Anda di halaman 1dari 6

STANDART OPERASIONAL

PROSEDUR
LUKA BAKAR SENGATAN ARUS LISTRIK
Untuk Memenuhi Mata Kuliah Kegawat Daruratan II yang Dibimbing oleh
Ns. Cipto Susilo,S.kep, M.kep

Disusun oleh Kelompok 1 :


Femylia Fahmadiyah 13111011023
Dewi Taufiqiyatul Laili 13110110
Khairulnisa Zuhdi 13110110
Candra Kurniawan 13110110
Ade Bela Sukma 13110110

PRODI S1 - KEPERAWATAN
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JEMBER
Desember , 2016
SOP ELECTRICAL BURN INJURY

DILAKUKAN DILAPANGAN :

Tujuan : untuk melakukan pertolongan pertama pada korban yang terkena


sengatan arus listrik.

Kontra Indikasi: meminimalisir korban yang mengalami luka bakar listrik


mengalami cardiac arrest.

Apabila ditemukan korban dengan luka bakar arus listrik yang pertama kali
dilakukan adalah

1. Mematikan aliran listrik, apabila terlalu jauh bisa menyingkirkan aliran


listrik dengan bahan konduktor. Tujuannya menghentikan aliran listrik ke
tubuh korban
2. Lakukan pengkajian Circulation terlebih dahulu, untuk mengetahui
keadaan jantung, apakah terjadi cardiac arrest (henti jantung yang sering
terjadi pada korban sengatan arus listrik).
3. Apabila terdapat cardiac arrest lakukan CPR, selanjutnya lakukan
pengkajian airway untuk mematenkan jalan nafas.
4. Breathing 3M (Melihat apakah ada gerakan dada, Mendengar bunyi
jantung dan Merasakan hembusan nafas).
5. Setelah dipastikan tidak ada permasalahan pada Circulation, Airway dan
Breathing lakukan pertolongan pada cidera lain (contoh bidai apabila
terjadi fraktur)

Hal yang harus di perhatikan:

1. Pastikan pasien korban dengan luka bakar arus listrik tidak tedapat arus
listrik yang masi menempal pada sekitar tubuh
2. Jika arus listrik masih menempel di tubuh korban segera pindahkan
sengatan arus listriknya dengan menggunakan benda-benda yang tidak
melakukan penghantar listrik. Contoh: kayu kering dan lain-lain.
3. Ketika dilakukan 3 M korban mengarah ke cardiac Arrest maka lakukan
RJP selama 5 menit.

Referensi:

emedicine.medscape.com/article/770179-overview

emedicine.medscape.com/article/433682-overview
PENATALAKSANAAN DI RUMAH SAKIT

1. Lakukan pengkajian Circulation, memastikan tidak ada gangguan pada


jantung
2. Lakukan pengkajian 3M melihat, mendengar dan merasakan
3. Sekanjutnya lakukan tindakan EKG

