Anda di halaman 1dari 81

BAB I

DINAMIKA PERWUJUDAN PANCASILA SEBAGAI DASAR NEGARA


DAN PANDANGAN HIDUP BANGSA

Kompetensi Dsar
1.1 Mensyukuri perwujudan pancasila sebagai dasar negara yang merupakan anugerah Tuhan
Yang Maha Esa
2.2 Menunjukkan sikap bangga akan tanah air sebagai perwujudan nilai-nilai Pancasila
sebagai dasar negara
3.1 Membandingkan antara peristiwa dan dinamika yang terjadi di masyarakat dengan praktik
ideal Pancasila sebagai dasar negara dan pandangan hidup bangsa
4.1 Merancang dan melakukan penelitian sederhana tentang peristiwa dan dinamika yang
terjadi di masyarakat terkait penerapan Pancasila sebagai dasar negara dan pandangan
hidup bangsa

Petunjuk
Supaya kamu mampu menguasai KD tersebut silahkan kamu kerjakan lembar
kerja berikut ini dengan mencari informasi pada Informasiku!

Lembar Kerja
Kerjakanlah lembar kerja 1, 2 dan 3 yang ada pada portofolio lembar kerja
kalian!

Informasiku
A. PENERAPAN PANCASILA DARI MASA KE MASA
Kedudukan Pancasila sebagai dasar negara dan pandangan hidup bangsa dalam
perwujudannya banyak sekali mengalami pasang surut. Bahkan sejarah bangsa kita telah
mencatat bahwa pernah ada upaya untuk mengganti Pancasila sebagai dasar negara dan
pandangan hidup bangsa dengan ideologi lainnya. Upaya ini dapat digagalkan oleh bangsa
Indonesia sendiri. Meskipun demikian, tidak berarti ancaman terhadap Pancasila sebagai dasar
negara sudah berakhir. Tantangan masa kini dan masa depan yang terjadi dalam
perkembangan masyarakat Indonesia dan dunia internasional, dapat menjadi ancaman bagi
nilai-nilai Pancasila sebagai dasar negara dan pandangan hidup.
1. Masa Orde Lama
Masa orde lama adalah masa pencarian bentuk penerapan Pancasila terutama dalam
sistem kenegaraan. Terdapat 3 periode penerapan Pancasila yang berbeda, yaitu periode 1945-
1950, periode 1950-1959, dan periode 1959-1966.
a. Periode 1945-1950
Pada periode 1945-1950 ada upaya-upaya mengganti Pancasila dengan ideologi yang
lain. Upaya-upaya tersebut terlihat dari munculnya gerakan-gerakan pemberontakan yang
tujuannya menganti Pancasila dengan ideologi lainnya. Ada dua pemberontakan yang terjadi
pada masa tersebut yaitu sebagai berikut.
1. Pemberontakan PKI di Madiun terjadi pada tanggal 18 September 1948 yang dipimpin oleh
Muso. Tujuan utamnay adalah mendirikan negara Soviet Indonesia yang berideologi

1
komunis yang berarti pemberontakan tersebut akan mengganti Pancasila dengan paham
komunis. Pemberontakan ini pada akhirnya bisa digagalkan.
2. Pemberontakan DI/TII yang dipimpin oleh Sekarmaji Marijan Kartosuwiryo.
Pemberontakan ini ditandai dengan didirikannya Negara Islam Indonesia (NII) pada tanggal
17 Agustus 1949. Tujuan utama didirikannya NII adalah untuk mengganti Pancasila sebagai
dasar negara dengan syariat islam. Kartosuwiryo bersama para pengikutnya baru bisa
ditangkap pada tanggal 4 Juni 1962.

b. Periode 1950-1959
Pada periode ini dasar negara tetap Pancasila, akan tetapi dalam penerapannya lebih
diarahkan seperti ideologi leberal. Hal tersebut dapat dilihat dalam penerapan sila keempat
yang tidak lagi berjiwakan musyawarah mufakat, melainkan suara terbanyak (voting).
Sehingga penerapan Pancasila selama periode ini adalah Pancasila diarahkan sebagai ideologi
liberal yang ternyata tidak menjamin stabilitas pemerintahan.
Pada periode ini muncul pemberontakan RMS, PRRI, dan Permesta yang ingin melepaskan
diri dari NKRI. Namun dalam bidang politik pemilu 1955 dianggap sebagai pemilu paling
demokratis. Namun anggota Konstituante hasil pemilu tidak dapat menyusun Undang-
Undang Dasar sehingga menimbulkan krisis politik, ekonomi, dan keamanan, yang
menyebabkan pemerintah mengeluarkan Dekrit Presiden 1959 untuk membubarkan
Konstituante, Undang-Undang Dasar Sementara Tahun 1950 tidak berlaku, dan kembali
kepada Undang-Undang Dasar Tahun 1945.
c. Periode 1956-1965
Periode ini dikenal sebagai periode demokrasi terpimpin karena demokrasi bukan
berada pada kekuasaan rakyat sehingga yang memimpin adalah nilai-nilai Pancasila tetapi
berada pada kekuasaan pribadi presiden Soekarno. Akibatnya Soekarno menjadi pemimpin
yang otoriter, misalnya beliau diangkat menjadi presiden seumur hidup, dan menggabungkan
Nasionalis, Agama, dan Komunis, yang ternyata tidak cocok bagi NKRI.
Pada periode ini terjadi Pemberontakan PKI pada tanggal 30 September 1965 yang dipimpin
oleh D.N Aidit. Tujuan pemberontakan ini adalah kembali mendirikan Negara Soviet di
Indonesia serta mengganti Pancasila dengan paham komunis, namun pemberontakkan ini
dapat digagalkan.

Infoku Infomu!
Masa orede lama adalah masa pencarian bentuk penerapan pancasila terutama dalam
sistem kenegaraan.dan masih banyak pemberontkan yang terjadi. Inilah pemberontakan yang
terjadi pada orde lama:
PKI MADIUN 1948
Waktu : 1948, dengan memproklamasikan berdirina Negara Republik Soviet
Indonesia
Sebab : Hasil kesepakatan Renville menguntungkan Belanda
Pemimpin : Muso

2
Cara Penumpasan : Pemerintah mengajak rakyat ( Gerakan Operasi Militer I ) dan melakukan
penyitaan dan pelarangan terhadap beberapa surat kabar berhaluan
komunis
Hasil : Pemberontak ditumpas dan Madiun direbut kembali

Munculnya PKI merupakan awal dari perpecahan pada SI ( Sarikat Islam ) yang mendapat
pengaruh ISDV ( Internasionalisme Sosialisme Democratise Vereeniging ) yang didirikan
oleh H.J.F.M Snevliet dkk pada bulan Mei 1914 di Semarang, lalu pada bulan Desember
diubah menjadi PKI.
Pada tanggal 13 Nopember 1926 PKI melakukan pemberontakan terhadap pemerintah
Belanda. Lalu pada tanggal 18 September 1948 Muso memimpin pemberontakan terhadap RI
di Madiun, yang bertujuan ingin mengubah dasar negara Pancasila menjadi dasar negara
Komunis. Pemberontakan ini ikut menyebar hampir di seluruh daerah Jawa Timur namun
berhasil di gagalkan dengan ditembak matinya Muso sedangkan Semaun dan Dharsono lari
ke Rusia.
DI ( DARUL ISLAM ) / NII ( NEGARA ISLAM INDONESIA )
Jawa Barat
Waktu : 14 Agustus 1947
Latar belakang : Tidak setujunya dengan pemerintah RI saat terjadi perundingan Renville
yang dianggap merugikan pemerintah Indonesia
Pemimpin : Sekarmaji Maridjan Kartosuwiryo
Cara penumpasan : Melakukan Operasi Militer taktik pagar besi yang menggunakan ratusan
ribu rakyat untuk mempersempit ruang gerak
Hasil : Pada tanggal 4 juni 1962 kartosuwiryo berhasil ditangkap di gunung
beber oleh pasukan siliwangi
Sekarmaji Marijan Kartosuwiryo tidak setuju terhadap isi perjanjian Renville. Sewaktu TNI
hijrah ke daerah RI ( Yogyakarta ) ia dan anak buahnya menolak dan tidak mau mengakui
Republik Indonesia dan ingin menyingkirkan Pancasila sebagai dasar negara. Untuk itu ia
memproklamasikan berdirinya Negara Islam Indonesia dengan nama Darul Islam ( DI )
Jawa Tengah
Waktu : 23 Agustus 19
Latar belakang : Pengurusan penggabungan laskar laskar masuk ke dalam TNI
Pemimpin : Amir Fatah
Cara penumpasan : Pemerintah membentuk pasukan baru yang disebut dengan Bintang
Raiders
Hasil : Dilakukannya operasi guntur pada tahun 1954, gerombolan Amir Fatah
dapat dicerai Beraikan
Dipimpin oleh Amir Fatah dan Kyai Sumolangu. Selama Agresi Militer Belanda ke II Amir
Fatah diberi tugas menggabungkan laskar-laskar untuk masuk dalam TNI. Namun setelah
banyak anggotanya ia beserta anak buahnya melarikan diri dan menyatakan bagian dari
DI/TII.
Sulawesi Selatan
Waktu : 30 April 1950
Latar belakang : Banyak pemuda sulawesi yg tergabung dalam PRI sulawesi ikut
bertempur untuk mempertahankan kota Surabaya
Pemimpin : Kahar Muzakar
Cara penumpasan : Dilakukan penyergapan oleh pasukan TNI dan
Hasil : Kahar Muzakar tertembak mati
Dipimpin oleh Abdul Kahar Muzakar. Dia berambisi untuk menduduki jabatan sebagai
pimpinan APRIS ( Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat ) dan menuntut agar
Komando Gerilya Sulawesi Selatan ( KGSS ) dimasukkan ke dalam APRIS dengan nama

3
Brigade Hasanuddin. Tuntutan tersebut ditolak oleh pemerintah sebab hanya mereka yang
memenuhi syarat saja yang akan menjadi tentara maka terjadilah pemberontakan tersebut.
Aceh
Waktu : 20 September 1953
Latar belakang : Setelah proklamasi Kemerdekaan RI , di Aceh terjadi pertentangan antara
alim ulama dengan para kepala asla
Pemimpin : Tengku Daud
Cara penumpasan : Antar prakarsa panglima kadam iskandar muda , colonel M. jann maka
dilaksanakan musyawarah kerukunan rakyat aceh
Hasil : Musyawarah ini mendapat dukungan dari tokoh tokoh masyarakat aceh
dan berhasil memulihkan keamanan
Dipimpin oleh Daud Beureueh Gubernur Militer Aceh, karena status Aceh sebagai daerah
Istimewa diturunkan menjadi sebuah karesidenan di bawah propinsi Sumatera Utara. Ia lalu
menyusun kekuatan dan menyatakan dirinya bagian dari DI/TII. Pemberontakan ini dapat
dihentikan dengan jalan Musyawarah Kerukunan Rakyat Aceh ( MKRA ).
Kalimantan Selatan
Waktu : Oktober 1950
Latar belakang : Terjadi pemberontakkan kesatuan masyarakat tertindas
Pemimpin : Ibnu Hajar
Cara mengatasi : Melakukan gerakan Operasi militer ke Kalimantan selatan
Hasil : Pada tahun 1954 ibnu hajar di tangkap dan di hukum mati pada 22 maret
1955
Dipimpin oleh Ibnu Hajar, ia menyatakan dirinya bagian dari DI/TII dengan
memperjuangkan kelompok rakyat yang tertindas. Ia dan anak buahnya menyerang pos-pos
kesatuan tentara serta melakukan tindakan pengacauan yang pada akhirnya Ibnu Hajar sendiri
ditembak mati.
APRA ( ANGKATAN PERANG RATU ADIL )
Waktu : 23 Januari 1950
Latar belakang : APRA menuntut supaya APRA diakui sebagai Tentara Pasundan dan
menolak dibubarkannya Pasundan/negara Federal tersebut.
Pemimpin : Kapten Raymond Westerling
Cara mengatasi : Melakukan gerakan operasi militer
Hasil : Sultan Hamid II berhasil ditangkap pada tanggal 4 April 1950. Akan
tetapi, Westerling berhasil melarikan diri ke luar negeri
Pemberontakan ini dipimpin oleh Kapten Raymond Westerling bekas tentara KNIL.
Tujuannya agar pemerintah RIS dan negara Pasundan mengakui APRA sebagai tentara negara
Pasundan dan agar negara Pasundfan tidak dibubarkan/dilebur ke dalam NKRI.
Pemberontakan Andi Azis
Waktu : 5 Januari 1950
Latar belakang : Menyerang gedung tempat berlangsungnya sidang kabinet
Pemimpin : Andi Azis
Cara penumpasan : Pada tanggal 8 April 1950 dikeluarkan ultimatum bahwa dalam waktu
424 jam Andi Azis harus melaporkan diri ke Jakarta untuk
mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Hasil : Pasukannya harus dikonsinyasi, senjata-senjata dikembalikan, dan
semua tawanan harus dilepaskan.
Beliau merupakan komandan kompi APRIS yang menolak kedatangan TNI ke Sulawesi
Selatan karena suasananya tidak aman dan terjadi demonstrasi pro dan kontra terhadap negara
federasi. Ia dan pasukannya menyerang lapangan terbang, kantor telkom, dan pos-pos militer
TNI. Pemerintah mengeluarkan ultimatum agar dalam tempo 4 x 24 jam ia harus
mempertanggung jawabkan perbuatannya.
RMS ( Republik Maluku Selatan )

4
Waktu :25 April 1950
Latar belakang :Tidak puas dengan terjadinya proses kembali ke NKRI
Pemimpin :Dr. Christian Robert Steven Soumokil
Cara penumpasan :Diselesaikan secara damai dengan mengirimlkan misi dipimpin Leimena
gagal sehingga kemudian dikrimkan pasukan ekspedisi militer pimpinan
Kawilarang.
Hasil : Sisa sisa kekuatan RMS banyak yang melarikan diri ke pulau seram
dan membuat kekacauan akhirnya Soumokil dapat di tangkap dan jatuhi
hukuman mati
Pemberontakan ini dipimpin oleh Dr. Christian Robert Stevenson Soumokil bekas jaksa agung
NIT ( Negara Indonesia Timur ). Ia menyatakan berdirinya Republik Maluku Selatan dan
memproklamasikannya pada 25 April 1950. Pemberontakan ini dapat ditumpas setelah
dibayar mahal dengan kematian Letkol Slamet Riyadi, Letkol S. Sudiarto dan Mayor
Abdullah.
PRRI/PERMEST PRRI ( Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia )
Waktu : 15 Februari 1958
Latar belakang : Keinginan adanya otonomi yg luas
Pemimpin : Letnal Kolonel Achmad Husein
Cara penumpasan : Operasi militer Pemerintah mengerahkan pasukan militer terbesar di
sejarah militer Indonesia
Hasil : Operasi militer dipimpin AE Kaliurang berhasil kembali menguasai
daerah

PERMESTA ( Piagam Perjuangan Rakyat Semesta )


Waktu : 7 Februari 1958
Latar belakang : Masyarakat di manado tidak puas dengan keadaan ekonomi
Pemimpin : Letkol Ventje Sumual
Cara penumpasan : Pemerintah Republik Indonesia menggunakan operasi militer untuk
menghentikan pemberontakan
Setelah Pemilu I dilaksanakan, situasi semakin memburuk dan terjadi pertentangan . Beberapa
daerah merasa seolah-olah diberlakukan secara tidak adil ( merasa dianaktirikan ) sehingga
muncul gerakan separatis di Sumatera yaitu PRRI ( Pemerintahan Revolusioner Republik
Indonesia ) dipimpin oleh Kolonel Ahmad Husen dan PERMESTA ( Piagam Perjuangan
Rakyat Semesta ) di Sulawesi Utara dipimpin oleh D.J. Somba dan Kolonel Ventje Sumual.
G30 S/PKI
Waktu : 30 September 1998
Latar belakang : Mengganti Ideologi Pancasil
Pemimpin : DN Aidit
Cara penumpasan : Operasi Militer
Hasil : PKI dinyatakan sebagai partai terlarang dan dibubarkan
Pada tanggal 30 September 1965 jam 03.00 dinihari PKI melakukan pemberontakan yang
dipimpin oleh DN Aidit dan berhasil membunuh 7 perwira tinggi. Mereka punya tekad ingin
menggantikan Pancasila sebagai dasar negara dengan Komunis-Marxis. Setelah jelas
terungkap bahwa PKI punya keinginan lain maka diadakan operasi penumpasan :
1. Menginsyafkan kesatuan-keasatuan yang dimanfaatkan oleh PKI
2. Merebut studio RRI dan kantor besar Telkom dipimpin Kolonel Sarwo Edhy Wibowo
dari RPKAD
3. Gerakan pembersihan terhadap tokoh-tokoh yang terlibat langsung maupun yang
mendalanginya.
Akhirnya PKI dinyatakan sebagai partai terlarang dan tidak boleh lagi tersebar di seluruh
wilayah Indonesia berdasarkan SK Presiden yang ditanda tangani pengemban Supersemar

5
Ltjen Soeharto yang menetapkan pembubaran PKI dan ormas-ormasnya tanggal 12 Maret
1966.

2. Masa Orde Baru


Era baru dalam pemerintahan dimulai setelah melalui masa transisi yang singkat yaitu
antara tahun 1966-1968. Jenderal Soeharto dipilih menjadi Presiden Republik Indonesia. Visi
utama pemerintahan Orde Baru ini adalah untuk melaksanakan Pancasila dan UUD 1945
secara murni dan konsekuen dalam setiap aspek kehidupan masyarakat Indonesia.
Presiden Soeharto sebagai tokoh utama Orde Baru dianggap sebagai sesosok yang
mampu mengeluarkan bangsa ini keluar dari keterpurukan. Beliau berhasil membubarkan PKI
dan berhasil menciptakan stabilitas keamanan negeri. Itulah beberapa anggapan yang menjadi
dasar kepercayaan rakyat terhadap pemerintahan Orde Baru di bawah pimpinan Presiden
Soeharto.
Harapan rakyat tersebut tidak sepenuhnya terwujud. Karena, sebenarnya tidak ada perubahan
yang subtantif dari kehidupan politik Indonesia. Dalam perjalanan politik pemerintahan Orde
Baru, kekuasaan Presiden merupakan pusat dari seluruh proses politik di Indonesia. Lembaga
Kepresidenan merupakan pengontrol utama lembaga negara lainnya baik yang bersifat
suprastruktur (DPR, MPR, DPA, BPK dan MA) maupun yang bersifat infrastruktur (LSM,
Partai Politik, dan sebagainya).
Selain itu juga Presiden Soeharto mempunyai sejumlah legalitas yang tidak dimiliki
oleh siapapun seperti Pengemban Supersemar, Mandataris MPR, Bapak Pembangunan dan
Panglima Tertinggi ABRI.

3. Masa Reformasi
Pada masa reformasi, penerapan Pancasila sebagai dasar negara dan pandangan hidup
bangsa terus menghadapi berbagai tantangan. Penerapan Pancasila tidak lagi dihadapkan pada
ancaman pemberontakan-pemberontakan yang ingin mengganti Pancasila dengan ideologi
lain, akan tetapi lebih dihadapkan pada kondisi kehidupan masyarakat. Beberapa tantangan
yang dihadapi pada masa reformasi antara lain sebagai berikut.
Adanya kebebasan berbicara, berorganisasi, berekspresi dan sebagainya di satu sisi dapat
memacu kreativitas masyarakat, namun di sisi lainya berdampak negatif yang merugikan
bangsa Indonesia sendiri. Banyak hal negatif yang timbul sebagai akibat penerapan konsep
kebebasan yang tanpa batas, seperti munculnya pergaulan bebas, pola komunikasi yang tidak
beretika yang dapat memicu terjadinya perpecahan, dan sebagainya.
Tantangan lainnya adalah menurunnya rasa persatuan dan kesatuan diantara sesama warga
yang ditandai dengan adanya tawuran pelajar,dan tindak kekerasan yang dijadikan sebagai
alat untuk menyelesaikan permasalahan dan sebagainya.
Bangsa Indonesia dihadapkan pada perkembangan dunia yang sangat cepat dan mendasar,
serta berpacunya pembangunan bangsa-bangsa. Dunia saat ini sedang terus dalam gerak
mencari tata hubungan baru, baik di lapangan politik, ekonomi maupun pertahanan
keamanan. Sehingga kewaspadaan dan kesiapan harus kita tingkatkan untuk menanggulangi
penyusupan ideologi lain yang tidak sesuai dengan Pancasila.

Salah satu kejadian yang sering kita lihat dalam kehidupan sehari-hari adalah tawuran pelajar.
Tawuran pelajar ini disebabkan oleh beberapa faktor.
1. Keluarga merupakan salah satu faktor yang menyebabkan tawuran antar pelajar. Karena
baik buruknya rumah tangga sebuah keluarga akan mempengaruhi anak. Orang tua yang
otoriter dalam pengasuhan yang dipenuhi tindakan kekerasan terhadap anak.

6
2. Kualitas pengajaran yang tidak begitu memadai dan kurang menunjang proses belajar.
Misalnya saja guru yang lebih berperan sebagai pelaksana aturan dan sebagai penghukum
sehingga tidak bisa memberikan pendidikan moral dengan baik.
3. Faktor lingkungan yang memiliki pengaruh buruk. Misalnya saja lingkungan kota yang
penuh dengan kekerasan, yang disaksikan para remaja, adanya kelompok geng yang
memiliki perilaku tidak baik, dan munculnya perbedaan resepsi yang akan mengakibatkan
konflik diantara masyrakat lingkungan.
Untuk mengatasi tawuran antar pelajar memang diperlukan kerjasama yang baik
antara keluarga (masyarakat) dengan sekolah. Keluarga sebagai pendidikan utama siswa
daharapkan dapat memberikan contoh yang baik bagi siswa. Sekolah sebagai lembaga
pendidikan juga harus mampu memberikan pendidikan moral yang baik bagi siswa. Selain
itu, dari masing masing siswa harus introspeksi, jika mereka bertindak sesuai dengan norma
yang ada tentunya tawuran tidak perlu terjadi.
Tawuran antar pelajar dapat menimbulkan perselisihan antar sekolah juga antar
individu dan kelompok selain itu juga tawuran merupakan tindakan negatif yang di lakukan
remaja karena sifatnya yang masih labil. Akan lebih baik jika antar sekolah mempererat tali
silahturahmi misalnya membuat event-event olah raga bersama antar sekolah. Bagi para siswa
sendiri, untuk menghindari tawuran antar pelajar mereka dapat membekali diri dengan iman
dan taqwa, menyambung silahturahmi antar sekolah, dan tidak memilah milih teman sehingga
tawuran antar pelajar tidak terjadi. Tugas utama seorang pelajar adalah belajar untuk
mempersiapkan masa depan mereka.

B. DINAMIKA NILAI-NILAI PANCASILA SESUAI DENGAN PERKEMBANGAN


JAMAN
Diterimanya Pancasila sebagai dasar negara dan pandangan hidup bangsa membawa
konsekuensi logis bahwa nilai-nilai pancasila dijadikan landasan pokok, landasan
fundamental bagi penyelenggaraan negara Indonesia. Pancasila berisi lima sila yang pada
hakikatnya berisi lima nilai dasar yang fundamental. Nilai-nilai dasar dari Pancasila tersebut
adalah nilai Ketuhanan Yang Maha Esa, Nilai Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, nilai
Persatuan Indonesia, nilai Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalan
permusyawaratan/perwakilan, dan nilai Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

1. Hakikat Ideologi Terbuka


Ideologi adalah kumpulan gagasan/ konsep dasar bersistem untuk dijadikan dasar
pendapat, arah, dan tujuan. Sebagai suatu sistem pemikiran, ideologi sangatlah wajar jika
mengambil sumber atau berpandangan dari pandangan dan falsafah hidup bangsa. Hal tersebut
akan membuat ideologi tersebut berkembang sesuai dengan perkembangan masyarakat dan
kecerdasan kehidupan bangsa. Ideologi bersifat terbuka dengan senantiasa mendorong
terjadinya perkembangan-perkembangan pemikiran baru tentang ideologi tersebut, tanpa
harus kehilangan jatidirinya.
Ciri khas ideologi terbuka adalah nilai-nilai dan cita-citanya tidak dipaksakan dari luar,
melainkan digali dan diambil dari kekayaan rohani, moral dan budaya masyarakat itu sendiri.
Dasarnya dari konsensus masyarakat, tidak diciptakan oleh negara, melainkan ditemukan
dalam masyarakat sendiri. Ideologi terbuka mempunyai banyak sekali keunggulan
dibandingkan dengan ideologi tertutup. Keunggulan tersebut dapat kita temukan dengan cara
membandingkan karakteristik kedua ideologi tersebut.
Perbedaan
Ideologi Terbuka Ideologi Tertutup

7
1. Sistem pemikiran yang terbuka 1. Sistem pemikiran yang tertutup
2. Nilai-nilai dan cita-citanya tidak 2. Cenderung untuk memaksakan
dipaksakan dari luar, melainkan digali mengambil nilai-nilai ideologi dari
dan diambil dari harta kekayaan luar masyarakatnya yang tidak sesuai
rohani, moral dan budaya masyarakat dengan keyakinan dan pemikiran
itu sendiri. masyarakatnya.
3. Dasar pembentukan ideologi bukan 3. Dasar pembentukannya adalah cita-
keyakinan ideologis sekelompok cita atau keyakinan ideologis
orang, melainkan hasil musyawarah perseorangan atau satu kelompok
dan kesepakatan dari orang
masyarakatsendiri 4. Pada dasarnya ideologi tersebut
4. Tidak diciptakan oleh negara, diciptakan oleh negara, dalam hal ini
melainkan oleh masyarakat itu sendiri penguasa negara yang mutlak harus
sehingga ideologi tersebut adalah diikuti oleh seluruh warga masyarakat.
milik seluruh rakyat atau anggota
masyarakat.
5. Tidak hanya dibenarkan, melainkan 5. Pada hakikatnya ideologi tersebut
dibutuhkan oleh seluruh warga hanya dibutuhkan oleh penguasa
masyarakat. negara untuk melangengkan
kekuasaannya dan cenderung
memiliki nilai kebenaran hanya dari
sudut pandang penguasa saja.
6. Isinya tidak bersifat operasional. Ia 6. Isinya terdiri dari tuntutan-tuntutan
baru bersifat operasional apabila konkret dan operasional yang bersifat
sudah dijabarkan ke dalam perangkat keras yang wajib ditaati oleh seluruh
yang berupa konstitusi atau peraturan warga masyarakat
perundang-undangan lainnya.
7. Senantiasa berkembang seiring 7. Tertutup terhadap pemikiran-
dengan perkembangan aspirasi, pemikiran baru yang berkembang di
pemikiran serta akselerasi dari masyarakatnya.
masyarakat dalam mewujudkan cita-
citanya untuk hidup berbangsa dalam
mencapai harkat dan martabat
kemanusian.
Ideologi terbuka lebih unggul jika dibandingkan dengan ideologi tertutup. Hal tersebut
membuat ideologi terbuka tidak hanya sekedar dibenarkan,melainkan dibutuhkan oleh
berbagai negara. Hampir dapat dipastikan, negara yang menganut sistem ideologi tertutup
seperti negara komunis, mengalami kehancuran secara ideologis.

8
Beberapa contoh keterbukaan ideologi Pancasila dalam bidang politik, ekonomi,
pendidikan, hukum, kebudayaan, pertahanan dan kemanan antara lain sebagai berikut.
1) Bidang Politik: Pancasila mengandung nilai-penting penting seperti bermusyawarah
dalam menentukan keputusan
2) Bidang Pendidikan: Pancasila mengandung nilai-nilai luhur yang penting untuk
membangun kepribadian siswa
3) Bidang Hukum: Pancasila merupakan sumber keadilan negara yang berasaskan
kemanusiaan yang adil yang beradab
4) Bidang Kebudayaan: Pancasila menjaga ikatan manusia dengan Tuhannya dengan
melalui upacara adat yang terus terjaga secara turun temurun
5) Pertahanan dan keamanan: Pancasila menjaga keutuhan NKRI dengan asas-asas yang
luhur dalam segala bentuk upaya menjaga kemanan.

