Anda di halaman 1dari 32

LAPORAN TETAP

DASAR DASAR ILMU TANAH

Oleh

NAMA : RIZKIANI DWI LESTARI

NIM : C1M015178

KELOMPOK : 27

GELOMBANG :4

PRODI AGROEKOTEKNOLOGI

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS MATARAM

2016
HALAMAN PENGESAHAN

Laporan ini disusun oleh :

Nama : Rizkiani Dwi Lestari

Nim : C1M015178

Program studi : Agroekoteknologi

Sudah diterima sebagaisalah satu syarat untuk melengkapi praktikum Dasar-Dasar


Ilmu Tanah dan mengikuti Respon Akhir.Laporan ini telah diperiksa, diperoleh dan
disetujui oleh asisten praktikum.

Menyetujui,

Asisten Praktikum Asisten Praktikum

Dwiyan Julianto Novalina Aryani


NIM. C1M013036 NIM. C1M014150

Tanggal Pengesahan : Kamis, 16 juni 2016


KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL
BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

1.1.1 Kadar Lengas Tanah


Tanah merupakan lapisan atas kerak bumi yang melapuk, bangunan
alami yang tersusun atas horizon-horizon yang terdiri atas bahan mineral dan
organik, bersifat galir (tidak padu), dan mempunyai tebal yang tidak sama.
Kadar lengas tanah merupakan kandungan air (moisture) yang terdapat dalam
tanah, yang terikat oleh berbagai gaya ikat matriks, osmosis dan kapiler.Kadar
masing-masing jenis tanah berbeda-beda tergantung dari faktor-faktor yang
mempengaruhinya. Dalam bidang keteknikan pertanian mempelajari kadar
lengas tanah menjadi suatu hal yang penting karena berhubungan dengan
pertumbuhan tanaman sebab air digunakan tumbuhan untuk menjalankan
berbagai proses biologi. Lengas tanah sangat berperan penting dalam menjaga
kelembaban tanah karena lengas tanah mengisi pori-pori tanah pada suhu
kamar menjadi dua pertiga bagian dan menjadi satu pertiga bagian jika suhu
meningkat. Mengetahui kadar lengas tanah sangatlah penting untuk dapat
mengetahui kebutuhan tanah terhadap air dan kemampuan tanah dalam
menyimpan air.Oleh karena itu, pengetahuan terhadap lengas tanah sangatlah
penting sehingga perlu dilakukan pengujian kadar lengas tanah dan dapat
dianalisis melalui praktikum dilaboraturium.

1.1.2 Tekstur Tanah


Tanah dapat diemuka dimana saja dan tanah selalu ada
bersama kita. Oleh sebab itu kebanyakan orang tidak pernah berusaha
menetukan apakah tanah itu, bagaimana sifatnya dan dari mana
asalnya. Mereka tidak memperhatikan bagaiman tanah tersebut
disuatu tempat berbeda dengan tanah di tempat lain. Tanah juga
merupakan komponen hidup yang sangat penting dari lingkungan.
Jika tanah disalah gunakan, maka tanaman akan menjadi kurang
produktif. Apabila ditangani secara hati-hati dengan memperhatikan
tabiat fisik dan biologinya, akan terus menerus mneghasilkan tanaman
dalam beberapa generasi yang tidak terhitung.
Tanah terdiri dari butir-butir yang berbeda dalam ukuran dan
bentuk. Sehingga diperlukan istilah-istilah khusus yang memberikan
ide tentang sifat testurnya dan akan memberikan petunjuk tentang sifat
fisiknya. Untuk itu digunakan naman kelas seperti pasir, debu, dan
liat. Nama kelas dan klasifikasinya ini, merupakan hasil riset
bertahun-tahun dan lambat laun digunakan sebagai sebuah patokan.
Tiga golongan pokok tanah yang kini umum dikeal adalah pasir, debu
dan liat.
Kasar dan halusnya tanah atau taksonomi tanah ditunjukan
dalam srbuah butiran yang merupakan penyederhanaan dari kelas
tekstur tanah dengan memperhatikan pula fraksi tanah yang lebih
kasar dari pasir ( lebih besar 2mm ), sebagian besar butir untuk fraksi
kurang dari 2mm meliputi berpasir lempung, berpasir, berlempung
halus, berdebu kasar, berdebu halus, berliat halus, dan berliat sangat
halus.
Struktur tanah memiliki peran sebagai regulator yang
bersinambungan ara pipa yng terbentuk dari berbagiaukuran pori-pori
yang berinterkoneksi, stabilitas dan durabilitasnya, mengatur referensi
dan pergergerakan air tanah difusi gas dari dan ke atmosfer serta
berperan dalam mengontrol profesi tanaman akar dan
perkembangannya. Dengan adanya percobaan dalam menetukan
tekstur tana ini kita dapat memahami cara membandingkan antara
fraksi pasir, fraksi ebu, dan fraksi liat yang terbentuk dalam horizon-
horizon yang diamati.

1.1.3. Stuktur Tanah


Tanah memiliki beberapa sifatsifat fiisk. Salahsatunya adalah struktur
tanah. Struktur tanah merupakan sifat morfolohi taah dapat diamati secara
langsung. Morfologi tanah adalah deskripsi tubuh tanah yang menunjukan
kenampakkan-kenampakkan.
Ciri-cir morfologi tana merupakan petunjuk dari proses-proses yang
pernah diaam suatu jenis tanah selama pelapukan. Pembentukan dan
perkembangan. Perbedaan faktor-faktor pembentuk tanah akan meninggalkan
ciri dan sifat tanah yang berbeda pula pada suatu profil tanah.
Struktur tanah adlah susunan butir-butr primer tanah dan agregat-
agregat primer tanh. Secara alami menjadi bentuk tertentu yang dibatasi oleh
bidang-bidang yang disebut agregat. Strutktur tanah merupakan sifat fisik
tanah yang menggambarkan susuna ruangan partikel-partikel tanah yang
bergabung satu dengan yang lainnya membentuk agregat hasil proses
pedogenesis.
Struktur tanah berhubugan dengan cara dimana partikel-partikel pasir,
debu dan liat relatif disusun satu sam lain. Belum ada metode yang secara
obyektif dan kuantitatif dapat digunakan untuk membentuk struktur tanah
dengan penentuan berat volume (BU), berat jenis (BJ) dan porositas tanah
dapat membedakan antara struktur yang lain.
Kaitannya dengan daya serap air, struktur tanah memepengaruhi
karena berdasarkan dari pori-pori tanah, pori-pori tanah yang besar
bermanfaat untuk aeres dan infiltrasi. Sedangkan pori-pori yang kecil untu
menyimpan lengas. Berdasarkan uraian diatas, maka dilakukan praktikum ini.

1.1.4. Kemasaman Tanah


Salah satu factor yang mempengaruhi pertumbuhan dan
produksi optimla dari tanaman adalh pH tanah. Reaksi tanah adalah
yang dinyatakan dengan pH menunjukkan sifat kemasaman atau
konsenrasi ion + dan ion dalam tanah. pH yang dibutuhkan
oleh tanaman adalah pH yang sesuai dengan keadaan natomi dan
fisiologis dari pada tanaman tersebut. Oleh sebab itu pH perlu diubah
agar sesuai dengan kebutuhan tanaman. Namun, usaha ini tidak
mudah sebab ada penghambat yang disebut Buffer ( sanggahan ) yang
merupakan sutu sifat umum dari campuran asam-basa dan garamnya.
pH tanah sangat penting bagi tanaman dalam menentukan
mudah tidaknya unsurunsur hara diserapoleh tanaman, hal ini
menunjukkan kemungkinan adanya usur-unsur bercacun yang dapat
mempengaruhi aktivitas organisme. Tanah-tanah masam umumnya
dijumpai pada daerah beriklim basah. Dalam tanah tersebut
konsentrasi ion + melebihi konsentrasi ion . Tanah ini
mengandung Al, Fe, dan Mn terlarut dalam jumlah besar. Akibatnya,
reaksi basa dengan tanahnya hanya menganndung sedikit Al, Fe, dan
Mn yang terlarut.
Penentuan pH dapat ditentukan baik dilapangan atau
dilaboratorium. Hal ini perlu dikethui karena pH tanah merupakan
gambaran diagnosis dari nilai yang khusus. Reaksi tanah yang penting
karena dengan mengetahui pH maka data pula diketahui apa yang
akan diberikan padatanaman, baik pupuk maupun bahan oraganik
lainnya scara jumlah kadar air untuk pertumbuhan tanaman.
Berdasarkan uraian diatas, maka dilakukan praktikun reaksi
tanag untuk mengetahui tingkat kemasaman tanah yang berkaitan erat
dengan pH tanah yang sangat penting bagi pertumbuhan tanaman.

