Anda di halaman 1dari 32

BAB IV

PEMBAHASAN

4.1 Rumah Sakit Umum RA Kartini


4.1.1 Gambaran Umum
Instalasi rawat inap di RSU RA Kartini pada tahun 2014 memiliki
14 ruang perawatan dengan kapasitas tempat tidur masing-masing
sebagai berikut :

Tabel 5. Data jumlah tempat tidur RSU RA.Kartini Tahun 2014


NO RUANGAN JUMLAH TEMPAT TIDUR
1 Ruang cempaka 25
2 Ruang teratai 32
3 Ruang Bougenvil 26
4 Ruang Flamboyan 9
5 Ruang VIP 12
6 Ruang Anggrek 18
7 Ruang Mawar 21
8 Ruang Melati 16
9 Ruang Dahlia 28
10 Ruang ICU 7
11 Ruang Anyelir 14
12 Ruang Kemuning 32
13 Ruang Kenanga 8
14 Ruang Seruni 26
JUMLAH 260

4.1.2 Rekapitulasi Data Statistik Pasien Rawat Inap


Hasil rekapitulasi data statistik RSU RA Kartini pada tahun 2014
adalah sebagai berikut :

Tabel 6. Rekapitulasi Data Statistik Pelayanan Medis RSU RA Kartini


pada tahun 2014

43
NO DATA JUMLAH
1 Jumlah hari perawatan rumah sakit 77.098
2 Jumlah lama dirawat 94.015
3 Jumlah pasien masuk 16.097
4 Jumlah pasien keluar 19.474
5 Jumlah pasien mati 48 jam dirawat 513
6 Jumlah pasien mati 48 jam dirawat 401
7 Jumlah pasien mati keseluruhan 914
8 Jumlah pasien pulang paksa 1398
9 Jumlah pasien yang dirujuk 187

4.1.3 Perhitungan BOR, AvLOS, TOI dan BTO


4.1.3.1 Bed Occupation Rate ( BOR )
BOR adalah presentase tempat tidur yang terisi pada satu satuan
waktu tertentu. Indikator ini memberikan gambaran tentang tinggi
rendahnya tingkat pemakaian tempat tidur di rumah sakit. Nilai ideal BOR
adalah 60-85%.

Rumus penghitungan BOR :

Atau menggunakan Rumus Barber-Johnson :

O : rerata tempat tidur terisi ( )

A : kapasitas tempat tidur tersedia


TT: jumlah tempat tidur siap pakai
t : jumlah hari perhitungan dalam satu satuan waktu

44
Hari perawatan =

Gambar 1. Grafik Perhitungan BOR Ruang Rawat Inap di RSU RA Kartini Tahun
2014

45
Dari grafik diatas, didapatkan nilai BOR ruang rawat inap ada yang kurang dari
standar BOR menurut Depkes RI (60-85%) yaitu: Ruang Mawar (54,25%) dan
Ruang Kenanga (59,8%). Semakin rendah nilai BOR berarti semakinn sedikit
tempat tidur yang digunakan untuk merawat pasien dibanding tempat tidur yang
telah disediakan. Jumlah pasien yang sedikit ini bisa menyebabkan berkurangnya
pendapatan ekonomi bagi pihak rumah sakit. Sementara itu juga didapatkan nilai
BOR ruang rawat inap ada yang lebih dari standar BOR, yaitu Ruang Flamboyan
(87,98%), VIP (88,48%), Anyelir (107,83%), ICU (94,83%). Tingginya tingkat
BOR berarti semakin tinggi pula penggunaan tempat tidur yang ada untuk
perawatan pasien. Semakin banyak pasien yang dilayani, maka semakin berat
beban kerja petugas kesehatan di unit tersebut. Akibatnya pasien bisa kurang
mendapat perhatian yang dibutuhkan dan kemungkinan infeksi nosokomial juga
meningkat.Hal ini dapat menyebabkan berkurangnya kepuasan pasien,
keselamatan pasien, dan kualitas pelayanan medis. Ruang Anyelir memiliki nilai
BOR yang melebihi 100%, hal ini disebabkan setelah pembangunan di RSU RA
Kartini ruangan Anyelir menjadi lebih sempit, terdapat tambahan tempat tidur di
lorong ruangan yang tidak dimasukkan ke dalam data jumlah tempat tidur
ruangan, sementara untuk hari perawatan tetap dihitung sesuai jumlah pasien saat
sensus harian.
Gambar 2. Grafik Perhitungan BOR/Bulan RSU RA Kartini Pada Tahun 2014
Dari grafik perhitungan BOR pada periode Januari-Desember 2014 yang terlihat
pada gambar diatas, didapatkan nilai BOR terkecil pada bulan Maret yaitu sebesar
60,58%. Pada bulan April dan Mei nilai BOR meningkat dibandingkan bulan
sebelumnya, akan tetapi nilai ini kemudian turun pada bulan Juni mencapai nilai
77,79% dan kembali meningkat pada bulan Agustus dan September. Terjadi
sedikit penurunan pada bulan Oktober yaitu sebesar 79,81% dan meningkat lagi
pada bulan November dan Desember.

