Anda di halaman 1dari 29

BAB II

Profil Baseline Emisi Gas Rumah Kaca Provinsi


Jawa Barat dalam Skenario Business as Usual
(BAU)
2.1. Umum

Mengacu pada Petunjuk Teknis Pemantauan, Evaluasi, dan Pelaporan (PEP)


Rencana Aksi Daerah Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca (RAD-GRK), sektor
yang berkaitan dengan emisi gas rumah kaca dibagi menjadi lima kelompok besar,
yaitu (1) kehutanan, (2) pertanian, (3) energi, (4) transportasi, dan (5) pengelolaan
limbah. Dengan pertimbangan tersebut maka pembahasan skanario baseline emisi
gas rumah kaca di Jawa Barat dikategorikan pada lima aspek tersebut.

Skenario baseline dapat didefinisikan sebagai skenario yang memberikan penjelasan


konsisten mengenai bagaimana sistem dapat berevolusi di masa depan tanpa
kebijakan mitigasi. Baseline dapat merefleksikan pengembangan business-as-usual
(BAU) yang tergantung pada jenis emisi sektoral/target, atau dapat merefleksikan
skenario tindakan yang akan dilakukan.

2.2. Kehutanan

Penyerapan CO2 oleh Hutan

Perhitungan penyerapan CO2 dari penggunaan lahan hutan diperkirakan dengan


terlebih dahulu menghitung stok karbon. Perkiraan stok karbon dalam perhitungan
baseline studi ini adalah stok karbon dari biomassa hutan yang merupakan fungsi
dari luas lahan hutan, walaupun sebenarnya parameter untuk inventarisasi stok
karbon dalam hutan adalah penambahan stok karbon yang berasal dari organik
yang sudah mati dan tanah (tanah organik dan tanah mineral). Hal ini disebabkan
keterbatasan data yang dipersyaratkan oleh referensi yang tidak memadai.

Tabel 2.1. dan Gambar 2.1. menjelaskan mengenai Perkembangan Luas Hutan Tahun
2003 2020 dan Emisi CO2 yang Dihasilkan.

IV-1
Tabel 2.1.
Perkembangan Luas Hutan Tahun 2003 2020 dan Emisi CO2 yang Dihasilkan

emisi negative
Tahun luas hutan GW R CF stok karbon faktor
(penyerapan) CO2
(ha) ton C/tahun emisi
ton CO2/tahun
1999 1.005.251 13 0,37 0,47 8.414.650 stok -30.853.718
2000 ton ton root ton 7.629.350 karbon -27.974.283
911.435
d.m/ha.th d.m/ton C/ton x
2001 751.176 6.287.869 -23.055.519
untuk asia- shoot.dm d.m
2002 849.838 insular < 20 7.113.736 44
(- /12) -26.083.698
2003 784.397 y 6.565.953 -24.075.160
2004 828.699 6.936.791 -25.434.899
2005 764.280 6.397.562 -23.457.727
2006 808.232 6.765.470 -24.806.723
2007 808.246 6.765.585 -24.807.144
2008 816.603 6.835.539 -25.063.642
2009 816.603 6.835.539 -25.063.642
2010 768.386 6.431.928 -23.583.735
2011 758.769 6.351.431 -23.288.580
2012 749.273 6.271.942 -22.997.119
2013 739.896 6.193.447 -22.709.306
2014 730.636 6.115.935 -22.425.095
2015 721.492 6.039.393 -22.144.441
2016 712.462 5.963.809 -21.867.299
2017 703.546 5.889.171 -21.593.626
2018 694.741 5.815.467 -21.323.378
2019 686.046 5.742.685 -21.056.512
2020 677.460 5.670.814 -20.792.986
proyeksi menggunakan metoda eksponensial dengan R = 0.28
pengambilan nilai GW diasumsikan hutan alami dengan usia < 20 tahun
Sumber : hasil perhitungan (data luas hutan berdasarkan Jawa Barat dalam Angka)

Perhitungan penyerapan CO2 oleh hutan (emisi negatif) dilakukan dengan


mengambil nilai default dari IPCC tahun 2006 pada kondisi yang sesuai untuk
Indonesia. Nilai default yang digunakan adalah nilai Gw (average annual above
ground-biomass ground), yaitu 13 ton d.m/ha.th untuk asia-insular < 20 y; nilai R
(rasio antara below ground biomass - above ground biomass), yaitu 0,37 ton root
d.m/ton shoot.dm; dan nilai CF (fraksi karbon dari above ground biomass), yaitu
0,47 tonC/ton d.m.
Angka emisi CO2 dari penggunaan lahan hutan bernilai negatif dikarenakan hutan
menyerap CO2.

IV-2
1.200.000
1.000.000

Luas hutan (ha)


800.000
600.000
400.000
200.000
0

1999
2000
2001
2002
2003
2004
2005
2006
2007
2008
2009
2010
2011
2012
2013
2014
2015
2016
2017
2018
2019
2020
Tahun

Gambar 2.1.a. Perkembangan Luas Hutan Tahun 2003 2020

Proyeksi sampai tahun 2020 menunjukkan luas hutan mengalami penurunan 12%
terhadap luas hutan tahun 2011. Seiring dengan penurunan luas lahan hutan, maka
penyerapan CO2 mengalami penurunan sebanyak 12%. Pada akhir tahun proyeksi,
penyerapan CO2 hanya sebesar 20.792.986 ton dari kondisi semula pada tahun 2011
sebesar 23.288.580,08 ton.

tahun
0
1999

2001

2003

2005

2007

2009

2011

2013

2015

2017

-5.000.000 2019

-10.000.000
Emisi CO2 (ton)

-15.000.000
-20.000.000
-25.000.000
-30.000.000
-35.000.000

Gambar 2.1.b. Emisi Negatif (Penyerapan) CO2 yang Dihasilkan

Emisi CO2 dari sektor Landbase

Emisi CO2 dari sektor landbase dihasilkan dari aktivitas perubahan lahan yang
menjadi pengurang dari besaran penyerapan CO2 dari stok karbon. Emisi CO2 yang
Dihasilkan dari Sektor Guna Lahan (landbase) Kehutanan disajikan pada Tabel 2.2.

IV-3
Tabel 2.2.
Emisi CO2 yang Dihasilkan dari Sektor Guna Lahan dan Kehutanan

Emisi negatif CO2


BAU (ton CO2 eq) Emisi positif CO2 BAU Emisi CO2 dari sektor
Tahun (Penyerapan) (ton CO2 eq) *) Landbase (ton CO2 eq)
2010 -23.583.734,80 3.718.405,00 -19.865.329,80
2015 -22.144.440,95 3.718.405,00 -18.426.035,95
2020 -20.792.985,90 3.718.405,00 -17.074.580,90
Sumber: hasil perhitungan (Tabel 2.5.)

Emisi CO2 yang Dihasilkan dari Sektor Guna Lahan (landbase) Kehutanan secara
grafis disajikan pada Gambar 2.2.