1.1.5. Konsistensi Tanah


Pengolahan tanah yang tepat sangat membentuk keberhasilan
penananman yang diusahakan. Pengolahan tanah untuk media
pertumbuhan dan perkembangan tanaman sebaiknya dilakukan pada
keadaan air yang tepat, yaitu tidak terlalu kering dan tidak terlalu
basah. Hal ini dimaksudkan agar tidak merusak struktur tanah.
Untuk menyatakan deerajat hbungan antara partikel-partikel
tanah dengan kandungan air tanah digunakan angka-angka
konsistensi. Berdasarkan hal tersebut diatas maka konsistensi tanah
dapat didefinisikan sebagai suatu sifat yang menunjukan derajat
kohesi adhesi diantara partikel-partikel tanah dan ketahanan massa
suatu tanah terhadap perubahan bentuk yang diakibatkan oleh tekanan
dan berbagai kekuatan yang mempengaruhi bentuk tanah.
Penetapan konsistensi tanah dilakukan dengsn 2cara yaitu kualitatif
dan kuantitatif. Prinsip penetapan secara kualitatif adalah penentuan
ketahanan massa tanah terhadap remasan, tekanan atau pijatan tangan pada
berbagai kadar air tanah. Penetapan konsistensi tanah secara kualitatif sering
diistilahkan sebagai penetaan angka atterbeg karena atterbeg adalah pelopor
penetapan batas-batas konsitensi tanah yang dinyatakan dengan angka
kandungan pada batas cair dan batas plastis (lekat) suatu tanah.
Batas konsistensi dapat diketahui melalui suatu tes laboratorium
dimana akan didapat pula variasi berbagai keadaan konsistensi tanah.
Peningkatan konsistensi tidak merupakan harga mutlak dan sangat peka
terhadap keadaan lingkungan, tekanan serta berbagai kekuatan yang
mempengaruhi bentuk tanah. Kandungan air terendah dimana tanah masih
bersifat plastis (lekat) disebut batas plastis (plastis limit), dan batas tertinggi
dimana tanah masi bersifat plastis disebut batas cair (liquid limit). Sedangkan
indeks plastisitas dapat di definisikan batas cair batas plastis.
Jika pengolahan tanah dilakukan pada kandungan air dibawah
batas plastis maka tanah akan bergumpal dan pecah. Sebaiknya jika
diolah diatas batas cair maka tanah akan bersifat seperti benda cair,
jadi pengolaan tanah yang paling tepat adalah saat kadar air tanah
berada diantara batas cair dan batas plastis.
1.1.6. Warna Tanah
Warna tanah adalah sifat tanah yang paling jelas dan mudah
ditenukan. Walaupun warna mempuyai pengaruh yang kecil terhadap
kegunaan tanah, tetapi kadang-kadang dapat dijadikan petunjuk
adanya sifat-sifat khusu dari tanah. Misalnya tanah berwarna gelap
mencirikan kandungan bahan organic tinggi, warna kelabu
menunjukkan bahwa tanah sudah mengalami pelapukan lanjut.
Warna tanah ditentukan dengan cara membandingkan dengn
warna baku yang tedapat pada Munsell Soil Colour Chart. Penentuan
ini meliputi penetapa warna dasar tanah (matriks), warna bidang
struktur dan selaput liat, warna keratin dan konkresi, warna plinit dan
warna humus.
Warna tana dinyatakan dalam tiga satuan yaitu kila (hue), nilai
(value)dan kroma (chroma). Kilap berhubungan era dengan
gelombang cahaya. Nilai berhubungan dengan kebersihan warna.
Kroma kadang-kadang disebut kejenuhan, yaitu kemurnian relative
dari spectrum warn.
Warna tanah sangat ditentukan oleh luas permukaan spesifik
yang dikenali dengan proporsi volumetric masing-masing terhadap
tanah. Makin luas permukaan spesifik menyebabkan makin dominan
menntukan wanrn tanah, seingga warna butir koloid tanah (koloid
anorganik dan kolid orgnik) yang memiliki luaspermukaan spesifik
yang snagat luas, sehingga sangat mempengaruhi warna tanah.
Berdasarkan uraian diatas mka perlu diaadakan pengamatan
tentang proses terjadinya pelapukan dan untuk mengetahui sifat-sifat
tanah dan kandungan bahan organic tanah.

1.1.7. Praktikum Lapangan


Tanah disuatu tempat deengan tempat yang lainnya tentu
memilikiperbedan dan tidak akan sam persis. Hal ini dikarenakan
fakor lingkungan yang mempengaruhi seperti iklim, bahan induk,
relief, organisme yang terkandung dalam tanah dan waktu
pembentukanntanah. Untuk itulah diperlukan adanya survey profil
tanag dilapangan sehingga dapat diketahui perbedaam atau
karakteristik tanah secar langsung di lapangan tempat berbeda.
Prosedur-prosedur untuk meneliti tanah dilapangan bertujuan
untuk menghubungkan pendekatan biosfik dan etnologi. Pengamatan
ini dari tanag pertanian dilpangan dapat diketahui apakah tanah
tersebut tanah yang dapa memenuhi kebutuhan tanaman atau tidak.
Memenuhi syarat apabila tanah itu cukup gembur sehingga akar dapat
mencari hara yang diperlukan.
Tanah dapat diartikan sebagai hsil transformasi zat mineral
dan organic dipermukaan kami yang terbentuk dibawah pengaruh
factor-faktor llingkungan untuk bekerja dalam massa yang sangat
panjang. Komponen tanah ( mineral, organic, air dan udara ) oleh
karena intensitas factor-faktor pembentuk tanah daerah satu dengan
yang lain berbeda seperti bahan induk, iklim, topografi, organism dn
waktu. Maka tanah yang terbentuk juga beda. Tanah merupakan
komponen penting bagi pertanian. Tanaman akan dapat tumbuh
dengan baik apabila kondisi tanah sesuai dengan kebutuhan tanaman.
Anah dapat diklasifikasikan bedasarkaan pada kadar lengas tanah,
teksur tanag, struktur taah, konsitensi tanah, bahan organic tanah,
muatan tanah, reaksi pH tanah, dan kadar tanah.
Suatu tanah tubuhnya apabila dipotong tegak lurus akan
menampilkan suatu seri lapisan yang disebut sebagai horizon. Secara
garis besar, horizon-horizon tersebut dapat dibedakan menjadi horizon
organic ( horizon O ) dan horizon mineral ( horizon A, B, C, dan D ).
Horizon O ditemukan terutama pada tanah utan yang belum terganggu
dan merupakan horizon organic yang terbentuk diatas lapisa mineral.
Horizon O terdiri dari 1, yaitu lapisan bentuk asli sisa-sisa tanaman
yang masih terlihat dan 2 lapisan bentuk asli sisa-sisa tanaman yang
tidak terlihat jelas.
Horizon A merupakan horizon dipermukaan tanah yang terdiri
dari campuran bahan organik dan bahan mineral. A terdiri dari
Horizon 1 disebut pula sebagai horizon eluviasi. Horizon humus
bearna gelap. 2 lapisan dimana terdapat eluviasi maksimum terdapat
liat Fe, Al dan bahan organic. 3 lapisan peralihan ke B lebih
menyerupai A. horizon B terdiri dari 1 lapisan peralihan A ke B
lebih menyerupai B. 2 lapisan penimbun. 3lapisan peralihan ke C
lebih menyerupai B. horizon C merpakan lapisan batuan induk yang
sedikit terlapuk. Horizon D atau R merupakan lapisan batuan keras
yang belum terlapuk.
Beberapa tanah dan karakteristiknya adalah entisol memiliki
tanah yang sederhana dan tidak terhaap lapisan horizon B. inseptisol
yanitu tanah yang baru berkembang, hanya sedikit atau idak terdapat
horizon B.mollisol memiliki tanah tebal, halus, kaya bahan organic.
Vertisol terdapat banyak lampung, tidak terdapat lapisan horizon B.
Ultisol horizon B yang didominasi lempung agak sulit terlindi. Alfisol
horizon B nya didominasi lempung dan sulit terlindi.
Warna tanahmerupakan cirri tanah yang paling nyata dan
paling mudah untuk ditemukan. Pada umumnya bahan organic
memberi warna kelam pada tanah, artinya jika tanah asalnya berwarna
kuning dan kecoklatan, kandunganbahan organic menyebabkan tanah
cenderung berwarna hitam atau kecklatan. Semkin stabil bahan
organic, semaki tua warnanya, semakin segar tananya semakin cerah
waarnanya. Humus stabil berwarna hitam.
Peryumbuhantanaman tidak akan lepas dari kandungan air
digunakan tumbuhan untuk menjalanka berbagai proses biologi dalam
pertumbuhan. Lengas tanah berperan pening dalam menjaga
kelembaban tanah. Lengas tanah brperan penting dalam menjaga
kelembaban tanah. Lengas menusun dua per tiga baian dari pori-pori
tanah pada shu kamar dan menjadi satu pertiga bagian jika suhu
meningkat
Tekstrur tanah adalah kandungan relative dari komposisi fraksi
penyusun tanah. Fraksi tersebut antara lain fraksi lempung. Macam-
macam mana tekstural tanah yaitu geluhan pasir, geluhan debuan, dan
geluhan pasir berlempung, geluh lempung dan geluh lempung berpasir
dan lempung atau tekstur tanah halus.
Struktur tanah merupakan sifat fisik tanah yang
menggambarkan susunan keruangan partikel-partikel tanah yang
bergabung satu dengan yang lainnya menbentuk agregat. Sifat
konsistensi tanah pada kandungan air yang berbeda-beda terdiri dari
konsistensi basah, konsistensi lembab, dan konsistensi kering.
Konsistensi merupakan ketahanan tanah terhadap tekanan gaya dari
luar ( kohesi dan adhesi ).
Bahan organic adalah salah satu penyusu atau pembentuk
agregat tanah. Bahan organic ini berperan sebagai pelekat antar
aprtikel tanahuntuk natinya bersatu menjadi agregat tanah.
Kapsitas pertukaran kation (KPK) menyatakan bahwa ion-ion
aluminium mampu untuk meukargantikan dengan ion-ion kalsium,
magnesium, kalium dan natrium pada larutan.

