Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Rumah sakit dan puskesmas merupakan fasilitas pelayanan


kesehatan yang sangat diperlukan dalam mendukung upaya
penyelenggaraan pelayanan kesehatan masyarakat yang mempunyai
karaketeristik dan organisasi yang kompleks.1
Rumah sakit menurut undang-undang Republik Indonesia Nomor
44 Tahun 2009 adalah institusi pelayanan kesehatan yang
menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang
menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat. Fungsi
rumah sakit adalah sebagai penyelenggara pelayanan pengobatan dan
pemulihan kesehatan sesuai dengan standar pelayanan rumah sakit.2 Di
samping itu, rumah sakit juga memiliki peran penting dimana merupakan
salah satu dari sarana kesehatan yang juga merupakan tempat
menyelenggarakan upaya kesehatan yaitu setiap kegiatan untuk memelihara
dan meningkatkan kesehatan serta bertujuan untuk mewujudkan derajat
kesehatan yang optimal bagi masyarakat yang dilaksanakan secara serasi
dan terpadu serta berkesinambungan sebaik-baiknya secara berdaya guna
(efisien) dan berhasil guna (efektif).3
Kebutuhan masyarakat akan jasa pelayanan kesehatan semakin
tinggi menjadi salah satu tantangan tersendiri bagi rumah sakit. Hal ini
disebabkan semakin tingginya kesadaran masyarakat mengenai pentingnya
kesehatan. Masyarakat juga semakin kritis dan terbuka terhadap
permasalahan kesehatan yang dialaminya maupun pelayanan kesehatan
yang didapatkan. Rumah sakit sebagai organisasi yang bergerak dalam
bidang jasa penyelenggara pelayanan kesehatan dan bersifat sosio-ekonomi
juga dituntut untuk meningkatkan pengelolaan dan mutu pelayanan agar
dapat memiliki daya saing dalam memberikan pelayanan kesehatan.4

1
Tentunya rumah sakit perlu menjawab tantangan tersebut dengan
meningkatkan kemampuannya dalam memberikan pelayanan kesehatan
baik. Pelayanan kesehatan yang baik tersebut dengan menambah sumber
daya yang menunjang operasional rumah sakit, meningkatkan mutu
pelayanan dan kepuasan pelanggan, serta meningkatkan manajemen dan
pengelolaan yang komprehensif dan terintegrasi dengan disiplin ilmu lain.
Agar sasaran tersebut dapat tercapai, maka diperlukan cara pengelolaan dan
penilaian tingkat keberhasilan pelayanan kesehatan yang mengikuti prinsip-
prinsip manajemen.3,4
Dalam memenuhi tuntutan pelayanan kesehatan masyarakat,
puskesmas dan rumah sakit sebagai penyelenggara kesehatan bertanggung
jawab menyediakan jasa pelayanan medis yang sesuai harapan masyarakat. 1
Salah satu prinsip penyelenggaraan puskesmas adalah paradigma sehat
dengan mendorong seluruh pemangku kepentingan untuk berkomitmen
dalam upaya mencegah dan mengurangi resiko kesehatan yang dihadapi
individu, keluarga, kelompok dan masyarakat.6 Sedangkan Rumah Sakit
sebagaimana diatur dalam Permenkes No. 56 tahun 2014 merupakan
institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan
perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap ,
rawat jalan dan gawat darurat.7
Penilaian tingkat keberhasilan pelayanan kesehatan yang dilakukan
rumah sakit dan puskesmas dapat dilihat dari berbagai segi, yaitu
peningkatan pemanfaatan pelayanan, mutu pelayanan, tingkat efisiensi
pelayanan, aksesibilitas, cakupan, ketersediaan, tenaga dan alat. Selain itu,
terdapat berbagai indikator dan paramater yang digunakan sebagai acuan
atau nilai banding antara fakta dengan standar yang diinginkan untuk
mengetahui tingkat pemanfaatan, mutu dan efisiensi pelayanan rumah sakit.
Indikator-indikator yang dapat digunakan untuk menilai pelayanan
kesehatan yang dilakukan rumah sakit, khususnya menyangkut instalasi
rawat inap, yaitu Bed Occupancy Rate (BOR), Average Length of Stay
(AvLOS/LOS), Bed Turn Over (BTO), Turn Over Interval (TOI), Net Death