2. Kedudukan Pancasila sebagai Ideologi Terbuka


Keterbukaan Pancasila mengandung pengertian bahwa Pancasila senantiasa mampu
berinteraksi secara dinamis. Nilai-nilai Pancasila tidak berubah, namun pelaksanaannya
disesuaikan dengan kebutuhan dan tantangan nyata yang kita hadapi dalam setiap waktu. Hal
ini dimaksudkan untuk menegaskan bahwa ideologi Pancasila bersifat aktual, dinamis,
antisipatif dan senantiasa mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman, ilmu
pengetahuan dan teknologi serta dinamika perkembangan aspirasi masyarakat. Keterbukaan
ideologi Pancasila mengandung nilai-nilai sebagai berikut:
a) Nilai Dasar, yaitu hakikat kelima sila Pancasila: Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan,
Kerakyatan, Keadilan. Nilai-nilai dasar tersebut bersifat universal, sehingga di dalamnya
terkandung cita-cita, tujuan, serta nilai-nilai yang baik dan benar. Nilai dasar ini bersifat
tetap dan terlekat pada kelangsungan hidup negara. Nilai dasar tersebut selanjutnya
dijabarkan dalam pasal-pasal Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945.
b) Nilai instrumental, yaitu penjabaran lebih lanjut dari nilai-nilai dasar ideologi Pancasila.
Misalnya program-program pembangunan yang dapat disesuaikan dengan perkembangan
zaman dan aspirasimasyarakat, undang-undang, dan departemen-departemen sebagai
lembaga pelaksana juga dapat berkembang. Pada aspek ini senantiasa dapat dilakukan
perubahan.
c) Nilai praksis, yaitu merupakan realisasi nilai-nilai instrumental dalam suatu pengalaman
nyata dalam kehidupan sehari-hari dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Dalam realisasi praksis inilah maka penjabaran nilai-nilai Pancasila senantiasa

9
berkembang dan selalu dapat dilakukan perubahan dan perbaikan (reformasi) sesuai
dengan perkembangan zaman dan aspirasi masyarakat. Inilah sebabnya bahwa ideologi
Pancasila merupakan ideologi yang terbuka.
Pancasila sebagai ideologi terbuka secara struktural memiliki tiga dimensi, yaitu:
a. Dimensi Idealisme
Dimensi ini menekankan bahwa nilai-nilai dasar yang terkandung dalam Pancasila yang
bersifat sistematis, rasional dan menyeluruh itu, pada hakikatnya bersumber pada filsafat
Pancasila. Dimensi idealisme yang terkandung dalam Pancasila mampu memberikan
harapan, optimisme serta mampu mendorong motivasi pendukungnya untuk berupaya
mewujudkan cita-citanya.
b. Dimensi normative
Dimensi ini mengandung pengertian bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila
perlu dijabarkan dalam suatu sistem norma, sebagaimana terkandung dalam norma-norma
keagamaan. Dalam pengertian ini Pancasila terkandung dalam Pembukaan Undang-
Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang merupakan tertib hukum
tertinggi dalam negara Republik Indonesia serta merupakan staatsfundamentalnorm (pokok
kaidah negara yang fundamental).
c. Dimensi Realitas
Dimensi ini mengandung makna bahwa suatu ideologi harus mampu mencerminkan
realitas kehidupan yang berkembang dalam masyarakat. Dengan kata lain, Pancasila
memiliki keluwesan yang memungkinkan dan bahkan merangsang pengembangan
pemikiran-pemikiran baru yang relevan tentang dirinya, tanpa menghilangkan atau
mengingkari hakikat yang terkandung dalam nilai-nilai dasarnya.
Berdasarkan dimensi yang dimiliki oleh Pancasila sebagai ideologi terbuka, maka
ideologi Pancasila:
Tidak bersifat utopis, yaitu hanya merupakan sistem ide-ide belaka yang jauh dari
kehidupan sehari-hari secara nyata
Bukan merupakan suatu doktrin belaka yang bersifat tertutup, melainkan suatu norma
yang bersifat idealis, nyata dan reformatif yang mamapu melakukan perubahan.
Bukan merupakan suatu ideologi yang pragmatis, yang hanya menekankan pada segi
praktis-praktis belaka tanpa adanya aspek idealisme.
Pancasila dapat dipastikan bukan merupakan ideologi tertutup, tetapi ideologi terbuka.
Akan tetapi, meskipun demikian keterbukaan Pancasila bukan berarti tanpa batas. Keterbukan
ideologi Pancasila harus selalu memperhatikan:
Stabilitas nasional yang dinamis
Larangan untuk memasukan pemikiran-pemikiran yang mengandung nilai-nilai ideologi
marxisme, leninisme dan komunisme
Mencegah berkembanganya paham liberal
Larangan terhadap pandangan ekstrim yang menggelisahkan kehidupan masyarakat
Penciptaan norma yang barus harus melalui konsensus

C. LANGKAH-LANGKAH PERWUJUDAN NILAI-NILAI PANCASILA SEBAGAI


DASAR NEGARA DALAM BERBAGAI KEHIDUPAN
Pancasila berkedudukan sebagai pandangan hidup bangsa Indonesia. Pancasila
dijadikan sebagai landasan kehidupan seluruh masyarakat Indonesia dalam segala hal,
termasuk dalam bertutur kata, bersikap dan berperilaku. Tutur kata, sikap dan perilaku
merupakan salah satu wujud dari budi pekerti manusia. Tutur kata, sikap dan perilaku yang

10
sesuai dengan nilai-nilai Pancasila merupakan wujud budi pekerti luhur manusia Indonesia
yang membedakannya dengan manusia dari negara lainnya.

1. Bertutur Kata Sesuai dengan Nilai Pancasila


Manusia adalah mahkluk sosial yang perlu berkata-kata, berbincang-bincang, dengan
manusia lain dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, manusia mempunyai perasaan yang dapat
merasakan senang, marah, sakit dan sebagainya. Untuk itu diperlukan bahasa yang sopan dan
santun agar satu sama lain berkomunikasi berjalan lancar dan tidak terjadi kesalahpahaman.
Bertutur kata yang sesuai dengan nilai Pancasila adalah bertutur kata baik yang
diwujudkan dengan berkata-kata atau berbincang-bincang tidak kasar atau tidak kotor.
Dengan bertutur kata yang baik maka orang lain tidak akan tersinggung, kecewa, marah
ataupun sakit hati. Tutur kata yang baik merupakan sikap atau adab dalam berbicara yang
penuh dengan kesopanan dan mampu menempatkan bahasa yang pantas sesuai dengan situasi
dan kondisi maupun siapa yang kita ajak bicara.
Bertutur kata yang buruk atau seronok bukan keperibadian bangsa Indonesia. Hal
tersebut bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila, dan bisa menyebabkan rendahnya
penilaian orang lain terhadap kita. Oleh karena itu, supaya terhindar dari tutur kata yang buruk,
kalian harus:
1) Berpikir sebelum berkata atau menyampaikan sesuatu kepada oranglain;
2) Pikirkan akibat dari kata-kata yang akan kita ucapkan;
3) Berbicara seperlunya tanpa harus memperbanyak pembicaraan yangtidak bermanfaat;
4) Sampaikan maksud dengan bahasa yang halus dan tidak berbelit-belit;
5) Tidak meninggikan atau mengeraskan suara ketika berbicara;
6) Menunjukkan rasa hormat dan penghargaan kepada lawan bicara;
7) Berusaha membalas perkataan buruk dengan perkataan yang baik dansopan.

No. Tutur Kata yang Baik Tutur Kata yang Buruk


1. Andaikan kamu lebih rajin mungkin Kamu malas sekali belajar, sehingga kamu
nilai rapornya akan lebih baik dari jadi bodoh dan nilai rapornya jelek sekali.
nilai ini.
2. Apakah Bang Becak bersedia Ke Pasar Tanah Abang, Bang. Berapa?
mengantar saya ke Pasar Tanah
Abang dan berapa ongkosnya?
3. Berapakah Ibu mau menjual tauge Berapa nih, Bu, tauge nya?
ini?
4. Bolehkan saya meminjam guntingmu Pinjam guntingnya sebentar, Ya!
sebentar?

2. Bersikap Sesuai dengan Nilai Pancasila


Bersikap sesuai dengan nilai Pancasila sama dengan bersikap positif terhadap
Pancasila. Sikap tersebut harus ditampilkan dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan
masyarakat, berbangsa dan bernegara oleh seluruh komponen bangsa baik sebagai rakyat
maupun aparat pemerintahan dengan mengamalkan nilai-nilai yang terkandung dalam tiap sila
Pancasila.

11
Gambar Gotong-royong sebagai contoh perilaku
yang mengamalkan pancasila, sila ke 3

Sikap positif terhadap Pancasila merupakan sikap yang baik dan mendukung terhadap
nilai-nilai Pancasila serta berupaya melestarikan danmempertahankannya. Sikap positif itu
terutama adalah kesediaan segenap komponen masyarakat untuk aktif mengungkapkan
pemahamannya mengenai Pancasila dan menjadikan nilai-nilai Pancasila makin tampak nyata
dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Berikut sikap yang sesuai dengan
sila-sila Pancasila yang harus ditampilkan oleh setiap komponen bangsa dalam kehidupan
sehari-hari.

No. Sila Sikap yang Sesuai


1. Ketuhanan Yang Percaya dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan
Maha Esa agama dan kepercayaannya masing-masing menurut dasar
kemanusiaan yang adil dan beradab.
Hormat menghormati dan bekerjasama antara pemeluk agama
dan penganutpenganut kepercayaan yang berbeda-beda,
sehingga terbina kerukunan hidup.
Saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai
dengan agama dan kepercayaannya.
Tidak memaksakan suaatu agama dan kepercayaan kepada orang
lain
2. Kemanusian Mengakui persamaan derajat. Persamaan hak dan persamaan
Yang Adil dan kewajiban antara sesama manusia.
Beradab Saling mencintai sesama manusia.
Mengembangkan sikap tenggang rasa.
Tidak semena-mena terhadap orang lain.
Menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.
Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan.
Berani membela kebenaran daan keadilan.
Bangsa Indoneesia merasa dirinya sebagai bagian dari seluruh
umat manusia, karena itu dikembangkan sikap hormat
menghormati dan bekerja sama denganbangsa lain.
3. Persatuan Menempatkan persatuan, kesatuan, kepentingan dan
Indonesia keselamatan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi atau
golongan.
Rela berkorban untuk kepentingan bangsa dan negara.
Cinta tanah air dan bangsa.
Bangga sebagai bangsa Indonesia dan ber- Tanah Air Indonesia.
Memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa yang
ber-Bhinneka Tunggal Ika

12
No. Sila Sikap yang Sesuai
4. Kerakyatan Yang Mengutamakan kepentingan negara dan masyarakat.
Dipimpin Oleh Tidak memaksakan kehendak kepada orang lain.
Hikmah Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk
Kebijaksanaan kepentingan bersama.
dalam Musyawarah untuk mencapai mufakat diliputi oleh semangat
Permusyawaratan kekeluargaan.
Perwakilan Menerima dan melaksanakan hasil keputusan musyawarah serta
memperpertanggungjawabkan secara moral kepada Tuhan Yang
Maha Esa.
5. Keadilan Sosial Mengembangkan perbuatan yang luhur, yang mencerminkan
Bagi Seluruh sikap dan suasana kekeluargaan dan kegotongroyongan.
Indonesia Mengembangkan sikap adil terhadap sesama.
Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban.
Menghormati hak orang lain.
Suka memberi pertolongan kepada orang lain agar dapat berdiri
sendiri.
Tidak menggunakan hak milik untuk usaha-usaha yang bersifat
pemerasan terhadap orang lain.
Tidak menggunakan hak milik untuk halhal yang bersifat
pemborosan dan gaya hidup mewah.
Tidak menggunakan hak milik untuk bertentangan dengan atau
merugikan kepentingan umum.
Suka bekerja keras.
Suka menghargai hasil karya orang lain yang bermanfaat bagi
kemajuan dan kesejahteraan bersama.
Suka melakukan kegiatan dalam rangka mewujudkan kemajuan
yang merata dan berkeadilan sosial.

Berikut sikap yang tidak sesuai dengan sila-sila Pancasila, dan harus dihindari

No. Sila Sikap yang Tidak Sesuai


1. Ketuhanan Yang Menganggap agam lain rendah, sehingga cenderung
Maha Esa melecehkan, bahkan dalam skala ekstream menganggap
agama lain kotor hanya agamanya sendiri yang suci dan
agama lain layak untuk di singkirkan
Hanya bergaul dengan orang yang seagama
Memisahkan atau meminoritaskan orang yang berbeda
kepercayaan
Menganggap sesat orang yang bereda keyakinan
Tidak mau menerima pemberian bentuk apapun dari orang
yang berbeda agama
2. Kemanusian Acuh terhadap tetangga yang kesusahan, menutup telinga dan
Yang Adil dan tidak mau tahu urusan mereka yang kesusahan dan sentiasa
Beradab bersombong diri
Memilih-milih dalam bergaul, hanya mau bergau dan
bermasyarakan dengan orang-orang yang dianggap sederajat
sepangkat
3. Persatuan Hanya mementingkan suatu suku atau golongannya sendiri
Indonesia

13
Tidak memiliki rasa prihatin terhadap perpecahan bahkan
menganggap acuh terhadap masalah atau konlfik yang sedang
terjadi di Indonesia
Meremehkan suku atau golongan lain dan menganggap
dirinya yang paling benar serta pantas di sanjung
4. Kerakyatan Yang Otoriter dalam memimpin, selalu memandang buluh dan
Dipimpin Oleh memihak terhadap suatu golongan
Hikmah Mementingkan kepentingan golongan atau pribadi
Kebijaksanaan Pengambilan keputusan sepihak, tanpa membahas secara
dalam musyawarah
Permusyawaratan Menganggap yang mayoritas yang memenangkan segalanya
Perwakilan tanpa memandang pendapat golongan lain dan bersikap acuh
5. Keadilan Sosial Membedakan fasilitas umum antara pejabat dan rakyat biasa
Bagi Seluruh Keadilan hanya untuk golongan tertentu, dalam artian
Indonesia menindak suatu permasalahan selalu tebang pilih dan
menguntungkan pihak yang seharusnya salah
Membeda-bedakan perhatian antar suku

3. Berperilaku Sesuai dengan Nilai Pancasila


Perilaku merupakan perbuatan/tindakan dan perkataan seseorang yang sifatnya dapat
diamati, digambarkan dan dicatat oleh orang lain ataupun orang yang melakukannya. Dengan
kata lain, perilaku merupakan perwujudan dari sikap manusia. Perilaku yang baik disebut juga
perilaku mulia, yaitu perilaku yang mengindahkan berbagai aturan yang berlaku atau sesuai
dengan norma-norma yang berlaku. Sedangkan perilaku yang buruk merupakan perilaku yang
tidak sesuai dengan norma-norma yang berlaku.
Perilaku buruk ini merupakan penyimpangan dari ketentuan yang berlaku dan dapat
mengakibatkan hal-hal yang tidak baik. Berikut ini contoh perilaku positif dan negatif
terhadap Pancasila.

Contoh Perilaku
No. Sila
Baik Buruk
1. Ketuhanan Yang Menjalankan ibadah secara Menganggap agam lain
Maha Esa taat sesuai kepercayaan yang rendah, sehingga cenderung
dianut, karena Indonesia melecehkan, bahkan dalam
mengakui adanya 5 agama dan skala ekstream menganggap
menjunjung tinggi agama lain kotor hanya
kepercayaan Ketuhanan bukan agamanya sendiri yang suci
lagi dinamisme, dan agama lain layak untuk
Selalu menghormati orang di singkirkan
yang sedang melaksanakan Hanya mau bergaul dengan
ibadah orang yang seagama
Memberikan kebebasan orang Memisahkan atau
lain memeluk agama dan meminoritaskan orang yang
keyakinan berbeda kepercayaan
Tidak menghina pemeluk Menganggap sesat orang
agama dan keyakinan orang yang bereda keyakinan
lain Tidak mau menerima
pemberian bentuk apapun

14
Contoh Perilaku
No. Sila
Baik Buruk
Tidak melakukan penistaan dari orang yang berbeda
agama (melecehkan, agama
merendahkan, dsb)
Toleransi dalam kehidupan
beragama
2. Kemanusian Mengakui dan menghargai Acuh terhadap tetangga
Yang Adil dan keberadaan orang lain, yang kesusahan, menutup
Beradab bermasyarakat secara adil telinga dan tidak mau tahu
tanpa membedakan golongan urusan mereka yang
Menghargai harkat dan kesusahan dan sentiasa
martabat manusia yang bersombong diri
sederajat Memilih-milih dalam
Keluhuran budi, sopan santun bergaul, hanya mau bergau
dan susila dan bermasyarakan dengan
Tata pergaulan dunia yang orang-orang yang dianggap
universal, ini sesuai dengan sederajat sepangkat.
nilai kesetaraan artinya setiap Membiarkan orang lain
manusia memiliki mengalami kesusahan tanpa
kesejahteraan, tanpa berusaha untuk
membedakan suku, ras dan membantunya.
agama
3. Persatuan Saling ketergantungan satu Hanya mementingkan suatu
Indonesia sama lain, tolong menolong, suku atau golongannya
bekerja sama dengan orang sendiri
demi kesejahteraan bersama Tidak memiliki rasa prihatin
Menunjukkan kehidupan terhadap perpecahan bahkan
kebangsaan yang bebas, tidak menganggap acuh terhadap
memaksakan kehendak masalah atau konlfik yang
Cinta tanah air dan bangsa, sedang terjadi di Indonesia
menjaga kebersihan dan Meremehkan suku atau
keamanan lingkungan, tidak golongan lain dan
melakukan pemborosan, tidak menganggap dirinya yang
merusak lingkungan, tidak paling benar serta pantas di
mengambil hak orang lain sanjung
(mencuri), ikut usaha Menunjukkan sikap lebih
pembelaan negara sesuai mementingkan kelompok
profesi masing-masing atau golongan sendiri
Pengakuan dan kebersamaan daripada kepentingan
dalam keberagaman, tidak nasional atau kepentingan
memaksakan agama lain, bangsa dan negara.
merasa senasib
sepenanggungan.
4. Kerakyatan Yang1. Kedaulatan rakyat, tidak1. Otoriter dalam memimpin,
Dipimpin Oleh memaksakan kehendak kepada selalu memandang buluh dan
Hikmah orang lain memihak terhadap suatu
Kebijaksanaan 2. Hikmah kebijaksanaan melalui golongan
dalam pikiran yang sehat,2. Mementingkan kepentingan
Permusyawaratan memusyawarahkan kepentingan golongan atau pribadi
Perwakilan bersama dan tidak memihak

15
Contoh Perilaku
No. Sila
Baik Buruk
3. Tanggung jawab berdasarkan3. Pengambilan keputusan
hati nurani, ikhlas, dan amanah sepihak, tanpa membahas
menjadi pejabat, pelayan publik secara musyawarah
4. Mufakat atas kehendak rakyat4. Menganggap yang mayoritas
bersama yang memenangkan
5. Asas kekeluargaan dalam segalanya tanpa memandang
musyawarah, selalu pendapat golongan lain dan
musyawarah dalam bersikap acuh
menyelesaikan masalah,
mengutamakan kepentingan
bersama
5. Keadilan Sosial1. Perlakuan yang adil dalam1. Membedakan fasilitas umum
Bagi Seluruh berbagai kehidupan atau tidak antara pejabat dan rakyat
Indonesia diskriminasi biasa
2. Menghilangkan politik dinasti2. Keadilan hanya untuk
(kekuasaan turun menurun; dari golongan tertentu, dalam
orang tua ke anaknya) artian menindak suatu
3. Kamakmuran masyarakat yang permasalahan selalu tebang
berkeadilan, meratakan keadilan pilih dan menguntungkan
tanpa memandang status dan pihak yang seharusnya salah
kepentingan 3. Membeda-bedakan perhatian
4. Keseimbangan yang adil dalam antar suku
antara kehidpan pribadi dan4. Lebih mementingkan
masyarakat kepentingan kelompok atau
5. Keseimbangan yang adil antara golongan daripada
kebutuhan jasmani dan rohani, kepentingan bersama.
materi dan spiritual

4. Pembiasaan sikap dan perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila dalam
dimensi kehidupan di lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat.
Pembiasaan sikap dan perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila sangat penting
dalam berbagai dimensi kehidupan berbangsa dan bernegara, hal ini dikarenakan Pancasila
merupakan identitas dan jati diri bangsa Indonesia. Dimensi kehidupan yang dialami seorang
peserta didik diantaranya adalah lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat, dan lingkungan
berbangsa dan bernegara.
Ala bisa karena biasa dan Practise makes perfect merupakan dua ungkapan dari dua
bahasa yang berbeda tetapi memiliki nuansa makna yang mirip. Keduanya memiliki
paradigma bahwa suatu tindakan akan teraplikasi dengan baik ketika tindakan itu dijadikan
suatu kebiasaan. Kebiasaan akan menjadi hal yang baik ketika dipandu dan diarahkan dengan
benar.
Pembiasaan perilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila tersebut dapat dilakukan
sebagai berikut.
No. Lingkunagan Uraian

1. Keluarga 1. Taat dan patuh terhadap perintah dan nasehat dari kedua
orang tua
2. Selalu bermusyawarah apabila ada masalah dalam keluarga
3. Bersikap sopan terhadap seluruh anggota keluarga

16
No. Lingkunagan Uraian

4. Menjaga nama baik keluarga dengan cara berbuat sesuai


aturan dan norma yang berlaku dalam keluarga.
5. Saling membantu dan menghormati sesama anggota
keluarga
2. Sekolah 1. Menaati dan memahami dengan baik peraturan dan tata
tertib yang ada di sekolah
2. Tidak membeda-bedakan teman berdasarkan suku, adat,
ras, dan agama
3. Aktif dalam organisasi sekolah seperti OSIS dan Koperasi
Sekolah
4. Mengerjakan tugas yang diberikan guru dengan baik
5. Menjaga keamanan, ketertiban, kebersihan, dan
kenyamanan sekolah
3. Pergaulan 1. Menghargai pendapat teman dalam musyawarah maupun
diskusi
2. Tidak menyakiti hati, merendahkan, dan menghina teman
3. Memberikan bantuan terhadap teman yang sedang terkena
musibah
4. Bekerja sama dengan teman dalam kegiatan yang positif
5. Membantu teman yang sedang mangalami kesulitan sesuai
dengan kemampuan
4. Masyarakat 1. Tidak mengganggu ibadah pemeluk agama lain
2. Melakukan kerja bakti di lingkungan masyarakat
3. Musyawarah untuk membangun lingkungan sekitar
4. Melakukan siskamling pada malam hari untuk menjaga
keamanan
5. Menengok tetangga atau saudara yang sedang sakit atau
mengalami musibah

Pembiasaan perilaku sesuai nilai-nilai Pancasila merupakan hal yang perlu dalam
kehidupan manusia demi terbentuknya kulaitas manusia yang berguna dan sesuai dengan
harapan yang dikehendaki oleh agama, masyarakat dan negara. Pembiasaan perilaku sesuai
Pancasila perlu mendapat perhatian khusus agar krisis karakter yang terjadi dapat
ditanggulangi.

5. Perwujudan Nilai-nilai Pancasila dalam Berbagai Aspek Kehidupan


Sila-sila dalam Pancasila merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Masing-
masing sila tidaklah dapat dipahami secara terpisah dengan sila yang lain. Tata urutan
Pancasila memiliki makna saling dijiwai dan menjiwai oleh sila sebelum dan sesudahnya.
Oleh karena itu tata urutan Pancasila tidak dapat dirubah, karena akan menghilangkan makna
dari Pancasila sebagai satu kesatuan. Perwujudan nilai-nilai Pancasila tersebut dalam bidang
politik, ekonomi, sosial budaya dan pertahanan keamanan.

a. Perwujudan nilai-nilai Pancasila di bidang Politik


Perkembangan bidang politik antara lain meliputi persoalan lembaga negara, hak asasi
manusia, demokrasi, dan hukum. Pembangunan negara Indonesia sebagai negara modern
salah satunya adalah membangun sistem pemerintahan yang sesuai dengan perkembangan
zaman. Beberapa contoh perwujudan nilai-nilai pancasila dalam bidang politik antara lain
sebagai berikut.

17
Lembaga negara dikembangkan sesuai dengan kemajuan dan kebutuhan masyarakat dan
negara. Pengembangan lembaga negara dapat berdasarkan pada lembaga yang sudah ada
dalam masyarakat, menciptakan lembaga baru, atau mencontoh lembaga negara dari
negara lain. Kita memiliki lembaga negara MPR, DPR, DPD, Presiden, MA, MK, KY,
dan BPK sebagai sesuatu yang baru dalam sistem pemerintahan Indonesia.
Bangsa Indonesia menghargai hak asasi manusia sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.
Hak asasi manusia yang dikembangkan di Indonesia dilaksanakan dengan menjaga
keseimbangan hak dan kewajiban. Hak asasi manusia yang dijiwai oleh nilai ketuhanan
yang maha esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, dan
kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam
permusyawaratan/perwakilan, serta mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat
Indonesia.
Demokrasi yang dikembangkan adalah demokrasi Pancasila. Demokrasi Pancasila
mengutamakan musyawarah mufakat dan kekeluargaan. Demokrasi Pancasila tidak
berdasarkan dominasi mayoritas maupun tirani minoritas. Sistem yang mengutamakan
kekeluargaan, bukan sistem oposisi yang saling menjatuhkan dan mengutamakan
kepentingan individu dan golongan.
Sistem pemilihan umum dalam demokrasi merupakan salah satu contoh perwujudan
yang demokrasi yang dikembangkan di Indonesia. Pemilihan umum untuk memilih
pemimpin sudah dikenal oleh sebagian besar masyarakat Indonesia sejak dahulu. Bentuk
ini dapat dikembangkan dengan menerima cara pemilihan umum di negara lain, seperti
partai politik, kampanye, dan sebagainya. Namun pemilihan umum yang terjadi harus
sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.
Pembangunan bidang hukum diarahkan pada terciptanya sistem hukum nasional yang
berdasarkan Pancasia. Hukum nasional yang bersumber pada nilai-nilai Pancasila
sebagai sumber dari segala sumber hukum. Peraturan perundangan yang berlaku tidak
boleh bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila. Peraturan perundangan dapat disusun
berdasarkan norma sosial yang berlaku dalam masyarakat Indonesia maupun dari luar,
namun tetap sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.

b. Perwujudan nilai-nilai Pancasila di bidang Ekonomi


Sistem perekonomian yang dikembangkan adalah sistem ekonomi yang dijiwai oleh
nilai-nilai Pancasila. Landasan operasional sistem ekonomi yang berdasarkan nilai-nilai
Pancasila ditegaskan dalam UUD 1945 pasal 33, yang menegaskan :
Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan.
Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan menguasai hajat hiduporang
banyak dikuasai oleh negara
Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasasioleh negara dn
dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat

18
Perekonomian nasional diselenggarakan berdasar atas demokrasi ekonomi dengan
prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan, berwawawasan lingkungan,
kemandirian, serta menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatan ekonomi nasional.
Berbagai wujud sistem ekonomi baik yang sudah ada dalam masyarakat Indonesia
maupun sebagai pengaruh dari asing, dapat dikembangkan selama sesuai dengan nilai-nilai
Pancasila. Lembaga perekonomian seperti bank, mall, bursa saham, dll tersebut kita terima
selama sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.

c. Perwujudan Nilai-nilai Pancasila di bidang Sosial Budaya


Masyarakat di sekitar kita selalu mengalami perubahan sosial dan budaya. Agar
perubahan tersebut tetap terarah pada terwujudanya masyarakat berdasarkan Pancasila, maka
sistem nilai sosial dan budaya dalam masyarakat dikembangkan sesuai dengan nilai-nilia
Pancasila.
Sistem nilai sosial yang ada dalam masyarakat Indonesia terus dikembangkan agar
lebih maju dan modern. Oleh karena itu proses modernisasi perlu terus dikembangkan. Nilai-
nilai sosial yang sudah ada dalam masyarakat yang sesuai dengan Pancasila, seperti
kekeluargaan, musyawarah, gotong royong terus dipelihara dan diwariskan kepada generasi
muda. Demikian juga nilai-nilai sosial dari luar seperti etos kerja, kedisiplinan, ilmiah dapat
diterima sesuai nilai-nilai Pancasila.

Pengembangan kebudayaan nasional yang berakar pada kebudayaan daerah yang


luhur dan beradab, serta menyerap nilai budaya asing yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila
untuk memperkaya budaya bangsa. Sikap feodal, sikap eksklusif, dan paham kedaerahan yang
sempit serta budaya asing yang bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila perlu dicegah
perkembangannya.

d. Perwujudan Nilai-nilai Pancasila di bidang Pertahanan dan Keamanan.


UUD 1945 pasal 27 ayat 3 yang mengaskan bahwa pembelaan negara merupakan hak
dan kewajiban setiap warga negara. Demikian juga pasal 30 menegaskan setiap warga negara
berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pertahanan dan keamanan negara. Usaha pertahanan
dan keamanan negara dilaksanakan melalui sistem pertahanan dan keamanan rakyat semesta.
Dengan demikian kedua pasal ini menegaskan perlunya partisipasi seluruh rakyat dalam
pembelaan negara.
Bentuk partisipasi rakyat dalam pembelaan negara yang sudah ada dalam masyarakat
seperti sistem ronda atau sistem keamanan lingkungan (siskamling) yang melibatkan
masyarakat secara bergantian. Di beberapa daerah juga terdapat lembaga masyarakat atau adat
yang bertugas menjaga keamanan masyarakat, seperti Pecalang di Bali. Lembaga ini dibentuk
oleh dan dari masyarakat sekitar untuk menjada keamanan lingkungan masyarakat.
Pancasila mampu menampung dinamika perkembangan masyarakat. Pancasila
bukanlah ideologi tertutup, yang tidak dapat menyesuaikan dengan perkembangan dan
bersifat kaku. Keterbukaan Pancasila sebagai ideologi, merupakan salah satu keunggulan
Pancasila sehingga tetap dipertahankan oleh bangsa Indonesia.
Tugas bangsa Indonesia dalam mewujudkan Pancasila sebagai ideologi terbuka adalah
memastikan bahwa perwujudan nilai-nilai instrumental dan nilai praksis dalam kehidupan
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara tidak menyimpang dari nilai-nilai dasar Pancasila.

