Anda di halaman 1dari 12

Laporan Praktikum

Pemuliaan Tanaman

EVALUASI PERTUMBUHAN GANDUM ( Triticum aestivum L. )


PADA DATARAN RENDAH

Oleh :
Nama : Kusdini
Nim : G111 16 053
Kelas : Pemuliaan Tanaman.C
Kelompok : 10
Asisten : 1. Alita Inka
2. Ahmad Kurnia Nur

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI


DEPARTEMEN BUDIDAYA PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2017
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Tanaman gandum dikenal sebagai salah satu sumber bahan pangan masyarakat
Indonesia, selain sebagai sumber karbohidrat tanaman gandum juga sebagai
sumber protein. Di Indonesia kebutuhan gandum relatif besar dan selama ini
seluruhnya dipenuhi melalui impor. Masyarakat Indonesia masih mengolah
serealia terutama gandum hanya sebagai makanan pokok dan bahan baku setengah
jadi seperti tepung saja padahal manfaat gandum sangat besar bagi kesehatan
manusia. Pengolahan serealia secara tepat dan menarik bisa menambah nilai mutu
dan jual jenis bahan tersebut .Namun masyarakat belum bisa melakukannya
karena kurangnya pengetahuan secara spesifik mengenai sifat- sifat serealia
terutama tanaman gandum baik secara biologis maupun kimiawi.
Gandum (Triticum aestivum L) termasuk tanaman serealia yang mengandung
karbohidrat lebih dari 70% dan merupakan bahan pangan berbasis tepung. Tepung
dari bahan baku serealia termasuk gandum mempunyai karakter yang istimewa
dibandingkan dengan tepung dari tanaman berpati seperti aneka umbi. Tepung
dari komoditas serealia tidak bersifat higrokopis (mudah mengisap dan
mengeluarkan uap air) sehingga memiliki daya simpan yang cukup panjang, baik
dalam bentuk biji maupun tepung. Konsumsi pangan berbasis gandum di
Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun, akibat dari perubahan pola
konsumsi pangan di masyarakat seperti mie, bihun, kue, cornflakes, cococrunch
dan lain sebagainya. Hal ini sangat mempengaruhi ketahanan pangan di dalam
negeri karena kebutuhan gandum nasional seluruhnya dipenuhi oleh impor.
Pada tahun 2001 pemerintah Indonesia melalui Departemen Pertanian
merintis pengembangan gandumdalam bentuk demonstrasi area di enam provinsi
yaitu Sumatera Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa
Tenggara Timur, dan Sulawesi Selatan, dengan menggunakan benih galur asal
India dan Cimmyt. Sampai tahun 2003 Ditjen Tanaman Pangan Departemen
Pertanian terus melakukan pengembangan gandum berupa penelitian dan
percobaan dalam rangka penyiapan dan perbanyakan sekaligus uji multi lokasi.
Hasil yang diperoleh dari usaha pengembangan tersebut cukup menggembirakan
dan memperoleh respon yang cukup baik dari petani dan pemerintah daerah.
Panen perdana gandum dilakukan pada tahun 2002 di Kabupaten Pasuruan, Jawa
Timur. Pengembangan gandum ditujukan untuk memantapkan daerah daerah
yang sudah biasa menanam gandum, sedangkan daerah bukan baru lebih
difokuskan kepada sosialisasi dan demplot demplot agar petani yang ingin
mengembangkan gandum dapat belajar tentang budidaya gandum. Peningkatan
areal tanam terus diupayakan melalui pemasyarakatan tanaman gandum kepada
petani.
Perkembangan industri mie instan, roti dan jajanan yang sangat pesat
terutama untuk daerah perkotaan mendorong konsumsi tepung terigu di Indonesia
semakin tinggi. Untuk memenuhi kebutuhan tepung terigu tersebut dilakukan
dengan mendatangkan dari negara-negara produsen gandum, seperti Australia.
Mengingat tingginya jumlah penduduk, meningkatnya konsumsi tepung terigu
dan anjuran pemerintah untuk menggalakkan diversifikasi sumber karbohidrat,
maka perlu dilakukan penggalian potensi tanaman gandum di Indonesia, termasuk
diantaranya upaya adaptasi tanaman gandum di daerah yang mempunyai potensi
untuk pengembangannya, seperti di Pulau Lombok.
Di Indonesia lokasi yang memiliki kondisi iklim yang sesuai untuk
pertumbuhan gandum dan telah digunakan sebagai lokasi pengembangan hingga
tahun 2008 yaitu Nangro Aceh Darussalam, Sumatera Utara, Sumatera Barat,
Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa
Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat,
Kalimantan timur, dan Sulawesi Selatan.
Berdasarkan uraian diatas maka perlu dilakukan praktikum mengenai
budidaya gandum untuk mengetahui teknik berbudidaya gandum dan bagaimana
pertumbuhannya di dataran rendah.
1.1 Tujuan dan Kegunaan

Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui pertumbuhan tanaman


gandum pada dataran rendah serta upaya pengendalian kendala pertumbuhan
tanaman gandum di dataran rendah . Adapun kegunaan dari praktikum ini adalah
mengetahui apakah gandum dapat tumbuh di daerah dataran rendah yang panas
atau suhunya tidak stabil.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Deskripsi Tanaman Gandum


Gandum (Triticum aestivum) adalah sereal sub-tropis ditanam umumnya pada
lintang 25LU/LS sampai 50LU/LS, akan tetapi usaha budidaya gandum ke
daerah tropis telah mulai dilakukan sampai dengan lintang 15LU/LS (Music dan
Porter, 1990). Di Indonesia, konsusmsi gandum telah meningkat pesat akhir-akhir
ini sehingga impor gandum pada tahun 2012 tercatat mencapai 7.4 juta ton.
Gandum (Triticum aestivum L.) Gandum merupakan pangan pokok bagi sebagian
besar penduduk dunia. Keragaman nutrisi yang tinggi menjadikan gandum
sebagai bahan makanan pokok lebih dari sepertiga populasi dunia. Gandum
mempunyai prospek yang sangat besar mengingat luasnya potensi lahan yang
dapat ditanami oleh tanaman yang mempunyai kandungan karbohidrat sebesar
70% dan protein sebesar 13% ini. Tanaman serealia non beras ini juga telah
diidentifikasi sangat cocok untuk agroklimat di Indonesia (Wahyu dkk, 2013).
Gandum merupakan tanaman pangan penting di dunia. Dua puluh persen dari
bahan makanan yang dikomsumsi di dunia berasal dari gandum, 20% beras, dan
60% lainya adalah jagung, kentang dan lain-lain. Gandum memiliki keunggulan
dibandingkan dengan jenis sereal lainnya, yaitu kandungan protein gandum lebih
tinggi dibandingkan dengan padi dan jagung, begitu pula dengan asam-asam
amino yang terdapat pada gandum lebih lengkap dan lebih besar jumlahnya
dibandingkan dari jagung dan padi (Malik, 2011).
2.1.1 Taksonomi Tanaman Gandum
Menurut Gembong (2004), gandum (Triticum spp.) merupakan tanaman
serealia dari suku padipadian yang kaya akan karbohidrat. Selain sebagai bahan
makanan, gandum dapat pula diolah sebagai bahan-bahan industri yang penting,
baik bentuk karbohidrat utamanya atau komponen lainnya. Adapun klasifikasi
tanaman gandum secara ilmiah sebagai berikut:
Kingdom : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Liliopsida
Ordo : Poales
Famili : Poaceae
Genus : Triticum L.
Species : Triticum aestivum L.
2.1.2 Morfologi Tanaman Gandum
Menurut Malik (2011), adapun morfologi dari tanaman gandum antara lain
sebagai berikut :
a. Akar
Akar merupakan organ vegetativ utama yang memasok air, mineral dan
bahan-bahan penting lainnya yang dibutuhkan untuk pertumbuhandan
perkembangan tanaman. Pada tanaman gandum jumlah akar yang terbentuk
berasosiasi dengan jumlah daun pada bagian lateral batang. Tanaman gandum
memiliki system perakaran serabut sepert padi, tetapi akar gandum tidak tahan
terhadap genangan air, karena dapat mengakibatkan kebusukan. Perkembangan
nodus akar di bawah permukaan tanah bergantung pada kedalaman biji saat
penanaman. Tanaman gandum yang dewasa memiliki tipe perakaran yang
berbeda, yaitu akar seminal dan nodal. Akar seminal adalah akar yang tumbuh dan
berkembang dari awal perkembangan biji, sedangkan akar nodal adalah akar yang
tumbuh pada waktu tertentu saat terjadi pertumbuhan kuncup.
b. Batang
Gandum termasuk dalam kelompok tanaman calmus, yaitu memiliki batang
yang tidak keras, beruas-ruas dan berongga. Tanaman gandum dewasa memiliki
batang utama yang menyokong daun-daun gandum yang tumbuh pada sisis