2
Rate (NDR), Gross Death Rate (GDR).3,4,5,8 Dengan adanya indikator-
indikator tersebut diharapkan rumah sakit dapat dievaluasi dalam jangka
waktu tertentu dengan output meningkatkan kualitas pelayanan yang
diberikan.
Berdasarkan data dari rekam medis RSU RA. Kartini, didapatkan
pada penurunan jumlah pasien rawat inap dari tahun 2013 sebesar 18.434
menjadi 16.267 pada tahun 2014. Namun dengan penurunan jumlah pasien
tersebut justru terjadi peningkatan angka NDR (Net Death Rate) dari 25,87
pada tahun 2013 menjadi 28,64 di tahun 2014. Hal tersebut
mengindikasikan terjadinya penurunan efisiensi yang disertai dengan
penurunan kualitas pelayanan. Ditambah dengan adanya proses
pembangunan gedung yang sedang berjalan, terjadi penurunan jumlah
tempat tidur dalam instalasi rawat inap dari tahun 2013 yang berjumlah 295
menjadi 260 tempat tidur pada tahun 2014. Hal ini bisa semakin
menyebabkan menurunnya tingkat efisiensi rumah sakit yang dapat
berujung pada penurunan kinerja pelayanan kesehatan hingga penurunan
pemasukan rumah sakit.
Sementara itu, berdasarkan data dari rekam medis Puskesmas
Mlonggo didapatkan peningkatan angka BTO (Bed Turn Over) dari 73 pada
tahun 2013 menjadi 109 pada tahun 2014. Angka BTO di Puskesmas Pakis
Aji tahun 2014 adalah sebesar 70. Indikator BTO memberikan gambaran
tingkat efisiensi dari pemakaian tempat tidur. Idealnya selama satu tahun,
satu tempat tidur rata-rata dipakai 40-50 kali.
Berdasarkan hal-hal yang telah dibahas di atas, laporan ini
memaparkan hasil peninjauan evaluasi manajemen program dan pelayanan
medis RSU RA. Kartini, Puskesmas Mlonggo, dan Puskesmas Pakis Aji
melalui perhitungan efisiensi dan efektivitas selama periode Januari sampai
Desember 2014.

3
1.2 Batasan Judul
Laporan dengan judul Evaluasi pelayanan medis melalui
perhitungan efisiensi dan efektivitas RSU RA. Kartini, Puskesmas Mlonggo
dan Puskesmas Pakis Aji tahun 2014 mempunyai batasan-batasan sebagai
berikut:

a. Evaluasi
Evaluasi adalah penilaian secara sistemik untuk menentukan atau
menilai kegunaan, keefektifan sesuatu yang didasarkan pada kriteria
tertentu dari program.
b. Pelayanan Medis
Pelayanan medis adalah setiap upaya yang diselenggarakan sendiri atau
secara bersama-sama dalam suatu organisasi untuk memelihara dan
meningkatkan kesehatan, mencegah dan menyembuhkan penyakit serta
memulihkan kesehatan perorangan, keluarga, kelompok dan atupun
masyarakat.
c. Efisiensi
Efisiensi adalah tepat atau sesuai mengerjakan sesuatu dengan tidak
membuang-buang waktu, tenaga, dan biaya.
d. Efektivitas
Efektivitas adalah pencapaian tujuan secara tepat atau memilih tujuan-
tujuan yang tepat dari serangkaian alternatif.
e. RSU RA. Kartini, Puskesmas Mlonggo dan Puskesmas Pakis Aji
Merupakan tempat pelaksanaan pelayanan medis.
1.3 Batasan Operasional
1.3.1 Ruang Lingkup Lokasi :
RSU RA. Kartini
Puskesmas Mlonggo
Puskesmas Pakis Aji

4
1.3.2 Ruang Lingkup Waktu :
Januari Desember 2014
1.3.3 Ruang Lingkup Sasaran
Efisiensi dan efektivitas pelayanan medis RSU RA. Kartini,
Puskesmas Mlonggo dan Puskesmas Pakis Aji tahun 2014
1.3.4 Ruang Lingkup Materi
Perhitungan efisiensi dan efektivitas pelayanan medis
1.3.5 Ruang Lingkup Metode
Wawancara, pengamatan terlibat, pendokumentasian, dan
pencatatan hasil.

1.4 Tujuan
A. Tujuan Umum
Mengetahui evaluasi pelayanan medis melalui perhitungan
efisiensi dan efektivitas di RSUD Kartini, Puskesmas Mlonggo dan
Puskesmas Pakis Aji tahun 2014.