x100%

= 76,43%

Dari perhitungan di atas maka dapat diambil kesimpulan bahwa nilai BOR
tahun 2014 di RSU RA Kartini sudah efisien sesuai standar Depkes (60-85%) .

47
4.1.3.2 Average Length of Stay ( AvLOS)

AvLOS adalah rata-rata lama dirawatnya seorang pasien.


Indikator ini disamping memberikan gambaran tingkat efisiensi juga
dapat memberikan gambaran mutu pelayanan. Secara umum LOS yang
ideal adalah antara 6-9 hari.

Rumus penghitungan AvLOS :

Gambar 3. Perhitungan AvLOS/Bulan RSU RA Kartini Pada Tahun 2014


Berdasarkan grafik perhitungan AvLOS/bulan periode Januari-Desember 2014
yang terlihat pada gambar di atas, didapatkan nilai AvLOS tertinggi pada bulan
Januari sebesar 4,94 hari. Nilai AvLOS naik-turun dengan nilai yang hampir sama.
Nilai terendah didapatkan sebesar 3,99 hari pada bulan Maret. Dari perhitungan di
atas maka dapat diambil kesimpulan bahwa nilai AvLOS tahun 2014 di RSU RA
Kartini sebesar 4,77 hari.
AvLOS Rumah Sakit 1 Tahun =

= 4,27 hari

Dari perhitungan di atas maka dapat diambil kesimpulan bahwa nilai AvLOS
tahun 2014 di RSU RA Kartini sebesar 4,27 hari.

4.1.3.3 Turn Over Interval ( TOI )

TOI adalah rata-rata hari, dimana tempat tidur kosong dari saat terisi
sebelumnya ke saat terisi berikutnya. Indikator ini juga dapat memberikan
gambaran tingkat efisiensi dari penggunaan tempat tidur. Idealnya tempat tidur
kosong hanya dalam waktu 1-3 hari.

Rumus penghitungan TOI :

TOI =

Tabel 7. TOI RSU RA Kartini periode tahun 2014.

NO NAMA RUANGAN TOI


1. Ruang Cempaka 1,72
2. Ruang Teratai 1,85
3. Ruang Bougenvil 1,15
4. Ruang Flamboyan 0,48
5. Ruang VIP 0,47
6. Ruang Anggrek 1,01
7. Ruang Mawar 1,73
8. Ruang Melati 0,92
9. Ruang Dahlia 1,08
10. Ruang ICU 0,20
11. Ruang Anyelir -0,36

49
12. Ruang Kemuning 1,08
13. Ruang Kenanga 3,79
14. Ruang Seruni 9,37

Dari tabel tersebut didapatkan 5 ruang rawat inap yang berada dibawah standar
nilai TOI (1-3 hari), yaitu Ruang Flamboyan (0,48 hari), VIP (0,47 hari), Ruang
Melati (0, 92 hari), ICU (0,2 hari), Ruang Anyelir (-0,36 hari). Semakin kecil
nilai TOI berarti semakin singkat saat tempat tidur menunggu pasien berikutnya.
Ini berarti tempat tidur sangat produktif, apalagi jika TOI = 0, berarti tempat tidur
tidak pernah kosong 1 hari pun dan segera digunakan lagi untuk pasien
selanjutnya. Hal ini sangat menguntungkan secara ekonomi bagi pihak
manajemen rumah sakit, akan tetapi bisa merugikan bagi pasien karena tempat
tidur tidak bisa disiapkan dengan baik. Akibatnya, kejadian infeksi nosokomial
mungkin bisa meningkat, beban kerja tim medis juga meningkat sehingga
kepuasan dan keselamatan pasien bisa terancam.

