Anda di halaman 1dari 13

Diagnosis Kesulitan Belajar dan Pengajaran

Remedial
Diagnosis Kesulitan Belajar dan Pengajaran Remedial Oleh: Nelson Siahoho Abstrak: Seringkali
kita menemukan banyak siswa yang mengalami kesulitan belajar bahkan setiap ujian semester
dilakukan pada saat pembagian rapor sering kita temukan pada rapor siswa belum tuntas (BT)
bahkan tuntas setelah remedial. Namun lain persoalannya apabila dalam satu mata pelajaran
banyak nilai siswa yang nilainya anjlok (angka merah) terlebih lagi mencapai angka 50 % siswa
tidak tuntas apalagi kelas RSBI. Dapat dibayangkan jika seorang guru profesional dan sudah
lulus sertifikasi bila sampai ada ditemukan siswa hampir 50 % tidak tuntas sesuai kriteria
ketuntasan minimal (KKM) apalagi ada faktor x dan motivasi lain dibalik tindakannya hingga
membuat siswa remedial, kinerja guru yang seperti itu layak dipertanyakansesuai dengan kode
etik guru. Berdasarkan hasil survey dan pengalaman penulis banyak faktor yang membuat siswa
sering mengalami kesulitan dalam belajar sehingga harus dilakukan remedial (perbaikan). Kata
kunci: Diagnosis, belajar dan remedial Pendahuluan Guru perlu berpijak pada fakta dan
kenyataan. Seringkali guru tidak menyadari bahwa siswa yang dihadapi dalam suatu kelas tidak
sama antara satu dengan yang lainnya. Siswa menpunyai perbedaan dalam banyak. Perbedaan itu
diantaranya, kemampuan, bakat, minat yang mereka miliki, berbeda dalam ketajaman melihat
dan mendengar termasuk berbeda latar belakang kehidupannya. Guru tidak boleh
menyamaratakan atau beranggapan bahwa semua anak mempunyai kemampuan dan kecepatan
belajar yang sama, sehingga dalam waktu yang sama semua siswa diangap akan dapat
menyelesaikan isi pelajaran yang sama. Kenyataannya di dalam kelas selalu ada siswa yang
cepat dalam belajar, ada yang sedang atau normal dan ada siswa yang lamban dalam mengikuti
pelajaran. Siswa yang lambat dalam belajar sering mangalami kesulitan, sebab setiap akhir
kegiataan belajar siswa belum mampu untuk menguasai seluruh materi yang seharusnya sudah
dikuasai, guru telah melanjutkan pada materi berikutnya. Akibat lain yang timbul pada diri siswa
berkemungkinan tidak ada perhatian terhadap pelajaran yang diajarkan oleh guru atau bisa saja
tidak mempunyai minat untuk belajar atau tidak bersemangat untuk belajar. Guru hendaknya
dapat memberikan perhatian khusus terhadap siswa yang lambat dalam belajar atau mengalami
masalah atau kesulitan dalam mencapai tujuan pelajaran yang ditetapkan. Guru mempunyai
tanggung jawab yang lebih luas selain sebagai pengajar atau pembelajar juga sebagai pendidik.
Guru sebagai pembelajar bertanggung jawab untuk membantu siswa dalam mencapai
perkembangan yang optimal. Karena itu guru diharapkan dapat menciptakan situasi kegiatan
dalam belajar dan pembelajaran di sekolah yang efektif dan efisien, sehingga siswa diharapkan
mencapai hasil belajar yang optimal. Untuk mencapai hasil belajar yang optimal bagi siswa,
maka setiap kesulitan atau masalah yang timbul dalam belajar semestinya dapat segera
diidentifikasi dan segera diberikan bantuan atau perbaikan. Dalam konteks ini setiap guru
dituntut kemampuannya untuk mampu memberikan bantuan pada siswa yang mengalami
kesulitan atau masalah dalam belajar. Apalagi jika guru sudah dikatakan profesional dengan
embel-embel Guru Profesional telah lulus sertifikasi dan mendapatkan tunjangan profesi.
Layakkah kita disebut guru profesional apabila kinerja kita ketika dilakukan penilaian (ujian
semster) hampir 50 % siswa tidak mampu mencapai KKM bahkan harus remedial. Apabila
seorang guru menngajar 6 kelas berapa banyak waktu yang tersisa untuk melakukan remedial.
Anehnya diduga ada guru tidak menuntaskan pengajaran remedialnya sebelum pembagian rapor
dilakukan, sehingga meniumbulkan protes dari orangtua siswa. Jika proses belajar yang
diharapkan tidak sesuai dengan kenyataan, maka banyak faktor yang menyebabkan terjadinya
masalah. Masalah belajar adalah suatu kondisi tertentu yang dialami oleh siswa dan menghambat
kelancaran proses belajarnya. Kondisi tersebut dapat berkaitan dengan keadaan dirinya berupa
kelemahan-kelemahan yang dimilikinya dan dapat juga berkenaan dengan lingkungan yang tidak
menguntungkan bagi dirinya. Masalah-masalah belajar ini tidak hanya dialami oleh siswa-siswa
yang lambat dalam belajar tetapi juga dapat menimpa siswa-siswa yang pandai atau cerdas. Jenis
Masalah Belajar Adapun jenis-jenis masalah belajar di sekolah secara umum dapat
dikelompokkan kepada siswa-siswa yang mengalami keterlambatan akademik, yaitu keadaan
siswa yang diperkirakan memiliki intelegensi yang cukup tinggi, tetapi tidak dapat
memanfaatkan secara optimal. Kemudian kecepatan dalam belajar, yaitu keadaan siswa yang
memiliki bakat akademik yang cukup tinggi atau memilki IQ 130 atau lebih, tetapi masih
memerlukan tugas-tugas khusus untuk memenuhi kebutuhan dan kemampuan belajarnya yang
