Anda di halaman 1dari 30

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pada saat ini balita (bawah lima tahun) sebagai generasi penerus bangsa
yang diharapkan menjadi sumber daya manusia yang berkualitas di masa depan
memerlukan perhatian khusus. Usia di bawah lima tahun merupakan usia emas
dalam pembentukan sumber daya manusia baik dari segi pertumbuhan fisik
maupun kecerdasan, dimana hal ini harus didukung oleh status gizi yang baik
karena status gizi berperan dalam menentukan sukses tidaknya upaya peningkatan
sumber daya manusia.1
WHO pada tahun 2002 menyebutkan penyebab kematian anak balita
urutan pertama disebabkan gizi buruk dengan angka 54%. Berdasarkan data riset
kesehatan dasar (Riskesdas) tahun 2010, secara nasional prevalensi balita gizi
buruk sebesar 4,9% dan kekurangan gizi 17,9%. Hal ini menunjukkan bahwa di
Indonesia masih terdapat balita dengan gizi buruk dan kekurangan gizi sehingga
pembangunan di Indonesia belum sepenuhnya mampu meningkatkan kualitas
hidup sumber daya manusia.1
Pengertian gizi buruk adalah status gizi yang didasarkan pada indeks Berat
Badan menurut Umur (BB/U) < -3 SD yang merupakan padanan istilah severely
underweight. 3 Terdapat 3 jenis gizi buruk yang sering dijumpai yaitu
kwashiorkor, marasmus dan gabungan dari keduanya marasmiks-kwashiorkor.4
Pengertian kwashiorkor sendiri adalah suatu bentuk malnutrisi protein yang berat
disebabkan oleh asupan karbohidrat yang normal atau tinggi dan asupan protein
yang inadekuat. 5 Kwashiorkor dapat dibedakan dengan marasmus yang
disebabkan oleh asupan dengan kurang dalam kuantitas tetapi kualitas yang
normal , sedangkan marasmiks-kwashiorkor adalah gabungan dari kwashiorkor
dengan marasmus yang disertai dengan oedema. 2,5.2
Gizi merupakan suatu proses organisme dalam menggunakan bahan
makanan yang dikonsumsi melalui proses digesti, absorpsi, transportasi,
penyimpanan metabolisme dan pengeluaran zat-zat yang tidak digunakan untuk

1
mempertahankan kehidupan, pertumbuhan dan fungsi dari organ-organ, serta
menghasilkan energy.2
Status gizi pada masyarakat dipengaruhi oleh banyak faktor. Kondisi
sosial ekonomi merupakan salah satu faktor penting yang mempengaruhi status
gizi. Bila kondisi sosial ekonomi baik maka status gizi diharapkan semakin baik.
Status gizi anak balita akan berkaitan erat dengan kondisi sosial ekonomi keluarga
(orang tua), antara lain pendidikan orang tua, pekerjaan orang tua, jumlah anak
orang tua, pengetahuan dan pola asuh ibu serta kondisi ekonomi orang tua secara
keseluruhan.1
Banyak faktor yang mempengaruhi terjadinya gizi buruk, diantaranya
adalah status sosial ekonomi, ketidaktahuan ibu tentang pemberian gizi yang baik
untuk anak, dan Berat Badan Lahir Rendah(BBLR). Sumber lain menyebutkan
asupan makanan keluarga, faktor infeksi, dan pendidikan ibu menjadi penyebab
kasus gizi buruk. Dalam penelitian yang dilakukan di Kabupaten Lombok Timur
tahun 2005 menunjukkan bahwa terdapat hubungan status ekonomi,pendidikan
ibu, pengetahuan ibu dalam monitoring pertumbuhan, perhatian dari
ibu,pemberian ASI, kelengkapan imunisasi, dan asupan makanan balita dengan
kejadian gizi buruk. Rendahnya pendidikan dapat mempengaruhi ketersediaan
pangan dalam keluarga, yang selanjutnya mempengaruhi kuantitas dan kualitas
konsumsi pangan yang merupakan penyebab langsung dari kekurangan gizi pada
anak balita. Selain pendidikan, pemberian ASI dan kelengkapan imunisasi juga
memiliki hubungan yang bermakna dengan gizi buruk karena ASI dan imunisasi
memberikan zat kekebalan kepada balita sehingga balita tersebut menjadi tidak
rentan terhadap penyakit. Balita yang sehat tidak akan kehilangan nafsu makan
sehingga status gizi tetap terjaga baik.2

Gizi buruk merupakan masalah yang kompleks dan penyebab gizi buruk
mempunyai peranan yang bervariasi, salah satunya adalah ketidaktahuan ibu
tentang pemberian gizi yang baik untuk anak. Berdasarkan latar belakang tersebut
penulis ingin meneliti tentang tingkat pengetahuan ibu tentang gizi buruk pada
balita di Puskesmas Medan Johor.

2
Berdasarkan dari latar belakang penelitian maka peneliti ingin meneliti
tentang gizi buruk di Puskesmas tersebut.

1.2 Rumusan Masalah


Bagaimana tingkat pengetahuan ibu tentang gizi buruk pada balita di
Puskesmas Medan Johor tahun 2017.

1.3 Tujuan Penelitian


1.3.1 Tujuan Umum
Mengetahui tingkat pengetahuan ibu tentang gizi buruk pada balita di
Puskesmas Medan Johor tahun 2017.

1.3.2 Tujuan Khusus


Untuk tingkat pengetahuan ibu tentang gizi buruk pada balita di
Puskesmas Medan Johor.

1.4 Manfaat Penelitian


1.4.1 Manfaat Klinis
Memberi informasi dan tentang gizi buruk terhadap ibu di puskesmas
Medan Johor tahun 2017

1.4.2 Manfaat Akademis


1. Penelitian ini dapat dijadikan bahan atau sumber data untuk penelitian
berikutnya.
2. Menambah wawasan ilmu pengetahuan tentang penelitian kesehatan di bidang
onkologi terutama gizi buruk.

1.4.3 Manfaat Untuk Masyarakat


Memberikan pengetahuan kepada masyarakat mengenai gizi buruk
terutama pada ibu yang mempunyai balita.

