, seperti moulding ataupun plywood.
Penggunaan kayu tersebut adalah untuk :
1. bangunan (rangka bangunan, atap) 11. perkapalan
2. kayu lapis 12. seni kerajinan tangan (ukiran,patung)
3. meubeler 13. vinir mewah
4. lantai (jembatan, rumah) 14. korek api
5. papan dinding 15. pulp
6. bantalan 16. alat gambar
7. kusen (pintu, jendela) 17. bahan pensil
8. bahan pembungkus 18. bahan baker (arang)
9. alat olah raga dan musik 19. obat obatan
10. tiang listrik dan telepon 20. moulding

Sifat dan kegunaan beberapa jenis kayu seperti pada tabel di bawah ini :
BJ
Kelas
No Jenis Kayu rata - Kelas Kuat Kegunaan
Awet
rata
1 Agathis 0.40 IV III 1,2,3,7,8,9,14,15,17
2 Bakau 0.94 III I,II 1,15
3 Bengkirai 0.91 I, II, III I, II 1,2,3,4,6,11
4 Bedaru 0.84 I I 1,3,6,9,11,12
5 Belangiran 0.86 I, II, III I, II 1,3,4,6,7,11
6 Bentangor 0.78 III II, III 1,2,3,4,5,6
7 Cemara - II, III I, II 1,4,5,6,10,11,18
8 Cendana 0.84 II I, II 12,19

92
FM 1-7.1.0-1-41 ed.A rev.2

BAHAN AJAR
Kurikulum
Jurusan : Teknik Sipil 2010
PNK Program Studi : D3 & D4
Matakuliah : Bahan Bangunan

9 Durian 0.64 IV, V II, III 1,2,8


10 Jelutung 0.40 V III, V 2,8,12,16,17,18
11 Kempas 0.95 III, IV I, II 1,2,4,6
12 Keruing 0.79 III I, II 1,2,4,5,6,11
13 Ketapang - III, IV II, III 1,2,3,4,5,6,7,8,11,14,20
14 Mahoni 0.64 III II, III 1,2,3,4,5,7,11,12
15 Meranti Merah 0.55 III, IV II, IV 1,2,3,4,5,8,15
16 Meranti Putih 0.54 III, IV II, IV 1,2,3,4,5,8,15
17 Punak 0.74 III, IV II 1,2,3,4,5,7,11,20
18 Putat - II, III I, II 1,3,4,5,6,7,11,18
19 Ramin 0.63 IV II, III 1,2,3,4,5,7,20
21 Simpur - III, IV I, III 1,2,3,4,5,11,18
22 Sungkai 0.63 III II, III 1,2,3,4,5,12,13
23 Terentang 0.40 IV III, IV 2,8,14,15
24 Ulin/belian/kayu 1.41 I I 1,3,4,5,13
besi

8.4.3 Mengatasi Kayu Memuai dan Menyusut


Kayu mudah memuai dan menyusut jika terkena cuaca (hujan dan panas). Pemuaian dan
penyusutan dapat dihindari semaksiimal mungkin dengan cara pengeringan kayu yang baik.
Adanya ukuran standar kandungan air dalam kayu yang harus dipenuhi agar muai susut yang
terjadi masih dapat diterima. Standar yang umum digunakan adalah 12% kandungan air dalam
kayu kering.
Jika sudah terjadi pemuaian, perlu disiasati dengan diserut/diketam atau ditambal dengan
wood filler (dempul). Hanya jika terjadi penyusutan yang besar, belum ada cara lain selain
mengganti kayu tersebut.

93
FM 1-7.1.0-1-41 ed.A rev.2

BAHAN AJAR
Kurikulum
Jurusan : Teknik Sipil 2010
PNK Program Studi : D3 & D4
Matakuliah : Bahan Bangunan

Beberapa contoh pemakaian kayu hasil olahan industri kayu yang sudah
disesuaikan dengan keperluan pemakaian.

94
FM 1-7.1.0-1-41 ed.A rev.2

BAHAN AJAR
Kurikulum
Jurusan : Teknik Sipil 2010
PNK Program Studi : D3 & D4
Matakuliah : Bahan Bangunan

penggunaan kayu pada bagian dalam rumah

95
FM 1-7.1.0-1-41 ed.A rev.2

BAHAN AJAR
Kurikulum
Jurusan : Teknik Sipil 2010
PNK Program Studi : D3 & D4
Matakuliah : Bahan Bangunan

penggunaan kayu hasil industri untuk pergola

penggunaan kayu hasil olahan industri

96
FM 1-7.1.0-1-41 ed.A rev.2

BAHAN AJAR
Kurikulum
Jurusan : Teknik Sipil 2010
PNK Program Studi : D3 & D4
Matakuliah : Bahan Bangunan

digunakan sebagai tong air

Soal Latihan :
1. Sebutkan jenis jenis kayu yang digunakan sebagai bahan konstruksi
2. Jelaskan kelebihan dan kekurangan kayu sebagai bahan konstruksi
3. Apa yang dimaksud dengan penampang radial dan tangensial kayu
4. Mengapa kayu kelas satu tidak baik digunakan sebagai bahan kusen dan daun pintu-jendela
5. Apa yang dimaksud dengan kayu lapis ? Jelaskan jenis jenis aplikasinya

DAFTAR PUSTAKA
Anonim, Metode, Spesifikasi dan Tata Cara, Bagian : 13, Kayu, Bahan Lain, Lain Lain Edisi
Pertama, Badan Penelitian dan Pengembangan, Departemen Pemukiman dan Prasarana
Wilayah, Desember 2002.
Frick H, Koesmartadi Ch, Ilmu Konstruksi Kayu, Penerbit Kanisius Yogyakarta, 1999
Anonim, Idea, Majalah Ide Rumah Kita, Mei 2006
Anonim, Majalah Pergola. 2006
Internet, Dinding Kayu, 2006
Internet, Autralian Wood Structure

97