0
2000 2005 2010 2015 2020
-5000000
Emisi CO2 dari hutan (ton)

-1000000

-1500000

-2000000

-2500000

-3000000
Tahun

Gambar 2.2.. Emisi CO2 yang Dihasilkan dari Sektor Landbase Kehutanan

2.3 Pertanian

Pertanian padi terutama yang selalu tergenang merupakan sumber dari tiga macam
GRK yaitu karbondioksida (CO2), metana (CH4), dan dinitrogen oksida (N2O).
Karbondioksida merupakan komponen terbesar yang diemisikan dari lahan
pertanian. CO2 dihasilkan terutama akibat pemakaian pupuk urea.

Konsumsi Pupuk Urea dan Prediksi Jumlah Emisi CO2 dari Pemakaian Pupuk tahun
2003-2020 dapat dilihat pada Tabel 2.3. Pada tabel dan gambar tersebut dapat
dilihat bahwa terjadi penurunan pemakaian pupuk urea.

IV-4
Tabel 2.3. Konsumsi Pupuk Urea dan Prediksi Jumlah Emisi CO2 Dari Pemakaian
Pupuk tahun 2003-2020

Faktor Emisi Emisi CO2


Tahun Konsumsi Urea (ton)*)
(ton CO2 eq)
2003 782.850 0,2 ton CO2/ 156.570
2004 749.000 konsumsi 149.800
2005 677.140 pupuk urea 135.428
2006 709.310 141.862
2007 700.350 140.070
2008 665.100 133.020
2009 646.920 129.384
2010 629.230 125.846
2011 612.030 122.406
2012 595.300 119.060
2013 579.030 115.806
2014 563.200 0,2 ton CO2/ 112.640
konsumsi
2015 547.800 109.560
pupuk urea
2016 532.830 106.566
2017 518.260 103.652
2018 504.100 100.820
2019 490.320 98.064
2020 476.910 95.382
Sumber : Hasil perhitungan

Gambar 2.3. menjelaskan bahwa terjadi penurunan konsumsi pupuk urea yang
diikuti dengan penurunan konsentrasi CO2 yang diemisikan. Hal ini dapat terjadi
karena :

- Sistem SRI (System of Rice Intencification) yang banyak diimplementasikan. SRI


merupakan terobosan budidaya padi dengan cara mengubah pengelolaan
tanaman, tanah, air dan unsur hara. Dalam hal penggunaan pupuk bisa
menghemat hingga 50 persen.
- Terjadi kecenderungan trend peralihan pupuk kimia ke pupuk organik.
Penurunan emisi CO2 dari pemakaian pupuk yang terjadi pada akhir tahun
proyeksi terhadap tahun 2011 adalah 28,33 %.

IV-5
180.000,00

Emisi CO2 dari pemakaian pupuk


160.000,00
140.000,00
120.000,00
(ton CO2 eq) 100.000,00
80.000,00
60.000,00
40.000,00
20.000,00
0,00
2003
2004
2005
2006
2007
2008
2009
2010
2011
2012
2013
2014
2015
2016
2017
2018
2019
2020
tahun

Gambar 2.3. Emisi CH4 dari Pemakaian Pupuk 2003-2020

Luas panen sawah dan Prediksi Jumlah Emisi CH4 yang dihasilkan pada tahun 2003-2020
dapat dilihat pada Tabel 2.4. Pada gambar dan tabel tersebut dapat dilihat bahwa luas
panen sawah dan emisi CH4 dari tahun 2011 sampai dengan 2020 meningkat sebanyak
45.25 %. Hal ini dikarenakan frekuensi panen yang meningkat seiring dengan program
intensifikasi lahan pertanian, walaupun luas sawah yang sebenarnya di Jawa Barat
mengalami penurunan. Seiring dengan peningkatan luas panen, emisi CH4 meningkat
pula.

IV-6
Tabel 2.4.
Luas Panen Sawah dan Prediksi Jumlah Emisi CH4 yang dihasilkan pada Tahun 2003-2020

faktor emisi CH4 Emisi CH4


Tahun Luas Panen (hektar)
(ton CO2 eq)
2003 944.042 1,3 ton CH4/ha lahan 1.227.255
2004 773.149 sawah *) 1.005.094
2005 917.725 1.193.043
2006 1.798.260 2.337.738
2007 1.829.085 2.377.811
2008 1.803.628 2.344.716
2009 1.825.346 2.372.950
2010 2.283.075 2.967.998
2011 2.513.223 3.267.190
2012 2.743.256,518 3.566.233
2013 2.973.175,617 3.865.128
2014 3.202.980,528 4.163.875
2015 3.432.671,363 4.462.473
2016 3.662.248,236 4.760.923
2017 3.891.711,26 5.059.225
2018 4.121.060,548 5.357.379
2019 4.350.296,212 5.655.385
2020 4.579.418,364 5.953.244
*) standar IPCC, 2006
Proyeksi menggunakan metoda logaritmik dgn R2 = 0,89
Sumber : Hasil perhitungan

Prediksi Emisi CH4 dari Pemanenan Sawah Tahun 2003-2020 disajikan pada Gambar 2.4.

7.000.000

6.000.000
emisi CH4 (ton CO2 eq)

5.000.000

4.000.000

3.000.000

2.000.000

1.000.000

0
2003
2004
2005
2006
2007
2008
2009
2010
2011
2012
2013
2014
2015
2016
2017
2018
2019
2020

tahun

Gambar 2.4. Prediksi Emisi CH4 dari Pemanenan Sawah Tahun 2003-2020

IV-7
2.4. Peternakan

Proses fermentasi yang berlangsung di dalam lambung ternak seperti sapi, kerbau,
kuda, kambing, dan domba akan menghasilkan gas metan (CH4). Gas metan juga
akan dihasilkan melalui proses dekomposisi kotoran ternak yang berlangsung
secara anaerobik atau ketika proses perabukan dengan menggunakan pupuk
kandang. Populasi ternak yang masuk dalam kategori penghasil gas metan cukup
besar terdiri dari kambing, sapi potong, domba, babi, kerbau, kuda, dan sapi perah.
Seiring dengan perkembangan jumlah ternak, dapat dilihat bahwa emisi dari sapi
perah mengalami penurunan dari tahun ke tahun sedangkan emisi dari kuda
mengalami kenaikan.

Gambar 2.5 dan Tabel 2.5. menjelaskan perkiraan emisi CH4 dari ternak tahun 1999-
2020.

18000000
Babi
16000000
Emisi gas CH4 (ton CO2eq)

14000000 Domba
12000000 Kambing
10000000
Kuda
8000000
6000000
Kerbau

4000000 Sapi
2000000 Perah
Sapi
0 potong
2000 2002 2004 2006 2008 2010 2012 2014 2016 2018 2020
Tahun
Gambar 2.5. Perkiraan Emisi Gas CH4 dari Hewan Ternak Tahun 1999-2020

Pada gambar dan tabel tersebut dapat dilihat bahwa pada tahun 2011 sampai dengan
tahun 2020, emisi CH4 menurun sebanyak 25,9 %.