19
Rangkuman 1
Dinamika perwujudan Pancasila sebagai dasar negara dan pandangan hidup bangsa
A.Penerapan Pancasila Dari Masa ke Masa.
1.Masa Orde Lama
Masa orde lama adalah masa pencarian bentuk penerapan pancasila terutama dalam sistem
kenegaraan.
Periode 1945-1950 penerapan pancasila sebagai dasar negara dan pandangan hidup
menghadapi berbagai masalah Pemberontakan Partai Komunis
Indonesia(PKI) di Madiun & Darul Islam/Tentara Islam Indonesia
Periode 1950-1959 dasar negara masih tetap Pancasila, akan tetapi dalam
penerapannya lebih diarahkan pada ideologi liberalisme.
Pada periode ini persatuan dan kesatuan mendapat tantangan yang
berat dengan munculnya pemberontakan Republik Maluku
Selatan(RMS) , Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia
(PRRI), dan perjuangan Rakyat Semesta(Permesta).
Periode 1959-1966 dikenal sebagai periode demokrasi terpimpin.Demokrasi dimaknai
bukan berada pada kekuasaan rakyat sehingga yang memimpin
adalah nilai-nilai pancasila tetapi berada pada kekuasaan pribadi
Presiden Soekarno.
2.Masa Orde Baru
Era Demokrasi terpimpin dibawah kepemimpinan Presiden Soekarno mendapat tamparan
yang keras ketika terjadi peristiwa pada tanggal 30 september 1965 yang disinyalir didalangi
oleh partai komunis Indonesia (PKI).
3.Masa Reformasi
Pada masa reformasi , penerapan pancasila sebgai dasar negara dan pandangan hidup bangsa
terus menghadapi berbagai tantangan. Penerapan pancasila tidak lagi dihadapkan pada
ancaman pemberontakan-pemberontakan yang ingin mengganti pancasila dengan ideologi
lain , melainkan lebih dihadapkan pada kondisi kehidupan masyarakat yang diwarnai oleh
kehidupan yang serba bebas.

B. Nilai-Nilai Pancasila Sesuai dengan Pekembangan Zaman


Pancasila terdiri atas 5 sila yang pada hakikatnya merupakan lima nilai dasar fundamental.
Dari Nilai-nilai Pancasila tersebut:
1.Nilai Ketuhanan
2.Nilai Kemanusiaan
3.Nilai Persatuan
4.Nilai Kerakyatan
5.Nilai keadilan
1.Hakikat Ideologi Terbuka
Ideoligi adalah cita-cita keyakinanan dan kepercayaan yang dijunjung tinggi oleh suatu
bangsa dijadikan pedoman hidup dan pandangan hidup dalam jumlah gerak aktivitas bangsa
tersebut.
Perbedaan ideologi terbuka dan tertutup:
Aspek Perbedaan Ideologi Terbuka Ideologi Tertutup
Sistem pemikiran Terbuka tertutp

20
Nilai-nilai dan tidak di paksa dari luar, Cenderung untuk memaksakan dan
cita-cita melainkan diambil dari mengambil nilai-nilai ideology dari
masyarakat itu sendiri . luar masayarakat
Dasar hasil musyawarah dan cita-cita atau keyakinan ideologis
pembentukan kesepakatan masyarakatnya perseorangan / satu kelompok orang.
Pembuat & oleh masyarakan itu sendiri diciptakan oleh negara ,dalam hal isi
pelaksana sehingga ideologi tersebut penguasa negara yang mutlak harus
adalah milik seluruh diikuti oleh seluruh warga
rakyat/anggota masyarakat. masyarakat.
Kebutuhan / hanya dibutuhkan oleh penguasa
kebenaran dibutuhkan oleh seluruh negara dan cenderung memiliki nilai
warga masyarakat. kebenaran hanya dari sudut pandang
penguasa saja.
Isi bersifat operasional dan terdiri dari tuntutan-tuntutan konkret
dijabarkan ke dalam dan operasional yang bersifat keras
konstitusi atau peraturan. yang wajib di taati
perkembangan Senantiasa berkembang
seiring dengan aspirasi,
pemikiran dan akselerasi
Statis / Tertutup terhadap pemikiran-
dari masyarakat dalam
pemikiran baru yang berkembang di
mewujudkan cita-citanya
masyarakatnya.
untuk hidup berbangsa
dalam mencapai harkat dan
martabat manusia.

2.Kedudukan Pancasila Sebagai Ideologi Terbuka


Ideologi bersumber dari pandangan dan falsafah hidup bangsa. Hal tersebut akan membuat
ideology tersebut berkembang sesuai dengan perkembangan masyarakat dan kecerdasan
kehidupan bangsa. Artinya ideologi tersebut bersifat terbuka dengan senantiasa mendorong
terjadinya perkembangan-perkembangan pemikiran baru tentang ideoligi tersebut, tanpa harus
kehilangan jati dirinya.
Nilai-nilai pancasila tidak berubah, namun pelaksaannya di sesuaikan dengan kebutuhan dan
tantangan nyata yang kita hadapi dalam setiap waktu.
Ideology pancasila bersifat actual , dinamis , antisipatif dan senantiasa mampu menyesuaikan
diri dengan perkembangan zaman, ilmu pengetahuan dan teknologi serta dinamika
perkembangan aspirasi masyarakat.
Keterbukaan ideology pancasila mengandung nilai-nilai sebagai berikut :
A.Nilai Dasar : hakikat kelima sila pancasila
B.Nilai Instrumental : penjabaran lebih lanjut dari nilai-nilai dasar ideologi Pancasila.
C.Nilai Praksis : merupakan realisi nilai-nilai instrumental dalam suatu pengalaman nyata
dalam kehidupan sehari-hari dalam bermasyarakat ,berbangsa dan bernegara.
Contoh nilai praksis :
1. Saling menghormati.
2. Toleransi.
3. Kerja sama.
4. Kerukunan .
5. Gotong Royong.
6. Menghargai.

21
A.Dimensi Idealisme
Dimensi ini menekankan bahwa nilai-nilai dasar yang terkandung dalam pancasila bersifat
sistematis, rasional dan menyeluruh.
B.Dimensi Normatif
Mengandung pengertian bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila perlu
dijabarkan dalam suatu sistem norma , sebagaimana yang terkandung dalam norma-norma
keagamaan.
C.Dimensi Realitas
Mengandung makna bahwa suatu ideologi harus mampu mencerminkan realitas
kehidupan yang berkembang dalam masyarakat.
Berdasarkan dimensi yang dimiliki oleh Pancasila sebagai ideologi terbuka , maka ideologi
pancasila memiliki ciri-ciri antara lain sebagai berikut.
A. Tidak bersifat utopis , yaitu hanya merupakan sistem ide-ide belaka yang jauh dari
kehidupan sehari-hari secara nyata.
B. Bukan merupakan suatuy doktrin belaka yang bersifat tertutup, melainkan suatu norma
yang bersifat idealis , nyata dan reformatif yang mampu melakukan perubahan.
C. Bukan merupakan suatu ideologis yang pragmatis , yang hanya menekankan pada segi-
segi praktis-praktis belaka tanpa adanya aspek idealisme.
Keterbukaan Ideologi pancasila harus selalau memperhatikan beberapa hal berikut :
1. Stabilitas nasional yang dinamis.
2. Larangan untuk memasukan pemikiran-pemikiran mengandung nilai-nilai ideologi
marxisme , leninisme , dan komunisme.
3. Mencegah berkembangannya paham liberal.
4. Larangan terhadap pandangan ekstrim yang menggelisahkan kehidupan masyarakat
5. Penciptaan norma yang baru harus melalui konsesus.

C. Perwujudan Nilai-Nilai Pancasila Dalam Berbagai Kehidupan


1) Perwujudan Nilai-Nilai Pancasila Dalam Bidang Politik
Kita memiliki lembaga negara MPR,DPR,DPD,Presiden,MA,MK,KY dan BPK.
Demokrasi yang kita kembangkan adalah demokrasi Pancasila.
2) Perwujudan Nilai-Nilai Pancasila Dalam Bidang Ekonomi
Sistem perekonomian dijiwai oleh nilai-nilai Pancasila. Landasan operasional sistem
ekonomi yang berdasarkan nilai-nilai Pancasila ditegaskan dalam UU NRI 1945 pasal 33
3) Perwujudan Nilai-Nilai Pancasila Dalam Bidang Sosial
Tujuan pembangunan nasional adalah terwujudnya masyarakat adil dan makmur
berdasarkan Pancasila.
4) Pewujudan Nilai-Nilai Pancasila Dalam Bidang Pertahanan Dan Keamanan
Pembangunan bidang pertahanan dan keamanan secara tegas dinyatakan dalam UUD
NKRI 1945 :
pasal 27 ayat 3 : pembelaan negara merupakan hak dan kewajiban setiap warga negara.
pasal 30 : setiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pertahanan dan
keamanan negara.

22
BAB II
POKOK PIKIRAN PEMBUKAAN UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA
REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945

Kompetensi Dsar
1.2 Menghargai isi alinea dan pokok pikiran yang terkandung dalam Pembukaan Undang-
Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 sebagai wujud rasa syukur
kepada Tuhan Yang Maha Esa
2.2 Melaksanakan isi alinea dan pokok pikiran yang terkandung dalam Pembukaan Undang-
undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
3.2 Mensintesiskan isi alinea dan pokok pikiran yang terkandung dalam Pembukaan
Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
4.2 Menyajikan hasil sintesis isi alinea dan pokok pikiran yang terkandung dalam pembukaan
Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945

Petunjuk
Supaya kamu mampu menguasai KD tersebut silahkan kamu kerjakan lembar
kerja berikut ini dengan mencari informasi pada Informasiku!

Lembar Kerja
Kerjakanlah lembar kerja 1, 2 dan 3 yang ada pada portofolio lembar kerja
kalian!

Informasiku
A. Makna alinea Pembukaan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945
A. Isi Alinea Pembukaan UUD1945
Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 berisi tentang perjuangan bangsa Indonesia
untuk memperoleh kemerdekaan dari penjajah yang tidak sesuai dengan kemanusiaan dan
keadilan. Dalam bagian Pembukaan Undang-Undang Dasar inilah dasar negara Republik
Indonesia juga tercantum.
Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 merupakan staats fundamenta lnorm (norma
dasar negara) bagi penyelenggaraan kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebagai norma dasar
negara, maka di dalamnya terdapat dasar negara Pancasila sebagai nilai-nilai yang melandasi
kehidupan berbangsa dan bernegara. Oleh karena itu, segala penyelenggaraan negara yang
dilakukan oleh penyelenggara negara haruslah sesuai dengan nilai-nilai dasar tersebut. Selain
dasar negara dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 juga tercantum tujuan negara
Republik Indonesia yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah
Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut
melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan
keadilan sosial. Dengan demikian dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 itu
terkandung prinsip-prinsip, asas-asas dan tujuan daripada bangsa Indonesia yang akan
diwujudkan dengan jalan bernegara.
Sebagai pokok kaidah negara yang fundamental (staats fundamenta lnorm),
Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 selain merupakan suasana kerohanian dari Undang-
Undang Dasar 1945 juga merupakan pangkal sumber penjabaran normatif dari pasal-pasal
dalam Batang Tubuh Undang-Undang Dasar 1945 dan hukum positif lainnya. Pembukaan

23
Undang-Undang Dasar 1945 mengandung pokok-pokok pikiran yang meliputi suasana
kebatinan dari Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia dan pokok-pokok pikiran
ini mewujudkan cita-cita hukum (rechtsidee) yang menguasai hukum dasar negara baik
hukum dasar tertulis maupun hukum dasar tidak tertulis. Pembukaan Undang-Undang Dasar
1945 merupakan norma dasar yang memberikan arah serta dasar-dasar cita-cita hukum bagi
Undang-Undang Dasar negara. Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 memiliki hakikat
kedudukan hukum yang lebih tinggi daripada pasal-pasal dalam Batang Tubuh Undang-
Undang Dasar 1945.
Dengan demikian Pembukaan Undang-Undang 1945 berisi pokok-pokok pikiran dan
kaedah negara fundamental yang dengan jalan hukum tidak dapat diubah, disamping itu berisi
pernyataan kemerdekaan. Oleh karena isinya yang sangat essensial ini maka Pembukaan
Undang-Undang Dasar 1945 disepakati sebagai sumber cita moral dan cita hukum
Indonesia (AW. Wijaya, 1991:62).
Adapun naskah Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yang ditetapkan oleh Panitia
Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang mewakili seluruh rakyat Indonesia pada
tanggal 18 Agustus 1945, adalah sebagai berikut:

UNDANG-UNDANG DASAR
NEGARA REPUBLIK INDONESIA
TAHUN 1945

PEMBUKAAN
(Preambule)

Bahwa sesungguhnya Kemerdekaan itu ialah hak segala


bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus
dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan
perikeadilan.
Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah
sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentausa
mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang
kemerdekaan Negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat,
adil dan makmur.
Atas berkat rakhmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan
didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan
kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan
ini kemerdekaannya.
Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu Pemerintah
Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan
seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan
kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut
melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan,
perdamaian abadi dan keadilan social, maka disusunlah
Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang
Dasar Negara Indonesia, yang terbentuk dalam susunan Negara
Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar
kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan
beradab, Persatuan Indonesia dan Kerakyatan yang dipimpin oleh

24
hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, serta
dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat
Indonesia.
Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 memuat sifat-sifat fundamental dan asasi
bagi negara yang pada hakikatnya mempunyai kedudukan tetap dan tidak dapat dirubah.
Berdasarkan ketetapan MPRS No. XX/MPRS/1966 yang menerima baik Memorandum DPR-
GR tanggal 9 Juni 1966 Jo. Tap No. V/MPR/1973 yang menyatakan: Pembukaan Undang-
Undang Dasar 1945 sebagai pernyataan Kemerdekaan yang terinci yang mengandung cita-
cita luhur dari Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 dan yang memuat Pancasila sebagai
Dasar Falsafah Negara, merupakan satu rangkaian dengan Proklamsi Kemerdekaan 17
Agustus 1945 dan oleh karena itu tidak dapat diubah oleh siapapun juga termasuk MPR hasil
Pemilu yang berdasarkan Pasal 3 dan Pasal 37 Undang-Undang Dasar 1945, karena mengubah
isi Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 berarti sama halnya pembubaran negara. Dengan
demikian jelaslah bagi kita bahwa Pembukaan Undang-Undang Dasar1945, baik secara
formal maupun material tidak dapat diubah.
Ketegasan untuk tidak mengubah pembukaan UUD 1945 juga dituangkan dalam
Kesepakatan MPR RI pada proses amendemen UUD 1945 yang dilakukan pada tahun 1999
hingga tahun 2002. Sebagaimana diketahui saat Amandemen UUD1945, MPR RI
berkomitmen untuk tidak mengubah bagian Pembukaan UUD 1945, tetap mempertahankan
Negara Kesatuan Republik Indonesia, akan mempertegas sistem pemerintahan presidensial,
meniadakan Penjelasan UUD 1945 dan manjadikan hal-hal normatif dalam penjelasan
dimasukkan ke dalam pasal-pasal, serta Perubahan UUD 1945 dilakukan dengan cara
adendum.
Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai pokok kaidah negara yang
fundamental berisi:
a. Tujuan negara
Tujuan negara yang tersurat di dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 alinea
keempat merupakan sesuatu yang ingin dicapai oleh bangsa Indonesia setelah memilki Negara
Kesatuan Republik Indonesia. Tujuan negara tersebut merupakan tujuan nasional yang secara
rinci dapat diurai sebagai berikut: (1) membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia yang
melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia; (2) memajukan
kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan (3) ikut melaksanakan ketertiban
dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial
b. Ketentuan diadakannya Undang Undang Dasar Negara.
Pernyataan ketentuan diadakannya Undang Undang Dasar Negara tersimpul dalam
kalimat ...........maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam
suatu Undang Undang Dasar Negara Indonesia. Hal ini merupakan suatu ketentuan bahwa
negara Indonesia harus berdasarkan pada suatu Undang-Undang Dasar dan merupakan
suatu dasar yuridis formal bahwa negara Indonesia adalah negara yang berdasarkan atas
hukum.
c. Bentuk Negara dan Jenis Kedaulatan
Pernyataan ini tersimpul dalam kalimat: ...yang terbentuk dalam suatu susunan
negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat. Di dalam negara yang berbentuk
Republik, kehendak negara adalah hasil dari suatu peristiwa hukum, dan terdapat suatu badan
yang mewakili sejumlah orang sebagai pemegang kekuasaan. Keputusan-keputusan badan ini
merupakan hasil proses hukum yang sesuai dengan Konstitusi negara, dan sebagai wujud
kehendak negara. Sedangkan kedaulatan secara yuridis diartikan sebagai kekuasaan. Menurut
Jean Bodin, kedaulatan adalah kekuasaan tertinggi terhadap warganegara dan rakyat tanpa
suatu pembatasan undang-undang. Oleh karena itu, kedaulatan rakyat mempunyai arti bahwa

25
kekuasaan tertinggi ada pada rakyat. Rakyatlah yang berdaulat, dan mewakilkan
kekuasaannya pada suatu badan yaitu Pemerintah. Bila Pemerintah dalam melaksanakan
tugasnya tidak sesuai dengan kehendak rakyat, maka rakyat akan bertindak mengganti
Pemerintah.
Kehendak rakyat menurut JJ Rousseau ada dua, yaitu kehendak rakyat seluruhnya
yang dinamakan Volente de Tous dan kehendak rakyat dari sebagian rakyat yakni rakyat
dengan suara terbanyak, yang dinamakan Volente Generale. Dalam praktek bilamana jumlah
rakyat sudah terlalu banyak, maka pengambilan keputusan berdasar kehendak seluruh rakyat
akan mengalami kendala berlarut-larutnya penentuan keputusan tersebut yang dapat
menyebabkan negara tidak berjalan sebagaimana mestinya, sehingga sistem suara terbanyak
lebih banyak digunakan terutama oleh negara-negara demokrasi Barat.
d. Dasar negara
Pernyataan bahwa di dalam Pembukaan UUD 1945 terdapat pernyataan dasar Negara
ini tersimpul dalam kalimat: ... dengan berdasar kepada Ketuhanan Yang Maha Esa,
kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, kerakyatan yang dipimpin oleh
hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/ perwakilan serta dengan mewujudkan suatu
keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Dengan demikian menurut Pembukaan UUD
1945 yang menjadi dasar Negara adalah kelima asas yang disebutkan di atas yang terkenal
dengan nama Pancasila.
Dasar Negara diperlukan agar negara tersebut memiliki pedoman atau patokan untuk
suatu kehidupan bernegara yang tertib, terarah dan terencana, sehingga menjadi suatu negara
yang bermartabat di mata bangsa-bangsa lain di dunia. Dari ketentuan tersebut tersurat adanya
Pancasila sebagai dasar filsafat negara yang mengandung makna bahwa segala aspek
kehidupan kebangsaan, kemasyarakatan dan kenegaraan harus berdasarkan nilai-nilai
Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan dan Keadilan.
Sebagai dasar Negara, Pancasila merupakan dasar nilai serta norma untuk mengatur
penyelenggaraan negara. Pancasila menjadi asas kerokhanian yang menjadi sumber nilai,
norma serta kaidah moral maupun hukum negara. Oleh karenanya sebagai dasar filsafat
negara, Pancasila sering disebut pula sebagai ideologi negara (Staatsidee) yang mengandung
konsekuensi bahwa seluruh pelaksanaan dan penyelenggaraan negara serta segala peraturan
perundang-undangan yang ada dijabarkan dari nilai-nilai Pancasila, dan Pancasila merupakan
sumber tertib hukum Indonesia.
Adapun kedudukan Pembukaan UUD 1945 dalam Negara Republik Indonesia adalah
sebagai berikut.
a. Pembukaan UUD 1945 sebagai pernyataan kemerdekaan yang terperinci Bangsa
Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 telah menyatakan proklamasi kemerdekaannya
yaitu dalam suatu Naskah Proklamasi yang dibacakan oleh Soekarno-Hatta atas nama
seluruh bangsa Indonesia. Proklamasi pada hakikatnya memiliki dua makna, yaitu suatu
pernyataan tentang kemerdekaan bangsa Indonesia dan tindakan-tindakan yang harus
segera dilaksanakan berkaitan dengan proklamasi tersebut, artinya mulai detik proklamasi
tersebut bangsa Indonesia menyusun negara yang merdeka yang memiliki kedaulatan
sendiri untuk mewujudkan cita-cita bersama, yaitu masyarakat yang adil dan makmur,
material maupun spiritual. Dalam Pembukaan UUD 1945, baik pernyataan proklamasi
(pada alinea ke-3) maupun tindakan-tindakan tentang pembentukan Negara Republik
Indonesia terinci sejak alinea ke-3.
b. Pembukaan UUD 1945 memenuhi syarat adanya tertib hukum Indonesia Dalam alinea
keempat Pembukaan UUD 1945 ditemukan unsur-unsur yang menurut ilmu hukum
merupakan syarat bagi adanya suatu tertib hukum di Indonesia, yaitu suatu kebulatan dari
keseluruhan peraturan-peraturan hukum.

26
c. Pembukaan UUD 1945 sebagai pokok kaidah negara yang fundamental Di dalam suatu
tertib hukum terdapat urut-urutan susunan yang bersifat hirarkis, dimana UUD (pasal-
pasalnya) bukanlah merupakan suatu tertib hukum yang tertinggi. Di atasnya masih ada
dasar-dasar pokok dari UUD ataupun hukum dasar yang tidak tertulis yang pada
hakikatnya terpisah dari UUD atau hukum dasar yang tidak tertulis itu yang dinamakan
Pokok Kaidah yang Fundamental. Berdasarkan unsur-unsur yang terkandung dalam
Pembukaan UUD 1945 maka menurut ilmu hukum tatanegara, Pembukaan UUD 1945
pada hakikatnya telah memenuhi syarat sebagai Pokok Kaidah Negara yang Fundamental.
d. Pembukaan UUD 1945 merupakan sumber semangat bagi UUD 1945, yang terkandung
di dalamnya pokok-pokok pikiran yang inti sarinya adalah Pancasila, pada hakikatnya
merupakan sumber semangat bagi para penyelenggara negara, para pemimpin
pemerintahan, para penyelenggara partai serta golongan fungsional, dan seluruh alat
perlengkapan negara lainnya.
e. Pembukaan UUD 1945 Mempunyai Kedudukan Kuat dan Tetap Sebagai pokok kaidah
negara yang fundamental, Pembukaan UUD 1945 memiliki hakikat kedudukan hukum
yang kuat, bahkan secara yuridis tidak dapat diubah oleh siapapun, terlekat pada
kelangsungan hidup negara. Pembukaan UUD 1945 sebagai dasar, rangka dan suasana
bagi kehidupan negara dan tertib hukum Indonesia Dalam pengertian ini, isi yang terdapat
dalam Pembukaan UUD 1945 bilamana dirinci secara sistematis merupakan suatu
kesatuan yang bertingkat dan berfungsi sebagai dasar, rangka, dan suasana bagi negara
dan tertib hukum Indonesia.

Pembukaan UUD 1945 terdiri atas empat alinea atau bagian yang dapat dijelaskan
sebagai berikut:
1. Alinea Pertama
Alinea pertama : Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan
oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan
perikemanusiaan dan perikeadilan
Makna yang terkandung dalam Alinea pertama ini adalah menunjukkan keteguhan dan
kuatnya pendirian bangsa Indonesia menghadapai masalah kemerdekaan melawan penjajah.
Alinea ini mengungkapkan suatu dalil obyektif, yaitu bahwa penjajahan tidak sesuai dengan
perikemanusiaan dan perikeadilan, dan oleh karenanya harus ditentang dan dihapuskan agar
semua bangsa di dunia ini dapat menjalankan hak kemerdekaannya sebagai hak asasinya.
Disitulah letak moral luhur dari pernyataan kemerdekaan Indonesia.
Selain mengungkapkan dalil obyektif, alinea ini juga mengandung suatu pernyataan
subyektif, yaitu aspirasi bangsa Indonesia sendiri untuk membebaskan diri dari penjajahan.
Dalil tersebut di atas meletakkan tugas kewajiban bangsa/pemerintah Indonesia untuk
senantiasa berjuang melawan setiap bentuk penjajahan dan mendukung kemerdekaaan setiap
bangsa.
Alasan bangsa Indonesia menentang penjajahan ialah karena penjajahan itu
bertentangan dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. Ini berarti setiap hal atau sifat yang
bertentangan atau tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan juga harus secara
sadar ditentang oleh bangsa Indonesia. Pendirian tersebut itulah yang melandasi dan
mengendalikan politik luar negeri kita.

2. Alinea Kedua
Alinea kedua : Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah
kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentosa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan

27
pintu gerbang kemerdekaan Negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan
makmur

Alinea ini mengandung makna:


a. Bahwa kemerdekaan Indonesia bukan pemberian atau hadiah dari Negara lain tetapi
merupakan hasil perjuangan bangsa Indonesia sendiri;
b. Bahwa kemerdekaan tersebut bukan merupakan tujuan akhir (baru mencapai pintu
gerbang) tetapi masih harus diisi dengan mewujudkan negara yang merdeka, bersatu,
berdaulat, adil, dan makmur.

3. Alinea Ketiga
Alinea ketiga : Atas berkat rakhmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan
didorongkan oleh keinginan yang luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka
rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya
Alinea ini memuat motivasi spiritual yang luhur dan mengilhami Proklamasi
Kemerdekaan serta menunjukkan pula ketaqwaan bangsa Indonesia kepada Tuhan Yang
Maha Esa. Inti dari alinea ini adalah pengakuan bahwa Kemerdekaan yang diperoleh
bangsa Indonesia bukan semata-mata hasil perjuangan bangsa Indonesia, tetapi juga
berkat rahmat Allah Tuhan Yang Maha Esa. Hal tersebut berarti bahwa bangsa Indonesia
mendambakan kehidupan yang berkeseimbangan material dan spiritual serta keseimbangan
kebidupan di dunia dan di akhirat.
Keyakinan dan tekad yang kuat untuk memperoleh kemerdekaan dan keyakinan akan
kekuasaaan Tuhan, menjadi kekuatan yang menggerakkan bangsa Indonesia. Persenjataan
yang sederhana dan tradisional tidak menjadi halangan untuk berani melawan penjajah yang
memiliki senjata lebih modern. Para pejuang bangsa yakin bahwa Tuhan akan memberikan
bantuan kepada umatnya yang berjuang melawan kebenaran.
Banyak peristiwa sejarah dalam perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajah,
memperoleh kemenangan walaupun dengan segala keterbatasan senjata, organisasi dan
sumber daya manusia. Hal ini menunjukkan bahwa tekad yang kuat dan keyakinan pada
kekuasaaan Tuhan, dapat menjadi faktor pendorong dan penentu keberhasilan sesuatu. Alinea
ketiga pembukaan mempertegas pengakuan dan kepercayaan bangsa Indonesia terhadap
Tuhan Yang Maha Esa. Manusia merupakan mahluk Tuhan yang terdiri atas jasmani dan
rohani. Manusia bukanlah mesin yang tidak memiliki jiwa. Berbeda dengan pandangan yang
beranggapan bahwa manusia hanya bersifat fisik belaka.Ini menegaskan prinsip
keseimbangan dalam kehidupan secara material dan spiritual, kehidupan dunia dan akhirat,
jasmani dan rohani.
Alinea ketiga Pembukaan UUD 1945 juga menegaskan motivasi bangsa Indonesia untuk
menyatakan kemerdekaannya serta pengakuan akan peran rakyat dalam perjuangan mencapai
kemerdekaan. Kalimat yang menyatakan bahwa rakyat Indonesia menyatakan dengan ini
kemerdekaannya secara implisit melenyapkan segala kesangsian dukungan rakyat terhadap
kemerdekaan. Sehingga esensinya adalah bahwa kekuasaan tertinggi bagi bangsa dan negara
Indonesia adalah terletak pada rakyat atau yang disebut kedaulatan rakyat.

4. Alinea keempat
Alinea keempat : Kemudian daripada itu untuk membentuk susunan pemerintahan
negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah
Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan
ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan
keadilan sosial, maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu

28
Undang-Undang Dasar Negara Indonesia yang terbentuk dalam susunan negara Republik
Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasarkan kepada: Ketuhanan Yang Maha Esa,
kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, dan kerakyatan yang dipimpin oleh
hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/ perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu
keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Isi alinea keempat ini sangat jelas menegaskan tentang tujuan Negara, pembentukaan
UUD, bentuk Negara, system pemerintahan dan dasar negara
a. Tujuan negara Indonesia yaitu :
1) melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia
2) memajukan kesejahteraan umum
3) mencerdasarkan kehidupan bangsa
4) ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi
dan keadilan sosial.
b. UUD yang digunakan atau dibentuk UUD 1945
c. Susunan dan bentuk kehendak rakyat dari sebagian rakyat yakni rakyat dengan suara
terbanyak, yang dinamakan negara, yaitu republik kesatuan
c. Sistem pemerintahan negara Indonesia adalah berkedaulatan rakyat (demokrasi)
d. Dasar negara indonesia yaitu Pancasila

B. Pokok-Pokok Pikiran dalam Pembukaan UUD 1945


Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 di dalamnya terkandung pokok-pokok
pikiran yang harus dijelmakan ke dalam pasal-pasal Batang Tubuh Undang-Undang Dasar
1945 serta mengandung norma yang mengharuskan Undang-Undang Dasar mengandung isi
yang mewajibkan pemerintah dan lain-lain penyelenggara negara termasuk penyelenggara
partai dan golongan fungsional untuk memelihara budi pekerti kemanusiaan yang luhur dan
memegang teguh cita-cita moral rakyat yang luhur.

1. Pokok Pikiran 1 (Pertama)


"Negara melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia
dengan dasar persatuan untuk mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat
Indonesia".
Arti/Kandungan : Pembukaan UUD NRI Tahun 1945 mengandung pengertian bahwa
negara persatuan adalah negara yang melindungi bangsa Indonesia seluruhnya. Jadi,
kandungan dalam pokok pikiran I (Pertama) adalah negara mengatasi segala paham
golongan, menghendaki persatuan yang meliputi segenap bangsa Indonesia. Dengan
demikian, pokok pikiran pertama merupakan penjelmaan sila ketiga Pancasila.
Makna :
a) Menunjukkan adanya keteguhan pendirian, bangsa Indonesia untuk merdeka melawan
penjajah.
b) Pengungkapan suatu dalil objektif, bahwa penjajahan tidak sesuai dengan
prikemanusiaan dan prikeadilan, karena itu harus ditentang dan dihapuskan agar
semua bangsa dapat menjalankan hak kemerdekaannya sebagai hak asasi.
c) Pengungkapan suatu dalil subyektif, yaitu aspirasi bangsa Indonesia untuk
membebaskan diri dari penjajah.