Penangan sengatan luka bakar arus listrik dengan penanganan EKG


Definisi Merupakan alat diagnostik yang digunakan untuk merekam
aktifitas listrik jantung.
Tujuan 1 Mengetahui kelainan irama jantung.
2 Mengetahui miokardium.
3 Mengetahui terjadinya gangguan elektrolit.
4 Mengetahui infeksi lapisan jantung.
Indikasi Pasien dengan mengalami gangguan pada jantung
Persiapan Pasien -
Persiapan Alat 1 Mesin Elektrokardiogram (EKG).
2 Kertas EKG
3 Jelly
4 Tissu
5 Bengkok
6 Kassa
7 Heandscoon
Cara kerja 1 Atur posisi pasien, posisi pasien diatur terlentang datar
2 Tutup tirai disekeliling
3 Buka dan longgarkan baju pasien sebagian atas
4 Buka alat-alat berupa logam yang menepel
(kalung,cicin,jam tangan dst).
5 Pasanng heandscoon terlebih dahulu.
6 Bersihkan kotoran yang menepel dibagian dada, kedua
pergelangan tangan dan kedua pergelangan kaki daerah
menset elektroda mengguan dengan tissu .
7 Mengoleskan jelly dengan kassa pada permukaan
elektroda
8 Memasang manset elektroda pada dua pergelangan
tangan dan dua pergelangan kaki.
9 Memasang arde
10 Menyambungkan kabel pada elektrokardiogram pada
dua pergelangan tangan dan dua pergelangan kaki serta
pada arde yang dipasanga di dada.
Keterangan :
a. Warna merah pada pergelangan tangan bangian
kanan
b. Warna kuning pada pergelangan tangan bagian
kiri
c. Warna hitam pada pergelangan kaki bagian
kanan
d. Warna hijau pada pergelangan kaki bagian kiri
e. V1 pada intercosta keempat garis sternum
kanan
f. V2 pada intercosta keempat garis sternum kiri
g. V3 petengahan V2 dan V4
h. V4 pada intercosta kelima garis pertengahan
clavikula kiri
i. V5 pada axila sebelah depan kiri
j. V6 pada axila sebelah belakang kiri
11 Lakukan kalibrasi dengan kecepatan 25mili/detik
12 Jika rekaman Elektrokardiogram sudah lengakap
terekam, seluruh elktroda yang melekat di tubuh pasien
dilepas
13 Bersihkan kembali jelly yang sudah menempel di
bagian dada, dua pergelangan tangan dan kedua
pergelangan kaki dengan menggunakan tissu.
14 Bantu pasien memakai baju kembali
15 Buka tirai
16 Lepas heandscoon
17 Rapikan kembali alat EKG kerempat semula

4. Hitung jumlah Insesnsible Water Loss dan segera lakukan resusitasi cairan

Penangan sengatan luka bakar arus listrik dengan penanganan Kardioversi


Definisi Kardioversi adalah upaya konversi secara eletrik padaa ritmia atrial atau
ventrikular memakai DC (Direct Current) shock yang synchronized dan DC
shock nonsynchronized yang juga disebut defibrillation. Saat kejutan yang
synchronized yaitu pada awal gelombang T kira-kira 30ms sebelum apeks
gelombang T.

Tujuan Menghentikana ritmia yang mengancam menjadi irama sinus yang normal
Indikasi 1.Fibrilasi ventrikular, fluter atrial ataufibrilasi atrial yang menyebabkan
gangguan hemodinamik dan tak responsif dengan terapi farmakologis
2.Takikardi asupraventrikular yang menyebabkan gangguan hemodinamik dan
tak responsif dengan obat anti aritmia atau manuver vagal
3.Takikirdi aventrikular yang menyebabkan gangguan hemodinamik dan tak
responsif dengan obat antiaritmia.

Persiapan Identifikasi pasien dan izin operasi dengan penerangan tujuan, cara dan risiko
Pasien Puasa 4-6 jam sebelum katerisasi, obat-obat penting diteruskan. Profil aksis
antibiotik.
Resume klinis, laboratorium, EKG, foto dada, laboratorium dan pemeriksaan
penunjang lainnya :
- Riwayat alergi, obat-obatan yang digunakan saa tini
- Pemeriksaan jasmani
- Pemeriksaan penunjang seperti laboratorium : Hb, leukosit,
- Ureum, kreatinin, masa protombin, dan masa trombo plastin
parsial, natrium, kalium dan gula darah
- Bila mendapat insulin diberikan hanya setengah dosis
- Foto dada
- EKG istirahat maupun hasil test tread mill. Bila ada, hasil
ekokardiografi atau hasil kateterisasi sebelumnya.