IV-8
Tabel 2.5
Populasi Hewan Ternak (ribu ekor) dan Perkiraan Emisi CH4 Tahun 1999-2020
Sapi Potong Sapi Perah Kerbau Kuda
Emisi CH4
Emisi CH4 Emisi CH4 Emisi CH4
Emisi CH4 Emisi CH4 Emisi CH4 (Fermentasi Emisi CH4
Tahun Jumlah (Fermentasi Jumlah (Fermentasi Jumlah Jumlah (Fermentasi
(kotoran) (kotoran) (kotoran) Pencernaan (kotoran)
Pencernaan) Pencernaan) Pencernaan)
)
(ton CO2eq) (ton CO2eq) (ton CO2eq) (ton CO2eq)
1999 157.266 3.303 155.222 67.429 43.896 86.377 319.072 13.401.024 368.528 10.882 500 4.113
2000 184.928 3.883 182.524 84.785 55.195 108.610 307.173 12.901.266 354.785 6.677 307 2.524
2001 189.168 3.973 186.709 88.668 57.723 113.584 148.428 6.233.976 171.434 11.747 540 4.440
2002 205.843 4.323 203.167 91.219 59.384 116.852 148.778 6.248.676 171.839 11.963 550 4.522
2003 223.818 4.700 220.908 95.513 62.179 122.352 146.769 6.164.298 169.518 12.125 558 4.583
2004 232.949 4.892 229.921 98.958 64.422 126.765 149.960 6.298.320 173.204 14.242 655 5.383
2005 234.948 4.934 231.894 92.755 60.384 118.819 147.157 6.180.594 169.966 12.569 578 4.751
2006 254.237 5.339 250.932 97.367 63.386 124.727 149.444 6.276.648 172.608 15.555 715 5.880
2007 272.264 5.718 268.725 103.489 67.371 132.569 149.030 6.259.260 172.130 15.755 725 5.955
2008 295.554 6.207 291.712 111.250 72.424 142.511 145.847 6.125.574 168.453 13.717 631 5.185
2009 310.981 6.531 306.938 117.839 76.713 150.952 142.502 5.985.084 164.590 13.757 633 5.200
2010 331.833 6.968 327.519 117.833 76.709 150.944 115.558 4.853.435 133.469 16.027 737 6.058
2011 353.147 7.416 348.556 121.565 79.139 155.725 108.447 4.554.782 125.256 16.593 763 6.272
2012 375.830 7.892 370.944 125.296 81.568 160.504 101.774 4.274.506 117.549 17.158 789 6.486
2013 399.970 8.399 394.770 129.025 83.995 165.281 95.511 4.011.477 110.316 17.723 815 6.699
2014 425.660 8.939 420.126 132.752 86.422 170.056 89.634 3.764.633 103.527 18.289 841 6.913
2015 453.000 9.513 447.111 136.477 88.847 174.828 84.119 3.532.978 97.157 18.854 867 7.127
2016 482.097 10.124 475.830 140.201 91.271 179.597 78.942 3.315.579 91.178 19.419 893 7.341
2017 513.062 10.774 506.393 143.922 93.693 184.365 74.085 3.111.556 85.568 19.985 919 7.554
2018 546.017 11.466 538.919 147.642 96.115 189.129 69.526 2.920.089 80.302 20.550 945 7.768
2019 581.088 12.203 573.534 151.360 98.535 193.892 65.248 2.740.403 75.361 21.115 971 7.982
2020 618.412 12.987 610.372 155.076 100.954 198.652 61.233 2.571.774 70.724 21.681 997 8.195

II-9
Lanjutan Tabel 2.5.
Populasi Hewan Ternak (ribu ekor) dan Perkiraan Emisi CH4 Tahun 1999-2020 (lanjutan)
Kambing Domba Babi
TOTAL CH4
Emisi CH4 Emisi CH4 Emisi CH4 dari
Tahun Emisi CH4 Emisi CH4 Emisi CH4
Jumlah (Fermentasi Jumlah (Fermentasi Jumlah (Fermentasi peternakan
(kotoran) (kotoran) (kotoran)
Pencernaan) Pencernaan) Pencernaan) (ton CO2eq)
(ton CO2eq) (ton CO2eq) (ton CO2eq)
1999 1.515.956 6.367 159.175 3.365.480 15.549 353.375 11.136 1.637 234 14.599.300
2000 1.786.743 7.504 187.608 3.347.170 15.464 351.453 14.527 2.135 305 14.173.563
2001 823.402 3.458 86.457 3.106.590 14.352 326.192 10.772 1.583 226 7.204.648
2002 878.043 3.688 92.195 3.162.234 14.610 332.035 9.702 1.426 204 7.253.468
2003 840.366 3.530 88.238 3.288.885 15.195 345.333 11.207 1.647 235 7.203.275
2004 1.144.102 4.805 120.131 3.529.456 16.306 370.593 8.092 1.190 170 7.416.756
2005 999.567 4.198 104.955 3.737.803 17.269 392.469 9.057 1.331 190 7.292.332
2006 1.148.547 4.824 120.597 4.221.806 19.505 443.290 12.487 1.836 262 7.490.548
2007 1.294.453 5.437 135.918 4.605.417 21.277 483.569 7.043 1.035 148 7.559.836
2008 1.431.012 6.010 150.256 5.311.836 24.541 557.743 4.773 702 100 7.552.048
2009 1.615.002 6.783 169.575 5.817.834 26.878 610.873 8.146 1.197 171 7.512.118
2010 1.289.872 5.417 135.437 5.502.742 25.423 577.788 6.355 934 133 6.300.972
2011 1.300.651 5.463 136.568 5.836.171 26.963 612.798 5.794 852 122 6.060.675
2012 1.311.430 5.508 137.700 6.189.803 28.597 649.929 5.232 769 110 5.842.851
2013 1.322.209 5.553 138.832 6.564.863 30.330 689.311 4.671 687 98 5.646.563
2014 1.332.987 5.599 139.964 6.962.649 32.167 731.078 4.110 604 86 5.470.955
2015 1.343.766 5.644 141.095 7.384.537 34.117 775.376 3.549 522 75 5.315.256
2016 1.354.545 5.689 142.227 7.831.990 36.184 822.359 2.987 439 63 5.178.773
2017 1.365.324 5.734 143.359 8.306.555 38.376 872.188 2.426 357 51 5.060.888
2018 1.376.103 5.780 144.491 8.809.875 40.702 925.037 1.865 274 39 4.961.056
2019 1.386.881 5.825 145.623 9.343.694 43.168 981.088 1.304 192 27 4.878.803
2020 1.397.660 5.870 146.754 9.909.857 45.784 1.040.535 743 109 16 4.813.723

II-10
Gambar 2.6 dan Tabel 2.6 menjelaskan perkiraan emisi CH4 dari unggas tahun 1999-2020.

