Anda di halaman 1dari 18

KEPERAWATAN GAWAT DARURAT

BENCANA : TSUNAMI

MAKALAH

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Keperawatan Gawat Darurat

DisusunOleh:
Deri RuliEdiana (4002160148)
Gita Komara
Hera Gustian
Nurman Arip
Rizca Arif
Ramdhan Arifin

PROGRAM STUDI STRATA-1 KEPERAWATAN


STIKESDHARMA HUSADA
BANDUNG
2017
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT, Tuhan seluruh alam atas rahmat dan hidayah-Nya
sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini. Makalah ini dibuat untuk memenuhi
tugas mata kuliah Keperawatan Gawat Darurat.

Makalah ini terwujud karena adanya pihak yang telah banyak membantu,
membimbing, serta memberi dorongan dan doa dalam menyelesikan makalah ini. Pada
kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah banyak
membantu dan memberi masukan pembuatan makalah ini.

Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini jauh dari sempurna, untuk
itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang sekiranya dapat penulis gunakan sebagai
masukan untuk perbaikan makalah berikutnya.

Bandung, Oktober 2017

Penulis

i
DAFTAR ISI

PENDAHULUAN ..................................................................................................................... 1
A. Latar Belakang ................................................................................................................. 1
B. Tujuan Penulisan .............................................................................................................. 2
C. Metode Penulisan ............................................................................................................. 3
D. Sistematika Penulisan ...................................................................................................... 3
BAB II........................................................................................................................................ 4
TINJAUAN PUSTAKA ............................................................................................................ 4
A. Definisi Bencana .............................................................................................................. 4
B. Manajemen Bencana ........................................................................................................ 4
C. Definisi Tsunami .............................................................................................................. 6
D. Penyebab Terjadinya Tsunami ......................................................................................... 6
E. Gejala dan Peringatan Dini ............................................................................................... 6
F. Strategi Mitigasi dan Upaya pengurangan Bencana Tsunami .......................................... 7
BAB III ...................................................................................................................................... 8
ASUHAN KEPERAWATAN PASCA BENCANA ................................................................. 8
A. Pengkajian ........................................................................................................................ 8
B. Diagnosa Keperawatan untuk PTSD ................................................................................ 9
C. Intervensi Keperawatan .................................................................................................... 1
BAB IV ...................................................................................................................................... 1
PENUTUP.................................................................................................................................. 1
A. Kesimpulan ...................................................................................................................... 1
DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................................. iii

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Bencana alam yang berkepanjangan di dunia termasuk di Indonesia sepanjang

tahun 2010, disebabkan oleh factor alam yang berbeda. Dampak bencana alam tidak

hanya mengakibatkan hilangnya harta benda tetapi juga nyawa masyarakat di wilayah

bencana. Berdasarkan data dari 644 kejadian bencana di Indonesia total kerugian material

diperkirakan mencapai lebih 15 trilyun rupiah. Kerugian tersebut meliputi kehilangan

harta benda, kerusakan rumah-rumah masyarakat, sarana dan prasarana umum, lahan

pertanian, perkebunan, peternakan, dan sebagainya. Selain itu juga menimbulkan

kehilangan orang yangdicintai, trauma, dan timbulnya gangguan kesehatan (Nugroho,

2010).

Delapan puluh tiga persen (83%) wilayah indonesia merupakan daerah rawan

bencana, bahkan dalamkurun waktu sepuluh tahun terakhir tercatat telah terjadi 6000

peristiwa bencana (Anggadha and Huda, 2010).Bencana yang terjadi bisa berupa banjir,

tsunami, gempa bumi, tanah longsor, wabah penyakit, erupsi gunungberapi dan lain-lain.

Definisi Tsunami menurut Bapenas adalah berasal dari bahasa Jepang. tsu

berarti pelabuhan, nami berarti gelombang, sehingga secara umum diartikan sebagai

pasang laut yang besar di Pelabuhan. Tsunami dapat diartikan sebagai gelombang laut

dengan periode panjang yang ditimbulkan oleh gangguan impulsif dari dasar laut.