1.2. Tujuan Praktikum


1.2.1. Kadar Lengas
a. Menetapkan kadar lengas contoh tanah kering udara,
b. Menetapkan kadar lengas kapasitas lapang (pendekatan).
1.2.2. Tekstur Tanah
Menetapkan kelas tekstur tanah secara kuantitatif.
1.2.3. Struktur Tanah
a. Menetapkan kerapatan butir tanah (BJ).
b. Menetapkan kerapatan massa tanah (BV).
c. Menghitung porositas tanah (n).
1.2.4. Kemasaman Tanah
a. mengukur pH tanah actual dan potensial
b. menentukan muatan tanah melalui pengukuran pH
1.2.5. Konsistensi Tanah
a. Menetapkan batas cair tanah (BC).
b. Menetapkan batas lekat tanah (BL).
c. Menetapkan batas gulung tanah (BG).
d. Menetapkan batas berubah warna (BBW).
e. Menghitung jangka olah tanah (JO).
f. Menghitung indeks plastisitas tanah (IP).
e. Menghitung persediaan air maksimum dalam tanah (PAM).
1.2.6. Warna Tanah
untuk mengetahui cara menetukan warna tanah.

1.2.7.praktikum Lapangan
a. untuk mempelajari sifat-sifat dari jenis tanah,
b. menentukan tekstur tanah,
c. menetukan pH tanah dan warna tanah,
d. menentukan kanungan BO dan kapur tanah
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Kadar Lengas