29
2. Pokok Pikiran II (Kedua)
"Negara hendak mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia".
Arti/Kandungan : Hal ini merupakan pokok pikiran keadilan sosial yang didasarkan pada
kesadaran bahwa manusia mempunyai hak dan kewajiban yang sama untuk menciptakan
keadilan sosial dalam kehidupan masyarakat. Dengan demikian, pokok pikiran kedua
adalah penjelmaan sila kelima Pancasila.
Makna :
a) Perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampai pada saat
yang ditentukan.
b) Momentum yang telah dicapai harus dimanfaatkan untuk menyatakan kemerdekaan.
c) Kemerdekaan bukan merupakan tujuan akhir, tetapi harus diisi dengan usaha
mewujudkan negara yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur yang
merupakan cita-cita nasional bangsa Indonesia.
3. Pokok Pikiran III (Ketiga)
"Negara yang berkedaulatan rakyat, yaitu berdasarkan kerakyatan dan
permusyawaratan/perwakilan".
Arti/Kandungan : Hal ini menyatakan bahwa sistem negara yang terbentuk dalam
undang-undang dasar haruslah berdasar kedaulatan rakyat dan berdasar
permusyawaratan/perwakilan. Pokok pikiran ketiga adalah penjelmaan sila keempat
Pancasila.
Makna :
a) Motivasi spiritual yang luhur bahwa kemerdekaan bangsa Indonesia.adalah berkat
rahmat dari Tuhan.
b) Keinginan yang didambakan segenap bangsa Indonesia untuk hidup yang
berkeseimbangan antara kehidupan material dengan spiritual & kehidupan dunia
dengan akhirat.
c) Pengukuhan melalui proklamasi kemerdekaan sebagai suatu negara yang berwawasan
kebangsaan.
4. Pokok Pikiran IV (Keempat)
"Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa menurut dasar kemanusiaan yang
adil dan beradab".
Arti/Kandungan : Hal ini menunjukkan konsekuensi logis bahwa undang-undang dasar
harus mengundang isi yang mewajibkan pemerintah dan lain-lain penyelenggara negara
untuk memelihara budi pekerti kemanusiaan yang luhur, dan memegang teguh cita-cita
moral rakyat yang luhur. Pokok pikiran keempat merupakan penjelmaan sila kesatu dan
kedua Pancasila.
Makna :
a) Disusunnya tujuan sekaligus fungsi negara Indonesia
b) Disusunnya negara Indonesia yang berbentuk republik dan berkedaulatan rakyat.
c) Negara Indonesia mempunyai dasar falsafah Pancasila.

30
Infomu Infoku

UUD 1945 mengalami 4 kali perubahan (amandemen)

C. Sikap Postif Terhadap Isi Alinea dan Pokok Pikiran Pembukaan UUD 1945
Usaha mempertahankan Pembukaaan Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945 tidak cukup hanya dengan memahami isi alinea dan pokok-pokok
pikiran dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Namun yang tidak kalah penting adalah mewujudkan makna yang terkandung dalam setiap
alinea dan pokok-pokok pikiran dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar
Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dalam kehidupan bermasyarakat,
berbangsa dan bernegara. Setiap lembaga negara, lembaga masyarakat, dan
setiap warga negara wajib memperjuangkan makna yang terkandung dalam alinea dan
pokok-pokok pikiran pembukaan Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945 tersebut menjadi kenyataan.
Berikut ini contoh sikap postif terhadap Isi Alinea dan Pokok Pikiran
Pembukaaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945

1) Memiliki pola fikir dan pola tindak berdasar pada konsep, prinsip, dan nilai yang
terkandung dalam Isi Alinea dan Pokok Pikiran Pembukaaan Undang-
Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
2) Bertekad mempertahankan dan menjaga kelestarian Pembukaan UUD 1945.
3) Menjadikan Isi Alinea dan Pokok Pikiran Pembukaaan Undang-
Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 sebagai landasan dalam
mengoperasionalisasikan demokrasi dan HAM

31
4) Menjadikan Isi Alinea dan Pokok Pikiran Pembukaaan Undang-
Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 sebagai landasan dalam
penyusunan peraturan perundang-undangan.
5) Menjadikan Isi Alinea dan Pokok Pikiran Pembukaaan Undang-
Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 sebagai landasan dalam
mengoperasionalisasikan perekonomian nasional
6) Mengembangkan pola pikir Bhinneka Tunggal Ika yang berwujud sikap, tingkah laku dan
perbuatan dalam kehidupan bangsa yang pluralistik.

Secara operasional sikap positif terhadap isi alinea dan pokok pikiran UUD 1945,
antara lain sebagai berikut:
No. Pokok Pikiran Sikap Positif yang Ditampilkan
1. Persatuan Lingkungan keluarga
Saling menghargai antar anggota keluarga
Menjaga kerukunan keluarga
Tidak mengganggu kakak atau adik yang sedang
belajar.
Lingkungan sekolah
Ikut serta dalam belajar kelompok
Saling menghargai sesama teman
Tidak membeda-bedakan teman
Lingkungan masyarakat
Ikut serta dalam kegiatan kerja bakti membersihkan
lingkungan
Mempererat tali silaturahmi dengan sesama warga
masyarakat
Saling membantu dalam menghadapi persoalan
Lingkungan Bangsa dan Negara
Menggunakan bahasa Indonesia dalam pergaulan.
Tidak menghina atau merendahkan orang lain
Menggalang persatuan dan kesatuan warga masyarakat.
2. Keadilan Sosial Lingkungan keluarga
Bersikap adil terhadap sesama anggota keluarga.
Memberikan kesempatan berpendapat saat rapat
keluarga.
Menjaga keseimbangan hak dan kewajiban.
Lingkungan sekolah
Memberikan bantuan kepada teman yang
membutuhkan
Tidak memilih-milih dalam berteman
Suka menolong teman yang sedang kesusahan.
Lingkungan masyarakat
Peduli terhadap permaslahan yang dihadapi warga lain
Memberi simpati kepada warga yang terkena musibah.
Memberikan bantuan kepada yang membutuhkan.

32
No. Pokok Pikiran Sikap Positif yang Ditampilkan
Lingkungan Bangsa dan Negara
Menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia
Gemar melakukan kegiatan dalam rangka
mewujudkan kemajuan yang merata dan berkeadilan
sosial.
Suka bekerja keras
3. Kedaulatan Lingkungan keluarga
Rakyat Menyelesaikan permasalahan keluarga dengan
bermusyawarah
Mengutamakan kepentingan keluarga dibanding
kepentingan pribadi
Menghargai pendapat anggota keluarga yang lain
Lingkungan sekolah
Bermusyawarah dengan kelompok sebelum
menyampaikan hasil presentasi
Menghargai pendapat teman,
Melaksanakan hasil keputusan dengan penuh tanggung
jawab.
Lingkungan masyarakat
Bermusyawarah untuk menyelesaikan masalah,
Musyawarah untuk mencapai mufakat diliputi
semangat kekeluargaan,
Tidak memaksakan kehendak kepada orang lain.
Lingkungan Bangsa dan Negara
Tidak memaksakan kehendak kepada orang lain,
Mengutamakan kepentingan umum
daripada kepentingan pribadi atau golongan,
Mengutamakan musyawarah dalam mengambil
keputusan untuk kepentingan bersama.
4. Ketuhanan Lingkungan keluarga
Beribadah tepat waktu
Saling mengingatkan untuk beribadah
Menghormati saudara yang berbeda agama
Lingkungan sekolah
Tidak membandingkan agama teman dengan
teman yang lainnya.
Saling menghormati agama teman yang berbeda
Tidak membeda-bedakan teman berdasarkan
agama.
Lingkungan masyarakat
Tidak mengejek agama orang lain,
Saling menghormati kepercayaan orang lain.
Memberikan kebebasan penganut agama lain untuk
beribadah.

33
No. Pokok Pikiran Sikap Positif yang Ditampilkan
Lingkungan Bangsa dan Negara
Hormat menghormati dan bekerja sama antara pemeluk
agama dan penganut kepercayaan yang berbeda-beda
sehingga terbina kerukunan hidup,
Tidak memaksakan agama kepada orang lain
Mengembangkan sikap toleransi kepada pemeluk
agama lain

34
Rangkuman 2
Pokok Pikiran Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945.

A. Hakikat Pokok Pikiran Pembukaan UUD NKRI Tahun 1945


Pokok pikiran pertama : Negara melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh
tumpah darah Indonesia dengan berdasar atas persatuan (pokok pikiran persatuan).
Negara menurut pengertian Pembukaan Undang Undang Dasar Tahun 1945
menghendaki persatuan. Penyelenggara negara dan setiap warga negara wajib
mengutamakan kepentingan negara di atas kepentingan golongan atau individu.
Pokok pikiran kedua : Negara hendak mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat
Indonesia (pokok pikiran keadilan sosial). Pokok pikiran ini menempatkan suatu
tujuan atau cita cita yang ingin dicapai dengan modal persatuan. Ini merupakan
pokok pikiran keadilan sosial yang didasarkan pada kesadaran bahwa manusia
memiliki hak hak dan kewajiban dalam kehidupan masyarakat.
Pokok pikiran ketiga : Negara yang berkedaulatan rakyat, berdasarkan atas kerakyatan
dan permusyawaratan/perwakilan (pokok pikiran kedaulatan rakyat). Pokok pikiran
ini mengandung konsekuensi logis bahwa sistem negara yang terbentuk harus
berdasarkan kedaulatan rakyat dan permusyawaratan/perwakilan yang selalu
mengedepankan asas musyawarah mufakat dalam menyelesaikan suatu persoalan.
Kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut UUD
Pokok pikiran keempat : Negara berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa, menurut
dasar kemanusiaan yang adil dan beradab (pokok pikiran Ketuhanan)
Pokok pikiran ini mengandung makna bahwa UUD harus mengandung isi yang mewajibkan
pemerintah dan penyelenggaraan negara lainnya untuk memelihara budi pekerti yang luhur,
taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia atau
nilai kemanusiaan yang luhur.

B. Arti Penting Pokok Pikiran Pembukaan UUD NKRI Tahun 1945


Pokok pokok pikiran Pembukaan UUD NRI 1945 adalah pancaran dari nilai nilai
Pancasila. Pokok pikiran yang terkandung dalam Pembukaan UUD NRI 1945 adalah sumber
hukum tertinggi di Indonesia.
Dapat disimpulkan bahwa Pembukaan UUD NRI 1945 yang memuat dasar falsafah negara
Pancasila dan UUD NRI 1945 merupakan satu kesatuan yang tidak dapat terpisahkan dan
merupakan satu rangkaian kesatuan nilai dan norma yang terpadu.

C. Sikap Positif terhadap Pokok Pikiran Pembukaan UUD NKRI Tahun 1945
UUD Tahun 1945 memuat aturan pokok yang diperlukan bagi negara dan pemerintahan,
berisikan pula dasar falsafah dan pandangan hidup bangsa. Sebagai pelajar sekaligus generasi
penerus bangsa hendaknya mempertahankan kelestarian pokok-pokok pikiran dalam
Pembukaan UUD Tahun 1945. Mempertahankan pokok-pokok pikiran dalam Pembukaan
UUD Tahun 1945 tidak hanya dengan tidak mengubahnya. Namun, perlu diwujudkan dalam
kehidupan sehari-hari.

35
BAB 3
BENTUK DAN KEDAULATAN
NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA SESUAI UUD 1945

Kompetensi Dsar
1.3 Bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas bentuk dan kedaulatan Negara Republik
Indonesia
2.3 Menunjukkan sikap bertanggung jawab dalam mendukung bentuk dan kedaulatan negara
3.3 Memahami ketentuan tentang bentuk dan kedaulatan negara sesuai Undang-Undang
Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
4.3 Memaparkan penerapan tentang bentuk dan kedaulatan negara sesuai Undang-Undang
Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945

Petunjuk
Supaya kamu mampu menguasai KD tersebut silahkan kamu kerjakan lembar
kerja berikut ini dengan mencari informasi pada Informasiku!

Lembar Kerja
Kerjakanlah lembar kerja 1, 2 dan 3 yang ada pada portofolio lembar kerja
kalian!

Informasiku

A. Hakekat dan teori tentang Kedaulatan


Pengertian Kedaulatan
Kedaulatan berasal dari kata "daulat" daulat dalam bahasa Arab artinya "kekuasaan
atau dinasti pemerintahan".
Dan masih ada arti kedaulatan dalam bahasa-bahasa yang lain misalnnya ;
1) Istilah dari bahasa Inggris kedaulatan artinya SOUVERIGNITY.
2) Istilah dari bahasa Perancis kedaulatan artinya SOUVERAINETE
3) Istilah dari bahasa Italia kedaulatan artinya SOVRANSI
4) Istilah dari bahasa latin kedaulatan artinya SUPERAMUS

Makna dari istilah-istilah di atas kesemuanya memiliki arti "tertinggi". Jadi kedaulatan
berarti kekuasaan tertinggi atau kekuasaan yang tidak terletak di bawah kekuasaan tertentu
atau kekuasaan yang tertinggi yang ada dalam suatu Negara.

Jenis Kedaulatan
Menurut Jean Bodin (1500 - 1590), Ada dua jenis kedaulatan yaitu:
1. Kedaulatan kedalam (intern), yaitu kekuasaan tertinggi di dalam negara untuk mengatur
fungsinya. Pemerintah berhak mengatur segala kepentingan rakyat melalui berbagai
lembaga negara dan perangkat lainnya, tanpa campur tangan negara lain. Kedaulatan ke
dalam merupakan kedaulatan yang dimiliki suatu negara untuk mengatur dan
menjalankan organisasi negara sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku di
negara tersebut, dan rakyat harus patuh dan tunduk dengan apa yang digariskan
pemerintah.
2. Kedaulatan ke luar (ekstern), yaitu kekuasaan tertinggi di dalam negara untuk
mengadakan hubungan dengan negara lain serta mempertahankan wilayah dari berbagai
ancaman dari luar. Negara berhak mengadakan hubungan atau kerjasama dengan negara
lain guna kepentingan nasionalnya. Kedaulatan ke Iuar merupakan kedaulatan yang

36
berkaitan dengan wewenang untuk mengatur pemerintahan dan menjaga keutuhan
wilayah suatu negara yang sepatutnya juga dihormati negara lain. Pelaksanaan konsep
kedaulatan keluar seperti adanya hubungan diplomatik, perjanjian antarnegara, hubungan
dagang dan sosial budaya.

Sifat-sifat kedaulatan yaitu sebagai berikut :


1. Sifat Kedaulatan Absolut atau Asli
Artinya tidak berasal atau tidak dilahirkan oleh kekuasaan lain. Kekuasaan yang berasal dari
rakyat adalah asli karena kekuasaan tersebut tertinggi. Sementara itu kekuasaan presiden
berasal dari kekuasaan rakyat yang memilihnya.

2. Permanen (tetap)
Artinya kekuasaan itu tetap ada selama negara itu berdiri, sekalipun pemegang kedaulatan
sudah berganti ganti. Sifat kedulatan itu permanent berarti bahwa walaupun suatu negara
mengadakan reorganisasi di dalam strukturnya, kedaulatan tersebut tidak berubah.
Pelaksanaannya mungkin berganti atau badan yang memegang kedaulatan itu berganti, tetapi
kedaulatan itu tetap.

3. Tidak terbatas
Artinya kedaulatan itu tidak dibatas oleh kekuasaan lain. Apabila pelaksanaanya dibatas,
kedaulatan tidak lagi mencerminkan kekuasaan tertinggi. Sifat kedaulatan itu tidak terbatas
yang berarti meliputi setiap orang dan golongan yang berada dalam negara tanpa ada
kecualinya.

4. Tunggal bulat atau tidak terbagi-bagi.


Artinya kekuasaan itu merupakan satu satunya kekuasaan tertinggi dalam negara yang tidak
diserahkan atau dibagi bagikan kepada badan badan lainnya. Sifat kedaulatan itu tidak terbagi-
bagi maksudnya bahwa kedaulatan itu tidak boleh dibagi-bagi kepada beberapa badan
tertentu. Sebab dalam hal ini akan timbul pluralisme (keadaan masyarakat yang majemuk) di
dalam kedaulatan.

Teori Kedaulatan
Terdapat beberapa teori kedaulatan yang dikemukakan oleh para ahli kenegaraan, antara lain
sebagai berikut.
1) Teori Kedaulatan Tuhan.
Teori kedaulatan Tuhan mengajarkan bahwa negara dan pemerintahmendapat kekuasaan yang
tertinggi dari Tuhan. Menurut teori ini, sesungguhnya segala sesuatu yang terdapat di alam
semesta berasal dari Tuhan.
Kedaulatan dalam suatu negara yang dilaksanakan oleh pemerintah negara juga berasal dari
Tuhan. Negara dan pemerintahan mendapat kekuasaan dari Tuhan karena tokoh-tokoh negara
itu, secara kodrati telah ditetapkan menjadi pemimpin negara. Mereka berperan sebagai wakil
Tuhan. Raja misalnya, bertugas memimpin rakyatnya untuk mencapai suatu cita-cita. Oleh
karena itu, kepemimpinan dan kekuasaan harus berpusat di tangan raja.
Teori kedaulatan Tuhan umumnya dianut olehraja-raja yang mengakui sebagai keturunan
dewa. Misalnya, raja-raja Mesir kuno, Kaisar Jepang, dan Kaisar Cina. Raja-raja di Jawa pada
zaman Hindu, juga menganggap dirinya sebagai penjelmaan dewa Wisnu. Peloporpelopor
teori kedaulatan Tuhan, antara lain adalah Augustinus, Thomas Aquino, dan Friedrich Julius
Stahl.
2) Teori kedaulatan Raja
Kekuasaan negara, menurut teori ini, terletak di tangan raja sebagai penjelmaan kehendak
Tuhan. Raja merupakan bayangan dari Tuhan. Agar negara kuat, raja harus berkuasa mutlak
dan tidak terbatas. Dalam teori kedaulatan raja, posisi raja selalu berada di atas undang-

37
undang. Rakyat harus rela menyerahkan hak asasinya dan kekuasaannya secara mutlak kepada
raja.
Peletak dasar teori kedaulatan raja, antara lain Nicollo Machiavelli, Jean Bodin Thomas
Hobbes, dan Hegel. Nicollo Machiavelli mengajarkan, bahwa negara yang kuat haruslah
dipimpin oleh seorang raja yang memiliki kedaulatan tidak terbatas atau mutlak. Dengan
demikian, raja dapat melaksanakan cita-cita negara sepenuhnya. Raja hanya bertanggung
jawab kepada .dirinya sendiri atau kepada Tuhan.
Raja tidak tunduk kepada konstitusi, walaupun disahkan oleh dirinya sendiri. Raja juga tidak
bertanggung jawab kepada hukum moral yang bersumber dari Tuhan, karena raja
melaksanakan kewajibannya untuk rakyat atas nama Tuhan.
3) Teori kedaulatan rakyat
Teori kedaulatan rakyat, yaitu teori yang mengatakan bahwa kekuasaansuatu negara berada
di tangan rakyat sebab yang benar-benar berdaulat dalam suatu negara adalah rakyat.
Sumber ajaran kedaulatan rakyat ialah ajaran demokrasi yan,g telah dirintis sejak jaman
Yunani oleh Solon. Istilah demokrasi berasal dari kata Yunani, demos (rakyat) dan kratein
(memerintah) atau kratos (pemerintah). Jadi, demokrasi mengandung pengertian
pemerintahan rakyat, yaitu pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk, rakyat.
Rakyat merupakan suatu kesatuan yang dibentuk oleh individu-individu melalui perjanjian
masyarakat. Rakyat sebagai pemegang kekuasaan tertinggi memberikan haknya kepada untuk
kepentingan bersama. Penguasa dipilih dan ditentukan atas dasar kehendak rakyat melalui
perwakilan yang duduk di dalam pemerintahan. Pemerintah yang berkuasa harus
mengembalikan hak-hak sipil kepada warganya."
Pelopor teori kedaulatan rakyat
J.J. Rousseau, berpendapat ,bahwa negara dibentuk oleh kemauanrakyat secara sukarela.
Kemauan rakyat untuk membentuk negara itu disebut kontrak sosial. Rousseau juga
berpendapat bahwa negara yang terbentuk melalui perjanjian masyarakat harus menjamin
kebebasan dan persamaan.
Montesquieu, beranggapan bahwa kehidupan bernegara dapat terptur dengan baik, sebaiknya
kekuasaan dibagi tiga, yaitu legislatif, eksekutif, dan yudik'atif.
John Locke, berpendapat bahwa manusia mempunyai hak pokok, yaitu hak hidup, hak
kemerdekaan, dan hak milik. Selain itu, John juga mengajarkan asas-asas terbentuknya negara
adalah sebagai berikut.
a) Pactum unionis, yakni perjanjian antar individu untuk mer.nbentuk negara;
b) Pactum subjectionis, yaitu perjanjian antara individu dengan negara yang dibentuk itu.
Artinya, individu memberikan mandat kepada negara atau pemerintah selama pemerintah
berdasarkan konstitusi atau undang-undang negara.

Dalam negara yang menganut teori kedaulatan rakyat terdapat ciri-ciri sebagai berikut.
a) Adanya lembaga perwakilan rakyat atau dewan perwakilan rakyat sebagai badan atau
majelis yang mewakili dan mencerminkan kehendak rakyat,
b) Untuk mengangkat dan menetapkan anggota majelis tersebut, pemilihan dilaksanakan
untuk jangka waktu tertentu. Rakyat yang telah dewasa secara bebas dan rahasia memilih
wakil atau partai yang disenangi atau dipercayai.
c) Kekuasaan atau kedaulatan rakyat dilaksanakan oleh badan perwakilan rakyat, yang
bertugas mengawasi pemerintah.
d) Susunan kekuasaan badan atau majelis itu ditetapkan dalam undang-undang negara.

4) Teori Kedaulatan negara


Menurut teori kedaulatan negara, kekuasaan tertinggi terletak pada negara. Sumber atau asal
kekuasaan yang dinamakan kedaulatan itu ialah negara. Negara sebagai lembaga tertinggi

38
kehidupan suatu bangsa, dengan sendirinya memiliki kekuasaan. Jadi, kekuasaan negara ialah
kedaulatan negara yang timbul bersamaan dengan berdirinya negara.
Teori kedaulatan negara yang bersifat absolut dan mutlak ini berdasarkan pandangan bahwa
negara adalah penjelmaan Tuhan. Hegel mengajarkan bahwa negara dianggap suci
karena sesungguhnya negara adalah penjelmaan kehendak Tuhan. Negara mewarisi
kekuasaan yang bersumber dari Tuhan. Berdasarkan teori kedaulatan negara, pemerintah
adalah pelaksana tunggal kekuasaan negara. Teari ini dianggap sebagai sebuah ajaran yang
paling absolut sejak zaman Plato hingga Hitler-Stalin.
Negaralah yang menciptakan hukum dan negara tidak wajib tunduk pada hukum. Namun
karena negara abstrak, kekuasaan diserahkan kepada raja atas nama negara. Peletak dasar teori
kedaulatan negara, antara lain Paul Laban, George Jellinek, dan Hegel.
5) Teori kedaulatan hukum
Teori kedaulatan hukum, yaitu paham yang tidak disetujui oleh paham kedaulatan negara.
Menurut teori kedaulatan hukum, kekuasaan tertinggi dalam negara terletak pada hukum. Hal
ini berarti, bahwa yang berdaulat adalah lembaga atau orang yang berwenang mengeluarkan
perintah atau lara[lgan yang mengikat semua warga negara. Lembaga yang dimaksud
adalahpemerintah dalam arti luas. Di Indonesia, lembaga itu adalah presiden bersama para
menteri sebagai pembantunya dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Di Inggris, lembaga itu
adalah raja bersama parlemen.
Berdasarkan pemikiran teori ini, hukum membimbing kekuasaan pemerintahan. Yang
dimaksud dengan hukum menurut teori ini ialah hukum yang tertulis (undang-undang dasar
negara dan peraturan perundangan lainnya) dan hukum yang tidak tertulis (convensi). Pelopor
teori kedaulatan hukum, antara lain Immanuel Kant, H. Krable, dan Leon Dubuit.
Makna Kedaulatan Rakyat
Sebagaimana telah di uaraikan di atas, kedaulatan rakyat mengandung arti kekuasaan tertinggi
ada pada rakyat. Dengan demikian makna kedaulatan rakyat adalah demokrasi, yang berarti
pemerintahan yang kekuasaan tertinggi terletak/bersumber pada rakyat.
Paham yang menekankan tentang kedaulatan rakyat berkembang mulai abad XVII - XIX
hingga sekarang. Paham ini dipengaruhi oleh teori kedaulatan hukum yang
menempatkan rakyat sebagai obyek sekaligus sebagai subyek dalam negara (demokrasi).
Tokoh pengamat paham teori kedaulatan rakyat adalah John Locke, Thomas
Hobbes Montesquieu, dan Jean John Rousseau.
1) John Locke
John Locke berpendapat bahwa, negara dibentuk melalui perjanjian masyarakat. Sebelum
membentuk negara, manusia hidup sendiri-sendiri dan tidak ada peraturan yang mengikat
mereka untuk memenuhi kebutuhannya kemudian mereka mengadakan suatu perjanjian
membentuknegara. Perjanjian itulah yang disebut dengan perjanjian masyarakat atau kontrak
sosial. Perjanjian masyarakat ada dua, yaitu perjanjian antarindividu dan perjanjian
antarindividu dengan penguasa. Meskipun demikian rakyat tidak menyerahkan seluruh hak-
hak manusia kepada penguasa. Rakyat tetap mempertahankan hak-hak asasinya seperti hak
hidup, hak milik, hak mendapat kemerdekaan. Penguasa tetap melindungi hak-hak tersebut
dan mengaturnya dalam UUD negara tersebut.
Dalam memahami perjanjian masyarakat terdapat perbedaan mendasar antara John Locke dan
Thomas Hobbes. Jika Thomas Hobbes hanya menjelaskan satu jenis perjanjian masyarakat
saja, yaitu pactum subjectionis, John Locke menjelaskan kontrak sosial
itu dalam fungsinya yang rangkap.
Pertama, individu dengan individu lainnya mengadakan suatu perjanjian masyarakat untuk
membentuk suatu masyarakat politik atau negara. Perjanjian masyarakat ini merupakan
perjanjian tahap pembentukan negara yang dinamakan pactum unionis. Kedua, John
Locke sekaligus menyatakan, bahwa suatu permufakatan yang dibuat berdasarkan suara
terbanyak dapat dianggap sebagai tindakan seluruh masyarakat itu, karena persetujuan

39
individu-individu untuk membentuk negara mewajibkan individu-individu lain untuk
menaati negara yang dibentuk dengan suara terbanyak itu. Negara yang dibentuk dengan
suara terbanyak itu tidak dapat mengambil hak-hak milik manusia dan hak-hak lainnya yang
tidak dapat dilepaskan. Perjanjian masyarakat tahap kedua ini dinamakan pactum subjectionis.
Menurut John Locke, individu mempunyai hak-hak yang tidak dapat dilepaskan berupa hak-
hak kodrat yang dimiliki individu sebagai manusia sejak ia hidup dalam keadaan alamiah.
Hak-hak itu mendahului adanya kontrak sosial yang dibuat kemudian, dan karena itu hak-
hak itu tidak dapat dihapuskan dengan adanya kontrak sosial tersebut.
Bahkan, menurut John Locke, fungsi utama perjanjian masyarakat ialah untuk menjamin
dan melindungi hak-hak kodrat tersebut. Dengan demikian ini, John Locke
mengajarkan negara yang dalam kekuasaannya dibatasi oleh hak-hak kodrat yang
tidak dapat dilepaskan itu. Hak-hak kodrat disebut juga sebagai hak asasi manusia.
Ajaran John Locke menghasilkan negara yang menghormati hak asasi manusia yang diatur
dalam undang-undang dasar atau konstitusi. Negara yang diatur dengan undang-undang dasar
disebut negara konstitusional.
Menurut John Locke kekuasaan negara dibagi dalam tiga kekuasaan, yaitu kekuasaan
legislatif, kekuasaan eksekutif dan kekuasaan federatif yang masing-masing terpisah satu
sama lain. Kekuasaan legislatif adalah kekuasaan membuat peraturan dan undang-undang.
Kekuasaan eksekutif adalah kekuasaan melaksanakan undangundang dan di dalamnya
termasuk kekuasaan mengadili, sedangkan kekuasaan federatif adalah segala kekuasaan
yang meliputi segala tindakan untuk menjaga keamanan negara dalam hubungannya dengan
negara lain seperti hubungan luar negeri (alliansi).
2) Thomas Hobbes
Sama dengan John Locke, Thomas Hobbes yang berpendapat bahwa negara dibentuk
melalui perjanjian masyarakat.
Thomas Hobbes menjelaskan kontrak sosial melalui pemahaman, bahwa kehidupan
manusia terpisah dalam dua zaman, yakni keadaan sebelum ada negara (status naturalis,
state of nature, keadaan alamiah) dan keadaan bernegara. Bagi Thomas Hobbes, keadaan
alamiah sama sekali bukan keadaan yang aman sentosa, adil dan makmur. Tetapi
sebaliknya, keadaan alamiah itu merupakan suatu keadaan sosial yang kacau, tanpa hukum
yang dibuat manusia secara sukarela dan tanpa pemerintah, tanpa ikatan-ikatan sosial
antarindividu. Dalam keadaan demikian, hukum dibuat oleh mereka yang fisiknya terkuat
sebagaimana keadaan di hutan belantara. Manusia seakan-akan merupakan binatang dan
menjadi mangsa dari manusia yang secara fisik lebih kuat dari padanya. Keadaan ini
dilukiskan dalam peribahasa Latin, homo homini lupus (manusia saling memangsa satu sama
lain). Manusia saling bermusuhan, berada terus-menerus dalam keadaan peperangan yang
satu melawan yang lain. Keadaan semacam ini dikenal sebagai bellum omnium contra omnes
(perang antara semua melawan semua). Bukan perang dalam arti peperangan yang
terorganisasi, tetapi perang dalam arti keadaan bermusuhan yang terus-menerus antara
individu dan individu lainnya.
Keadaan serupa itu tidak dapat dibiarkan berlangsung terus. Manusia dengan akalnya
mengerti dan menyadari, bahwa demi kelanjutan hidup mereka sendiri, keadaan alamiah itu
harus diakhiri. Hal ini dilakukan dengan cara mengadakan perjanjian bersama. Individu-
individu yang tadinya hidup dalam keadaan alamiah berjanji akan menyerahkan semua hak-
hak kodrat yang dimilikinya kepada seseorang atau sebuah badan.
Bagi Thomas Hobbes hanya terdapat satu macam perjanjian, yakni
pactum subjectionis atau perjanjian pemerintahan dengan jalan segenap individu yang
berjanji menyerahkan semua hak-hak kodrat mereka yang dimiliki ketika hidup dalam
keadaan alamiah kepada seseorang atau sekelompok orang yang ditunjuk untuk mengatur
kehidupan mereka. Akan tetapi perjanjian saja belumlah cukup. Orang atau sekelompok orang
yang ditunjuk itu harus diberi pula kekuasaan. Negara harus berkuasa penuh sebagaimana
halnya dengan binatang buas, leviathan, yang dapat menaklukkan segenap binatang buas

40
lainnya. Negara harus diberi kekuasaan yang mutlak sehingga kekuasaan negara tidak dapat
ditandingi dan disaingi oleh kekuasaan apapun. Di dunia ini tidak ada kekuasaan yang dapat
menandingi dan menyaingi kekuasaan negara.
Dengan perjanjian seperti itu tidaklah mengherankan bahwa Thomas Hobbes mengajarkan
negara yang mutlak, teristimewa negara kerajaan yang absolut. Thomas
Hobbes berpendirian, bahwa hanya negara yang berbentuk negara kerajaan yang
mutlaklah dapat menjalankan pemerintahan yang baik.
3) Montesquieu
Beberapa puluh tahun kemudian, filsuf Perancis Montesquieu mengembangkan lebih lanjut
pemikiran John Locke tentang tiga. kekuasaan di atas yang sering kita dengar istilah Trias
Politica. Dalam uraiannya ia membagi kekuasaan pemerintahan dalam tiga cabang, yaitu
kekuasaan legislatif, kekuasaan eksekutif, kekuasaan yudikatif. Menurut dia kekuasaan itu
haruslah terpisah-pisah satu sama lain, baik mengenai tugas atau fungsi mengenai alat
perlengkapanatau organ yang menyelenggarakannya, terutama adanya kebebasan badan
yudikatif yang ditekankan oleh Montesquieu. Mengapa? Karena di sinilah letaknya
kemerdekaan individu dan hak asasi manusia itu dijamin dan dipertaruhkan. Kekuasaan
legislatif menurut Motesquieu adalah kekuasaan untuk membuat undang-undang,
kekuasaan eksekutif adalah kekuasaan menyelenggarakan undang-undang dan kekuasaan
yudikatif adalah kekuasaan mengadili atas penyelenggarakan undang-undang.
4) Jean Jacques Rousseau
Beliau merupakan pengamat teori perjanjian masyarakat dan dianggap sebagai bapak Teori
Kedaulatan Rakyat. Menurutnya, negara dibentuk. oleh kemauan rakyat secarasukarela.
Kemauan rakyat untuk membentuk negara disebut kontrak sosial. Individu secara sukarela
dan bebas membuat perjanjian untuk membentuk negara berdasarkan kepentingan mereka.
Negara seba'gai organisasi berkewajiban mewujudkan cita-cita atau kemauan rakyat yang
kemudian dituangkan dalam bentuk kontrak sosialyang berupa konstitusi negara. Rousseau
juga menekankan adanya kebebasan dan persamaan.