amat tinggi. Ada siswa sangat lambat dalam belajar, yaitu keadaan siswa yang memilki bakat
akademik yang kurang memadai dan perlu dipertimbangkan untuk mendapatkan pendidikan atau
pengajaran khusus. Kurang motivasi belajar, yaitu keadaan siswa yang kurang bersemangat
dalam belajar, mereka seolah-olah tampak jera dan malas. Bersikap dan kebiasaan buruk dalam
belajar, yaitu kondisi siswa yang kegiatannya tau perbuatan belajarnya sehari-hari antagonistik
dengan seharusnya, seperti suka menunda-nunda tugas, mengulur-ulur waktu, membenci guru,
tidak mau bertanya untuk hal-hal yang tidak diketahui dan sebagainya. Sering tidak masuk
sekolah, yaitu siswa-siswa yang sering tidak hadir atau menderita sakit dalam jangka waktu yang
cukup lama sehingga kehilanggan sebagian besar kegiatan belajarnya. Menurut Modul
Diagnostik Kesulitan Belajar dan Pengajaran Remedial, (1983) beberapa ciri-ciri tingkah laku
yang merupakan pernyataan manifestasi gejala kesulitan belajar antara lain, menunjukan hasil
belajar yang rendah di bawah rata-rata nilai yang dicapai oleh kelompoknya atau dibawah
potensi yang dimilikinya. Hasil yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang telah dilakukan.
Mungkin ada murid yang selalu berusaha untuk belajar dengan giat tetapi nilai yang dicapainya
selalu rendah Lambat dalam melakukan tugas-tugas kegiatan belajar. Ia selalu tertinggal dari
teman-temannya dalam menyelesaikan tugas-tugas sesuai dengan waktu yang tersedia.
Menunjukkan sikap yang kurang wajar, seperti acuh tak acuh, menentang, berpura-pura, dusta
dan sebagainya. Menunjukkan tingkah laku yang berkelainan, seperti membolos, datang
terlambat, tidak mengerjakan pekerjaan rumah, menganggu dalam atau di luar kelas, tidak mau
mencatat pelajaran, tidak teratur dalam kegiatan belajar, mengasingkan diri, tersisihkan, tidak
mau bekerja sama dan sebagainya. Menunjukkan gejala emosional yang kurang wajar, seperti :
pemurung, mudah tersinggung, pemarah, tidak atau kurang gembira dalam menghadapi situasi
tertentu misalnya dalam menghadapi nilai rendah tidak menunjukkan adanya perasaan sedih atau
menyesal, dan sebagainya. Menuurt Burton (1952 : 622-624) mengidentifikasi bahwa seorang
siswa itu dapat dipandang atau dapat diduga sebagai mengalami kesulitan belajar kalau yang
bersangkutan menunjukkan kegagalan (failure) tertentu dalam mencapai tujuan-tujuan
belajarnya. Kegagalan belajar menurut Burton yaitu , pertama, siswa dikatakan gagal, apabila
dalam batas waktu tertentu yang bersangkutan tidak mencapai ukuran tingkat keberhasilan atau
tingkat penguasaan (mastery level) minimal dalam pelajaran tertentu seperti yang telah
ditetapkan oleh orang dewasa atau guru (criterion referenced). Dalam kontek sistem pendidikan
di Indonesia angka nilai batas lulus (passing grade, grade-standard-basis) itu ialah angka 6 atau
60% atau C (60% dari tingkat ukuran yang diharapkan atau ideal), siswa ini dapat digolongkan
kepada lower group. Kedua, siswa dikatakan gagal, apabila yang bersangkutan tidak dapat
mengerjakan atau mencapai prestasi yang semestinya ( berdasarkan tingkat ukuran kemampuan :
intelegensi : bakat ) ia diramalkan (predicted) akan dapat menyerjakan atau mencapai prestasi
tersebut, siswa ini digolongkan kedalam under achievers. Ketiga, siswa dikatakan gagal, kalau
yang bersangkutan tidak dapat mewujudkan tugas-tugas perkembangan termasuk penyesuaian
sosisal, dengan pola organismik (his/organismic pattern) pada fase perkembangan tertentu seperti
yang berlaku bagi kelompok sosial dan usia yang bersangkutan (norm referenced) siswa yang
bersangkutan, dapat dikatagorikan ke dalam slow learners. Keempat, siswa dikatakan gagal,
kalau yang bersangkutan tidak berhasil mencapai tingkat penguasaan (mastery level) yang
diperlukan sebagai persyaratan (prerequisisi) bagi kelanjutan (continuity) pada tingkat pelajaran
berikutnya, siswa ini dapat digolongkan kedalam slow learners atau belum matang (immature)
sehingga harus menjadi pengulang. Intinya bahwa seseorang siswa dapat diduga mengalami
kesulitan belajar, apabila yang bersangkutan tidak berhasil mencapai taraf kualifikasi hasil
belajar tertentu. Seperti ukuran kriteria yang dinyatakan dalam ukuran tingkat kapasitas atau
kemampuannya. Prayitno (1997) menyatakan ada masalah-masalah belajar yang lain yang
dialami siswa yaitu seperti, tugas-tugas pelajaran tidak dapat dikerjakan dengan baik karena
materi pelajaran yang menunjang penyelesaian tugas itu tidak dikuasai. Tidak mengulang
kembali materi yang diberikan oleh guru pada pelajaran sebelumnya sebagai persiapan untuk
menghadapi pelajaran berikutnya. Apabila terpaksa tidak dapat mengikuti pelajaran, tidak
berupaya mengejar ketinggalan agar materi pelajaran berikutnya dapat diikuti dengan baik. Tidak
dapat mengkaitkan atau melihat urutan yang teratur dan saling menunjang antara materi
pelajaran terdahulu dengan materi pelajaran berikut-nya. Tidak berusaha menguasai materi