Tabel 2.6
Populasi Unggas dan Perkiraan Emisi CH4 Tahun 1999-2020
Ayam kampung(buras) Ayam Petelur Ayam Pedaging (raspotong) Itik
Tahun Emisi CH4 jumlah emisi
Emisi CH4 Jumlah Emisi CH4 Jumlah Emisi CH4 (ton
Jumlah (ribu ekor) Jumlah (ribu ekor) (ton CH4 (ton
(ton CO2eq) (ribu ekor) (ton CO2eq) (ribu ekor) CO2eq)
CO2eq) CO2eq)
1999 32.970.405 13.847.570 32.970.405 20.771.355 32.970.405 13.847.570 3.921.837 2.470.757 50.937.253
2000 31.013.387 13.025.623 12.398.300 7.810.929 32.695.017 13.731.907 4.198.417 2.645.003 37.213.461
2001 24.687.103 10.368.583 8.157.942 5.139.503 29.924.822 12.568.425 4.603.808 2.900.399 30.976.911
2002 30.273.580 12.714.904 8.588.803 5.410.946 44.963.062 18.884.486 4.293.637 2.704.991 39.715.327
2003 31.334.784 13.160.609 8.446.457 5.321.268 48.358.476 20.310.560 4.952.223 3.119.900 41.912.338
2004 30.779.120 12.927.230 9.720.685 6.124.032 328.015.536 137.766.525 4.880.019 3.074.412 159.892.199
2005 31.043.932 13.038.451 10.171.904 6.408.300 58.770.837 24.683.752 5.335.872 3.361.599 47.492.102
2006 29.319.161 12.314.048 10.082.905 6.352.230 57.325.682 24.076.786 5.296.757 3.336.957 46.080.021
2007 27.729.274 11.646.295 11.462.744 7.221.529 58.084.470 24.395.477 6.534.753 4.116.894 47.380.196
2008 27.761.015 11.659.626 10.303.478 6.491.191 69.562.266 29.216.152 7.962.095 5.016.120 52.383.089
2009 28.371.910 11.916.202 10.501.767 6.616.113 73.088.485 30.697.164 8.213.920 5.174.770 54.404.249
2010 27.985.326 11.753.837 8.440.933 5.317.788 101.305.875 42.548.467 8.817.550 5.555.056 65.175.148
2011 27.721.007 11.642.823 8.070.709 5.084.546 105.557.474 44.334.139 9.465.539 5.963.290 67.024.798
2012 27.456.687 11.531.809 7.716.723 4.861.535 109.809.074 46.119.811 10.161.149 6.401.524 68.914.678
2013 27.192.368 11.420.794 7.378.263 4.648.306 114.060.673 47.905.483 10.907.877 6.871.963 70.846.545
2014 26.928.048 11.309.780 7.054.648 4.444.428 118.312.273 49.691.155 11.709.482 7.376.974 72.822.337
2015 26.663.729 11.198.766 6.745.227 4.249.493 122.563.872 51.476.826 12.569.996 7.919.097 74.844.183
2016 26.399.409 11.087.752 6.449.378 4.063.108 126.815.472 53.262.498 13.493.747 8.501.061 76.914.419
2017 26.135.090 10.976.738 6.166.504 3.884.898 131.067.071 55.048.170 14.485.384 9.125.792 79.035.597
2018 25.870.770 10.865.724 5.896.038 3.714.504 135.318.670 56.833.842 15.549.895 9.796.434 81.210.503
2019 25.606.451 10.754.709 5.637.434 3.551.584 139.570.270 58.619.513 16.692.635 10.516.360 83.442.167
2020 25.342.132 10.643.695 5.390.173 3.395.809 143.821.869 60.405.185 17.919.354 11.289.193 85.733.882
II-11
Pada gambar dan tabel tersebut dapat dilihat bahwa pada tahun 2011 sampai dengan tahun 2020, emisi CH 4 mengalami kenaikan
sebanyak 21,82 %.

180.000.000
160.000.000
emisi CH4 (ton CO2eq) 140.000.000
120.000.000
100.000.000
Itik
80.000.000
ayam pedaging
60.000.000
ayam patelur
40.000.000
ayam kampung
20.000.000
0
1999

2001

2003

2005

2007

2009

2011

2013

2015

2017

2019
Tahun

Gambar 2.6. Perkiraan Emisi CH4 dari Populasi Unggas Tahun 1999-2020

II-12
2.4. Energi

Proyeksi kebutuhan energi Jawa Barat untuk perhitungan emisi dari sektor energi
diadopsi dari Perencanaan Energi Daerah yang dikeluarkan oleh PUSDATIM Kementerian
ESDM tahun 2008 yang menganalisis kebutuhan energi di Jawa Barat sampai dengan
tahun 2030.

2.4.1. Energi Sektor Rumah Tangga

Menurut jenis bahan bakar yang digunakan, pada tahun 2007 biomasa (kayu bakar)
paling banyak digunakan oleh rumah tangga dan pada urutan berikutnya adalah minyak
tanah dan LPG. Dibandingkan dengan tahun 2006, konsumsi minyak tanah cenderung
menurun dan konsumsi gas/LPG cenderung meningkat.

Perkiraan Emisi CO2 dari Konsumsi Energi Rumah Tangga, 2001 2020 dapat dilihat pada
Gambar 2.7. dan Tabel 2.7. Emisi CO2 yang dihasilkan dari konsumsi energi sektor rumah
tangga ini diperkirakan rata-rata mencapai 178 juta ton per tahun dan kontribusi terbesar
berasal dari penggunaan biomasa.

Dari Tabel 2.7. dapat dilihat bahwa konsumsi energi rumah tangga terbesar di Jawa Barat
adalah biomassa (kayu bakar), menyusul minyak tanah, dan gas.

Tabel 2.7
Konsumsi Energi Rumah Tangga menurut Jenis Bahan Bakar (SBM) tahun 2001-
2020 dan Prediksi Emisi CO2 yang dihasilkannya

GAS Minyak tanah Kayu Bakar


Total Emisi CO2
konsumsi
Tahun konsumsi EMISI CO2 EMISI CO2 Konsumsi Kayu EMISI CO2 (ton Rumah Tangga
minyak tanah
Gas/LPG (SBM) (ton CO2eq) (ton CO2eq) Bakar (SBM) CO2eq) (ton CO2eq)
(SBM)
2010 7.900.000,00 3.050.260,31 3.500.000,00 1.539.846,35 32.734.850,29 22.434.109,48 27.024.216,14
2015 13.600.000,00 5.251.081,04 1.500.000,00 659.934,15 37.735.478,74 25.861.180,17 31.772.195,36
15.000.000,00 5.791.633,50 1.750.000,00 769.923,18 43.500.011,25 29.811.775,71 36.373.332,38

Sumber:
- data konsumsi gas dan minyak tanah dari Perencanaan Energi Daerah yang dikeluarkan oleh PUSDATIM
Kementerian ESDM, 2008
- data konsumsi kayu bakar merupakan olahan dari data dasar Kementerian Lingkungan Hidup, 2009

II-13
Gambar 2.7. dan Tabel 2.7. menjelaskan bahwa dalam Perkiraan Emisi CO2 dari Konsumsi
Energi Rumah Tangga, 2001 2010, kayu bakar sangat mendominasi kontribusi emisi CO2.
Hal ini dikarenakan selain konsumsi kayu bakar paling tinggi, faktor emisi CO 2 nya pun
paling tinggi (lihat Tabel 4.19.).

40.000.000,00
Emisi CO2 Energi Rumah Tangga (ton

35.000.000,00
30.000.000,00
25.000.000,00
CO2eq)

20.000.000,00 kayu bakar


15.000.000,00 minyak tanah
10.000.000,00 gas
5.000.000,00
0,00
2010 2015 2020
tahun

Gambar 2.7. Perkiraan Emisi CO2 dari Konsumsi Energi Rumah Tangga, Tahun 2001 -
2020

2.4.2. Energi Sektor Industri

Sektor industri merupakan pengguna energi terbesar kedua setelah sektor rumah
tangga. Jenis bahan bakar utama yang digunakan sektor industri ini adalah solar,
batubara, dan gas.