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengetahuan (Knowledge)


Pengetahuan adalah hasil pengindraan manusia, atau hasil tahu seseorang
terhadap objek melalui indra yang dimilikinya (mata, hidung, telinga, dan
sebagainya). Dengan sendirinya pada waktu pengindraan sehingga menghasilkan
pengetahuan tersebut sangat dipengaruhi oleh intensitas perhatian dan persepsi
terhadap objek. Sebagian besar pengetahuan diperoleh melalui indra pendengaran
(telinga), dan indra penglihatan (mata). Pengetahuan seseorang terhadap objek
mempunyai intensitas atau tingkat yang berbeda-beda.3
Pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif menurut Notoatmodjo
(2010)3 mempunyai enam tingkatan, yaitu:
1) Tahu (know)
2) Memahami (comprehension)
3) Aplikasi (application)
4) Analisis (analysis)
5) Sintesis (synthesis)
6) Evaluasi (evaluation)

2.2 Gizi
Gizi adalah suatu proses menggunakan makanan yang dikonsumsi secara
normal melalui proses digesti, absorpsi, transportasi, penyimpanan, metabolisme,
dan pengeluaran zat-zat yang tidak digunakan untuk mempertahankan kehidupan,
pertumbuhan dan fungsi normal dari organ-organ, serta menghasilkan energi.4
Keadaan gizi adalah keadaan akibat dari keseimbangan antara konsumsi
dan penyerapan gizi dan penggunaan zat gizi tersebut atau keadaan fisiologi
akibat dari tersedianya zat gizi dalam sel tubuh.4 Jadi, status gizi merupakan
keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan dan penggunaan zat gizi.
Dibedakan atas status gizi buruk, gizi kurang, gizi baik, dan gizi lebih.5

4
Status gizi merupakan faktor yang terdapat dalam level individu (level
yang paling mikro). Faktor yang mempengaruhi secara langsung adalah asupan
makanan dan infeksi. Pengaruh tidak langsung dari status gizi ada tiga faktor yaitu
ketahanan pangan di keluarga, pola 7 pengasuhan anak, dan lingkungan kesehatan
yang tepat, termasuk akses terhadap pelayanan kesehatan.6
Faktor-faktor yang mempengaruhi keadaan gizi yaitu konsumsi makanan
dan tingkat kesehatan. Konsumsi makanan dipengaruhi oleh pendapatan,
makanan, dan tersedianya bahan makanan.4 Masalah gizi anak secara garis besar
merupakan dampak dari ketidakseimbangan antara asupan dan keluaran zat gizi
(nutritional imbalance), yaitu asupan yang melebihi keluaran atau sebaliknya, di
samping kesalahan dalam memilih bahan makanan untuk disantap.7

2.3 Etiologi Gizi Buruk


Menurut Hasaroh, (2010) masalah gizi pada balita dipengaruhi oleh
berbagai faktor, baik faktor penyebab langsung maupun faktor penyebab tidak
langsung. Menurut Depkes RI (1997) dalam Mastari (2009), faktor penyebab
langsung timbulnya masalah gizi pada balita adalah penyakit infeksi serta
kesesuaian pola konsumsi makanan dengan kebutuhan anak, sedangkan faktor
penyebab tidak langsung merupakan faktor sepertitingkat sosial ekonomi,
pengetahuan ibu tentang kesehatan, ketersediaan pangan ditingkat keluarga, pola
konsumsi, serta akses ke fasilitas pelayanan. Selain itu, pemeliharaan kesehatan
juga memegang peranan penting. Di bawah ini dijelaskan beberapa faktor
penyebab tidak langsung masalah gizi balita,6 yaitu:

a. Tingkat Pendapatan Keluarga.


Tingkat penghasilan ikut menentukan jenis pangan apa yang disediakan
untuk konsumsi balita serta kuantitas ketersediaannya. Pengaruh peningkatan
penghasilan terhadap perbaikan kesehatan dan kondisi keluarga lain yang
mengadakan interaksi dengan status gizi yang berlawanan hampir universal.

5
Selain itu diupayakan menanamkan pengertian kepada para orang tua
dalam hal memberikan makanan anak dengan cara yang tepat dan dalam kondisi
yang higienis.

b. Tingkatan Pengetahuan Ibu tentang Gizi.


Suatu hal yang meyakinkan tentang pentingnya pengetahuan gizi
didasarkan pada tiga kenyataan yaitu:
1) Status gizi cukup adalah penting bagi kesehatan dan kesejahteraan.
2) Setiap orang hanya akan cukup gizi jika makanan yang dimakannya mampu
menyediakan zat gizi yang diperlukan untuk pertumbuhan tubuh yang
optimal.
3) Ilmu gizi memberikan fakta-fakta yang perlu sehingga penduduk dapat
belajar menggunakan pangan dengan baik bagi perbaikan gizi.

Pengetahuan gizi yang baik akan menyebabkan seseorang mampu


menyusun menu yang baik untuk dikonsumsi. Semakin banyak pengetahuan gizi
seseorang,maka ia akan semakin memperhitungkan jenis dan jumlah makanan
yang diperolehnya untuk dikonsumsi.
Pengetahuan gizi yang dimaksud disini termasuk pengetahuan tentang
penilaian status gizi balita. Dengan demikian ibu bias lebih bijak menanggapi
tentang masalah yang berkaitan dengan gangguan status gizi balita.

c. Tingkatan Pendidikan Ibu.


Pendidikan ibu merupakan faktor yang sangat penting. Tinggi rendahnya
tingkat pendidikan ibu erat kaitannya dengan tingkat pengetahuan terhadap
perawatan kesehatan, kebersihan pemeriksaan kehamilan dan pasca persalinan,
serta kesadaran terhadap kesehatan dan gizi anak-anak dan keluarganya.
Disamping itu pendidikan berpengaruh pula pada factor social ekonomi lainnya
seperti pendapatan, pekerjaan, kebiasaan hidup, makanan, perumahan dan tempat
tinggal.

6
Tingkat pendidikan turut pula menentukan mudah tidaknya seseorang
menyerap dan memahami pengetahuan gizi yang mereka peroleh. Hal ini bias
dijadikan landasan untuk membedakan metode penyuluhan yang tepat. Dari
kepentingan gizi keluarga, pendidikan diperlukan agar seseorang lebih tanggap
terhadap adanya masalah gizi di dalam keluarga dan bias mengambil tindakan
secepatnya.
Tingkat pendidikan ibu banyak menentukan sikap dan tindak-tanduk
menghadapi berbagai masalah, missal memintakan vaksinasi untuk anaknya,
memberikan oralit waktu diare, atau kesediaan menjadi peserta KB. Anak-anak
dari ibu yang mempunyai latar pendidikan lebih tinggi akan mendapat kesempatan
hidup serta tumbuh lebih baik. Keterbukaan mereka untuk menerima perubahan
atau hal baru guna pemeliharaan kesehatan anak maupun salah satu
penjelasannya.

d. Akses Pelayanan Kesehatan.