pelajaran terdahulu sebagai persiapan untuk menghadapi materi berikutnya. Mengalami kesulitan
dalam belajar karena materi pelajaran tidak berurutan, sehingga materi pelajaran terdahulu tidak
menunjang untuk mempelajari materi pelajaran berikut. Tidak dapat memahami materi pelajaran
secara lengkap dan menyeluruh. Mengalami kesulitan dalam menyelesaikan tugas pelajaran
karena tidak mengerti perintah/petujuk mengerjakan tugas tersebut. Tidak menpelajari kembali
materi pelajaran terdahulu untuk menunjang penguasaan materi pelajaran berikutnya. Dalam
belajar untuk mempersiapkan ulangan/ujian, materi pelajaran tidak disusun sedemikian rupa
sehingga materi yang terdahulu tidak membantu menguasai materi berikutnya. Kesulitan
membaca buku pelajaran karena materi tidak berurutan, terhalang untuk mengikuti pelajaran dan
/atau kegiatan sekolah tertentu karena tidak memiliki pengetahuan dan keterampilan dasar untuk
menguasai materi pelajaran/kegiatan tersebut. Ketidakmampuan siswa dalam menjawab soal-
soal ulangan/ujian disebabkan karena kurangnya pengetahuan dasar yang menunjang terhadap
jawaban soal-soal ulangan/ujian tersebut, mengalami kesulitan memahami bahan pelajaran baru
karena bahan-bahan terdahulu tidak atau kurang dikuasai, siswa kesulitan memahami kesulitan
pelajaran karena tidak memahami konsep-konsep dasar, ungkapan-ungkapan dan /atau istilah-
istilah yang harus dikuasai terlebih dahulu. Menurut Oemar Hamalik (1983:112) secara garis
besar faktor-faktor timbulnya masalah belajar pada siswa dapat dikelompokkan ke dalam dua
kategori, yaitu faktor internal dan eksternal. Fator internal antara lain gangguan secara fisik,
ketidakseimbangan mental, kelemahan emosional dan kelemahan yang disebabkan oleh
kebiasaan dan sikap yang salah. Sedangkan faktor eksternal adalah lingkungan sekolah, antara
lainsifat kurikulum yang kurang fleksibel, terlalu berat beban belajar (siswa) dan untuk mengajar
(guru), metode mengajar yang kurang memadai dan tidak menarik, hubungan guru dengan guru,
guru dengan siswa, serta siswa dengan siswa yang kurang harmonis, kurangnya alat dan sumber
untuk kegiatan belajar, lingkungan keluarga dan lingkungan masyarakat. Diagnosis Kesulitan
Belajar Diagnosis kesulitan belajar sering diartikan sebagai suatu proses pemeriksaan terhadap
hal-hal yang tidak beres atau bermasalah dimana kegiatan untuk menentukan jenis penyakit
dengan meneliti gejala-gejalanya, proses menentukan hakekat kelainan atau ketidakmampuan
melalui penelitian terhadap fakta yang dijumpai, selanjutnya untuk menentukan permasalahan
yang dihadapi. Diagnosis merupakan penentuan jenis masalah, kelainan atau ketidakmampuan
dengan meneliti latar belakang penyebabnya atau dengan cara menganalisis gejala yang tampak.
Kesulitan Belajar merupakan gejala yang tampak pada peserta didik yang ditandai dengan
prestasi belajar yang rendah atau dibawah kriteria yang telah ditetapkan atau kriteria minimal.
Prestasi belajarnya lebih rendah dibandingkan prestasi teman-temannya, atau lebih rendah
dibandingkan prestasi belajar sebelumnya. Menunjukkan adanya jarak antara prestasi belajar
yang diharapkan dengan presiasi yang dicapai serta prestasi belajar yang dicapai tidak sesuai
dengan kapasitas inteligensinya. Kesulitan belajar peserta didik tidak selalu disebabkan oleh
inteligensinya yang rendah. Dengan demikian diagnosis kesulitan belajar adalah proses
menentukan masalah atau ketidakmampuan peserta didik dalam belajar dengan meneliti latar
belakang penyebabnya dan ataiu dengan cara menganalisis gejala-gejala kesulitan atau hambatan
belajar yang tampak. Apabila ditinjau dari sisi permasalahan peserta didik kesulitan belajar
menurut Warkitri, dkk (2010) adalah kekacauan belajar (learning disorder), belajar anak
terganggu karena adanya respon yang bertentangan sehingga anak bingung untuk memahami
bahan belajar. Ketidakmampuan belajar (learning disability) atau anak tidak mampu belajar atau
menghindari kegiatan belajar dg berbagai sebab atau alasan, learning disfunctions: proses belajar
anak tidak berfungsi dengan baik meskipun anak normal, under achiever: prestesi belajar anak
rerndah tetapi potensi intelektualnya diatas normal serta lambat belajar (slow learner) yaitu anak
lambat dalam proses belajarnya sehingga membutuhkan waktu yang lebih lama. Menurut Sumadi
Suryobrata (2010) terdiri dari grade level yaitu anak tidak naik kelas sampai dua kali, age level
yaitu umur anak tidak sesuai dengan kelasnya, inteligence level yaitu anak mengalami under
achiever serta general level yaitu anak mengalami gangguan dalam beberapa mata pelajaran.
Dengan demikian ciri-ciri anak yang mengalami kesulitan belajar adalah prestasi belajarnya
rendah, usaha yang dilakukan tidak sebanding dengan hasilnya, lamban mengerjakan tugas, sikap
acuh dalam mengkiuti pelajaran, menunjukkan perilaku menyimpang serta emosional (mudah
