Anda di halaman 1dari 5

HINDARI PENULARAN TB PADA ANAK

Nama : Michael Martin L

Kelas : XI-IA5

Nomor : 29

Perbaikan

UTS
Judul Artikel : hindari penularan tb pada anak

Majalah/Koran : JawaPos.com

Tanggal : 25 April 2017

JawaPos.com - Daya tahan tubuh anak-anak memang belum terbentuk sempurna. Oleh
karena itu anak-anak dengan mudahnya tertular penyakit.

Spesialis anak dr Radix Hadriyanto SpA mengatakan, salah satu penyakit yang rentan
ditularkan dengan cepat pada anak-anak adalah tuberculosis (TB), hampir seluruh kasus TB
Anak adalah hasil dari penularan orang tua. Setelah ditelusuri pasti orang tua atau seseorang
yang satu atap dengannya sudah terjangkit TB duluan, seharusnya kan ini bisa dicegah, ulas
Radix

Menurut Radix, penyebab imunitas yang jelek pada anak karena malnutrisi atau kurang gizi.
Itulah yang membuat kuman TB lebih mudah menyerang. Lebih dari 50 persen TB anak
memang disertai dengan malnutrisi, imbuhnya.

Radix juga menambahkan, gejala TB pada anak sedikit berbeda dengan orang dewasa. Pasien
datang dengan keluhan demam selama tiga minggu yang tidak kunjung turun, batuk kronis
berdahak, berat badan anak tidak naik. Bahkan cenderung turun. Beberapa anak bahkan
datang dengan kondisi kelenjar di lehernya yang sudah membesar.

Penegakan diagnose TB pada anak berbeda dengan orang dewasa. Untuk anak, pasien akan
melakukan pemeriksaan yang bernama mantoux test. Tidak seperti TB pada dewasa yang
biasanya cukup ditest melalui dahak. Anak kecil kan dahaknya ditelan, itu yang bikin sulit
test lewat dahak, katanya.

Bila hasil pemeriksaan positif, pengobatan yang dilakukan sama dengan orang dewasa. Yakni
mengkonsumsi obat-obatan setiap hari selama enam bulan. Bila luput sehari tidak minum
obat, maka pasine harus memulai dari awal lagi. Pengobatan TB anak memang bergantung
pada kedisiplinan orang tua atau pengasuh.

Analisis

1. Dasar Teori

Tuberkulosis (TBC) adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh


Mycobacterium tuberculosis yanq sebagian besar (80%) menyerang paru-paru.
Mycobacterium tuberculosis merupakan kuman aerob yang dapat hidup terutama di
paru / berbagai organ tubuh lainnya yang bertekanan parsial tinggi. Penyakit
tuberculosis ini biasanya menyerang paru tetapi dapat menyebar ke hampir seluruh
bagian tubuh termasuk meninges, ginjal, tulang, nodus limfe. Infeksi awal biasanya
terjadi 2-10 minggu setelah pemajanan. Individu kemudian dapat mengalami penyakit
aktif karena gangguan atau ketidakefektifan respon imun.

Penyebaran TB Paru dari penderita terjadi melalui nuklei droplet infeksius yang
keluar bersama batuk, bersin dan bicara dengan memproduksi percikan yang sangat
kecil berisi kuman TB. Kuman ini melayang-layang di udara yang dihirup oleh
penderita lain. Faktor utama dalam perjalanan infeksi adalah kedekatan dan durasi
kontak serta derajat infeksius penderita dimana semakin dekat seseorang berada
dengan penderita, makin banyak kuman TB yang mungkin akan dihirupnya.
Pada tuberculosis, basil tuberculosis menyebabkan suatu reaksi jaringan yang aneh di
dalam paru-paru meliputi : penyerbuan daerah terinfeksi oleh makrofag, pembentukan
dinding di sekitar lesi oleh jaringan fibrosa untuk membentuk apa yang disebut
dengan tuberkel. Banyaknya area fibrosis menyebabkan meningkatnya usaha otot
pernafasan untuk ventilasi paru dan oleh karena itu menurunkan kapasitas vital,
berkurangnya luas total permukaan membrane respirasi yang menyebabkan
penurunan kapasitas difusi paru secara progresif, dan rasio ventilasi-perfusi yang
abnormal di dalam paru-paru dapat mengurangi oksigenasi darah.