Lengas tanah merupakan air yang mengisi sebagian atau seluruh ruang pori
tanah dan teradsorpsi pada permukaan zarah tanah. Lengas tanah juga bisa diartikan
sebagai air yang terdapaat dalam tanah yang terikat oleh berbagai kakas, yaitu kakas
ikat matrik, osmosis, dan kapiler. Keberadaan air dalam tanah mempunyai tingkat
tegangan yang berbeda-beda, Tegangan lengas tanah dapat digunakan menjadi ukuran
kemampuan tanah menyimpan air melawan kakas gravitasi yang menarik air ke luar
tubuh tanah (Notohadiprawiro, 2000).
Kadar lengas tanah sering disebut sebagai kandungan air(moisture) yang terdapat
dalam pori tanah. Satuan untuk menyatakan kadar lengas tanah dapat berupa persen
berat atau persen volume. Berkaitan dengan istilah air dalam tanah, secara umum
dikenal 3 jenis, yaitu (a) lengas tanah adalah air dalam bentuk campuran gas dan
cairan; (b) air tanah adalah air dalam bentuk cair dalam tanah, sampai lapisan kedap
air; (c) air tanah dalam adalah lapisan air tanah kontinu yang berada ditanah bagian
dalam (Handayani, 2009).
Air yang hilang karena pengeringan merupakan sejumlah air yang terkandung
dalam tanah tersebut. Air irigasi yang memasuki tanah mula-mula menggantikan
udara yang terdapat dalam pori makro dan kemudian pori mikro. Jumlah air yang
bergerak melalui tanah berkaitan dengan ukuran pori-pori pada tanah. Air tambahan
berikutnya akan bergerak ke bawah melalui proses penggerakan air jenuh.
Penggerakan air tidak hanya terjadi secara vertikal tetapi juga horizontal. Gaya
gravitasi tidak berpengaruh terhadap penggerakan horizontal (Hakim, dkk, 2006).
Kemampuan tanah menahan air dipengaruhi antara lain oleh tekstur tanah. Tanah-
tanah bertekstur kasar mempunyai daya menahan air lebih kecil daripada tanah
bertekstur halus. Oleh karena itu, tanaman yang ditanam pada tanah pasir umumnya
lebih mudah kekeringan daripada tanah-tanah bertekstur lempung atau liat. Kondisi
kelebihan air ataupun kekurangan air dapat mengganggu pertumbuhan tanaman
(Madjid, 2010).
Air tersedia biasanya dinyatakan sebagai air yang terikat antara kapasitas
lapangan dan koefisien layu. Kadar air yang diperlukan untuk tanaman juga
bergantung pada pertumbuhan tanaman dan beberapa bagian profil tanah yang dapat
digunakan oleh akar tanaman. Tetapi untuk kebanyakan mendekati titik layunya,
absorpsi air oleh tanaman kurang begitu cepat, dapat mempertahankan pertumbuhan
tanaman. Penyesuaian untuk menjaga kehilangan air di atas titik layunya telah
ditunjukkan dengan baik (Buckman and Brady, 2002).
2.2. Tekstur Tanah
Tekstur merupaka sifat kasar halusnya tanah dalm percobaan yang ditentukan
oleh perbandingan banyaknya zahrah tunggal tanah dari berbagai kelompok ukuran,
terutama perbandinga antara fraksi-faksi liat, debu dan pasir berukuran 2mm ke
bawah (Noto. 2005)
Tanah terdiri dari butir-butir yang berbeda dalam ukuran dan bentuk, sehingga
diperlukan istilah-istilah khusus yang meberikan ide tentang sifat teksturnya dan akan
memberikan petunjuk tentang sifat fisikinya. Untuk ini digunakan nama kelas seprti
pasir, debu dan lait. Nama kelas dan klasifikasinya ini, merupakan hasil riset
bertahun-tahun dan lambat laun akan dijadikan sebuah patokan. Tiga golongan pokok
tanah yang kini digunakandan umum dikenal adalah pasir, liat dan lempung.
Pembagian tekstur tanah yang banyak dikenal adalah pembagia 12 kelas tekstur tanah
menurut USDA. Nama kelas tekstur melukiskan penyebaran butiran, plastisits
keteguhanpenyediaan hara tanah dan produktifitas berkaitan dengan kelas tekstur
dalam suatu wilayah (Pairunan. 2001).
Tekstur tanah menunjukan komposisi partikel penyusn tanah (separatif) yang
digunakan sebagai perbandingan proporsi (%) relative antara fraksi pasir, fraksi debu,
dan fraksi liat (Hanafiah.2004)
Tekstur tanah dapat menentukan sifat-sifat dan kimia serta mineral tanah.
Partikel-partikel tanah dapat dibagi atas kelompok-kelompok tertentu berdasarkan
ukuran partikel tanpa melihat komposisi kimia, warna, berat dan sifat lainnya.
Analisis laboratoriu yang mengisahkan hara tanah disebut analisi mekanis. Sebelum
analisa mekanis dilakukan, cntoh tanah yang kering udara dihancurkan lebih dulu
disaring dan dihancurkan dengan ayakan 2mm. semntara itu sisa tanah yang berbeda
diatas ayakan dibuang. Metode ini merupakan metode hydrometer yang
membutuhkan keteitian dalam pelaksanaannya. Tekstur tanah ini dapat ditetapkan
secara kualitatif dilapangan (Hakim.2004).
Sifat-sifat fisik tanah banyak bersangkutan dnegan kesesuaian tanah untuk
berbagai pennnggunaan. Kekuatan dan daya dukung, kemapuan tanah menyirami air,
drainase, penetrasi, akar tanaman, tata udara, pengikatan unsur hara, semuanya sangat
erat kaitanya dengan sifat fisik tanah (Yusuf.2008).
Karakteristik tekstur tanah terdiri dari fraksi pasir, debu dan liat. Suatu tanah
disebut tekstur pasir jika mengandung minimal 85% pasir, bertekstur debu jika
berkadar 80% debu, dan bertekstur liat apa bila berkadar 40% liat (Hanafiah.2008).
Dalam penetapan tekstur tanah ada tiga jenis metode yang digunakan yaitu
metode feeling yang dilakukan berdsarkan kepekaan indra prasa (kulit jari jempol dan
telunjuk), metode pipet atau biasa disebut dengan metode kurang teliti dan metode
hydrometer atau disebut dengan metode lebih teliti yang didasarkan perbedaan
kecepatan jatuhnya partikel-partikel tanah di dalam air dengan asumsi bahwa
kecepatan jatuhnya partikel yang berkerapatan sama dalam suatu larutan akan
meningkat secar linier apabila radius partikel berambah secara kuadratik
(Wigeno.2003).
2.2. Struktur Tanah
Struktur tanah merupakan sifat fisik tanah yang menggambarkan susunan
keruangan partikel-partikel tanah yang bergabung menjadi satu dengan yang lain
membentuk agregat. Dalam tinjauan morfologi struktur diartikan sebagai susunan
partikel-partikel primer menjadi satu kelompok partikel (cluster) yang disebut agregat
yang dapat dipisah-pisahkan kembali serta mempunyai sifat yang berbeda dari
sekumpulan partikel primer yang tidak teragregasi (Handayani, 2002).
Tingkat perkembangan struktur ditentukan berdasarkan atas kemantapan atau
ketahanan bentuk struktur tana tersebut terhadap tekanan. Ketahanan struktur tanah
dibedakan menjadi (1). tingkatan perkembangan lemah (butir-butir struktur tanah
mudah hancur) (2). Tingkat perkembangan sedang (butir-butir struktur tanah agak
sukar hancur) dan (3) tingkat perkembangan kuat (butir-butir struktur tanah sukar
hancur). Hal ini sesuai dengan jenis tanah dan tingkat kelembaban tanah. Tanah-tanah
permukaan yang banyak mengandunghumus biasanya mempumyai tingkat
perkembangan yang kuat(Hardjowigeno,2007).
Tanah dengan struktur naik (granvier, remah), mempunyai tata udara yang
baik, unsur-unsur hara lebih udah tersedia dan mudah diolah. Struktur tanah yang
baik adalah yang saling bersinggungan dengan rapat. Akibatnya pori-pori tanah
banyak terbentuk. Disamping itu struktur tanah halus tidaak mudah rusak. (mantap)
sehingga pori-pori tanah tidak cepat tertutup bila terjadi hujan (sriande,2003).
Struktur tanah berfungsi memoodifikasi pengaruhi tekstur terhadap kondisi
dranase atau aerasi tanah, karena susunan anatara ped atau agregata tanah
mengahsilkan ruang yag lebih besar ketimbang susunan antara partikel primer oleh
karena itu, tanah yang berstruktur baik akan mempunyai kondisi drainase dan aerasi
yang baik pula, sehingga lebih memudahkan sistem perakaran tnaaman untuk
berpenetrasi dan mengaborsi (menyerap) hara dan air. Sehingga pertumbuhan dan
produksi menjadi lebih baik (hanafiah,2007).
Dalam pembentukan dan pemantapan agregat, struktur tanah dipengaruhi oleh
bahan induk penyusun tanah terbentuk empengaruhi agregat tanah serta kemantapn
tanah, bahwa organik tanah sebagai bahan perekat tanamana pada suatu wilayah
dapat membantu pembentukan agregat yang mantap dengan perekatan akar tanaman
yang sangat kuat, organisme tanah dapat mempercepat terbentuknya agregat dan
membantu menggambarkan tanh. Waktu menentukan semua faktor pembentuk tanah
dapat berjalan sesuai seiring semakin lama waktu berjalan maka agregat yang
terbentuk pada tanah tersebut makin mantap. Iklim berpengaruh terhadap proses
pengeringan, pembasahan, pembekuan dan pencairan (yazid,2011).
2.3. Kemasaman Tanah
Reaksi tanah adalah suatu sifat kimia tanah yang meligkupi berbagai unsur-
unsur dan senyawa-senyawa kimia yang lengkap. Reaksi tanah memnunjukkan
tentang status atau keadaan kimia yang terkandung didalam tanah dan merupakan
factor yang mempegaruhi proses-proses biologis pada pertumbuhan tanaman. Bila
keadaan kimia tanah dalam proses biologis yang terganggu maka biasanya
ditunjukkan dengan reaksi atau pH yang ekstrim (Pairunan.2002).
Sumber kemasaman tanah dalam kandungan bahan-bahan organic dan
anorganik. Ionisasi asam menghasilkan ion + yang bebas dalam larutan tanah.
Sumber lain dari kemasaman tanah adalah + dan 3+ yang dapat ditukar dengan
koloid tanah. Kemampuan suatu tanah dalam mempertahankan pH dari perubahan
karena terjadinya penambahan sebagai daya sanggah pada tanah (
Hadjowigeno.2005).
Kemasaman suatu tanah ditentukan oleh dinamika ion + yang terdapat
didalam tanah dan berada pada kesetimbangan dengan ion + yang berjelap.
Kemasaman tanah merupakan usatu sifat yang penting sebab terdapat hubungan
antara pH dengan ketersediaan unsure hara dan juga terdapatnya hubungan antara pH
tanah dengan proses pertumbuhan (Foth.2000).
Kisaran suatu pH yang terdapat dalam tanah dapat dibatasi dengan dua
elekstin. Kisaran pH untuk tanah mineral biasanya antara 3,5 10,0. Kebanyakan
tolerasi tanah pada pH yang ekstri atanu tinggi, asalkan dalam tanah tersebut tersedia
banyak unsur-unsur hara yang cukup untk kesuburan tanah sehingga kadar unutk
kemasaman tadi dapat seimbang (Hakim. 2005).
Kemasaman pH tanah yang tinggi biasanya mengakibtkan terjadinya
kerusakan atau terhambatnnya pertumbuhan akar pada t
Aman. Pegaruh tidak langsung ketidak stabilan pada pH tanah, mengakibatkan
keracuan pada tanaman (Hakim.2005)
Tanah yang terlalu masam, dapat dinaikan pHnya dengam menambahka kapur
kedalam tanah, sedangkan pH tanah yang terlalu alkalis atau mempunyai nila pH
yang tinggi dapat diturunkan dengan cara menambahkan belerang atau dengan cara
pemupukan pada tanah (hadjowigeno.2005).

2.4. Konsistensi Tanah


Konsitensi merupakan sifat fisik tanah yang menunjukkan derajat
adhesi dan kohesi partikel-partikel tanah berbagai kelengasan. Sifat fisik yang
ditunjukkan pada konsistensi berupa keliatan (plasticity), keteguhan (friability), dan
lekatan (stickness). Penentuan nilai konsistensi dekelompokkan menjadi dua yaitu
kualitatif (biasanya dilapangan dan dilaboratorium) dan kuantitatif (dilaboratorium)
dengan pendektan angka-angka atterbeg mempunyai hubungan antara kadar lengas
(%) dengan konsitensi tanah. (Handayani, 2007)

BC merupakan kadar lengas pada saat tanah muai mengalir bebas tanpa
tekanan atau jmlah air terbanyak yang dapat ditahan oleh tanah. BL adalah kadar
lengas pada saat tanah basah tidak mengalir pada alat logam atau kadar air dimana
tanah mulai tidak dapat melekat lagi pada benda lain. BG merupakan kadar lengas
tanah pada saat tanah mulai dapat dibentuk atau kadar air dimana gulungannya tidak
dapat lagi digolek-golekan. BBW merupakan kadar lengas untuk tanaman.
(Cahyono.2008)

Konsistensi tanah penting untuk menentukan cara pengolahan tanah yang


baik, juga penting bagi penetrasi pengolahan tanah yang baik, juga penting bagi
penetrasi akar tanaman dlapisan bawah dan kemampuan tanah menyimpan lengas.
Dalam keadaan lembab, tanah dibedakan konsistensi gembur (mudah diolah) sampai
teguh (agak sulit dicangkul). Dalam keadaan kering tanah dibedakan kedalam
konsistensi lunak sampai keras. Dalam keadaan basah dibedakan plastisitasnya yaitu
dari plastis sampai tidak plastis ataupu kelekatannya yaitu dari plastis sampai tidak
plastis ataupun keteraitannya sampai lekat. Dalam lembab atau kering konsistensi
tanah ditentukan denan meremas segumpal tanah bila gumpalan tersebut mudah
hancur. Maka tanah akan dikatakan berkonsistensi gembur bila tanah lembab atau
luna waktu kering. Bila tanah sukar hancur dengan remasan tersebut, tanah dikatakan
berkonsistensi teguh (lembab) atau keras (kering). (Hardjowigeno.2009)