B. BENTUK KEDAULATAN YANG SESUAI DENGAN UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA


REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945

1. Bentuk Negara
Negara Indonesia ialah Negara kesatuan, yang berbentuk Republik (pasal 1 ayat (1))

Ayat ini mengandung beberapa pengertian. Pertama, ketentuan pasal 1 ayat ( 1 ) ini
adalah ketentuan pembukaan dan berasal dari rumusan asli pada tahun 1945. Artinya, alam
pikiran yang hidup dalam sidang- sidang BPUPKI pada 1945 masih terus menjiwai pemikiran
dan pandangan yang hidup dalam masyarakat Indonesia di masa reformasi sebagaimana
tercermin dalam persidangan di Badan Pekerja MPR yang mempersiapkan Perubahan Ketiga
UUD 1945 pada tahun 2000. Hal ini menegaskan bahwa ketentuan yang terkandung dalam
pasal pembukaan ini sangatlah prinsipil dan mendasar bagi kehidupan kebangsaan dan
kenegaraan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Kedua, negara Indonesia itu didefinisakan sebagai Negara Kesatuan Republik


Indonesia atau NKRI, tidak semata-mata bersifat teknis dalam rangka pengaturan mengenai
struktur- struktur atau bentuk dan/ atau susunan organisasi dan bentuk pemerintahan, tetapi
lebih mendasar lagi menyangkut definisi eksistensial bahwa keberdaan negara indonesia
itu ialah dalam wujudnya sebagai NKRI. Oleh karena itu, NKRI difahami oleh Bangsa
Indonesia sebagai salah satu pilar yang juga mengandumg unsur yang bersifat ideologis.

41
Ketiga, Pengertian tentang bentuk negara dalam ayat (1) ini mengacu pada pengertian
apakah Republik atau Monarki, dan UUD 1945 telah menegaskan pilihannya, yaitu Republik,
bukan Monarki. Dengan demikian pilihan Republik itu dikaitkan dengan pengertian bentuk
negara ( staatsvorm ), bukan dengan bentuk pemerintahan (regeringsvorm ) sebagaimana
dipahami dalam teori ilmu hukum. Oleh karena itu istilah bentuk negara tidak lagi dikaitkan
dengan bentuk negara kesatuan, Unitary State atau Bondsstaat. Sebagai gantinya istilah yang
paling tepat untuk dipakai guna menyebut tentang negara kesatuan ( Unitary State, Bondsstaat
) itu adalah susunan atau sususnan organisasi negara, bukan bentuk negara seperti yang biasa
digunakan dalam berbagai buku atau tulisan mengenai hukum dan politik.

Bentuk Negara dan Pemerintahan Indonesia


Bentuk negara Indonesia adalah kepulauan yang sangat banyak dan dikelilingi oleh laut yang
sangat luas. Kekayaan Negara Indonesia tidak terhitung jumlahnya, baik dari hasil lautnya,
hasil bumi dan pertambangannya. Menurut teori-teori modern sekarang ini, bentuk nagara
yang terpenting ialah Negara Kesatuan (Unitarisme) dan Negara Serikat (Federasi).
1. Negara Kesatuan ialah suatu negara yang merdeka dan berdaulat, di seluruh negara yang
berkuasa hanya ada satu pemerintah (pusat) yang mengatur seluruh daerah.
a.) Negara Kesatuan dengan sistem sentralisasi yang segala sesuatu dalam negara itu
langsung diatur dan diulas oleh pemerintah pusat dan daerah-daerah tinggal
melaksanakannya.
b.) Negara Kesatuan dengan sistem desentralisasi, di mana kepada daerah diberikan
kesempatan dan kekuasaan untuk mengurus rumah tangganya sendiri (otonomi daerah)
yang dinamakan daerah swatantra. Dalam UUD 1945 Pasal 1 ayat (1), dinyatakan bahwa
Negara Indonesia ialah Negara Kesatuan, yang berbentuk Republik.
2. Negara Serikat (federasi) ialah suatu negara yang merupakan gabungan dari beberapa
negara, yang menjadi negara-negara bagian dari negara serikat itu. Negara-negara bagian
itu asal mulanya adalah suatu negara yang merdeka dan berdaulat serta berdiri sendiri.
Dengan menggabungkan diri dari dalam suatu negara serikat, maka yang negara tadinya
berdiri sendiri itu dan sekarang menjadi negara bagian, melepaskan sebagian
kekuasaannya dan menyerahkannya kepada negara serikat itu. Kekuasaan yang diserahkan
itu disebutkan satu demi satu (limitatif), hanya kekuasaan yang disebutkan itu yang
diserahkan kepada negara serikat (delegated powers).
Kekuasaan asli pada negara bagian. Negara bagian berhubungan langsung dengan rakyatnya.
Kekuasaan negara serikat adalah kekuasaan yang diterimanya dari negara bagian. Biasanya
yang diserahkan oleh negara-negara bagian kepada negara serikat ialah hal-hal yang
berhubungan dengan hubungan luar negeri, pertahanan negara, keuangan, dan urusan pos.
Adakalanya dalam pembagian kekuasaan antara pemerintah federasi dan pemerintah negara-
negara bagian yang disebut adalah urusan-urusan yang diselenggarakan oleh pemerintah
negara-negara bagian, yang berarti bahwa bidang kegiatan pemerintah federal adalahurusan-
urusan kenegaraan selebihnya (residuary powers).
Apakah kedaulatan suatu negara bisa hilang/musnah? Tentu bisa. Hal-hal yang
mengakibatkan kedaulatan suatu kedaulatan hilang yaitu:
a. Kalah perang dengan negara lain.
b. Bergabung dengan negara lain.

42
c. Memisahkan diri dan menyatakan merdeka.
Secara umum, ada tiga unsur mutlak bersirinya suatu negara:
a. Memiliki wilayah.
b. Memiliki rakyat.
c. Memiliki pemerintahan yang berdaulat.
Jokowi Minta TNI Perkuat Jati Diri

Sumber: bisnissurabaya.com

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Presiden Republik Indonesia Joko Widodo mengatakan


jati diri TNI sebagai Tentara Rakyat, Tentara Pejuang, Tentara Nasional, dan Tentara
Professional harus terus diperkuat. Hal ini ia sampaikan pada acara tasyakuran Peringatan
HUT ke-71 TNI tahun 2016, yang dibacakan oleh Panglima TNI Jenderal TNI Gatot
Nurmantyo, bertempat di GOR Ahmad Yani, Mabes TNI, Cilangkap Jakarta Timur, Rabu
(5/10). Presiden Joko Widodo menyampaikan keyakinan-nya bahwa kedaulatan dan
kehormatan Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika, Negara Kesatuan Republik
Indonesia, Sang Saka Merah Putih terus terjaga dan ditegakkan. Menurut Jokowi, kehadiran
TNI dalam mewujudkan Indonesia yang berdaulat, mandiri dan berkepribadian, menjadi
semakin penting dengan tantangan penugasan yang semakin kompleks.
Tantangan yang dihadapi Indonesia bukan hanya terbatas pada perang terbuka, tapi perang
asimetris, persaingan ekonomi, persaingan diplomasi, persaingan teknologi, dan persaingan
soft power, jelasnya, Rabu (5/10).
Lebih lanjut Presiden Joko Widodo menyatakan, TNI akan terus meningkatkan kecanggihan
Alutsista dan kemampuan prajuritnya dengan melakukan latihan-latihan berkesinambungan
sebagai bagian tidak terpisahkan dari itu semua. Negara percaya bahwa prajurit dan keluarga
TNI harus sejahtera, dimanapun prajurit berada dan bertugas, tegasnya.
Diakhir amanatnya, Presiden RI Joko Widodo mengucapan selamat Hari Ulang Tahun ke-71
kepada segenap anggota dan keluarga besar Tentara Nasional Indonesia, termasuk yang
sedang melaksanakan tugas mulia menjaga bangsa dan negara, di seluruh penjuru Tanah Air
dan di seluruh penjuru dunia.
(Sumber: www.republika.co.id)
Dari informasi di atas, dapat kita buat beberapa pertanyaan, antara lain: Mengapa kedaulatan
dan kehormatan Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika, Negara Kesatuan Republik
Indonesia, Sang Saka Merah Putih perlu terus terjaga dan ditegakkan? Mengapa TNI dalam
mewujudkan Indonesia yang berdaulat, mandiri dan berkepribadian, menjadi semakin
penting? Apakah yang dimaksud dengan tantangan yang dihadapi Indonesia bukan hanya

43
terbatas pada perang terbuka, tapi perang asimetris, persaingan ekonomi, persaingan
diplomasi, persaingan teknologi, dan persaingan soft power?
Atau pertanyaan-pertanyaan dasar seperti: Apakah yang dimaksud dengan kedaulatan negara?
Mengapa kedaulatan negara berkaitan dengan TNI? Bagaimanakah konsepsi kedaulatan
negara bagi negara Indonesia? Apakah pentingnya kedaulatan suatu negara? dan masih
banyak lagi yang dapat kita pertanyakan.

Sistem Pemerintahan NRI


Sistem pemerintahan di Indonesia terbagi menjadi Sistem Pemerintahan Sentralisasi, Sistem
Pemerintahan Desentralisasi, Sistem Pemerintahan Presidensial, dan Sistem Pemerintahan
Parlementer.
Kelebihan Sistem Sentralisasi :
Keseragaman peraturan di semua wilayah
Kesederhanaan Hukum
Pendapatan daerah dapat di alokasikan ke semua daerah dengan adil dan sesuai kebutuhan.
Kelemahan Sistem Sentralisasi :
Penumpukan pekerjaan di pusat, sehingga menghambat kinerja pemerintahan
Tidak sinkron antara peraturan yang dibuat di pusat dan kondisi lapangan di daerah
Kelebihan Sistem Desentralisasi
Daerah lebih berkembang, pembangunan lebih cepat
Peraturan dan kebijakan lebih tepat dan sesuai kebutuhan daerah
Kelebihan Sistem Desentralisasi
Daerah lebih berkembang, pembangunan lebih cepat
Peraturan dan kebijakan lebih tepat dan sesuai kebutuhan daerah
Perubahan-Perubahan Sistem Pemerintahan Indonesia
Sistem Pemerintahan dari Awal Kemerdekaan
pada waktu awal kemerdekaan menganut sisten pemerintahan presidensial.
Berdasarkan Undang-undang Dasar 1945 maka Presiden memiliki kekuasaan tertinggi dan
dibantu oleh menteri-menteri sebagai pembantu presiden yang diangkat dan diberhentikan
oleh Presiden dan bertanggung jawab langsung kepada Presiden. Pada tanggal 12 September
1945 dibentuklah Kabinet Presidensial( Kabinet RI I) dengan 12 departemen dan 4 menteri
negara. Selain itu wilayah Indonesia yang begitu luas dibagi menjadi 8 provinsi dan 2 daerah
istimewa yang masing-masing wilayah dipimpin oleh gubernur.
Sistem Presidensial pernah berganti Sistem Parlementer yang dipimpin oleh kepala
pemerintahan Perdana Menteri. Perdana Menteri Pertama Indonesia adalah Sutan Syahrir.
Berubahnya sistem pemerintahan di Indonesia pada saat itu adalah pengaruh kuat dari kaum
sosialis (KNIP). Selain itu Indonesia pada awal kemerdekaan juga masih belajar tentang
bagaimana menjalankan pemerintahan. Dengan sistem parlementer ini maka Di Indonesia saat
itu memiliki DPR yang anggotanya dipilih oleh rakyat. Sistem ini juga memungkinkan adanya
banyak partai. Maksud dari sistem ini adalah untuk membatasi kewenangan presiden. Jika

44
pada sistem presidensial kabinet bertanggungjawab kepada presiden maka sistem
parlementer, Presiden bertanggungjawab kepada parlemen/DPR.
Sebenarnya sistem parlementer ini adalah sebuah penyimpangan ketentuan UUD 1945 yang
menyebutkan pemerintahan harus dijalankan menurut sistem kabinet presidensial, dimana
menteri sebagai pembantu presiden.
Karena sering mengalami kegagalan kabinet, dan banyak menimbulkan gerakan-gerakan
pemberontakan yang menyebabkan stabilitas negara terganggu, Presiden Soekarno
mengeluarkan Dekrit pada 5 Juli 1959 yang isinya antara lain mengembalikan konstitusi ke
UUD 1945 dan bentuk pemerintahan kembali ke sistem presidensial.

Periodisasi Sistem Pemerintahan Indonesia


1. Sistem Pemerintahan Periode 1945-1949
Lama periode : 18 Agustus 1945 27 Desember 1949
Bentuk Negara : Kesatuan
Bentuk Pemerintahan : Republik
Sistem Pemerintahan : Presidensial
Konstitusi : UUD 1945
Presiden & Wapres : Ir. Soekarno & Mohammad Hatta (18 Agustus 1945 19 Desember
1948) Syafruddin Prawiranegara (ketua PDRI) (19 Desember 1948 13 Juli 1949)
Pernyataan van Mook untuk tidak berunding dengan Soekarno adalah salah satu faktor yang
memicu perubahan sistem pemerintahan dari presidensiil menjadi parlementer. Gelagat ini
sudah terbaca oleh pihak Republik Indonesia, karena itu sehari sebelum kedatangan Sekutu,
tanggal 14 November 1945, Soekarno sebagai kepala pemerintahan republik diganti oleh
Sutan Sjahrir yang seorang sosialis dianggap sebagai figur yang tepat untuk dijadikan ujung
tombak diplomatik, bertepatan dengan naik daunnya partai sosialis di Belanda.Setelah
munculnya Maklumat Wakil Presiden No.X tanggal 16 November 1945, terjadi pembagian
kekuasaan dalam dua badan, yaitu kekuasaan legislatif dijalankan oleh Komite Nasional
Indonesia Pusat (KNIP) dan kekuasaan-kekuasaan lainnya masih tetap dipegang oleh presiden
sampai tanggal 14 November 1945. Dengan keluarnya Maklumat Pemerintah 14 November
1945, kekuasaan eksekutif yang semula dijalankan oleh presiden beralih ke tangan menteri
sebagai konsekuensi dari dibentuknya sistem pemerintahan parlementer.

2. Sistem Pemerintahan Periode 1949-1950


Lama periode : 27 Desember 1949 15 Agustus 1950
Bentuk Negara : Serikat (Federasi)
Bentuk Pemerintahan : Republik
Sistem Pemerintahan : Parlementer Semu (Quasi Parlementer)
Konstitusi : Konstitusi RIS
Presiden & Wapres : Ir.Soekarno = presiden RIS (27 Desember 1949 15 Agustus 1950)
Assaat = pemangku sementara jabatan presiden RI (27 Desember 1949 15 Agustus 1950)

45
a. Pada tanggal 23 Agustus sampai dengan 2 september 1949 dikota Den Hagg (Netherland)
diadakan konferensi Meja Bundar (KMB). Delegasi RI dipimpin oleh Drs. Moh. Hatta,
Delegasi BFO (Bijeenkomst voor Federale Overleg) dipimpin oleh Sultan Hamid
Alkadrie dan delegasi Belanda dipimpin olah Van Harseveen.Adapun tujuan
diadakannya KMB tersebut itu ialah untuk meyelesaikan persengketaan Indonesia dan
Belanda selekas-lekasnya dengan cara yang adil dan pengakuan kedaulatan yang nyata,
penuh dan tanpa syarat kepada Republik Indonesia Serikat (RIS).Salah satu keputusan
pokok KMB ialah bahwa kerajaan Balanda mengakui kedaulatan Indonesia sepenuhnya
tanpa syarat dam tidak dapat dicabut kembali kepada RIS selambat-lambatnya pada
tanggal 30 Desember 1949.Demikianlah pada tanggal 27 Desember 1949 Ratu Juliana
menandatangani Piagam Pengakuan Kedaulatan RIS di Amesterdam. Bila kita tinjau
isinya konstitusi itu jauh menyimpang dari cita-cita Indonesia yang berideologi pancasila
dan ber UUD 1945 karena :1. Konstitusi RIS menentukan bentuk negara serikat
(federalisme) yang terbagi dalam 16 negara bagian, yaitu 7 negara bagian dan 9 buah
satuan kenegaraan (pasal 1 dan 2, Konstitusi RIS).
b. Konstitusi RIS menentukan suatu bentuk negara yang leberalistis atau pemerintahan
berdasarkan demokrasi parlementer, dimana menteri-menterinya bertanggung jawab atas
seluruh kebijaksanaan pemerintah kepada parlemen (pasal 118, ayat 2 Konstitusi RIS)3.
Mukadimah Konstitusi RIS telah menghapuskan sama sekali jiwa atau semangat
pembukaan UUD proklamasi sebagai penjelasan resmi proklamasi kemerdekaan negara
Indonesia (Pembukaan UUD 1945 merupakan Decleration of independence bangsa
Indonesia, kata tap MPR no. XX/MPRS/1996).Termasuk pula dalam pemyimpangan
mukadimah ini adalah perubahan kata- kata dari kelima sila pancasila. Inilah yang
kemudian yang membuka jalan bagi penafsiran pancasila secara bebas dan sesuka hati
hingga menjadi sumber segala penyelewengan didalam sejarah ketatanegaraan Indonesia.

3. Sistem Pemerintahan Periode 1950-1959


Lama periode : 15 Agustus 1950 5 Juli 1959
Bentuk Negara : Kesatuan
Bentuk Pemerintahan : Republik
Sistem Pemerintahan : Parlementer
Konstitusi : UUDS 1950
Presiden & Wapres : Ir.Soekarno & Mohammad Hatta
UUDS 1950 adalah konstitusi yang berlaku di negara Republik Indonesia sejak 17 Agustus
1950 hingga dikeluarkannya Dekrit Presiden 5 Juli 1959.UUDS 1950 ditetapkan berdasarkan
Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1950 tentang Perubahan Konstitusi Sementara Republik
Indonesia Serikat menjadi Undang-Undang Dasar Sementara Republik Indonesia, dalam
Sidang Pertama Babak ke-3 Rapat ke-71 DPR RIS tanggal 14 Agustus 1950 di
Jakarta.Konstitusi ini dinamakan sementara, karena hanya bersifat sementara, menunggu
terpilihnya Konstituante hasil pemilihan umum yang akan menyusun konstitusi baru.
Pemilihan Umum 1955 berhasil memilih Konstituante secara demokratis, namun Konstituante
gagal membentuk konstitusi baru hingga berlarut-larut.Dekrit Presiden 1959 dilatarbelakangi
oleh kegagalan Badan Konstituante untuk menetapkan UUD baru sebagai pengganti UUDS
1950. Anggota konstituante mulai bersidang pada 10 November 1956. Namun pada
kenyataannya sampai tahun 1958 belum berhasil merumuskan UUD yang diharapkan.

46
Sementara, di kalangan masyarakat pendapat-pendapat untuk kembali kepada UUD 45
semakin kuat. Dalam menanggapi hal itu, Presiden Soekarno lantas menyampaikan amanat di
depan sidang Konstituante pada 22 April 1959 yang isinya menganjurkan untuk kembali ke
UUD 45. Pada 30 Mei 1959 Konstituante melaksanakan pemungutan suara. Hasilnya 269
suara menyetujui UUD 1945 dan 199 suara tidak setuju. Meskipun yang menyatakan setuju
lebih banyak tetapi pemungutan suara ini harus diulang, karena jumlah suara tidak memenuhi
kuorum. Pemungutan suara kembali dilakukan pada tanggal 1 dan 2 Juni 1959. Dari
pemungutan suara ini Konstituante juga gagal mencapai kuorum. Untuk meredam kemacetan,
Konstituante memutuskan reses yang ternyata merupkan akhir dari upaya
penyusunan UUD.Pada 5 Juli 1959 pukul 17.00, Presiden Soekarno mengeluarkan dekrit
yang diumumkan dalam upacara resmi di Istana Merdeka.Isi dekrit presiden 5 Juli 1959.

4. Sistem Pemerintahan Periode 1959-1966 (Demokrasi Terpimpin)


Lama periode : 5 Juli 1959 22 Februari 1966
Bentuk Negara : Kesatuan
Bentuk Pemerintahan : Republik
Sistem Pemerintahan : Presidensial
Konstitusi : UUD 1945
Presiden & Wapres : Ir.Soekarno & Mohammad Hatta
Pada tanggal 5 Juli 1959, Presiden Sukarno mengeluarkan Dekrit Presiden. Latar belakang
dikeluarkannya dekrit ini adalah:
1. Kehidupan politik yang lebih sering dikarenakan sering jatuh bangunnya kabinet dan
persaingan partai politik yang semakin menajam.
2. Kegagalan konstituante dalam menyusun Undang-undang dasar
3. Terjadinya gangguan keamanan berupa pemberontakan bersenjata di daerah-daerah
Berikut Isi Dekrit Presiden tanggal 5 Juli 1959:
1. Tidak berlakunya UUDS 1950 dan berlakunya kembali UUD 1945.
2. Pembubaran Badan Konstitusional
3. Membentuk DPR sementara dan DPA sementara
Pelaksanaan Demokrasi Terpimpin
1. Bentuk pemerintahan Presidensial Ir. Soekamo sebagai Presiden dan Perdana menteri
dengan kabinetnya dinamakan Kabinet Kerja.
2. Pembentukkan MPR sementara dengan penetapan Presiden No. 2 tahun 1959.
Keanggotaan MPRS terdiri dari 583 anggota DPR ditambah dengan utusan-utusan
daerah dan 200 wakil-wakil golongan.
3. Pembentukkan DPR sementara berdasarkan penetapan Presiden No.3 tahun 1959 yang
diketuai oleh Prcsiden dengan 45 orang anggotanya.
4. Pembentukkan Front Nasional melalui penetapan Prcsiden No.13 tahun 1959. tertanggal
31 Desember 1959. Tujuan Front Nasional adalah: a. Menyelesaikan Revolusi Nasional
b. Melaksanakan pembangunan semesta nasional c. Mengembalikan Irian Barat dalam

47
wilayah RI. Front Nasional banyak dimanfaatkan oleh PKI dan simpatisannya sebagai
alat untuk mencapai tujuan politiknya.
5. Pembentukkan DPRGR Presiden Soekarno pada 5 Maret 1959 melalui penetapan
Presiden No.3 tahun 1959 membubarkan DPR hasil Pemilu sebagai gantinya melalui
penetapan Presiden No.4 tahun I960 Presiden membentuk DPRGR yang
keanggotaannya ditunjuk oleh Soekarno.
6. Manipol USDEK Manifesto politik Republik Indonesia (Manipol) adalah isi pidato
Presiden Soekarno pada tanggal 17 Agustus 1959. Atas usul DPA Manipol dijadikan
GBHN dengan Ketetapan MPRS No. 1 MPRS/I960, Menurut Presiden Soekano intisari
dari Manipol ada lima yaitu : UUD 1945, Sosialisme Indonesia, Demokrasi Terpimpin,
Ekonomi Terpimpin dan Kepribadian Indonesia. Disingkat menjadi USADEK.
Berkembang pula ajaran Presiden Soekano yang dikenal dengan NASAKOM
(Nasionalisme, Agama dan Komunis).
7. Berdasarkan Keputusan Presiden No.200 dan 201 tahun 1960 Presiden membubarkan
Partai Masyumi dan PSI dengan alasan para pemimpin partai tersebut mendukung
pemberontakan PRRI/Permesta.
Keadaan Ekonomi Mengalami Krisis, terjadi kegagalan produksi hampir di semua sektor.
Pada tahun 1965 inflasi mencapai 65 %, kenaikan harga-harga antara 200-300 %. Hal ini
disebabkan oleh a). penanganan dan penyelesaian masalah ekonomi yang tidak rasional, lebih
bersifat politis dan tidak terkontro. b). adanya proyek merealisasikan dan kontroversi.
Pada masa demokrasi terpimpin ini, terdapat berbagai penyimpangan UUD 1945, diantaranya:
Presiden mengangkat Ketua dan Wakil Ketua MPR/DPR dan MA serta Wakil Ketua
DPA menjadi Menteri Negara
MPRS menetapkan Soekarno sebagai presiden seumur hidup
Pemberontakan Partai Komunis Indonesia melalui Gerakan 30 September Partai
Komunis Indonesia

5. Sistem Pemerintahan Periode 1966-1998 (Orde Baru)


Lama periode : 22 Februari 1966 21 Mei 1998
Bentuk Negara : Kesatuan
Bentuk Pemerintahan : Republik
Sistem Pemerintahan : Presidensial
Konstitusi : UUD 1945
Presiden & Wapres : Soeharto (22 Februari 1966 27 Maret 1968)Soeharto (27 Maret 1968
24 Maret 1973)Soeharto & Adam Malik (24 Maret 1973 23 Maret 1978)Soeharto &
Hamengkubuwono IX(23 Maret 1978 11 Maret 1983)Soeharto & Try Sutrisno (11 Maret
1983 11 Maret 1988)Soeharto & Umar Wirahadikusumah(11 Maret 1988 11 Maret
1993)Soeharto & Soedharmono (11 Maret 1993 10 Maret 1998)Soeharto & BJ Habiebie (10
Maret 1998 21 Mei 1998)
Pada masa Orde Baru (1966-1998), Pemerintah menyatakan akan menjalankan UUD 1945
dan Pancasila secara murni dan konsekuen. Namun pelaksanaannya ternyata menyimpang
dari Pancasila dan UUD 1945 yang murni,terutama pelanggaran pasal 23 (hutang

48
Konglomerat/private debt dijadikan beban rakyat Indonesia/public debt) dan 33 UUD 1945
yang memberi kekuasaan pada fihak swasta untuk menghancur hutan dan
sumberalam kita.Pada masa Orde Baru, UUD 1945 juga menjadi konstitusi yang sangat
sakral, diantara melalui sejumlah peraturan: Ketetapan MPR Nomor I/MPR/1983 yang
menyatakan bahwa MPR berketetapan untuk mempertahankan UUD 1945, tidak berkehendak
akan melakukan perubahan terhadapnya Ketetapan MPR Nomor IV/MPR/1983 tentang
Referendum yang antara lain menyatakan bahwa bila MPR berkehendak mengubah UUD
1945, terlebih dahulu harus minta pendapat rakyat melalui referendum. Undang-Undang
Nomor 5 Tahun 1985 tentang Referendum, yang merupakan pelaksanaan TAP MPR Nomor
IV/MPR/1983.