ber;awanan dan bertulang pada setiap ruas yang disebut phytomer. Pada phytomer
terdapat nadus, internodus, dan kuncup yang berada pada ketiak daun. Pada saat
berbunga, empat sampai lima ruas batang tanaman gandum bagian atasakan
mengalami pemanjangan secara vertikal memisahkan daun-daun sebelah atas.
2.1.3 Syarat Tumbuh Tanaman Gandum
Gandum dapat tumbuh dengan subur pada keadaan iklim dan tanah tertentu.
Tanaman gandum dapat tumbuh optimum pada suhu 20 25C pada ketinggian
800 m dpl. Suhu dingin diperlukan pada awal penanaman dan awal pertumbuhan
tanaman gandum. Kelembapan rata rata tanaman gandum adalah 80 90%
dengan curah hujan antara 600 825 mm/tahun (curah hujan sedang) dan
intensitas penyinaran 9 12 jam/hari. Jenis tanah yang baik untuk budidaya
tanaman gandum adalah tanah andosol kelabu, latosol, dan aluvial dengan suhu
tanah 15 28C dan pH rata rata berkisar 6 7. Gandum lebih cocok ditanami
di tanah yang terairi. Tanah silt dan clay loams akan menghasilkan panen yang
besar. Tanah dengan kadar pasir yang tinggi sangat tidak cocok untuk gandum.
Syarat tanah yang baik untuk pertumbuhan tanaman gandum adalah hara yang
diperlukan cukup, tidak ada zat toksik, kelembapan mendekati kapasitas lapang,
aerasi tanah baik, dan tidak ada lapisan padat yang menghambat penetrasi akar
gandum untuk menyusuri tanah (Aqil dkk, 2011).
Tanaman gandum memerlukan proses vernelisasi yaitu suatu perlakuan
dengan suhu rendah untuk merangsang tanaman agar dsapat berbunga dan
menghasilkan biji. Daerah yang bersuhu rendah yang berpotensi untuk
pertanaman gandum biasanya terdapat di daratan tinggi pada elevasi lebih dari
1000 meter di atas permukaan laut (Aqil dkk, 2011).
Gandum tmbuh baik di daerah subtropis. Namun demikian gandum memiliki
tolenrasi terhadap iklim yang luas. Oleh karenanya gandum dapat dibudidayakan
di berebagai Negara, termasuk Indonesia yang beriklim tropis. Gandum dapat
tumbuh dari permukaan darat sampai 3000 mdpl (Malik, 2011).
Tanaman gandum dapat tumbuh ideal di daerah subtropik. Tanaman gandum
dapat berkembang dengan baik pada daerah dengan curah huja ratarata 254 mm
sampai 1,779 mm per tahun dan daerah yang mempunyai infiltras yang baik.
Curah hujan yang tinggi kurang baik untuk pertumbuhan tanaman gandum karena
pada kondisi ini jamur dan bakteri akan cepat berkembang. Suhu optimum untu
budidaya tanaman gandum adalah berkisar antara 2022 C. Dari segi waktu
penanamannya, ada tiga jenis gandum yaitu gandum musim panas, gandum
musim dingin dan gandum durum. Gandum musim dingin memerlukan suhu
rendah dan hari pendek pada awal pertumbuhannya serta dipanen pada musim
dingin. Sebaliknya,gandum musim panas tidak memerlukan suhu rendah dan
dipanen pada awal musim panas. Tanaman gandum jarang ditemukan di Indonesia
karena kondisi lingkungan memang tidak cocok untuk tanaman gandum yang
merupakan tanaman subtropics (Pudjihastuti, 2010).
Pertumbuhan gandum sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti
keasaman tanah, kelembaban, curah hujan, intensitas cahaya dan lainya.
Keasaman tanah dapat mempengarhi pertumbuhan gandum karena pH sangat
berhubungan dengan ketersediaan unsur hara. Pada pH yang rendah ketersediaan
N, P, K, S, Mg, Ca, dan Mo sangat rendah, sedangkan pada pH yang tinggi P, K,
S, B, dan Mo cukup banyak. Gandum tidak menyukai pH yang rendah atau terlalu
asam dan basa. Kisaran pH yang baik untuk pertumbuhan gandum adalah antara 6
8. Pada kondisi pH 6 7 mikrorganisme sangat aktif melakukan penguraian