Konsitensi tanah dapat ditetapkan secara langsng dilaboratorium berdarakan


angka-angka atterbeg. Angka atterbeg adalah persentase beratlengas tanah yang
diukur pada saat tanah mengalami perubaan konsentrasi. Konsitensi daya tanah
menunjukkan kekutan daya adhesi dan kohesi butir-butir tanah dengan benda lain.
Hal ini ditunjukkan oleh daya tanah terhadap gaya yang akan mengubah bentuk.
Gaya-gaya tersebut dapat berupa usikan. Misalnya pencangkulan dan pembajakan.
Tanah-tanah yang mempunyai konsistensi yang baik umumnya mudah diolah dan
tidak melekat ada alat pengolah tanah (Praharyanto.2012)

Jumlah air tertinggi yang bermanfaat bagi tanaman ditunjukkan BC, dan yang
terndah ditunjukkan BBW. Agar tanah dapat ditmbhi tanaman harus mempunyai
kadar air yang terletak diantara kedua nilai batas tersebut. Diantara BL dan BG
merupakan kadar air dimana tanah mudah diolah (dicangkul, dgaru), sehingga
dinamakan jangka olah (JO). Antara BC dan BG merupakan kadar air tanah dmana
tanah menunjukan dearjat keteguhan (Darmawijaya.2001)

2.5. Warna Tanah


Warna tanah adalah gabungan berbagai warna komonen penyusun
tanah.warna tanah berhubungan langsung secara proporsiona dari total campuran
warna yang dipantulkan permukaan tanah. Warn tanah sangat ditentukan oleh luas
permukaan spesifik yang dikali dengan proporsi volumetric masing-masing terhadap
tanah. Makin luas permukaan tanah menyebabkan makin dominan menetukan warna
tanah, sehinga warna butir koloid tanah ( koloid nirganik dan koloid organic ) yang
memiliki luas permukaan spesifik yang sangat luas, sehingga sangat mempengaruhi
warna tanah (HAnafiah.2004)
Penyebab perbedaan warna permukaan tanah umumnya dipengaruhi oleh
perbedan kandungan bahan organic. Makin tinggi kandungn bahan organic, warna
tanah semakin gelap. Sedangkan dilapisan bawah, dimana kandungan bahan organic
umumnya rendah, warna tanah banyak dipengaruhi oleh bentuk dan banyaknya
senyawa Fe dalam tanah. Di daerah berdrainase buruk, yaitu tanah yang tidak pernah
terendam air, Fe terdapat dalam keadaan oksidasi. Misalnya dalam senyawa (hemat)
yang berwarna merah atau 3 (limonit yang berwarna kuning coklat, sedangkan pada
tanah yang kadang-kadang basah dan kadang kering, maka selain berwarna abu-abu
(daerah yang erdeteksi) didapat pula bercak-bercak karatan merah atau kuning, yaitu
ditemat-te,pat dimana udara dapat masuk, sehingga terjadi oksidasi besi ditemoat
tersebut. Keberadaan jenis mineral dapat menyebabkan warna lebih terang. Intensitas
warna tanah dipengaruhi oleh tiga factor yaitu jenis mineral dan jumlahnya,
kandungan bahan organic tanah, kadar air tanah dan tingkat hidratasi. Tanah yang
mengandung mineral fieldspar, kaolin, kapur, kuarsa dapat menyebabkan warna putih
pada tnah jenis mineral fieldspar menyebabkan beragam warna dari putih sampai
merah (Hakimm.2007:121)
Warna tanah merupakan sebagai indicator dari bahan induk untuk tanah yang
baru berkembang, indicator kondisi iklim untuk tanah yang sudah berkebang lanjut
dan indicator kesuburan tanah atau kapaitas produktifitas lahan. Secara umum
dikatakan bahwa: makin gelap tanah berarti makin tinggi produktivitasnya, selain ada
berbagai pengecualian namun secara berurutan sebagai berikut: putih, kuning kelabu,
merah, coklat kelabuan,coklat kemerahan, coklat dan hitam. Kondisi ini merupakan
integrasi dari pengaruh kandungan bahan organic yang berwarrna gelap, makin tinggi
kandungan bahan organi sautu tanah maka tnah tersebut akan berwarna gelap.
Intensitas pelindihan dari ion-ion hara pada tanah tersebut, makin intensif proses
pelindihan menyebabkan warna tanah menjadi lebbih terang, seperti pada horizon
eluviasi dan kandungan kuarsa yang tinggi menyebabkan tanah berwarna lebih terang
(Foth.2000).
Warna tanah tidak secara langsug berpengaruh pada pertumbuhan tanaman,
tetapi tak langsung melalui daya pengaruhnya atas suhu dan lengas tanah. Warna
tanah merupakan karakteristik tanah yag penting karena kandungna bahan organik:
warna hitam dan hitam kecoklatan (susanto.2015).
Warna tanah ditentukan dengan membandingkan warna tanah tersebut dengn warna
standar pada buku Munsell Soil Colour Chart. Diagram warnabaku ini disuus toga
variable yanitu hue, value, dan chrome. Hue adalah warna spectrum yang dominan
sesuai dengan panjang gelombang. Value menunjukkan gelap terangnyawarna tanah,
sesai dengan banyaknya sinar yang dipantulkan dan chrome menunjukan kemurnian
atau kekuatan dari warna spekrum. Chrome didiefinisiakan juga sebagai gradiasi
kemurnian dari warna atau derajat pembeda adanya perubahan warna dari kelabu atau
putih netral ke warna lainnya (Gusli.2015).

2.6. Praktikum Lapangan


Survey tanah adalah suatu kegiatan untuk memperoleh informasi tentang
keadaan tanah pada masing-masing lokasi dan agihan ruang atau geografi berbagai
sifat dan watak tanah. Tiap profil tanah mempunyai daerah sebaran tertentuseesuai
dengan factor-faktor pembentuk tanah tersebut, atau dengan perkataan lain suatu
profil tanah merupakan analisir dari suatu bentang darat yang khas. Ini berarti bahwa
tanah tidak saja mempunyai tebal tapi juga luasan atau dikatakan sebagai bentuk yang
berdimensi tiga. Profil tanah mempunyai seperangkat sifat dan cirri-ciri yang
merupaka karakternya dan yang membedakan dari profil-profil tanah yang
lain.karaker profil tanah tersebut dapat dipakai untuk membedakan atau menyamakan
dua atau lebih profil tanah dan merupakan dasar penyusunan siste klasifikasi tanah
(Siradz.2000)
Pada dasarnya tanah dibumi ini memiliki bentuk-bentuk yang beranekaragam.
Dimana tiap-tiap bagian dikelilingi oleh kandungan air dan udara. Gaya hancuran
merupakan pencerminan dari berbagai factor yang mengendalikan macam tanah yang
nantinya akan terbentuk. Ada lima factor demikian yang pengaruhnya sangat nyata
yaitu: 1) iklim, terutama suhu dan curah hujan, 2) organisme hiduo terutama vegetasi,
3) sifat dan bahan induk. Setiap pelapisan yang terlihat bersifat geologik yaitu yang
berhubungan dengan pengendapan dari regolit. Singkatnya tanah yang muda adalah
tanah yang masih mengalami proses penyesuaian dengan sekitarnya, tanah dewasa
berada dalam keadaan dinamik dengan pengaruh iklim dan vegetasi dan horizon
profil tidak berubah-ubah secara fisik dan kimia(Jenny.2004).
Dalam kehidupan dak aktivitas sehari-hari lahan merupakan bagian ari
lingkungan sebagai sumber daya alam yang berperan sangat
Pemting dalam berbarbagai kehidupan manusia. Lahan dimanfaatkan anata lain
untuk pemukiman, pertanian, pertambangan, jalan, peternakan dan ketersediaan
sumberdaya lahan (Tola.2007).
Komponen penting dari tanah yaitu miner, adalah gabungan unsure-unsur
anorganik amorf dan Kristal adalah salah satu sifat yang dapat menunjukkan
karakteristik tanah jenis mineral tanah terkait erat dengan alat pendekatan dalam
menentukan kesuburan tanah. Bahan-bahan mineral ini merupakan kerangka dasar
tanah (Sirappa.2002).
Sifat tanah berbeda-beda, misalnya pada yang berwarna merah kelabu yang
ada bertekstur pasir, debu, liat, dan sebaginya. Mebedakan tanag menjadi tanah
merah, tanah hitam, tanah kelabu atau tanah pasir, tanah debu, tanah liat dan
sebagainya.berari kita telah melakukan klasifikasi tanah meskipun dengan cara yang
sederhana. Jadi, klasifikasi tanah adalah usaha untuk membeda-bedakan tanah
berdasarkan atas sifat-sifat yang dimilikinya. Dengan cara ini maka tanah-tanah
dengan sifat yang sama dimasukkan kedalam satu kelas yang sama
(Hardjowigeno.2003).
BAB III METODELOGI PRAKTIKUM

3.1. Waktu Dan Tempat Praktikum


Praktikum Dasar-Dasar Ilmu Tanah dilakukan pada hari Selasa, 10 Mei 7
juni 2016, jam 17.00 WITA sampai selasai. Di laboratorium Ilmu Tanah Dan Kebun
Percobaan, Fakultas Pertanian, Universitas Mataram.