Gangguan impulsif tersebut bisa berupa gempabumi tektonik, erupsi vulkanik atau

longsoran.

Bencana Tsunami di dunia telah terjadi sejak 6000 tahun sebelum masehi

(Suprapto, 2011), sedangkan di Indonesia setidaknya telah terjadi di selat sunda, tercatat

1
tahun 416 masehi (yudhicara and budiono, 2008).Bencana tsunami terbesar dengan

kekuatan gempa 9,3 SR terjadi di samudera hindia, lepas pantai barat acehpada tanggal 26

Desember 2004, menewaskan 320 ribu orang, bencana terbesar dalam 40tahun terakhir,

terjadijuga tsunami di nias pada 28 maret 2005, di pangandaran pada 17 juli 2006 dan 25

Oktober 2010 di kepulauanmentawai(Suprapto, 2011).

Profesi keperawatan bersifat luwes dan mencakup segala kondisi, dimana

perawattidak hanya terbatas pada pemberian asuhan dirumah sakit saja melainkan juga

dituntutmampu bekerja dalam kondisi siaga tanggap bencana. Situasi penanganan antara

keadaansiaga dan keadaan normal memang sangat berbeda, sehingga perawat harus

mampu secaraskill dan teknik dalam menghadapi kondisi seperti ini.

Kegiatan pertolongan medis dan perawatan dalam keadaan siaga bencana

dapatdilakukan oleh profesi keperawatan. Berbekal pengetahuan dan kemampuan yang

dimilikiseorang perawat bisa melakukan pertolongan siaga bencana dalam berbagai

bentuk

B. Tujuan Penulisan

1. Tujuan Umum

Mahasiswa mampu memahami konsep kegawatdaruratan pada bencana Tsunami

2. Tujuan Khusus

a. Mahasiswa dapat mengidentifikasi masalah kegawat daruratan bencana alam

Tsunami

b. Mahasiswa dapat memahami penanggulangan awal pada korban bencana Tsunami

2
C. Metode Penulisan

Metode dalam penulisan makalah ini menggunakan metode deskriptif yaitu

metode yang bersifat mengumpulkan data dan menarik kesimpulan dan kemudian

disajikan dalam bentuk narasi dan metode kepustakaan diantaranya studi kepustakaan

yaitu mengumpulkan buku-buku yang berhubungan dengan Asuhan Keperawatan Gawat

Darurat Bencana Alam Tsunami.

D. Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan dalam makalah ini adalah sebagai berikut :

BAB I PENDAHULUAN

Bab ini berisikan tentang latar belakang, tujuan penulisan, metode penulisan dan

sistematika penulisan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Bab ini berisiskan tentang pengertian, etiologi, patofisiologi, manifestasi klinis,

pemeriksaan penunjang, dan terapi medis

BAB III PROSES KEPERAWATAN

Bab ini berisikan tentang Ilustrasi kasus dan asuhan keperawatan

BAB IV PENUTUP

Bab ini berisiskan tentang kesimpulan

3
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi Bencana

Menurut United Nation Development Program (UNDP), bencana adalah suatu


kejadian yang ekstrem dalam lingkungan alam atau manusia yang secara merugikan
mempengaruhi kehidupan manusia, harta benda atau aktivitas sampai pada tingkat
menimbulkan bencana.

Sedangkan menurut Ramli dkk, 2010 bencana adalah peristiwa atau rangkaian
peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat
yang disebabkan, baik oleh factor alam dan atau factor nonalam maupun factor manusia
sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian
harta benda, dan dampak psikologis.