marah, tersinggung, rendah diri dan sebagainya. Cara mengenal anak berkesulitan belajar adalah
dengan teknik non-tes seperti wawancara, observasi, angket,sosiometri, biografi, pemeriksaan
kesehatan, dokumentasi. Dengan teknik tes yaitu psikotes dan achievement. Sedangkan
pelaksanaan diagnosis kesulitan belajar dapat dilakukanb dengan mengidentifikasi anak yang
mengalami kesulitan belajar, mengumpulkan data dan analisis data, menentukan masalah belajar
yang dirasakan/dialami (diagniosis), saran pemberian bantuan (prognosis), penanganan/
mengatasi kesulitan belajar serta evaluasi dan tindak lanjut. Pengajaran Remedial Pengajaran
remedial sering diartikan sebagai bersifat kuratif atau korektif, pengajaran khusus yang bertujuan
untuk menyembuhkan atau memperbaiki proses pembelajaran yang jadi penghambat atau yang
dapat menimbulkan masalah atau kesulitan belajar anak atau pengajaran individual yang
diberikan kepada anak yang mengalami kesulitab belajar, agar anak mampu mengikuti
pembelajaran secara klasikal sedhingga hasil belajarnya optimal serta pelaksanaan pengajaran
remedial harus disesuaikan dengan karakteristik kesulitan belajar yang dialami anak. Pengajaran
Remedial penting dilakukan karena dalam proses pembelajaran tidak semua anak didik mencapai
hasil belajar sesuai dengan kemampuan-nya. Intinyan dalam setiap pembelajaran pasti ada anak
yang mengalami kesulitan belajar. Adanya kresulitan belajar anak berarti belum tercapai
perubahan tingkahlaku sebagai hasil belajar serta untuk mengatasi kesulitan belajar diperlukan
teknik bimbingan balajar salah satu diantaranya pengajaran remedial. Pengajaran Remedial
bertujuan untuk membantu anak mencapai hasil belajar sesuai dengan tujuan pengajaran yang
telah ditetapkan dalam kurikulum. Secara khusus tujuan pengajaran remedial membantu anak
yang mengalami kesulitan belajar agar mencapai prestasi belajar yang diharapkan melalui
penyembuhan atau perbaikkan dalam aspek kepribadian atau dalam proses belajar mengajar.
Fungsi pengajaran remedial yaitu fungsi korektif, pemahaman, penyesuaian, pengayaan,
akselerasi dan fungsi terapeutik. Pendekatan Pengajaran Remedial terdiri pendekatan kuratif
yaitu pengulangan, pengayaan dan penguatan serta percepatan. Pendekatan preventif yaitu
kelompok belajar homogen, layanan individual, pengajaran kelas khusus serta pendekatan
pengembangan. Metode Pembelajaran Remedial terdiri dari metode pemberian tugas, diskusi,
tanya jawab, kerja kelompok, tutor sebaya serta metode pengajaran individual. Pelaksanaan
Pengajaran Remedial dapat dilakukan dengan penelaahan kembali kasus, pemilihan alternatif
tindakan, pemberian layanan khusus, pengukuran kembali hasil belajar serta Re-evaluasi dan Re-
diagnostik. Studi kasus kesulitan belajar merupakan penelitian awal terhadap siswa yang diduga
mengalami kesulitan belajar, sebelum tindakan perbaikan dilakukan. Teknik mempelajari siswa
yang berkesulitan belajar secara mendalam untuk membantun penyesuaian dirinya menjadi lebih
baik. Ciri khas studi kasus, dalam mengumpulkan data harus lengkap, diperoleh dari berbagai
pihak, bersifat rahasia, kontinyu, dan ilmiah serta dalam mengumpulkan data harus integratif dan
komprehensif. Integratif artinya menmggunakan berbagai teknik pengumpulan data.
Komprehensif artinya data yang dikumpulkan harus lengkap meliputi seluruh aspek pribadi
siswa. Adapun data yang diperlukan, identitas siswa, data kesehatan, hasil belajar, hasil
psiokotes, cita-cita, data keluarga,lingkungan, pendidikan, ekstra kurikuler, kebiasaan, data
aktual mengenai permasalahan yang dirasakan siswa saaat kini. Langkah- Langkah
Penyembuhan/Perbaikan yaitu identitas siswa, pengumpulan dan analisis data, menentukan
masalah (diagnosis), saran pemecahan masalah (prognosis), pelaksanaan pemecahan masalah
(konseling) serta tindak lanjut. Simpulan Guru dituntut memberikan perhatian khusus terhadap
siswa yang mengalami kesulitan dalam mencapai tujuan pelajaran yang ditetapkan sebab guru
mempunyai tanggung jawab yang lebih luas sebagai pengajar dan pendidik. Beberapa ciri
tingkah laku manifestasi gejala kesulitan belajar, menunjukan hasil belajar rendah, hasil yang
dicapai tidak seimbang dengan usaha yang telah dilakukan, menunjukkan sikap yang kurang
wajar, menunjukkan tingkah laku yang berkelainan serta menunjukkan gejala emosional yang
kurang wajar. Pengajaran remedial penting dilakukan karena dalam proses pembelajaran tidak
semua anak didik mencapai hasil belajar sesuai dengan kemampuannya. Pelaksanaan pengajaran
remedial dapat dilakukan dengan penelaahan kembali kasus, pemilihan alternatif tindakan,
pemberian layanan khusus, pengukuran kembali hasil belajar serta re-evaluasi dan re-diagnostik.
Studi kasus kesulitan belajar merupakan penelitian awal terhadap siswa yang diduga mengalami
kesulitan belajar, sebelum tindakan perbaikan dilakukan. (dihimpun dan disarikan dari berbagai
sumber).
Posted 10th January 2013 by SMP NEGERI 11 KOTA JAMBI