B. Tujuan Khusus
Mengetahui lama perawatan pasien rawat inap di RSUD Kartini,
Puskesmas Mlonggo dan Puskesmas Pakis Aji tahun 2014
Mengetahui jumlah hari perawatan pasien rawat inap di RSUD
Kartini, Puskesmas Mlonggo dan Puskesmas Pakis Aji tahun
2014
Mengetahui jumlah pasien keluar di bangsal rawat inap RSUD
Kartini, Puskesmas Mlonggo dan Puskesmas Pakis Aji tahun
2014
Mengetahui jumlah pasien meninggal <48 jam di bangsal rawat
inap RSUD Kartini, Puskesmas Mlonggo dan Puskesmas Pakis
Aji tahun 2014

5
Mengetahui jumlah pasien meninggal 48 jam di bangsal rawat
inap RSUD Kartini, Puskesmas Mlonggo dan Puskesmas Pakis
Aji tahun 2014
Mengetahui jumlah tempat tidur yang tersedia di RSUD Kartini,
Puskesmas Mlonggo dan Puskesmas Pakis Aji tahun 2014
Mengetahui perhitungan dan hasil perhitungan BOR (Bed
Occupancy Ratio) di RSUD Kartini, Puskesmas Mlonggo dan
Puskesmas Pakis Aji tahun 2014
Mengetahui perhitungan dan hasil perhitungan LOS (Length of
Stay) di RSUD Kartini, Puskesmas Mlonggo dan Puskesmas
Pakis Aji tahun 2014
Mengetahui perhitungan dan hasil perhitungan AvLOS (Avarage
Length of Stay) di RSUD Kartini, Puskesmas Mlonggo dan
Puskesmas Pakis Aji tahun 2014
Mengetahui perhitungan dan hasil perhitungan TOI (Turn Over
Interval) RSUD Kartini, Puskesmas Mlonggo dan Puskesmas
Pakis Aji tahun 2014
Mengetahui perhitungan dan hasil perhitungan BTO (Bed Turn
Over) RSUD Kartini, Puskesmas Mlonggo dan Puskesmas Pakis
Aji tahun 2014
Mengetahui perhitungan dan hasil perhitungan NDR (Net Death
Rate) RSUD Kartini, Puskesmas Mlonggo dan Puskesmas Pakis
Aji tahun 2014
Mengetahui perhitungan dan hasil perhitungan GDR (Gross
Death Rate) RSUD Kartini, Puskesmas Mlonggo dan Puskesmas
Pakis Aji tahun 2014
Mengetahui evaluasi efisiensi dan efektivitas di RSUD Kartini,
Puskesmas Mlonggo dan Puskesmas Pakis Aji tahun 2014

6
1.5 Tinjauan Pustaka
1.5.1 Pelayanan Kesehatan
Pelayanan kesehatan menurut Depkes RI (2009) adalah
setiap upaya yang diselenggarakan sendiri atau secara bersama-
sama dalam suatu organisasi untuk memelihara dan meningkatkan
kesehatan, mencegah dan menyembuhkan penyakit serta
memulihkan kesehatan perorangan, keluarga, kelompok dan atupun
masyarakat.2
Pelayanan kesehatan adalah sub sistem pelayanan
kesehatan yang tujuan utamanya adalah promotif (memelihara dan
meningkatkan kesehatan), preventif (pencegahan), kuratif
(penyembuhan), dan rehabilitasi (pemulihan) kesehatan
perorangan, keluarga, kelompok atau masyarakat,
lingkungan.Yang dimaksud dengan sub sistem disini adalah sub
sistem dalam pelayanan kesehatan adalah input , proses, output,
dampak, umpan balik.1,2
Input adalah sub elemen sub elemen yang diperlukan
sebagai masukan untuk berfungsinya sistem
Proses adalah suatu kegiatan yang berfungsi untuk mengubah
masukan sehingga mengasilkan sesuatu (keluaran) yang
direncanakan.
Output adalah hal-hal yang dihasilkan oleh proses .
Dampak adalah akibat yang dihasilkan oleh keluaran setelah
beberapa waktu lamanya.
Umpan balik adalah hasil dari proses yang sekaligus sebagai
masukan untuk sistem tersebut.
Lingkungan adalah dunia diluar sistem yang mempengaruhi
sistem tersebut.

7
1.5.1.1 Tujuan Pelayanan Kesehatan1,2
1. Promotif
Promosi kesehatan adalah upaya meningkatkan
kemampuan kesehatan masyarakat melalui pembelajaran
dari, oleh, untuk dan bersama masyarakat agar mereka
dapat menolong dirinya sendiri, serta mampu berperan
secara aktif dalam masyarakat sesuai sosial budaya
setempat yang didukung oleh kebijakan publik yang
berwawasan (Depkes RI).
2. Preventif
Preventif merupakan usaha yang dilakukan individu untuk
mencegah terjadinya sesuatu yang tidak diinginkan.
Terdiri dari :
Preventif primer
Merupakan usaha untuk menghilangkan faktor risiko
terjadinya penyakit. Terdiri dari program pendidikan,
seperti imunisasi, penyediaan nutrisi yang baik, dan
kesegaran fisik.
Preventif sekunder
Terdiri dari pengobatan penyakit pada tahap dini untuk
membatasi kecacatan dengan cara mengindari akibat
yang timbul dari perkembangan penyakit tersebut.
Preventif tersier
Merupakan tindakan pencegahan dengan cara
melakukan tindakan klinis yang bertujuan untuk
mencegah kerusakan lebih lanjut atau mengurangi
komplikasi dari suatu penyakit.
3. Kuratif
Upaya untuk mendiagnosis seawal mungkin dan
mengobati penyakit secepatnya secara tepat dan rasional.
4. Rehabilitasi

8
Usaha pemulihan seseorang untuk mencapai fungsi normal
atau mendekati normal setelah mengalami sakit fisik
atau mental , cedera atau penyalahgunaan.

