Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN RESMI

PRAKTIKUM MEKANIKA FLUIDA

Disusun Oleh :
Nama : Ari Nur Chintia
Nim : 011600431
Rekan Kerja : 1. Cristiani Novita Sari
2. M Agil Wicaksana
3. M Dzuhri Ferianto
4. Yohanes Jaja Ria
Program Studi : D-IV Teknokimia Nuklir
Jurusan : Teknokimia Nuklir
Acara : Pengadukan
Pembimbing : Arif Budiman Adha
Tanggal Pengumpulan: 28 November 2017

SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NUKLIR


BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL
YOGYAKARTA
2017
PENGADUKAN
I. TUJUAN
1. Mengetahui pengaruh waktu terhadap kecepatan pelarutan.
2. Mengetahui pengaruh kecepatan pengadukan terhadap kecepatan
pelarutan.
3. Menentukan kriteria desain tangki pengadukan berdasarkan ketetapan.

II. TANGGAL PELAKSANAAN


Praktikum pengadukan ini dilaksanakan pada hari Selasa, 21
November 2017.

III. DASAR TEORI


Pengadukan (agitation) berbeda dengan penyampuran (mixing).
Pengadukan menunjukkan gerakan yang terinduksi menurut cara tertentu
pada suatu bahan di dalam bejana dengan gerakan berpola sirkulasi.
Sedangkan pencampuran adalah peristiwa menyebarnya bahan-bahan secara
acak, bahan yang satu menyebar ke dalam bahan yang lain sedangkan
bahan-bahan tersebut sebelumnya terpisah dalam dua fase atau lebih.
Pengadukan zat cair dilakukan untuk berbagai maksud bergantung
dari tujuan langkah pengolahan itu sendiri. Tujuan pengadukan antara lain
adalah :
1. Untuk membuat suspensi partikel zat padat.
2. Untuk meramu zat cair yang mampu campur (miscible).
3. Untuk menyebarkan (dispersi) gas dalam zat cair dalam bentuk
gelembung-gelembung kecil.
4. Untuk menyebarkan zat cair yang tidak dapat bercampur dengan zat
cair yang lain sehingga membentuk emulsi atau suspensi butiran-
butiran halus.
5. Untuk mempercepat perpindahan kalor antara zat cair dengan
kumparan atau mantel pemanas.