Sistem Pemerintahan Indonesia Sebelum Amandemen


Berdasarkan UUD 1945 Sebelum Diamandemen.
Pokok-pokok system pemerintahan Indonesia berdasarkan UUD 1945 sebelum diamandemen
tertuang dalam Penjelasan UUD 1945 tentang tujuh kunci pokok sistem pemerintahan negara
tersebut sebagai berikut.
1. Indonesia adalah negara yang berdasarkan atas hukum (rechtsstaat).
2. Sistem Konstitusional.
3. Kekuasaan negara yang tertinggi di tangan Majelis Permusyawaratan Rakyat.
4. Presiden adalah penyelenggara pemerintah negara yang tertinggi dibawah Majelis
Permusyawaratan Rakyat.
5. Presiden tidak bertanggung jawab kepada Dewan Perwakilan Rakyat.
6. Menteri negara ialah pembantu presiden, menteri negara tidak bertanggungjawab
kepada Dewan Perwakilan Rakyat.
7. Kekuasaan kepala negara tidak tak terbatas.
Berdasarkan tujuh kunci pokok sistem pemerintahan, menurut UUD 1945 menganut sistem
pemerintahan presidensial. Sistem pemerintahan ini dijalankan semasa pemerintahan Orde
Baru di bawah kepemimpinan Presiden Suharto. Ciri dari sistem pemerintahan masa itu adalah
adanya kekuasaan yang amat besar pada lembaga kepresidenan. Hampir semua kewenangan
presiden yang di atur menurut UUD 1945 tersebut dilakukan tanpa melibatkan pertimbangan
atau persetujuan DPR sebagai wakil rakyat. Karena itu tidak adanya pengawasan dan tanpa
persetujuan DPR, maka kekuasaan presiden sangat besar dan cenderung dapat
disalahgunakan. Mekipun adanya kelemahan, kekuasaan yang besar pada presiden juga ada
dampak positifnya yaitu presiden dapat mengendalikan seluruh penyelenggaraan
pemerintahan sehingga mampu menciptakan pemerintahan yang kompak dan solid. Sistem
pemerintahan lebih stabil, tidak mudah jatuh atau berganti. Konflik dan pertentangan antar
pejabat negara dapat dihindari. Namun, dalam praktik perjalanan sistem pemerintahan di
Indonesia ternyata kekuasaan yang besar dalam diri presiden lebih banyak merugikan bangsa
dan negara daripada keuntungan yang didapatkanya.
Memasuki masa Reformasi ini, bangsa Indonesia bertekad untuk menciptakan sistem
pemerintahan yang demokratis. Untuk itu, perlu disusun pemerintahan yang konstitusional
atau pemerintahan yang berdasarkan pada konstitusi. Pemerintah konstitusional bercirikan
bahwa konstitusi negara itu berisi

49
1. adanya pembatasan kekuasaan pemerintahan atau eksekutif,
2. jaminan atas hak asasi manusia dan hak-hak warga negara.
Berdasarkan hal itu, Reformasi yang harus dilakukan adalah melakukan perubahan atau
amandemen atas UUD 1945. dengan mengamandemen UUD 1945 menjadi konstitusi yang
bersifat konstitusional, diharapkan dapat terbentuk sistem pemerintahan yang lebih baik dari
yang sebelumnya. Amandemen atas UUD 1945 telah dilakukan oleh MPR sebanyak empat
kali, yaitu pada tahun 1999, 2000, 2001, dan 2002. berdasarkan UUD 1945 yang telah
diamandemen itulah menjadi pedoman bagi sistem pemerintaha Indonesia sekarang ini.

Sistem Pemerintahan Indonesia Berdasarkan UUD 1945 Setelah Diamandemen


Setelah dilakukan amandemen terhadap konstitusi Indonesia, Undang-undang dasar Negara
Indonesia tahun 1945, maka terjadi perubahan pula pada pokok, pokok sistem pemerintahan
sebagai berikut
Pokok-pokok Sistem Pemerintahan Indonesia
1. Bentuk negara kesatuan dengan prinsip otonomi daerah yang luas. Wilayah negara
terbagi dalam beberapa provinsi.
2. Bentuk pemerintahan adalah republik konstitusional, sedangkan sistem pemerintahan
presidensial.
3. Presiden adalah kepala negara dan sekaligus kepala pemerintahan. Presiden dan wakil
presiden dipilih secara langsung oleh rakyat dalam satu paket.
4. Kabinet atau menteri diangkat oleh presiden dan bertanggung jawab kepada presiden.
5. Parlemen terdiri atas dua bagian (bikameral), Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan
Dewan Perwakilan Daerah (DPD). Para anggota dewan merupakan anggota MPR.
DPR memiliki kekuasaan legislatif dan kekuasaan mengawasi jalannya pemerintahan.
6. Kekuasaan yudikatif dijalankan oleh Makamah Agung dan badan peradilan
dibawahnya.
Sistem pemerintahan ini juga mengambil unsur-unsur dari sistem pemerintahan parlementer
dan melakukan pembaharuan untuk menghilangkan kelemahan-kelemahan yang ada dalam
sistem presidensial.
Beberapa variasi dari sistem pemerintahan presidensial di Indonesia adalah sebagai berikut:
1. Presiden sewaktu-waktu dapat diberhentikan oleh MPR atas usul dari DPR. Jadi, DPR
tetap memiliki kekuasaan mengawasi presiden meskipun secara tidak langsung.
2. Presiden dalam mengangkat penjabat negara perlu pertimbangan atau persetujuan dari
DPR.
3. Presiden dalam mengeluarkan kebijakan tertentu perlu pertimbangan atau persetujuan
dari DPR.
4. Parlemen diberi kekuasaan yang lebih besar dalam hal membentuk undang-undang
dan hak budget (anggaran)
Dengan demikian, ada perubahan-perubahan baru dalam sistem pemerintahan Indonesia. Hal
itu diperuntukan dalam memperbaiki sistem presidensial yang lama. Perubahan baru tersebut,
antara lain adanya pemilihan secara langsung, sistem bikameral, mekanisme cheks and

50
balance, dan pemberian kekuasaan yang lebih besar kepada parlemen untuk melakukan
pengawasan dan fungsi anggaran.

C. PRINSIP-PRINSIP KEDAULATAN SESUAI DENGAN UNDANG-UNDANG DASAR


NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945
Negara Indonesia adalah penganut teori kedaulatan rakyat dan kedaulatan hukum sehingga
jelas bahwa Indonesia menganut paham demokrasi. Sebagai negara yang menganut
kedaulatan rakyat, Indonesia memiliki prinsip-prinsip sebagai berikut.
1. Pasal 1 ayat (1)
Negara Indonesia adalah negara kesatuan yang berbentuk republik.
Bentuk negara adalah kesatuan, sedangkan bentuk pemerintahan republik. Negara
Kesatuan Republik Indonesia terbagi dalam beberapa daerah provinsi dengan
menggunakan prinsip desentralisasi yang luas, nyata, dan bertanggung jawab. Dengan
demikian, terdapat pemerintah pusat dan pemerintah daerah.
2. Pasal 1 ayat (2)
Kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang-Undang
Dasar.
Ketentuan pasal ini dimaksudkan untuk mengoptimalkan dan meneguhkan paham
kedaulatan rakyat yang dianut Negara Indonesia. Pelaksanaan kedaulatan rakyat tidak lagi
dijalankan sepenuhnya oleh MPR, tetapi melalui berbagai lembaga negara yang
ditentukan oleh UUD 1945. Jadi, pasal ini merupakan penjabaran langsung paham
kedaulatan rakyat yang secara tegas dinyatakan pada Pembukaan UUD 1945 alinea IV.
3. Pasal 1 ayat (3)
Negara Indonesia adalah negara hukum.
Negara hukum adalah negara yang menegakkan supremasi hukum untuk menegakkan
kebenaran dan keadilan, dan tidak ada kekuasaan yang tidak dipertanggungjawabkan.
4. Pasal 7C
Presiden tidak dapat membekukan dan/atau membubarkan Dewan Perwakilan
Rakyat.
Ketentuan pasal ini dimaksudkan untuk :
a. Mewujudkan keseimbangan politik bahwa DPR tidak dapat memberhentikan presiden,
dan presiden juga tidak dapat membekukan DPR.
b. Melindungi keberadaan DPR sebagai salah satu lembaga negara yang mencerminkan
kedaulatan rakyat.
c. Pada masa yang akan datang tidak boleh terjadi peristiwa pembekuan dan/atau
pembubaran DPR oleh presiden.
5. Pasal 17 ayat (2)
Menteri-menteri diangkat dan diberhentikan oleh presiden.
Ketentuan ini memberikan kewenangan kepada presiden untuk mengangkat menteri
cabinet kerjanya dan melakukan resapel.
6. Pasal 3 ayat (3)
Majelis permusyawaratan rakyat hanya dapat memberhentikan presiden dan/atau
wakil presiden dalam masa jabatannya menurut Undang-Undang Dasar.

51
Ketentuan ini memberikan imunitas kepada presiden dari adanya kudeta dari tim oposisi
selama presiden tidak menyalahi UUD 1945 dan sebaliknya MPR bisa menurunkan
presiden dan megangkat penggantinya sesuai UUD 1945.

Untuk meyakini prinsip-prinsip kedaulatan negara tersebut, warga negara berkewajiban


melaksanakannya. Hal itu sangat penting karena dapat mebina dan menegakkan negara
yang berdaulat dan demokratis berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Demokrasi yang
dianut pemerintah Indonesia adalah demokrasi pancasila, ada dua asas, yaitu asas
kerakyatan dan musyawarah untuk mufakat.

Untuk meyakini prinsip-prinsip kedaulatan negara tersebut, warga negara berkewajiban


melaksanakannya. Hal itu sangat penting karena dapat membina dan menegakkan negara yang
berdaulat dan demokratis berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Demokrasi yang dianut
pemerintah Indonesia adalah demokrasi Pancasila. Dalam demokrasi Pancasila ada dua asas,
yaitu asas kerakyatan dan musyawarah untuk mufakat.
Asas kerakyatan adalah asas kesadaran akan cinta kepada rakyat, manunggal dengan
nasib dan cita-cita rakyat, serta berjiwa kerakyatan atau menghayati kesadaran senasib
dan secita-cita dengan rakyat.
Asas musyawarah untuk mufakat adalah asas yang memperhatikan aspirasi atau
kehendak seluruh rakyat yang jumlahnya banyak dan melalui forum permusyawaratan
dalam rangka pembahasan untuk menyatukan pendapat bersama serta mencapai
kesepakatan bersama yang dijiwai dengan kasih sayang dan pengorbanan.
Demokrasi Pancasila secara konstitusional ditetapkan dalam Penjelasan UUD 1945 melalui
tujuh kunci pokok sistem pemerintahan, yaitu sebagai berikut.
1. Indonesia adalah negara yang berdasar atas hukum (rechsstaat).
2. Pemerintahan berdasar atas sistem konstitusional.
3. Kekuasaaan negara yang tertinggi di tangan rakyat dan pelaksanaan kedaulatan dilakukan
oleh lembaga perwakilan (MPR, DPR, DPRD provinsi, DPRD kabupaten,kota, dan
DPD).
4. Presiden adalah penyelenggara pemerintah negara yang tertinggi di bawah majelis.
5. Presiden tidak bertanggung jawab kepada Dewan Perwakilan Rakyat.
6. Menteri negara adalah pembaritu presiden dan menteri negara tidak bertanggung jawab
kepada DPR.
7. Kekuasaan kepala negara terbatas.

Selanjutnya, untuk menciptakan kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia,


diperlukan tertib hukum. Tertib hukum akan dapat terlaksana jika negara Indonesia menganut
teori kedaulatan hukum. Oleh karena itu, Indonesia mendasarkan sistem pemerintahannya

52
kepada huIurn dan tidak bersifat absolut. Artinya, kekuasaan yang ada di negara kita dibatasi
dengan undang-undang atau peraturan perundan-undangan. Sebagai negara yang menganut
kedaulatan hukum, Indonesia memiliki prinsip-prinsip sebagai berikut.
Pengakuan dan perlindungan hak asasi manusia yang menyangkut persamaan
dalam bidang politik, hukum, sosial, ekonomi, pendidikan, dan kebudayaan.
Peradilan yang bebas dan tidak meinihak serta tidak terpengaruh oleh kekuasaan lain.
Jaminan kepastian hukum dalam semua persoalan.

Ciri-ciri yang menunjukkan bahwa Indonesia menganut kedaulatan hukum adalah


1. adanya pembagian kekuasaan dalam negara;
2. diakuinya hak asasi manusia dan dicantumkan dalam konstitusi dan perundang-
undangan;
3. adanya dasar hukum bagi kekuasaan pemerintahan;
4. adanya peradilan yang bebas dan tidak meinihak;
5. adanya kesamaan kedudukan di dalam hukum dan pemerintahan, serta wajib menjunjung
hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya;
6. adanya kewajiban pemerintah untuk memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan
kehidupan bangsa.

D. MELAKSANAKAN PRINSIP-PRINSIP KEDAULATAN SESUAI DENGAN UNDANG-


UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945

Pemilu Sebagai Sarana Kedaulatan Rakyat


Pemilihan umum diatur dalam UU No. 12 Tahun 2003. Pemilihan umum diselenggarakan
secara periodik setiap lima tahunsekali oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang bersifat
nasional, tetap, dan mandiri serta berdasarkan asas Iangsung, umum. bebas. rahasia. jujur, dan
adil (Luber dan Jurdil).
Tujuan Pemilu
Sesuai dengan Penjelasan UU No. l2 Tahun 2003, pemilu diselenggarakan dengan tujuan
untuk memilih wakil rakyat dan wakil daerah, serta untuk membentuk pemerintahan yang
demokratis, kuat, dan memperoleh dukungan rakyat dalam rangka mewujudkan tujuan
nasional sebagaimana diamanatkan UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Pemilihan umum diselenggarakan untuk memilih lembaga-lembaga berikut.


Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR RI).
Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD).
Anggota Dewan Pervakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi.
Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten/Kota.
Presiden dan Wakil Presiden.

53
Hak Pilih
Hak pilih dalam pemilu dibedakan menjadi dua, yaitu hak pilih aktif dan hak pilih pasif.
Hak PiIih Aktif
Hak pilih aktif adalah hak waga negara untuk memilih calon yang akan duduk sebagai anggota
DPR, DPD, DPRD Provinsi. DPRD Kabupaten/Kota, memilih calon presiden dan wakil
presiden.
Hak Pilih Pasif
Hak pilih pasif adalah hak warga negara untuk dipilih sebagai calon yang akan duduk menjadi
anggota DPR, DRD, DPRD Provinsi. DPRD Kabupaten/ Kota, dan dipilih sebagai calon yang
akan menjadi presiden dan wakil presiden.

Syarat-Syarat Hak Pilih Aktif (Hak Memilih)


Adapun syarat-syarat hak pilih aktif atau hak memilih sebagal berikut.
1. Warga Negara Indonesia berusia 17 tahun atau sudahipernah kawin.
2. Terdaftar sebagai pemilih, dengan syarat sebagai berikut
- Nyata-nyata tidak sedang terganggu jiwalingatannya.
- Tidak sedang dicabut hak pilihnya berdasarkan putusan pengadilan yang telah
mempunyai kekuatan hukum tetap.
Syarat-Syarat Hak Pilih Pasif (Hak Dipilih)
Syarat-syarat hak pilih pasit atau hak untuk dipilih, sebagai berikut.
1. Warga Negara Indonesia berumur 21 (dua puluh satu) tahun atau Iebih.
2. Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
3. Berdomisili di wilayah Negara Kesatuan RI.
4. Cakap berbicara, membaca, dan menulis dalam bahasa Indonesia.
5. Berpendidikan serendah-rendahnya SMA atau sederajat.
6. Setia kepada Pancasila sebagai dasar negara, UUD 1945. dan cita-cita Proklamasi 17
Agustus 1945.
7. Bukan bekas anggota organisasi terlarang Partai Komunis Indonesia, termasuk
organisasi massanya, atau bukan orang yang terlibat Iangsung atau tidak Iangsung
dalam G 30 S dan bukan anggota organisasi terlarang Iainnya.
8. Tidak sedang dicabut hak pilihnya berdasarkan putusan pengadilan yang telah
mempunyai kekuatan hukum tetap.
9. Tidak sedang menjalani pidana berdasarkan putusan pengadilan yang telah
mempunyai kekuatan hukum tetap karena melakukan tindak pidana yang diancam
dengan pidana penjara 5 (lima) tahun atau Iebih.
10. Sehat jasmani dan rohani berdasarkan hasil pemeriksaan kesehatan dan dokter yang
berkompeten.
11. Terdaftar sebagai pemilih.

Sistem dalam Pelaksanaan Pemilu


Pada umumnya ada dua sistem pelaksanaan pemilu yang dipakai, yaitu sistem distrik dan
sistem proporsional.
Andrew Reynold, dan kawan berpendapat bahwa sistem pemilu harus mempertimbangkan 10
aspek penting. Sedangkan Cetro mencatat, setidaknya ada 7 kriteria yang harus digunakan
untuk menilai sebuah sistem pemilu. Apabila kedua pandangan tersebut digabungkan, maka
kriteria-kriteria untuk menentukan dan memilih sebuah sistem pemilu setidaknya adalah
sebagai berikut:

54
a. Keterwakilan (Representation)
Representasi (keterwakilan) yang harus diperhatikan adalah kondisi geografis, faktor
ideologis, situasi partai politik (sistem kepartaian) dan wakil rakyat terpilih benar-benar
mewakili pemilih mereka. Dalam hal ini, sistem pemilu dapat diharapkan menghasilkan
pemerintah yang secara luas mewakili kepentingan pemilih.
b. Membuat Pemilu Mudah Digunakan dan Bermakna
Pemilu adalah proses yang mahal baik secara ekonomi (biaya cetak surat suara, anggaran
untuk partai politik yang diberikan pemerintah) maupun politik (konflik antar pendukung),
dan bisa dimengerti oleh masyarakat awam serta kaum difabel (buta warna, tunanetra,
tunadaksa) dalam artian bahwa sistem pemilu yang dipilih menyediakan kemudahan akses
melalui kesederhanaan dan refleksi pilihan warga negara yang relatif tepat serta dapat
memungkinkan pemilih untuk mengekspresikan pilihan mereka secara akurat dengan cara
yang cukup sederhana dan dipahami oleh semua pemilih.
c. Keadilan (Fairness)
Sistem pemilu dapat memperoleh kepercayaan tinggi dari para peserta pemilu dan pemilih
bahwa proses pemilihan secara sistematis dalam pelaksanaannya tidak akan diskriminatif
terhadap mereka. Hal ini akan meningkatkan dukungan terhadap hasil pemilihan umum.
d. Memungkinkan Perdamaian
Masyarakat pemilih punya latar belakang yang berbeda dan perbedaan ini bisa diperdamaikan
melalui hasil pemilihan umum yang memungkinkan untuk itu.
e. Memfasilitasi Pemerintahan yang Efektif dan Stabil
Sistem pemilu dapat menghasilkan stabilitas dalam pemerintahan yang memungkinkan
manajemen negara yang efektif. Dalam arti sistem pemilu mampu menciptakan pemerintahan
yang diterima semua pihak, efektif dalam membuat kebijakan. Selain itu, sistem pemilihan
juga diharapkan dapat mendukung konsultasi yang memadai antara kekuatan-kekuatan
politik.
f. Pemerintahan yang Terpilih Akuntabel
Suatu sistem pemilu dapat menghasilkan akuntabilitas yang dapat diukur melalui tingkat
ketanggapan pemerintah terhadap tuntutan publik dan kemampuan publik untuk mengakhiri
suatu pemerintah yang tidak akuntabel melalui pemilu. Begitu juga dengan pemilu anggota
legislatif, sistem yang akan dipilih dan digunakan adalah sistem yang memungkinkan wakil
rakyat terpilih secara akuntabel.
g. Pemilih Mampu Mengawasi Wakil Terpilih
Sistem pemilu yang baik memungkinkan pemilih mengetahui siapa wakil yang ia pilih dalam
pemilu, dan si pemilih dapat mengawasi kinerjanya.
h. Mendorong Partai Politik Bekerja Lebih Baik
Sistem pemilu yang baik mendorong partai politik untuk memperbaiki organisasi internalnya,
lebih memerhatikan isu-isu masyarakat, dan bekerja untuk para pemilihnya.Sehingga dapat
menghasilkan keseimbangan antara partai-partai politik dan besarnya kontrol yang dimiliki
pemilih terhadap tindakan-tindakan mereka.
i. Mempromosikan Oposisi Legislatif
Sistem pemilu yang baik mendorong terjadinya oposisi di tingkat legislatif, sebagai bentuk
pengawasan DPR atas pemerintah.
j. Mampu Membuat Proses Pemilu Berkesinambungan
Sistem pemilu harus bisa dipakai secara berkelanjutan dan memungkinkan pemilu sebagai
proses demokratis yang terus dipakai untuk memilih para pemimpin. Agar sistem pemilu
dapat digunakan secara berkesinambungan, maka sistem pemilu mesti mengandung kepastian
secara aturan dan teknis pelaksanaannya.

55
Sepuluh kriteria di atas dapat dikelompokkan menjadi empat kriteria besar, yaitu:
1. Bagaimana sistem pemilu yang dipilih dapat menghasilkan lembaga perwakilan yang
mewakili semua kepentingan yang ada dan tidak ada diskriminasi bagi setiap warga
negara
2. Pertanggungjawaban wakil terpilih. Dalam hal ini yang dikehendaki adalah sebuah
sistem yang dapat menciptakan anggota legislatif hasil pemilihan umum yang mampu
dan dapat mempertanggungjawabkan kerjanya pada rakyat. Di sisi lain rakyat juga
dapat meminta pertanggungjawaban tersebut.
3. Sistem pemilu yang dipilih dapat mendorong terciptanya efektivitas pemerintahan dan
lembaga perwakilan yang berjalan dengan baik.
4. Sistem yang dipilih adalah sistem yang teknis pelaksanaannya sederhana dan mudah
dipahami pemilih.
Pemilihan Umum merupakan sarana pelaksanaan kedaulatan rakyat dalam Negara Kesatuan
Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Republik
Indonesia Tahun 1945. Pemilu diselenggarakan dengan tujuan untuk memilih wakil rakyat
dan wakil daerah, serta untuk membentuk pemerintahan yang demokratis, kuat, dan
memperoleh dukungan rakyat dalam rangka mewujudkan tujuan nasional sebagaimana
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Pemilu dilaksanakan oleh
negara Indonesia dalam rangka mewujudkan kedaulatan rakyat sekaligus penerapan prinsip-
prinsip atau nilai-nilai demokrasi, meningkatkan kesadaran politik rakyat untuk berpartisipasi
aktif dalam pemilihan umum demi terwujudnya cita-cita masyarakat Indonesia yang
demokratis.

Pemilihan umum di Indonesia


Pemilihan umum (pemilu) di Indonesia pada awalnya ditujukan untuk memilih anggota
lembaga perwakilan, yaitu DPR, DPRD Provinsi, dan DPRD Kabupaten/Kota. Setelah
amendemen keempat UUD 1945 pada 2002, pemilihan presiden dan wakil presiden (pilpres),
yang semula dilakukan oleh MPR, disepakati untuk dilakukan langsung oleh rakyat dan dari
rakyat sehingga pilpres pun dimasukkan ke dalam rangkaian pemilu. Pilpres sebagai
bagian dari pemilu diadakan pertama kali pada Pemilu 2004. Pada 2007, berdasarkan
Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2007, pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah
(pilkada) juga dimasukkan sebagai bagian dari rezim pemilu. Pada umumnya, istilah "pemilu"
lebih sering merujuk kepada pemilihan anggota legislatif dan presiden yang diadakan setiap
5 tahun sekali.
Sejarah
Pemilihan umum di Indonesia telah diadakan sebanyak 11 kali yaitu pada tahun 1955, 1971,
1977, 1982, 1987, 1992, 1997, 1999, 2004, 2009 dan 2014
Asas Pemilu
Pemilihan umum di Indonesia menganut asas "LUBER" yang merupakan singkatan dari
"Langsung, Umum, Bebas dan Rahasia". Asas "Luber" sudah ada sejak zaman Orde Baru.
"Langsung" berarti pemilih diharuskan memberikan suaranya secara langsung dan tidak
boleh diwakilkan.
"Umum" berarti pemilihan umum dapat diikuti seluruh warga negara yang sudah memiliki
hak menggunakan suara.
"Bebas" berarti pemilih diharuskan memberikan suaranya tanpa ada paksaan dari pihak
manapun.
"Rahasia" berarti suara yang diberikan oleh pemilih bersifat rahasia hanya diketahui oleh
si pemilih itu sendiri.
Kemudian di era reformasi berkembang pula asas "Jurdil" yang merupakan singkatan dari
"Jujur dan Adil". Asas "jujur" mengandung arti bahwa pemilihan umum harus dilaksanakan
sesuai dengan aturan untuk memastikan bahwa setiap warga negara yang memiliki hak dapat

56
memilih sesuai dengan kehendaknya dan setiap suara pemilih memiliki nilai yang sama untuk
menentukan wakil rakyat yang akan terpilih. Asas "adil" adalah perlakuan yang sama terhadap
peserta pemilu dan pemilih, tanpa ada pengistimewaan ataupun diskriminasi terhadap peserta
atau pemilih tertentu. Asas jujur dan adil mengikat tidak hanya kepada pemilih ataupun
peserta pemilu, tetapi juga penyelenggara pemilu.

Komponen sistem pemilu


Pemilu Terbuka/tertutup Distrik/proporsional/campuran
1955 proporsional
1971
1977
1982
tertutup
1987
1992
1997
1999
2004
2009 terbuka campuran
2014

Penetapan hasil pemilu


Pemilihan Putaran pertama Putaran kedua Keterangan
Presiden dan wakil
Minimal 50% Minimal 50% syarat calon
presiden
diajukan dimana
Kepala daerah dan partai politik
Minimal 30% Minimal 50%
wakil kepala daerah memilki batas
DPRD Suara terbanyak n/a ambang 20%
Suara terbanyak kursi parlemen
DPR n/a atau 25% suara
(batas ambang 4%)
sah
DPD Suara terbanyak n/a

Jumlah partai politik di Indonesia


Tahun Jumlah
1955 tidak terbatas
1971 10
1977
1982
1987 3
1992
1997
1999 48

57
Tahun Jumlah
2004 24
2009 38
12
2014

58
Rangkuman 3
Teori-teori kedaulatan negara dikemukakan oleh para ahli kenegaraan. Teori-teori
tersebut adalah sebagai berikut.
a. Teori Kedaulatan Tuhan
Teori ini mengemukakan bahwa kekuasaan tertinggi dalam negara berasal dan Tuhan.
Raja atau penguasa mendapat kekuasaan tertinggi dan Tuhan. Kehendak.Tuhan menjelma ke
dalam diri raja/penguasa. Teori ini pernah dianut oleh negara Jepang pada saat dipimpin
Kaisar Tenno Heika sehingga dia dianggap sebagai keturunan Dewa Matahari.
b. Teori Kedaulatan Raja
Teoni ini merupakan penjabaran dan teori kedaulatan Tuhan. Kekuasaan tertinggi
terletak di tangan dan keturunan Raja. Raja dianggap keturunan dewa atau wakil Tuhan di
bumi yang mendapat kekuasaan langsung dari Tuhan. Kekuasaan raja mutlak dan tidak dapat
diganggu gugat. Teori ini pernah diterapkan di negara Prancis saat dipimpin oleh Louis XIV.
c. Teori Kedaulatan Negara
Teori ini mengemukakan bahwa kekuasaan tertinggi terletak pada negara. Negara
sebagai lembaga tertinggi dengan sendirinya memiliki kekuasaan. Kedaulatan negara muncul
bersama dengan berdirinya suatu negara. Teori ini pernah diterapkan di Jerman pada saat
diperintah oleh Hitler.
d. Teori Kedaulatan Hukum
Menurut teori ini, kekuasaan tertinggi dalam negara terletak pada hukum. Hukum
menurut teori ini adalah hukum tertulis dan tidak tertulis. Hukum tertulis, misalnya UD dan
peraturan perundang-undangan. Pelaksanaan pemerintahan dibatasi oleh norma sehingga
tidak bersifat absolut. Teori ini dianut oleh negara Indonesia dengan model negara hukum
modern. .
e. Teori Kedaulatan Rakyat
Teori ini mengajarkan bahwa kekuasaan negara tertinggi terletak di tangan rakyat. Teori
ini muncul sebagai reaksi terhadap kekuasaan raja yang absolut. Keabsolutan kekuasaan
pemerintah perlu dibatasi dengan adanya pembagian kekuasaan seperti dalam ajaran trias
politika. Ajaran itu menganjurkan agar kekuasaan pemerintahan negara dipisahkan menjadi
tiga lembaga, yaitu legislatif, eksekutif, dan yudikatif.
1) Legislatif adalah kekuasaan untuk membuat dan menetapkan undang-undang.
2) Eksekutif adalah kekuasaan untuk melaksanakan undang-undang.
3) Yudikatif adalah kekuasaan untuk mengawasi pelaksanaan undang-undang.
Negara yang menganut teori kedaulatan rakyat mempunyai ciri ciri sebagai berikut.
1) Negara memiliki lembaga perwakilan rakyat sebagai badan atau majelis yang mewakili
atau mencerminkan kehendak rakyat.
2) Pelaksanaan pemilu untuk mengangkat dan menetapkan anggota lembaga perwakilan
diatur oleh undang-undang.
3) Kekuasaan atau kedaulatan rakyatdilaksanakan oleh badanatau majelis yang bertugas
mengawasi pemerintah.
4) Susunan kekuasaan badan atau majelis itu ditetapkan dalam undang-undang dasar.