Sistem akses kesehatan mencakup pelayanan kedokteran (medical
service)dan pelayanan kesehatan masyarakat (public health service). Secara
umum akses kesehatan masyarakat adalah merupakan subsistem akses kesehatan,
yang tujuan utamanya adalah pelayanan preventif (pencegahan) dan promotif
(peningkatan kesehatan) dengan sasaran masyarakat. Meskipun demikian, tidak
berarti bahwa akses kesehatan masyarakat tidak melakukan pelayanan kuratif
(pengobatan) dan rehabilitatif (pemulihan).
Upaya akses kesehatan dasar diarahkan kepada peningkatan kesehatan
danstatus gizi pada golongan rawan gizi seperti pada wanita hamil, ibu menyusui,
bayi dan anak-anak kecil, sehingga dapat menurunkan angka kematian. Pusat
kesehatan yang paling sering melayani masyarakat, membantu mengatasi dan
mencegah gizi kurang melalui program-program pendidikan gizi dalam
masyarakat. Akses kesehatan yang selalu siap dan dekat dengan masyarakat akan
sangat membantu meningkatkan derajat kesehatan. Dengan akses kesehatan
masyarakat yang optimal kebutuhan kesehatan dan pengetahuan gizi masyarakat
akan terpenuhi.

7
e. Penyakit penyerta
Balita yang berada dalam status gizi buruk, umumnya sangat rentan
terhadap penyakit. Seperti lingkaran setan, penyakit-penyakit tersebut justru
menambah rendahnya status gizi anak. Penyakit-penyakit tersebut adalah:
a. Diare persisten
Sebagai berlanjutnya episode diare selama 14 hari atau lebih yang dimulai
dari suatu diare cair akut atau berdarah (disentri).Kejadian ini sering
dihubungkan dengan kehilangan berat badan dan infeksi non intestinal. Diare
persisten tidak termasuk diare kronik atau diare berulang seperti penyakit
sprue, gluten sensitive enteropathi dan penyakit Blind loop.
b. Tuberkulosis
Tuberkulosis adalah penyakit yang disebabkan oleh Mycobacterium
tuberculosis, yaitu kuman aerob yang dapat hidup terutama di paru atau di
berbagai organ tubuh hidup lainnya yang mempunyai tekanan parsial oksigen
yang tinggi. Bakteri ini tidak tahan terhadap ultraviolet, karena itu
penularannya terjadipada malam hari. Tuberkulosis ini dapat terjadi pada
semua kelompok umur, baik di paru maupun di luar paru.
c. HIV AIDS
HIV merupakan singkatan dari human immunodeficiencyvirus. HIV
merupakan retrovirus yang menjangkiti selsel sistem kekebalan tubuh
manusia (terutama CD4 positive T-sel dan macrophages komponen-
komponen utama sistem kekebalan sel), dan menghancurkan atau
mengganggu fungsinya. Infeksi virus ini mengakibatkan terjadinya penurunan
sistem kekebalan yang terusmenerus, yang akan mengakibatkan defisiensi
kekebalan tubuh.Sistem kekebalan dianggap defisien ketika sistem tersebut
tidak dapat lagi menjalankan fungsinya memerangi infeksi dan penyakit-
penyakit.

f. Berat Badan Lahir Rendah


Bayi berat lahir rendah (BBLR) adalah bayi dengan berat lahir kurang dari
2500 gram tanpa memandang masa gestasi sedangkan berat lahir adalah berat bayi

8
yang ditimbang dalam 1 (satu) jam setelah lahir. Penyebab terbanyak terjadinya
BBLR adalah kelahiran prematur. Bayi yang lahir pada umur kehamilan kurang
dari 37 minggu ini pada umumnya disebabkan oleh tidak mempunyai uterus yang
dapat menahan janin, gangguan selama kehamilan,dan lepasnya plasenta yang
lebih cepat dari waktunya. Bayi prematur mempunyai organ dan alat tubuh yang
belum berfungsi normal untuk bertahan hidup di luar rahim sehingga semakin
muda umur kehamilan, fungsi organ menjadi semakin kurang berfungsi dan
prognosanya juga semakin kurang baik. Kelompok BBLR sering mendapatkan
komplikasi akibat kurang matangnya organ karena prematur.
Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) juga dapat disebabkan oleh bayi lahir
kecil untuk masa kehamilan yaitu bayi yang mengalami hambatan pertumbuhan
saat berada di dalam kandungan. Hal ini disebabkan oleh keadaan ibu atau gizi ibu
yang kurang baik. Kondisi bayi lahir kecil ini sangat tergantung pada usia
kehamilan saat dilahirkan. Peningkatan mortalitas, morbiditas, dan disabilitas
neonatus, bayi,dan anak merupakan faktor utama yang disebabkan oleh BBLR.
Gizi buruk dapat terjadi apabila BBLR jangka panjang.Pada BBLR zat anti
kekebalan kurang sempurna sehingga lebih mudah terkena penyakit terutama
penyakit infeksi. Penyakit ini menyebabkan balita kurang nafsu makan sehingga
asupan makanan yang masuk kedalam tubuh menjadi berkurang dan dapat
menyebabkan gizi buruk.

g. Kelengkapan imunisasi
Imunisasi berasal dari kata imun yaitu resisten atau kebal. Imunisasi
terhadap suatu penyakit hanya dapat memberi kekebalan terhadap penyakit
tersebut sehingga bila balita kelak terpajan antigen yang sama, balita tersebut
tidak akan sakit dan untuk menghindari penyakit lain diperlukan imunisasi yang
lain. Infeksi pada balita penting untuk dicegah dengan imunisasi. Imunisasi
merupakan suatu cara untuk meningkatkan kekebalan terhadap suatu antigen yang
dapat dibagi menjadi imunisasi aktif dan imunisasi pasif. Imunisasi aktif adalah
pemberian kuman atau racun kuman yang sudah dilemahkan atau dimatikan untuk
merangsang tubuh memproduksi antibodi sendiri sedangkan imunisasi pasif

9
adalah penyuntikan sejumlah antibodi sehingga kadar antibodi dalam tubuh
meningkat.
Imunisasi juga dapat mencegah penderitaan yang disebabkan oleh
penyakit, dan kemungkinan cacat atau kematian, menghilangkan kecemasan dan
psikologi pengobatan bila anak sakit, memperbaiki tingkat kesehatan,dan
menciptakan bangsa yang kuat dan berakal untuk melanjutkan pembangunan
negara. Kelompok yang paling penting untuk mendapatkan imunisasi adalah bayi
dan balita karena meraka yang paling peka terhadap penyakit dan sistem
kekebalan tubuh balita masih belum sebaik dengan orang dewasa.
Sistem kekebalan tersebut yang menyebabkan balita menjadi tidak
terjangkit sakit. Apabila balita tidak melakukan imunisasi, maka kekebalan tubuh
balita akan berkurang dan akan rentan terkena penyakit. Hal ini mempunyai
dampak yang tidak langsung dengan kejadian gizi. Imunisasi tidak cukup hanya
dilakukan satu kali tetapi dilakukan secara bertahap dan lengkap terhadap
berbagai penyakit untuk mempertahankan agar kekebalan dapat tetap melindungi
terhadap paparan bibit penyakit. Macam- macam imunisasi antara lain:
a. BCG : vaksin untuk mencegah TBC yang dianjurkan diberikan saat berumur
2 bulan sampai 3 bulan dengan dosis 0,05 ml pada bayi kurang dari 1 tahun
dan 0,1 ml pada anak disuntikkan secara intrakutan.
b. Hepatitis B : salah satu imunisasi yang diwajibkan dengan diberikan
sebanyak 3 kali dengan interval 1 bulan antara suntikan pertama dan kedua
kemudian 5 bulan antara suntikan kedua dan ketiga.Usia pemberian
dianjurkan sekurang-kurangnya 12 jam setelah lahir.
c. Polio : imunisasi ini terdapat 2 macam yaitu vaksi oral polio dan inactivated
polio vaccine.Kelebihan dari vaksin oral adalah mudah diberikan dan murah
sehingga banyak digunakan.
d. DPT : vaksin yang terdiri dari toksoid difteri dan tetanus yang dimurnikan
serta bakteri pertusis yang diinaktivasi.
e. Campak : imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya penyakit
campak pada anak karena termasuk penyakit menular. Pemberian yang