1.5.1.2 Bentuk Pelayanan Berdasarkan Kesehatan Berdasarkan


Tingkatannya1,12
o Pelayanan kesehatan tingkat pertama (primer)
Diperlukan untuk masyarakat yang sakit ringan dan
masyarakat yang sehat untuk meningkatkan kesehatan
mereka atau promosi kesehatan.
Contohnya : puskesmas, puskesmas keliling, klinik
pratama.
o Pelayanan kesehatan tingkat kedua ( sekunder)
Diperlukan untuk kelompok masyarakat yang memerlukan
perawatan inap, yang sudah tidak dapat ditangani oleh
pelayanan kesehatan primer.
Contoh : Rumah Sakit tipe C dan Rumah Sakit tipe D.
o Pelayanan kesehatan tingkat ketiga ( tersier)
Diperlukan untuk kelompok masyarakat atau pasien yang
sudah tidak dapat ditangani oleh pelayanan kesehatan
sekunder.
Contohnya: Rumah Sakit tipe A dan Rumah sakit tipe B.
1.5.1.4 Lembaga Pelayanan Kesehatan
Lembaga pelayanan kesehatan merupakan tempat
pemberian pelayanan kesehatan pada masyarakat dalam rangka
meningkatkan status kesehatan. Tempat pelayanan kesehatan
sangat bervariasi berdasarkan tujuan pelayanan kesehatan
dapat berupa rawat jalan, institusi kesehatan, comunity based
agency dan hospice.12,13
1. Rawat Jalan

9
Lembaga ini bertujuan untuk memberikan pelayanan
kesehatan pada tingkat pelaksanaan diagnosis dan
pengobatan pada penyakit yang akut atau mendadak dan
kronis yang memungkinkan tidak terjadi rawat inap.
2. Institusi
Lembaga ini merupakan pelayanan kesehatan yang
fasilitasnya cukup dalam memberikan berbagai tingkat
kesehatan seperti rumah sakit, pusat rehabilitasi, dan lain
lain.
3. Community Based Agency
Bagian dari lembaga pelayanan kesehatan yang dilakukan
pada klien sebagaimana pelaksanaan perawatan keluarga
seperti praktek rawat keluarga dan lain lain.
4. Hospice
Lembaga ini bertujuan untuk memberikan pelayanan
kesehatan yang di fokuskan pada klien yang sakit terminal
agar lebih tenang dan biasanya digunakan dalam home
care.

1.5.1.3 Sistem Rujukan


Adapun yang dimaksud dengan sistem rujukan di
Indonesia, seperti yang telah dirumuskan dalam SK Menteri
Kesehatan RI No. 001 Tahun 2012 ialah suatu sistem
penyelenggaraan pelayanan kesehatan yang melaksanakan
pelimpahan tanggung jawab timbal balik terhadap suatu kasus
penyakit atau masalah kesehatan secara vertikal dalam arti
dalam unit yang berkemampuan kurang kepada unit yang lebih
mampu atau secara horizontaldalam arti antar unit-unit yang
setingkat kemampuannya.14
Macam-macam sistem rujukan menurut Sistem Kesehatan
Nasional, terbagi menjadi 2 yaitu:14

10
1. Rujukan kesehatan
Rujukan ini terutama dikaitkan dengan upaya
pencegahan penyakit dan peningkatan derajat
kesehatan. Rujukan kesehatan dibedakan menjadi 3
macam yaitu rujukan teknologi, sarana, dan
operasional. Rujukan kesehatan yaitu hubungan dalam
pengiriman, pemeriksaan bahan atau spesimen ke
fasilitas kesehatan yang leih mampu dan lengkap.

2. Rujukan medik
Rujukan medik terutama dikaitkan dengan upaya
penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan.
Dengan demikian rujukan medik pada dasarnya berlaku
untuk pelayanan kedokteran (medical service). Rujukan
medik dibedakan menjadi 3 macam, yaitu rujukan
pasien, pengetahuan, dan bahan-bahan pemeriksaan.