Kadang-kadang pengaduk (agitator) digunakan beberapa tujuan


sekaligus seperti dalam hidrogenasi katalitik dari pada zat cair. Dalam
bejana hidrogenasi gas hidrogen di dispersi melalui zat cair dimana terdapat
partikel-partikel katalis padat dalam suatu keadaan suspensi, sementara
kalor reaksi diangkut keluar melalui kumparan atau mantel.
Beberapa tujuan dari pengadukan fluida adalah:
1. Mencampur dua cairan yang miscible, seperti etil alkohol dan air.
2. Melarutkan padatan dalam cairan, seperti oksalat dan air.
3. Mendispersikan gas dalam cairan dalam bentuk gelembung-gelembung
kecil. Seperti oksigen dari udara dalam suatu suspensi
mikroorganisme untuk fermentasi pada saat proses pengolahan lumpur
buangan.
4. Mendispersikan gas dalam cairan dalam bentuk gelembung-gelembung
kecil. Seperti oksigen dari udara dalam suatu suspensi
mikroorganisme untuk fermentasi pada saat proses pengolahan lumpur
buangan.
5. Pengadukan fluida untuk menaikkan transfer panas diantara fluida dan
suatu coil atau jacket dalam dinding tangki.
Agitasi atau mixing adalah salah satu dari operasi-operasi tertua dan
paling sering dijumpai dalam teknik kimia. Agitasi digunakan di dalam
banyak aplikasi, termasuk:
1. Disperse suatu zat terlarut melalui suatu pelarut.
2. Penyatuan dua cairan yang dapat dicampur
3. Produksi slurry dari padatan halus didalam suatu cairan
4. Pencampuran reaktan-reaktan dalam suatu reactor.
5. Pengadukan cairan homogen untuk meningkatkan heat transfer ke
cairan
ALAT PENGADUKAN
Pengaduk berfungsi untuk menggerakkan bahan didalam bejana pengaduk
yang digunakan. Alat pengaduk ini biasanya terdiri atas sumbu pengaduk
dan sirip pengaduk yang dirangkai menjadi satu kesatuan. Alat pengaduk
dibuat dan didesain sesuai dengan keperluan pengadukan. Jenis pengaduk
harus disesuaikan dengan faktor berikut ini yakni:
- Jenis dan ukuran pengaduk
- Jenis bejana pengaduk
- Jenis dan jumlah bahan yang dicampur
Pemilihan alat pengaduk dari sejumlah besar alat pengaduk yang ada
hanya dapat dilakukan melalui percobaan dan pengalaman. Untuk masalah
pencampuran yang tertentu dari bahan campur dan bejana pengaduk
tertentu, pengaduk yang optimal biasanya hanya dapat dipilih melalui
pengalaman saja.
Alat pengadukan biasanya terdiri dari :
1. Tangki atau bejana, biasanya berbentuk silinder dengan sumbu
terpasang vertikal dan ujung bawah tangki dibuat melingkar agar tidak
terlalu banyak daerah yang sulit ditembus arus zat cair.
2. Impeler. Ada dua macam impeler pengaduk, yaitu impeler dengan untuk
membangkitkan arus sejajar dengan sumbu poros impeler, dan impeler
untuk membangkitkan arus pada arah tangensial atau radial.
3. Propeler, adalah impeler dengan aliran aksial berkecepatan tinggi untuk
zat cair dengan viskositas rendah.
4. Dayung. Untuk keperluan sederhana, alat pengendapan yang terdiri dari
satu dayung datar yang berputar pada poros vertikal merupakan
pengaduk yang cukup efektif. Dayung ini berputar di tengah bejana
dengan kecepatan rendah sampai sedang, dan mendorong zat cair secara
radial dan tangensial, hampir tanpa adanya gerakan vertikal pada
impeler kecuali bila daunnya dibuat agak miring.
Waktu pencampuran merupakan lamanya operasi pencampuran
sehingga diperoleh keadaan yang serba sama. Pada operasi pencampuran
dengan menggunakan tangki pengaduk, waktu pencampuran ini dipengaruhi
oleh beberapa hal sebagai berikut:
1. Yang berkaitan dengan alat, yaitu :
a. Ada tidaknya baffle atau cruciform baffle
b. Bentuk dan jenis pengaduk (turbin, propeler, padel)
c. Ukuran pengaduk (diameter, tinggi)
d. Laju perputaran pengaduk
e. Kedudukan pengaduk pada tangki
Jarak terhadap dasar tangki
Pola pemasangannya
Center, vertikal
Off center, vertikal
Miring (inclined) dari atas
Horizontal
f. Jumlah daun pengaduk
g. Jumlah pengaduk yang terpasang pada poros pengaduk