SMP NEGERI 11 KOTA JAMBI

PENGEMBANGAN KOMPETENSI GURU


PEMUTAKHIRAN PROFESI GURU

KURIKULUM 2013 DAN IMPLEMENTASINYA

REVOLUSI BELAJAR DAN PERUBAHAN KURIKULUM

Komite sekolah

kurikulum 2013

Pengawas Sekolah

Guru Berkinerja

TANTANGAN POLITIK TAHUN 2014

Learning Based dan Profesi Guru Abad 21

SERTIFIKASI GURU

Mungkinkah Pengawas Sekolah Kembali Jadi Guru Biasa?

Penilaian Kinerja Guru dan Pembinaan Karir

Penilaian Kinerja Guru dan Pembinaan Karir

Kegaduhan Politik Jelang Pemilu 2014

Kurikulum 2013 dan Revolusi Belajar

Sumberdaya Manusia dan Persaingan Global

Uji Kompetensi Menguji Profesionalisme Guru dan Dosen

Analisis Kemampuan Siswa SMPN 11 Jambi Lolos Finalis Dalam Lomba LPIR
Melalui Shared Learning

Baperjakat dan Profesionalisme Guru

Kurikulum Bermutu dan Deep Learning

Karakteristik Karya Tulis Ilmiah


LPIR Ajang Mengasah Kemampuan Siswa Meneliti

Peningkatan Mutu Layanan BK Dalam Era Globalisasi

Kreativitas Siswa dan Ketrampilan Berpikir

Guru Profesional dan Tuntutan Pendidikan Bermutu

Problematika Guru dan Persaingan Global

Globalisasi dan Tuntutan SDM Efektif

Diagnosis Kesulitan Belajar dan Pengajaran Remedial

Konseling Klinikal dan Mengasah Kecerdasan Siswa di Sekolah

Psikologi Belajar dan Motivasi Belajar

PSIKOLOGI

TEORI PEMBELAJARAN BANDURA DAN IMPLEMENTASINYA

KURIKULUM

REFORMASI DAN PENILAIAN KINERJA GURU, OLEH : Nelson Sihaloho

CATATAN PEMBINAAN KESISWAAN

PENDIDIKAN

PENILAIAN KINERJA GURU

PSIKOLOGI BELAJAR

BIMBINGAN DAN KONSELING

KINERJA GURU BERSERTIFIKASI

Cara Belajar Abad2 1

Kreativitas Siswa

CARA BELAJAR PADA ABAD 21


KARYA TULIS ILMIAH

CARA BELAJAR

PENGEMBANGAN PROFESI KEPSEK

PSIKOLOGI

GURU PROFESIONAL

SOFT SKILL

Diagnosis Kesulitan Belajar dan Pengajaran


Remedial
Diagnosis Kesulitan Belajar dan Pengajaran Remedial Oleh: Nelson Siahoho Abstrak: Seringkali
kita menemukan banyak siswa yang mengalami kesulitan belajar bahkan setiap ujian semester
dilakukan pada saat pembagian rapor sering kita temukan pada rapor siswa belum tuntas (BT)
bahkan tuntas setelah remedial. Namun lain persoalannya apabila dalam satu mata pelajaran
banyak nilai siswa yang nilainya anjlok (angka merah) terlebih lagi mencapai angka 50 % siswa
tidak tuntas apalagi kelas RSBI. Dapat dibayangkan jika seorang guru profesional dan sudah
lulus sertifikasi bila sampai ada ditemukan siswa hampir 50 % tidak tuntas sesuai kriteria
ketuntasan minimal (KKM) apalagi ada faktor x dan motivasi lain dibalik tindakannya hingga
membuat siswa remedial, kinerja guru yang seperti itu layak dipertanyakansesuai dengan kode
etik guru. Berdasarkan hasil survey dan pengalaman penulis banyak faktor yang membuat siswa
sering mengalami kesulitan dalam belajar sehingga harus dilakukan remedial (perbaikan). Kata
kunci: Diagnosis, belajar dan remedial Pendahuluan Guru perlu berpijak pada fakta dan
kenyataan. Seringkali guru tidak menyadari bahwa siswa yang dihadapi dalam suatu kelas tidak
sama antara satu dengan yang lainnya. Siswa menpunyai perbedaan dalam banyak. Perbedaan itu
diantaranya, kemampuan, bakat, minat yang mereka miliki, berbeda dalam ketajaman melihat
dan mendengar termasuk berbeda latar belakang kehidupannya. Guru tidak boleh
menyamaratakan atau beranggapan bahwa semua anak mempunyai kemampuan dan kecepatan
belajar yang sama, sehingga dalam waktu yang sama semua siswa diangap akan dapat
menyelesaikan isi pelajaran yang sama. Kenyataannya di dalam kelas selalu ada siswa yang
cepat dalam belajar, ada yang sedang atau normal dan ada siswa yang lamban dalam mengikuti
pelajaran. Siswa yang lambat dalam belajar sering mangalami kesulitan, sebab setiap akhir
kegiataan belajar siswa belum mampu untuk menguasai seluruh materi yang seharusnya sudah
dikuasai, guru telah melanjutkan pada materi berikutnya. Akibat lain yang timbul pada diri siswa
berkemungkinan tidak ada perhatian terhadap pelajaran yang diajarkan oleh guru atau bisa saja
tidak mempunyai minat untuk belajar atau tidak bersemangat untuk belajar. Guru hendaknya
dapat memberikan perhatian khusus terhadap siswa yang lambat dalam belajar atau mengalami
masalah atau kesulitan dalam mencapai tujuan pelajaran yang ditetapkan. Guru mempunyai
tanggung jawab yang lebih luas selain sebagai pengajar atau pembelajar juga sebagai pendidik.
Guru sebagai pembelajar bertanggung jawab untuk membantu siswa dalam mencapai
perkembangan yang optimal. Karena itu guru diharapkan dapat menciptakan situasi kegiatan
dalam belajar dan pembelajaran di sekolah yang efektif dan efisien, sehingga siswa diharapkan
mencapai hasil belajar yang optimal. Untuk mencapai hasil belajar yang optimal bagi siswa,
maka setiap kesulitan atau masalah yang timbul dalam belajar semestinya dapat segera
diidentifikasi dan segera diberikan bantuan atau perbaikan. Dalam konteks ini setiap guru
dituntut kemampuannya untuk mampu memberikan bantuan pada siswa yang mengalami
kesulitan atau masalah dalam belajar. Apalagi jika guru sudah dikatakan profesional dengan
embel-embel Guru Profesional telah lulus sertifikasi dan mendapatkan tunjangan profesi.
Layakkah kita disebut guru profesional apabila kinerja kita ketika dilakukan penilaian (ujian
semster) hampir 50 % siswa tidak mampu mencapai KKM bahkan harus remedial. Apabila
seorang guru menngajar 6 kelas berapa banyak waktu yang tersisa untuk melakukan remedial.