1.5.2 Manajemen Rumah Sakit


1.5.2.1 Pengertian Rumah Sakit
Upaya kesehatan adalah setiap kegiatan untuk
memelihara dan meningkatkan kesehatan yang bertujuan untuk
mewujudkan derajat kesehatan yang optimal bagi masyarakat
dan tempat yang digunakan untuk menyelenggarakannya
disebut sarana kesehatan. Sarana kesehatan berfungsi
melakukan upaya kesehatan dasar, kesehatan rujukan dan atau
upaya kesehatan penunjang. Upaya kesehatan diselenggarakan
dengan pendekatan pemeliharaan, peningkatan kesehatan
(promotif), pencegahan penyakit (preventif), penyembuhan
penyakit (kuratif) dan pemulihan kesehatan (rehabilitatif) yang
diselenggarakan secara menyeluruh, terpadu dan
berkesinambungan (Siregar, 2004).12

11
Menurut undang-undang tentang rumah sakit dijelaskan
bahwa rumah sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang
menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara
paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan,
dan gawat darurat. Rumah Sakit diselenggarakan berasaskan
Pancasila dan didasarkan kepada nilai kemanusiaan, etika dan
profesionalitas, manfaat, keadilan, persamaan hak dan anti
diskriminasi, pemerataan, perlindungan dan keselamatan
pasien, serta mempunyai fungsi sosial. (Depkes, 2009).2,11
1.5.2.2 Jenis-jenis Rumah Sakit yang ada di Indonesia
Di Indonesia dikenal tiga jenis RS sesuai dengan
kepemilikan, jenis pelayanan dan kelasnya :
1. Berdasarkan kepemilikannya, dibedakan tiga macam RS
o RS Pemerintah (RS Pusat, RS Provinsi, RS
Kabupaten)
o RS BUMN/ABRI
o RS Swasta yang menggunakan dana investasi dari
sumber dalam negeri (PMDN) dan sumber luar
negeri (PMA).
2. Berdasarkan jenis pelayanan
RS Umum
RS Jiwa
RS Khusus (mata, paru, kusta, rehabilitasi, jantung,
kangker, dan sebagainya).

3. Berdasarkan kelasnya
RS kelas A
RS kelas A tersedia pelayanan spesialistik yang luas
termasuk subspesialistik
RS kelas B (pendidikan dan nonpendidikan)

12
RS kelas B mempunyai pelayanan minimal sebelas
spesialistik dan subspesialistik terdaftar.
RS kelas C
RS kelas C mempunyai minimal empat spesialistik dasar
(bedah, penyakit dalam, kebidanan, dan anak).
RS kelas D (Kepmenkes No.51 Menkes/SK/II/1979).
Di RS kelas D hanya terdapat pelayanan medis dasar
Pemerintah sudah meningkatkan status semua RS
Kabupaten menjadi kelas C (Munijaya, 2004).
1.5.3 Manajemen Puskesmas
1.5.3.1 Pengertian Puskesmas
Pusat Kesehatan Masyarakat yang selanjutnya disebut
Puskesmas adalah fasilitas pelayanan kesehatan yang
menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat dan upaya
kesehatan perseorangan tingkat pertama, dengan lebih
mengutamakan upaya promotif dan preventif, untuk mencapai
derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya di
wilayah kerjanya (Permenkes No. 75 Tahun 2014).
Puskesmas mempunyai tugas melaksanakan kebijakan
kesehatan untuk mencapai tujuan pembangunan kesehatan di
wilayah kerjanya dalam rangka mendukung terwujudnya
kecamatan sehat.
Dengan kata lain puskesmas mempunyai wewenang dan
tanggung jawab atas pemeliharaan kesehatan masyarakat dalam
wilayah kerjanya.

1.5.4 Manajemen Pelayanan Medis Rumah Sakit dan Puskesmas


Rumah sakit sebagai suatu badan usaha, tentu mempunyai
misi tersendiri sama seperti badan usaha lainnya. Produk utama
rumah sakit adalah (a) Pelayanan Medis, (b) Pembedahan, dan (c)
Pelayanan perawatan orang sakit, sedangkan sasaran utamanya