3.2. Alat Dan Bahan Praktikum


Alat-alat yang digunakan pada praktikum adalah botol timbangan (cawan),
timbangan analitik, oven, eksikator, tabung sedimentasi, rak sedimentasi, pipet ukur,
filler, gelas ukur, botol semprot, piknometer, kawat pengaduk halus, termometer,
corong gelas kecil, tissu, lilin, botol kocok, pH meter, Munsell Soil Colour Chart,
cawan casagrande, cawan penguap, botol pemancar, gelas beaker, kaca, papan kecil,
pisau, meteran, ember dan pH stik. Sedangkan bahan-bahan yang digunakan pada
praktikum adalah tanah Inceptisol dan Vertisol, aquadesh, NaOH, KCl, profil tanah
dan H2O2.

3.3. Prosedur Kerja


3.2.1 Kadar Lenagas Tanah
- Ditimabang cawan kosong bersih dan tertutup (a gr)
- Dimasukkan Contoh tanahnya kedalam cawan kira-kira separuh penuh
kemudian ditimbang (b gr),
- Dengan tutup terbuka masukkan cawan yang terisi tanah tersebut kedalam
oven yang telah diatur tempraturnya 105-110C dibiarkan selama 48 jam,
- Setelah di oven dikeluarkan dan dibiarkan menidngin didalam eksikator
kira-kira 15 menit, kemudian ditimbang (c gr),
- Langkah 1-4 dikerjakan untuk contoh tanah yang lain.
3.2.2 Tekstur Tanah
- Disiapkan contoh tanah 2mm, kemudian diletakkan tabung sedimentasi
secara tegak lurus tersebu pada sebuah rak,
- Dimasukkan contoh tanah kedalam tabung I sampai pada garis ke 15 dan
tambahkan 1 ml NaOH 1N,
- Ditambahkan aquades hingga tanda pada garis 45 kemudian ditutup rapat,
- Dikocok selama 2 menit,
- Dibuka tutup tabung tadi, kemudian tabung tersebut diletakkan pada rak dan
dibiarkan mengendap selama 30 detik,
- Dituangkan larutan I secara perlahan kedalam tabung II dan dibiarkan
mengendap selama 15 menit,
- Setelah itu, dituangkan larutan II kedalam tabung III,
- Kemudian, dihitung persentase fraksi.

3.3.3 Struktur Tanah


3.3.3.1 Kerapatan Butir Tanah (BJ)
- Ditimbang piknometer kosong, bersih, bersumbat (a gr)
- Diisi piknometer tersebut dengan aquadesh sampai penuh.
- Ditimbang piknometer yang berisi air penuh (b gr)
- Diukur tempratur air dalam piknometer.
- Dilihat dalam daftar yang tersedia berapa BJ air pada tempratur itu.
3.3.3.2.Kerapatan Massa (BV)
- Diambil sebongkah tanah lalu diikat dengan benang dan kemudian
ditimbang bongkah tanah tersebut (a gr).
- Dicairkan lilin pada cawan pemanas dan tanah tersebut di cairkan atau
di celupkan pada tanah tersebut dan di tunggu sampai membeku.
- Setelah selaput lilin cukup keras. Bongkahan tanah di timbang (b gr).
- Diidsi tabung dengan air sampai Volume tersebut dengan tepat (misal
p ml). Bongkah tanah berlilin di tenggelamkan kedalam air yang
menyebabkan permukaan air naik.
- Gunakan pipet ukur air (berat) air ditambahkan sampai permukaan
tepat garis tanda volume tertentu (misal g ml). Di catat air yang di
tambah
- Diambil bongkah tanah yang sejenis dan di tetapkan kadar lengasnya.

3.3.4.Kemasaman Tanah
- Ditimbang contoh tanah 5 gr dan dimasukkan kedalam botol kocok.
- Ditambahkan aquadesh 20 ml untuk pH H2O dan 20 ml untuk pH KCl.
- Dikocok sampe tanah betul betul larut selama 10 menit dan didiamkan selama 15m
- Diukur pH tanah dengan pH meter.

3.3.5. Konsistensi Tanah


3.3.5.1.1. Batas Cair Tanah (BC)
1. Disiapkan 100 g contoh tanah dimasukkan ke dalam gelar beaker 500 ml,
diberikan air secukupnya dan diaduk sampai merata.
2. Dipindahkan sebagian pasta tanah di dalam cawan casagrande dan
diratakan sehingga ketebalannya 1 cm.
3. Dibelah pasta tanah pada cawan casagrande menjadi 2 bagian
menggunakan pengalur (colet).
4. Diputar engkol pemutar cawan pada casagrande dengan kecepatan dua
putaran perdetik sampai alur pada cawan menyatu sepanjang 1,27 cm.
5. Dicatat jumlah ketukan yang didapat untuk mencapai keadaan (butir 4),
kemudian diambil contoh tanah disekitar alur yang telah menyatu untuk
ditetapkan kadar lengasnya secara gravimetric menggunakan oven pada
suhu 105C selama 4-8 jam.
6. Ditetapkan kadar lengas tersebut pada jumlah ketukan antara 15-40
ketukan untuk membentuk alur sepanjang 1,27 cm.
7. Dihitung batas cair dengan menentukan lengas tanah pada 25 ketukan.
3.3.5.2.Batas Lekat tanah (BL)
1. Disiapkan contoh tanah 100 g (diameter ukuran jarak 2 mm), masukkan ke
dalam gelas beaker. Basahi dan aduk merata dengan spatula atau
pengaduk.
2. Diberikan air suling dan terus dia agar terbentuk pasta yang homogen.
3. Diambil pasta tanah tersebut dan digumpalkan pada tangan kemudian
ditusukkan spatula/pengaduk yang telah disediakan. Dilakukan penusukan
hingga kedalaman 2,5 cm dengan kecepatan 1 cm/detik, kemudian
pengaduk ditarik dengan kecepatan2,5 cm/detik.
4. Diperiksa permukaan pengaduk :
- Bila bersih berarti batas lekat belum tercapai (lengas masih berada
dibawah batas lekat). Perlu penambahan air lagi dan pastakan.
- Bila seluruh tusukan berisi (dilengketi tanah), maka berarti lengas
tanah berada diatas batas lekat, perlu penambahan tanah lagi dan
pastakan.
- Bila 1,3 atau 0,8 dan ujung penusuk dilekati tanah, maka berarti batas
lekat telah tercapai.
5. Diambil contoh tanah tersebut ditetapkan kadar lengasnya menggunakan
oven pada suhu 105-110C

3.3.5.3.Batas Gulung Tanah (BG)


1. Disiapkan contoh tanah 100 gr dan dimasukkan kedalam gelas beaker,
ditambahkan air suling sambil diaduk hingga merata.
2. diuli atau digulung bola tanah tersebut di atas bidang permukaan rata
(kaca).
3. Dilakukan Pengulian dengan kecepatan 80-90 gerak setengah putaran
permenit sampai terbentuk pita-pita (benang) tanah berdiameter 0,3 cm
sampai tanah tersebut mengalami keretakan.
4. Diambil pita-pita tanah yang telah memenuhi kriteria tersebut untuk
menetapkan kadar lengasnya dengan oven pada suhu 105-110C.
3.3.6. Batas Berubah Warna (BBW)
1. Diratakan sampai tipis dan licin pasta tanah pada permukaan papan
menggunakan pengaduk/colet. Ketebalannya dibuat sedemikian rupa
sehingga menipis dibagian tepi. Ketebalan bagian tengahnya >3 mm.
2. Diletakkan pada tempat yang bebas dari sinar matahari langsung dan
dikering anginkan pada waktu lengas menguap.
3. Diambil bagian tanah yang berubah warna bersama-sama selebar 0,5 cm
untuk ditetapkan kadar lengasnya sebagai BBW.
3.3.7. Praktikum Lapangan
- Diamati dan diukur kedalaman lapisan tanah menggunakan meteran.
- Ditentukan berapa banyak lapisan tanah yang terlihat dan diukur setiap
lapisan tanah tersebut.
- Ditentukan berapa jumlah batuan yang ada disetiap lapisan tanah
tersebut.
- Diambil sampel tanah setiap lapisan kemudian sampel tanah tersebut
diletakkan pada ember dan dihomogenkan.
- Diuli tanah tersebut menggunakan ibu jari dan telunjuk kemudian
ditentukan persentase pasir, debu, liat tanah dan selanjutnya ditentukan
kelas teksturnya.
- Ditentukan strukturnya, pH, kandungan bahan organik dan warna
tanah tersebut.
- Dicatat hasil pengamatan.
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Kadar Lengas Tanah