2. Yang berhubungan dengan cairan yang diaduk


a. Perbandingan kerapatan (density) cairan yang diaduk
b. Perbandingan viskositas cairan yang diaduk
c. Jumlah kedua cairan yang diaduk
d. Jenis cairan yang diaduk (miscible, immiscible)
Salah satu variasi dasar dalam proses pengadukan dan pencampuran
adalah kecepatan putaran pengaduk yang digunakan. Variasi kecepatan putaran
pengaduk biasa memberikan gambaran mengenai pola aliran yang dihasilkan daya
listrik yang dibutuhkan dalam proses pengadukan dan pencampuran. Secara
umum klasifikasi kecepatan putaran pengaduk dibagi tiga, yaitu : kecepatan
putaran rendah,sedang,tinggi.
1. Kecepatan putaran rendah
Kecepatan rendah yang digunakan berkisar pada kecepatan 400 rpm.
Pengadukan dengan kecepatan ini umumnya digunakan untuk minyak
kental,lumpur dimana terdapat serat atau pada cairan yang dapat
menimbulkan busa.
2. Kecepatan putaran sedang
Kecepatan sedang yang digunakan berkisar pada kecepatan 1150 rpm.
Pengaduk dengan kecepatan ini umumnya digunakan untuk larutan sirup
kental dan minyak pernis. Jenis ini paling sering digunakan untuk
meriakkan permukaan pada viskositas yang rendah, mengurangi waktu
pencampuan, mencampuran larutan dengan viskositas yang berbeda dan
bertujuan untuk memanaskan atau mendinginkan.
3. Kecepatan putaran tinggi
Kecepatan tinggi yang digunakan berkisar pada kecepatan 1750 rpm.
Pengaduk dengan kecepatan ini umumnya digunakan untuk fluida dengan
viskositas rendah misalnya air. Tingkat pengadukan ini menghasilkan
permukaan yang cekung pada viskositas yang rendah dan dibutuhkan
ketika waktu pencampuran sangat lama atau perbedaan viskositas sangat
besar.

IV. ALAT DAN BAHAN


A. Bahan Kerja
1. Aquadest
2. Air Kran
3. Garam

B. Alat Kerja
1. Pompa pengaduk yang dapat datur kecepatannya.
2. Tangki pengaduk.
3. Batang pengaduk (impeller)
4. Piknometer 10 ml.
5. Stopwatch.
6. Neraca analitik.
7. Gelas beker 100 ml.
8. Gelas beker 250 ml.
9. Gelas ukur 1000 ml.
10. Kaca arloji.
11. Sendok sungu.
12. Batang pengaduk kaca.
V. CARA KERJA

A. Dimensi Alat
1. Rangkaian alat praktikum pengadukan disiapkan seperti pada
Gambar.2 di atas.
2. Diukur dimensi pada baffle, tangki pengadukan, dan impeller.
3. Dimasukkan air (pelarut) ke dalam tangki pengadukan kemudian
diukur tingginya sampai batas pipa output.
4. Diukur jarak impeller dari dasar tangki pengadukan.
5. Diukur diameter turbin pengadukan.
6. Diukur variasi kecepatan pengadukan yang diperlukan dengan cara
menghitung secara manual yaitu dengan menghitung berapa
putaran impeller berputar ke titik yang sama pada waktu tertentu
lalu diubah ke dalam satuan rpm (rotation per minute)
7. Diukur debit air yang terisi pada tangki pengaduk dengan
menampung volume air yang keluar pada waktu tertentu dengan
satuan ml/s.

B. Kurva Standar
1. Ditimbang massa zat padat yaitu garam untuk membuat larutan
garam dengan konsentrasi yang berbeda, yaitu 0%, 2%, 5%, 10%,
20%, dan 25%. Larutan tiap konsentrasi dibuat sebanyak 50 ml.
2. Ditimba
ng
massa
piknometer kosong dengan menggunakan neraca analitik kemudian
ditimbang piknometer berisi aquadest dan diukur suhu aquadestnya
untuk menentukan volume piknometer sebenarnya.
3. Ditimbang piknometer berisi larutan garam dengan masing-masing
konsentrasi dengan catatan pengukuran dilakukan dengan
piknometer yang sama untuk setiap konsentrasi larutan garam dan
dicatat massanya.
4. Diukur densitas larutan garam pada masing-masing konsentrasi.
5. Dibuat grafik hubungan antara konsentrasi larutan garam dengan
densitas larutan garam.

