Anda di halaman 1dari 21

METODA STRUT AND TIE

PENDAHULUAN
Metode Strut and Tie, yang dikembangkan dari
metode analogi model truss untuk balok,
merupakan salah satu metode pendekatan untuk
menganalisis struktur beton pada daerah-D.
Metode Strut dan Tie adalah sebuah metode yang
didasarkan pada sistem keseimbangan gaya-gaya
yang bekerja pada sebuah struktur ketika dibebani.
Komponen utama dari metoda strut dan tie ini
terdiri atas daerah tekan (compressive struts),
daerah tarik (tension ties), dan daerah nodal (nodal
zone) sebagai daerah pertemuan.

1
a). Struktur yang dibebani gaya luar
b). Beban dan reaksi sesuai dengan hipotesis Bernoulli
c). Pengaruh gangguan ujung
d). Struktur dengan daerah–B dan daerah-D

D-Region and B-Region

2
Geometric Discontinuities

Loading and Geometric


Discontinuities

3
Batasan
Balok Tinggi

Analisis Daerah D
Analisis daerah-D dapat dilakukan secara dua
dimensi dan tiga dimensi. Untuk struktur yang
memiliki ketebalan yang sama, seperti balok;
konsol dan bukaan pada pelat, kondisi yang
terjadi merupakan kondisi tegangan bidang,
sehingga analisis dapat disederhanakan
menjadi dua dimensi. Sedangkan untuk
struktur dimana kondisi tegangannya bersifat
tiga dimensi seperti efek punching akibat
beban terpusat pada pile cap maka analisis
harus dilakukan secara tiga dimensi.

4
Pemodelan Strut-and-Tie
Merupakan suatu prosedur iterasi yang
mencakup:
• Pemilihan model strut-and-tie “trial”.
• Pendimensian dan pendetailan struts, ties,
dan nodes.
• Check dimension struts, nodes, dan tie
untuk menjamin pilihan STM adalah
benar.
• Lakukan iterasi model strut-and-tie bila
diperlukan.

Pemilihan Model Strut-and-Tie

Pendekatan yang dapat dipakai untuk


memudahkan pemilihan STMmodel adalah;
1. Metode Trayektori Tegangan Tekan
(Compressive Stress Trajektories).
2. Metode Lintasan Beban

5
Trajectori Teg pd Balok Tinggi

Gambaran Strut and Tie

6
Strut and Tie Model pada Balok
Tinggi Menerus

Penetapan STM pada Daerah D


berdasarkan Lintasan Beban
• Identifikasi dan isolasi daerah D
• Hitung teg internal pada perbatasan daerah D pada
level kekuatan dengan menggunakan pendekatan
kuat ultimit atau dengan asumsi perilaku elastik.
• Bagi daerah perbatasan menjadi sub-sub daerah
dan tentukan resultan gaya di masing-masing sub
daerah.
• Gambarkan rangka batang untuk mengalihkan
gaya-gaya dari satu daerah perbatasan kedaerah
perbatasan yang lain. Untuk penggambaran rangka,
sudut θ harus diasumsikan. Umumnya dapat diambil
kemiringan 2:1.

7
Gaya pada Daerah Perbatasan

Optimasi STM
1. Arah sudut compression strut pada tiap bagian harus sesuai dengan
arah tegangan tekan utama pada daerah tersebut. Umumnya arah
strut adalah ± 15° dari arah tegangan tekan utama yang bersesuaian.
2. Model yang paling tepat adalah model yang membutuhkan tulangan
yang paling sedikit. Beban akan berusaha mengikuti lintasan dengan
gaya dan deformasi yang paling sedikit. Dan karena tie lebih mudah
terdeformasi daripada strut (regangan pada baja biasanya jauh lebih
besar daripada regangan beton), maka model yang terbaik adlh yang
paling sedikit mengandung ties. Kriteria ini dinyatakan sebagai;

∑T l εi i I = minimum

dimana;
Ti = Gaya pada elemen ties
li = Panjang ties
εI = Regangan rata-rata tie

8
Prosedur Umum
1. Tentukan Model Strut-Tie yang akan digunakan, yaitu mulai dari
penggambaran aliran gaya, pemilihan model dan optimasi
model. Tentukan letak dari nodal, strut dan tie
2. Tentukan dimensi dari masing-masing elemen sesuai batasan
geometrik struktur seperti tinggi pengangkuran, luas daerah
perletakan dan daerah pembebanan. Kemudian hitung semua
gaya luar yang terjadi pada struktur.
3. Tentukan geometrik model strut-tie. Strut digambarkan dengan
garis lurus pada sumbu strut. Tie digambarkan sebagai garis
lurus yang berimpit dengan sentroid tulangan. Nodal adalah
daerah tempat perpotongan strut, tie dan garis kerja beban.
Dimensi nodal dibatasi oleh keadaan geometrik struktur seperti
luas daerah perletakan, tinggi pengangkuran dan luas pelat
tumpu (bearing plate).