Perkiraan Emisi CO2 dari Konsumsi Energi Sektor Industri menurut Jenis Bahan Bakar
tahun 2001 2020 disajikan pada Gambar 2.8.

II-14
60.000.000,00

Emisi CO2 energi industri (ton


50.000.000,00

40.000.000,00 Residual Fuel


Oil
CO2eq)

30.000.000,00 LPG

20.000.000,00 Natural Gas

10.000.000,00

0,00
Tahun
201

201

202
0

0
Gambar 2.8. Perkiraan Emisi CO2 dari Konsumsi Energi Sektor Industri menurut Jenis Bahan
Bakar, 2001 - 2020

Konsumsi solar untuk industri meningkat tajam. Pada tahun 2020 perkiraan konsumsi
solar untuk industri tercatat mencapai 2 juta SBM. Peningkatan kontribusi gas CO2 pada
tahun 2020 diperkirakan akan meningkat 93,96 % dari kontribusi emisi CO 2 pada tahun
2011. Perkiraan Konsumsi Energi Industri (ribu SBM) dan Emisi CO2 yang Dihasilkannya
Berdasarkan Jenis Bahan Bakar, 2003 2020 disajikan pada Tabel 2.8

Tabel 2.8.
Perkiraan Konsumsi Energi Industri (ribu SBM) dan Emisi CO 2 yang Dihasilkannya Berdasarkan
Jenis Bahan Bakar, 2003 2020
SOLAR MINYAK TANAH BATU BARA
Konsuksi Konsumsi
Konsumsi Solar EMISI CO2
Tahun EMISI CO2 (ton) Minyak Tanah Batubara EMISI CO2 (ton)
(SBM) (ton)
(SBM) (SBM)
2010 13.100.000 5.939.774,49 300.000 131.986,83 14.900.000 8.624.975,26
2015 19.700.000 8.932.332,63 500.000 219.978,05 22.400.000 12.966.405,76
2020 29.600.000 13.421.169,84 700.000 307.969,27 33.700.000 19.507.494,38
Lanjutan Tabel 2.8.
NATURAL GAS LPG RESIDUAL FUEL OIL

Konsumsi Konsumsi
EMISI CO2 Konsumsi EMISI CO2 EMISI CO2 Total emisi CO2
Tahun Natural Gas Residual Fuel
(ton) LPG (SBM) (ton) (ton) dari Energi
(SBM) Oil (SBM)
Industri
2010 17.500.000 6.756.905,75 1.200.000 463.330,68 4.600.000 2.023.798,06 23.940.771,07
2015 26.300.000 10.154.664,07 1.800.000 694.996,02 7.000.000 3.079.692,70 36.048.069,23
2020 39.500.000 15.251.301,55 2.700.000 1.042.494,03 10.500.000 4.619.539,05 54.149.968,12
Sumber:
- data konsumsi gas dan minyak tanah dari Perencanaan Energi Daerah yang dikeluarkan oleh PUSDATIM
Kementerian ESDM, 2008
- data konsumsi kayu bakar merupakan olahan dari data dasar Kementerian Lingkungan Hidup, 2009

II-15
2.4.3. Energi Sektor Komersial

Sektor komersial memberikan kontribusi emisi CO2-eq relatif sedikit dibandingkan


dengan sektor transportasi, rumah tangga, dan industri. Walaupun demikian Data dari
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menunjukkan bahwa total
konsumsi energi di sektor ini terus meningkat dari tahun ke tahun. Bahan bakar
terbanyak digunakan adalah minyak tanah dan solar. Perkiraan Emisi CO2 dari Sektor
Komersial, 2000 2020 disajikan pada Gambar 2.9.

18.000.000,00
16.000.000,00
Emisi CO2 energi Komersial

14.000.000,00
12.000.000,00
Residual Fuel
(ton CO2eq)

10.000.000,00
Oil
8.000.000,00
LPG
6.000.000,00
4.000.000,00
2.000.000,00
0,00
2010

2015

2020 Tahun

Gambar 2.9. Perkiraan Emisi CO2 dari Sektor Komersial, 2000 2020

2.5. Transportasi

Data dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menunjukkan bahwa
total konsumsi energi di sektor transportasi terus meningkat dari tahun ke tahun. Emisi
CO2 yang dihasilkan dari sektor transportasi juga meningkat.

Perhitungan emisi CO2 dilakukan berdasarkan jumlah kendaraan rata-rata dan perilaku
konsumsi BBM hasil riset Kementerian ESDM. Perkiraan Jumlah Kendaraan dan Emisi
CO2 (ribu ton) dari Kendaraan Bermotor (2000-2012) digambarkan pada Gambar 2.10. dan
Tabel 2.9.

II-16
25.000.000,00

20.000.000,00
Emisi CO2 Kenadraan
(ton CO2eq) 15.000.000,00

Solar
10.000.000,00
bensin
5.000.000,00

0,00
2010 2015 2020
Tahun

Gambar 2.10. Perkiraan Emisi CO2 dari Sektor Transportasi, 2000 2020

Konsumsi solar mendominasi pemakaian bahan bakar untuk kendaraan bermotor,


berdasarkan hasil proyeksinya, kebutuhan akan solar akan meningkat tajam untuk tahun
2012. Gambar 2.9. dan Tabel 2.9. menjelaskan bahwa dalam Perkiraan Emisi CO2 dari
pemakaian bahan bakar untuk kendaraan bermotor tahun 2020 meningkat sebanyak 44,2
% dari pemakaian bahan bakar tahun 2010.

Tabel 2.9
Perkiraan Jumlah Emisi CO2 dari Kendaraan Bermotor (2000-2012)

Bensin Solar
konsumsi Total Emisi CO2
konsumsi
EMISI CO2 (ton) minyak tanah EMISI CO2 ton Kendaraan(ton)
Gas/LPG (SBM)
Tahun (SBM)
2010 19.800.000,00 8.396.124,66 7.700.000,00 3.491.317,83 11.887.442,49
2015 27.000.000,00 11.449.260,90 10.500.000,00 4.619.539,05 16.068.799,95
2020 36.800.000,00 15.604.918,56 14.400.000,00 6.335.367,84 21.940.286,40
Sumber : Hasil perhitungan
Sumber data energi :: - Perencanaan Energi Daerah yang dikeluarkan oleh PUSDATIM Kementerian
ESDM, 2008

II-17
2.6. Pengelolaan Limbah

2.6.1. Emisi dari Sampah

A. Timbulan Sampah

Untuk mengestimasi volume sampah di provinsi Jawa Barat pada tahun 2010 dan
memproyeksikannya sampai dengan tahun 2020, diperlukan data timbulan, jumlah dan
pertumbuhan penduduk pada tahun 2010. Proyeksi penduduk didasarkan kepada data
BPS Jawa Barat untuk masing-masing kabupaten/kota. Hasil perhitungan proyeksi
penduduk provinsi Jawa Barat dapat dilihat pada Tabel 2.10. Rata-rata pertumbuhan
penduduk provinsi Jawa Barat didapatkan sebesar 1.89 %.