Untuk Ruang Anyelir, nilai TOI kurang dari 0 hari. Ini dikarenakan perhitungan
jumlah tempat tidur yang tidak sesuai dengan kondisi yang sebenarnya. Untuk
melayani pasien rawat inap di Ruang Anyelir seringkali menggunakan tempat
tidur tambahan yang tidak dimasukkan dalam perhitungan nilai TOI.

Selain itu bila semakin tinggi nilai TOI berarti semakin lama tempat tidur
menganggur, sehingga tempat tidur tidak produltif. Kondisi ini tidak
menguntungkan dari segi ekonomi bagi pihak manajemen rumah sakit.

50
Gambar 4. Perhitungan TOI/Bulan Pada Tahun 2014

TOI Rumah Sakit 1 Tahun =

=1,14 hari

Dari perhitungan di atas maka dapat diambil kesimpulan bahwa nilai TOI RAU
RA Kartini tahun 2014 sudah sesuai dengan standar TOI Depkes (1-3 hari).

51
4.1.3.4 Bed Turn Over ( BTO )
BTO adalah frekuensi pemakaian tempat tidur instalasi rawat inap
dalam satu satuan waktu tertentu (biasanya satu tahun). Indikator ini
memberikan gambaran tingkat efisiensi dari pemakaian tempat tidur.
Idealnya selama satu tahun, satu tempat tidur rata-rata dipakai 40-50 kali.

Tabel 8. BTO RSU RA Kartini periode tahun 2014.

NO NAMA RUANGAN BTO


1. Ruang Cempaka 50,02
2. Ruang Teratai 59,16
3. Ruang Bougenvil 110,73
4. Ruang Flamboyan 92,33
5. Ruang VIP 88,50
6. Ruang Anggrek 75,44
7. Ruang Mawar 96,38
8. Ruang Melati 89,79
9. Ruang Dahlia 75,43
10. Ruang ICU 91,00
11. Ruang Anyelir 79,93
12. Ruang Kemuning 57,50
13. Ruang Kenanga 39,50
14. Ruang Seruni 15,46
Semakin besar angka BTO berarti setiap tidur yang tersedia digunakan
oleh semakin banyak pasien secara bergantian. Hal ini tentu menguntungkan
bagi pihak rumah sakit karena tempat tidur yang telah disediakan aktif
menghasilkan pemasukan. Nilai BTO yang besar (>50) didapatkan hampir di
semua ruang rawat inap, kecuali Ruang Kenanga (39,50) dan Ruang Seruni
(15,46).

Perhitungan BTO RSU RA Kartini dalam 1 tahun

52
=84,5 pasien
Dari perhitungan tersebut disimpulkan bahwa BTO RSU RA Kartini
tahun 2014 tidak sesuai dengan standar Depkes (40-50 pasien)

53
4.1.3.5 NDR (Net Death Rate)
Net Death Rate atau angka kematian bersih menunjukkan proporsi seluruh
pasien rawat inap yang meninggal setelah mendapat perawatan lebih atau
sama dengan 48 jam dalam periode waktu tertentu.
Rumus penghitungan NDR :

Gambar 5. Perhitungan NDR/Bulan Pada Tahun 2014


Berdasarkan dari grafik perhitungan NDR/bulan periode Januari-
Desember 2014 yang terlihat pada gambar diatas, didapatkan nilai NDR pada
bulan Januari sebesar 26,5 kemudian menurun hingga bulan Maret mencapai
nilai terendah yaitu 20,1 meningkat pada bulan April kemudian menurun
kembali pada bulan selanjutnya hingga bulan Juni, meningkat pada bulan Juli
sebesar 24,2 kemudian menurun pada bulan Agustus dengan nilai sebesar
22,3 meningkat pada bulan September dan sedikit menurun pada bulan
Oktober. Nilai tertinggi dicapai pada bulan November sebesar 31,0. Kemudian
menurun pada bulan Desember sebesar 24,9 . Dari perhitungan di atas maka
dapat diambil kesimpulan bahwa nilai NDR tahun 2014 di RSU RA Kartini
sebesar 23,70 (Sesuai dengan standar NDR Depkes sebesar <25).
4.1.3.6 GDR (Gross Death Rate)
Gross Death Rate atau angka kematian kasar menunjukkan proporsi seluruh
pasien rawat inap yang meninggal dalam periode waktu tertentu.
Rumus penghitungan GDR :
GDR = Jumlah pasien meninggal x 1000
Jumlah pasien keluar

Gambar 6. Perhitungan GDR/Bulan di RSU RA Kartini Pada Tahun 2014


Berdasarkan dari grafik perhitungan GDR/bulan periode Januari-Desember 2014
yang terlihat pada gambar diatas, didapatkan nilai GDR tertinggi terjadi pada
bulan Januari dengan nilai 49,6. Nilai perhitungan GDR terendah yang
didapatkan yaitu sebesar 34,2 terjadi pada bulan Desember. Dari perhitungan di
atas maka dapat diambil kesimpulan bahwa rata-rata nilai GDR tahun 2014 di
RSU RA Kartini sebesar 41,70%o (Ini sesuai dengan standar GDR Depkes yaitu
sebesar <45).