C. Menentukan Hubungan Waktu Pengadukan dengan Kecepatan


Pelarutan
1. Ditentukan kecepatan pengadukan pada nilai tertentu dengan
menghitung manual nilai rpm yang ditentukan.
2. Tangki pengadukan dibuat aliran kontinyu sehingga air yang masuk
bersamaan atau sebanding dengan air yang keluar dari tangki.
3. Dimasukkan garam sebanyak 100 gram ke dalam tangki
pengadukan bersamaan dengan dimulainya pengukuran waktu
dengan menggunakan stopwatch
4. Ditampung air yang keluar dari tangki di gelas beker pada detik ke
30, 60, 90, 120 dan 150 sebanyak kurang lebih 15 ml.
5. Ditimbang piknometer berisi larutan garam dengan masing-masing
waktu tampungan yaitu pada detik ke 30, 60, 90, 120 dan 150
dengan catatan pengukuran dilakukan dengan piknometer yang
sama untuk setiap konsentrasi larutan garam dan dicatat massanya.
6. Diukur densitas larutan garam pada masing-masing waktu yang
diukur.
7. Dibuat grafik hubungan antara waktu pengadukan dengan
konsentrasi larutan garam.
D. Menentukan Hubungan Kecepatan Pengadukan dengan Kecepatan
Pelarutan
1. Tangki pengadukan dibuat secara kontinyu
2. Ditentukan kecepatan pengadukan pada nilai tertentu dengan
menghitung manual nilai rpm yang ditentukan.
3. Dimasukkan garam sebanyak 100 gram ke dalam tangki
pengadukan bersamaan dengan dimulainya pengukuran waktu
dengan menggunakan stopwatch, pengadukan dilakukan selama 1
menit.
4. Diambil larutan garam tersebut di gelas beker sebanyak kurang
lebih 15 ml.
5. Diulangi langkah 1-4 dengan kecepatan pengadukan yang berbeda
dan lebih tinggi, percobaan dilakukan sebanyak 4 kali dengan nilai
kecepatan pengadukan yang berbeda.
6. Ditimbang piknometer berisi larutan garam dengan masing-masing
kecepatan pengadukan dengan catatan pengukuran dilakukan
dengan piknometer yang sama untuk setiap konsentrasi larutan
garam dan dicatat massanya.
7. Diukur densitas larutan garam pada masing-masing kecepatan
pengadukan.
8. Dibuat grafik hubungan antara kecepatan pengadukan dengan
konsentrasi larutan garam.

E. Desain Reaktor
1. Dari data percobaan C dicari nilai konsentrasi akhir (Ca),
perbandingan konsentrasi akhir (Ca) dengan konsentrasi mula-
mula (Co) yaitu Xa, dan -ln(1-Xa).
2. Dibuat hubungan grafik antara waktu dengan -ln(1-Xa) dan
dicari slopenya.
3. Ditentukan nilai k dari persamaan yang didapat.
VI. DATA PENGAMATAN
A. Dimensi Reaktor
1. Baffle
Lebar : 0,5 cm
Panjang : 1 cm
Tinggi : 0,2 cm

2. Tangki (Reaktor)
Jari-jari : 6 cm
Diameter : 12 cm
Tinggi sampai pipa output : 10,5 cm
Tinggi tangki pengadukan : 14 cm
3. Impeller
Lebar : 1 cm
Panjang : 2 cm
Tinggi : 0,2 cm
4. Turbin
Tinggi : 2,5 cm
Diameter : 4,7 cm

B. Kurva Standar
1. Massa piknometer kosong : 10,34 gram
2. Masa piknometer+aquadest : 20,26 gram
3. Suhu aquadest : 290C
4. Densitas aquadest (290C) : 0,99261 g/ml
Tabel 1. Data Kurva Standar

Massa Piknometer + Masa Piknometer


Konsentrasi
No. Larutan Garam Kosong
(%)
(gram) (gram)
1 0% 20,26 10,34
2 2% 20,40 10,34
3 5% 20,85 10,34
4 10% 20,88 10,34
5 15% 21,15 10,34
6 20% 21,39 10,34