10
dianjurkan adalah sebanyak 2 kali yaitu pada usia 9 bulan dan pada usia 6
tahun.
f. MMR : diberikan untuk penyakit measles,mumps,dan rubella sebaiknya
diberikan pada usia 4 bulan sampai 6 bulan atau 9 bulan sampai 11 bulan
yang dilakukan pengulangan pada usia 15bulan-18 bulan.
g. Typhus abdominal : terdapat 3 jenis vaksin yang terdapat di Indonesia yaitu
kuman yang dimatikan, kuman yang dilemahkan, dan antigen capsular Vi
polysaccharida.
h. Varicella : pemberian vaksin diberikan suntikan tunggal pada usia diatas 12
tahun dan usia 13 tahun diberikan 2 kali suntikan dengan interval 4- 8mg.
i. Hepatitis A: imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya hepatitis A
yang diberikan pada usia diatas 2 tahun.
j. HiB : Haemophilus influenzae tipe b yang digunakan untuk mencegah
terjadinya influenza tipe b dan diberikan sebanyak 3 kali suntikan.
Balita yang berada dalam status gizi buruk, umumnya sangat rentan
terhadap penyakit. Seperti lingkaran setan, penyakit-penyakit tersebut justru
menambah rendahnya status gizi anak. Penyakit-penyakit tersebut adalah:
d. Diare persisten
Sebagai berlanjutnya episode diare selama 14 hari atau lebih yang dimulai
dari suatu diare cair akut atau berdarah (disentri).Kejadian ini sering
dihubungkan dengan kehilangan berat badan dan infeksi non intestinal. Diare
persisten tidak termasuk diare kronik atau diare berulang seperti penyakit
sprue, gluten sensitive enteropathi dan penyakit Blind loop.
e. Tuberkulosis
Tuberkulosis adalah penyakit yang disebabkan oleh Mycobacterium
tuberculosis, yaitu kuman aerob yang dapat hidup terutama di paru atau di
berbagai organ tubuh hidup lainnya yang mempunyai tekanan parsial oksigen
yang tinggi. Bakteri ini tidak tahan terhadap ultraviolet, karena itu
penularannya terjadipada malam hari. Tuberkulosis ini dapat terjadi pada
semua kelompok umur, baik di paru maupun di luar paru.
f. HIV AIDS

11
HIV merupakan singkatan dari human immunodeficiencyvirus. HIV
merupakan retrovirus yang menjangkiti selsel sistem kekebalan tubuh
manusia (terutama CD4 positive T-sel dan macrophages komponen-
komponen utama sistem kekebalan sel), dan menghancurkan atau
mengganggu fungsinya. Infeksi virus ini mengakibatkan terjadinya penurunan
sistem kekebalan yang terusmenerus, yang akan mengakibatkan defisiensi
kekebalan tubuh.Sistem kekebalan dianggap defisien ketika sistem tersebut
tidak dapat lagi menjalankan fungsinya memerangi infeksi dan penyakit-
penyakit.

h. Berat Badan Lahir Rendah


Bayi berat lahir rendah (BBLR) adalah bayi dengan berat lahir kurang dari
2500 gram tanpa memandang masa gestasi sedangkan berat lahir adalah berat bayi
yang ditimbang dalam 1 (satu) jam setelah lahir. Penyebab terbanyak terjadinya
BBLR adalah kelahiran prematur. Bayi yang lahir pada umur kehamilan kurang
dari 37 minggu ini pada umumnya disebabkan oleh tidak mempunyai uterus yang
dapat menahan janin, gangguan selama kehamilan,dan lepasnya plasenta yang
lebih cepat dari waktunya. Bayi prematur mempunyai organ dan alat tubuh yang
belum berfungsi normal untuk bertahan hidup di luar rahim sehingga semakin
muda umur kehamilan, fungsi organ menjadi semakin kurang berfungsi dan
prognosanya juga semakin kurang baik. Kelompok BBLR sering mendapatkan
komplikasi akibat kurang matangnya organ karena prematur.
Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) juga dapat disebabkan oleh bayi lahir
kecil untuk masa kehamilan yaitu bayi yang mengalami hambatan pertumbuhan
saat berada di dalam kandungan. Hal ini disebabkan oleh keadaan ibu atau gizi ibu
yang kurang baik. Kondisi bayi lahir kecil ini sangat tergantung pada usia
kehamilan saat dilahirkan. Peningkatan mortalitas, morbiditas, dan disabilitas
neonatus, bayi,dan anak merupakan faktor utama yang disebabkan oleh BBLR.
Gizi buruk dapat terjadi apabila BBLR jangka panjang.Pada BBLR zat anti
kekebalan kurang sempurna sehingga lebih mudah terkena penyakit terutama
penyakit infeksi. Penyakit ini menyebabkan balita kurang nafsu makan sehingga