bahan organik dan ketersediaan unsur hara di dalam tanah (Samekto, 2008).
Kelembaban dan curah hujan juga sangat mempengaruhi pertumbuhan
gandum. Kondisi lingkungan yang lembab sangat tidak menguntungkan untuk
pertumbuhan gandum. Secara umum gandum membutuhkan air dan kelembaban
rendah dari pada tanaman tropis. Kelembaban rata-rata untuk pertumbuhan
gandum adalah 80 90%, dengan curah hujan 600 825 mm/tahun. Curah hujan
yang terlalu tinggi akan mengganggu proses pembungaan, karena dapat
menurunkan aktivitas serangga penyerbuk dan kepala putik serta tepung sari pada
tanaman menjadi busuk (Malik, 2011).
2.2 Masalah Pengembangan Tanaman Gandum di Indonesia
Di Indonesia penanaman gandum lebih baik di daerah-daerah yang iklimnya
mendekati kondisi daerah asal. Kendala yang sering dialami tanaman gandum di
daerah tropis adalah temperatur udara, temperatur tanah dan kelembaban udara.
Daerah-daerah dengan lingkungan yang memenuhi syarat tumbuh gandum
terkonsentrasi pada dataran tinggi yang lebih didominasi oleh tanaman
hortikultura dan ini akan menimbulkan kompetisi yang tinggi, apalagi petani
relatif belum mengenal tanaman gandum (Puslitbang Tanaman Pangan, 2008).
Di Indonesia, konsumsi makanan yang terbuat dari gandum dan turunannya
semakin meningkat dan telah menggeser umbi umbian dan jagung.Untuk
meningkatkan kualitas tepung gandum, penambahan serat dan tepung sereal
dilakukan sehingga menurunkan indeks glikemik dan meningkatkan nilai serat.
Konsumsi tepung terigu di Indonesia pada tahun 2015 adalah 2,028 kg yang setara
dengan pengeluaran sebesar Rp. 15.808 per kapita meningkat dari tahun 2013 dan
2014 yang masingmasing sebesar 1.251 kg dan 1,356 per kapita per tahun.
Meningkatnya konsumsi gandum menjadikan Indonesia sebagai salah satu
importir gandum terbesar dunia dengan volume import mencapai 5185.73 juta ton
dengan nilai 1.434,72 juta USD (Suwarti dan Syafruddin, 2016).
Tingginya permintaan gandum menjadi tantangan tersendiri agar Indonesia
mampu memproduksi gandum dalam skala besar sehingga dapat mengurangi
ketergantungan impor gandum. Bagaimanapun, tanaman gandum telah lama
dibudidayakan di beberapa daerah dalam skala kecil seperti di Pasuruan dan
Probolinggo (Jawa Timur), dan Salatiga (Jawa Tengah), Berastagi (Sumatera
utara) dan terdapat peluang pengembangan dalam skala luas di daerah Gowa dan
Enrekang (Sulawesi Selatan), NTT, Merauke, Tumohon (Suwarti dan Syafruddin,
2016).
Salah satu kendala utama pengembangan gandum didaerah genotip adalah
curah hujan dan kelembaban udara yang tinggi. Gandum adalah tanaman yang
memiliki kebutuhan air relatif lebih sedikit dibandingkan dengan kebutuhan air
tanaman pangan. Tanaman gandum berasal dari daerah subtropis ,daerah genotip
basah seperti Indonesia, curah hujan biasanya melebihi 1500 mm/tahun dengan
distribusi curah hujan bulanan yang sangat bervariasi dan tidak menentu, sehingga
penanaman gandum pada daerah dan musim tanaman yang tidak cocok akan dapat
menggagalkan panen (Meihara dan Munandar, 2003).
2.3 Pemuliaan Tanaman Gandum
Program pemuliaan gandum di Indonesia diarahkan pada perakitan varietas
unggul tropis yang mampu beradaptasi di dataran rendah. Seleksi galur dan
evaluasi keragaman genetik memberi peluang bagi perbaikan karakter dan
pemilihan genotipe unggul. Untuk meningkatkan produktivitas gandum
diperlukan varietas/galur yang secara genetik berdaya hasil tinggi yang didukung