C. Menentukan Hubungan Waktu Pengadukan dengan Kecepatan


Pelarutan
1. Massa garam : 100 gram
2. Jenis aliran pada tangki : Kontinyu
3. Kecepatan pengadukan : 185 rpm
4. Debit : 6,48 ml/s
Tabel 2. Data Percobaan C
Masa Piknometer
Waktu Massa Piknometer +
No. Kosong
(Detik) Sampel (gram)
(gram)
1 30 20,51 10,34
2 60 20,59 10,34
3 90 20,62 10,34
4 120 20,60 10,34
5 150 20,53 10,34

D. Menentukan Hubungan Kecepatan Pengadukan dengan Kecepatan


Pelarutan
1. Massa garam : 100 gram
2. Jenis aliran pada tangki : Kontinyu
3. Waktu : 60 detik
Tabel 3. Data Percobaan D

Massa Piknometer + Masa Piknometer


Kecepatan
No. Larutan Garam Kosong
Pengadukan (rpm)
(gram) (gram)
1 81 20,41 10,34
2 136 20,43 10,34
3 185 20,47 10,34
4 271 20,60 10,34

VII. ANALISIS DATA


A. Kurva Standar

Massa aquadest = (Massa Pikno+Aquadest) (Massa pikno


kosong)
= 20,26 gram - 10, 34 gram
= 9,92 gram
Volume Pikno sebenarnya =

= 9,9603 mL

Densitas untuk konsentrasi garam 0%


Massa Larutan = (Massa Pikno + Larutan) Massa Pikno kosong
= 20,25 gram - 10,34 gram
= 9,92 gram

= 0,995943938 gram/ml

Dengan cara yang sama dilakukan perhitungan untuk konsentrasi


larutan 2%, 5%, 10%, 20% dan 25% diperoleh densitas masing-masing
larutan sebagai berikut.

Tabel 4. Hubungan Konsentrasi dengan Densitas

Konsentrasi Densitas
No.
(%) (g/ml)
1 0% 0,995943938
2 2% 1,009999598
3 5% 1,028071162
4 10% 1,058190434
5 15% 1,085297779
6 20% 1,109393197
Sehingga didapat grafik hubungan antara Konsentrasi Vs. Densitas
sebagai berikut :

Gambar 3. Grafik Kurva Standar Konsentrasi terhadap Densitas

Dari grafik tersebut didapat persamaan :


y = 0,568x + 0,998

B. Menentukan Hubungan Waktu Pengadukan dengan Kecepatan


Pelarutan
Densitas Larutan Garam pada t = 30 detik :

= 1,021043332 g/mL

Dengan cara yang sama, maka densitas larutan garam dari masing-
masing konsentrasi yaitu:
Tabel 5. Data B Waktu dan Densitas

WAKTU DENSITAS
NO.
(detik) (g/mL)
1 30 1,021043332
2 60 1,029075138
3 90 1,032087065
4 120 1,030079113
5 150 1,023051283
Mencari Konsentrasi :
Dari grafik hubungan antara Konsentrasi Vs. Densitas diperoleh
persamaan y = 0,568x + 0,998 (y = ax + b), di mana y merupakan
densitas dan x merupakan konsentrasi. Dari persamaan di atas maka
dapat dicari konsentrasi larutan tiap waktu.
y = 0,568x + 0,998
x = (y - b) / a
x = (1,021-0,998)/0,568
x = 3,9 %
Dengan cara yang sama maka didapat nilai konsentrasi larutan
garam pada masing-masing waktu yaitu sebagai berikut:
Tabel 6. Data B Hubungan antara Waktu dengan Konsentrasi

WAKTU KONSENTRASI
NO.
(detik) (%)
1 30 0,039374266
2 60 0,053465154
3 90 0,058749236
4 120 0,055226515
5 150 0,042896988
Sehingga didapat grafik hubungan antara Waktu Vs. Densitas Konsentrasi
Larutan sebagai berikut :