Perhitungan timbulan sampah per kapita per hari didasarkan kepada standar PU dalam
SNI 19-2454-2002 yaitu, ditetapkan asumsi timbulan sampah; (a) 0,6 kg/jiwa/hari untuk
kota besar, (b) 0,5 kg/jiwa/hari untuk kota sedang dan (c) 0,4 kg/jiwa/hari untuk kota
kecil/kabupaten, maka perkiraan timbulan sampah total Jawa Barat pada tahun 2010
seperti yang disajikan pada Tabel 2.11. dengan timbulan rata-rata propinsi Jawa Barat
adalah 4,4 kg/orang/hari.

Pada tahun 2010, jumlah penduduk Jabar terukur sejumlah lebih dari 43 juta jiwa dan
akan terus meningkat menjadi lebih dari 52 juta jiwa pada tahun 2020 (lihat Tabel 2.10.).
Volume sampah diperkirakan meningkat dari 6.281 giga gram pada Tahun 2010 menjadi
7.692 giga gram pada tahun pada 2020, dengan 947 giga gram diantaranya berada di
Kabupaten Bogor sebagai kota terbanyak penduduknya.

II-18
Tabel 2.10. Proyeksi Penduduk Jawa Barat

Pertum-
No. Kota / buhan Tahun
Pendu-
Kabupaten duk (%) 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
KABUPATEN
1 Bogor 3,13% 4.763.629 4.912.731 5.066.499 5.225.080 5.388.625 5.557.289 5.731.233 5.910.620 6.095.623 6.286.416 6.483.180
2 Sukabumi 1,22% 2.339.348 2.367.888 2.396.776 2.426.017 2.455.614 2.485.573 2.515.897 2.546.591 2.577.659 2.609.107 2.640.938
3 Cianjur 1,10% 2.168.514 2.192.368 2.216.484 2.240.865 2.265.515 2.290.435 2.315.630 2.341.102 2.366.854 2.392.889 2.419.211
4 Bandung 2,56% 3.174.499 3.255.766 3.339.114 3.424.595 3.512.265 3.602.179 3.694.394 3.788.971 3.885.969 3.985.449 4.087.477
5 Garut 1,64% 2.401.248 2.440.628 2.480.655 2.521.338 2.562.687 2.604.716 2.647.433 2.690.851 2.734.981 2.779.834 2.825.424
6 Tasikmalaya 0,88% 1.675.544 1.690.289 1.705.163 1.720.169 1.735.306 1.750.577 1.765.982 1.781.523 1.797.200 1.813.015 1.828.970
7 Ciamis 0,47% 1.531.359 1.538.556 1.545.788 1.553.053 1.560.352 1.567.686 1.575.054 1.582.457 1.589.894 1.597.367 1.604.874
8 Kuningan 0,53% 1.037.558 1.043.057 1.048.585 1.054.143 1.059.730 1.065.346 1.070.993 1.076.669 1.082.375 1.088.112 1.093.879
9 Cirebon 0,68% 2.065.142 2.079.185 2.093.323 2.107.558 2.121.889 2.136.318 2.150.845 2.165.471 2.180.196 2.195.022 2.209.948
10 Majalengka 0,40% 1.166.733 1.171.400 1.176.086 1.180.790 1.185.513 1.190.255 1.195.016 1.199.796 1.204.595 1.209.414 1.214.251
11 Sumedang 1,21% 1.091.323 1.104.528 1.117.893 1.131.419 1.145.109 1.158.965 1.172.989 1.187.182 1.201.547 1.216.086 1.230.800
12 Indramayu 0,46% 1.663.516 1.671.168 1.678.856 1.686.578 1.694.337 1.702.130 1.709.960 1.717.826 1.725.728 1.733.666 1.741.641
13 Subang 0,96% 1.462.356 1.476.395 1.490.568 1.504.877 1.519.324 1.533.910 1.548.635 1.563.502 1.578.512 1.593.666 1.608.965
14 Purwakarta 1,99% 851.566 868.512 885.796 903.423 921.401 939.737 958.438 977.511 996.963 1.016.803 1.037.037
15 Karawang 1,78% 2.125.234 2.163.063 2.201.566 2.240.754 2.280.639 2.321.234 2.362.552 2.404.606 2.447.408 2.490.972 2.535.311
16 Bekasi 4,69% 2.629.551 2.752.877 2.881.987 3.017.152 3.158.656 3.306.797 3.461.886 3.624.249 3.794.226 3.972.175 4.158.470
17 Bandung Barat 1,99% 1.513.634 1.543.755 1.574.476 1.605.808 1.637.764 1.670.355 1.703.595 1.737.497 1.772.073 1.807.337 1.843.303
KOTA
18 Kota Bogor 2,39% 949.066 971.749 994.973 1.018.753 1.043.102 1.068.032 1.093.558 1.119.694 1.146.454 1.173.855 1.201.910
19 Kota Sukabumi 1,73% 299.247 304.424 309.691 315.048 320.498 326.043 331.684 337.422 343.259 349.198 355.239
20 Kota Bandung 1,15% 2.393.633 2.421.160 2.449.003 2.477.167 2.505.654 2.534.469 2.563.615 2.593.097 2.622.918 2.653.081 2.683.592
21 Kota Cirebon 0,84% 295.764 298.248 300.754 303.280 305.828 308.397 310.987 313.599 316.234 318.890 321.569
22 Kota Bekasi 3,48% 2.336.489 2.417.799 2.501.938 2.589.006 2.679.103 2.772.336 2.868.813 2.968.648 3.071.957 3.178.861 3.289.485
23 Kota Depok 4,30% 1.736.565 1.811.237 1.889.120 1.970.353 2.055.078 2.143.446 2.235.614 2.331.746 2.432.011 2.536.587 2.645.661
24 Kota Cimahi 2,06% 541.139 552.286 563.664 575.275 587.126 599.220 611.564 624.163 637.020 650.143 663.536
Kota
25 Tasikmalaya 1,86% 634.424 646.224 658.244 670.487 682.958 695.661 708.601 721.781 735.206 748.881 762.810
26 Kota Banjar 1,14% 175.165 177.162 179.182 181.224 183.290 185.380 187.493 189.630 191.792 193.979 196.190
Jawa Barat 43.022.246 43.872.456 4.746.182 45.644.212 46.567.365 47.516.488 48.492.462 49.496.201 50.528.654 51.590.803 52.683.670
Sumber : Hasil Perhitungan
II-19
Tabel 2.11.
Estimasi Jumlah Sampah
No. Kota / Timbulan Volume Sampah (Gg)
Kabupaten (kg/jiwa/hr) 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
KABUPATEN
1 Bogor 0,4 695 717 740 763 787 811 837 863 890 918 947
2 Sukabumi 0,4 342 346 350 354 359 363 367 372 376 381 386
3 Cianjur 0,4 317 320 324 327 331 334 338 342 346 349 353
4 Bandung 0,4 463 475 488 500 513 526 539 553 567 582 597
5 Garut 0,4 351 356 362 368 374 380 387 393 399 406 413
6 Tasikmalaya 0,4 245 247 249 251 253 256 258 260 262 265 267
7 Ciamis 0,4 224 225 226 227 228 229 230 231 232 233 234
8 Kuningan 0,4 151 152 153 154 155 156 156 157 158 159 160
9 Cirebon 0,4 302 304 306 308 310 312 314 316 318 320 323
10 Majalengka 0,4 170 171 172 172 173 174 174 175 176 177 177
11 Sumedang 0,4 159 161 163 165 167 169 171 173 175 178 180
12 Indramayu 0,4 243 244 245 246 247 249 250 251 252 253 254
13 Subang 0,4 214 216 218 220 222 224 226 228 230 233 235
14 Purwakarta 0,4 124 127 129 132 135 137 140 143 146 148 151
15 Karawang 0,4 310 316 321 327 333 339 345 351 357 364 370
16 Bekasi 0,4 384 402 421 441 461 483 505 529 554 580 607
17 Bandung Barat 0,4 221 225 230 234 239 244 249 254 259 264 269
KOTA
18 Kota Bogor 0,5 139 142 145 149 152 156 160 163 167 171 175
19 Kota Sukabumi 0,5 44 44 45 46 47 48 48 49 50 51 52
20 Kota Bandung 0,6 349 353 358 362 366 370 374 379 383 387 392
21 Kota Cirebon 0,5 43 44 44 44 45 45 45 46 46 47 47
22 Kota Bekasi 0,6 341 353 365 378 391 405 419 433 449 464 480
23 Kota Depok 0,6 254 264 276 288 300 313 326 340 355 370 386
24 Kota Cimahi 0,5 79 81 82 84 86 87 89 91 93 95 97
25 Kota Tasikmalaya 0,5 93 94 96 98 100 102 103 105 107 109 111
26 Kota Banjar 0,5 26 26 26 26 27 27 27 28 28 28 29
Sampah Total 6.281 6.405 6.533 6.664 6.799 6.937 7.080 7.226 7.377 7.532 7.692
Sumber : hasil perhitungan