Menurut Undang-Undang No. 24 tahun 2007, bencana diklasifikasikan sebagai berikut:

a. Bencana Alam
Yaitu bencana yang bersumber dari fenomena alam seperti gempa bumi, letusan
gunung api, meteor, pemanasan global, banjir, topan, dan tsunami.
b. Bencana Non Alam
Yaitu bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau rangkaian peristiwa nonalam
yang antara lain berupa gagal teknologi, gagal modernisasi, epidemic, dan wabah
penyakit.
c. Bencana Sosial
Yaitu bencana yang diakibatkan oleh peristiwa yang diakibatkan oleh manusia
yang meliputi konflik sosial antar kelompok atau antar komunitas masyarakat dan
terror.

B. Manajemen Bencana

Manajemen bencana adalah upaya sistematis dan komprehensif untuk


menanggulangi semua kejadian bencana secara cepat, tepat, dan akurat untuk menekan
korban dan kerugian yang ditimbulkan. Penyelenggaraan penanggulangan bencana adalah
serangkaian upaya meliputi penetapan kebijakan pembangunan yang beresiko timbulnya

4
bencana, kegiatanh pencegahan bencana, tanggap darurat, dan rehabilitasi. Manajemen
bencana bertujuan untuk :

1. Mempersiapkan diri menghadapi semua bencana atau kejadian yang tidak


diinginkan.
2. Menekan kerugian dan korban yang dapat timbul akibat dampak suatu bencana
atau kejadian.
3. Meningkatkan kesadaran semua pihak dalam masyarakat atau organisasi tentang
bencana sehingga terlibat dalam proses penanganan bencana.
4. Melindungi anggota masyarakat dari bahaya atau dampak bencana sehingga
korban dan penderitaan yang dialami dapat dikurangi.

Manajemen bencana pada dasarnya dapat dibagi atas tingkatan yaitu tingkat
lokasi, tingkat unit atau daerah dan tingkat nasional atau korporat. Tingkat lokasi disebut
manajemen insiden (incident management), pada tingkat daerah atau unit disebut
manajemen darurat (emergency management), dan pada tingkat yang lebih tinggi disebut
manajemen krisis (crisis management).

Beberapa perundangan yang menyangkut manajemen bencana antara lain:

1. UU No. 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana.


2. Peraturan Pemerintah No. 21 tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Penaggulangan
Bencana.
3. Peraturan Pemerintah No. 22 tahun 2008 tentang Pendanaan Dan Pengelolaan
Bantuan Bencana.
4. Peraturan Pemerintah No. 23 tahun 2008 tentang Peran Serta Lembaga
Internasional Dan Lembaga Asing Nonpemerintah Dalam Penanggulangan
Bencana.
5. Peraturan Presiden N0.08 tahun 2008 tentang Badan Nasional Penanggulangan
Bencana.
6. Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 1653 tahun 2005 tentang Pedoman
Penanganan Bencana Bidang Kesehatan.

5
C. Definisi Tsunami

Definisi Tsunami menurut Bapenas adalah berasal dari bahasa Jepang. tsu
berarti pelabuhan, nami berarti gelombang, sehingga secara umum diartikan sebagai
pasang laut yang besar di Pelabuhan. Tsunami dapat diartikan sebagai gelombang laut
dengan periode panjang yang ditimbulkan oleh gangguan impulsif dari dasar laut (Ramli
dkk, 2010)

Gangguan impulsive tersebut bisa berupa gempa bumi tektonik, erupsi vulkanik
atau longsoran. Kecepatan tsunami yang naik ke daratan (run-up) berkurang menjadi
sekitar 25-100 Km/jam dan ketinggian air tsunami yang pernah tercatat terjadi di
Indonesia adalah 36 meter yang terjadi pada saat letusan gung api Krakatau tahun 1883.

D. Penyebab Terjadinya Tsunami

1. Gempa bumi yang diikuti dengan dislokasi/ perpindahan masa tanah/ batuan yang
sangat besar di bawah air (laut/ danau).
2. Tanah longsor di dalam laut
3. Letusan gunung api di bawah laut atau gunung api pulau.

