Anda di halaman 1dari 8

D

Oleh:

TITA ANASTASIA WARUWU

PROGRAM STUDI DIPLOMA IV BIDAN PENDIDIK


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
RUMAH SAKIT HAJI MEDAN
TAHUN 2016
JOB SHEET
RESUSITASI BAYI BARU LAHIR

PROGRAM STUDI : DIII Kebidanan


MATA KULIAH : Bayi Baru Lahir
MATERI : Resusitasi pada bayi baru lahir

OBJEKTIF PERILAKU MAHASISWA


Mahasiswa dapat :

1. Mempersiapkan alat dan bahan untuk perasat resusitasi pada BBL asfiksia.
2. Melaksanakan prosedur dan langkah-langkah resusitasi pada BBL asfiksia
secara sistematis.

PETUNJUK

1. Siapkan bahan dan alat yang diperlukan


2. Baca dan pelajari lembar kerja / job sheet yang sudah disediakan
3. Ikuti petunjuk instruktur
4. Laporkan hasil kerja setelah selesai melakukan latihan

KESELAMATAN KERJA

1. Pusatkan perhatian dan konsentrasi pada prosedur tindakan


2. Sebelum prosedur, dekatkan alat dan bahan
3. Gunakan alat sesuai dengan kegunaannya
4. Perhatikan teknik septik dan aseptik dalam melakukan prosedur

PERALATAN DAN BAHAN

1. Radiant Warmer / meja


2. Panthoom bayi
3. Penghisap lendir De Lee
4. Jam
5. Air bersih dan sabun untuk cuci tangan
6. Handuk
7. Selimut
8. Sarung tangan
9. Larutan klorin 0,5 %

REFERENSI :

1. Saifuddin Abdul Bari, Dkk, 2002, Buku panduan praktis pelayanan kesehatan
Maternal dan Neonatal, Jakarta: Bina Pustaka sarwono Prawirohardjo
2. WHO/9.1, halaman 7-11, 13-15, 25
3. Life Saving Skills; halaman 6.3, 6.4, 6.13 (tambahan)
4. Neonatal Resucitation, halaman 2.7-2.12, 2.22-2.23, 4.19-4.20, 4.22.
PROSEDUR PELAKSANAAN

NO. LANGKAH KERJA GAMBAR

AIRWAY TAHAP I LANGKAH AWAL

1 Jaga bayi tetap hangat

Letakkan bayi di atas kain ke-1


yang ada di atas perut ibu atau
sekitar 45 cm dari perineum

Selimuti bayi dengan kain


tersebut, wajah, dada dan perut
tetap terbuka, potong tali pusat

Pindahkan bayi yang telah


diselimuti kain ke-1 ke atas kain
ke-2 yang telah digelar di tempat
resusitasi

Jaga bayi tetap diselimuti wajah


dan dada terbuka di bawah
pemancar panas.

2 Atur posisi bayi

Letakkan bayi di atas kain ke-1


yang ada di atas ibu atau sekitar
45 cm dari perineum
Posisikan kepala bayi pada posisi
menghidu yaitu kepala sedikit
ekstensi dengan mengganjal bahu.
3 Gunakan alat penghidap DeLee
dengan cara sebagai berikut:

Isap lendir mulai dari mulut


dahulu, kemudian hidung
Lakukan pengisapan saat alat
pengisap ditarik keluar, tidak pada
waktu dimasukkan
Jangan lakukan pengisapan terlalu
dalam yaitu jangan lebih dari 5
cm ke dalam mulut karena dapat
menyebabkan denyut jantung bayi
menjadi lambat atau bayi tiba-tiba
berhenti bernapas. Untuk hidung
jangan melewati cuping hidung.

4 Keringkan dan rangsang bayi

Keringkan bayi dengan kain ke-1


mulai dari muka, kepala dan
bagian tubuh lainnya dengan
sedikit tekanan. Tekanan ini dapat
merangsang BBL mulai menangis
Rangsangan taktil berikut dapat
juga dilakukan untuk merangsang
BBL mulai bernapas:
Menepuk/ menyentil
telapak kaki; atau
Menggosok punggung/
perut/ dada/ tungkai bayi
dengan telapak tangan
Ganti kain ke-1 yang telah basah
dengan kain ke-2 yang kering
dibawahnya
Selimuti bayi dengan kain kering
tersebut, jangan menutupi muka
dan dada agar bisa memantau
pernapasan bayi.
5 Atur kembali posisi kepala bayi

Atur kembali posisi bayi menjadi


posisi menghidu

Langkah penilaian bayi

Lakukan penilaian apakah bayi bernapas normal, tidak bernapas atau megap-megap

Bila bayi bernapas normal: lakukan asuhan pasca resusitasi


Bila bayi megap-megap atau tidak bernapas: mulai lakukan ventilasi bayi.