Anehnya diduga ada guru tidak menuntaskan pengajaran remedialnya sebelum pembagian rapor
dilakukan, sehingga meniumbulkan protes dari orangtua siswa. Jika proses belajar yang
diharapkan tidak sesuai dengan kenyataan, maka banyak faktor yang menyebabkan terjadinya
masalah. Masalah belajar adalah suatu kondisi tertentu yang dialami oleh siswa dan menghambat
kelancaran proses belajarnya. Kondisi tersebut dapat berkaitan dengan keadaan dirinya berupa
kelemahan-kelemahan yang dimilikinya dan dapat juga berkenaan dengan lingkungan yang tidak
menguntungkan bagi dirinya. Masalah-masalah belajar ini tidak hanya dialami oleh siswa-siswa
yang lambat dalam belajar tetapi juga dapat menimpa siswa-siswa yang pandai atau cerdas. Jenis
Masalah Belajar Adapun jenis-jenis masalah belajar di sekolah secara umum dapat
dikelompokkan kepada siswa-siswa yang mengalami keterlambatan akademik, yaitu keadaan
siswa yang diperkirakan memiliki intelegensi yang cukup tinggi, tetapi tidak dapat
memanfaatkan secara optimal. Kemudian kecepatan dalam belajar, yaitu keadaan siswa yang
memiliki bakat akademik yang cukup tinggi atau memilki IQ 130 atau lebih, tetapi masih
memerlukan tugas-tugas khusus untuk memenuhi kebutuhan dan kemampuan belajarnya yang
amat tinggi. Ada siswa sangat lambat dalam belajar, yaitu keadaan siswa yang memilki bakat
akademik yang kurang memadai dan perlu dipertimbangkan untuk mendapatkan pendidikan atau
pengajaran khusus. Kurang motivasi belajar, yaitu keadaan siswa yang kurang bersemangat
dalam belajar, mereka seolah-olah tampak jera dan malas. Bersikap dan kebiasaan buruk dalam
belajar, yaitu kondisi siswa yang kegiatannya tau perbuatan belajarnya sehari-hari antagonistik
dengan seharusnya, seperti suka menunda-nunda tugas, mengulur-ulur waktu, membenci guru,
tidak mau bertanya untuk hal-hal yang tidak diketahui dan sebagainya. Sering tidak masuk
sekolah, yaitu siswa-siswa yang sering tidak hadir atau menderita sakit dalam jangka waktu yang
cukup lama sehingga kehilanggan sebagian besar kegiatan belajarnya. Menurut Modul
Diagnostik Kesulitan Belajar dan Pengajaran Remedial, (1983) beberapa ciri-ciri tingkah laku
yang merupakan pernyataan manifestasi gejala kesulitan belajar antara lain, menunjukan hasil
belajar yang rendah di bawah rata-rata nilai yang dicapai oleh kelompoknya atau dibawah
potensi yang dimilikinya. Hasil yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang telah dilakukan.
Mungkin ada murid yang selalu berusaha untuk belajar dengan giat tetapi nilai yang dicapainya
selalu rendah Lambat dalam melakukan tugas-tugas kegiatan belajar. Ia selalu tertinggal dari
teman-temannya dalam menyelesaikan tugas-tugas sesuai dengan waktu yang tersedia.
Menunjukkan sikap yang kurang wajar, seperti acuh tak acuh, menentang, berpura-pura, dusta
dan sebagainya. Menunjukkan tingkah laku yang berkelainan, seperti membolos, datang
terlambat, tidak mengerjakan pekerjaan rumah, menganggu dalam atau di luar kelas, tidak mau
mencatat pelajaran, tidak teratur dalam kegiatan belajar, mengasingkan diri, tersisihkan, tidak
mau bekerja sama dan sebagainya. Menunjukkan gejala emosional yang kurang wajar, seperti :
pemurung, mudah tersinggung, pemarah, tidak atau kurang gembira dalam menghadapi situasi
tertentu misalnya dalam menghadapi nilai rendah tidak menunjukkan adanya perasaan sedih atau
menyesal, dan sebagainya. Menuurt Burton (1952 : 622-624) mengidentifikasi bahwa seorang
siswa itu dapat dipandang atau dapat diduga sebagai mengalami kesulitan belajar kalau yang
bersangkutan menunjukkan kegagalan (failure) tertentu dalam mencapai tujuan-tujuan
belajarnya. Kegagalan belajar menurut Burton yaitu , pertama, siswa dikatakan gagal, apabila
dalam batas waktu tertentu yang bersangkutan tidak mencapai ukuran tingkat keberhasilan atau
tingkat penguasaan (mastery level) minimal dalam pelajaran tertentu seperti yang telah
ditetapkan oleh orang dewasa atau guru (criterion referenced). Dalam kontek sistem pendidikan
di Indonesia angka nilai batas lulus (passing grade, grade-standard-basis) itu ialah angka 6 atau
60% atau C (60% dari tingkat ukuran yang diharapkan atau ideal), siswa ini dapat digolongkan
kepada lower group. Kedua, siswa dikatakan gagal, apabila yang bersangkutan tidak dapat
mengerjakan atau mencapai prestasi yang semestinya ( berdasarkan tingkat ukuran kemampuan :
intelegensi : bakat ) ia diramalkan (predicted) akan dapat menyerjakan atau mencapai prestasi
tersebut, siswa ini digolongkan kedalam under achievers. Ketiga, siswa dikatakan gagal, kalau
yang bersangkutan tidak dapat mewujudkan tugas-tugas perkembangan termasuk penyesuaian
sosisal, dengan pola organismik (his/organismic pattern) pada fase perkembangan tertentu seperti
yang berlaku bagi kelompok sosial dan usia yang bersangkutan (norm referenced) siswa yang
bersangkutan, dapat dikatagorikan ke dalam slow learners. Keempat, siswa dikatakan gagal,
kalau yang bersangkutan tidak berhasil mencapai tingkat penguasaan (mastery level) yang
diperlukan sebagai persyaratan (prerequisisi) bagi kelanjutan (continuity) pada tingkat pelajaran
berikutnya, siswa ini dapat digolongkan kedalam slow learners atau belum matang (immature)
sehingga harus menjadi pengulang. Intinya bahwa seseorang siswa dapat diduga mengalami
kesulitan belajar, apabila yang bersangkutan tidak berhasil mencapai taraf kualifikasi hasil