E. Gejala dan Peringatan Dini

1. Gelombang air laut dating secara mendadak dan berulang dengan energy yang
sangat kuat.
2. Kejadian mendadak dan pada umumnya di Indonesia didahului dengan gempa
bumi besar dan susut laut.
3. terdapat selang waktu antara waktu terjadinya gempa bumi sebagai sumber
tsunami dan waktu tiba tsunami di pantai mengingat kecepatan gelombang gempa
jauh lebih besar dibandingkan kecepatan tsunami.
4. Metode pendugaan secara cepat dan akurat memerlukan teknologi tinggi.
5. Di Indonesia pada umumnya tsunami terjadi dalam waktu kurang dari 40 menit
setelah terjadinya gempa bumi di bawah laut.
Adanya tsunami tidak bisa diramalkan dengan tepat kapan terjadinya, akan tetapi
kita bisa menerima peringatan akan terjadinya tsunami sehingga kita masih ada waktu
untuk menyelamatkan diri.

6
F. Strategi Mitigasi dan Upaya pengurangan Bencana Tsunami

1. Peningkatan kewaspadaan dan kesiap siagaan terhadap bahaya tsunami.


2. Pendidikan kepada masyarakat terutama yang tinggal di daerah pantai tentang
bahaya tsunami.
3. Pembangunan Tsunami Early Warning System (Sistem Peringatan Dini Tsunami).
4. Pembangunan tembok penahan tsunami pada garis pantai yang beresiko.
5. Penanaman mangrove serta tanaman lainnya sepanjang garis pantai untuk
meredam gaya air tsunami.
6. Pembangunan tempat-tempat evakuasi yang aman disekitar daerah pemukiman
yang cukup tinggi dan mudah dilalui untuk menghindari ketinggian tsunami.
7. Peningkatan pengetahuan masyarakat local khususnya yang tinggal di pingggir
pantai tentang pengenalan tanda-tanda tsunami cara-cara penyelamatan diri
terhadap bahaya tsunami.
8. Pembangunan rumah yang tahan terhadap bahaya tsunami.
9. Mengenali karakteristik dan tanda-tanda bahaya tsunami.
10. Memahami cara penyelamatan jika terlihat tanda-tanda akan terjadi tsunami.
11. Meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan dalam menghadapi tsunami.
12. Melaporkan secepatnya jika mengetahui tanda-tanda akan terjadinya tsunami
kepada petugas yang berwenang: Kepala Desa, Polisi, Stasiun Radio, SATLAK
Penanggulangan Bencana maupun institusi terkait.
13. Melengkapi diri dengan alat komunikasi.

7
BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN PASCA BENCANA

A. Pengkajian

Pengkajian untuk klien dengan PTSD meliputi empat aspek yang akan
bereaksiterhadap stress akibat pengalaman traumatis, yaitu :

1. Pengkajian Perilaku ( Behavioral Assessment ) Yang dikaji adalah :

a. Dalam keadaan yang bagaimana klien mengalami perilaku agresif yang


berlebihan.

b. Dalam keadan yang seperti apa klien mengalami kembali trauma yang
dirasakan.

c. Bagaimana cara klien untuk menghindari situasi atau aktifitas yang


akan mengingatkan klien terhadap trauma.

d. Seberapa sering klien terlibat aktivitas sosial.

e. Apakah klien mengalami kesulitan dalam masalah pekerjaan semenjak


kejadian traumatis.

2. Pengkajian Afektif ( Affective Assessment )

a. Berapa lama waktu dalam satu hari klien merasakan ketegangan dan perasaan
ingin cepat marah.

b. Apakah klien pernah mengalami perasaan panik.

c. Apakah klien pernah mengalami perasaan bersalah yang berkaitan dengan


trauma.

d. Tipe aktivitas yang disukai untuk dilakukan.

e. Apa saja sumber - sumber kesenangan dalam hidup klien.

f. Bagaima hubungan yang secara emosional terasa akrab dengan orang lain.

3. Pengkajian Intelektual ( Intellectual Assessment )

a. Kesulitan dalam hal konsentrasi.

b. Kesulitan dalam hal memori.