antara lain. Salah satu kriteria keberhasilan program pemuliaan gandum di
Indonesia adalah kemampuan untuk merakit varietas unggul yang adaptif pada
lokasi dengan ketinggian kurang dari 400 m dpl (Puspita AAD, 2009).
Gandum bukan tanaman asli Indonesia, oleh karenanya keragaman genetik
yang ada masih sangat terbatas. Selama ini produksi dan kualitas gandum lokal
masih sangat rendah dibanding produk impor, sehingga diperlukan upaya
perbaikan varietas tanaman melalui program pemuliaan tanaman. Upaya ini dapat
dilakukan dengan meningkatkan keragaman genetik tanaman sebagai dasar dalam
proses seleksi genotipe unggul. Tujuan pemuliaan tanaman adalah memperbaiki
sifat-sifat tanaman yang sudah ada sehingga akan menjadi lebih unggul dibanding
dengan tanaman asalnya. Misalnya, tanaman menjadi lebih tahan terhadap
serangan hama dan penyakit, berproduksi lebih tinggi, dan memiliki kualitas hasil
yang lebih baik (Human, 2009).
Pemuliaan biasanya diawali dengan upaya peningkatan ragam genetik
tanaman, dilanjutkan dengan seleksi, pemurnian benih, pengujian, hingga
pelepasan varietas unggul. Adanya keragaman genetik yang tinggi sangat
diharapkan dalam suatu program pemuliaan tanaman sehingga akan dapat
memberikan peluang besar bagi keberhasilan proses seleksi genotipe unggul.
Metode yang umum digunakan dalam peningkatan keragaman genetik tanaman
adalah introduksi, seleksi, hibridisasi, bioteknologi dan mutasi (Human, 2009).
Introduksi adalah upaya pemuliaan tanaman dengan cara mendatangkan
sumber genetik baru dari luar negeri yang selanjutnya dilakukan uji adaptasi di
daerah setempat. Sebagai contoh, varietas unggul gandum Timor dan Nias yang
dilepas tahun 1993 adalah hasil pemuliaan tanaman dengan metode introduksi.
Timor adalah varietas introduksi dari India di mana tetuanya adalah galur Punjab-
81, sedangkan Nias berasal dari galur Thai-88 yang diintroduksi dari Thailand.
Kedua varietas gandum tersebut terlebih dahulu telah diuji adaptasi di daerah
Sumbar, Jabar, Jatim dan Timtim dengan hasil rata-rata mencapai 2 ton/ha dan
umur panen masing-masing 85 dan 90 hari bila ditanam pada ketinggian 900 m di
atas permukaan laut (Human, 2009).
Pada pemuliaan gandum dapat pula digunakan dengan cara pemuliaan
mutasi. Melalui teknik mutasi induksi dengan radiasi gamma diharapkan masalah
vernalisasi pada gandum dapat terpecahkan sehingga akan dihasilkan mutan
tanaman yang tidak memerlukan vernalisasi. Dengan demikian pertumbuhan dan
perkembangan tanaman tidak harus tergantung pada suhu rendah. Bila berhasil,
maka gandum akan dapat ditanam di daerah-daerah dataran rendah seperti
layaknya tanaman pangan lainnya. Dengan demikian maka tidak mustahil pada
suatu saat nanti Indonesia akan menjadi produsen gandum sehingga secara
otomatis akan mengurangi impor gandum (Human, 2009).
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat ditarik dari pembahasan yaitu bahwa pemuliaan
gandum di Indonesia diarahkan pada perakitan varietas unggul tropis yang mampu
beradaptasi di dataran rendah, dapat pula dilakukan dengan metode introduksi dan
mutasi. Dan untuk mengantisipasi terjadinya penghammbatan pertumbuhan
gandum di dataran rendah dapat dilakukan pemberian perlakuan yang sesuai
dengan kebutuhan pertumbuhan gandum tersebut, misalnya dalam pemberian
kebutuhan air.
3.2 Saran
Sebaiknya dalam melakukan praktikum budidaya gandum harus diperhatikan
lokasi penanaman tanaman tersebut agar pertumbuhannya dapat sesuai dengan apa
yang diinginkan.
DAFTAR PUSTAKA