4. Tentukan gaya-gaya dalam pada setiap elemen strut-tie. Untuk


model strut-tie statis tak tentu, dilakukan estimasi terhadap
kekakuan relatief struktur untuk menentukan gaya-gayanya.
5. Periksa apakah tegangan pada tiap strut dan nodal memenuhi
syarat kapasitas tegangan efektif.
6. Tentukan luas tulangan yang dibutuhkan berdasarkan besarnya
gaya pada tie dan luas daerah pengangkurannya.

9
Strut and Tie Model pada Balok
Tinggi

Klasifikasi Nodal

10
Nodal Hidrostatis

Extended
Nodal Zone

11
Pembagian Nodal Zone

Nodal Truss

12
Jenis Strut

Strut yang Diangkur oleh Tulangan

13
Jenis Pengangkuran Strut Lainnya

Strut yang diangkur oleh Strut yang diangkur oleh


Bearing dan Tulangan Bearing dan Strut

Bottled Shape Strut

14
Penampang Kritis untuk Daerah
Nodal dan Strut Tekan

Interface antara Zona Lokal dan


Strut Tekan

15
Contoh

Contoh

16
Model yang Salah

Contoh Corbel

17
Alternatif Model Truss

Aspek Desain
• Sudut θ antara sumbu-sumbu strut dan tie
yang bertemu di titik nodal tidak boleh
kurang dari 25 derajat.
• Desain struts, ties, dan daerah nodal
harus didasarkan pada
φFn ≥ Fu
dimana φ ditentukan berdasarkan faktor
reduksi geser, yaitu = 0,75

18
Kuat Tekan Nominal Strut

• Kuat tekan nominal strut tanpa tulangan


longitudinal dapat diambil sebagai nilai Fns
terkecil dikedua ujung strut, yaitu:
Fns = fceAcs
fce merupakan nilai kuat tekan terkecil
antara strut dan daerah nodal.

fce untuk Strut


fce = 0.85βsfc′
• Untuk strut dengan penampang seragam
disepanjang strut tsb ............. βs = 1.0
• Untuk strut dengan penampang tengah lebih
besar drpd penampang ujung (bottle-shaped
struts):
- dgn tulangan ..... βs = 0.75
- tanpa tulangan ..................... βs = 0.60λ
• Untuk strut pada elemen tarik βs = 0.40
• Untuk kasus lain .................. βs = 0.60λ

19
Pengaruh Tulangan Tekan pada
Strut
Tulangan tekan dapat diperhitungkan ikut berkontribusi
dalam meningkatkan kuat tekan strut bilamana tulangan
tersebut:
- Terangkur dengan baik
- Paralel dengan sumbu strut
- Berada dalam strut yang ditinjau
- Terikat oleh tulangan sengkang ikat atau spiral
Jika hal tsb terpenuhi, kuat nominal strut yang memiliki
tulangan pada arah longitudinalnya adalah:

Fns = fce Acs + As fs

Kuat Tarik Tie


• Kuat tarik nominal suatu tie, Fnt, dihitung
sebagai:
Fnt = Atsfy
• Sumbu tulangan dalam suatu tie harus
sama dengan sumbu tie pada model STM
• Tulangan tie harus diangkur dengan
mechanical devices, kait standar atau
panjang penyaluran tulangan lurus.

20
Kuat Tekan Nominal Nodal Zone

• Kuat tekan nominal nodal zone dapat diambil sebagai:


Fnn = fceAnz
fce adalah kuat tekan efektif beton pada nodal zone. Anz
merupakan nilai terkecil dari:
(a) Luas muka nodal zone padamana Fu bekerja (diambil
tegaklurus thd garis kerja Fu)
(b) Luas penampang yang memotong nodal zone
(diambil tegaklurus thd garis kerja gaya resultan pada
penampang).

fce untuk Daerah Nodal


fce = 0.85βnfc′

• Untuk nodal zone yang dibatasi oleh strut atau


bidang tumpu atau keduanya ............. βn = 1.0
• Untuk nodal zone yang menjadi tempat angkur
satu tie ..... …………………βn = 0.80
• Untuk nodal zone yang menjadi tempat angkur
dua tie atau lebih ………………. βn = 0.60

21