13
adalah perawatan dan pengobatan nyawa dan kesehatan para
penderita sakit. Namun perkembangan berikutnya bahwa rumah
sakit harus mampu mendapatkan penghasilan (bukan keuntungan),
untuk mempertahankan kelangsungan hidup dan
perkembangannya. Hal tersebutlah yang akhirnya memperluas
kegiatan rumah sakit dalam memberikan pelayanan medis kepada
pasien.
Sebagai salah satu bagian dari rumah sakit, maka Unit
Rawat inap di rumah sakit juga perlu memperhatikan penghasilan
sebagai sasaran yang harus dicapai, disamping tetap menjalankan
perawatan orang sakit sebagai fungsi utama. Hal ini
mengakibatkan diperlukan manajemen yang baik sehingga setiap
jasa maupun barang yang diberikan kepada pasien harus dapat
memberikan penghasilan bagi Rumah Sakit pada umumnya.
Jumlah pasien yang dilayani di rawat inap, tergantung dari
jumlah tempat tidur yang disediakan. Hal ini karena pasien rawat
inap membutuhkan tempat tidur sebagai tempat perawatannya.
Oleh karena pelayanan yang diberikan harus berdasarkan pada
optimalisasi sarana yang ada, maka penempatan tempat tidur
disetiap bangsal harus diperhatikan sungguh sungguh agar jangan
terlalu over loaded ataupun tidak pernah dipakai. Untuk alasan
yang pertama hal tersebut akan mengakibatkan mutu pelayanan
medis menjadi berkurang, dimana dalam kondisi yang padat pasien
dapat menurunkan mutu sanitasi ruangan. Sedangkan alasan kedua,
terjadi pemborosan biaya bila tingkat utilitas tempat tidur yang
disediakan sangat rendah, apalagi tidak pernah digunakan.
Kedua hal tersebut dapat menjadi ancaman efisiensi
pelayanan medis karena ada biaya yang hilang tanpa menghasilkan
sesuatu. Oleh karenanya untuk memantau hal tersebut sering
dilakukan dengan memonitor tingkat penggunaan tempat tidur di
bangsal rawat inap, dengan indikator BOR (Bed Occupancy Rate),

14
yang menggambarkan rata rata pemakaian tempat tidur oleh pasien
pada suatu bangsal, pada suatu periode tertentu. Sehingga BOR
yang tinggi, menggambarkan penggunaan tempat tidur yang tinggi
pula, sehingga dapat mengambarkan tingginya pemasukan bagi
unit rawat inap maupun rumah sakit. Indikator BOR sering
digunakan sebagai dasar penilaian apakah suatu RS itu baik dalam
penghasilan/ pendapatannya. Termasuk juga digunakan untuk
mengevaluasi efisiensi penggunaan tempat tidur di bangsal unit
rawat inap, sehingga dapat dilakukan untuk perencanaan
penempatan tempat tidur, sehingga tidak kosong ataupun terlalu
penuh untuk tiap bangsal.
1.5.5 Statistik Unit Rawat Inap Rumah Sakit
Untuk mendapatkan indikator unit rawat inap, sebagai alat
monitor dalam manajemen unit rawat inap, maka diperlukan
kegiatan statistik unit rawat inap, yang merupakan kegiatan
pengumpulan data hingga penyajian informasi kegiatan unit rawat
inap. Kegiatan pengumpulan data rawat inap dimulai dari
pengumpulan data setiap hari melalui formulir Sensus Harian
Rawat Inap, yang dilakukan oleh petugas ruangan, kemudian
dikirim ke unit rekam medis untuk diolah dan dianalisis menjadi
informasi yang dibutuhkan.
Sensus harian rawat inap adalah pencacahan atau
penghitungan pasien rawat inap yang dilakukan setiap hari pada
suatu ruang rawat inap. Sensus berisi tentang mutasi keluar masuk
pasien selama 24 jam mulai dari pukul 00.00 sd. 24.00.
Kegunaan sensus harian rawat inap adalah :
1. Untuk mengetahui jumlah pasien yang masuk dan keluar serta
meninggal
2. Untuk megetahui penggunaan tempat tidur
3. Untuk menghitung persediaan sarana dan fasilitas pelayanan
kesehatan

15
Oleh karena itu sensus harian mencatat tentang data pasien
masuk, pasien keluar hidup, pasien keluar mati, pasien pindahan,
pasien dipindahkan, pasien dirujuk, hari perawatan, dan pasien
rawat sehari.
Data dari Sensus Harian Rawat Inap, kemudian
direkapitulasi dalam Rekapitulasi Bulanan (RP1), selanjutnya dari
rekapitulasi tersebut dapat diolah menjadi beberapa pelaporan,
seperti pada RL 1, yang menggambarkan kegiatan unit rawat inap
selama tiga bulan. Selain itu data dari pencatatan unit rawat inap
juga dapat diolah dengan formula tertentu, untuk menghasilkan
indikator yang dibutuhkan oleh manajemen, baik untuk
perencanaan maupun untuk penilaian rumah sakit.
Indikator yang biasa dihasilkan dari statistik rawat inap
diantarany adalah:
1. Bed Occupancy Rate ( BOR ), yaitu presentase tempat tidur yang
terpakai merupakan indikator cakupan dan efisiensi penggunaan
tempat tidur di unit rawat inap
2. Bed Turn Over ( BTO ), yaitu jumlah pasien yang menggunakan
satu tempat tidur merupakan indikator cakupan dan efisiensi
penggunaan tempat tidur di unit rawat inap.
3. Average Length of Stay ( AvLOS ), yaitu rata rata jumlah lama hari
dirawat pasien merupakan indikator efisiensi penggunaan tempat
tidur di unit rawat inap.
4. Turn Over Interval ( TOI ), yaitu rata rata selang waktu hari tempat
tidur tidak dipakai, merupakan indikator efisiensi penggunaan
tempat tidur diunit rawat inap.
5. Gross Death Rate ( GDR ), yaitu angka kematian kasar di unit
rawat inap, merupakan indikator mutu pelayanan di Unit Rawat
Inap.
6. Net Death Rate ( NDR ), yaitu angka kematian bersih di unit rawat
inap, merupakan indikator mutu pelayanan di unit rawat inap.