59
Bahan Pengayaan

Sejarah Pelaksanaan Pemilu di Indonesia dari Masa ke Masa (1955-2014)


Indonesia telah menyelenggarakan 11 kali pemilihan umum. Khususnya untuk pemilihan
anggota parlemen (baik pusat maupun daerah) digunakan jenis Proporsional, yang kadang
berbeda dari satu pemilu ke pemilu lain. Perbedaan ini akibat sejumlah faktor yang
mempengaruhi seperti jumlah penduduk, jumlah partai politik, trend kepentingan partai saat
itu, dan juga jenis sistem politik yang tengah berlangsung.
Sistem pemilu di Indonesia tidak terlepas dari fungsi rekrutmen dalam sistem politik.
Mengenai sistem pemilu, Norris mengatakan bahwa rekrutmen seorang kandidat oleh partai
politik tergantung pada sistem pemilu yang berkembang di sebuah negara. Di Indonesia,
pemilihan legislatif (DPR, DPRD I, dan DPRD II) memakai sistem proporsional dengan daftar
terbuka. Lewat sistem semacam ini, partai-partai politik cenderung mencari kandidat yang
populer sehingga punya elektabilitas yang tinggi di mata para pemilih. Hal ini pula yang
mendorong banyak artis (penyanyi, lawak, sinetron) yang tergiur untuk bergabung ke dalam
sebuah partai politik. Daftar terbuka memungkinkan seorang kandidat mendapat contrengan
lebih banyak ketimbang calon lainnya dalam partai yang sama. Bagi partai politik, populernya
seorang caleg membuat pilihan pemilih terfokus kepada partainya ketimbang kepada partai-
partai politik lain.
Di Indonesia pula, undang-undang pemilu yang terakhir mensyaratkan seluruh parpol
menyertakan minimal 30% kandidat perempuan. Hal ini membuka kemungkinan yang lebih
besar bagi perempuan untuk menjadi legislator. Namun, di sisi lain partai politik sangat
selektif terhadap caleg perempuan: Hanya caleg perempuan yang memenuhi kriteria tertentu
(akademik, populer, cantik) yang benar-benar masuk ke dalam 30% kandidat partai mereka.
Sehingga tingkat persaingan antar caleg perempuan juga besar seperti antar caleg laki-laki.

Untuk mempersingkat wakti, berikut ini langsung saja akan kami paparkan tentang sejarah
perjalanan pemilihan umum di Indonesia dari waktu ke waktu serta hasil pelaksanaannya :
Sejarah Pelaksanaan Pemilu 1955

Ilustrasi Pemilihan Umum Tahun 1955


Pemilu 1955 adalah pemilihan umum pertama yang diadakan oleh Republik Indonesia. Pemilu
ini merupakan reaksi atas Maklumat Nomor X/1945 tanggal 3 Nopember 1945 dari Wakil
Presiden Moh. Hatta, yang menginstruksikan pendirian partai-partai politik di Indonesia.
Pemilu pun (menurut Maklumat) harus diadakan secepat mungkin. Namun, akibat belum
siapnya aturan perundangan dan logistik (juga ricuhnya politik dalam negeri seperti

60
pemberontakan), Pemilu tersebut baru diadakan tahun 1955 dari awalnya direncanakan
Januari 1946.

Landasan hukum Pemilu 1955 adalah Undan-undang Nomor 7 tahun 1953 yang diundangkan
4 April 1953. Dalam UU tersebut, Pemilu 1955 bertujuan memilih anggota bikameral,
Anggota DPR dan Konstituante (seperti MPR). Sistem yang digunakan adalah proporsional.
Menurut UU nomor 7 tahun 1953 tersebut, terdapat perbedaan sistem bilangan pembagi
pemilih (BPP) untuk anggota konstituante dan anggota parlemen. Perbedaan-perbedaan
tersebut adalah sebagai berikut:
Jumlah anggota konstituante adalah hasil bagi antara total jumlah penduduk Indonesia
dengan 150.000 dibulatkan ke atas.
Jumlah anggota konstituante di masing-masing daerah pemilihan adalah hasil bagi
antara total penduduk WNI di masing-masing wilayah tersebut dengan 150.000. Jumlah
anggota konstituante di masing-masing daerah pemilihan adalah bilangan bulat hasil
pembagian tersebut, seandainya kurang dari 6, dibulatkan menjadi 6. Sisa jumlah anggota
konstituante dibagikan antara daerah-daerah pemilihan lainnya, seimbang dengan jumlah
penduduk warganegara masing-masing;
Seandainya dengan cara poin ke dua di atas belum mencapai jumlah anggota
konstituante seperti di poin ke satu, kekurangan anggota dibagikan antara daerah-daerah
pemilihan yang mendapat jumlah anggota tersedikit, masing-masing 1, kecuali daerah
pemilihan yang telah mendapat jaminan 6 kursi itu
Penetapan jumlah anggota DPR seluruh Indonesia adalah total jumlah penduduk
Indonesia dibagi 300.000 dan dibulatkan ke atas.
Jumlah anggota DPR di masing-masing daerah pemilihan adalah hasil bagi antara total
penduduk WNI di masing-masing wilayah tersebut dengan 300.000. Jumlah anggota DPR di
masing-masing daerah pemilihan adalah bilangan bulat hasil pembagian tersebut, Seandainya
kurang dari 3, dibulatkan menjadi 3. Sisa jumlah anggota DPR dibagikan antara daerah-daerah
pemilihan lainnya, seimbang dengan jumlah penduduk warganegara masing-masing.
Seandainya dengan cara poin ke lima di atas belum mencapai jumlah anggota DPR
seperti di poin ke empat, kekurangan anggota dibagikan antara daerah-daerah pemilihan yang
memperoleh jumlah anggota tersedikit, masing-masing 1, kecuali daerah pemilihan yang telah
mendapat jaminan 3 kursi itu.
Terdapat dua putaran pada pemilu 1955. Pertama untuk memilih anggota DPR pada tanggal
29 September 1955. Kedua untuk memilih anggota Konstituante pada tanggal 15 Desember
1955. Pemilu untuk memilih anggota DPR diikuti 118 parpol atau gabungan atau
perseorangan dengan total suara 43.104.464 dengan 37.785.299 suara sah. Sementara itu,
untuk pemilihan anggota Konstituante, jumlah suara sah meningkat menjadi 37.837.105
suara.

Sejarah Pelaksanaan Pemilu 1971


Pemilu tahun 2971 merupakan Pemilu pertama pada masa pemerintahan Orde Baru. Pemilu
ini dilaksanakan tanggal 3 juli 1971 dengan menggunakan sistem gabungan. Landasan
operasional Pemilu tahun 1971 adalah Ketetapan MPRS Nomor. XLII / MPRS/1968
(Perubahan dari Ketetapan MPRS Nomor XI/MPRS/1966), Undang Undang Nomor 15 tahun
1969 tentang Pemilu dan Undang Undang Nomor 16 tahun 1969 tentang Susunan Dan
Kedudukan MPR, DPR, dan DPRD.
Pemilu 1971 ditujukan untuk memilih anggota DPR. Pemilu tahun 1971 menghasilkan
Golkar, NU, Parmusi, PNI, dan PSII Sebagai partai peraih suara terbanyak. Pemilu tahun 1971
sendiri dilaksanakan tanggal 3 Juli 1971. Pemilu ditujukan memilih 460 anggota DPR dimana

61
360 dilakukan melalui pemilihan langsung oleh rakyat sementara 100 orang diangkat dari
kalangan angkatan bersenjata dan golongan fungsional oleh Presiden.
Untuk pemilihan anggota DPR dan DPRD digunakan sistem perwakilan berimbang
(proporsional) dengan stelsel daftar. Pemilu diadakan di 26 provinsi Indonesia. Rakyat
pemilih mencoblos tanda gambar partai. Untuk memilih anggota DPR daerah pemilihannya
adalah Daerah Tingkat I (provinsi) dan sekurang-kurangnya 400.000 penduduk memiliki satu
orang wakil dengan memperhatikan bahwa setiap provinsi minimal memiliki wakil minimal
sejumlah daerah tingkat II (kabupaten/kota) di wilayahnya. Setiap daerah tingkat II minimal
punya satu orang wakil.
Dalam Pemilu 1971, total pemilih terdaftar sebesar 58.179.245 orang dengan suara sah
mencapai 54.699.509 atau 94% total suara. Dari total 460 orang anggota parlemen yang
diangkat presiden, 75 orang berasal dari angkatan bersenjata sementara 25 dari golongan
fungsional seperti tani, nelayan, agama, dan sejenisnya. Dari ke-25 anggota golongan
fungsional kemudian bergabung dengan Sekber Golkar sehingga kursi Golkar meroket hingga
ke angka 257 (dari 232 ditambah 25). Dari 460 orang anggota parlemen, jumlah anggota
berjenis kelamin laki-laki 426 dan perempuan 34 orang.

Sejarah Pelaksanaan Pemilu 1977


Dasar hukum Pemilu 1977 adalah Undang-undang No. 4 Tahun 1975. Pemilu ini diadakan
setelah fusi partai politik dilakukan pada tahun 1973. Sistem yang digunakan pada pemilu
1977 serupa dengan pada pemilu 1971 yaitu sistem proporsional dengan daftar tertutup.
Pemilu 1977 diadakan secara serentak tanggal 2 Mei 1977. Pemilu 1977 ditujukan guna
memiliki parlemen unicameral yaitu DPR di mana 360 orang dipilih lewat pemilu ini
sementara 100 orang lainnya diangkat oleh Presiden Suharto.
Persyaratan untuk ikut serta sebagai pemilih adalah berusia sekurangnya 17 tahun atau pernah
menikah, kecuali mereka yang menderita kegilaan, eks PKI ataupun organisasi yang
berkorelasi dengannya, juga narapidana yang terkena pidana kurung minimal 5 tahun tidak
diperbolehkan ikut serta. Sementara itu, kandidat yang boleh mencalonkan diri sekurang
berusia 21 tahun, lancar berbahasa Indonesia, mampu baca-tulis latin, sekurangnya lulusan
SMA atau sederajat, serta loyal kepada Pancasila sebagai ideologi negara. Voting dilakukan
di 26 provinsi dengan sistem proporsional daftar partai (party list system).
Jumlah pemilih yang terdaftar 70.662.155 orang sementara yang menggunakan hak pilihnya
63.998.344 orang atau meliputi 90,56%. Sekber Golkar mendapat suara 39.750.096 (62,11%)
dan memperoleh 232 kursi. PPP mendapat suara 18.743.491 (29,29%) dan memperoleh 99
kursi. PDI mendapat 5.504.757 suara (8,60%) dan memperoleh 29 kursi. Sementara itu, kursi
jatah ABRI adalah 75 kursi dan golongan fungsional 25 kursi. Golongan fungsional lalu
menggabungkan diri ke dalam sekber Golkar sehingga kursi untuk Golkar bertambah menjadi
257 kursi. Anggota parlemen laki-laki 426 orang sementara perempuan 34 orang (7,40%).

Sejarah Pelaksanaan Pemilu 1982


Pemilihan umum tahun 1982 dilakukan berdasarkan Undang-undang No. 2 tahun 1980.
Pemilu 1982 diadakan tanggal 4 Mei 1982. Tujuannya sama seperti Pemilu 1977 di mana
hendak memilih anggota DPR (parlemen). Hanya saja, komposisinya sedikit berbeda.
Sebanyak 364 anggota dipilih langsung oleh rakyat, sementara 96 orang diangkat oleh
presiden. Voting dilakukan di 27 daerah pemilihan berdasarkan sistem Proporsional dengan
Daftar Partai (Party-List System). Partai mendapatkan kursi berdasarkan pembagian total
suara yang didapat di masing-masing wilayah pemilihan dibagi electoral quotient di masing-
masing wilayah.

62
Jumlah total pemilih yang terdaftar dalam pemilu 1982 adalah 82.132.263 orang dengan
jumlah suara sah mencapai 74.930.875 atau 91,23%. Golkar mendapat 48.334.724 suara
(58,44%) sehingga berhak untuk mendapat 246 kursi parlemen. PPP mendapat 20.871.880
suara (25,54%) sehingga berhak untuk mendapat 94 kursi parlemen. PDI mendapat 5.919.702
suara (7,24%) sehingga berhak mendapat 24 kursi parlemen.
Sedangkan anggota DPR yang diangkat Presiden Suharto berasal dari ABRI sejumlah 75
orang dan golongan fungsional sebanyak 21 orang. Golongan fungsional lalu bergabung
dengan Golkar sehingga kursi parlemen Golkar naik menjadi 267 kursi dan menjadi sangat
dominan. Dari 360 anggota parlemen, yang berjenis kelamin laki-laki sejumlah 422 dan
perempuan 38 orang.

Sejarah Pelaksanaan Pemilu 1987


Pemilu 1987 dilaksanakan secara serentak di seluruh wilayah Republik Indonesia pada
tanggal 23 April 1987 dengan menggunakan sistem Proporsional dengan varian Party-List.
Landasan operasional Pemilu tahun 1987 adalah Ketetapan MPR Nomor III/MPR/1983,
Undang - Undang Nomor 1 tahun 1985 dan Keputusan Presiden Nomor 70 tahun 1985.
Peserta Pemilu tahun 1987 sama dengan Pemilu 1982. Sebelum Pemilu 1987 dilaksanakan,
pemerintah melalui Undang - Undang Nomor 3 tahun 1985 tentang Partai Politik dan Golkar
menetapkan bahwa Pancasila menjadi satu - satunya asas bagi setiap partai politik dan Golkar,
sehingga Partai Persatuan Pembangunan yang semula berlambang Kabah diganti dengan
lambang Bintang.
Tujuan pemilihan sama dengan pemilu sebelumnya yaitu memilih anggota parlemen atau
anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) serta anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah
(DPRD) Tingkat I Provinsi maupun DPRD Tingkat II Kabupaten/Kotamadya seluruh
Indonesia untuk Periode 1987 - 1992. Total kursi yang tersedia adalah 500 kursi. Dari jumlah
ini, 400 dipilih secara langsung dan 100 diangkat oleh Presiden Suharto.
Total pemilih yang terdaftar adalah sekitar 94.000.000 dengan total suara sah mencapai
85.869.816 atau 91,30%. Golkar mendapat 62.783.680 suara (73,16%) sehingga berhak atas
299 kursi parlemen. PPP mendapat 13.701.428 suara (15,97%) sehingga berhak atas 61 kursi
parlemen. PDI mendapat 9.384.708 suara (10,87%) sehingga berhak atas 40 kursi parlemen.
Jumlah anggota parlemen dari ABRI yang diangkat Presiden Suharto berjumlah 75 orang
(kursi) sementara dari golongan fungsional 25 orang (kursi). Jumlah anggota parlemen yang
berjenis kelamin laki-laki adalah 443 sementara yang perempuan 57 orang. Sementara itu,
jumlah anggota parlemen berusia 21-30 tahun adalah 5 orang, 31-40 tahun 38 orang, 41-50
tahun 173 orang, 51-60 tahun 213 orang, 61-70 tahun 70 orang, dan 71-80 tahun 1 orang.
Hasil Pemilu kali ini ditandai dengan melorotnya perolehan kursu PPP, yakni hilangnya 33
kursi dibandingkan Pemilu 1982, sehingga hanya memperoleh 61 kursi. Penyebab merosotnya
PPP antara lain karena tidak boleh lagi partai itu memakai asas Islam dan diubahnya lambang
dari Kabah kepada Bintang dan terjadinya penggembosan oleh tokoh- tokoh unsur NU,
terutama Jawa Timur dan Jawa Tengah.
Disisi lain Golkar mendapat tambahan 53 kursi sehingga menjadi 299 kursi. PDI, yang tahun
1986 dapat dikatakan mulai dekat dengan kekuasaan, sebagaimana diindikasikan dengan
pembentukan DPP PDI hasil Kongres 1986 oleh Menteri Dalam Negeri Soepardjo Rustam,
sukses menambah perolehan kursi secara signifikan dari 30 kursi pada Pemilu 1982 menjadi
40 kursi di Pemilu 1987 ini.

63
Sejarah Pelaksanaan Pemilu 1992
Pemilu 1992 merupakan Pemilu kelima pada masa pemerintahan Orde Baru. Pemilu 1992 di
laksanakan pada tanggal 9 Juni 1992 dengan menggunakan Sistem Pemilu seperti pemilu
sebelumnya yaitu Proporsional dengan varian Party-List. Landasan operasional Pemilu 1992
adalah Ketetapan MPR Nomor III/MPR/1988, Undang Undang Nomor 1 tahun 1985 dan
Peraturan Pemerintah Nomor 37 tahun 1990.
Pemilihan Umum ini diikuti 2 partai politik dan 1 Golongan Karya, yaitu :
1. Partai Persatuan Pembangunan (PPP)
2. Partai Demokrasi Indonesia (PDI)
3. Golongan Karya (Golkar)
Sebagai Pemenang mayoritas hasil pemilihan umum ini adalah Golongan Karya.
Tujuan Pemilu 1992 adalah memilih secara langsung 400 kursi DPR. Total pemilih yang
terdaftar adalah 105.565.697 orang dengan total suara sah adalah 97.789.534. Untuk hasil
Pemilu 1992, Golkar mendapat 66.599.331 suara (68,10%) sehingga berhak atas 282 kursi
parlemen. PPP mendapat 16.624.647 suara (17,01%) sehingga berhak atas 62 kursi parlemen.
PDI mendapat 14.565.556 suara (10,87%) sehingga berhak atas 56 kursi parlemen. Presiden
Suharto mengangkat 75 orang (kursi) untuk ABRI dan 25 orang (kursi) untuk golongan
fungsional.
Komposisi anggota DPR totalnya adalah 500 orang. Dari jumlah tersebut yang berjenis
kelamin laki-laki adalah 439 orang sementara perempuan 61 orang. Di sisi lain, kisaran usia
anggota DPR ini adalah 21-30 tahun 3 orang; 31-40 tahun 45 orang; 41-50 tahun 144 orang;
51-65 tahun 287 orang; dan di atas 65 tahun 21 orang.

Sejarah Pelaksanaan Pemilu 1997


Pemilu 1997 merupakan Pemilu terakhir di masa Presiden Suharto. Pemilu ini diadakan
tanggal 29 Mei 1997. Tujuan pemilu ini adalah memilih 424 orang anggota DPR. Sistem
pemilu yang digunakan adalah Proporsional dengan varian Party-List. Pada tanggal 7 Maret
1997, sebanyak 2.289 kandidat (caleg) telah disetujui untuk bertarung guna memperoleh kursi
parlemen.

Hasil Pemilu 1997 adalah Golkar mendapat 84.187.907 suara (74,51%) sehingga berhak atas
325 kursi parlemen. PPP mendapat 25.340.028 suara (22,43%) sehingga berhak atas 89 kursi
parlemen. PDI mendapat 3.463.225 suara (3,06%) sehingga berhak atas 11 kursi parlemen.
Anggota parlemen yang diangkat Presiden Suharto hanya dari ABRI saja yaitu 75 orang
(kursi). Sehingga total anggota parlemen 500 orang.

Sejarah Pelaksanaan Pemilu 1999


Pemilu 1999 adalah pemilu pertama pasca kekuasaan presiden Suharto. Pemilu ini diadakan
di bawah kepemimpinan Presiden B.J. Habibie. Pemilu ini terselenggara di bawah sistem
politik Demokrasi Liberal. Artinya, jumlah partai peserta tidak lagi dibatasi seperti pemilu-
pemilu lalu yang hanya terdiri dari Golkar, PPP, dan PDI.
Sebelum menyelenggarakan Pemilu, pemerintahan B.J. Habibie mengajukan tiga rancangan
undang-undang selaku dasar hukum dilaksanakannya pemilu 1999, yaitu RUU tentang Partai
Politik, RUU tentang Pemilu, dan RUU tentang Susunan dan Kedudukan MPR, DPR, dan
DPRD. Ketiga RUU ini diolah oleh Tim Tujuh yang diketuai Profesor Ryaas Rasyid dari
Institut Ilmu Pemerintahan. Setelah disetujui DPR, barulah pemilu layak dijalankan. Pemilu
1999 diadakan berdasarkan Undang-undang Nomor 3 tahun 1999 tentang Pemilihan Umum.

64
Sesuai pasal 1 ayat (7) pemilu 1999 dilaksanakan dengan menggunakan sistem proporsional
berdasarkan stelsel daftar dengan varian Roget.
Dalam pemilihan anggota DPR, daerah pemilihannya (selanjutnya disingkat Dapil) adalah
Dati I (provinsi), pemilihan anggota DPRD I dapilnya Dati I (provinsi) yang merupakan satu
daerah pemilihan, sementara pemilihan anggota DPRD II dapilnya Dati II yang merupakan
satu daerah pemilihan. Jumlah kursi anggota DPR untuk tiap daerah pemilihan ditetapkan
berdasarkan jumlah penduduk Dati I dengan memperhatikan bahwa Dati II minimal harus
mendapat 1 kursi yang penetapannya dilakukan oleh KPU.
Undang-undang Nomor 3 tahun 1999 juga menggariskan bahwa jumlah kursi DPRD I
minimal 45 dan maksimal 100 kursi. Jumlah kursi tersebut ditentukan oleh besaran penduduk.

Provinsi dengan jumlah penduduk hingga 3.000.000 jiwa mendapat 45 kursi.


Provinsi dengan jumlah penduduk 3.000.001 - 7.000.000 mendapat 55 kursi.
Provinsi dengan jumlah penduduk 5.000.001 - 7.000.000 mendapat 65 kursi.
Provinsi dengan jumlah penduduk 7.000.001 - 9.000.000 mendapat 75 kursi.
Provinsi dengan jumlah penduduk 9.000.001 - 12.000.000 mendapat 85 kursi.
Sementara itu, provinsi dengan jumlah penduduk di atas 12.000.000 mendapat 100
kursi.

Undang-undang juga mengamanatkan bahwa untuk Dati II (kabupaten/kota) minimal


mendapat 1 kursi untuk anggota DPRD I lewat penetapan KPU.
Dati II berpenduduk hingga 100.000 mendapat 20 kursi.
Dati II berpenduduk 100.001 - 200.000 mendapat 25 kursi.
Dati II berpenduduk 200.001 - 300.000 mendapat 30 kursi.
Dati II berpenduduk 300.001 - 400.000 mendapat 35 kursi.
Dati II berpenduduk 400.001 - 500.000 mendapat 40 kursi.
Sementara itu, untuk Dati II berpenduduk di atas 500.000 mendapat 45 kursi.
Setiap kecamatan minimal harus diwakili oleh 1 kursi di DPRD II. KPU adalah pihak yang
memutuskan penetapan perolehan jumlah kursi.

Jumlah partai yang terdaftar di Kementrian Hukum dan HAM adalah 141 partai, sementara
yang lolos verifikasi untuk ikut Pemilu 1999 adalah 48 partai. Pemilu 1999 diadakan tanggal
7 Juni 1999. Namun, tidak seperti pemilu-pemilu sebelumnya, Pemilu 1999 mengalami
hambatan dalam proses perhitungan suara. Terdapat 27 partai politik yang tidak bersedia
menandatangani berkas hasil pemilu 1999 yaitu: PARI, PSP, PUMI, SPSI, Murba, PID, PPI,
PRD, PADI, PKM, PND, PUDI, PBN, Partai SUNI, PNBI, Partai MKGR, PIB, PKD, PAY,
Krisna, Partai KAMI, Masyumi, PNI Supeni, PBI, PDI, Partai Keadilan dan PNU.

Karena penolakan 27 partai politik ini, KPU menyerahkan keputusan kepada Presiden.
Presiden menyerahkan kembali penyelesaian persoalan kepada Panitia Pengawas Pemilu
(selanjutnya disingkat Panwaslu. Rekomendasi Panwaslu adalah, hasil Pemilu 1999 sudah
sah, ditambah kenyataan partai-partai yang menolak menandatangani hasil tidak menyertakan
point-point spesifik keberatan mereka. Sebab itu, Presiden lalu memutuskan bahwa hasil
Pemilu 1999 sah dan masyarakat mengetahui hasilnya tanggal 26 Juli 1999.

Masalah selanjutnya adalah pembagian kursi. Sistem Pemilu yang digunakan adalah
Proporsional dengan varian Party-List. Masalah yang muncul adalah pembagian kursi sisa.
Partai-partai beraliran Islam melakukan stembus-accord (penggabungan sisa suara) menurut
hitungan Panitia Pemilihan Indonesia (PPI) hanya mendapat 40 dari 120 kursi. Di sisi lain, 8

65
partai beraliran Islam yang melakukan stembus-accord tersebut mengklaim mampu
memperoleh 53 dari 120 kursi sisa.

Perbedaan pendapat ini lalu diserahkan PPI kepada KPU. KPU, di depan seluruh partai politik
peserta pemilu 1999 menyarankan voting. Voting ini terdiri atas dua opsi. Pertama, pembagian
kursi sisa dihitung dengan memperhatikan suara stembus-accord. Kedua, pembagian tanpa
stembus-accord. Hasilnya, 12 suara mendukung opsi pertama, dan 43 suara mendukung opsi
kedua. Lebih dari 8 partai melakukan walk-out. Keputusannya, pembagian kursi dilakukan
tanpa stembus-accord. Penyelesaian sengketa hasil pemilu dan perhitungan suara ini masih
dilakukan oleh badan-badan penyelenggara pemilu karena Mahkamah Konstitusi belum lagi
terbentuk.

Total jumlah suara partai yang tidak menghasilkan kursi 9.700.658 atau meliputi 9,17% suara
sah. Hasil ini diperoleh dengan menerapkan sistem pemilihan Proporsional dengan Varian
Roget. Dalam sistem ini, sebuah partai memperoleh kursi seimbang dengan suara yang
diperolehnya di daerah pemilihan, termasuk perolehan kursi berdasarkan the largest remainder
(sisa kursi diberikan kepada partai-partai yang punya sisa suara terbesar).

Perbedaan antara Pemilu 1999 dengan Pemilu 1997 ialah bahwa pada Pemilu 1999 penetapan
calon terpilih berdasarkan pada rangking perolehan suara suatu partai di daerah pemilihan.
Jika sejak Pemilu 1971 calon nomor urut pertama dalam daftar partai otomatis terpilih bila
partai itu mendapat kursi, maka pada Pemilu 1999 calon terpilih ditetapkan berdasarkan suara
terbesar atau terbanyak dari daerah di mana seseorang dicalonkan. Contohnya, Caleg A meski
berada di urutan terbawah daftar caleg, jika dari daerahnya ia dan partainya mendapatkan
suara terbesar, maka dia-lah yang terpilih. Untuk penetapan caleg terpilih berdasarkan
perolehan suara di Daerah Tingkat II (kabupaten/kota), Pemilu 1999 ini sama dengan metode
yang digunakan pada Pemilu 1971.
Dari total 500 anggota DPR yang dipilih, sebanyak 460 orang berjenis kelamin laki-laki dan
hanya 40 orang yang berjenis kelamin perempuan. Sebab itu, persentase anggota DPR yang
berjenis kelamin perempuan hanya meliputi 8% dari total.
Sejarah Pelaksanaan Pemilu 2004
Pemilihan Umun Indonesia 2004 adalah Pemilu pertama yang memungkinkan rakyat untuk
memilih Presiden secara langsung, dan cara pemilihannya benar benar berbeda dari Pemilu
sebelumnya. Pemilu 2004 sekaligus membuktikan upaya serius mewujudkan sistem
pemerintahan Presidensil yang dipakai oleh pemerintah Indonesia. Pada Pemilu ini, rakyat
dapat memilih langsung Presiden dan Wakil Presiden (sebelumnya Presiden dan Wakil
Presiden dipilih oleh MPR yang anggota - anggotanya dipilih melalui Presiden).
Selain itu, pada pemilu ini pemilihan Presiden dan Wakil Presiden tidak dilakukan secara
terpisah (seperti Pemilu 1999). Pada Pemilu ini, yang dipilih adalah pasangan calon (pasangan
calon Presiden dan Wakil Presiden), bukan calon Presiden dan calon Wakil Presiden secara
terpisah. Landasan operasional Pemilu 2004 adalah:
Undang - Undang RI Nomor 23 tahun 2003 tentang Pemilihan Umum Presiden dan Wakil
Presiden.
Undang - Undang RI Nomor 22 tentang Susunan dan Kedudukan Majelis
Permusyawaratan Rakyat Daerah.
Undang - Undang RI Nomor 12 tahun 2003 tantang Pemilihan Umum Anggota Dewan
Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.
Sistem pemilu yang digunakan adalah Proporsional dengan Daftar Calon Terbuka.
Proporsional Daftar adalah sistem pemilihan mengikuti jatah kursi di tiap daerah pemilihan.
Jadi, suara yang diperoleh partai-partai politik di tiap daerah selaras dengan kursi yang mereka
peroleh di parlemen.