BREATHING (VTP)
6 Pasang sungkup

Pilih sungkup yang tepat, tempatkan sungkup


pada muka bayi, sehingga menutupi dagu,
mulut dan hidung.

Pastikan sungkup menutup secara rapat


sehingga tidak ada udara keluar.
Pasang dan pegang sungkup agar menutupi
dagu, mulut dan hidung.
8 Peras kantong hanya dengan dua jari atau
seluruh tangan tergantung besarnya balon
dengan tekanan yang tidak terlalu kuat.

9 jika dada tidak mengembang, atur kembali


posisi kepala dan sungkup muka, lalu coba
lagi dengan tekanan yang sedikit lebih besar.

Lakukan ventilasi dengan kecepatan 40 60


10 kali per menit. Tekanan ventilasi untuk nafas
pertama 30-40 cmH2O, setelah nafas pertama
butuh tekanan 15- 20 cmH2O.

Setelah 1 menit, periksa pernafasan


spontan dan periksa denyut
jantungnya. Jika bayi mulai menangis,
hentikan ventilasi dan amati
pernafasan, bila pernafasan normal
(30-60 kali/menit), tidak perlu
resusitasi lanjut.

Jika pernafasan lambat (<30 kali per


menit), atau terjadi retraksi, lanjutkan
ventilasi dan lakukan kompresi dada

KOMPRESI DADA

Cari
1 sternu dan atur posisi jari-jari tepat di
bawah garis putting di tengah dada.
11
Tekan langsung rongga dada dengan ibu jari,
lakukan penekanan sternum sekitar 1,5 cm
tiga kali setiap 2 detik dan kemudian berikan
satu kali pernafasan. Tiap periode 3 kali
kompresi dan satu kali ventilasi diberikan
dalam 2 detik. Dalam 1 menit memberikan 90
kompresi dan 30 ventilasi (ratio 3 : 1).

Cara lain :
Melingkari dada dengan kedua tangan dan
menempatkan kedua jari pada sternum dan
jari lainnya di punggung bayi.

Kedua ibu jari digunakan menekan sternum


sambil jari-jari lainnya memberikan tahanan
yang diperlukan dari bagian belakang.

Nilai denyut jantung setelah 30 detik. Jika


denyut jantung masih <80, lanjutkan ventilasi
dan kompresi jantung. Jika denyut jantung
>80, lanjutkan ventilasi sampai timbul nafas
spontan, tetapi hentikan kompresi jantung.
Jika denyut jantung <60 kali/menit, siapkan
rujukan.

Asuhan pasca resusitasi

Setelah tindakan resusitasi, diperlukan asuhan pasca resusitasi yang merupakan perawatan intensif
selama 2 jam pertama. Asuhan yang diberikan sesuai dengan hasil resusitasi (asuhan pasca
resusitasi)yaitu:

Jika resusitasi berhasil


Jika perlu rujukan
Jika resusitasi tidak berhasil

PENCEGAHAN INFEKSI

12 Masih menggunakan sarung tangan,


masukkan peralatan kedalam wadah yang
berisi larutan klorin 0,5% dan cuci tangan
dengan larutan klorin, kemudian lepaskan
sarung tangan secara terbalik dan rendam
selama 10 menit.

Cuci tangan hingga lengan dengan sabun dan


13 air bersih di bawah air mengalir kemudian
keringkan tangan dengan handuk bersih.

EVALUASI

1. Seluruh langkah kerja diselesaikan dengan urutan yang benar.


2. Aturan keselamatan kerja diikuti selama prosedur pelaksanaan
3. Memperhatikan prinsip pencegahan Infeksi
4. Memperhatikan prinsip pencegahan infeksi

Anda mungkin juga menyukai