belajar tertentu. Seperti ukuran kriteria yang dinyatakan dalam ukuran tingkat kapasitas atau
kemampuannya. Prayitno (1997) menyatakan ada masalah-masalah belajar yang lain yang
dialami siswa yaitu seperti, tugas-tugas pelajaran tidak dapat dikerjakan dengan baik karena
materi pelajaran yang menunjang penyelesaian tugas itu tidak dikuasai. Tidak mengulang
kembali materi yang diberikan oleh guru pada pelajaran sebelumnya sebagai persiapan untuk
menghadapi pelajaran berikutnya. Apabila terpaksa tidak dapat mengikuti pelajaran, tidak
berupaya mengejar ketinggalan agar materi pelajaran berikutnya dapat diikuti dengan baik. Tidak
dapat mengkaitkan atau melihat urutan yang teratur dan saling menunjang antara materi
pelajaran terdahulu dengan materi pelajaran berikut-nya. Tidak berusaha menguasai materi
pelajaran terdahulu sebagai persiapan untuk menghadapi materi berikutnya. Mengalami kesulitan
dalam belajar karena materi pelajaran tidak berurutan, sehingga materi pelajaran terdahulu tidak
menunjang untuk mempelajari materi pelajaran berikut. Tidak dapat memahami materi pelajaran
secara lengkap dan menyeluruh. Mengalami kesulitan dalam menyelesaikan tugas pelajaran
karena tidak mengerti perintah/petujuk mengerjakan tugas tersebut. Tidak menpelajari kembali
materi pelajaran terdahulu untuk menunjang penguasaan materi pelajaran berikutnya. Dalam
belajar untuk mempersiapkan ulangan/ujian, materi pelajaran tidak disusun sedemikian rupa
sehingga materi yang terdahulu tidak membantu menguasai materi berikutnya. Kesulitan
membaca buku pelajaran karena materi tidak berurutan, terhalang untuk mengikuti pelajaran dan
/atau kegiatan sekolah tertentu karena tidak memiliki pengetahuan dan keterampilan dasar untuk
menguasai materi pelajaran/kegiatan tersebut. Ketidakmampuan siswa dalam menjawab soal-
soal ulangan/ujian disebabkan karena kurangnya pengetahuan dasar yang menunjang terhadap
jawaban soal-soal ulangan/ujian tersebut, mengalami kesulitan memahami bahan pelajaran baru
karena bahan-bahan terdahulu tidak atau kurang dikuasai, siswa kesulitan memahami kesulitan
pelajaran karena tidak memahami konsep-konsep dasar, ungkapan-ungkapan dan /atau istilah-
istilah yang harus dikuasai terlebih dahulu. Menurut Oemar Hamalik (1983:112) secara garis
besar faktor-faktor timbulnya masalah belajar pada siswa dapat dikelompokkan ke dalam dua
kategori, yaitu faktor internal dan eksternal. Fator internal antara lain gangguan secara fisik,
ketidakseimbangan mental, kelemahan emosional dan kelemahan yang disebabkan oleh
kebiasaan dan sikap yang salah. Sedangkan faktor eksternal adalah lingkungan sekolah, antara
lainsifat kurikulum yang kurang fleksibel, terlalu berat beban belajar (siswa) dan untuk mengajar
(guru), metode mengajar yang kurang memadai dan tidak menarik, hubungan guru dengan guru,
guru dengan siswa, serta siswa dengan siswa yang kurang harmonis, kurangnya alat dan sumber
untuk kegiatan belajar, lingkungan keluarga dan lingkungan masyarakat. Diagnosis Kesulitan
Belajar Diagnosis kesulitan belajar sering diartikan sebagai suatu proses pemeriksaan terhadap
hal-hal yang tidak beres atau bermasalah dimana kegiatan untuk menentukan jenis penyakit
dengan meneliti gejala-gejalanya, proses menentukan hakekat kelainan atau ketidakmampuan
melalui penelitian terhadap fakta yang dijumpai, selanjutnya untuk menentukan permasalahan
yang dihadapi. Diagnosis merupakan penentuan jenis masalah, kelainan atau ketidakmampuan
dengan meneliti latar belakang penyebabnya atau dengan cara menganalisis gejala yang tampak.
Kesulitan Belajar merupakan gejala yang tampak pada peserta didik yang ditandai dengan
prestasi belajar yang rendah atau dibawah kriteria yang telah ditetapkan atau kriteria minimal.
Prestasi belajarnya lebih rendah dibandingkan prestasi teman-temannya, atau lebih rendah
dibandingkan prestasi belajar sebelumnya. Menunjukkan adanya jarak antara prestasi belajar
yang diharapkan dengan presiasi yang dicapai serta prestasi belajar yang dicapai tidak sesuai
dengan kapasitas inteligensinya. Kesulitan belajar peserta didik tidak selalu disebabkan oleh
inteligensinya yang rendah. Dengan demikian diagnosis kesulitan belajar adalah proses
menentukan masalah atau ketidakmampuan peserta didik dalam belajar dengan meneliti latar
belakang penyebabnya dan ataiu dengan cara menganalisis gejala-gejala kesulitan atau hambatan
belajar yang tampak. Apabila ditinjau dari sisi permasalahan peserta didik kesulitan belajar
menurut Warkitri, dkk (2010) adalah kekacauan belajar (learning disorder), belajar anak
terganggu karena adanya respon yang bertentangan sehingga anak bingung untuk memahami
bahan belajar. Ketidakmampuan belajar (learning disability) atau anak tidak mampu belajar atau
menghindari kegiatan belajar dg berbagai sebab atau alasan, learning disfunctions: proses belajar
anak tidak berfungsi dengan baik meskipun anak normal, under achiever: prestesi belajar anak
rerndah tetapi potensi intelektualnya diatas normal serta lambat belajar (slow learner) yaitu anak
lambat dalam proses belajarnya sehingga membutuhkan waktu yang lebih lama. Menurut Sumadi
Suryobrata (2010) terdiri dari grade level yaitu anak tidak naik kelas sampai dua kali, age level
yaitu umur anak tidak sesuai dengan kelasnya, inteligence level yaitu anak mengalami under
achiever serta general level yaitu anak mengalami gangguan dalam beberapa mata pelajaran.