12
asupan makanan yang masuk kedalam tubuh menjadi berkurang dan dapat
menyebabkan gizi buruk.
i. Kelengkapan imunisasi
Imunisasi berasal dari kata imun yaitu resisten atau kebal. Imunisasi
terhadap suatu penyakit hanya dapat memberi kekebalan terhadap penyakit
tersebut sehingga bila balita kelak terpajan antigen yang sama, balita tersebut
tidak akan sakit dan untuk menghindari penyakit lain diperlukan imunisasi yang
lain. Infeksi pada balita penting untuk dicegah dengan imunisasi. Imunisasi
merupakan suatu cara untuk meningkatkan kekebalan terhadap suatu antigen yang
dapat dibagi menjadi imunisasi aktif dan imunisasi pasif. Imunisasi aktif adalah
pemberian kuman atau racun kuman yang sudah dilemahkan atau dimatikan untuk
merangsang tubuh memproduksi antibodi sendiri sedangkan imunisasi pasif
adalah penyuntikan sejumlah antibodi sehingga kadar antibodi dalam tubuh
meningkat.
Imunisasi juga dapat mencegah penderitaan yang disebabkan oleh
penyakit, dan kemungkinan cacat atau kematian, menghilangkan kecemasan dan
psikologi pengobatan bila anak sakit, memperbaiki tingkat kesehatan,dan
menciptakan bangsa yang kuat dan berakal untuk melanjutkan pembangunan
negara. Kelompok yang paling penting untuk mendapatkan imunisasi adalah bayi
dan balita karena meraka yang paling peka terhadap penyakit dan sistem
kekebalan tubuh balita masih belum sebaik dengan orang dewasa.
Sistem kekebalan tersebut yang menyebabkan balita menjadi tidak
terjangkit sakit. Apabila balita tidak melakukan imunisasi, maka kekebalan tubuh
balita akan berkurang dan akan rentan terkena penyakit. Hal ini mempunyai
dampak yang tidak langsung dengan kejadian gizi. Imunisasi tidak cukup hanya
dilakukan satu kali tetapi dilakukan secara bertahap dan lengkap terhadap
berbagai penyakit untuk mempertahankan agar kekebalan dapat tetap melindungi
terhadap paparan bibit penyakit. Macam- macam imunisasi antara lain:
k. BCG : vaksin untuk mencegah TBC yang dianjurkan diberikan saat berumur
2 bulan sampai 3 bulan dengan dosis 0,05 ml pada bayi kurang dari 1 tahun
dan 0,1 ml pada anak disuntikkan secara intrakutan.

13
l. Hepatitis B : salah satu imunisasi yang diwajibkan dengan diberikan
sebanyak 3 kali dengan interval 1 bulan antara suntikan pertama dan kedua
kemudian 5 bulan antara suntikan kedua dan ketiga.Usia pemberian
dianjurkan sekurang-kurangnya 12 jam setelah lahir.
m. Polio : imunisasi ini terdapat 2 macam yaitu vaksi oral polio dan inactivated
polio vaccine.Kelebihan dari vaksin oral adalah mudah diberikan dan murah
sehingga banyak digunakan.
n. DPT : vaksin yang terdiri dari toksoid difteri dan tetanus yang dimurnikan
serta bakteri pertusis yang diinaktivasi.
o. Campak : imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya penyakit
campak pada anak karena termasuk penyakit menular. Pemberian yang
dianjurkan adalah sebanyak 2 kali yaitu pada usia 9 bulan dan pada usia 6
tahun.
p. MMR : diberikan untuk penyakit measles,mumps,dan rubella sebaiknya
diberikan pada usia 4 bulan sampai 6 bulan atau 9 bulan sampai 11 bulan
yang dilakukan pengulangan pada usia 15bulan-18 bulan.
q. Typhus abdominal : terdapat 3 jenis vaksin yang terdapat di Indonesia yaitu
kuman yang dimatikan, kuman yang dilemahkan, dan antigen capsular Vi
polysaccharida.
r. Varicella : pemberian vaksin diberikan suntikan tunggal pada usia diatas 12
tahun dan usia 13 tahun diberikan 2 kali suntikan dengan interval 4- 8mg.
s. Hepatitis A: imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya hepatitis A
yang diberikan pada usia diatas 2 tahun.
t. HiB : Haemophilus influenzae tipe b yang digunakan untuk mencegah
terjadinya influenza tipe b dan diberikan sebanyak 3 kali suntikan.5

2.4 Penilaian Status Gizi


Penentuan status gizi seseorang atau kelompok populasi dilakukan dengan
interpretasi informasi dari hasil beberapa metode penilaian status gizi yaitu:
penilaian konsumsi makanan, antropometri, laboratorium/biokimia dan klinis.
Diantara beberapa metode tersebut, pengukuran antropometri adalah relatif paling

14
sederhana dan banyak dilakukan.8 Antropometri dapat dilakukan dengan beberapa
macam pengukuran yaitu pengukuran berat badan (BB), tinggi badan (TB) dan
lingkar lengan atas (LILA). Pengukuran BB, TB dan LILA sesuai dengan umur
adalah yang paling sering digunakan untuk survey sedangkan untuk perorangan,
keluarga, pengukuran BB dan TB atau panjang badan (PB) adalah yang paling
dikenal.4
Indikator BB/U menunjukkan secara sensitif status gizi saat ini (saat
diukur) karena mudah berubah, namun tidak spesifik karena berat badan selain
dipengaruhi oleh umur juga dipengaruhi oleh tinggi badan. Indikator ini dapat
dengan mudah dan cepat dimengerti oleh masyarakat umum, sensitif untuk
melihat perubahan status gizi dalam jangka waktu pendek; dan dapat mendeteksi
kegemukan.8
Indikator TB/U dapat menggambarkan status gizi masa lampau atau
masalah gizi kronis. Seseorang yang pendek kemungkinan keadaan gizi masa lalu
tidak baik. Berbeda dengan berat badan yang dapat diperbaiki dalam waktu
singkat, baik pada anak maupun dewasa, maka tinggi badan pada usia dewasa
tidak dapat lagi dinormalkan. 9 Kemungkinan untuk mengejar pertumbuhan tinggi
badan optimal pada anak balita masih bisa sedangkan anak usia sekolah sampai
remaja kemungkinan untuk mengejar pertumbuhan tinggi badan masih bisa tetapi
kecil kemungkinan untuk mengejar pertumbuhan optimal. Secara normal tinggi
badan tumbuh bersamaan dengan bertambahnya umur. Pertambahan TB relatif
kurang sensitif terhadap kurang gizi dalam waktu singkat. Pengaruh kurang gizi
terhadap pertumbuhan TB baru terlihat dalam waktu yang cukup lama. Indikator
ini juga dapat dijadikan indikator keadaan sosial ekonomi penduduk.4
Indikator BB/TB merupakan pengukuran antropometri yang terbaik karena
dapat menggambarkan secara sensitif dan spesifik status gizi saat ini atau masalah
gizi akut. Berat badan berkorelasi linier dengan tinggi badan, artinya dalam
keadaan normal perkembangan berat badan akan mengikuti pertambahan tinggi
badan pada percepatan tertentu. Hal ini berarti berat badan yang normal akan
proporsional dengan tinggi badannya. Ini merupakan indikator yang baik untuk
menilai status gizi saat ini terutama bila data umur yang akurat sering sulit