56
4.1.3.7 Grafik Barber-Johnson
Berdasarkan indikator indikator diatas dapat kita masukkan
kedalam grafik Barber-Johnson untuk menilai apakah pelayanan
medis di RSU RA. Kartini sudah efisien.

Gambar 7. Grafik efisiensi RSU RA Kartini Tahun 2014


Titik Barber Johnson terdapat di dalam daerah efisiensi.

57
4.2 Puskesmas Mlonggo
4.2.1 Gambaran Umum
Instalasi rawat inap di Puskesmas Mlonggo pada tahun 2014 memiliki
6 ruang perawatan dengan total tempat tidur sebanyak 14 unit.

Tabel 9. Daftar Ruang Rawat Inap Puskesmas Mlonggo

No. Nama Ruangan Jumlah Tempat Tidur


1 Ruang Merpati 2
2 Ruang Garuda 2
3 Ruang Rajawali 2
4 Ruang Kepodang 2
5 Ruang Jatayu 3
6 Ruang Kasuari 3

4.2.2 Rekapitulasi Data Statistik Pasien Rawat Inap


Hasil rekapitulasi data statistik Puskesmas Mlonggo pada tahun 2014
adalah sebagai berikut :
Tabel 10. Rekapitulasi Data Statistik Pelayanan Medis di Puskesmas
Mlonggo periode tahun 2014.

NO DATA JUMLAH
1 Jumlah hari perawatan rumah sakit 3294
2 Jumlah lama dirawat 3684
3 Jumlah pasien masuk 1448
4 Jumlah pasien keluar 1450
5 Jumlah pasien mati 48 jam dirawat 0
6 Jumlah pasien mati 48 jam dirawat 0
7 Jumlah pasien mati keseluruhan 0

4.2.3 Perhitungan BOR, AvLOS, TOI dan BTO


4.2.3.1 Bed Occupation Rate ( BOR )
BOR adalah presentase tempat tidur yang terisi pada satu satuan
waktu tertentu. Indikator ini memberikan gambaran tentang tinggi
rendahnya tingkat pemakaian tempat tidur di puskesmas. Nilai ideal
BOR adalah 60-85%

TabeL 11. BOR Puskesmas Mlonggo tahun 2014.

58
Bulan BOR
Januari 69,12%
Februari 78,82%
Maret 63,59%
April 70,95%
Mei 65,20%
Juni 51,66%
Juli 64,51%
Agustus 74,65%
September 65,71%
Oktober 82,48%
Nopember 88,81%
Desember 90,78%

BOR 1 Tahun =

= X100%

= 64,29 %

Berdasarkan perhitungan BOR diatas, nilai BOR pada Puskesmas


Mlonggo sudah sesuai dengan standar Depkes (60-85%)

4.2.3.2 Average Length of Stay ( AvLOS)


AvLOS adalah rata-rata lama dirawatnya seorang pasien. Indikator
ini disamping memberikan gambaran tingkat efisiensi juga dapat
memberikan gambaran mutu pelayanan. Secara umum LOS yang
ideal adalah antara 6-9 hari.

59
Tabel 12. AvLOS Puskesmas Mlonggo periode Januari Desember 2014

BULAN AvLOS
Januari 2,32
Februari 2,53
Maret 2,16
April 2,62
Mei 2,23
Juni 2,83
Juli 3,45
Agustus 2,23
September 2,76
Oktober 2,82
Nopember 2,93
Desember 2,28

AvLOS dalam 1 tahun =

= 2,54 3 hari

Berdasarkan perhitungan diatas disimpulkan bahwa nilai Av LOS


Puskesmas Mlonggo belum sesuai dengan Standar Depkes (6-9 hari).

4.2.3.3 Turn Over Interval ( TOI )


TOI adalah rata-rata hari, dimana tempat tidur kosong dari saat terisi
sebelumnya ke saat terisi berikutnya. Indikator ini juga dapat
memberikan gambaran tingkat efisiensi dari penggunaan tempat tidur.
Idealnya tempat tidur kosong hanya dalam waktu 1-3 hari.