Gambar 4. Kurva Hubungan Waktu vs Konsentrasi Larutan

C. Menentukan Hubungan Kecepatan Pengadukan dengan Kecepatan


Pelarutan
Densitas larutan garam pada pengadukan berkecepatan 81 rpm

= 1,011003574 gram/ml
Dengan cara yang sama, maka densitas larutan garam dari masing-
masing konsentrasi yaitu:
Tabel 7. Data C Kecepatan Pengadukan dengan Densitas
KECEPATAN
DENSITAS
NO. PENGADUKAN
(g/mL)
(rpm)
1 81 1,011003574
2 135 1,013011526
3 185 1,017027429
4 271 1,030079113

Mencari Konsentrasi :
Dari grafik hubungan antara Konsentrasi Vs. Densitas diperoleh
persamaan y = 0,568x + 0,998), di mana y merupakan densitas dan x
merupakan konsentrasi. Dari persamaan di atas maka dapat dicari
konsentrasi larutan untuk tiap kecepatan pengadukan.
Untuk kecepatan 81 rpm diperoleh:
y = 0,568x + 0,998
x = (y - b) / a
x = (1,011033- 0,998)/0,0568
x = 0,021760656
Dengan cara yang sama, maka didapat nilai konsentrasi larutan
garam pada masing-masing kecepatan pengadukan yaitu sebagai
berikut:

Tabel 8. Data C Hubungan Kecepatan Pengadukan dengan Konsentrasi

NO.
KECEPATAN
KONSENTRASI
PENGADUKAN
(%)
(rpm)
1 81 0,021760656
2 135 0,025283378
3 185 0,032328822
4 271 0,055226515

Sehingga didapat grafik hubungan antara Kecepatan Pengadukan


Vs. Konsentrasi Larutan sebagai berikut :

Gambar 5. Kurva Hubungan Kecepatan Pengadukan vs Konsentrasi Larutan

D. Menentukan Nilai K Untuk Desain Reaktor


Dari persamaan reaksi orde satu didapatkan :

k. Ca

- k. t
dimana nilai Ca = Co . Xa), sehingga akan diperoleh persamaan:
-ln (1 Xa) = k . t
dengan :
-ln (1 Xa) : sebagai sumbu y
t : sebagai sumbu x
k : sebagai konstanta b
maka akan diperoleh data sebagai berikut :

Tabel 9. Data Percobaan Nilai k untuk Desain Reaktor

Nilai k diperoleh dari persamaan y = a + bx dari grafik hubungan antara

waktu (t) dengan -ln (1 Xa) yaitu sebagai berikut :

Gambar 6. Grafik Hubungan antara Waktu dengan -ln (1-Xa)