15
diperoleh. WHO & Unicef merekomendasikan menggunakan indikator BB/TB
dengan cut of point < -3 SD dalam kegiatan identifikasi dan manajemen
penanganan bayi dan anak balita gizi buruk akut.9
Indikator IMT/U merupakan indikator yang paling baik untuk mengukur
keadaan status gizi yang menggambarkan keadaan status gizi masa lalu dan masa
kini karena berat badan memiliki hubungan linear dengan tinggi badan. Dalam
keadaan normal, perkembangan berat badan akan searah dengan pertumbuhan
tinggi badan dengan kecepatan tertentu. Indeks ini tidak menimbulkan kesan
underestimate pada anak yang overweight dan obese serta kesan berlebihan pada
anak gizi kurang.10
Gizi buruk diartikan sebagai keadaan kekurangan gizi yang sangat parah
yang ditandai dengan berat badan menurut umur kurang dari 60 % median pada
baku WHO-NCHS atau terdapat tanda-tanda klinis seperti marasmus,
kwashiorkor dan marasmuskwashiorkor. Agar penentuan klasifikasi dan
penyebutan status gizi menjadi seragam dan tidak berbeda maka Menteri
Kesehatan [Menkes] RI mengeluarkan Keputusan Nomor
1995/Menkes/SK/XII/2010 tentang Standar Antropometri Penilaian Status Gizi
Anak . Keluarnya SK tersebut mempermudah analisis data status gizi yang
dihasilkan baik untuk perbandingan , kecenderungan maupun analisis hubungan.11
Menurut SK tersebut penentuan gizi status gizi tidak lagi menggunakan persen
terhadap median, melainkan nilai Z-score pada 11 baku WHO-NCHS. Secara
umum kategori dan ambang batas status gizi anak berdasarkan indeks adalah
seperti Tabel 1.

16
Tabel 1. Kategori dan Ambang Batas Status Gizi Anak Berdasarkan Indeks
KATEGORI AMBANG BATAS
INDEKS
STATUS GIZI (Z-SCORE)
Berat badan menurut Umur Gizi Buruk < -3 SD
(BB/U) Anak Umur 0-60 bulan Gizi Kurang -3 SD sampai < -2 SD
Gizi Baik -2 SD sampai 2 SD
Gizi Lebih > 2 SD
Panjang Badan menurut Umur Sangat pendek < -3 SD
(PB/U)atau Tinggi Badan Pendek -3 SD sampai < -2 SD
menurut Umur (TB/U) Anak Normal -2 SD sampai 2 SD
Umur 0-60 bulan Tinggi > 2 SD
Berat badan menurut Panjang Sangat Kurus < -3 SD
Badan (BB/PB) atau Berat Kurus -3 SD sampai < -2 SD
badan menurut Tinggi Badan Normal -2 SD sampai 2 SD
(BB/TB) Anak Umur 0-60 Gemuk > 2 SD
bulan
Indeks Masa Tubuh menurut Sangat kurus < -3 SD
Umur ( IMT/U ) Anak Umur 0- Kurus -3 SD sampai < -2 SD
60 bula Normal -2 SD sampai 2 SD
Gemuk > 2 SD
Indeks Masa Tubuh menurut Sangat kurus < -3 SD
Umur ( IMT/U ) Anak Umur 5 Kurus -3 SD sampai < -2 SD
18 tahun Norma -2 SD sampai 1 SD
Gemuk >1 SD sampai 2 SD
Obesitas > 2 SD

2.5 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Status Gizi


Gizi kurang pada anak balita disebabkan oleh beberapa faktor yang
kemudian diklasifikasikan sebagai penyebab langsung, penyebab tidak langsung,
pokok masalah dan akar masalah. Gizi kurang secara langsung disebabkan oleh

17
kurangnya konsumsi makanan dan adanya penyakit infeksi. Makin bertambah usia
12 anak maka makin bertambah pula kebutuhannya. Konsumsi makanan dalam
keluarga dipengaruhi jumlah dan jenis pangan yang dibeli, pemasakan, distribusi
dalam keluarga dan kebiasaan makan secara perorangan. Konsumsi juga
tergantung pada pendapatan, agama, adat istiadat, dan pendidikan keluarga yang
bersangkutan.5
Timbulnya gizi kurang bukan saja karena makanan yang kurang tetapi juga
karena penyakit. Anak yang mendapat makanan yang cukup baik tetapi sering
diserang diare atau demam, akhirnya dapat menderita gizi kurang. Sebaliknya
anak yang makan tidak cukup baik maka daya tahan tubuhnya (imunitas) dapat
melemah, sehingga mudah diserang penyakit infeksi, kurang nafsu makan dan
akhirnya mudah terkena gizi kurang. Sehingga disini terlihat interaksi antara
konsumsi makanan yang kurang dan infeksi merupakan dua hal yang saling
mempengaruhi. Hubungan antara kurang gizi dengan penyakit infeksi tergantung
dari besarnya dampak yang ditimbulkan oleh sejumlah infeksi terhadap status gizi
itu sendiri. Beberapa contoh bagaimana infeksi bisa berkontribusi terhadap kurang
gizi seperti infeksi pencernaan dapat menyebabkan diare, HIV/AIDS,tuberculosis,
dan beberapa penyakit infeksi kronis lainnya bisa menyebabkan anemia dan
parasit pada usus dapat menyebabkan anemia. Penyakit Infeksi disebabkan oleh
kurangnya sanitasi yang bersih, pelayanan kesehatan dasar yang tidak memadai,
dan pola asuh anak yang tidak memadai.8

2.6 Hubungan Asupan Gizi dengan Masalah Gizi


Riwayat alamiah terjadinya masalah (defisiensi gizi), dimulai dari tahap
pre pathogenesis yaitu proses interaksi antara penjamu dengan penyebab (agent =
zat-zat gizi) serta lingkungan. Pada tahap ini terjadi keseimbangan antar ketiga
komponen yaitu tubuh manusia, zat gizi dan lingkungan dimana manusia dan zat-
zat gizi makanan berada (konsep John Gordon). Empat kemungkinan terjadinya
patogenesis penyakit defisiensi gizi yaitu makanan yang dikonsumsi kurang baik
dari segi kualitas maupun kuantitas, peningkatan kepekaan tubuh terhadap
kebutuhan gizi misalnya kebutuhan yang meningkat karena sakit, pergeseran

18
lingkungan yang memungkinkan kekurangan pangan, misalnya karena gagal
panen, dan perubahan lingkungan yang meningkatkan kerentanan tubuh misalnya
kepadatan penduduk di daerah kumuh. Bila salah satu kemungkinan terjadinya
patogenesis penyakit 15 defisiensi gizi tersebut di atas maka tahap pertama yang
terjadi adalah simpanan berkurang yaitu zat-zat gizi dalam tubuh terutama
simpanan dalam bentuk lemak termasuk unsure-unsur biokatalisnya akan
menggantikan kebutuhan energi dari karbohidrat yang kurang. Apabila hal ini
terus terjadi maka simpanan habis yaitu titik kritis, tubuh akan menyesuaikan dua
kemungkinan yaitu menunggu asupan gizi yang memadai atau menggunakan
protein tubuh untuk keperluan energi. Bila menggunakan protein tubuh maka
perubahan faal dan metabolik akan terjadi. Pada tahap awal akan terlihat
seseorang tidak sakit dan tidak sehat sebagai batas klinis terjadinya penyakit
defisiensi gizi, bukan saja terjadi pada zat gizi penghasil energi tetapi juga
vitamin, mineral dan air termasuk serat.12