Tabel 13. TOI Puskesmas Mlonggo periode Januari Desember 2014

60
BULAN TOI
Januari 1
TOI Februari 1 dalam 1 tahun=
Maret 1
April 1
Mei 1
Juni 2
Juli 1
Agustus 0
September 1
Oktober 0
Nopember 0
Desember 0

= 1,26 1
Berdasarkan perhitungan diatas disimpulkan bahwa nilai TOI Puskesmas
Mlonggo sudah sesuai dengan Standar Depkes (1-3 hari).

4.2.3.4 Bed Turn Over ( BTO )


BTO adalah frekuensi pemakaian tempat tidur instalasi rawat
inap dalam satu satuan waktu tertentu (biasanya satu tahun). Indikator
ini memberikan gambaran tingkat efisiensi dari pemakaian tempat
tidur. Idealnya selama satu tahun, satu tempat tidur rata-rata dipakai
40-50 kali.

Tabel 14. BTO Puskesmas Mlonggo periode Januari Desember 2014

BULAN BTO
Januari 9
Februari 9
Maret 9
April 9
Mei 10
Juni 8
Juli 12
Agustus 10
61
September 10
Oktober 11
Nopember 11
Desember 12
BTO selama BTO satu tahun =

= 103,57 104

Berdasarkan perhitungan BTO diatas, nilai BTO pada Puskesmas


Mlonggo belum sesuai dengan standar Depkes (40-50)

4.2.3.5 Grafik Barber-Johnson


Berdasarkan indikator indikator diatas dapat kita
masukkan kedalam grafik Barber-Johnson untuk menilai apakah
pelayanan medis di puskesmas Mlonggo sudah efisien.

62
Gambar 8. Grafik efisiensi Puskesmas Mlonggo Tahun 2014
Titik Barber Johnson terdapat di luar daerah efisiensi.

4.2.3.6 NDR (Net Death Rate)

63
Rumus penghitungan NDR :

=0
4.2.3.7 GDR (Gross Death Rate)
Rumus penghitungan GDR :
GDR = Jumlah pasien meninggal x 1000
Jumlah pasien keluar

=0

4.3 Puskesmas Pakis Aji


4.3.1 Gambaran Umum
Instalasi rawat inap di Puskesmas Pakis Aji pada tahun 2014
memiliki 6 ruang perawatan dengan total tempat tidur sebanyak 14
unit.

Tabel 15. Jumlah tempat tidur Puskesmas Pakis Aji

64
No. Nama Ruangan Jumlah Tempat Tidur
1 Ruang Flamboyan A 2
2 Ruang Flamboyan B 2
3 Ruang Cempaka 1 2
4 Ruang Cempaka 2 2
5 Ruang Anggrek 3
6 Ruang Bougenvil 3

4.3.2 Rekapitulasi Data Statistik Pasien Rawat Inap


Hasil rekapitulasi data statistik Puskesmas Pakisaji pada tahun 2014
adalah sebagai berikut :
Tabel 16. Rekapitulasi Data Statistik Pelayanan Medis di Puskesmas
Pakisaji periode tahun 2014.

NO DATA JUMLAH
1 Jumlah hari perawatan rumah sakit 2371
2 Jumlah lama dirawat 2516
3 Jumlah pasien masuk 982
4 Jumlah pasien keluar 984
5 Jumlah pasien mati 48 jam dirawat 0
6 Jumlah pasien mati 48 jam dirawat 0
7 Jumlah pasien mati keseluruhan 0

1.3.3 Perhitungan BOR, AvLOS, TOI dan BTO


4.3.3.1 Bed Occupation Rate ( BOR )
BOR adalah presentase tempat tidur yang terisi pada satu satuan
waktu tertentu. Indikator ini memberikan gambaran tentang tinggi
rendahnya tingkat pemakaian tempat tidur di puskesmas. Nilai
ideal BOR adalah 60-85%

Tabel. 17 BOR puskesmas Pakisaji tahun 2014

BULAN BOR
Januari 47,70
Februari 75,61
Maret 69,35
April 63,57
Mei 55,53

65
Juni 40,95
Juli 41,94
Agustus 51,38
September 51,67
Oktober 58,53
Nopember 60,71
Desember 84,56

BOR 1 Tahun =

= 46,27 %
Berdasarkan perhitungan BOR diatas, nilai BOR pada Puskesmas
Pakis Aji belum sesuai dengan standar Depkes (60-85%)

4.3.3.2 Average Length of Stay ( AvLOS)


AvLOS adalah rata-rata lama dirawatnya seorang pasien.
Indikator ini disamping memberikan gambaran tingkat efisiensi juga
dapat memberikan gambaran mutu pelayanan. Secara umum LOS yang
ideal adalah antara 6-9 hari.