8
c. Berapa frekuensi dalam satu hari tentang pikiran yang berulang yang berkaitan
dengan trauma.

d. Apakah klien bisa mengontrol pikiran pikiran berulang tersebut

e. Mimpi buruk yang dialami klien.

f. Apa yang disukai klien terhadap dirinya dan apa yang tidak disukai klien
terhadap dirinya.

B. Diagnosa Keperawatan untuk PTSD

1. Sindrom pasca trauma berhubungan dengan respon maladaptif berulang


terhadap peristiwa traumatik yang penuh tekanan.
2. Ketidakberdayaan berhubungan dengan ketidakmampuan untuk melaksanakan
aktifitas sebelumnya.
3. Ketakutan berhubungan dengan perubahan fisik.
4. Ansietas berhubungan dengan perasaan takut yang disebabkan oleh antisipasi
terhadap bahaya.
5. Koping defensif berhubungan dengan harapan diri yang tidak realistik.
6. Disfungsi proses keluarga berhubungan dengan perpisahan dengan orang tua pada
usia dini.

9
C. Intervensi Keperawatan

Tujuan Intervensi
Diagnosa

Sindrom pasca trauma berhubungan dengan Setelah dilakukan tindakan keperawatan klien NIC :
respon maladaptif berulang terhadap peristiwa mampu merespon adaptif terhadap peristiwa
Konseling : penggunaan proses bantuan
traumatik yang penuh tekanan. trauma yang ia alami.
interaktif yang memfokuskan pada
NOC : kebutuhan, masalah, atau perasaan pasien
a. Pemulihan dari trauma. dengan orang yang berarti bagi pasien
b. Pengendalian impuls: kemampuan untuk untuk meningkatkan atau mendukung
menahan diri dari perilaku impulsive. koping, pnyelesaian masalah dan
hubungan interpersonal.
Aktivitas keperawatan:
1. BHSP
2. Tunjukkan empati, kehangatan dan
kesejatian.
3. Gunakan teknik refleksi dan
klarifikasi untuk memfasilitasi
pengungkapan perasaan.
4. Hindari membuat keputusan pada saat
pasien berada dalam keadaan stress.

Ketidakberdayaan berhubungan dengan Setelah dilakukan tindakan keperawatan NIC :


ketidak mampuan untuk melaksanakan klien mampu melaksanakan aktifitas
1. Eksplorasi pencapaian keberhasilan
aktifitas sebelumnya. sebelumnya dengan kriteria hasil sebagai berikut
sebelumnya.

1
: 2. Dukung kekuatan- kekuatan diri yang
NOC : Kepercayaan Kesehatan dapat diidentifikasi oleh pasien.
3. Sampaikan kepercayaan diri terhadap
a. Mengungkapkan dengan kata-kaa tentang kemampuan pasien untuk menangani
segala perasaan ketidakberdayaan. keadaan.
b. Mengidentifikasi tindakan yang berada
dalam kendalinya.
c. Mengungkapkan dengan kata-kata
kemampuan untuk melakukan tindakan
yang diperlukan
d. Melaporkan dukungan yang adekuat dari
orang dekat, teman-teman dan tetangga.

Ketakutan berhubungan dengan perubahan fisik Setelah dilakukan tindakan keperawatan pada NIC : Peningkatan koping
klien diharapkan ketakutan yang dialami klien
1. Gunakan pendekatan yang tenang,
menurun atau menghilang.
meyakinkan.
NOC : Kontrol ketakutan 2. Bantu pasien dalam membangun pemikiran
yang objektif terhadap suatu peristiwa.
a. Klien mampu mencari informasi untuk
3. Tidak membuat keputusan pada saat pasien
menurunkan ketakutan
berada dalam stress berat.
b. Klien mampu menghindari sumber
4. Dukung untuk menyatakan perasaan,
ketakutan bila mungkin
persepsi, dan ketakutan secara verbal.
c. Kilin mamapu mengendalikan respon
5. Kurangi stimulasi dalam lingkungan yang
ketakutan
dapat disalah interpretasikan sebagai
d. Klien mamapu mempertahankan
ancaman.
penampilan peran dan hubungan social

Ansietas berhubungan dengan perasaan takut Setelah dilakukan tindakan keperawatan pada NIC : Penurunan kecemasan
yang disebabkan oleh antisipasi terhadap klien diharapkan cemas dan stress yang dialami
1. Tenangkan klien.
bahaya. klien menurun atau menghilang.
2. Berusaha memahami keadan klien.