Zat gizi dipergunakan oleh sel tubuh untuk dipergunakan berbagai


aktifitas, bila zat gizi kurang maka sel tubuh akan mengambil cadangan zat gizi
(depot), bila zat gizi yang dikonsumsi berlebihan maka akan disimpan dalam

19
tubuh. Bila depot simpanan habis dan konsumsi zat gizi kurang maka akan terjdi
proses biokimia untuk mengubah unsur-unsur pembangun struktur tubuh, ini
artinya telah terjadi gangguan biokimia tubuh misalnya kadar Hb dan serum yang
turun. Bila tidak segera diatasi dengan konsumsi gizi yang adekuat maka secara
anatomi sel-sel, jaringan dan organ tubuh akan terlihat mengalami kerusakan
misalnya saja pada penyakit defisiensi gizi kwashiorkor dan marasmus. Gangguan
anatomi dengan kerusakan jaringan yang parah dapat berakhir dengan kematian.12

2.7 Kurang Energi Protein ( KEP )


Kekurangan Energi Protein (KEP) adalah suatu penyakit yang ditandai
dengan kelainan patologi yang diakibatkan oleh karena defisiensi protein saja atau
defesiensi energi saja atau protein dan energi baik secara kuantitatif atau kualitatif
yang biasanya sebagai akibat/berhubungan dengan penyakit infeksi.
Berdasarkan proses terjadinya dapat dibedakan menjadi :
a. KEP Primer : bila terjadinya akibat tidak tersedianya zat gizi/bahan makanan.
b. KEP Sekunder : bila terjadinya karena adanya kelainan/menderita penyakit.

Bentuk Kekurangan Energi Proein (KEP), berdasarkan penyebab dan


gambaran klinisnya dibedakan menjadi :
a. Marasmus : akibat kekurangan energi
b. Kwasiorkor : akibat kekurangan protein
c. Marasmus Kwasiorkor : akibat kekurangan energi dan protein, dimana
gambaran klinisnya merupakan gabungan dari kedua kelainan tersebut.

Kekurangan Energi Protein (KEP) biasanya menyerang anak-anak kurang


dari 5 tahun, dimana pada saat itu kebutuhan energi dan protein sangat tinggi.
Marasmus sering dijumpai pada anak < 1 tahun, di daerah urban, sedangkan
kwasiorkor sering dijumpai pada usia > 2 tahun di daerah yang kumuh dan padat
penduduk.13

20
2.8 Klasifikasi Gizi Buruk
Gizi buruk berdasarkan gejala klinisnya dapat dibagi menjadi 3 :8
2.8.1 Marasmus
Marasmus merupakan salah satu bentuk gizi buruk yang paling sering
ditemukan pada balita. Hal ini merupakan hasil akhir dari tingkat keparahan gizi
buruk. Gejala marasmus antara lain anak tampak kurus, rambut tipis dan
jarang,kulit keriput yang disebabkan karena lemak di bawah kulit berkurang,
muka seperti orang tua (berkerut), balita cengeng dan rewel meskipun setelah
makan, bokong baggy pant, dan iga gambang. Pada patologi marasmus awalnya
pertumbuhan yang kurang dan atrofi otot serta menghilangnya lemak di bawah
kulit merupakan proses fisiologis.Tubuh membutuhkan energi yang dapat
dipenuhi oleh asupan makanan untuk kelangsungan hidup jaringan. Untuk
memenuhi kebutuhan energi cadangan protein juga digunakan. Penghancuran
jaringan pada defisiensi kalori tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan energi
tetapi juga untuk sistesis glukosa.

2.8.2 Kwashiorkor
Kwashiorkor adalah suatu bentuk malnutrisi protein yang berat disebabkan
oleh asupan karbohidrat yang normal atau tinggi dan asupan protein yang
inadekuat. Hal ini seperti marasmus,kwashiorkor juga merupakan hasil akhir dari
tingkat keparahan gizi buruk. Tanda khas kwashiorkor antara lain pertumbuhan
terganggu, perubahan mental,pada sebagian besar penderita ditemukan oedema
baik ringan maupun berat, gejala gastrointestinal,rambut kepala mudah
dicabut,kulit penderita biasanya kering dengan menunjukkan garisgaris kulit yang
lebih mendalam dan lebar,sering ditemukan hiperpigmentasi dan persikan
kulit,pembesaran hati,anemia ringan,pada biopsi hati ditemukan perlemakan.
Gangguan metabolik dan perubahan sel dapat menyebabkan perlemakan hati dan
oedema. Pada penderita defisiensi protein tidak terjadi proses katabolisme
jaringan yang sangat berlebihan karena persediaan energi dapat dipenuhi dengan
jumlah kalori yang cukup dalam asupan makanan. Kekurangan protein dalam diet
akan menimbulkan kekurangan asam amino esensial yang dibutuhkan untuk

21
sintesis. Asupan makanan yang terdapat cukup karbohidrat menyebabkan
produksi insulin meningkat dan sebagian asam amino dari dalam serum yang
jumlahnya sudah kurang akan disalurkan ke otot. Kurangnya pembentukan
albumin oleh hepar disebabkan oleh berkurangnya asam amino dalam serum yang
kemudian menimbulkan oedema.

2.8.3 Marasmiks-Kwashiorkor
Marasmic-kwashiorkor gejala klinisnya merupakan campuran dari
beberapa gejala klinis antara kwashiorkor dan marasmus dengan Berat Badan
(BB) menurut umur (U) < 60% baku median WHO-NCHS yang disertai oedema
yang tidak mencolok.

22
BAB 3
KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL

3.1 Kerangka Konsep Penelitian

Pengetahuan Ibu Status Gizi Balita

Variabel Independent Variabel Dependent

Tabel 3.1 Defenisi Operasional


Defenisi Alat Cara Hasil Skala
operasional pengukuran pengukuran pengukuran pengukuran
1. Pengetahuan Kuisioner Wawancara a. baik Ordinal
adalah apa b. sedang
yang c. kurang
diketahui ibu-
ibu tentang
gizi buruk.

23
BAB 4
METODE PENELITIAN

4.1 Desain Penelitian


Jenis penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode survey yang
bersifat deskriptif untuk mengetahui gambaran prilaku ibu tentang status gizi
balita di puskesmas Medan Johor tahun 2017.

4.2 Lokasi dan Waktu Penelitian


Penelitian bertempat di Puskesmas Medan Johor dan dilaksanakan pada bulan
Februari 2017.

4.3 Populasi dan Sampel Penelitian


4.3.1 Populasi Penelitian
Populasi terjangkau penelitian ini adalah ibu-ibu yang memiliki balita
(berusia 0 5 tahun) yang berada di Puskesmas Medan Johor, berjumlah
orang.
4.3.2 Sampel Penelitian
Cara pengambilan sampel dengan metode simple random sampling.
Pengambilan data berasal dari kuesioner. Besar sampel diambil menurut
rumus Yamane berikut:14
N
n=
1 + N (d)2

Keterangan:
n : Jumlah sampel
N : Jumlah populasi
d : Presisi yang ditetapkan (0,1)

24
Jadi, 645
n=
1 + 645(0,1)2
n = 86,57
Maka jumlah sampel yang dilakukan untuk penelitian ini berjumlah sekitar
86 orang.