TBC disebabkan oleh Mycobakterium tuberculosis yang merupakan batang aerobic


tahan asam yang tumbuh lambat dan sensitive terhadap panas dan sinar UV. Bakteri
yang jarang sebagai penyebab, tetapi pernah terjadi adalah M. Bovis dan M. Avium.
1. Skematis Penjelasan
Penderita TBC akan mengalami berbagai gangguan kesehatan, seperti batuk berdahak
kronis, demam subfebril, berkeringat tanpa sebab di malam hari, sesak napas, nyeri
dada, dan penurunan nafsu makan. Semuanya itu dapat menurunkan produktivitas
penderita bahkan kematian.
Tanda dan Gejala:
1. Tanda
a. Penurunan berat badan
b. Anoreksia
c. Dispneu
d. Sputum purulen/hijau, mukoid/kuning.
2. Gejala
a. Demam
Biasanya menyerupai demam influenza. Keadaan ini sangat dipengaruhi oleh daya
tahan tubuh penderita dengan berat-ringannya infeksi kuman TBC yang masuk.
b. Batuk
Batuk terus menerus dan berdahak selama 3 minggu atau lebih. Terjadi karena adanya
infeksi pada bronkus. Sifat batuk dimulai dari batuk kering kemudian setelah timbul
peradangan menjadi batuk produkti (menghasilkan sputum). Pada keadaan lanjut berupa
batuk darah karena terdapat pembuluh darah yang pecah. Kebanyakan batuk darah pada
ulkus dinding bronkus.
c.Sesak nafas.
Sesak nafas akan ditemukan pada penyakit yang sudah lanjut dimana infiltrasinya sudah
setengah bagian paru.
d. Nyeri dada
Timbul bila infiltrasi radang sudah sampai ke pleura (menimbulkan pleuritis)
e.Malaise
Dapat berupa anoreksia, tidak ada nafsu makan, berat badan turun, sakit kepala,
nyeri otot, berkeringat malam walaupun tanpa kegiatan, demam meriang lebih dari satu
bulan.
Tujuan Pengobatan
Pengobatan TB bertujuan untuk menyembuhkan pasien, mencegah kematian,
mencegah kekambuhan, memutuskan rantai penularan dan mencegah terjadinya
resistensi kuman terhadap OAT.

Pengobatan tuberkulosis
Saat ini telah dapat dilakukan pengobatan TBC secara efektif dan dalam waktu yang
relatif singkat. Program pengobatan tersebut dikenal dengan nama DOTS (Direct
Observed Treatment Shortcourse). Obat yang digunakan adalah kombinasi dari
Rifampicin, Isoniazid, Pyrazinamid, Ethambutol, dan Streptomycin. Pengobatan
dilakukan dalam waktu 6-8 bulan secara intensif dengan diawasi seorang PMO
(Pengawas Menelan Obat) untuk meningkatkan ketaatan penderita dalam minum obat.
Obat-obat yang digunakan dal,am pengobatan tuberkulosis dapat dibagi kedalam
2 kategori yaitu OAT primer dan OAT sekunder. OAT primer lebih tinggi kemanjurannya
dan lebih baik keamanannya dari OAT sekunder.
OAT primer adalah isoniazid, rifampin, ethambutol, pyrazinamide. Dengan
keempat macam OAT primer itu kebanyakan penderita tuberkulosis dapat disembuhkan.
Penyembuhan penyakit umumnya terjadi setelah pengobatan selama 6 bulan. Keempat
macam OAT primer itu diberikan sekaligus setiap hari selama 2 bulan, kemudian
dilanjutkan dengan dua macam obat (isoniazid dan rifampin) selama 4 bulan berikutnya..
Bila dengan OAT primer timbul resistensi, maka yang resisten itu digantikan dengan
paling sedikit 2-3 macam OAT sekunder yang belum resisten, sehingga penderita
menerima 5 atau 6 macam obat sekaligus. Strategi pengobatan yang dianjurkan oleh
WHO adalah DOTs (directly observed treatment, short course) untuk penggunaan OAT
primer dan DOTS-plus untuk penggunaan OAT sekunder.
OAT sekunder adalah asam para-aminosalisilat, ethionamide,thioacetazone,
fluorokinolon, aminoglikosida dan capreomycin, cycloserine, penghambat
betalaktam,clarithromycin, linezolid, thioacetazone,dan lain-lain.