Dari grafik tersebut didapat persamaan :
y = 0,0002857x + 0,031
Maka nilai k yang diperoleh adalah sebesar 0,0002857
VIII. PEMBAHASAN
Praktikum Mekanika Fluida Pengadukan bertujuan untuk
mengetahui pengaruh waktu terhadap kecepatan pelarutan, mengetahui
pengaruh kecepatan pengadukan terhadap kecepatan pelarutan, dan
menentukan kriteria desain tangki pengadukan berdasarkan ketetapan.
Percobaan dilakukan dengan mengukur dimensi yang ada pada
tangki berpengaduk yaitu baffle, tangki, impeller, dan turbin. Pengukuran
ini dilakukan untuk tujuan analisa desain reaktor, maksudnya adalah dapat
diambil hipotesis mengenai kriteria reaktor yang sesuai terhadap input dan
output yang diinginkan. Pada alat tersebut diketahui bahwa sudah tidak
baik untuk digunakan karena yang pertama pada putaran impeller tidak
sesuai dengan setting yang ditunjukan pada alat; putaran tidak sesuai
dengan nilai yang ditunjukan pada alat tersebut. Oleh karena itu dilakukan
perhitungan putaran impeller secara manual, yang kedua yatu pada tangki
tersebut kondisinya sangat kotor banyak sekali noda bercak atau bahkan
seperti lumut dan apabila alat seperti ini digunakan dalam mixing suatu
bahan kimia tentunya akan mengganggu hasil yang diinginkan dan dalam
kasus percobaan kali ini sebagai faktor penghambat pelarutan.
Percobaan dilakukan pertama yaitu menentukan kurva standar atau
kurva kalibrasi dengan cara membuat grafik hubungan antara konsentrasi
garam terhadap densitas laruta garam. Dilakukan dengan cara membuat
larutan garam dengan konsentrasi tertentu yaitu 0, 2, , 5, 10, 15, 20 %. Dan
berdasarkan grafik didapat kurva persamaan linear y = 0,568x + 0,998.
Melalu persamaan liniear dari grafik inilah nantinya konsentrasi larutan
garam akan diketahui pada tip percobaan selanjutnya.
Percobaan kedua adalah mencari pengaruh waktu terhadap
kecepatan pelarutan. Hal ini dilakukan dengan kecepatan 185 rpm dengan
melarutkan garam sebanyak 100 gram pada aliran kontinyu. Variasi waktu
yang digunakan dengan interval waktu 30 detik hingga detik ke-150.
Setiap 30 detik sekali air diambil kemudian diukur densitasnya untuk
mengetahui jumlah garam yang larut ketika pengadukan.
Semakin lama waktu pengadukan maka semakin rendah juga
kecepatan pelarutan karena pada saat waktu masih berada pada detik awal,
konsentrasi garam dalam air juga masih rendah sehingga mudah larut,
semua itu berkaitan dengan nilai hasil kali kelarutan (Ksp), karena apabila
Ksp rendah maka ion-ion dan jumlah garam yang berada didalam larutan
jumlahnya masih sedikit sehingga mudah mengalami pelarutan berbanding
terbalik apabila Ksp dalam keadaan tinggi, sehingga pada titik tertentu
akan diperoleh kecepatan pelarutan yang semakin rendah dan pada
akhirnya mengalami steady state yaitu larutan berada pada tepat jenuh
sehingga garam sudah tidak dapat larut lagi. Pelarutan dan kelarutan bahan
umumnya dipengaruhi oleh faktor-faktor berikut yaitu:
- Luas permukaan bahan
- Konsentrasi
- Suhu
- Tekanan (khusus pada gas)
- Efek ion senama
- Efek ion asing
Percobaan ini dilakukan dengan adanya air yang dialirkan secara
kontinyu menyebabkan menambah jumlah air yang berkedudukan sebagai
pelarut sedangkan garam yang sudah terlarut akan keluar sebagai produk
sehingga konsentrasi atau jumlah garam dalam tangki semakin berkurang,
seperti halnya pada t 30 detik garam yang berada di tangki masih belum
terlarut semua kemudian pada t 60 detik sudah mengalami penurunan
jumlahnya dan pada t 150 detik garam sudah tidak terlihat pada tangki.
Konsentrasi dari larutan garam yang ditampung pada t pelarutan yang
semakin banyak akan semakin kecil dan hal ini juga dibuktikan dengan
densitas larutan yang semakin rendah serta konsentrasinya semakin kecil.
Percobaan ketiga dilakukan pengadukan garam sejumlah 100 gram
dengan variasi putaran yang berbeda dengan waktu 60 detik. Dalam hal ini
masih menggunakan sistem kontinyu. Kecepatan putaran yang digunakan
adalah 81, 136, 185, 271 rpm. Setelah 60 detik diambil 15 ml larutan
tersebut untuk ditimbang dalam piknometer 10 ml untuk dicari
densitasnya. Konsentrasi dari tiap variasi putaran pengadukan dapat dicari
dengan mensubtitusikan densitas masing-masing ke persamaan liner kurva
standar. Berdasarkan pengolahan data, diperoleh semakin cepat putaran
pengaduk maka semakin cepat sistem tersebut melarutkan garam dan
konsentrasinya juga semakin besar. Hal ini dikarenakan jika kecepatan
pengadukan semakin tinggi maka aliran dalam tangki akan semakin cepat
sehingga gerak partikel akan semakin cepat dan mudah terdifusi dalam air
atau cepat melarut. Dan pada percobaan ini tergolong dalam pengadukan
dengan kecepatan putaran rendah. Dimana kecepatan rendah merupakan
kecepatan yang digunakan berkisar pada kecepatan kurang lebih 400 rpm.
Prngadukan dengan kecepatan ini umumnya digunakan untuk minyak
kental, lumpur dimana terdapat serat atau pada cairan yang dapat
menimbulkan busa.
Percobaan terakhir yaitu menentukan kriteria desain tangki
pengadukan berdasarkan ketetapan dengan cara menentukan nilai k pada
persamaan orde 1 terhadap data kecepatan pelarut dengan waktu. Nilai k
didapat dari koefisien pada persamaan antara waktu pengadukan dengan
-ln(1-Xa) , diamana persamaannya yaitu y = 0,0002857x + 0,031.
Sehingga nilai k yang diperoleh yaitu sebesar 0,0002857. Besarnya nilai k
yang diperoleh ini tidak dapat diambil hipotesis terhadap desain reaktor
yang terkait dikarenakan masih ada perhitungan selanjutnya untuk
menentukan kriteria desain reaktor.

