Anda di halaman 1dari 2

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Gangguan jiwa merupakan sindrom atau pola perilaku, atau psikologi
seseorang, yang secara klinik cukup bermakna, dan yang secara khas berkaitan
dengan suatu gejala penderitaan (distress) atau hendaya (impairment/disability) di
dalam satu atau lebih fungsi yang penting dari manusia. Sebagai tambahan,
disimpulakan bahwa disfungsi itu adalah disfungsi dalam segi prilaku, psikologik,
atau biologik, dan gangguan itu tidak semata-mata terletak di dalam hubungan
antara orang itu dengan masyarakat.1
Penderita gangguan jiwa sering mendapatkan stigma dan diskriminasi
yang lebih besar dari masyarakat disekitarnya dibandingkan individu yang
menderita penyakit medis lainnya. Tidak hanya menimbulkan konsekuensi negatif
terhadap penderitanya tetapi juga bagi anggota keluarga, meliputi sikapsikap
penolakan, penyangkalan, dan disisihkan. Penderita gangguan jiwa mempunyai
resiko tinggi terhadap pelanggaran hak asasi manusia. Mereka sering sekali
disebut sebagai orang gila (insanity atau madness). Perlakuan ini disebabkan
karena ketidaktahuan atau pengertian yang salah dari keluarga atau anggota
masyarakat mengenai gangguan jiwa.
Menurut data World Health Organisation (WHO), masalah gangguan jiwa
di seluruh dunia memang sudah menjadi masalah yang sangat serius. Data statistik
yang dikemukakan oleh WHO-World Health Organization (1990) menyebutkan
bahwa setiap saat, 1% dari penduduk dunia berada dalam keadaan membutuhkan
pertolongan serta pengobatan untuk gangguan jiwa. Sementara itu, 10% dari
penduduk memerlukan pertolongan kedokteran jiwa pada satu waktu dalam
hidupnya. Menurut Uton Muchtar Rafei (2006), Direktur WHO wilayah Asia
Tenggara, hampir satu per tiga dari penduduk di wilayah ini pernah mengalami
gangguan neuropsikiatri. Hal tersebut didukung oleh data WHO bahwa 26 juta
penduduk Indonesia mengalami gangguan jiwa. Panik dan cemas adalah gejala
paling ringan. Kira-kira 12-16% atau 26 juta dari total populasi mengalami gejala-

1
2

gejala gangguan jiwa. The Indonesian Psychiatric Epidemiologic Network


menyatakan bahwa di 11 kota di Indonesia ditemukan 18,5% dari penduduk
dewasa menderita gangguan jiwa. Skizofrenia itu sendiri merupakan suatu
deskripsi sindrom dengan variasi penyebab dan perjalanan penyakit yang luas,
serta sejumlah akibat yang tergantung pada perimbangan pengaruh genetik, dan
sosial budaya. 1,2
Data dari Departemen Kesehatan RI tahun 2007, total jumlah penderita
gangguan jiwa di Indonesia mencapai lebih dari 28 juta orang, dengan kategori
gangguan jiwa ringan 11,6% dari populasi dan 0,46% menderita gangguan jiwa
berat atau 46 per mil.Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar(Depkes,2007)
menyatakan 14,1%penduduk Indonesia mengalami gangguan jiwa dari yang
ringan hingga berat, kondisi ini diperberat melalui aneka bencana alam yang
terjadi di hampir seluruh wilayah Indonesia. Data jumlah penderita gangguan jiwa
di Indonesia terus bertambah, data dari 33 rumah sakit jiwa (RSJ) diseluruh
Indonesia hingga kini jumlah penderita gangguan jiwa berat mencapai 2,5 juta
orang. 11,6% penduduk Indonesia yang berusia diatas 15 tahun mengalami
gangguan mental emosional atau berkisar 19 jutapenduduk. Sebesar 0,46%
diantaranya bahkan mengalami gangguan jiwa berat atau sekitar 1 juta penduduk3.
Pasien dengan gangguan jiwa dapat melakukan hal-hal yang
membahayakan dirinya ataupun orang lain disekitarnya, hal tersebut
dikelompokkan dalam kegawatdaruratan psikiatrik, dimana gaduh gelisah
merupakan salah satu bagiannya. Keadaan gaduh gelisah bukanlah merupakan
diagnosis tersendiri dalam psikiatri dan keadaan ini dapat diakibatkan oleh
bermacam-macam penyebab dan harus ditentukan tiap kali pada setiap pasien.
Biasanya gaduh gelisah ini merupakan manifestasi dari psikosa (baik psikosa yang
disebabkan oleh gangguan otak organik maupun fungsional seperti skizofrenia,
psikosa afektif, psikosa paranoid maupun psikosa reaktif), tapi tidak jarang
gangguan psikiatri lainpun mempunyai gambaran yang serupa.