II-20
Berdasarkan SLHD Provinsi jawa Barat, distribusi pengelolaan sampah domestik di Jabar
seperti yang disajikan dalam Tabel 2.12.

Tabel 2.12
Rekapitulasi Distribusi Pengelolaan Sampah Provinsi Jawa Barat

No Katagori Pengelolaan Sampah Prosentase


1 Terangkut 23,20%
2 Terolah 3,40%
3 Terhampar sembarangan 27,60%
4 Open Burning 46,00%
Sumber : olahan data dari SLHD Provinsi Jawa Barat, 2010.

Selain data volume sampah, data komposisi dan karakteristik sampah merupakan
komponen yang penting dalam estimasi GRK sektor sampah domestik. Komposisi dan
dry matter content sampah Jabar dapat dilihat dari kegiatan JICA SP3 pada tahun 2011 di
Bandung yang dapat dilihat pada Tabel 2.13. Sedangkan untuk mengkonversi volume
sampah dari satuan massa ke satuan volume atau sebaliknya, digunakan bulk density
sampah sebesar 0,347 ton/m3 (Survey JICA SP3 FY).

Tabel 2.13.
Komposisi (% Berat Basah) dan Dry Matter Content Sampah Jawa Barat

No. Komponen Sampah Komposisi sampah Dry Matter Content


(% Berat Basah) (%)
1 Sisa Makanan 63,60% 40%
2 Kertas, Karton dan Nappies 10,40% 90%
3 Kayu dan Sampah Taman 0,00% 85%
4 Kain dan Produk Tekstil 0,00% 80%
5 Karet dan Kulit 0,00% 84%
6 Plastik 1,50% 100%
7 Logam 9,80% 100%
8 Gelas 1,70% 100%
9 Lain - lain 13,10% 90%
Total 100,00% -
Sumber data komposisi sampah : Penelitian JICA di Bandung
Sumber data DMC : Default IPCC 2006

II-21
Tabel 2.14. menyajikan rekapitulasi total volume sampah tertimbun (open dumping),
baik dalam kategori Un-Managed Deep/ke TPA maupun Un-categorized/terhampar
sembarangan, terolah/dikomposkan, dan dibakar langsung/open dumping yang
digunakan sebagai baseline emisi BAU sektor sampah provinsi Jawa Barat. Pada
wilayah provinsi Jawa Barat, 50,72 % sampah tertimbun dalam kondisi un-managed
deep dan un-categorized open burning sebesar 45,84 %, dan terolah menjadi kompos
sebesar 3,42 %.

Emisi dari Penimbunan Sampah

Tabel 2.14. memperlihatkan hasil estimasi emisi GRK sektor sampah dari timbunan
sampah (domestik) di TPA dengan menggunakan spreadsheet 2006 IPCC GL (FOD
Method). Diperkirakan emisi dari timbunan mencapai 99,97Gg CH4 pada tahun
2020.

Emisi dari Open Burning

Jumlah sampah yang dibakar secara langsung oleh masyarakat Jabar relatif tinggi,
sekitar 46 % dari total keseluruhan volume sampah, atau sekitar 166 Gg sampah
pada tahun 2010. Jumlah sampah yang dibakar secara terbuka/open burning
diperkirakan, mencapai 3.526 Gg pada tahun 2020. Tabel 2.14. menyajikan emisi CO2,
CH4 dan N2O dari aktifitas open burning di Jabar . Pada tahun 2020, diperkirakan
24,94 Gg CH4 akan dihasilkan dari aktifitas open burning.

Emisi dari Aktifitas Pengomposan Sampah Terolah

Berdasarkan estimasi dan proyeksi sampah terolah pada Tabel 2.14, dapat
diprediksi jumlah emisi GRK dari kegiatan pengomposan sampah. Diperkirakan 1,816
Gg CH4 ekuivalen akan dikeluarkan dari aktifitas pengomposan 215 Gg sampah
domestik pada tahun 2010 dan terus meningkat sampai dengan 2,224 Gg CH4
ekuivalen pada tahun 2020 dari hasil pengomposan 264 Gg sampah.

II-22
Tabel 2.14.
Rekapitulasi Baseline Emisi GRK Sampah di Jawa Barat
No. Tahun Emisi GRK dari sumber (Gg CH4) Total Estimasi Emisi
base year (Gg CH4)
timbunan open burning Komposting BAU
1 2010 25,16 81,63 1,82 108,61
2 2011 43,06 83,25 1,85 128,16
3 2012 56,09 84,90 1,89 142,89
4 2013 65,84 86,61 1,93 154,38
5 2014 73,39 88,36 1,97 163,71
6 2015 79,45 90,16 2,01 171,62
7 2016 84,51 92,02 2,05 178,58
8 2017 88,91 93,92 2,09 184,92
9 2018 92,86 95,88 2,13 190,88
10 2019 96,51 97,90 2,18 196,59
11 2020 99,97 99,97 2,22 202,17
Sumber : hasil perhitungan

BAU Baseline Emisi GRK sector sampah Provinsi Jawa Barat disajikan pada Gambar 2.11.

Emisi GRK (BAU) dari Sektor Sampah


250,00
Emisi CH4 Equivalen (Gg CH4)

200,00
Komposting
150,00
open burning
100,00 timbunan

50,00

0,00

Tahun

Gambar 2.11. BAU Baseline Emisi GRK sector sampah Provinsi Jawa Barat

II-23
2.6.2. Limbah Cair Domestik

Sumber emisi GRK untuk air limbah domestik Jabar bersumber dari :
a. Aktifitas pembuangan di sistem sewerage (collected),
b. Aktifitaspembuangan di septic tank,
c. Aktifitas pembuangan di jamban/latrin,
d. Aktifitas pembuangan langsung ke sungai.