Aqil, dkk. 2011. Inovasi Gandum Adaptif Dataran Rendah. Badan Litbag
Pertanian. No 3390. Th XLI.
Gembong, T. 2004. Taksonomi Tumbuhan (Spermatophyta). Gadjah Mada
University Press. Yogyakarta.
Human. 2009. Riset dan Perkembangan Sorgum dan Gandum Untuk Ketahanan
Pangan. Pusat Aplikasi Teknologi Isotop dan Radiasi. Badan Tenaga
Nuklir Nasional (BATAN)

Malik. 2011. Karakterisasi Galur Mutan Gandum (Triticum aestivum) Pada Daerah
Dataran Rendah Tropis. [Skripsi}]. Universitas Negeri Islam Syarif
Hidayatullah. Jakarta

Meihara dan Munandar. 2003. Penentuan Kebutuhan Air Tanaman Dan Respon
Pertumbuhan Beberapa Galur Tanaman Gandum (Triticum aestivum)
Terhadap Volume Pemberian Air. Pt ISM Bogosari Flour Mills. Jakarta

Pudjihastuti. 2010. Pengembangan Proses Inovatif Kombinasi Reaksi Hidrolisis


Asam dan Reaksi Photokimia UV Untuk Produksi Pati Termodifikasi
dari Tapioka. [Tesis]. Universitas Diponegoro. Semarang
Puslitbang Tanaman Pangan. 2008. Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis
Gandum. Bogor.
Puspita, A.A.D. 2009. Analsis Dayasaing dan Strategi Pengembangan Agribisnis
Gandum Lokal di Indonesia. [Skripsi]. Fakultas Ekonomi dan
Manajemen Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Samekto. 2008. Pengamatan dan Wawasan Penelitian Gandum. Jurnal Inovasi
Pertanian. Vol 7 No 1: 57 65

Suwarti dan Syafruddin. 2016. Teknologi Budidaya Gandum di Indonesia.


Prosiding Seminar Nasional Inovasi Teknologi Pertanian. Banjarbaru
Wahyu, dkk. Adaptabilitas Genotipe Gandum Introduksi di Dataran Rendah.
Jurnal Bul. Agrohorti. Vol 1 No.1 : 1 - 6