4.4 Kriteria Inklusi dan Eksklusi


4.4.1 Kriteria Inklusi
a. Ibu-ibu yang memiliki balita berumur 0-5 tahun dan hadir di Puskesmas
Medan Johor pada saat pengambilan data.
b. Bersedia untuk menjadi sampel penelitian.

4.4.2 Kriteria Eksklusi


a. Ibu-ibu yang memiliki anak berumur >5 tahun dan tidak hadir di
Puskesmas Medan Johor pada saat pengambilan data.
b. Ibu-ibu yang tidak bersedia mengikuti penelitian.

4.5 Instrumen Penelitian


Penelitian ini menggunakan instrument kuesioner yang berisi 15 pertanyaan,
terdiri dari:
1. 4 pertanyaan untuk menilai pengetahuan responden tentang status gizi
balita.
2. 10 pertanyaan untuk menilai pengetahuan responden tentang gizi
buruk.

4.6 Teknik Penilaian dan Scoring


1. Empat pertanyaan mengenai pengetahuan responden tentang status gizi balita.
Penilaian tingkat pengetahuan responden berdasarkan sistem skor sebagai
berikut:

25
Tabel 4.1 Skor Pertanyaan pada Kuesioner Pengetahuan
Skor
Pertanyaan
YA TIDAK
1. 2 1
2. 2 1
3. 2 1
4. 2 1

2. Sebelas pertanyaan mengenai pengetahuan responden tentang gizi buruk.


Penilaian tingkat pengetahuan responden berdasarkan sistem skor sebagai
berikut:
Tabel 4.2 Skor Pertanyaan pada Kuesioner Sikap
Skor
Pertanyaan
YA TIDAK
5. 2 1
6. 2 1
7. 2 1
7. 2 1
9. 2 1
10. 2 1
11. 2 1
12. 2 1
13. 2 1
14. 2 1
15. 2 1

26
4.7 Metode Pengambilan Data
4.7.1 Data Primer
Penelitian ini menggunakan data primer yang dikumpulkan melalui
wawancara dengan media kuesioner yang telah di rancang dan di siapkan oleh
peneliti dan telah memenuhi kriteria yang ditetapkan.
4.7.2 Data Sekunder
Data sekunder diperoleh dari catatan administrasiPuskesmas Medan
Johor.

4.8 Teknik Pengukuran


Teknik penilaian gambaran prilaku ibu tentang status gizi balita di
Puskesmas Medan Johorberdasarkan tingkat skala pengukuran menurut Hadi
Pranoto dan Sudiarti, yaitu:
Pengetahuan
a. Baik, jika jawaban benar > 75% dari skor total.
b. Cukup, jika jawaban benar < 75% dari skor total.

a. Untuk jawaban yang benar =2


b. Untuk jawaban yang kurang tepat =1

Skor tertinggi dalam setiap aspek pertanyaan = 30


Baik : >75% : skor 21-27
Cukup : <75% : skor 20

4.9 Manajemen Data


Pengolahan data ini melalui tahap-tahap sebagai berikut:
a. Menyunting data (data editing)
Editing dilakukan setiap kali responden selesai mengisi kuesioner. Bila ada
kesalahan atau tidak lengkap peneliti kembali menemui responden untuk
klarifikasi.

27
b. Mengkode data (data coding)
Proses pemberian kode kepada setiap variabel yang telah dikumpulkan untuk
memudahkan dalam memasukkan.
c. Memasukkan data (data entry)
Memasukkan data yang telah diberikan kode.
d. Membersihkan data (data cleaning)
Setelah data dimasukkan dilakukan pengecekan kembali untuk memastikan
data tersebut tidak ada yang salah sehingga dengan demikian data tersebut telah
siap diolah dan dianalisis.
e. Memberikan nilai data (data scoring)
Penilaian data dilakukan dengan pemberian skor terhadap jawaban yang
menyangkut variabel pengetahuan, variabel sikap dan variabel tindakan.15

28
DAFTAR PUSTAKA

1. Putri, R., Sulastri, D., Lestari, Y et al. Faktor-Faktor yang Berhubungan


dengan Status Gizi Anak Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Nanggalo
Padang, (online). Tersedia di
http://jurnal.fk.unand.ac.id/index.php/jka/article/view/231
2. Novita, S. Faktor-Faktor Resiko Kejadian Gizi Buruk Pada Balita Yang
Dirawat Di RSUP Dr. Kariadi Semarang, (online). Tersedia di
http://www.ejournals1.undip.ac.id/index.php/medico/article/viewFile/1587/15
83
3. Notoatdmodjo, S., 2010. Ilmu Perilaku Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.
4. Dewa Nyoman Supariasa.2002. Penilaian Status Gizi. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC
5. Almatsier, S., 2006. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka
Utama.
6. Riyadi H. 2006. Prinsip dan Petunjuk Penilaian Status Gizi. Bogor. Jurusan
Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga. Fakultas Pertanian Bogor.
7. Arisman. (2010). Gizi Dalam Daur Kehidupan , Penerbit Buku Kedokteran
EGC, Jakarta
8. Soekirman, 2000. Ilmu Gizi dan Aplikasinya. Direktorat Jenderal Pendidikan
Tinggi Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta
9. Kemenkes RI. 2011. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
tentang Standar Antropometri Penilaian Status Gizi Anak. Jakarta : Dirjen
Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak.
10. WHO, 2015. malnutrition. Available from:
http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs338/en/ [Accesed 27 Februari
2017]
11. Kemenkes RI. 2013. Riset Kesehatan Dasar. Jakarta: Badan Penelitian dan
Pengembangan Kesehatan Kemenkes RI.
12. Ali, Arsad Rahim. 2009. Patogenesis Penyakit Defisiensi
Gizi.http://arali2008.files.wordpress.com/2009/10/monitoring.gizi

29
13. Depkes, RI. 2017. Kekurangan Energi Protein. Available from:
http://www.idijembrana.or.id/index.php?module=artikel&kode=10 [Accesed
27 Februari 2017]
14. Susila dan Suyanto., 2015. Metodologi Penelitian Cross Sectional. Klaten:
BOSSCRIPT.
15. Sastroasmoro, S. Dan Ismael, S., 2011. Dasar-Dasar Metodologi Penelitian
Klinis. Ed 4, Jakarta: CV. Sagung Seto.

16. Sibagariang, E.E., dkk., 2010. Buku SAKU Metodologi Penelitian


Kebidanan Mntuk Mahasiswa Diploma Kesehatan. Jakarta: Trans Info
Media.

30