2
NOC : Kontrol cemas 3. Temani pasien untuk mendukung
keamanan dan menurunkn rasa takut.
a. Intensitas kecemasan berkurang atau
4. Bantu pasien untuk mengidentifikasi situasi
hilang.
yang menciptakan cemas.
b. Tidak ditemukan tanda tanda kecemasa.
5. Dukung penggunaan mekanisme
c. Menunjukkan relaksasi.
pertahanan diri dengan cara yang tepat.
d. Menunjukkan pemecahan masalah dan
6. Kaji tingkat kecemasan dan reaksi fisik
menggunakan sumber-sumber secara
pada tingkat kecemasan.
efektif.
7. Gunakan pendekatan dan sentuhan,
verbalissi untuk meyakinkan pasien tidak
sendiri dan mengajukan pertanyaaan.
8. Sediakan aktivitas untuk menurunkan
ketegangan.
9. Instruksikan klien untuk menggunakan
teknik relaksasi.
10. Koping defensif berhubungan dengan
harapan diri yang tidak realistik.

Koping defensif berhubungan dengan harapan Setelah dilakukan tindakan keperawatan klien NIC : Pencapaian Kesadaran Diri
diri yang tidak realistik. diharapkan terbentuk koping yang efektif.
1. Bantu pasien untuk mengidentifikasi
NOC: Koping dampak penyakit terhadap konsep diri.
2. Ungkapkan secara verbal mengenai
a. Koping efektif.
pengingkaran pasien terhadap
b. Harga diri positif.
kenyataan dengan tepat.
c. Keterampilan interaksi sosial positif.
3. Bantu pasien untuk mendidentifikasi
d. Menyadari masalah atau konflik
prioritas kehidupan.
spesifik yang mempengaruhi interaksi
4. Bantu pasien untuk mengidentifikasi aspek
atau hubungan sosial.
positif pada dirinya.
e. Mengekspresikan perasaan harga diri.
f. Menunjukan penurunan kedefensifan.

3
Disfungsi proses keluarga berhubungan dengan Setelah dilakukan tindakan keperawatan klien NIC : Dukungan Keluarga
perpisahan dengan orang tua pada usia dini.
NOC : Kepercayaan Kesehatan 1. Tingkatkan harapan yang realistis
2. Dengarkan keluhan, perasaan , dan
a. Mengungkapkan dengan kata-kaa tentang
pertanyaan keluarga.
segala perasaan ketidakberdayaan.
3. Fasilitasi pengkomunikasian
b. Mengidentifikasi tindakan yang berada
keluhan/persaan antra pasien dan keluarga
dalam kendalinya.
atau antar anggota keluarga.Berikan
c. Mengungkapkan dengan kata-kata
perawatan kepada pasien selain keluarga
kemampuan untuk melakukan tindakan
untuk mengurangi beban mereka dab/ atau
yang diperlukan.
saat keluarga tidak mampu untuk
d. Melaporkan dukungan yang adekuat dari
memberikan perawatan .
orang dekat, teman-teman dan tetangga.
4. Berikan umpan balik kepada keluarga yang
berkaitan dengan koping mereka

4
BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan

1
DAFTAR PUSTAKA

Ramli, Soehatman dkk. (2010). Pedoman Praktis Manajemen Bencana. Jakarta: Dian
Rakyat

Nurjana dkk. (2013). Manajemen Bencana. Bandung: Alfabeta

iii