Persiapan 1. Unit katerisasi yang terdiri dari fluoroskopi U, atau C arm, meja
Alat kateterisasi, dan monitor TV
2. Alat perekam data fisiologis (EKG, tekanan intra kardiak, transduser, kertas
perekam dan lain-lain)
3. Injektor kontras
4. Defibrilator dan perlengkapan resusitasi kardio pulmonar (Air Viva O2 dan
obat-obat emergensi)
5. Perlengkapan tindakan operasi steril

Cara kerja 1. Katerisasi dilakukan di ruang kateterisasi


2. Memasang pemantau EKG
3. Infuse mergensi tangan kiri
4. Premedikasi : perifidin 25 mg IM, antisin 1 ampul IM
5. Proteksi radiasi (apron Pbtebal 0,50 mm atau yang setara menutup badan
sampai lutut dan leher) bagi operator atau pasien hamil serta badge
pengukur radiasi yang diperiksa setiap bulan.
6. Aseptik dan anti septik serta prosedur steril seperti pada tindakan operasi
(bagi operator maupun pasien)
7. Pungsi pembuluh darah atau arteri otomi untuk akses pembuluh darah.
Pungsi vena/arteri dengan jarum perkutan dengan teknik Seldinger paling
sering dilakukan. Guidewire dimasukkan kedalam pembuluh darah melalui
jarum pungsi disusul oleh sheat. Heparin 2500 5000 unit disuntikkan
melalui sheat kedalam pembuluh darah dengan mudah dan aman melalui
sheat. Arteri/vena femoralis paling sering digunakan, namun pembuluh
brachialis atau radialis juga dapat digunakan. Arteri otomi dan venaseksi
(membuka arteri dan vena serta menjahit kembali) saat ini sudah jarang
dilakukan
8. Pengukuran tekanan intrakardiak, pengambilan sampel saturasi darah dan
penyuntikkan kontras pada proyeksi tertentu.
9. Evaluasi hasil sementara kateterisasi
10. Setelah dianggap cukup maka sheat dicabut, melakukan hemostatik dan
pembalut untuk mencegah perdarahan.
11. Mengisi formulir hasil sementara dan instruksi pasca kateterisasi yang
berisi
a. Istirahat di tempat tidur (tidak menggerakkan daerah kateterisasi
selama 8 jam)
b. Tekanan darah dan nadi setiap 15 menit selam 4 jam, dan selanjutnya
setiap jam selama 8 jam
c. Hipotensi biasanya disebabkan oleh diuresis akibat kontras.
d. Takikardia akibat perdarahan harus dilaporkan pada operator.
e. Periksaadanya hematoma pada pembuluh yang mengalami pungsi,
hilangnya denyut nadi pada bagian distal.
f. Ekstremitas yang dingin biasa karena trombus, spasme dan
vasokonstriksi.
g. Bila ada trombus dapat diberik aspirin 325 mg dan heparin bolus
5000 U dilanjutkan drip 1000 U/jam.
h. Bil aada iskemia ekstremitas, perlu intervensi bedah vaskular.
i. Mencatat produksi urin (sekitar 30 ml/jam)

12. Menyimpulkan hasil akhir kateterisasi dan mendiskusikannya dengan pasien.

Hal yang harus diperhatikan :\

1. Saat melakukan kardioversi elektrik gunakanlah arus listrik bifasik dan


jangan memilih monofasik karena membutuhkan energi yang lebih rendah
dan keberhasilan lebih tinggi.
2. Lakukan posisi anteroposterior karena memepunyai keberhasilan yang
lebih tinggi.
3. Komplikasi yang dapat terjadi adalah tromboemboli (1-2%), aritmia
pascaradioversi dan resiko anastesi umum, pemberian obat antiaritmia
4. Sebelum melakukan kardioversi, misalnya obat amiodaron dapat
meningkatkan keberhasilan konvensi irama FA ke irama sinus

Referensi

Panggabean M. Kateterisasi Jantung Kiri dan Kanan dan Angiografi


Koronaria.Dalam :Sumaryono, Alwi I, Sudoyo AW. Simadibrata M, Setiati S,
Gani RA, Mansjoer A, editors. ProsedurTindakan Di Bidang Penyakit Dalam.
Jakarta :Pusa tInformasi dan Penerbitan Bagian Ilmu Penyakit Dalam FKUI
; 2001. p. 151-61

http://wwww.inaheart.org/upload/file/FA_Final_Launch.pdf