16
Selain indikator tersebut, pengolahan data statistik unit rawat inap
juga dapat ditampilkan dalam berbagai jenis penyajian sesuai
kebutuhan informasi unit rawat inap.
1.5.6 Grafik Barber Johnson
1.5.6.1.1 Pengertian dan kegunaan
Grafik Barber Johnson merupakan salah satu alat
untuk mengukur tingkat efisiensi pengelolaan rumah sakit.
Grafik barber Johnson sendiri diperoleh dari hasil
perhitungan beberapa data statistic rumah sakit. Dan dalam
hal ini, tentu saja rekam medis memegang peran penting.
Grafik Barber Johnson merupakan salah satu grafik yang
digunakan untuk mengukur efisiensi penggunaan tempat
tidur di rumah sakit. Grafik ini ditemukan oleh Barry
Barber dan David Johnson. Kegunaan grafik Barber
Johnson adalah untuk mengadakan perbandingan atau
sebagai alat bantu untuk menganalisis, menyajikan dan
mengambil keputusan berkaitan dengan penetapan jumlah
tempat tidur di bangsal unit rawat inap, untuk perbandingan
efisiensi dalam kurun waktu tertentu, memonitor terhadap
standar/target yang telah ditentukan,membandingkan
efisiensi tiap ruang rawat inap, mengecek kesesuaian
laporan.

1.5.6.1.2 Indikator yang ditampilkan pada Grafik Barber


Johnson
a. BOR (Bed Occupancy Rate)
Merupakan presentase pemakaian tempat tidur pada
periode tertentu. Standar efisiensi BOR adalah 75 85
%, apabila BOR > 85 % berarti tempat tidur yang
terpakai di rumah sakit tersebut hampir penuh sesak.
Rumus perhitungan BOR adalah:

17

BOR = x100%

Keterangan :
O = Rata rata tempat tidur terisi, didapat dari
HP/T
HP = Hari perawatan
T = Periode waktu
A = Rata rata tempat tidur siap pakai

b. A LOS ( Average Length Of Stay)


Yaitu rata rata jumlah hari pasien rawat inap
tinggal di rumah sakit, tidak termasuk bayi lahir.
Standar efisiens ALOS 3 (tiga) 12 (dua belas) hari
dan ALOS dianjurkan serendah mungkin tanpa
mempengaruhi kualitas palayanan perawatan.

ALOS = Ox

Keterangan :
D = Jumlah pasien keluar hidup dan mati
T = Periode waktu

c. TOI (Turn Over Interval)


Digunakan untuk menentukan lamanya rerata
tempat tidur kosong atau rata rata tempat tidur
tersedia pada periode tertentu yang tidak terisi
antara pasien keluar atau mati dengan pasien masuk.
Standar efisiensi TOI adalah 1 (satu) 3 (tiga) hari.
T
TOI = (A O)x
D

d. BTO (Bed Turn Over)

18
Adalah beberapa kali satu tempat tidur dipakai oleh
pasien dalam periode tertentu. Standar efisiensi
BTO adalah 30 (tiga puluh) pasien.
D
BTO =
A
1.5.6.1.3 Cara menggambar Grafik Barber Johnson
Berikut adalah cara menggambarkan daerah batas-batas
efisiensi pada diagram kartesius secara manual dan konsepsi
perhitunganya:
Pembuatan Garis BOR 75% dilakukan dengan mencari angka
Avlos dan TOI nya. Pencarian dilakukan dengan persamaan-
persamaan berikut:
Perumpamaan:
A adalah TT tersedia
O adalah Rata TT terisi dan
D adalah jumlah pasien keluar
TOI = T
AvLOS = L
Rumus Length Of Stay : L = O x 365/D
Rumus Turn Over Interval : T = (A O) x 365/D
Jika Average Of Occupied Bed (O) = 75%,
BOR 75% maka rata-rata penggunaan tempat tidur (TT)
adalah sebesar = 75/100
= 3/4 A
Sehingga L= (O x 365/D)
L= 3/4 A x (365/D)
Sedangkan
T =(A O) x (365 /D)
T =(A-(3/4)A) x (365/D)
T = A x (365/D)

19
Dari hal ini perlu kita ingat bahwa L=T, sehingga

L:T = A x (365/D) : A x (365/D)