Tabel 24. AvLOS Puskesmas Pakisaji periode Januari Desember 2014

BULAN AvLOS
Januari 3,45
Februari 3,01
Maret 3,17

66
April 2,62
Mei 2,67
Juni 2,56
Juli 2,84
Agustus 3,18
September 3,19
Oktober 3,02
Nopember 3,45
Desember 3,41

AvLOS dalam 1 tahun =

= 2,56 3 hari

Berdasarkan perhitungan diatas disimpulkan bahwa nilai Av LOS


Puskesmas Pakis Aji belum sesuai dengan Standar Depkes (6-9 hari).

4.3.3.3 Turn Over Interval ( TOI )


TOI adalah rata-rata hari, dimana tempat tidur kosong dari saat terisi
sebelumnya ke saat terisi berikutnya. Indikator ini juga dapat
memberikan gambaran tingkat efisiensi dari penggunaan tempat tidur.
Idealnya tempat tidur kosong hanya dalam waktu 1-3 hari.
Tabel 25. TOI Puskesmas Pakisaji periode Januari Desember 2014

BULAN TOI
Januari 4
Februari 1
Maret 1
April 2
Mei 2
Juni 4
Juli 4
Agustus 3
September 3
Oktober 2
November 2
Desember 1

67
TOI=

= 2,80 3

Berdasarkan perhitungan diatas disimpulkan bahwa nilai TOI


Puskesmas Pakis Aji sudah sesuai dengan Standar Depkes (1-3 hari).

4.3.3.4 Bed Turn Over ( BTO )


BTO adalah frekuensi pemakaian tempat tidur instalasi rawat inap dalam
satu satuan waktu tertentu (biasanya satu tahun). Indikator ini
memberikan gambaran tingkat efisiensi dari pemakaian tempat tidur.
Idealnya selama satu tahun, satu tempat tidur rata-rata dipakai 40-50 kali.

Tabel 27. BTO puskesmas Pakisaji tahun 2014.

BULAN BTO
Januari 4
Februari 7
Maret 7
April 7
Mei 6
Juni 5
Juli 5
Agustus 5
September 5
Oktober 6
Nopember 5
Desember 7

BTO selama satu tahun =

68
= 70,28 70

Berdasarkan perhitungan BTO diatas, nilai BTO pada Puskesmas


Pakis Aji belum sesuai dengan standar Depkes (40-50).

4.3.3.5 Grafik Barber-Johnson


Berdasarkan indikator indikator diatas dapat kita masukkan
kedalam grafik Barber-Johnson untuk menilai apakah pelayanan
medis di Puskesmas Pakisaji sudah efisien.

69
Gambar 9. Grafik efisiensi Puskesmas Pakis Aji Tahun 2014
Titik Barber Johnson terdapat di luar daerah efisiensi.

4.3.3.6 NDR (Net Death Rate)


Rumus penghitungan NDR :

70
=

=0
4.3.3.7 GDR (Gross Death Rate)
Rumus penghitungan GDR :
GDR = Jumlah pasien meninggal x 1000
Jumlah pasien keluar

=0

71
4.4 Rekapitulasi Hasil Perhitungan Efisiensi RSU RA Kartini, Puskesmas
Mlonggo dan Puskesmas Pakisaji periode tahun 2014
Tabel 28. Rekapitulasi Hasil Perhitungan Efisiensi RSU RA Kartini, Puskesmas
Mlonggo dan Puskesmas Pakisaji periode tahun 2014

No Indikator Standar Standar RSU RA Puskesmas Puskesmas


Barber- Pelayanan Kartini Mlonggo Pakis Aji
Johnson Departemen
Kesehatan RI
1 BOR 75 85% 60-85% 76,43% 64,29% 46,27%
2 Av LOS 3 12 6-9 4,27 2,54 2,56
(hari)
3 TOI 1-3 1-3 1,14 1,26 2,80
4 BTO >30 40-50 84,5 103,57 70,28
5 NDR () <25 <25 23,70 0 0
6 GDR () <45 <45 41,70 0 0
7 Efisiensi Efisien Efisien Efisien Belum efisien Belum efisien

72
73
74