Dengan demikian ciri-ciri anak yang mengalami kesulitan belajar adalah prestasi belajarnya
rendah, usaha yang dilakukan tidak sebanding dengan hasilnya, lamban mengerjakan tugas, sikap
acuh dalam mengkiuti pelajaran, menunjukkan perilaku menyimpang serta emosional (mudah
marah, tersinggung, rendah diri dan sebagainya. Cara mengenal anak berkesulitan belajar adalah
dengan teknik non-tes seperti wawancara, observasi, angket,sosiometri, biografi, pemeriksaan
kesehatan, dokumentasi. Dengan teknik tes yaitu psikotes dan achievement. Sedangkan
pelaksanaan diagnosis kesulitan belajar dapat dilakukanb dengan mengidentifikasi anak yang
mengalami kesulitan belajar, mengumpulkan data dan analisis data, menentukan masalah belajar
yang dirasakan/dialami (diagniosis), saran pemberian bantuan (prognosis), penanganan/
mengatasi kesulitan belajar serta evaluasi dan tindak lanjut. Pengajaran Remedial Pengajaran
remedial sering diartikan sebagai bersifat kuratif atau korektif, pengajaran khusus yang bertujuan
untuk menyembuhkan atau memperbaiki proses pembelajaran yang jadi penghambat atau yang
dapat menimbulkan masalah atau kesulitan belajar anak atau pengajaran individual yang
diberikan kepada anak yang mengalami kesulitab belajar, agar anak mampu mengikuti
pembelajaran secara klasikal sedhingga hasil belajarnya optimal serta pelaksanaan pengajaran
remedial harus disesuaikan dengan karakteristik kesulitan belajar yang dialami anak. Pengajaran
Remedial penting dilakukan karena dalam proses pembelajaran tidak semua anak didik mencapai
hasil belajar sesuai dengan kemampuan-nya. Intinyan dalam setiap pembelajaran pasti ada anak
yang mengalami kesulitan belajar. Adanya kresulitan belajar anak berarti belum tercapai
perubahan tingkahlaku sebagai hasil belajar serta untuk mengatasi kesulitan belajar diperlukan
teknik bimbingan balajar salah satu diantaranya pengajaran remedial. Pengajaran Remedial
bertujuan untuk membantu anak mencapai hasil belajar sesuai dengan tujuan pengajaran yang
telah ditetapkan dalam kurikulum. Secara khusus tujuan pengajaran remedial membantu anak
yang mengalami kesulitan belajar agar mencapai prestasi belajar yang diharapkan melalui
penyembuhan atau perbaikkan dalam aspek kepribadian atau dalam proses belajar mengajar.
Fungsi pengajaran remedial yaitu fungsi korektif, pemahaman, penyesuaian, pengayaan,
akselerasi dan fungsi terapeutik. Pendekatan Pengajaran Remedial terdiri pendekatan kuratif
yaitu pengulangan, pengayaan dan penguatan serta percepatan. Pendekatan preventif yaitu
kelompok belajar homogen, layanan individual, pengajaran kelas khusus serta pendekatan
pengembangan. Metode Pembelajaran Remedial terdiri dari metode pemberian tugas, diskusi,
tanya jawab, kerja kelompok, tutor sebaya serta metode pengajaran individual. Pelaksanaan
Pengajaran Remedial dapat dilakukan dengan penelaahan kembali kasus, pemilihan alternatif
tindakan, pemberian layanan khusus, pengukuran kembali hasil belajar serta Re-evaluasi dan Re-
diagnostik. Studi kasus kesulitan belajar merupakan penelitian awal terhadap siswa yang diduga
mengalami kesulitan belajar, sebelum tindakan perbaikan dilakukan. Teknik mempelajari siswa
yang berkesulitan belajar secara mendalam untuk membantun penyesuaian dirinya menjadi lebih
baik. Ciri khas studi kasus, dalam mengumpulkan data harus lengkap, diperoleh dari berbagai
pihak, bersifat rahasia, kontinyu, dan ilmiah serta dalam mengumpulkan data harus integratif dan
komprehensif. Integratif artinya menmggunakan berbagai teknik pengumpulan data.
Komprehensif artinya data yang dikumpulkan harus lengkap meliputi seluruh aspek pribadi
siswa. Adapun data yang diperlukan, identitas siswa, data kesehatan, hasil belajar, hasil
psiokotes, cita-cita, data keluarga,lingkungan, pendidikan, ekstra kurikuler, kebiasaan, data
aktual mengenai permasalahan yang dirasakan siswa saaat kini. Langkah- Langkah
Penyembuhan/Perbaikan yaitu identitas siswa, pengumpulan dan analisis data, menentukan
masalah (diagnosis), saran pemecahan masalah (prognosis), pelaksanaan pemecahan masalah
(konseling) serta tindak lanjut. Simpulan Guru dituntut memberikan perhatian khusus terhadap
siswa yang mengalami kesulitan dalam mencapai tujuan pelajaran yang ditetapkan sebab guru
mempunyai tanggung jawab yang lebih luas sebagai pengajar dan pendidik. Beberapa ciri
tingkah laku manifestasi gejala kesulitan belajar, menunjukan hasil belajar rendah, hasil yang
dicapai tidak seimbang dengan usaha yang telah dilakukan, menunjukkan sikap yang kurang
wajar, menunjukkan tingkah laku yang berkelainan serta menunjukkan gejala emosional yang
kurang wajar. Pengajaran remedial penting dilakukan karena dalam proses pembelajaran tidak
semua anak didik mencapai hasil belajar sesuai dengan kemampuannya. Pelaksanaan pengajaran
remedial dapat dilakukan dengan penelaahan kembali kasus, pemilihan alternatif tindakan,
pemberian layanan khusus, pengukuran kembali hasil belajar serta re-evaluasi dan re-diagnostik.
Studi kasus kesulitan belajar merupakan penelitian awal terhadap siswa yang diduga mengalami
kesulitan belajar, sebelum tindakan perbaikan dilakukan. (dihimpun dan disarikan dari berbagai
sumber).
Posted 10th January 2013 by SMP NEGERI 11 KOTA JAMBI
Loading

https://www.academia.edu/8290128/Diagnosis_Kesulitan_Belajar_dan_Pengajaran_Remedial_Diagnosi
s_Kesulitan?auto=download