Berdasarkan hasil praktikum kadar lengas tanah pada tanah entisol 1,91% dan
kadar lengas tanah inseptisol sebesar 72%.
Tabel 1 hasil pengamatan kadar lengas

Jenis Kadar
Tanah a b c d Lengas
Entisol 21,27 46,70 38,56 49,48 1,91%
vertisol 16,29 39,95 20,75 41,66 72%
Jenis tanah yang digunaka pada praktikum ini adalah inceptisol yang memiliki
tekstur kering berpasir dan sudah mengalami perkembangan, tanah ini memiliki
kemampuan menahan air lebih kecil. Tanah Entisol mencapai kapasitas menahan
maksimal ketika jumlah air maksimal yang didapat untuk ditampung tanah ketika
diberi perlakuan penambahan air. Pada saat kapasitas ini tercapai semua pori-pori
tanah telah jenuh oleh air, air bergerak kedalam (dasar) tanah karena adanya gaya
gravitasi. Kapsitas lapang tanah tercapai ketika air telah turun sama sekali, terlihat
pada dasar mulai menetes air secara perlahan seperti yang dikemukakan oleh
sudarmono (1997) bahwa kapasitas lapang dapat ditandai dengan keluarnya air
siraman dari dalam tanah pada pot.
Pada keadaan ini pori-pori makro sudah kosong. Air menempel antara bidang
bidang pertemuan agregat-agregat dan air sebagian besar terdapat dalam pori mikro.
Pada tanah entisol, kontak air dengan tanah rendah karena permukaan kontak antara
tanah pasiran didominasi pori-pori makro. Oleh karena itu air yang jatung mengalami
perlokasi dan air kapiler mudah leps karena adanya evaorasi.
Dalam praktikum ini, contoh tanah kering yang diuji dengan oven pada suhu 105
o C-110 o C selama semalam (kurang lebih 12 jam) bertujuan untuk menghilangkan
semua lengas yang terdapat dalam sampel sehingga perbandingan selisih antara berat
sebelum dioven dan sesudah dioven merupakan berat lengas tanah. Bahan organik
dapat membantu penyimpanan/penyekap air.
Hal ini karena ukuran bahan organik yang berupa koloid sehingga mempunyai
luas permukaaan jenis yang cukup besar. Relief dan topografi mempengaruhi lengas
tanah berhubungan dengan keceptan mempengaruhi lengas tanah berhubungan
dengan kecepatan infiltrasi air dan perannya dalam mempercepat kehilangan lengas
tanah melalui aliran permukaan. Iklim yang berpengaruh besar terhadap lengas tanah
adalah curah hujan dan penguapan atau evaporasi.
Dikarenakan kedua faktor tersebut menetukan jumlah air yang terdapat dalam
tanah. Dalam praktikum ini pada cawan no.2 diberi perlakuan berupa penambahan air
dan dioven sebagai salah satu penggambaran faktor yang mempengaruhi besarnya
lengas tanah.
Pengaruh tentang kadar lengas dalam pertanian sangatlah penting, karena kadar
lengas mempengaruhi proses serapan hara dan pernapasan akar tanaman.dengan
mengetahui kadar lengas dalam tanah dapat dilakukan tindakan, terutama yang
berhubungan denga manajemen sumber daya air. Tanah pertanian yang baik memiliki
kadar lengas yang sesuai dengan kebutuhan tanaman yang dibudidayakan. Apabila
kadar lengas rendah maka dapat diatasi dengan menambahkan jumlah air secara
intensif dan teratur.
4.2 Tekstur Tanah
Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan, maka diperoleh data sebagai
berikut :
Tabel hasil analisis ukuran tekstur tanah lapisan I dan II
NO % PASIR % DEBU % LIAT Kelas Tekstur
1 63,37 % 16, 66 % 10,01 % Pasir Berlempung

2 53,30 % 20 % 26,67 % Lempung Liat


Berpasir
Keterngan : 1. Tanah Entisol & 2. Tanah Inceptisol
Tekstur tanah adalah perbandingan relative dalam (%) antara fraksi-fraksi
pasir, debu, dan liat. Tekstur erat berhubngan dengan plastisitas, permeabilitas keras
dan kemudia kesuburan dan produktivitas tanah pada daerah geografis.
Dari hasil percobaan yang telah dilakukan yaitu tentang tekstur tanah
didapatkan dua data pada dua jenis tanah yang berbeda. Pada ercobaan ini digunkan
metode kuantitiatif dengan pemisahan dilakukan dengan cara sedimentasi yang di
dasarkan pada Hukum Stoke yang menyangkut hubungan antara diameter partikel
suspense yang mengendap dengan kecepatan pengendapan dalam cairan pada
tempratur konstan.
Pada percobaan yang telah dilakukakan, telah ditemukan data pada jenis tanah
I (entisol) dengan perbandingan persentase yaitu 16,60%debu, 63,37% pasir dan
10,01 % liat. Sehingga ketika kita mencoba menganalisis pada segitiga tekstur tanah
didapatkan kategori tekstur tanah entisol ini adalah pasir berlempung.
Pada data ke II dengan jenis tanah inceptisol perbandingan persentase yaitu
20% debu, 53,3% pasir, dan 26,67% liat. Sehingga ketika dianalisis mengunkan
segitiga tekstur tanah didaptkan bahwa kategori tanah inceptisol ini yaitu lempung
liat berpasir.
Berdasarkan metode keantitatif ini didapatkan perbandingan yang berbeda-
beda pada jenis tanah. Disisi lain tekstur taanah mempunyai pengaruh yang cukup
besar pada usaha pertanian. Adapun pengaruh positif yang dihasilkan adlah jika
petani memahami dan mengetahui tekstur tanah yang baik maka petani akan dapat
dengan mudah memilih jenis komuditas yang akan ditanami dengan stategi tekstur
tanah yang telah ditentukan sehinga hasil usaha pertanian akan menjadi optimal.

4.3. Struktur Tanah


Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan, maka diperoleh data sebagai
berikut :
Jenis Tanah 9 9 (n) %
BJ BV

Entisol 1,95 1,63 16


Dengan metode priknometer dapat diketahui harga BV dan BJ dan porositas
tanah (n). Berat volume merupakan berat bongkah tiap satuan volume total bongkah
tanah. Berat jenis dapat dilakukan perbandingan relative anatara berat pedatan tanah
dengan volume pedatan. Sedangkan porositas merupakan persentase volume pori-pori
terdapa volume bongkahan tanah.
Pada hasil perhiitungan didapatkan nilai BV yang lebih kecil dari BJ. BV
sebesar 1,63 93, sedangkan BJ tanah entisol tersebut, kita dapat hasil BV sebesar
BJ 1,95 93, setelah didapatkan hasil BV dan BJ tanah entisol tersebut, kita dapat
menentukan porositas tanah (n) dengan rumus yang ditentukan, porositas tanah yang
didapatkan adalah 16%. Tanah yang digunakan pada praktikum ini adlah tanah
entisol.
Anah entisol terdapat didaerah alluvialatau endapan sungai dan endapan rawa-
rawa pantai. Tanah entisol cenderung memiliki tekstur yang kasar dengan kadar
organik dan nitrogen yangrendah, tanah ini mudah teroksidasi dengan udara dan
memiliki kadar asam yang kurang baik untuk ditanami.
Bahan organik dapat memperbaiki agregasi tanah (struktur) sehingga dapat
,meningkatkan pori tanah. Nilai BJ yang tinggi menunjukkan bahan organik yang
rendah. Porositas tanadipengaruhi oleh adanya kandungan baan organik tanah,
porositas tinggi menunjukkan bahan organik rendah. Tanah dengan struktur
granvier/remah mempunyai porositsa tanh yang lebih tinggi dibandingkan dengan
struktur pejal tanah yang mengandung lempung karena mempunyai pori-pori makro
yaiku por-pori yang ukurannya besar sehingga sulit menimpan air. Kesuitan
menyimpan air diakibatkan karena air yang terkandung dengan pori makro cenderung
berat sehingga tertarik gaya gravitasi kebawah mengalir menjadi air gravitasi.
Pentingnya struktur tanah untuk mengetahui sifat fisik tanah yang
menggambarkan susunan ruangan partikel-pertikel tanah yang bergabung dengan
yang lain membentuk agregat. Faktor yang mempengaruhi pembentukan tanah antara
lain bahan organik, aktivitas makhluk hidup, tekstur perakaran, organisme, bahan
induk, dan erosi.
4.4 Kemasaman Tanah
Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan, maka diperoleh data
sebagai berikut :
NO JENIS TANAH pH KRITERIA