66
Pelaksanaan Pemilu tahun 2004 dilakukan dalam tiga tahap, yaitu sebagai berikut:
1. Pemilu Legislatif
Pemilu Legislatif adalah tahap pertama dari rangkaian tahapan Pemilu 2004. Pemilu legislatif
ini diikuti 24 Partai Politik, dan dilaksanakan pada tanggal 5 April 2004. Pemilu ini bertujuan
untuk memilih partai politik (sebagai persyaratan Pemilu Preside) dan anggotanya untuk
dicalonkan menjadi anggota DPR dan DPRD. Pemilu tahap pertama juga ditujukan untuk
memilih anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD). Partai Partai Politik yang memperoleh
suara lebih besar atau sama dengan tiga persen dapat mencalonkan pasangan calonnya untuk
maju ke tahap berikutnya, yaitu pada Pemilu Presiden putaran pertama. Pemilu Legislatif
tahun 2004 menempatkan kembali Golkar sebagai peraih suara terbanyak disusul PDIP, PPP,
Partai Demokrat, PKB, PAN, dan PKS.
2. Pemilu Presiden Putaran Pertama
Setelah Pemilu Legislatif selesai, partai yang memiliki suara lebih besar atau sama dengan
tiga persen dapat mencalonkan pasangan calon Presiden dan Wakil Presidennya untuk maju
ke Pemilu Presiden Putaran Pertama. Apabila dalam Pemilu ini ternyata ada pasangan calon
yang memperoleh suara lebih dari 50 persen, maka pasangan calon itu langsung diangkat
menjadi Presiden dan Wakil Presiden. Selebihnya, Pemilu Presiden putaran kedua akan
diselenggarakan dengan ua pasangan calon yang memperoleh suara terbanyak. Pemilu
prresiden putaran pertama 2004 ini diikuti oleh 5 pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden,
dan diselenggarakan pada tanggal 5 Juli 2004.
Ada lima pasangan calon Presiden dan calon Wakil Presiden yang dicalonkan di Pemilu
Presiden putaran pertama, yaitu :
1. H. Wiranto, SH. Dan Ir.H. Salahuddin Wahid (dicalonkan oleh Partai Golongan
Karya).
2. Hj. Megawati Soekarno Putri dan KH. Ahmad Hasyim Muzadi (dicalonkan dari Partai
Demokrasi Indonesia Perjuangan).
3. Prof. Dr.H.M. Amien Rais dan Dr.Ir.H. Siswono Yudo Husodo (dicalonkan oleh Partai
Amanat Nasional).
4. DR.H. Susilo Bambang Yudhoyono dan Drs.H. Muhammad Jusuf Kalla (dicalonkan
oleh Partai Demokrat, Partai Bulan Bintang, dan Partai Persatuan dan Kesatuan
Indonesia).
5. Dr.H. Hamzah Haz dan H. Agum Gumelar, M.Sc. (dicalonkan oleh Partai Persatuan
Pembangunan).
Hasil Pemilu ini diumumkan pada tanggal 26 Juli 2004, dengan hasil ini masih perlu diadakan
Pemilu Presiden putaran kedua karena belum adanya pasangan calon yang mendapatkan suara
paling tidak 50 persen.

3. Pemilu Presiden Putaran Kedua


Sesuai hasil Pemilu Presiden putaran pertama di atas, yaitu belum ada pasangan calon yang
memperolehan suara lebih dari 50 persen, maka diadakanlah Pemilu Presiden putaran kedua.
Pasangan pasangan calon yang mengikuti Pemilu Presiden putaran kedua ini adalah dua
pasangan calon dengan yang memperoleh suara terbanyak pada Pemilu Presiden putaran
pertama 2004 yang lalu. Pemilu ini diadakan pada tanggal 20 September 2004.
Ada dua Pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden yang memperoleh suara terbanyak pada
Pemilu Presiden putaran pertama yang dicalonkan di Pemilu Presiden Putaran kedua, yaitu :

67
1. Hj. Megawati Soekarno Putri dan KH. Ahmad Hasyim Muzadi (dicalonkan oleh partai
Demokrasi Indonesia Perjuangan).
2. DR.H. Susilo Bambang Yudhoyono dan Drs.H. Muhammad Jusuf Kalla (dicalonkan
oleh Partai Demokrat, Partai Bulan Bintang, dan Partai Persatuan dan Kesatuan
Indonesia).

Hasil Pemilu Presiden putaran kedua telah dihitung dan diumumkan oleh KPU pada tanggal
4 Oktober 2004 melalui Keputusan KPU Nomor 98/SK/KPU/2004. Pada putaran kedua ini,
pasangan DR.H. Susilo Bambang Yudhoyono dan Drs.H. Muhammad Jusuf Kalla berhasil
memperoleh suara terbanyak mengalahkan pasangan Hj. Megawati Soekarno Putri dan
KH.Ahmad Hasyim Muzadi. Dengan demikian pasangan Susilo Bambang Yudhoyono dan
Muhammad Jusuf Kalla ditetapkan menjadi Presiden dan Wakil Presiden RI menggantikan
Presiden dan Wakil Presiden Hj. Megawati Soekarno Putri dan Dr.H. Hamzah Haz.
Pelantikannya sendiri dilaksanakan pada tanggal 20 Oktober 2004 oleh Majelis
Permusyawaratan Rakyat.

Sejarah Pelaksanaan Pemilu 2009


Pemilu 2009 dilaksanakan menurut Undang-undang Nomor 10 tahun 2008. Jumlah kursi DPR
ditetapkan sebesar 560 di mana daerah dapil anggota DPR adalah provinsi atau bagian
provinsi. Jumlah kursi di tiap dapil yang diperebutkan minimal tiga dan maksimal sepuluh
kursi. Ketentuan ini berbeda dengan Pemilu 2004.
Pemilihan Presiden
Pemilu Presiden tahun 2009 menggunakan Two Round System. Artinya, jika pada putaran
pertama tidak terdapat pasangan yang menang 50 plus 1 atau merata persebaran suara di lebih
dari setengah daerah pemilihan maka konsekuensinya harus diadakan putaran kedua.
Untungnya, dana negara tidak terbuang sia-sia karena pemilu Presiden 2009 ini cuma
berlangsung satu putaran saja. Pilpres yang direkapitulasi oleh KPU pada 22 - 4 Juli 2009 ini
diikuti oleh tiga pasang calon yaitu: Megawati-Prabowo, SBY-Boediono dan Jusuf Kalla-
Wiranto. Hasil Pilpres resmi KPU menghasilkan data berikut:
1. SBY-Boediono (73.874.562 atau 60,80%)
2. Megawati-Prabowo (32.548.105 atau 26,79%)
3. JK-Wiranto (15.081.814 atau 12.41%)
Dengan demikian, pasangan SBY-Boediono keluar sebagai pemenang Pemilihan Presiden
tahun 2009 dan sah untuk mengatur administrasi negara kesatuan Republik Indonesia dari
2009 hingga 2014.
Pemilihan Legislatif
Menurut Pasal 23 Undang-undang Nomor 10 tahun 2008, jumlah kursi untuk anggota DPRD
Provinsi minimal tiga puluh lima dan maksimal seratus kursi. Jumlah ini ditentukan melalui
perhitungan jumlah penduduk wilayah provinsi masing-masing dimana:
1. provinsi berpenduduk minimal 1.000.000 mendapat alokasi 35 kursi.
2. provinsi berpenduduk 1.000.0003.000.000 mendapat alokasi 45 kursi.
3. provinsi berpenduduk 3.000.0005.000.000 mendapat alokasi 55 kursi.
4. provinsi berpenduduk 5.000.0007.000.000 mendapat alokasi 65 kursi.
5. provinsi berpenduduk 7.000.0009.000.000 mendapat alokasi 75 kursi.
6. provinsi berpenduduk 9.000.00011.000.000 mendapat alokasi 85 kursi.
7. provinsi berpenduduk di atas 11.000.000 mendapat alokasi 100 kursi.

68
Selanjutnya pasal 24 undang-undang ini menyebutkan bahwa daerah pemilihan anggota
DPRD Provinsi adalah kabupaten atau kota atau gabungan kabupaten atau kota di mana
jumlah kursi setiap daerah pemilihan anggota DPRD provinsi sama dengan pemilu 2004.
Daerah pemilihan anggota DPRD kabupaten atau kota adalah kecamatan atau gabungan
kecamatan yang jumlahnya sama seperti pemilu 2004. Jumlah kursi DPRD kabupaten atau
kota paling sedikit 20 dan paling banyak 50 kursi, yang besaran kursinya ditentukan oleh:
1. wilayah berpenduduk hingga 100.000 mendapat alokasi 20 kursi.
2. wilayah berpenduduk 100.000200.000 mendapat alokasi 25 kursi.
3. wilayah berpenduduk 200.000300.000 mendapat alokasi 30 kursi.
4. wilayah berpenduduk 300.000400.000 mendapat alokasi 35 kursi.
5. wilayah berpenduduk 400.00500.000 mendapat alokasi 40 kursi.
6. wilayah berpenduduk 500.0001.000.000 mendapat alokasi 45 kursi.
7. wilayah berpenduduk > 1.000.000 mendapat alokasi 50 kursi.

Pemilihan DPD
Untuk pemilihan anggota DPD ditetapkan 4 kursi bagi setiap provinsi. Provinsi adalah daerah
pemilihan untuk anggota DPD. Dan dengan demikian dengan total provinsi sejumlah 33,
jumlah anggota DPD Indonesia adalah 132 orang.
Pemilu 2009 masih menggunakan sistem yang mirip dengan Pemilu 2004. Namun, electoral
threshold dinaikkan menjadi 2,5%. Artinya, partai-partai politik tatkala masuk ke perhitungan
kursi caleg hanya dibatasi bagi yang berhasil mengumpulkan komposisi suara di atas 2,5%.
Pemilu ini pun mirip dengan Pemilu 1999 di mana 48 partai ikut berlaga dalam kompetisi
dagang janji ini.

Sejarah Pelaksanaan Pemilu 2014


Pelaksanaan pemilu tahun 2014 terdiri dari pemilihan legislatif yang bertujuan untuk memilih
anggota DPR, DPRD, dan DPD, serta pemilihan presiden. Pemilihan Legislatif dilakukan
pada tanggal 9 April 2014 sedangkan Pemilihan Presiden dilakukan pada tanggal 9 Juli 2014,
bila hasilnya mengharuskan dua putaran, maka akan dilakukan di bulan september 2014.
Pemilu tahun 2014 diselenggarakan berdasarkan:
1. Undang-Undang 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah (mencakup pemilu kepala
daerah
2. Undang-Undang 42/2008 tentang Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden
3. Undang-Undang 27/2009 tentang Majelis Permusyarawatan Rakyat, Dewan
Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat
Daerah.
4. Undang-Undang 2/2011 tentang Partai Politik
5. Undang-Undang 15/2011 tentang Penyelenggara Pemilihan Umum
6. Undang-Undang 8/2012 tentang Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan
Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah
DPR terdiri dari 560 anggota yang berasal dari 77 daerah pemilihan berwakil majemuk (multi-
member electoral districts) yang memiliki tiga sampai sepuluh kursi per daerah pemilihan
(tergantung populasi penduduk dapil terkait) yang dipilih melalui sistem proporsional terbuka.
Ambang batas parlemen sebesar 3,5 persen berlaku hanya untuk DPR dan tidak berlaku untuk
DPRD. Sedangkan DPD memiliki 132 perwakilan, yang terdiri dari empat orang dari masing-
masing provinsi (dengan jumlah provinsi 33), yang dipilih melalui sistem mayoritarian dengan
varian distrik berwakil banyak (single non-transferable vote, SNTV).

69
Untuk Pemilu 2014, UU 8/2012 mempertahankan diwajibkannya kuota minimal 30 persen
calon perempuan untuk daftar calon yang diajukan dan satu calon perempuan dalam setiap
tiga calon secara berurutan dari awal daftar calon. Kedua ketentuan ini sekarang memiliki
ancaman sanksi jika gagal dipenuhi partai politik yang gagal memenuhi kuota tersebut akan
dicabut haknya sebagai peserta pemilu di daerah pemilihan di mana kuota tersebut gagal
dipenuhi.
Penyelenggara pemilihan umum yang berdasarkan undang-undang dilaksanakan oleh KPU
dan Bawaslu, Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) merupakan lembaga yang bertanggung
jawab mengawasi agar gugatan terkait pemilu ditujukan kepada badan yang tepat dan
diselesaikan secara benar, secara umum, pelanggaran bersifat kriminal dirujuk kepada polisi
dan pengadilan biasa, dan pelanggaran administrasi kepada KPU. UU 8/2012 tentang
Pemilihan Umum Legislatif memberikan Bawaslu wewenang pemutusan perkara dalam
sengketa antara KPU dan peserta Pemilu.Putusan Bawaslu bersifat final terkecuali untuk hal-
hal terkait pendaftaran partai politik dan calon legislatif peserta pemilu.
Sedangkan pelanggaran serius yang mempengaruhi hasil pemilu diajukan secara langsung
kepada Mahkamah Konstitusi. Ketentuan dalam UU 15/2011 mengatur bahwa Bawaslu dan
KPU adalah lembaga yang setara dan terpisah. Anggota Bawaslu dipilih oleh komite seleksi
yang sama dengan komite yang memilih anggota KPU. UU 15/2011 juga menetapkan Dewan
Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP). DKPP adalah dewan etika tingkat nasional yang
ditetapkan untuk memeriksa dan memutuskan gugatan dan/atau laporan terkait tuduhan
pelanggaran kode etik yang dilakukan oleh anggota KPU atau Bawaslu.

70
Lampiran Kunci Jawaban
Kunci Jawaban Penilaia Harian 1
Pilihan Ganda
No . Jawaban
1 b. Dapat berinteraksi dengan perkembangan zaman
2 d. Jiwa dan kepribadian bangsa
3 a. Pancasila digunakan sebagai pendomman perilaku sehari-hari
4 c. ideologi terbuka
5 d. Memberikan kebebasan individu demi tegaknya HAM
6 c. Persatuan Indonesia
7 d. wilayah,TNI/Polri, pemerintah negara
8 c. menolong orang lain agar mampu berdikari
9 b. mempunyai pegangan dan pedoman dalam memecahkan masalah
bangsa
1o a. dasar negara

Essay
1. Pancasila sebagai ideologi terbuka, nilai Pancasila dapat dikembangkan sesuai dengan
dinamika kehidupan bangsa Indonesia dan tuntutan perkembangan zaman secara kreatif
dengan mempraktikkan tingkat kebutuhan dan perkembangan masyarakat Indonesia sendiri.
2. Sebagai Dasar Negara, Pandangan hidup Bangsa
3. Demokrasi yang berdasarkan sila ke-4 Pancasila
4. Pancasila sebagai sumber nilai, nilai Pancasila merupakan kebenaran bagi bangsa Indonesia
karena telah teruji dalam masyarakat dan dipersepsikan sebagai nilai subyektif yang menjadi
sumber kekuatan dan pedoman hidup bagi bangsa Indonesia
5. Sebagai penyaring budaya asing yang masuk ke Indonesia

Kunci Jawaban Remidial PH 1


No . Jawaban
1 <periode 1945-1950, 1950-1959, 1959-1966>
2 upaya mengganti Pancasila sebagai dasar Negara dan pandangan hidup bangsa>
3 <pemberontakan PKI Madiun 18-9-1945 dipimpin Muso,DI/TII dipimpin
Sokarmaji Kartosuwiryo 17-8-1945>
4 <penerapan sila ke-4 yang tidak lagi berjiwakan musyawarah mufakat, melainkan
voting>
5 <RMS,PRRI,Permesta>
6 <membubarkan konstituante, UUD 1950 tidak berlaku dan kembali ke UUD 45
7 <terpimpin> dan <demokrasi bukan berada pada kekuasaan rakyat sehingga yang
memimppin adalah nilai-nilai Pancasila ttp berada pada kekuasaan pribadi
presiden Soekarno>

71
8 <Soekarno jadi otoriter, diangkat jadi presiden seumur hidup, dan menggabungkan
Nasionalis, Agama, dan Komunis (Nasakom), kemerosotan moral>
9 <PKI 30-9-1945 dipimpin D.N. Aidit> dan <mendirikan Negara
Soviet&mengganti Pancasila dengan paham komunis>
1o <melaksanakan Pancasila dan UUD 45 secara murni & konsekuen dalam setiap
aspek kehidupan masyarakat>
11 <sama-sama otoriter>
12 <pengemban Supersemar, mandataris MPR, Bapak Pembangunan dan Panglima
Tertinggi ABRI>
13 <kondisi masyarakat yang diwarnai kehidupan yang serba bebas, menurunnya rasa
persatuan&kesatuan diantara sesama warga bangsa, dihadapkan pada
perkembangan dunia yang sangat cepat&mendasar, berpacunya pembangunan
bangsa2>
14 <munculnya pergaulan bebas, pola komunikasi yang tidak beretika dapat memicu
terjadinya perpecahan>
15 <penyusupan ideology>

Kunci Jawaban Pengayaan PH 1


No . Jawaban
1 <ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan dan keadilan>
2 <idea/idein & logos> dan <terbuka>
3 <gagasan/konsep /melihat& ilmu>
4 <ilmu tentang pengertian2 dasar>
5 <nila dan cita2 tidak dipaksakan dari luar, melainkan diambil& digali dari
kekayaan rohani, moral, dan budaya masyrakat itu sendiri>
6 <isinya tidak terdiri dari tuntuan2 konkret yang bersifat keras&wajib ditaati
melainkan baru bersifat operasional jika sudah dijabarkan ke dalam perangkat
yang berupa konstitusi/peraturan>
7 <Pancasila senantiasa mampu berinteraksi secara dinamis>
8 <nilai dasar, instrumental, dan praksis>
9 <dasar>
1o <tetap> dan <pasal2 UUD 1945>
11 <instrumental>
12 <instrumental>
13 <ideology harus mampu direalisasikan dalam kehidupan nyata>
14 <idealisme, normative, dan realitas>
15 <idealisme>
16 <hanya merupakan system ide2 belaka yang jauh dari kehidupan sehari-hari yang
nyata>
17 <hanya menekankan pada segi praktis tanpa ada aspek idealism>
18 <pemilu, pengembangan lembaga Negara sesuai kemajuan dan kebutuhan
masyarakat>
19 <sikap kekeluargaan, musyawarah, gotong royong, etos kerja, kedisiplinan>

72
20 <koperasi>

Kunci Jawaban Penilaian Harian 2


Pilihan Ganda
No . Jawaban
1 C. Setiap Bangsa
2 B. 2
3 D. 4
4 B. Imperialisme
5 D. Sistem pemerintahan
6 B. 2
7 A. Bersatu, berdaulat, adil dan makmur
8 D. Tujuan dan prinsip dasar Negara
9 A. Universal, Lestari
1o A. Nilai-nilai tersebut dijunjung tinggi oleh bangsa-bangsa yang beradab
11 B. Ia mampu menampung dinamika masyarakat
12 D. 4
13 D. Menciptakan rakyat yang bersatu, berdaulat, adil dan makmur
14 C. 4
15 C. Naskah Proklamasi
16 C. Persatuan, keadilan sosial, kedaulatan dan ketuhanan YME
17 D. Pembukaan UUD 1945 alinea 4
18 A. Pembukaan UUD 1945
19 C. Merupakan kaidah yang fundamental terbentuknya Negara
20 A. PPKI 18 Agustus 1945

Essay
No . Jawaban
1 Sesuatu yang menjadi sumber dari motivasi dan aspirasi perjuangan dan tekad
bangsa indonesia
2 Setelah Belanda menjalankan politik etis pada awal abad ke-20 yang
mengakibatkan bangsa Indonesia mengenal demokrasi dan nasionalisme dan
dicetuskan pada tanggal 28 Oktober 1928pada peristiwa sumpah pemuda
3 Kemerdakaan adalah hasil perjuangan bangsa Indonesia dan hakikatnya berkat
rahmat Allah SWT yang maha kuasa, sehingga menunjukkan bahwa diri insan
bangsa Indonesia adalah manusia beriman dan hanya bertawakal kepada Allah
SWT
4 Alinea II memuat cita-cita kemerdekaan bangsa Indonesia. Dengan pernyataan
kemerdekaan Indonesia itu berarti perjuangan pergerakan kemerdekaan telah
sampai pada saat yang berbahagia. Pernyataan kemerdekaan itu sendiri barulah
awal dari proses pembangunan bangsa ini menuju kepada negara yang bersatu,
berdaulat, adil dan makmur.
5 Pembukaan UUD 1945 adalah satu ungkapan dari prinsip semangat bangsa
Indonesia dalam perjuangan membebaskan rakyat dari ketertindasan dan
kebiadaban perilaku kaum kolonialis dan imperialis. Sebagai moral kejuangan
yang menjadi dorongan untuk menggugat, melepaskan, menghapuskan penguasaan
politik bangsa Indonesia dari kolonialisme dan imperialisme.

73
Kunci Jawaban Remidial PH 2
A. Pilihan ganda

No . Jawaban
1 D
2 C
3 D
4 B
5 A

B. Soal Uraian
No . Jawaban
1 Negara melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia
dengan berdasar atas persatuan, Negara hendak mewujudkan atas kerakyatan dan
permusyawaratan/perwakilan, Negara berdasarkan atas Ketuhanan YME menurut
dasar kemanusiaan yang adil dan beradab
2 Ketetapan MPR, UU, PP, Perpu, dsb
3 berdasarkan pasal 3 dan pasal 37 UUD 1945 tidak dapat diubah termasuk oleh MPR
hasil Pemilu sebab mengubah isi Pembukaan UUD Dasar 1945 berarti sama halnya
dengan pembubaran Negara
4 Makna Alinea ke -4:
a) Disusunnya tujuan sekaligus fungsi negara Indonesia
b) Disusunnya negara Indonesia yang berbentuk republik dan
berkedaulatan rakyat.
c) Negara Indonesia mempunyai dasar falsafah Pancasila.
5 Pokok kaidah negara yang fundamental berdasarkan kanungan Pembukaan Undang-
Undang Dasar 1945 :
a. Tujuan negara
b. Ketentuan diadakannya Undang Undang Dasar Negara.
c. Bentuk Negara dan Jenis Kedaulatan
d. Dasar Negara

74
Kunci Jawaban Pengayaan PH 2
A. Soal Uraian

No . Jawaban
1 Sebagai alat kontrol / pengecek terhadap segala peratuaran perundangan artinya
segala aturan / norma hukum yang lebih rendah berlaku sesuai / tidak bertentangan
dengan UUD 1945.
2 UUD 1945 merupakan sebuah UUD Negara tertinggi yang pertama kali digunakan
sejak Negara Kesatuan Republik Indonesia memproklamasikan Kemerdekaan.
3 Pembukaan mengandung pokok-pokok pikiran yang diciptakan dan dijelasakan
serta dijabarkan dalam Batang Tubuh yaitu dalam pasal-pasalnya.
4 Bahwa Pancasila merupakan sarana yang ampuh untuk mempersatukan Bangsa
Indonesia, karena Pancasial mengandung nilai-nilai dan norma-norma yang
diyakini paling benar , paling adil, paling tepat sebagai pemersatu Bangsa.
5 Bahwa Pancasila digali dari pandangan hidup, jiwa dan kepribadian Bangsa
Indonesia sendiri yang tercermin dalam budaya peradaban Bangsa.

B. Soal Pilihan (Benar Salah)

Pilihan
No . Jawaban
(B/S)
1 (S) Sumber hukum Indonesia.
2 (S) Tidak mudah terombang-ambing dalam menentukan tujuan Nasional
3 (B)
4 (B)
5 (S) Disesuaikan dengan perkembangan dan dinamika masyarakat
6 (B)
7 (S) Merupakan dasar cita hukum agar hukum yang dibuat memiliki makna
8 (S) Penjelasan umum UUD 1945
9 (S) Pembukaan UUD 1945
10 (B)
11 (S) Pancasila dan Pembukaan UUD 1945
12 (S) Legislatif, eksekutif dan yudikatif
13 (B)
14 (S) Pemilihan Presiden tidak dilakukan oleh MPR
15 (B)
16 (S) Pancasila
17 (B)
18 (B)
19 (B)
20 (S) UUD No. 10 tahun 2004

75
Kunci Jawaban Penilaian Harian 3
A. Pilihan Ganda
No . Jawaban No . Jawaban
1 16
2 17
3 18
4 19
5 20
6 21
7 22
8 23
9 24
1o 25
11
12
13
14
15

B. Singkat Isian
No . Jawaban
1
2
3
4
5
6
7
8
9
1o

C, Essay
No . Jawaban
1
2
3
4
5

76
Kunci Jawaban Remidial PH 3
A. Soal Uraian
No . Jawaban
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20

77
Kunci Jawaban Pengayaan PH 3
A. Soal Pilihan Ganda

No . Jawaban
1 D. Indonesia melaksanakan sistem presidensian, di India parlementer
2 B. MPR
3 C. Inggris dan Brazil
4 B. 2 dan 3
5 D. Pasal 37 UUD 1945
6 C. Adanya dominasi kekuasaan Presiden yang mengarah pada otoriter
7 D. DPR dan DPD
8 A. Tidak dapat saling menjatuhkan
9 C. DPR , DPD
10 C. Sebelum amandemen Presiden dipilih oleh MPR, sesudah amandemen Presiden
dipilih langsung oleh rakyat
11 D. Mengangkat dan memberhentikan parlemen.
12 A. 7 kunci pokok
13 B. 1) dan 4)
14 A. 18 Agustus 1945
15 A. 1945-1949
16 A. Tanggal 27 Desember 1949
17 D. MPR, DPR dan DPD
18 D. 17 Agustus 1959
19 A. 6 kali
20 B. Presidensial

78
DAFTAR PUSTAKA

Asshiddiqie, Jimly. Komentar Atas UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945. 2009.
Sinar Grafika: Jakarta.

Alawiyah, Faridah. 2014. Dampak Implementasi Kurikulum 2013 terhadap Guru.


Vol 5 No 19.

. 2014. Kesiapan Guru Dalam Implementasi Kurikulum 2013. Vol


6 No 15

Fadlillah, M. 2014. Implementasi Kurikulum 2013. Yogyakarta:Ar-Ruzz Media.

Kemendikbud. 2008. Peraturan Menteri pendidikan Nasional Republik Indonesia


Nomor 2 Tahun 2008, Tentang Buku.

. 2013. Pengembangan dan Implementasi Kurikulum 2013.


Bandung: Remaja Rosdakarya.

. 2013. Peraturan Menteri pendidikan dan kebudayaan Republik


Indonesia Nomor 67 Tahun 2013, Tentang Kerangka Dasar dan Struktur
Kurikulum Sekolah dasar/Madrasah Ibtidaiyah.

Kurniasari, Dwi Astuti Dian. 2014. Pengembangan buku suplemen PKb Terpadu
dengan tema pendengaran kelas IX. Vol: 3, No2, Unnes.

Kurniasih, Imas. 2014. Buku Teks Pelajaran. Surabaya: Kata Pena.

Kusmajid. (2008). Kontribusi Pemanfaatan Sumber Belajar Terhadap Motivasi


Belajar Siswa dan Pemahaman Konsep Sains SD. Tesis Pendidikan Dasar
Pasca Sarjana UPI: tidak diterbitkan.

Lasa. 2007. Manajemen Perpustakaan Sekolah. Yogyakata: Pinus Book.


Publisher

Panduan Pemasyarakatan Undang- Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun


1945 Dan Ketetapan MPR RI. 2011: Jakarta.

79
Undang-Undang Dasar Republik Indonesia. Yogyakarta: Graha Pustaka Yogyakarta.
2010
Tarigan, D dan H.G.Tarigan. 2009. Telaah Buku Teks Pelajaran SMP/MTs.
Bandung: Angkasa.

Wahyuni, Ridha. 2014. Analisis Kesesuaian Materi dalam Buku Guru dan Siswa
Berdasarkan Kurikulum 2013 di SMP Serta Implementasinya dalam Proses
Pembelajaran. Skripsi Pendidikan UPI: tidak diterbitkan.

Warsita, Bambang. (2008). Teknologi Pembelajaran, Landasan dan


Aplikasinya. Jakarta: Rineka Cipta.

. 2014. Buku Siswa Pendidikan Kewarganegaraan SMP/MTs Kelas IX.


Jakarta: Kemendikbud.

Winataputra, Udin S., dkk. 2005. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Universitas

Terbuka.

80
BIOGRAFI PENULIS

Nama : Laela Karmila, S.Ag


NIP : 197706192007102004
Tempat Lahir : Sukabumi
Tanggal Lahir : 19-06-1977
Agama : Islam
Golongan Ruang : III. c
TMT Golongan : 01-10-2014
Jabatan : GURU MUDA
Mata Pelajaran Ampu : Pendidikan Kewarganegaraan
Pendidikan Terakhir : S1
Alamat : blok Ciburuy Rt/Rw 004/001 Desa Sukaraja Kulon Kec.
Jatiwangi Kab. Majalengka Prov. Jawa Barat
Instansi Induk : Kementrian Agama
Satuan Kerja : Kantor Kemenag Kab. Majalengka
Unit Organisasi : MTsN 2 Majalengka

Riwayat Pendiikan

Pendidikan Thn Lulus Nama Sekolah

SD 1988 MI LEBAKWANGI KEC. PARUNGKUDA


SMP 1 PARUNGKUDA /ISLAM NUURUL
SMP 1991 KAROOMAH PARUNGKUDA KAB.
SUKABUMI
MA 1994 MAN CIBADAK KAB. SUKABUMI
AKTA IV TARBIYAH 1999 IAIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG
S1 PAI 1999 IAIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG
PRODI/JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH

81