Data air limbah (domestik) yang dipertimbangkan meliputi;


1. Pengumpulan data BOD air limbah domestik.
2. Pengumpulan data sewer dan IPAL domestik, baik eksisting maupun rencana.
Data juga melingkupi kapasitas dan sistem pengolahan.
3. Pengumpulan data pengolahan air limbah domestik on-site; septic tank dan pit-
latrine, atau lainnya. Data eksisting dan rencana akan dikumpulkan oleh tim.
4. Pengumpulan peraturan daerah, kelembagaan dan pendanaan terkait
pengelolaan air limbah domestik.
5. Pengumpulan dokumen Master Plan/Outline Plan Air limbah

Keterbatasan data membuat perkiraan emisi GRK sektor limbah cair masih dalam
tingkatan tier I. Dukungan JICA SP1 dan SP3, dapat memperbaiki kualitas estimasi
dengan penajaman pada data distribusi pengelolaan air limbah untuk perhitungan
MCF. Nilai estimasi emisi didasarkan pada jumlah penduduk Provinsi Jawa Barat,
dengan asumsi nilai degradable organic component sebesar 14,6 kg BOD/cap.yr dan
maximum methane producing capacity sebesar 0,6 kg CH4/kgBOD sesuai panduan
2006 IPCC GL Chapter 6. Dari hasil estimasi emisi GRK sektor limbah cair domestik
sebesar 129,00 Gg CH4 dan akan terus meningkat s.d 156,89 Gg CH4 pada tahun
2020.

Potensi Emisi GRK dari Limbah Cair Domestik di Jawa Barat disajikan pada Tabel
2.15

II-24
Tabel 2.15.
Potensi Emisi GRK dari Limbah Cair Domestik
di Jawa Barat

No. Tahun Emisi Metan


(Gg CH4)
1 2010 129,00
2 2011 131,55
3 2012 134,15
4 2013 136,80
5 2014 139,51
6 2015 142,27
7 2016 145,08
8 2017 147,94
9 2018 150,87
10 2019 153,85
11 2020 156,89
Sumber : hasil perhitungan

BAU Baseline Emisi GRK sektor Limbah Cair Domestik Provinsi Jabar disajikan pada
Gambar 2.12.

Emisi GRK Limbah Cair Domestik


3.500.000
3.000.000
Emisi CH4 (ton CO2 eq)

2.500.000
2.000.000
1.500.000
1.000.000
500.000
0
2010 2012 2014 2016 2018 2020
Tahun

Gambar 2.12. BAU Baseline Emisi GRK sektor Limbah Cair Domestik Provinsi
Jabar

II-25
2.6.3. Rekapitulasi Emisi Sektor Limbah

Dari sektor sampah dan limbah cair, baik domestik maupun industri, didapatkan estimasi
emisi sebesar 67,26 Gg CH4 (1.412.531 ton CO2 eq) pada tahun 2020 seperti terlihat pada
Tabel 2.16.

Tabel 2.16.
Potensi Emisi GRK Sektor Limbah Provinsi Jawa Barat
No. Tahun Emisi GRK (Gg CH4) Emisi GRK (ton CO2 eq)
Limbah Limbah
Sampah Cair Sampah Cair
Domestik Domestik Total Domestik Domestik Total
1 2010 108,61 129,00 237,61 2.280.774 2.709.090 4.989.864
2 2011 128,16 131,55 259,72 2.691.407 2.762.627 5.454.034
3 2012 142,89 134,15 277,04 3.000.597 2.817.222 5.817.819
4 2013 154,38 136,80 291,18 3.241.934 2.872.897 6.114.830
5 2014 163,71 139,51 303,22 3.437.995 2.929.671 6.367.666
6 2015 171,62 142,27 313,88 3.603.976 2.987.567 6.591.544
7 2016 178,58 145,08 323,65 3.750.122 3.046.608 6.796.730
8 2017 184,92 147,94 332,87 3.883.357 3.106.815 6.990.172
9 2018 190,88 150,87 341,74 4.008.380 3.168.213 7.176.592
10 2019 196,59 153,85 350,44 4.128.395 3.230.823 7.359.219
11 2020 202,17 156,89 359,06 4.245.607 3.294.671 7.540.278
Sumber : Hasil Perhitungan

BAU Baseline Emisi GRK sektor limbah Provinsi Jawa Barat disajikan pada Gambar 2.13.

8.000.000
7.000.000
Emisi GRK (ton CO2 Eq.)

6.000.000 3.294.671
5.000.000
4.000.000
3.000.000 Limbah Cair Domestik
2.000.000 4.245.607 Sampah Domestik
1.000.000
0
2010
2011
2012
2013
2014
2015
2016
2017
2018
2019
2020

Tahun

Gambar 2.13. BAU Baseline Emisi GRK sektor limbah Provinsi Jawa Barat.

II-26
2.7. Rekapitulasi Emisi Gas Rumah Kaca Jawa Barat tahun 2020 Tanpa adanya RAD GRK

Rekaputulasi Baseline Emisi Gas Rumah Kaca Jawa Barat disajikan pada Tabel 2.17.

Tabel 2.17.
Rekapitulasi Emisi Gas Rumah Kaca di Provinsi Jawa Barat Tahun 2020

Sektor Kegiatan Penyebab Subtotal Estimasi Emisi Total Estimasi Emisi Gas
GRK Gas Rumah Kaca pada Rumah Kaca pada tahun
tahun 2020 (ton CO2 eq) 2020 (ton CO2 eq)

Hutan dan Penyerapan oleh hutan -20.792.985,90 -17.074,58


perubahan guna Emisi hutan 3.718.405,00
Lahan
Pertanian Pemakaian pupuk urea 95.382,00 130.399,01
Panen lahan sawah 125.404.175,60
Peternakan (kotoran 4.899.457,00
ternak dan unggas)
Energi Energi rumah tangga 36.373.332,38 107.172,00
Energi industri 54.149.968,12
Komersial 16.648.697,58
Transportasi Energi kendaraan 21.940.286,40 21.940,29
bermotor
Limbah Domestik Sampah domestik 4.245.607 7.540
Limbah cair domestik 3.294.671

Komposisi Sektor Penghasil Emisi GRK Jawa Barat Tahun 2020 Kondisi Tanpa RAD GRK
disajikan pada Gambar Gambar 2.14.

II-27
Hutan dan
Limbah Domestik; perubahan guna
7.540 GgCO2eq Lahan; 3.718
Transportasi; 2,78% GgCO2eq
21.940 GgCO2eq 1,37%
8,10%

Pertanian;
130.399 GgCO2eq
Energi;
48,16%
107.172 GgCO2eq
39,58%

Gambar 2.14. Komposisi Sektor Penghasil Emisi GRK Jawa Barat Tahun 2020 Kondisi
Tanpa RAD GRK

Dari gambar tersebut dapat dilihat bahwa pada tahun 2020 tanpa adanya aksi
mitigasi GRK diperkirakan total emisi di Jawa Barat adalah 249.976.997,35 ton
CO2eq. Penghasil emisi gas rumah kaca terbesar dalam satuan ton CO 2eq adalah
lahan sawah (43%), menyusul sektor energi sebesar 107.171.998,08 ton CO2eq.

II-28