1 Entisol 7,03 Netral


2 Inceptisol 7,03 Netral
Berdasarkan table diatas dapat dilihat bahwa pada lapisan tanah entisol diukur
dengan pH meter hasil yang diperoleh adalah 7,03 dengan criteria Netral. Begitu pula
dengan tanah Inceptisol yang di ukur dengan menggunakan pH meter diperoleh pH
sebesar 7,03 dengan criteria Netral. Dari hasil pegamatan yang telah dilakukan bahwa
kedua jenis tanah yang berbeda memiliki nilai pH yang sama dengan criteria Netral
sehingga dapat diketahui bahwa tanah Entisol dan Inceptisol baik unutk dijadikan
media bercocok tanam karna pH tanahnya sesuai dengan standar tidak asam dan tidak
basa.

4.5. Konsistensi Tanah


Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan, maka diperoleh data
sebagai berikut :
Nilai
(gram) Jumlah KL JO IP PAM
ketukan
A B C
BC 18.07 21.69 20.87 18 29.28 - 4.09

BL 3,89 28,65 26,80 - 38,24 13,05 -


BG 17,76 36,64 32,84 - 25,19 13,05 4,09

BBW 17,30 26,63 19,91 - 27,56 - -

Konesistensi tanah ditentukan oleh struktur tana. Pentingnya konsistensi tanah


adalah untuk menentukan cara penggarapan tanah yang efisien dan penetrasi akar
tanaman dilapisian tanah bawahan. Pada praktikum kali ini kita mengadakan
pengujian dengan menggunakan angka-angka atterberg yatu : BC,BL,BG dan BBW
pada tanah mediteran.
Pada pengamatan batas cair (BC) digunakan cara metode kuantitatif. Batas cair
yang diperoleh dari perhitungan tersebut menujukkan kadar lengas dari batas cairnya
lebih rendah maka tanah akan mengalir bersama dengan air. Pada batas cair ii massa
tanah tidak lagi dapat mengalir semata-mata oleh gaya yang berat. Akan tetapi masih
dapat juga meluncur kalau dikenai oleh suatu gaya penggerak. Gaya penggerak pada
percobaan ini ditunjukkan oelh alat alat casagrande, dimana alat ini bekerja dengan
sistem gerakan yang menghasilkan 18 ketkan-ketukan. Dari hasil ketukan ini maka di
dapatkan hasil itu. Dari hasil itu kemudian dilakuakan pengovenan untuk menentukan
besar kadar lengas tanahtersebut. Dengan perhitungan menggunakan cara rumus
umum makan didapatkan besar adar lengas tanah entisal adalah 29,287.
Untuk BG, landasan penggolekan harus keras dan rata permukaannya agar pada
saat kita menggolek-golekkan tanah tetao terjaga. Apabila, landasan yang digunakan
berserabut tentunya akan mengganggu permukaan tambang tanah. Misalnya
memberikan kesan retak atau akan mematahkan tambang tanah yang kita buat
walaupun belum mencapai batas gulungannya dari percobaan tersebut diperoleh nilai
BG sebesar 25,19%.
Untuk BBW, istilah plastis dapat kita artikan liat. Pada selisih BT-B6 yang
menunjukkan indeks plastis. Hubungannya dengan pengolahan tanah adalah
menunjukkan tingkat-tingkat tana. JO adalah selisih BL,BG,BL menunjukkan
konsistensi lekat sangat tinggi, BG menunjukkan batas konsistensi liat dan tidak liat.
Pengolahan tanah tidak baik apabila anatara BLA & BL karena struktur tanah peka
terhadap kerusakan. BBW rendah sering dengan BLB yang tinggi sehingga tanah
mudah diolah karena tersedia rentang lengas tanah yang lebar yang baik unruk
mengolah tanah. Persediaan air tertinggi dalam tanah terjadi apabila padasaat tanah
bersifat sangat lita, kejenuhan, kadar air tinggi dan dari percobaan ini diperoleh nilai
BBW sebesar 27,58%
Nilai praktikum yang di peroleh dari keempat batas konsistensi diatas dignaka
untuk menghitung jangka olah tanah (JO), indeks plastisitas (IP) dan persediaan
maksimum (PAM)
Dari hasil perhitungan diperoleh jangka olah tanah entisol adalah 13,05%.
Tanah dengan jangka olah tinggi merupakan tanah yang lebih mudah diolah daripada
tanah dengan jangka rendah. Dengan demikian dapay dikatakan bahwa tanah entisal
merupakan tanah yang mudah untuk diolah.
Pada perhitungan indeks plastisitas tanah entisal sbesar 4,09. Tanah dengan
indeks plasisitas tngii merupakan tanah yang mudah diolah, begitu sebaliknya dengan
nilai idneks plastisitas rendah tanah itu susah diolah.
Dari perhitungan yang telah dilakukan persediaan air maksimum (PAM) tanah
yang entisol sebesar 2,29% nilai yang diperoleh menunjukkan kadar air yang tersedia
bagi tanaman dapat dikatakan tanah entisol emiliki PAM yang baik.

4.6. Warna Tanah


Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan, maka diperoleh data
sebagai berikut :
NO Warna tanah Jenis tanah Hue value Chroma Keterangan
1 KERING 1 Vertisol 7,5 2,5 1 Black
YR
Inceptisol 7,5 8 1 White
YR
2 BASAH II Vertisol 10 2 2 Very dark brown
YR
Inceptisol 10 3 2 Very dark grayish
YR brown
Warna tanah ditentukan oleh cara membandingkan dengan warna yang terdapat
pada buku Munsell Soil Colour Chart, warna dinyatakan dengan 3 satuan yaitu hue,
vlue, dan chroma. Menurut nama yang tercantum dalam lajur buku tersebut, kilap
berhubungan erat dengan pajang gelombang cahaya, niai atau value berhubungan erat
deengan kebersihan suatu warna dari pengaruh warna lain dan kroma yang murnia
relative dri spectrum warna.
Berdasarkan hasil pengamatan warna tanah diatas, terlihat bahwa setiap lapisan
tanah memiliki warna yang berbeda-beda. Pada percobaan pertama dengan tanah
kering berjenis vertisol dengan warna black. Black adalah warna yang mempunyai
nilai Hue = 7,5 YR, Value 2,5 , dan chroma 1. Biasanya ditulis dengan menggunakan
notasi 7,5 YR 2,5/1 menurut buku Munsell Soil Colour Chart.
Pada pengamatan ke dua masih pada tana kering dengan jenis inseptisol dengan
warn white. White adalah warna yang mempunyai nila hue = 7,5 YR, Value = 3 dan
chroma =1. Biasanya ditulis dengan menggunakan notasi 7,5 YR 8/1 menurut
Munsell Soil Colour Chart.
Pada percobaan ke tiga di tanah basah dengan jenis tanah vertisol warna
tanahnya very dark brown. Very dark brown adalah warna tanah yang memiliki hue=
10YR, value= 2 , dan chroma 3.
Pada percobaan ke empat masih pada tanah basah dengan jenis tanah inceptisol
warna tanahnya very dark grayish brown. Very dark grayish brown adalah warna
tanah yang memiliki hue= 10YR, Value=3, dan chroma=2.
Dilihat dari percobaan antara tanah yang satu dengan tanah yang lainnya
terlihat jelas dan nyata perbedaannya. Tanah padaperccobaan pertama berwana black
gelap berarti tanah tersebut mengandung banyak bahan organic berbeda dengan tanah
pada percobaan yang kedua dimana tanahnya berwarna terang yang dinyatakan bahw
kekurangan bahan organic.
Dari pengamatan pada table diatas kita dapat mengetahui sifat-sifat tanah yaitu
dapa mengetahui tanah yang mengandung bahan organic dan membedakan tanah
degan drainase baik maupun buruk.

4.7. Praktikum Lapangan