L:T = :
L:T = 3:1
Sehingga angka L adalah 3 dan T adalah 1. Angka ini
dimasukkan dalam diagram kartesius dimana x adalah L atau
sebesar 1 sedangkan y adalah T atau sebesar 3. Titik tersebut
dapat ditarik garis lurus dari titik potong sumbu x dan y ke
tak terhingga yang merupakan Garis BOR 75%.
Perpotongan antara BOR 75% dengan batas-batas TOI
(1hingga 3 hari) dan AvLOS (1 hingga 12 hari) membentuk
daerah efisiensi (efficiency area) diatas. Daerah efisiensi
tersebut merupakan pedoman untuk melihat efisensi
pengelolaan RS nantinya.
Apabila titik perpotongan antara BOR dan BTO berada diluar
area tersebut maka dikatakan kurang efisien.
1.5.6.1.4 Gambar dan makna Grafik Barber Johnson
Grafik ini menggambarkan 4 parameter dalam satu grafik,
yaitu LOS, TOI, BOR dan BTO.
Dalam grafik ini sumbu datarnya adalah TOI dan Sumbu
tegaknya LOS.
Pada grafik juga ada garis BOR ( BOR 50%, 70%, 80% dan
90%) dan garis BTO (BTO 30, 20, 15 dan 12,5).

Menggambar garis BOR dan BTO


Jika BOR = 50 %
Artinya
Hari perawatan 50
BOR = =
Jumlah TT x 365 100

20
Jadi : Hari Perawatan = 50 dan (Jumlah TT x 365) = 100
Masukkan nilai tersebut ke rumus LOS dan TOI, hasilnya :
Hari perawatan 50
LOS = =
Pasien keluar Pasien keluar

(Jumlah TT x 365) HP 100 50


TOI = =
Pasien keluar Pasien keluar

Persamaan garis BOR 50% adalah LOS = TOI


Selanjutnya dengan cara yang sama didapatlah :
Persamaan garis BOR 70% adalah 3(LOS) = 7(TOI)
Persamaan garis BOR 80% adalah LOS = 4(TOI)
Persamaan garis BOR 90% adalah LOS = 9(TOI)

Selanjutnya menggambar garis BTO 30. 20, 15 dan 12,5


Hari perawatan
= Pasien keluar

( )
=
( + )

( )
= (+) LOS

( )
TOI + LOS = (+)

( + )
=

Pada BTO 30 , Pasien keluar = 30 dan Jumlah TT=1
Jadi persamaan garis BTO 30 adalah :
TOI + LOS = 365 : 30 = 12,16
TOI + LOS = 12,16
Dengan cara yang sama didapat :

21
Persamaan garis BTO 20 > TOI + LOS = 18,25
Persamaan garis BTO 15 > TOI + LOS = 24,3
Persamaan garis BTO 12,5 > TOI + LOS = 29,2
Gambar Grafik Barber Johnson dapat disajikan sebagai
berikut :

Makna dari grafik adalah :


a. Makin dekat grafik BOR dengan Y ordinat, maka BOR
makin tinggi.
b. Makin dekat grafik BTO dengan titik sumbu, discharges
dan deaths per available (BTO) menunjukkan makin
tinggi jumlahnya.
c. Jika rata rata TOI tetap, tapi LOS berkurang, maka BOR
akan menurun.
d. Bilamana TOI tinggi, kemungkinan disebabkan karena
organisasi yang kurang baik, kurangnya permintaan
tempat tidur. TOI yang tinggi dapat diturunkan dengan

22
mengadakan perbaikan organisasi tanpa mempengaruhi
LOS.
e. Bertambahnya LOS disebabkan karena kelambatan
administrasi (administrative delay) di rumah sakit, kurang
baiknya perencanaan dalam memberikan pelayanan
kepada pasien (patient scheduling) atau kebijakan di
bidang medis (medical policy)
1.5.6.1.5 Penggunaan Grafik Barber Johnson
a. Perbandingan Dalam Kurun Waktu
Menunjukkan perkembangan produktifitas dari rumah sakit
dalam kurun waktu tertentu. Dalam hal ini menggambarkan
adanya perbaikan dari waktu ke waktu dan menilai masing
masing indikator apakah cenderung naik, turun atau tetap.
b. Memonitor Kegiatan
Kecenderungan perkembangan kegiatan dalam beberapa tahun
dapat dilihat pada grafik dengan jalan membandingkan
terhadap standard yang telah ditetapkan.
c. Perbandingan Antar Rumah Sakit
Perbandingan kegiatan antar bagian yang sama di beberapa
rumah sakit atau antar bagian di suatu rumah sakit dapat
digambarkan pada satu grafik. Dengan jelas dan mudah
diambil kesimpulan, rumah sakit mana atau bagian mana yang
pengelolaannya efisien.

23