IX. KESIMPULAN

Dari Praktikum Mekanika Fluida dengan judul Pengadukan,


dapat disimpulkan bahwa :
1. Hubungan antara waktu pengadukan dengan kecepatan pelarutan ialah
semakin lama waktu pengadukan maka semakin banyak garam yang
larut dan semakin tinggi pula densitas larutannya, serta konsentrasi
larutan yang dihasilkan juga semakin besar, dan semakin rendah
kecepatan pelarutannya. Dan karena air terus saja diairkan secara
kontinyu konsentrasi larutan garam makin lama makin menurun, garam
makin lama akan berkurang jumlahnya dalam tangki karena keluar
bersamaan dengan air sebagai larutan garam. Dan pada t tertentu
densitas maupun konsentrasi larutan garam tersebut berbeda tentunya.
2. Hubungan antara kecepatan pengadukan dengan kecepatan pelarutan
yaitu semakin tinggi kecepatan pengadukan maka kecepatan pelarutan
juga akan semakin tinggi dimana garam akan cepat merlarut sehingga
semakin besar densitas larutannya dan konsentrasi larutan yang
diperoleh juga semakin tinggi. Dan dalam hal ini kecepatan pengadukan
tergolong rendah karena semua dilakukan dibawah 400 rpm
kecepatanya.
3. Kriteria desain tangki pengadukan berdasarkan ketetapan nilai k yang
diperoleh berdasarkan percobaan yang telah dilakukan melalu
persamaan orde 1 yaitu ln (1 Xa) = kt adalah sebesar 0,0002857

X. DAFTAR PUSTAKA
Brown GG, Unit Operations, John Wiley & Sons, Inc., New York
McCabe WL, et all., alih bahasa oleh Jasjfi E., 1991, Operasi Teknik
Kimia, Jilid 1, Edisi Keempat. Erlangga, Jakarta
Perry R. H., Green D., Perrys Chemical Engineers Hand Book, Second
Edition, 1988, McGraw-Hill, Tokyo
Putra, Sugili. 2017 Petunjuk Praktikum Pengadukan. Yogyakarta : STTN-
BATAN.
http://hendra-stenly.blogspot.co.id/2012/02/disolusi.html
diakses pada 29 November 2017 pukul 09.15 WIB
https://www.scribd.com/doc/215892355/Pengadukan-Dan-Pencampuran-
OTK-I
diakses pada 28 November 2017 pukul 00.15 WIB
http://tekimku.blogspot.co.id/2011/08/pengadukan-dan pencampuran.html
diakses pada 27 November 2017 pukul 01.22 WIB

Yogyakarta, 28 November 2017


Asisten, Praktikan,

Arif Budiman Ari Nur Chintia


NIM 011600431